Tag: hadits

  • 9 Doa untuk Anak dari Orang Tua, Singkat dan Mudah Dihapalkan


    Jakarta

    Doa untuk anak adalah bentuk kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya. Doa dari orang tua yang dipanjatkan pada Allah SWT ini didengar dan Insya Allah dikabulkan.

    Ada berbagai bentuk doa untuk anak seiring banyaknya harapan orang tua. Berikut beberapa contohnya dikutip dari buku Indahnya Pernikahan dan Rumahku, Surgaku oleh Ade Saroni dan Kitab Doa Mustajab karya Ustadz Amrin Ali Al-Kasya.

    9 Doa untuk Anak dari Orang Tua

    Dikutip dari buku Doa-doa Mustajab Orang Tua untuk Anaknya oleh Aulia Fadhil, orang tua dianjurkan mendoakan semua hal yang baik. Karena, doa untuk anak dari orang tua hampir pasti dikabulkan Allah SWT.


    1. Doa untuk Anak Menjadi Sholeh dan Sholeha

    Doa untuk anak agar menjadi sholeh dan sholeha ini sering dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim dalam QS Ash Shaffaat ayat 100, yaitu:

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

    Robbi hablii minash shoolihiin.
    Artinya: Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

    Ada juga jenis doa untuk anak agar menjadi sholeh dan sholeha versi lebih panjang dan lengkap, yaitu:

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ أَوْلَادَنَا أَوْلَادًا صَالِحِيْنَ حَافِظِيْنَ لِلْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ فُقَهَاءَ فِى الدِّيْنِ مُبَارَكًا حَيَاتُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

    Allahummaj’al auladana auladan sholihin haafizhiina lil qur’ani wa sunnati fuqaha fiddiin mubarokan hayatuhum fiddunya wal akhirah.
    Artinya: Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami anak yang sholeh lagi sholeha, orang yang hafal Al Quran dan sunnah, orang yang paham agama, diberkahi kehidupannya di dunia dan di akhirat.

    2. Doa untuk Anak yang Baru Lahir

    أُعِيْذُهُ بِالوَاحِدِ الصَّمَدِ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِى حَسَدٍ

    A’uudzuhu (haa) bilwaahidish shamadi min syarri kulli dzii hasadin.
    Artinya: Ya Allah Yang Maha Esa, tempat semua orang meminta, aku mohon perlindunganMu untuk anakku dari segala kejahatan orang yang dengki.

    3. Doa untuk Anak Sukses Dunia dan Akhirat

    رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    Rabbana waj’alna muslimaini laka wa min dzurriyyatinaa ummatan muslimatan laka wa arina manasikana watub alaina, innaka antat-tawwabur-rahim.
    Artinya: Ya Tuhan kami, jadikanlah kamu berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kami cara dan tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al Baqarah: 128).

    4. Doa untuk Anak Dijauhkan dari Segala Bentuk Penyakit

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

    Allahumma rabban naas mudzhibal ba’si isyfi antasy-syaafii laa syafiya illa anta syifaa an laa yughaadiru saqaman.
    Artinya: Ya Allah Ya Tuhanku, Tuhan seluruh manusia. Hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan sebab Engkau adalah penyembuh. Tak ada yang mampu menyembuhkan penyakit kecuali Engkau dengan kesembuhan tanpa menyisakan rasa sakit.

    5. Doa untuk Anak Kecil Supaya Patuh

    وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    Wallazina yaquluna rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lil-muttaqina imama.
    Artinya: Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa,”. (QS Al Furqan: 74).

    6. Doa untuk Anak yang Beranjak Dewasa

    اَللَّهُمَّ امْلَأْ قُلُوْبَ أَوْلَادِنَا نُوْرًا وَحِكْمَةً وَأَهْلِهِمْ لِقَبُوْلِ نِعْمَةٍ وَاَصْلِحْهُمْ وَاَصْلِحْ بِهِمُ الْأُمَّةَ

    Allahumma-la’ quluuba aulaadinaa nuuron wa hikmatan wa ahlihim liqobuli ni’matin wa ashlih-hum wa ashlih bihimul ummah.
    Artinya: Ya Allah, isilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang layak untuk menerima nikmat-Mu, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka.

    7. Doa untuk Anak Menjadi Patuh pada Ibu

    اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَوْلَادِي وَلَا تَضُرَّهُمْ وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنِي بِرَّهُمْ

    Allahumma barikli fii auladi, wa la tadhuurhum, wa waffiqhum li tho’atika, warzuqna birrohum.
    Artinya: Ya Allah berilah barokah untuk hamba pada anak-anak hamba, janganlah Engkau timpakan mara bahaya kepada mereka, berilah mereka taufik untuk taat kepada-Mu dan karuniakanlah hamba rejeki berupa bakti mereka.

    8. Doa untuk Anak dalam Kelancaran Berbicara

    رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

    Rabbisyrahli shadrii, wayassirlii amrii, wahlul ‘uqdatammillisaanii, yafqohuu qoulii.
    Artinya: Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku. (QS Thaha: 25-28).

    9. Doa untuk Anak Bayi Baru Lahir agar Diberi Pemahaman Agama yang Baik

    اَللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

    Allahumma faqqih hu fid diini wa ‘allimhu ta’wiila.
    Artinya: Ya Allah berikanlah kepahaman baginya dalam urusan agama dan ajarkanlah dia takwil (tafsir ayat-ayat Al Quran).

    Itulah beberapa macam doa untuk anak yang bisa dipanjatkan oleh setiap orang tua kepada Allah SWT. Seperti yang sudah dijelaskan, doa orang tua sangat mudah dimustajab Allah SWT. Karena itu, doa untuk anak harus dipanjatkan dengan niat baik.

    (row/row)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Orang yang Enggan Masuk Surga, Siapa Mereka?



    Jakarta

    Rasulullah SAW dalam haditsnya pernah menyebutkan kelompok orang-orang yang enggan masuk ke surga milik Allah SWT. Siapakah orang-orang tersebut?

    Hadits yang dimaksud bersumber dari Abu Hurairah RA yang pernah mengutip sabda Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Bukhari dengan sanad shahih dalam Kitab Al I’tisham bil Kitab wa As Sunnah berikut bunyinya.

    أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أَبَى». قيل: ومَنْ يَأْبَى يا رسول الله؟ قال: «من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أَبَى»


    Artinya: “Seluruh umatku masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang enggan itu?” Beliau bersabda, “Barang siapa yang taat kepadaku ia pasti masuk surga, dan barang siapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah enggan masuk surga.” (HR Bukhari)

    Orang-orang yang enggan masuk surga adalah mereka yang enggan menaati perintah rasul. Menurut Kitab Fathul Bari, orang-orang yang enggan masuk surga dalam hadits tersebut dapat terdiri dari golongan kafir maupun muslim.

    Golongan kafir yang enggan masuk surga disebutkan tidak akan masuk surga sama sekali. Sementara, bagi muslim disebutkan akan melalui proses yang lama terlebih dahulu sebelum masuk surga.

    “Jika dia itu muslim maka maksudnya dia tidak akan masuk surga beserta orang-orang yang pertama memasukinya. Jadi dia bakal masuk tapi ada proses dulu yang membuat masuknya lambat,” demikian penjelasannya yang diterjemahkan oleh Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah (PISS) KTB dalam buku Tanya Jawab Islam.

    Mengenai perintah taat kepada rasul sejatinya sudah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Ali Imran ayat 32,

    قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Artinya: Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

    Selain itu, disebutkan pula dalam surah An Nisa ayat 80. Allah SWT berfirman,

    مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ

    Artinya: “Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai pemelihara mereka.”

    Disebutkan dalam Tafsir Tahlili terbitan Kemenag, menaati rasul tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan syirik atau mempersekutukan Allah SWT. Sebab, rasul adalah utusan Allah SWT yang mengemban perintah-Nya.

    Taat kepada Rasulullah SAW

    Menurut surat Al Hasyr ayat 7, taat kepada rasul adalah mengikuti apa yang diajarkan dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Allah SWT berfirman,

    وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟

    Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”

    Menaati Rasulullah dapat dilakukan dengan menjalankan apa yang menjadi syariatnya. Dalam Islam, ada banyak ibadah yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan rasul.

    Ibadah ini bisa dilakukan dalam usaha menjadi salah satu umat Rasulullah SAW yang pasti masuk surga. Tentunya saat melakukan ibadah, tiap muslim harus taat pada rukun dan syaratnya.

    Berikut beberapa amalan yang diperintahkan Rasulullah SAW adalah salat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an, mengingat Allah SWT baik di waktu lapang maupun sempit, hingga membaca sholawat sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Ahzab ayat 56 sebagai berikut.

    إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

    Artinya:”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

    (rah/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits yang Membahas tentang Ikhlas



    Jakarta

    Ikhlas berasal dari kata akhlasha-yukhlishu yang artinya membersihkan dan memurnikan sesuatu. Segala sesuatu yang dilakukan, terutama dalam hal ibadah harus dilandasi dengan rasa ikhlas.

    Menukil dari Ensiklopedia Akhlak Rasulullah 1 susunan Syaikh Mahmud Al-Mishri, definisi ikhlas juga dipaparkan oleh sejumlah ulama. Abu Utsman Al-Maghribi menyebut ikhlas dilakukan dengan melupakan perhatian makhluk sehingga hanya kepada Allah seluruh perhatian tercurah.

    Adapun, Al-Kafawi mendefinisikan ikhlas sebagai meniatkan ibadah sehingga hanya Allah semata yang disembah. Secara umum, ikhlas tergolong ke dalam amalan hati yang sulit dilakukan namun kerap dianggap mudah.


    Bahkan, dalam sebuah hadits dari Umar bin Khattab, Rasulullah SAW bersabda mengenai perbuatan yang dilandaskan dengan rasa ikhlas tidak akan sia-sia.

    “Seluruh amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya memperoleh apa yang diniatkan,” (HR Bukhari dan Muslim)

    Selain hadits di atas, masih ada beberapa hadits lainya mengenai ikhlas. Simak bahasannya berikut ini.

    5 Hadits tentang Ikhlas

    Mengutip dari buku Ikhlas, Kunci Diterimanya Ibadah terbitan Akhbar Media Eka Sarana, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang keikhlasan.

    1. Allah Menilai Keikhlasan Hati

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu,” (HR Muslim)

    2. Analogi Amal yang Dilandasi dengan Ikhlas

    “Sesungguhnya amalan itu seperti bejana. Jika bagian bawahnya baik maka baik pula bagian atasnya. Jika bagian bawahnya rusak, bagian atasnya pun rusak,” (HR Ibnu Majah)

    Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menganalogikan amal yang dilandasi dengan ikhlas dalam hati seperti bejana.

    3. Ikhlas karena Allah

    “Barangsiapa yang ikhlas karena Allah selama 40 hari, niscaya akan muncul mata air hikmah pada lisannya,” (HR Abu Nu’aim)

    4. Allah Menolong Orang-orang yang Ikhlas

    “Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka,” (HR An Nasa’i)

    5. Tidak Diterimanya Amal Selain yang Dilakukan dengan Ikhlas

    “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal selain apa yang dilakukan secara ikhlas dan mengharap ridha-Nya,” (HR An Nasa’i)

    3 Derajat Keikhlasan

    Ibnu Qayyim Al-Jauziyah melalui Madarijus Salikin menyebut tiga derajat keikhlasan seorang manusia, antara lain ialah:

    1. Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal, dan tidak puas terhadap amal

    Terdapat 3 penghalang yang dilakukan seseorang dari amalnya. Pertama, pandangan dan perhatiannya. Kedua, keinginan atas imbalan dari amalnya. Ketiga, puas, dan senang kepadanya. Padahal semua kebaikan yang ada dalam diri seorang hamba semata atas karunia Allah, pemberian, kebaikan, dan nikmat-Nya.

    2. Malu terhadap amal sambil tetap berusaha untuk membenahinya, memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah

    Seorang muslim akan merasa malu kepada Allah karena merasa amalnya belum layak. Namun, amal itu tetap diupayakan. Derajat ini mencakup 5 perkara. Antara lain amal, berusaha dalam amal, rasa malu kepada Allah, memelihara kesaksian, melihat amal sebagai pemberian, dan karunia Allah.

    3. Memurnikan amal, membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah dan membebaskannya dari sentuhan rupa

    Memurnikan amal dimaknai sebagai membiarkan amal itu berlalu berdasarkan ilmu dan ketundukan terhadap kehendak Allah SWT. Sementara itu, membebaskan dari sentuhan rupa artinya membebaskan amal dan ubudiyah dari selain Dia.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Amalan dan Doa Spesial Idul Adha untuk Umat Muslim



    Jakarta

    Para ulama mengatakan bahwa disunnahkan untuk menghidupkan malam hari raya. Berikut ini bacaan amalan dan doa spesial Idul Adha untuk umat Islam.

    Imam an-Nawawi dalam Kitab al-Adzkar menjelaskan mengenai sunnah untuk menghidupkan malam hari raya dengan berdzikir kepada Allah SWT, melakukan salat, dan lain sebagainya, melakukan amalan-amalan, dan taat kepada Allah SWT.

    Hal ini sebagaimana berdasar pada hadits, “Barang siapa yang menghidupkan malam dua hari raya, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati-hati yang lain mati.” (HR Ibnu Majah dan Imam Syafi’i)


    Imam an-Nawawi mengatakan hadits tersebut dhaif, namun ia menyebut dalam kitab keutamaan amal bahwasanya boleh bagi umat Islam menggunakan hadits tersebut.

    Dalam redaksi riwayat lain disebutkan, “Barang siapa yang mendirikan salat pada malam dua hari raya karena mengharap ridha Allah SWT semata, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati-hati yang lain mati.”

    Selain itu, disunnahkan untuk membaca takbir pada malam dua hari raya. Disunnahkan pada Idul Fitri dimulai dari terbenamnya matahari, hingga imam salat Id bertakbiratul ihram.

    Disunnahkan juga setelah salat Maktubah dan dalam segala keadaan. Bukan hanya itu, umat muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak bacaan ketika dalam perkumpulan orang-orang.

    Dianjurkan untuk mengumandangkan takbir ketika jalan, duduk, atau tiduran, baik dalam perjalanan ke masjid maupun ke tempat tidur.

    Ketika Idul Adha tiba, maka dikumandangkan takbir dimulai dari setelah salat Subuh dari hari Arafah hingga masuk akhir hari Tasyrik, setelah salat Ashar bertakbir sejenak kemudian selesai.

    Para ulama syafi’iyah mengatakan, berikut ini lafal takbir yang dapat dibaca saat malam Hari Raya Idul Adha,

    اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ

    Arab latin: Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar.

    Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”

    Lafaz tersebut dibaca tiga kali dan boleh diulang-ulang sesuai dengan apa yang dikehendaki. Imam syafi’i dan para ulama Syafi’iyah mengatakan, jika menghendaki tambahan maka dengan membaca,

    الله أَكْبَرُ كَبيراً، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثيراً ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إِلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

    Arab latin: Allaahu akbar kabiiraw walhamdu lillaahi katsiiraa. Wa sub- haar laahi bukkrataw wa ashiilaa. Laa ilaaha illal laahu wa laa na’budu ilaa aahu mukhlishiina lahud diin. Walaw karihal kaafiruun. Laa ilaa- ha illa llahu wahdah shadaqa wa’dah. Wa nashara ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaha illal laahu wal laahu akbar.

    Artinya: “Allah Maha Besar, segala puji dengan pujian sebanyak-banyaknya hanya milik Allah. Maha Suci Allah pada waktu pagi dan sore hari. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan kami tidak meng- hamba kecuali kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, janjinya pasti benar dan dia menolong hamba-Nya. Dan menghancurkan persekutuan orang-orang kafir sendirian Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Mahabesar.”

    Mayoritas ulama Syafi’iyah menyebut boleh juga mengumandangkan takbir Idul Adha dengan bacaan berikut:

    للهُ اكبَرْ, اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُوَِللهِ الحَمْد

    Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamd

    Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”

    Selain takbiran, amalan dan doa spesial Idul Adha lainnya adalah menyembelih hewan kurban dan berdoa untuk itu. Merangkum arsip detikHikmah, berikut bacaan doa berkurban sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim.

    بِسْمِ اَللَّهِ, اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, وَمِنْ أُمّةِ مُحَمَّدٍ

    Arab latin: Bismillah, Allahumma taqobbal min Muhammad wa aali Muhammad, wa min ummati Muhammad

    Artinya: “Dengan nama Allah Ya Allah, terimalah dari Muhammad dan dari keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad.”

    Apabila hendak menyembelih hewan kurban, maka dapat membaca doa sebagai berikut:

    رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

    Arab latin: Rabbanā taqabbal minnā, innaka antas-samī’ul-‘alīm

    Artinya: “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Hadits tentang Berbakti kepada Kedua Orang Tua


    Jakarta

    Islam menganjurkan umatnya untuk berbakti dan menghormati orang tua. Hal ini bahkan dikatakan sejajar dengan kewajiban salat, zakat, hingga puasa.

    Dalam surat Al Isra ayat 23, Allah SWT berfirman,

    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا


    Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia,”

    Selain itu, pada surat Al Luqman ayat 14 juga diterangkan mengenai perintah berbakti kepada kedua orang tua,

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu,”

    Berbuat baik kepada orang tua menjadi bentuk syukur atas nikmat kebaikan keduanya. Mereka telah mengalami banyak penderitaan sejak hamil, melahirkan, mencari nafkah dan mendidik anak mereka. Karenanya, berbuat baik kepada kedua orang tua menjadi kewajiban yang paling penting.

    Dalil mengenai berbakti kepada orang tua juga tercantum dalam sejumlah hadits. Berikut bunyi haditsnya seperti dinukil dari buku Hadits-Hadits Tarbawi susunan M Ainur Rasyid.

    Kumpulan Hadits Berbakti kepada Orang Tua

    1. Anjuran Berbuat Baik kepada Ibu

    Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, “Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ayahmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    2. Berbakti pada Orang Tua dapat Perpanjang Umur dan Tambah Rezeki

    “Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR Ahmad)

    3. Perintah Mentaati Ayah

    “Taatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat.” (HR Ahmad

    4. Durhaka kepada Orang Tua Termasuk Dosa Besar

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Apakah kalian mau kuberitahu mengenai dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Dia lalu bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan pada tangannya. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), “Duhai, seandainya beliau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

    5. Berbakti kepada Orang Tua Tergolong Amalan yang Allah Cintai

    Aku bertanya pada Rasulullah SAW, “Amal apakah yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla?” Dia menjawab, “Salat pada waktunya.” Lalu aku bertanya, “Kemudian apa lagi?” Nabi SAW mengatakan, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Lalu aku mengatakan, “Kemudian apa lagi?” Lalu Rasulullah SAW mengatakan, “Berjihad di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    6. Mendoakan sebagai Bentuk Bakti pada Orang Tua yang Telah Wafat

    Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah SAW. Ketika itu datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orangtuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orangtua yang tidak pernah terjalin, dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

    Demikian pembahasan mengenai sejumlah hadits tentang berbakti kepada kedua orang tua. Semoga bermanfaat.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa saat Hujan sesuai Sunnah, Yuk Baca Agar Berkah!


    Jakarta

    Ada doa yang bisa dipanjatkan ketika turun hujan. Hujan merupakan salah satu nikmat dari Allah SWT yang membawa keberkahan.

    Hujan termasuk salah satu fenomena alam yang terjadi di Bumi. Turunnya hujan dari langit merupakan salah satu kuasa Allah SWT.

    Beberapa ayat Al-Quran menjelaskan tentang proses terjadinya hujan. Salah satunya dalam surat Az-Zukhruf ayat 11:


    وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

    Artinya: Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).

    Dalam buku Ensiklopedia Islam oleh Hafidz Muftisany dijelaskan hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Proses pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci utama proses hidrologi agar berjalan secara terus menerus.

    Doa saat Hujan

    Mengutip Buku Induk Doa dan Zikir oleh Kasimun, ada beberapa doa yang bisa dipanjatkan ketika hujan. Doa ini juga dapat dibaca ketika melihat fenomena alam yang terjadi ketika hujan seperti angin kencang, petir atau langit mendung.

    1. Doa saat Turun Hujan

    اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا

    Arab-latin: Allahummaj’alhu shayyiban naafi’an.

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat.”

    Bacaan doa saat turun hujan dipanjatkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau menyingkap bajunya saat hujan hingga rintik-rintiknya membasahi sebagian tubuhnya. Hal itu dilakukan karena Nabi SAW hendak menunjukkan bahwa hujan termasuk rahmat yang diciptakan Allah SWT.

    2. Doa Setelah Hujan

    مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

    Arab-latin: Muthirnaa bi-fadhlillaahi wa rahmatih.

    Artinya: “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”

    Berdasarkan riwayat hadits, Rasulullah SAW pernah berkata, “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, maka orang itu beriman kepada Allah dan tidak beriman terhadap bintang-bintang.

    3. Doa agar Hujan Berhenti

    اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الأَكَامِ وَالظِرَابِ وَبُطُوْنِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

    Arab-latin: Allaahumma hawaa laynaa wa laa ‘alaynaa. Allaahumma ‘alal-aakaami wazh-zhiraabi, wa buthuunil-awdiyati wa manaabitisy-syajar.

    Artinya: “Ya Allah, hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya Allah, berilah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit dasar lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

    Doa tersebut bersandar pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia menceritakan, “Ada sekelompok orang datang kepada Rasulullah SAW dan meminta agar beliau berdoa supaya hujan berhenti.

    Rupanya hujan tersebut telah berlangsung selama satu minggu sehingga hewan ternak mereka terancam mati dan jalanan pun terputus. Rasulullah SAW lalu berdoa dengan doa ini dan hujan pun berhenti.” (HR Bukhari no. 1014).

    4. Doa Ketika Hujan Lebat

    اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالْآجَامِ وَالظُّرَابِ وَالْأَوْدِيَّةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ.

    Arab latin: Allaahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa. Allaahumma ‘alal aakaami wal jibaali wal aajaami wazh-zhiraabi wal audiyati wa manaabitisy-syajari.

    Artinya: Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai nikmat bagi kami, bukan sebagai siksa atas kami.Ya Allah, berikanlah hujan ke dataran tinggi, gunung, ngarai, anak bukit, lembah dan tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.(3)

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Sedekah Jumat, Ganjaran Pahala Berlipat Ganda



    Jakarta

    Amalan sedekah dianjurkan untuk diamalkan pada hari Jumat. Sebab, hari Jumat disebut dalam hadits sedekah Jumat sebagai momen pelipatgandaan pahala.

    Hadits tersebut bersumber dari Kitab Al Umm Juz 1 karangan Imam Syafi’i. Dalam kitab tersebut disebutkan hadits dari Abdillah bin Abi Aufa yang berbunyi sebagai berikut.

    بَلَغَنَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَإِنِّي أُبَلَّغُ وَأَسْمَعُ قَالَ وَيُضَعَّفُ فِيهِ الصَّدَقَةُ


    Artinya: Telah sampai kepadaku dari Abdillah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah membaca sholawat kepadaku di hari Jumat sesungguhnya sholawat itu tersampaikan dan aku dengar.” Rasulullah bersabda, “Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipatgandakan.”

    Dalam riwayat lain disebutkan keutamaan melakukan sedekah pada hari Jumat. Salah satunya, “Dan sedekah pada hari itu (Jumat) lebih mulia dibanding hari-hari selainnya.” (HR Ibnu Khuzaimah)

    Hadits lainnya menyebutkan, “Dan tidak ada matahari yang terbit dan terbenam pada suatu hari yang lebih utama dibanding hari Jumat. Bersedekah pada hari Jumat lebih besar pahalanya daripada semua hari lainnya.” (HR Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf)

    Hari Jumat merupakan hari yang istimewa dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam Islam. Hal ini terbukti dari banyak hadits yang menganjurkan amalan di hari Jumat termasuk sedekah.

    Bersedekah pada Jumat di pagi hari dan hari-hari lainnya, maka akan mendapatkan doa dari para malaikat. Dari Abu Hurairah RA, berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,

    مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

    Artinya: Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua Malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak.” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Sedekah berasal dari bahasa Arab shadaqah yang diambil dari kata sidq (sidiq) dengan makna kebenaran. Menurut peraturan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) No 2 tahun 2016, sedekah adalah harta atau nonharta yang dikeluarkan seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum.

    Adapun keutamaan sedekah sudah banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an dan sabda Rasulullah SAW, salah satunya dalam surah Al Hadid ayat 18. Allah SWT menjanjikan pelipatgandaan balasan bagi mereka yang bersedekah.

    اِنَّ الْمُصَّدِّقِيْنَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَاَقْرَضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ اَجْرٌ كَرِيْمٌ

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.”

    Dalam surat Al Baqarah ayat 254 disebutkan bahwa sedekah termasuk bagian dari ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خُلَّةٌ وَّلَا شَفَا عَةٌ ۗ وَا لْكٰفِرُوْنَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim.”

    Disebutkan pula dalam sebuah riwayat hadits Bukhari, salah satu keutamaan sedekah adalah dapat menjaga dari siksa api neraka. Berikut bunyi haditsnya,

    عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا النَّارَ ثُمَّ أَعْرَضَ وَأَشَاحَ ثُمَّ قَالَ اتَّقُوا النَّارَ ثُمَّ أَعْرَضَ وَأَشَاحَ ثَلَاثًا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا ثُمَّ قَالَ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

    Artinya: “Dari Adi bin Hatim mengatakan, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jagalah diri kalian dari api neraka sekalipun hanya dengan sebiji kurma.” Kemudian beliau berpaling dan menyingkir, kemudian beliau bersabda lagi: “Jagalah diri kalian dari neraka”, kemudian beliau berpaling dan menyingkir (tiga kali) hingga kami beranggapan bahwa beliau melihat neraka itu sendiri, selanjutnya beliau bersabda: “Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya dengan sebiji kurma, kalaulah tidak bisa, lakukanlah dengan ucapan yang baik.”

    Mengutip buku Amalan-amalan Saleh yang Paling Dicintai Allah karangan Abdillah F. Hasan, sedekah juga dapat diberikan kepada orang miskin atau kerabat. Meski demikian, Rasulullah SAW dalam haditsnya mengatakan, derajat bersedekah untuk kerabat lebih utama (HR An-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

    (rah/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Hadits tentang Sabar, Sikap Mulia yang Harus Dimiliki Muslim


    Jakarta

    Sabar merupakan sifat yang mulia. Sebagai sikap terpuji, sabar dapat meningkatkan derajat manusia sebagai khalifah Allah SWT di muka Bumi.

    Saking mulianya sabar, sifat tersebut bahkan mengandung banyak keutamaan. Dijelaskan oleh Ulya Ali Ubaid melalui buku Sabar dan Syukur, Allah SWT mensifatkan orang-orang yang sabar dengan sejumlah sifat dan menyebutkan kata sabar sebanyak 70 kali di dalam Al-Qur’an.

    Allah SWT bahkan mencintai setiap hamba-Nya yang ingin bersabar, seperti dikatakan dalam surat Ali Imran ayat 146,


    وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

    Artinya: “Allah mencintai orang-orang yang sabar,”

    Selain itu, sabar bahkan dijadikan sebagai penolong orang-orang beriman. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 153,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,”

    Kumpulan Hadits tentang Sabar

    Berikut sejumlah hadits Rasulullah SAW mengenai sabar yang dikutip dari buku Panduan Ilmu dan Hikmah Jami’ui-Uium wal Hikam oleh Ibnu Rajab.

    1. Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Musibah

    وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: مَا تَجَّرَعَ عَبْدٌ جُرْعَةً أَفْضَلُ عِنْدَ اللهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى.

    Artinya: Nabi SAW. bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang meneguk satu tegukan (menerima musibah) yang lebih utama di sisi Allah dari pada satu tegukan yang berat yang ditahan untuk mencari ridha Allah ta’ala.” (HR Ahmad dan At Thabrani)

    2. Orang Sabar Diganjar Pahala Berlimpah

    وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {الصَّبْرُ عِنْدَ الْمُصِيْبَةِ بِتِسْعِمِائَةِ دَرَجَةٍ}

    Artinya: Nabi SAW bersabda, “Sabar ketika musibah (diganjar) dengan sembilan ratus derajat.” (HR An Nawawi)

    3. Mendapat Cinta Allah SWT

    إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

    Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian, dan bahwa Allah, apabila menyayangi atau mencintai suatu kaum, maka Allah akan mengujinya, dan bagi siapa saja ridha, maka baginya keridhaan dari Allah, dan barangsiapa yang membenci, maka baginya kebenciaan dari Allah SWT.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    4. Penanda Orang Kuat

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قال: “لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW. yang telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    5. Sabar Awal dari Sikap Pemaaf

    كان أحسن الناس خلقا، لم يكن فاحشا ولا متفحشا، ولا سخابا في الأسواق، ولا يجزي بالسيئة السيئة، ولكن يعفو ويصفح

    Artinya: “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan.” (HR Ibnu Hibban)

    6. Orang Sabar Disukai Allah SWT

    وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {لَوْ كَانَ الصَّبْرُ رَجُلاً لَكَانَ رَجُلاً كَرِيْمًا}.

    Artinya: “Jika sabar itu seorang laki-laki, niscaya ia adalah orang yang pemurah dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (HR At Thabrani)

    7. Sabar sebagai Anugerah

    وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

    Artinya: “Barang siapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari No 1469)

    8. Sabar sebagai Penggugur Dosa

    ما من مسلم يصيبه أذى من مرض فما سواه إلا پو , گماط الشكر رها (رواه بخاری ومسلم)

    Artinya: “Seorang muslim yang tertimpa suatu gangguan berupa penyakit atau yang lainnya pasti Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Orang yang Berpuasa Dilarang Pakai Celak Mata, Benarkah?



    Jakarta

    Memakai celak mata merupakan sunnah Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam sejumlah riwayat. Namun, ada sebuah hadits yang menyebut, orang yang berpuasa dilarang memakai celak mata. Benarkah?

    Hadits larangan memakai celak mata bagi orang yang berpuasa ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al-Baihaqi dengan sanad dari Abdurrahman bin an-Nu’man bin Ma’bad bin Hudzah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi SAW. Dikatakan, Nabi SAW memerintahkan untuk mengenakan celak mata ketika hendak tidur, lalu berkata,

    “Hendaklah dijauhi oleh orang yang sedang berpuasa (menggunakan) celak mata.” (HR Abu Daud)


    Adapun, Al-Baihaqi meriwayatkan dengan redaksi berikut,

    “Janganlah engkau memakai celak mata pada siang hari, sedangkan engkau tengah berpuasa. Pakailah celak mata pada malam hari karena yang demikian menguatkan pandangan dan menumbuhkan rambut.”

    Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Syaikh Al-Albani) dalam Silsilah Ahadits adh Dhaifah wal Maudhu’ah wa Atsaruhas Sayyi’ fil Ummah mengatakan bahwa hadits larangan memakai celak bagi orang yang berpuasa tersebut mungkar dan memiliki kelemahan.

    Menurut Syaikh Al-Albani, kelemahannya terletak pada Abdurrahman bin an-Nu’man. Al-Mundziri dalam Mukhtashar as-Sunan mengatakan bahwa riwayat tersebut dhaif karena keberadaan Abdurrahman bin an-Nu’man. Hal serupa dikatakan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Taqrib.

    Hal yang membuat riwayat tersebut lemah juga dikarenakan ke-majhul-an ayah Abdurrahman bin an-Nu’man yakni an-Nu’man bin Ma’bad. Ibnu Taimiyah dalam ash-Shiyam mengatakan bahwa an-Nu’man bin Ma’bad adalah orang asing atau tidak dikenal. Hal ini turut dikatakan al-Hafizh Ibnu Hajar, “Orang ini asing, tidak dikenal (misterius).”

    Al-Baihaqi turut menyebutkan kelemahan riwayatnya dengan ucapan, “Ada riwayat yang melarang menggunakan celak mata pada siang hari bagi orang yang tengah berpuasa dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam at-Tarikh.” Sedangkan, Abu Daud mengatakan setelahnya, “Yahya bin Mu’in telah mengatakan kepada saya bahwa riwayat ini mungkar.”

    Memakai celak mata tidak membatalkan puasa, menurut pendapat mayoritas ulama sebagaimana dikatakan ‘Aidh Al-Qarni dalam Durus al-Masjid fi Ramadhan. Para ulama berhujjah dengan hadits riwayat Ibnu Majah dari Aisyah RA yang mengatakan, “Rasulullah SAW pernah memakai celak pada bulan Ramadan, padahal beliau sedang berpuasa.”

    Ibnu Umar RA juga pernah berkata, “Rasulullah SAW pernah keluar menemui kami. Saat itu, kedua mata beliau dipenuhi dengan celak mata, padahal saat itu bulan Ramadan dan beliau sedang berpuasa.”

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Menuntut Ilmu, Amalkan sebelum Belajar


    Jakarta

    Umat Islam dianjurkan untuk berdoa dalam mengerjakan segala sesuatu, termasuk ketika menuntut ilmu. Dengan membaca doa, niscaya ilmu yang didapat akan bermanfaat dan berkah.

    Menurut buku Agar Menuntut Ilmu Jadi Mudah susunan Abdul Hamid M Djamil Lc, ilmu berasal dari bahasa Arab, العِلْـمُ yang artinya mengetahui. Kata العِلْـمُ merupakan masdar dari kata عَلِمَ – يَعْلَمُ . Orang yang berilmu disebut alimun (mengetahui).

    Anjuran menuntut ilmu sendiri tercantum dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,


    “Mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim, dan siapa yang menanamkan ilmu kepada yang tidak kayak seperti meletakkan kalung permata, mutiara, dan emas di sekitar leher hewan.” (HR Ibnu Majah)

    Berkaitan dengan itu, ada sejumlah doa menuntut ilmu yang bisa dipanjatkan oleh kaum muslimin. Berikut bacaannya.

    1. Doa Memohon Ilmu yang Bermanfaat

    Mengutip dari buku Amalan Mujarab Pencerdas Otak karya Ipnu Rinto Nugroho, berikut bacaan doa memohon ilmu yang bermanfaat.

    اَللّٰهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

    Arab latin: Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a wa rizqon thoyyibaa wa ‘amalan mutaqobbalaa

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu As-Sunni)

    2. Doa agar Ditambahkan Ilmu dan Diberikan Pemahaman Luas

    Selain doa menuntut ilmu di atas, ada juga bacaan lainnya yang bisa dipanjatkan seperti dinukil dari buku Cerita dan 50 Doa Sehari-hari Anak Muslim oleh Endang Firdaus dkk.

    رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا

    Arab latin: Robbi zidnii ‘ilmaa, warzuqnii fahmaan

    Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu bagi kami dan berilah keluasan pemahaman.”

    3. Doa Memohon Ilmu, Rezeki, dan Pemahaman

    Kemudian, ada doa lainnya yang bisa dibaca ketika akan menuntut ilmu. Berikut bacaannya yang dikutip dari buku Adab dan Doa Sehari-hari untuk Muslim Sejati karangan Thoriq Aziz Jayana.

    رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا

    Arab latin: Rodlitu billahi robba, wabi islaamidina, wabimuhammadin nabiyya warasulla Robbi zidni ilman nafi’a warzuqni fahma

    Artinya: “Aku ridha Allah SWT menjadi Tuhanku, dan Islam menjadi agamaku, dan Muhammad SAW sebagai Nabiku. Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu, rezeki dan pemahaman.”

    4. Doa agar Diberi Kecerdasan

    Merujuk pada buku yang sama, berikut doa yang dipanjatkan untuk meminta kecerdasan.

    اللَّهُمَّ أَلْهِمْني رُشْدِي ، وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي

    Arab latin: Allaahumma alhimnii rusydii wa a’idznii min syarri nafsii

    Artinya: “Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku kecerdasan dan lindungilah aku dari kejahatan.”

    5. Doa Memohon agar Diperkaya Ilmu

    Selanjutnya, doa ini dipanjatkan untuk memohon agar diperkaya ilmu oleh Allah SWT. Berikut bacaannya seperti tersemat dalam buku Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah Kelas VII tulisan Harjan Syuhada dan Fida’ Abdillah.

    اللَّهُمَّ أَغْنِنَا بِالْعِلْمِ وَزَيِّنَّا بِالْحِلْمِ وَأَكْرِمْنَا بِالتَّقْوٰى وَجَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ

    Arab latin: Allahumma aghnina bil ilmi wazayyinna bil hilmi wa akrimnaa bittaqwa wajammilnaa bil’aafiyah.

    Artinya: “Ya Allah, kayakanlah diri kami dengan ilmu, hiasilah kami dengan kesabaran, muliakan kami dengan takwa, dan baguskanlah kami dengan kesehatan.”

    Itulah sejumlah doa yang bisa dipanjatkan untuk menuntut ilmu. Jangan lupa dibaca, ya!

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com