Tag: hadits

  • Doa Ketika di Dalam Masjid, Amalkan agar Mendapat Berkah


    Jakarta

    Ada doa yang bisa dibaca ketika berada di dalam masjid. Doa ini merupakan sunnah Rasulullah SAW dan bisa menjadi amalan mulia untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT.

    Masjid merupakan tempat yang suci yang didalamnya menjadi area untuk melakukan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Masjid tempat yang mulia, oleh karenanya ketika berada di dalam masjid dianjurkan untuk memperbanyak amalan seperti dzikir, sholawat ataupun berdoa.

    Mengutip buku Al-Adzkar Doa dan Dzikir dalam Al-Qur’an dan Sunnah oleh Imam Nawawi dijelaskan bahwa ketika seorang muslim berada di dalam masjid maka dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir. Begitu pula membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir, doa-doa dan dzikir lainnya.


    Dianjurkan pula memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan membaca hadits-hadits Rasulullah, memperdalam ilmu fikih, dan ilmu-ilmu syariat lainnya.

    Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 36

    فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

    Artinya: Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.

    Dalam hadits, Rasulullah SAW pun menjelaskan tentang masjid sebagai tempat yang mulia dan istimewa.

    Diriwayatkan dari Buraidah, dia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya masjid-masjid itu dibangun sesuai dengan tujuannya.” (HR Muslim)

    Dari Anas bin Malik , dia mengatakan, Rasulullah SAW berkata kepada si badui yang kencing di salah satu sudut masjid, “Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak pantas sama sekali untuk dikencingi seperti ini dan tidak pula dikotori. Karena sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah untuk berdzikir kepada Allah, sholat, dan membaca Al-Qur an.” (HR Muslim)

    Doa ketika Duduk di Masjid

    Orang yang duduk di masjid hendaknya berniat i’tikaf agar memperoleh keutamaan. Orang yang duduk di masjid, hendaklah berupaya melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Tujuannya yakni untuk menjaga, menghormati, memuliakan, dan mengagungkan masjid.

    Duduk di masjid bisa sambil melantunkan doa yang merupakan bacaan tasbih, takbir, tamid.

    ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪْ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠﻪْ ﻭَﻵ ﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪْ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮْ

    Artinya: “Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar

    Keutamaan Membaca Doa dan Dzikir di Masjid

    Dikutip dari buku Berzikir Cara Nabi: Merengkuh Keutamaan Zikir Tahmid, Tasbih, Tahlil, dan dan Hauqala oleh Abdur Razzaq Ash-Shadr dijelaskan beberapa keutamaan dari dzikir di dalam masjid. Berikut diantaranya:

    1. Kalimat yang Paling Dicintai Allah.

    Imam Muslim dalam kitab shahihnya meriwayatkan dari hadits Samurah bin Jundab ra, dia berkata:

    “Rasulullah SAW bersabda: Kalimat yang paling dicintai Allah ada 4. Kamu bisa memulai dari kalimat mana saja: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.

    2. Kalimat Pelebur Dosa

    Dalam kitab Al Musnad, Sunan At Tirmidzi, dan Musadrak Al Hakim, terdapat riwayat dari hadits Abdullah bin ‘Amr ra, dia berkata:

    “Rasulullah SAB bersabda: “Di muka bumi ini, setiap kali seseorang membaca kalimat laa ilaaha illallaah, Allaahu Akbar, Subhaanallah, Alhamdulillaah, dan Laa haula walaa quwwata illaa billaah, maka dosa-dosanya dilebur meskupun lebih banyak dari buih di laut.”

    Dosa yang dilebur yakni dosa kecil. Sedangkan dosa besar tidak bisa dilebur dengan tobat.

    3. Tanaman Surga

    At Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, dari Nabi SAW, Beliau bersabda: “Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra’kan. Lalu Ibrahim berkata, ‘Wahai Muhamamd, samapaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa surga itu baik tanahnya, tawar airnya, dan surga itu qi’an, yang tanamannya adalah subhaanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, dan Allahu Akbar.”

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits tentang Sabar dalam Menghadapi Ujian, Jadikan Motivasi Hidup


    Jakarta

    Sabar termasuk ke dalam salah satu sifat terpuji. Makna sabar secara terminologis berarti menahan jiwa, lisan, dan lain sebagainya dari segala sesuatu yang sifatnya merugikan atau buruk.

    Menurut buku Hikmah Sabar susunan Pracoyo Wiryoutomo, Imam Al-Khawas mendefinisikan sabar sebagai keteguhan untuk merealisasikan Al-Quran dan sunnah. Dengan demikian, sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan.

    Dalam surat Al Baqarah ayat 153, Allah SWT berfirman:


    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

    Sementara itu, Al Ghazali dalam buku Dahsyatnya Sabar, Syukur, Ikhlas Muhammad SAW tulisan Amirulloh Syarbini dkk mengartikan sabar sebagai kesanggupan diri ketika hawa nafsu bergejolak, atau kemampuan untuk memilih melakukan perintah agama tatkala datang desakan nafsu.

    Berkaitan dengan itu, ada sejumlah dalil dari Al-Hadits yang membahas tentang sabar dalam menghadapi ujian. Apa saja? Simak bahasannya berikut ini yang dinukil dari buku Ilmu dari Guruku susunan Ihsan Nur.

    Hadits tentang Sabar dalam Menghadapi Ujian

    1. Perintah Sabar saat Menghadapi Ujian

    Dalam sebuah hadits, diterangkan tentang perintah sabar ketika mendapat ujian dari Allah SWT.

    “Siapa saja yang tidak rela menerima ketetapan-Ku (takdir-Ku) dan tidak sabar menghadapi ujian-ujian-Ku kepada dirinya, silakan dia mencari Tuhan selain Aku.” (HR Ath Thabrani dan Ibnu ‘Asakir)

    2. Hadits Orang Sabar Menghadapi Ujian akan Diganjar Surga

    Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Allah berfirman, jika seorang hamba ditinggal mati orang yang paling dicintainya; lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, maka tidak ada pahala baginya kecuali surga.” (HR Bukhari)

    3. Hadits Dosa-dosa Orang Sabar Digugurkan

    Orang yang sabar ketika menghadapi ujian niscaya Allah SWT akan menggugurkan dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda,

    “Seorang muslim yang tertimpa suatu gangguan berupa penyakit atau yang lainnya pasti Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

    4. Hadits Larangan Mengharap Mati ketika Diberi Ujian

    Dalam hadits lainnya juga disebutkan terkait larangan mengharap mati ketika diuji oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana bunyi sabda Nabi SAW yaitu,

    “Janganlah salah seorang di antara kalian mengarapkan mati sebab kesengsaraan yang menimpanya.” (HR An Nasa’i)

    5. Hadits Sabar Menghadapi Ujian Tergolong Orang Beriman

    “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim)

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Ciri-ciri Orang yang Cerdas Menurut Hadis Nabi


    Jakarta

    Rasulullah SAW pernah menyebutkan ciri-ciri orang yang cerdas dalam salah satu hadisnya. Apa saja?

    Ciri-ciri orang yang cerdas menurut hadis nabi berkaitan dengan amal dan perbuatan semasa hidup di dunia. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam Akhlaq Al-Islam menukil hadits yang menyebut tentang hal ini. Rasulullah SAW bersabda,

    الْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ


    Artinya: “Orang cerdas adalah yang bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian. Orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan terhadap Allah.” (HR Ahmad)

    Sesuai dengan hadits di atas, ciri-ciri orang yang cerdas menurut hadis nabi adalah orang yang selalu bermuhasabah diri dan menyiapkan amalan berpahala sebagai bekal menghadapi kematian.

    Dikutip dari buku tersebut, Imam An-Nawawi menyebutkan, menurut Imam At-Tirmidzi dan ulama lainnya, makna dari “Al-kayyis” adalah “orang cerdas.” Sedangkan lafal “dana nafsahu” berarti “bermuhasabah atas dirinya.”

    Bermuhasabah diri bisa dilakukan dengan cara selalu mencari kesalahan dalam diri sendiri dan bukan orang lain, sehingga ia bisa selalu menyadari kesalahan tersebut dan memperbaikinya.

    Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, dari Umar RA, dia berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab! Timbanglah amal perbuatan kalian sebelum semua itu dihitung atas kalian.”

    Dikatakan pula dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, Maimun bin Mahran pernah berkata, “Orang bertakwa lebih ketat menghisab dirinya daripada seorang penguasa yang lalim, atau dari seorang teman kongsi yang pelit.”

    Muhasabah diri merupakan salah satu di antara pokok-pokok akhlak tarbiyah di dalam Islam. Hal ini sesuai dengan urgensi muhasabah diri dari ijma para ulama sufi, ahli akhlak, dan para murabbi.

    Muhasabah diri memiliki banyak manfaat dan kebaikan. Manfaat muhasabah diri antara lain adalah selalu mendorong diri untuk berusaha memperbaiki kesalahan, menyempurnakan kekurangan, mencari kesempurnaan, serta akan menjauhkan kita dari sikap ujub, terperdaya oleh amalnya sendiri, dan mengejek orang lain.

    Cara Muhasabah Diri

    Selalu muhasabah diri karena selalu ingat mati dan agar menjadi orang yang jauh dari hawa nafsu merupakan salah satu ciri-ciri orang yang cerdas menurut hadis nabi.

    Dengan ingat mati, kita akan selalu ingat pula dengan kehidupan yang terjadi setelah kematian. Akhirnya dirinya akan selalu bermuhasabah diri agar terhindar dari segala dosa dan pengaruh buruk hawa nafsu.

    Agar bisa menjadi orang cerdas menurut hadis nabi, maka kita perlu muhasabah diri. Abu Abdullah bin Qayyim Al Jauziyyah menyebut beberapa cara untuk muhasabah diri, seperti dinukil Majdi Fathi Sayyid dalam buku Amal yang Dibenci dan yang dicintai Allah: Panduan untuk Muslimah oleh Majdi Fathi. Antara lain:

    1. Muhasabah Terhadap Kewajiban

    Cara muhasabah diri yang pertama adalah dengan melakukan introspeksi terhadap ibadah-ibadah wajib terlebih dahulu. Jika ada kekurangan maka harus segera diperbaiki dan dilengkapi.

    2. Muhasabah Terhadap Kelalaian

    Muhasabah diri terhadap kelalaian bisa dilakukan dengan cara berzikir dan memusatkan diri kepada Allah SWT. Lalu, mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukannya, terutama hal-hal yang tak disadari atau tidak sengaja. Lalu perbaiki ketidaksengajaan itu dengan taubat dan menumpuknya dengan perbuatan yang baik.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa saat Angin Kencang, Bisa Dibaca ketika Cuaca Buruk



    Jakarta

    Doa saat angin kencang menjadi amalan yang bisa dikerjakan umat muslim. Angin merupakan fenomena alam sekaligus tentara Allah SWT.

    Sama seperti hujan, angin juga diciptakan Allah SWT untuk membawa keberkahan. Namun ada kalanya angin bertiup dengan sangat kencang sehingga dikhawatirkan akan menjadi sebuah bencana.

    Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Angin itu adalah bagian dari rahmat Allah. Ia bisa datang membawa rahmat dan bisa datang membawa azab. Jika kalian melihat angin, janganlah kalian memakinya! Mintalah kepada Allah kebaikannya dan mintalah perlindungan kepada Allah dari kejelekannya!” (HR Nasa’i)


    Doa saat Angin Kencang

    Dikutip dari laman NU Online, terdapat doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yang bisa dibaca saat merasakan angin kencang. Doa ini semata-mata dibaca untuk mendapat perlindungan Allah SWT dari marabahaya.

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهَا عَذَابًا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رِيَاحًا وَلَا تَجْعَلْهَا ضَرُوْرَةً.

    Arab Latin: Allâhumma innî as’aluka khairahâ wa khairamâ fîhâ wa khairamâ ursilat bih, wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ fîhâ wa syarrimâ ursilat bih. Allâhummaj’alhâ rahmatan wa lâ taj’alhâ ‘adzâban. Allâhummaj’alhâ riyâhan wa lâ taj’alhâ dharûratan.

    Artinya: “Wahai Tuhanku, aku minta kepada-Mu kebaikan ini angin, kebaikan barang yang ada di dalamnya, dan kebaikan barang yang diutus melaluinya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan ini angin, kejahatan barang yang ada di dalamnya, dan kejahatan barang yang diutus melaluinya. Wahai Tuhanku, jadikan ini sebagai angin rahmat dan jangan jadikan ini sebagai angin siksa. Wahai Tuhanku, jadikan ini sebagai angin manfaat dan jangan jadikan ini sebagai angin bahaya.”

    Selain doa di atas, terdapat juga doa lainnya yang bisa diamalkan saat terjadi angin kencang, berikut bacaan doanya:

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَمَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً وَلَا تَجْعَلْهَا عَذَابًا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رِيَاحًا وَلَا تَجْعَلْهَا رِيْحًا

    Arab Latin: Allâhumma innî as’aluka khairahâ wa khairamâ fîha wa khairamâ ursilat bih, wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ fîha wa syarrimâ ursilat bih. Allâhummaj’alhâ rahmatan, wa lâ taj’alhâ ‘adzâban. Allâhummaj’alhâ riyâhan, wa lâ taj’alhâ rîhan.

    Artinya: “Tuhanku, kepada-Mu aku mohon kebaikan angin ini, kebaikan yang terkandung di dalamnya, dan kebaikan tujuan dihembuskannya. Kepada-Mu aku berlindung dari unsur negatif angin ini, unsur negatif yang terkandung di dalamnya, dan unsur negatif tujuan dihembuskannya. Tuhanku, jadikan angin ini sebagai rahmat. Jangan jadikan ia sebagai azab. Tuhanku, jadikan angin ini sebagai angin baik, bukan angin yang membawa akibat negatif.”

    Saat angin terlalu kencang dan diiringi dengan hujan lebat, bisa amalkan doa yang dikutip dari buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan oleh Ali Akbar bin Aqil, berikut doanya:

    Arab latin: Allohuma laqhan laa aqiiman, allohummaj’alhaa rahmatan wa laa taj’alhaa adzaaban, allohummaj’alhaa riyaahan wa laa taj’alhaa riihan.

    Artinya: Ya Allah, jadikanlah angin ini pembawa hujan, bukan angin yang kosong dan tiada membawa kebaikan. Ya Allah, jadikanlah ia sebagai rahmat dan jangan Engkau jadikan sebagai azab. Ya Allah, jadikanlah ia riyah (angin yang membawa kebajikan), dan jangan Engkau jadikan dia riih (angin yang membawa keburukan).”

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Hadits Tentang Anjuran Mengingat Kematian



    Jakarta

    Dalam Islam, kematian dianggap sebagai bagian alamiah dari kehidupan manusia, dan pemahaman yang mendalam tentang kematian memiliki dampak yang mendalam pada cara seseorang menjalani hidup, berinteraksi dengan sesama, dan berhubungan dengan Allah SWT.

    Islam menganjurkan setiap muslim untuk selalu mengingat kematian yang ditulis dalam dalil.

    Allah SWT telah berfirman dalam surah Al Jumu’ah ayat 8,


    قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ ٨

    Artinya: “Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu. Kamu kemudian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

    Hadits tentang Mengingat Kematian

    1. Hadits Riwayat Athabrani

    Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi SAW lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan pebanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.”

    2. Hadits Riwayat Ibnu Majah, Thabrani, dan Haitsamiy

    Salah satu laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” “Mukmin manakah yang paling cerdas?”, tanya lelaki itu. Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.”

    3. Hadits Riwayat At-Tirmidzi

    Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kenikmatan.” Maksudnya adalah kematian.

    4. Hadits Riwayat Bukhari

    “Rasulullah SAW menepuk kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang asing atau orang yang singgah dalam perjalanan.’” Ibnu Umar berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi. Dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore. Ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk masa sakitmu, dan sewaktu engkau hidup untuk matimu.”

    5. Hadits Riwayat Muslim

    Rasulullah SAW bersabda, “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, tetapi sekarang berziarah kuburlah!”

    Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsapa hendak berziarah kubur, maka silahkan ia berziarah. Sebab, ziarah kubur itu dapat mengingatkannya pada akhirat.”

    6. Hadits Riwayat Al Qurthubi

    Rasulullah SAW bersabda, “Kalau seandainya binatang ternak itu mengetahui apa yang kalian ketahui tentang kematian maka kalian tidak akan pernah makan dari binatang itu sekalipun lemaknya.”

    7. Hadits Riwayat Al Baihaqi

    Rasulullah SAW bersabda, ingatlah kalan akan kematian, sungguh demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya. Kalau seandainya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui tentang kematian itu niscaya kalian akan sedikit saja tertawa dan akan lebih banyak menangis.”

    8. Hadits Riwayat Al Haitsami

    Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah kematian itu menjadi peringatan bagi seorang hamba.”

    9. Hadits Riwayat Al Hakim

    “Penghargaan orang mu’min itu adalah kematian.”

    10. Hadits Riwayat As Syaukani

    Aisyah RA bertanya kepada Rasuullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah kelak pada hari kiamat kami akan dikumpulkan dengan para syuhada?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, yaitu orang-orang yang mengingat kematian dalam sehari-semalam sebanyak dua puluh kali.”

    Keutamaan Mengingat Kematian

    Dikutip dari buku Mawas diri, Muhasabah, Tafakkur dan Mengingat Mati: Seri Ringkasan Ihya’ Ulumuddin karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, dengan seorang muslim akan mendapatkan beberapa keutamaan berikut jika mengingat akan kematian:

    • Akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang serba menipu
    • Akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    • Mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiyaan dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk kematian
    • Mengingat kematian akan membantu seorang muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menjauhi larangan Allah SWT.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Rukun Islam dan Tiangnya yang Agung


    Jakarta

    Ulama besar ahli hadits dari mazhab Syafi’i, Imam an-Nawawi, menyusun 42 hadits shahih yang dikenal dengan hadits arbain. Ia menukil riwayat tentang rukun Islam pada hadits arbain 3.

    عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاةَ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

    Artinya: Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada tuhans elain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah dan berpuasa pada bulan Ramadan.”

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya di kitab Iman.


    Menurut Musthafa Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu dalam kitab Syarah Hadits Arbain Imam an-Nawawi, Al Wafi, hadits arbain ke-3 tersebut merupakan hadits yang agung sekali. Dikatakan, rukun Islam merupakan salah satu pilar Islam dan pokok-pokok hukum karena melalui hadits tersebut seluruh ajaran Islam akan diketahui. Kelima rukun Islam dalam hadits tersebut telah termuat dalam Al-Qur’an.

    Pemahaman Hadits Arbain 3

    Dalam memahami hadits tentang rukun Islam ini, Musthafa Al-Bugha dan Muhyiddin Mistu membaginya ke dalam lima pokok pembahasan.

    Pertama, bangunan Islam. Melalui hadits tersebut, Rasulullah SAW mengibaratkan Islam sebagai sebuah bangunan kokoh yang berdiri di atas pondasi yang kokoh. Pondasi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

    1. Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,

    “Saya diutus untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam riwayat lain, Nabi SAW juga bersabda,

    “Barang siapa yang mengatakan Laa ilaha illallah dengan penuh keikhlasan, dia akan masuk surga.” (HR Al-Bazar, shahih)

    2. Mendirikan salat. Maksud mendirikan salat, seperti dijelaskan dalam kitab Syarah Hadits Arbain adalah mengerjakan pada waktunya, menunaikan dengan menyempurnakan syarat dan rukunnya, dan memperhatikan sunnah dan adabnya. Dengan demikian, salat yang dikerjakan tersebut dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana Allah SWT berfirman,

    وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ

    Artinya: “Dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al Ankabut: 45)

    Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya menyebut bahwa salat merupakan tanda seorang mukmin. Beliau bersabda,

    “Pembeda antara seorang laki-laki dengan syirik dan kufur adalah meninggalkan salat.” (HR Muslim dan lainnya)

    Dalam hadits hasan yang diriwayatkan Abu Nu’aim, Rasulullah SAW bersabda bahwa salat adalah tiang agama.

    3. Mengeluarkan zakat. Zakat ini adalah jumlah tertentu dari harta yang dimiliki bagi orang yang memenuhi syarat wajib zakat. Zakat disalurkan kepada faris miskin dan penerima zakat lainnya.

    Lebih lanjut dijelaskan, zakat merupakan ibadah harta untuk mewujudkan keadilan sosial dan mengentaskan kemiskinan. Zakat juga bisa menjadi sarana dalam menyebarkan kasih sayang, solidaritas, dan rasa saling menghormati antar sesama.

    4. Haji. Menunaikan haji dilakukan dengan pergi ke Masjidil Haram pada bulan-bulan haji, yakni mulai Syawal, Zulkaidah, dan puncaknya pada 10 Zulhijah. Perintah haji disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al Hajj ayat 27-28, Allah SWT berfirman,

    وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ ٢٧ لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ ٢٨

    Artinya: “(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan497) atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.”

    5. Puasa Ramadan. Ibadah ini diwajibkan pada tahun kedua Hijriah melalui firman-Nya,

    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٨٥

    Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS Al Baqarah: 185)

    Puasa disebut sebagai ibadah untuk menyucikan jiwa, meninggikan roh, dan menyehatkan badan. Amalan ini juga dapat menjadi salah satu pengampun dosa, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

    “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

    Selain bangunan Islam, hadits arbain 3 ini mengandung empat pokok kandungan lainnya. Di antaranya keterpaduan rukun-rukun Islam satu sama lainnya, tujuan ibadah, cabang iman, dan memberi pengertian bahwa Islam adalah akidah dan amal. Demikian seperti dijelaskan dalam kitab Al Wafi.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Manusia Terbaik Menurut Rasulullah yang Disebut dalam Hadits Shahih



    Jakarta

    Rasulullah SAW pernah menyebut mengenai sosok manusia terbaik di antara manusia lainnya. Hal ini berkaitan dengan perangai orang itu.

    Sosok manusia terbaik ini diceritakan ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash dalam hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim masing-masing dalam kitab Shahih-nya. Menurut hadits ini, manusia terbaik di antara manusia lainnya adalah yang paling baik akhlaknya.

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِشًا ، وَكَانَ يَقُولُ : إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا


    Artinya: ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengatakan, “Rasulullah SAW bukanlah orang yang bertutur kata/bersikap keji dan juga tidak membiasakan dirinya untuk bertutur kata/bersikap keji. Dahulu beliau sering bersabda, ‘Sejatinya orang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.’”

    Dalam kitab Al-Wafi fi Syahril Arba’in an-Nawawiyah karya Musthafa Dieb al-Bugha dan Muhyiddin Mistu juga terdapat riwayat serupa yang dikeluarkan para penyusun kitab Sunan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Ahmad)

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang-orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud)

    Menurut hadits lain, orang yang paling baik akhlaknya kelak akan menjadi orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW pada hari kiamat. Beliau SAW bersabda,

    “Maukah aku beritahukan kepada kalian apa yang paling dicintai Allah dan paling dekat denganku tempatnya kelak pada hari kiamat?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR Ibnu Hibban)

    Imam Bukhari dalam kitab Adab, Hakim, dan Baihaqi meriwayatkan hadits yang menerangkan bahwa Allah SWT mengutus Rasulullah SAW sebagai penyempurna akhlak baik. Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya, saya diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak baik.”

    Cara Meraih Akhlak Terpuji

    Penulis kitab Al Wafi mengatakan bahwa akhlak merupakan dasar tegaknya peradaban manusia. Akhlak dalam hal ini merupakan perkara berharga bagi kehidupan suatu bangsa dan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

    Lebih lanjut dijelaskan, setiap muslim bisa meraih akhlak terpuji dan Rasulullah SAW telah memerintahkannya. Al-Hakim dan lainnya meriwayatkan hadits dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perbaguslah akhlakmu terhadap orang lain.” Redaksi lain berbunyi, “Hendaklah kamu memperbagus akhlakmu sebisa mungkin.”

    Berikut dua cara untuk meraih akhlak terpuji sebagaimana disebutkan dalam kitab tersebut.

    1. Meneladani akhlak terpuji Rasulullah SAW. Dalam surah Al Ahzab ayat 21 Allah SWT telah berfirman,

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١

    Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

    Allah SWT juga menyifati akhlak Rasulullah SAW dalam firman-Nya,

    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ٤

    Artinya: “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al Qalam: 4)

    2. Bergaul dengan orang-orang bertakwa dan para ulama yang berakhlak mulia. Sebagaimana Allah SWT berfirman,

    وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا ٢٨

    Artinya: “Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.” (QS Al Kahfi: 28)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Larangan Mengumumkan Barang Hilang & Melakukan Transaksi Jual Beli di Masjid



    Jakarta

    Masjid adalah tempat yang suci, tempat orang-orang muslim beribadah. Ada hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang larangan mengumumkan dan mencari barang hilang di masjid.

    Mengutip buku Al-Adzkar: Doa dan Dzikir dalam Al-Qur’an dan Sunnah oleh Imam Nawawi disebutkan beberapa hadits tentang mencari barang hilang di masjid.

    Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,


    “Barangsiapa mendengar seseorang mencari barang yang hilang di masjid, maka hendaklah dia mengatakan, ‘Allah tidak mengembalikannya kepadamu,” karena sesungguhnya masjid-masjid itu tidak dibangun untuk tujuan ini.”

    Dalam hadits lain yang diriwayatkan Muslim, dari Buraidah, dia mengatakan, “Ada seorang lelaki mencari sesuatu di masjid seraya bertanya, “Siapa yang dapat mengembalikan onta merah kepadaku?” Mendengar pertanyaan orang tersebut, maka Rasulullah SAW berkata, “Kamu tidak akan menemukannya. Sesungguhnya masjid-masjid itu dibangun sesuai dengan tujuannya.”

    Hadits ini ini menunjukkan adanya larangan mencari, mengumumkan dan menanyakan barang yang hilang di masjid.

    Ketika ada orang yang mengumumkan dirinya kehilangan barang di masjid, maka orang-orang yang mendengar dianjurkan untuk mengatakan sesuai yang diajarkan Rasulullah SAW, “Semoga Allah tidak mengembalikan barang itu kepadamu, karena masjid dibangun bukan untuk kepentingan seperti itu” atau “Semoga engkau tidak mendapatkan kembali barang itu, karena masjid dibangun untuk kepentingan sebagaimana mestinya.”

    Lantas bagaimana jika menemukan barang di masjid?

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim, “Rasulullah SAW ditanya mengenai luqathah (barang temuan) emas dan perak. Beliau lalu menjawab, “Kenalilah pengikat dan kemasannya, kemudian umumkan selama setahun. Jika kamu tidak mengetahui (pemiliknya), gunakanlah dan hendaklah menjadi barang titipan padamu. Jika suatu hari nanti orang yang mencarinya datang, berikan kepadanya.”

    Melansir laman NU Online, hadits tersebut dijelaskan bahwa apabila menemukan barang temuan maka hendaknya diumumkan selama satu tahun. Pengumuman ini bisa memanfaatkan kertas yang disematkan di area masjid, bukan mengumumkan melalui pengeras suara.

    Jika selama satu tahun ternyata pemiliknya masih tidak diketahui, maka halal bagi orang yang menemukan barang ini untuk bersedekah dengan barang tersebut atau memanfaatkan sendiri baik dia orang kaya atau miskin.

    Perlu dipahami bahwa status barang temuan yang harus diumumkan selama satu tahun tersebut berlaku untuk barang yang dapat bertahan lama, seperti dompet, uang, motor, dan sebagainya. Namun jika barang temuan tersebut sejenis makanan yang tidak bisa bertahan lama, maka yang mengambil atau memungut boleh memilih antara mempergunakan barang itu, asal dia sanggup menggantinya apabila bertemu dengan yang punya barang, atau ia jual, uangnya hendaknya dia simpan agar kelak dapat diberikannya kepada yang punya.

    Hadits Larangan Jual-Beli di Masjid

    Ada juga hadits yang menjelaskan tentang larangan melakukan transaksi jual beli di dalam masjid. Termasuk juga di dalamnya larangan melakukan akad dan transaksi sewa-menyewa.

    Dalam Kitab At-Tirmidzi, dalam akhir pembahasan Kitab Al-Buyu, dari Abu Hurairah, dia mengatakan, Rasulullah bersabda,
    “Apabila kalian melihat orang yang melakukan transaksi jual beli di masjid, maka katakanlah, Allah tidak akan memberikan keuntungan kepadamu.’ Apabila kalian melihat orang yang mencari sesuatu yang hilang di dalamnya, maka katakanlah, Allah tidak akan mengembalikannya kepadamu.”

    Dalam buku Shalatul Mu’min: Bab Shalat Berjama’ah Oleh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, dijelaskan bahwa melakukan transaksi jual beli di masjid hukumnya haram.

    Hadits ini menunjukkan haramnya transaksi jual-beli di masjid. Oleh karena itu, siapa yang melihat orang berjual-beli di masjid, sebaiknya mengatakan dengan tegas kepada penjual dan pembelinya: “Semoga Allah tidak memberikan keuntungan terhadap jual belimu ini”, ucapan ini sebagai teguran dalam bentuk doa.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Takdir yang Ditetapkan ketika Manusia dalam Kandungan



    Jakarta

    Allah SWT telah menetapkan takdir setiap makhluk-Nya tak terkecuali manusia. Ada empat jenis takdir yang ditulis saat manusia dalam kandungan ibunya.

    Penulisan takdir secara keseluruhan dilakukan dalam empat waktu. Disebutkan dalam Al-Khurasaniyyah Fi Syarhi ‘Aqidah Ar-Raziyyaini karya Syaikh Abdul Aziz Marzuq Ath-Tharifi, pertama, sejak sebelum penciptaan langit dan bumi atau biasa disebut takdir azali. Takdir ini mencakup takdir seluruh makhluk dan kejadian hingga hari kiamat. Ini tertulis di Lauhul Mahfudz.

    Kedua, ketika pengambilan janji. Ketiga, ketika pembentukan nutfah (mani). Keempat ketika malam Lailatul Qadar atau biasa disebut takdir tahunan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Syifa’ul ‘Alil Fi Masa’ilil Qadha Wal Qadar menyebutkan satu lagi, yakni takdir harian.


    Takdir yang Ditetapkan ketika dalam Kandungan

    Dalam kitab Hadits Arbain karya Imam an-Nawawi, terdapat sebuah hadits yang menyebutkan empat jenis takdir yang ditulis ketika manusia masih berbentuk janin. Empat jenis takdir yang ditetapkan ketika manusia dalam kandungan adalah rezekinya, amalnya, ajalnya, dan apakah ia termasuk orang yang bahagia atau sengsara.

    Hadits ini diriwayatkan dari Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud RA. Dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah menceritakan,

    إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقَهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

    فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

    Artinya: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud nutfah (mani), kemudian menjadi ‘alaqah (gumpalan darah) selama itu juga, kemudian menjadi mudghah (gumpalan daging) selama itu juga. Kemudian diutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan roh kepadanya, dan dia (malaikat tadi) diperintahkan menulis 4 kalimat (perkara): tentang rezekinya, amalannya, ajalnya dan (apakah) dia termasuk orang yang sengsara atau bahagia.

    Demi Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta. Namun dia didahului oleh al kitab (catatan takdirnya) sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka dia pun masuk ke dalamnya. Dan sungguh, salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka jika jarak antara dia dengan neraka tinggal satu hasta. Namun dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Dijauhkan dari Orang Zalim, Tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadits



    Jakarta

    Ketika merasa terzalimi, umat muslim bisa membaca doa agar mendapatkan perlindungan Allah SWT. Doa agar dilindungi dari perbuatan zalim bisa dibaca setiap waktu.

    Dalam Islam, zalim merupakan perilaku tercela yang harus dihindari oleh setiap muslim. Perbuatan zalim dapat merugikan pelakunya dalam kehidupan dunia ataupun akhirat.

    Dalam Al-Qur’an surat Asy-Syura ayat 42, Allah SWT berfirman bahwa perbuatan zalim akan mengundang azab yang pedih.


    إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    Artinya: Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.

    Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang menjumpai orang-orang yang berlaku zalim. Hal ini terkadang tidak bisa dihindari namun sebagai umat muslim bisa membaca doa agar senantiasa dilindungi dan dijauhi dari perbuatan zalim.

    Doa Dijauhkan dari Orang Zalim

    Mengutip buku Doa Ajaran Ilahi oleh Anis Masykhur, berikut doa yang bisa dibaca saat memohon dijauhkan dan meminta perlindungan dari orang zalim:

    1. Surat Al-A’raf Ayat 47

    ۞ وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

    Arab-Latin: Wa iżā ṣurifat abṣāruhum tilqā`a aṣ-ḥābin-nāri qālụ rabbanā lā taj’alnā ma’al-qaumiẓ-ẓālimīn

    Artinya: Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu”.

    2. Surat Al-Mu’minun Ayat 94

    رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِى فِى ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

    Arab-Latin: Rabbi fa lā taj’alnī fil-qaumiẓ-ẓālimīn

    Artinya: Ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim”.

    3. Surat Al-Qashash Ayat 21

    فَخَرَجَ مِنْهَا خَآئِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِى مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

    Arab-Latin: Fa kharaja min-hā khā`ifay yataraqqabu qāla rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn

    Artinya: Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

    Doa ini dibaca oleh Nabi Musa ketika dikejar oleh Fir’aun, pemimpin yang zalim.

    4. Doa Rasulullah SAW

    Dalam satu hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW berdoa agar dilindungi dari pemimpin yang zalim:

    اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ هَذِهِ أُمَّتِي شَيْئاً فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ. وَمَنْ شَقَّ عَلَيْهَا فَاشْفُقْ عَلَيْهِ. رواه مسلم

    Artinya: “Ya Allah, siapa saja yang memimpin (mengurus) urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah dia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia”. (HR. Muslim No 1828)

    Jenis Zalim

    Mengutip buku Al-Qur’an Hadis Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh H Aminudin dan Harjan Syuhada, dijelaskan perbuatan zalim terdiri dari beberapa macam.

    1. Zalim sebagai kemungkaran

    Menurut ajaran Islam, tindakan aniaya (zalim) sebagai perbuatan dosa harus ditinggalkan karena dapat merusak kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Tindakan aniaya digolongkan sebagai perbuatan yang menyesatkan dan menyengsarakan.

    Orang-orang musyrik pun oleh Al-Qur’an dianggap melakukan kezaliman karena sesungguhnya segala perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran akan membawa kemudaratan.

    2. Kezaliman terhadap Allah (syirik)

    Syirik merupakan pandangan dan kepercayaan yang mengingkari bahwa Tuhan adalah Maha Esa dan Maha Kuasa. Jika tidak Maha Esa, maka berarti ada lebih dari satu Tuhan atau Tuhan itu lemah. Artinya, Tuhan yang lain tentu berasal dari kalangan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, termasuk sesama manusia.

    Manusia musyrik itu mengangkat dan mengagungkan sesama alam atau sesama manusia melebihi posisi atau derajat yang semestinya sebagai makhluk biasa. Apabila orang memandang bahwa Tuhan tidak kuasa serta memerlukan pembantu-pembantu yang harus disembah, maka hal ini merupakan kezaliman. Perilaku syirik tidak akan diampuni oleh Allah SWT.

    3. Kezaliman terhadap diri sendiri

    Perilaku dosa sekecil apa pun merupakan kezaliman yang harus ditinggalkan. Walaupun dalam kenyataannya manusia memang tidak mungkin bebas sama sekali dari kesalahan. Sebagaimana ungkapan dari bahasa Arab al-insān mahallul-khata wan-nisyān (manusia adalah tempat keliru dan lupa).

    Oleh karena itu, seorang muslim harus selalu beristigfar dan berdoa agar Allah mengampuni segala perbuatan yang dilakukan akibat lupa atau alpa yang menjadi tabiat manusia.

    4. Kezaliman terhadap sesama manusia

    Kezaliman antar sesama manusia akan berdampak rusaknya seluruh masyarakat. Oleh karena itu, setiap orang berkewajiban mencegah kezaliman di masyarakat.

    Seorang yang zalim biasanya senantiasa bersikap kasar, bermusuhan dan suka menyakiti perasaan orang lain karena tabiat buruk yang dimilikinya.

    Seorang yang zalim akan suka mengumbar lidah dengan bergunjing, namimah, dan memfitnah. Mereka selalu mengabaikan kepercayaan yang diberikan kepadanya dan menyampaikan pesan kebatilan. Selain itu, mereka mengarahkan untuk mengabaikan nilai-nilai moral sebab dengan cara itu orang zalim mendapatkan kesenangan dan kepuasan.

    (dvs/nwk)



    Sumber : www.detik.com