Tag: hadits

  • Doa untuk Orang Sakit bagi Perempuan dan Laki-laki Sesuai Sunnah



    Jakarta

    Mengunjungi dan mendoakan orang yang sedang sakit adalah bentuk kepedulian muslim terhadap saudaranya. Adapun doa untuk orang sakit baik perempuan dan laki-laki dijelaskan dalam tulisan berikut.

    Dikutip dari buku Fiqih Ibadah bagi Orang Sakit dan Bepergian karya Enang Hidayat, menjenguk dan mendoakan orang sakit merupakan hak sesama muslim. Rasulullah SAW bersabda,

    “Hak muslim atas muslim lainnya terdapat lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)


    Adapun keutamaan dari mengunjungi orang sakit diambil dari sebuah hadits Rasulullah SAW adalah sebagai berikut,

    . قَالَ: إِذا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِي خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ عُدْوَةً صَليَّ عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَقَّ يُفْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

    Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang berkunjung kepada saudaranya yang muslim (yang sedang menderita sakit), maka seakan-akan dia berjalan-jalan di Surga hingga duduk. Apabila sudah duduk, maka dituruni rahmat dengan deras. Apabila dia berkunjung di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakan-nya agar mendapat rahmat hingga sore hari. Apabila dia berkunjung di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga pagi hari.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Doa untuk Orang Sakit bagi Perempuan dan Laki-laki

    Mengutip buku Al-Adzkar atau Kitab Induk Doa dan Dzikir karya Imam Nawawi, disebutkan beberapa doa yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Salah satunya berbunyi sebagai berikut.

    اللَّهُمَّ رَبِّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ ، أَنْتَ الشَّافِيْ لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاء لَا يُغَادِرُ سَقَماً

    Arab latin: “Allaahuma rabbin naas, adzhibil ba’sasyfii, antasy syaafi laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqamaa,”

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit ini, sembuhkanlah. Engkaulah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”

    Bacaan doa untuk orang sakit lainnya,

    اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوّاً أَوْ يَمْشِيْ لَكَ إِلَى صَلَاةٍ

    Arab latin: “Allaahummasy fii ‘abdaka yanka-u laka ‘aduwwan au yamsyii laka ilaa shalaatin”

    Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini, sehingga dia bisa menyembuhkan musuh untuk-Mu atau dapat berjalan untuk menunaikan salat.”

    Selanjutnya, ketika sedang menjenguk orang yang sakit kemungkinan kita pernah mendengar kata syafakallah dan syafakillah. Dua kata ini terkait dengan doa untuk orang sakit baik perempuan dan laki-laki.

    Mengutip dari Menulis Buku, Alternatif bagi Guru karya Ardhi Aditya, syafakallah dan syafakillah adalah ucapan doa bagi orang yang sakit. Arti dari kedua kalimat tersebut adalah semoga Allah menyembuhkanmu.

    Jika yang sakit adalah seorang laki-laki, maka doa yang diucapkan adalah syafakallah. Sedangkan jika yang sakit adalah perempuan, maka ucapan yang tepat adalah syafakillah.

    Namun, akan berbeda jika orang yang sedang sakit sedang tidak ada di hadapan kita atau seseorang tersebut berposisi sebagai orang ketiga, maka doa yang dapat diucapkan adalah syafahullah bagi laki-laki dan syafahallah bagi perempuan. Arti dari keduanya tetap sama yakni semoga Allah menyembuhkannya.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Menutup Aib Orang Lain dan Larangan Menyebarkannya



    Jakarta

    Islam melarang para pemeluknya menyebarkan aib orang lain tanpa adanya darurat. Menurut sebuah hadits, Allah SWT akan memberikan balasan dengan menutupi aib saat hari kiamat bagi orang yang menutup aib sesamanya.

    Hal tersebut dijelaskan dalam Kitab Syarh Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi dengan bersandar pada riwayat Abu Hurairah RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    لا يَستُرُ عبدٌ عبدًا في الدنيا إلا سَتَره الله يوم القيامة


    Artinya: “Tiada seorang hamba pun yang menutupi cela seorang hamba yang lainnya di dunia, melainkan ia akan ditutupi celanya oleh Allah pada hari kiamat.” (HR Muslim dalam Shahih-nya)

    Imam an-Nawawi menjelaskan, balasan tersebut sejenis dengan perbuatan, yakni Allah SWT menutup aibnya bisa jadi dengan menghapus dosanya sehingga ia tidak ditanya atau Allah SWT bertanya kepadanya tentang dosanya tanpa memperlihatkan dosa kepada orang lain, lalu memaafkannya.

    Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Setiap umatku dimaafkan, kecuali orang-orang yang menampak-nampakkan kejahatannya sendiri. Di antara perbuatan menampakkan keburukan sendiri adalah melakukan suatu perbuatan di waktu malam, kemudian di pagi harinya Allah telah menutupi keburukannya itu, namun ia berkata, ‘Hai fulan, aku tadi malam berbuat demikian dan demikian.’ Di malam harinya Allah telah menutupi celanya, namun di pagi harinya ia membuka tabir Allah padanya.” (Muttafaq ‘Alaih)

    Imam Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam Kitab Adab bab Mukmin Menutup Aib Sendiri dan Imam Muslim mengeluarkannya dalam Kitab Zuhud bab Larangan bagi Seseorang untuk Merobek Tabir Dirinya.

    Anjuran untuk menutup orang lain dan keutamaannya juga disebutkan dalam riwayat lain yang termuat dalam Shahih Muslim. Dari Abdullah bin Umar RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

    “Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Ia tidak boleh menzaliminya dan membiarkannya celaka. Siapa yang menanggung kebutuhan saudaranya, Allah menanggung kebutuhannya. Siapa yang meringankan kesulitan seorang muslim, Allah memudahkan baginya satu kesulitan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah menutupi aibnya pada hari kiamat.”

    Pentingnya Tutupi Aib Orang Lain

    Syaikh Abu Abdurrahman Ridha dalam Adabus Salaf fi At-Ta’amul ma’a An-Nas menjelaskan, menyebarkan berita buruk tentang orang-orang beriman sama artinya dengan menyakiti dan mencederai hati mereka, menyingkap cacat, dan aib mereka.

    Ia menukil pernyataan Ibnul Jauzi yang termuat dalam Kitab Adz-Dzail ala Thabaqah Al-Hanabilah yang mengatakan pernah mendengar Ibnu Hurairah berkata kepada sebagian dai untuk bersungguh-sungguh menutupi aib orang yang bermaksiat.

    “Bersungguh-sungguhlah menutupi aib orang yang bermaksiat, karena menampakkan maksiat mereka di hadapan publik adalah cacat dan dosa bagi kaum muslimin. Sedangkan hal yang paling diutamakan adalah menutupi kekurangan-kekurangan itu.”

    Disebutkan dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Salamah berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menutup aib seorang mukmin, seolah dia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup.” (HR Ath-Thabrani)

    Dalam hal ini, Imam an-Nawawi Rahimahullah mengatakan bahwa hadits tersebut mengandung sejumlah fadhilah atau keutamaan, yakni menolong orang muslim, menghilangkan kesusahan, serta menutupi aibnya.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Larangan Mencela Jenazah dan Ungkit Keburukannya



    Jakarta

    Mencela jenazah merupakan perkara yang dilarang dalam Islam. Termasuk, mengungkit-ungkit keburukannya semasa hidup di dunia.

    Larangan mencela jenazah dan mengungkit-ungkit keburukannya disebutkan dalam sebuah hadits yang termaktub dalam Kitab Bulughul Maram. Dari Aisyah RA, ia mengatakan, Rasulullah SAW telah bersabda,

    لاَ تَسُبُّوا الأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا


    Artinya: “Janganlah kamu mencela orang-orang yang telah meninggal, karena sesungguhnya mereka telah sampai pada balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan.” (HR Bukhari)

    Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa hadits tersebut shahih dan turut dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad, dan Al-Baihaqi. Imam an-Nawawi mengatakan lebih lanjut, haram hukumnya mencela jenazah muslim yang tidak nyata kefasikannya.

    Adapun, terkait jenazah orang kafir dan umat Islam yang nyata kefasikannya terdapat perbedaan di kalangan ulama salaf dalam menghukuminya. Menurut Imam an-Nawawi, pendapat yang paling kuat dan lebih bisa dipertahankan adalah boleh menyebut keburukan-keburukan jenazah orang-orang kafir.

    Sedangkan, jenazah umat Islam yang secara nyata memperlihatkan kefasikannya atau bid’ah dan sejenisnya, maka boleh juga membicarakan keburukan-keburukannya jika memang ada kepentingan dan manfaat seperti untuk memberikan peringatan dan supaya tidak mengikuti jejaknya. Akan tetapi, jika tidak ada kepentingan dan manfaatnya, tidak diperbolehkan.

    Kebolehan mencela jenazah orang kafir ini turut dikatakan Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah. Ia berhujjah dengan firman Allah SWT dalam surah Al Maidah ayat 78, “Orang-orang kafir dari bani Israil telah dilaknat…”

    Kemudian melalui surah Hud ayat 18 yang berbunyi,

    وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۗ اُولٰۤىِٕكَ يُعْرَضُوْنَ عَلٰى رَبِّهِمْ وَيَقُوْلُ الْاَشْهَادُ هٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ كَذَبُوْا عَلٰى رَبِّهِمْۚ اَلَا لَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ ۙ

    Artinya: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada tuhan mereka dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berbohong terhadap tuhan mereka.” Ketahuilah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang-orang zalim.”

    Anjuran Membicarakan Kebaikan Jenazah

    Dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan At-Tirmidzi terdapat sebuah hadits yang menyebut anjuran membicarakan kebaikan jenazah dan menyembunyikan keburukannya. Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Hendaklah kalian memperbincangkan kebaikan-kebaikan jenazah kalian dan menyembunyikan keburukan-keburukan mereka.”

    At-Tirmidzi menganggap hadits tersebut dhaif, sementara Ibnu Hibban menilainya shahih.

    Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Anas RA terkait orang yang memuji kebaikan jenazah dan mencelanya. Anas RA menceritakan, suatu ketika, para sahabat melintasi jenazah dan mereka memuji segala kebaikan (yang pernah) ia lakukan (selama masih hidup).

    Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW lantas bersabda, “Kamu harus (melakukan itu)”

    Kemudian mereka melewati jenazah yang lain dan meriwayatkan mencela perbuatan yang pernah dilakukan selama masih hidup. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Harus”

    Lantas Umar bertanya kepada beliau, “Apa yang engkau maksud dengan harus?”

    Rasulullah SAW menjawab,

    “Jenazah ini kalian puji atas kebaikan yang pernah ia lakukan, maka ia berhak masuk ke dalam surga. Dan jenazah ini lagi kalian cela atas keburukannya, maka ia pantas masuk ke dalam neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah SWT yang berada di muka bumi.” (HR Bukhari dalam Kitab al-Janaiz bab Thanau an-Nas aa al-Mayyiti dan Muslim dalam Kitab Al-Janaiz bab Fi man Yutsna ‘alaihi Khairan aw Syarran mi al-Mauta)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Penghuni Surga Tidak Butuh Tidur, Kenapa?



    Jakarta

    Para penghuni surga disebut sudah tidak lagi membutuhkan aktivitas tidur. Sebab tidur dikatakan dalam sabda Rasulullah SAW sebagai kata lain dari mati.

    Mengutip lbnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam buku Tamasya ke Surga, hadits tersebut bersumber dari Jabir bin Abdullah RA yang mengutip perkataan Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

    النوم أخو الموت، ولا ينام أهل الجنة


    Artinya: “Tidur adalah saudara kandung kematian. Di surga, penghuni surga tidak tidur.”

    Hadits di atas termaktub dalam Silsilat al Hadits ash Shahihah oleh Syeikh Nashiruddin al Albani. Menurutnya, hadits tersebut sudah banyak diriwayatkan oleh banyak kitab hadits dan menyebutnya sebagai hadits yang shahih setelah menghimpun jalur riwayat hadits tersebut.

    “Singkat kata, hadits ini adalah shahih dari salah satu jalur melalui Jabir,” demikian penjelasan Syeikh Nashiruddin yang diterjemahkan Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar dalam buku Surga dan Neraka.

    Dalam redaksi lain, salah satu riwayat hadits menyebutkan hal serupa. Berikut bunyi haditsnya, “Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, ‘Apakah penghuni surga tidur di surga?’ Sabda Rasulullah SAW, ‘Tidur adalah saudara kandung kematian. Di surga, para penghuni surga tidak tidur.’” (HR Thabrani)

    Syaikh Mahmud Al-Mishri dalam kitab terbitan Dar At Taqwa li An Nasyr wa At Tauzi hendak menjelaskan alasan mengapa para penghuni surga tidak lagi membutuhkan tidur seperti di dunia. Menurutnya, hal itu menjadi salah satu bentuk kesempurnaan rahmat Allah SWT.

    “Surga adalah tempat kenikmatan dan tidur adalah mengurangi kenikmatan ahli surga dari rahmat Allah. Bahkan mereka merasakan kenikmatan demi kenikmatan, keindahan demi keindahan. Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan karunia-Nya kepada kita,” jelasnya yang diterjemahkan Ghilmanul Wasath, Abdurrahman Kasdi, dan Umma Farida dalam buku Tamasya ke Negeri Akhirat.

    Senada dengan itu, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin dalam Syarah Kitab Tauhid Jilid II menafsirkan, penghuni surga tidak lagi tidur karena kenikmatan yang dimiliki mereka. Ditambah lagi, tidur termasuk bagian dari perkara yang sia-sia dan disebut kematian kecil.

    “Tidur di surga adalah menghilangkan waktu tanpa kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan. Karena kesenengan di dalamnya abadi. Karena tidur adalah kematian kecil. Surga tidak ada kematian di dalamnya,” terang Syeikh Muhammad.

    Keterangan ini dikuatkan dengan firman-Nya dalam surah Fathir ayat 34-35. Ayat tersebut menjelaskan bahwa penghuni surga tidak pernah tidur sama sekali karena tidak merasakan lelah setelah sibuk beraktivitas seharian. Allah SWT berfirman,

    وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَۗ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوْرٌ شَكُوْرٌۙ
    الَّذِيْٓ اَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهٖۚ لَا يَمَسُّنَا فِيْهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيْهَا لُغُوْبٌ
    ۨ
    Artinya: Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Dia) yang menempatkan kami di tempat yang kekal (surga) dengan karunia-Nya. Di dalamnya kami tidak lelah dan lesu.”

    Hal ini juga pernah diceritakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya. Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,

    “Sesungguhnya tidur merupakan sesuatu yang Allah jadikan mata kita tenang di dunia, apakah di surga ada tidur?”

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidur adalah teman kematian dan di surga tidak ada kematian.”

    Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa istirahat mereka?”

    Beliau bersabda, “Sesungguhnya, di surga tidak ada keletihan. Semua hal adalah istirahat. Lantas Allah SWT menurunkan surah Fathir ayat 35.” (HR Al Baihaqi)

    Wallahu’alam.

    (rah/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Bekerja dalam Ajaran Islam, Pahalanya Sama Seperti Perang di Jalan Allah



    Jakarta

    Bekerja dalam perspektif ajaran Islam sangatlah penting dalam keberlanjutan hidup seorang muslim di dunia. Betapa pentingnya bekerja, Allah bahkan menilai bekerja sebagai ibadah. Oleh karena itu, setiap muslim diwajibkan untuk bekerja, mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bekerja untuk anak dan istrinya melalui jalan yang halal, maka bagi mereka pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR Bukhari).

    Pada hakikatnya, bekerja tidak hanya untuk memenuhi tuntutan di dunia, tetapi juga di akhirat. Segala aktivitas di dunia yang positif dan sejalan dengan nilai-nilai keislaman pastinya memiliki nilai tersendiri di mata Allah. Terlebih, semangat untuk mencukupkan nafkah telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul.


    Anjuran Bekerja dan Mencari Rezeki

    Anjuran bekerja dan mencari rezeki telah tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hadits Rasulullah SAW. Salah satunya, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Insyirah ayat 7,

    فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

    Arab-Latin: Fa iżā faragta fanṣab

    Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

    Ayat tersebut menegaskan tentang keseimbangan urusan dunia dan akhirat, yakni di sela beribadah seorang muslim juga harus tetap bekerja. Di sisi lain, pentingnya bekerja juga disebutkan dalam sebuah hadits yang dikutip dari buku berjudul Kerja Berbuah Surga yang ditulis oleh Arip Purkon.

    Dari anas bin Malik RA, dari Muhammad SAW, beliau bersabda: “Seandainya hari kiamat datang di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, jika memungkinkan untuk menanamnya sebelum kiamat itu terjadi maka laksanakanlah (menanam bibit tersebut). (HR Imam Ahmad).

    Hadits tersebut menjelaskan tentang pentingnya bekerja, sehingga disebutkan bahwa seandainya besok akan terjadi kiamat maka harus tetap bekerja. Maksud harus tetap bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri selagi masih memiliki kekuatan lahir dan batin.

    Apabila seseorang tidak memiliki suatu halangan atau kendala dalam mencari nafkah, sesungguhnya Allah mencintai pekerja dan membenci penganggur.

    Dari Ibnu Umar RA, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai setiap orang beriman yang bekerja (mencari nafkah), yang merupakan ayah dari keluarga (tulang punggung keluarga). Dan (Allah) tidak suka kepada penganggur (tidak bekerja) yang sehat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.”

    Bahkan, Rasulullah juga memberitahu umatnya tentang larangan menjadi penganggur.

    Dari Makhul RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Kalian jangan menjadi orang yang suka mencari aib orang lain, orang yang terlalu banyak memuji (penjilat), orang yang suka mencela, dan orang yang seperti mayat (yaitu orang yang menjadikan dirinya seperti mayat yaitu tidak bekerja.”

    Bekerja Lebih Baik Daripada Meminta-Minta

    Imam an-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin jilid 1 menyebutkan, dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,

    “Sungguh tindakan salah seorang dari kalian yang seikat kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya itu lebih baik baginya, daripada meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolak permintaannya.” (Muttafaq ‘alaih).

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Zakat bab “Menahan Diri dari Meminta-Minta” dan bab “Tafsir: Dan Mereka tidak Meminta kepada Manusia dengan Memaksa” (3/265, 4/260) dan Imam Muslim dalam kitab Zakat bab “Makruhnya Meminta kepada Manusia” dan dalam bab “Jual Beli dan Minuman” (1042).

    Adapun dalam riwayat yang lain, Rasulullah mencontohkan Nabi Dawud yang tidak suka makan sesuatu kecuali dari hasil tangannya sendiri dan juga Nabi Zakariya yang seorang tukang kayu, yakni pekerja yang memproduksi barang-barang dari buah tangannya.

    قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

    Artinya: Dari Rafi’ bin Khadij RA, ia berkata: Pernah ditanyakan, “Ya Rasulullah, pekerjaan apa yang paling baik?” Beliau menjawab: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual-beli yang baik.” (HR Ahmad bin Hanbal).

    Hadits tersebut mengingatkan sekaligus menyadarkan manusia tentang betapa mulianya seorang yang bekerja, karena Allah mengkategorikan seseorang yang bekerja sama saja sedang berjuang di jalan Allah (sabilillah). Hal ini diperkuat dalam hadits berikut.

    Dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dia berkata: Nabi Muhammad SAW biasa pergi ke pasar dan membeli kebutuhan keluarganya. Lalu beliau ditanya tentang hal tersebut, maka beliau bersabda: “Jibril AS datang kepadaku dan berkata: Siapa saja yang berusaha (bekerja) untuk keluarganya maka agar mereka terhindar dari (meminta-minta) kepada orang lain, maka dia berada di jalan Allah SWT.”

    Itulah beberapa hadits Rasulullah tentang keutamaan bekerja. Hadits-hadits tersebut dapat menjadi pengingat sekaligus penyemangat dalam bekerja. Semoga bermanfaat.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Melepas dan Menggunakan Pakaian, Yuk Amalkan!



    Jakarta

    Doa melepas pakaian termasuk ke dalam salah satu adab berpakaian dalam Islam. Membaca doa saat hendak mengerjakan aktivitas menjadi hal yang dianjurkan agar kegiatan yang dilakukan diridhai oleh Allah SWT.

    Doa melepas pakaian perlu diamalkan oleh umat Islam sebagai bentuk syukur atas nikmat dan rezeki berupa pakaian yang menjadi pelindung tubuh yang diberikan Allah SWT. Dalam surat Al A’raf ayat 26, Allah berfirman:

    يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ


    Arab latin: Yā banī ādama qad anzalnā ‘alaikum libāsay yuwārī sau`ātikum warīsyā, wa libāsut-taqwā żālika khaīr, żālika min āyātillāhi la’allahum yażżakkarụn

    Artinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat,”

    Doa Melepas Pakaian

    Terdapat beberapa versi doa melepas pakaian. Apa saja? Berikut pembahasannya sebagaimana dinukil dari buku Tuntunan Doa & Zikir Sehari-hari terbitan Redaksi Qultum Media, Kumpulan Doa Mustajab Sepanjang Hayat oleh Drs Nurdin Hasan M Ag, dan 24 Jam Hidup dengan Doa dan Amal Harian Rasulullah tulisan Abu Bakar bin As-Sina.

    1. Doa Melepas Pakaian Versi Pertama

    Dari Anas bin Malik, dia berkata Rasulullah bersabda, “Tirai penghalang antara mata jin dan aurat Bani Adam ialah doa yang diucapkan tatkala dia melepas pakaian, doa itu ialah:

    بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ

    Arab latin: Bismillaahil ladzii laa ilaaha illaa huwa

    Artinya: “Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia,”

    2. Doa Melepas Pakaian Versi Kedua

    Doa Melepas PakaianDoa Melepas Pakaian Versi Kedua

    Arab latin: Allahummanza’ annii robqotan nifaaqi wa tsabbitnii ‘alal iimaan

    Artinya: “Ya Allah, lepaskanlah dariku ikatan sifat munafik dan tetapkanlah aku pada keimanan,”

    Artinya:

    3. Doa Melepas Pakaian Versi Ketiga

    Doa Melepas PakaianDoa Melepas Pakaian Versi Ketiga

    Arab latin: Bismil laahil ladzii laa ilaaha illaa anta

    Artinya: Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Engkau,” (HR Ibnu Sunni)

    Doa Mengenakan Pakaian

    اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَ خَيْرِ مَا هُوَ لَهُ، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَ شَرِّ مَا هُوَ لَهُ

    Arab latin: Allahumma innii as’aluka khairii wa khairi ma huwa lahu, wa a’udzu bika min syarrihi wa khairi ma huwa lahu.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan baju ini dan kebaikan apapun untuknya. Dan aku berlindung dari keburukan baju ini serta keburukan apapun untuknya,”

    Manfaat Melafalkan Doa Melepas Pakaian

    Menurut buku terbitan Haura Utama yang bertajuk Living Hadis, ada sejumlah manfaat yang diperoleh dari melafalkan doa memakai dan melepas pakaian, antara lain ialah sebagai berikut:

    • Melindungi tubuh ketika aurat terbuka
    • Malu dan hormati selalu malaikat yang bersama kita
    • Melindungi tubuh dari pandangan jin

    Rasulullah menjelaskan bagaimana bahayanya ‘ain atau pandangan mata yang dapat menyebabkan kerusakan. Tidak hanya manusia, pandangan jin terhadap aurat manusia juga memiliki dampak buruk.

    Selain itu, jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia hanya karena mereka suka terhadap manusia. Ini terjadi karena jin melihat indahnya bentuk tubuh manusia sehingga mereka tertarik.

    Demikian pemaparan tentang doa melepas pakaian. Semoga bermanfaat.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir yang Ringan di Lisan tapi Beratkan Timbangan Amal



    Jakarta

    Rasulullah SAW mengajarkan dzikir yang ringan di lisan tapi berat di timbangan amal. Dzikir tersebut terdiri dari dua kalimat saja.

    Bacaan dzikir sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW ini termuat dalam Kitab Shahih Bukhari, tepatnya pada hadits yang terakhir. Imam an-Nawawi turut menukil hadits ini dalam Kitab Riyadhus Shalihin dan Kitab Al-Adzkar.

    Dari Abu Hurairah RA ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,


    كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

    Artinya: “Ada dua kalimat, yang ringan di lisan tetapi berat dalam timbangan dan dicintai oleh ar-Rahman, ‘Subhanallah wa bi hamdih (Maha Suci Allah dan Segala puji hanya bagi-Nya)’, dan ‘Subhanallahil ‘azhim’ (Maha Suci Allah yang Maha Agung).” (HR Muttafaq ‘Alaih)

    Imam an-Nawawi juga menukil sebuah riwayat di dalam Kitab Shahih Muslim yang menyebut bahwa dzikir subhanallah wa bi hamdih adalah dzikir yang paling disukai Allah SWT. Dari Abu Dzar RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya,

    أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى؟ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

    Artinya: “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang kalam (zikir) yang paling disukai oleh Allah? Sesungguhnya kalam yang paling disukai oleh Allah ialah, ‘Subhanallah wa bi hamdih’ (Maha Suci Allah dengan memuji kepada-Nya).”

    Dalam riwayat lain dikatakan,

    سُئِلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْكَلَامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : مَا اصْطَفَى اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ : سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

    Artinya: “Rasulullah SAW pernah ditanya, ‘Dzikir apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Dzikir yang dipilihkan oleh Allah buat para malaikat-Nya atau hamba-Nya yaitu Subhanallah wa bi hamdih (Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya).” (HR Muslim dan At-Tirmidzi)

    Dalam Shahih Muslim juga terdapat riwayat yang berasal dari Samurah ibnu Jundub RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَرْبَع: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إلا الله، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيْهِنَّ بَدَأْتَ

    Artinya: “Ucapan yang paling disukai Allah ada empat kalimat, yaitu: ‘Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar’ (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tidak membahayakanmu dengan yang mana pun di antaranya kamu memulainya)” (HR Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

    Selain itu, ada sebuah hadits yang menyebut tentang bacaan dzikir yang memenuhi timbangan, langit, dan bumi. Dzikir tersebut adalah Alhamdulillah dan Subhanallah wal hamdulillah. Dari Abu Malik Al-Asy’ari RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحانَ والحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَانِ، أَوْ تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الله

    Artinya: “Bersuci merupakan sebagian dari iman. Ucapan, ‘Alhamdulillah’ (Segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan; dan ucapan ‘Subhanallah wal hamdulillah’ (Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah) keduanya dapat memenuhi timbangan atau kalimat tersebut dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi.” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Dzikir yang Pahalanya Setara Memerdekakan 10 Budak



    Jakarta

    Dzikir merupakan amalan yang memiliki sejumlah keutamaan. Dalam salah satu hadits disebutkan, ada bacaan dzikir yang pahalanya setara memerdekakan sepuluh budak.

    Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar mengatakan, kalimat dzikir yang pahalanya sama dengan memerdekakan 10 orang budak ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Abu Hurairah RA.

    Selain setara memerdekakan 10 budak, orang yang membaca dzikir ini akan diampuni dari keburukan dan dijadikan sebagai penangkal godaan setan.


    Rasulullah SAW bersabda,

    مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عِدْلَ عَشْرِ رِقَابِ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ، ومحِيَتْ عَنْهُ مِئَةٌ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْةٌ. قَالَ: وَمَنْ قَالَ الْيَوْمِ مِئَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

    Artinya: “Barang siapa mengucapkan kalimat, “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” dalam sehari sebanyak seratus kali, maka baginya pahala yang sama dengan memerdekakan sepuluh orang budak. Dan dicatatkan baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, serta kalimat tersebut baginya merupakan penangkal dari godaan setan sepanjang siang hari itu hingga petang harinya. Dan tiada seorang pun melakukan amal yang lebih baik dari apa yang dikerjakannya kecuali hanya seseorang yang melakukan amal lebih banyak darinya. Rasulullah pernah bersabda pula: Barang siapa mengucapkan, “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya,” dalam sehari sebanyak seratus kali, maka semua dosanya dihapuskan sekalipun banyaknya seperti buih laut.” (HR Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan dalam Kitab Muwatha’)

    Bacaan dzikir yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir.

    Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadits mengenai keutamaan dzikir tersebut apabila dibaca sepuluh kali, yakni pahalanya setara dengan memerdekakan empat orang budak bani Ismail. Hadits ini berasal dari jalur Abu Ayyub Al-Anshari RA, bahwa Nabi SAW pernah bersabda,

    مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ، كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسِ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ

    Artinya: “Barang siapa yang mengucapkan kalimat, Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir (Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sebanyak sepuluh kali, maka seakan-akan ia memerdekakan empat orang budak dari keturunan Nabi Ismail AS.” (HR Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi)

    Kalimat Laa Ilaha Illallah Adalah Dzikir Paling Utama

    Dalam sejumlah riwayat dikatakan bahwa kalimat Laa Ilaha Illallah adalah lafaz dzikir yang paling utama. Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dalam kitabnya meriwayatkannya melalui Jabir ibnu Abdullah RA yang menceritakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّ

    Artinya: “Dzikir yang paling utama adalah kalimat Laa Ilaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).” (Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan)

    Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari menyebut bahwa perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah SWT dan orang yang tidak berzikir mengingat-Nya seperti orang yang hidup dan orang yang mati.

    Dzikir dapat dilakukan kapan pun, baik pada waktu pagi dan petang. Adapun, menurut sebuah hadits, Allah SWT begitu dekat dengan hamba-Nya pada sepertiga malam terakhir.

    Dari Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

    Artinya: “Tuhan kami, Maha Berkah dan Maha Tinggilah Dia, yang turun setiap malam ke langit yang terdekat di saat sepertiga malam yang terakhir (dan) berfirman: ‘Adakah seseorang yang menyeru kepada-Ku sehingga Aku dapat mengabulkan doanya, yang memohon kepada-Ku sehingga Aku bisa memberinya, yang mohon ampunan kepada-Ku hingga aku bisa memaafkannya?’” (HR Bukhari dan Muslim)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Arab, Latin, dan Artinya



    Jakarta

    Ziarah kubur biasanya dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia kepada orang tua, kerabat, leluhur ataupun orang terdekat. Saat melakukan tradisi ini, sebaiknya kita mengetahui mengenai doa ziarah kubur khususnya kepada orang tua.

    Sebagai umat muslim, kita dianjurkan untuk mendoakan orang tua memohon agar mendapat ampunan dan rahmat Allah SWT. Ziarah kubur menjadi salah satu kegiatan yang bisa dijadikan sarana untuk mendoakan sekaligus dianjurkan Rasulullah SAW.

    Melalui sebuah riwayat hadits dari Buraidah bin Al-Hashib, ia menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda,


    كُنْتُ نَهَيْتُكُم عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَزُورُوهَا

    Artinya: “Aku (Rasulullah) dahulu pernah melarang kalian berziarah kubur, dan kini berziarahlah.” (HR Muslim, Ahmad, & Nasa’i)

    Dari riwayat Buraidah bin Al-Hashib, Rasulullah SAW bersabda:

    فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

    Artinya: “Barang siapa ingin ziarah maka hendaklah dia ziarah, dan jangan kamu mengucapkan hujran.” (HR Muslim)

    Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam buku Fiqih Doa dan Dzikir Jilid 2 menerangkan perkara yang dimaksud hujran adalah ucapan batil. Contoh dari hujran ini adalah seperti berdoa memohon kepada ahli kubur, meminta bantuan dari mereka yang meninggal, tawasul dan minta keberkahan dari mereka. Hal seperti disyariatkan dengan tegas bahwa tidak diperkenankan.

    Selanjutnya, berikut ini adalah bacaan doa ziarah kubur orang tua yang dilansir dari arsip detikHikmah. Bacaan-bacaan ini menukil buku Fiqih Doa dan Dzikir Jilid 2, dan Al-Adzkar: Buku Induk Doa Zikir oleh Imam Nawawi, berikut adalah bacaannya.

    5 Pilihan Bacaan Doa Ziarah Kubur Orang Tua

    1. Doa Ziarah Kubur Orang Tua Versi Pertama

    السَّلَامُ علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ

    Arab Latin: “Assalaamu ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa yarhamullahu almustaqdimiina minna wal musta’khiriina wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun”

    Artinya: “Salam atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang Mukminin dan Muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami insya Allah benar-benar akan menyusul kamu.” (HR Muslim, dari Aisyah)

    2. Doa Ziarah Kubur Orang Tua Versi Kedua

    السَّلَامُ عَلَيْكُم دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

    Arab Latin: “Assalaamu ‘alaikum daara qaumin mu’miniin wa innaa in syaa’allaahu bikum laahiquun”

    Artinya: “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada kalian, wahai penghuni kuburan dari kaum mukmin, dan insyaAllah kami akan menyusul kalian.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dari Abu Hurairah)

    3. Doa Ziarah Kubur Orang Tua Versi Ketiga

    السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ القُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ، أَنْتُمْ سَلَفْنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ

    Arab Latin :”Assalaamu ‘alaikum yaa ahlal qubuur yaghfirullaahu lanaa wa lakum antum salafnaa wa nahnu bil atsar”

    Artinya: “Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai ahli kubur. Semoga Allah SWT mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami akan menyusul kalian.” (HR Tirmidzi, dari Ibnu Abbas)

    4. Doa Ziarah Kubur Orang Tua Keempat

    السَّلَامُ عليْكم علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ، أسألُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُم العَافِيَةَ

    Arab Latin: “Assalaamu ‘alaikum ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun wa asalu Allahu lanaa wa lakumul ‘aafiyah”

    Artinya: “Salam atas kamu wahai penghuni pemukiman yang terdiri dari kaum Mukminin dan kaum Muslimin, dan sungguh kami Insya Allah benar-benar akan menyusul kamu. Aku mohon kepada Allah untuk kami dan kamu afiat.” (HR Muslim, dari Buraidah)

    5. Doa Ziarah Kubur Orang Tua Versi Kelima

    السَّلَامُ عليْكم علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ أنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ، وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ

    Arab Latin: “Assalaamu ‘alaikum ‘ala ahlid diyaari minal mu’miniina wal muslimiin wa innaa in syaa Allahu bikum lalahiquun, antum lanaa farathun wa nahnu lakum taba’un”

    Artinya: “Salam atas kamu wahai penghuni pemukiman yang terdiri dari kaum Mukminin dan kaum Muslimin, dan sungguh kami Insya Allah benar-benar akan menyusul kamu. Kalian adalah pendahulu kami, dan kami akan mengikuti kalian.” (HR Nasa’i & Ibnu Majah)

    Begitulah tulisan kali ini membahas mengenai doa ziarah kubur orang tua. Semoga bermanfaat ya, detikers!

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Malu Sebagian dari Iman, Begini Bunyi Hadits dan Keutamaannya



    Jakarta

    Dalam Islam, rasa malu termasuk ke dalam sebagian dari iman seseorang. Malu merupakan sifat atau perasaan yang membentengi dalam melakukan tindakan yang dinilai kurang sopan.

    Syaikh Muhammad Hassan melalui buku Hak-hak yang Wajib Anda Ketahui dalam Islam mengemukakan bahwa rasa malu sudah dititahkan oleh Allah SWT kepada seseorang. Sebagai contoh, malunya lelaki atau perempuan ketika membuka aurat di depan banyak orang.

    Hal tersebut menjadi rasa malu yang sifatnya naluriah. Bahkan, malu merupakan rasa yang dimiliki oleh Nabi Adam dan Siti Hawa usai memakan buah dari pohon terlarang di surga, Allah berfirman dalam surat Thaha ayat 121:


    فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْءَٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ ٱلْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ

    Arab latin: Fa akalā min-hā fa badat lahumā sau`ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni ‘alaihimā miw waraqil jannah, wa ‘aṣā ādamu rabbahụ fa gawā

    Artinya: “Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia,”

    Hadits Malu Sebagian dari Iman

    Dikatakan dalam buku Pendidikan Akhlak Berbasis Hadits Arba’in An Nawawiyah karya Dr Saifudin Amin MA rasa malu menjadi sesuatu yang mendorong manusia untuk meninggalkan hal-hal buruk. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Nabi SAW bersabda:

    “Iman mempunyai enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu merupakan salah satu cabang Iman,” (HR. Imam Al Bukhari No 9).

    Dalam hadits lainnya, Rasulullah mengatakan bahwa rasa malu dan iman sangat erat kaitannya. Diriwayatkan oleh Al Hakim, berikut bunyi haditsnya

    “Iman dan malu merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Apabila rasa malu sudah tidak ada, maka iman pun sirna,” (HR Al Hakim).

    Selain itu, pemilik sifat malu akan terhindar dari maksiat. Ini sesuai dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar RA, dia berkata:

    “Ada salah seorang sahabat RA yang mengecam saudaranya dalam masalah malu dan ia berkata kepadanya: Sungguh, malu telah merugikanmu. Kemudian Rasulullah bersabda:

    “Biarkan dia, karena malu termasuk iman,” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban).

    3 Jenis Malu dalam Islam

    Mengutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMP/Mts Kelas IX susunan Aris Abi Syaifullah dkk malu dalam Islam terbagi menjadi menjadi 3 jenis, yaitu:

    1. Malu Terhadap Allah SWT

    Rasa malu kepada Allah SWT akan mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Rasulullah bersabda,

    “Malulah kalian kepada Allah dengan sungguh-sungguh rasa malu, yaitu dengan menjaga kepala dan isinya; perut dan makanannya; meninggalkan kesenangan dunia; dan mengingat mati,”

    2. Malu Terhadap Manusia

    Saat seseorang memiliki sifat malu kepada manusia, maka ia akan menjaga pandangan dan tidak memiliki keberanian untuk melakukan dosa di hadapan orang lain.

    3. Malu Terhadap Diri Sendiri

    Yang terakhir adalah malu terhadap diri sendiri. Orang dengan sifat seperti ini tidak akan sanggup melakukan perbuatan dosa meskipun sedang sendirian.

    Keutamaan Rasa Malu

    Merujuk pada buku Hak-hak yang Wajib Anda Ketahui dalam Islam, terdapat sejumlah keutamaan yang terkandung dari rasa malu. Yang pertama, rasa malu merupakan sebagian dari iman sebagaimana mengacu pada hadits yang telah dijelaskan sebelumnya.

    Kedua, rasa malu termasuk ke dalam pakaian paling indah dan perhiasan paling bagus yang dikenakan oleh seseorang, baik itu laki-laki maupun pria. Asalkan, rasa malu tersebut merupakan jalan yang dapat mengantarkan kepada setiap kebenaran, bukan sebaliknya.

    Terakhir, rasa malu tergolong ke dalam akhlak Islam. Nabi SAW bahkan menempatkan rasa malu pada tingkatan tertinggi dalam akhlak-akhlak Islam, ini dijelaskan dalam Shahih Sunan Ibn Majah hadits Zaid bin Thalhah RA, Rasulullah bersabda,

    “Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak-akhlak, dan akhlak-akhlak Islam adalah rasa malu,”

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com