Tag Archives: eropa

4 Cara Cegah Paparan Serat Berbahaya dari Atap Asbes yang Bisa Bikin Kanker


Jakarta

Material asbes kerap digunakan sebagai atap rumah. Namun, material tersebut ternyata berbahaya bagi kesehatan manusia.

World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan material asbes bersifat karsinogenik, yakni dapat memicu penyakit kanker apabila manusia terpapar seratnya. Selain itu, serat asbes juga bersifat tajam sehingga susah untuk dimusnahkan meskipun ukurannya kecil.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan, syarat penggunaan material asbes yang diperbolehkan maksimal hanya 5 serat/ml.


“Serat asbes yang terlepas dari atap asbes berukuran sangat kecil dengan diameter kurang dari 3 mikrometer atau lebih tipis dari 1/700 helai rambut, jika terhirup manusia akan mengendap di paru-paru,” tulis pada unggahan tersebut seperti yang dikutip dari Instagram @dkijakarta, asbes memiliki pada Jumat (20/9/2024).

Maka dari itu, beberapa negara terutama di Eropa dan Australia sudah memboikot pemakaian material asbes terutama pada bangunan. Sementara itu, di Indonesia masih marak rumah-rumah memakai atap dari asbes. Bahkan pada 2020 lalu, Indonesia adalah pemakai terbesar material asbes di dunia menurut data yang diungkap Pemerintah Provinsi Jakarta.

Apabila rumah kamu masih menggunakan material asbes atau ingin mengurangi paparan dari serat asbes, melansir dari detikHealth, berikut cara mencegahnya.

1. Mengganti dengan Material Lain

Cara paling tepat untuk tidak terpapar bahaya asbes adalah dengan tidak menggunakannya lagi. Ada banyak material terutama untuk bagian atap yang dapat menggantikan asbes seperti genteng metal dan genteng keramik. Kedunya sama-sama bagus dan dapat menghantarkan panas lebih baik daripada asbes yang konduksi panasnya buruk.

2. Jangan Memotong Asbes

Serat asbes bisa rontok dengan sendirinya dan tak kasat mata. Maka dari itu, sebaiknya jangan memotong, mengamplas, atau mematahkan asbes, terutama tanpa penutup mulut dan hidung.

3. Buang Material Asbes ke Tempat yang Benar

Selain untuk melindungi diri sendiri, kamu juga harus memikirkan keselamatan orang lain. Maka dari itu, saat membuang asbes tidak boleh sembarang. Jika kamu mengetahui tempat yang bisa memusnahkan asbes, kirim material tersebut ke sana agar tidak membahayakan siapa pun.

4. Selalu Cek Kondisi Asbes

Apabila kamu belum bisa mengganti atap asbes di rumah dengan jenis material lain, setidaknya kamu perlu memeriksa kondisinya. Apabila sudah terjadi pelapukan kamu harus menggantinya. Begitu pula jika permukaannya sudah berlubang harus segera diganti.

Apabila terlihat masih kokoh kamu harus sering menyemprotkan air ke lembaran asbes agar tanah, debu, atau serat tidak berterbangan di dalam rumah dan berakhir terhirup oleh penghuni rumah. Bisa pula dengan menutup asbes dengan lembaran plastik atau terpal untuk menghindari paparan cuaca. Lalu, sebisa mungkin memberikan ruang batas antara asbes dengan ruangan dalam rumah.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/abr)



Sumber : www.detik.com

Macam-macam Colokan Listirk dan Tempat yang Pas untuk Dipasang


Jakarta

Colokan listrik atau stop kontak diperlukan di setiap bangunan, baik itu gedung maupun di rumah. Namun, sebelum memasangnya kamu harus jenis-jenis colokan listrik dan tempat yang pas untuk memasangnya.

Jenis colokan yang dipakai bisa berbeda berdasarkan negara tempat kamu berada ataupun kapasitas listrik yang dibutuhkan. Saat memilih stop kontak untuk rumah, kamu perlu mempertimbangkan kebutuhan daya perangkat dan sesuaikan dengan jenis sirkuit yang ada.


Lalu, apa saja jenis-jenis colokan listrik? Yuk simak penjelasannya berikut ini.

Jenis-jenis Colokan Listrik Berdasarkan Kapasitas

Jenis stop kontak dibedakan berdasarkan tingkat keamanannya. Melansir situs Just Energy, Rabu (28/8/2024), berikut jenis-jenis stop kontak yang perlu kamu ketahui.

1. Stop Kontak 15 Ampere

White Electrical Outlet and Wall Plate at the white wallWhite Electrical Outlet and Wall Plate at the white wall Foto: Getty Images/iStockphoto/JaysonPhotography

Stop kontak jenis ini merupakan standar umum dengan dua slot paralel. Stop kontak jenis ini seringkali digunakan untuk perangkat sehari-hari, seperti lampu baca dan peralatan ringan lainnya.

2. Stop Kontak 20 Ampere

Memiliki arus listrik sebesar 20 Ampere, stop kontak ini sangat ideal digunakan untuk peralatan dapur berat. Perlu diingat, pemasangan stop kontak ini harus pada sirkuit 20 Ampere pula untuk mencegah terjadinya risiko kebakaran.

3. Stop Kontak AFCI

Stop kontak AFCI (arc fault circuit interrupter) berbentuk mirip dengan GFCI. Colokan ini dilengkapi dengan fitur keselamatan untuk mengidentifikasi bahaya listrik dan mematikan aliran listrik saat terdeteksi masalah, seperti overheating.

4. Stop Kontak GFCI

A new GFCI electrical outlet.A new GFCI electrical outlet. Foto: Getty Images/skhoward

Stop kontak GFCI (ground fault circuit interrupter) menawarkan perlindungan terhadap bahaya air dengan memutus aliran listrik saat mendeteksi lonjakan arus sehingga sangat cocok digunakan untuk ruangan yang rentan terhadap kelembaban.

Jenis-jenis Colokan Listrik Berdasarkan Negara

Selain itu, sudah menjadi informasi umum bahwa setiap negara memiliki jenis stop kontak yang berbeda-beda. Ada berbagai jenis stop kontak, mulai dari tipe A hingga tipe O.

Electric power sockets with different types of plug cord. Vector isolated type C and A, B and L, usb standard ports for devices charging and appliances, electronic equipment connectorsElectric power sockets with different types of plug cord. Vector isolated type C and A, B and L, usb standard ports for devices charging and appliances, electronic equipment connectors Foto: Getty Images/Sensvector

Mengutip dari Lightning Bug Electric, berikut adalah stop kontak dan gaya steker standar umum di dunia.

Tipe A – Kanada, Amerika Serikat, Jepang, dan Meksiko

Tipe B – Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko

Tipe C – banyak digunakan di seluruh Asia, Eropa, dan Amerika Selatan

Tipe D – India

Tipe E – Belgia, Ceko, Prancis, Polandia, dan Slowakia

Tipe F – Umumnya digunakan di Eropa dan Rusia

Tipe G – Banyak digunakan di Jazirah Arab dan Inggris, serta di Irlandia, Malaysia, Malta, dan Singapura

Tipe H – Israel, Jalur Gaza, dan Tepi Barat

Tipe I – Australia, Argentina, Cina, dan Selandia Baru

Tipe J – Hanya digunakan di Liechtenstein dan Swiss

Tipe K – Hanya digunakan di Denmark dan Greenland

Tipe L – Hanya digunakan di Chili dan Italia

Tipe M – Hanya digunakan di Afrika Selatan

Tipe N – Pilihan Komisi Elektroteknik Internasional (IEC) untuk steker universal standar. Terutama digunakan di Brasil dan Afrika Selatan.

Tipe O – Hanya digunakan di Thailand

Tempat yang Cocok untuk Pasang Colokan Listrik

Dilansir Horizon Services, berikut ini adalah tempat yang pas untuk memasang stop kontak di rumah.

1. Ruang Keluarga

Ruang keluarga adalah biasanya membutuhkan banyak colokan listrik. Misalnya untuk TV, video game, hingga layanan internet. Pertimbangkan posisi stop kontak di tengah setiap dinding, dan sudut ruangan.

2. Kamar Tidur

Sebaiknya pasang colokan listrik di sisi tempat tidur. Kemungkinan kamu akan membutuhkan colokan yang mudah dijangkau dari tempat tidur untuk mengisi daya HP, lampu, dan perangkat lainnya.

3. Ruang Kerja

Penempatan stop kontak sangat penting saat merencanakan kantor atau ruang kerja di rumah. Pertimbangkan untuk menempatkan stop kontak di sepanjang setiap dinding agar kamu bisa fleksibel dalam menempatkan furniture.

4. Kamar Mandi

Letakkan stop kontak di dekat meja kamar mandi untuk mencegah tersandung kabel. Pastikan juga stopkontak jauh dari jangkauan shower atau bak mandi untuk mencegah terkena cipratan air.

5. Dapur

Dapur sebaiknya memiliki stop kontak yang ditempatkan dengan jarak sekitar 500 meter sepanjang setiap meja dapur. Kamu bisa menempatkan stop kontak listrik di atas lemari, bawah lemari, atau di dinding tempat memasang peralatan elektronik.

Itulah informasi mengenai macam-macam colokan listrik serta tempat yang pas untuk memasangnya di rumah. Semoga bermanfaat!

Mau tahu berapa cicilan rumah impian kamu? Cek simulasi hitungannya di kalkulator KPR.

Nah kalau mau pindah KPR, cek simulasi hitungannya di kalkulator Take Over KPR.

(abr/abr)



Sumber : www.detik.com

Ternyata Ini Alasan Orang Barat Ogah Pakai Kloset Jongkok!



Jakarta

Terdapat dua jenis kloset yakni kloset jongkok dan duduk. Namun jika kamu perhatikan, jenis kloset yang banyak dipakai adalah kloset duduk, terutama di negara-negara di Eropa dan Amerika. Lantas, apa alasan kloset jongkok jarang ditemui di sana?

Dilansir situs Jialifu Cubicle, ada beberapa alasan mengapa orang barat jarang menggunakan kloset jongkok, begini penjelasannya.

1. Kloset Jongkok Dinilai Tak Higienis

Kloset jongkok yang tidak memiliki penutup di atasnya, membuat orang barat khawatir saat menyiram atau buang air, ada cipratan air yang mengenai pakaian atau lantai kamar mandi. Mereka melihat bentuk kloset jongkok tidak higienis.


Selain itu, mereka melihat postur jongkok tidak nyaman. Mereka takut tergelincir saat menggunakannya, apalagi tubuh orang-orang barat rata-rata lebih besar dari orang-orang Asia.

2. Khawatir Ada Barang Bawaan Jatuh

Alasan selanjutnya mengapa jarang ditemui kloset jongkok di negara-negara Eropa dan Amerika adalah keamanannya. Biasanya mereka menyimpan barang-barang di kantong celana, seperti ponsel dan dompet. Mereka khawatir barang bawaan mereka bisa terjatuh ke dalam kloset ketika mereka jongkok.

3. Sulit Berdiri Setelah Jongkok

Selain posisinya yang sulit bagi mereka, ketika berdiri juga mereka merasa kesulitan. Mereka khawatir setelah berjongkok lama, kaki terasa mati rasa (kesemutan). Dengan memakai kloset duduk, mereka bisa melakukan aktivitas lainnya seperti membaca buku, bermain ponsel, dan lainnya dengan lebih aman.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/das)



Sumber : www.detik.com

Ukuran Kloset Duduk yang Tepat dan Cara Menentukannya


Jakarta

Memilih kloset duduk harus dipertimbangkan dengan ukuran yang tepat. Sebab selain untuk kenyamanan, juga demi menentukan tata letak kamar mandi apalagi jika ruang yang tersedia terbatas.

Secara umum, produsen kloset duduk di Indonesia telah menetapkan standar ukuran yang sesuai dengan postur tubuh warga lokal. Namun, perbedaan desain dan fitur tambahan bisa memengaruhi dimensi keseluruhan kloset.

Ukuran Kloset Duduk yang Tepat untuk Orang Indonesia

Eric Jensen, pemilik perusahaan kloset Amerika Selatan merek Badeloft, menjelaskan dalam laman resminya bahwa rata-rata ukuran kloset duduk yakni 28-30 inci, dengan lebar 20 inci dan tinggi tangki 27-32 inci.


Namun, Imelda Akmal dalam bukunya yang berjudul Seri Rumah Ide: Saniter menuliskan bahwa rata-rata kloset duduk punya total tinggi sekitar 40 cm dari permukaan lantai hingga dudukan, dengan lebar antara 70-75 cm. Sementara itu, dudukannya yang berbentuk oval memiliki panjang sekitar 33 cm dan lebar 20 cm.

Dalam sistem pembuangan kloset, terdapat standar ketinggian air di dalam lubang pembuangan yang disebut water seal atau seal level. Standar ketinggian ini minimal 50 mm dan berfungsi untuk mencegah gas atau bau dari saluran pembuangan naik ke permukaan. Semakin tinggi water seal, semakin baik kinerja kloset dalam menghalangi bau tidak sedap.

Sementara, adapun hal lain yang perlu diperhatikan saat memilih kloset adalah ukuran rough-in, yaitu jarak antara dinding dengan lubang pembuangan kloset. Jika mengganti kloset lama dengan yang baru, ukuran rough-in harus disesuaikan agar pemasangan berjalan lancar. Jika tidak sesuai, kloset bisa sulit dipasang atau tampak tidak rapi karena terlalu jauh dari dinding.

Di berbagai negara, ukuran rough-in memiliki standar berbeda. Di Eropa sepanjang 180-240 mm, Amerika 305 mm, dan Jepang 510 mm.

Tapi di Indonesia tidak ada standar baku, sehingga rough-in pada produk kloset bisa bervariasi tergantung merek dan modelnya. Namun, ukuran yang paling umum digunakan adalah standar Amerika, yaitu 305 mm.

Cara Menentukan Ukuran dan Jenis Toilet yang Pas

Kloset, yang dalam bahasa Indonesia sering disebut WC (Water Closet), merupakan perlengkapan sanitasi yang digunakan untuk membuang air kecil dan besar. Di dalamnya terdapat pipa berbentuk leher angsa yang berperan penting dalam mengalirkan kotoran dengan baik.

Guna mengukur toilet duduk, ambil meteran pengukur dan ukur tinggi tangki dengan menggerakkan pita pengukur dari lantai ke bagian atas tutup tangki. Selain itu, tentukan apakah kamu ingin memiliki bentuk toilet duduk yang bundar seperti mangkuk, atau oval. Ukur dari bagian depan dudukan ke bagian belakang tangki.

Lalu, ukur kasar jarak antara dinding dan bagian tengah pipa pembuangan. Untuk mendapatkan ukuran ini, ukur dari dinding ke bagian tengah tutup baut toilet.

Pada kloset duduk, terdapat dua model utama, yaitu one piece (monoblok) dan two piece (duoblok). Kloset monoblok memiliki desain menyatu antara bagian dudukan dan tangki air, sementara kloset duoblok terdiri dari dua bagian terpisah.

Saat ini, kloset monoblok semakin populer karena desainnya yang lebih modern dan mudah dibersihkan, meskipun harganya cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan model duoblok.

Itulah tadi penjelasan tentang ukuran kloset duduk dan cara menentukan jenis yang tepat. Jadi, tak hanya bergantung pada desain dan harga, tetapi juga perlu dipertimbangkan ukuran, mekanisme pembilasan, serta standar pemasangan pada kloset duduk yang kamu perlukan.

(aau/fds)



Sumber : www.detik.com

Mau Beli Rumah Bekas? Ketahui 5 Tanda Bangunan yang Lama Tak Diurus


Jakarta

Tidak semua orang mampu untuk membeli rumah karena harganya yang mahal. Solusinya, beberapa orang lebih memilih membeli rumah bekas yang harganya biasanya lebih rendah dari pasaran.

Namun, jangan mudah tergiur dengan harga yang rendah karena bisa jadi perlu adanya banyak perbaikan yang nilainya lebih besar daripada membeli rumah baru.

Seperti halnya di Eropa, banyak rumah dijual seharga secangkir kopi yakni Rp 17 ribu, tetapi pemerintah setempat mengharuskan pemilik barunya melakukan renovasi yang nilainya mencapai miliaran.


Untuk menghindari hal seperti ini, sebaiknya sebelum membeli rumah bekas, konsumen harus mengecek kondisi rumah terlebih dahulu. Usahakan membeli rumah yang terawat. Sebab, rumah yang tak terawat biasanya berpotensi harus direnovasi.

Dilansir Bluenote Painting, berikut ciri-ciri rumah yang kurang terurus dan membutuhkan perawatan.

1. Pekarangan Ditumbuhi Rumput Liar Tinggi

Tanda paling meyakinkan jika rumah tersebut telah lama tidak diurus adalah di halaman rumahnya banyak rumput liar tumbuh. Rumah yang terawat setidaknya sebulan sekali bagian halaman akan dibersihkan. Kondisi pekarangan rumah bisa mencerminkan bagaimana perawatan rumah.

2. Cat Eksterior Rumah Memudar atau Mengelupas

Tanda kedua dapat dilihat dari kondisi cat eksterior pada fasad rumah. Jika kondisinya memudar dan mengelupas berarti kualitasnya cat yang dipakai kurang baik, terlalu lembap, ada kebocoran, dan tidak terurus.

3. Cat Interior Rumah yang Rusak

Kemudian, konsumen juga perlu mengecek interior rumah terutama kondisi catnya. Cat interior biasanya lebih tahan lama daripada cat eksterior karena kondisinya yang berada di dalam bangunan. Apabila kondisi cat interior sama buruknya dengan eksterior, maka perlu ada perbaikan besar-besaran pada rumah.

4. Bagian Rumah Tak Berfungsi

Cek juga bagian penting pada rumah seperti sistem kelistrikan, air, dan pembuangan. Apabila ketiga sistem tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka nantinya perlu ada perbaikan.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/aqi)



Sumber : www.detik.com

Mengenal Jenis-Jenis Colokan Listrik, Jangan Salah Pilih untuk Rumahmu!



Jakarta

Colokan listrik atau stop kontak memiliki banyak jenis. Pemasangan juga tidak bisa sembarangan, ada jenis dan posisi yang pas untuk memasangnya. Jadi sebelum kita memasang colokan listrik lebih baik memikirkannya dengan matang.

Colokan listrik juga memiliki jenis yang berbeda di beberapa negara, kapasitas listriknya juga bisa berbeda. Saat memilih stop kontak untuk rumah, kamu perlu mempertimbangkan kebutuhan daya perangkat dan sesuaikan dengan jenis sirkuit yang ada.

Jadi, seperti apa jenis-jenis colokan listrik? Yuk simak penjelasannya berikut ini.


Jenis-jenis Colokan Listrik Berdasarkan Kapasitas

Jenis stop kontak dibedakan berdasarkan tingkat keamanannya. Melansir situs Just Energy, Rabu (28/8/2024), berikut jenis-jenis stop kontak yang perlu kamu ketahui.

1. Stop Kontak 15 Ampere

White Electrical Outlet and Wall Plate at the white wallWhite Electrical Outlet and Wall Plate at the white wall Foto: Getty Images/iStockphoto/JaysonPhotography

Stop kontak jenis ini merupakan standar umum dengan dua slot paralel. Stop kontak jenis ini seringkali digunakan untuk perangkat sehari-hari, seperti lampu baca dan peralatan ringan lainnya.

2. Stop Kontak 20 Ampere

Memiliki arus listrik sebesar 20 Ampere, stop kontak ini sangat ideal digunakan untuk peralatan dapur berat. Perlu diingat, pemasangan stop kontak ini harus pada sirkuit 20 Ampere pula untuk mencegah terjadinya risiko kebakaran.

3. Stop Kontak AFCI

Stop kontak AFCI (arc fault circuit interrupter) berbentuk mirip dengan GFCI. Colokan ini dilengkapi dengan fitur keselamatan untuk mengidentifikasi bahaya listrik dan mematikan aliran listrik saat terdeteksi masalah, seperti overheating.

4. Stop Kontak GFCI

A new GFCI electrical outlet.A new GFCI electrical outlet. Foto: Getty Images/skhoward

Stop kontak GFCI (ground fault circuit interrupter) menawarkan perlindungan terhadap bahaya air dengan memutus aliran listrik saat mendeteksi lonjakan arus sehingga sangat cocok digunakan untuk ruangan yang rentan terhadap kelembaban.

Jenis-jenis Colokan Listrik Berdasarkan Negara

Selain itu, sudah menjadi informasi umum bahwa setiap negara memiliki jenis stop kontak yang berbeda-beda. Ada berbagai jenis stop kontak, mulai dari tipe A hingga tipe O.

Electric power sockets with different types of plug cord. Vector isolated type C and A, B and L, usb standard ports for devices charging and appliances, electronic equipment connectorsElectric power sockets with different types of plug cord. Vector isolated type C and A, B and L, usb standard ports for devices charging and appliances, electronic equipment connectors Foto: Getty Images/Sensvector

Mengutip dari Lightning Bug Electric, berikut adalah stop kontak dan gaya steker standar umum di dunia.

Tipe A – Kanada, Amerika Serikat, Jepang, dan Meksiko

Tipe B – Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko

Tipe C – banyak digunakan di seluruh Asia, Eropa, dan Amerika Selatan

Tipe D – India

Tipe E – Belgia, Ceko, Prancis, Polandia, dan Slowakia

Tipe F – Umumnya digunakan di Eropa dan Rusia

Tipe G – Banyak digunakan di Jazirah Arab dan Inggris, serta di Irlandia, Malaysia, Malta, dan Singapura

Tipe H – Israel, Jalur Gaza, dan Tepi Barat

Tipe I – Australia, Argentina, Cina, dan Selandia Baru

Tipe J – Hanya digunakan di Liechtenstein dan Swiss

Tipe K – Hanya digunakan di Denmark dan Greenland

Tipe L – Hanya digunakan di Chili dan Italia

Tipe M – Hanya digunakan di Afrika Selatan

Tipe N – Pilihan Komisi Elektroteknik Internasional (IEC) untuk steker universal standar. Terutama digunakan di Brasil dan Afrika Selatan.

Tipe O – Hanya digunakan di Thailand

Tempat yang Cocok untuk Pasang Colokan Listrik

Dilansir Horizon Services, berikut ini adalah tempat yang pas untuk memasang stop kontak di rumah.

1. Ruang Keluarga

Ruang keluarga adalah biasanya membutuhkan banyak colokan listrik. Misalnya untuk TV, video game, hingga layanan internet. Pertimbangkan posisi stop kontak di tengah setiap dinding, dan sudut ruangan.

2. Kamar Tidur

Sebaiknya pasang colokan listrik di sisi tempat tidur. Kemungkinan kamu akan membutuhkan colokan yang mudah dijangkau dari tempat tidur untuk mengisi daya HP, lampu, dan perangkat lainnya.

3. Ruang Kerja

Penempatan stop kontak sangat penting saat merencanakan kantor atau ruang kerja di rumah. Pertimbangkan untuk menempatkan stop kontak di sepanjang setiap dinding agar kamu bisa fleksibel dalam menempatkan furniture.

4. Kamar Mandi

Letakkan stop kontak di dekat meja kamar mandi untuk mencegah tersandung kabel. Pastikan juga stopkontak jauh dari jangkauan shower atau bak mandi untuk mencegah terkena cipratan air.

5. Dapur

Dapur sebaiknya memiliki stop kontak yang ditempatkan dengan jarak sekitar 500 meter sepanjang setiap meja dapur. Kamu bisa menempatkan stop kontak listrik di atas lemari, bawah lemari, atau di dinding tempat memasang peralatan elektronik.

Itulah informasi mengenai macam-macam colokan listrik serta tempat yang pas untuk memasangnya di rumah. Semoga bermanfaat!

(das/das)



Sumber : www.detik.com

Banyak Orang AS Pakai Sandal di Dalam Rumah, Ternyata Ada Manfaatnya Lho!


Jakarta

Saat menonton film buatan negara barat seperti Amerika atau Eropa, kita sering melihat penghuni rumah memakai alas kaki seperti sendal atau sepatu di dalam rumah. Pemandangan tersebut cukup berbeda dengan yang ada di Indonesia di mana penghuni rumah biasa melepaskan alas kaki sebelum masuk ke rumah.

Lantas, adakah alasan kenapa orang-orang Amerika sering memakai sendal di dalam rumah?

Dilansir Know World Now, ada beberapa alasan dan faktor, berikut di antaranya.


1. Melindungi Kaki dari Infeksi

Banyak orang AS memilih memakai sepatu atau sandal di dalam rumah untuk melindungi kaki mereka dari kotoran dan serangga yang dapat menyebabkan infeksi. Mereka menilai cara ini jauh lebih aman daripada harus merasakan sakit dalam waktu yang lama.

2. Mencegah Tergelincir

Kemudian, negara di Amerika dan Eropa memiliki 4 musim. Biasanya saat musim dingin, rumah jauh lebih lembap. Lantai bisa lebih licin sehingga rawan tergelincir. Hal ini dapat membahayakan penghuni rumah terutama lansia. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari lima puluh persen orang berusia di atas 50 tahun pernah terjatuh saat mengenakan sol, sandal, atau kaus kaki tanpa sepatu. Alasannya adalah orang lanjut usia memiliki kulit kaki yang lebih kenyal dan indera yang lebih lemah, sehingga mereka tidak dapat menjaga keseimbangan saat berjalan, berdiri, atau berdiri di rumah.

3. Lebih Nyaman

Alasan paling umum banyak orang AS dan Eropa memakai sepatu atau sendal di dalam rumah adalah karena alasan kenyamanan. Mereka percaya jika alas kaki dapat membantu mereka tetap berdiri dan berjalan dengan baik, hangat, dan hangat di lingkungan mereka. Selain itu juga dapat melindungi kaki jika sering tersandung atau terbentur furnitur, sepatu dapat memberikan keamanan tambahan.

4. Menjaga Kesehatan

Kaki yang terlindungi tentu menjauhkan seseorang dari penyakit atau kecelakaan di rumah. Kemudian, mayoritas dokter juga menyarankan penggunaan sepatu dalam ruangan untuk meringankan penyakit kaki seperti plantar fasciitis, bunion, hingga cedera tulang kering.

5. Melindungi Karpet dari Kotoran

Jika menyadari, orang AS banyak yang memakai karpet pada lantai untuk menjaga lantai tetap dingin. Oleh sebab itu, beberapa orang beranggapan dengan memakai sepatu yang bersih tidak akan merusak karpet dibandingkan kaki yang tidak bersepatu.

Sebab, kaki dapat mengeluarkan minyak yang nantinya terserap dan menumpuk pada bahan karpet. Seiring waktu, permukaan karpet dapat rusak karena minyak tersebut atau berubah warna menjadi kusam.

6. Punya Jalan yang Lebih Bersih

Ternyata mayoritas kota di Amerika Serikat memiliki jalan yang bersih seperti bebas dari lumpur dan kotoran yang dapat menempel pada alas sepatu dan sendal. Oleh karena itu, apabila alas kaki dipakai di dalam rumah, tidak akan membuat lantai kotor.

Itulah beberapa manfaat memakai sandal di dalam rumah.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/abr)



Sumber : www.detik.com

Kenapa Berbagai Negara Memiliki Colokan yang Berbeda-beda?


Jakarta

Colokan stop kontak yang digunakan tiap negara mungkin tidak sama, bergantung pada kebutuhan masyarakat setempat. Hal ini tentu harus diantisipasi sebelum bepergian ke negara terkait untuk beragam keperluan.

Alasan Berbagai Negara Memiliki Colokan yang Berbeda

Tipe colokan yang berbeda di tiap negara dilatari perkembangan masyarakat setempat. Misal, aturan keselamatan yang sempat diterapkan dan standar penggunaan energi listrik di negara terkait.

Berikut penjelasan lengkapnya dikutip dari laman Titus Electrical Services:


1. Alasan Historis

Saat listrik pertama kali diperkenalkan pada akhir tahun 1800-an, belum ada standardisasi untuk stop kontak dan colokan listrik. Setiap negara mengembangkan sistemnya sendiri berdasarkan standar dan kebutuhan listrik masing-masing. Sehingga, hal ini menghasilkan berbagai jenis stop kontak dan bentuk colokan.

2. Standar Listrik

Faktor selanjutnya adalah standar listrik yang berbeda di berbagai negara. Amerika misalnya, tegangan standar untuk stop kontak adalah 120 volt, sementara di Eropa adalah 220-240 volt.

Perbedaan ini memerlukan jenis stop kontak dan bentuk colokan yang berbeda. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan dan kompabilitas dengan perangkat listrik.

3. Peraturan Keselamatan

Setiap negara mempunyai peraturan keselamatan yang berbeda mengenai stopkontak dan steker listrik. Contohnya, ada beberapa negara yang mengharuskan stop kontak memiliki penutup bawaan untuk mencegah sengatan listrik. Kebijakan tersebut mengakibatkan jenis stop kontak dan bentuk steker yang berbeda untuk mengakomodasi peraturan keselamatan tersebut.

Kenapa Bentuk Colokan Tidak Dibuat Seragam?

Kini sebagian besar rumah di dunia mempunyai akses listrik. Jika diterapkan standar global untuk bentuk colokan listrik, maka perubahan tersebut bisa menghabiskan triliunan rupiah.

Mulai dari mengubah bentuk colokan, mengubah cara membangun gedung, bahkan cara memproduksi beberapa peralatan. Jadi, tidak heran jika setiap negara mempertahankan bentuk colokan yang sudah ada.

Jenis Steker yang Digunakan di Berbagai Negara

Ada steker yang berbentuk bulat, pipih, hingga memiliki tiga cabang persegi panjang. Berikut informasinya.

1. Tipe A

Steker tipe A memiliki dua cabang paralel datar dan dirancang untuk perangkat yang memerlukan listrik 120 volt. Jenis steker ini digunakan di Amerika Utara, Amerika Tengah, Jepang, Amerika Selatan, Karibia, dan Asia Timur.

2. Tipe C

Steker Tipe C atau europlug mempunyai dua cabang bundar dan dirancang untuk perangkat yang memerlukan listrik 220-240 volt. Jenis steker ini paling umum digunakan di Eropa, Amerika Selatan, dan Asia.

3. Tipe G

Tipe G merupakan steker stop kontak listrik yang umum digunakan di Inggris Raya, Irlandia, dan Malta. Steker tersebut memiliki tiga cabang persegi panjang dan dirancang untuk perangkat yang memerlukan listrik 220-240 volt.

4. Tipe I

Tipe I adalah steker stop kontak listrik yang memiliki dua colokan datar bersudut dan colokan datar ketiga di tengah. Jenis steker tipe ini paling umum digunakan di Australia, Selandia Baru, dan China. Steker tersebut dirancang untuk perangkat yang memerlukan 220-240 volt.

5. Tipe L

Steker Tipe L memiliki tiga cabang bundar dan dirancang untuk perangkat yang memerlukan listrik 220-240 volt. Italia, Chili, serta beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah menggunakan steker ini.

(elk/row)



Sumber : www.detik.com

Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Wallcovering dan Wallpaper


Jakarta

Penggunaan wallcovering tengah menjadi tren di sejumlah masyarakat untuk mempercantik interior rumah. Namun, masih banyak yang mengira jika wallcovering dan wallpaper adalah sama.

Meski sama-sama digunakan untuk menutup dinding, tapi ternyata wallcovering dan wallpaper memiliki perbedaan cukup banyak. Singkatnya, bahan yang digunakan pada wallcovering lebih premium daripada wallpaper.

Selain itu, masih ada sejumlah perbedaan lain antara wallcovering dan wallpaper. Simak pembahasannya secara lengkap dalam artikel ini.


Pengertian Wallcovering dan Wallpaper

Sebelum mengetahui perbedaan antara wallcovering dan wallpaper, sebaiknya ketahui dulu definisinya masing-masing. Dilansir situs Tectonics, berikut penjelasannya:

Apa Itu Wallpaper?

Wallpaper merupakan kertas berlapis yang dapat menempel di dinding. Pada umumnya, wallpaper diterapkan pada dinding interior rumah agar terlihat lebih rapi dan estetis.

Biasanya wallpaper memiliki lebar antara 52-75 cm. Wallpaper terbuat dari material kertas atau vinyl tipis dengan motif dan warna tertentu. Pemasangannya juga cukup mudah karena hanya membutuhkan lem perekat agar menempel di dinding.

Apa Itu Wallcovering?

Wallcovering juga digunakan untuk menutup dinding ruangan. Namun, bahan yang digunakan cenderung lebih premium daripada wallpaper. Umumnya bahan yang digunakan adalah vinyl tebal, kain, serat alami, atau material sintetis dengan ukuran antara 75-140 cm.

Wallcovering lebih cocok digunakan untuk penggunaan komersial, seperti ruang kantor, rumah sakit, atau kamar hotel. Meski begitu, banyak produsen wallcovering yang menyediakan produk untuk rumah.

Perbedaan Wallcovering dan Wallpaper

Agar tidak bingung dalam membedakan wallcovering dengan wallpaper, simak penjelasannya di bawah ini:

1. Material

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perbedaan paling jelas terletak pada materialnya. Wallpaper menggunakan bahan kertas atau vinyl tipis, sedangkan wallcovering memakai vinyl tebal, kain, material sintetis, dan serat alami.

2. Daya Tahan

Wallcovering disebut memiliki daya tahan yang lebih baik daripada wallpaper. Dengan material yang premium, wallcovering dapat bertahan hingga 10-15 tahun, sedangkan wallpaper umurnya hanya 3-5 tahun saja.

Di sisi lain, wallcovering juga tahan terhadap air, api, kelembapan, tidak mudah sobek, dan anti bakteri. Sementara wallpaper akan mudah rusak jika terkena air dan suhu lembap. Apalagi jika terpapar api, tentu langsung hangus tak tersisa.

3. Pemasangan

Wallpaper cenderung lebih mudah dipasang pada dinding rumah karena hanya membutuhkan lem perekat khusus dinding. Sebaliknya, pemasangan wallcovering harus dilakukan oleh tenaga ahli karena menggunakan bahan khusus agar bisa merekat di dinding.

“Kekurangan dari wallcovering terletak pada pemasangannya. Meskipun luas area yang dicakup lebih luas dan jumlah sambungannya lebih sedikit, tapi wallcovering perlu dipasang secara profesional dan harus mengikuti panduan produsen secara tepat,” kata Paul Walden, spesialis wallcovering interior di Inggris dan Eropa.

4. Harga

Perbedaan paling nyata antara wallcovering dan wallpaper terletak di harganya. Penggunaan material premium membuat harga wallcovering jauh lebih mahal ketimbang wallpaper.

Dari pantauan detikProperti di sejumlah e-commerce, Kamis (31/7/2025), harga 1 roll wallcovering vinyl dibanderol sekitar Rp 5-8 jutaan. Sedangkan harga 1 roll wallpaper kualitas premium dibanderol Rp 20-80 ribuan. Sebagai catatan, harga bisa berbeda-beda tergantung dari bahan dan ukurannya.

Demikian perbedaan antara wallcovering dan wallpaper. Semoga bermanfaat!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(ilf/ilf)



Sumber : www.detik.com

Jangan Pakai 2 Warna Seprai Ini, Bikin Kutu Kasur Berdatangan



Jakarta

Salah satu hewan yang senang hidup di kasur adalah kutu kasur. Hewan kecil penghisap darah ini pernah menjadi wabah di Eropa beberapa tahun lalu karena gigitannya dapat menyebabkan rasa gatal, luka, hingga infeksi kulit.

Keberadaan kutu kasur sulit ditemukan karena hewan ini aktif saat malam hari di saat manusia tengah tertidur. Mereka muncul karena tertarik pada karbon dioksida dan panas yang dikeluarkan manusia saat tidur.

Cara membasmi kutu kasur adalah dengan rajin membersihkan kasur, mulai dari menyedot debu dengan vacuum cleaner, menggunakan kasur baru bukan bekas terutama setelah terendam banji, dan menjaga kebersihan kasur.


Selain itu, dilansir CNN, ada satu faktor lain yang membuat kutu kasur tertarik hidup di kasur adalah warna seprai yang dipakai gelap seperti hitam dan merah tua. Lho kenapa gitu?

Hal ini sudah dibuktikan dalam sebuah penelitian berjudul Journal of Medical Entomology pada 2016 lalu. Penelitian itu menguji kutu kasur yang diletakkan di cawan petri dengan ‘tenda’ yang berbeda warna.

Hasilnya menunjukkan jika kutu kasur langsung berlari menuju tenda warna hitam dan merah dibandingkan tenda berwarna terang, seperti putih, kuning, atau hijau.

Dalam sebuah penelitian urban entomologi Universitas Florida, ilmuwan Roberto Pereira mengatakan kutu kasur menyukai warna gelap karena dapat memberikan perlindungan lebih dari serangga yang lebih besar, seperti laba-laba dan semut.

Alasan lainnya adalah kutu kasur salah mengira warna merah dan hitam sebagai warna teman-teman mereka. Sebenarnya warna kutu kasur adalah merah kecoklatan, tetapi saat jumlahnya banyak warna tersebut lebih terlihat hitam dan merah.

“Alasan lainnya mungkin karena warna-warna cerah membuat serangga ini terpapar dan semakin sering serangga terpapar, semakin banyak mereka kehilangan air, dan jika kehilangan banyak air, mereka akan mati atau harus makan lagi,” ujar Pereira, dikutip dari CNN, Jumat (2/8/2025).

“Sulit untuk mengetahui apa yang ‘dipikirkan’ oleh kutu kasur, jika kita bisa menggunakan terminologi tersebut,” tambahnya.

studio shot of black themed bedding sheets and white pillowstudio shot of black themed bedding sheets and white pillow Foto: Getty Images/Suradech14

Meskipun begitu, Pereira menegaskan warna seprai tidak menjadi faktor utama kutu kasur ditemukan di kasur. Faktor utamanya tetap karena kutu kasur menyukai suhu tubuh manusia, karbon dioksida, dan darah. Jika ketiga faktor tersebut ditemukan, mereka bisa bersarang di kasur meskipun seprai yang digunakan berwarna terang seperti putih, hijau, atau kuning.

Hal lain yang perlu diketahui adalah kutu kasur tidak hanya ditemukan di kasur, melainkan bisa di barang-barang berbusa di rumah berbulu dan penuh debu seperti kursi, sofa, karpet, atau wallpaper dinding.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/zlf)



Sumber : www.detik.com