Tag: hadits

  • Jangan Durhaka! 10 Hadits Ini Jelaskan Kedudukan Mulia Seorang Ibu


    Jakarta

    Dalam ajaran Islam, ibu adalah sosok yang wajib dihormati. Seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua, termasuk kepada ibunya.

    Sebelum ajaran Islam datang, tepatnya di zaman Jahiliah, perempuan dipandang sebagai sosok rendahan. Perempuan tidak berhak bersuara, tidak berhak berkarya dan bahkan tidak berhak memiliki harta. Semua berubah ketika Islam datang membawa ajaran yang penuh kasih sayang.

    Mengutip buku Kemuliaan Perempuan dalam Islam oleh Prof. Dr. Siti Musda Mulia, disebutkan ketika Islam datang, perempuan dipandang sebagai sosok yang memiliki harkat dan martabat setara dengan laki-laki. Bahkan perempuan dianggap memiliki kedudukan mulia, terlebih seorang ibu.


    Dalam Surat Luqman ayat 14, Allah SWT berfirman,

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

    Hadits Tentang Ibu

    Menjelang Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember, momen ini sebaiknya dimanfaatkan untuk berusaha menjadi anak yang senantiasa berbakti kepada ibu. Rasulullah SAW juga telah menjelaskan melalui hadits tentang kemuliaan seorang ibu.

    1. Anjuran berbuat baik pada ibu

    جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

    Artinya: Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, “Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ayahmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    2. Anjuran berbuat baik pada ibu dan ayah

    نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

    Artinya: Sesungguhnya Allah berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat. (HR Ibnu Majah)

    3. Anjuran memuliakan ibu

    إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ . فمروه فليستغفرْ لكم

    Artinya: Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian. (HR Muslim)

    Hadits di atas merupakan pesan Rasulullah SAW kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk mencari seseorang bernama Uwais al Qarni. Umar dan Ali dipesankan untuk meminta Uwais mendoakan pengampunan bagi diri mereka. Uwais al Qarni adalah seorang anak yang sangat memuliakan ibunya.

    4. Berbakti kepada ibu menjadi amal baik

    عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

    Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, ada seorang lelaki datang menemuinya dan berkata, “Aku meminang seorang perempuan, tetapi ia menolakku. Lelaki lainnya meminangnya, lantas ia menerimanya dan menikah dengannya. Aku pun cemburu, lantas perempuan itu kubunuh. Akankah tobatku diterima?”

    Ibnu Abbas balik bertanya, “Apakah ibumu masih hidup?” Ia menjawab, “Tidak,” Ibnu Abbas pun berkata kepadanya, “Bertobatlah kepada Allah dan lakukanlah yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.”

    Atha’ bin Yasar yang menuturkan riwayat ini dari Ibnu Abbas pun datang kepadanya. Ia berkata, “Kenapa engkau bertanya apakah ibunya masih hidup?” Ibnu Abbas menjawab, “Karena aku tidak tahu amal baik lain yang lebih mendekatkan orang kepada Allah selain berbakti kepada ibunya.” (HR Bukhari)

    5. Anjuran mendoakan orang tua

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْئٌ أَبِرُّهُمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ نَعَمْ، خِصَالٌ أَرْبَعٌ: الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالْإِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ رَحِمَ لَكَ إِلاَّ مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهٰذَا الَّذِى بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا. (رواه ابن ماجه عن أبي أسيد)

    Artinya: “Masih adakah kebaktian kepada kedua orang tuaku, setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, masih ada empat perkara, mendoakan ibu bapak itu kepada Allah, memintakan ampun bagi mereka, menunaikan janji mereka, dan meng-hormati teman-teman mereka serta menghubungkan tali persaudaraan dengan orang-orang yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan kamu kecuali dari pihak mereka. Maka inilah kebaktian yang masih tinggal yang harus kamu tunaikan, sebagai kebaktian kepada mereka setelah mereka meninggal dunia.” (HR Ibnu Majah)

    6. Surga di telapak kaki ibu

    عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ؛ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَدْتُ الْغَزْوَ، وَجِئْتُكَ أَسْتَشِيرُكَ؟ فَقَالَ: “فَهَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ ” قَالَ. نَعَمْ. فَقَالَ: “الْزَمْهَا. فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلَيْهَا ثُمَّ الثَّانِيَةَ، ثُمَّ الثَّالِثَةَ فِي مَقَاعِدَ شَتَّى، كَمِثْلِ هَذَا الْقَوْلِ

    Dari Mu’awiyah ibnu Jahimah As-Sulami, bahwa Jahimah pernah datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, saya ingin berangkat berperang (di jalan Allah), dan saya datang untuk meminta nasihat darimu.” Rasulullah SAW balik bertanya, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” Jahimah menjawab, “Ya.” Rasulullah SAW bersabda: Rawatlah ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah telapak kakinya. Kemudian diajukan pertanyaan yang serupa dan jawaban yang serupa untuk kedua kalinya hingga ketiga kalinya di tempat-tempat yang berlainan. Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Juraij dengan sanad yang sama.

    7. Amalan yang dicintai Allah SWT

    أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى الله قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّالْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

    Artinya: Abu `Amru Asy Syaibani berkata; telah mengabarkan kepada kami pemilik rumah ini, sambil menunjuk kerumah Abdullah dia berkata; saya bertanya kepada Nabi shallallahu `alaihi wasallam; “Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda: “Shalat tepat pada waktunya.” Dia bertanya lagi; “Kemudian apa?” beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Dia bertanya; “Kemudian apa lagi?” beliau menjawab: “Berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

    8. Larangan durhaka kepada orang tua

    عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ وَمَنْعًا وَهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

    Artinya: Dari Al Mughirah bin Syu`bah dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada kedua orang tua, tidak suka memberi namun suka meminta-minta dan mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan membenci atas kalian tiga perkara, yaitu; suka desas-desus, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Bukhari) [ No. 5975 Fathul Bari] Shahih.

    9. Ibu jadi orang yang paling utama

    ، عَنِ الْأَشْعَثِ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي يَرْبُوعٍ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ وَهُوَ يُكَلِّمُ النَّاسَ يَقُولُ: “يَدُ الْمُعْطِي [الْعُلْيَا] أُمَّكَ وَأَبَاكَ وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ، ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ”

    Dari Asy’as ibnu Salim, dari ayahnya, dari seorang lelaki dari kalangan Bani Yarbu’ yang mengatakan bahwa ia pernah datang kepada Nabi SAW dan mendengarkan beliau sedang berbicara dengan orang-orang. Antara lain beliau bersabda: Orang yang paling utama menerima uluran tangan(mu) ialah ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, kemudian saudaramu yang terdekat, lalu yang dekat (denganmu).

    10. Mendapat doa dari Rasulullah SAW

    Berbakti kepada ibu juga memiliki keutamaan didoakan Rasulullah SAW. Suatu hari Rasulullah SAW naik ke atas mimbar, kemudian beliau mengucapkan kalimat Amin sebanyak tiga kali. Maka ketika ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau aminkan?” Maka Rasulullah SAW menjawab:

    “أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ خَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ”

    Jibril datang kepadaku, lalu mengatakan, “Hai Muhammad, terhinalah seorang lelaki yang namamu disebut di hadapannya, lalu ia tidak membaca sholawat untukmu. Ucapkanlah ‘Amin’.” Maka saya mengucapkan Amin, lalu Jibril berkata lagi, “Terhinalah seorang lelaki yang memasuki bulan Ramadan, lalu ia keluar dari bulan Ramadan dalam keadaan masih belum beroleh ampunan baginya. Katakanlah, ‘Amin’.” Maka aku ucapkan Amin. Jibril melanjutkan perkataannya, “Terhinalah seorang lelaki yang menjumpai kedua orang tuanya atau salah seorangnya, lalu keduanya tidak dapat memasukkannya ke surga. Katakanlah, ‘Amin’.” Maka aku ucapkan Amin.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits tentang Niat, Disebut Lebih Penting daripada Amal


    Jakarta

    Hadits tentang niat menjelaskan pentingnya niat dalam Islam. Bahkan, niat tergolong sebagai syarat sah dari sejumlah amalan.

    Niat dikatakan sebagai pondasi dari segala perbuatan manusia, entah itu perbuatan baik maupun buruk. Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya amal perbuatan itu diiringi dengan niat, dan sesungguhnya bagi setiap insan akan memperoleh menurut apa yang diniatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dibenarkan hijrahnya itu oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya untuk dunia yang hendak diperoleh atau wanita yang hendak dipersunting, maka ia akan mendapatkan apa yang diingini itu saja.” (HR Bukhari dan Muslim)


    Dalam buku Fiqih Niat susunan Umar Sulaiman Asyqar, niat diartikan sebagai keinginan untuk melakukan sesuatu yang diikuti dengan perbuatan. Setiap ibadah dalam Islam selalu menjadikan niat sebagai rukun pertamanya.

    5 Hadits tentang Niat

    Berikut sejumlah hadits tentang niat yang dikutip dari buku Quran Hadist oleh Asep B R dan Fiqih Islam wa Adillatuhu karya Prof Wahbah Az Zuhaili.

    1. Niat Baik Berpengaruh pada Kehidupan Dunia dan Akhirat

    Dari Ibnu Mas’ud, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Siapa yang menjadikan seluruh tujuannya menjadi satu cita-cita, yaitu cita-cita akhirat, Allah mencukupi tujuan dunianya. Siapa yang tujuannya bercabang-cabang dalam berbagai masalah dunia, Allah tidak akan peduli di lembah mana ia meninggal.” (HR Ibnu Majah, sanad haditsnya hasan li ghairih)

    2. Pahala dan Siksa Dicatat dari Niat

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku dari apa saja yang terbesit dalam hatinya, selagi belum terucap atau belum terlaksana.”

    3. Niat Lebih Penting daripada Amal

    Niat juga disebut lebih penting daripada amal. Terkait hal ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda:

    “Niat seorang mukmin lebih utama daripada amalnya.” (HR Al-Baihaqi)

    4. Niat Dapat Meluaskan Rezeki

    “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan maksud mengembalikannya, maka Allah akan membayarkannya. Siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud untuk merusaknya, maka Allah akan merusak orang itu.” (HR. Bukhari)

    5. Niat Berbuat Baik untuk Mendapat Pahala

    Dari Ibnu ‘Abbas RA, Nabi Muhammad bersabda:

    “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak (jadi) melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat sampai kelipatan yang banyak.

    Barangsiapa berniat berbuat buruk tetapi dia tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Itulah sejumlah hadits yang membahas tentang niat. Dalil-dalil di atas membuktikan betapa pentingnya niat dalam agama Islam.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa ketika Kagum Melihat Ciptaan Allah SWT



    Jakarta

    Ada kalanya seseorang merasa kagum melihat ciptaan Allah SWT, baik itu sosok manusia, alam semesta atau fenomena alam yang disaksikan. Jika mengalami hal demikian, maka sebaiknya mengucapkan kalimat doa sebagai ungkapan syukur.

    Salah satu ucapan baik yang bisa disebutkan saat kagum melihat ciptaan Allah SWT adalah kalimat Masya Allah. Mengutip kitab Tafsir Al-Quranul Karim untuk Surat Al-Kahfi, makna dari kalimat Masya Allah adalah Inilah yang dikehendaki oleh Allah. Hal ini mengacu pada lafaz lengkapnya Hadzaa maa syaa Allah.

    Kalimat Masya Allah ini menjadi ungkapan bahwa seorang muslim kagum dan mengakui kebesaran Allah SWT. Kalimat ini dapat diucapkan kapan saja, misalnya ketika melihat gunung yang menjulang tinggi atau kagum menyaksikan fenomena alam yang dahsyat.


    Dirangkum dari buku Doa dalam Al-Quran oleh Jejen Musfah, dijelaskan doa berasal dari bahasa Arab, yakni ad-du’a yang artinya ibadahnya makhluk untuk Sang Khaliq. Sementara secara istilah (terminologi)-sebagaimana dikatakan oleh Ath-Thibi, doa ialah menampakkan kehinaan dan kerendahan diri dalam keadaan tiada berdaya dan tiada berkekuatan kemudian menyatakan hajat, keperluan, dan ketundukan kepada Allah SWT.

    Imam Al-Ghazali berkata, meskipun doa itu tidak dapat menolak qadha Tuhan, tetapi ia mampu melahirkan sifat rendah diri dan hajat kepada Allah. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk berdoa di berbagai kondisi, termasuk ketika kagum melihat ciptaan Allah SWT.

    Doa menjadi salah satu sebab dari tertolaknya bencana, sebagai perisai, menjadi penangkis dari senjata musuh, dan bagai air yang menyebabkan tumbuhnya tanaman. Oleh karena itu, dengan berdoa diharapkan segala dosa kita kepada Tuhan diampuni, dan jika diberi kebaikan agar disegerakan.

    Doa juga menjadi cara untuk mengharapkan diberi hidayah, ampunan, pertolongan, kenikmatan, kasih sayang dari Allah SWT dan memohon agar dijauhkan dari kekufuran, kemurkaan-Nya, kepapaan, kesesatan, musibah, dan laknat.

    Doa Ketika Kagum Melihat Ciptaan Allah

    Doa ini diambil dari Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 191. Bacaan ini dapat diamalkan saat melihat ciptaan Allah SWT.

    رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab latin: Rabbanā mā khalaqta hāżā bāṭilā, sub-ḥānaka fa qinā ‘ażāban-nār

    Artinya: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Dalam bacaan lengkap surat Ali Imran tersebut sebenarnya berisi tentang perintah Allah SWT kepada umat manusia untuk senantiasa mengingatnya dan memikirkan penciptaan langit dan bumi. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 190-191:

    إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ . ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

    Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran: 190-191).

    Itulah bacaan doa yang bisa dilafalkan saat kagum melihat ciptaan Allah SWT. Doa ini bisa menjadi ungkapan syukur sekaligus mengakui bahwa ciptaan Allah SWT adalah hal yang terbaik.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Hadits tentang Menuntut Ilmu, Salah Satunya Memudahkan Jalan Menuju Surga


    Jakarta

    Dalam Islam, menuntut ilmu jadi perintah yang harus dipahami oleh kaum muslimin. Allah SWT berfirman dalam surah Ar Rahman ayat 33,

    يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ ۝٣٣

    Artinya: “Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”


    Menurut buku Agar Menuntut Ilmu Jadi Mudah susunan Abdul Hamid M Djamil Lc, kewajiban menuntut ilmu terbagi ke dalam dua macam yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Ilmu yang masuk ke dalam fardhu ‘ain ialah tauhid, fikih, dan tasawuf.

    Adapun, ilmu yang termasuk dalam kategori fardhu kifayah merujuk pada ilmu tafsir, ilmu usul fikih, ilmu hitung, dan lain sebagainya. Saat menuntut ilmu pun, ada sejumlah adab yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin.

    Selain dalam ayat Al-Qur’an, menuntut ilmu juga disebutkan dalam sejumlah hadits. Berikut hadits tentang menuntut ilmu yang dikutip dari buku Inilah! Wasiat Nabi Bagi Para Penuntut Ilmu karya Drs Wendi Zarman.

    1. Ilmu Termasuk Warisan Para Nabi

    Ilmu adalah warisan para nabi, hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang berbunyi,

    “Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR Abu Dawud)

    Orang yang menuntut ilmu diganjar dengan pahala yang berlipat-lipat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits:

    “Siapa yang mengajak kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR Muslim)

    3. Ilmu Adalah Amalan Jariyah

    Ilmu termasuk ke dalam amalan jariyah. Artinya, ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya meski orang tersebut sudah meninggal dunia.

    “Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya (tidak bisa lagi menambah pahala) kecuali 3 orang, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan orang, atau anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR Muslim)

    4. Rasulullah SAW akan Menyambut Penuntut Ilmu

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Selamat datang wahai penuntut ilmu. Sesungguhnya penutup ilmu benar-benar ditutupi para Malaikat dan dinaungi dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka saling bertumpuk-tumpuk hingga mencapai langit dunia (langit paling dekat dari bumi) karena kecintaan mereka (Malaikat) kepada ilmu yang dipelajarinya.” (HR Ath-Thabrani)

    Nabi Muhammad SAW menyebut bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi kaum muslimin sebagaimana bunyi sabda beliau dalam hadits riwayat Ibnu Majah.

    “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR Ibnu Majah)

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

    “Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

    Itulah sejumlah hadits tentang menuntut ilmu yang dapat dipahami oleh kaum muslimin. Deretan hadits tersebut membuktikan betapa pentingnya ilmu bagi kehidupan manusia.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Anjuran Menulis Wasiat ketika Sakit atau Dekati Ajal


    Jakarta

    Wasiat merupakan perkara penting bagi ahli waris. Rasulullah SAW menganjurkan agar seseorang menulis wasiat, baik ketika sakit maupun sehat.

    Anjuran menulis wasiat ini termaktub dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA sebagaimana dinukil Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin yang diterjemahkan Solihin. Ibnu Umar RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ. يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِيِّ


    Artinya: “Tiada hak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkannya, melainkan dalam dua malam wasiatnya itu tertulis di sisinya.” (Muttafaq ‘alaih. Ini redaksi Bukhari)

    Dalam riwayat Muslim dikatakan, “Dalam tiga malam.” Terkait hal ini, Ibnu Umar RA berkata, “Sejak aku mendengar Rasulullah SAW bersabda demikian, setiap malam aku menulis wasiat.”

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits tersebut dalam Shahih-nya pada kitab Wasiat.

    Menurut penjelasan dalam Syarah Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi yang disyarah Musthafa Dib al-Bugha dkk dan diterjemahkan Misbah, hadits tersebut berisi anjuran menulis wasiat karena seseorang tidak tahu kapan ajal menjemputnya. Anjuran ini berlaku untuk wasiat yang sifatnya sukarela, sedangkan wasiat tentang membayar utang serta mengembalikan atau mengambil amanah hukumnya wajib.

    Lebih lanjut dijelaskan, menulis wasiat tidak terbatas bagi orang yang sakit. Sebab, sudah sepantasnya seorang mukmin senantiasa mengingat mati dan bersiap menyambutnya.

    Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya menjelaskan betapa dekatnya seseorang dengan ajalnya. Diriwayatkan dari Anas RA, ia berkata,

    خَطَّ النَّبِيُّ ﷺ خُطُوطًا فَقَالَ: هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا أَجَلُهُ . فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَ الْخَطَّ الْأَقْرَبُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

    Artinya: “Nabi SAW membuat beberapa garis, lalu beliau bersabda, ‘Ini adalah seseorang, dan ini adalah ajalnya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, maka tiba-tiba datang garis yang terpendek.” (HR Bukhari)

    Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan anjuran menulis wasiat ketika sakit atau mendekati ajal. Buya Hamka mengatakan hal ini saat menafsirkan firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 180.

    Allah SWT berfirman,

    كُتِبَ عَلَيْكُمْ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا ۖ ۨالْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ ۗ ١٨٠

    Artinya: “Diwajibkan kepadamu, apabila seseorang di antara kamu didatangi (tanda-tanda) maut sedang dia meninggalkan kebaikan (harta yang banyak), berwasiat kepada kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang patut (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.”

    Anjuran menulis wasiat ketika mendekati ajal juga tertuang dalam surah Al Maidah ayat 106. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, persaksian di antara kamu, apabila telah datang kepada salah seorang (di antara) kamu (tanda-tanda) kematian, sedangkan dia akan berwasiat, adalah dua orang yang adil di antara kamu…”

    Maksud ayat tersebut, kata Buya Hamka, apabila diri sudah merasa sakit dan merasa bahwa itu adalah panggilan maut, hendaklah segera membuat wasiat dan disaksikan oleh dua orang saksi yang adil.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits tentang Anak Yatim dan Anjuran Menyantuninya


    Jakarta

    Dalam ajaran Islam, memuliakan anak yatim akan diganjar berbagai keutamaan. Pengertian yatim sendiri merujuk pada seseorang yang ditinggal wafat oleh sang ayah.

    Menukil dari buku Mari Mencintai Anak Yatim karya Muhsin M K, ada berbagai cara memuliakan anak yatim. Salah satunya mengangkat harkat dan martabat hidup mereka.

    Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 8,


    وَاِذَا حَضَرَ الۡقِسۡمَةَ اُولُوا الۡقُرۡبٰى وَالۡيَتٰمٰى وَالۡمَسٰكِيۡنُ فَارۡزُقُوۡهُمۡ مِّنۡهُ وَقُوۡلُوۡا لَهُمۡ قَوۡلًا مَّعۡرُوۡفًا

    Artinya: “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”

    Selain ayat Al-Qur’an, dalam sejumlah hadits juga disebutkan terkait anak yatim. Mengutip buku 1100 Hadits Terpilih oleh Muhammad Faiz Almath.

    Hadits tentang Anak Yatim

    1. Menyantuni Anak Yatim akan Mendapat Jaminan Surga

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa mengikutsertakan seorang anak yatim di antara dua orang tua Muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.” (HR Thabrani)

    2. Orang yang Merawat Anak Yatim Dekat Kedudukannya dengan Nabi SAW

    Orang yang merawat anak yatim niscaya kedudukannya dekat dengan Nabi Muhammad SAW di surga kelak. Kedekatan ini bahkan diibaratkan seperti jari telunjuk dan jari tengah.

    “Bahwa aku dan orang-orang yang memelihara anak yatim dengan baik akan berada di surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah, lalu Nabi mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu ia renggangkan.” (HR Bukhari)

    3. Ketentuan Zakat Harta Benda Anak Yatim

    Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hanifah, Rasulullah SAW bersabda:

    “Harta benda anak yatim tidak terkena zakat sampai dia baligh.” (HR Abu Hanifah)

    4. Wali Harta Anak Yatim

    Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits,

    “Barangsiapa menjadi wali atas harta anak yatim hendaklah diperkembangkan (diperdagangkan) dan jangan dibiarkan harta itu susut karena dimakan sodaqoh (zakat).” (HR Baihaqi)

    5. Menyayangi Anak Yatim akan Diselamatkan pada Siksa Kiamat

    Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman,

    “Demi yang Mengutusku dengan Hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya.” (HR Thabrani)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Doa Rabbighfirli Waliwalidayya untuk Orang Tua


    Jakarta

    Sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tua, potongan lafal doa “rabbighfirli waliwalidayya” tentu saja tidak asing di telinga. Namun, apa arti doa rabbighfirli waliwalidayya tersebut?

    Mendoakan kedua orang tua merupakan salah satu kewajiban bagi anak. Doa ini tidak hanya dipanjatkan ketika keduanya masih hidup di dunia, namun juga ketika mereka sudah meninggal.

    Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk mendoakan dan berbakti kepada orang tua, sebagaimana termaktub dalam surah Al-Isra’ ayat 24 yang berbunyi,


    وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

    Artinya: Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

    Salah satu doa yang sering dipanjatkan untuk kedua orang tua memiliki potongan lafal yang berbunyi “rabbighfirli waliwalidayya”. Lantas apa artinya? Berikut lafal selengkapnya dan artinya.

    Arti Doa Rabbighfirli Waliwalidayya

    Sebagaimana disebutkan oleh Ahmad Rasyid dalam bukunya yang berjudul Zikir Lengkap Pagi-Sore, lafal “rabbighfirli waliwalidayya” adalah potongan dari doa untuk kedua orang tua.

    Berikut adalah lafal doa untuk kedua orang tua beserta Arab, latin, dan artinya.

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

    Latin: Rabbighfirli waliwalidayya war-ham-humaa kamaa rabbayaanii shagiiraa.

    Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Kasihilah keduanya sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil.”

    Sebagai anak hendaknya senantiasa mengucapkan doa untuk kedua orang tua ini setiap hari sebagai bentuk kebaktiannya kepada kedua orang tua. Terlebih lagi, agar keduanya selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT dan diri sendiri mendapat pahala dari-Nya.

    Selain doa di atas, terdapat doa lain yang bisa dipanjatkan untuk kedua orang tua dan orang yang beriman di seluruh dunia. Doa tersebut berbunyi,

    رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِي مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

    Latin: Rabbigh-firlii wa liwaalidayya wa liman dakhala baytiya mu minan wa lilmu`miniina wal-mu`minaati wa laa tazidizh- zhaalimiina ‘illa tabaaraa.

    Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki serta perempuan. Dan, janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.”

    Perintah Berbakti dan Bersyukur kepada Kedua Orang Tua

    Mendoakan kedua orang tua, salah satunya dengan doa “rabbighfirli waliwalidayya,” merupakan kewajiban setiap muslim yang beriman.

    Selain itu, Mutia Mutmainnah dalam bukunya Keajaiban Doa & Ridho Ibu menyebutkan, bersyukur kepada Allah SWT dan kepada kedua orang tua juga tak kalah penting.

    Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Luqman ayat 14 yang berbunyi,

    وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤

    Artinya: Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.) (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.

    Menurut tafsir Al Qur’an Kemenag, ayat ini menjelaskan tentang perintah Allah SWT kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berusaha melaksanakan perintah-perintahnya dan mewujudkan keinginannya.

    Terdapat beberapa cara untuk berbakti kepada kedua orang tua yang disebutkan oleh Harjan Syuhada dan Fida’ Abdilah dalam Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII, yaitu:

    1. Memperlakukan kedua orang tua dengan baik, sopan, hormat, dan penuh kasih sayang

    2. Mematuhi semua perintahnya selama tidak bertentangan dengan agama

    3. Wajib mengikuti semua nasihat yang telah diberikan keduanya kepada kita

    4. Membantu pekerjaan kedua orang tua sehari-hari

    5. Anak memiliki kewajiban untuk memelihara kedua orang tua, terutama ketika mereka sudah tidak bisa menjaga diri lagi, seperti saat sakit atau sudah tua

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 30 Hadits Tentang Kehidupan, Jadi Penyemangat untuk Jalani Hidup



    Jakarta

    Ada banyak hadits yang mengajarkan tentang kehidupan. Hadits yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW ini bisa menjadi petunjuk dalam kehidupan sehari-hari.

    Nabi Muhammad SAW adalah sosok panutan bagi umat Islam. Setiap perilaku dan ucapannya merupakan tuntunan dalam menjalani hidup di dunia sekaligus bekal di akhirat kelak.

    Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi pintu masuk bagi setiap muslim yang ingin menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (suri teladan) dalam kehidupan.


    Mengutip buku 60 Hadits Shahih oleh Faqihuddin Abdul dijelaskan bahwa hadits Rasulullah SAW tersebar dalam puluhan kitab hadits induk yang mendokumentasikan ratusan ribu hadits, baik ucapan, perbuatan, penetapan maupun sifat-sifat beliau.

    Dari banyaknya hadits tersebut, terdapat beberapa hadits yang bisa menjadi pelajaran sekaligus motivasi dalam menjalani hidup. Setiap manusia pasti memiliki ujian dan masalah hidup yang sebenarnya ditetapkan Allah SWT untuk menguji keimanan seseorang.

    Hadits Tentang Kehidupan

    Berikut beberapa hadits tentang kehidupan, cinta dan hubungan sehari-hari.

    1. “Ketahuilah bahwasannya kemenangan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar itu bersama kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan”. (HR Tirmidzi).
    2. “Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
    3. “Katakanlah yang benar walau pahit sekalipun.” (HR. Abu Daud)
    4. “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah sholat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orangtua dan saudara.” (HR Bukhari).
    5. “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad)
    6. “Sesungguhnya ku ucapkan kalimat, ‘Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallaaha wallahu akbar; Maha Suci Allah segala puji bagi-Nya, tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar, lebih aku cintai dari pada semua yang disinari oleh matahari.’” (HR. Muslim)
    7. “Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
    8. “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman karena perbuatannya.” (HR. Muslim)
    9. “Surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu,” (diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan disahihkan oleh Al-Hakim).
    10. “Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR Bukhari)
    11. “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR Ath-Thabrani).
    12. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    13. “Iman yang utama adalah sabar dan pemaaf,” (HR Bukhari dan Ad Dailami).
    14. “Senyum engkau di hadapan saudaramu adalah sedekah,” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
    15. “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)
    16. “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allāh kecuali Dia akan meninggikan (derajat) nya” (HR. Muslim)
    17. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim)
    18. “Setengah dari bukti kebaikan Islamnya seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi)
    19. “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perempuan dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah perempuan yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR Bukhari)
    20. “Tak pernah kulihat bagi dua orang yang saling mencintai semisal (cinta dalam) pernikahan.” (HR. Baihaqi)
    21. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, berbelas kasih terhadap sesama, ibarat satu jasad. Apabila anggota badan ditimpa sakit, seluruh badan lainnya akan merasakan sakit.”
    22. “Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
    23. “Janganlah engkau saling membahayakan dan jangan saling merugikan” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni)
    24. “Sesungguhnya kamu mempunyai dua akhlak yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu sifat al-hilm (mampu menahan emosi) dan al-anah (sikap tenang dan tidak tergesa-gesa).” (HR.Muslim)
    25. “Barang siapa yang keluar (rumah) untuk mencari ilmu maka dia termasuk orang yang berada di jalan Allah sampai dia pulang.” (HR. At-Tirmidzi)
    26. “Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah),”

    27. “Orang yang paling penyantun di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf walaupun ia sanggup untuk membalasnya,”

    28. “Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan masukkan ke dalam surga kecuali ia melakukan dosa yang tidak diampuni.” (HR Tirmidzi)

    29. “Bahwa aku dan orang-orang yang memelihara anak yatim dengan baik akan berada di surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah, lalu nabi mengangkat tangannya dan memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu ia renggangkan.” (HR Bukhari)

    30. “Jika manusia mati, terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim)

    Demikian beberapa hadits Rasulullah SAW tentang kehidupan. Semoga kita dapat meneladani sifat dan sikapnya yang takwa dan penuh cinta.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Emosi! Ini 7 Keutamaan Menahan Marah Sesuai Hadits



    Jakarta

    Marah terjadi jika emosi yang dialami oleh setiap manusia meluap. Namun dalam Islam, menahan marah dianggap sebagai tindakan luhur yang membawa keberkahan dan pahala.

    Seorang muslim juga akan mendapatkan keutamaan yang mulia jika ia mampu menahan marahnya. Lantas, bagaimana cara menahan marah? Dan apa saja keutamaan menahan marah?

    Keutamaan Menahan Marah

    Merujuk pada buku Ihya Ulumiddin: Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama oleh Imam Al-Ghazali, berikut beberapa keutamaan menahan marah sesuai dengan hadits:


    1. Allah SWT akan Menahan Siksa-Nya

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menahan kemarahannya, niscaya Allah menahan siksa-Nya daripadanya, dan siapa saja yang mengemukakan alasannya kepada Rabbnya, niscaya Allah menerima alasannya, dan siapa saja yang menyimpan lidahnya, niscaya Allah menutupi auratnya (segala sesuatu, yang dianggap malu). (HR Thabrani dan lainnya)

    2. Termasuk Orang yang Kuat

    Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang kuat di antara kalian adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya ketika marah, dan orang yang paling santun di antara engkau adalah orang yang memaafkan ketika mampu.” (HR Ibnu ad-Dunya dan lainnya)

    3. Mendapat Ridha dari Allah SWT pada Hari Kiamat

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menahan marah di mana seandainya ia mau melaksanakannya, maka ia dapat melaksanakannya, niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan keridhaan pada hari Kiamat.”

    Dalam riwayat lain dinyatakan, “Niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan rasa aman, dan keimanan.” (HR Ibnu ad-Dunya dan lainnya)

    4. Mendapatkan Pahala yang Besar

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba meneguk tegukan yang lebih besar pahalanya daripada seteguk kemarahan yang ditahannya karena mengharapkan keridhaan Allah.” (HR Ibnu Majah)

    5. Terlindung dari Neraka Jahannam

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya neraka Jahannam mempunyai pintu yang tidak memasukinya kecuali orang yang sembuh kemarahannya dengan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala.”

    6. Hatinya Dipenuhi dengan Keimanan

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada tegukan yang lebih disukai oleh Allah SWT daripada tegukan kemarahan yang ditahan oleh seorang hamba. Dan tidaklah seorang hamba menahannya, kecuali Allah memenuhi kalbunya dengan keimanan.” (HR Ibnu ad-Dunya)

    7. Mendapatkan Bidadari

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja menahan kemarahan, sedang ia mampu melaksanakannya, maka Allah memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk dan Dia menyuruhnya memilih mana bidadari yang dikehendaki.”

    Cara Menahan Marah

    Agar mendapatkan keutamaan dari menahan marah, maka setiap muslim harus mampu menahan perasaan marah dari dirinya. Merujuk pada Buku Ajar Akidah Akhlak oleh Syafiuddin dan Machnunah Ani Zulfah, berikut cara menahan marah:

    1. Menahan marah dengan beristighfar

    Jika seseorang sedang marah dalam keadaan berdiri, maka cara meredamnya dengan duduk. Namun jika marah dalam keadaan duduk, maka berusaha untuk tiduran atau berbaring sambil membaca istighfar.

    2. Meredam marah dengan menahan diri

    Pada suatu saat, datanglah seorang laki-laki yang meminta wasiat Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memberinya wasiat agar jangan marah.

    3. Meredam marah dengan berwudhu

    Wudhu menjadi salah satu cara untuk meredam rasa marah. Sebab, wudhu mampu mensucikan semua tindakan yang kurang suci, seperti rasa marah.

    4. Meredam marah dengan berdiam diri

    Obat yang sangat ampuh ketika marah muncul adalah diam. Sebab, jika sedang marah pasti kata-kata kasar akan keluar karena tidak bisa mengontrol. Maka dari itu, alangkah baiknya diam ketika sedang marah.

    5. Meredam marah dengan membaca ta’awudz

    Dengan membaca ta’awudz, maka seseorang memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan yang selalu membangkitkan rasa marah. Melalui syari’at Allah SWT yang agung, Allah SWT melindungi hamba-Nya dari segala kelicikan dan keburukan setan jika hamba-Nya membaca ta’awudz.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Haqqul Muslim Alal Muslim, Anjuran Penuhi Hak Sesama Muslim


    Jakarta

    Haqqul muslim alal muslim adalah potongan dari hadits yang menjelaskan tentang hak seorang muslim terhadap muslim yang lain. Hak apa saja yang dimaksud dalam hadits tersebut?

    Disebutkan dalam buku Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 1 oleh Sheikh Muhammad Al-Utsaimin terjemahan Munirul Abidin, haqqul muslim alal muslim atau hak seorang muslim terhadap sesama muslim sebetulnya tak terhitung jumlahnya. Namun, Rasulullah SAW hanya menyebutkan beberapa karena pentingnya masalah tersebut. Hal ini tertuang dalam beberapa hadits sahih.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, haqqul muslim alal muslim ada lima perkara, “Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ‘Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima, yaitu membalas salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangannya, dan menjawab (mendoakan) apabila ia bersin’.” (HR Bukhari dan Muslim)


    Sementara itu, menurut kitab Bulughul Maram: Hadis-hadis Pilihan Tentang Hukum oleh Aidh Al-Qarni terjemahan M. Zaky Mubarak dan Iffah Syarifah, haqqul muslim alal muslim ada enam perkara. Perkara-perkara itu tercantum pada hadits yang berbunyi sebagaimana berikut ini.

    حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتْ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَحِبُهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهُ فَسَمِّتَهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

    Bacaan latin: Haqqu muslimi alal muslimi sittun qiila maa hunna yaa rasuulullahi qaala idzhaa laqiitahu fasallim ‘alaihi wa idzhaa da’aka faajibhu wa idzhas tanshohaka fanshohlahu wa idzhaa ‘athosa fahamidallahi fasammithu wa idzhaa marizdhaa fa’udhu wa idzhaa maa ta fattabi’hu

    Artinya: “Kewajiban muslim terhadap muslim lainnya ada enam: jika engkau berjumpa dengannya, ucapkanlah salam; jika ia mengundangmu, penuhilah; jika dia meminta nasihatmu, nasehatilah, jika dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah, ucapkanlah yarhamukallâh (semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); jika dia sakit, jenguklah; dan jika dia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya.”

    6 Haqqul Muslim Alal Muslim atau Hak Sesama Muslim

    1. Mengucapkan dan Membalas Salam

    Diambil dari buku Al-Islam karya Said Hawwa, haqqul muslim alal muslim yang pertama adalah mengucapkan salam dan menjawab salam apabila bertemu sesama muslim. Meskipun mengucapkan salam adalah sunah, namun menjawab salam hukumnya wajib. Bahkan Rasulullah SAW bersabda,

    “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian telah beriman dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mengasihi. Apakah kalian ingin saya beri tahu hal yang apabila kalian melakukannya maka kalian akan saling mengasihi: Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

    2. Datang Bila Mendapat Undangan

    Haqqul muslim alal muslim yang kedua adalah memenuhi undangan seorang muslim apabila diundang. Hal ini didasarkan juga pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,

    “Barang siapa yang diundang kemudian ia tidak memenuhi undangan tersebut maka ia telah melakukan maksiat kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Dan barang siapa datang dalam suatu undangan padahal ia tidak diundang, maka ia masuk bagai seorang pencuri dan keluar bagaikan orang yang membawa lari harta orang lain.” (HR Abu Dawud)

    3. Mendoakan yang Bersin

    Haqqul muslim alal muslim yang ketiga adalah mendoakan ketika mendengar muslim lain bersin. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW,

    “Apabila kalian bersin, ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah dalam segala kondisi (Alhamdulillahi ‘ala kulli haal).’ Dan hendaknya saudara atau kawannya mendoakannya, ‘Semoga Allah SWT mengasihimu (yarhamukallah).’ Apabila saudara atau kawannya tersebut telah mendoakannya, ia (orang yang tadinya bersin) hendaknya berkata, ‘Semoga Allah SWT memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu’.” (HR Bukhari)

    4. Menjenguk

    Haqqul muslim alal muslim atau hak muslim terhadap muslim lain yang keempat adalah menjenguk apabila sakit. Ketika menjenguk orang sakit, hendaknya seorang muslim mendoakan agar segera diberi kesembuhan oleh Allah SWT dan memotivasi hatinya.

    Rasulullah SAW bersabda, “Barang menjenguk orang sakit, maka ia masih berada di pinggir surga hingga ia pulang.” (HR Muslim)

    5. Mengantarkan Jenazah

    Haqqul muslim alal muslim yang kelima adalah mengantar jenazah yang meninggal dunia. Hal ini didasarkan dengan sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa mengantar jenazah dan mengangkatnya tiga kali maka ia telah memenuhi hak jenazah tersebut.” (HR Tirmidzi)

    6. Memberi Nasihat

    Haqqul muslim alal muslim yang terakhir adalah memberikan nasihat apabila ada seorang muslim meminta nasihat kepada kita. Nasihat ini hendaknya berisi pesan yang baik yang sesuai dengan perintah Allah SWT dan bukan nasihat yang mengandung keburukan.

    Perintah ini juga tercantum dalam surah Al Asr ayat 1-3 yang berbunyi,
    وَالْعَصْرِۙ

    Artinya: Demi masa

    اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

    Artinya: sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian

    اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ

    Artinya: kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com