Tag: hadits

  • Tahun Baru Islam 2023, Ini Dalilnya dari Al-Qur’an dan Hadits


    Jakarta

    Tahun Baru Islam 2023 bertepatan dengan 1 Muharram 1445 H. Ada beragam keterangan dalil mengenai Tahun Baru Islam ini yang termuat dalam ayat Al-Qur’an maupun hadits.

    Tahun Hijriah yang terdiri dari dua belas bulan dijelaskan dalam surah At Taubah ayat 36. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ


    Arab Latin: “Inna ‘iddatasy-syuhūri ‘indallāhiṡnā ‘asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-arḍa minhā arba’atun ḥurum(un), żālikad-dīnul-qayyim(u), falā taẓlimū fīhinna anfusakum wa qātilul-musyrikīna kāffatan kamā yuqātilūnakum kāffah(tan), wa’lamū annallāha ma’al-muttaqīn(a).”

    Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhul Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

    Ayat di atas juga menjelaskan tentang empat bulan haram dalam dua belas bulan-bulan Hijriah. Deretan empat bulan haram tersebut disebutkan Rasulullah SAW dalam haditsnya. Dari Abu Barkah RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa empat bulan haram adalah Muharram, Dzulqa’idah, Dzulhijjah, dan Rajab.

    الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

    Artinya: “Zaman berputar seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhr, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut Kitab Zaadul Maysir oleh Al Qodhi Abu Ya’la, bulan haram adalah bulan yang suci sehingga ada pengharaman pembunuhan pada keempat bulan haram. Bulan haram juga merujuk pada larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan lainnya, begitupun sebaliknya.

    “Pada bulan Haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya,” kata Sufyan Ats Tsauri dalam Kitab Latho-if Al Ma’arif yang diterjemahkan Tim PISS-KTB dalam buku Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam.

    Ibnu Abbas RA menambahkan, empat bulan tersebut dikhususkan karena dianggap sebagai bulan suci. Dengan kata lain, melakukan perbuatan maksiat pada bulan tersebut dianggap dosa besar dan amalan sholeh yang dilakukan menuai pahala besar.

    Abu Hurairah RA juga pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah memberi penjelasan tentang keutamaan puasa di bulan Muharram yang berada satu tingkat di bawah puasa Ramadan. Ketika seseorang bertanya kepada nabi, “Setelah Ramadan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal?” Rasulullah menjawab, “Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram.” (HR Ibnu Majah)

    Berdasarkan anjuran tersebut, terdapat beberapa pilihan puasa sunnah yang dapat dilakukan pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Pilihan pertama adalah puasa pada tanggal 10 Muharram yang disertai dengan puasa sehari sebelum dan sesudahnya, yaitu pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

    Pilihan kedua adalah puasa dua hari, yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Sedangkan pilihan ketiga adalah puasa pada hari ke-10 saja di bulan Muharram. Puasa pada tanggal 9 Muharram dikenal dengan sebutan puasa Tasu’a, sedangkan puasa pada tanggal 10 Muharram dikenal dengan sebutan puasa Asyura.

    Puasa Asyura juga memiliki beberapa keutamaan, salah satunya adalah menghapus dosa-dosa di masa lalu. Dalam sebuah riwayat, Qotadah RA berkata bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa pada hari Arafah, dan beliau menjawab bahwa puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa-dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang. Kemudian beliau ditanya tentang puasa Asyura, dan beliau menjawab bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa yang lalu (HR Al-Jama’ah, kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi).

    Sejarah Tahun Baru Islam

    Tahun Baru Islam mengacu pada sistem penanggalan kalender Hijriah. Melalui kalender tersebut, awal tahun dimulai dari 1 Muharam yang sudah menginjak tahun ke-1445 Hijriah.

    Kalender Hijriah adalah sistem penanggalan Islam berdasarkan peredaran bulan. Sistem penanggalan kalender Hijriah dengan rotasi bulan ini dijelaskan pula dalam surah Yunus ayat 5,

    هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَآءً وَّا لْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَا زِل لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَا لْحِسَا بَ ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِا لْحَـقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

    Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”

    Dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), penanggalan Islam menggunakan kalender Hijriah pertama kali dimulai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Saat itu, kalender Hijriah juga berfungsi sebagai produk politik Umar dalam mendukung kelancaran sistem negara.

    Setelah menetapkan kalender Hijriah sebagai penunjuk waktu, penentuannya diiringi dengan ketetapan awal waktu tahun Hijriah atau yang kemudian dikenal dengan 1 Muharram 1 Hijriah. Ada empat opsi yang diusulkan kepada Umar yakni, tahun Gajah saat Rasulullah lahir, tahun wafatnya Rasulullah, tahun Rasulullah diangkat menjadi rasul, dan juga tahun hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi.

    Pada akhirnya, tahun hijrahnya Rasulullah SAW terpilih menjadi 1 Muharram dalam kalender Hijriah karena dianggap menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam setelah berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Hingga sampai saat ini, hari hijrah itu pun diperingati sebagai atau Tahun Baru Islam.

    Sekian adalah sekilas pembahasan mengenai tentang Tahun Baru Islam 2023 dan dalilnya. Semoga bermanfaat ya detiker!

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Tasua, Asyura, dan Ayyamul Bidh


    Jakarta

    Puasa di bulan Muharram yang dapat diamalkan adalah puasa Tasua, Asyura, dan Ayyamul Bidh. Sebelum membatalkan puasa sunnah tersebut pada waktunya, muslim dianjurkan memanjatkan doa buka puasa Muharram tersebut.

    Membaca doa buka puasa juga merupakan salah satu adab sunnah dalam berpuasa. Hal ini dijelaskan oleh Said Hawwa dalam buku Al-Islam.

    “Amalan sunnah yang bisa dilakukan yaitu membaca doa ketika hendak berbuka puasa. Ini karena doanya seorang yang berpuasa sangat mustajab,” bunyi keterangan buku tersebut.


    Rasulullah SAW dalam haditsnya memberi pedoman waktu untuk berbuka puasa dapat disesuaikan pada masing-masing wilayah. Beliau menyebutkan, waktu berbuka puasa pada saat memasuki waktu Magrib atau saat awal tenggelamnya matahari.

    إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا ، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا ، وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ ، فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

    Artinya: “Jika malam telah datang dari sini dan siang telah tertutup dari sini, serta matahari terbenam, itulah waktu berbuka bagi yang berpuasa.” (HR Bukhari)

    Sementara waktu yang tepat membaca doa buka puasa masih terdapat perbedaan pendapat menurut Maryam Kinanti N dalam buku Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, dan Thibbun Nabawi.

    Pendapat pertama menyatakan, doa buka puasa dibaca setelah seseorang berbuka. Dengan kata lain, doa buka puasa dibaca setelah membatalkan puasa dengan air, kurma, atau semacamnya pertama kali.

    Sementara, pendapat lain mengatakan bahwa doa buka puasa diucapkan sebelum berbuka puasa dan sebagian yang lain tidak menetapkan waktu membacanya.

    2 Versi Doa Buka Puasa Muharram

    1. Doa Buka Puasa Muharram Versi Pertama

    ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

    Bacaan latin: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah

    Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah dan atas kehendak Allah pahala telah ditetapkan. Insya Allah.” (HR Abu Daud)

    2. Doa Buka Puasa Muharram Versi Kedua

    اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Bacaan latin: Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina.

    Artinya: “Ya Allah karenaMu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dikutip dari Fiqih Sunnah 2 karya Sayyid Sabiq, menyegerakan berbuka pada saat puasa hukumnya sunnah. Keterangan ini bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad. Rasulullah SAW bersabda,

    لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرِ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.

    Artinya: “Manusia selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari).

    Dalam riwayat lain, anjuran menyegerakan berbuka juga dijadikan sebagai pembeda muslim dengan kaum Yahudi yang kerap menunda-nunda. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Agama ini akan senantiasa berjaya selama orang-orang menyegerakan berbuka karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.” (HR Baihaqi)

    3 Puasa di Bulan Muharram

    Puasa di bulan Muharram dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW bahwa memiliki keutamaan yang disebut dalam hadits berada di posisi kedua setelah puasa di bulan Ramadan. Keutamaan puasa di bulan Muharram tersebut dijelaskan oleh salah satu hadits bersanad shahih.

    Berikut bunyi haditsnya,

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أفضل الصيام بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ “.

    Artinya: Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam.” (HR Muslim)

    Dikutip dari Buku Pintar Agama Islam oleh Abu Aunillah Al-Baijury, puasa sunnah yang dapat diamalkan di bulan Muharram adalah puasa Tasua, puasa Asyura, dan puasa Ayyamul Bidh. Jadwal puasa tersebut disesuaikan dengan konversi penanggalan Hijriah ke Masehi.

    Berikut jadwal lengkap jadwal puasa di bulan Muharram bila 19 Juli 2023 bertepatan dengan 1 Muharram 1445 H.

    • Puasa Tasua (9 Muharram): 27 Juli 2023
    • Puasa Asyura (10 Muharram): 28 Juli 2023
    • Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, dan 15 Muharram): 31 Juli dan 1-2 Agustus 2023

    Salah satu keutamaan dari ketiga puasa di atas pernah disebut dalam hadits Rasulullah SAW. Salah satunya, puasa Asyura yang dikatakan dapat menghapus dosa setahun yang lalu.

    وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

    Artinya: “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ‘Asyura? Beliau menjawab, “Puasa ‘Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

    (rah/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits Keutamaan Hari Jumat, Waktu Pelipatgandaan Pahala Sedekah


    Jakarta

    Jumat kerap disebut sebagai hari istimewa bagi kaum muslimin. Meski semua hari dianggap baik dalam Islam, namun Jumat menjadi yang paling mulia.

    Menurut buku Rahasia & Keutamaan Hari Jumat oleh Komaruddin Ibnu Mikam, Jumat dikatakan sebagai hari rayanya umat Islam. Dahulu, orang-orang diperintahkan untuk mengadakan perkumpulan pada tiap pekan, kaum Yahudi hari Sabtu, Nasrani hari Minggu dan Islam hari Jumat.

    Hari Jumat juga identik dengan pria muslim yang melaksanakan ibadah salat Jumat. Perintah salat Jumat tercantum dalam surah Al Jumu’ah ayat 9.


    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,”

    Selain itu, dalam sejumlah hadits juga disebutkan terkait keutamaan hari Jumat. Apa saja? Berikut bahasannya yang dinukil dari buku Panduan Amalan Hari Jumat karya Mahmud Ahmad Mustafa.

    5 Hadits tentang Keutamaan Hari Jumat

    1. Waktu Mustajab untuk Berdoa

    Keutamaan hari Jumat yang pertama yaitu tergolong sebagai waktu mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya pada hari Jumat itu terdapat saat yang tidak mendapatkannya seorang hamba muslim, sedang ia berdiri salat meminta suatu kebaikan kepada Allah, kecuali Allah akan memberi apa yang dimintanya,” (HR Malik, Ahmad, Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah)

    2. Dibebaskan dari Siksa Neraka

    Pada hari Jumat, sebanyak 600.000 orang akan dibebaskan dari siksa neraka. Keutamaan ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Anas RA.

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala pada setiap hari Jumat punya enam ratus ribu orang yang dibebaskan dari neraka. Mereka semua adalah orang yang telah ditetapkan masuk neraka,” (HR Abu Ya’la)

    3. Hari Pengampunan Dosa

    Seseorang akan dijanjikan ampunan dosa di antara dua Jumat jika membaca surah Al Kahfi, Dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, akan dibentangkan baginya cahaya mulai dari bawah telapak kakinya sampai ke langit. Cahaya itu akan memancarkan sinar baginya pada hari kiamat. Dan ia akan mendapatkan ampunan dari Allah di antara dua Jumat,” (HR Abu Bakr bin Mardawaih)

    4. Wafat Hari Jumat Disebut Khusnul Khatimah

    Muslim yang meninggal pada hari Jumat maka wafatnya tergolong khusnul khatimah dan dibebaskan dari siksa kubur. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidak ada seorang muslim pun (laki-laki atau perempuan, anak kecil atau pun dewasa) meninggal dunia pada hari Jumat atau pada malam Jumat. Melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur,” (HR Ahmad)

    5. Dilipatgandakan Pahala Sedekahnya

    Jumat adalah momen yang tepat untuk bersedekah. Rasulullah SAW bahkan dalam haditsnya mengatakan sedekah di hari Jumat akan mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda.

    Hadits tersebut bersumber dari Kitab Al Umm Juz 1 karangan Imam Syafi’i. Dalam kitab tersebut disebutkan hadits dari Abdillah bin Abi Aufa yang berbunyi sebagai berikut.

    بَلَغَنَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَإِنِّي أُبَلَّغُ وَأَسْمَعُ قَالَ وَيُضَعَّفُ فِيهِ الصَّدَقَةُ

    Artinya: Telah sampai kepadaku dari Abdillah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah membaca sholawat kepadaku di hari Jumat sesungguhnya sholawat itu tersampaikan dan aku dengar.” Rasulullah bersabda, “Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipatgandakan.”

    Dalam riwayat lain disebutkan keutamaan melakukan sedekah pada hari Jumat. Salah satunya, “Dan sedekah pada hari itu (Jumat) lebih mulia dibanding hari-hari selainnya.” (HR Ibnu Khuzaimah)

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa sebelum Adzan dan Artinya, Bolehkah Diamalkan?


    Jakarta

    Sebagian umat Islam mungkin masih ada yang bingung dengan dasar hukum pengamalan membaca doa sebelum adzan. Apakah sah-sah saja dilakukan oleh seorang muazin?

    Dikutip dari buku Terbakar Kumandang Azan tulisan Tusni A. Ghazali, terdapat sebuah hadits dalam Kitab Sunan Abu Dawud yang bercerita tentang Ummu Zaid bin Tsabit, seorang wanita suku Bani Najjar.

    Ia memiliki rumah tertinggi di sekitar Masjid Nabawi di Madinah. Setiap pagi menjelang subuh, Bilal RA, muazin Rasulullah SAW, naik ke rumahnya dan menunggu terbitnya fajar.


    Setelah melihat fajar terbit, Bilal RA membaca doa, “Ya Allah, saya memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu agar orang-orang Quraisy dapat menegakkan agama-Mu.” Doa ini selalu dibaca oleh Bilal sebelum mengumandangkan azan subuh, dan dia tidak pernah meninggalkannya.

    Imam Abu Dawud menyatakan bahwa hadits ini shahih, dan menurut ulama hadis, kisah ini dapat menjadi dalil kebolehan melafalkan doa sebelum adzan.

    Sebab, jika membaca doa seperti yang dilakukan oleh Bilal RA dianggap salah atau bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW, tentu Beliau akan menegur Bilal RA. Namun, dalam kisah ini, Rasulullah SAW tidak mengingkari atau menyalahkan Bilal RA.

    Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Bilal RA dibolehkan oleh Rasulullah SAW. Adapun bacaan doa yang dapat diamalkan sebelum adzan dikutip dari buku Panduan Praktik Ibadah tulisan Yudi Irfan Daniel dan Shabri Shaleh Anwar adalah sebagai berikut.

    Doa sebelum Adzan dalam Arab, Latin, dan Artinya

    سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلهَ إلا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللهُ يَا كَرِيم.

    Arab Latin: “Subhanallah walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin. Allahumma ya Karim.”

    Artinya: “Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga junjungan kami, Nabi Muhammad. Ya Allah, wahai Yang Maha Mulia.”

    Ibnu Hajar Al Haitsami dalam Kitab Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubro menambahkan, tidak ada anjuran langsung dari Rasulullah SAW untuk bersholawat sebelum adzan. Tidak pula para tokoh menyebutkan hal itu sebagai sesuatu yang disunnahkan secara khusus.

    Sebaliknya yang lebih diutamakan pengamalannya adalah membaca doa setelah adzan. Bahkan waktu antara adzan dan iqamah dianggap sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk seorang muslim memanjatkan doa.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Memohon Hujan Berhenti: Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Ada bacaan doa yang bisa dipanjatkan agar hujan berhenti atau reda. Hujan sendiri tergolong sebagai rahmat yang Allah SWT berikan.

    Namun, hujan yang turun dengan deras dan terus-menerus tak jarang membuat orang khawatir. Sebab, hujan juga bisa jadi pemicu musibah seperti banjir, terlebih juga disertai oleh angin kencang.

    Terkait hujan, Allah SWT menyebutkan dalam surat An Nahl ayat 10.


    هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ۖ لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

    Artinya: “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu,”

    Selain itu, dalam surat Az Zukhruf ayat 11 Allah SWT menyebut hujan dapat menghidupkan negeri yang mati. Berikut bunyinya,

    وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

    Artinya: “Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur),”

    Doa Hujan Berhenti: Arab, Latin dan Artinya

    Berikut merupakan bacaan doa yang bisa dipanjatkan agar hujan berhenti seperti dinukil dari Kitab Al-Adzkar susunan Imam Nawawi.

    اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابَةِ الشَّجَرِ

    Arab latin: Allaahumma hawaalainaa wala ‘alainaa, Alaahumma ‘alal aakaa- mi wadzhdzhiraabi wa buthuunil awdiyati wa manaabatisy syajari

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, bukan hujan di sekitar kami. Ya Allah turunkanlah hujan di atas tanah yang gersang, lahan tandus, dasar lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan,” (HR Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik)

    Doa agar Hujan yang Diturunkan Bermanfaat

    Adapun, doa yang bisa dibaca agar hujan yang turun jadi bermanfaat dijelaskan dalam satu riwayat Aisyah RA. Menukil dari Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq, ia pernah mendengar Nabi SAW membaca doa berikut:

    اللَّهُمَّصَيِّباًنَافِعاً

    Arab latin: Allahumma shoyyiban nafi’an

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat,”

    Doa saat Hujan Disertai Angin Kencang

    Merujuk pada sumber yang sama, Imam Muslim dalam sebuah hadits meriwayatkan Rasulullah SAW membaca doa ini saat hujan disertai angin kencang.

    اَللهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَمَا اُرْسِلَتْ بِهِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّمَا اُرْسِلَتْ بِهِ

    Arab latin: Allaahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih. Wa-a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih

    Artinya: “Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya,”

    Demikian bacaan doa memohon hujan berhenti. Jangan lupa dipanjatkan ya!

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Dalil Puasa Tasua dan Asyura yang Dikerjakan 9-10 Muharram


    Jakarta

    Dalil puasa Tasua dan Asyura bersandar pada sejumlah hadits shahih. Puasa tersebut dikerjakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

    Muharram adalah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam surah At Taubah ayat 36,

    اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ


    Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

    Para ahli tafsir mengatakan, empat bulan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, dan Rajab. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ. ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

    Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (bulan mulia). Tiga berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan al-Muharram, lalu Rajab (yang selalu diagungkan) Bani Mudhar, yaitu antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Selain menjadi bulan yang disucikan, Muharram juga termasuk bulan yang utama untuk melakukan puasa setelah puasa Ramadan. Hal ini bersandar pada hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    أَفْضَلُ الصَّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَريضَةِ صَلَاةُ اللَّيْل

    Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam.” (HR Muslim dalam Shahih-nya bab Fadhlu Shaum Al-Muharram)

    Hadits tersebut menegaskan bahwa Muharram adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa, seperti dikatakan Imam an-Nawawi sebagaimana dinukil Muhammad bin Azzuz dalam Arba’una Haditsan fi At-Tahajjudi wa Qiyam Al-Lail.

    Di antara puasa sunnah yang bisa dikerjakan pada bulan Muharram adalah puasa Tasua dan Asyura. Puasa Tasua dikerjakan pada tanggal 9 dan puasa Asyura dikerjakan pada tanggal 10. Berikut dalil puasa Tasua dan Asyura dalam hadits.

    Dalil Puasa Tasua dan Asyura

    1. Dalil Puasa Tasua dalam Kitab Riyadhus Shalihin

    Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    ولَئِن بَقيتُ إِلَى قَابِل لَأَصُومَنُ التَّاسِعَ

    Artinya: “Seandainya aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada tanggal sembilan Muharram.” (HR Muslim)

    Imam an-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin mengatakan, anjuran puasa Tasua pada 9 Muharram dilakukan untuk membedakan puasanya orang Yahudi yang hanya mengkhususkan puasa tanggal 10 Muharram. Sehingga, puasanya umat Islam dikerjakan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

    2. Dalil Puasa Asyura dalam Hadits Muttafaq Alaih

    وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

    Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh untuk berpuasa pada hari itu.” (Muttafaq ‘alaih)

    3. Dalil Puasa Asyura dalam Kitab Sunan At-Tirmidzi

    حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِي، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُوْمُهُ فَرَيْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُوْمُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا افْرِضَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ هُوَ الْفَرِيضَةُ، وتَرَكَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. وَفِي الْبَابِ عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، وَقَيْسِ بْنِ سَعْدِ، وَجَابِرِ بْنِ سمُرَةَ، وَابْنِ عُمَرَ، وَمُعَاوِيَةَ. وَالْعَمَلُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى حَدِيْثِ عَائِشَةَ، وَهُوَ حَدِيثُ صَحِيحٌ؛ لَا يَرَوْنَ صِيَامَ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ وَاجِبًا، إِلَّا مَنْ رَغِبَ فِي صِيَامِهِ لِمَا ذُكِرَ فِيهِ مِنَ الْفَضْلِ.

    Artinya: “Dari Harun bin Ishaq al-Hamdani, dari Abdah bin Sulaiman, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata, ‘Pada awalnya, Asyura adalah hari yang di dalamnya orang-orang Quraisy berpuasa pada masa jahiliyah. Ketika itu, Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari Asyura. Kemudian beliau datang ke Madinah, beliau juga berpuasa pada hari Asyura tersebut dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa di dalamnya. Lalu ketika puasa Ramadan diwajibkan, maka puasa Ramadanlah yang menjadi fardhu, dan beliau meninggalkan kewajiban puasa Asyura. Maka barang siapa mau berpuasa pada hari itu, ia boleh berpuasa. Dan barang siapa tidak ingin melakukannya, maka ia boleh untuk tidak berpuasa.” (Shahih Abu Dawud, No 2110: Muttafaq ‘alaih)

    4. Dalil Puasa Asyura dalam Kitab Shahih Muslim

    وَعَنْ أَبِي فَنَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ سُئل عن صيَامِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السنة الماضية

    Artinya: “Dari Abu Qatadah RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa tersebut dapat melebur dosa setahun yang lalu’.” (HR Muslim dalam Kitab Puasa bab Anjuran Puasa Asyura Tiga Hari)

    5. Dalil Puasa Asyura dari Hadits Hafshah

    Dari Hafshah binti Umar bin Khattab RA, ia berkata,

    “Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, yaitu puasa Asyura, puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulan, dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR Ahmad dan An Nasa’i)

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Puasa Asyura Menghapus Dosa Setahun Lalu, Ini Haditsnya


    Jakarta

    Dalam sebuah hadits, dikatakan bahwa puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun lalu dan satu tahun yang akan datang. Sebagaimana yang kita ketahui, puasa Asyura termasuk ke dalam amalan sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW di bulan Muharram.

    Pelaksanaannya sendiri berlangsung pada tanggal 10 Muharram. Umumnya, puasa Asyura dilakukan secara berurutan dengan puasa Tasua pada 9 Muharram.

    Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang berbunyi,


    “Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tanggal 9 dan 10,” (HR al-Khallal dengan sanad yang bagus dan dipakai hujjah oleh Ahmad)

    Meski begitu, hanya melaksanakan puasa Asyura tanpa Tasua diperbolehkan. Menukil dari buku Fiqhul Islam wa Adillatuhu Juz 3 susunan Wahbah az-Zuhaili, bahkan puasa Asyura lebih dianjurkan.

    Adapun, mazhab Syafi’i berpandangan jika hanya melaksanakan puasa Asyura tanpa Tasua maka disunnahkan untuk puasa pada 11 Muharram. Terkait kesunnahan puasa 3 hari sekaligus dijelaskan oleh Imam Syafi’i melalui Kitab al-Umm dan al-Imlaa. Meski begitu, Imam Syafi’i juga menyebut tidak masalah jika hanya berpuasa Asyura saja.

    Hadits Puasa Asyura Dapat Menghapus Dosa Setahun Lalu

    Mengutip dari buku Pintar Wajib dan Sunnah susunan Nur Solikhin, terdapat sebuah hadits yang menjelaskan keutamaan puasa Asyura. Dari Abu Qotadah Al Anshori mengatakan,

    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu,” (HR Muslim)

    Bacaan Niat Puasa Asyura

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

    Arab latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adai sunnati Asyurai lillahi Ta’ala

    Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT,”

    Jadwal Puasa Asyura 2023

    Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, puasa Asyura jatuh setiap tanggal 10 Muharram. Tahun ini, maka puasa Asyura bertepatan pada hari Jumat, 28 Juli 2023.

    Pelaksanaan puasa Asyura ialah sehari sebelum puasa Tasua. Jadwal puasa Tasua tahun ini ialah 9 Muharram yang berarti 27 Juli 2023.

    Demikian hadits keutamaan puasa Asyura dan informasi terkaitnya. Semoga bermanfaat.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Malam 10 Muharram dan Amalan yang Bisa Dikerjakan


    Jakarta

    Doa malam 10 Muharram menjadi salah satu amalan yang bisa dikerjakan hari istimewa tersebut. Bahkan, dalam sebuah hadits Nabi SAW menyebut malam 10 Muharram sebagai salah satu waktu mustajab untuk memohon kepada Allah SWT.

    “Lima waktu yang doa tidak ditolak, yaitu pada malam Jumat, malam 10 Muharram, malam Nisfu Sya’ban, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha,” (HR Bukhari dan Muslim)

    Pada 10 Muharram, ada juga amalan puasa sunnah yaitu puasa Asyura. Tahun ini, puasa Asyura jatuh pada tanggal 28 Juli 2023.


    Dalil yang membahas tentang puasa Asyura terdapat pada hadits riwayat Muslim. Hadits tersebut menceritakan ketika Nabi SAW tiba di Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura.

    Rasulullah SAW bertanya, “Hari apa ini?”

    Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah,”

    Akhirnya, Nabi Muhammad bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa daripada kalian.” Kemudian, Rasulullah SAW berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa,” (HR Muslim)

    Sebab itu, Rasulullah SAW sempat menyuruh umat Islam untuk berpuasa Asyura dan hampir mewajibkannya. Namun lambat laun, keharusan puasa ini bergeser setelah syariat puasa Ramadan turun. Karenanya, hukum menjalankan puasa Asyura berubah menjadi sunnah.

    Doa Malam 10 Muharram

    Menukil dari buku Doa-doa dalam Acara Resmi, Keagamaan dan Kemasyarakatan tulisan Drs M Ali Chasan Umar, berikut doa yang bisa dipanjatkan pada malam 10 Muharram.

    Pertama-tama membaca doa ini sebanyak 70 kali,

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

    Arab latin: Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir

    Artinya: “Allah-lah yang mencukupi kami, Dia-lah sebaik-baik untuk berserah diri, sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong,”

    Lalu, lanjutkan dengan membaca doa berikut sebanyak 7 kali,

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ سُبْحَانَ اللهِ مِلْأَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ لَامَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا . نَسْتَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَجْمَعِيْنَ.

    Arab latin: Bismillaahir-rahmaanir-rahiim, subhaanallaahi mil’al-miizaani wa muntahal- ‘ilmi wa mablaghar-ridhaa wa zinatal-‘arsyi. laa malja’a wa laa manja minallaahi illaa ilaiih. subhaanallaahi ‘adadasy-syaf’i wal-watri wa ‘adada kalimaatillaahit-taammaati kullihaa. nas’alukas- salaamata birahmatika yaa arhamar raahimiin. wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil- azhiim. wa huwa hasbunaa wa nimal-wakiil nimal- maulaa wa ni’man-nashiir. wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shahbihii wa sallama ajma’iin

    Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maha Suci Allah sepenuh timbangann dan puncak sampainya ilmu dan keridhaan serta seberat timbangan ‘Arasy. Tidak ada tempat mengungsi dan keselamatan dari Allah melainkan hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan yang genap dan ganjil, dan seluruh bilangan kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Kami memohon kepada Engkau dengan mendapat rahmat-Mu wahai sebaik-baik Penyayang dari para penyayang. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur lagi Maha Agung. Dialah Allah yang mencukupi kami, sebaik-baik untuk berserah diri, sebaik-baik Pelindung dan Penolong. Rahmat dan keselamatan semoga tetap atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya semuanya,”

    Amalan pada 10 Muharram

    Selain puasa Asyura dan doa malam 10 Muharram, ada juga amalan lain yang bisa dikerjakan oleh kaum muslimin. Apa saja? Berikut bahasannya yang dinukil dari buku 12 Bulan Mulia: Amalan Sepanjang Tahun susunan Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny.

    1. Sedekah

    Sedekah pada hari Asyura atau 10 Muharram dianggap sebagai sedekah selama setahun. Ini sesuai dengan hadits dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash RA,

    “Barangsiapa berpuasa Asyura maka seakan-akan berpuasa setahun. Dan barang siapa bersedekah di dalamnya (di hari Asyura) maka dia seperti bersedekah selama setahun,”

    2. Taubat

    Kaum muslimin juga dianjurkan untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT pada 10 Muharram. Abu Ishaq berkata,

    “Sesungguhnya jika suatu kaum berbuat dosa lalu mereka bertaubat pada hari itu, maka taubat mereka diterima Allah SWT,”

    Demikian doa malam 10 Muharram dan amalan yang dapat dikerjakan pada hari tersebut. Semoga bermanfaat.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Hadits Palsu dan Lemah tentang Hari Asyura, Hati-hati ya!


    Jakarta

    Sejumlah hadits palsu tentang hari Asyura tak sedikit yang tersebar di masyarakat. Mulai dari pahala sedekah berlipat 700 kali hingga bercelak pada hari tersebut akan terhindar dari sakit mata.

    Hadits-hadits palsu tersebut, termasuk yang lemah, disebutkan Imam al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub. Hadits lain juga diulas dalam buku Problematika Autentisitas Hadits Nabi dari Klasik hingga Kontemporer karya Idri. Berikut di antaranya.

    1. “Barang siapa yang melapangkan kerabatnya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah SWT melapangkan semua tahunnya.” (HR Al Baihaqi. Al Mundziri turut mengeluarkan riwayat ini dalam kitabnya, At-Targhib wa At-Tarhib. Status dhaif atau lemah. Ada yang menyebut sangat lemah)


    2. “Sedekah satu dirham pada hari Asyura, sama dengan 700 dirham.” (HR At-Thabrani. Status munkar atau palsu)

    3. “Barang siapa yang bercelak pada hari itu, maka dia tidak sakit mata pada tahun itu.” (Status palsu. Al-Hakim menegaskan bahwa bercelak pada hari Asyura adalah bid’ah. Sedangkan Ibnu Qayyim mengatakan, hadits tentang bercelak, memasak biji-bijian dan minyak, menggunakan wangi-wangian pada hari Asyura adalah buatan para pembohong)

    4. “Barang siapa yang mandi pada hari itu, maka dia tidak sakit.” (Status palsu)

    5. “Sesungguhnya Allah memfardhukan kepada bani Israil berpuasa satu hari setahun, yakni pada hari Asyura… Barang siapa berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala seribu malaikat. Barang siapa berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala seribu orang haji dan umrah. Barang siapa berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala seribu orang mati syahid…” (Redaksi hadits ini sangat panjang. Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa hadits ini menurut orang berakal tidak diragukan kepalsuannya)

    Syarat Boleh Mengamalkan Hadits Dhaif

    Imam as-Suyuthi mengatakan dalam Tadrib ar-Rawy fi Syarh Taqrib an-Nawawi sebagaimana dinukil Al Mukaffi Abdurrahman dalam buku Koreksi Tuntas Buku 37 Masalah Populer, seseorang boleh mengamalkan hadits dhaif dengan syarat:

    1. Bukan masalah akidah, yakni tentang sifat Allah SWT, perkara yang boleh dan mustahil bagi Allah SWT, dan penjelasan firman Allah SWT.
    2. Bukan pada hukum halal dan haram. Kata Imam as-Suyuthi, boleh pada kisah-kisah, fadha’il (keutamaan) amal dan nasihat.
    3. Tidak terlalu dhaif. Dalam hal ini perawinya bukanlah pendusta, tertuduh sebagai pendusta, atau terlalu banyak kekeliruan dalam periwayatannya.
    4. Bernaung pada hadits shahih.
    5. Tidak diyakini sebagai ketetapan, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian saja.

    Hadits Shahih Hari Asyura

    Di samping itu, ada sejumlah hadits shahih tentang hari Asyura dengan derajat Muttafaq Alaih (disepakati keshahihannya). Berikut di antaranya.

    Pertama,

    وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

    Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh untuk berpuasa pada hari itu.” (Muttafaq ‘alaih)

    Kedua,

    حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِي، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُوْمُهُ فَرَيْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُوْمُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا افْرِضَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ هُوَ الْفَرِيضَةُ، وتَرَكَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. وَفِي الْبَابِ عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، وَقَيْسِ بْنِ سَعْدِ، وَجَابِرِ بْنِ سمُرَةَ، وَابْنِ عُمَرَ، وَمُعَاوِيَةَ. وَالْعَمَلُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى حَدِيْثِ عَائِشَةَ، وَهُوَ حَدِيثُ صَحِيحٌ؛ لَا يَرَوْنَ صِيَامَ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ وَاجِبًا، إِلَّا مَنْ رَغِبَ فِي صِيَامِهِ لِمَا ذُكِرَ فِيهِ مِنَ الْفَضْلِ.

    Artinya: “Dari Harun bin Ishaq al-Hamdani, dari Abdah bin Sulaiman, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata, ‘Pada awalnya, Asyura adalah hari yang di dalamnya orang-orang Quraisy berpuasa pada masa jahiliyah. Ketika itu, Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari Asyura. Kemudian beliau datang ke Madinah, beliau juga berpuasa pada hari Asyura tersebut dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa di dalamnya. Lalu ketika puasa Ramadan diwajibkan, maka puasa Ramadanlah yang menjadi fardhu, dan beliau meninggalkan kewajiban puasa Asyura. Maka barang siapa mau berpuasa pada hari itu, ia boleh berpuasa. Dan barang siapa tidak ingin melakukannya, maka ia boleh untuk tidak berpuasa.” (Shahih Abu Dawud, No 2110: Muttafaq ‘alaih)

    Ketiga,

    وَعَنْ أَبِي فَنَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ سُئل عن صيَامِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السنة الماضية

    Artinya: “Dari Abu Qatadah RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa tersebut dapat melebur dosa setahun yang lalu’.” (HR Muslim dalam Kitab Puasa bab Anjuran Puasa Asyura Tiga Hari)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Buka Puasa Asyura 10 Muharram: Arab, Latin dan Arti


    Jakarta

    Setelah mengerjakan puasa Tasua pada 9 Muharram, kaum muslimin dianjurkan untuk melanjutkan dengan puasa Asyura pada 10 Muharram. Hukum pelaksanaan kedua amalan tersebut adalah sunnah.

    Keutamaan dari puasa Asyura sendiri adalah menghapuskan dosa setahun yang lalu. Menukil buku Pintar Wajib dan Sunnah oleh Nur Solikhin, berikut bunyi hadits yang menjadi dasar keutamaan puasa Asyura.

    Dari Abu Qotadah Al Anshori, ia berkata:


    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu,” (HR Muslim)

    Seperti puasa pada umumnya, tentu umat Islam diwajibkan berbuka saat adzan Maghrib berkumandang. Ketika berbuka, ada doa buka puasa Asyura yang dapat dipanjatkan.

    Said Hawwa melalui karyanya yang bertajuk Al-Islam menjelaskan bahwa membaca doa buka puasa termasuk adab sunnah dalam berpuasa. Kaum muslimin dilarang menunda waktu berbuka dan dianjurkan untuk segera membatalkan puasanya ketika mendengar adzan Maghrib.

    Adapun, mengenai waktu tepat membaca doa buka puasa terdapat perbedaan pendapat. Dalam buku Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, dan Thibbun Nabawi karya Maryam Kinanti N, pendapat pertama menyebut doa tersebut dibaca usai membatalkan puasa dengan air atau makanan pertama kali.

    Namun, pendapat lain mengatakan bahwa doa buka puasa dipanjatkan sebelum buka dan sebagian lain tidak menetapkan waktu membacanya. Wallahu a’lam.

    Doa Buka Puasa Asyura 10 Muharram

    Merangkum arsip detikHikmah, terdapat dua versi doa buka puasa Asyura yang dapat diamalkan oleh kaum muslimin. Berikut merupakan bunyi dari versi pertama,

    ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

    Arab latin: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah

    Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah dan atas kehendak Allah pahala telah ditetapkan. Insya Allah,” (HR Abu Daud)

    Sementara itu, versi keduanya didasarkan dari hadits Bukhari dan Muslim yang berbunyi:

    اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Arab latin: Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina.

    Artinya: “Ya Allah karenaMu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih,” (HR Bukhari dan Muslim)

    Doa buka puasa sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud adalah yang dinilai shahih. Doa tersebut temaktub dalam Kitab Sunan Abu Dawud yang turut dinukil Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar. Ulama Syafi’iyah ini turut meriwayatkan doa buka puasa dalam Kitab Ibnu Sunni, dari Ibnu Abbas RA, “Jika Rasulullah SAW berbuka puasa beliau membaca:

    Allaahumma laka shumnaa wa ‘ala rezekika aftharnaa fataqabbal minnaa innak antas samii’ul ‘aliim

    Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu kami berpuasa dan atas rezeki-Mu kami telah berbuka, maka terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Keutamaan Berbuka Puasa

    Menurut buku Ensiklopedia Amal Shaleh Jilid 3 karangan Tim Ahnaf, berikut sejumlah keutamaan yang terkandung dari berbuka puasa.

    1. Dicintai Allah dan Diampuni Dosanya

    Keutamaan yang pertama ialah dicintai Allah SWT dan diampuni dosanya. Dalam surat Ali Imran ayat 31, Allah SWT berfirman:

    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Arab latin: Qul ing kuntum tuḥibbụnallāha fattabi’ụnī yuḥbibkumullāhu wa yagfir lakum żunụbakum, wallāhu gafụrur raḥīm

    Artinya: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”

    2. Waktu Mustajab untuk Memohon

    Selain itu, waktu berbuka juga dikatakan mustajab untuk memohon dan berdoa kepada Allah SWT, ini sesuai dengan janji Rasulullah yang berbunyi:

    “Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak, (yaitu) ketika (ia sedang) berbuka (puasa),”

    3. Diberi Kemenangan

    Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

    “Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya,” (HR Abu Dawud & Ibnu Hibban)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com