Tag: doa

  • Doa Berbuka Puasa dan Sunnah Rasulullah saat Berbuka


    Jakarta

    Berbuka puasa menjadi momen paling dinanti umat Islam yang menunaikan ibadah puasa. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berdoa dan meminta apapun sebelum berbuka.

    Karena doa yang dipanjatkan pada waktu tersebut akan dikabulkan oleh Allah SWT. Lantas seperti apa doa berbuka puasa dan artinya?

    Nabi Muhammad SAW bersabda:


    ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ وَالصَّا ئِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ.

    Artinya: “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: (1) pemimpin yang adil, (2) orang yang berpuasa ketika ia berbuka, dan (3) doa orang yang terzholimi.”

    Bacaan Doa Berbuka Puasa

    Ada dua versi bacaan yang dapat muslim baca ketika berbuka puasa.

    Doa Buka Puasa Pertama

    اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ أُمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت ُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ .

    Arab-Latin: Alloohumma laka shumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamarroohimiin

    Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku tunduk dan patuh, dan dengan rejeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang”

    Doa Buka Puasa Kedua

    Dilansir dari buku 99 Doa dan Zikir Harian untuk Muslimah yang ditulis oleh Wulan Mulya Pratiwi terdapat doa berbuka puasa lainnya yang pernah dilantunkan Rasulullah SAW saat berbuka puasa.

    ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَ اءَ الله

    Arab-Latin: Dzahabazh zhama-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah.

    Artinya: “Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah.” (HR. Abu Daud no. 2,357)

    Anjuran Rasulullah saat Berbuka Puasa

    Selain doa berbuka puasa, ada tiga hal yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan muslim bisa mengikutinya:

    1. Menyegerakan Berbuka Puasa

    Dilansir dari buku Puasa Ibadah Kaya Makna karya Budi Handrianto dianjurkan untuk menyegerakan berbuka jika memang telah masuk waktunya berbuka, Allah SWT tidak menyukai umatnya yang merasa hebat bisa menahan dirinya dan berlama-lama dalam berbuka puasa.

    Seperti sabda Rasulullah SAW ini:

    لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرِ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.

    “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)

    2. Berbuka dengan Kurma dan Air

    Anjuran Rasulullah SAW lainnya perihal berbuka selain menyegerakannya adalah berbuka dengan kurma dan air.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Rasulullah SAW biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan salat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air. ” (HR.Abu Daud no. 2,356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih).

    3. Makan Sebelum Salat

    Dari buku Mempercepat Datangnya Rezeki Dengan Ibadah Ringan yang ditulis oleh Dr. KH. Mukhlis Allyudin dan H. Enjang AS, M.Ag. M.Si dijelaskan ketika berbuka puasa sebaiknya makan dahulu mengisi perut sebelum melaksanakan salat.

    Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW:

    “Jika santapan malam sudah terhidang, dan salat sudah (akan) dilaksanakan, dahulukan santapan malam.” (HR. Al-Bukhari dari Anas bin Malik RA.).

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Allahumma Innaka Afuwwun Tuhibbul Afwa Fa’fu Anni saat Lailatul Qadar


    Jakarta

    Malam Lailatul Qadar diriwayatkan akan terjadi di salah satu malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Umat Islam dianjurkan menggencarkan berbagai amalan untuk menyambutnya, salah satunya memanjatkan doa allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu anni.

    Anjuran menggencarkan amalan ini bersandar pada salah satu keutamaan malam Lailatul Qadar yang dijelaskan di Al-Qur’an surah Al Qadr ayat 3.

    لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ


    Artinya: “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”

    Berdasarkan Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, ayat tersebut menjelaskan malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan tanpa Lailatul Qadar di dalamnya. Ibadah pada malam itu mempunyai nilai yang sangat tinggi di mata Allah, lebih tinggi daripada ibadah selama seribu bulan.

    Doa Malam Lailatul Qadar

    Salah satu amalan yang dianjurkan untuk dilakukan ketika malam Lailatul Qadar adalah memperbanyak bacaan doa khusus Lailatul Qadar, yaitu doa memohon ampunan kepada Allah SWT.

    Diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, Kitab An-Nasa’i, dan Kitab Ibnu Majah, dari Sayyidah Aisyah RA ia berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui datangnya Lailatul Qadar, apa yang harus kuucapkan?” Beliau menjawab,

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni. Karena itu, ampunilah aku.”

    Amalan Menyambut Malam Lailatul Qadar

    Berikut beberapa amalan yang dapat dilakukan pada 10 hari terakhir Ramadan untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

    Melakukan Iktikaf

    Rasululllah SAW senantiasa melakukan iktikaf pada 10 hari terakhir Ramadan, bahkan menambah jumlah harinya menjadi 20 hari terakhir ketika beliau telah mendekati akhir hayatnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan Abu Maryam Kautsar Amru dalam buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan.

    Hal tersebut juga dijelaskan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, “Rasulullah SAW selalu iktikaf setiap bulan Ramadan selama 10 hari. Namun pada tahun dimana beliau wafat, beliau iktikaf selama 20 hari.” (HR Al-Bukhari)

    Menggencarkan Ibadah

    Mengutip buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, umat Islam dianjurkan untuk menggencarkan ibadah pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Ini meneladani Rasulullah SAW yang menggiatkan ibadahnya di 10 hari terakhir Ramadan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang dikeluarkan Bukhari dan Muslim.

    Diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW apabila memasuki 10 hari terakhir, beliau menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat sarungnya.

    Menggencarkan Qiyamul Lail

    Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah RA, umat Islam dapat meneladani Rasulullah SAW yang menghidupkan malam ketika memasuki 10 hari terakhir dengan giat melakukan qiyamul lail atau salat malam.

    Salat Tarawih

    Menukil buku Mukjizat Lailatul Qadar karya Arif M. Riswanto, Tarawih adalah salah satu ibadah sunah yang dilakukan pada bulan Ramadan. Salat Tarawih dikerjakan di malam hari. Oleh karena itu, malam Ramadan umat Islam akan dihidupkan oleh salat Tarawih.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan penuh iman dan muhasabah, dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari)

    Memperbanyak Sedekah

    Alexander Zulkarnaen dalam buku Apakah Amalan Kita Diterima Allah SWT menjelaskan bahwa Ramadan adalah Syahrul Muwasah atau bulan berbagi dan Syahrul Ijtimayyah atau bulan kepedulian sosial. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa sesudah Sholat Tahajud agar Permohonan Cepat Terkabul


    Jakarta

    Doa sesudah sholat Tahajud termasuk sunah Rasulullah SAW. Bacaannya tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

    Sholat Tahajud sendiri merupakan amalan sunah yang sangat dianjurkan. Banyak keistimewaan yang terkandung dari sholat Tahajud, Nabi SAW bahkan bersabda dalam sebuah hadits,

    “Kerjakanlah sholat malam, karena sholat malam itu kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kamu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, juga sebagai penembus pada segala kejahatan (dosa) mencegah dosa serta dapat menghindari penyakit pada badan.” (HR Imam Tirmidzi dan Ahmad)


    Ustaz Ahmad Baei Jaafar melalui bukunya yang berjudul Terapi Shalat Sempurna menjelaskan bahwa tahajud artinya bangun malam. Sholat Tahajud adalah sholat yang dilakukan ketika bangun pada waktu malam hari.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Isra ayat 79,

    وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

    Artinya: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

    Doa sesudah Sholat Tahajud

    Mengutip buku Doa-doa Mustajab oleh Abu Qalbina, setelah seluruh rangkaian sholat tahajud selesai dan mengucap salam, muslim bisa membaca doa sesudah sholat tahajud berikut ini.

    اَللهم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ واْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاءُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهم لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لآ اِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

    Arab latin: Allâhumma rabbanâ lakal hamdu. Anta qayyimus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta mâlikus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta nûrus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa’dukal haqq. Wa liqâ’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan nâru haqq. Wan nabiyyûna haqq. Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haqq. Was sâ’atu haqq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. Fagfirlî mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a’lantu, wa mâ anta a’lamu bihi minnî. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa lâ haula, wa lâ quwwata illâ billâh.

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar. Hari Kiamat itu benar. Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Selain membaca doa sesudah sholat tahajud, disebutkan dalam buku 10 Kesaksian Pengamal Tahajud susunan Hendri Kusuma Wahyudi, bisa juga membaca zikir. Bacaan zikir yang dimaksud seperti, memperbanyak istighfar atau memohon ampun.

    Mengutip buku Fiqh Shalat Terlengkap oleh Abu Abbas Zain Musthofa al-Basuruwani, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin-nya menyebut sejumlah adab berdoa. Antara lain sebagai berikut:

    1. Pilih Waktu Terbaik

    Waktu terbaik atau waktu istijabah tersebut adalah waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT bagi umat Islam. Meskipun pada dasarnya berdoa tidak mengenal waktu dan tempat, umat Islam juga tetap perlu memperhatikan waktu-waktu mustajab dengan harapan doa dapat terkabul.

    Beberapa waktu di antaranya yakni sepertiga malam terakhir, saat berbuka puasa, antara azan dan ikamah, saat azan berkumandang, sujud dalam salat, dan saat turun hujan. Rasulullah SAW bersabda,

    ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

    Artinya: “Dua doa yang tidak akan tertolak atau paling tidak jarang ditolak oleh Allah SWT yaitu antara azan dan ikamah serrta berdoa ketika turun hujan.” (HR Abu Dawud)

    2. Menghadap Kiblat

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 149-150,

    وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَاِنَّهٗ لَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ – ١٤٩

    Artinya: “Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Baqarah: 149)

    وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۙ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِيْ وَلِاُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ – ١٥٠

    Artinya: “Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu, agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, dan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah: 150)

    3. Berdoa dengan Rendah Hati

    Selanjutnya, muslim dianjurkan agar berdoa dengan wajar dan merendahkan diri serta tidak menggunakan kata yang berlebih-lebihan. Dalam Al-Qur’an surah Al A’raf ayat 55 disebutkan adab berdoa agar rendah hati dan bersuara lembut.

    اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ – ٥٥

    Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

    4. Berdoa dengan Rasa Harap

    Adab berdoa selanjutnya yakni seorang muslim hendaknya berdoa dengan harap dan cemas. Sebab, ke-tawadhu-an dan kerendahan hati sangat disukai oleh Allah SWT. Allah juga berfirman dalam surah Al A’raf ayat 56,

    وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ – ٥٦

    Artinya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”

    5. Tidak Terburu-buru

    Berdoa hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak terburu-buru. Dari riwayat Ibn Mas’ud RA ia berkata, “Apabila Nabi Muhammad SAW berdoa, beliau berdoa tiga kali. Dan apabila meminta, beliau juga meminta tiga kali.”

    Tata Cara Sholat Tahajud 2 Rakaat

    Mengutip buku Panduan Sholat Wajib dan Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah SAW karya Arif Rahman, berikut tata cara sholat Tahajud 2 rakaat.

    • Membaca niat sholat Tahajud,

    اُصَلِّى سُنَّةً التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

    Arab latin: “Ushallii sunnata-t-tahajjudi rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’alla.”

    Artinya: “Aku niat sholat sunah Tahajud 2 rakaat, menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala.”

    • Takbiratul ihram
    • Membaca doa iftitah
    • Membaca surah Al Fatihah
    • Membaca salah satu surah pendek dalam Al-Qur’an
    • Rukuk
    • Iktidal
    • Sujud pertama pada rakaat pertama
    • Duduk antara dua sujud
    • Sujud kedua pada rakaat pertama
    • Berdiri, lalu lakukan rakaat kedua dengan gerakan dan bacaan yang sama seperti rakaat pertama sampai sujud kedua
    • Duduk dan membaca doa tahiyat akhir
    • Salam

    Setelah salam umat Islam bisa melanjutkannya dengan membaca doa sesudah sholat Tahajud.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Doa untuk Mendatangkan Rezeki dari Arah yang Tak Terduga


    Jakarta

    Rezeki bisa datang dari arah yang tak terduga. Ada sejumlah doa yang bisa dipanjatkan seorang muslim untuk memohon datangnya rezeki tersebut.

    Rezeki seorang hamba sesungguhnya telah diatur secara adil oleh Allah SWT. Rezeki tidak mesti berbentuk harta benda, bisa juga berupa kesehatan, nikmat iman dan Islam serta keluarga yang harmonis.

    Hal itu telah tertuang dalam Al-Qur’an surah Hud ayat 6. Allah SWT berfirman,


    وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

    Artinya: “Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

    Menurut Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, ayat tersebut menjelaskan semua makhluk yang hidup di bumi mendapat jaminan rezeki dari Allah SWT. Allah SWT memberikan binatang naluri dan kemampuan untuk mencari rezeki sesuai fitrah kejadiannya, semuanya telah diatur Allah SWT.

    Dijelaskan di dalam buku 99 Prinsip Bisnis Sukses ala Rasulullah karya A.R Shohibul Ulum, bahwa rezeki pada makhluk ditentukan oleh Allah SWT sejak masih berada di rahim ibunya.

    Sementara itu, Irwan Kurniawan dalam bukunya yang berjudul Mengetuk Pintu Rezeki menjelaskan Allah SWT memang telah menjamin rezeki setiap makhluknya, tetapi rezeki tersebut terkadang tidak datang dengan sendirinya dan harus dijemput.

    Manusia telah dibekali akal dan pikiran oleh Allah SWT, sehingga bisa digunakan untuk berusaha mencari dan menjemput rezeki. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah An Najm ayat 39-41,

    وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ . وَأَنَّ سَعْيَهُۥ سَوْفَ يُرَىٰ . ثُمَّ يُجْزَىٰهُ ٱلْجَزَآءَ ٱلْأَوْفَىٰ

    Artinya: “Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna.”

    Namun siapa sangka, jika rezeki dapat datang dari arah yang tidak diduga-duga dan dalam bentuk yang berbeda-beda. Misalnya dapat berupa harta benda, kesehatan, bahkan rambut yang beruban adalah rezeki dari Allah SWT.

    Apabila usaha dan doa yang selalu diiringi dengan rasa syukur dan ikhlas serta keyakinan penuh, niscaya Allah SWT akan memberikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Muslim juga dapat memohon kepada Allah SWT rezeki yang tidak terduga dengan membaca doa-doa di bawah ini.

    Kumpulan Doa Memperoleh Rezeki Tak Terduga

    Diambil dari buku Doa-doa Terbaik Sepanjang Masa karya Ustaz Ahmad Zacky El-Syafa, berikut Kumpulan Doa untuk mendatangkan rezeki tak terduga yang bisa kita amalkan.

    Doa ke-1

    اَللَّهُمَّ إِنَّهُمْ حُفَاةٌ فَاحْمِلْهُمْ، اَللَّهُمَّ إِنَّهُمْ عُرَاةٌ فَاكْسُهُمْ اللَّهُمإِنَّهُمْ حِيَاعٌ فَأَشْعُهُمْ

    Allaahuma innahum hufaatun fahmilhum, allaahumma innahum ‘uraatun faksuhun, allaahumma innahum jiyaa’un fa asybi’hum

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya mereka telanjang kaki, maka bawalah mereka. Ya Allah, sesungguhnya mereka telanjang badan, maka berilah mereka pakaian. Ya Allah, sesungguhnya mereka lapar, maka kenyangkanlah mereka.” (HR Abu Dawud dan Baihaqi)

    Doa ke-2

    اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقُكَ عَلَى عِنْدَ كِبَرِ سِنِى وَانْقِطَاعِ عُمْرِي

    Allaahummaj’al rizquka ‘alayya inda kibari sinii wangi-thaa’i’umrii

    Artinya: “Ya Allah… Jadikanlah rezeki-Mu selalu ada padaku sampai ketika aku sudah tua atau umurku sudah terputus (meninggal dunia).” (HR Thabrani)

    Doa ke-3

    اللهم إلى استقلك رزقا طيباً وَعِلْمًا نَّافِعًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

    Allaahumma innii as-aluka rizqan thayyiban wa ‘ilman naafi’an wa ‘amalan mutaqabbalan

    Artinya: “Ya Allah… Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu rezeki yang baik, ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima.” (HR Al Mustaghfiri)

    Doa ke-4

    اللهُمَّ يَا غَنِيٌّ يَا حَمِيدُ يَا مُبْدِءُ يَا مُعِيْدُ يَا رَحِيمُ يَا وَدُوْدُ أَغْنى بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

    Allaahumma yaa ghaniyyu yaa hamiidu ya mubdi-u yaa mu’iid yaa rahiimu ya waduudu aghninii bihalalika ‘an haraamika wa bithaa’atika ‘an ma’shiyatika wa bifadlika anman siwaaka

    Artinya: “Ya Allah…Wahai Zat Yang Maha Kaya, Zat Yang Maha Terpuji, Zat Yang Maha Memulai, Zat Yang Maha Mengembalikan, Zat Yang Maha Belas Kasih, berilah kekayaan kepadaku dengan rezeki yang halal, jauhkan dari rezeki yang haram, dan dengan ketaatan kepada-Mu, jauhkan dari tindak maksiat kepada-Mu dan dengan karunia-Mu jauhkanlah siapa saja yang selain Engkau.”

    Doa ke-5

    اللَّهُمَّ إِلى أَسْفَلْكَ عَنْ تَرْزُقَنِي رِزْقاً حَلالاً وَاسِعاً طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَب وَلَا مَشَقَّةٍ وَلَا ضَيْرٍ وَلَا نَصَبٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّشَيْءٍ قَدِيرٌ

    Allaahumma innii as-aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’abin wa laa masyaqqatin wa laa dhairin wa laa nashabin innaka ‘alaa kulli syaiin qadiirun

    Artinya: “Ya Allah… Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu rezeki yang halal, luas, baik, tanpa payah, sulit, membahayakan dan meletihkan dalam memperolehnya. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

    Doa ke-6

    مَنْ قَالَ لَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ مِائَةَ مَرَّةٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ لَمْ يُصِبْهُ فَقْرًا اَبَدًا

    لَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

    Laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adziimi

    Artinya: “Tiada daya dan kekuatan hanyalah berasal dari Allah Zat Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

    Menurut sebuah riwayat, membaca doa tersebut sebanyak 100 kali akan terhindar dari kefakiran. Berikut bunyi haditsnya,

    مَنْ قَالَ لَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ مِائَةَ مَرَّةٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ لَمْ يُصِبْهُ فَقْرًا اَبَدًا

    Artinya: “Barang siapa yang membaca laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adziimi (Tiada daya dan kekuatan hanyalah berasal dari Allah Zat Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung) sebanyak seratus kali dalam setiap hari, maka ia tidak akan terkena kefakiran selamanya.” (HR Ibnu Abid Dunya)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Rangkaian Bacaan Doa Selesai Salat yang Harus Diketahui


    Jakarta

    Sebagai umat Islam, kita diwajibkan untuk melaksanakan salat lima waktu. salat merupakan ibadah yang memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Namun, tahukah detikers bahwa amalan setelah salat juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas ibadah kita? Salah satu amalan penting setelah salat adalah membaca doa.

    Membaca doa setelah salat bukan hanya sebuah kebiasaan, tetapi memiliki banyak keutamaan yang luar biasa. Doa setelah salat merupakan waktu yang mustajab untuk dikabulkan oleh Allah SWT dan memiliki banyak keutamaan.


    Dilansir dari buku Ampuhnya Fadhilah Dzikir & Doa Setelah Shalat Fardhu & Sunnah oleh H.M. Amrin Rauf, berikut adalah keutamaan doa setelah salat:

    • Doa diampuni, baik di masa lalu dan masa kini
    • Rezeki dimurahkan oleh Allah SWT
    • Segala urusan dimudahkan oleh Allah SWT
    • Menjadi orang berwibawa di kalangannya
    • Diberi ketenangan hati

    Doa merupakan bentuk komunikasi antara hamba dengan Allah SWT. Allah juga senang pada hamba-Nya yang berdoa karena doa menunjukkan bahwa hamba tersebut percaya kepada-Nya dan berharap pertolongan-Nya.

    Bacaan Doa Selesai Salat

    Berikut ini adalah rangkaian doa dan dzikir yang bisa kita bacakan setelah selesai salat:

    1. Membaca Istighfar

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْمِ الَّذِيْ لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

    “Astaghfirullah hal’adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih.”

    Artinya: “Hamba mohon ampun kepada Allah SWT yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya”

    2. Memuja Keesaan Allah SWT

    لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْر

    “Laa ilaha illallah wakhdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul khamdu yukhyiiy wayumiitu wahuwa ‘alaa kulli syai’innqodiir.”

    Artinya: “Tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

    3. Memohon Perlindungan dari Siksa Neraka

    للَّهُمَّ أَجِرْنِـى مِنَ النَّارِ

    “Allahumma ajirni minan-naar.”

    Artinya: “Ya Allah lindungilah aku dari api neraka”

    4. Memohon Keselamatan

    للَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَارَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْـجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَام.

    “Allahumma antassalam, wamingkassalam, wailayka ya’uudussalam fakhayyina rabbanaa bissalaam, wa-adkhilnaljannata darossalaam tabarokta rabbanaa wata’alayta yaa dzaljalaali wal ikraam.”

    Artinya: “Ya Allah, Engkaulah As-Salaam (Yang selamat dari kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan dan kerusakan-kerusakan) dan dari-Mu as-salaam (keselamatan), Maha Berkah Engkau Wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Baik”

    5. Membaca Al-Fatihah

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ ٧ ( الفاتحة/1: 1-7)

    Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn. hdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Siraṭalladżīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa lad-dallīn.

    Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah/1:1-7)

    6. Membaca Ayat Kursi

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ٢٥٥

    Allahu la ilaha illa huwal-hayyul-qayyum(u). La ta’khudzuhu sinatuw waa naum(un), lahu ma fissamawati wama fil-ard(i), man dzal-ladzi yasyfa’u ‘indahu illa bi’idznih(i), ya’lamu ma baina aidihim wa ma khalfahum, wa la yuhituna bisyai’im min ‘ilmihi illa bima sya'(a), wasi’a kursiyyuhus-samawati wal-ard(a), wa la ya’uduhu hifzuhuma, wa huwal-‘aliyyul-‘azim(u).

    Artinya: Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

    7. Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir, dan Tahlil

    Kalimat Tasbih 33x:

    سُبْحَانَ اللهِ

    “Subhanallah”

    Kalimat Tahmid 33x:

    الْحَمْدُلِلهِ

    “Alhamdulillah”

    Kalimat Takbir 33x:

    اللهُ اَكْبَرُ

    “Allahu Akbar”

    Kalimat Tahlil 33x:

    لَااِلٰهَ اِلَّا اللهُ

    “Lailaha Illallah”

    8. Membaca Doa Selesai Salat

    Dikutip dari buku Tuntunan Shalat Lengkap dan Benar oleh Dra. Neni Nuraeni M.Ag, berikut adalah doa selesai salat:

    رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ

    rabbana faghfir lana dzunubana wa kaffir ‘anna sayyi’atina wa tawaffana ma’al-abrar

    Artinya: Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang selalu berbuat kebaikan.

    رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ

    rabbanaghfir li wa liwalidayya wa lil-mu’minina yauma yaqumul-hisab

    Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).”

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

    rabban hab lan min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw waj’alna lil-muttaqina imama

    Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

    رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

    rabbi auzi’ni an asykura ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shaliaan tardlahu wa ashlih li fi dzurriyyati, inni tubtu ilaika wa inni minal-muslimin

    Artinya: “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

    رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًاۖ

    rabbanashrif ‘anna ‘adzaba jahannama inna ‘adzabaha kana gharama

    Artinya: “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami (karena) sesungguhnya azabnya itu kekal.”

    رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

    Rabbana latuzigh-qulubana ba’da idz hadaitana wahablana min landunkarahmatan innaka antalwahhab.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia.”

    Wallahu a’lam.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Naik Kendaraan: Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Ada beberapa doa yang bisa dibaca sebelum bepergian menggunakan kendaraan. Doa ini ditujukan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar selamat selama perjalanan.

    Menjelang Idul Fitri, masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mudik atau pulang ke kampung halaman. Kebiasaan ini menjadi tradisi di kalangan para perantau.

    Perjalanan mudik ditempuh dengan berbagai cara, ada yang berkendara menggunakan moda transportasi darat, laut dan juga udara. Setiap perjalanan mudik Idul Fitri, tentu memiliki tujuan yang sama yakni agar bisa silaturahmi dengan orang tua ataupun sanak keluarga.


    Untuk memohon diberikan perjalanan yang lancar dan aman, seorang muslim bisa memanjatkan doa sebelum naik kendaraan. Berdoa menjadi sebuah anjuran yang bisa dikerjakan kapanpun.

    Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan orang yang sedang melakukan perjalanan. Orang-orang yang bepergian menjadi salah satu golongan yang doanya mustajab,

    روينا في كتب أبي داود والترمذي وابن ماجه عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن دعوة المظلوم، ودعوة المسافر، ودعوة الوالد على ولده

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Ada tiga doa mustajabah yang tidak disangsikan lagi, yaitu doa orang teraniaya, doa orang dalam perjalanan, dan doa orang tua untuk anaknya,” (HR Abu Dawud, At-Tirmizi, dan Ibnu Majah).

    Doa Naik Kendaraan

    Merangkum buku Kumpulan Dzikir dan Doa Shahih: Tuntunan Hidup 24 Jam oleh Anshari Taslim dijelaskan bahwa Rasulullah SAW senantiasa membaca doa sebelum melakukan perjalanan dan berkendara.

    Di zaman Rasulullah SAW, kendaraan itu adalah kuda atau unta yang dimanfaatkan sebagai kendaraan darat. Ada pula kendaraan kapal sebagai moda transportasi air, baik di sungai maupun di laut.

    Berdoa ketika hendak naik kendaraan menjadi salah satu amalan sunnah. Berikut beberapa doa naik kendaraan yang bisa dilafalkan saat hendak melakukan perjalanan.

    1. Doa Naik Kendaraan Darat

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبَّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

    Arab Latin: Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamun qolibuun

    Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak akan mampu menguasainya, dan sungguh kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

    2. Doa Naik Kendaraan Laut

    بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا، إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

    Arab Latin: Bismillaahi majreehaa wa mursaahaa, inna robbii laghofuurur rohiim

    Artinya: “Dengan nama Allah, kami berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

    3. Doa Naik Kendaraan Udara

    اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِعَنَّابُعْدَهُ اَللّٰهُمَّ اَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِوَالْخَلِيْفَةُفِى الْاَهْلِ

    Arab Latin: Allaahumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa wathwi ‘annaa bu’dahu allaahumma anta ashshoohibu fissafari walkholiifatu fil-ahl.

    Artinya: “Ya Allah, mudahkanlah kami bepergian ini, dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah yang menemani dalam bepergian, dan Engkau pula yang melindungi keluarga.”

    Bisa juga membaca doa berikut,

    للهُ أَكْبَر، اللهُ أكْبر، الله أكْبَر، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

    Arab latin: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibun, allahumma inna nas’aluka fii safarinaa hadzal birro wat taqwa wa minal ‘amal maa tardho, allahumma hawwin ‘alaina safarona hadza wa athwi ‘annaa bu’dahu, allahumma antash shohibu fis safari wal kholifatu fil ahli, allahumma inni a’udzubika min wa’tsaais safari wa kaabatil mandzhori wa suuil munqolibi fil maali wal ahli.

    Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menundukkan (pesawat) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Allah lah kami kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai.

    Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga.”

    Selain membaca doa naik kendaraan, usahakan juga untuk senantiasa melafalkan doa keselamatan dan memperbanyak dzikir.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Malam Lailatul Qadar Sesuai Sunnah Rasulullah


    Jakarta

    Salah satu malam istimewa yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya memperbanyak doa malam Lailatul Qadar.

    Anjuran membaca doa malam Lailatul Qadar bersandar pada hadits yang terdapat dalam kitab At-Tirmidzi, kitab An-Nasa’i, dan kitab Ibnu Majah. Imam At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih.

    Dalam riwayat tersebut diceritakan, Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?”


    Rasulullah SAW menjawab, “Ucapkanlah: ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah daku.” (HR Ibnu Majah)

    Berikut bacaan doa malam Lailatul Qadar yang dimaksud dalam hadits di atas.

    Doa Malam Lailatul Qadar Arab, Latin dan Artinya

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

    Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni. Karena itu, ampunilah aku.”

    Hadits yang memuat doa malam Lailatul Qadar tersebut dinukil Imam an-Nawawi dalam kitab Al Adzkar sebagaimana diterjemahkan Ulin Nuha.

    Para ulama mazhab berpendapat dianjurkan memperbanyak doa ini pada malam Lailatul Qadar. Selain itu, umat Islam dianjurkan membaca Al-Qur’an, semua zikir, dan doa-doa yang dianjurkan dalam tempat-tempat yang suci dan terhormat.

    Keutamaan Malam Lailatul Qadar

    Lailatul Qadar adalah satu malam yang memiliki keutamaan yang tidak terdapat pada malam-malam lainnya. Disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al Qadr, malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman,

    اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ ٥

    Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5)

    Dijelaskan dalam buku Mukjizat Lailatul Qadar Menemukan Berkah pada Malam Seribu Bulan ditulis oleh Arif M. Riswanto Lailatul Qadar terdiri dari dua kata lailah dan al-qadar.

    Lailah artinya malam atau waktu yang terbentang sepanjang tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Sedangkan Al-qadar berarti ukuran, penghormatan, takdir, sempit yang melapangkan, kekuatan, menyempurnakan, dan mempersiapkan.

    Dikatakan, pada malam Lailatul Qadar malaikat turun untuk menuliskan takdir untuk tahun berikutnya. Sebab itulah umat Islam dianjurkan membaca doa-doa, memohon supaya Allah SWT menuliskan takdir yang baik.

    Qadar berarti kemuliaan, keagungan. Sebab pada malam itu terjadi 3 peristiwa mulia, yaitu: turun kitab suci Al-Qur’an, Al-Qur’an turun kepada mulia Nabi Muhammad SAW, dan kemuliaan juga bagi mereka yang menghidupkan malam Lailatul Qadar.

    Waktu Malam Lailatul Qadar

    Sejumlah hadits menyebut malam Lailatul Qadar terletak pada malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

    تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

    Artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam Shahih Muslim juga terdapat hadits serupa yang diriwayatkan dari

    Ibn Umar RA, Rasulullah SAW bersabda,

    الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، يَعْنَى لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجْزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبع البواقي

    Artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam terakhir. Kalau kamu tidak mampu, jangan tertinggal tujuh malam terakhirnya.”

    Meski demikian, hanya Allah SWT yang mengetahui kapan jatuhnya malam Lailatul Qadar. Rasulullah SAW sendiri menganjurkan untuk memperbanyak ibadah pada waktu-waktu tersebut.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa di Kampung Halaman, Dibaca Sebagai Ucapan Syukur


    Jakarta

    Bagi para perantau, melihat kampung halaman dan sanak keluarga adalah kebahagiaan yang tak terbendung. Sebagai ungkapan syukur, seorang muslim bisa mengamalkan doa.

    Idul Fitri menjadi momen untuk kumpul keluarga di kampung halaman. Saling berkunjung untuk silaturahmi seolah menjadi tradisi yang sudah mendarah daging.

    Kebahagiaan Hari Raya harus diungkapkan dengan syukur karena semua terjadi atas kehendak dan nikmat dari Allah SWT. Oleh karenanya seorang muslim dianjurkan untuk berdoa saat tiba di kampung halaman sebagai bentuk ucapan syukur.


    Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur. Dengan syukur, Allah SWT akan tambahkan nikmatnya.

    Allah SWT berfirman,

    وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

    Dalam hadits dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba kemudian ia mengatakan, ‘Alhamdulillah’ melainkan apa yang ia berikan itu lebih baik daripada yang ia ambil.” (HR Ibnu Majah)

    Doa ketika Tiba di Kampung Halaman

    Ungkapan syukur bisa dipanjatkan ketika tiba dengan selamat di kampung halaman.

    Mengutip buku Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu: Panduan Doa dan Ibadah oleh Freddy Rangkuti dan Siti Haniah menjelaskan, sesampainya di kampung halaman, seorang muslim dianjurkan melaksanakan salat sunah 2 rakaat sebagai tanda syukur telah kembali dengan selamat. Salat ini disunnahkan untuk didirikan di masjid yang berada di dekat rumah.

    Setelah selesai salat 2 rakaat, hendaklah mengucapkan doa.

    Doa ini diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat agar kampung halaman itu memberikan keberkahan bagi penduduknya. Berikut bacaan doa Rasulullah SAW ketika melihat kampung halaman.

    Doa ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar.

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا

    Arab Latin: Allâhummaj’al lanâ bihâ qarârâ, wa rizqan hasanâ

    Artinya, “Tuhanku, jadikan kampung ini tempat tinggal kami dan jadikan desa ini sebagai rezeki yang baik.”

    Kemudian bisa dilanjutkan dengan doa berikut z sebagaimana dijelaskan dalam buku Doa & Dzikir Umrah Amisya: Kumpulan Doa dan Dzikir Ibadah Umrah,

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَصَرَنِي بِقَضَاءِ نُسُكِي وَحَفَظَنِيْ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ حَتَّى أعُوْدَ إِلَى أَهْلِ . اَللهُمَّ بَارِكْ فِي حَيَاتِي بَعْدَ الْعُمْرَةِ وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ.

    Arab latin: Alhamdulillaahil ladzzii nasharanii bi qadhaa’I nusukii wa hafadzanii min wa’tsaa’is safari hattaa a’uuda ilaa ahlii. Allaahummaa baarik fii hayaatii ba’dal umrati waj’alnii minash shaalihiin

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku untuk melaksanakan ibadah dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian sehingga aku dapat kembali lagi. Ya Allah, berkatilah dalam hidupku setelah melaksanakan umrah dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang saleh.”

    Umat Islam juga dianjurkan untuk membaca doa begitu mulai memasuki kampung halaman. Mengutip Kitab Al-Fiqhu al-Islamiyyuu wa Adilatuhu karya Wahbah az-Zuhaili doa ketika melihat perbatasan kampung halaman,

    باسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ أهلها وَخَيْرَ ما فِيها وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ أهلها وَشَرّ مَا فِيهَا

    Arab Latin: Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a’ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon Engkau memberiku kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa saja yang ada di dalamnya; dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan negeri ini, kejahatan penduduknya, serta kejahatan apa pun yang ada di dalamnya.”

    Demikian beberapa bacaan doa yang bisa dipanjatkan ketika tiba di kampung halaman. Semoga nikmat Allah SWT tercurah kepada seluruh hamba-Nya.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Keluar Rumah, Bepergian dan Naik Kendaraan untuk Pemudik



    Jakarta

    Doa adalah penghubung antara hamba dan Allah SWT. Karena dalam doa terdapat harapan, keinginan dan tujuan supaya dikabulkan. Dalam kondisi apapun sebaiknya berdoa, misalnya seperti sekarang musim mudik, sebelum keluar rumah dan melakukan perjalanan alangkah baiknya terlebih dahulu berdoa.

    Jangan pernah remehkan doa, sebab doa adalah senjata bagi umat Islam. Allah SWT juga berfirman mengenai doa ini.

    Surah Gafir Ayat 60 :


    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ ٦٠

    Artinya:Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Berikut ini doa keluar rumah, bepergian dan naik kendaraan:

    Doa Keluar Rumah

    Dari buku 24 Jam Hidup Dengan Doa dan Amal Harian Rasulullah karya Abu Bakar bin As Sina terdapat tiga doa keluar rumah.

    Doa Pertama:

    Abu’Abdurrahman memberitahukan kepada kami, Mahmud bin Ghailan memberitahukan kepada kami, Waki’ menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Manshur, dari Asy-Sya’bi, dari Ummi Salamah r.a. bahwasanya apabila Nabi Saw. keluar rumah, maka beliau berdoa:

    بسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نَزِلَ أَوْ نُزَلَ أَوْ نَظْلِمَ أَوْ نظْلَمَ أَوْ تَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيْنَا

    Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari diserang atau menyerang, dizalimi atau menzalimi, dan diolok-olok atau mengolok-olok.”

    Doa Kedua:

    Abu Khalifah menceritakan kepada kami, Ya’la bin Muhammad Ash-Shalut An-Nuri memberitahukan kepada kami, Hatim bin Isma’il memberitahukan kepada kami dari ‘Abdullah bin Husain, dari ‘Atha’ bin Yasar, dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya apabila Nabi Saw. keluar dari rumahnya, maka beliau berdoa:

    بسمِ اللهِ التَّلَانِ عَلَى اللَّهِ لَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Artinya: “Dengan nama Allah, kami berserah diri kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah.”

    Doa Ketiga:

    Abu ‘Arubah memberitahukan kepada kami, Al-Musayyab bin Wadhih menceritakan kepada kami, Hajaj bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, dari Ishak bin ‘Abdullah bin Abi Thalhah, dari Anas bin Malik, dia berkata:

    Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu hendak keluar dari rumahnya, maka berdoalah:

    بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

    Artinya: Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah. Maka pada saat itu dikatakan, ‘Kamu dijaga, ditunjukkan, dan dipenuhi.’ Nabi bersabda: Maka setan pun menjauhinya. Lalu setan itu bertemu dengan setan lain dan berkata, ‘Bagaimana mungkin kamu dapat menggoda orang yang telah dijaga, di cukupi, dan ditunjukkan?.”

    Doa Keselamatan

    Dari buku 101 Doa Anak Saleh karya Tim Darul Ilmi terdapat doa keselamatan, doa naik kendaraan, dan doa bepergian.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَائَةِ الْأَعْدَاءِ

    Arab-Latin: Alloohumma innii a’uudzu bika min jahdil balaa-i wa darkisy syaqoo-i wa suu-il qodoo-i wa syamaatatil a’daa-i.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kengerian musibah, menemui kesengsaraan, qadha yang buruk dan merasa senangnya musuh.”

    Doa Naik Kendaraan Laut

    بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Arab-Latin: Bismillaahi majraahaa wa mursaahaa inna robbii laghofuurur rohiim.

    Artinya: “Dengan nama Allah, yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh, sesungguhnya Tuhanku Pemaaf lagi Pengasih.” (Imam Nawawi, Al-Adzkar, hal: 190)

    Doa Naik Kendaraan Darat

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هُذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لمُنقَلِبُونَ .

    Arab-Latin: Subhaanal ladzii sakh-khoro lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun.

    Artinya: “Mahasuci Tuhan yang memudahkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan kepada Allah kami kembali.” (Sunan Abu Daud, Al-Jihad: 2235. Sunan At-Tirmidzi, Ad-Da’awat ‘an Rasulillah: 3368)

    Doa Ketika Bepergian

    أمِنْتُ بِاللهِ اعْتَصَمْتُ بِاللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ الا بالله .

    Arab-Latin: Aamantu billaahi, i’tashomtu billaahi, tawakkaltu ‘alalloohi walaa haula wa laa quwwata illaa billaah.

    Artinya: “Aku beriman kepada Allah, berlindung kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya (pula). Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.” (Sunan Tirmidzi, Ad-Da’awat ‘an Rasulillah: 3348)

    Doa Ketika Singgah di Suatu Tempat

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

    Arab-Latin: Alloohumma innii a’uudzu bikalimaatillaahit taammaati min syarri maa kholaq.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kalimat- kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala apa yang terjadi.”

    Doa Setelah Sampai di Tujuan

    الْحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي سَلَّمَنِي وَالَّذِي آفَانِي وَالَّذِي جَمَعَ الشَّمْلَ بِي.

    Arab-Latin: Alhamdulillaahil ladzi sallamanii walladzii aawaanii wal ladzii jama’asy syamla bii.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menyelamatkan aku dan yang telah melindungiku dan yang mengumpulkan ku dengan keluargaku.”

    Demikian doa keluar rumah, doa bepergian, dan doa naik kendaraan. Untuk mendapatkan perlindungan Allah SWT perbanyaklah berdoa.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Akhir Ramadan Shahih yang Diajarkan Rasulullah SAW


    Jakarta

    Ada doa akhir Ramadan shahih yang diajarkan Rasulullah SAW menjelang masuknya bulan Syawal. Doa tersebut berisikan permohonan dan pengampunan pada Allah SWT.

    Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan terdapat banyak sekali kemuliaan, sehingga Rasulullah SAW pun menganjurkan kita untuk banyak beribadah dan berdoa.

    Dikutip dari buku 100 Hujjah Aswaja Yang Dituduh Bid’ah, Sesat, Syirik dan Kafir oleh Ma’ruf Khozin, keutamaan terbesar bulan Ramadan tidak terdapat di awal-awal bulan Ramadan, namun di akhir. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih dari Aisyah RA yang berbunyi,

    “Jika Nabi SAW telah masuk ke 10 terakhir Ramadan maka Nabi mengencangkan ikat sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari)


    Selain itu, pada hari-hari terakhir Ramadan, terdapat malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kemuliaan yang selalu dinanti oleh setiap muslim yang beriman.

    Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Menurut buku Itikaf Penting dan Perlu karya Ahmad Abdurrazaq Al-Kubaisi, anjuran tersebut disampaikan pada sebuah hadits. Rasulullah SAW bersabda,

    “Carilah Lailatul Qadar itu pada tanggal ganjil dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadan.” (HR Bukhari)

    Setelah sebulan penuh puasa Ramadan dan mendapatkan malam Lailatul Qadar, Rasulullah SAW menganjurkan muslim mengamalkan salam perpisahan dengan bulan Ramadan dengan membaca doa berikut.

    Doa Akhir Ramadan Sesuai Sunah dari Rasulullah SAW

    Doa akhir Ramadan dapat dibaca seperti yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA dari Muhammad al Mustafa,

    “Beliau bersabda, ‘Siapa yang membaca doa ini pada hari terakhir Ramadan, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan di antaranya menjumpai Ramadan mendatang atau pengampunan dan rahmat Allah’.”

    Berikut bacaan doa akhir Ramadan yang dimaksud hadits tersebut.

    اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْع لْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا

    Allahuma laa taj’alhu aakhiril’ahdi min shiyaminaa iyyaahu, fain ja’altahu faj’alnii marhuuman walaa taj’alnii mahruuman.

    Artinya: Ya Allah, janganlah Kau jadikan puasa ini yang terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikan sebaliknya (sebagai puasa terakhir), jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku sebagai orang yang Engkau jauhi.

    Dinukil dari buku Mafatih Al Jinan Jilid 2 (Kunci-kunci Surga edisi Indonesia) karya Syekh Abbas Al Qummi, terdapat riwayat lain mengenai bacaan doa perpisahan bulan Ramadan yang dapat dibaca di akhir Ramadan.

    Sayyid Ibnu Tawis meriwayatkan dari Imam Shadiq bahwa barang siapa yang mengucapkan salam perpisahan dengan bulan Ramadan seraya membaca doa berikut yang artinya, “Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan ini sebagai masa terakhirku untuk berpuasa dalam bulan Ramadan dan aku berlindung kepada-Mu supaya fajar malam ini terbit kecuali Engkau telah mengampuniku.”

    Doa tersebut dipanjatkan agar Allah SWT akan mengampuninya sebelum pagi tiba dan ia akan menganugerahkan kepadanya tobat dan kembali ke haribaan-Nya.

    Amalan Hari Terakhir Bulan Ramadan

    Masih merujuk pada buku yang sama, selain membaca doa di atas, ada beberapa amalan yang dapat dilakukan pada malam akhir Ramadan seperti berikut.

    1. Mandi

    2. Membaca surah Al-An’am, Al- Kahfi, Yasin dan bacaan “Astagfirullah waatubuilaih” sebanyak 100x

    3. Lalu, membaca doa yang dinukil oleh Syekah Kulaini RA dari Imam Ja’far Shadiq berikut bacaan doanya:

    اللهُمَّ هَذَا شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أَنزَلْتَ فِيهِ الْقُرْآنَ وَقَدْ تَصَرَّمَ وَأَعُوذُ بِوَجْهِكَ الكَرِيمِ يَا رَبِّ أَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ مِنْ لَيْلَتِيْ هَذِهِ أَوْ يَتَصَرَّمَشَهْرُرَمَضَانَ وَ لَكَ قِبَلِي تَبِعَةُ أَوْ ذَنْبُ تُرِيدُ أَنْ تُعَذِّبَنِي بِهِ يَوْمَ أَلْقَاكَ

    Allahumma hadzaa syahru ramadhaanaladzii anzalta fiihil quraana wa qadtasharrma wa a’udzubiwajhikalkariimi yaa rabbi anyathlu’al fajru min laylatii hadzihi auyatasharrama syahru ramadhan wa laka qibalii tabi’atun aw dzanbun turiidu an tu’adzibanii bihi yauma alqaaka

    Artinya: Ya Allah, ini adalah bulan Ramadan yang Engkau telah menurunkan Al-Qur’an di dalamnya dan ia telah berlalu. Aku berlindung kepada Zat-Mu yang Mulia, ya Rabbi supaya fajar malamku ini tidak terbit atau bulan Ramadan ini berlalu sedangkan aku masih memiliki tanggungan untuk-Mu atau dosa yang dengannya Engkau akan menyiksa pada hari aku berjumpa dengan-Mu.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com