Tag: hadits

  • Mencium Hajar Aswad Bisa Hapuskan Dosa, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Hajar Aswad adalah batu mulia yang terdapat pada salah satu sudut Ka’bah. Menurut sebuah hadits, mencium Hajar Aswad bisa menghapuskan dosa.

    Dalam Shahih Bukhari pada Kitab ke-25, Kitab Haji bab ke-50, bab keterangan tentang Hajar Aswad, terdapat sebuah hadits yang berisi kesunnahan mencium Hajar Aswad. Dikatakan,

    . حَدِيثُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ جَاءَ إِلَى الْحَجَرِ الأَسْوَدِ فَقَبَّلَهُ فَقَالَ: إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلَكَ مَا قبلتك أخرجه البخاري في


    Artinya: Umar RA ketika mencium Hajar Aswad berkata: “Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan tidak berguna. Andaikan aku tidak melihat Nabi SAW menciummu, maka kau tidak akan menciummu.”

    Ibnu Abbas RA juga meriwayatkan bahwa Nabi SAW juga pernah menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat. Kala itu, Nabi SAW sedang tawaf ketika Haji Wada’ sambil mengendarai unta. Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari pada Kitab ke-25, Kitab Haji bab ke-58, bab menyentuh rukn (Hajar Aswad) dengan tongkat.

    Kedua hadits tersebut turut dihimpun Muhammad Fu’ad Abdul Baqi dalam Kitab Al-Lu’Lu wal Marjan, sebuah kitab yang memuat hadits shahih Bukhari dan Muslim disertai ringkasan musthalah hadits.

    Ada hadits lain yang menyebut bahwa mengusap Hajar Aswad dapat menghapus dosa. Dalam redaksi lain dikatakan termasuk menciumnya.

    Diriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umari, dari ayahnya, ia berkata, “Sesungguhnya Ibnu Umar pernah berebut berdesak-desakan untuk mendekati dua rukun (Hajar Aswad dan Rukun Yamani). Sebelumnya, aku tidak pernah melihat seorang pun sahabat Rasulullah SAW yang berdesakan seperti itu. Lantas aku berucap, ‘Wahai Abdurrahman, mengapa engkau mendekati dua rukun dengan berdesak-desakan seperti itu? Tidak pernah kulihat seorang pun sahabat Rasulullah SAW yang seperti itu.’

    Dia menjawab, “Aku melakukannya karena mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani bisa menghapus dosa.’ Aku juga mendengar beliau bersabda, ‘Orang yang melakukan tawaf di Baitullah selama satu minggu dan menyempurnakannya, pahalanya sama seperti membebaskan hamba sahaya.’

    Aku mendengar beliau bersabda, ‘Tidaklah ia menginjakkan satu kaki dan mengangkat yang lainnya, kecuali Allah akan menghapus dosanya dan menetapkan kebaikan kepada dirinya.’”

    Hadits tersebut termuat dalam Sunan at-Tirmidzi, Kitab Haji, Bab Mencium Dua Rukun dan At-Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan. Hadits ini juga terdapat dalam Sunan an-Nasa’i, Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, dan Musnad Ahmad.

    Adapun, dalam riwayat an-Nasa’i dikatakan dengan redaksi berikut, “Menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menghapus dosa.”

    Said Muhammad Bakdasy dalam Fadhlu Hajar Aswad wa Maqam Ibrahim mengatakan bahwa Hajar Aswad akan memberikan kesaksian pada hari kiamat kelak. Hal ini bersandar pada riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya Hajar Aswad memiliki lidah dan bibir yang dapat memberikan kesaksian terhadap orang yang mencium atau menyentuhnya pada hari kiamat dengan jujur.” (Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, Sunan Ibnu Majah, al-Mustadrak al-Hakim, dan Musnad Imam Ahmad. Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa Al-Baihaqi meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih)

    Menurut riwayat Ibnu Abbas RA yang lainnya, Hajar Aswad disebut berasal dari surga. Batu ini awalnya berwarna putih, kemudian berubah menjadi hitam akibat dosa orang-orang musyrik. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

    “Hajar Aswad merupakan batu yakut berwarna putih dari surga. Berubah menjadi hitam akibat dosa orang-orang musyrik. Akan dibangkitkan dengan ukuran seperti Gunung Uhud pada hari kiamat serta akan menjadi saksi bagi orang yang menyentuh dan menciumnya dari penduduk bumi.” (Shahih Ibnu Khuzaimah, Sunan At-Tirmidzi, dan Sunan ad-Darimi. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan)

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Perumpamaan Ahli Ilmu dengan Ahli Ibadah Menurut Hadits Nabi



    Jakarta

    Ahli ilmu dan ahli ibadah memiliki keutamaan masing-masing. Rasulullah SAW pun menggambarkan kedudukan keduanya melalui sebuah perumpamaan yang diambil dari benda-benda langit.

    Diriwayatkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

    “Keutamaan ahli ilmu dibanding ahli ibadah sama seperti keutamaan bulan pada malam purnama dibanding bintang-bintang lainnya.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya dari Abu Darda)


    Dalam redaksi lain dikatakan, “Sesungguhnya keutamaan seorang alim (ulama) dibandingkan seorang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.”

    Menurut Prima Ibnu Firdaus al-Mirluny dalam buku Seri Syarah Hadits Nabi: Keutamaan Menuntut Ilmu, hadits tersebut mengandung maksud bahwa keutamaan orang yang ahli ilmu kemudian mengamalkan ilmunya itu jauh di atas keutamaan ahli ibadah yang bukan ahli ilmu.

    Ia menjelaskan, Rasulullah SAW memberikan perumpamaan bagi ahli ilmu bagaikan bulan karena cahaya bulan menerangi penjuru bumi dan meluas ke seluruh arah sehingga manusia dapat mengambil manfaat dari cahaya tersebut.

    Sedangkan ahli ibadah yang diibaratkan bintang-bintang di langit, ini didasarkan karena cahaya bintang tidak melewati dirinya sendiri atau hanya menjangkau sesuatu yang dekat darinya.

    “Seperti itulah ibadah seorang ahli ibadah, yang mana ibadah tersebut hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, dan orang di sekitarnya,” jelas Ibnu Firdaus dalam bukunya.

    Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam Kitab adz-Dzikru wa ad-Du`a` fi Dhau`il Kitab wa as-Sunnah menyebut bahwa perumpamaan antara ahli ilmu dan ahli ibadah dalam hadits tersebut mengandung rahasia yang sangat unik seperti ditegaskan oleh banyak ulama.

    Salah satunya Imam Ibnu Rajab rahimahullah. Ia mengatakan, rahasia dalam hal ini–Allah Mahatahu–adalah bahwa cahaya bintang-bintang itu hanya menyinari dirinya, sedangkan bulan pada malam purnama menerangi semua penduduk bumi.

    “Rasulullah menggunakan kata kawakib (atas semua planet), bukan nujum (atas semua bintang), karena kawakib adalah bintang yang berjalan dan tidak bisa dijadikan petunjuk. Ia sama kedudukannya dengan ahli ibadah yang manfaatnya terbatas pada dirinya sendiri,” jelas Ibnu Rajab dalam Syarh Hadits Abu Dzar fii Thalabil Ilmi.

    Para ulama menyimpulkan, hadits tersebut menunjukkan bahwa keutamaan ilmu lebih tinggi dari ibadah. Dalam Musnad Al-Bazzar, Al-Mustadrak Al-Hakim dan lainnya, dari Sa’id bin Abu Waqqash RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda,

    “Keutamaan ilmu itu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah. Dan sebaik-baik keagamaan kalian adalah wara.”

    Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menjelaskan lebih lanjut, di antara perkara yang menunjukkan keutamaan ilmu atas seluruh amalan sunnah serta hal-hal yang disukai yang terdapat zikir di dalamnya, bahwa ilmu mengumpulkan semua keutamaan amal-amal yang terpencar.

    Telah banyak atsar-atsar yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu. Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu dimaksudkan untuk Allah SWT yang lebih utama daripada menuntut ilmu. Tidak ada ilmu dituntut dalam suatu masa yang lebih utama daripada hari ini.”

    Adapun, Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Orang yang berilmu lebih baik daripada orang yang zuhud terhadap dunia, dan orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah, dia menebar hikmah Allah, jika diterima niscaya dia memuji Allah, dan jika ditolak niscaya dia memuji Allah.”

    Perumpamaan keutamaan ahli ilmu dengan ahli ibadah juga disebutkan dalam riwayat dengan redaksi berikut,

    “Kelebihan ahli ilmu (‘alim) terhadap ahli ibadah (‘abid) adalah seperti kelebihanku terhadap orang yang paling rendah di antara kamu sekalian.”

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Sholat Tepat Waktu sebagai Amalan yang Dicintai Allah SWT



    Jakarta

    Sholat fardhu lima waktu dikerjakan pada waktu-yang ditetapkan Allah SWT. Untuk itu, ada sejumlah riwayat yang menekankan tentang pentingnya mengamalkan sholat lima waktu.

    Dikutip dari buku Waktu Shalat karya Ahmad Sarwat, Lc, MA, sholat dianggap tidak sah bila dikerjakan di luar waktu yang ditetapkan. Sholat dikerjakan telat atau terlalu cepat dengan sengaja tanpa unsur syar’i.

    Perintah melaksanakan sholat tepat waktu termaktub dalam firman Allah surah An Nisa ayat 103 yang berbunyi,


    فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

    Artinya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Hadits tentang Sholat Tepat Waktu

    1. Hadits Pertama

    مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

    Artinya: “Siapa saja yang menjaga sholat maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Sedangkan, siapa saja yang tidak menjaga sholat, dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan. Dan pada hari kiamat nanti, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ahmad)

    2. Hadits Kedua

    Dari Abdullah bin Mas’ud RA,

    سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

    Artinya: “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku (Abdullah bin Mas’ud) mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada dua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allâh.” (HR Bukhari)

    Keutamaan sholat tepat waktu turut dijelaskan Khalifah Usman bin Affan. Dikutip dari buku Belajar dari Ustadz Yusuf Mansur penulis Anwar Sani, Tarmizi As-Shiddiq, dan Ahmad Jameel menjelaskan sembilan keutamaan sholat tepat waktu. Berikut keutamaan sholat tepat waktu:

    • Dicintai Allah SWT
    • Badannya senantiasa sehat
    • Dijaga oleh malaikat
    • Diturunkan berkah untuk rumahnya
    • Mukanya akan keliahtan tanda orang yang shaleh
    • Allah akan melembutkan hatinya
    • Dapat melalui jembatan Shiratal Mustaqim layaknya seperti kilat
    • Akan diselamatkan dari api neraka
    • Allah menempatkannya ke dalam golongan orang-orang yang tidak takut dan bersedih

    Melansir dari buku Fikih Empat Madzhab Jilid 1 karya Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, sholat fardhu terdiri dari waktu Zuhur (tengah hari) dan menjadi sholat pertama yang dilakukan rasul, waktu Ashar (sore hari), waktu Maghrib (saat tenggelamnya matahari), waktu Isya (malam hari), dan waktu Subuh (pagi hari).

    Perintah untuk melaksanakan sholat fardhu ini termaktub dalam surah Al-Isra ayat 78 yang berbunyi,

    أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

    Artinya: “Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) Subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

    Rasulullah SAW juga pernah menyebutkan bahwa melaksanakan sholat fardhu lima waktu diibaratkan sebagai pencuci dosa manusia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »

    Artinya: “Jika seandainya ada aliran sungai mengetuk pintu kalian untuk mencuci rumah kalian lima kali dalam sehari, apakah mungkin masih ada kotoran yang tersisa?” Para sahabat menjawab, “Tidak mungkin ada kotoran yang tersisa.” Lalu Nabi bersabda, “Begitu juga halnya dengan sholat lima waktu, Allah akan menghapus dosa kalian dengan sholat-sholat tersebut,” (HR Al-Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Haji Mabrur dalam Arab, Latin, dan Artinya



    Jakarta

    Haji mabrur artinya haji yang diterima oleh Allah SWT atau maqbul. Dalam pelaksanaannya, ada doa haji mabrur yang dapat kita amalkan.

    Alasan mengapa perlu haji yang dilakukan adalah ibadah haji mabrur adalah balasan yang akan diterima pelakunya adalah surga. Hal ini termasuk dalam keutamaan yang dijanjikan dan disabdakan oleh Rasulullah SAW seperti dalam hadits berikut ini.

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةُ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْجُ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءُ إِلَّا الْجَنَّةُ.


    Artinya: “Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu menyampaikan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Dari umrah ke umrah itu penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tiada balasan yang sesuai kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dijelaskan juga dalam sebuah hadits yaitu sebagai berikut,

    عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : هَذَا البَيْتُ دِعَامَةُ الإِسْلَامِ فَمَنْ خَرَجَ يَؤُمُ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ حَاجَ أَوْ مُعْتَمِرٍ كَانَ مَضْمُونًا عَلَى اللهِ إِنْ قَبَّضَهُ يُدْخِلُهُ الجَنَّةَ، وَإِنْ رَدَّهُ رَدَّهُ بِأَجْرٍ وَغَنِيمَةِ

    Artinya: Jabir Radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Rumah ini (Baitullah) adalah tiang Islam. Barang siapa yang berangkat menuju rumah ini untuk melakukan haji atau umrah, maka telah dijamin oleh Allah; jika meninggal akan dimasukkan ke dalam surga, dan jika pulang (ke rumah asal) akan memperoleh pahala yang melimpah.” (HR Ibnu Juraij)

    Doa Haji Mabrur

    Adapun setelah melaksanakan ibadah haji, kita dapat mengucapkan doa agar haji yang telah terlaksana akan mabrur atau diterima oleh Allah SWT. Berikut ini adalah doa haji mabrur dalam Arab, latin, dan artinya.

    اللهم اجْعَلْ حَجَّنَا حَجًّا مَبْرُوْرًا، وَعُمْرَةَنَا عُمْرَةً مَبْرُوْرًا، وَسَعْيَنَا سَعْيًا مَشْكُوْرًا، وَذَنْبَنَا ذَنْبًا مَغْفُوْرًا، وَعَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مَقْبُوْلًا، وَتِجَارَةَنَا تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ، يَا عَالِمَ مَا فِى الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.

    Arab Latin: “Allahummaj’al hajjana hajjan mabruura, wa ‘umratan ‘umratan mabruura wasa’yanaa sa’yan masykuuraa wa dzanban dzanban maghfuura wa ‘amalanaa ‘amalan shaalihan maqbuulaa wa tijaaratan lan tabuura yaa ‘aalima maa fish shudur akhrijnaa minadh dhulumaati ilan nuur.”

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur (baik dan diterima), umrah kami umrah yang mabrur, sa’i kami sa’i yang disyukuri, dosa kami dosa yang diampuni, amal kami amal shaleh yang diterima dan perdagangan kami perdagangan yang tidak merugi, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada, keluarkanlah kami dari kedzaliman menuju cahaya (keimanan).”

    Adapun selain berdoa, tentunya terdapat langkah-langkah atau cara agar bisa mencapai haji mabrur. Dikutip dari buku Bimbingan Lengkap Haji dan Umrah oleh M. Syukron Maksum, sebagai tamu Allah SWT saat haji jika kita tanpa celah sedikitpun maka Allah akan memberikan ampunan untuk kita. Hal ini sesuai dengan sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji tanpa mengucap dan berbuat cabul, dan tanpa melanggar ketentuan, maka keadaannya dari segi dosa akan kembali seperti keadaan pada hari saat dia dilahirkan ibunya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dijelaskan dalam buku tersebut bahwasanya jika suatu ibadah dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah yang ditetapkan syariat baik syarat dan rukunnya, diiringi dengan keikhlasan dan mengharap keridhaan Allah, niscaya ibadah tersebut akan berdampak positif.

    Begitulah sekilas pembahasan kali ini mengenai doa haji mabrur sekaligus dengan pengertian dan pembahasannya. Semoga tulisan kali ini dapat bermanfaat dan kita diberikan kesempatan untuk menunaikan haji mabrur. Aamiin yaa Rabbalalamiin.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Meninggal Dunia di Madinah Menurut Sabda Nabi



    Jakarta

    Madinah al-Munawwarah adalah tempat yang disucikan Allah SWT bersama dengan Makkah al-Mukarramah. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai keutamaan meninggal dunia di Madinah.

    Kota Madinah awalnya bernama Yatsrib. Kota ini berganti nama setelah Rasulullah SAW hijrah. Hal ini turut dikisahkan dalam Sunan an-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda,

    “Aku diperintah mengganti nama sebuah negeri yang telah mengusir banyak perkampungan. Mereka menyebut Yatsrib padahal ia adalah Madinah. Negeri itu menyisihkan orang-orang sebagaimana alat peniup besi menyisihkan kotoran besi.”


    Dalam berbagai riwayat, Rasulullah SAW menyebut keutamaan-keutamaan Kota Madinah. Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya Madinah seperti alat peniup api yang membersihkan besi dari karat dan kotorannya, dengan memunculkan kebaikan besinya.” (HR Muslim dalam Kitab Al-Hajj)

    Rasulullah SAW juga menyebut sejumlah keutamaan Madinah termasuk bagi orang yang bertahan menghadapi kesulitan di sana. Beliau SAW bersabda,

    “Madinah adalah lebih baik bagi mereka seandainya mereka mengetahui. Orang yang meninggalkan Madinah karena benci terhadapnya maka Allah akan menggantikan dengan orang yang lebih baik darinya. Orang yang terus bertahan dalam cobaan dan kesukaran yang ada di sana maka aku akan memberi syafaat kepadanya dan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.” (HR Muslim dalam Kitab Al-Hajj)

    Imam Bukhari mengeluarkan sejumlah hadits terkait keutamaan Madinah. Salah satunya dari Abu Hurairah, ia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda,

    إِنَّ الإِيْمَانَ لَيَأْزِرُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْزِرُ الْحَيَّةُ إِلَى حُجْرِهَا

    Artinya: “Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah seperti ular berkumpul dalam sarangnya.” (HR Bukhari dalam Kitab al-Umrati dan Muslim dalam Kitab al-Hajj)

    Rasulullah Beri Syafaat bagi Orang yang Meninggal di Madinah

    Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Kitab Minhajul Muslim menukil sebuah hadits yang menyebut bahwa Rasulullah SAW akan menjadi saksi bagi orang yang meninggal dunia di Madinah. Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْهَدُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

    Artinya: “Barang siapa sanggup meninggal di Madinah hendaklah dia melakukannya. Sebab, aku akan menjadi saksi bagi orang yang meninggal di sana.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)

    Ulama Syafi’iyah Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah-nya juga menukil sebuah hadits yang menyebut bahwa Rasulullah SAW akan menjadi saksi atau pemberi syafaat bagi orang yang meninggal dunia di Madinah.

    Seorang perempuan Tsaqif pernah berada di sisi Rasulullah SAW dan ia meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Siapa saja di antara kalian yang dapat meninggal di Madinah, maka hendaklah ia meninggal (di Madinah) karena siapa saja yang meninggal di Madinah, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.”

    Haitsami dalam Majma’ az-Zawa’id mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad hasan dan perawi shahih, kecuali guru Thabrani.

    Oleh karena itu, Umar RA meminta kepada Allah agar ia meninggal di Madinah. Ayah dari Zaid bin Salim meriwayatkan bahwa Umar RA berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematianku di Tanah Haram Rasul-Mu SAW (Madinah).”

    Allah SWT mengabulkan doa Umar dan dia mati syahid di mihrab Masjid Nabawi ketika menjadi imam kaum muslimin pada saat salat Subuh, sebagaimana dikatakan Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam Sirah Nabawiyah.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits yang Menjelaskan Pentingnya Perilaku Toleransi dalam Islam



    Jakarta

    Toleransi secara bahasa dapat diartikan sebagai sikap menghargai pendirian orang lain. Dalam tulisan ini akan dipaparkan mengenai hadits yang menjelaskan pentingnya perilaku toleransi khususnya dalam Islam.

    Sebelumnya, diketahui bahwa toleransi dalam Islam juga dikenal sebagai Tasamuh. Meskipun menghargai, namun bukan berarti membenarkan atau bahkan mengikuti pendirian orang lain.

    Menurut buku Antologi Hadits Tarbawi tulisan Anjali Sriwijbant dkk, toleransi harus dideskripsikan secara tepat lantaran toleransi yang disalah artikan dapat merusak agama itu sendiri. Islam sebagai ajaran yang total atau kaffah sudah pasti mengatur dengan penuh mengenai batas antara muslim dan non muslim seperti Islam mengatur batas antara laki-laki dan perempuan.


    Toleransi dalam Islam artinya adalah menghormati tanpa harus melewati aturan agama Islam itu sendiri. Hadits yang menjelaskan pentingnya perilaku toleransi sendiri termuat dalam sebuah riwayat yang mengatakan bahwa agama Islam adalah agama yang toleran.

    Adapun bunyi dari hadits tersebut adalah sebagai berikut,

    عَن ابْنِ عَبَّاس قَالَ قَبْلَ لرَسُول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَمُ أَي الْأُذُونَ أَحَبُّ أَلى الله قَالَ الْحَنيفيَّة السَّفْحَة

    Artinya: “Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu ia berkata, ditanyakan kepada Rasulullah SAW yaitu, “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?”maka beliau bersabda: “Al-Hanafiyah As-Sambah (yang lurus lagi toleran).” (HR Bukhari)

    Bahkan toleransi antar umat beragama ini juga termaktubkan dalam firman-Nya surah Al Kafirun ayat 5 yaitu,

    لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

    Arab Latin: Lakum dīnukum wa liya dīn

    Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

    Selain toleransi dengan orang selain muslim, antar sesama muslim juga membutuhkan toleransi. Toleransi ini dapat memperkokoh umat muslim dan Islam itu sendiri.

    Hadits mengenai keterangan ini terdapat pada sebuah ungkapan yang diriwayatkan oleh Abi Musa Radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

    الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

    Artinya: “Hubungan orang mukmin dengan orang mukmin yang lain bagaikan satu bangunan yang saling memperkokoh satu sama lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Sedangkan, secara umum setiap manusia yang berbuat sesuatu itu sudah diketahui Allah SWT akan apa maksud dari tindakannya tersebut. Allah SWT telah mewanti-wanti kita sebagai umat yang beriman kepada-Nya untuk mengatakan kepada orang yang sekiranya berbeda prinsip yaitu, “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu terlepas diri dari apa yang aku kerjakan dan aku pun terlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.”

    Keterangan di atas didapatkan dari Al-Qur’an surah Yunus ayat 40-41 yang berbunyi sebagai berikut,

    وَمِنْهُمْ مَّنْ يُّؤْمِنُ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهٖۗ وَرَبُّكَ اَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِيْنَ(40 ࣖ

    وَاِنْ كَذَّبُوْكَ فَقُلْ لِّيْ عَمَلِيْ وَلَكُمْ عَمَلُكُمْۚ اَنْتُمْ بَرِيْۤـُٔوْنَ مِمَّآ اَعْمَلُ وَاَنَا۠ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ(41

    Artinya: “Di antara mereka ada orang yang beriman padanya (Al-Qur’an), dan di antara mereka ada (pula) orang yang tidak beriman padanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.Jika mereka mendustakanmu (Nabi Muhammad), katakanlah, ‘Bagiku perbuatanku dan bagimu perbuatanmu. Kamu berlepas diri dari apa yang aku perbuat dan aku pun berlepas diri dari apa yang kamu perbuat.’”

    Begitulah sekilas pembahasan kali ini mengenai hadits yang menjelaskan pentingnya perilaku toleransi sekaligus beberapa ayat yang juga menjelaskannya. Semoga tulisan kali ini dapat menambah pemahaman kita mengenai toleransi sekaligus keimanan kita. Aamiin yaa Rabbal’alamiin.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits Membaca Al Kahfi sebagai Pengampun Dosa-Penangkal Fitnah Dajjal



    Jakarta

    Al Kahfi adalah salah satu surah yang sering kita dengar dan manfaatnya terkait hari Jumat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam keterangan dari hadits membaca Al Kahfi yang disabdakan Rasulullah SAW.

    Sunnah mengenai membaca atau mengamalkan Al Kahfi banyak sekali kita temui dalam berbagai hadits Rasulullah SAW. Salah satunya yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu. Rasulullah SAW bersabda,

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ، سَطَعَ لَهُ نُورٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءِ، يُضِيءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وغُفر لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ


    Artinya: “Dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulul­lah SAW pernah bersabda: Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka timbullah cahaya baginya dari telapak kakinya hingga ke langit yang memberikan sinar baginya kelak di hari kiamat, dan diampunilah baginya semua dosa di antara dua hari Jumat.” (HR An-Nasa’i dan Baihaqi)

    Mengenai keutamaan dan kebaikan mengenai membaca Al Kahfi ini banyak sekali diterangkan selain dari hadits di atas. Berikut ini adalah beberapa hadits lain yang dikutip dari buku Terjemah dan Fadhilah Majmu’ Syarif oleh Ustadz Rusdianto dan buku Ensiklopedia Hadits Ibadah Membaca Al-Qur’an karya Syamsul Rijal Hamid.

    5 Hadits Membaca Al Kahfi

    1. Fadhilah 10 Ayat Pertama

    Diriwayatkan dari Abu Darda Radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

    Artinya: Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal (fitnah). (HR Muslim)

    2. Pengampunan Dosa di Antara 2 Jumat

    Melalui riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jumat.” (HR Hakim dan Baihaqi)

    Ibnu Hajar berkata tentang hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menyatakan shahih atas hadits ini, sebagaimana terdapat dalam Shahih al-Jami’.

    3. Terpancar Cahaya

    Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dan Baitul ‘Atiq.” (HR Darimi, Nasa’i, dan Hakim)

    4. Penangkal Zaman Dajjal

    Diriwayatkan dari Nawas bin Sam’an dalam sebuah hadits yang cukup panjang, yang di dalam riwayat tersebut intinya Rasulullah SAW bersabda, “Maka barang siapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi.” (HR Muslim)

    5. Dijauhkan dari Fitnah Dajjal

    Abu Umamah juga meriwayatkan hadits Rasul SAW yang berbunyi, “Sesungguhnya di antara fitnahnya, ia (Dajjal) memiliki surga dan neraka. Nerakanya adalah surga, dan surganya adalah neraka. Siapa diuji dengan nerakanya, hendaklah ia memohon pertolongan Allah SWT dan membaca awal Surat Al-Kahfi.” (HR Ibnu Majah, Tirmidzi, & Hakim)

    Begitulah sekilas pembahasan kali ini mengenai hadits membaca Al Kahfi yang mengandung keutamaan dan manfaatnya. Semoga kita dapat selalu mengamalkan Al Kahfi dan sunnah-sunnah lainnya. Amiin yaa Rabbalalamiin.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Tentang Larangan Sikap Berlebih-lebihan, Hindari Agar Tak Terjerumus



    Jakarta

    Ajaran Islam melarang keras setiap pemeluknya berlebih-lebihan dalam segala sesuatu karena termasuk ke dalam sifat tercela. Berlebih-lebihan ini meliputi berbagai hal, termasuk juga dalam hal beribadah, gaya hidup, berniaga, menuntut ilmu, hingga makan dan minum.

    Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al A’raf ayat 31,

    يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ


    Artinya: Hai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

    Sikap Berlebihan yang Dilarang dalam Islam

    Disebutkan dalam buku Wasathiyah Dalam Al-Qur’an Nilai-nilai Moderasi Islam dalam Akidah, Syariat, dan Akhlak yang ditulis oleh Prof. Dr. Ali Muhammad Shallabi, berlebih-lebihan atau sikap ekstrem dalam bahasa Arab disebut sebagai al-ghuluw (ghuluw), yang maknanya melampaui batas.

    Ibnu Faris mengatakan, “Kata ghuluw berasal dari tiga huruf; ghain, laam, dan waw, yang menunjukkan atas tingginya sesuatu dan melampaui batas.” Sementara ahli bahasa lainnya, Al-Jauhari mendefinisikan ghuluw-nya seseorang itu apabila melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas.

    Kata ghuluw sendiri termaktub dalam Al-Qur’an surat An Nisa ayat 171,

    يٰۤـاَهۡلَ الۡكِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِىۡ دِيۡـنِكُمۡ وَلَا تَقُوۡلُوۡا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الۡحَـقَّ

    Artinya: Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.

    Selain dilarang oleh Allah, sikap berlebihan juga lebih banyak mendatangkan mudharat dibandingkan dengan manfaat. Oleh karena itu, orang-orang yang berlebihan dalam suatu hal pasti akan merugi di kemudian hari.

    Hadits-Hadits Larangan Sikap Berlebihan

    Berikut ini adalah daftar hadits-hadits yang menyiratkan bahwa sikap berlebih-lebihan dalam segala sesuatu adalah hal yang dilarang dalam Islam dan dibenci oleh Allah, dikutip dari buku Moderasi Islam Dan Kebebasan Beragama Perspektif Mohamed Yatim & Thaha Jabir Al-Alwani yang disusun oleh Dr. H. Mahmud Arif, dkk.

    1. Sikap berlebihan membawa kebinasaan

    Hadits riwayat dari Ibnu Abbas, Nabi SAW berkata kepada rombongan pagi hari (untuk keperluan melempar jumrah), “Tolong ambilkan aku kerikil.” Mereka mengambilkan kerikil seukuran batu ketapil.

    Ketika mereka menyerahkannya kepada Nabi, beliau berkata, “Terima kasih, mirip seperti ini. Hindarilah berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya berlebih-lebihan (al-ghuluw) dalam agama, telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

    Menurut Ibnu Taimiyah, makna hadits tersebut bersifat umum meliputi semua jenis berlebih-lebihan baik dalam keyakinan maupun perbuatan. Konteks hadits dengan redaksi umum memang melempar jumrah, seperti melempar jumrah dengan batu kerikil besar mengingat hal tersebut dianggap lebih mantap daripada kerikil kecil.

    Namun, Nabi Muhammad SAW mengemukakan alasan untuk menjauhi perilaku orang-orang terdahulu agar terhindar dari jatuh dalam kebinasaan. Sebab, orang yang mengikuti sebagian perilaku mereka (yang berlebih-lebihan), dikhawatirkan mengalami kebinasaan.

    2. Celakanya orang yang bersikap berlebihan

    Hadits riwayat dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Celakalah orang-orang yang melampaui batas (al mutanaththi’un) (HR Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad). Menurut Imam An-Nawawi, “celaka al-mutanaththi’un” maksudnya arti orang-orang yang melampaui batas dalam ucapan dan perbuatan mereka.

    Kemudian, ada hadits riwayat dari Anas bin Malik yang menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian memberatkan diri, sehingga Allah pun membebanimu, karena suatu kaum yang telah memberatkan diri mereka, Allah juga akan membebani mereka. Itulah (yang menjadikan) mereka tetap tinggal di biara/kuil, dan kerahiban yang mereka ada-adakan, (padahal) kami tidak mewajibkan kepada mereka.”

    Hadits riwayat Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya agama ini itu mudah. Tidak seorangpun yang menyikapi agama dengan keras kecuali ia akan terkalahkan, maka berlakulah lurus, mendekatlah, bergembiralah, dan berupayalah dengan kelapangan hati dan kemoderatan.”

    Sementara dalam redaksi lainnya, “Berlakulah sedang, maka kamu akan sampai (ke tujuan agama).” (HR Bukhari dan An-Nasa’i). Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-bari mengemukakan, arti hadits tersebut adalah tidak seorangpun yang bersikeras melakukan aktivitas keagamaan dengan meninggalkan kelembutan kecuali ia tak berdaya dan patah semangat sehingga terkalahkan.

    3. Anjuran bersikap sederhana

    Kemudian, Imam Ahmad dalam kitab Musnad meriwayatkan dari Abdurrahman bin Syibl bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu terlalu bersemangat, janganlah kamu berlebihan, dan janganlah kamu melampaui batas dengan Al-Qur’an.” (HR Ahmad).

    Hadits lainnya meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ilmu ini ditransmisikan dari generasi orang-orang yang adil. Mereka menjauhkannya dari penyimpangan kaum ekstrem, cacian para pembohong, dan tafsiran para pendungu.” (HR Baihaqi).

    Hadits-hadits tersebut menunjukkan kepada umat muslim bahwa melampaui batas dan berlebih-lebihan (al-ghuluw) itu tidak termasuk ke dalam ajaran yang benar, bahkan merupakan hal yang menyimpang dari aturan dan menyalahi apa yang telah disyariatkan Allah dan rasul-Nya.

    Itulah beberapa hadits yang menjelaskan tentang larangan berlebih-lebihan dalam sesuatu. Semoga bermanfaat.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Begini Ciri Rezeki yang Mendatangkan Azab, Hati-hati Ya!



    Jakarta

    Rezeki adalah titipan Allah SWT kepada manusia, tidak hanya kepada yang beriman tapi juga kepada mereka lalai dan berbuat ingkar kepada-Nya. Untuk itu, ada sejumlah ciri rezeki yang justru mendatangkan azab.

    Sejatinya, rezeki yang Allah SWT berikan adalah ditujukan kepada setiap siapa pun yang Dia kehendaki. Kenikmatan rezeki ini bisa menjadi azab Allah apabila diberikan kepada orang yang sering lalai dalam ibadah dan bersenang-senang dalam kemaksiatannya.

    Dalam Islam, rezeki yang bisa mendatangkan azab ini bisa dikatakan sebagai istidraj. Mengenai istidraj ini disinggung Allah SWT dalam firman-Nya yaitu Al-Qur’an tepatnya surah Al Qalam ayat 44 yang berbunyi,


    فَذَرْنِيْ وَمَنْ يُّكَذِّبُ بِهٰذَا الْحَدِيْثِۗ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

    Arab Latin: “Fażarnī wa may yukażżibu bihāżal-ḥadīṡi sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya’lamūn(a).”

    Artinya: “Biarkan Aku bersama orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Kelak akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.”

    Selain itu, dijelaskan juga dalam Surah Al-An’am ayat 44 yang berbunyi,

    فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

    Arab Latin: “Falammā nasū mā żukkirū bihī fataḥnā ‘alaihim abwāba kulli syai'(in), ḥattā iżā fariḥū bimā ūtū akhażnāhum bagtatan fa iżā hum mublisūn(a).”

    Artinya: “Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang sudah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”

    Ciri Rezeki yang Mendatangkan Azab

    Dikutip dari buku Tasawuf Akhlaki: Ilmu Tasawuf yang Berkonsentrasi dalam Perbaikan Akhlak oleh Dr. H. Abd. Rahman, dijelaskan bahwa pemilik istidraj ini biasanya merasa selalu bahagia meskipun diterpa kejadian-kejadian aneh yang terjadi kepadanya. Orang-orang ini mengira bahwa ia mendapatkan rezeki atau karamah karena ia berhak untuk memilikinya.

    Lantaran dari sifat ini, Dr. H. Abd. Rahman menjelaskan, mereka biasa untuk merendahkan sesama, sombong, selalu merasa aman dari azab Allah SWT, tidak merasa takut akan kemungkinan hukuman Allah yang bisa menimpanya.

    Ciri lain yang dapat diperhatikan adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Quraish Shihab dalam buku Hidup Bersama Al Quran 1, jika seseorang semakin buruk kualitas dan kuantitas ibadahnya karena tidak ikhlas, banyak berbuat maksiat baik kepada Allah SWT maupun sesama manusia. Namun, ia mendapatkan rezeki yang banyak, kesenangan hidup, sehat dan tidak pernah celaka, maka bisa jadi itu adalah sebuah istidraj baginya.

    Allah SWT juga berjanji akan menariknya dalam kebinasaan seperti dijelaskan dalam firman-Nya surah Al Mu’minun ayat 55-56:

    اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّالٍ وَّبَنِيْنَ ۙ نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرٰتِۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ

    Artinya: “Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya.”

    Begitulah sekilas pembahasan kali ini mengenai ciri rezeki yang mendatangkan azab. Semoga pembahasan kali ini dapat menambah wawasan kita dan membuat kita dapat terhindar dari istidraj. Naudzubillah min dzalik.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Doa untuk Orang Meninggal: Arab, Latin dan Artinya



    Jakarta

    Al-Qur’an menjelaskan bahwa tiap yang bernyawa pasti mengalami kematian. Salah satu peran orang yang masih hidup adalah memanjatkan doa untuk orang meninggal tersebut sebagai bentuk menghormati, mengenang, dan mendoakan kebaikannya.

    Salah satunya, diriwayatkan dari Abu Musa RA dalam hadits At-Tirmidzi, dianjurkan untuk mengucapkan Istirja ketika mendengar seorang anak adam yang meninggal. Berikut bacaannya,

    إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ


    Arab latin: Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun

    Artinya: “Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.”

    Menurut buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, Rasulullah SAW pernah mengunjungi makam para sahabatnya dengan mendoakan mereka. Dalam hadits tersebut, Rasulullah menganjurkan umat muslim untuk mendoakan sesamanya yang sudah wafat.

    كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ أَنْ يَقُولَ قَائِلُهُم: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

    Artinya: “Nabi SAW mengajarkan kepada mereka berziarah ke kubur supaya mengucapkan, ‘Semoga keselamatan senantiasa tercurah pada kalian, hai para penghuni perkampungan kaum mukmin dan muslim. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian. Aku memohon afiyah kepada Allah SWT untuk kami dan untuk kalian.”

    Doa untuk Orang Meninggal dalam Arab, Latin, dan Artinya

    Melalui sejumlah hadits, Rasulullah mengajarkan doa yang bisa dipanjatkan untuk orang yang telah meninggal dunia. Mengutip buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 dan Kitab Al-Adzkar oleh Imam an-Nawawi, berikut beberapa doanya.

    1. Doa untuk Orang Meninggal Versi Pertama

    السَّلَامُ علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ

    Arab latin: Assalaamu ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa yarhamullahu almustaqdimiina minna wal musta’khiriina wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun

    Artinya: “Salam atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang Mukminin dan Muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami insya Allah benar-benar akan menyusul kamu.” (HR Muslim, dari Aisyah)

    2. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kedua

    السَّلَامُ عَلَيْكُم دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

    Arab latin: Assalaamu ‘alaikum daara qaumin mu’miniin wa innaa in syaa’allaahu bikum laahiquun

    Artinya: “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada kalian, wahai penghuni kuburan dari kaum mukmin, dan insya Allah kami akan menyusul kalian.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah)

    3. Doa untuk Orang Meninggal Versi Ketiga

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ القُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ، أَنْتُمْ سَلَفْنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ

    Arab latin: Assalaamu ‘alaikum yaa ahlal qubuur yaghfirullaahu lanaa wa lakum antum salafnaa wa nahnu bil atsar

    Artinya: “Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai ahli kubur. Semoga Allah SWT mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami akan menyusul kalian.” (HR Tirmidzi, dari Ibnu Abbas)

    4. Doa untuk Orang Meninggal Versi Keempat

    السَّلَامُ عليْكم علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ، وَ أسألُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُم العَافِيَةَ

    Arab latin: Assalaamu ‘alaykum ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun wa asalu Allahu lanaa wa lakumul ‘aafiyah

    Artinya: “Salam atas kamu wahai penghuni pemukiman yang terdiri dari kaum Mukminin dan kaum Muslimin, dan sungguh kami Insya Allah benar-benar akan menyusul kamu. Aku mohon kepada Allah untuk kami dan kamu afiat.” (HR Muslim, dari Buraidah)

    5. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kelima

    السَّلَامُ عليْكم علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ أنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ، وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ

    Arabl latin: Assalaamu ‘alaykum ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun, antum lanaa farathun wa nahnu lakum taba’un

    Artinya: “Salam atas kamu wahai penghuni pemukiman yang terdiri dari kaum Mukminin dan kaum Muslimin, dan sungguh kami Insya Allah benar-benar akan menyusul kamu. Kalian adalah pendahulu kami, dan kami akan mengikuti kalian.” (HR Nasa’i dan Ibnu Majah)

    6. Doa untuk Orang Meninggal Versi Keenam

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَأَعْقِبْنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةً

    Arab latin: Allahummaghfirli wa lahu wa’qibni minhu ‘uqba hasanah

    Artinya: Ya Allah, ampuni diriku dan dia dan berikan kepadaku darinya pengganti yang baik.

    7. Doa untuk Orang Meninggal Versi Ketujuh

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

    Arab latin: Allahummaghfirla-hu warham-hu wa ‘aafi-hi wa’fu ‘an-hu wa akrim nuzula-hu, wa wassi’ madkhola-hu, waghsil-hu bil maa-i wats tsalji wal barod wa naqqi-hi minal khothoyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadho minad danaas, wa abdil-hu daaron khoirom min daari-hi, wa ahlan khoirom min ahli-hi, wa zawjan khoirom min zawji-hi, wa ad-khilkul jannata, wa a’idz-hu min ‘adzabil qobri wa ‘adzabin naar.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah ia, kasihilah ia, berilah ia kekuatan, maafkanlah ia, dan tempatkanlah di tempat yang mulia (surga), luaskan kuburannya, mandikan ia dengan air salju dan air es. Bersihkan ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran, berilah ganti rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah ganti keluarga (atau istri di surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan ia ke surga, jagalah ia dari siksa kubur dan neraka.” (HR Muslim)

    Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk membacakan doa untuk orang yang meninggal ketika datang takziah atau melayat ke rumah duka. Berikut bacaan doanya,

    أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكَ وَغَفَرَ لمَيِّتِكَ

    Arab latin: A’dlamallahu ajraka wa ahsana aza’aka wa ghafaraka li mayyitika

    Artinya: “Semoga Allah memperbesar pahalamu, dan menjadikan baik musibahmu, dan mengampuni jenazahmu.

    Itulah deretan doa yang bisa dibaca untuk orang meninggal.

    (rah/lus)



    Sumber : www.detik.com