Tag: dosanya

  • Tiga Macam Kesabaran



    Jakarta

    Sufyan ats-Tsauri mengatakan bahwa ada tiga jenis kesabaran yaitu : Tidak menceritakan musibah, jangan mengumbar kesakitanmu, dan jangan menganggap dirimu suci. Ingatlah bahwa sabar adalah tindakan menahan diri dari hal-hal yang ingin dilakukan, menahan diri dari emosi, dan bertahan serta tidak mengeluh pada saat sulit atau sedang mengalami musibah.

    Tidak Menceritakan Musibah

    Musibah yang terjadi ada yang menyikapinya sebagai keburukan, dan ada juga yang menganggap itu merupakan sebuah teguran untuk menjadi lebih baik. Lalu, berikut ini tuntunan terbaik dalam menyikapi segala musibah yang terjadi, yaitu :


    1. Ridha terhadap ketentuan-Nya. Setiap Muslim wajib beriman bahwa musibah apapun itu seperti kecelakaan pesawat, gempa bumi, banjir, wabah penyakit telah ditetapkan Allah SWT. dalam Lauhul Mahfuzh. Sesuai kewajiban menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridha). Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Hadid ayat 22 yang terjemahannya, “Tidak ada bencana (apa pun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.”

    Makna ayat di atas adalah : Usai menjelaskan karunia-Nya kepada orang memohon ampunan, Allah SWT. menerangkan bahwa semua yang terjadi di alam ini merupakan ketetapan-Nya yang tertulis di Lauh Mahfuz. Setiap bencana yang menimpa di bumi, seperti gempa, banjir, erupsi, dan lainnya, dan demikian pula bencana yang menimpa dirimu sendiri, seperti sakit, kecelakaan, dan lainnya, semuanya telah tertulis dalam Kitab yang disebut Lauh Mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu, yaitu semua yang terjadi, sangat mudah bagi Allah SWT.

    Musibah yang menimpa para hamba merupakan sesuatu yang sudah tertulis, jadi kita hadapi dengan sikap ridha karena kita wajib memgimani atas kehendak-Nya. Jadi musibah apa pun, betapa pun beratnya tetap mesti tersimpan dengan baik dan tidak untuk diceritakan. Kita kadang menemukan seseorang yang mengeluh karena ada anggota keluarga yang sakit dengan meminta bantuan biaya pengobatan.

    2. Hikmah di balik musibah. Seorang muslim yang mengetahui hikmah (rahasia) dibalik musibah, akan memiliki ketangguhan mental yang sempurna. Hikmah musibah antara lain diampuninya dosa-dosa. Sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah akan menghapus sebagian dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

    3. Ikhtiar. Yang dimaksud ikhtiar, ialah tetap melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki keadaan dan menghindarkan diri dari bahaya-bahaya yang muncul akibat musibah. Jadi, seorang Muslim tidak boleh diam saja, atau pasrah berpangku tangan menunggu bantuan datang. Olehnya itu, beriman kepada ketentuan Allah SWT. tidaklah berarti kita hanya diam termenung meratapi nasib, tanpa berupaya mengubah apa yang ada pada diri kita.

    Tidak mengumbar kesakitan

    Orang yang mengumbar kesakitan itu jauh dari sikap sabar. Keluh kesah itu dilarang dalam ajaran Islam sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Ma’arij ayat 19 dan 20 yang artinya, ” Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” Dan selanjutnya, ” Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.”

    Makna kedua ayat diatas adalah : Dijelaskan bahwa manusia memiliki sifat suka berkeluh kesah dan kikir. Namun, sifat ini dapat diubah jika menuruti petunjuk Tuhan yang dinyatakan-Nya dalam ayat 22 sampai 24 surah ini. Manusia yang tidak mempedulikan petunjuk Tuhan dan seruan rasul adalah orang yang sesat.

    Manusia bisa sesat dari jalan Allah SWT. karena sifatnya yang tergesa-gesa, gelisah, dan kikir. Hal ini bukanlah ketentuan dari Allah SWT. terhadapnya, tetapi mereka menjadi mukmin atau menjadi kafir karena usaha dan pilihan mereka sendiri. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surah at-Taqabun ayat 2 yang terjemahannya, “Dialah yang menciptakan kamu, lalu di antara kamu ada yang kafir dan ada yang mukmin. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

    Sikap berkeluh kesah di dalam ajaran Islam jelas tidak dituntun, jadi kesabaran dalam menghadapi ujian Allah SWT. adalah keharusan karena kita mengimani terhadap ketentuan-Nya.

    Jangan menganggap dirimu suci

    Seseorang yang menganggap dirinya suci itu laksana seseorang yang menganggap diri sudah pandai, sehingga ia tidak menambah ilmunya.
    Adapun adab seorang muslim itu tidak merasa dirinya paling baik dari saudaranya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah an-Najm ayat 32 yang terjemahannya, “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

    Mengenai ayat ini, Syaikh Abdurrahman As-Si’di menerangkan bahwa terlarangnya orang- orang beriman untuk mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji- memuji dirinya sendiri. (Tafsir Karimir Rahman). Sikap itu yang dilarang oleh-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 80 yang terjemahannya, “Dan mereka berkata, kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja.”

    Inilah kesombongan orang-orang yang menganggap dirinya suci. Semoga Allah SWT. selalu membimbing kita untuk bersabar dengan tidak menceritakan musibah, tidak mengeluh dan tidak menganggap diri suci.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Larangan Mencela Makanan, Jika Tak Suka Tinggalkan


    Jakarta

    Ada sejumlah adab berkaitan dengan makanan yang perlu menjadi perhatian umat Islam. Salah satunya saat menjumpai makanan yang tidak disukai, Islam melarang mencelanya.

    Mencela makanan termasuk perkara yang dilarang berdasarkan hadits Nabi SAW. Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkan tanpa mencela.

    Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi tertulis hadits tersebut derajatnya Muttafaq ‘alaih. Hadits dikeluarkan Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Berikut bunyinya,


    وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ: مَا عَابَ رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ طَعَامَاً قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ . متفقٌ عَلَيْهِ .

    Artinya: “Dari Abu Hurairah dia berkata, ‘Rasulullah tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika beliau menyukainya maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak suka terhadapnya, maka beliau meninggalkannya’.” (HR Muttafaq ‘alaih)

    Dalam riwayat lain dikatakan,

    وَعَنْ جَابِرٍ : أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدَمَ ، فَقَالُوا: مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلْ ، فَدَعَا بِهِ ، فَجَعَلَ يَأْكُلُ ، ويقول: (( نِعْمَ الْأُدْمُ الخَلُّ ، نِعْمَ الأُدْمُ الخَلُّ )) رواه مسلم .

    Artinya: “Dari Jabir bahwasanya Nabi pernah menanyakan lauk kepada keluarganya, maka mereka menjawab, ‘Kami tidak mempunyai lauk kecuali cuka.’ Beliau lalu memintanya dan makan berkuahkan cuka, kemudian beliau bersabda, ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka’.” (HR Muslim)

    Adab Makan yang Dicontohkan Rasulullah

    Masih mengacu kitab Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi Edisi Indonesia, berikut sejumlah adab makan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

    Rasulullah SAW memerintahkan membaca basmalah sebelum makan. Diriwayatkan Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah dia membaca basmalah! Jika di awal dia lupa membaca basmalah, maka hendaklah dia mengucapkan Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan pada akhirnya).” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)

    Adapun, anjuran membaca hamdalah setelah makan bersandar pada hadits dari Mu’adz bin Anas RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang makan suatu makanan kemudian berdoa, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku makanan ini dan telah menganugerahkannya kepadaku dengan tiada daya dan kekuatan dariku’ maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan)

    2. Makan dari yang Terdekat

    Anjuran makan dari yang terdekat bersandar pada riwayat Umar bin Abi Salamah RA. Ia berkata, “Saya adalah seorang anak kecil yang berada di bawah asuhan Rasulullah SAW, tangan saya (ketika makan) menjelajah semua bagian nampan panjang, lalu Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang terdekat denganmu’!” (HR Muttafaq ‘alaih)

    3. Ambil Makanan dari Pinggir Piring, Dilarang Makan dari Tengah

    Rasulullah SAW menganjurkan makan mulai dari bagian pinggir piring baru ke tengah. Anjuran ini berkaitan dengan keberkahan makanan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW, beliau bersabda,

    “Keberkahan itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggirnya, dan jangan makan dari tengahnya.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih)

    4. Makruh Makan sambil Bersandar

    Makan sambil bersandar termasuk perkara yang dilarang dalam Islam. Kemakruhan ini bersandar pada hadits dari Abu Juhaifah Wahb bin Abdillah RA, dia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Saya tidak makan sambil bersandar.” (HR Bukhari)

    5. Makruh Meniup dalam Minuman

    Perkara makruh lainnya berkaitan dengan makan dan minum adalah meniupnya. Menurut hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi SAW melarang bernapas dalam bejana atau meniupnya. Hadits tersebut dikeluarkan At-Tirmidzi dan ia menyatakan hasan shahih.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Keistimewaan Bulan Ramadhan Menurut Al-Qur’an dan Hadits


    Jakarta

    Keistimewaan bulan Ramadhan perlu diketahui muslim agar lebih giat mengerjakan amalan pada momen istimewa tersebut. Terlebih dalam waktu kurang dari dua pekan, umat Islam akan kembali bertemu bulan suci Ramadhan.

    Menukil dari buku Fikih Puasa tulisan Ali Musthafa Siregar, Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Selain itu, Ramadhan juga termasuk bulan yang diberkahi karena Allah SWT mengkhususkan momen tersebut bagi umat Rasulullah SAW untuk mengerjakan amalan dengan ganjaran pahala yang luar biasa dahsyatnya dan tidak dapat ditemui pada bulan-bulan lain.

    Berikut beberapa keistimewaan bulan Ramadhan yang bisa dipahami muslim.


    Keistimewaan Bulan Ramadhan bagi Muslim

    1. Diampuni Dosanya yang Lalu

    Keistimewaan bulan Ramadhan bagi muslim yang pertama adalah dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah SWT. Berikut bunyi haditsnya yang dikutip dari kitab Sunan Ibnu Majah susunan Imam Al Hafizh Abi Abdillah Muhammad ibn Yazid al-Qazwini yang diterjemahkan Abdul Hayyie al Kattani dkk.

    “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan (penuh) keimanan dan mengharapkan pahala maka semua dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih)

    2. Setan dan Jin Dibelenggu

    Bulan Ramadhan adalah waktu dibelenggunya para setan dan jin. Selain itu, pintu-pintu neraka ditutup oleh Allah SWT dan tidak ada satu pun yang dibiarkan terbuka.

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Jika datang malam pertama dari bulan Ramadhan maka setan-setan dan jin akan diikat, pintu-pintu nerakan akan ditutup dan tidak ada satu pun pintu yang (dibiarkan) terbuka. Kemudian, pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang tertutup. Lalu ada seseorang yang menyeru,

    ‘Orang-orang yang menginginkan kebaikan, mendekatlah! Orang-orang yang menginginkan keburukan, menjauhlah! Cepat!’ Dan Allah (banyak) membebaskan orang dari api neraka. Semua itu dilakukan pada setiap malam (bulan Ramadhan).” (Shahih: At-Ta’liiq ar-Raghiib, 2/68)

    3. Adanya Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

    Keistimewaan Ramadhan lainnya bagi muslim yaitu keberadaan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya,

    “Bulan ini telah mendatangi kalian, dalam bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak bisa mendapatkan kebaikan (pada malam itu) maka ia tidak akan mendapatkan kebaikan seluruhnya dan tidak ada seorang pun yang tercegah untuk mendapatkan kebaikannya, kecuali orang-orang tertentu.” (Hasan Shahih)

    4. Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

    Mengutip dari buku Seri Fiqih Kehidupan oleh Ahmad Sarwat, Ramadhan adalah bulan diturunkannya kitab suci Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 185,

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

    Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

    5. Momen Mustajab untuk Berdoa

    Keistimewaan bulan Ramadhan lainnya adalah menjadi waktu mustajab untuk berdoa karena banyak muslim yang berpuasa. Keutamaan ini disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah RA yang berkata Nabi SAW bersabda,

    “Tiga orang yang doanya tidak akan ditolak: orang yang sedang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” (HR Ahmad)

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com