Tag: hikmah

  • 10 Mukjizat Nabi Daud, Mampu Lunakkan Besi



    Jakarta

    Umat Islam wajib mengetahui 25 para nabi dan rasul. Salah satu dari 25 para nabi dan rasul tersebut adalah Nabi Daud AS.

    Selain kisahnya dalam menyebarkan ajaran Islam, Nabi Daud AS memiliki beberapa mukjizat. Allah SWT memberikan mukjizat kepada Nabi Daud AS dalam menyebarkan ajaran Islam.

    Beberapa kisah tentang Nabi Daud AS termaktub dalam ayat Al-Qur’an, demikian juga dengan mukjizat yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Daud AS.


    Mukjizat Nabi Daud AS

    Dirangkum dari buku Dua Puluh Lima Nabi Banyak Bermukjizat Sejak Adam AS Hingga Muhammad SAW oleh Usman bin Affan bin Abul AS bin Umayyah bin Abdu Syams:

    1. Berhasil Mengalahkan Raja Jalut

    Nabi Daud AS menjadi raja setelah terbunuhnya raja kafir yang bernama Jalut. Kemudian, pasukan Thalut yang sedikit berhasil mengalahkan pasukan Jalut.

    Kisah kemenangan Nabi Daud AS tersebut termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 251,

    فَهَزَمُوْهُمْ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَقَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوْتَ وَاٰتٰىهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهٗ مِمَّا يَشَاۤءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْاَرْضُ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ٢٥١

    Artinya: “Mereka (tentara Talut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan Daud membunuh Jalut. Kemudian, Allah menganugerahinya (Daud) kerajaan dan hikmah (kenabian); Dia (juga) mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Akan tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.”

    2. Karunia Hikmah Ilmu dan Kenabian

    Allah SWT memberikan hikmah dan ilmu pengetahuan kepada Nabi Daud AS. Hikmah dan ilmu pengetahuan tersebut termaktub dalam surah Shaad ayat 17-20

    اِصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوٗدَ ذَا الْاَيْدِۚ اِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ١٧ اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهٗ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِشْرَاقِۙ ١٨ وَالطَّيْرَمَحْشُوْرَةً ۗ كُلٌّ لَّهٗٓ اَوَّابٌ ١٩ وَشَدَدْنَا مُلْكَهٗ وَاٰتَيْنٰهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ ٢٠

    Artinya: “Bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan ingatlah akan hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia adalah orang yang selalu kembali (kepada Allah). Sesungguhnya Kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi. (Kami menundukkan pula) burung-burung dalam keadaan berkumpul. Masing-masing sangat patuh kepadanya (Daud). Kami menguatkan kerajaannya serta menganugerahkan hikmah (kenabian) kepadanya dan kemampuan dalam menyelesaikan perkara.”

    3. Orang Pertama yang Mengerjakan Puasa Sunnah Daud

    Nabi Daud AS adalah seorang hamba yang sangat tulus dan selalu bersyukur. Beliau senantiasa berpuasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya. Nabi Daud AS selalu bangun di tengah malam, tidur sepertiga malam dan berjalan seperenamnya.

    Meskipun diberikan kerajaan, Nabi Daud AS tetap bekerja keras dan hanya memakan hasil jerih payahnya sendiri. Bahkan, di kehidupannya yang sederhana terlihat dari syari’atnya, puasa Nabi Daud AS yaitu berpuasa setiap dua hari sekali. Hingga saat ini, puasa sunnah daud masih dilakukan umat Islam.

    4. Karunia Kitab Zabur

    Allah SWT menganugerahkan Nabi Daud AS kitab suci Zabur (Mazmur). Tujuannya adalah sebagai bekal untuk mengajarkan kepada kaumnya agar menyembah Allah SWT dan mengerjakan ibadah puasa.

    Selain berisi pelajaran dan peringatan, Kitab Zabur juga berisi nyanyian puji-pujian kepada Tuhan. Nyanyian ini sering juga disebut dengan Mazmur.

    Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud AS pada malam ke-13 Ramadhan setelah 500 tahun dari turunnya Taurat.

    5. Karunia Kerajaan Besar

    Allah SWT memberikan Nabi Daud AS sebuah kerajaan yang besar. Dengan kerajaan tersebut, Allah SWT memerintahkan Nabi Daud AS untuk melaksanakan pemerintahan dengan adil.

    Nabi Daud AS menjadi raja pengganti Thalut. Nabi Daud AS diberikan kesempatan untuk menjadi raja yang memimpin kerajaan kuat yang tidak dapat dikalahkan musuh dan selalu mendapat kemenangan.

    6. Gunung dan Burung Bertasbih Bersama Nabi Daud AS

    Allah SWT memberikan mukjizat kepada Nabi Daud AS dengan menundukkan gunung dan membuat burung bertasbih bersamanya setiap pagi dan senja. Nabi Daud AS diberi peringatan tentang maksud suara atau bahasa burung-burung.

    Nabi Daud AS memiliki suara yang sangat merdu dan tidak ada bandingannya. Jika Nabi Daud AS sedang membacakan Kitab Zabur, maka suaranya yang merdu dan lembut jika didengar oleh orang yang sakit, maka ia akan sembuh.

    7. Melunakkan Besi Seperti Lilin

    Nabi Daud AS dapat melunakkan besi menjadi lunak seperti lilin, sehingga ia dapat merubah besi itu tanpa memerlukan api atau peralatan apapun. Dari besi itu, Ia dapat membuat baju besi yang kokoh.

    8. Kisah Nabi Daud Dengan Ulat

    Dalam kitab Imam Al-Ghazali menceritakan, Nabi Daud AS sedang membaca Kitab Zabur dan datanglah seekor ulat merah.

    Lalu Nabi Daud AS berkata pada dirinya “Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?”. Atas izin Allah SWT, ulat tersebut berkata, “Wahai Nabi Allah ! Allah SWT telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allahumma sholli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa shohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali’.”

    Hingga pada akhirnya, Nabi Daud AS menyadari kesalahannya karena memandang remeh ulat tersebut. Nabi Daud AS yang takut kepada Allah SWT tersebut kemudian bertobat dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.

    10. Membangun Baitul Maqdis

    Pada suatu hari, penyakit kolera di kerajaan Nabi Daud menyebar dan mengakibatkan banyak rakyatnya mati. Kemudian Nabi Daud AS berdoa kepada Allah SWT agar wabah tersebut hilang.

    Atas izin Allah SWT, wabah tersebut hilang. Untuk menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah SWT, Nabi Daud AS bersama sang putra, Nabi Sulaiman AS membangun tempat suci yang bernama Baitul Maqdis yang kini dikenal sebagai Masjidil Aqsa di Palestina.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Kain Kafan Abu Bakar Ash Shiddiq, Baju Putih yang Sudah Lusuh



    Jakarta

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang pertama kali masuk Islam. Beliau sangat berjasa dalam memperjuangkan Islam.

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA memiliki beberapa kisah yang sangat penting dan menarik untuk umat Islam. Salah satunya yaitu kisah kain kafan Abu Bakar Ash Shiddiq.

    Kain kafan yang dipakai oleh Khalifah pertama ini tidak hanya sebuah kisah biasa, melainkan mengandung makna dan pelajaran untuk umat Islam.


    Kisah Kain Kafan Abu Bakar Ash Shiddiq

    Dirangkum dari buku Tarikh Khulafa oleh Ibrahim al-Quraibi, dalam Shahih al-Bukhari, dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah RA yang menuturan bahwa ia masuk ke kamar Abu Bakar RA saat ajalnya sudah dekat.

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA bertanya, “Dalam berapa kafan kalian mengafani Nabi SAW?”

    “Tiga baju berwarna putih yang dipintal, tanpa gamis dan selendang,” jawab Aisyah.

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA kembali bertanya, “Pada hari apa Rasulullah SAW meninggal dunia?”

    “Hari Senin.”

    “Hari apakah ini?” tanya Abu Bakar RA lagi.

    Aisyah menjawab, “Hari Senin.”

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA berkata, “Aku berharap diriku wafat sebelum malam.”

    Kemudian, beliau melihat baju yang ia kenakan saat sakit itu. Ia melihatnya beroleskan minyak Ja’faran.

    Lantas, Abu Bakar Ash Shiddiq RA berkata, “Cucilah bajuku ini dan tambahlah dua baju lagi. Kafani aku dengan kedua baju itu.”

    Aisyah mengatakan, “Baju ini sudah usang.”

    Abu Bakar Ash Shiddiq menukasnya, “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai baju baru daripada orang yang sudah mati. Itu hanyalah bekas muntah.”

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA meninggal dunia pada sore menjelang malam Selasa dan dimakamkan sebelum Subuh. (HR Bukhari).

    Ibnu Hajar menyatakan bahwa terdapat beberapa hikmah yang terkandung dalam hadits ini. Di antaranya yaitu dianjurkannya mengafani dengan menggunakan baju putih, menggunakan kafan tiga lapis, kebolehan mengafani dengan menggunakan baju yang dicuci, lebih mengutamakan orang hidup untuk memakai baju baru, menguburkan mayat di malam hari, keutamaan Abu Bakar RA dan kebenaran firasatnya, serta ketenangannya saat meninggal dunia.

    Meninggalnya Abu Bakar Ash Shiddiq

    Dirangkum dari sumber sebelumnya, Abu Bakar Ash Shiddiq RA menderita sakit panas selama 15 hari. Sakit tersebut diderita oleh Abu Bakar RA sejak hari ketujuh bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.

    Selasa sore, delapan hari sebelum berakhirnya bulan Jumadil Akhir, Abu Bakar Ash Shiddiq menemui ajalnya. Beliau mengucapkan kalimat terakhir menjelang wafatnya, seperti yang termaktub dalam potongan surah Yusuf ayat 101,

    … تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ١٠١

    Artinya: “…Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”

    Setelah dimandikan, jenazah Abu Bakar Ash Shiddiqh dikafani pada dua bajunya, sesuai dengan wasiatnya. Kemudian disalati dengan Umar bin Khathab RA sebagai pemimpinnya.

    Abu Bakar Ash Shiddiq RA dimakamkan di malam hari di kamar Aisyah. Kepalanya ditempatkan di kedua pundak Rasulullah SAW.

    Menurut Ibnu Hajar, Abu Bakar Ash Shiddiq RA meninggal karena penyakit paru-paru. Namun pendapat lain menyebutkan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq RA mandi saat musim dingin, kemudian beliau sakit panas selama 15 hari.

    Sedangkan dalam pendapat shahih dikatakan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq RA diracun oleh orang Yahudi. Beliau wafat seperti umur Rasulullah SAW, yaitu dalam umur 63 tahun.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Ditiupkannya Ruh pada Tubuh Nabi Adam AS



    Jakarta

    Nabi Adam AS adalah nabi dan rasul yang namanya disebutkan dalam Al-Qur’an. Dirinya juga dikenal sebagai manusia yang pertama kali Allah SWT ciptakan.

    Merujuk pada sebuah hadits shahih Muslim, Adam AS diciptakan pada hari Jumat. Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:

    “Sebaik-baik hari yang padanya matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan. Pada hari itu juga beliau dimasukkan ke surga dan pada hari itu pula beliau dikeluarkan dari surga.” (HR Muslim)


    Dijelaskan dalam buku Mukjizat Hadits Nabi yang ditulis Dana Nur, 60 hasta bila dikonversi ke dalam ukuran meter kurang lebih mencapai 27,4320 meter yang kemudian dibulatkan menjadi 30 meter.

    Dalam sebuah riwayat dikatakan,

    “Tingginya tubuh Adam adalah 60 hasta dengan lebar 7 hasta,” (HR Ahmad)

    Ibnu Katsir melalui karyanya yang berjudul Kisah Para Nabi menyebut bahwa Adam AS diciptakan langsung dari tangan Allah SWT. Hal ini dimaksudkan agar iblis tidak sombong kepada Nabi Adam AS.

    Adam AS diciptakan dengan tanah yang diambil dari hamparan bumi dengan warna beragam, yaitu putih, merah, dan hitam. Karenanya, kita di dunia dilahirkan dalam keadaan dan warna kulit yang beragam.

    Allah SWT berfirman dalam surah Shad ayat 71,

    إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى خَٰلِقٌۢ بَشَرًا مِّن طِينٍ

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”

    Kemudian, saat Allah SWT meniupkan ruh Adam AS ke dalam tubuhnya, Dia menceritakannya pada surah Shad ayat 72.

    فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ

    Artinya: “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

    Lalu, ketika ruh Nabi Adam AS masuk dari kepala, ia bersin. Mendengar itu, malaikat mengucapkan alhamdulillah yang artinya segala puji bagi Allah sebagaimana dikatakan dalam hadits yang berbunyi:

    “Setelah Allah meniupkan ruh ke dalam jasad Adam hingga ketika ruh itu sampai di kepalanya, Adam pun bersin dan mengucapkan: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam), Allah Tabaraka wa Ta’ala menjawab: ‘Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu)” (HR Ibnu Hibban)

    Saat tiba waktunya ruh Adam AS masuk ke mata, sang nabi melihat buah-buahan yang terdapat di surga. Sebelum ruh Nabi Adam AS tiba di kakinya, ia sudah loncat lebih dulu karena ingin mendekati buah-buahan tersebut. Karenanya, pada surah Al Anbiya ayat 37 Allah SWT menjelaskan sifat manusia yang tergesa-gesa.

    خُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُو۟رِيكُمْ ءَايَٰتِى فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

    Artinya: “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

    Wallahu a’lam bishawab

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Istri Nabi Ayub yang Menjual Rambutnya agar Bisa Beli Makanan



    Jakarta

    Nabi Ayub AS memiliki seorang istri yang setia dan sabar. Sang istri tetap mendampingi Nabi Ayub AS saat dilanda kemiskinan dan didera penyakit.

    Banyak kisah yang menceritakan Nabi Ayub AS dan istrinya. Pasangan ini tetap berdampingan dalam segala kondisi, termasuk ketika Allah SWT memberi ujian berupa kemiskinan dan sakit parah.

    Dalam buku Kisah Orang-orang Sabar karya Nasiruddin S. Ag., MM dikisahkan bahwa Nabi Ayub awalnya dikaruniai harta berlimpah, namun kemudian Allah SWT mengambil seluruh hartanya lagi.


    Nabi Ayub AS yang asalnya mempunyai banyak putra, satu per satu dicabut nyawanya hingga tak ada sisa. Nabi Ayub AS yang tadinya gagah dan sehat, kemudian ditimpa penyakit yang tak ada obatnya.

    Penyakit langka ini membuat badannya membusuk dan mengeluarkan bau tak sedap. Istri-istrinya, satu per satu meninggalkannya, namun hanya satu yang setia.

    Dalam buku Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir, istri Nabi Ayyub disebutkan ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa nama istri Nabi Ayyub adalah Rahmah binti Afratsim. Selain itu ada juga yang mengemukakan nama istrinya yakni Liya binti Yusuf binti Ya’qub.

    Istrinya ini adalah yang justru paling cantik di antara semua istri Nabi Ayub AS.

    Nabi Ayub AS merupakan sosok yang penyabar. Ia dengan lapang dada menerima ujian dari Allah SWT meskipun seluruh masyarakat mengasingkannya. Kesabaran Nabi Ayub AS juga dimiliki sang istri.

    Dalam keterpurukannya, Nabi Ayub tetap ingat dan patuh kepada Allah. la selalu rajin bermunajat, bukan berdoa untuk kesembuhan, tapi berdoa agar diberi ketabahan menerima segala ujian.

    Suatu hari Nabi Ayub AS dan istrinya tak memiliki sesuatu apa pun untuk mengisi perutnya. Nabi Ayub AS dan istri setianya kelaparan.

    Sang istri kemudian pergi ke pasar. Bukan untuk menjual atau membeli sesuatu, karena memang tak punya apa-apa yang dapat dijual. Tidak juga memiliki uang untuk membeli bahan kebutuhan.

    Istri Nabi Ayub AS justru menjual rambutnya yang panjang hanya untuk membeli makanan bagi suami tercinta. Pada zaman itu, masyarakat memang terbiasa memakai rambut palsu atau rambut penyambung.

    Ketika si istri pulang dengan membawa makanan, Nabi Ayub AS bukannya gembira dengan apa yang dilakukan istrinya, ia malah marah karena istrinya telah menyalahi hukum Allah SWT dengan menjual rambutnya hanya demi makanan.

    Nabi Ayub bersumpah, bila Allah SWT memberi kesembuhan ia akan menghukum istrinya, mencambuk seratus kali.

    Akhirnya Nabi Ayub memanjatkan doa agar diberi kesembuhan. Singkat kata, Allah SWT pun akhirnya memberi kesembuhan.

    Setelah mendapatkan kesembuhan, Nabi Ayub AS hendak melaksanakan sumpahnya untuk menghukum sang istri. Tapi mengingat kesetiaan dan kesalehan perempuan ini, Allah SWT yang Maha Penyayang mengajari Nabi Ayub AS bagaimana melaksanakan sumpah, memukul istri 100 kali tapi tak menyakiti.

    Caranya yakni menggabungkan 100 lidi yang diikat jadi satu menjadi sapu, lantas dipukulkan sekali dengan keras. Dengan demikian, berarti Nabi Ayub AS telah memukul 100 kali sekaligus.

    Inilah kesabaran yang dicontohkan oleh Nabi Allah. Semua cobaan yang dilaluinya tidak sedikit pun menggoyahkan keimanan dan kesabarannya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ishaq AS, Sosok yang Saleh dan Lemah Lembut



    Jakarta

    Nabi Ishaq adalah salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dalam Islam. Ia adalah keturunan dari Nabi Ibrahim AS dan istrinya yang bernama Siti Sarah.

    Kelahiran Ishaq AS sangat dinantikan oleh keduanya. Saat itu, Nabi Ibrahim AS dan istrinya diberi kabar gembira dari Allah SWT melalui Jibril, Mikail dan Israfil yang berkunjung ke rumahnya, seperti dikisahkan dalam buku Kisah Para Nabi & Sahabat RA Vol 3 oleh Dr A A Ahmed.

    Isi dari pesan tersebut ialah Siti Sarah akan melahirkan anak laki-laki yang bernama Ishaq. Nantinya, anak tersebut akan menjadi seorang nabi.


    Allah SWT berfirman dalam surah Hud ayat 69,

    وَلَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُنَآ إِبْرَٰهِيمَ بِٱلْبُشْرَىٰ قَالُوا۟ سَلَٰمًا ۖ قَالَ سَلَٰمٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَن جَآءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

    Artinya: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat”. Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.”

    Menukil buku Kisah Bapak dan Anak dalam Al-Qur’an oleh Adil Musthafa Abdul Halim, Nabi Ibrahim AS sempat tidak percaya dan berkata,

    “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku, padahal usiaku telah lanjut, dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini.” (QS Al Hijr : 54)

    Para malaikat kemudian menjawab, “Wahai Ibrahim, ini adalah perkara dan kehendak Allah. Dan kabar yang kami bawa ini adalah sesuatu yang pasti. Sesungguhnya Allah SWT menganugerahkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi orang alim yang bernama Ishaq, saudaranya Ismail.”

    Atas jawaban malaikat tersebut, Nabi Ibrahim mengatakan, “Oh seandainya sekarang ini Ismail ada di hadapanku, pasti aku kabarkan dia tentang kelahiran saudaranya.”

    Semasa hidupnya, Ishaq AS terkenal memiliki akhlak yang mulia. Ia gemar membantu orang-orang miskin di sekitarnya.

    Semakin hari, Nabi Ishaq AS tumbuh menjadi pria yang jujur dan bertanggung jawab. Bahkan ketika dewasa, ia ikut membantu Nabi Ibrahim AS berdagang dan berdakwah di daerah Syam.

    Ishaq AS lalu melanjutkan hidup dengan menikahi wanita bernama Rifqah. Pada 10 tahun usia pernikahan, Ishaq AS dan istri dikaruniai dua anak yaitu Aishu dan Yakub yang nantinya menjadi nabi pula.

    Nabi Ishaq AS merupakan nabi sekaligus pemimpin yang saleh bagi kaumnya yaitu kaum Kan’an. Nabi Ishaq As berdakwah dengan caranya yang lemah lembut, serta beliau pandai memikat hati orang, ramah dan tamah, sehingga ajaran agama Islam yang disampaikan dapat dirasakan manfaatnya.

    Dikutip dari buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul susunan Alifa Syah, salah satu mukjizat yang diberikan pada Ishaq AS ialah memiliki dua orang anak kembar dari sang istri yang berusia tua dan mandul. Hal ini tertuang dalam surah Al Anbiya ayat 72,

    وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ إِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً ۖ وَكُلًّا جَعَلْنَا صَٰلِحِينَ

    Artinya: “Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh.”

    Selain itu, beliau juga dianugerahi kekuatan yang besar dalam ilmu dan akhlak yang tinggi oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Ishaq AS disebut sebagai seorang anak yang arif dan bijaksana.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengenal Zaid bin Haritsah, Anak Angkat Rasulullah SAW


    Jakarta

    Salah satu panglima perang Islam di zaman Rasulullah SAW adalah Zaid bin Haritsah. Ia memiliki sejumlah keistimewaan dibandingkan sahabat-sahabat lainnya.

    Bahkan, panglima yang mati syahid di peperangan Mu’tah ini menjadi tameng bagi Rasulullah SAW saat Perang Uhud. Tidak ada satu senjata pun yang dapat menembus tubuh Rasulullah SAW sebelum menyentuh tubuh Zaid.

    Dia satu-satunya sahabat Rasulullah SAW yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an di surat Al-Ahzab ayat 37:


    وَاِذْ تَقُوْلُ لِلَّذِيْٓ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَاَنْعَمْتَ عَلَيْهِ اَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللّٰهَ وَتُخْفِيْ فِيْ نَفْسِكَ مَا اللّٰهُ مُبْدِيْهِ وَتَخْشَى النَّاسَۚ وَاللّٰهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشٰىهُ ۗ فَلَمَّا قَضٰى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًاۗ زَوَّجْنٰكَهَا لِكَيْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ حَرَجٌ فِيْٓ اَزْوَاجِ اَدْعِيَاۤىِٕهِمْ اِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًاۗ وَكَانَ اَمْرُ اللّٰهِ مَفْعُوْلًا

    Artinya: Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah SWT dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah SWT, dan engkau takut kepada manusia. Padahal Allah SWT lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.

    Seperti apakah kisah hidup Zaid bin Haritsah? Untuk itu, dalam artikel ini akan disajikan sejarah hidup dari Zaid bin Haritsah.

    Mengenal Lebih Dekat Zaid bin Haritsah

    Merangkum buku Para Panglima Perang Islam oleh Rizem Aizid, Zaid bin Haritsah memiliki ibu bernama Su’da binti Tsalabah dan ayahnya adalah Haritsah. Mereka bukan berasal dari keluarga bangsawan, melainkan hanya rakyat jelata.

    Asal Zaid bin Haritsah adalah Bani Kalb yang tinggal di bagian utara Jazirah Arab. Pada masa kecilnya ia ditangkap sekelompok penjahat dan dijual sebagai budak.

    Kemudian ia dibeli oleh keponakan dari Khadijah, Hukaim bin Hisyam. Karena memiliki sifat yang baik, oleh Khadijah diberikan kepada Rasulullah SAW yang kemudian memerdekakan Zaid bin Haritsah.

    Zaid bin Haritsah termasuk salah satu sahabat yang paling awal memeluk agama Islam dari golongan hamba sahaya. Hal ini dikarenakan, sejak kecil Zaid bin Haritsah telah diangkat menjadi anak asuh kesayangan Rasulullah SAW dari kalangan budak beliau.

    Saking dekatnya Zaid bin Haritsah dengan Rasulullah SAW, ia pun menjadi satu-satunya orang yang dipercaya oleh Rasulullah SAW untuk memegang rahasia beliau. Karena itu, Zaid bin Haritsah dijuluki sebagai Sang Pemegang Rahasia Rasulullah SAW.

    Zaid bin Haritsah tumbuh menjadi seorang prajurit pemberani, ia juga panglima yang tangguh dalam banyak peperangan Islam. Sebagi seorang prajurit yang pemberani, Zaid bin Haritsah memiliki jasa yang sangat besar, salah satunya menjadi tameng bagi Rasulullah SAW saat Perang Uhud.

    Zaid bin Haritsah dalam Perang Mu’tah

    Merangkum buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas X oleh H. Abu Achmadi dan Sungarso, Mu’tah adalah nama daerah di dataran rendah Balqa di Negeri Syam. Perang ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun 8 H atau 629 M.

    Perang Mu’tah disebabkan oleh dibunuhnya dua utusan Rasulullah SAW. yang membawa surat dakwah ke beberapa kepala negara untuk mengajak mereka menerima ajaran Islam. Atas perlakuan ini, Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan Muslimin untuk berperang dengan pasukan Ghassaniyah di Mu’tah.

    Sebelum pasukan Islam berangkat, Rasulullah SAW telah menunjuk tiga orang sahabat sekaligus mengemban amanah komandan secara bergantian bila komandan sebelumnya gugur di medan perang. Mereka adalah Ja’far bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah.

    Zaid bin Haritsah menjadi panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah SAW, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Dua pasukan berhadapan sangat sengit, Zaid menebasi anak panah-anak panah musuh hingga akhirnya dia tewas.

    Rasulullah sangat sedih dengan kematian Zaid yang sudah ia angkat sebagai anak kesayangannya. Ia sangat sayang kepada Zaid seperti yang dikabarkan oleh Aisyah ra,

    “Setiap Rasulallah SAW mengirimkan suatu pasukan yang disertai Zaid, ia selalu diangkat Nabi jadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasulallah SAW, tentulah ia akan diangkatnya sebagai Khalifah.”

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Syahidnya Masyithah, Tukang Sisir Putri Fir’aun yang Pertahankan Islam


    Jakarta

    Seluruh perbuatan manusia selama di dunia menjadi penentu mereka di akhirat kelak. Mereka yang rugi dan banyak berbuat buruk akan diganjar siksa kubur.

    Dalil tentang siksa kubur tercantum dalam Al-Qur’an, salah satunya pada surah Al An’am ayat 93:

    وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ قَالَ اُوْحِيَ اِلَيَّ وَلَمْ يُوْحَ اِلَيْهِ شَيْءٌ وَّمَنْ قَالَ سَاُنْزِلُ مِثْلَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَاسِطُوْٓا اَيْدِيْهِمْۚ اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ اٰيٰتِهٖ تَسْتَكْبِرُوْنَ ٩٣


    Artinya: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya dan orang yang berkata, “Aku akan mendatangkan seperti yang diturunkan Allah.” Seandainya saja engkau melihat pada waktu orang-orang zalim itu (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sembari berkata), “Keluarkanlah nyawamu!” Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”

    Berkaitan dengan siksa akhirat, ada sebuah kisah yang didasarkan dari riwayat Imam Ahmad yang berasal dari Abu Dharir, dari Hammad bin Salamah, dari Atha’ bin As-Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas. Dikutip dari Karamat Al-Auliya’ susunan Abul Fida’ Abdurraqib bin Ali bin Hasan Al-Ibi yang diterjemahkan oleh Abdurrosyad Shidiq, diceritakan Rasulullah pada malam Isra mencium aroma harum.

    Bertanyalah dia kepada Malaikat Jibril, “Wahai Jibril, aroma apakah ini?”

    “Itu adalah aroma wanita yang menyisir putri Fir’aun dan anak-anaknya,” jawab Jibril.

    Mendengar hal itu, sang rasul kembali bertanya, “Apa yang terjadi padanya?”

    Malaikat Jibril lalu menceritakan, “Pada suatu hari ketika Masyithah sedang menyisir putri Fir’aun, sisirnya jatuh dari tangannya. Lalu, secara spontan ia berkata, ‘Dengan nama Allah’.

    Putri Fir’aun bertanya, ‘Itu ayahku?’

    Sang wanita lalu menjawab, ‘Bukan. Tetapi Tuhanku dan Tuhan ayahmu. Dialah Allah.’

    Putri Fir’aun kembali bertanya, ‘Bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada ayahku?’

    Tanpa ragu, wanita tersebut mengiyakan pertanyaan sang putri Fir’aun itu. Setelahnya, wanita tersebut dipanggil oleh Fir’aun dan ditanyai, ‘Hai pelayan, apakah kamu punya Tuhan selain aku?’

    ‘Punya. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.’

    Kemudian, Fir’aun menyuruh mengambilkan sebuah wajan besar. Setelah diisi dengan air mendidih, wanita tersebut beserta anak-anaknya dilemparkan ke dalamnya.

    Sebelum dilempar, wanita itu berkata, ‘Aku punya satu permintaan kepadamu,’

    ‘Apa permintaanmu?’ tanya Fir’aun.

    ‘Aku ingin kamu mengumpulkan tulangku dan tulang anak-anakku pada selembar kain, lalu kamu kubur kami dalam satu liang lahat.’ jawabnya.

    Fir’aun mengiyakan permintaan sang wanita. Ia lalu menggiring wanita tersebut dan anaknya satu per satu ke dekat wajan.

    Ketika tiba giliran seorang ibu dan bayinya yang masih menyusu, bayi itu lalu melihat ke arah ibunya yang seakan-akan ragu untuk memasuki bejana. Sang bayi secara tiba-tiba berkata, ‘Hai ibu, masuklah. Sesungguhnya siksa dunia itu lebih ringan daripada siksa akhirat.’

    Lalu, wanita itu memasukinya.”

    Cara Berlindung dari Siksa Kubur

    Sebagaimana yang diketahui, siksa kubur menjadi sesuatu yang menakutkan bagi setiap orang. Meski demikian, ada sejumlah cara untuk berlindung dari siksa kubur.

    Mengutip dari buku 1001 Siksa Kubur oleh Abdul Rahman, berikut beberapa caranya.

    • Rutin berdzikir
    • Membaca surah Al Mulk
    • Memperbarui taubatnya
    • Menjauhi sebab yang menjerumuskan ke dalam azab kubur
    • Mengevaluasi diri sendiri atas apa yang telah dilakukan, baik perkara yang dirugikan maupun perkara yang menguntungkan
    • Ada juga doa dari siksa kubur yang dapat dipanjatkan,

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

    Arab latin: Allaahumma innii ‘auudzu bika min ‘adzaabi al-qabri wa min ‘adzaabi jahannama wa min fitnati al-mahyaa wa al-mamaati wa min syarri fitnati al-masiihi ad-dajjaali.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.” (HR Bukhari & Muslim)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ibrahim AS, Selamat Meski Dibakar Hidup-hidup



    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS adalah salah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui. Kisahnya tercantum dalam sejumlah ayat Al-Qur’an.

    Dalam buku Kisah Para Nabi oleh Ibnu Katsir disebutkan nama asli Ibrahim AS ialah Ibrahim bin Tarikh. Ibunya bernama Buna binti Karbita bin Kartsi. Ibrahim AS juga disebut sebagai rasul ulul azmi yang merupakan gelar bagi rasul Allah SWT dengan kedudukan tinggi.

    Selain itu, ia juga memiliki julukan Abul Anbiya yang berarti ayahanda dari para nabi. Putranya merupakan seorang nabi juga yang tak lain Ismail AS.


    Beliau memiliki sejumlah mukjizat, salah satunya tidak hangus meski dibakar. Kisahnya bermula ketika ia menghancurkan berhala-berhala di dalam gedung.

    Mengutip buku Kisah 25 Nabi dan Rasul karya Yudho Pramuko, kala itu Raja Namrud beserta pengikutnya sedang pergi ke luar untuk melaksanakan upacara keagamaan. Karenanya, gedung tempat berhala menjadi sepi.

    Mengetahui hal itu, Nabi Ibrahim AS langsung masuk ke dalam gedung dan menghancurkan satu persatu berhala. Kendati demikian, ia menyisakan satu berhala paling besar.

    Ibrahim AS kemudian meletakkan kapak yang ia gunakan di leher berhala besar dalam keadaan menggantung. Setelahnya, ia pulang ke rumah.

    Saat Raja Namrud dan para pengikutnya kembali, alangkah terkejutnya mereka melihat berhala-berhala yang mereka sembah sudah hancur. Mengetahui Nabi Ibrahim AS yang menghancurkannya, Raja Namrud segera menangkap san nabi.

    Ketika dibawa ke pengadilan raja dan disaksikan masyarakat umum, Raja Namrud bertanya.

    “Hai Ibrahim! Apakah kamu yang menghancurkan berhala-berhala itu?”

    “Bukan!” jawab Ibrahim AS.

    Merasa geram, Raja Namrud mendesak Ibrahim untuk menjawab.

    “Jangan mungkir, hai Ibrahim! Akui saja perbuatanmu itu,”

    “Tidak!” kata Nabi Ibrahim AS.

    Jawaban Ibrahim AS memicu kemarahan Raja Namrud. Akhirnya, Nabi Ibrahim menambahkan ucapannya.

    “Baiklah, kita sama-sama berakal. Persoalan saat ini adalah mencari pelaku penghancuran berhala itu. Siapa yang telah memperlakukan berhala-berhala seperti itu. Sebetulnya, buktinya sudah ada. Sekarang di hadapan kita ada satu patung besar dan di lehernya tergantung kapak besar. Mungkin dialah pelakunya!”

    Ucapan Nabi Ibrahim membuat Raja Namrud Geram.

    “Kau banyak akal. Kau pikir aku dan rakyatku sebdooh itu? mana mungkin patung bisa aku ajak bicara dan aku tanyakan siapa pelakunya. kau terlalu bodoh, hai Ibrahim!”

    “Hai Raja Namrud! Rupanya yang bodoh bukan aku, tapi engkau dan seluruh rakyatmu. Buktinya, patung yang tidak berdaya apa–apa, tidak bisa bicara, tidak bisa dimintai pertolongan, dan tidak bisa mendatangkan kebaikan dan kejelekan itu, engkau sembah dan engkau puja,” kata Ibrahim AS menanggapi Raja Namrud.

    Ia lalu melanjutkan, “Kalau engkau dan rakyatmu sudah tahu bahwa patung dan berhala yang kalian sembah itu tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, dan tidak bisa dimintai pertolongan, mengapa kalian sembah dan kalian puja? Di hadapannya, kalian berdoa. Kalian meminta kebaikan dan keselamatan. Sudah jelas, patung-patung yang kalian sembah itu tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari bahaya kehancuran,”

    Mendengar jawaban Nabi Ibrahim AS, Raja Namrud dan para pengikutnya merasa terpojok. Ucapan beliau memang masuk akal, sehingga mereka tidak bisa berkata-bata.

    Namun, akhirnya secara serentak mereka menangkap Nabi Ibrahim AS dan hendak membakarnya. Seketika itu juga, Raja Namrud menyuruh rakyatnya mencari kayu bakar.

    Atas izin Allah, ketika api dinyalakan justru Nabi Ibrahim AS tidak merasa panas. Sebaliknya, api tersebut malah menyejukkan Ibrahim. Hal ini termasuk ke dalam salah satu mukjizat yang Allah SWT berikan kepada beliau.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anbiya’ ayat 68-70,

    (68) قَالُوْا حَرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْٓا اٰلِهَتَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

    (69) قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ

    (70) وَاَرَادُوْا بِهٖ كَيْدًا فَجَعَلْنٰهُمُ الْاَخْسَرِيْنَ

    Artinya: “Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.”

    Menyaksikan peristiwa itu, Raja Namrud dan seluruh orang di sana tercengang. Akhirnya, ia memerintahkan agar pembakaran dihentikan dan Ibrahim AS dibebaskan.

    Menurut hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafid Abu Ya’la, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim AS akan dilemparkan ketengah api yang berkobar itu, ia berdoa sebagai berikut,

    اللهُمَّ أَنْتَ الْوَاحِدُ فِي السَّمَاءِ وَأَنَا الْوَاحِدُ فِي الْأَرْضِ لَيْسَ اَحَدٌ يَعْبُدُكَ غَيْرِي حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ

    Arab latin: Allahumma antal wahidu fissama’i wa anal wahidu fil ardi laisa ahadun ya ‘buduka gairī hasbiyallahu wa ni’mal wakil.

    Artinya: Ya Allah! Engkau Esa di langit dan aku sendirian di bumi. Tiada seorang pun yang taat kepada-Mu selain aku. Bagiku cukuplah Allah sebaik-baik tempat berserah diri.

    Wallahu ‘alam bishawab.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Amru bin Utbah yang Tetap Salat Walau Dihampiri Singa


    Jakarta

    Ketika seorang muslim salat maka ia akan berjuang melawan rasa malas, pikiran duniawi yang mengganggu fokus salatnya dan juga kesibukan dunia. Namun, ada kisah menarik dari sahabat nabi yang diuji ketika salat.

    Amru bin Utbah bin Farqad as-Salami merupakan hamba saleh dari kalangan tabi’in seseorang yang dikenal tekun dalam beribadah. Ia hidup pada awal-awal masa sahabat Rasulullah SAW.

    Dari buku Shalat Orang-orang Saleh karya Ahmad Mushthafa Ath-thahthawi dijelaskan mengenai kisah Amru bin Utbah tetap menegakkan salat meski singa menghampirinya.


    Permohonan Amru bin Utbah

    Al-A’masy pernah bercerita: Saya pernah mendengar Amru bin Utbah berdoa, “Aku memohon tiga hal kepada Allah SWT. Saat ini Allah telah memberiku dua hal (dari tiga permohonan ku tadi). Dan aku masih menanti (terkabulnya permintaanku) yang ketiga. Aku memohon kepada-Nya agar menganugerahkan jiwa yang zuhud terhadap dunia sehingga aku tidak pernah memperdulikan nasib ku yang akan datang dan yang telah lewat. Aku juga memohon pada-Nya agar menguatkan diriku dalam melaksanakan salat dan Dia pun memberikannya. Dan terakhir aku memohon kepadanya agar aku dapat mati syahid. Inilah yang aku harapkan.”

    Kisah Salat Amru bin Utbah Ketika Dihampiri Singa

    Diriwayatkan dari Hasan al-Fazari, katanya budak Amru bin Utbah bercerita kepadaku.

    Di siang hari yang panas kami terbangun, kami pun mencari Amru bin Utbah hingga kami dapati ia berada di atas sebuah gunung, sedang menunaikan salat dan bersujud. Padahal kala itu cuaca sedang mendung langit menggantung di atasnya, kami memayunginya.

    Kami pun keluar (memerangi) musuh, tanpa menjaganya sebab salatnya banyak. Ketika suatu malam tiba, terdengar auman singa. Kami segera melarikan diri, sementara Amru bin Utbah masih tetap khusyuk melaksanakan salatnya.

    Singa itu pun pergi, Amru bin Utbah pun menyelesaikan salatnya. Kami bertanya kepadanya, “Apakah Anda tidak takut pada singa?” ia menjawab, “Saya sungguh malu pada Allah SWT kalau harus takut kepada selain Allah SWT.”

    Terdapat kisah lainnya, ketika Amru bin Utbah melaksanakan salat malam, datang segerombolan singa yang berhenti dihadapannya, seekor singa datang melingkari kakinya, namun tetap tidak membuatnya bergeming.

    Ketika ia ingin sujud datanglah seekor singa di tempat sujudnya, dan Amru bin Utbah hanya menyingkirkan singa tersebut. Pagi harinya temannya datang menghampirinya, dan bertanya apa yang terjadi tadi malam ketika ia salat. Amru bin Utbah hanya menunjukan bekas gigitan singa pada kakinya.

    Meninggalnya Amru bin Utbah

    Dari buku Shalat Orang-Orang Shaleh: Menikmati Kisah-kisah Dahsyat Para Ahli Ibadah ditulis oleh Ahmad Musthfa al-Tathawi mengenai meninggalnya Amru bin Utbah.

    Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, “Amru bin Utbah keluar untuk mengikuti pertempuran dan ketika itu dia memakai jubah yang berwarna putih. Dia berkata, “Aku tidak merasa ada darah mengalir yang terkena pakaian putih ini. ‘Tidak lama kemudian, dia terkena panah musuh dari atas istana karena mereka telah dikepaung. Aku melihat darah menetes pada tempat yang telah ditunjukkan oleh Amru bin Utbah dari jasadnya (sebelum ia berangkat).

    Hisyam berkata, “Ketika Amru bin Utbah meninggal dunia, sebagian sahabat berkunjung ke rumah saudara perempuannya, mereka bertanya, “Ceritakan kepada kami tentang kisahnya pada malam hari itu.”

    Lalu saudara perempuan itu berkata, “Pada malam itu dia melakukan salat malam, dengan memulai membaca awal surah Ghafir hingga sampai ayat ini:

    وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ

    “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat).” (Ghafir: 18),

    “Dia tidak melanjutkan ayat tersebut hingga datang waktu pagi.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wali Allah tapi Suka Beli Miras dan Datangi Pelacur



    Jakarta

    Ternyata ada sebuah kisah tentang wali Allah SWT yang gemar beli miras dan datangi pelacur. Kisah menarik ini melibatkan seorang Sultan Turki Utsmani yaitu Murad IV.

    Diambil dari buku Subjects of the Sultan: Culture and Daily Life in the Ottoman Empire tulisan Suraiya Faroqhi, Murad IV lahir pada 27 Juli 1612 dengan nama asli Murad Ahmad.

    Dijelaskan juga pada laman All About Turkey, Murad naik tahta saat berusia 11 tahun menggantikan kepemimpinan pamannya, Mustafa I. Namun, di kala itu, usianya masih terlalu muda untuk memegang tahta.


    Akhirnya sang ibunya yang bernama Kosem mengambil alih pemerintahan untuk sementara. Namun, bukannya sejahtera malah kondisi kekaisaran saat itu penuh dengan korupsi dan pemberontakan.

    Lalu, ketika Sultan Murad IV sudah dewasa akhirnya dapat mengambil alih kekaisaran, Murad IV terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang tegas dan tak pandang bulu, dirinya akan menghukum siapapun demi menegakkan peraturan di negaranya. Ia juga sering melakukan ekspansi untuk memperkuat kekaisarannya.

    Terlepas dari itu semua, Murad IV merupakan Sultan Turki Utsmani yang dikenal bijaksana ini punya sebuah kebiasaan unik yakni suka berkeliling dengan menyamar sebagai rakyat biasa.

    Kisah Wali Allah yang Gemar Beli Miras dan Datangi Pelacur

    Kisah menarik terkait Sultan Turki ini dibagikan oleh Ustaz Khalid Basalamah dalam ceramahnya yang ditayangkan di kanal Youtube Muda Mengaji. Ketika ia melakukan penyamaran, ia tak sengaja menemukan seorang pria yang tergeletak di lorong sempit. Anehnya, tiada satu orang pun yang mendekati pria tersebut.

    Murad pun bergegas menghampiri pria tersebut dan mulai menggerak-gerakkan tubuh lelaki yang sudah kaku tersebut. Namun, tidak ada respons dan ia sadar bahwa pria itu sudah meninggal.

    Ia pun dibuat heran, sebab tak ada satu orang pun yang peduli dengan jasad pria tersebut bahkan orang lewat di sekitarnya tak mendekati untuk menolongnya. Dia pun mulai bertanya kepada warga sekitar tersebut mengenai siapa identitas pria yang ditemuinya. itu.

    “Mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satupun orang di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya. “Siapa dia? Di mana keluarganya?” tanya Sultan Murad IV.

    Salah seorang warga pun menjawab pertanyaan Sultan Murad, “Orang ini suka menenggak minuman keras dan berzina!”

    “Tapi, bukankah dia termasuk umat Nabi Muhammad?” kata Sultan Murad IV menanggapi jawaban salah satu warganya.

    Orang-orang yang diajak bicara Sultan Murad IV pun langsung terdiam dan akhirnya bersedia untuk membawa jenazah lelaki tersebut ke rumahnya. Ketika jenazah tiba di rumah keluarganya, mereka pun langsung pergi dan hanya tinggallah Sultan Murad IV dan kepala pengawalnya yang bertemu dengan istri pria tersebut.

    Di samping jenazah suaminya, istrinya yang tengah menangis itu pun mengucap doa, “Semoga Allah SWT merahmatimu wahai, wali Allah. Aku bersaksi bahwa engkau termasuk orang yang saleh,”

    Terkejut mendengar doa perempuan tersebut yang menyebut bahwa pria yang meninggal itu adalah wali Allah SWT, Sultan Murad IV pun mulai bertanya pada istri pria tersebut.

    “Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah, sementara orang-orang membicarakan tentang dia begini dan begitu, sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?”

    Sultan Murad IV masih tak percaya saat istrinya menyebut pria itu wali Allah SWT ketika para warga menyebutnya sebagai orang yang gemar menenggak miras dan mendatangi pelacur.

    Perempuan tersebut menjawab dan menjelaskan segalanya kepada Sultan Murad IV, “Hampir setiap malam suamiku keluar rumah pergi ke toko minuman keras. Dia membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah lalu dibuang ke dalam toilet. Seraya berkata, ‘Aku telah meringankan dosa kaum muslimin’.”

    Selain itu, pria tersebut juga sering mendatangi tempat pelacuran. Di sana, ia hanya menemui sejumlah pelacur lalu memberi mereka uang. Kepada para pelacur ia memberi uang sambil pria berkata, “Malam ini kalian sudah saya bayar, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi.”

    Kemudian pria itu ulang ke rumah. “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pria-pria Islam,” kenang perempuan tersebut menirukan ucapan sang suami.

    Namun, orang sekitar hanya tahu bahwa pria yang meninggal tersebut selama ini adalah orang yang sering membeli dan minum-minuman keras serta mendatangi tempat pelacuran. Mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya.

    Sang istri sering menasehati sang suami akan kebiasaan itu yang membuatnya khawatir. “Suatu saat nanti kalau kamu mati, tidak ada kaum muslimin yang akan mau memandikan, menyalati dan menguburkan jenazahmu,”

    Mendengar ucapan sang istri, pria tersebut hanya tertawa sambil berkata “Jangan takut, nanti kalau aku mati, aku akan disalati oleh Sultanku, kaum muslimin, para ulama dan para wali,” jawab pria tersebut kepada istrinya.

    Usai mendengar cerita tersebut, Sultan Murad IV pun mulai meneteskan air mata. Dia pun kemudian menyampaikan kepada istri pria tersebut bahwa ia merupakan Sultan yang sedang menyamar dan siap mengurusi jenazah pria tersebut sampai ke pemakaman.

    “Benar! Demi Allah, akulah Sultan Murad dan besok pagi kita akan memandikannya, menyalatkannya, dan menguburkannya,”

    Atas perintah Sultan Murad IV, jenazah ini akhirnya menjalani proses pemakaman yang dihadiri para ulama, para wali Allah SWT dan seluruh masyarakat Turki.

    Hikmah dari Kisah Wali Allah dengan Sultan Murad IV

    Di dalam bukunya yang berjudul Setia (Selagi Engkau Taat dan Ingat Allah), Yasir Husain mengatakan kita bisa memetik hikmah dan pelajaran dari kisah tersebut. Hikmah tersebut ada adalah tidak boleh seseorang menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan dari apa yang dia lihat.

    Selain itu, kita dapat memetik pelajaran dari pria di dalam kisah tersebut. Ia selalu berjuang dengan gigih dan pantang surut dalam menebarkan kebaikan dan melenyapkan mengurangi keburukan.

    Untuk itu, orang-orang boleh saja membenci kita bahkan seandainya semua manusia di dunia ini mencela kita tak perlu berkecil hati. Selama kita setia di jalan Allah SWT, selama kita masih mencegah keburukan dan mengajak pada kebaikan yakinlah bahwa Allah SWT selalu bersama kita.

    Wallahu a’lam bisshawab.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com