Tag: hadits

  • 8 Hadits tentang Tetangga, Anjuran Berbuat Baik dengan Orang Terdekat


    Jakarta

    Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang pentingnya berbuat baik dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan tetangga. Tetangga adalah orang-orang terdekat yang tinggal di sekitar kita, Islam mengajarkan untuk berhubungan baik dengan tetangga.

    Perintah untuk berbuat dan bersikap baik diturunkan langsung oleh Allah SWT dalam surat Al Isra ayat 7. Allah SWT berfirman:

    اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرً


    Artinya: Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai.

    Hadits Tentang Tetangga

    Rasulullah SAW dalam beberapa hadits menjelaskan tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Berikut hadits tentang tetangga yang wajib diketahui oleh muslim.

    1. Larangan mengganggu tetangga

    Dikutip dari Syarah Bulughul Maram karya Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, berikut merupakan hadits tentang tetangga,

    Rasulullah SAW bersabda,

    لَا يَمْنَعْ حَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ حَشَبَةٌ فِي حِدَارِهِ، ثُمَّ يَقُولُ أَبو هُرَيْرَةَ : مَا لِي أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَاللَّهِ لِأَرْمِينَ بِهَا بَيْنَ أَكْتَافِكُمْ

    “Janganlah seorang tetangga melarang tetangganya yang lain untuk menancapkan kayu di tembokknya.” Lalu Abu Hurairah berkata, “Mengapa aku melihat kalian berpaling? Demi Allah aku akan melemparkan kayu tersebut pada panggung-panggung mereka.”” (HR Muttafaq ‘Alaih)

    2. Anjuran berbuat baik pada tetangga

    Dikutip dari buku Shahih Bukhari Muslim karya Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, hadits tentang tetangga yaitu:

    Aisyah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    مَا زَالَ يُوصِيني جِبْرِيلُ بِالجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّتُهُ

    “Jibril selalu berpesan padaku supaya berbuat baik pada tetangga, sehingga aku menyangka kemungkinan akan diberi hak waris.”” (HR Bukhari)

    Dalam hadits lain, Ibnu Umar RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُورثه

    “Jibril selalu berwasiat kepadaku agar berlaku baik pada tetangga sehingga aku kira kemungkinan akan diberi hak waris.” (HR Bukhari)

    3. Kebaikan yang diganjar surga

    Dikutip dari buku Fiqih Bertetangga karya Fathiy Syamsuddin Ramadlan an-Nawiy, hadits tentang tetangga yaitu:

    Rasulullah SAW bersabda,

    لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بِوَائِقِهِ

    “Tidak akan masuk ke dalam surga siapa saja yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Imam Bukhari)

    4. Memuliakan tetangga

    Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ واليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ، وَمَنْ كانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا ، أَوْ لِيَصْمُتْ

    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia menghormati tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berbicara yang baik atau lebih baik diam.” (HR Imam Bukhari)

    5. Selalu berbagi dengan tetangga

    Rasulullah SAW bersabda,

    وَإِذَا صَنَعْتَ مَرَقَةٌ فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهُ بِمَعْرُوفٍ

    “Jika engkau memasak, perbanyaklah kuahnya, lalu perhatikan penghuni rumah dari tetanggamu, dan berikanlah kepadanya dengan cara yang baik.” (HR Imam Bukhari)

    6. Tanda beriman kepada Allah SWT

    Rasulullah SAW bersabda,

    وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

    “Sungguh tidak beriman kepada Allah (3X).” Para shahabat bertanya, “Siapakah orang tersebut ya Rasulullah? Rasulullah SAW. menjawab, “Orang yang tetangganya tidak pernah selamat dari gangguannya.” (HR. Imam Bukhari)

    7. Saling menjaga dengan tetangga

    الرابعة قوله تعالى: (وَالْجارِ ذِي الْقُرْبى وَالْجارِ الْجُنُبِ أما الحجار فقد أمر الله تعالى بحفظه والقيام بحقه والوصاة برعي ذمته في كتابه وعلى لسان نبيه.

    “Keempat; Firman Allah SWT. [wa al-jâr dziy al-qurbay wa al-jâr al- junub]. Adapun tetangga, Allah SWT. telah memerintahkan untuk menjaganya, menunaikan haknya, dan Dia juga telah berwasiat untuk memelihara dzimmahnya di dalam KitabNya dan di atas lisan NabiNya”. (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, Surat An Nisaa: 36)

    8. Menghargai tetangga

    Rasulullah SAW pernah bersabda:

    عن أبي هُرَيْرَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ قالَ: كَانَ النَّبِيُّ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ يَقُوْلُ: يَا نِسَاءَ المُسْلِمَاتِ لا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ. رواه البخاري ومسلم

    Artinya, “Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Wahai perempuan-perempuan muslimah, janganlah seorang tetangga yang meremehkan hadiah tetangganya meskipun berupa ujung kaki kambing.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Kriteria Pemimpin yang Ideal Menurut Rasulullah SAW



    Jakarta

    Kriteria pemimpin ideal pernah dijelaskan Rasulullah SAW dalam beberapa hadits. Tentu sebagai umat Islam, harus mengikuti kriteria tersebut agar bisa menjadi pemimpin yang adil serta bertanggung jawab.

    Dalam ajaran Islam, pemimpin terbaik sepanjang masa tentu saja Rasulullah SAW. Beliau menjadi suri tauladan dan sosok panutan dalam memimpin umat.

    Melalui Al-Qur’an, Allah SWT berfirman tentang perintah menaati Ulil Amri atau pemimpin. Sebagaimana termaktub dalam surat An-Nisa Ayat 59,


    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

    Mengutip buku Al-Ahkam As-Sulthaniyyah: Hukum-Hukum Penyelenggaraan Negara dalam Syariat Islam oleh Imam Al Mawardi dijelaskan bahwa pada ayat di atas, Allah SWT mewajibkan umat Islam mentaati ulil amri di antara kita dan ulil amri yang dimaksud adalah para imam (khalifah) atau pemimpin yang memerintah.

    Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari Abu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
    “Sepeninggalku akan datang kepada kalian pemimpin-pemimpin, kemudian akan datang kepada kalian pemimpin yang baik dengan membawa kebaikannya, kemudian akan datang kepada kalian pemimpin jahat dengan membawa kejahatannya. Maka dengarkan mereka, dan taatilah apa saja yang sesuai dengan kebenaran. Jika mereka berbuat baik, maka kebaikan tersebut untuk kalian dan mereka, dan jika berbuat jahat, maka kalian mendapat pahala dan mereka mendapat dosa.”

    Setiap calon pemimpin diperbolehkan untuk berusaha dan berkompetisi memperebutkan posisi sebagai pemimpin. Jumhur ulama dan fuqaha’ berpendapat, bahwa memperebutkan jabatan imamah (kepemimpinan) bukan merupakan sesuatu yang tercela dan terlarang.

    Pemimpin yang Ideal Menurut Rasulullah SAW

    Pemimpin ideal dalam sejarah Islam adalah Nabi Muhammad SAW. Dalam masa kepimpinannya, Rasulullah SAW memiliki beberapa sifat yakni siddiq (jujur), amanah (dipercaya) dan fathanah (cerdas). Sifat ini dapat menjadi landasan kriteria pemimpin yang baik.

    1. Pemimpin yang Jujur

    Rasulullah SAW pernah menegaskan salah satu sahabatnya untuk tidak meminta jabatan, ucapan ini terekam dalam hadis riwayat al-Bukhari:

    عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ

    Artinya: “Dari Abdurrahman bin Samurah, beliau mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan dengan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong, dan jika kamu diberinya karena meminta, maka kamu akan ditelantarkan, dan jika kamu bersumpah, lantas kamu lihat ada suatu yang lebih baik, maka bayarlah kafarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih baik.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari).

    Melansir laman NU Online, al-Wallawi dalam Dzahirah al-‘Uqba berpendapat, “Makna hadits tersebut adalah siapa pun yang meminta kepemimpinan dan dikabulkan, maka Allah akan menghilangkan pertolongan karena kerakusannya. Adapun lafaz hadits [Dan jika kamu diberikan kepemimpinan tanpa diminta, maka kamu akan mendapatkan pertolongan], maksudnya adalah Allah SWT akan menolongmu dan mengilhamimu dengan kebenaran, sehingga kamu dapat bahagia di dunia dan akhirat.” (Muhammad ibn ‘Ali al-Wallawi, Dazhirah al-‘Uqba fi syarh Sunan al-Nasa’i al-Mujtaba, Dar al-Mi’raj al-Dauliyah, juz 39, halaman 235)

    2. Pemimpin yang Amanah

    Seorang pemimpin haruslah bersikap amanah dan tidak curang. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pemimpin yang curang tidak Allah masukkan ke dalam surga.

    ماَ مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ، وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

    Artinya: “Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

    3. Pemimpin yang Bertanggung Jawab

    Sifat bertanggung jawab merupakan sifat mendasar yang harus ada pada seorang pemimpin. Sifat amanah dan bertanggung jawab ini akan berpengaruh pada putusan yang diambilnya.

    Rasulullah SAW bersabda,

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

    Artinya: “Dari ‘Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah setiap dari kalian adalah seorang pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin orang banyak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan isteri pemimpin terhadap keluarga suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, budak juga seorang pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”

    4. Pemimpin yang Ahli dan Cerdas

    Seorang pemimpin haruslah orang yang ahli dan cerdas. Keahlian ini meliputi berbagai hal, termasuk menata kewarganegaraan yang akan membawa negara dan rakyat pada kestabilan di berbagai bidang, baik kemananan, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

    Memberikan kepercayaan kepada yang bukan ahlinya merupakan suatu tanda kehancuran, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda:

    فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظَرْ السَّاعَةَ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

    Artinya: “Apabila sifat Amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu bertanya, “Bagaimana hilangnya amanah itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat”. (Hadis riwayat Imam al-Bukhari).

    5. Pemimpin yang Mencintai dan Dicintai Rakyat

    Kemudian kriteria pemimpin selanjutnya yaitu yang dicintai dan mencintai rakyatnya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

    خِيارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ ويُحِبُّونَكُمْ، ويُصَلُّونَ علَيْكُم وتُصَلُّونَ عليهم، وشِرارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ويُبْغِضُونَكُمْ، وتَلْعَنُونَهُمْ ويَلْعَنُونَكُمْ

    Artinya: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Hadits riwayat Imam Muslim).

    Demikian 5 kriteria pemimpin ideal menurut Rasulullah SAW. Semoga para pemimpin memiliki tanggung jawab dalam mengemban amanah.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Dalil Mengangkat Tangan saat Berdoa, Anjuran Rasulullah atau Bukan?



    Jakarta

    Hampir seluruh umat muslim di Indonesia mengangkat dan menengadahkan tangan ketika berdoa. Ini menjadi salah satu gerakan yang khas saat berdoa.

    Dalam Al-Qur’an tidak ada dalil ataupun perintah mengangkat tangan ketika berdoa, namun Rasulullah SAW semasa hidup pernah melakukan hal ini saat memanjatkan doa kepada Allah SWT.

    Meskipun bukan syariat, namun mengangkat tangan saat berdoa juga bukanlah sebuah larangan dalam ajaran Islam.


    Mengutip buku Kumpulan Tanya Jawab Islam Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam dijelaskan, ulama-ulama pakar dari berbagai madzhab yakni Hanafi, Maliki , Syafi dan lain sebagainya, selalu mengangkat tangan waktu berdoa. Hal ini termasuk adab atau tata tertib cara berdoa kepada Allah SWT.

    Dalil Mengangkat Tangan saat Berdoa

    1. Rasulullah SAW mengangkat tangan dan berdoa

    Dalam kitab Riyadus Shalihin jilid 2 oleh H. Salim Bahreisj disebutkan beberapa hadits riwayat yang menjelaskan hal ini.

    Sa’ad bin Abi Waqash ra. berkata, “Kami bersama Rasulullah SAW keluar dari Makkah menuju ke Madinah, dan ketika kami telah mendekati Azwara, tiba-tiba Rasulullah SAW turun dari kendaraannya, kemudian mengangkat kedua tangan berdoa sejenak lalu sujud lama sekali, kemudian bangun mengangkat kedua tangannya berdoa, kemudian sujud kembali, diulanginya perbuatan itu tiga kali. Kemudian berkata:

    “Sesungguhnya saya minta kepada Tuhan supaya diizinkan memberikan syafa’at (bantuan) bagi umat ku, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku, kemudian saya mengangkat kepala dan minta pula kepada Tuhan dan diperkenankan untuk sepertiga, maka saya sujud syukur kepada Tuhan, kemudian saya mengangkat kepala berdoa
    minta untuk umatku, maka diterima oleh Tuhan, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku.” (HR.Abu Dawud).

    Dalam hadits ini menerangkan bahwa Rasulullah SAW tiga kali berdoa sambil mengangkat tangannya setiap berdoa, dengan demikian berdoa sambil mengangkat tangan adalah termasuk sunnah Rasulullah SAW

    2. Mengangkat tangan setinggi bahu

    Dalam Kitab Fiqih Sunnah Sayid Sabiq jilid 4 dijelaskan sebuah hadits berdasarkan riwayat Abu Daud dari Ibnu Abbas ra.,
    “Jika kamu meminta (berdoa kepada Allah SWT) hendaklah dengan mengangkat kedua tanganmu setentang kedua bahumu atau kira-kira setentangnya, dan jika istighfar (mohon ampunan) ialah dengan menunjuk dengan sebuah jari, dan jika berdoa dengan melepas semua jari-jemari tangan”.

    Melalui hadits ini, kita diberi tahu sampai dimana batas sunnahnya mengangkat tangan saat berdoa, dan waktu mengangkat tangan tersebut disunnahkan dengan menunjuk sebuah jari waktu mohon ampunan, melepas semua jari-jari tangan (membuka telapak tangannya) waktu berdo’a selain istighfar.

    3. Mengangkat tangan dengan bagian telapak terbuka

    Diriwayatkan dari Malik bin Yasar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu meminta(berdoa kepada Allah), maka mintalah dengan bagian dalam telapak tanganmu, jangan dengan punggungnya.”

    Dalam hadits lain, dari Saman, sabda Rasulullah SAW,

    “Sesungguhnya Tuhanmu yang Mahaberkah dan Mahatinggi adalah Mahahidup lagi Mahamurah, ia merasa malu terhadap hamba-Nya jika ia menadahkan tangan (untuk berdoa) kepada-Nya, akan menolaknya dengan tangan hampa”

    Hadits ini menjelaskan bahwa Allah SWT tidak akan menolak doa hamba-Nya waktu berdo’a sambil menadahkan tangan kepadaNya, dengan demikian doa kita akan lebih besar harapan dikabulkan.

    4. Rasulullah SAW mengangkat tangan sampai terlihat ketiak

    Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik menuturkan,
    “Aku pernah melihat Rasulullah SAW mengangkat dua tangan ke atas saat berdoa sehingga tampak warna keputih-putihan pada ketiak beliau.”

    5. Rasulullah SAW mengangkat tangan saat berdoa usai sholat istisqa

    Dalam buku Fiqih Kontroversi Jilid 1: Beribadah antara Sunnah dan Bid’ah oleh H. M. Anshary, disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas yang menerangkan bahwa ada seorang Arab pedesaan yang datang kepada Rasulullah SAW dan menyampaikan bahwa banyak
    hewan yang mati dan orang-orang mengalami kesulitan karena kekeringan, lama tidak turun hujan.

    Kemudian Rasulullah SAW berdoa dengan mengangkat tangan dan orang-orang juga berdoa dengan mengangkat tangan untuk memohon hujan bersama Rasulullah SAW. Menurut Anas bahwa tidak lama setelah itu turunlah hujan.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Dalil Anjuran Sholat Gerhana Beserta Tata Cara Melakukannya



    Jakarta

    Beberapa dalil tentang anjuran sholat gerhana telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Umat Islam disunahkan untuk melakukan sholat dua rakaat untuk mengingat kebesaran Allah SWT.

    Gerhana adalah sebuah fenomena alam di mana cahaya matahari atau bulan tidak sepenuhnya terpancar sampai ke bumi. Akibatnya, bumi menjadi gelap untuk sementara waktu.

    Di saat seperti ini, Rasulullah SAW mengajarkan pada umat Islam untuk mendirikan sholat sunnah dua rakaat sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT yang sudah menciptakan langit seisinya.


    Dalil Anjuran Sholat Gerhana

    Perintah untuk melakukan sholat sunah ini dirangkum dalam berbagai buku. Berikut adalah dalil anjuran sholat gerhana yang bisa detikHikmah sampaikan.

    Dinukil dari buku Bulughul Maram: Panduan Lengkap Masalah Fiqih, Akhlak, dan Keutamaan Amal karya Ibn Hajar Al-Asqalani, Al-Mughirah ibn Syu’bah RA pernah berkata bahwasanya,

    الْكَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ النَّاسُ : اِنْكَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيْمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوْا حَتَّى تَنْكَشِفَ

    Artinya: “Pada zaman Rasulullah SAW pernah terjadi gerhana matahari, yaitu pada hari wafatnya Ibrahim. Lalu orang-orang berseru, Terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya (mengalami gerhana), berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga kembali seperti semula.” (HR Al- Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Sampai terang kembali.”)

    Dalam riwayat lain, Imam Al-Bukhari menyebutkan, dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda,

    فَصَلُّوا وَادْعُوْا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

    Artinya: “Maka shalatlah dan berdoalah sampai kembali seperti semula.”

    Tata Cara Sholat Gerhana

    Tata cara sholat gerhana juga sudah dijelaskan secara rinci dalam sebuah dalil sahih. Pada saat itu, Rasulullah SAW melakukan sholat gerhana dengan cara seperti pada hadits berikut ini.

    Rasulullah SAW mengisyaratkan untuk memulai sholat gerhana berjamaah dengan seruan:

    فَبَعَثَ مُنَادِيًا يُنَادِي: الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ

    Artinya: “Lalu beliau menyuruh seorang penyeru untuk menyerukan, ‘Datanglah untuk shalat jamaah.”

    Lalu, selanjutnya, sholat dilaksanakan dengan cara berikut ini.

    الْحَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا نَحْوا مِنْ قِرَاءَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طويلاً ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طويلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّل ثم رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُوْنَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوْعًا طَوِيْلاً وَهُوَ دُونَ الرَّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيْلاً وَهُوَ دُونَ الرَّكُوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ سَحَدَثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ

    Artinya: “Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW, maka beliau shalat. Beliau berdiri sangat lama sekitar lamanya bacaan surah Al-Baqarah, kemudian rukuk dengan lama, lalu bangun dan berdiri lama pula, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk dengan lama, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan rukuk yang pertama. Lalu beliau sujud, dan kemudian berdiri lama, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan berdiri yang pertama. Lalu beliau rukuk dengan lama, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan rukuk yang pertama. Kemudian, beliau bangun dan berdiri lama, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan berdiri yang pertama. Lalu beliau rukuk lama, tetapi lebih pendek dibandingkan dengan rukuk yang pertama. Kemudian beliau mengangkat kepala, lalu sujud, sehingga selesailah dan matahari telah terang. Lalu beliau berkhotbah di hadapan orang-orang.” (HR Al-Bukhari dan Muslim, sedangkan redaksinya berdasarkan riwayat Al-Bukhari. Dalam suatu riwayat Muslim disebutkan”

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits Keutamaan Menyayangi Anak Yatim, Salah Satunya Selamat dari Siksa Kiamat


    Jakarta

    Yatim merupakan kondisi di mana ketika seseorang ditinggal wafat oleh ayahnya. Dalam bahasa Arab, yatim berarti anak dalam usia belum baligh yang ayahnya telah meninggal dunia.

    Dalam Islam, mereka yang memuliakan anak yatim niscaya akan diganjar oleh berbagai keutamaan. Dijelaskan dalam buku Keajaiban Menyantuni Anak Yatim karya Mujahidin Nur bahwa menyantuni anak yatim termasuk ke dalam akhlak mulia.

    Dalam surah An Nisa ayat 8, Allah SWT berfirman:


    وَاِذَا حَضَرَ الۡقِسۡمَةَ اُولُوا الۡقُرۡبٰى وَالۡيَتٰمٰى وَالۡمَسٰكِيۡنُ فَارۡزُقُوۡهُمۡ مِّنۡهُ وَقُوۡلُوۡا لَهُمۡ قَوۡلًا مَّعۡرُوۡفًا

    Artinya: “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”

    Hadits Keutamaan Menyayangi Anak Yatim

    Mengacu pada sumber yang sama dan arsip detikHikmah, berikut sejumlah hadits yang membahas keutamaan menyayangi anak yatim.

    1. Diganjar Surga

    Kaum muslimin yang menyayangi dan mengasuh anak yatim akan diganjar surga oleh Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan masukkan ke dalam surga kecuali ia melakukan dosa yang tidak diampuni.” (HR Tirmidzi)

    2. Dekat Kedudukannya dengan Rasulullah SAW

    Menyayangi anak yatim akan menjadikan kedudukan kita lebih dekat dengan Rasulullah SAW di surga. Kedekatan itu bahkan diibaratkan jari telunjuk dan tengah sebagaimana disebutkan dalam hadits,

    “Bahwa aku dan orang-orang yang memelihara anak yatim dengan baik akan berada di surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah, lalu nabi mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu ia renggangkan.” (HR Bukhari)

    3. Mendapat Pahala Jariyah

    Menyantuni dan menyayangi anak yatim dapat menjadi pahala jariyah bagi siapapun yang melakukannya. Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika manusia mati, terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim)

    4. Selamat dari Siksa Kiamat

    Keutamaan menyayangi anak yatim dalam hadits lainnya ialah selamat dari siksa kiamat. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman:

    “Demi yang mengutusku dengan Hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya.” (HR Thabrani)

    5. Mendapat Berkah Rumah Baik dari Allah SWT

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Sebaik-baik rumah kaum muslimin ialah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan (diasuh) dengan baik, dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim tapi anak itu diperlakukan dengan buruk.” (HR Ibnu Majah)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Ketika Dipuji Orang Lain, Baca Agar Tak Merasa Sombong



    Jakarta

    Ada doa yang bisa dibaca ketika mendengar atau melihat pujian dari orang lain. Doa ini dapat dibaca agar tetap merasa rendah hati dan terjauh dari sifat sombong.

    Mendapatkan pujian dari orang lain adalah pengalaman yang dapat membuat siapa pun merasa bahagia dan dihargai. Pujian merupakan bentuk pengakuan atas usaha, prestasi, atau sifat positif yang dimiliki seseorang.

    Dalam Islam, pujian dari orang lain harus selalu menjadi kesempatan untuk bersyukur kepada Allah. Semua pujian dan kebaikan yang dimiliki seseorang berasal dari Allah SWT.


    Seorang muslim dapat membaca doa ketika mendapat pujian dari orang lain. Berikut doa ketika dipuji orang lain.

    Doa Ketika Dipuji Orang Lain

    Dikutip dari buku Doa dan Zikir Harian Nabi karya Imam Abu Wafa, ketika dipuji atau dilebih-lebihkan dari muslim lain, maka jangan tertipu dengan sanjungan tersebut. Hendaknya membaca doa ketika dipuji orang lain. Doa yang dapat dibaca yaitu:

    اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ

    Bacaan latin: Allahumma laa tu’akhiznii bimaa yaquuluuna waghfirlii ma laa ya’lamuuna waj’alnii khairan mimma yadhunnun

    Artinya: “Ya Allah, janganlah engkau siksa aku dengan apa yang mereka ucapkan, ampunilah aku apa yang mereka tidak ketahui, dan jadikanlah bagiku yang lebih baik dari apa yang mereka kira.” (HR Bukhari)

    Keutamaan Membaca Doa Ketika Dipuji Orang Lain

    Pujian adalah sumber fitnah. Perlu diperhatikan apakah pujian yang orang lain berikan tersebut berakibat baik pada diri atau tidak, ungkap Mahmud Asy Syafrowi dalam buku Sukses Dunia-Akhirat dengan Doa-doa Harian. Untuk terhindar dari fitnah serta keburukan lainnya, sangat di anjurkan untuk seorang muslim membaca doa ketika mendapat pujian dari orang lain.

    Memuji dan Menyebutkan Kebaikan Diri Sendiri

    Dikutip dari buku Buku Induk Doa dan Zikir oleh Kasimun, Allah SWT melarang hamba-Nya untuk mengatakan bahwa dirinya suci. Larangan tersebut termaktub dalam surah An-Najm ayat 32,

    اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ ٣٢

    Artinya: “(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”

    Terdapat dua macam dalam menyebut kebaikan diri sendiri, yaitu yang tercela dan yang disukai. Yang tercela tujuannya menyombongkan diri, menampakkan ketinggian dan merasa lebih istimewa daripada yang lain, dan lain sebagainya. Kebaikan yang tercela ini dilarang untuk dilakukan.

    Sedangkan yang terpuji adalah yang mengandung maslahat agama seperti guru amar ma’ruf dan nahi munkar, penasihat, penceramah, pendidik, dan lain sebagainya. Jika demikian, maka ia boleh menyebutkan kebaikannya dengan niat semoga ucapannya bisa diterima dan dipegang.

    Terdapat sebuah hadits dalam buku Shahih Adabul Mufrad karya Imam Bukhari disebutkan bahwa, “Ar-Rabi’ mendatangi Alqamah pada hari Jum’at. Apabila saya tidak ada, mereka mengirim (utusan) kepada saya. Suatu kali utusan itu datang, sedangkan saya tidak ada. Kemudian Alqamah menemui saya dan berkata, ‘Apakah engkau tidak melihat apa yang telah dibawa Ar-Rabi’?’ Alqamah berkata, ‘Apakah engkau tidak melihat sebanyak-banyak hal yang (diharapkan) manusia dalam berdoa, dan amat sedikit dari mereka dikabulkan (doanya)? Hal itu karena Allah tidak akan menerima doa kecuali doa yang ikhlas.” “Saya berkata, “Bukankah Abdullah telah mengucapkan hal itu?” Alqamah berkata, “Apa yang diucapkan Abdullah?” Abdur Rahman ibnu Yazid berkata, “Abdullah berkata, ‘Allah tidak akan mendengar (doa) dari orang yang ingin dipuji orang lain, tidak pula dari orang yang riya, tidak pula dari orang yang bermain- main, akan tetapi (hanya menerima doa) dari orang yang berdoa dengan keteguhan hatinya. ‘Abdurrahman bin Yazid berkata, “Lalu Alqamah ingat dan berkata, Ya.””

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Hadits tentang Tanggung Jawab dalam Islam


    Jakarta

    Tanggung jawab termasuk ke dalam karakter yang patut dimiliki oleh kaum muslimin. Sifat ini identik dengan perilaku seseorang ketika melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan.

    Menurut buku Konsep Tanggung Jawab Pendidik dalam Islam susunan Mustari, tanggung jawab diartikan sebagai sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, serta kepada Tuhan.

    Islam sendiri mengajarkan sikap tanggung jawab dalam sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadits. Kaum muslimin yang bertanggung jawab akan membuktikan keimanannya dengan beribadah dan mengerjakan berbagai amalan saleh lainnya kepada Allah SWT.


    Nabi Muhammad SAW bahkan mengingatkan kaum muslimin akan dampak dan perilaku menghindari tanggung jawab. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:

    “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; “Bagaimana maksud amanat disia-siakan?”, Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Bukhari)

    Menurut penafsiran para ulama, hadits di atas ditafsirkan dengan istilah al-mas’uliyyah atau tanggung jawab atas anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia, baik itu jabatan maupun nikmat yang berlimpah. Artinya, manusia berkewajiban untuk menyampaikan pertanggungjawaban di hadapan Allah atas limpahan karunia yang diberikan.

    Hadits tentang Tanggung Jawab

    Menukil dari buku Fikih Responsibilitas Tanggung Jawab Muslim dalam Islam susunan Ali Abdul Halim Mahmud, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang tanggung jawab.

    1. Allah SWT Mempertanyakan Amanah yang Ditanggung

    Diriwayatkan oleh Anas RA Rasulullah SAW bersabda,

    “Allah SWT akan mempertanyakan semua orang yang memegang amanah atas amanah yang ia tanggung, apakah ia memeliharanya atau menyia-nyiakannya? Hingga Allah SWT akan mempertanyakan seseorang pada keluarganya.” (HR. Muslim)

    2. Semua Manusia Akan Dimintai Pertanggungjawaban

    Diriwayatkan Abdullah bin Umar RA, ia menuturkan mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    “Semua kamu adalah pemimpin dan seluruh pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas mereka yang dipimpin. Imam (presiden, raja) adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas keluarganya itu. Istri adalah pemimpin di rumah tangganya dan bertanggung jawab atas rumah tangganya itu. Pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan bertanggung jawab atasnya. Dan, kalian semua adalah pemimpin serta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    3. Dipertanyakan Terkait Lima Perkara

    Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud RA menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari hadapan Rabbnya, hingga ia dipertanyakan akan lima perkara: tentang umurnya dia pergunakan untuk apa? Tentang masa mudanya di mana ia habiskan? Tentang hartanya dari mana ia dapatkan? Dan, ke mana ia nafkahkan? Serta, bagaimana ia mempraktikkan dengan ilmu yang ia miliki?” (HR. Tirmidzi)

    4. Dipertanyakan Terkait Nikmat

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA menuturkan, Rasulullah SAW bersabda,

    “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, engkau akan ditanyakan tentang nikmat ini pada hari kiamat, engkau keluar dari rumahmu dalam keadaan lapar, dan engkau tidak kembali hingga engkau mendapatkan nikmat.” (HR. Imam Muslim)

    5. Allah SWT Mempertanyakan Manusia pada Hari Kiamat

    Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Allah SWT akan mempertanyakan manusia pada hari kiamat nanti, hingga menanyakan tentang: apa yang menghalangimu ketika melihat kemungkaran sehingga engkau tidak mencegah kemungkaran itu? Ketika Allah SWT mengajarkan kepada sang hamba untuk menjawabnya, sang hamba akan segera menjawab, “Wahai Rabbku, aku hanya mengharapkan-Mu, dan aku telah meninggalkan manusia.” (HR Imam Ahmad)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Silaturahmi Berdasarkan Hadits, Salah Satunya Dilapangkan Rezekinya


    Jakarta

    Silaturahmi berarti menghubungkan tali kekerabatan atau rasa kasih sayang terhadap sesama manusia. Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 36,

    وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

    Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”


    Dalam buku Keajaiban Shalat, Sedekah, dan Silaturahmi susunan H Amirulloh Syarbini, istilah silaturahmi berasal dari dua kata gabungan bahasa Arab, yaitu shilah dan ar-rahim. Maknanya sendiri ialah karib-kerabat.

    Silaturahmi tidak mengenal waktu dan dapat dilakukan kapan saja. Berkaitan dengan itu, ada sejumlah hadits yang menjelaskan tentang keutamaan silaturahmi.

    Hadits Keutamaan Silaturahmi

    Menukil dari buku Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 2 tulisan Syaikh Mahmud Al-Mishri, berikut sejumlah hadits keutamaan silaturahmi.

    1. Dilapangkan Rezekinya

    Selain mempererat tali persaudaraan, silaturahmi juga melapangkan rezeki seseorang sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits. Nabi SAW bersabda,

    “Barangsiapa yang senang agar dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari)

    2. Diganjar Surga

    Menjalin silaturahmi merupakan amalan yang menyebabkan seseorang masuk surga. Disebutkan dalam hadits dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan seorang muslim ke dalam surga, ia menjawab:

    “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR Bukhari)

    3. Diampuni Dosanya

    Silaturahmi juga dapat menghapus dosa-dosa kaum muslimin yang mengerjakannya. Hal ini disebutkan dalam hadits yang berbunyi,

    “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali keduanya diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)

    4. Memperpanjang Umur Seseorang

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Silaturahmi dapat menambah umur, sedangkan sedekah dengan sembunyi-sembunyi dapat meredam murka Allah.” (HR Ath Thabrani)

    5. Dijauhkan dari Masa-masa Sulit

    Memperbanyak silaturahmi akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah SWT, baik itu dari segi materi atau masalah lain. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits,

    “Tidaklah sebuah keluarga yang gemar menyambung tali silaturahmi kemudian mereka akan meminta-minta.” (HR Ibnu Hibban)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Aroma Luka Para Syuhada Seharum Kasturi, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Para syuhada memiliki keutamaan di sisi Allah SWT saat mendatangi-Nya pada hari kiamat kelak. Menurut sebuah hadits, aroma luka mereka seharum kasturi.

    Hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari dari riwayat Abu Hurairah RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    مَا مِنْ مَكْلُوْمٍ يُكْلَمُ فِي سَبِيْلِ اللَّهِ، إِلا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَكَلْمُهُ يَدْمَى، اللونُ لَوْنُ اللَّهِ، وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ


    Artinya: “Tidaklah ada seseorang yang terluka di jalan Allah melainkan dia datang pada hari kiamat, sedang lukanya mengeluarkan darah, rupanya adalah rupa darah namun aromanya adalah aroma minyak kasturi.”

    Dalam kitab Misykat al-Mashabih, At-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Abu Dawud turut meriwayatkan hadits shahih serupa dari Mu’adz bin Jabal yang mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Siapa yang berperang di jalan Allah dari pagi hingga petang, ia memperoleh surga. Siapa yang terluka atau berdarah di jalan Allah, maka darah itu pada hari kiamat akan tampak seperti yang dahulu pernah keluar paling banyak dengan warna minyak za’faran (merah) dan mau minyak misik (kasturi, wangi).”

    ‘Umar Sulaiman al-Asyqar mengatakan dalam kitab Al-Yaum al-akhir al-Qiyamat al-Syughra wa alamat al-Qiyamah al-Kubra, menurut Ibn Hajar dan para ulama, hikmah adanya luka saat para syuhada dibangkitkan adalah sebagai saksi atau bukti keluhurannya mengorbankan jiwa dalam ketaatan kepada Allah SWT.

    Para ulama menyatakan bahwa jenazah para syuhada perang tidak perlu dimandikan dan disalatkan, melainkan langsung dimakamkan beserta bercak darah yang masih melekat dalam tubuhnya. Dikatakan dalam kitab Fiqh Sirah an-Nabawiyah karya Al-Buthy, para ulama menyandarkan hal ini pada hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari bahwa Rasulullah SAW memerintahkan agar jenazah para syuhada Uhud langsung dimakamkan dan darah mereka tidak perlu dibersihkan.

    Roh Orang Beriman Juga Wangi Kasturi

    Selain para syuhada, roh orang beriman juga akan mengeluarkan aroma kasturi saat meninggal dunia, sebagaimana diterangkan dalam kitab Al-Maut wa ‘Alam Al-Barzakh karya Mahir Ahmad Ash-Shufiy dengan bersandar pada riwayat Al-Barra’ bin ‘Azib RA dari Rasulullah SAW.

    Aroma ini muncul tatkala Malaikat Maut mengambil roh dan meletakkannya pada kain kafan yang telah disiapkan. Bau semerbak tersebut akan terus keluar ketika malaikat membawanya ke langit.

    Berikut bunyi penggalan haditsnya,

    Rasulullah SAW bersabda, “Orang beriman jika menghadapi kematian, malaikat turun kepadanya dengan wajah yang bersinar bagaikan sinar matahari dengan membawa kain kafan surga, mereka duduk di hadapannya hingga Malaikat Maut datang kemudian duduk di bagian kepala.

    Ia bertanya, ‘Hai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan rahmat Allah.’ Maka Roh keluar dengan mudah dan dipegang oleh Malaikat Maut. Ketika Malaikat Maut telah mengambilnya, mereka segera meletakkan pada kain kafan yang telah disiapkan, ketika roh keluar, bau harum semerbak memenuhi ruangan.

    Para malaikat itu terus melintas dengan membawa roh tersebut hingga penghuni langit bertanya, ‘Roh siapa yang baunya harum semerbak ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini roh Fulan bin Fulan’ seraya menyebutkan nama yang paling indah sebagaimana namanya di dunia.

    Mereka terus membawa roh yang harum semerbak hingga ke langit dunia dan semua penghuni langit sampai langit yang ketujuh maka Allah berfirman, ‘Tetapkan hamba-Ku itu dalam golongan orang-orang mulia di sisi Allah dan kembalikan ke bumi karena dari tanah Aku ciptakan, ke tanah pula akan dikembalikan, dan dari tanah akan dikeluarkan kembali.”

    Dalam Shahih Muslim juga terdapat riwayat serupa dari jalur Abu Hurairah RA yang menyebut,

    “Jika orang beriman menghadapi kematian, roh tersebut berbau harum semerbak sehingga para penghuni langit berkata, ‘Bau harum semerbak ini datang dari bumi. Semoga rahmat bagimu dan jasad yang kamu bawa.’

    Malaikat yang membawa roh tersebut terus berjalan untuk menghadap Allah. Kemudian Allah berfirman, ‘Pergilah bersamanya hingga kiamat datang.’

    Jika orang kafir yang menghadapi kematian, roh tersebut berbau busuk yang menyengat hidung sehingga penghuni langit berkata, ‘Bau busuk ini berasal dari bumi.’ Dikatakan pada bangkai busuk itu, ‘Rasakanlah siksaan hingga kiamat datang!’”

    Abu Hurairah RA mengatakan, “Rasulullah SAW menutup kembali hidungnya dengan kain tipis tersebut. Beliau melakukan itu seolah-olah beliau mencium bau busuk tersebut agar kain itu dapat menahan bau yang tak sedap itu.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits yang Membahas tentang Pernikahan, Penting Diketahui Muslim


    Jakarta

    Pernikahan menjadi sebuah jalan untuk mewujudkan asasi dari syariat Islam yaitu menjaga nasab. Hal ini dinilai penting untuk menghindari manusia agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan oleh Allah SWT seperti zina.

    Mengutip buku Serial Hadist Nikah 1 Anjuran Menikah dan Mencari Pasangan susunan Firman Arifandim Lc MA, anjuran menikah tercantum dalam sebuah hadits yang berbunyi,

    “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah lebih mampu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa saja yang tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa. Karena puasa bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)


    Dalam buku Fiqih Keluarga Terlengkap karya Rizem Aizid bahkan dijelaskan bahwa pernikahan termasuk ke dalam ibadah yang mulia. Sejumlah dalil mengenai pernikahan juga tersemat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

    Hadits tentang Pernikahan

    Berikut sejumlah hadits yang membahas tentang pernikahan seperti dinukil dari buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Pernikahan susunan Ahmad Sarwat.

    1. Hadits Pernikahan sebagai Penyempurna Iman

    Pernikahan disebut sebagai penyempurna iman seseorang. Hal ini disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani.

    “Siapa yang menikah maka sungguh dia telah menyempurnakan setengah iman, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.” (HR Ath-Thabrani)

    2. Hadits Pernikahan Termasuk Sunnah Rasul

    Salah satu sunnah rasul ialah pernikahan sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dari Abu Ayyub RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Ada empat perkara yang termasuk sunnah para rasul: rasa malu, memakai wewangian, bersiwak dan menikah.” (HR At-Tirmidzi)

    3. Hadits Orang yang Menikah Termasuk Golongan yang Ditolong Allah SWT

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Ada tiga golongan yang sudah pasti akan ditolong Allah, yakni: Orang yang kawin dengan maksud menjaga kehormatan diri, seorang hamba yang berjihad di jalan Allah, dan seorang budak yang berusaha memerdekakan diri.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Tarmizi, Ibnu Majah, dan Al Hakim)

    4. Hadits Anjuran Menikah

    Salah satu dari tujuan menikah ialah agar memperoleh keturunan dan meneruskan nasab. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda;

    “Nikahilah wanita-wanita yang bersifat penyayang dan subur (banyak anak), karena aku akan
    berbangga-bangga dengan (jumlah) kalian di hadapan umat-umat lainnya kelak pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabrani)

    5. Hadits Membujang Tanpa Menikah Termasuk Perbuatan yang Tidak Diizinkan Rasulullah SAW

    Terkait hal ini disebutkan oleh Sa’ad. Sa’ad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menolak Usman bin Maz’unin membujang. Seandainya Nabi mengizinkan padanya, niscaya dia melakukannya. (HR Ibnu Majah)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com