Tag Archives: emosi

Resep Diet Komika Praz Teguh, Sukses Pangkas BB 13 Kg dalam 3 Bulan


Jakarta

Komika Praz Teguh baru-baru ini disorot publik setelah penampilannya yang lebih ramping. Ia berhasil menurunkan berat badan hingga 13 kilogram dalam waktu tiga bulan, dari 87 kg menjadi 74 kg.

Hal tersebut diungkapkan olehnya melalui postingan akun Instagram.

“Dari 87 ke 74 hampir tiga bulan. Alhamdulillah walaupun berat banget di dua minggu pertama,” kata Praz Teguh, seperti dilihat detikcom dari Instagram pribadinya @praz_teguh, Jumat (9/8/2024).


Apa Sih Rahasianya?

Lewat kolom komentar postingannya, Praz membagikan sejumlah tips diet yang dijalani. Alih-alih percaya dengan obat diet, Praz mengaku tak mengonsumsi nasi dan cemilan seperti gula, biskuit, serta cokelat.

Dirinya juga rutin melakukan olahraga dua kali sehari untuk menunjang penurunan berat badan yang dijalaninya.

“Lu bisa ganti kentang + telur + sayur + daging jangan banyak juga. Kalo laper malam lu bisa makan buah aja dan tidur yang cukup!” imbuhnya lagi.

Di sisi lain, Praz juga menceritakan kesulitannya saat menjalani diet. Dirinya bahkan mengaku lebih sering emosi, mudah lapar, bahkan merasa sangat lemas lantaran biasanya mengonsumsi makanan dengan jumlah banyak.

“Sensian, laper, lesu banget rasanya dengan terbiasa makan banyak dan harus tetap kerja dengan intensitas ngobrol podcast yang butuh energi juga,” imbuhnya lagi.

Setelah disiplin menjalani diet, Praz mengaku saat ini dirinya justru tidak bisa makan terlalu banyak. Dia kini merasa lebih cepat kenyang.

(suc/naf)



Sumber : health.detik.com

Doa Ketika Marah, Dibaca Saat Emosi Agar Bisa Meraih Surga



Jakarta

Doa ketika marah bisa dilafalkan saat emosi sedang memuncak. Doa ini dapat meredam marah sehingga kita tidak terjerumus dalam godaan setan.

Marah merupakan jalan tipu daya setan dalam menjebak manusia. Siapapun yang marah ketika emosi maka ia telah gagal mengendalikan diri. Padahal setiap umat muslim dianjurkan untuk bersabar dan menghindari marah.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda,


وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Artinya: “Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari No 1469).

Doa Saat Marah

Mengutip buku Doa Harian Pengetuk Pintu Langit oleh Hamdan Hamedan, berikut bacaan doa ketika marah.

أعُوذُ بالله من الشيطان الرَّحيم

Arab latin: A’udzu billahi min asy-syaithaani ar-rajiimi

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun, riwayat lengkap mengenai doa tersebut dikisahkan dari Sulaiman bin Shurad RA berkata, “Ada dua orang saling memaki di hadapan Rasulullah SAW, saat itu kami sedang duduk di sampingnya. Salah seorang dari keduanya memaki temannya dengan sangat marah, sehingga tampak mukanya memar merah.

Rasulullah SAW lalu bersabda, ‘Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat yang apabila diucapkan, maka marah kalian akan hilang, yaitu: A-‘uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).'” (HR Muslim)

Selain itu, bisa juga membaca doa ketika marah yang lebih panjang dengan lafaz berikut,

أعُوذُ بالله من الشيطان الرَّحيم اللهم اغْفِرْلِي ذَلِبِي وَأَذْهَبْ غَيْظَ قَلْبِي وَأَجِرْنِي مِنَ النَّارِ

Arab latin: A’uudzu billahi minasy syaithaanir rojiim. Allahummaghfirlii dzanbi wa adzhib ghoizha qalbii wa ajirnii minan naar

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan Syaitan yang terkutuk. Ya Allah, ampunilah aku, lenyapkanlah amarah dari hatiku dan peliharalah aku dari siksa neraka.” (HR Ibnu Sunni)

Dilansir dari NU Online, Jumat (12/3/2023) Rasulullah SAW mengajarkan doa saat dilanda marah, seperti disebutkan Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ ، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِيْ ، وَأَجِرْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ

Arab Latin: Allâhummaghfirlî dzanbî, wa adzhib ghaizha qalbî, wa ajirnî minas syaithâni.

Artinya: Tuhanku, ampunilah dosaku, redamlah murka hatiku, dan lindungilah diriku dari pengaruh setan.

Keutamaan Menahan Marah

Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya yang berjudul Penyebab Gagalnya Dakwah, menjelaskan beberapa keutamaan menahan marah. Semasa hidup, Rasulullah SAW telah banyak bersabda tentang orang-orang beriman yang mampu menahan marah.

1. Anjuran dari Rasulullah SAW

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah SAW, “berilah aku nasihat.”

Beliau bersabda, “Janganlah kamu marah,” Beliau mengulanginya beberapa kali. (HR Bukhari dan Tirmidzi)

2. Menghindari murka Allah

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bahwasanya ia bertanya pada Rasulullah SAW, “apa yang akan menyelamatkanku dari murka Allah?”

Beliau bersabda, “Janganlah kamu marah.” (HR. Ahmad)

3. Mendapat ganjaran surga

Diriwayatkan dari Abu Darda yang berkata, “Wahai Rasulullah SAW tunjukkan kepadaku sebuah amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga.”

Beliau bersabda, “Janganlah kamu marah.”

Ketika merasa marah, upayakan untuk tidak meluapkannya. Cukup bersabar dan tenangkan diri agar emosi tidak menguasai. Perbanyak membaca taawudz dan istighfar. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi hamba-Nya.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Jangan Emosi! Ini 7 Keutamaan Menahan Marah Sesuai Hadits



Jakarta

Marah terjadi jika emosi yang dialami oleh setiap manusia meluap. Namun dalam Islam, menahan marah dianggap sebagai tindakan luhur yang membawa keberkahan dan pahala.

Seorang muslim juga akan mendapatkan keutamaan yang mulia jika ia mampu menahan marahnya. Lantas, bagaimana cara menahan marah? Dan apa saja keutamaan menahan marah?

Keutamaan Menahan Marah

Merujuk pada buku Ihya Ulumiddin: Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama oleh Imam Al-Ghazali, berikut beberapa keutamaan menahan marah sesuai dengan hadits:


1. Allah SWT akan Menahan Siksa-Nya

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menahan kemarahannya, niscaya Allah menahan siksa-Nya daripadanya, dan siapa saja yang mengemukakan alasannya kepada Rabbnya, niscaya Allah menerima alasannya, dan siapa saja yang menyimpan lidahnya, niscaya Allah menutupi auratnya (segala sesuatu, yang dianggap malu). (HR Thabrani dan lainnya)

2. Termasuk Orang yang Kuat

Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang kuat di antara kalian adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya ketika marah, dan orang yang paling santun di antara engkau adalah orang yang memaafkan ketika mampu.” (HR Ibnu ad-Dunya dan lainnya)

3. Mendapat Ridha dari Allah SWT pada Hari Kiamat

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menahan marah di mana seandainya ia mau melaksanakannya, maka ia dapat melaksanakannya, niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan keridhaan pada hari Kiamat.”

Dalam riwayat lain dinyatakan, “Niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan rasa aman, dan keimanan.” (HR Ibnu ad-Dunya dan lainnya)

4. Mendapatkan Pahala yang Besar

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba meneguk tegukan yang lebih besar pahalanya daripada seteguk kemarahan yang ditahannya karena mengharapkan keridhaan Allah.” (HR Ibnu Majah)

5. Terlindung dari Neraka Jahannam

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya neraka Jahannam mempunyai pintu yang tidak memasukinya kecuali orang yang sembuh kemarahannya dengan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala.”

6. Hatinya Dipenuhi dengan Keimanan

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada tegukan yang lebih disukai oleh Allah SWT daripada tegukan kemarahan yang ditahan oleh seorang hamba. Dan tidaklah seorang hamba menahannya, kecuali Allah memenuhi kalbunya dengan keimanan.” (HR Ibnu ad-Dunya)

7. Mendapatkan Bidadari

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja menahan kemarahan, sedang ia mampu melaksanakannya, maka Allah memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk dan Dia menyuruhnya memilih mana bidadari yang dikehendaki.”

Cara Menahan Marah

Agar mendapatkan keutamaan dari menahan marah, maka setiap muslim harus mampu menahan perasaan marah dari dirinya. Merujuk pada Buku Ajar Akidah Akhlak oleh Syafiuddin dan Machnunah Ani Zulfah, berikut cara menahan marah:

1. Menahan marah dengan beristighfar

Jika seseorang sedang marah dalam keadaan berdiri, maka cara meredamnya dengan duduk. Namun jika marah dalam keadaan duduk, maka berusaha untuk tiduran atau berbaring sambil membaca istighfar.

2. Meredam marah dengan menahan diri

Pada suatu saat, datanglah seorang laki-laki yang meminta wasiat Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memberinya wasiat agar jangan marah.

3. Meredam marah dengan berwudhu

Wudhu menjadi salah satu cara untuk meredam rasa marah. Sebab, wudhu mampu mensucikan semua tindakan yang kurang suci, seperti rasa marah.

4. Meredam marah dengan berdiam diri

Obat yang sangat ampuh ketika marah muncul adalah diam. Sebab, jika sedang marah pasti kata-kata kasar akan keluar karena tidak bisa mengontrol. Maka dari itu, alangkah baiknya diam ketika sedang marah.

5. Meredam marah dengan membaca ta’awudz

Dengan membaca ta’awudz, maka seseorang memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan yang selalu membangkitkan rasa marah. Melalui syari’at Allah SWT yang agung, Allah SWT melindungi hamba-Nya dari segala kelicikan dan keburukan setan jika hamba-Nya membaca ta’awudz.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Hadits Rasulullah SAW: Jangan Marah, Bagimu Surga


Jakarta

Sebuah hadits shahih menyebutkan, Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada umatnya tentang larangan marah sebab bagimu surga.

Disebutkan dalam buku Syarah Hadits Arba’in yang disyarah oleh Imam Muhyiddin An-Nawawi, dkk, Rasulullah SAW berwasiat kepada seorang yang datang kepada beliau.

Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah aku ilmu yang dapat mendekatkanku menuju surga dan menjauhkan diriku dari neraka.” Rasulullah SAW menjawab, “Jangan marah maka engkau akan berhak mendapatkan surga.” (HR Ath-Thabrani)


Jangan marah, bagimu surga. Kalimat ini tentu sudah sering didengar oleh para muslimin. Sebab, Allah SWT yang menjanjikan surga kepada orang yang bisa menahan amarah dan memaafkan.

Allah SWT berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 133-134 yang berbunyi,

۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Larangan Marah dalam Islam

Marah merupakan sifat manusiawi dan bisa dialami siapa saja. Bedanya, orang yang beriman hendaknya tidak meluapkan amarah tersebut dan malah dikuasai oleh emosi. Apalagi ia malah bertindak yang melampaui batas.

Rasulullah SAW pernah berkata, orang-orang yang bisa menahan amarah meskipun ia sangat emosi dan bisa meluapkannya disebut sebagai orang yang kuat. Dilansir buku 100 Hadits Pilihan (Materi Hafalan, Kultum dan Ceramah Agama) oleh Muh. Yunan Putra, disebutkan hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخاری، مسلم و أحمد)

Artinya: Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah orang yang kuat adalah orang yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Rasulullah SAW bahkan mengulangi perintah untuk menahan marah berkali-kali. Ketika itu ada seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau, kemudian beliau bersabda,

حدثني يحيى بن يوسف اخبرنا ابو بكر هو ابن عباس عن أبي حصين عن ابي صالح عن ابي هريرة الله أن رجلا قال للنبي ﷺ أوصني قال: لا تغضب فردد مرارا قال لا تغضب. رواه البخاري

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yusuf, telah memberitahukan kepada kami Abu Bakar dari Abi Hasin dari Abi Sholih dari Abu Hurairah RA bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada nabi SAW: “Wasiatilah aku” Nabi bersabda: “Jangan marah” la mengulanginya beberapa kali. Nabi bersabda: “Jangan marah.” (HR Bukhari)

Untuk menaati perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menahan amarah dan emosi. Apa saja itu?

Cara Menahan Amarah

Dalam sumber sebelumnya disebutkan, Rasulullah SAW berpesan, amarah bisa diredam dengan melakukan beberapa hal, yakni duduk, tidur atau berbaring, dan wudhu. Rasulullah SAW bersabda,

إِيَّاكُمْ وَ الْغَضَبَ فَإِنَّهُ حَمْرَةٌ تَتَوَقَّدُ فِي فُؤَادِ ابْنِ آدَمَ أَلَمْ تَرَ إِلَى أَحَدِكُمْ إِذَا غَضِبَ كَيْفَ تَحْمَرُّ عَيْنَاهُ وَتَنْفَتِحُ أَوْدَاجُهُ فَإِذَا أَحَسَّ أَحَدُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَضْطَجِعْ أَوْ لِيَلْصَقْ بِالْأَرْضِ

Artinya: “Jauhilah sikap marah karena ia merupakan bara yang akan menyala di dalam hati anak keturunan Adam. Tidakkah kamu lihat salah seorang di antara kalian jika dia marah, bagaimana ketika matanya memerah dan urat lehernya membengkak. Jika salah seorang di antara kamu merasakan sesuatu dari hal itu, hendaklah dia berbaring atau duduk ke tanah.” (HR Ahmad)

Di lain kesempatan, beliau juga berwasiat kepada umatnya, “Sesungguhnya, marah itu datangnya dari setan: sedangkan setan itu tercipta dari api; sedangkan api itu dapat dipadamkan dengan air. Maka, jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah segera berwudhu.” (HR Ahmad)

Hadits-hadits di atas menjelaskan, apabila seseorang sedang dikuasai emosi, hendaknya ia menahannya. Jika ia sedang berdiri, duduklah. Jika dia sedang duduk, berbaringlah. Terakhir, jika semua itu sudah dilakukan dan masih marah, berwudhulah.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Kisah Nabi Zulkifli AS, Sosok Raja yang Penyabar dan Bijaksana


Jakarta

Nabi Zulkifli AS adalah satu dari 25 nabi dan rasul utusan Allah SWT yang kisahnya termaktub dalam Al-Qur’an. Ia memiliki nama asli Basyar dan merupakan keturunan dari Nabi Ayyub AS.

Nabi Zulkifli AS merupakan raja yang dikenal penyabar dan bijaksana. Simak kisah lengkapnya dalam artikel berikut.

Nabi Zulkifli Diangkat Menjadi Raja Menggantikan Raja Ilyasa

Zulkifli AS merupakan sosok raja yang bijaksana, adil, dan sederhana. Diperkirakan, Nabi Zulkifli AS hidup pada 1500 atau 1425 SM dan memiliki dua orang putra.


Menukil dari buku Kisah Menakjubkan 25 Nabi dan Rasul yang ditulis Nurul Ihsan, Nabi Zulkifli AS diangkat menjadi nabi sekitar tahun 1460 SM. Beliau diutus kepada kaum Amoria di Damaskus.

Gelar raja yang diperoleh Nabi Zulkifli AS diperoleh karena sosoknya yang rendah hati. Kala itu, seorang raja bernama Ilyasa sudah tidak dapat menjalankan pemerintahan karena usianya yang sudah tua.

Sang raja membutuhkan pemimpin pengganti, namun dirinya tidak memiliki putra pewaris kerajaan. Akhirnya, raja Ilyasa mengumpulkan rakyat untuk meminta kesediaan menggantikannya sebagai pemimpin Bani Israil.

Raja Ilyasa mengajukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk raja pengganti. Persyaratan itu mencakup berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan tidak boleh marah.

“Adakah yang sanggup dari kalian semua?” kata Raja Ilyasa bertanya.

Tak seorang dari rakyatnya yang sanggup. Terlebih, memang tidak mudah menemukan calon pengganti raja dengan persyaratan yang begitu sulit.

Lalu, seorang pemuda yang tak lain adalah Nabi Zulkifli AS menawarkan diri untuk menggantikan raja. Mulanya, Raja Ilyasa tidak percaya bahwa Zulkifli AS dapat menyanggupi persyaratannya, namun sang nabi terus menyakinkan raja.

Akhirnya Raja Ilyasa percaya, sementara Nabi Zulkifli AS memenuhi persyaratan dan menepati janjinya. Ia sangat sabar untuk bangun salat di malam hari, berpuasa pada siang hari dan tidak marah. Zulkifli AS juga tidak pernah emosi ketika menetapkan putusan hukum.

Usai menggantikan Raja Ilyasa, Nabi Zulkifli AS tidak pernah marah. Ia sangat menjaga waktu tidurnya dan waktu-waktu lain untuk mengurus rakyat.

Meski Zulkifli AS berpuasa pada siang hari, ia tetap melayani rakyatnya dengan sepenuh hati. Tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin tidak pernah ia baikan.

Ketika malam tiba, Zulkifli AS menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT. Kesabaran Nabi Zulkifli AS yang luar biasa tertuang dalam surah Al Anbiya ayat 85,

وَاِ سْمٰعِيْلَوَاِ دْرِيْسَوَذَاالْكِفْلِ ۗكُلٌّمِّنَالصّٰبِرِيْنَ

Artinya : “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.”

(aeb/inf)



Sumber : www.detik.com

Kisah Abu Bakar yang Menahan Marah saat Dicela


Jakarta

Menahan marah memang tidak mudah, tapi muslim wajib melakukannya. Sebuah kisah dari Abu Bakar RA mengajarkan bahwa menahan marah adalah perbuatan mulia.

Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk menahan marah ketika sedang merasa emosi. Anjuran menahan marah telah dijelaskan dalam beberapa hadits.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR Bukhari dan Muslim).


Dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang memerintahkan setiap muslim untuk menahan amarah. Siapapun yang mampu menahan marahnya maka termasuk dalam golongan orang bertakwa yang mendapat ampunan Allah SWT.

Dalam surat Ali Imran ayat 133-134, Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Kisah Abu Bakar Menahan Marah

Mengutip buku Kisah Mengagumkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW karya Khoirul Anam, dikisahkan suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama Abu Bakar RA. Tiba-tiba muncul seseorang yang mencela Abu Bakar RA.

Menyaksikan tingkah orang itu, Rasulullah SAW hanya diam dan tersenyum. Namun, Abu Bakar merasa jengkel dan kesal mendengar celaan orang itu sehingga ia pun balas mencelanya. Namun, Rasulullah SAW tidak menyukai hal yang dilakukan Abu Bakar.

Beliau bangkit berdiri dan merengkuh pundak Abu Bakar dengan raut wajah yang menampakkan kemarahan.

Tentu saja Abu Bakar merasa heran dan bertanya, “Ya Rasul, ketika orang itu mencelaku, kau tetap duduk dan diam. Namun, ketika aku membantah celaannya, engkau tampak marah dan berdiri?”

Rasulullah SAW menjelaskan, “Ketika kau diam dan tidak membalas, ada malaikat yang menyertaimu dan ialah yang membantah celaan orang itu. Namun ketika kau mulai membantahnya, malaikat itu pergi dan yang datang adalah setan.”

Abu Bakar terdiam mendengar penjelasan Rasulullah SAW kemudian beliau melanjutkan, “Hai Abu Bakar, ada tiga hal yang semuanya benar. Pertama, ketika seorang hamba dizalimi, kemudian ia memaafkan karena Allah, niscaya Allah akan memuliakannya dengan pertolongan-Nya. Kedua, ketika seorang hamba memberi sedekah dan menginginkan kebaikan, Allah akan menambah banyak hartanya. Ketiga, ketika seorang hamba meminta harta kepada manusia untuk memperbanyak hartanya, niscaya Allah tambahkan kepadanya kekurangan.”

Dalam kesempatan lain, beliau bersabda, “Jika engkau marah, diamlah. Jika engkau marah, diamlah. Jika engkau marah, diamlah.”

(dvs/inf)



Sumber : www.detik.com