Tag: doa

  • Bacaan Arab, Latin, Terjemahan, serta Keutamaannya


    Jakarta

    Surat Yasin adalah surat ke-36 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 83 ayat dan termasuk golongan surat Makiyyah. Menurut buku Kedahsyatan Membaca Al-Qur’an karya Amirulloh Syarbini & Sumantri Jamhari, surat Yasin banyak menerangkan tentang aqidah, keimanan, dan kehidupan akhirat.

    Umat muslim di Indonesia seringkali membaca Yasin Fadilah pada malam Jumat. Menurut situs NU Online, Yasin Fadhilah merupakan bacaan Surah Yasin yang beberapa ayatnya diulang-ulang dan diselipi doa selain ayat Al-Qur’an. Hal tersebut ternyata pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW seperti yang terdapat dalam hadist berikut.

    عن حُذَيْفَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه وسلّم كَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ خَوْفٍ تَعَوَّذَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلَ


    “Rasulullah jika membaca ayat tentang siksa maka beliau minta perlindungan kepada Allah, jika Rasulullah membaca ayat tentang rahmat maka beliau memintanya kepada Allah.” (HR Ahmad No 24012 dan Ibnu Khuzaimah No 684).

    Selain itu, ada pula sebuah hadits yang menjelaskan mengenai membaca ayat Al-Qur’an yang diselipi bacaan doa. Hadis tersebut berbunyi:

    عن أَبِي هَرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه وسلّم كَانَ إِذَا قَرَأَ أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَى قَالَ بَلَى وَإِذَا قَرَأَ أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ قَالَ بَلَى (رواه الحاكم رقم ٢٨٨٣ وقال هذا حديث صحيحاإسناد ولم يخرجاه تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح. وكذا أبو داود والترمذى وابن السنى فى عمل يوم وليلة والبيهقى عن أبي هريرة

    “Jika Rasulullah membaca akhir Surat al-Qiyamat (ayat 40), Rasulullah menjawab: Balaa (Ya, Allah Maha Kuasa). Dan ketika beliau membaca akhir Surat at-Tiin, maka Rasulullah menjawab: Balaa, (dalam riwayat lain: wa ana ‘ala dzalika min asy-syaahidiin) (Ya, saya bersaksi)” (HR Al-Hakim No 3882, ia menilainya sahih dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadis yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Sunni, dan al-Baihaqi)

    Forum Bahtsul Masail yang diadakan Majelis Musyawarah Pondok Pesantren di seluruh Karesidenan Kediri pada Oktober 1991 dan Bahtsul Masail Pesantren Mambaul Hikam Blitar Jawa Timur menetapkan, hukum membaca Yasin Fadilah adalah sunah. Penetapan ini mempertimbangkan tujuan utama membaca Yasin Fadilah adalah berzikir.

    Tentunya, seorang muslim jangan hanya membaca Yasin Fadilah sebagai amalan sehari-hari. Seorang muslim bisa membaca surat lain dalam Al-Qur’an, sholat sunah, dan amalan lain yang tidak hanya memperkuat hubungan dengan Allah SWT namun juga lingkungan sekitar.

    Bacaan Yasin Fadilah Arab, Latin, dan Terjemahannya

    Sayyid Muhammad Haqqi An-Nazili dalam kitabnya Khozinatul Asror, yang dikutip dari sebagian ulama, telah mengajarkan tata cara membaca Yasin Fadhilah, yaitu sebagai berikut.

    1. Ayat pertama dibaca 7 kali

    يٰسٓ

    (Yasin.)

    2. Bagian dari ayat 38 dibaca sebanyak 14 kali

    وَالشَّمۡسُ تَجۡرِىۡ لِمُسۡتَقَرٍّ لَّهَا ؕ ذٰلِكَ تَقۡدِيۡرُ الۡعَزِيۡزِ الۡعَلِيۡمِؕ‏

    (Wasysyamsyu tajrii limustaqorrillahaa dzaalika tqdiirul aziizil aliim.)

    Artinya: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.”

    Pada ayat tersebut, bacaan ‘Dzaalikal taqidiirul ‘aziizil ‘aliim’ diulang sebanyak 14 kali.

    3. Ayat 58 dibaca sebanyak 16 kali

    سَلٰمٌ قَوۡلًا مِّنۡ رَّبٍّ رَّحِيۡمٍ

    (Salaamung qoulamminrrabbirrakhiim.)

    Artinya: “(Kepada mereka dikatakan), “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.”

    Setelah dibaca sebanyak 16 kali, biasanya dilanjut dengan membaca doa berikut: “Ya Allah selamatkan kami dari ujian di dunia dan di akhirat.” Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca ayat ke 59 dan seterusnya.

    4. Ayat 81 dibaca 4 kali

    اَوَلَيۡسَ الَّذِىۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنۡ يَّخۡلُقَ مِثۡلَهُمۡؔؕ بَلٰی وَهُوَ الۡخَـلّٰقُ الۡعَلِيۡمُ

    (Awalaisalladzi khalaqassamawati wal ardho biqodirin ‘ala ayyakhluqo mitslahum balaa wahuwal kholakul’alim.)

    Artinya: “Dan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)? Benar, dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui.”

    Sebagai informasi, bacaan Yasin Fadilah memiliki beberapa versi yang sama-sama mengharapkan sesuatu pada Allah SWT. Setiap muslim tentu bisa membacanya dengan ikhlas dan ridho.

    Keutamaan Membaca Surat Yasin

    Setiap surat dalam Al-Qur’an memiliki manfaat dan keutamaannya masing-masing. Dikutip dari situs NU Ponorogo, berikut ini manfaat dan keutamaan membaca Surah Yasin.

    1. Dimudahkannya Segala Urusan oleh Allah

    Sebagian ulama mengatakan bahwa ketika Surah Yasin dibaca dalam suatu urusan yang sulit, maka Allah akan mempermudah urusan tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya sebagai berikut:

    وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ السُّورَةِ: أَنَّهَا لَا تُقْرَأُ عِنْدَ أَمْرٍ عَسِيرٍ إِلَّا يَسَّرَهُ اللَّهُ. وَكَأَنَّ قِرَاءَتَهَا عِنْدَ الْمَيِّتِ لِتُنْزِلَ الرَّحْمَةَ وَالْبَرَكَةَ، وَلِيَسْهُلَ عَلَيْهِ خُرُوجُ الرُّوحِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

    Sebagian ulama berkata: “Di antara keistimewaan surat ini (surat Yasin), sesungguhnya tidaklah surat Yasin dibacakan pada suatu perkara suit, melainkan Allah Swt memudahkannya. Seakan-akan dibacakannya surat Yasin di sisi mayat agar turun rahmat dan berkah dan memudahkan baginya keluarnya ruh.”

    2. Dikabulkannya Hajat Pembacanya

    Manfaat membaca Surat Yasin berikutnya adalah dikabulkan hajatnya oleh Allah sebagaimana yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud berikut:

    من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله

    Artinya: “Barangsiapa membaca surat Yasin dan al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya.” (HR Abu Daud dari al-Habr)

    3. Mendapat Pahala 10 kali Membaca Al-Qur’an

    Dalam sebuah riwayat, diterangkan bahwa orang yang membaca surah Yasin akan mendapat pahala setara dengan sepuluh kali membaca Al-Qur’an.

    ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا، وَقَلْبُ الْقُرْآنِ يس. وَمَنْ قَرَأَ يس كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بقراءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

    Artinya: “Dari Anas RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya segala sesuatu itu mempunyai kalbu (inti) dan kalbu Al-Qur’an adalah surat Yasin. Barangsiapa membaca surat Yasin, maka Allah mencatat baginya karena bacaan surat Yasin itu pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali.”

    Jika sempat, jangan lupa membaca Yasin Fadilah di hari-hari kamu ya detikers.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Mau Makan dan Adabnya yang Perlu Diperhatikan


    Jakarta

    Sebelum makan, kaum muslimin dianjurkan untuk memanjatkan doa. Berdoa juga termasuk ke dalam salah satu adab yang dilakukan sebelum dan sesudah makan.

    Sebelum makan dan minum hendaknya disertai niat agar dapat menjadi kekuatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Menukil dari Mutiara Ihya’ Ulumuddin susunan Imam Al-Ghazali yang diterjemahkan oleh Iwan Kurniawan, Allah SWT berfirman dalam surah Al Mu’minun ayat 51:

    يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ ۗ


    Artinya: “Allah berfirman, “Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

    Terkait makanan yang dikonsumsi, Islam mengajarkan umatnya untuk makan makanan yang halal dan baik. Dijelaskan dalam buku Makanan dan Minuman dalam Al-Quran karya Mifta Novikasari, makanan yang halal belum tentu baik bagi tubuh, karenanya Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk memilih makanan yang baik sebagai ikhtiar untuk senantiasa menjaga tubuh dan kesehatan.

    Doa Mau Makan: Arab, Latin dan Artinya

    Menukil buku Zikir dan Doa Penting Sehari-hari karya Al-Habib Al-Alamah Umar bin Hafizh, berikut doa mau makan yang dapat dipanjatkan.

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab latin: Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar.

    Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami, dan karuniakanlah rezeki yang lebih baik dari itu dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

    Doa ketika Lupa Membaca Doa Sebelum Makan

    بِسْمِ اللهِ آوَلُهُ وَآخِرُهُ

    Arab latin: Bismillahi awwaluhu wa akhiruhu.

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, untuk awal dan akhir (makan).”

    Bacaan di atas disandarkan dari hadits yang diriwayatkan Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang kalian hendak makan, sebutlah nama Allah Ta’ala, jika terlupa katakanlah (doa di atas).”

    Adab ketika Makan dan Minum

    Berikut sejumlah adab makan dan minum yang dirangkum dari arsip detikHikmah.

    1. Membaca Basmalah

    Melafalkan basmalah sebelum makan dan minum termasuk ke dalam adab yang utama ketika makan. Hal ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW karena merupakan satu bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan.

    Mengutip buku Mukjizat Makanan dan Minuman Kesukaan Rasulullah SAW tulisan Mochammad Syahrowi Yazid, dalam sebuah riwayat, Abu Hafs Umar Bin Abu Salamah berkata:

    “Ketika aku berada dalam bimbingan Rasulullah SAW, pernah suatu kali tanganku bergerak di atas piring ke segala arah, hingga Rasulullah pun berkata kepadaku, ‘Wahai anak laki-laki, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah dari makanan yang dekat denganmu,’ Maka, demikianlah cara makanku sejak saat itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

    2. Menggunakan Tangan Kanan

    Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk makan dengan tangan kanan. Beliau dikenal suka melakukan segala kegiatan dengan tangan kanan.

    Dari Abdullah Bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya dan minum dengan tangan kanannya. Sesungguhnya, setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad).

    3. Tidak Sambil Berdiri

    Makan dan minum sambil berdiri tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits, Anas Bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah menyebut perbuatan makan sambil berdiri sebagai perbuatan yang buruk. Rasulullah SAW bersabda,

    “Kalau makan (sambil berdiri) maka itu lebih buruk dan keji,” (HR Muslim).

    Larangan makan dan minum sambil berdiri bukan tanpa alasan. Banyak hikmah yang terkandung di dalamnya selain etika sopan santun. Makan dan minum sambil berdiri akan mengakibatkan asam lambung naik ke kerongkongan, sehingga akan mengakibatkan sel-sel kerongkongan mengalami iritasi.

    4. Tidak Meniup Makanan dan Minuman yang Panas

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Apabila kalian minum, janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan,” (HR. Bukhari).

    Alasan dilarangnya meniup makanan dan minuman yang panas karena dapat membahayakan kesehatan. Setelah dilakukan beberapa penelitian ilmiah, udara yang keluar melalui tiupan atau hembusan nafas merupakan udara rusak serta penuh dengan zat karbon dioksida.

    Akibatnya, makanan bisa terpapar bakteri helicobacter pylori yang menyebar melalui pernafasan. Bakteri tersebut dapat menyebabkan peradangan lapisan lambung yang berakhir menjadi tukak lambung.

    5. Tidak Berlebihan

    Sesuatu yang berlebihan dilarang dalam ajaran Islam. Sifat berlebihan berdampak negatif dan merugikan, termasuk dalam kegiatan makan dan minum.

    Islam mengatur tata cara makan dan minum, termasuk anjuran agar tidak makan dan minum secara berlebihan. Bahkan, dalam Al-Qur’an surah Al A’raaf ayat 31, Allah SWT berfirman:

    يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

    Artinya: “Wahai anak cucu Adam! Pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebihan,”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Khutbah Kedua dan Penutup Khutbah Jumat


    Jakarta

    Menyampaikan dua khutbah termasuk syarat sah salat Jumat menurut kesepakatan ulama. Dalam pelaksanaannya, khatib akan membaca doa khutbah kedua sebelum menutup khutbah Jumat.

    Imam Syafi’i berpendapat bahwa kedua khutbah Jumat harus berisikan pujian kepada Allah SWT, sholawat atas Nabi Muhammad SAW, wasiat taqwa, dan pembacaaan ayat-ayat suci Al-Qur’an pada salah satu dari kedua khutbah tersebut, sebagaimana diterangkan dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-madzahib al-khamsah karya Muhammad Jawad Mughniyah.

    Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an akan lebih utama apabila dilakukan pada khutbah pertama dan pembacaan doa dilakukan pada khutbah kedua. Demikian menurut pandangan Imam Syafi’i.


    Bacaan doa khutbah kedua umumnya berisi doa untuk kebaikan kaum mukminin. Melansir laman Kementerian Agama RI, berikut contoh doa khutbah kedua.

    Doa Khutbah Kedua

    الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ

    اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

    أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم. إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا

    اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

    اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

    Artinya:

    Segala puji bagi Allah atas rahmat-Nya terlaksana amal shaleh, atas rahmat-Nya turun kebaikan dan keberkahan, dan atas rahmat-Nya tercapai maksud dan tujuan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan tidak ada nabi setelahnya.

    Ya Tuhan, semoga sholawat dan salam terlimpah kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya, para mujahidin yang suci. Adapun berikut ini, wahai kalian yang hadir, saya berpesan agar kalian dan saya bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya, agar kalian berhasil. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebagaimana Dia ditakuti, dan janganlah kamu mati kecuali sebagai orang Islam, dan rezekilah dirimu sendiri, karena rezeki yang paling baik adalah taqwa.

    Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah dan para malaikat-Nya melimpahkan sholawat kepada Nabi SAW. Wahai orang-orang yang beriman, sholawatlah dia dan sholawatilah dia.

    Ya Allah, berkahilah junjungan kami Muhammad dan keluarga junjungan kami Muhammad, sebagaimana Engkau memberkati junjungan kami Ibrahim dan keluarga junjungan kami Ibrahim, dan berkahilah junjungan kami Muhammad dan keluarga junjungan kami Muhammad, sebagaimana Engkau memberkati junjungan kami Ibrahim dan keluarga kami keluarga tuan kami Ibraham, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia di seluruh alam.

    Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sesungguhnya Engkaulah yang Mendengar, Yang Paling Dekat, Yang Menjawab Doa.

    Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka membesarkan kami ketika kami masih kecil.

    Mengutip laman SMAIT Raflesia, berikut contoh doa khutbah kedua lainnya yang bisa dipanjatkan khatib.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
    رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
    رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

    Latin: Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati. Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa. Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina. Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Maha Dekat, Dzat yang mengabulkan doa. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Doa Penutup Khutbah Jumat

    Setelah membaca doa khutbah kedua bisa dilanjutkan dengan membaca doa penutup khutbah Jumat berikut,

    اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

    Innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsāni wa ītā’i żil-qurbā wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-bagyi ya’iẓukum la’allakum tażakkarūn

    Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”

    Doa penutup khutbah Jumat tersebut termaktub dalam Al-Qur’an surah An Nahl ayat 90.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Dalil Mengangkat Tangan saat Berdoa, Anjuran Rasulullah atau Bukan?



    Jakarta

    Hampir seluruh umat muslim di Indonesia mengangkat dan menengadahkan tangan ketika berdoa. Ini menjadi salah satu gerakan yang khas saat berdoa.

    Dalam Al-Qur’an tidak ada dalil ataupun perintah mengangkat tangan ketika berdoa, namun Rasulullah SAW semasa hidup pernah melakukan hal ini saat memanjatkan doa kepada Allah SWT.

    Meskipun bukan syariat, namun mengangkat tangan saat berdoa juga bukanlah sebuah larangan dalam ajaran Islam.


    Mengutip buku Kumpulan Tanya Jawab Islam Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam dijelaskan, ulama-ulama pakar dari berbagai madzhab yakni Hanafi, Maliki , Syafi dan lain sebagainya, selalu mengangkat tangan waktu berdoa. Hal ini termasuk adab atau tata tertib cara berdoa kepada Allah SWT.

    Dalil Mengangkat Tangan saat Berdoa

    1. Rasulullah SAW mengangkat tangan dan berdoa

    Dalam kitab Riyadus Shalihin jilid 2 oleh H. Salim Bahreisj disebutkan beberapa hadits riwayat yang menjelaskan hal ini.

    Sa’ad bin Abi Waqash ra. berkata, “Kami bersama Rasulullah SAW keluar dari Makkah menuju ke Madinah, dan ketika kami telah mendekati Azwara, tiba-tiba Rasulullah SAW turun dari kendaraannya, kemudian mengangkat kedua tangan berdoa sejenak lalu sujud lama sekali, kemudian bangun mengangkat kedua tangannya berdoa, kemudian sujud kembali, diulanginya perbuatan itu tiga kali. Kemudian berkata:

    “Sesungguhnya saya minta kepada Tuhan supaya diizinkan memberikan syafa’at (bantuan) bagi umat ku, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku, kemudian saya mengangkat kepala dan minta pula kepada Tuhan dan diperkenankan untuk sepertiga, maka saya sujud syukur kepada Tuhan, kemudian saya mengangkat kepala berdoa
    minta untuk umatku, maka diterima oleh Tuhan, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku.” (HR.Abu Dawud).

    Dalam hadits ini menerangkan bahwa Rasulullah SAW tiga kali berdoa sambil mengangkat tangannya setiap berdoa, dengan demikian berdoa sambil mengangkat tangan adalah termasuk sunnah Rasulullah SAW

    2. Mengangkat tangan setinggi bahu

    Dalam Kitab Fiqih Sunnah Sayid Sabiq jilid 4 dijelaskan sebuah hadits berdasarkan riwayat Abu Daud dari Ibnu Abbas ra.,
    “Jika kamu meminta (berdoa kepada Allah SWT) hendaklah dengan mengangkat kedua tanganmu setentang kedua bahumu atau kira-kira setentangnya, dan jika istighfar (mohon ampunan) ialah dengan menunjuk dengan sebuah jari, dan jika berdoa dengan melepas semua jari-jemari tangan”.

    Melalui hadits ini, kita diberi tahu sampai dimana batas sunnahnya mengangkat tangan saat berdoa, dan waktu mengangkat tangan tersebut disunnahkan dengan menunjuk sebuah jari waktu mohon ampunan, melepas semua jari-jari tangan (membuka telapak tangannya) waktu berdo’a selain istighfar.

    3. Mengangkat tangan dengan bagian telapak terbuka

    Diriwayatkan dari Malik bin Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu meminta(berdoa kepada Allah), maka mintalah dengan bagian dalam telapak tanganmu, jangan dengan punggungnya.”

    Dalam hadits lain, dari Saman, sabda Rasulullah SAW,

    “Sesungguhnya Tuhanmu yang Mahaberkah dan Mahatinggi adalah Mahahidup lagi Mahamurah, ia merasa malu terhadap hamba-Nya jika ia menadahkan tangan (untuk berdoa) kepada-Nya, akan menolaknya dengan tangan hampa”

    Hadits ini menjelaskan bahwa Allah SWT tidak akan menolak doa hamba-Nya waktu berdo’a sambil menadahkan tangan kepadaNya, dengan demikian doa kita akan lebih besar harapan dikabulkan.

    4. Rasulullah SAW mengangkat tangan sampai terlihat ketiak

    Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik menuturkan,
    “Aku pernah melihat Rasulullah SAW mengangkat dua tangan ke atas saat berdoa sehingga tampak warna keputih-putihan pada ketiak beliau.”

    5. Rasulullah SAW mengangkat tangan saat berdoa usai sholat istisqa

    Dalam buku Fiqih Kontroversi Jilid 1: Beribadah antara Sunnah dan Bid’ah oleh H. M. Anshary, disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas yang menerangkan bahwa ada seorang Arab pedesaan yang datang kepada Rasulullah SAW dan menyampaikan bahwa banyak
    hewan yang mati dan orang-orang mengalami kesulitan karena kekeringan, lama tidak turun hujan.

    Kemudian Rasulullah SAW berdoa dengan mengangkat tangan dan orang-orang juga berdoa dengan mengangkat tangan untuk memohon hujan bersama Rasulullah SAW. Menurut Anas bahwa tidak lama setelah itu turunlah hujan.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Naik Kendaraan Darat, Laut, dan Udara Lengkap dengan Artinya



    Jakarta

    Doa naik kendaraan darat, laut, dan udara disunahkan untuk diucapkan sebelum seorang muslim hendak bepergian.

    Membaca doa naik kendaraan, baik darat, laut, maupun udara, tentunya hanya mengharapkan satu tujuan, yakni mendapat perlindungan dari Allah SWT Sang pemilik alam semesta.

    Lalu, bagaimanakah tuntunan doanya? Berikut ulasannya.


    Doa Naik Kendaraan Darat

    Dinukil dari buku berjudul Kumpulan Dzikir dan Doa Shahih: Tuntunan Hidup 24 Jam karya Anshari Taslim, doa naik kendaraan darat yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana berikut.

    Membaca takbir tiga kali,

    اللَّهُ أَكْبَرُ, اللَّهُ أَكْبَرُ, اللَّهُ أَكْبَرُ

    Arab-latin: Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar

    Terjemahan: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar

    Lalu dilanjutkan untuk membaca,

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلٰى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُوْنْ

    Arab-latin: Subhaanal-ladzii sakhkhara lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahu muqriniin. Wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun.

    Terjemahan: “Mahasuci Tuhan yang memudahkan ini kendaraan bagi kami, sedangkan bagi kami tidak bisa memudahkan kepada-Nya, dan kepada Allah kami kembali.”

    Hikmah Membaca Doa Naik Kendaraan Darat

    Ketika seseorang membaca doa naik kendaraan darat sebelum melakukan perjalanan maka dirinya akan mendapat hikmah dalam bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada kendaraan tersebut untuk bisa ditunggangi sampai tempat tujuan.

    Apabila di zaman dahulu kendaraan yang dipakai Rasulullah adalah unta, kuda, keledai, atau kapal, maka di zaman sekarang ini kendaraan berupa motor, mobil, kereta, becak, dan lain sebagainya. Untuk itu, kita tetap dianjurkan untuk mengucapkan doa tersebut dengan ikhlas dan penuh keyakinan.

    Tujuannya tidak lain hanya untuk mengharap rida dari Allah SWT sehingga kendaraan yang dinaiki menjadi berkah, tidak menyusahkan, dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

    Doa Naik Kendaraan Laut

    Doa naik kendaraan laut di bawah ini dikutip dari sebuah buku karya Islah Gusmian yang berjudul Setiap Saat Bersama Allah: Doa-Doa Pilihan Penentram Jiwa. Berikut lafalnya.

    بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰهَا وَمُرْسٰهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Arab-latin: Bismillahi majrâhâ wa mursâhâ inna rabbi laghafûrur-rahîm.

    Terjemahan: Dengan nama Allah yang menjalankan dan melabuhkan kendaraan ini. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pemaaf lagi Maha Pengasih. (HR Ibn Sunni dalam Imam Al-Nawawi, Al-Adzkâr, h. 199)

    Hikmah Membaca Doa Naik Kendaraan Laut

    Ketika berkendara, seseorang tidak tahu apa yang akan terjadi selama perjalanan tersebut. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, baik itu suatu hal yang menyenangkan atau malah musibah.

    Mengalami musibah di daratan tentu merupakan hal yang tidak diinginkan. Apa lagi jika harus mengalami sebuah musibah di kendaraan laut. Tentu hal ini adalah hal yang lebih menakutkan.

    Oleh karena itu, ketika menaiki kendaraan laut dan melakukan sebuah perjalanan membelah lautan, seorang muslim dituntunkan untuk selalu memohon rahmat, kasih, cinta, dan maaf-Nya agar tak mudah terpeleset pada kejadian yang tidak diinginkan.

    Doa Naik Kendaraan Udara

    Diambil dari arsip detikHikmah, berikut adalah doa ketika hendak naik kendaraan udara yang bisa diamalkan.

    للهُ أَكْبَر، اللهُ أكْبر، الله أكْبَر، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

    Arab latin: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibun, allahumma inna nas’aluka fii safarinaa hadzal birro wat taqwa wa minal ‘amal maa tardho, allahumma hawwin ‘alaina safarona hadza wa athwi ‘annaa bu’dahu, allahumma antash shohibu fis safari wal kholifatu fil ahli, allahumma inni a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabatil mandzhori wa suuil munqolibi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menundukkan (pesawat) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Allah lah kami kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai.

    Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.”

    Itulah bacaan doa naik kendaraan baik darat, laut ataupun udara yang bisa kita amalkan sebelum bepergian.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Hujan Reda, Muslim Amalkan Yuk!


    Jakarta

    Turunnya hujan menjadi rahmat sekaligus berkah bagi makhluk hidup di muka bumi. Terlebih di musim kemarau, hujan menjadi momen yang paling ditunggu.

    Dalam surah Asy Syura ayat 28, Allah SWT berfirman:

    وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ


    Artinya: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmatNya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji.”

    Meski demikian, hujan yang turun terus menerus tanpa henti membuat khawatir sejumlah orang. Berkaitan dengan itu, ada doa yang dapat dipanjatkan agar hujan reda.

    Doa tersebut tercantum dalam Kitab Al-Adzkar susunan Imam Nawawi yang dinukil dari hadits riwayat Anas bin Malik, ia berkata:

    “Ada seseorang masuk ke dalam masjid pada hari Jumat, sementara Rasulullah SAW sedang berdiri hendak berkhutbah. Dia (orang itu) mengatakan, “Wahai Rasulullah, harta benda telah hancur, tanaman-tanaman telah rusak, berdoalah kepada Allah SWT agar menurunkan hujan kepada kami’

    Kemudian Rasul SAW mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, turunkan hujan kepada kami, turunkanlah hujan kepada kami.’

    Anas bin Malik berkata, “Demi Allah, aku tidak melihat sedikitpun awan di langit, sementara antara kami dan Bukit Sila’ dan rumah kami tidak ada satu pun rumah atau bangunan. Dari belakang beliau tiba-tiba muncul awan seperti perisai. Kemudian setelah awan menjadi gelap menutupi langit dan turunlah hujan. Demi Allah, setelah itu seminggu lamanya kami tidak melihat matahari.”

    Anas melanjutkan, “Kemudian pada seminggu setelahnya orang (yang sama) tersebut masuk lewat pintu yang sama, sedangkan Rasulullah SAW akan berkhutbah. Dia menghadap beliau dengan berdiri dan mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, harta benda telah hancur dan tanaman telah menjadi rusak, berdoalah kepada Allah SWT supaya menghentikan hujannya.’

    Maka Rasul SAW mengangkat kedua tangannya dan berdoa, ‘Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, bukan hujan di sekitar kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di tanah yang gersang, lahan tandus, dasar lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.’ Hujan pun reda, kami pulang dan berjalan di bawah sinar matahari.” (HR Bukhari & Muslim)

    Doa Hujan Reda: Arab, Latin dan Arti

    Berikut doa hujan reda yang dinukil dari sumber yang sama,

    اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابَةِ الشَّجَرِ

    Arab latin: Allaahumma hawaalainaa wala ‘alainaa, Alaahumma ‘alal aakaa- mi wadzhdzhiraabi wa buthuunil awdiyati wa manaabatisy syajari

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, bukan hujan di sekitar kami. Ya Allah turunkanlah hujan di atas tanah yang gersang, lahan tandus, dasar lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik)

    Selain itu, ada juga doa lainnya yang dapat dipanjatkan setelah hujan reda. Berikut doanya yang dikutip dari buku Keutamaan Doa dan Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera tulisan M Khalilurrahman Al-Mahfani,

    مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِةِ

    Arab latin: Muthirnaa bi fadh-lillaahi wa rahmatih

    Artinya: “Dicurahkannya hujan ini kepada kami atas karunia dan rahmat Allah.” (HR Bukhari, dari Zaid bin Khalid)

    Itulah doa hujan reda yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Ketika Dipuji Orang Lain, Baca Agar Tak Merasa Sombong



    Jakarta

    Ada doa yang bisa dibaca ketika mendengar atau melihat pujian dari orang lain. Doa ini dapat dibaca agar tetap merasa rendah hati dan terjauh dari sifat sombong.

    Mendapatkan pujian dari orang lain adalah pengalaman yang dapat membuat siapa pun merasa bahagia dan dihargai. Pujian merupakan bentuk pengakuan atas usaha, prestasi, atau sifat positif yang dimiliki seseorang.

    Dalam Islam, pujian dari orang lain harus selalu menjadi kesempatan untuk bersyukur kepada Allah. Semua pujian dan kebaikan yang dimiliki seseorang berasal dari Allah SWT.


    Seorang muslim dapat membaca doa ketika mendapat pujian dari orang lain. Berikut doa ketika dipuji orang lain.

    Doa Ketika Dipuji Orang Lain

    Dikutip dari buku Doa dan Zikir Harian Nabi karya Imam Abu Wafa, ketika dipuji atau dilebih-lebihkan dari muslim lain, maka jangan tertipu dengan sanjungan tersebut. Hendaknya membaca doa ketika dipuji orang lain. Doa yang dapat dibaca yaitu:

    اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ

    Bacaan latin: Allahumma laa tu’akhiznii bimaa yaquuluuna waghfirlii ma laa ya’lamuuna waj’alnii khairan mimma yadhunnun

    Artinya: “Ya Allah, janganlah engkau siksa aku dengan apa yang mereka ucapkan, ampunilah aku apa yang mereka tidak ketahui, dan jadikanlah bagiku yang lebih baik dari apa yang mereka kira.” (HR Bukhari)

    Keutamaan Membaca Doa Ketika Dipuji Orang Lain

    Pujian adalah sumber fitnah. Perlu diperhatikan apakah pujian yang orang lain berikan tersebut berakibat baik pada diri atau tidak, ungkap Mahmud Asy Syafrowi dalam buku Sukses Dunia-Akhirat dengan Doa-doa Harian. Untuk terhindar dari fitnah serta keburukan lainnya, sangat di anjurkan untuk seorang muslim membaca doa ketika mendapat pujian dari orang lain.

    Memuji dan Menyebutkan Kebaikan Diri Sendiri

    Dikutip dari buku Buku Induk Doa dan Zikir oleh Kasimun, Allah SWT melarang hamba-Nya untuk mengatakan bahwa dirinya suci. Larangan tersebut termaktub dalam surah An-Najm ayat 32,

    اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ ٣٢

    Artinya: “(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”

    Terdapat dua macam dalam menyebut kebaikan diri sendiri, yaitu yang tercela dan yang disukai. Yang tercela tujuannya menyombongkan diri, menampakkan ketinggian dan merasa lebih istimewa daripada yang lain, dan lain sebagainya. Kebaikan yang tercela ini dilarang untuk dilakukan.

    Sedangkan yang terpuji adalah yang mengandung maslahat agama seperti guru amar ma’ruf dan nahi munkar, penasihat, penceramah, pendidik, dan lain sebagainya. Jika demikian, maka ia boleh menyebutkan kebaikannya dengan niat semoga ucapannya bisa diterima dan dipegang.

    Terdapat sebuah hadits dalam buku Shahih Adabul Mufrad karya Imam Bukhari disebutkan bahwa, “Ar-Rabi’ mendatangi Alqamah pada hari Jum’at. Apabila saya tidak ada, mereka mengirim (utusan) kepada saya. Suatu kali utusan itu datang, sedangkan saya tidak ada. Kemudian Alqamah menemui saya dan berkata, ‘Apakah engkau tidak melihat apa yang telah dibawa Ar-Rabi’?’ Alqamah berkata, ‘Apakah engkau tidak melihat sebanyak-banyak hal yang (diharapkan) manusia dalam berdoa, dan amat sedikit dari mereka dikabulkan (doanya)? Hal itu karena Allah tidak akan menerima doa kecuali doa yang ikhlas.” “Saya berkata, “Bukankah Abdullah telah mengucapkan hal itu?” Alqamah berkata, “Apa yang diucapkan Abdullah?” Abdur Rahman ibnu Yazid berkata, “Abdullah berkata, ‘Allah tidak akan mendengar (doa) dari orang yang ingin dipuji orang lain, tidak pula dari orang yang riya, tidak pula dari orang yang bermain- main, akan tetapi (hanya menerima doa) dari orang yang berdoa dengan keteguhan hatinya. ‘Abdurrahman bin Yazid berkata, “Lalu Alqamah ingat dan berkata, Ya.””

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Membasuh Hidung ketika Wudhu dan Tata Caranya


    Jakarta

    Doa membasuh hidung dapat dibaca oleh kaum muslimin ketika berwudhu. Ketika melakukan hal demikian, ada sejumlah ketentuan yang penting dipahami.

    Membasuh hidung dikenal dengan istilah istinsyaq. Dijelaskan oleh Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 1, beristinsyaq disunnahkan sebanyak tiga kali. Istinsyaq termasuk ke dalam sunnah wudhu.

    Dalam sebuah riwayat yang sanadnya disahkan oleh Ibnu Qaththan, Rasulullah SAW bersabda:


    “Apabila kamu berwudhu, hendaklah berlebihan ketika bermadhmadhah (berkumur) dan beristinsyaq selama kau tidak berpuasa.”

    Doa Membasuh Hidung ketika Wudhu

    Menukil buku Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab Al-Adzkar Imam An-Nawawi susunan Imam Nawawi, berikut doa yang dapat dilafalkan ketika membasuh hidung.

    اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ نَعِيْمِكَ وَجَنَّاتِكَ

    Arab latin: Allaahumma laa tahrimnii raaihata naʼiimika wa jannaatika

    Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan kepada kami dari harumnya kenikmatan dan surga-Mu.”

    Cara Membasuh Hidung sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    Merujuk buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 1, dalam riwayat lainnya dari Laqith bin Sabrah menyebutkan:

    “Sempurnakanlah wudhu, gosoklah celah-celah jari, dan melebihkan istinsyaq kecuali kamu berpuasa.”

    Berdasarkan hadits di atas, cara membasuh hidung atau beristinsyaq yang baik ialah dengan berlebihan. Hal ini dilakukan dengan memasukkan air dan menghisap nafas hingga ke dalam hidung.

    Imam Nawawi melalui Kitab Al-Minhaj menyatakan bahwa berkumur dan beristinsyaq secara serentak lebih diutamakan ketimbang melakukan keduanya sendiri-sendiri. Caranya ialah dengan tiap satu dari tiga gayungan air digunakan untuk berkumur terlebih dahulu, lalu digunakan juga untuk istinsyaq.

    Tata Cara Wudhu yang Benar

    Merangkum dari arsip detikHikmah, berikut tata cara wudhu yang benar sesuai sunnah.

    1. Berniat dalam hati untuk berwudhu

    نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

    Arab latin: Nawaitul whuduua liraf’il hadatsil asghari fardal lillaahi ta’aalaa

    Artinya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta’ala”

    2. Membaca basmalah,
    “bismillaahirrahmaanirrahiim”.
    3. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali
    4. Berkumur tiga kali
    5. Menghirup air ke dalam hidung sebanyak tiga kali
    6. Membasuh seluruh bagian wajah yang terlihat sejumlah tiga kali
    7. Membasuh kedua tangan hingga siku, mulai dari yang kanan lanjut tangan kiri, sebanyak tiga kali
    8.Mengusap kepala tiga kali
    9. Membasuh kedua telinga tiga kali, dengan diawali yang kanan lalu kiri
    10. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki tiga kali, juga dimulai dari kanan kemudian kaki kiri
    11. Membaca doa setelah wudhu

    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    Arab latin: Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Allahummaj ‘alnii minat tawwaabiina waj ‘alnii minal mutathaahiriina subhaanaka Allahumma wa bihamdika laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus Rasul utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci. Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

    Demikian bacaan doa membasuh hidung ketika wudhu dan tata caranya sesuai sunnah. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Dzikir yang Paling Dahsyat sebagai Penghapus Dosa


    Jakarta

    Dzikir merupakan amalan yang penuh keutamaan dan dianjurkan bagi umat Islam. Rasulullah SAW mencontohkan banyak bacaan dzikir dan di antaranya ada yang disebut paling dahsyat.

    Anjuran berdzikir termuat dalam Al-Qur’an dan hadits. Allah SWT berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 41,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ ٤١


    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya.”

    Allah SWT juga berfirman,

    فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ ١٥٢

    Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS Al Baqarah: 152)

    Adapun dalam hadits, anjuran berdzikir terdapat dalam sejumlah hadits. Salah satunya seperti diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari dari Nabi SAW, beliau bersabda,

    مَثَلُ الّذِيْ يَذكُرُ رَبَّهُ وَالّذِيْ لَا يَذكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

    Artinya: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR Bukhari)

    Keutamaan Dzikir

    Selain menjadikan dekat dengan Allah SWT, dzikir memiliki sejumlah keutamaan. Disebutkan dalam Syarhu Hishn Al-Muslim min Adzkar Al-Kitab wa As-Sunnah karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, berikut beberapa keutamaan dzikir.

    • Dzikir dapat mengusir setan, menghantamnya dengan telak dan membinasakannya.
    • Dzikir itu mengundang keridhaan Allah SWT
    • Dzikir menjadi pengusir rasa sedih dan gundah dalam hati serta menjadikannya bahagia dan semangat
    • Dzikir menguatkan hati dan badan
    • Dzikir dapat mengundang rezeki
    • Dzikir mewariskan tobat dan kembali kepada Allah SWT
    • Dzikir dapat membukakan pintu agung di antara pintu-pintu pengetahuan
    • Dzikir mewariskan rasa takut kepada Rabbnya dan semangat untuk mengagungkan-Nya
    • Dzikir bisa membersihkan hati dari karatnya
    • Dzikir dapat menggugurkan lalu melenyapkan berbagai kesalahan. Dzikir adalah kebaikan paling agung yang dapat menghapus dosa dan perbuatan buruk.
    • Dzikir merupakan penyelamat dari azab Allah SWT
    • Dzikir adalah tanaman surga
    • Dzikir adalah cahaya bagi ahli dzikir semasa hidup di dunia, dalam kubur, dan di akhirat kelak akan memancar di atas jembatan.

    Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani menukil keutamaan dzikir di atas dari kitab Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib.

    Dzikir Paling Dahsyat

    Ada banyak bacaan dzikir yang diajarkan Rasulullah SAW. Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menukil sejumlah hadits yang salah satunya menyebut tentang bacaan dzikir yang paling dahsyat untuk menghapus dosa.

    Dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ سَبَّحَ اللهُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ الله ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ، وَكَبَّرَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ، وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى شَيْءٍ قَدِيرٌ. غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

    Artinya: “Barang siapa membaca tasbih tiga puluh tiga kali setiap selesai salat, membaca tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh tiga kali kemudian melengkapinya dengan bilangan seratus ia membaca, ‘Tiada tuhan selain Allah yang maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu’ maka diampunilah dosa-dosanya walaupun dosa-dosa itu seperti buih di lautan.” (HR Muslim dalam kitab Dzikir dan Doa bab Keutamaan Tasbih dan Tahlil)

    Bacaan dzikir paling dahsyat untuk menghapus dosa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah:

    1. Tasbih

    سُبْحَانَ الله

    Latin: Subhaana Allah

    Artinya: “Maha Suci Allah.”

    2. Tahmid

    الْحَمْدُ للهِ

    Latin: Alhamdulillah

    Artinya: “Segala puji bagi Allah.”

    3. Takbir

    اللَّهُ أَكْبَرُ

    Latin: Allahu Akbar

    Artinya: “Allah Maha Besar.”

    4. Tahlil

    لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

    Latin: La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu yuhyi wa yumit, wa huwa ‘ala syai’in qadir

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah yang maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Dzikir paling dahsyat sebagai penghapus dosa tersebut dapat diamalkan setiap selesai salat.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Qunut Nazilah untuk Rakyat Palestina



    Jakarta

    Doa qunut nazilah biasanya dibaca ketika terjadi musibah atau bencana. Doa ini bisa dipanjatkan untuk saudara kita yang berada di Palestina.

    Menurut Prof. Dr. H. Abudin Nata, MA, dalam bukunya yang berjudul “Bimbingan Praktikum Ibadah,” secara harfiah, “qunut” berarti “sedang,” sementara “nazilah” berarti “yang turun.” Secara umum, doa qunut nazilah dibaca untuk memohon perlindungan dari bencana.

    Profesor Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya yang berjudul Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu, menjelaskan bahwa doa qunut nazilah dibacakan secara jahar atau dengan keras. Qunut nazilah merujuk pada doa yang dibacakan ketika terjadi bencana atau musibah yang melanda umat Muslim.


    Mazhab Hanafi membolehkan pembacaan doa ini dalam salat-salat jahriyyah, yakni salat Subuh, Maghrib, dan Isya. Hukum membacanya adalah sunnah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

    “Rasulullah SAW benar-benar membaca doa qunut (nazilah) selama sebulan, sebagai respons terhadap (tragedi) pembunuhan para qurra’ (ahli Al-Qur’an) radhiyallahu ‘anhum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Macam-Macam Doa Qunut Nazilah

    Doa Qunut Nazilah Versi 1

    Mengacu pada buku “Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 2,” doa qunut nazilah terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar RA. Ketika Rasulullah membaca doa qunut, beliau membaca:

    اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَات بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْ عَلَى عَدُوّكَ وَعَدُوِّهِمْ اللَّهُمْ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ. اللَّهُمْ خَالِفٌ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ

    Arab latin: Allahummaghfir lilmu’minina walmu’minat, walmuslimina walmuslimat, wa alifa bayna qulubihim, wa ashlih dzat baynihim, wanshur ala a’uduwka waaduwwihim allahum an kafarata ahlil kitaabil ladziina yukadzibuuna rusulaka, wayuqaa tiluuna aw liyaa aka. Allahum khoolifun bayna kalimatihim, wazalzil aqda mahum, waanzil bihim ba’salkalladzii laayuraddu anilqowmil mujrimin. bismillahirrahmanirrahim. allahumma innanasta ‘inuk.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa orang mukmin dan mukminat, muslimin dan muslimat. Satukanlah hati-hati mereka, ciptakanlah kedamaian di antara mereka, dan bantu mereka mengatasi musuh-musuh-Mu dan musuh mereka. Ya Allah, timpakanlah kutukan kepada orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab yang telah mendustakan para utusan-Mu dan melawan para wali-Mu. Ya Allah, gagapkanlah kata-kata mereka, pecah belahkan kekuatan mereka, dan berikanlah hukuman-Mu yang tak terhindarkan bagi mereka. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami memohon pertolongan kepada-Mu.”

    Doa Qunut Nazilah Versi 2

    Menukil laman NU Online, berikut adalah doa qunut nazilah yang diijazahkan oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

    اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، نَشْكُرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللّٰهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فِيْ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الصُهْيُوْنِيِّيْنَ الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Bacaan latin: Allahumma inna nasta’inuka wa nastaghfiruka wa nastahdika wa nu’minu bika wa natawakkalu ‘alayka wa nutsni ‘alaykal khayra kullahu, nasykuruka wa la nakfuruka wa nakhla’u wa natruku may yafjuruka. Allahumma iyyaka na’budu wa laka nushalli wa nasjudu wa ilayka nas’a wa nahfidu, narju rahmataka wa nakhsya ‘adzabaka, inna ‘adzabakal jidda bil kuffari mulhiqun. Allahumma tsabbit ikhwananal mujahidina fi Filistin, khusushan fi Ghazzah, wahqin dima’ahum. Allahumma ‘alayka bil Yahud, ash-shuhyuniyyina, al-mal’unina, wa anzil ghadhabaka ‘alayhim. Allahumma-nshur dinaka wa kitabaka wa sunnata nabiyyika Muhammadin shallalluhu ‘alayhi wa sallam

    Artinya,”Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu, pengampunan-Mu, dan petunjuk-Mu. Kami beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu, dan bersyukur atas segala kebaikan-Mu. Kami bersyukur kepada-Mu dan tidak kufur kepada-Mu. Kami menjauhi orang-orang yang mendurhakai-Mu. Ya Allah, kami hanya beribadah kepada-Mu, bersujud dan berdoa kepada-Mu. Kami berusaha dan bergerak dengan harapan rahmat-Mu dan rasa takut akan siksaan-Mu. Kami menyadari bahwa azab-Mu yang berat menimpa orang-orang kafir. Ya Allah, kuatkan saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, terutama di Gaza, dan lindungi mereka. Ya Tuhan, hukumlah orang-orang Yahudi Zionis yang berdosa, dan tunjukkan murka-Mu kepada mereka. Ya Tuhan, bantu agama-Mu, kitab-Mu, dan sunnah Nabi-Mu, Muhammad. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kedamaian atas beliau.”

    اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

    Bacaan latin: Allahummanshuril musliminal mustadl’afina fi kulli makan(i). Allahumma-rhamil mustadh’afina min ‘ibadik(a). Allahummaksyifil ghummah ‘an ummatina. Allahumma inna nas’aluka an tarfa’al bala-a ‘an Ghazzah wa ahliha, wa an tanshurahum ‘ala ‘aduwwihim, wa an tarḫamal mustadl’afina min ‘ibadika, wa an taksyifal ghummah ‘an ummatina. Allahumma ‘afina walthuf bina waḫfadhna wanshurna wa farrij ‘anna wal muslimin(a). Allahummakfina wa iyyahum jami’an syarra masha-ibid dun-ya wad din(i)

    Artinya: “Ya Allah, bantu umat Islam yang menderita di seluruh dunia. Kasihanilah mereka yang terzhalim di antara hamba-hamba-Mu. Ya Tuhan, hilangkanlah penderitaan dari umat kami. Kami mohon agar Engkau mengangkat kesulitan dari Gaza dan penduduknya, memberi mereka kemenangan atas musuh mereka, mengampuni mereka yang tertindas di antara hamba-hamba-Mu, dan singkirkanlah penderitaan di bangsa kami. Ya Allah, berikanlah kami kesehatan, berikan hati yang baik kepada kami, lindungilah kami, dan dukunglah kami, serta seluruh kaum Muslim. Ya Allah, peliharalah kami dan mereka dari segala bahaya, baik dalam urusan dunia maupun agama.”

    اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ مَنْ فِيْ صَلَاحِهِ صَلاَحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لاَ تُهْلِكْنَا وَأَهْلِكْ مَنْ فِيْ هَلَاكِهِ صَلاَحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَالرَّحْمَةَ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَافِيَةِ وَالْبَرَكَةِ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُوْمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ وَاصْرِفْ عَنَّا وَعَنِ الْمُسْلِمِيْنَ الْأَذَى وَالْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْقَحْطَ وَالْحُمَّى وَالْجَدْبَ وَالْجَوْرَ وَالظُّلْمَ وَجَمِيْعَ أَنْوَاعِ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ وَالْأَمْرَاضِ وَالْأَسْقَامِ وَالشَّدَائِدِ وَالزَّيْغِ وَالضَّلَالِ وَالزَّلَازِلِ وَالرِّيْحِ وَالْجَهْلِ وَالْبَلَاءِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وأَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَالْمَنْكُوْبِيْنَ وَالْمَكْرُوْبِيْنَ وَالْمَظْلُوْمِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاكْلَأْهُمْ وَصُنْهُمْ وَتَوَلَّهُمْ وَارْعَهُمْ وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدَهُمْ، وَوَفِّقْنَا وَإِيَّاهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَالْطُفْ بِنَا وَبِهِمْ فِيْ مَا يَجْرِيْ بِهِ الْقَضَاءُ، وَاصْرِفْ وَادْفَعْ وَأَبْعِدْ وَأَزِلْ عَنَّا وَعَنْهُمْ شَرَّ الطَّاغِيْنَ وَالْبَاغِيْنَ وَالظَّالِمِيْنَ وَالْمُعْتَدِيْنَ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَالْمُؤْذِيْنَ وَالْعَائِنِيْنَ وَالسَّاحِرِيْنَ بِمَا شِئْتَ عَاجِلاً غَيْرَ اٰجِلٍ فِيْ عَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Bacaan latin: Allahumma ashlihna wa ashliḫ man fi shalahihi shalahul muslimin(a). Allshumma la tuhlikna wa ahlik man fi halakihi shalahul muslimin(a). Allahumma-sqinal ghaytsa war rahmata ma’al luthfi wal ‘afiyati wal barakati wa la taj’alna minal mahrumin. Allahummarfa’ washrif ‘anna wa ‘anil musliminal adza wal ghala-a wal bala-a wal qahtha wal humma wal jadba wal jawra wadh dhulma wa jami’a anwa’il fitani wal mihani wal amradhi wal asqami wasy-syada-idi wazzayghi wadl dlalali waz zalazili war rihi wal jahli wal bala-i ma dhahara minha wa ma bathana. Wa anjil mustadh’afina wal mankubina wal makrubina wal madhlumina minal muslimina wakla’hum washunhum wa tawallahum war’ahum wa alhimhum rusydahum wa waffiqna wa iyyahum lima tuhibbu wa tardla, wal-thuf bina wa bihim fi ma yajri bihil qadha-u, washrif wadfa’ wa ab’id wa azil ‘anna wa ‘anhum syarrath thaghina wal baghina wadh dhalimina wal mu’tadina wal mufsidina wal mu’dzina wal ‘a-inina was sahirina bima syi’ta ‘ajilan ghayra ajilin fî ‘afiyatin wa salamatin birahmatika ya arhamarrahimina

    Artinya, “Ya Allah, perbaikilah kami dan perbaiki orang-orang yang mendatangkan kebaikan bagi kaum Muslimin. Ya Allah, jangan hancurkan kami, dan hancurkanlah siapa pun yang jika mereka hancur akan membawa kebaikan bagi kaum Muslimin. Ya Allah, limpahkan kepada kami hujan dan rahmat, kebaikan, kesehatan, dan keberkahan. Janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang terhalang dari berkah-Mu. Ya Allah, jauhkan dari kami dan kaum Muslimin segala mara bahaya, bencana, kesengsaraan, kekeringan, penyakit, kesakitan, kemalangan, penyimpangan, kesesatan, gempa bumi, angin yang merusak, kebodohan, dan kesengsaraan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Lindungilah umat Islam yang tertindas, diinjak-injak, dianiaya, dan dizalimi. Berikan mereka perlindungan, bimbingan, dan pertolongan. Tunjukkan kami dan mereka kepada jalan yang Engkau ridhai, dan selalu lembutkanlah hati kami dalam menerima takdir-Mu. Lindungi kami dari kejahatan orang-orang zalim yang ingin menyakiti dan menindas. Juga orang-orang yang menyerang, merusak, menyakiti, beserta para penolong mereka dan tukang sihirnya sesuai apa saja yang Engkau kehendaki, secepatnya tanpa penundaan, dalam keadaan sehat dan selamat dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

    Cara Mengerjakan Qunut Nazilah

    Pembacaan doa qunut nazilah dapat dilakukan pada rakaat terakhir setelah rukuk dalam setiap salat fardhu. Doa qunut dibaca dengan suara pelan (sirr) jika salat dilaksanakan pada waktu Zuhur dan Ashar. Namun jika salat berjamaah diwaktu Subuh, Maghrib, dan Isya, doa qunut harus dibaca dengan keras.

    Seorang imam yang membaca doa qunut nazilah memiliki opsi untuk mengubah kata ganti sendiri menjadi kata ganti untuk orang banyak. Sementara para makmum cukup mengaminkannya.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com