Tag: hadits

  • Khutbah Jumat Menjelang Idul Adha: Amalan di Bulan Dzulhijjah



    Jakarta

    Idul Adha 2023 ditetapkan pemerintah jatuh pada Kamis, 29 Juni 2023. Untuk itu, momen salat Jumat minggu ini dapat diisi dengan khutbah Jumat menjelang Idul Adha yang membahas amala-amalan di bulan Dzulhijjah.

    Sejatinya, kurban adalah amalan yang luar biasa pahala dan keutamaannya. Amalan ibadah kurban sendiri sudah dicontohkan pelaksanaannya sedari zaman Nabi Ibrahim AS.

    Untuk menyambut bulan yang istimewa yaitu bulan Dzulhijjah, berikut ini adalah contoh teks khutbah Jumat menjelang Idul Adha seperti dikutip dari laman Balai Diklat Keagamaan (BDK) Kemenag Kanwil Bandung.


    Contoh Teks Khutbah Jumat Menjelang Idul Adha

    Khutbah I

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

    أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاٰنِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا. وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

    Maasyiral muslimin rahimakumullah,

    Selain Ramadan, dalam Islam ada bulan lain yang memiliki keistimewaan, yaitu bulan Dzulhijjah. Keistimewaan bulan Dzulhijjah terletak pada 10 hari pertamanya. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:

    مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ”. يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ “وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

    Artinya: Tidak ada amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah SWT daripada amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Bukankah jihad di jalan Allah juga termasuk?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak ada jihad di jalan Allah SWT yang lebih dicintai, kecuali jihad seseorang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya, tetapi tidak ada yang kembali dengan apa pun.”

    Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Fajr ayat 2:

    وَلَيَالٍ عَشْرٍ.

    Artinya: “Dan demi sepuluh malam.”

    Selain keistimewaan tersebut, terdapat hadits yang menjelaskan tentang amalan yang dicintai oleh Allah SWT. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang amal sholeh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).”

    Hadirin Rahimakumullah,

    Berikut adalah beberapa amalan yang dapat dilakukan umat Islam di bulan Dzulhijjah:

    1. Puasa

    Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah yang sebaiknya dilakukan oleh setiap muslim di bulan Dzulhijjah. Ibadah puasa sebelum Hari Raya Idul Adha, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

    صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

    Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

    Selain puasa Arafah, ada beberapa ibadah yang bisa dilakukan oleh muslim di bulan Dzulhijjah. Salah satunya adalah puasa Senin-Kamis yang juga termasuk ibadah sunnah. Terdapat juga pendapat dari beberapa ulama bahwa puasa sunnah dapat dilakukan mulai dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ jilid 6, “Puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk dalam puasa sunnah.”

    Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab juga memberikan dalil shahih mengenai hukum puasa tersebut. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Hunaidah ibn Khalid dan istri-istri Rasulullah SAW yang menjelaskan,

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari Asyura (10 Muharam), berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR Abu Daud).

    2. Memperbanyak Dzikir

    Dalam hal memperbanyak takbir dan dzikir, setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak takbir dan dzikir di bulan Dzulhijjah, misalnya dengan memanfaatkan momen sebelum salat Idul Adha. Takbir dan dzikir juga dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.

    وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

    Ibnu Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian kepada Allah pada hari-hari yang ditentukan, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan juga pada hari-hari Tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, kemudian mereka bertakbir, dan orang-orang juga ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali juga bertakbir setelah salat sunnah. (HR Bukhari)

    3. Menunaikan Haji dan Umrah

    Bagi mereka yang mampu, ibadah haji dan umrah dapat dilakukan di bulan Dzulhijjah. Haji adalah ibadah yang wajib dilakukan sekali seumur hidup bagi yang mampu melakukannya. Keutamaan haji dijelaskan dalam hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW,

    سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ

    Artinya: Rasulullah SAW ditanya, “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Kemudian ditanya lagi, “Apa lagi setelah itu?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah SWT.” Ditanya lagi, “Apa lagi setelah itu?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” (HR Bukhari)

    Ibadah umrah juga dijelaskan dapat menghapus kefakiran dan dosa, “Ikutilah antara haji dan umrah, karena keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana api memurnikan besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR An Nasa’i)

    4. Kurban

    Ibadah kurban sebaiknya dilakukan oleh setiap muslim yang mampu di bulan Dzulhijjah saat perayaan Idul Adha. Dalam hadits dijelaskan, kurban adalah salah satu amalan yang dicintai Allah SWT.

    عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »

    Artinya: Dijelaskan Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai Allah SWT dibandingkan mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridho) Allah SWT sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR Tirmidzi)

    5. Taubat

    Sebagai tempatnya salah, manusia tidak bisa lepas dari dosa dalam tiap kesempatan. Allah SWT telah membuka kesempatan taubat bagi tiap hamba-Nya yang berharap pengampunan dari Allah SWT.

    قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

    Artinya: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap padaKu, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangiMu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

    6. Salat

    Periode sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan semangat dan melaksanakan salat dengan penuh dedikasi. Salah satu jenis salat yang istimewa adalah salat pada hari raya Idul Adha. Dalam surah Al-Kautsar, kita diperintahkan untuk melaksanakan salat Idul Adha pada hari tersebut.

    7. Meningkatkan Amal Sholeh Lain

    Selain itu, sebagai muslim, disarankan untuk meningkatkan amal sholeh lainnya di bulan Dzulhijjah. Beberapa amalan yang dapat ditingkatkan antara lain salat sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan menjalin tali silaturahmi. Ketika melaksanakan amal sholeh, jangan lupa untuk selalu berdoa agar Allah senantiasa memberikan kesehatan, keselamatan, dan perlindungan kepada diri kita.

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    Demikian contoh teks khutbah Jumat menjelang Idul Adha yang dapat diaplikasikan muslim. Semoga bermanfaat.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat tentang Sholat Subuh dan Keutamaannya


    Jakarta

    Khutbah Jumat adalah salah satu syarat sah pelaksanaan sholat Jumat. Isi khutbah Jumat dapat beragam topik, termasuk soal sholat Subuh dan keutamaannya.

    Dikutip dari buku Tafsir Fathul Qaarib karya Ahidsyahid khutbah Jumat memiliki rukun yang harus dipenuhi di antaranya, mengucapkan hamdalah di dua khutbah, mengucapkan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW di dua khutbah, berwasiat kepada jamaah Jumat tentang ketakwaan di dua khutbah, membaca ayat Al-Qur’an di salah satu khutbah, dan mendoakan seluruh umat Islam di akhir khutbah

    Salah satu materi yang penting untuk disampaikan kepada para jamaah khutbah Jumat adalah tentang sholat. Sebab sholat adalah landasan, dasar, dan tiang dalam beragama Islam.


    Sholat adalah pembeda antara umat Islam dan kafir. Sholat juga penentu baik atau tidaknya sifat dan hati seorang muslim. Oleh karena itu, berikut adalah contoh khutbah Jumat tentang sholat yang bisa disampaikan seperti dinukil dari buku Khutbah Jumat Terpopuler oleh Marolah Abu Akrom.

    Contoh Khutbah Jumat tentang Sholat Subuh dan Keutamaannya

    بِسْمِ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى ، وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهُمْ صَلِّ وَسَلّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ, أَوْصِيْكُمْ وَأَيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفَرِّجْ عَنْ أُمَّةٍ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَارْحَمْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَانْشُرْ وَاحْفَظْ نَهْضَةَ الْوَطَنِ فِي الْعَالَمِيْنَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

    Kaum muslimin sidang jemaah jumat yang berbahagia rahimakumullah.

    Puji dan syukur Alhamdulillah marilah kita sampaikan kehadirat Allah Robbul Izzati, pada kesempatan Jumat ini kita kembali dapat melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu sholat Jumat secara berjamaah di masjid yang kita cintai ini. Sholawat dan salam marilah kita sampaikan kepada uswatun hasanah kita yaitu baginda nabi besar Muhammad SAW. Juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya, semoga kita semua yang hadir di masjid ini, kelak di hari kiamat mendapatkan syafaat dari beliau. Aamiin.

    Mengawali khutbah singkat pada kesempatan ini, sebagaimana biasa khatib berwasiat kepada diri pribadi saya dan kepada seluruh jamaah, marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa yaitu melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

    Kaum muslimin sidang jamaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Isra ayat 78:

    اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا

    Artinya: Dirikanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) Subuh! Sesungguhnya sholat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

    Pada ayat di atas, Allah menjelaskan perintah sholat lima waktu, dan secara khusus menyebut keistimewaan sholat fajar atau sholat Subuh, bahwa pada saat itu, doa semua orang yang melaksanakannya diamini para malaikat yang bertugas secara bergantian siang dan malam, dan melaporkan kebaikan mereka kepada Allah SAW. Nabi SAW bersabda,

    وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ

    Artinya: “Malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada saat sholat Subuh itu.” (HR Al Bukhari dari Abu Hurairah RA)

    Akan lebih baik, jika kita bangun sebelum Subuh, sebab pada saat itu kita tidak hanya mendapat doa dan apresiasi malaikat, tapi juga menambah kesehatan dan kecerdasan. Otak bekerja lebih baik dan mudah untuk mengingat sesuatu pada tengah malam sampai pagi hari. Allah berfirman,

    أشد وطأ واقوم قيلا إن ناشئة الليل هي

    Artinya: “Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (untuk mengisi jiwa) dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.” (QS. Al Muzzammil [73]: 6)

    Udara yang bersih dan kaya oksigen saat itu dapat mengoptimalkan metabolisme tubuh, mengurangi resiko serangan jantung, dan mencegah kerusakan paru-paru. Nabi SAW berdoa:

    اللهم بارك لأمتي في بكورها

    Artinya: “Wahai Allah, berkahilah umatku pada pagi hari mereka.”

    Orang yang bangun terlambat agak siang berarti kehilangan jatah udara bersih dan jatah doa dari Nabi SAW. Dahsyatnya waktu fajar, menjelang subuh, sampai Allah menamakan salah satu surah al-Quran dgn nama al-Fajr. Allah bersumpah dengan waktu tersebut. Walfajr.

    Banyak sekali diantara kita mengejar materi dunia yang tak seberapa dengan susah payah, dengan keletihan dan kesulitan yang besar. Tapi sering kita abaikan waktu fajar yang diberkahi dan disaksikan oleh para malaikat itu. Ibadah sholat yang hanya 2 rakaat itu ternyata lebih berat dari langkah kaki dan kendaraan bermotor kita yang melaju memburu materi.

    Bahkan, banyak di antara kita yg tega membiarkan anak-anak yg sudah akil baligh dan dewasa tidak sholat. Tidak mengerjakan kewajiban fardu ain mereka. Kita biarkan mereka tertidur hingga Subuh berlalu. Mereka dibangunkan dan orang tuanya risau ketika anak-anak mereka terlambat ke sekolah. Dua-duanya penting. Tapi, sholat adalah urusan keselamatan dunia akhirat.

    Jemaah yang Allah muliakan

    Keistimewaan mereka yang Subuh jamaah di masjid banyak sekali. Di antara fadilah yang Allah berikan adalah:

    روی مسلم من حديث عثمان بن عفان: أن النبي – – قال: “من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة فكأنما صلى الليل كله

    Artinya: “Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Utsman bin Affan ra., bahwasanya Nabi SAW bersabda: siapa yang sholat Isya berjamaah sama dengan ia sholat sunnah setengah malam dan siapa yang sholat subuh berjamah sama dengan ia sholat sunnah semalam full.”

    Hadirin yang terhormat,

    Ketika bangun tidur, minumlah dengan posisi duduk segelas air putih sedikit demi sedikit sebelum sikat gigi untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang sewaktu tidur. Sebab, selama tidur, aktivitas tubuh kita sejatinya tidak berhenti. Bacalah basmalah sebelum minum, dan hamdalah setelah minum.

    Lakukan yang sama untuk tegukan kedua dan ketiga. Minum dengan sekali tegukan dapat merusak liver dan ginjal. Nabi SAW selalu minum segelas air dengan tiga kali tegukan (HR. Muslim dari Anas bin Malik RA). Dengan cara itu, maka selama masih ada air yang tersisa dalam tubuh, kita akan dijauhkan dari perbuatan dosa. Demikian menurut Syekh Mutawalli As Syarawi ketika menjelaskan tafsir Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 152:

    فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ

    Artinya: Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.

    Pergilah ke masjid untuk sholat Subuh dengan berjalan kaki atau bersepeda, sambil menghirup udara segar. Bacalah sholawat nabi, “Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad.” Ketika masuk dan keluar masjid dengan memohon ampunan dan dibukanya semua pintu rahmat Allah “Allahummaftah li abwaba rahmatik.”

    Setelah itu sholatlah sunnah fajr atau qabliyah Subuh. Sholat ini jangan sampai terlewatkan. Ia termasuk kategori sholat sunnah yang muakkad, yang Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya. Disabdakan:

    روى مسلم في صحيحه من حديث عائشة – رضي الله عنها : أن النبي – قال ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها

    Artinya: “Riwayat Imam Muslim dari hadits sayyidah Aisyah ra., bahwasanya Nabi SAW bersabda: dua rakaat sunnah Fajar lebih baik dari dunia beserta isinya.”

    Jika waktu memungkinkan, janganlah keluar masjid sebelum matahari terbit. Sekali lagi, jika tidak mengganggu aktivitas keseharian kita. Sebab, aktivitas zikir sampai matahari terbit, kemudian ditutup dengan sholat dua rakaat atau yang disebut sholat Isyraq. itulah yang mendatangkan pahala haji dan umrah yang dihadiahkan kepada Anda dengan sempurna. Nabi SAW bersabda,

    مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرٍ حَبَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

    Artinya: “Siapa yang sholat Subuh dengan berjamaah, lalu duduk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian sholat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala haji dan umrah, pahala yang sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR Al Tirmidzi)

    Hadirin yang terhormat,

    Sebagai penutup khutbah, saya kutipkan firman Allah SWT dalam Surat Al Waqi’ah ayat 10:

    والسابقون السابقون أولئك المقربون

    Artinya: “Orang yang paling awal, itulah orang yang paling awal.”

    Orang yang datang ke masjid paling awal, dialah yang masuk surga paling awal. Jika Anda orang paling awal menolong orang miskin di sekitar Anda, maka Anda-lah orang yang paling awal ditolong Allah hari itu.

    Selamat berlomba bangun paling pagi untuk siap terbang paling tinggi menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Mudah-mudahan kita semua termasuk orang yang diberikan petunjuk hidayah taufik kekuatan untuk dapat menghidupkan waktu subuh dengan ibadah-ibadah kita kepada Allah SWT.

    بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِي وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ. هَذَا

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Kematian Lengkap


    Jakarta

    Mengingat kematian sudah sepatutnya dilakukan kapan pun dan di mana pun oleh muslim. Seperti dalam penyampaian khutbah Jumat tentang kematian agar kaum muslimin juga bisa mempersiapkan diri dengan baik.

    Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa sebaik-baik orang beriman adalah ia yang senantiasa mengingat kematian. Hal ini bersumber dari hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA,

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»


    Artinya: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW lalu bertanya. “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”

    Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya,”

    Orang ini bertanya lagi, “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”

    Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal.” (HR Ibnu Majah)

    Berikut contoh teks khutbah Jumat tentang kematian yang dinukil dari buku 35 Khutbah Jumat Terpopuler karya Marolah Abu Akrom dengan tema Persiapan Menuju Kematian.

    Contoh Teks Khutbah Jumat tentang Kematian Lengkap

    بِسْمِ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى ، وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

    اللهُمْ صَلِّ وَسَلّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللَّهِ, أَوْصِيْكُمْ وَأَيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةً مُحَمَّدٍ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفَرِّجْ عَنْ أُمَّةٍ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَارْحَمْ أُمَّةً مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَانْشُرْ وَاحْفَظْ نَهْضَةً الْوَطَنِ فِي الْعَالَمِيْنَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

    Kaum muslimin sidang jemaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah,

    Puji dan syukur Alhamdulillah marilah kita sampaikan kepada Allah Robbul ‘Izzati, pada kesempatan Jumat ini kita kembali dapat melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu salat Jumat secara berjamaah di masjid yang kita cintai ini. Sholawat dan salam marilah kita sampaikan kepada uswatun hasanah kita yaitu baginda Nabi Besar Muhammad SAW juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya, semoga kita semua yang hadir di masjid ini, kelak di hari kiamat mendapatkan syafaat dari beliau. Aamiin.

    Mengawali khutbah singkat pada kesempatan ini, sebagaimana biasa khatib berwasiat kepada diri pribadi saya dan kepada seluruh jemaah, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa yaitu melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

    Kaum muslimin sidang jemaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah,

    Pada khutbah kali ini tema yang akan khatib sampaikan adalah tentang Persiapan Menuju Kematian. Inilah tema yang sangat penting di antara tema-tema yang lainnya yaitu, persiapan menuju kematian.

    Sebab pada akhirnya, siapapun kita, walaupun memiliki gelar profesor, doktor dengan jabatan tinggi, dan memiliki kekayaan berlimpah ruah, toh akan mengalami kematian cepat atau lambat, suka atau tidak suka.

    Ketika kematian itu tiba semua yang kita miliki tidak bernilai apa-apa, hilang dan sirna tanpa bekas sedikit pun. Rumah yang bertahun-tahun kita bangun dengan biaya ratusan juta, kendaraan mewah yang harganya miliaran, emas permata yang bertumpuk-tumpuk, tabungan deposito di bank yang berjumlah triliunan, kantor mewah tempat bekerja dan orang-orang yang kita cintai seperti anak, istri/suami, semua itu kita tinggalkan tidak berguna sedikit pun. Hanya iman dan amal sholeh selama hidup di dunia yang kita bawa mati menghadap kepada Allah.

    Semakin kuat kualitas iman kita dan semakin banyak amal sholeh yang kita lakukan, niscaya semakin besar pula peluang kita mati dalam keadaan husnul khatimah dan akan terhindar dari kematian yang bersifat su’ul khatimah. Kematian su’ul khatimah itu adalah kematian yang buruk dengan proses sakaratul maut yang sangat menyakitkan bagaikan ditusuk pedang 300 kali, demikian sabda Nabi.

    Ketika iman dan amal sholeh ini menyertai di dalam kubur, maka kubur itu akan menjadi tempat yang sangat nikmat, nyaman, enak dan menyenangkan, bagaikan taman diantara taman surga (raudhah min riyadhil jannah). Demikian juga ketika bangkit dari kubur untuk dikumpulkan di padang mahsyar akan mendapatkan naungan diatas terik matahari yang sangat dahsyat diatas kepala kita.

    Dan puncaknya orang yang memiliki iman dan amal sholeh akan masuk surga Firdaus dengan kenikmatan yang tiada tara, kekal abadi di dalamnya. Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surah Al Kahfi ayat 107-108:

    اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنّٰتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا ۙ ١٠٧ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا لَا يَبْغُوْنَ عَنْهَا حِوَلًا ١٠٨

    Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh memperoleh surga Firdaus sebagai tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana.

    Menurut ayat tersebut bahwa untuk dapat masuk kedalam surga Firdaus, hanya dengan iman dan amal sholeh yang telah kita perjuangkan selama hidup di dunia. Dengan demikian dapat kita pahami, bahwa betapa berharganya yang namanya iman dan amal sholeh.

    Kaum muslimin sidang jemaah Jumat yang berbahagia rahimakumullah,

    Kata iman dan amal sholeh seringkali kita membaca dan mendengarnya. Namun, kebanyakan kita tidak memahaminya secara mendalam sehingga kita tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting. Padahal dengan iman dan amal sholeh-lah yang mengantarkan kita ke dalam surganya Allah.

    Memang untuk memahami secara mendalam memerlukan pengkajian secara intensif dan berkesinambungan. Karena iman itu bersifat abstrak (tidak terlihat), tapi dapat kita rasakan keberadaannya dengan meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan di jagad raya ini.

    Untuk dapat meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, mesti belajar ilmu akidah atau tauhid seperti memahami 20 sifat wajib bagi Allah, ditambah asmaul husna yang berjumlah 99 beserta dalil-dalil untuk memperkuatnya, baik dalil naqli maupun dalil aqli.

    Selanjutnya iman yang sudah dipahami tadi mesti dibuktikan dalam bentuk amal sholeh. Amal sholeh itu adalah segala macam perbuatan yang dinilai baik, benar dan positif, dan sesuai dengan ajaran Islam.

    Iman kita akan diakui keberadaannya jika dibuktikan dalam bentuk amal sholeh. Sebaliknya amal sholeh kita akan diterima oleh Allah bila didasari rasa iman di dalam hati. Jadi, antara iman dan amal sholeh tidak boleh dipisah karena memiliki keterkaitan erat antara keduanya.

    Berdasarkan penjelasan ini maka jangan mimpi kita akan masuk surga, bila tidak ada iman dan amal sholeh selama hidup di dunia. Oleh karena itu selagi kita masih bernapas, mari kita perkuat iman kita dengan ketaatan dan ketundukan kepada Allah terhadap semua ketentuan syariat agama agar menjadi amal sholeh yang bernilai ibadah yang besar pahalanya sehingga kelak kita diperkenankan masuk ke dalam surga Firdaus seperti yang dijanjikan dalam surah Al Kahfi ayat 107-108 tersebut.

    Akhirnya, semoga khutbah Jumat edisi ini menjadi pengingat (alarm) yang sangat berharga untuk mempersiapkan datangnya kematian secara tiba-tiba, dan semoga kematian kita nanti tergolong husnul khatimah, aamiin.

    بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ, وَتَقَبَّلَ مِنّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits Tentang Durhaka Kepada Orang Tua, Rasulullah Tegaskan Hal Ini



    Jakarta

    Islam menekankan untuk tidak durhaka kepada orang tua. Sebab, durhaka kepada orang tua merupakan perbuatan yang sangat buruk.

    Durhaka kepada orang tua merupakan salah satu di antara dosa-dosa besar. Larangan durhaka kepada orang tua menyertai larangan berbuat syirik kepada Allah SWT.

    Merujuk pada buku Keajaiban Doa & Ridho Ibu karya Mutia Mutmainnah, durhaka kepada orang tua disebut juga dengan istilah Uququl Walidain. Durhaka kepada orang tua adalah apa saja yang dapat menyakiti kedua orang tua yang dilakukan oleh anaknya, baik dengan perkataan atau perbuatan.


    Terdapat beberapa hadits tentang durhaka kepada orang tua. Berikut hadits tentang durhaka kepada orang tua, perbuatan durhaka, serta akibat durhaka kepada orang tua.

    Hadits Durhaka Kepada Orang Tua

    Merujuk pada kitab Syarah Bulughul Maram karya Abdullah bin Abdurahman Al Bassam dan Shahih Adabul Mufrad karya Imam Bukhari, berikut beberapa hadits durhaka kepada orang tua:

    1. Hadits Bukhari

    Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kalian ku beritahu tentang dosa yang paling besar (beliau mengucapkannya tiga kali)?, mereka menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah!’ Beliau bersabda, ‘Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua,’ lalu Nabi duduk dan bersandar kemudian bersabda, ‘Ingatlah juga perkataan palsu.’ Beliau terus mengulangnya sampai kami berkata semoga beliau diam.”

    2. Hadits Muttafaq ‘Alaih

    Dari Al Mughirah bin Syu’bah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian untuk durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur hidup-hidup anak wanita, tidak melaksanakan kewajiban dan banyak menuntut apa-apa yang tidak menjadi haknya. Sebagaimana Ia pun benci terhadap orang-orang yang terlalu banyak menukil perkataan manusia, banyak bertanya (sedikit beramal) dan menyia-nyiakan harta.”

    3. Hadits Abu Bakar

    Diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Bakar RA, bahwa Nabi SAW bersabda,”Maukah kalian kuberi tahu tentang dosa paling besar? Yaitu, syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”

    4. Hadits Muslim

    Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sungguh rugi, sungguh rugi, dan sungguh rugi! Seorang yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya pada usia lanjut atau kedua-duanya, namun ia tidak masuk surga (lantaran tidak berbakti kepadanya).”

    5. Hadits Muslim

    Dari Abu At-Thufail, dia berkata, “Ali ditanya apakah Nabi SAW mengkhususkan untuk kalian sesuatu yang tidak dikhususkan untuk semua orang?” Ali menjawab, “Rasulullah tidak mengkhususkan untuk kita sesuatu yang tidak dikhususkan untuk orang lain, kecuali sesuatu yang terdapat dalam sarung pedangku.” Kemudian dia mengeluarkan lembaran darinya, dan tiba-tiba di dalamnya tertulis, “Allah melaknat orang yang menyembelih tanpa menyebut nama Allah, orang yang mencuri tanda-tanda (batasan) tanah, orang yang menyakiti (melaknat) kedua orang tuanya, dan Allah melaknat orang yang melindungi (menolong) pelaku kejahatan.”

    Perbuatan Durhaka Kepada Orang Tua

    Merujuk pada buku Keajaiban Doa & Ridho Ibu, berikut sebelas perbuatan durhaka kepada orang tua yang menjadi kunci pembuka pintu neraka:

    1. Menyakiti perasaannya
    2. Berkata “Ah” dan mengeraskan surata
    3. Menyakiti fisik
    4. Bakhil (pelit)
    5. Sangat membebani
    6. Berlaku zhalim
    7. Membicarakan keburukan orang tuan (ghibah)
    8. Tidak mengakui orang tua
    9. Tidak peduli dan menjauhi orang tua
    10. Mencaci atau menjadi sebab dicaci orang
    11. Membelakkan mata

    Akibat Durhaka Kepada Orang Tua

    Seperti yang diketahui, bahwa durhaka kepada orang tua merupakan perbuatan yang sangat buruk dan merupakan kunci pembuka pintu neraka. Merujuk pada buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas XI karya Aminudin dan Harjan Syuhada, berikut beberapa akibat yang diperoleh jika durhaka kepada orang tua:

    1. Salatnya tidak diterima di sisi Allah SWT
    2. Dibenci oleh Allah SWT
    3. Diharamkan masuk surga
    4. Segala amal perbuatannya dihapuskan
    5. Dosa-dosanya tidak diampuni
    6. Mendapatkan azab di dunia

    (lus/lus)

    Sumber : www.detik.com

    Image : unsplash.com/ Levi Meir Clancy

  • Doa Menghilangkan Jerawat: Arab, Latin, dan Artinya


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW mengajarkan umat Islam banyak doa untuk memohon kesembuhan kepada Allah SWT dari berbagai penyakit. Di antara doa yang beliau ajarkan adalah doa menyembuhkan jerawat.

    Jerawat merupakan salah satu permasalahan kulit yang bisa terjadi kepada siapa saja. dr Maria Dwikarya dalam bukunya Merawat Kulit & Wajah mengungkapkan bahwa jerawat termasuk gangguan pada kulit yang cukup besar jumlah penderitanya.

    Bahkan Kligmann, seorang peneliti masalah jerawat ternama di dunia mengatakan, “Tak ada satu orang pun di dunia yang melewati masa hidupnya tanpa sebuah jerawat di kulitnya.” Demikian jerawat menjadi permasalahan kulit yang lumrah bagi setiap orang.


    Meski begitu, jerawat menjadi persoalan serius pada sebagian penderitanya. Ada yang sudah berulang kali pergi ke dokter ahli, melakukan perawatan, hingga menggunakan skincare khusus, tapi masalah jerawatnya tak kunjung sembuh pula.

    Namun sebagai muslim, kita juga perlu ingat bahwa usaha atau ikhtiar yang tidak dibarengkan dengan doa kepada Allah SWT akan sia-sia.

    Selain itu, berdoa juga bisa dibilang sebagai salah satu upaya dalam penyembuhan penyakit. Karena itu Rasulullah SAW memberitahukan macam-macam doa yang bisa dibaca kaum muslim ketika dalam keadaan sakit.

    Nah, Nabi SAW pernah mengajarkan doa untuk menyembuhkan permasalah kulit seperti jerawat, lho. Simak uraian di bawah untuk mengetahui doa menghilangkan jerawat yang diajarkan Rasul SAW.

    Doa Menghilangkan Jerawat Sesuai Hadits Nabi SAW: Arab, Latin, dan Arti

    Dilansir buku Penyembuhan Doa dan Zikir oleh Muhammad Abdul Ghoffar, berikut doa menyembuhkan jerawat dalam hadits Rasulullah SAW:

    1. Doa Menyembuhkan Jerawat Versi Satu

    اللَّهُمَّ مُصَغِّرَ الْكَبِيرِ، وَمُكَبِّرَ الصَّغِيْرِ، صَغِّرْ مَا بِي

    Latin: Allahumma mushaggiral kabiiri wa mukabbirash shagiiri shaggir maa bii

    Artinya: “Ya Allah yang mengecilkan yang besar dan yang membesarkan yang kecil, kecilkanlah apa yang menimpaku ini.” (HR Nasa’i, Ahmad, dan Hakim, Hadits Shahih)

    2. Doa Menyembuhkan Jerawat Versi Dua

    اللَّهُمَّ مُطْفِىءَ الْكَبِيرِ، وَ مُكَبِّرَ الصَّغِيرِ، أَطْفِئْهَا عَنِّى

    Latin: Allahumma muthfi’a al-kabiiri wa mukabbira ash-shagiiri athfi’haa ‘annii

    Artinya: “Ya Allah, yang dapat mengecilkan yang besar dan membesarkan yang kecil, dan kempeskanlah jerawatku.” (HR Hakim, Hadits Shahih)

    Itulah doa menghilangkan jerawat yang Nabi SAW ajarkan beserta tulisan Arab, latin, dan artinya. Jadi, kalau kulitmu berjerawat bisa baca doa di atas, ya.

    (fds/fds)

    Sumber : www.detik.com

    Image : unsplash.com/ Nick Fewings

  • 6 Keutamaan Mendidik Anak Menurut Rasulullah, Salah Satunya Mendapat Balasan Surga



    Jakarta

    Mendidik anak adalah tugas mulia dan kewajiban yang diemban oleh setiap orang tua. Anak adalah amanah dari Allah SWT, dan tugas memastikan mereka tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang baik adalah tanggung jawab orang tua.

    Rasulullah SAW sangat menganjurkan setiap orang tua untuk mendidik anaknya. Anjuran tersebut sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadits.

    Rasulullah SAW bersabda, “Didiklah anak-anak kamu pada tiga perkara: mencintai Nabi kamu, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al-Qur’an. Sebab orang-orang yang mengemban tugas Al-Qur’an itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari yang tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-Nya beserta para nabi-Nya dan orang-orang yang suci.” (HR Thabrani)


    Mendidik anak memiliki keutamaan yang mulia seperti yang tertera dalam hadits. Berikut kumpulan hadits tentang keutamaan mendidik anak.

    Hadits Tentang Keutamaan Mendidik Anak

    1. Terhindar dari api neraka

    Dikutip dari buku Mendidik Anak Perempuan karya Abdul Mun’im Ibrahim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang pun dari umatku yang menanggung hidup tiga orang anak perempuan atau tiga saudara perempuan, dan berlaku baik kepadanya, kecuali mereka itu akan menjadi benteng baginya dari api neraka.” (HR Ahmad)

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mempunyai tiga anak perempuan, kemudian ia bersabar terhadap mereka, dengan memberi mereka makan, memberi mereka minum, dan memberi mereka pakaian dari jerih payahnya, niscaya mereka itu akan menjadi penjaga baginya dari api neraka pada hari kiamat.” (HR Ahmad dan lainnya)

    Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang diberikan rezeki anak-anak perempuan, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, niscaya mereka akan menjadi penjaga dari neraka baginya.”

    2. Mendapat balasan surga

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menanggung kehidupan dua anak perempuan, niscaya saya dan dia masuk surga seperti kedua hal ini – dan Nabi SAW memberi isyarat dengan dua jari beliau.” (HR Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mempunyai dua saudara perempuan, atau dua anak perempuan, kemudian berbuat baik kepada keduanya selama keduanya bersamanya, niscaya aku dan dia berada di surga seperti ini – dan beliau pun menunjukkan dua jari beliau.”

    Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang mempunyai tiga orang anak perempuan, kemudian dia memperlakukan mereka dengan baik, mencukupi kebutuhan mereka dan menyayangi mereka, niscaya baginya surga.”

    3. Mendapatkan mahkota yang lebih bercahaya dari matahari

    Mengutip buku Langkah Praktis Mendidik Anak Sesuai Tahapan Usia oleh Abdullah Ibnu Sa’d Al-Falih, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat kelak Allah akan memakaikan sebuah mahkota di kepala kedua orangtuanya yang binar cahayanya lebih baik daripada binar cahaya matahari yang menerangi rumah-rumah di dunia, lalu bagaimana dengan orang yang mengamalkannya itu sendiri? (HR Abu Dawud dan Al-Hakim)

    4. Kedudukannya akan ditinggikan oleh Allah SWT

    Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak) maka dia bertanya: Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istighfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.” (HR Ibnu Majah)

    5. Lebih baik dari sedekah

    Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya daripada ia mensedekahkan (setiap hari) satu sha’” (HR At-Tirmidzi)

    6. Lebih baik dari adab yang baik

    Dilansir dari laman NU Online, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik.” (HR At-Tirmidzi)

    (dvs/dvs)

    Sumber : www.detik.com

    Image : unsplash.com/ Rizky Andar

  • Kumpulan Hadits tentang Menghormati Orang Tua, Yuk Pahami!


    Jakarta

    Sebagai seorang anak, sudah sepatutnya kita berbakti pada kedua orang tua. Dalam sejumlah hadits juga dijelaskan tentang menghormati orang tua.

    Sementara itu, dalam Al-Qur’an perintah berbakti kepada kedua orang tua termaktub dalam surah Al isra ayat 23,

    وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا


    Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

    Begitu pula dalam surah Al Luqman ayat 14,

    وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

    Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu,”

    Dalam Islam, berbakti kepada kedua orang tua disebut dengan istilah birrul walidain. Mengutip buku Asma Allah Rohman-Rohim dan Filsafat Akhlak karya Khoirotu Alkahfil Qurun, birrul walidain terdiri dari kata birrul dan al-waliddin. Birru atau al-birru artinya adalah kebijakan sedangkan al walidain artinya dua orang tua.

    Secara harfiah, birrul walidain artinya berbakti kepada orang tua dengan kebijaksanaan. Bahkan, perintah berbakti kepada kedua orang tua ini disamakan dengan mematuhi slaah satu perintah Allah SWT selama hal tersebut tidak mengarah kepada perbuatan syirik.

    Hadits tentang Menghormati Orang Tua

    Mengutip buku Hadits-hadits Tarbawi oleh M Ainur Rasyid, berikut sejumlah hadits yang membahas perihal menghormati orang tua.

    1. Termasuk Amalan yang Allah SWT Cintai

    Aku bertanya pada Rasulullah SAW, “Amal apakah yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla?” Dia menjawab, “Salat pada waktunya.” Lalu aku bertanya, “Kemudian apa lagi?” Nabi SAW mengatakan, “Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.” Lalu aku mengatakan, “Kemudian apa lagi?” Lalu Rasulullah SAW mengatakan, “Berjihad di jalan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    2. Durhaka kepada Orang Tua Termasuk Dosa Besar

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Apakah kalian mau aku beritahu mengenai dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Dia lalu bersabda, “(Dosa terbesar adalah) mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Beliau mengucapkan hal itu sambil duduk bertelekan pada tangannya. (Tiba-tiba beliau menegakkan duduknya dan berkata), “Dan juga ucapan (sumpah) palsu.” Beliau mengulang-ulang perkataan itu sampai saya berkata (dalam hati), “Duhai, seandainya beliau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)

    3. Perintah Mentaati Ayah

    “Taatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat.” (HR Ahmad)

    4. Menghormati Orang Tua dapat Perpanjang Umur dan Tambah Rezeki

    “Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR Ahmad)

    5. Anjuran Berbuat Baik kepada Ibu

    Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata, “Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ibumu.” Dia berkata lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau mengatakan, “Ayahmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

    6. Mendoakan untuk Menghormati Orang Tua yang Telah Wafat

    Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah SAW. Ketika itu datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orangtua yang tidak pernah terjalin, dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

    Demikian hadits yang membahas tentang menghormati orang tua. Semoga bermanfaat.

    (aeb/erd)

    Sumber : www.detik.com

    Image : unsplash.com/ Slashio

  • 7 Hadits tentang Menjalin Silaturahmi yang Penuh Keutamaan


    Jakarta

    Menjalin silaturahmi adalah hal yang umum dilakukan oleh kaum muslimin terhadap orang terdekatnya. Baik itu keluarga, teman sejawat, saudara, kerabat, dan lain sebagainya.

    Allah SWT bahkan sangat senang dengan hamba-Nya yang mengikat tali persaudaraan. Dalam sejumlah dalil bahkan disebutkan terkait keutamaan menjalin silaturahmi.

    Menukil Keajaiban Shalat, Sedekah, dan Silaturahmi karya H Amirulloh Syarbini, istilah silaturahmi berasal dari dua kata gabungan dalam bahasa Arab, yaitu shilah dan ar-rahim. Secara bahasa kedua kata tersebut diartikan sebagai menghubungkan tali kekerabatan atau rasa kasih sayang terhadap sesama manusia.


    Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 36,

    وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

    Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”

    Selain dalil Al-Qur’an, ada juga sejumlah hadits yang menerangkan tentang silaturahmi. Merangkum arsip detikHikmah dan buku Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 1 susunan Syaikh Mahmud Al-Mishri.

    Kumpulan Hadits tentang Silaturahmi

    1. Hadits Perintah Silaturahmi

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut terkait perintah silaturahmi yang berbunyi:

    “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orang tua dan saudara.” (HR Bukhari)

    2. Hadits Ancaman Memutus Tali Silaturahmi

    Saking pentingnya silaturahmi, Allah SWT dan Rasulullah SAW bahkan menyebut terkait ancaman bagi orang yang memutus tali persaudaraan.

    “Allah SWT yang Maha Besar dan Maha Kuasa berfirman: Aku adalah yang Maha Pengasih (Ar-Rahman). Aku membuat ikatan persaudaraan dan memberinya nama dari namaKu. Jika siapa saja mempertahankan ikatan silaturahmi, mempertahankan hubungan dengannya. Dan Aku akan memutus hubungan dengan siapa saja yang memutuskan silaturahmi.” (HR Abu Daud)

    3. Hadits Manfaat Silaturahmi

    Silaturahmi mengandung berbagai keutamaan, termasuk manfaat bagi mereka yang melaksanakannya. Rasulullah SAW bersabda,

    “Ketika tamu datang pada suatu kaum, maka ia datang dengan membawa rezekinya. Ketika ia keluar dari kaum, maka ia keluar dengan membawa pengampunan dosa bagi mereka.” (HR Ad-Dailami)

    4. Hadits Silaturahmi Dapat Melapangkan Rezeki

    Silaturahmi dapat mendatangkan rezeki bagi siapa saja. Nabi Muhammadd SAW bersabda,

    “Barangsiapa yang senang agar dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari)

    5. Hadits Silaturahmi Memperpanjang Umur

    Selain mendapat rezeki, silaturahmi juga dapat memperpanjang umur kaum muslimin sebagaimana bunyi sabda Rasulullah SAW,

    “Silaturahmi dapat menambah umur, sedangkan sedekah dengan sembunyi-sembunyi dapat meredam murka Allah.” (HR Ath-Thabrani)

    6. Hadits Silaturahmi Sebagai Penghapus Dosa

    “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali keduanya diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)

    7. Hadits Menjalin Silaturahmi Diganjar Surga

    “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR Bukhari)

    (aeb/kri)

    Sumber : www.detik.com

    Image : unsplash.com/ David Rodrigo

  • 5 Hadits tentang Zina, Salah Satunya Jadi Tanda Kiamat


    Jakarta

    Zina merupakan perbuatan yang dikecam dan dilarang dalam Islam. Kata zina berasal dari bahasa Arab زَنَى-يَزَنِي- زِنًى- وزِناَءً yang artinya adalah berbuat nista.

    Perbuatan zina termasuk bagian dari dosa besar yang paling dibenci oleh Rasulullah SAW. Allah SWT bahkan melarang hamba-Nya untuk mendekati segala sesuatu yang dapat menjerumuskannya ke jurang perzinaan.

    Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi melalui Kitab Minhajul Muslim mengartikan zina sebagai perbuatan haram dengan melakukan hubungan badan, baik melalui kemaluan atau dubur oleh dua orang yang bukan pasangan suami istri. Dalam Al-Qur’an, zina dikatakan perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.


    Allah SWT berfirman dalam surat Al Isra ayat 32,

    وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

    Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

    Dalam sejumlah hadits diterangkan juga mengenai zina. Berikut bahasannya yang dinukil dari buku Zina: Problematika dan Solusinya susunan Prof Dr Fadhel Ilahi.

    Hadits yang Membahas Tentang Zina

    1. Hadits Larangan Zina

    Dari Utsman bin Affan RA ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga perkara berikut: Lelaki yang berzina sedangkan ia telah menikah (muhsan), maka dirajam hingga mati, atau lelaki yang membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan, atau lelaki yang murtad setelah Islam.” (HR Ibnu Majah)

    2. Hadits Orang yang Berzina Tidak Dikabulkan Doanya

    Dari Utsman bin Abu al-Ashr bahwa Nabi SAW bersabda:

    “Pintu-pintu langit akan dibuka pada pertengahan malam, lalu berserulah malaikat, ‘Siapa saja yang berdoa pasti akan dikabulkan. Siapa saja yang meminta pasti akan diberi. Siapa saja yang dalam kesulitan, akan diringankan.’ Tak henti-hentinya seorang muslim berdoa melainkan telah dikabulkan oleh Allah SWT kecuali wanita pezina yang berkeliaran menjajakan kemaluannya atau pencatut (uang rakyat).”

    3. Hadits tentang Hukuman Bagi Pezina

    Dari Ubadah bin Shamit RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Belajarlah dariku, belajarlah dariku. Allah telah memberi jalan keluar bagi mereka: Perjaka yang berzina dengan gadis didera seratus kali dan diasingkan. Laki laki yang sudah menikah berzina dengan perempuan yang sudah menikah, didera seratus kali dan dirajam.” (HR Muslim)

    4. Hadits Pezina Diazab Pedih di Akhirat Kelak

    “Pada suatu malam aku bermimpi melihat dua orang laki-laki menghampiriku, seraya berkata, ‘Pergilah.’ Lalu kami pergi ke sebuah lubang seperti tungku yang atasnya sempit dan bagian bawahnya luas, dan api menyala-nyala dari bawah tungku itu. Setelah mendekat, tiba-tiba isi tungku terangkat hingga hampir keluar. Ketika api dingin mereka kembali masuk ke dalam tungku, yang ternyata di dalamnya sekelompok laki-laki dan perempuan yang telanjang. Lalu aku bertanya, ‘Siapa mereka ini?’ Dua orang itu menjelaskan, …, dan yang engkau lihat dari lubang itu adalah para pezina…” (HR Bukhari)

    5. Hadits Zina sebagai Tanda Datangnya Kiamat

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat yaitu diangkatnya ilmu dan kebodohan tampak jelas, dan banyak yang minum khamar dan banyak orang berzina secara terang-terangan.” (HR Bukhari dan Muslim).

    (aeb/erd)

    Sumber : www.detik.com

    Image : unsplash.com/ Dwi Asy Syafa’Atul Ulyah

  • Hadits Larangan Puasa 1 Syawal bagi Umat Islam



    Jakarta

    Setelah satu bulan penuh melaksanakan ibadah puasa Ramadan, umat Islam dilarang untuk berpuasa pada 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri. Hal ini dijelaskan dalam hadits larangan puasa 1 Syawal bagi umat Islam.

    Mengutip dari Kitab Al-Lu’Lu wal Marjan yang disusun oleh Muhammad Fu’ad Abdul Bagi, berikut hadits larangan puasa 1 Syawal:

    حَدِيثُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: هَذَانِ يَوْمَانِ نَهى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهِمَا: يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ وَالْيَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ أخرجه البخاري في: ۳۰ كتاب الصوم: ٦٦ باب صوم يوم الفطر

    Artinya: “Umar bin Khattab RA berkata: “Pada kedua hari ini Nabi SAW telah melarang orang berpuasa, yaitu pada hari raya Idul Fitri sesudah Ramadan dan hari raya Idul Adha sesudah wuquf di Arafah.” (HR Bukhari, Kitab ke-30, Kitab Shaum bab ke-66, bab shaum di hari fitri)


    حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَلَا صَوْمَ فِي يَوْمَيْنِ : الْفِطْرِ وَالأَضْحى أخرجه البخاري في: ٢٠ كتاب فضل الصلاة في مسجد مكة والمدينة : ٦ باب مسجد بیت المقدس

    Artinya: “Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata: “Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘Tidak boleh berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.’” (HR Bukhari, Kitab ke-20, Kitab Keutamaan Salat di Masjid Makkah dan Madinah bab ke-6, bab Masjid Baitul Maqdis)

    . حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ عَنْ زِيَادِ ابْنِ جُبَيْرٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ: رَجُلٌ تَذَرَ أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَالَ: أَظْتُهُ قَالَ: الأثنين فَوَافَقَ يَوْمَ عبد فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: أَمَرَ اللهُ بوَفَاء النذر ونهى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم عَنْ صَوم هذا اليوم أخرجه البخاري في: ٣٠ كتاب الصوم: ٦٧ باب الصوم يوم النحر

    Ziyad bin Jubair berkata: “Ada seorang lelaki yang datang dan bertanya kepada Ibnu Umar RA: ‘Bagaimana bila seorang nadzar akan berpuasa hari senin, tiba-tiba bertepatan dengan hari raya?’ Ibnu Umar RA menjawab: ‘Allah menyuruh menepati janji nadzar tetapi Nabi Muhammad SAW melarang puasa pada hari raya.” (HR Bukhari, Kitab ke-30, Kitab Shaum bab ke-67, bab shaum pada hari Nahr/10 Zulhijah)

    Hadits larangan puasa tanggal 1 Syawal turut disebutkan dalam Kitab Tisirul-Allam Syarh Umdatul-Ahkam karya Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam.

    عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ مَوْلَى ابْنِ أَزْهَرَ وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ عُبَيْدٍ، قَالَ: شَهِدَتِ الْعِيدَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ: هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِهمَا: يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَالْيَوْمُ الآخَرُ الَّذِي تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

    Artinya: “Dari Abu Ubaid, majikan Ibnu Azhar yang namanya Sa’ad bin Ubaid, dia berkata: ‘Aku pernah shalat ‘Id bersama Umar bin Khattab RA, lalu dia berkata, ‘Ini adalah dua hari (Idul Fitri dan Idul Adha), maka Rasulullah SAW melarang puasa pada dua hari ini, yaitu hari berbuka bagi kalian dari puasa kalian dan hari yang lain ketika kalian memakan dari hean kurban kalian’”

    Masih di dalam buku yang sama juga dijelaskan mengenai makna dari hadits tersebut. Bahwasanya Idul Fitri dan Idul Adha merupakan dua hari raya bagi umat Islam, yang dijadikan sebagai hari bergembira dan bersuka ria.

    Para muslim melakukan kesenangan dengan saling bersilaturahmi, makan, minum, menggunakan pakaian yang bagus dan sebagainya. Diharamkannya puasa pada dua hari raya ini karena berbuka merupakan penghentian puasa.

    Hal itu disamakan artinya dengan salam yang menghentikan salat. Hikmah larangan berpuasa pada dua hari raya seperti yang diisyaratkan dalam hadits tersebut ialah, bahwa pada Idul Fitri merupakan hari berakhirnya bulan Ramadan.

    Sehingga perlunya perbedaan dan harus diketahui batasan puasa yang wajib, dengan cara tidak berpuasa. Hal itu sebagaimana beliau SAW melarang puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadan, agar terdapat perbedaan dengan yang lain.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com