Tag: hadits

  • Bacaan Doa Setelah Membaca Al-Qur’an dan Adabnya, Yuk Amalkan!


    Jakarta

    Membaca Al-Qur’an termasuk salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi kaum muslimin. Sebagai kitab suci, tentu Al-Qur’an memiliki banyak keutamaan bagi pembacanya baik di dunia maupun akhirat.

    Perumpamaan orang muslim yang gemar membaca Al-Qur’an diibaratkan dalam sebuah hadits. Dari Anas bin Malik, Abu Musa al-Asy’ari berkata:

    “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, rasa buahnya enak dan baunya wangi. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak berbau. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, baunya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, rasanya pahit tetapi tidak berbau,” (HR Muttafaqun alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan derajat shahih)


    Di dalam Al-Qur’an, terkait anjuran membacanya tercantum pada surat Al-A’raf ayat 204 yang berbunyi sebagai berikut:

    وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    Arab latin: Wa iżā quri`al-qur`ānu fastami’ụ lahụ wa anṣitụ la’allakum tur-ḥamụn

    Artinya: “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat,”

    Setelah membaca Al-Qur’an, ada juga doa yang bisa dipanjatkan. Seperti apa? Berikut bacaannya yang dikutip dari buku Kumpulan Doa & Dzikir Ramadhan karya Yufid.

    Doa Setelah Membaca Al-Qur’an

    Dari Aisyah RA, ia mengatakan:

    “Tidaklah Rasulullah duduk di suatu tempat atau membaca Al-Qur’an ataupun melaksanakan sholat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat,”

    Aisyah kemudian bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, tidaklah Anda duduk di suatu tempat, membaca Al-Qur’an ataupun mengerjakan sholat melainkan Anda akhiri dengan beberapa kalimat?”

    Lalu beliau menjawab, “Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan:

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

    Arab latin: Subhanakallahumma wa bihamdika, laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.

    Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu,” (HR Nasai)

    Adab dalam Membaca Al-Qur’an

    Menukil buku Kitabul-Aadab oleh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, berikut sejumlah adab dalam membaca Al-Qur’an.

    1. Bersuci

    Adab yang pertama ialah bersuci sebelum menyentuh dan membaca Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an merupakan kitab suci yang berisi kalam Allah, apabila muslim menyentuh mushaf sudah sepatutnya ia dalam keadaan suci.

    2. Membaca Basmalah

    Selanjutnya membaca basmalah. Hal ini termasuk ke dalam sunnah Rasulullah SAW sebelum membaca Al-Qur’an. Anas bin Malik meriwayatkan,

    “Pada suatu hari tatkala Rasulullah SAW bersama kami, tiba-tiba beliau pingsan. Lalu menengadahkan kepala beliau ke langit dan tersenyum. Kami bertanya, ;Apa yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Barusan diturunkan kepadaku sebuah surat,’

    Anas berkata, “Lalu Rasulullah SAW membaca, ‘Bismillahirrahmanirrahim. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dia- lah yang terputus,’ (Al-Kautsar: 1-3)” (HR Muslim)

    3. Memanjangkan Bacaan

    Terkait adab memanjangkan bacaan ayat Al-Qur’an sesuai tajwidnya ini termuat dalam riwayat Anas bin Malik. Anas pernah ditanya tentang bagaimana bacaan Nabi SAW, Anas menjawab,

    “Bacaannya mad atau panjang. Beliau membaca, ‘Bismillahirrahmanirrahim’ dengan memanjangkan lafaz ‘Bismillah’, dan memanjangkan lafaz ‘Ar-Rahman’ dan memanjangkan lafaz ‘Ar-Rahim’,” (HR Bukhari)

    4. Ikhlas saat Mempelajari dan Membaca

    Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar, “Maka pertama kali yang diperintahkan kepada seorang pembaca Al-Qur’an adalah ikhlas ketika membacanya. Dan hanya mengharap pahala dari Allah SWT. Tidak ada motivasi lain dalam bacaannya selain itu,”

    5. Mengindahkan Suara ketika Membaca

    Mengindahkan suara dalam membaca Al-Qur’an bukan dengan nada yang berliuk atau menyerupai lagu serta nyanyian. Anjuran memerdukan suara termasuk sunnah, sebagaimana yang dikatakan Al-Bara’,

    “Aku mendengar Rasulullah SAW membaca ‘Wattiini wazzaituun’ ketika salat Isya, dan aku tidak mendengar seseorang yang bersuara indah atau bacaan selain beliau,” (HR Bukhari)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Rasulullah Larang Kencing Sambil Berdiri, Benarkah Haditsnya?


    Jakarta

    Rasulullah SAW telah mencontohkan adab buang air kecil sebagaimana diriwayatkan dalam sejumlah hadits. Di antara hadits tersebut, ada yang berisi larangan kencing sambil berdiri.

    Hadits larangan kencing sambil berdiri ini diriwayatkan dari Nafi, dari Ibnu Umar RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau kencing sambil berdiri.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Imam Baihaqi turut meriwayatkannya)

    Adapun, Aisyah RA mengatakan, “Barang siapa memberitahu kalian bahwa Nabi SAW dulu pernah kencing sambil berdiri, maka jangan percaya kepadanya. Beliau tidak pernah kencing, kecuali dengan posisi duduk.”


    Mengenai dua hadits tersebut, Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya menukil Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits riwayat Aisyah RA adalah hadits yang paling baik dan paling kuat dalam tema ini. Sementara itu, hadits Umar RA yang diriwayatkan dari jalur Abdul Karim bin Abu Mukhariq, dari Nafi dimarfu-kan oleh Abdul Karim bin Abu Mukhariq saja, sedangkan ia dinilai lemah oleh para ahli hadits.

    Dalam Penjelasan Kitab Mandzhumah al-Baiquniyyah yang disusun oleh Abu Utsman Kharisman diterangkan, hadits Ibnu Umar RA tentang larangan kencing berdiri adalah hadits yang mengandung illat tercela. Perawi yang dimaksud dalam hal ini adalah Abdul Karim bin Abi Umayyah.

    Imam Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro menyatakan, “Abdul Karim ini adalah Ibnu Abil Mukhaariq. Sekelompok perawi meriwayatkan dari Abdurrazzaq dan menisbatkan padanya. Abdul Karim bin Abil Mukhaariq (adalah perawi yang) lemah.”

    Kencing Sambil Berdiri Tidak Diharamkan

    Dalam Sunan Ibnu Majah dijelaskan, maksud dari larangan kencing sambil berdiri adalah larangan untuk mendidik, bukan pengharaman. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya, termasuk sikap yang buruk kencing sambil berdiri.”

    M Quraish Shihab dalam buku M Quraish Shihab Menjawab 1001 soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui menerangkan, ada riwayat lain dari sejumlah perawi hadits–termasuk Bukhari dan Muslim–yang memberitahukan bahwa Nabi SAW pernah kencing sambil berdiri. Menurut M Quraish Shihab, boleh jadi Nabi SAW melakukan itu karena beliau sakit atau untuk menunjukkan bahwa kencing berdiri bukanlah haram.

    “Mengenai terperciknya kencing atau najis saat berdiri melakukan kencing di depan uriner, memang merupakan satu kemungkinan. Namun, kemungkinan itu belum sampai mengantar untuk mengharamkan kencing berdiri. Bahkan belum sampai ke tingkat menajiskan pakaian,” jelas pendiri Pusat Studi Al-Qur’an itu.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram



    Jakarta

    Banyak amalan yang bisa dikerjakan saat bulan Muharram, salah satunya sedekah dengan menyantuni anak yatim. Terdapat hadits yang menjelaskan tentang keutamaan menyantuni anak yatim.

    Sedekah dapat diberikan kepada siapa pun, termasuk anak-anak yatim. Khususnya di bulan Muharram ini, bulan yang juga dikenal sebagai bulan anak yatim. Mengutip laman Baznas, Rasulullah SAW sangat menyayangi anak-anak yatim dan khususnya di Hari Asyura (10 Muharram), beliau secara khusus menjamu mereka.

    Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan orang yang merawat anak yatim akan berada di surga seperti ini, lalu beliau menunjukkan dengan mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sedikit merenggangkan keduanya. (HR. Bukhari).


    Dalam kitab Tanhibul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa-I wal Mursalin, juga disebutkan bahwa siapa pun yang mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura, pasti Allah akan meningkatkan derajatnya.

    “Barangsiapa berpuasa pada Hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan memberikan seribu pahala kepada orang tersebut, seperti yang diperoleh oleh seribu malaikat, serta pahala sepuluh ribu syuhada. Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura, maka Allah akan meningkatkan derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.” (Kitab Tanhibul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiyaa-I wal Mursalin).

    Mengejar keutamaan dari santunan anak yatim di Bulan Muharram merupakan amalan yang dianjurkan. Namun ada sedekah yang paling utama di Bulan Muharram sesuai sunnah.

    Sedekah Utama Bulan Muharram

    Memberi sedekah atau santunan memang bisa dilakukan kepada siapa pun, seperti fakir miskin atau anak yatim. Namun, menurut laman resmi Nahdlatul Ulama, sedekah yang paling utama pada bulan Muharram adalah kepada keluarga terdekat. Rasulullah bersabda,

    “Barangsiapa yang memberi keluarganya cukup pada hari Asyura, Allah akan memberi kelapangan rezeki kepadanya sepanjang tahun.” (HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi).

    Mencukupi kebutuhan keluarga artinya memberikan dukungan untuk kebutuhan makanan dan kebutuhan lainnya.

    Dalam hadits ini, dijanjikan bahwa orang yang mencukupi kebutuhan keluarganya pada hari Asyura, Allah akan melapangkan rejeki mereka selama setahun. Keutamaan hadits ini pernah dibuktikan oleh Sufyan As-Tsauri.

    Ia berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya pada hari Asyura, dan kemudian merasakan bahwa rezekinya benar-benar dilapangkan sebagaimana janji dalam hadits tersebut.

    “Dengan sungguh-sungguh kami telah mencobanya, dan kami mendapatkan hasilnya sesuai dengan janji.”

    Sekian sekilas pembahasan mengenai hadits santunan anak yatim di Bulan Muharram. Semoga bermanfaat ya detikers!

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Doa Ungkapan Syukur atas Nikmat Allah SWT agar Hidup Berkah


    Jakarta

    Umat Islam sudah seharusnya senantiasa memanjatkan doa ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Setiap harinya, ada begitu banyak nikmat yang dilimpahkan Allah SWT kepada setiap hamba-Nya, baik nikmat yang dapat disadari maupun tidak disadari.

    Bersyukur adalah kewajiban yang perlu dilakukan umat Islam setiap harinya. Bahkan, Allah SWT telah menjanjikan akan menambah nikmat bagi orang yang selalu bersyukur, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT berfirman:

    وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ


    Artinya: Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

    Selain itu, Rasulullah SAW turut mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang dinukil dari kitab Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 1 oleh Imam an-Nawawi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

    انظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَحْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

    Artinya: “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah melihat orang yang lebih tinggi di atas kalian (dalam hal keduniaan). Sebab, yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak akan menghinakan nikmat Allah atas kalian.” (Muttafaq ‘alaih)

    Cara lain untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT dapat dilakukan dengan memanjatkan doa setiap harinya. Berikut ini sejumlah doa ungkapan syukur yang bisa diamalkan, dilansir dari buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya H. Hamdan Hamedan.

    Doa Ungkapan Syukur kepada Allah SWT

    1. Doa Bersyukur yang Pernah Dibaca Nabi Sulaiman AS

    رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّلِحِينَ

    Latin: Robbi auzi’nii an asykura ni’matakal-lati an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa adkhilni birahmatika fii ‘ibaadikash shaalihiin.

    Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS An- Naml: 19)

    2. Doa Bersyukur yang Dibaca sebelum Salam Setiap Sholat

    اللَّهُمَّ أَعِنى عَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

    Latin: Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.

    Artinya: “Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

    3. Doa Bersyukur yang Dibaca Pagi dan Petang

    اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لَا شريكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الفكر.

    Latin: Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au bi-ahadin min khalqika fa minka wahdaka laa syariika laka fa lakal hamdu wa lakasy syukru.

    Artinya: “Ya Allah, nikmat apa pun yang ada padaku di waktu pagi atau yang ada pada setiap makhluk-Mu, semuanya hanya dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur.” (HR Abu Dawud & HR Baihaqi)

    4. Doa Mensyukuri Nikmat Allah SWT

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الأمْرِ وَالْعَزِيمَةِ عَلَى الرَّهْدِ وَأَسْأَلُكَ مُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا وَلِسَانًا صَادِقًا.

    Latin: Allahumma inni as ‘alukats tsabaata fil amri wal ‘aziimati ‘alar-rusydi wa as-aluka syukra ni’matika wa husna ‘ibaadatika wa as-aluka qolban saliiman wa lisaanan shaadiqan.

    “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kemantapan dalam setiap urusan, dan aku memohon kepada-Mu niat yang kuat untuk mendapatkan petunjuk-Mu, dan aku memohon kepada-Mu untuk mampu mensyukuri nikmat-Mu dan kebaikan melakukan ibadah, dan aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang mampu berkata jujur.” (HR Nasa’i)

    5. Doa Ungkapan Syukur atas Rahmat dan Karunia Allah SWT

    اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ لَا تُعَذِّبْنَا بَعْدَهَا أَبَدًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنْ فَضْلِكَ الْوَاسِعَ رِزْقًا حَلَالًا طَيْبًا وَلَا تُفْقِرْنَا بَعْدَهُ إِلَى أَحَدٍ سِوَاكَ أَبَدًا تَزِيْدُنَا لَكَ بِهَا شُكْرًا وَإِلَيْكَ فَاقَةً وَفَقْرًا وَبِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

    Latin: Allaahummaftah lanaa min khazaini rahmatika laa tu’adz- dzibnaa ba’dahaa abadan fid-dunyaa wal aakhirati, wa min fadlikal wasi’i rizqan halaalan thayyiban, wa laa tufqirnaa ba’dahu ilaa ahadin siwaaka abadan, taziidunaa laka bihaa syukran wa ilaika faaqatan wa faqran, wa bika ‘amman siwaaka ghinan wa ta’affufan.

    Artinya: “Ya Allah, bukakanlah (pintu rahmat-Mu) dari gudang-gudang rahmat-Mu untuk kami, janganlah siksa kami selamanya setelah kami mendapatkan rahmat itu di dunia maupun di akhirat. Dan dari karunia-Mu yang Maha Luas rezeki yang halal serta baik untuk kami. Setelah itu, janganlah Engkau membuat kami membutuhkan orang lain selain-Mu selamanya, sebab rahmat dan karunia-Mu, membuat kami semakin bersyukur kepada-Mu, dan semakin membutuhkan-Mu, dan semakin tidak membutuhkan orang lain selain Engkau ya Allah.”

    6. Doa Bersyukur dan Bertobat

    رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ مَكَارًا لَكَ ذَكَارًا لَكَ رَهَابًا لَكَ مِطَوَاعًا لَكَ مُخَيِتًا إِلَيْكَ أَواها منيبًا.

    Latin: Rabbij’alnii laka syakkaaran laka, dzakkaaran laka, rahhaaban laka, mithwaa’an laka, mukhbitan ilaika, awwaahan muniiban.

    Artinya: “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang senantiasa bersyukur kepada-Mu, senantiasa ingat kepada-Mu, senantiasa takut serta taat kepada-Mu, bertobat kepada-Mu, dan senantiasa kembali kepada-Mu.” (HR Tirmidzi)

    7. Doa Ungkapan Syukur yang Dibaca Rasulullah SAW

    اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا لَكَ دَاكِرًا لَكَ رَاهِبًا لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخَيِتًا أَوْ مُنِيبًا.

    Latin: Allahummaj’alni laka syaakiran, laka dzaakiran, laka raahiban, laka mithwaa’an, ilaika mukhbitan au muniiban.

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku orang yang bersyukur kepada-Mu, orang yang mengingat-Mu, patuh kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, dan kembali kepada-Mu.” (HR Abu Dawud)

    Demikianlah 7 doa ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT yang bisa diamalkan setiap hari agar hidup menjadi berkah, semoga bermanfaat.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits soal Lalat yang Tercelup Bisa Jadi Obat, Benarkah?



    Jakarta

    Ada salah satu hadits nabi yang terkenal mengenai lalat yang tercelup dalam minuman. Hadits tersebut berbunyi:

    حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُتْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ بْنُ حُنَيْنٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً ‏”‏‏.‏

    Artinya: Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila lalat jatuh di minuman seseorang dari kamu hendaklah ia tenggelamkan kemudian buang, karena salah satu sayapnya terdapat penyakit dan sayap lainnya terdapat penawarnya.” (HR Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari)


    Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya yang berjudul Ath Thib An Nabawi min Zad Al Ma’ad Fi Hadyi Khair Al Ibad, hadits ini mengandung dua hal yakni, soal fiqih dan medis.

    Terkait persoalan fiqih, hadits ini menjadi landasan apabila seekor lalat mati dalam air atau benda cair sejenis, tidaklah menyebabkan air itu menjadi najis. Itu adalah pendapat mayoritas ulama.

    Sementara pengertian medis dari hadits di atas, Abu Ubaid RA menjelaskan maksud ucapan Famquluhu adalah ‘tenggelamkan lalat itu agar ia mengeluarkan obat sebagaimana ia telah mengeluarkan penyakitnya’. Sementara, dalam bahasa Arab, kalimat Huma Yatamaqalani maksudnya adalah ditujukan untuk dua orang yang sedang menyelam di air.

    Jika ditelaah dari ilmu kedokteran dan medis, lalat atau Musca domestica merupakan hewan pembawa penyakit. Lalat membawa penyakit yang dibawa dari limbah, sampah, maupun cemaran lainnya dan menyebarkannya melalui droplet muntahan, feses, maupun organ tubuhnya.

    Hal ini tentu menjadi pertanyaan bagi para ilmuwan khususnya praktisi kesehatan atau orang umum bagaimana menyikapi hadits yang secara sanad diakui sebagai hadits shahih atau terpercaya kebenarannya.

    Penelitian mengenai sayap lalat telah dilakukan beberapa kali, yang pertama seperti dikutip dalam jurnal ilmiah yang ditulis oleh Rehap Mohammed Atta (2014). Ia menemukan bahwa sayap kanan dari M. domestica atau lalat memiliki efek antibiotik yang menghambat pertumbuhan bakteri maupun jamur melalui media agar, sedangkan dengan sayap kiri mendemonstrasikan pertumbuhan jamur dan bakteri.

    Sejalan dengan penelitian tersebut, peneliti Ivena Claresta (2020) juga menemukan efek antimikrobial terhadap Escherichia coli pada sayap kanan lalat. Dari jurnal tersebut diketahui pula, terdapat bakteri Bacillus circulans dan Actinomyces pada badan lalat yang produk metabolisme sekundernya memiliki efek antimikrobial dan antifungal.

    Nabilah Husniyyah, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tasikmalaya, Jawa Barat ini juga pernah meneliti sayap lalat sebagai obat antikanker dalam risetnya yang berjudul ‘Profiling dan Docking Senyawa Kandidat Antikanker dari Sayap Kanan Lalat melalui Karakteristik GC-MS.’

    Penelitian tersebut ditujukan untuk mengidentifikasi potensi senyawa aktif pada ekstrak kasar dari sayap kanan lalat melalui metode GC-MS. Nabilah juga menganalisa profiling dan docking potensi senyawa aktif sebagai kandidat antikanker berdasarkan nilai peak dari karakterisasi menggunakan metode GC-MS.

    Dari penelitian di atas dapat disimpulkan memang terbukti adanya efek “obat” pada sayap lalat sebagaimana hadits nabi. Sebagai muslim, kita diperintahkan untuk terus berpikir dan meneliti sekitar kita, termasuk hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan jasmani dan rohani.

    Wallahua’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sebelum Ujian, Bisa Dibaca oleh Pelajar Maupun Pekerja


    Jakarta

    Umat Islam selalu dianjurkan untuk membaca doa dalam setiap kegiatan. Mulai dari bangun tidur, pergi keluar rumah hingga kembali tidur.

    Begitu pun dalam menghadapi ujian. Ada beberapa doa yang bisa diamalkan agar diberi kelancaran. Doa ini diajarkan oleh para nabi, salah satunya adalah nabi Musa.

    Dikutip dari kitab Al-Adzkar oleh Imam Nawawi dan beberapa hadits riwayat lainnya, berikut doa-doa sebelum ujian yang bisa dipanjatkan.


    Doa Sebelum Ujian (1)

    Nabi Musa AS pernah memakai doa ini kepada kaumnya. Dianjurkan, doa sebelum ujian ini dibaca sebanyak 100 kali menjelang pelaksanaan.

    Bunyi bacaannya tercantum dalam firman Allah QS. Thaha ayat 25-28:

    قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي
    وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
    وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي
    يَفْقَهُوا قَوْلِي

    Bacaan latin: rabbisyraḥ lī ṣadrī wa yassir lī amrī waḥlul ‘uqdatam mil lisānī yafqahụ qaulī

    Artinya: “Ya Rabb-ku, lapangkanlah dadaku, dan ringankanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 25-28).

    Doa Sebelum Ujian (2)

    Dikutip dari buku 101 Doa Anak Salah karya Tim Darul Ilmi, berikut doa sebelum ujian yang lainnya.

    رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

    Bacaan latin: Robbanaa aatinaa mil ladunka rohmah, wa hayyi lanaa min amrinaa rosyadaa.

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan kami, berilah kami di sisi-Mu suatu rahmat, dan persiapkan kami mengenai urusan kami dengan petunjuk-Mu. (QS. Al-Kahfi ayat 10.)

    Doa Sebelum Ujian (3)

    Doa sebelum ujian selanjutnya adalah doa yang sering dpanjatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah. (Lihat Jaami’ul Ahadits, 6/257, Asy Syamilah)

    Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:

    اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

    Bacaan latin: Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

    Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.”

    Doa Sebelum Ujian (4)

    رَبِّ يَسِّرْ وَأَعِنْ وَلَا تُعَسِّرْ

    Bacaan latin: Rabbi yassir wa a’in wa laa tu’assir

    Artinya: “Wahai Rab-ku, mudahkanlah (urusanku). Bantulah aku, jangan Engkau persulit.”

    Doa Sebelum Ujian (5)

    Hadits ini datang dari Aisyah RA sebagaimana terdapat dalam kitab Ibnu Sunni. Dalam sebuah riwayat dikatakan, barangsiapa yang merasa was-was maka dapat mengucapkan doa berikut.

    آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ

    Bacaan latin: A mannaa billaahi wa birusulihi

    Artinya: “Aku beriman kepada Allah dan rasulnya.”

    Doa Sebelum Ujian (6)

    Dalam hadist riwayat Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    Arab: اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

    Bacaan latin: Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa

    Artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.”

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 73 Golongan Umat Nabi di Akhir Zaman, Ini Satu yang Disebut Bakal Selamat



    Jakarta

    Umat Nabi Muhammad SAW disebut akan terbagi ke dalam 73 golongan. Dari jumlah tersebut, dikatakan hanya satu golongan yang kelak selamat.

    Terpecahnya umat Islam ke dalam 73 golongan ini disebutkan dalam hadits yang salah satunya dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi. Diriwayatkan,

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.


    Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakannya hasan shahih)

    Dari golongan tersebut, orang yang mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan para sahabat yang berpegang pada ajaran itulah yang kelak selamat. Sebagaimana lanjutan hadits tersebut, para sahabat bertanya,

    “Siapakah satu golongan itu?”

    Rasulullah SAW menjawab, “(Yaitu) siapa saja yang berada di atas apa (ajaran) yang diriku dan (juga) para sahabatku pernah berpegang pada (ajaran) itu.”

    Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mengatakan dalam Hadza al-Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb, prediksi Rasulullah SAW tentang terpecahnya umat Islam ke dalam 73 golongan itu benar adanya.

    Para ulama mengatakan, golongan yang selamat yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah golongan ahlu sunnah wal jamaah, sebagaimana diterangkan dalam buku Teologi Islam Klasik dan Kontemporer karya Achmad Muhibin Zuhri. Dalam hal ini, Ibnu Abbas RA mengatakan,

    “Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (QS Ali Imran: 106) Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlu sunnah wal Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan sesat.”

    Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam salah satu kitabnya yang berjudul Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah menyampaikan dua pendapat yang salah satunya berlawanan. Ia menyebut, umat yang 73 golongan tersebut akan selamat kecuali satu saja yang masuk neraka, yakni kaum kafr zindiq atau kaum yang tidak mempercayai keberadaan Nabi Muhammad SAW.

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Dalil tentang Takdir, Sudah Tercatat di Lauhul Mahfudz



    Jakarta

    Takdir adalah ketetapan Allah SWT yang telah ditentukan kepada setiap makhluk ciptaan-Nya, termasuk manusia. Meyakini adanya takdir termasuk dalam rukun iman terakhir, yakni iman kepada qada dan qadar.

    Mengutip dari buku 13 Cara Nyata Mengubah Takdir oleh Jamal Ma’mur Asmani, dkk., takdir dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘qadara, yuqaddiru, taqdir’ yang artinya menaksir, menentukan, menetapkan, membandingkan, dan menjadikan kuasa.

    Berdasarkan istilah tauhid, takdir ialah sesuatu yang telah ditentukan Allah SWT sejak zaman azali atau zaman belum diciptakannya seluruh ciptaan-Nya.


    Ajaran Islam mengenal dua macam takdir, yaitu takdir muallaq atau takdir yang masih dapat diubah melalui ikhtiar serta takdir mubram yang tidak dapat diubah.

    Takdir yang telah ditetapkan Allah SWT tersimpan dalam Ummul Kitab atau Lauhul Mahfudz, sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya melalui Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 39:

    يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ

    Artinya: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauhul Mahfuzh).” (QS Ar-Ra’d: 39).

    Ketetapan takdir Allah SWT banyak terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an lainnya beserta hadits Rasulullah SAW. Berikut ini sejumlah dalil tentang takdir yang dirangkum dari buku Panduan Ilmu dan Hikmah karya Ibnu Rajab dan Takdir Allah Tak Pernah Salah karya Agus Susanto.

    Dalil tentang Takdir dalam Al-Qur’an

    1. Surat Al-An’am Ayat 59

    وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

    Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).” (QS Al-An’am: 59).

    2. Surat Yunus Ayat 61

    وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرَ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

    Artinya: “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS Yunus: 61).

    3. Surat Al-Hadid Ayat 22

    مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

    Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS Al-Hadid: 22).

    4. Surat Al-Hajj Ayat 70

    أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

    Artinya: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauhul Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS Al-Hajj: 70).

    5. Surat At-Talaq Ayat 3

    وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

    Artinya: “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS At-Talaq: 3).

    6. Surat Al-Furqan Ayat 2

    ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًا

    Artinya: “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS Al-Furqan: 2).

    7. Surat Al-A’la Ayat 1-3

    سَبِّحِ ٱسْمَ رَبِّكَ ٱلْأَعْلَى. ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ. وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ

    Artinya: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (QS Al-A’la: 1-3).

    Dalil tentang Takdir dalam Hadits Rasulullah SAW

    1. Hadits Pertama

    Ibnu Rajab menukil dari Shahih Muslim bahwasannya disebutkan hadits dari Abdullah bin Amr RA dari Rasulullah SAW yang bersabda:

    “Sesungguhnya Allah telah menciptakan takdir-takdir seluruh makhluk lima puluh tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR Muslim No. 2653).

    2. Hadits Kedua

    Dalam Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Jabir RA bahwa seseorang bertanya kepada Nabi SAW:

    “Wahai Rasulullah, perbuatan hari ini sesuai dengan apa? Apakah sesuai dengan sesuatu yang pena-pena telah kering dengannya dan takdir-takdir berlangsung dengannya ataukah sesuai dengan sesuatu yang akan datang?”

    Nabi SAW menjawab “Tidak, namun sesuai dengan apa yang pena-pena telah kering dengannya dan takdir-takdir telah berlangsung.”

    Orang tersebut berkata, “Kalau begitu, untuk apa perbuatan itu?” Nabi SAW lalu bersabda, “Berbuatlah kalian, karena segala hal dipermudah kepada apa yang diciptakan untuknya.” (HR Muslim No. 2648).

    3. Hadits Ketiga

    Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit RA, Nabi SAW pernah bersabda:

    “Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena kemudian Allah berfirman (kepada pena), ‘Tulislah.’ Lalu sejak saat itu, terjadilah sesuatu sejak ditakdirkan hingga Hari Kiamat.” (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi).

    Itulah 10 dalil tentang takdir yang menunjukkan bahwa ketetapan Allah SWT telah tercatat di Lauhul Mahfudz sejak sebelum makhluk-Nya diciptakan, wallahu a’lam.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Cara Mengirim Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal


    Jakarta

    Doa dari keluarga atau kerabat untuk orang yang sudah meninggal akan bermanfaat baginya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al Khudri, Rasulullah SAW bersabda,

    “Pada hari kiamat seseorang diikuti kebaikan sebesar gunung, lalu ia bertanya, “Dari mana aku memperoleh semua ini? Dikatakan kepadanya, “Dari istighfar anakmu untukmu.” (HR Thabrani)

    Penyebutan anak dalam hadits di atas, tidak terbatas pada seorang anak dari orang yang sudah meninggal dunia saja. Namun, semua orang muslim dibolehkan saling mendoakan sebagaimana telah Allah SWT firmankan dalam surah Al Hasyr ayat 10,


    وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

    Artinya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

    Cara Mengirim Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal

    Dalam praktiknya, salah satu cara mengirim doa bagi orang yang sudah meninggal dunia di Indonesia dapat dilakukan dengan tahlilan. Dijelaskan dalam buku Bimbingan Praktikum Ibadah oleh Prof. Dr. H. Abuddin Nata, dalam acara tahlilan, keluarga dari orang yang meninggal dunia melakukan tahap persiapan seperti penentuan hari, tanggal, tempat, dan tamu yang akan diundang.

    Nama-nama almarhum atau almarhumah yang akan didoakan ditetapkan. Hidangan yang akan disiapkan dan bingkisan atau buah tangan untuk menghormati para tamu juga disusun dalam tahap persiapan ini.

    Selanjutnya pada tahap pelaksanaan, seorang ustaz yang dipilih akan memimpin tahlilan dengan membaca doa sambil menyebut nama orang yang sudah meninggal dunia serta bacaan surah pendek seperti surah Al Falaq dan surah An Nas. Berikut bacaan lengkap yang dapat dilafalkan.

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وبركاته … أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ .

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh… Astaghfirullahal ‘adzim (3×)

    إلَى حَضْرَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

    Ila hadratin nabiyyina Muhammadin syai’un lillāhi lahumud fâtihah

    ثم إلى أزواح أبي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَّ شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

    Tsumma ila arwahi abi bakrim, wa ‘imar, wa ‘utsman, wa ‘ali, syain lillahi lahumul fatihah

    ثم إلى أرواح …. شَيْءٌ اللَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَة

    Tsumma ila arwahi wa arwahi …. (disebutkan nama-nama almarhum dan almarhumah yang akan dikirimi doa), syai’un lillähi laharal fatihah

    لا إله إلا الله والله أكبر …. قُلْ هُوَ الله أحدٌ : اللَّهُ الصَّمَدُ : لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولد الله وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

    La ilaha illallahu wallahu akbar … gulhurullah ahad … allahush shamad, lam yalid wa lam yalad, walam yakun lahu kufuwan ahad… (2x)

    لا إله إلا الله والله أكبر … قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ اللَّهِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ إِلَّا وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ الثقافاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا

    La ilaha illallahu wallahu akbar… qul ‘audzu birabbil falaq, min syarri ma khalaq wa min syarri ghasiqin idza waqab, wa min syarrin naffâtsäti fil uqadi, wa min syarri hasidin idza hasad (2x)

    لا إله إلا الله والله أكبر … قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ * الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ان من الجنَّةِ والنَّاسِ

    La ilaha illallahu wallahu akbar… qul ‘aūdzu birabbinnâs malikinnnås ilahinnas min syarril waswasil khannas, alladzi yuwaswisu fi sudurinnas minal jinnati wannās… (2x)

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

    La ilaha illallahu wallahu akbar

    Deretan Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal

    Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa setelah seseorang meninggal, semua amal perbuatannya telah terputus, kecuali tiga hal yakni sedekah yang terus memberi manfaat, ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang, dan anak saleh yang mendoakannya. Dikutip dari Buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 dan Kitab Al-Adzkar oleh Imam an-Nawawi, berikut adalah beberapa doa untuk orang yang sudah meninggal.

    1. Doa untuk Orang Meninggal Versi Pertama

    السَّلَامُ علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ

    Arab latin: Assalaamu ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa yarhamullahu almustaqdimiina minna wal musta’khiriina wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun

    Artinya: “Salam atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang Mukminin dan Muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami insya Allah benar-benar akan menyusul kamu.” (HR Muslim, dari Aisyah)

    2. Doa untuk Orang Meninggal Versi Kedua

    السَّلَامُ عَلَيْكُم دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

    Arab Latin: “Assalaamu ‘alaikum daara qaumin mu’miniin wa innaa in syaa’allaahu bikum laahiquun”

    Artinya: “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada kalian, wahai penghuni kuburan dari kaum mukmin, dan insya Allah kami akan menyusul kalian.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah)

    3. Doa untuk Orang Meninggal Versi Ketiga

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلَهُ وَاعْقِبَنِي مِنْهُ عُقْبَى حَسَنَةٍ

    Arab Latin: “Allâhummaghfir lî wa lahu wa a’qibnî minhu ‘uqbâ hasanah.”

    Artinya: “Duhai Tuhan, ampunilah aku dan dia (orang yang meninggal) dan balaslah aku darinya dengan balasan yang baik.” (HR Ahmad, Musnad Ahmad dalam Kitab Baqi Musnad Al- Anshar)

    4. Doa untuk Orang Meninggal Versi Keempat

    Menurut buku Doa Ketika Kematian Tiba tulisan Islah Gusmian, ketika Abu Salamah meninggal dunia, istrinya, Ummu Salamah, mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk memberitahukan tentang kematian suaminya. Kemudian Rasulullah SAW meminta Ummu Salamah untuk berdoa dengan kalimat berikut,

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَأَفْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

    Arab Latin: “Allahummagh firli Abu Salamah, warfa’ darajatahu fil-mahdiyyin, wakhluhhu fi ‘aqibihi fil-ghabirin, wagfir lana wa lahu ya Rabbal’alamin, wa afsih lahu fi qabrihi, wa nawwir lahu fih.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah dia dengan yang lebih baik di antara orang-orang yang telah pergi, ampunilah kami dan dia, wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan berikanlah cahaya di dalamnya.”

    Oleh karena itu, doa untuk orang yang meninggal, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, merupakan permohonan pengampunan dan ampunan kepada Allah untuk orang yang telah meninggal, termasuk saudara, orang tua, teman, atau tetangga kita. Dengan mendoakan mereka, kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan memberikan keberkahan bagi mereka di kehidupan setelah mati.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengapa Hanya 1 dari 73 Golongan Umat Nabi yang Selamat?


    Jakarta

    Umat Nabi Muhammad SAW dalam sebuah riwayat dikatakan akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya satu di antaranya yang disebut selamat. Mengapa demikian?

    Mengutip dari arsip detikHikmah, terbaginya umat Islam ke dalam 73 golongan ini termaktub dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi yang bunyinya:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: افْتَرَقَ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثَ وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة ، قالوا : ومَن هم يا رسول الله ؟ قال : هم الذي أنا عليه وأصحابي


    Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan.”

    Para sahabat bertanya, “Siapakah satu golongan itu?”

    Rasulullah SAW menjawab, “(Yaitu) siapa saja yang berada di atas apa (ajaran) yang diriku dan (juga) para sahabatku pernah berpegang pada (ajaran) itu.” (HR At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih)

    Diterangkan dalam buku Syaikh Abdul Qadir Jailani: Guru Para Pencari Tuhan karya Abdul Razzaq Al-Kailani, 73 golongan umat Islam tersebut berasal dari 10 golongan, yaitu Ahlu Sunnah, Khawarij, Syi’ah, Murji’ah, Mu’tazilah, Musyabbihah, Jahmiyyah, Dhirariyah, Najjariyyah, dan Kilabiyah.

    Ahlu Sunnah hanya terdiri dari satu golongan. Khawarij ada 10 golongan, Mu’tazilah 6 golongan, Murji’ah 12 golongan, Syi’ah 32 golongan. Sementara Jahmiyyah, Najjariyyah, Dhirariyah, dan Kilabiyah memiliki satu kelompok saja. Sedangkan Musyabbihah memiliki 3 golongan.

    Hanya 1 Golongan yang Selamat karena Mengikuti Al Jamaah

    Menurut para ulama, golongan yang dimaksud akan selamat dari neraka pada hadits tersebut ialah golongan ahlu sunnah wal jamaah. Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Abbas RA berkata:

    “Pada hari yang waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.’ (QS Ali Imran: 106). Adapun orang yang putih wajahnya, mereka adalah ahlu sunnah wal jamaah, sedangkan orang yang hitam wajahnya mereka adalah ahlul bid’ah dan sesat.”

    Menambahkan dari buku Mengungkap Kebenaran Aqidah Asy’ariyyah karya Kholilurrohman, ahlu sunnah wal jamaah yang dikatakan sebagai satu golongan umat nabi yang selamat masuk surga ialah kelompok mayoritas dari umat Islam.

    Berdasarkan catatan sejarah, kalangan umat Islam sejak abad permulaan, terutama pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib RA hingga saat ini, terdapat banyak golongan (firqah) dalam masalah akidah. Sering kali, paham terkait akidah satu sama lain pun sangat berbeda, bahkan saling bertentangan.

    “Karenanya, Rasulullah sendiri sebagaimana dalam hadits di atas telah menyebutkan bahwa umatnya ini akan terpecah-belah hingga 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah, dengan berbagai hikmah terkandung di dalamnya, walaupun kita tidak mengetahui secara pasti akan hikmah-hikmah di balik itu,” jelas Kholilurrohman dalam bukunya.

    Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam kitab Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah menyampaikan dua pendapat yang salah satunya berlawanan. Ia menyatakan, umat Islam dari 73 golongan itu akan selamat kecuali satu yang masuk neraka, yaitu kaum kafir zindiq atau kaum yang tidak percaya adanya Nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah SAW telah menjelaskan jalan menuju keselamatan yang dapat ditempuh umat Islam agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW berwasiat kepada umatnya,

    أوميكم باصحابي ثم الذين يلونهم هم الذين يلونهب ووقه عليكم بالخفاقة وياكم والقرفة قران الشيطان مع الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الاثْنَيْنِ أبْعَد فَمَنْ أَرَادَ بحبوحة الجنّة فليلزم الجماعة. رواه الترمذي وَقَالَ حِسَنُ صحيح، وصححه الحاكم

    Artinya: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka”. Dan termasuk dalam rangkaian hadits ini: “Hendaklah kalian berpegang kepada mayoritas (al-Jama’ah) dan jauhilah perpecahan, karena setan akan menyertai orang yang menyendiri. Dia (Setan) dari dua orang akan lebih jauh. Maka barangsiapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh kepada (keyakinan) al-Jama’ah”. (HR. at-Tirmidzi. la berkata hadits ini hasan shahih dan dishahihkan pula oleh Imam Al-Hakim)

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com