Tag: hikmah

  • Persaudaraan Usman bin Affan dengan Aus bin Tsabit saat Hijrah ke Madinah



    Jakarta

    Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabatnya antara kaum Muhajirin dan Anshar. Salah satu sahabatnya yang dipersaudarakan saat itu adalah Usman bin Affan.

    Saat hijrah ke Madinah Usman bin Affan dipersaudarakan dengan Aus bin Tsabit bin al-Mundzir. Aus bin Tsabit adalah saudara bani Najjar.

    Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah menceritakan kisah persaudaraan tersebut. Dikatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Bersaudaralah kalian karena Allah SWT; dua saudara, dua saudara.” Lalu beliau menggenggam tangan Ali bin Abi Thalib seraya bersabda, “Ini saudaraku.”


    Persaudaraan antara dua kaum yang dilakukan Rasulullah SAW ini turut diceritakan dalam ar-Rahiq al-Makhtum karya Syafiyurrahman al-Mubarakfuri. Dikatakan, Rasulullah SAW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik.

    Saat itu, jumlah mereka ada 90 orang laki-laki, sebagian dari Muhajirin dan sisanya dari Ansar. Alasan Rasulullah SAW mempersaudarakan mereka agar saling membantu dan mewarisi setelah meninggal, di luar bagian warisan karena kekerabatan. Kebijakan tersebut berlaku hingga meletusnya Perang Badar.

    Kisah Persaudaraan Usman bin Affan

    Luthfi Yansyah dalam buku Kisah Edukatif 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga: Membangun Karakter Anak dengan Meneladani Kisah Sahabat Rasulullah Pilihan, menceritakan Rasulullah SAW yang memutuskan untuk hijrah.

    Ketika jumlah kaum muslimin terus bertambah, dakwah pun semakin tumbuh hal itu membuat Islam semakin kokoh.

    Namun, di sisi lain kaum Quraisy semakin marah dan semakin menjadi-jadi, mereka pun semakin meningkatkan siksaan dan gangguannya terhadap orang-orang yang beriman.

    Rasulullah SAW merasa kasihan melihat sahabatnya dan akhirnya memerintahkan mereka untuk hijrah. Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang ikut hijrah adalah Usman bin Affan.

    Usman bin Affan mendampingi Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan yang beliau lakukan. Bahkan tidak ada satu perang pun yang terlewatkan selain Perang Badar karena harus merawat istrinya yang sedang sakit.

    Masuknya Usman bin Affan merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada kaum Muslimin kepada Islam.

    Hingga saat hijrah ke Madinah, Usman bin Affan tinggal di rumah Aus bin Tsabt al-Anshari, sudara Hassan, sang penyair Rasulullah SAW.

    Allah SWT menurunkan ayat yang berkenaan dengan Aus bin Tsabit al-Anshari. Dia berfirman,

    لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَۖ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا

    Artinya: “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit maupun banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS An-Nisa: 7)

    Saat Aus bin Tsabit al-Anshari meninggal dunia, ia meninggalkan seorang istri yang bernama Ummu Kajah dan tiga orang anak perempuan.

    Selain itu, ada dua orang laki-laki yang merupakan sepupu laki-laki si mayit dari pihak ayah yang bernama Suwaid dan Arfajah.

    Keduanya mengambil harta Aus bin Tsabit dan tidak memberikan sedikit pun kepada istri Aus dan anak-anaknya.

    Hal itu dikarenakan pada zaman Jahiliah orang-orang musyrik tidak memberi warisan kepada wanita, termasuk anak-anak meskipun laki-laki.

    Persaudaraan Kaum Muhajirin dan Anshar Mengharukan

    Buya Hamka dalam Tafsir al-Ahzar menyebut bahwa persaudaraan sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW ini banyak yang mengharukan jika membaca riwayatnya.

    Diceritakan pula bahwa masa hijrah dari Makkah ke Madinah itu dihitung menjadi dua gelombang. Gelombang pertama ialah yang bersama hijrah dengan Rasulullah SAW, gelombang yang pertama itu enam tahun lamanya.

    Kemudian datang gelombang kedua, yaitu sesudah perdamaian Hudaibiyah, di mana kaum Musyrikin bersikeras mengusulkan supaya kalau ada orang Makkah yang pindah ke Madinah, hendaklah segera dikembalikan.

    Tetapi, kalau orang yang telah ada di Madinah pergi ke Makkah, orang Makkah tidak bertanggung jawab untuk mengembalikannya ke Madinah. Rasulullah SAW menyetujui perjanjian itu, meskipun kelihatannya pincang.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Malaikat Malik Bertemu Rasulullah SAW Tanpa Tersenyum



    Jakarta

    Malaikat Malik merupakan malaikat yang bertugas menjaga pintu neraka. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa Malaikat Malik bermuka masam ketika bertemu Rasulullah SAW.

    Pertemuan tersebut terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Isra Mi’raj. Imam Al-Qusyairi dalam Kitab al-Mi’raj, menceritakan mengenai kisah Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan suci tersebut.

    Saat melakukan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW diajak oleh Malaikat Jibril untuk menaiki Buraq. Dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW melihat malaikat yang banyak sekali jumlahnya. Beliau melihat tangga yang menjulang dari Bayt al-Muqaddas ke langit dunia.


    Kemudian Nabi Muhammad SAW meneruskan perjalanan hingga sampai ke langit dunia yang disebut al-raqi. Ketika memasukinya, semua malaikat senantiasa tersenyum gembira. Sampai akhirnya Rasulullah SAW bertemu dengan satu malaikat yang juga menyambutnya seperti yang lainnya, tetapi tanpa tersenyum dan tidak tampak kegembiraan di wajahnya.

    Malaikat Jibril lalu berkata tentangnya, “Seandainya dia tersenyum selain kepada selainmu, tentu dia akan tersenyum padamu.”

    Akan tetapi dia tidak pernah tersenyum kepada siapa pun, dia adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Dia tidak pernah tersenyum sama sekali, mukanya selalu masam, cemberut, marah, dan menyeramkan karena begitu marahnya kepada para penghuni neraka sebagaimana Tuhan marah kepada mereka.

    Lalu, Rasulullah SAW bertanya, “Hai Jibril, maukah kamu menyuruhnya untuk menunjukkan neraka kepadaku?”

    Jibril menjawab, “Ya.” Lalu Jibril berkata, “Hai Malik, Muhammad Rasul Allah ingin melihat neraka.”

    Malaikat Malik lalu membukakan penutup neraka dan terlihatlah neraka yang bergolak dan mendidih, sangat hitam, berasap, dan apinya juga hitam pekat.

    Ada yang meronta-ronta dan menggelegak hampir pecah lantaran marah. Begitulah gambaran neraka.

    Sebelum bertemu dengan Malaikat Malik dan saat menaiki tangga di sebelah kanan Rasulullah SAW ada 400 ribu malaikat, di sebelah kirinya juga ada 400 ribu malaikat, di depannya 1000 malaikat dan di belakangnya juga 1000 malaikat.

    Setiap malaikat mempunyai dua sayap berwarna hijau. Kemudian, Malaikat Jibril membimbing Nabi Muhammad SAW menaiki tangga. Pada setiap tangga ada satu malaikat yang bermahkotakan cahaya dengan dua sayap berwarna hijau.

    Setiap malaikat itu disertai lima ratus malaikat lainnya. Semuanya berkata, “Selamat datang bagimu wahai Muhammad.”

    Ada pendapat yang menyebut, jarak antar anak tangga sejauh perjalanan selama 40 tahun lamanya dan begitu seterusnya hingga terdapat 55 anak tangga.

    Nabi Muhammad SAW kemudian melihat malaikat di udara yang jumlahnya tidak terhingga bertanya kepada Malaikat Jibril tentang mereka. Lalu Malaikat Jibril menjawab, “Mereka adalah para malaikat yang layang-layang di udara sejak langit dan bumi diciptakan.”

    Kepala malaikat yang melayang di udara itu berada di bawah sayapnya. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat tubuhnya masing-masing, karena mereka demikian takut kepada Allah SWT. Mereka selalu membaca tasbih dan menangis, namun tidak diketahui ke mana jatuhnya air mata mereka.

    Kisah Malaikat Malik bertemu Rasulullah SAW turut diceritakan oleh Nur Syam dalam buku Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal.

    Dijelaskan bahwa Malaikat Malik yang bertugas menjaga neraka, digambarkan tidak pernah tertawa, bahkan juga ketika bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sehingga Nabi SAW pun bertanya kepada Malaikat Jibril.

    Lalu Malaikat Jibril menjawab, kalau Malaikat Malik tertawa maka hawa panas neraka akan berkurang sehingga membuat senang orang-orang yang di neraka.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Nawas yang Menjual Raja untuk Dijadikan Budak



    Jakarta

    Abu Nawas dikenal sebagai sufi cerdas sekaligus pujangga sastra Arab klasik. Ia lahir sekitar tahun 757 di Provinsi Ahwaz, Khuzistan sebelah barat daya Persia.

    Dijelaskan dalam buku Abu Nawas: Sufi dan Penyair Ulung yang Jenaka karya Muhammad Ali Fakih, Abu Nawas telah ditinggal wafat ayahnya sejak kecil. Sang ibu membawanya ke sebuah kota di Irak karena alasan ekonomi.

    Abu Nawas kecil dititipkan kepada seseorang bernama Attar untuk melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan anak kecil. Walau begitu, Attar memperlakukan Abu Nawas dengan baik, ia disekolahkan di sekolah A-Qur’an hingga menjadi seorang hafiz.


    Nah, berkaitan dengan sosok Abu Nawas, ada sebuah kisah menarik dan jenaka darinya. Suatu hari, dia berencana untuk menjual sang raja yang kala itu bernama Khalifah Harun ar-Rasyid.

    Alasannya sendiri karena Khalifah tersebut pantas dijual menurutnya. Mengutip dari buku Jangan Terlalu Berlebihan dalam Beribadah hingga Melupakan Hak-hak Tubuh karya Nur Hasan, akibat rencana tersebut lantas Abu Nawas menghadap Khalifah Harun ar-Rasyid seraya berkata,

    “Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada paduka yang mulia,”

    Mendengar hal itu, Khalifah tersebut menjawab dengan rasa penasaran,

    “Apa itu wahai Abu Nawas?”

    “Sesuatu yang hamba yakin tidak pernah terlintas di dalam benak paduka yang mulia,”

    “Oke, kalau begitu cepatlah ajak saya ke sana untuk menyaksikannya,”

    Abu Nawas memang terkenal sebagai sosok yang selalu membuat orang penasaran akan sesuatu. Karenanya, ia kembali berkata,

    “Tapi baginda…”

    “Tetapi apa?” Jawab sang raja yang sudah tidak sabar dengan apa yang akan ditunjukkan oleh Abu Nawas.

    “Oke, baginda. Jadi begini, baginda harus menyamar sebagai rakyat biasa, supaya orang-orang tidak banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu,”

    Sang raja yang sudah sangat penasaran lantas mengiyakan anjuran Abu Nawas. Ia bersedia menyamar sebagai seorang rakyat biasa dan keduanya pergi ke sebuah hutan.

    Sesampainya di sana, Abu Nawas mengajak mendekat ke sebuah pohon yang rindang dan memohon kepada sang raja untuk menunggu di situ. Lalu, Abu Nawas menemui seorang badui yang merupakan penjual budak, ia mengajaknya untuk melihat calon budak yang ingin dijual namun Abu Nawas mengaku tak tega menjual budak di depan matanya langsung, ia mengaku budak tersebut merupakan temannya.

    Setelah dilihat dari kejauhan, badui tersebut merasa cocok dengan orang yang ingin dijual Abu Nawas. Usai kesepakatan terjalin beserta kontrak, Abu Nawas mendapat beberapa keping uang mas.

    Sang raja yang tidak tahu menahu terus menunggu Abu Nawas. Sayangnya, beliau justru tak kunjung menampakkan dirinya, malahan terdapat seorang penual budak yang menghampiri raja.

    “Siapa engkau?” tanya raja.

    “Aku adalah tuanmu sekarang,” ujar badui tersebut yang menghampiri sang raja tanpa mengetahui bahwa yang ada di depannya sekarang merupakan seorang raja.

    “Apa maksud perkataanmu tadi?” jawab sang raja dengan wajah yang memerah.

    Dengan enteng, penjual budak itu mengeluarkan surat kuasa seraya menjawab, “Abu Nawas telah menjualmu kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya,”

    “Apa??? Abu Nawas menjual diriku kepadamu?”

    “Yaaa!” jawab sang badui dengan nada membentak.

    Merasa makin geram, sang raja lantas berkata, “Tahukah engkau siapa sebenarnya diriku ini?”

    “Tidak. Itu tidak penting dan tidak perlu,” ujar sang badui singkat. Ia kemudian menyeret bahu budak barungnya ke belakang rumah.

    Sesampainya di sana, badui tersebut memberikan parang kepada Khalifah Harun ar-Rasyid dan memintanya untuk membelah serta memotong kayu. Melihat tumpukan kayu yang banyak, sang raja memandangnya dengan ngeri, apalagi beliau harus membelahnya.

    Sayangnya, sang raja tidak mampu membelah kayu tersebut dengan baik. Malahan, ia menggunakan bagian parang yang tumpul ke arah tumpukan kayu.

    Sang badui kemudian memarahi Khalifah Harun ar-Rasyid. Dengan begitu, si raja membalik parangnya sehingga bagian yang tajam mengarah ke kayu dan berusaha membelahnnya.

    Menurutnya, pekerjaan tersebut terasa aneh. Dalam hati ia bergumam, seperti inikah derita orang-orang miskin demi mencari sesuap nasi? Harus bekerja keras lebih dulu.

    Badui tersebut kerap memandang Khalifah Harun ar-Rasyid dengan tatapan heran dan berujung marah. Dirinya merasa menyesal telah membeli seorang budak bodoh. Si raja lalu berkata,

    “Hei badui! Semua ini sudah cukup, aku tidak tahan,”

    Mendengar hal itu, sang badui semakin marah. Ia lalu memukul raja seraya berkata,

    “Kurang ajar kau budakku. Kau harus patuh kepadaku!”

    Khalifah Harun ar-Rasyid yang tidak pernah disentuh oleh orang lain tiba-tiba menjerit keras akibat pukulan dengan kayu yang dilakukan oleh si badui. Karena tidak kuat, ia lalu berkata sambil memperlihatkan tanda kerajaannya,

    “Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultann Harun ar-Rasyid!”

    Melihat hal itu, sang badui langsung menjatuhkan diri sambil menyembah sang raja yang habis dipukulnya. Walau begitu, sang raja mengampuninya karena si badui tidak tahu menahu mengenai dirinya yang merupakan seorang raja. Sementara itu, Khalifah Harun ar-Rasyid sangat murka kepada Abu Nawas dan ingin segera menghukumnya.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Awan Diperintah Menyiram Kebun Petani yang Rajin Bersedekah



    Jakarta

    Sedekah mengandung banyak keutamaan. Salah satunya seperti kisah seorang petani yang diriwayatkan oleh Muslim dalam bab Zuhd wa ar-Raqaq.

    Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang berada di sebuah tempat yang sunyi. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang ghaib, yakni sebuah awan yang lewat di atas kepalanya.

    Dari awan tersebut, lelaki itu mendengar suara perintah agar menyiram kebun Fulan. Mendengar hal itu, lantas ia mendengarkan sembari melihat ke arah mana awan itu pergi, seperti dikisahkan dalam buku Jangan Terlalu Berlebihan dalam Beribadah hingga Melupakan Hak-hak Tubuh tulisan Nur Hasan.


    Setelah mengamati, awan tersebut ternyata berhenti dan menurunkan air hujan di sebuah tanah dengan batu-batu hitam. Air hujan itu kemudian membentuk aliran air yang mengalir ke sebuah tempat tertentu.

    Semakin penasaran, laki-laki itu menelusuri air hujan yang sudah mengalir hingga akhirnya sampai di sebuah kebun. Ini dijelaskan oleh Imam Muslim bahwa Nabi SAW pernah bersabda:

    “Ketika seorang laki-laki berada di tempat yang sunyi, ia mendengar suara awan, ‘Siramilah kebun Fulan,”

    Nah, air hujan itu mengalir dan mengarah ke sebuah kebun. Lelaki itu kemudian melihat seseorang yang tengah berdiri di kebun tersebut dan sedang mengalirkan air dengan cangkul yang dibawanya ke semua penjuru kebun.

    Menurut buku Kisah-Kisah yang Menunjukkan Keutamaan Amal yang disusun oleh Dr Umar Sulaiman al-Asqor, orang itu merupakan petani yang kebunnya dijaga oleh Allah SWT dari kekeringan karena dirinya ikhlas dan istiqomah mengeluarkan hasil taninya sesuai yang diperintahkan Allah. Kala itu, tanah-tanah di sekitar wilayah tersebut terbengkalai karena kekeringan.

    Saking keringnya, sudah hampir satu setengah tahun hujan tidak kunjung turun. Sementara itu, lelaki yang dari awal mendengar suara awan tersebut juga merupakan seorang petani.

    Ia heran, mengapa harus kebun si Fulan yang disirami dan bukan kebunnya? Padahal semua petani di wilayah itu membutuhkan siraman air. Setelah menemui orang yang kebunnya disirami, ia lantas bertanya,

    “Wahai hamba Allah, siapa namamu?”

    Orang tersebut menjawab, “Fulan,”

    Kemudian, si pemilik kebun yang lahannya baru saja disirami air hujan balik bertanya, “Wahai hamba Allah, kenapa engkau bertanya tentang namaku?”

    “Sebetulnya saya mendengar suara dari langit yang kemudian memerintahkan awan agar memberikan air kepadamu. Apa yang kamu lakukan pada kebun ini hingga mendapat keistimewaan luar biasa seperti itu?” tanyanya dengan rasa penasaran.

    Pemilik kebun lalu menjawab, “karena kamu berkata seperti itu, maka aku melihat hasil kebunku. Sepertiganya aku sedekahkan kepada para fakir miskin, sepertiganya lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiganya lagi aku kembalikan kepada kebun ini yang mempunyai haknya, yaitu dengan merawatnya dari hasil yang sudah aku peroleh ini,”

    Karena sedekahnya yang membagi hasil kebun dengan adil, pemilik kebun itu mendapat kemuliaan dari Allah SWT hingga awan pun diperintahkan untuk menyirami kebunnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah menjaga orang-orang shaleh yang adil dan suka bersedekah.

    Dari kisah di atas, dapat kita ketahui bahwa sedekah bukanlah hal yang sia-sia. Justru sebaliknya, Allah membalas hamba-Nya yang rajin bersedekah dengan hal yang ganjaran yang luar biasa.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Peristiwa Pasukan Gajah di Balik Surat Al-Fiil, Bagaimana Kisahnya?



    Jakarta

    Surat Al-Fiil terdiri dari lima ayat, berada di urutan ke-105 dalam susunan mushaf Al-Qur’an, dan termasuk kelompok surat Makkiyah. Kata ‘Al-Fiil’ yang artinya “gajah” diambil dari ayat pertama surat ini, dan dinamakan demikian pula karena menceritakan riwayat pasukan bergajah. Bagaimana kisahnya?

    M. Quraish Shihab melalui Tafsir Al-Mishbah Jilid 15 menjelaskan tema utama Surat Al-Fiil mengenai uraian atas kegagalan upaya perluasan wilayah oleh Abrahah al-Asyram al-Habasyi bersama pasukan bergajahnya yang dikerahkan dari Yaman menuju Makkah untuk menghancurkan Kakbah.

    Tafsir Tahlili Kementerian Agama (Kemenag) Jilid 10 turut menyebut isi kandungan Surat Al-Fiil terkait kisah pasukan bergajah yang diazab oleh Allah SWT dengan mengirimkan sejenis burung yang menyerang mereka hingga binasa.


    Seperti apa riwayat tentang pasukan bergajah ini? Simak berikut ini!

    Kisah Abrahah dan Pasukan Gajah yang Ingin Hancurkan Kakbah

    Masih dari Tafsir Tahlili Kemenag Jilid 10, peristiwa ini diketahui terjadi pada tahun 570 M, bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengatakan, kejadian ini berlangsung tak lebih dari dua bulan sebelum lahirnya beliau SAW.

    Para ahli tafsir dan sejarawan Arab mengemukakan bahwa peristiwa itu bermula ketika terjadi pembunuhan besar-besaran ata orang Nasrani oleh Zu Nuwaz, raja Himyar terakhir yang beragama Yahudi.

    Mendengarnya, raja Abisinia segera mengirim pasukan besar setelah dihubungi untuk minta bantuan. Bala tentara itu dipimpin oleh dua orang pangeran, Aryat dan Abrahah sebagai wakil raja, dan pasukan ini dikirim untuk menaklukkan Yaman.

    Tapi tak lama, percekcokan mencuat sampai memuncaknya pertarungan antara Aryat dan Abrahah. Pertengkaran berakhir dengan terbunuhnya Aryat. Dengan begitu, Yaman berada di bawah pengawasan Abrahah sebagai wakil raja dan gubernurnya.

    Kemudian Abrahah mendirikan sebuah katedral besar Sa’an. Dan konon dibangun dengan barang-barang mewah, pualam dibawa dari peninggalan istana Ratu Saba’, ornamen salib dari emas dan perak, serta mimbar dari gading dan kayu hitam.

    Tujuannya didirikan dengan megah dan hebat itu dengan maksud mengambil hati raja atas tindakannya itu. Sekaligus ia ingin agar perhatian masyarakat Arab yang setiap tahun berziarah ke Kakbah di Makkah, berganti menjadi ke gereja besar Sa’an itu.

    Lantaran harapannya tak pernah terwujud dengan berbagai cara, maka ia tak punya jalan lain selain harus menghancurkan Kakbah.

    Didorong oleh ambisi dan fanatisme agama, Abrahah mengerahkan dan memimpin sebuah pasukan besar disertai pasukan gajah-yang kala itu orang Arab masih asing sekali-menuju Makkah. Ia ingin sekali menyerang Kakbah, dan bahkan Abrahah berada paling depan dan di atas seekor gajah besar.

    Singkatnya, setelah Abrahah dan bala tentaranya masuk wilayah Hijaz dan sudah hampir dekat dengan Makkah, ia lalu mengirim pasukan berkuda sebagai kurir. Dalam perjalanan itu, mereka merampas harta kaum Quraisy, di antaranya 200 ekor unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Nabi SAW. Melihat banyaknya gerombolan Abrahah, Quraisy tak mungkin mampu melawan.

    Lalu Abrahah mengirim seorang Himyar pengikutnya untuk mendatangi Abdul Muthalib, yang kala itu merupakan pembesar di Makkah. Utusan Abrahah itu meruntuhkan Kakbah, sehingga pihak Makkah tak perlu mengadakan perlawanan.

    Mendengar itu, konon Abdul Muthalib mendatangi markas pasukan itu, diantar oleh utusan Abrahah, dengan diikuti anak-anaknya dan beberapa tokoh pemuka Makkah lain.

    Sesampainya Abdul Muthalib, Abrahah yang melihat figurnya bertubuh tegap besar dan tampan, lalu ia turun dari singgasananya untuk menyambut dengan hormat, dan duduk bersama-sama dengan tamunya itu.

    Menjawab pertanyaan Abrahah melalui penerjemahnya apa yang diperlukan Abdul Muthalib dengan kedatangannya itu, konon dijawab bahwa ia mau meminta 200 ekor yang dirampas pasukannya dikembalikan.

    Yang sebelumnya Abrahah hormat dan kagum kepada Abdul Muthalib saat melihatnya, ia menjadi tidak lagi setelah mengetahui kedatangannya yang hanya membicarakan 200 ekor unta miliknya yang dirampas anak buahnya. Bukan perihal rumah suci yang mendasari agamanya dan agama nenek moyangnya. Adapun Kedatangannya akan menghancurkan Kakbah tidak disinggung sama sekali.

    Akan tetapi, Abdul Muthalib menjawab bahwa ia pemilik unta, bukan pemilik Kakbah. Rumah suci itu milik Allah SWT, dan Dialah yang akan melindunginya. Abdul Muthalib dan beberapa pemuka Makkah lalu menawarkan sepertiga kekayaan Tihamah untuk Abrahah asal tidak mengganggu Kakbah.

    Tetapi tawaran itu ditolak. Kemudian Abdul Muthalib kembali ke Malkah setelah 200 untanya dikembalikan, dan yakin bahwa mereka tidak perlu mengadakan perlawanan, karena mereka percaya bahwa Kakbah sudah ada yang menjaganya.

    Kembalinya Abdul Muthalib di Makkah, lalu ia memerintahkan suku Quraisy keluar dari kota Makkah agar tidak menjadi korban pasukan Abrahah. Setelah keluar, kemudian mereka mereka berdoa untuk memohon perlindungan kota Makkah.

    Setelah semuanya keluar dan kota Makkah menjadi sunyi, datanglah Abrahah bersama pasukannya yang siap menghancurkan Kakbah. Setelah meruntuhkan Kakbah, ia berencana untuk kembali ke Yaman. Namun rencananya gagal.

    Harapannya sia-sia lantaran pada saat itu bala tentaranya secara tiba-tiba dihujani batu yang dibawa oleh sekelompok burung besar. Kawanan burung itu menyebarkan virus wabah sangat berbahaya dan mematikan berupa bisul dan letupan-letupan kulit, yang diduga sejenis campak ganas.

    Mereka sebelumnya tak pernah mengalami kejadian seperti itu, dan mengira wabah itu terbawa oleh angin laut. Sesudahya, tak sedikit dari pasukan Abrahah yang binasa. Dan Abrahah sendiri pun mati dalam perjalanan pulang ke Yaman.

    Riwayat lain menceritakan bahwa Abrahah ketakutan melihat wabah yang mengganas yang menyebabkan banyak anggota pasukannya mati. Kemudian ia bersegera pulang ke Yaman, tetapi nyatanya badan ia sendiri telah terkena penyakit itu. Dan tidak selang lama ia pun binaa seperti pasukannya yang lain.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Uzair yang Dicabut Nyawanya oleh Allah Selama 100 Tahun



    Jakarta

    Uzair dikisahkan adalah sebagai seseorang yang merasakan hidup dan mati dalam 100 tahun atas kuasa Allah SWT. Kisah Uzair dalam Al Quran sendiri terdapat pada surah Al Baqarah ayat 259.

    اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    Artinya: “Atau, seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh menutupi (reruntuhan) atap-atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah kehancurannya?” Lalu, Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (kembali). Dia (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Sebenarnya engkau telah tinggal selama seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, (tetapi) lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang-belulang) dan Kami akan menjadikanmu sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi manusia. Lihatlah tulang-belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging (sehingga hidup kembali).” Maka, ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Aku mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 259)


    Begitulah bagaimana Allah SWT memberikan kita contoh nyata bagaimana mukjizat-Nya yang dahsyat untuk menambah iman manusia. Selanjutnya, dikutip dari 99 Kisah Menakjubkan dalam Al-Quran karya Ridwan Abqary, lebih lanjut kisah Uzair adalah sebagai berikut.

    Kisah Uzair dalam Al Quran, Mati Hidup dalam 100 Tahun

    Pada suatu hari, Uzair bermaksud pergi ke kebun. Dia ingin sekali memetik buah-buahan yang sudah tumbuh lebat di kebunnya.

    Akhirnya, Uzair pun berangkat dengan mengendarai keledainya dan pergi menuju kebun. Di sana, dia memetik buah anggur dan buah lainnya sampai dua buah keranjang yang dibawanya penuh tanpa ruang tersisa.

    Uzair yang telah selesai memanen buah-buahan pun kemudian pulang dengan menaiki keledainya. Siang itu, rasanya matahari bersinar sangat terik.

    Matahari kala itu memancarkan sinarnya yang menyengat ke seisi alam. Keledai yang ditumpangi Uzair pun nampaknya juga terdampak dari panas itu, keledai berjalan perlahan dan tampak keletihan.

    Tanpa disadari, keledai itu ternyata membawa Uzair ke sebuah tempat yang sangat jauh dari rumah. Ketika sampai di sebuah makam atau kuburan, keledai itu tampak sangat kelelahan sehingga Uzair bermaksud beristirahat dahulu di sana.

    Ketika sedang melihat-lihat pekuburan yang sudah hancur itu, tiba-tiba Uzair teringat bahwa semua yang sudah meninggal akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali oleh Allah SWT di akhirat nanti. Setelah tubuh manusia yang sudah meninggal, hancur, dan menjadi tanah seperti ini, bagaimana cara Allah SWT menghidupkan mereka kembali?

    Pikiran itu kemudian mengusik hati Uzair. Allah SWT Maha Mengetahui. Untuk menjawab rasa penasaran Uzair, Allah SWT mengutus Malaikat ‘Izrail mencabut nyawa Uzair. Uzair pun meninggal saat itu juga di tengah pekuburan yang sangat sepi dan jauh dari mana-mana.

    Keledainya yang terikat pun tidak bisa bergerak ke mana-mana sehingga lambat laun, karena kehausan dan kelaparan keledai itu pun akhir mati.

    Keluarga Uzair yang merasa kehilangan kemudian mencoba mencari ke mana-mana. Namun, semua usaha mereka berakhir sia-sia karena Uzair tidak bisa lagi mereka temukan.

    Setelah sekian lama, mereka pun mengikhlaskan kepergian Uzair yang mungkin saja sudah meninggal di suatu tempat yang tidak pernah mereka ketahui. Setahun, dua tahun, puluhan tahun, berlalu, sampai akhirnya seratus tahun sejak Uzair meninggal, Allah SWT pun menghidupkan kembali Uzair.

    Sekarang, kuburan tempat Uzair meninggal sudah berubah menjadi sangat hancur, lebih dari 100 tahun lalu. Bahkan, keledainya yang mati pun sudah tinggal tulang belulang.

    Tubuh Uzair yang sudah hancur pun perlahan dikembalikan secara utuh seperti sediakala oleh Allah SWT. Uzair yang terbangun kembali dari kematiannya merasa bingung dengan keadaan yang dilihatnya.

    Dia tidak mengetahui yang sudah terjadi pada dirinya. Dia hanya merasa sudah tertidur di tempat itu tapi tidaklah begitu lama. Namun ketika bangun, semuanya sudah sangat berubah. Allah SWT mengutus malaikat untuk bertanya kepada Uzair.

    “Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?”

    Uzair mengerutkan keningnya. Hari sudah senja dan dia masih ingat ketika sampai di pemakaman ini hari masih siang.

    “Saya tinggal di sini sehari atau mungkin hanya setengah hari,” jawabnya.

    “Kamu sudah tinggal di sini selama seratus tahun,” kata malaikat.

    Uzair yang mendengar jawaban tersebut terlihat bingung. Mana mungkin dia tinggal di sini selama seratus tahun, sementara buah-buahan yang ada di dalam keranjangnya masih terlihat segar dan tidak busuk sama sekali.

    Namun, alangkah terkejutnya Uzair ketika melihat keledainya justru hanyalah tinggal tulang belulang.

    “Demikianlah, sesungguhnya kekuasaan Allah SWT Sekarang kamu perhatikan dengan baik, Allah SWT dapat menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dan mengembalikan jasad yang sudah hancur dengan mudahnya. Demikianlah, Allah SWT akan menghidupkan dan mengembalikan jasad manusia yang sudah meninggal di akhirat nanti dengan begitu mudahnya.” Wallahua’lam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Mulutnya Keluar Cahaya



    Jakarta

    Sahabat nabi adalah orang-orang terpilih yang memiliki beragam kisah dan tentunya dekat dengan Rasulullah SAW. Salah satu kisah yang diabadikan ini adalah sebuah kisah sahabat nabi yang mulutnya keluar cahaya.

    Kisah ini banyak dituliskan, salah satunya adalah bersumber dari buku Beli Surga dengan Al Qur’an karya Ridhoul Wahidi dan M. Syukron Maksum. Sahabat nabi yang dimaksud adalah Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah, Qatadah bin Nu’man, dan Qois bin Ashim.

    Kisah Sahabat Nabi yang Mulutnya Keluar Cahaya

    Kisah ini sejatinya diceritakan oleh Ali bin Abi Thalib RA. Ia bercerita, saat itu, Rasulullah SAW mengirim pasukan untuk menyerang suatu kaum yang memusuhi kaum muslimin.


    Ketika Rasulullah tidak mendapatkan berita perkembangan keadaan pasukannya tersebut, lalu beliau bersabda, “Andaikan ada orang yang dapat mencari kabar tentang mereka dan memberitahukannya kepada kami.”

    Beberapa saat kemudian datanglah seseorang dan mengabarkan bahwa muslim utusan beliau telah meraih kemenangan dalam penyerangan itu. Setelahnya, saat pasukan kaum muslimin pulang dari peperangan menuju Madinah, Rasulullah SAW dan para sahabat menyambut mereka di dekat Madinah.

    Sesampai dekat Madinah, pemimpin pasukan, Zaid bin Haritsah turun dari untanya dan mencium tangan Rasulullah. Rasulullah SAW kemudian merangkul dan seraya mencium kepalanya.

    Lalu, Zaid diikuti oleh Abdullah bin Rawahah dan Qois bin Ashim. Nabi Muhammad SAW merangkul mereka berdua.

    Selanjutnya, seluruh pasukan berkumpul di depan Rasulullah SAW. Mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dan beliau menjawab salam mereka. Kemudian Rasulullah SAW bersabda,

    “Ceritakanlah apa yang terjadi selama bepergian kepada saudara-saudara kalian yang berada di sini, agar Aku memberikan kesaksian dari apa-apa yang kalian ucapkan, karena Jibril telah memberitahukan kepadaku tentang kebenaran yang kalian ucapkan.”

    Salah seorang pasukan kemudian menjawab, “Ya Rasulullah, ketika kami berada di dekat pasukan lawan, kami mengutus seorang mata-mata dari pihak mereka agar memberitahukan kepada pasukan kami mengenai kondisi dan jumlah mereka. Kemudian mata-mata tersebut menemui kami dan berkata, ‘Jumlah mereka seribu orang’, sedangkan jumlah kami dua ribu orang.”

    “Namun yang seribu pasukan lawan itu hanya menunggu di luar benteng kota. Sedangkan yang tiga ribu menunggu di jantung kota. Mereka sengaja menggunakan tipu daya dengan berbohong bahwa kekuatan mereka hanya seribu tentara supaya kami berani melawan mereka dan memenangkan pertempuran.”

    Cerita itu pun berlanjut, pasukan musuh di dalam kota kemudian menutup pintu gerbangnya, pasukan muslim kemudian menanti di luar. Ketika malam telah tiba, mereka tiba-tiba membuka pintu gerbang di kala pasukan muslim lelap tidur.

    Namun, hal itu terkecuali Zaid bin Haritsah, Abdullah bin Rawahah, Qatadah bin Nu’man, dan Qois bin Ashim yang sedang sibuk mengerjakan salat malam dan membaca Al-Qur’an di empat sudut perkemahan.

    Di dalam kondisi yang gelap gulita itu, para musuh menyerang kaum muslim dan mereka menghujani mereka dengan panah hingga mereka tidak mampu menghalau karena gelapnya malam. Di tengah kekacauan tersebut, tiba-tiba kaum muslim tersebut melihat cahaya yang datangnya dari pembaca Al-Qur’an.

    Cahaya seperti api mereka saksikan keluar dari mulut Qais bin Ashim, dan keluar cahaya seperti bintang kejora keluar dari mulut Qatadah bin Nu’man. Lalu, dari mulut Abdullah bin Rawahah keluar sinar seperti cahaya rembulan dan keluar sinar seperti cahaya Matahari dari mulut zaid bin Haritsah.

    Keempat cahaya itulah yang menerangi muslim dan membuat gelapnya malam berubah seperti hari masih siang. Akan tetapi musuh kaum muslim tetap melihat seakan masih dalam keadaan kegelapan.

    Sang panglima perang, Zaid bin Haritsah, kemudian memimpin pasukan muslim memasuki daerah lawan. Pasukan muslim dapat mengepung, membunuh sebagian mereka dan menawan mereka. Selanjutnya mereka mampu memasuki jantung kota dan mengumpulkan ghanimah perang.

    “Wahai Rasulullah, yang membuat kami sangat heran adalah cahaya yang keluar dari keempat sahabat tersebut, dan kami tidak melihatnya sebelumnya. Cahaya dari mulut mereka itu mampu menerangi kami sehingga kami menang dan menebarkan kegelapan bagi musuh-musuh.” terang salah satu pasukan itu.

    Begitulah kisah sahabat nabi yang mulutnya keluar cahaya yang diduga karena keempat sahabat tersebut adalah pembaca Al-Qur’an yang taat beribadah kepada Allah SWT. Wallahua’lam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Fatimah az-Zahra dan Batu Penggiling Gandum yang Berputar Sendiri



    Jakarta

    Allah SWT berkehendak atas segala sesuatu. Termasuk pada batu penggiling gandum milik Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW, yang bisa berputar sendiri untuk menggiling gandum.

    Fatimah Az-Zahra merupakan putri kesayangan Rasulullah SAW, namun tak sedikitpun ia dimanjakan dalam hidupnya. Setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, berdua saja dengan sang suami.

    Salah satu pekerjaannya adalah menggiling gandum dengan batu yang cukup berat. Pekerjaan ini kadang kala membuat Fatimah kelelahan.


    Dikisahkan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW oleh Fuad Abdurahman yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW berkunjung ke rumah Fatimah Az-Zahra dan melihat sang putri tengah menggiling gandum sambil menangis.

    Batu Penggiling Gandum yang Berputar Sendiri

    Melihat sang putri kesayangan menangis, Rasulullah heran dan bertanya, “Putriku, mengapa engkau menangis?”

    Fatimah kemudian menjawab, “Duhai Ayah, aku menangis karena batu penggilingan ini, dan juga karena beratnya pekerjaan rumah,” ujar Fatimah, “Bagaimana jika Ayah meminta kepada Ali untuk memberikanku seorang budak perempuan untuk membantu pekerjaan rumah?”

    Rasulullah SAW yang sedari tadi duduk di dekat Fatimah berjalan mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil setangkup gandum dengan tangannya yang penuh berkah, lalu meletakkan gandum itu kembali di penggilingan, seraya membaca Bismillahi rrahmani rrahim. Dengan izin Allah, penggilingan itu berputar sendiri menggiling gandum.

    Bahkan, batu itu bertasbih kepada Allah SWT dengan bahasa yang berbeda-beda.

    Ketika dirasa sudah selesai menggiling, Rasulullah SAW berkata kepada batu itu, “Diamlah engkau, dengan izin Allah!”

    Seketika itu juga batu penggilingan itu tak bergerak. Namun, tak lama kemudian, batu itu berbicara menuliskan dengan bahasa Arab, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan benar sebagai nabi dan rasul, sekiranya engkau memerintahkanku untuk menggiling gandum yang ada di Timur dan Barat, niscaya akan kulakukan.”

    Batu itu juga membacakan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat At- Tahrim ayat 6,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

    “Sungguh aku sangat takut, wahai Rasulullah, aku takut menjadi batu yang masuk neraka,” sambung batu tersebut.

    Rasulullah SAW menjawab, “Bergembiralah, karena kau termasuk batu yang akan menjadi bagian istana Fatimah kelak di surga.”

    Batu itu merasa gembira mendengarnya dan akhirnya ia diam.

    Rasulullah SAW Menghibur Hati Fatimah Az-Zahra

    Meskipun batu tersebut bisa saja membantu Fatimah Az-Zahra menggiling gandum, Rasulullah SAW tidak mengizinkannya. Beliau justru menghibur hati sang putri.

    Rasulullah SAW berkata kepada putrinya, “Wahai Fatimah, sekiranya Allah berkehendak, niscaya batu ini akan berputar sendiri untukmu. Tetapi, Allah ingin menuliskan kebaikan bagimu, menghapus kejelekanmu, dan mengangkat derajatmu, karena kau menggiling gandum dengan tanganmu sendiri. Putriku, siapa pun wanita yang memasak untuk suami dan anak-anaknya, Allah akan menuliskan baginya dari setiap biji yang dimasaknya satu kebaikan dan menghapus darinya satu keburukan serta mengangkat baginya satu derajat.”

    Wallahu alam.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ibu Nabi Musa saat Menghanyutkan Bayinya di Sungai Nil



    Jakarta

    Nabi Musa AS adalah salah satu nabi ulul azmi atau yang memiliki mukjizat dari kehendak Allah SWT. Namun, terdapat kisah unik ibu Nabi Musa saat menghanyutkan bayinya atau Nabi Musa ketika masih bayi.

    Kisah ibu Nabi Musa menghanyutkan bayinya itu sendiri termaktub dalam Surah Thaha ayat 39,

    أَنِ ٱقْذِفِيهِ فِى ٱلتَّابُوتِ فَٱقْذِفِيهِ فِى ٱلْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ ٱلْيَمُّ بِٱلسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِّى وَعَدُوٌّ لَّهُۥ ۚ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِّنِّى وَلِتُصْنَعَ عَلَىٰ عَيْنِىٓ


    Arab Latin: Aniqżi fīhi fit-tābụti faqżi fīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāḥili ya`khuż-hu ‘aduwwul lī wa ‘aduwwul lah, wa alqaitu ‘alaika maḥabbatam minnī, wa lituṣna’a ‘alā ‘ainī

    Artinya: “Letakkanlah ia (Nabi Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Firaun) musuh-Ku dan musuhnya. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku,”

    Dikutip dari Tafsir Kementerian Agama (Kemenag) RI, perintah untuk menaruh Nabi Musa di dalam peti yang rapi dan kuat dilaksanakan oleh ibu Nabi Musa. Dengan kuasa Allah, peti tersebut justru ditemukan istri Firaun.

    Lebih jelas, cerita lengkap ini juga banyak diturunkan dan dikisahkan oleh berbagai sumber, salah satunya dalam buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri.

    Kisah Ibu Nabi Musa saat Menghanyutkan Bayi

    Kisah ini diawali dengan latar belakang bahwa Firaun pada masa itu sangat berkuasa bahkan dianggap sebagai Tuhan. Namun, pada suatu hari terdapat ramalan bahwa akan datang saat di mana ada bayi laki-laki dari Bani Israil yang kelak akan menjadi musuh Firaun sekaligus mengalahkannya.

    Seketika setelah mendengar ramalan yang sangat ia percaya itu, kemudian ia mengeluarkan perintah untuk membunuh semua bayi laki-laki pada tahun-tahun dimana ramalan itu akan terjadi. Semua aparat dan pasukan dari Firaun menggeledah dan memastikan bahwa tidak ada bayi laki-laki yang terlewat untuk dibunuh.

    Namun, karena kehendak Allah SWT yang Maha Besar, tidak ada kemauan-Nya yang dapat ditahan atau ditolak oleh makhluknya, tidak terlepas juga firaun. Ibu Musa yang saat itu melahirkan bayinya, ia berhasil memohon dan meluluhkan hati bidan yang membantu persalinannya untuk tidak melapor kepada Firaun dan pasukannya.

    Selama beberapa waktu, ibu Musa menyusui bayinya seperti biasa. Akan tetapi, perasaan tidak nyaman dan selalu gelisah pasti menghantui dirinya.

    Allah SWT kemudian memberi ilham kepadanya agar menyembunyikan bayinya dalam sebuah peti, kemudian menghanyutkan peti yang berisi bayinya itu di Sungai Nil. Allah memberikan petunjuk bahwa ibu Musa tidak boleh bersedih dan cemas atas keselamatan bayinya lantaran Allah menjamin akan mengembalikan bayi itu kepadanya bahkan akan mengutusnya sebagai salah seorang rasul.

    Akhirnya ibu Nabi Musa pun mantap untuk melakukan apa yang telah diperintahkan kepadanya melalui ilham dari Allah SWT. Kemudian, kakak Nabi Musa diperintahkan oleh ibunya untuk mengawasi dan mengikuti peti tersebut untuk mengetahui dimana peti itu bersandar dan siapa yang mengambilnya.

    Ternyata yang mengambil peti bayi Musa itu adalah istri dari Firaun sendiri yaitu Asiyah binti Muzahim. Asiyah yang dengan senang hati mengambil peti itu kemudian memberitakan kepada firaun mengenai bayi laki-laki tersebut kepadanya.

    Firaun yang mendengar kabar tersebut kemudian berkata kepada istrinya, “Aku khawatir bahwa inilah bayi yang diramalkan, yang akan menjadi musuh dan penyebab kesedihan kami dan akan membinasakan kerajaan kami yang besar ini.”

    Kemudian istrinya menjawab, “Janganlah bayi yang tidak berdosa ini dibunuh. Aku sayang kepadanya dan lebih baik kami ambil ia sebagai anak, kalau-kalau kelak ia akan berguna dan bermanfaat bagi kita. Hatiku sangat tertarik kepadanya dan ia akan menjadi kesayanganku dan kesayanganmu.”

    Demikianlah, Allah Yang Mahakuasa menghendaki sesuatu maka jalan bagi terlaksananya takdir itu akan dimudahkan. Allah SWT telah menakdirkan bahwa nyawa bayi tersebut akan selamat dan Musa akan diasuh oleh keluarga Firaun.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Wirid Fatimah az-Zahra, Hadiah dari Rasulullah SAW saat Putrinya Mengeluh Lelah



    Jakarta

    Kecintaan Nabi Muhammad SAW terhadap putrinya tidak lantas membuat Beliau memanjakan secara berlebihan. Fatimah Az-Zahra diajari membaca wirid oleh Nabi Muhammad SAW ketika ia mengeluh lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

    Fatimah az-Zahra Radhiyallahu Anha, putri tercinta Nabi Muhammad SAW menikah dengan Ali bin Abi Thalib yang juga merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Ketika menikah, keduanya hidup serba sederhana.

    Dikutip dari buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW oleh Fuad Abdurahman dikisahkan bahwa ketika menikah, perlengkapan rumah tangga yang dimiliki Fatimah dan Ali hanyalah dua buah batu penumbuk gandum, dua buah tempat air dari kulit kambing, bantal yang terbuat dari ijuk pohon kurma, dan sedikit minyak wangi.


    Mereka juga tidak punya pembantu atau pelayan. Fatimah bekerja seorang diri, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah hingga kedua tangannya kasar dan melepuh.

    Sang suami, Ali ra seringkali membantu pekerjaan istrinya di rumah. Namun tetap saja pekerjaan ini terasa berat.

    Fatimah Meminta Pembantu pada Nabi Muhammad SAW

    Suatu ketika Rasulullah SAW pulang dari salah satu peperangan dengan membawa tawanan dan harta rampasan perang dalam jumlah cukup banyak. Ali ra kemudian menyarankan kepada istrinya untuk meminta seorang pembantu kepada beliau agar bisa meringankan pekerjaan rumah tangganya. Fatimah pun menyetujuinya.

    Putri Rasulullah SAW itu pergi menemui ayahnya. Tiba di hadapan sang ayah, Fatimah ditanya, “Apa keperluanmu, Putriku?”

    Fatimah terdiam. la tidak kuasa mengatakan maksud kedatangannya.

    la hanya berkata, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Aku ke sini hanya untuk menyampaikan salam kepadamu.”

    Kemudian Fatimah beranjak pulang ke rumahnya. Saat tiba di rumah, sang suami telah menunggunya dan bertanya, “Bagaimana hasilnya, wahai Istriku?”

    “Aku tak kuasa mengatakannya kepada Rasulullah. Aku merasa malu meminta seorang pembantu kepadanya,” Fatimah menjawab pelan.

    “Bagaimana kalau kita berdua mendatangi Rasulullah?” saran Ali.

    Fatimah ra. menganggukkan kepala, kemudian mereka pergi menghadap Rasulullah SAW untuk menyampaikan keinginan mereka. Namun, tanggapan Rasulullah SAW sungguh di luar perkiraan mereka.

    Beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memberi kalian, sementara banyak fakir miskin kaum Muslim dengan usus berbelit-belit karena kelaparan.”

    Rasulullah SAW Mengajari Wirid pada Fatimah az-Zahra

    Malam hari itu, Rasulullah SAW mendatangi Fatimah dan Ali. Keduanya sudah berbaring di tempat tidur dan bersiap untuk istirahat.

    Mereka bangkit menyambut kedatangan ayahanda yang mulia. Namun, beliau berujar lembut, “Tetaplah di tempat kalian!”

    Rasulullah SAW kemudian bersabda,

    أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا أَنْ تُكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَهْوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

    Artinya: “Maukah kalian berdua aku ajarkan sesuatu yg lebih baik daripada apa yg kalian minta? Apabila kalian berbaring hendak tidur, maka bacalah takbir tiga puluh empat kali, tasbih tiga puluh tiga kali, dan tahmid tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu”. (HR. Muslim)

    “Sejak malam itu,” Ali menuturkan, “Aku tidak pernah meninggalkan wiridan yang diajarkan Rasulullah.

    Amalan ini juga dapat diamalkan oleh seluruh umat muslim. Wirid ini bisa menjadi obat kala lelah bekerja, sesungguhnya Allah SWT meridhoi orang-orang yang bekerja dalam mencari rezeki halal.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com