Tag: hager electro indonesia

  • Serupa tapi Tak Sama, Apa Perbedaan Meteran Listrik dan MCB?



    Jakarta

    Instalasi kelistrikan di rumah banyak sekali jenisnya. Semua pemilik rumah harus mengenalinya agar apabila terjadi masalah bisa menjelaskan di mana letak kesalahannya.

    Salah satu yang sering salah penyebutan adalah meteran dan MCB. Orang sering salah mengira jika MCB adalah alat meteran di rumah, padahal MCB hanya berupa tombol di bagian bawah alat meteran listrik.

    Keduanya memang tidak terpisahkan, tetapi keduanya berbeda. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut penjelasannya.


    Fungsi Meteran Listrik dan MCB

    Menurut National Sales Director PT Hager Electro Indonesia Linda Koesno meteran listrik atau disebut pula dengan kWh meter berfungsi untuk menampilkan informasi besar kebutuhan dan pemakaian listrik di rumah.

    kWh meter membutuhkan MCB (Miniature Circuit Breaker), yakni tombol yang berada di bawah meteran listrik. Tombol tersebut bisa memutus dan menghidupkan arus listrik dan menjaga agar tidak ada arus listrik berlebih yang mengalir ke kWh meter.

    “(Arus listrik) kalau dari kabel masuk ke MCB dulu. Jadi istilahnya dia mengatur biar nggak kelebihan juga arus listriknya,” jelas Linda saat ditemui di pameran Electric & Power Indonesia 2025 JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (17/9/2025).

    PT ABB Sakti Industri, salah satu produsen industri energi dan teknologi otomatisasi dengan merek ABB memiliki pabrik di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. TYuk kita intip proses produksi produk elektrikalnya seperti MCB (Miniature Circuit Breaker).PT ABB Sakti Industri, salah satu produsen industri energi dan teknologi otomatisasi dengan merek ABB memiliki pabrik di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. TYuk kita intip proses produksi produk elektrikalnya seperti MCB (Miniature Circuit Breaker). Foto: Rachman Haryanto

    Keduanya pasti ada di setiap rumah yang sudah dialiri listrik. Tanpa ada MCB di kWh meter kemungkinan besar alat tersebut dapat terbakar.

    Linda mengatakan MCB yang terpasang di instalasi rumah tidak hanya satu, ada MCB dari PLN dan MCB di dalam rumah. MCB PLN tidak boleh sembarangan diganti atau dilepas. Pemilik rumah harus bertanya dahulu kepada pihak PLN apabila ingin mengganti MCB atau menambahnya.

    “Yang boleh diganti itu adalah MCB di dalam rumahnya. Kalau yang di bawah meteran itu nggak boleh,” ujarnya.

    Itulah perbedaan meteran listrik atau kWh meter dengan MCB, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Ciri-ciri Stop Kontak yang Harus Segera Diganti, Bisa Dicek Tanpa Tukang



    Jakarta

    Stop kontak merupakan instalasi listrik yang berguna sebagai titik hubung antara peralatan elektronik dengan arus listrik di rumah. Masa pakai stop kontak cukup lama terutama apabila kondisinya masih bagus.

    Usia pemakaian stop kontak bisa singkat apabila menemukan tanda-tanda kerusakan. Hal tersebut bisa terlihat dengan mata telanjang, tanpa perlu memanggil tenaga ahli.

    Menurut Technical Sales PT Hager Electro Indonesia Mochammad Nurcholis tanda-tanda stop kontak harus diganti adalah ketika bagian lubang tempat masuknya steker ada yang meleleh, tidak lagi bulat sempurna.


    “Jadi di listrik itu namanya stop kontak, dia (steker dengan sub-connector di dalam stop kontak) kan harus menjepit. Nah jepitan itu harus kencang. Kalau nggak kencang itu bisa menimbulkan panas di area yang terpapar tadi (bahan stop kontak yang isolator biasanya terbuat dari plastik). Namanya plastik kan ada titik lebur. Ada panas, dia jadi seperti meleleh kadang-kadang,” jelas Nurcholis saat ditemui di pameran Electric & Power Indonesia 2025 JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (17/9/2025).

    Apabila sudah meleleh, stop kontak harus segera diganti karena dapat menyebabkan korsleting listrik hingga kebakaran.

    “Harus diganti karena kalau semakin panas nanti bisa mengakibatkan kebakaran. Makanya material yang dipakai (stop kontak) itu (harus) fire retardant, plastiknya. Apa itu fire retardant? Jadi fire retardant itu adalah material plastik yang kalau dibakar lelehannya itu tidak menjadi sumber api,” ungkapnya.

    Penyebab Stop Kontak Meleleh

    Nurcholis menjelaskan alasan terjadinya panas berlebih di dalam stop kontak hingga menyebabkan dindingnya meleleh karena kualitas stop kontak yang kurang bagus sehingga ketika bertemu dengan ujung steker tidak pas dan menimbulkan celah serta panas berlebih.

    “Kalau menurut saya dari material sendiri yang kurang berkualitas. Jadi kan dia harus menjepit istilahnya. Nah jepitannya ini sudah mulai berkurang. Sudah aus,” ujarnya.

    Kemudian, kabel yang tidak sesuai standar seperti kabel tembaganya terlalu sedikit atau yang kapasitasnya tidak pas dengan arus listrik di rumah juga bisa menyebabkan stop kontak meleleh.

    “Ada pengaruhnya secara dialektika (penalaran). Pasti ada namanya drop voltage atau apa. Jadi ada juga pengaruhnya. Jadi material kabelnya juga harus bagus,” sebutnya.

    Ia membantah anggapan penyebab stop kontak rusak karena terlalu lama menyolokkan kabel di dalamnya.

    Cara memastikan stop kontak tersebut memiliki kualitas yang bagus minimal sudah memiliki logo SNI di produknya. Selain itu, pilih material yang benar-benar aman, yakni tahan terhadap api dan arus listrik. Nurcholis menyebut bahan stop kontak yang bagus adalah Bayer Polycarbonate atau Bayer PC dan di dalamnya terdapat kuningan.

    Itulah tanda-tanda dan cara mencegah stop kontak rusak, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Stop Kontak Abal-abal Berisiko Korsleting, Begini Tips Pilih yang Aman


    Jakarta

    Pemilihan jenis stop kontak biasanya diserahkan kepada arsitek atau designer interior, padahal pemilik rumah juga harus terlibat lho. Sebab, stop kontak bukan hanya salah satu item dekorasi rumah, melainkan instalasi listrik yang harus aman digunakan.

    Bagi yang belum pernah membeli stop kontak sebelumnya dan butuh bantuan, Technical Sales PT Hager Electro Indonesia Mochammad Nurcholis membagikan sedikit tips ketika hendak memilih stop kontak yang cocok dan aman untuk di rumah.

    Cara Memilih Stop Kontak yang Aman

    1. Sudah Berstandar SNI

    SNI merupakan singkatan dari Standar Nasional Indonesia. Standar ini diberikan kepada produk-produk lokal dan impor yang telah memenuhi standar keamanan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan sehingga tidak akan membahayakan pemakainya. Untuk mengetahui produk tersebut sudah lolos SNI adalah dengan melihat logo SNI pada kemasannya.


    2. Pilih Material yang Isolator

    Sebagai penghubung antara perangkat elektronik dan arus listrik, bagian luar stop kontak harus bersifat isolator, yakni tahan terhadap panas dan tidak menghantarkan listrik. Material ini aman apabila dipegang, ditekan, dan disentuh.

    Contoh material isolator yang bagus dan aman dipakai untuk stop kontak adalah plastik. Nurcholis menyebutkan spesifikasi plastik yang digunakan adalah Bayer Polycarbonate atau Bayer PC.

    “Dia lebih tahan terhadap scratch, jadi tahan goresan. Terus dia lebih tahan terhadap perubahan warna. Kan dulu ada yang warna putih, tiba-tiba jadi kuning kalau kena UV,” kata Nurcholis saat ditemui di pameran Electric & Power Indonesia 2025 JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (17/9/2025).

    3. Bagian Dalamnya Terdiri dari Kuningan

    Bukan hanya bagian luar yang harus bagus, bagian dalam juga harus memakai material yang aman. Nurcholis mengatakan material yang dipakai di dalam adalah kuningan karena menghantarkan arus dengan baik.

    “Material di dalamnya itu pakai brush atau kuningan, campuran dengan tembaga gitu, di mana tembaga adalah penghantar arus yang baik. Tidak ada kemungkinan connectornya itu jadi berkarat. Kan kalau misalnya kita pasang di dinding, tiba-tiba dindingnya lembab, dalamnya kan ada kayak air gitu, nah stop kontaknya mungkin jadi berkarat. Nah itu kita mengurangi itu,” terangnya.

    4. Jangan Membeli Stop Kontak Bekas

    Nurcholis melarang keras pemakaian stop kontak bekas karena tidak ada yang bisa memastikan kualitasnya. Sebab, barang baru saja bisa rusak, apalagi yang sudah dipakai.

    5. Pilih Desain Stop Kontak

    Seperti yang disebut sebelumnya, stop kontak saat ini menjadi salah satu item dekorasi rumah yang perlu disesuaikan dengan tema interior. Desainnya pun semakin beragam dengan berbagai warna. Selain itu, Pastikan stop kontak tersebut sudah dilengkapi dengan fitur anti setrum, yakni saat salah satu lubang ditekan dengan benda apa pun, tidak akan mengalirkan listrik. Jadi ketika anak iseng dan tanpa pengawasan memasukkan pulpen, sendok, sedotan, atau benda panjang dan ramping lainnya ke dalam salah satu lubang stop kontak, akan tetap aman tanpa tersetrum. Namun, apabila benda tersebut mencolok kedua lubang bersamaan tetap ada potensi tersetrum.

    Itulah tips memilih stop kontak di rumah yang aman, semoga membantu.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/aqi)



    Sumber : www.detik.com

  • Saklar Lampu Sering Panas Pertanda Ada Kerusakan, Harus Segara Diganti



    Jakarta

    Sakelar berguna untuk menghidupkan dan mematikan lampu di rumah. Permukaan sakelar umumnya memakai material yang bersifat isolator agar arus listrik dan panasnya tidak terasa hingga ke permukaannya. Lantas, jika sakelar lampu terasa panas, apa penyebabnya?

    Menurut Technical Sales PT Hager Electro Indonesia Mochammad Nurcholis sakelar lampu yang sering panas berarti kapasitasnya tidak sesuai dengan besar daya lampu yang dipakai di rumah tersebut.

    Nurcholis menjelaskan saat ini standar sakelar sudah berubah dari yang semula. Kebanyakan sakelar dulu hanya bisa membantu untuk mengoperasikan lampu maksimal 2.200 watt, sekarang sudah mencapai 3.200 watt.


    Apabila kapasitas listrik tersebut tidak sesuai dengan kemampuan sakelar yang terjadi adalah muncul panas berlebih yang terasa hingga ke bagian luar.

    “Secara material, konektor. Dia kan cetek, nempel. Nah nempelnya ini mungkin kurang kencang, jadi menyebabkan dia itu seperti membara. artinya resistannya tinggi, pambatannya tinggi, jadi dia lebih panas, mengakibatkan panas, dan itu bisa terbakar,” kata Nurcholis saat ditemui di pameran Electric & Power Indonesia 2025 JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (17/9/2025).

    Apabila kedua masalah tersebut dapat diatasi sakelar tidak akan pernah menghasilkan panas. Selain itu, Nurcholis juga membantah bahwa lampu yang menyebabkan saklar panas. Selama kapasitas sakelar mampu memberi perintah kepada banyak lampu yang memiliki daya ribuan, tidak akan ada panas yang terasa.

    “Yang harus diganti adalah sakelarnya, bukan lampunya. Dengan kapasitas yang lebih besar. Ampernya harus kita pilih yang paling besar,” tegasnya.

    Itulah penyebab saklar panas ketika digunakan, semoga membantu untuk mengetahui tanda masalah pada kelistrikan di rumah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com