Tag: hadits

  • Keselamatan Manusia Tergantung Kemampuan Jaga Lisan


    Jakarta

    Menjaga lisan adalah perkara yang penting dalam Islam. Baginda Nabi Muhammad SAW berulang kali berpesan agar seseorang hati-hati dengan lisannya.

    Dalam sebuah hadits, beliau bersabda,

    سلامة الإنسان في حفظ اللسان


    Artinya: “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR Bukhari)

    Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin turut memaparkan hadits serupa dari Uqbah bin Amir RA, ia berkata,

    قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ؟ قَالَ: «أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعُكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ

    Artinya: “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah yang menyebabkan keselamatan?’ Beliau menjawab, ‘Kenanglah lidahmu, tetaplah dalam rumahmu, dan tangisilah dosamu’.” (HR At-Tirmidzi dan ia menyatakannya hasan)

    Penerjemah lainnya mengartikan kata أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ sebagai “jagalah lisanmu”.

    Menurut penjelasan dalam Syarah Riyadhus Shalihin yang diterjemahkan Misbah, hadits tersebut mengandung anjuran menjaga lisan dan sibuk dengan urusan pribadi apabila ia tidak sanggup memberikan manfaat bagi orang lain atau khawatir agama dan dirinya rusak ketika bergaul dengan banyak orang.

    Imam at-Tirmidzi dalam kitab Zuhud bab Menjaga Lisan juga memaparkan hadits urgensi menjaga lisan demi keselamatan. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri RA, dari Nabi SAW yang bersabda,

    إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ، فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ النِّسَانَ، تَقُولُ : اِتَّقِ اللَّهَ فِينَا، فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ: فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا رَوَاهُ التَّرْمِذِيُّ.

    Artinya: “Apabila datang waktu pagi, maka semua anggota badan manusia memperingatkan lidahnya, di mana anggota-anggota badan itu berkata, ‘Takutlah kepada Allah dalam memelihara keselamatan kami, karena nasib kami tergantung kamu. Bila kamu lurus, maka kami pun lurus. Dan bila kamu bengkok, maka kami pun bengkok’.” (HR At-Tirmidzi)

    Pensyarah kitab Riyadhus Shalihin Imam an-Nawawi mengatakan, menjaga lisan penting demi keselamatan seseorang karena lisan merupakan delegasi dan penerjemah hati. Dua anggota tubuh itu bisa menentukan selamat tidaknya seseorang.

    “Manusia itu bergantung pada dua benda kecil pada tubuhnya, yaitu lidah dan hatinya. Anggota badan itu terpengaruh secara negatif oleh dosa dan maksiat yang dilakukan anggota badan lain,” jelas pensyarah.

    Bahaya Lisan

    Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menulis sebuah kitab yang secara khusus membahas bahaya lisan. Kitab tersebut berjudul Afat al-Lisan.

    Di antara bahaya lisan itu adalah berbincang tentang kebatilan. Maksud kebatilan, kata Imam al-Ghazali, adalah berbicara tentang maksiat seperti menceritakan masalah wanita, tempat-tempat minuman keras, orang fasik, kemewahan orang kaya, dan tingkah laku yang tidak baik lainnya.

    Selain itu, lisan juga bisa memicu pertengkaran, saling hujat, dendam, dan kejahatan lain akibat berbantahan dan berdebat. Menurut Imam al-Ghazali, cara paling efektif mengatasi sifat buruk yang timbul dari lisan adalah menghancurkan kesombongan diri yang mendorong untuk selalu menampakkan kelebihannya.

    “Kemudian menghancurkan sifat kebinatangan yang selalu ingin menjatuhkan orang lain di depan umum. Sesungguhnya cara yang paling mudah untuk mengobati penyakit adalah dengan memberantas dan menghindari berbagai sebab yang menimbulkannya,” jelas Imam al-Ghazali seperti diterjemahkan Fuad Kauma.

    Lidah termasuk anggota tubuh yang harus dilindungi dari dosa bersama dengan mata, telinga, hati, dan perut. Salah satu cara menjaga lisan adalah dengan diam. Rasulullah SAW bersabda,

    النَّاسُ ثَلَاثَةٌ غَانِمٌ وَسَالِمٌ وَشَاحِبٌ فَالْغَانِمُ الَّذِي يَذْكُرُ اللَّهَ وَالسَّالِمُ السَّاكِتُ وَالشَّاحِبُ الَّذِي يَخُوضُ فِي الْبَاطِلِ

    Artinya: “Manusia itu ada tiga macam: (1) orang yang memperoleh kemenangan, (2) orang yang selamat, (3) orang yang binasa. Orang yang memperoleh kemenangan adalah orang yang berzikir kepada Allah. Orang yang selamat adalah orang yang diam. Sedangkan orang yang binasa adalah orang yang banyak bicara tentang kebatilan.” (HR Thabrani dan Abu Ya’la)

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Simpanan Pahala bagi Orang yang Berdoa tapi Tak Kunjung Dikabulkan


    Jakarta

    Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dan Dia akan mengabulkan setiap permintaan. Janji Allah SWT ini disebutkan dalam Al-Qur’an.

    Allah SWT berfirman dalam surah Gafir ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ ٦٠


    Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Menurut Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, melalui surah Gafir (Al Mu’min) ayat 60 Allah SWT menyeru agar berdoa dan memohon kepada-Nya. Dalam berdoa, ada sejumlah adab yang perlu dijaga.

    Pertama, kata Buya Hamka, hendaklah ikhlas hati kepada-Nya. Kedua, percaya bahwa permohonan niscaya akan dikabulkan. Ketiga, menanamkan kepercayaan penuh bawa tawajjuh berdoa adalah taufik atau bimbingan dari Allah SWT yang keuntungannya adalah mendekatkan diri kepada-Nya. Adapun apabila terkabul itu adalah karunia kedua.

    Namun, tak semua doa langsung dikabulkan, ada kalanya itu menjadi simpanan pahala di akhirat. Imam Bukhari dalam kitab Shahih Adabul Mufrad yang ditakhrij Syekh Al-Albani dan diterjemahkan Abu Ahsan memaparkan sejumlah riwayat yang menerangkan hal ini.

    Diriwayatkan Abu Said Al-Khudri, dari Nabi SAW,

    مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو لَيْسَ بِإِثْمٍ وَلَا بِقَطِيْعَةِ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ يَعْجَلَ لَهُ دَعْوَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يُدَخِّرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَدْفَعَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلِهَا قَالَ إِذَا يُكَفِّرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

    Artinya: “Tiada seorang muslim yang berdoa, selagi tidak untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: Adakalanya doanya dikabulkan segera. Adakalanya doa itu sebagai simpanannya untuk besok di akhirat. Adakalanya Allah akan menolak kejelekan sebesar permintaannya.” Abu Said berkata, “Jika demikian, maka kita perbanyak doa!” Nabi menjawab, “Allah lebih banyak.”

    Hadits tersebut shahih. Terdapat dalam kitab Takhrijut-Targhibi juga diriwayatkan at-Tirmidzi dalam kitab Ad-Da’awaah dari Ubadah bin Shamit.

    Doa yang tak segera dikabulkan dan adakalanya menjadi simpanan di akhirat juga diterangkan melalui hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda,

    مَا مِنْ مُؤْمِنٍ صَبَّ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ يَسْأَلَهُ مَسْأَلَةً إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهَا إِمَّا عَجَّلَهَا لَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِمَّا ذَخَرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مَا لَمْ يَعْجَلْ قَالُوا يَا رَسُولُ اللَّهِ وَمَا عَجَلْتُهُ قَالَ يَقُوْلُ دَعَوْتُ وَدَعَوْتُ وَلَا أَرَاهُ يُسْتَجَابُ لِي

    Artinya: “Tiada seorang mukmin yang mengangkat mukanya kepada Allah seraya memohon, kecuali Allah pasti akan mengabulkannya. Adakalanya dikabulkan dengan disegerakan-Nya di dunia, dan adakalanya dijadikan simpanan baginya besok di akhirat selama ia tidak tergesa-gesa.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa itu?” Nabi menjawab, “Dia berkata, ‘Saya telah berdoa, dan berdoa tapi tidak pula dikabulkan-Nya’.”

    Hadits tersebut shahih dari sumber yang sama. Selain Bukhari, Abu Daud dan Muslim juga meriwayatkannya.

    Waktu Mustajab Berdoa

    Berdoa bisa dilakukan kapan saja. Namun, ada sejumlah waktu yang disebut mustajab atau besar kemungkinan doa yang dipanjatkan akan dikabulkan. Salah satu waktu mustajab ini adalah di sepertiga malam terakhir.

    Hal tersebut mengacu pada sabda Rasulullah SAW, “Pada setiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun (ke langit dunia), ketika tinggal sepertiga malam yang akhir Dia berfirman, ‘Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaannya. Dan barang siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia’.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Memuliakan Tamu dan Adabnya dalam Islam


    Jakarta

    Dalam Islam, muslim dianjurkan untuk memuliakan tamu. Ketika seseorang bertamu, maka kita harus menjamunya dengan cara-cara yang baik.

    Anjuran memuliakan tamu juga termaktub dalam surah Al-Hasyr ayat 9. Allah SWT berfirman,

    وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ ٩


    Artinya: “Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.”

    Menukil dari buku Pendidikan Agama Islam oleh Bachrul Ilmy, Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan umatnya untuk memuliakan tamu. Hal ini disebutkan dalam beberapa hadits.

    Hadits Anjuran Memuliakan Tamu

    Diterangkan dalam Ad-Durrah As-Salafiyyah Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah oleh Imam Muhyidin An-Nawawi terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, terdapat beberapa hadits yang membahas tentang memuliakan tamu. Rasulullah SAW bersabda,

    “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Muslim).

    Kemudian dalam hadits lainnya Nabi SAW berkata,

    “Jibril masih saja mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga sehingga aku menyangka bahwa ia akan menjadi ahli waris atas tetangganya yang lain.” (HR Bukhari)

    Penghormatan terhadap tamu adalah bagian dari ajaran Islam. Bahkan, memuliakan tamu termasuk akhlak para nabi dan orang-orang saleh.

    Sebagian ulama mewajibkan hal ini, namun kebanyakan berpendapat sebagai bagian dari kemuliaan akhlak. Memuliakan tamu merupakan bagian dari ibadah yang tidak boleh dikurangi nilainya, entah yang bertamu orang biasa atau orang kaya.

    Muslim hendaknya tidak memiliki rasa malu untuk menghidangkan makanan yang dimiliki kepada tamu. Selain itu, cara memuliakan tamu lainnya dengan memasang wajah ceria untuk menyambut mereka. Begitu pun dengan berbicara yang baik dan menyenangkan.

    Adab Menerima Tamu

    Menurut Buku Pintar 50 Adab Islam karya Arfiani, berikut beberapa adab menerima tamu yang bisa diperhatikan oleh muslim.

    • Tidak berlebihan dalam menjamu
    • Berbuat baik kepada tamu selama berada di rumah
    • Tidak mengunci pintu kecuali setelah tamu pergi
    • Tempatkan tamu di tempat yang layak
    • Memuliakan dan menyuguhkan hak tamu

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Amalan Terbaik, Paling Suci dan Bisa Mengangkat Derajat Seseorang


    Jakarta

    Ada satu amalan yang disebut paling suci di sisi Allah SWT dan terbaik bagi manusia. Amalan ini juga bisa mengangkat derajat seseorang.

    Amalan ini disampaikan langsung oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Beliau bersabda,

    ألا أنبئكُم بِخَيْرٍ أَعمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِندَ مليككُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ من أنفاق الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَنَضْرِبُوا أَعْنَا فَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَا فَكَمْ؟ قَالُوا بَلَى ، قَالَ ذِكْر اللَّهِ تَعَالَى . رواه الترمذي عن أبي الدرداء .


    Artinya: “Maukah kalian aku beritahukan tentang amalan yang paling baik, paling suci di sisi Tuhanmu, paling dapat mengangkat derajatmu, yang lebih baik bagimu daripada infak emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada jika kalian menjumpai musuh lalu kalian tebas leher-leher mereka atau mereka memenggal leher-leher kalian? Para sahabat menjawab: “Baiklah”, Rasulullah bersabda: “Berzikirlah kepada Allah.” (HR Tirmidzi dari Abu Darda’)

    Hadits tersebut terdapat dalam Sunan Tirmidzi dalam kitab ad-Da’awat an Rasulillah.

    Menurut penjelasan dalam buku Keutamaan Doa dan Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera karya M. Khalilurrahman al Mahfani terkait hadits tersebut, zikir kepada Allah SWT (termasuk doa) adalah amalan yang paling utama di sisi Allah SWT. Bahkan, zikir lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak atau jihad di jalan Allah SWT.

    “Hal ini dapat dimaklumi karena zikir merupakan media komunikasi antara hamba dengan Tuhannya yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Dengan zikir, seorang hamba merasa dekat dengan Allah dan merasa selalu dalam perlindungan serta pengawasan-Nya,” jelas buku tersebut.

    Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Fawaaidul Adzakaar yang diterjemahkan Abdul Hayyie al-Kattani dan Budi Musthafa menukil pendapat Ibnu Zaid dan Qatadah yang mengatakan zikir kepada Allah SWT merupakan perkara yang paling besar dari apa pun. Pendapat ini diperkuat dengan hadits yang dikeluarkan at-Tirmidzi tadi.

    Ibnu Abi ad-Dunya menyebutkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika seseorang bertanya kepadanya, “Amal apakah yang paling utama?” Dia menjawab, “Zikir kepada Allah lebih besar dari seluruh perkara.”

    Keutamaan zikir mengingat Allah SWT telah banyak disebutkan dalam ayat Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Al Baqarah ayat 152. Allah SWT berfirman,

    فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ ١٥٢

    Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

    Menurut penafsiran Ibnu Qayyim, kedudukan Allah SWT mengingat hamba-Nya lebih besar daripada hamba mengingat Allah SWT.

    Bacaan Zikir yang Bisa Jadi Benteng Setan Seharian Penuh

    Ulama kelahiran Baghdad yang hidup pada abad ke-14, Ibnu Rajab, dalam kitab Jamiul Ulum wal Hikam fi Syarhi Haditsi Sayyidil Arab wal Ajm yang diterjemahkan Fadhli Bahri, memaparkan sebuah hadits tentang bacaan zikir yang bisa menjadi benteng setan. Zikir ini juga bisa menghapus 100 kesalahan, dituliskan 100 kebaikan dan setara memerdekakan 10 budak.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berkata, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja tanpa ada sekutu bagi-Nya, kerajaan milik-Nya, pujian milik-Nya, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu’ sebanyak seratus kali, maka itu sama dengan memerdekakan sepuluh budak, seratus kebaikan ditulis baginya, seratus kesalahan dihapus darinya, kalimat tersebut adalah benteng baginya dari setan sejak siangnya hingga sore hari, dan tidak seorang pun yang datang dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang ia bawa kecuali orang yang mengerjakan yang lebih banyak darinya.”

    Hadits tersebut dikeluarkan Imam Bukhari, Muslim, Imam Ahmad, Imam Malik, at-Tirdmidzi, dan Ibnu Majah.

    Bacaan zikir yang dimaksud adalah sebagai berikut,

    لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

    Laa ilaahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syain qadiiru.

    Wallahu a’lam.

    (kri/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Rasulullah Beri Kunci agar Hidup Diliputi Pertolongan Allah



    Jakarta

    Setiap manusia akan diuji sesuai batas kemampuannya sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 286. Jika hidup terasa berat, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar mendapat pertolongan Allah SWT.

    Ibnu Rajab dalam kitab Jamiul Ulum Hikam fi Syarhi Haditsi Sayyidil Arab wal Ajm yang diterjemahkan Fadhli Bahri memaparkan hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan hal ini. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA, Nabi SAW bersabda,

    يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتِ : احْفَظِ اللَّهُ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهُ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ الله، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَحَفْتِ الصُّحُفُ.


    Artinya: “Hai anak muda, aku ajarkan beberapa kalimat kepadamu: jagalah Allah niscaya Allah menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau dapatkan Allah di depanmu, jika engkau minta mintalah kepada Allah, jika engkau minta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah, ketahuilah jika seluruh umat sepakat untuk memberimu manfaat dengan sesuatu maka mereka tidak dapat memberimu manfaat dengan sesuatu tersebut kecuali yang telah ditetapkan Allah untukmu, jika mereka sepakat untuk memberimu madzarat dengan sesuatu maka mereka tidak dapat memberimu madzarat dengan sesuatu kecuali yang telah ditetapkan Allah untukmu, pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakannya hasan shahih)

    At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits serupa dari Hanasy ash-Shan’ani dari Ibnu Abbas dengan redaksi,

    احْفَظِ اللَّهُ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّحَاءِ يَعْرِفُكَ فِي الشَّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنْ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا.

    Artinya: “Jagalah Allah niscaya engkau mendapatkan-Nya di depanmu, kenali Allah pada saat makmur niscaya Allah kenal denganmu pada saat sulit, ketahuilah apa yang tidak engkau dapatkan tidak akan engkau dapatkan, dan apa yang mesti engkau dapatkan tidak akan terlepas darimu, ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama musibah dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

    Ibnu Rajab juga memaparkan hadits lain dengan redaksi yang lebih lengkap dari banyak jalur. Adapun, jalur yang paling shahih kata Ibnu Rajab adalah jalur Hanasy ash-Shan’ani yang diriwayatkan At-Tirmidzi.

    Penjelasan Hadits

    Hadits-hadits di atas, kata Ibnu Rajab, mengandung wasiat-wasiat luhur dan perkara penting hingga sebagian ulama yang merenungkannya terkagum-kagum.

    Ibnu Rajab menjelaskan, maksud sabda Nabi SAW “Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu” adalah jagalah hukum-hukum Allah SWT, hak-hak-Nya, perintah-perintah-Nya dan larangan-larangan-Nya. Orang yang berbuat seperti ini termasuk orang-orang yang menjaga hukum-hukum Allah SWT yang dipuji melalui firman-Nya,

    هٰذَا مَا تُوْعَدُوْنَ لِكُلِّ اَوَّابٍ حَفِيْظٍۚ ٣٢ مَنْ خَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاۤءَ بِقَلْبٍ مُّنِيْبٍۙ ٣٣

    Artinya: “(Dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang bertobat lagi patuh. (Dialah) orang yang takut kepada Zat Yang Maha Pengasih (sekalipun) dia tidak melihat-Nya dan dia datang (menghadap Allah) dengan hati yang bertobat.” (QS Qaf: 32-33)

    Di antara perintah Allah SWT yang wajib dijaga adalah salat dan thaharah (bersuci). Selain itu, Allah SWT juga memerintahkan hamba-Nya menjaga kepala dan perut sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,

    “Malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya ialah engkau menjaga kepala beserta apa yang dimuatnya dan menjaga perut beserta apa yang dikandungnya.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi)

    Namun, hadits tersebut dinilai dhaif.

    Adapun, maksud penjagaan Allah SWT terhadap hamba-Nya adalah menjaga kemaslahatan dunianya, seperti menjaga badan, anak, keluarga, dan hartanya. Orang yang menjaga Allah SWT di masa muda dan kuat, maka Allah SWT akan menjaganya saat tua dan lemah.

    (kri/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Golongan yang Jasadnya Tak Akan Hancur Dimakan Tanah


    Jakarta

    Jasad manusia umumnya akan mengalami pembusukan dan terurai ke tanah. Namun, ada golongan yang jasadnya tetap utuh hingga hari kiamat.

    Menurut sebuah hadits yang terdapat dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi, jasad manusia yang tak akan hancur adalah golongan nabi. Allah SWT mengharamkan tanah memakan jasad mereka. Diriwayatkan dari Aus bin Aus RA, Rasulullah SAW bersabda,

    إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنْ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ» فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟ يَقُولُ: بَلِيتَ، قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيح.


    Artinya: “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca sholawat untukku pada hari itu, karena sesungguhnya bacaan sholawatmu itu ditampakkan kepadaku.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana bacaan sholawat kami diperlihatkan kepadamu sedangkan engkau telah hancur dalam tanah?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR Abu Dawud dengan sanad shahih)

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab Shalawat bab Keutamaan Hari Jumat dan Malam Jumat.

    Pensyarah kitab Riyadhus Shalihin, Musthafa Dib al-Bugha dkk, menjelaskan mutiara hadits tersebut bahwa jasad para nabi tidak hancur melainkan tetap dalam kondisi seperti mereka meninggal dunia.

    Nabi Muhammad SAW Akan Dibangkitkan Pertama

    Ahli hadits Ibnu Katsir dalam kitabnya An-Nihayah yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan memaparkan hadits yang menyebut Nabi Muhammad SAW adalah orang yang pertama kali dikeluarkan dari kubur saat hari kebangkitan.

    Abu Hurairah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    أنا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعِ وَأَولُ مُشفع

    Artinya: “Aku adalah pemimpin anak cucu Adam di hari kiamat, orang yang pertama-tama dikeluarkan dari rekahan bumi, orang yang pertama-tama memberi syafaat, dan orang pertama-tama yang diterima syafaatnya.”

    Dalam Shahih Muslim terdapat hadits serupa dengan redaksi,

    أنا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُ عَنْهُ الْأَرْضِ فَأَجِدُ مُوسَى مُتَعَلِّقًا بِقَائِمَةٍ فَلَا أَدْرِي أَفَاقَ قَبْلِي ؟ أَمْ أَجْزِيَ بِصَعْقَةِ الطُّورِ.

    Artinya: “Aku adalah orang yang pertama-tama direkahkan bumi. Tiba-tiba aku melihat Nabi Musa berpegangan pada kaki ‘Arsy. Aku tidak tahu, apakah dia memang sudah siuman sebelum aku, ataukah itu merupakan balasan baginya atas pingsannya (dulu pada peristiwa di) Bukit Thur itu.”

    Menurut Ibnu Katsir, kata-kata dalam hadits tersebut tentang apa yang dialami Nabi Muhammad SAW saat rekahnya bumi kemungkinan berasal dari perawi karena teringat hadits lain yang kemudian ia selipkan dalam redaksi hadits ini.

    Sejumlah hadits turut menggambarkan kondisi manusia saat dibangkitkan. Ada yang tanpa alas kaki, telanjang, dan tidak dikhitan. Dikatakan pula, Nabi Ibrahim AS adalah orang yang pertama kali diberi pakaian.

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sudah Tobat Maksiat Lagi, Hati-hati Pintu Ampunan Akan Ditutup Waktu Ini


    Jakarta

    Islam memerintahkan pemeluknya bertobat meski berulang kali maksiat. Sebab, pintu tobat akan terus dibuka hingga tiba suatu waktu yang ditentukan Allah SWT. Kapan itu?

    Ulama kontemporer ahli hukum Islam asal Mesir, Yusuf Qardhawi, menerangkan dalam Al-Taubat Ila Allah yang diterjemahkan Irfan Maulana Hakim, tobat dari dosa adalah kewajiban agama yang harus dikerjakan. Anjuran tobat diperintahkan dalam Al-Qur’an dan dianjurkan oleh sunnah Nabi.

    Perintah tobat dalam Al-Qur’an salah satunya terdapat dalam surah At Tahrim ayat 8. Allah SWT berfirman,


    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَنَاۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٨

    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

    Para mufassir mengatakan tobat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah tobat nasuha yakni tobat yang sebenarnya, yang ikhlas, dan jujur.

    Rasulullah SAW yang memiliki sifat maksum atau terhindar dari dosa pun bertobat 70 hingga 100 kali sehari. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memaparkan hadits yang menyebutkan hal ini dalam kitab At-Taubah Wa al-Inabah, Rasulullah SAW bersabda,

    “Hari manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”

    Dalam hadits lain, seperti dipaparkan Ibnu Jauzi dalam kitab Al Wafa, Ibnu Umar RA pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Wahai manusia bertobatlah kepada Tuhanmu, karena saya bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR Abu Ashim dan Az-Zabidi)

    Tobat Wajib Dilakukan dengan Segera

    Seorang mukmin yang melakukan perbuatan dosa wajib bertobat dengan segera, menurut sumber sebelumnya. Tobat tidak boleh ditunda-tunda (ta’khir) atau ditangguhkan (taswif). Menurut Yusuf Qardhawi hal itu bisa mengganggu hati orang yang beragama.

    “Apabila ia tidak segera menyucikan dirinya dengan tobat, sedikit demi sedikit, pengaruh dari perbuatan dosa itu bisa jadi membengkak, satu demi satu. Akhirnya, timbullah noda hitam pada hati orang tersebut,” jelas Syekh Yusuf Qardhawi. Ibnu Qayyim turut mengatakan hal serupa untuk menyegerakan tobat.

    Pintu Tobat Ditutup saat Matahari Terbit dari Barat

    Dalam Habbi Ya Riih al-Iimaan karya Khalid Abu Syadi yang diterjemahkan Arif Chasanul Muna dkk, terdapat hadits hasan yang menyebut pintu tobat akan ditutup saat matahari terbit dari barat. Terbitnya matahari dari arah terbenam ini adalah salah satu tanda kiamat. Rasulullah SAW bersabda,

    إنَّ لِلْتَوْبَةِ بَابًا عُرِضَ مَا بَيْنَ مَصْرَعَيْهِ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لا يُعْلَقُ حَتَّى تَطْلُعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

    Artinya: “Sesungguhnya pada tobat ada pintu yang dibentangkan terbuka lebar antara timur dan barat yang tidak akan ditutup sampai matahari terbit dari barat.”

    Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda,

    إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

    Artinya: “Allah akan senantiasa menghamparkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan di waktu siang. Dan, Dia akan selalu menghamparkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima tobat orang yang berbuat kesalahan di waktu malam. Terus demikian hingga matahari terbit dari tempatnya terbenam.” (HR Muslim)

    Kebenaran ditutupnya pintu tobat setelah matahari terbit dari barat didukung dengan sejumlah hadits shahih lain bahwa pada waktu itu pintu tobat ditutup hingga tiba hari kiamat.

    Ada hadits lain yang menyebut tobat seseorang akan diterima sebelum sakaratul maut. Menurut penjelasan dalam Ensiklopedia Hadits Ibadah karya Syamsul Rijal Hamid, hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin Khattab RA.

    إن الله عز وجل يقبل تَوْبَةَ العَبْدِ ما لم يُغَرْغِرْ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah Yang Mahaagung akan menerima tobat seseorang sebelum nyawa sampai di tenggorokan (sekarat).” (HR At Tirmidzi)

    Wallahu a’lam.

    (kri/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Gambaran Jembatan Shirath di Atas Neraka Menurut Hadits



    Jakarta

    Terdapat sebuah jembatan bernama shirath yang dibentangkan di atas neraka. Jembatan ini harus dilalui oleh orang-orang beriman ataupun orang-orang berdosa dari kalangan umat Nabi Muhammad SAW.

    Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri RA bahwa Rasulullah SAW menyebutkan jembatan shirath lebih tipis dari sehelai rambut dan setajam pedang.

    Ibnu Mas’ud RA menggambarkan shirath sebagai jalan yang lurus melintasi neraka, berbentuk seperti pedang yang tajam, licin, dan dapat mematahkan. Di atasnya terdapat besi-besi tajam dari neraka yang mencakar dan mencengkeram siapa saja yang dikehendaki. Cara orang-orang melintasi jembatan ini pun beragam, ada yang secepat kilat, angin, kuda, berjalan, hingga merangkak. (HR Thabrani dan Baihaqi)


    Aisyah RA juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang jembatan yang lebih tipis dari rambut dan setajam pedang, dengan besi dan pagar runcing di atasnya. Semua orang harus melewati jembatan ini, ada yang bergerak secepat kilat, kedipan mata, angin, atau kuda. Para malaikat berdoa, “Ya Allah, selamatkan!” Sebagian orang berhasil melintasinya, sebagian lagi dikoyak atau terjatuh ke dalam neraka. (HR Ahmad)

    Dalam riwayat lain dari Ubaid bin Umair, Rasulullah SAW menyebut shirath sebagai jembatan di atas neraka yang setajam pedang dengan besi dan pagar runcing di kedua sisinya. Besi-besi ini dapat mengoyak tubuh manusia. Rasulullah SAW bersumpah bahwa sejumlah besar manusia akan tersangkut oleh kait-kait besar tersebut, sementara malaikat terus berdoa agar orang-orang diselamatkan. (HR Baihaqi dan Ibnu Abi Ad-Dunya)

    Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah shirath dibentangkan di atas neraka, aku akan menjadi rasul pertama yang melintasinya, diikuti umatku. Pada saat itu, tidak seorang pun berbicara kecuali para rasul yang memanjatkan doa, ‘Ya Allah, selamatkan!’ Dalam neraka terdapat besi-besi runcing seperti duri As-Sa’dan, yang akan menyambar manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut buku Ensiklopedia Akhirat: Mizan, Catatan Amal, Shirath, dan Macam-macam Syafaat karya Mahir Ahmad Ash Syufiy, jembatan shirath ini membentang di berbagai sisi neraka. Ketika menyeberangi shirath, suasana sangat mencekam sehingga tidak ada yang berbicara, kecuali para rasul yang berdoa untuk keselamatan umat mereka. Hal ini menunjukkan kasih sayang para rasul kepada umatnya.

    Wallahu a’lam.

    (lus/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Seperti Apa Sidratul Muntaha Lokasi Terakhir Isra Miraj Nabi Muhammad?


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Miraj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan berakhir di Sidratul Muntaha, di langit ketujuh. Sidratul Muntaha digambarkan penuh keagungan.

    Peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab setelah Nabi Muhammad SAW pulang dari Thaif, menurut pendapat masyhur yang dipastikan Ibnu Hazm.

    Menurut hadits yang dihimpun dalam al-Isra’ wa al-Mi’raj karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam as-Suyuthi yang diterjemahkan Arya Noor Amarsyah, perjalanan Rasulullah SAW dimulai dari Masjidil Haram di Makkah. Setelah itu, beliau mengendarai Buraq–sejenis hewan berwarna putih yang lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal–menuju Baitul Maqdis di Palestina.


    Rasulullah SAW menambatkan Buraqnya lalu masuk Masjidil Aqsa untuk menunaikan salat. Setelah itu, Allah SWT menaikkan Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha melewati tujuh lapisan langit. Demikian menurut hadits Hamad ibn Salamah dari Tsabit dari Anas RA yang dinilai paling kuat dan bebas dari segala perselisihan.

    Gambaran Wujud Sidratul Muntaha

    Menurut hadits dalam kitab al-Isra’ wa al-Mi’raj, Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang daunnya selebar telinga gajah dan buah-buahnya sebesar kendi. Saat Allah SWT menitahkan perintah-Nya, Sidratul Muntaha langsung berbuah sehingga tak ada satupun makhluk yang bisa menggambarkannya karena sangat indah.

    Menurut suatu pendapat dalam Qishash Al-Anbiya lil Athfal karya Hamid Ahmad Ath-Thahir yang diterjemahkan Masturi Irham dan M. Asmui Taman, pohon Sidratul Muntaha digambarkan amat besar yang seandainya ada pengendara kuda melarikan kudanya dengan kencang di bawah naungannya selama seratus tahun, tidak akan sampai ke ujungnya. Sidratul Muntaha adalah tempat tertinggi di alam semesta, sebelum ‘Arsy Allah.

    Keberadaan Rasulullah SAW saat di Sidratul Muntaha disebutkan dalam Al-Qur’an surah An-Najm ayat 16. Allah SWT berfirman,

    اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ ١٦

    Artinya: “(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.”

    Menurut Al-Baghawi, seperti dikutip dari Nuzhah al-Majalis wa Muntakhab an-Nafa’is karya Syekh ash-Shafuri yang diterjemahkan Jamaluddin, maksud “sesuatu yang melingkupi” dalam ayat tersebut adalah diliputi oleh kupu-kupu dari emas. Ada yang berpendapat diliputi cahaya keagungan yang tirai-tirainya turun permata, yaqut, dan zamrud.

    Lebih lanjut dijelaskan, Sidratul Muntaha diberi kekhususan dengan keutamaan tersebut karena memiliki tiga hal, yaitu bayangan yang dipanjangkan, makanan yang lezat, dan aroma yang harum. Hal tersebut diumpamakan sebagai iman yang menghimpun tiga hal, perkataan, niat, dan perbuatan.

    Bayangan Sidratul Muntaha diumpamakan seperti perbuatan karena iman melewati pelakunya seperti bayangan melewati orangnya. Rasanya seperti niat karena samar dan aromanya seperti perkataan karena aroma itu jelas.

    “Karena itulah ketika Nabi Muhammad sampai di Sidratul Muntaha para malaikat pun mengetahui hal tersebut karena cahaya turun seperti tetesan awan. Maka mereka bersegera mengucapkan salam, layaknya belalang yang bertebaran di surga Ma’wa,” jelas Syekh ash-Shafuri dalam kitabnya.

    Penamaan Sidratul Muntaha karena tak ada yang mengetahui apa yang ada di sana. Menurut Ali, diberi nama Sidratul Muntaha karena manusia yang berada di atas sunah Muhammad berhenti di sana. Ada juga yang berpendapat, penamaan ini karena siapa yang berhenti di sana berarti telah mencapai puncak kemuliaan.

    Wallahu a’lam.

    (kri/inf)



    Sumber : www.detik.com