Tag: hadits

  • Sakit Disebut Jadi Penggugur Dosa, Begini Haditsnya


    Jakarta

    Dalam Islam, sakit bukan hanya sekadar kondisi kesehatan melainkan juga ujian yang Allah SWT berikan. Mereka yang sakit memiliki keistimewaan.

    Pada sebuah hadits bahkan disebutkan bahwa sakit dapat menjadi penggugur dosa seseorang. Benarkah demikian?

    Hadits Sakit Penggugur Dosa

    Menukil buku Bimbingan Orang Sakit susunan Saiful Hadi El-Sutha, apabila kaum muslimin dapat menyikapi sakit yang ia derita dengan sabar sekaligus berserah diri kepada Allah SWT niscaya sakitnya akan menjadi berkah. Setidaknya ada beberapa hadits yang menjelaskan terkait sakit sebagai penggugur dosa.


    Diriwayatkan oleh Al Hakim, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menguji hamba-Nya dengan penyakit hingga penyakitnya itu akan menghapus segala dosa darinya.” (HR Al Hakim)

    Dalam redaksi lain, terdapat juga hadits yang membahas sakit dapat menggugurkan dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “Tidaklah menimpa seorang muslim suatu penyakit, keletihan, kepedihan, kesedihan, hingga kecemasan yang dirasakannya, melainkan dengan semua itu Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR Muslim)

    Bahkan, Allah SWT berfirman dalam surah Al An’am ayat 17,

    وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗٓ اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَّمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    Artinya: “Dan jika Allah menimpakan keburukan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia sendiri. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Selain itu, sakit dapat menjadi kesempatan bagi seseorang untuk memperbanyak ibadah dan doa kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa orang yang sakit akan mendapat pahala yang sama dengan orang yang sehat jika ia tetap memperbanyak ibadah dan doa kepada Allah SWT.

    Dr. Zaprulkhan menyebutkan dalam bukunya Hikmah Sakit Mereguk Kasih Sayang Ilahi, Allah SWT menghadirkan bermacam-macam penyakit kepada hamba-Nya dalam rangka membersihkan dosa-dosa yang telah dikerjakan. Jadi, sakit dapat menggugurkan dosa karena dosa merupakan salah satu dari musibah atau bencana yang dapat menguji keimanan seorang hamba.

    Rasulullah bersabda, “Tiada henti-hentinya suatu bencana menimpa kepada orang mukmin lelaki maupun perempuan, baik mengenai dirinya atau sanak keluarganya, atau harta kekayaannya hingga ketika wafat dia menghadap Allah sudah dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.” (HR At Tirmidzi)

    Anjuran Menjenguk Orang Sakit

    Kaum muslimin juga dianjurkan untuk menjenguk sesamanya jika ada yang sakit. Dalam Kitab Al-Adzkar oleh Imam Nawawi dikatakan Nabi Muhammad SAW menjenguk sahabatnya yang sakit.

    Ketika menjenguk kerabat yang sakit, Rasulullah SAW mendoakan kesembuhan dengan berbagai doa yang dibacakan untuk mengharapkan kesembuhannya.

    Ada doa yang dibacakan Rasulullah SAW untuk mengharap kesembuhan orang yang sakit. Diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA, Nabi SAW bersabda:

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا

    Arab latin: Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman.

    Artinya: “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.”

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Sebaik-baik Manusia Adalah yang Bermanfaat bagi Orang Lain, Ini Haditsnya


    Jakarta

    Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Sudah sepantasnya sebagai manusia kita saling membantu dan berguna bagi satu sama lain.

    Mengutip buku Kultum 23 Ramadhan susunan Heri Suprapto, berikut bunyi haditsnya:

    “Seorang mukmin itu adalah orang yang bisa menerima dan diterima orang lain, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bisa menerima dan tidak bisa diterima orang lain. Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Thabrani)


    Menukil dari buku Ketika Notaris Berdakwah karya H R Daeng Naja, hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan kaum muslimin untuk berbuat baik terhadap makhluk yang lain. Ini menjadi indikator bagaimana mukmin yang sebenarnya.

    Keberadaan manusia sebetulnya ditentukan oleh kemanfaatannya pada yang lain. Setiap perbuatan yang dilakukan maka balasannya juga akan kembali. Begitu pula jika kita memberi manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali pada diri kita sendiri.

    Dikatakan dalam buku Handbook Wakaf Amerta oleh Dr Tika Widiastuti dkk, hakikat manusia yang utama ialah sebagai hamba Allah SWT. Sebagai seorang hamba, mereka melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

    Selain itu, dalam Al-Qur’an manusia dikatakan sebagai al-nas yang maknanya merujuk pada hakikat manusia dalam hubungannya dengan sesamanya. Manusia tidak dapat hidup tanpa keberadaan manusia lainnya karena mereka merupakan makhluk sosial.

    Sifat manusia yang saling memerlukan membentuk pola hubungan dengan orang lain untuk saling memberi dan mengambil manfaat. Manusia terbaik akan lebih banyak memberi manfaat daripada mengambil manfaat dari hubungannya dengan manusia lainnya.

    Manusia yang memberi manfaat banyak bahkan akan dicintai oleh Allah SWT seperti dijelaskan dalam hadits riwayat Ath-Thabrani,

    “Ada sebuah hadits di mana seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, ‘Yaitu, orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Thabrani)

    Selain itu, dikatakan pula manusia yang memberi manfaat sama seperti melakukan kebaikan yang besar pahalanya. Sebagaimana sabda Nabi SAW yang berbunyi,

    “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi sesuatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada itikaf sebulan di masjidku ini.” (HR Thabrani)

    Cara Menjadi Orang Baik dan Bermanfaat

    Untuk menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain dapat dilakukan dengan dua cara. Merujuk pada sumber yang sama, berikut sejumlah caranya.

    1. Mempelajari Al-Qur’an dan Mengajarkannya

    Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari,

    “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

    Dalam hadits riwayat Ahmad, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlak jika mereka menuntut ilmu.” (HR Ahmad)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Orang Miskin Masuk Surga Lebih Dulu dari Orang Kaya, Ini Haditsnya


    Jakarta

    Allah SWT memberikan keutamaan bagi orang miskin atas orang kaya. Disebutkan dalam sebuah hadits, orang miskin akan masuk surga lebih dulu daripada orang kaya.

    Hadits yang menyebutkan hal itu diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah RA. Hadits ini dipaparkan Imam Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim dan diterjemahkan oleh Ali Nurdin.

    Diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang muslim yang fakir lebih dahulu masuk surga daripada orang-orang kaya dengan rentang waktu setengah hari, yaitu setara dengan lima ratus tahun kehidupan dunia.”


    Penerjemah membahasakan orang miskin yang disebutkan Rasulullah SAW dalam hadits tersebut adalah orang-orang muslim yang fakir.

    Rentang waktu masuknya orang miskin dan orang kaya ke surga berbeda-beda. Ada riwayat lain yang menyebut jarak keduanya selama 40 musim gugur. Sebagaimana kata Abdullah bin Umar RA yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya, orang-orang Muhajirin yang fakir mendahului orang-orang kaya pada hari kiamat, yaitu masuk ke surga, sejauh empat puluh musim gugur.” (HR Ahmad)

    At Tirmidzi dan Ibnu Majah turut meriwayatkan hadits serupa dengan redaksi yang panjang. Hadits ini juga memiliki jalur dari Abu Hurairah RA dan At Tirmidzi mengatakannya hasan shahih.

    Penyebab Orang Miskin Masuk Surga Lebih Dulu

    Imam Ibnu Katsir juga memaparkan hadits yang berisi alasan orang miskin masuk surga lebih dulu daripada orang kaya. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad yang jalurnya sampai pada Ibnu Abbas RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Dua orang mukmin bertemu di pintu surga. Keduanya mukmin kaya dan mukmin fakir saat di dunia. Lantas mukmin fakir dimasukkan ke surga sementara mukmin kaya ditahan sesuai kehendak Allah lalu dimasukkan ke surga. Lantas orang fakir bertemu dengan orang kaya itu dan bertanya, ‘Wahai saudaraku, apa yang membuatmu tertahan? Demi Allah, engkau tertahan sehingga aku mengkhawatirkanmu.’

    Orang kaya itu menjawab, ‘Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tertahan setelahmu dengan penahanan yang mengerikan dan tidak disukai. Aku sampai kepadamu dengan kondisi bercucuran keringat sehingga jika ada seribu unta yang seluruhnya makan tumbuhan masam lalu minum keringat itu, niscaya unta-unta itu keluar dari keringat tersebut dalam keadaan kenyang’.”

    Terkait hadits tersebut, Syaikh Ahmad Syakir menilai isnad-nya mengandung persoalan (bermasalah).

    Mayoritas Penghuni Surga Adalah Orang Miskin

    Selain disebut akan mendahului orang kaya masuk surga, orang miskin juga akan menjadi mayoritas penghuni surga. Hal ini disebutkan dalam kitab Ash Shahihain dari hadits Abu Utsman an-Nahdi dari Usamah bin Zaid bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Aku berdiri di pintu surga. Ternyata, mayoritas orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Selanjutnya, aku berdiri di pintu neraka. Ternyata, mayoritas orang yang memasukinya adalah perempuan.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Dalam Shahih Bukhari juga terdapat riwayat serupa dari jalur Maslamah bin Zarir, dari Abu Raja’, dari Imran bin Hushain. Abdurrazzaq turut meriwayatkan hadits tersebut dari Ma’mar, dari Qatadah, dari Abu Raja’, dari Imran bin Milhan, dari Imran bin Hushain bahwa pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    “Aku memandang ke surga, ternyata aku lihat mayoritas penghuninya orang-orang fakir. Aku memandang ke neraka, ternyata mayoritas penghuninya perempuan.” (HR Bukhari)

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Tanah Arab Menghijau Disebut Jadi Tanda Kiamat, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Islam meyakini datangnya hari kiamat meski hanya Allah SWT yang tahu waktu persisnya. Namun demikian, Rasulullah SAW telah menjelaskan sejumlah tanda-tanda dekatnya kiamat, salah satunya tanah Arab menghijau atau kembali subur.

    Menghijaunya tanah Arab sebagai tanda kiamat ini dikatakan dalam hadits yang dikeluarkan Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda,

    لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا وَأَنْهَارًا


    Artinya: “Hari kiamat tidak berlaku sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai.” (HR Muslim)

    Abu Hurairah RA meriwayatkan hadits serupa dengan redaksi lebih panjang bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya, tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai.” (HR Muslim)

    Hadits-hadits tersebut termuat dalam kitab Shahih Muslim dan kitab kumpulan hadits Misykat Al-Mashabih serta dinukil para ulama dalam kitab tentang kiamat. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar turut menukilnya dalam Al-Madkhal ila Dirasah Al-Akidah Al-Islamiyyah dan diterjemahkan Muhammad Misbah.

    Ulama ahli hadits dan sejarawan Imam Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah Fi Al-Fitan wa Al-Malahim yang diterjemahkan Ali Nurdin juga menyampaikan hadits serupa dari Sufyan ats-Tsauri, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW yang bersabda,

    “Siang dan malam tidak akan hilang sampai tanah Arab kembali menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai sehingga Sungai Furat mengeluarkan gunung emas dan orang-orang berperang karenanya. Setiap seratus orang, tewas 99 orang dan satu orang selamat.” (HR Muslim)

    Menurut penjelasan dalam Asyratus Sa’ah karya Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil sebagaimana diterjemahkan Atho’illah Umar, hadits menghijaunya tanah Arab dan dipenuhi sungai-sungai sebagai salah satu tanda kiamat tersebut menunjukkan bahwa dulu tanah Arab adalah daerah yang membentang luas dan memiliki banyak sungai. Keadaan ini akan kembali ketika kiamat sudah dekat.

    Tanah Arab berada dalam kondisi tandus dan gersang pada era Nabi Ibrahim AS. Dijelaskan dalam Ih Fadzillah Yahfadzka karya ‘Aidh Abdullah al-Qarny yang diterjemahkan Masrukhin, pada masa itu, tanah Arab yang dikenal dengan Jazirah Arab, adalah tanah yang gersang, tidak ada pohon, kebun maupun tanaman. Air dan tempat berteduh juga tak dijumpai di sana.

    Kemudian, Nabi Ibrahim AS berdoa dengan doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37.

    رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ ٣٧

    Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”

    Tanah Arab masih tandus pada era Nabi Muhammad SAW, tepatnya saat Perang Tabuk. Hal ini diceritakan dalam riwayat yang dikeluarkan Imam Muslim melalui Muadz bin Jabal. Imam Muslim menyampaikan hadits ini dengan redaksi yang cukup panjang dan pada akhir hadits Rasulullah SAW bersabda,

    “Wahai Muaz, jikalau umur kamu panjang, barangkali kamu akan melihat tempat ini dipenuhi kebun-kebun dan bangunan-bangunan.” (HR Muslim)

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Manusia Urusi Aib Orang Lain tapi Lupa Aibnya Sendiri



    Jakarta

    Ada sejumlah perilaku manusia yang membuat Allah SWT heran terhadapnya. Salah satunya manusia suka mengurusi aib orang lain tapi melupakan aibnya sendiri.

    Perkara tersebut disebutkan dalam hadits qudsi yang dihimpun Imam Ghazali dalam kitab Mawaidz Fi Ahaditsil Qudsiyyah yang diterjemahkan Kaserun. Kitab ini berisi kumpulan nasihat yang terdapat dalam hadits qudsi.

    Pada nasihat pertama, Imam al-Ghazali memaparkan hadits qudsi tentang sepuluh perilaku manusia yang membuat Allah SWT heran. Dikatakan, Allah SWT heran terhadap manusia yang meyakini datangnya maut sementara mereka bisa bergembira. Kemudian, Allah SWT juga heran pada manusia yang meyakini hari perhitungan tapi ia terus mengumpulkan harta.


    Pada akhir hadits dikatakan Allah SWT heran terhadap manusia yang suka mengumbar aib orang lain tapi dia melupakan aibnya sendiri. Berikut selengkapnya.

    Allah SWT berfirman,

    يَابْنَ آدَمَ، عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ رة و بِالْمَوْتِ كَيْفَ يفرح، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْحِسَابِ كَيْفَ يَجْمَعُ الْمَالَ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْقَبْرِ كَيْفَ يَضْحَكُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْآخِرَةِ كَيْفَ يَسْتَرِيحُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بالدُّنْيَا وَزَوَالِهَا كَيْفَ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهَا، وَعَجِبْتُ لِمَنْ هُوَ عَالِمُ بِاللِّسَانِ جَاهِلُ بِالْقَلْبِ، وَعَجِبْتُ لمَنْ يظهرُ بِالْمَاءِ وَهُوَ غَيْرُ طَاهِرِ بِالْقَلْبِ، ووه ور وَعَجِبْتُ لِمَنْ يَشْتَغِلُ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَهُوَ غَافِلُ عَنْ عُيُوبِ نَفْسِهِ، أَوْ لِمَنْ يَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مُطَّلِعُ عَلَيْهِ كَيْفَ يَعْصِيهِ، أَوْ لِمَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ ورو يَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيَدْخُلُ الْقَبْرَ وَحْدَهُ، وَيُحَاسَبُ وَحْدَهُ، كَيْفَ يَسْتَأْنِسُ بِالنَّاسِ، لَا إِلَهَ إِلَّا رروه أَنَا حَقًّا، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدِى وَرَسُولِي.

    Artinya: “Wahai manusia, aku heran terhadap orang yang yakin terhadap maut, tetapi bagaimana ia bisa bergembira. Aku heran pada orang yang meyakini hari perhitungan, tetapi ia terus menerus mengumpulkan harta. Aku heran terhadap orang yang meyakini kubur, tetapi dapat tertawa. Aku heran kepada orang yang meyakini akhirat, bagaimana ia bisa merasa tenang. Aku heran terhadap orang yang meyakini dunia dan kesirnaannya, namun ia merasa tenang di sisinya. Aku heran pada orang yang alim lisannya, tetapi bodoh hatinya. Aku heran terhadap orang yang bersuci dengan air, tetapi tidak suci hatinya. Aku heran pada orang yang sibuk mengurus aib orang lain, tetapi lupa terhadap aib diri sendiri; atau terhadap orang yang mengetahui bahwa Allah SWT melihatnya, tetapi ia tetap berbuat maksiat; atau terhadap orang yang mengetahui bahwa dirinya akan mati seorang diri, masuk kubur sendirian, dihisab sendiri; tetapi ia merasa tenang bersama orang lain. Sungguh, tiada Tuhan selain Aku dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.”

    Menutup aib orang lain termasuk hal yang diperintahkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 12,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

    Menurut Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, ayat tersebut berisi perintah untuk tidak berburuk sangka terhadap orang-orang yang beriman. Ayat tersebut juga dijadikan dalil dalam menutup aib.

    Menutup aib memiliki keutamaan yang besar. Disebutkan dalam kitab Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi yang disyarah Musthafa Dib al-Bugha dkk dan diterjemahkan Misbah, balasan orang yang menutupi aib seseorang di dunia adalah ditutup aibnya pada hari kiamat. Hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, yang bersabda,

    لا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Artinya: “Tiada seorang hampa pun yang menutupi cela seseorang hamba yang lainnya di dunia, melainkan ia akan ditutupi celanya oleh Allah pada hari kiamat.” (HR Muslim dalam Shahih-nya)

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Allahumma Bariklana Fi Rajaba, Potongan Doa Sambut Rajab


    Jakarta

    Salah satu potongan doa yang kerap beredar jelang memasuki bulan Rajab adalah allahumma bariklana fi rajaba. Doa tersebut juga dikenal sebagai doa untuk menyambut bulan Ramadan.

    Rajab adalah satu dari empat bulan haram dalam kalender Hijriah atau bulan suci sesuai firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 36. Melalui ayat ini, Allah SWT berfirman mengenai bulan-bulan yang diagungkan,

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ


    Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

    Hal ini ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakrah RA. Beliau bersabda,

    وعن أبي بكرة نفيع بن الحارث رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏”‏إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض‏:‏ السنة اثنا عشر شهرًا، منها أربعة حرم‏:‏ ثلاث متواليات‏:‏ ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان

    Artinya: “Waktu telah menyelesaikan siklusnya dan telah mencapai kondisi saat Allah SWT menciptakan langit dan bumi. Tahun terdiri atas 12 bulan dengan empat bulan tidak dapat diganggu gugat. Tiga di antaranya berurutan Dhul-Qa’dah, Dhul-Hijjah dan Muharram dan Rajab, bulan Mudar (suku), yang berada di antara Jumada dan Sha’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Sufyan Ats Tsauri dalam Kitab Latho-if Al Ma’arif berpendapat, empat bulan haram adalah waktu terbaik untuk mengerjakan amal ketaatan hingga para salaf menyukai puasa pada bulan tersebut.

    “Pada bulan Haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya,” kata Sufyan Ats Tsauri yang diterjemahkan Tim PISS-KTB dalam buku Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam.

    Menurut buku Dahsyatnya Puasa Sunah oleh H. Amirulloh Syarbini dan Hj. Lis Nur’aeni Afgani, bulan Rajab menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT. Termasuk memanjatkan doa allahumma bariklana fi rajaba.

    Arti Potongan Doa Allahumma Bariklana Fi Rajaba

    Salah satu bacaan doa yang kerap diamalkan muslim dalam menyambut Rajab adalah doa jelang Rajab yang diamalkan Rasulullah SAW. Ini bacaan doa lengkapnya yang bersumber dari riwayat Anas bin Malik RA.

    أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان

    Bacaan latin: Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’bana wa balighna ramadhana

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga bulan Ramadan.”

    Doa tersebut mengarahkan pada dalil kuat mengenai pengabulan doa pada Rajab, selaras dengan anjuran berbuat amal-amal shalih pada bulan Rajab. Doa itu juga termaktub dalam Al-Hilyah oleh Abu Nuaim, Musnad Al-Firdaus oleh Ad-Dailami, dan Al-Azkar oleh Imam Nawawi.

    Meski menurut Ustadz Yusuf Mansyur dalam arsip pemberitaan detikcom, doa tersebut memiliki derajat hadits dhaif atau ringan, tidak ada salahnya untuk membaca doa menyambut Rajab tersebut untuk meminta keberkahan dari Allah SWT sepanjang Rajab.

    Berdasarkan hasil pengamatan hilal oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), ketinggian hilal baru memenuhi kriteria MABIMS pada Jumat, 12 Januari 2024 waktu Maghrib. Dengan kata lain, awal Rajab 2024 dimungkinkan akan jatuh pada Sabtu, 13 Januari 2024 mendatang.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Larangan Salat setelah Subuh dan Ashar, Ini Haditsnya


    Jakarta

    Mendirikan salat setelah salat Subuh dan Ashar termasuk perkara yang dilarang. Larangan ini bersifat mutlak.

    Larangan salat setelah Subuh dan Ashar disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri sebagaimana dihimpun dalam kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang diterjemahkan Irfan Maulana Hakim. Diriwayatkan, Abu Said Al Khudri mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    لا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ


    Artinya: “Tidak ada salat (sunnah) setelah salat Subuh hingga matahari terbit, dan tidak ada salat (sunnah) setelah salat Ashar hingga matahari terbenam. (HR Bukhari dan Muslim. Dalam redaksi Muslim dikatakan, “Tidak ada salat (sunnah) setelah salat Fajar.”)

    Menurut penjelasan dalam At-Tadzhib fi Adillati Matnil Ghaya wa Taqrib karya Al-Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Al Husain Al-Ashfahani yang diterjemahkan Abu Firly Bassam Taqiy, maksud “tidak ada salat” dalam hadits tersebut adalah dilarang salat atau dengan kata lain redaksinya, “Janganlah kalian salat pada waktu-waktu itu.”

    Muhyidin Ibnu Arabi mengatakan dalam kitab Al-Futuhat Al-Makkiyyah yang diterjemahkan Harun Nur Rosyid, waktu setelah salat Subuh hingga matahari adalah waktu keluarnya manusia dari alam barzakh menuju alam tampak, sedangkan salat hanya ditentukan waktunya di alam indrawi. Begitu pula dengan waktu setelah salat Ashar.

    Disebutkan dalam Mausu’ah Masa’Il Al Jumhur Fi Al-Fiqh Al-Islamiy karya Muhammad Na’im Muhammad Hani Sa’i yang diterjemahkan Masturi Irham dan Asmui Taman, jumhur ulama berpendapat bahwa larangan salat sunnah setelah salat Ashar bersifat mutlak tanpa batasan matahari berwarna kuning atau terbenamnya.

    Sementara itu, minoritas ulama, seperti dikatakan Ibnu Mundzir yang menukil pendapat para ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in, ada yang memperbolehkan salat sunnah setelah Ashar. Dalam pendapat ini, waktu larangan hanya terbatas pada terbit matahari dan terbenamnya.

    Pendapat Imam Syafi’i

    Imam Syafi’i juga menyampaikan pendapatnya terkait larangan salat setelah salat Subuh dan Ashar. Dijelaskan dalam buku Fatwa-Fatwa Imam Asy-Syafi’i karya Asmaji Muchtar, Imam Syafi’i mengatakan larangan tersebut berlaku bagi salat yang tidak seharusnya dilakukan pada saat itu.

    “Barang siapa mengetahui bahwa Rasulullah SAW melarang salat sesudah Subuh dan Ashar, sebagaimana beliau melarang salat saat matahari terbit dan terbenam, hendaklah ia mengetahui apa yang kami katakan bahwa larangan tersebut berlaku bagi salat yang tidak seharusnya dilakukan pada saat itu,” jelas Imam Syafi’i.

    Imam Syafi’i juga mengatakan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Sebagian penduduk di daerahnya mengatakan salat jenazah setelah Ashar bisa dikerjakan selama matahari belum berubah dan sesudah salat Subuh sebelum matahari mendekati waktu terbitnya. Kelompok ini berpegang pada riwayat Ibnu Umar.

    Imam Syafi’i menyampaikan ada tiga waktu yang diharamkan untuk salat. Di antaranya sejak mengerjakan salat Subuh sampai matahari terbit, sejak mengerjakan salat Ashar sampai matahari terbenam secara sempurna, dan ketika tengah hari sampai matahari tergelincir.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Pekerjaan Terbaik Menurut Sabda Rasulullah



    Jakarta

    Rasulullah SAW pernah menyebutkan pekerjaan terbaik di antara umat manusia. Pekerjaan ini berkaitan dengan tindakan seseorang dan salah satunya mudah dijumpai di masyarakat.

    Hadits tentang pekerjaan terbaik ini diriwayatkan Imam Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan Baihaqi sebagaimana termaktub dalam kitab Jami’ al-Hadits yang dinukil Muhammad M. Reysyahri dkk dalam buku Ensiklopedia Mizanul Hikmah: Kumpulan Hadis Nabi SAW Pilihan.

    Rasulullah SAW bersabda,


    خَيْرُ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدَيْ الْعَامِلِ إِذَا نَصَحَ

    Artinya: “Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, bila dia tulus.”

    Dalam redaksi lain dikatakan,

    أَطْيَبُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

    Artinya: “Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya dan setiap jual beli yang baik.”

    Menurut penjelasan dalam buku Sepenggal Cerita Sejuta Makna karya Abdul Wahid Al-Faizin, dalam hadits tersebut Rasulullah SAW menyebutkan dua pekerjaan terbaik, yaitu pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri dan berdagang. Pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri menjadi pekerjaan terbaik karena terjamin kehalalannya.

    Ada juga yang menafsirkan “pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri” sebagai pekerjaan yang dilakukan dengan baik atau profesional. Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian, tanggung jawab, jauh dari unsur penipuan, dan tidak sembarangan.

    Disebutkan dalam Tanbih al-Khawathir sebagaimana dinukil Muhammad M. Reysyahri dkk dalam Ensiklopedia Mizanul Hikmah, Allah SWT menyukai orang yang bekerja dan makan dari hasil kerjanya sendiri. Hal ini bersandar pada perkataan Nabi Daud AS tatkala melewati seorang tukang sepatu,

    يَا هَذَا، إِعْمَلْ وَ كُلْ، فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ مَنْ يَعْمَلُ وَيَأْكُلُ، وَلَا يُحِبُّ مَن يَأْكُلُ وَ لا يَعْمَلُ

    Artinya: “Wahai Fulan! Bekerjalah dan makanlah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang yang bekerja dan makan (hasil kerjanya) dan tidak menyukai orang yang makan namun tidak bekerja.”

    Rasulullah SAW juga bersabda terkait itu,

    مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطَّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

    Artinya: “Tidak ada seseorang yang memakan makanan, yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah, Daud AS, makan dari jerih payahnya sendiri.” (Riwayat ini terdapat dalam Kanz al-Ummal)

    Hadits tersebut juga termuat dalam Riyadhus Shalihin, kitab kumpulan hadits karya Imam an-Nawawi. Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam Bukhari.

    Menurut penjelasan dalam Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali yang diterjemahkan M. Abdul Ghoffar, hadits tersebut mengandung makna sebaik-baik makanan dan setenang-tenang hidup adalah yang dihasilkan dari usaha. Demikianlah yang dilakukan para nabi dan Allah SWT telah menjelaskan bahwa pancaran manhaj mereka adalah tidak meminta upah dari orang lain.

    Dalam Sunan at-Tirmidzi juga terdapat hadits hasan shahih yang menyebut sebaik-baiknya makanan adalah hasil dari usaha sendiri. Hadits ini diriwayatkan dari Ahmad bin Mani, dari Yahya bin Zakariya bin Abi Za’idah, dari al-Ma’sy, dari Umarah bin Umari, dari bibinya, dari Aisyah RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya, sebaik-baik yang kamu makan adalah hasil pekerjaan kalian, dan anak-anakmu adalah termasuk hasil pekerjaan kalian.”

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Malam Pertama Bulan Rajab 2024, Dibaca Kapan?


    Jakarta

    Doa malam pertama bulan Rajab 2024 dapat dijadikan sebagai amalan untuk menyambut Rajab. Melalui sistem penanggalan kalender Hijriah, sebentar lagi ada pergantian bulan dari Jumadil Akhir ke Rajab.

    Menurut Kalender Hijriah Indonesia 2024 susunan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama (Kemenag). Awal Rajab bertepatan pada Sabtu, 13 Januari 2024 besok.

    Hal senada juga didapat dari hasil pantauan hilal oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut ketinggian hilal baru memenuhi kriteria MABIMS pada Jumat, 12 Januari 2024 waktu Maghrib. Hasil itu menandai awal Rajab 2024 jatuh pada Sabtu, 13 Januari 2024.


    Dengan kata lain, malam pertama bulan Rajab 2024 bertepatan dengan malam ini, Jumat (12/1/2024). Muslim juga bisa mulai mengamalkan doa malam pertama bulan Rajab atau doa menyambut Rajab berikut.

    Doa Menyambut Bulan Rajab 2024

    أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان

    Bacaan latin: Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’bana wa balighna Ramadhana.

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah (umur) kami hingga bulan Ramadan.”

    Doa tersebut mengarahkan pada dalil kuat mengenai pengabulan doa pada Rajab, selaras dengan anjuran berbuat amal-amal shalih pada bulan Rajab. Doa itu juga termaktub dalam Al-Hilyah oleh Abu Nuaim, Musnad Al-Firdaus oleh Ad-Dailami, dan Al-Azkar oleh Imam Nawawi.

    Meski menurut Ustaz Yusuf Mansyur dalam arsip detikcom, doa tersebut memiliki derajat hadits dhaif atau ringan, tidak ada salahnya untuk membaca doa menyambut Rajab tersebut untuk meminta keberkahan dari Allah SWT sepanjang Rajab.

    Tidak hanya itu, dikutip dari laman Kemenag, sejumlah ulama menganjurkan untuk memperbanyak amalan di bulan Rajab atas dasar fadailul a’mal. Beberapa di antaranya, mengerjakan salat sunnah khusus sesudah salat Maghrib, berpuasa sunnah sebulan penuh, memperbanyak istighfar Rajab, dan sholawat Rajab.

    Bulan Rajab memiliki makna keagungan dan mulia. Hal ini dapat dibuktikan melalui salah satu firman-Nya yang termaktub dalam surat At Taubah ayat 36 yang disebut bulan haram,

    اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

    Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ada dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangi lah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

    Berdasarkan dalil di atas, bulan Rajab termasuk dalam satu dari empat bulan haram. Keempatnya adalah bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram.

    Sufyan Ats Tsauri dalam Kitab Latho-if Al Ma’arif menambahkan, bulan haram merupakan waktu terbaik untuk mengerjakan amal ketaatan hingga para salaf menyukai puasa pada bulan tersebut.

    “Pada bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya,” kata Sufyan Ats Tsauri yang diterjemahkan Tim PISS-KTB dalam buku Hasil Bahtsul Masail dan Tanya Jawab Agama Islam.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir setelah Sholat Fardhu yang Dibaca 33 Kali


    Jakarta

    Salah satu amalan sunnah setelah sholat fardhu adalah membaca tiga macam dzikir sebanyak 33 kali. Dzikir yang disunnahkan dibaca setelah sholat fardhu masing-masing sebanyak 33 kali adalah tasbih, tahmid, dan takbir.

    Syaikh Abd Al-Razaq Al-Badr menyebutkan dalam bukunya yang berjudul Zikir dan Doa dalam Tuntunan Al-Kitab dan Al-Sunnah, bahwasanya Rasulullah SAW telah menuntunkan umatnya untuk membaca ketiga kalimat thayyibah itu setelah sholat.

    Dari Abu Hurairah RA berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,


    مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَقَالَ: تَمَامَ الْمِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ . (رواه مسلم)

    Artinya: “Barang siapa yang bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid sebanyak 33 kali, dan bertakbir sebanyak 33 kali setelah melaksanakan sholat fardhu sehingga berjumlah 99 kali, kemudian menggenapkannya untuk yang keseratus dengan ucapan:

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

    Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya kekuasaan, dan untuk-Nya pujian dan Dia Maha berkuasa di atas segala sesuatu. Maka kesalahannya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Muslim)

    Dzikir setelah Sholat Fardhu

    Berikut adalah bacaan dzikir yang disunnahkan dibaca setelah sholat fardhu masing-masing sebanyak 33 beserta Arab, latin, dan artinya.

    1. Tasbih (Subhanallah) 33 Kali

    سُبْحَانَ الله

    Latin: Subhaana Allah

    Artinya: “Maha Suci Allah.”

    2. Tahmid (Alhamdulillah) 33 Kali

    الْحَمْدُ للهِ

    Latin: Alhamdulillah

    Artinya: “Segala puji bagi Allah.”

    3. Takbir (Allahuakbar) 33 Kali

    اللَّهُ أَكْبَرُ

    Latin: Allahu Akbar

    Artinya: “Allah Maha Besar.”

    Keutamaan Dzikir setelah Sholat Fardhu

    Dikutip dari kitab Shalatul Mu’min karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani yang diterjemahkan Abu Khadijah, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, keutamaan dzikir setelah sholat fardhu yang dibaca sebanyak 33 kali ini memiliki kedudukan yang sama dengan haji, umrah, dan sedekah.

    Suatu saat ada sekelompok orang miskin dari golongan Muhajirin datang kepada Rasulullah SAW. Orang-orang itu berkata kepada beliau, “Orang-orang kaya dengan mudah dapat meraih derajat tinggi dan kenikmatan abadi (di surga).”

    Mendengar hal ini, Rasulullah SAW bertanya kepada mereka, “Mengapa begitu?”

    Mereka menjawab, “Mereka (orang-orang kaya) bisa sholat sebagaimana kami sholat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Sementara dengan harta lebih yang mereka miliki, mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad, dan bersedekah.”

    Rasulullah SAW bersabda, “Maukah aku ajarkan kepada kalian kalimat dzikir yang dengannya kalian dapat meraih apa yang bisa diraih oleh orang-orang yang telah mendahului kalian dan kalian dapat mendahului orang-orang ada sesudah kalian (dalam meraihnya), sementara itu juga tak ada seorang pun yang kalian amalkan ini?”

    Beliau melanjutkan, “Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid sebanyak 33 kali di setiap selesai sholat.”

    Lagi-lagi para Muhajirin itu berkata, “Kami telah mendengar saudara-saudara kami yang kaya itu juga mengamalkan apa yang kami amalkan.”

    Rasulullah SAW pun menjawab,

    ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ

    Artinya: “Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com