Tag: gurun

  • Kaktus di Rumah Tergenang Air Hujan? Begini Cara Atasinya


    Jakarta

    Kaktus merupakan salah satu tanaman favorit bagi pemula. Perawatannya yang mudah menjadi daya tariknya.

    Tanaman ini bisa diletakkan di dalam ruangan maupun di luar ruangan, yang penting bisa terkena sinar matahari. Sebab, kaktus merupakan tanaman asli gurun yang habitatnya beriklim kering.

    Saat kaktus ditaruh di luar ruangan bisa menjadi masalah ketika musim hujan. Sebab, jika tidak segera ditaruh ke dalam rumah justru bisa membuatnya tergenang air, apalagi jika hujan lebat.


    Apabila tidak segera diambil tindakan, kaktus tersebut bisa mati. Lalu, bagaimana cara mengatasi kaktus yang tergenang air hujan?

    1. Ganti Pot

    JIka kaktus terendam air hujan sebaiknya segera diganti potnya. Pastikan kamu menggunakan tanah yang sudah diformulasi khusus untuk kaktus dan pot yang digunakan memiliki lubang drainase. Dengan begitu bisa mencegah kaktus terendam air lagi nantinya.

    2. Buang Bagian yang Busuk

    Jika terendam air terlalu lama bisa menyebabkan akar kaktus membusuk. Maka dari itu, saat memindahkan kaktus ke pot baru, kamu juga perlu memperhatikan akarnya.

    Dilansir dari The Spruce, akar kaktus yang sehat warnanya cerah, seperti nadi, dan tidak mudah hancur saat dipindahkan dari pot. Potong bagian akar yang lembek dan kehitaman karena mengindikasikan bagian tersebut sudah busuk.

    Jangan pindahkan kaktus jika masih ada bagian busuk yang menempel. Sebab, bagian yang busuk bisa menyebar dan bisa membahayakan kaktus.

    Pastikan area yang baru dipotong sudah mengering sebelum dipindahkan ke pot baru dan jangan diberi air selama seminggu setelah diganti potnya.

    3. Pasang Atap untuk Lindungi Kaktus dari Hujan

    Dilansir dari Gardening Know How, jika kamu tetap ingin menaruh kaktus di luar rumah, pastikan ada atap peneduh agar kaktus tidak terguyur hujan terus menerus, apalagi belakangan ini sudah masuk musim hujan. Apabila tidak bisa membuat atap peneduh, kamu bisa memasukkan kaktus ke dalam rumah untuk sementara waktu.

    Itulah beberapa cara mengatasi kaktus yang tergenang air hujan. Semoga bermanfaat!

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Nggak Perlu Selalu Disiram, 5 Tanaman Ini Bisa Tumbuh di Kondisi Kering


    Jakarta

    Menanam tanaman bisa memberikan kesan rumah asri apalagi ketika cuaca sedang panas. Tanaman biasanya tumbuh membutuhkan sinar matahari secara langsung dan ada yang tidak.

    Tanaman yang tak kuat menahan sinar matahari bisa layu dan tidak tumbuh karena mengalami kekeringan. Meski begitu, ada beberapa yang bisa bertahan hidup ketika cuaca sedang panas. Salah satunya adalah aloe vera alias lidah buaya.

    Tanaman yang kaya akan manfaat dan banyak ditemukan di Indonesia ini bisa tetap hidup di kondisi yang kering dan cuaca panas. Tanaman ini disebut bisa tumbuh lebih baik di tanah yang berpasir yang meniru lingkungan gurun tempat asalnya.


    Selain itu, masih ada beberapa tanaman yang tanah cuaca panas. Dilansir dari Real Simple, berikut ini informasinya.

    1. Lavender

    Lavender.Lavender. Foto: Mohammed Harith Khalil/Wikimedia Commons

    Tanaman cantik berwarna ungu ini memiliki wangi yang menenangkan. Tak heran, terkadang tanaman ini ditemukan di rumah. Ternyata lavender juga bisa bertahan hidup di lingkungan yang panas.

    “Lavender adalah tanaman yang menyukai sinar matahari penuh dan tanah yang dikeringkan dengan baik,” kata ahli perkebunan dan pelatih dibalik The Birch Arbor Gardens, Arianna Lappinin, dikutip dari Real Simple.

    2. Rosemary

    Tanaman herbal rosemaryTanaman rosemary Foto: Getty Images/iStockphoto/belchonock

    Tanaman yang kerap digunakan sebagai bumbu masakan ini juga bisa bertahan di kondisi cuaca panas. Jika pemilik rumah tinggal di tempat dengan iklim panas, rosemary tetap bisa tumbuh dengan baik sepanjang tahun.

    “Tumbuhan ini menyukai sinar matahari dan dapat bertahan hidup dalam kondisi kering,” kata Lambton.

    3. Bugenvil

    Herianto (35) merupakan warga Desa Karang Bendo, Kecamatan Tekung, Lumajang. Ia membudidayakan bunga bugenvil hingga meraup untung Rp 15 juta per bulan.Bugenvil. Foto: Nur Hadi Wicaksono/detikcom

    Tanaman yang memiliki aneka warna ini bisa tumbuh setinggi 20 kaki dan lebar 40 kaki. Selain mempercantik taman rumah, bugenvil ini juga ‘tahan banting’ alias bisa bertahan hidup di lingkungan kering.

    “(Bugenvil) terkenal karena mekar lebih banyak saat kondisi kering, ini adalah pemandangan yang memukau di lanskap,” ujar director of design untuk Tilly, Kate Singleton.

    4. Bunga Terompet

    Yellow angel trumpet flower. The yellow flower that adorns the streets. Tropical flowers.Bunga terompet. Foto: Getty Images/iStockphoto/Photographer and graphic artist

    Tumbuhan ini memiliki warna yang indah ini bisa mempercantik taman rumah. Bunga terompet juga bisa mekar sempurna walau dalam lingkungan yang kering.

    5. Marigold

    Orange marigold flowers.Please see more similar pictures of my Portfolio.Thank you!Marigold. Foto: Getty Images/schnuddel

    Marigold menjadi salah satu tanaman favorit pemilik rumah karena bisa mengusir hama. Selain itu, warnanya yang cerah juga bisa membuat taman terasa lebih ‘hidup’.

    Tanaman tahan panas yang satu ini perlu disiram secara teratur pada awal musim, tetapi bisa tahan terhadap lingkungan kering.

    Itulah beberapa tanaman yang tahan cuaca panas. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kota Kuno Dumat al-Jandal Jadi Saksi Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad



    Jakarta

    Sebuah kota kuno di jantung Al-Jouf, Arab Saudi menjadi saksi penting perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW dan perjuangan kaum muslimin. Kota itu bernama Dumat al-Jandal atau dulunya disebut Adumato.

    Seorang arkeolog Saudi, Hussain Al-Khalifah, mengatakan peradaban dan kerajaan telah berkembang di Dumat al-Jandal selama ribuan tahun. Wilayah ini diyakini telah dihuni sekitar milenium kedua sebelum masehi.

    “Saat itu sedang musim hujan dengan sungai dan hutan, kemudian berubah menjadi sabana, kemudian memasuki musim dengan sedikit hujan, kemudian pemukiman berpindah ke lokasi lain di dekatnya seperti situs Al-Jamal dan situs Al-Rajajil,” jelas Hussain dilansir Arab News.


    “Setelah itu, Jazirah Arab berubah menjadi gurun seperti yang kita lihat saat ini. Pada zaman dahulu, manusia berpindah ke tempat-tempat yang memiliki tanah dan sumber air yang subur. Oleh karena itu, Dumat Al-Jandal merupakan salah satu kota tertua yang dihuni sekitar milenium kedua SM,” lanjut arkeolog dengan pengalaman lebih dari 30 tahun itu.

    Dumat al-Jandal, kata Hussain, merupakan salah satu titik penting di jalur perdagangan bagi orang-orang yang datang dari selatan Jazirah Arab. Hal tersebut menjadikan wilayah ini kuat dan kaya.

    Ada beberapa kerajaan dan kekaisaran yang mencoba menguasai Dumat al-Jandal. Salah satunya bangsa Asyur. Akan tetapi, pada waktu yang sama muncul Kerajaan Qedar Arab yang tidak hanya menghalau bangsa Asyur tapi juga memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga mencapai Palestina.

    Dumat al-Jandal sudah ada jauh sebelum era Islam. Pada saat Islam datang, wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi dakwah Nabi Muhammad SAW.

    Diceritakan dalam Hadza al-Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb karya Abu Bakar Jabir al-Jaziri yang diterjemahkan Iman Firdaus, pada tahun kelima Hijriah, Nabi Muhammad SAW mendengar berita sejumlah musyrikin di Dumat al-Jandal melakukan pencurian, perampokan, dan sering mengganggu kafilah di sana.

    Nabi SAW lantas ingin memberi pelajaran kepada mereka agar daerah itu jauh dari kejahatan dan kezaliman. Selain itu, beliau ingin menggentarkan bangsa Romawi dan penduduk sekitarnya supaya tidak berpikir memerangi beliau dan tak lupa beliau juga ingin berdakwah di sana.

    Rasulullah SAW bertolak ke Dumat al-Jandal bersama seribu pasukan. Setibanya di negeri tersebut, beliau tak menemukan siapa-siapa. Ternyata para musyrikin itu telah kabur dan bercerai-berai karena ketakutan saat mendengar kabar Nabi Muhammad SAW menuju ke sana.

    Nabi Muhammad SAW menginap di Dumat al-Jandal selama beberapa hari. Beliau mengutus pasukannya ke berbagai tempat untuk mencari kaum musyrikin. Namun, nihil. Pasukan Nabi SAW hanya menemukan beberapa ekor unta dan kambing.

    Rasulullah SAW dan kaum muslimin akhirnya kembali ke Madinah tanpa peperangan.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits tentang Sakaratul Maut, Sakitnya Ibarat Ditusuk Ratusan Pedang


    Jakarta

    Sakaratul maut adalah kondisi yang akan dialami oleh setiap makhluk hidup yang bernyawa. Menurut hadits, rasanya sangat sakit.

    Datangnya sakaratul maut dijelaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Qaf ayat 19,

    وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ


    Artinya: “(Seketika itu) datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari.”

    Menukil dari buku Makna Kematian Menuju Kehidupan Abadi oleh Muhammad Sholikhin, sakaratul maut adalah peristiwa yang menyertai proses kematian, baik itu mendadak maupun normal melalui proses penuaan. Cara kedatangan sakaratul maut berbeda-beda dan tidak akan ada yang bisa lari dari kematian.

    Dalam beberapa hadits disebutkan terkait gambaran sakaratul maut. Berikut beberapa di antaranya.

    5 Hadits tentang Sakaratul Maut

    1. Dahsyatnya Sakaratul Maut

    Menurut Ma’ar-Rasul SAW fi Sakaraatil-Maut oleh Muhammad Abdul Hadi yang diterjemahkan Abdul Hayyie Al-Kattani dan Masturi Irham, sakitnya sakaratul maut sangat dahsyat. Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Malaikat memeluk hamba (yang sedang menghadapi sakaratul maut) dan menahannya. Karena jika tidak demikian, ia akan lari dari gurun dan daratan karena dahsyatnya sakaratul maut.”

    2. Sendi-sendi Mengucap Salam ketika Sakaratul Maut

    Diceritakan oleh Anas RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang hamba akan merasakan kepayahan dalam menghadapi sakaratul maut. Dan sungguh, sendi-sendinya akan mengucapkan salam atas bagian yang lain. Ia berkata, ‘Keselamatan atasmu, engkau berpisah dariku dan aku memisahkan diri dari kamu sampai hari kiamat.” (HR Abu Hudaibah)

    3. Sakaratul Maut yang Paling Ringan

    Diterangkan dalam At-Tadzkirah Jilid 1 oleh Imam Syamsuddin Al-Qurthubi terjemahan Anshori Umar Sitanggal, sakitnya sakaratul maut yang paling ringan diibaratkan seperti rumput berduri yang ada di dalam wol. Dari Syahr bin Hausyab, Nabi SAW bersabda,

    “Sesungguhnya maut yang paling ringan ialah seperti rumput berduri yang ada dalam wol. Dapatkah rumput itu keluar dari wol tanpa menyangkut bulu-bulu wol?” (HR Ibnu Abi Ad-Dunia)

    4. Sakitnya seperti Ditusuk 300 Pedang

    Sakitnya sakaratul maut juga diibaratkan seperti 300 pedang. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya,

    “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan 300 pedang.” (HR Tirmidzi)

    5. Orang yang Masih Merasakan Sakaratul Maut Meski Mati 100 Tahun Lalu

    Dari Jabir bin Abdulullah berkata bahwa Nabi Muhammmad SAW bersabda,

    “Berceritalah tentang bani Israil, sesungguhnya pada (diri dan keajaiban yang mereka alami) mereka terdapat beberapa keajaiban.” Kemudian Rasulullah bercerita kepada kami, “Pada suatu hari, mereka keluar menuju ke sebuah kuburan. Mereka berkata, ‘Kalau kita salat dua rakaat dan berdoa kepada Allah agar mengeluarkan orang mati untuk memberitahu kita tentang (bagaimana) kematian’.

    Nabi kemudian berkata, ‘Lalu mereka melakukannya. Dan saat itulah muncul (dari dalam kubur) seorang laki-laki dengan rambut putih, berkulit hitam, dan antara kedua matanya terdapat bekas sujud yang kemudan (dia) berkata, ‘Wahai kalian, apa yang kalian inginkan dariku? Aku telah mati sejak seratus tahun yang lalu, sampai sekarang rasa kematian masih terasa dan belum hilang dariku, berdoalah kepada Allah agar mengembalikan aku sebagaimana kalian’.” (HR Ibnu Abi Syaibah)

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com