Tag: hikmah

  • Kesombongan Iblis yang Menolak Perintah Allah untuk Bersujud, Ini Kisahnya


    Jakarta

    Kesombongan iblis yang menolak untuk menolak perintah Allah juga disebutkan dalam Al-Qur’an. Diceritakan bahwa Allah SWT mengusir iblis dari surga karena tak mau sujud kepada Nabi Adam, manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT.

    Allah SWT berfitman dalam surah Al-A’raf ayat 11 dan 12:

    وَلَقَدْ خَلَقْنٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ لَمْ يَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ
    Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan kamu (Adam), kemudian Kami membentuk (tubuh)-mu. Lalu, Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam.” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Ia (Iblis) tidak termasuk kelompok yang bersujud.”


    قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

    Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

    Disebutkan dalam buku Yang Tersembunyi, Jin, Iblis, Setan, dan Malaikat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini karya M Quraish Shihab, iblis menduga bahwa ia lebih mulia atau lebih baik dari Adam karena ia diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah.

    Iblis Menolak Perintah Allah Bersujud pada Nabi Adam

    Pada Al-Qur’an surah Al Baqarah disebutkan bahwa ketika Allah memerintahkan sujud, maka makhluk yang diperintahkan ada dalam satu sebutan saja yakni al-malaa’ikah (para malaikat). Baru setelah ada yang menolak dan tidak mau bersujud muncul nama dan sebutan baru yakni iblis.

    Hal ini memberikan isyarat bahwa iblis sebelum memiliki sebutan itu adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat tunduk dan patuh kepada Allah. Oleh karena itu ia dipanggail Allah dengan sebutan malaikat. Sebutan tersebut berubah akibat pembangkangan yang dilakukannya. Secara harfiah, iblis berarti keluar dari rahmat Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Tafsir Qashashi Jilid I oleh Syofyan Hadi.

    Allah SWT Mengusir Iblis dari Surga

    Karena menolak perintah dari Allah dan berkat keangkuhannya, iblis diusir dari hadapan Allah. Penyebutan madz’uman madhuran (terhina lagi terusir) menunjukkan terhinanya iblis dalam bentuk yang berlipat ganda seakan Allah hendak mengatakan bahwa kehinaan iblis karena keangkuhan dan pembangkangannya tidak cukup satu penghinaan saja.

    Bahkan saat iblis meninggalkan surga, Allah masih memberikan ancaman-Nya bahwa Dia akan memenuhi neraka Jahanam dengan iblis akibat kesombongannya.

    Dendam Iblis pada Manusia

    Setelah diusir dari surga, iblis kemudian mengumumkan akan berperang terhadap Nabi Adam AS dengan meminta waktu tangguh akan kematiannya hingga hari kebangkitan. Ungkapan iblis ilaa yaumi yub’atsun “sampai hari berbangkit” menunjukkan sakit hati dan dendamnya iblis kepada manusia, seakan tidak merasa cukup waktu menggoda manusia hingga kematian.

    Allah SWT menjawab permintaan iblis sebagaimana yang tercantum dalam surah Al-Hijr ayat 36-38:

    قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ . قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ . إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

    Artinya: (Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang ditangguhkan sampai hari yang telah ditentukan waktunya (kiamat).”

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sahabat Nabi yang Sempat Enggan Menikah dan Ditentang Sang Rasul



    Jakarta

    Menikah termasuk sunnah para nabi dan rasul. Dalam Islam, pernikahan harus mengikuti sejumlah ketentuan sesuai syariat agar sah.

    Terkait pernikahan juga disebut dalam surah Ar Rum ayat 21,

    وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


    Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

    Meski demikian, ternyata ada sosok sahabat Rasulullah SAW yang sempat berniat untuk tidak menikah. Mengutip buku Ta’aruf Billah Nikah Fillah susunan Zaha Sasmita, pria itu bernama Ukaf bin Wida’ah.

    Kala itu, Ukaf enggan menikah dan ingin fokus beribadah kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW menentang niatan Ukaf, menurutnya menikah adalah salah satu jalan terbaik dan terhormat untuk mencapai ridha Allah SWT.

    Masih dari sumber yang sama, Ukaf adalah sosok pemuda yang kehidupannya sudah mapan. Mendengar niat Ukaf yang tidak ingin menikah, Nabi SAW lalu mendatangi sang sahabat dan menasehatinya agar menikah.

    Sang rasul menilai tidak baik seorang muslim membujang jika sudah berkecukupan. Akhirnya, Ukaf menuruti perkataan Rasulullah SAW.

    Walau demikian, Ukaf tidak berani mencari calon istrinya sendiri. Akhirnya, ia meminta pertolongan Nabi SAW untuk mencarikan wanita dengan kriteria yang berpatokan pada pandangan Nabi Muhammad SAW.

    Dalam hadits dari Anas bin Malik RA juga disebutkan terkait pentingnya menikah. Bahkan, perkara ini menjadi wajib bagi muslim yang sudah mampu.

    “Terdapat beberapa sahabat Rasulullah SAW yang menanyakan kepada istri-istri Nabi Muhammad SAW perihal ibadah beliau di rumah. Lalu sebagian mereka berkata, ‘Saya tidak akan menikah, sebagian lagi berkata, ‘Saya tidak akan makan daging,’ sebagian yang lain berkata, ‘Saya tidak akan tidur di atas kasur (tempat tidurku), dan sebagian yang lain berkata, ‘Saya akan terus berpuasa dan tidak berbuka.’ Abu Daud (perawi dan pentakhrij hadits) berkata, ‘Berita ini sampai kepada Nabi SAW, hingga beliau berdiri untuk berkhotbah seraya bersabda setelah memanjatkan puja-puji syukur kepada Allah SWT, “Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang mengatakan demikian dan demikian? Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan tidur, dan aku juga menikahi perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnah (tuntunan)-ku maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR Abu Daud)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Mukjizat, Gelar, dan Perjalanan Dakwahnya


    Jakarta

    Nabi Idris AS adalah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dalam Islam. Sebagai utusan Allah SWT, ia diberi gelar Asad al Usud.

    Eka Satria P & Arif Hidayah melalui karyanya yang berjudul Buku Mengenal Mukjizat 25 Nabi menuliskan bahwa Nabi Idris AS dianugerahi mukjizat dan keistimewaan yang luar biasa. Dengan anugerah itu, ia dapat menjalankan tugas mulia memerangi bani Qabil yang enggan mengikuti ajaran Allah SWT.

    Mukjizat Nabi Idris AS

    Masih dari sumber yang sama, mukjizat nabi Idris AS salah satunya gelar Asad al Usud. Arti dari gelar itu ialah segala singa yang mana merujuk pada kehebatan dan kekuatan beliau yang sangat mengagumkan.


    Tak sampai di situ, Nabi Idris AS juga diberi kekuatan fisik yang luar biasa dan ilmu pengetahuan yang luas. Sang nabi dapat menulis, membaca, menghitung dan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan.

    Idris AS digambarkan sebagai sosok yang cerdas. Bahkan, dirinya dikenal sebagai orang pertama dalam sejarah dunia yang memiliki pengetahuan mendalam pada banyak bidang ilmu pengetahuan.

    Beberapa bidang ilmu yang dikuasainya seperti mahir menulis dengan pena, menguasai ilmu astronomi, dan memiliki kemampuan membaca yang baik serta mendalam.

    Nabi Idris AS Dipuji dalam Ayat Al-Qur’an

    Ibnu Katsir melalui Kisah Para Nabi: Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad terjemahan Saefullah MS mengatakan bahwa ada ayat Al-Qur’an yang berisi pujian kepada sang nabi. Allah SWT berfirman,

    وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا
    وَرَفَعْنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا

    Artinya: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam: 56-57)

    Perjalanan Dakwah Nabi Idris AS

    Kaum Nabi Idris AS merupakan keturunan Qabil yang tak menyembah Allah SWT, mereka menyembah api. Kala itu, Nabi Idris AS sangat gigih memperjuangkan agama Allah SWT.

    Sang nabi terus berdakwah kepada bani Qabil dengan penuh kesabaran. Banyak rintangan yang ia lewati, termasuk celaan dan ejekan. Meski demikian, hal itu tidak menjadikan Nabi Idris AS berpaling dari Allah SWT.

    Mengutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas I SD terbitan Kemenag RI, Nabi Idris AS dalam seminggu berdakwah 3-4 harinya beliau beribadah ke Allah SWT. Ia diutus berdakwah ke wilayah Irak Kuno. Namun, beberapa riwayat menyebut Nabi Idris AS diutus ke Mesir.

    Nabi Idris AS juga pernah mengajak umatnya untuk berhijrah ke Mesir ke Kota Memphis. Awalnya umat Nabi Idris AS menolak ajakan tersebut, mereka mengeluh karena Mesir merupakan negeri yang tandus. Tetapi, setelah diyakinkan oleh Nabi Idris AS pada akhirnya umatnya pun mau berhijrah.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Idris AS Menyaksikan Surga dan Neraka Tanpa Mengalami Kematian


    Jakarta

    Nabi Idris AS adalah nabi kedua sekaligus keturunan keenam dari Adam AS. Ia merupakan anak laki-laki dari Qabil dan Iqlima.

    Idris AS dikenal dengan pribadinya yang cerdas. Mengutip Buku Mengenal Mukjizat 25 Nabi susunan Eka Satria P & Arif Hidayah, Nabi Idris AS memiliki kekuatan fisik hebat dan ilmu pengetahuan yang luas.

    Selain itu, ia juga dianugerahi mukjizat untuk mengunjungi surga dan neraka. Kala itu, Idris AS didatangi oleh Malaikat Izrail yang menyamar sebagai laki-laki tampan atas izin Allah SWT.


    Didatangi Malaikat Izrail yang Menyamar

    Dikisahkan dalam buku Kisah Luar Biasa 25 Nabi & Rasul oleh Henni Nur’aeni, kedatangan malaikat maut itu bukan untuk mencabut nyawa Nabi Idris AS. Ia hadir untuk bertamu karena kagum akan sosok Idris AS yang ahli ibadah dan selalu berzikir kepada Allah SWT.

    Singkat cerita, Nabi Idris AS menanyakan siapa sebenarnya lelaki tampan yang mengunjunginya. Kemudian, Izrail pun mengakui siapa dirinya dan memberitahu maksud kedatangan beliau.

    Lalu, Idris AS mengajukan sebuah permintaan, yaitu ingin mengetahui bagaimana surga dan neraka. Ini dilakukan agar dirinya mengingat azab Allah SWT.

    Malaikat Izrail lalu meminta izin kepada Allah SWT untuk membawa Idris AS ke neraka. Permintaan tersebut dikabulkan oleh Allah SWT.

    Nabi Idris AS Pingsan Menyaksikan Malaikat Penjaga Neraka

    Sebelum sampai di neraka Nabi Idris AS tiba-tiba pingsan menyaksikan malaikat penjaga neraka yang sangat menakutkan. Di sana para malaikat menyeret dan menyiksa manusia-manusia yang tidak menaati perintah Allah SWT semasa hidupnya.

    Tak sanggup menyaksikan berbagai siksaan yang mengerikan, Nabi Idris AS sampai mengatakan tidak ada pemandangan yang lebih mengerikan dibanding dengan dahsyatnya api neraka. Api tersebut berkobar-kobar dengan bunyi gemuruh yang mengerikan.

    Ia tidak bisa membayangkan apabila hal itu menimpa umatnya kelak. Oleh karenanya Nabi Idris AS semakin giat berdakwah agar tidak ada umatnya yang tersesat dari jalan Allah dan tergulung oleh api neraka.

    Nabi Idris AS kemudian meninggalkan neraka dengan tubuh lemas dan penuh rasa takut. Bayangan api neraka dan segala siksaan di dalamnya masih menghantui dirinya. Namun, dengan hal itu Nabi Idris AS semakin menguatkan tekad dan imannya untuk selalu patuh pada perintah Allah SWT.

    Nabi Idris AS Takjub akan Keindahan Surga

    Setelah berkunjung ke neraka, Idris AS diantar ke surga. Jika di neraka ia pingsan, di surga pun Nabi Idris AS hampir pingsan pula. Ini disebabkan dirinya terpesona akan keindahan yang ada di depan matanya.

    Menukil buku Menengok Kisah 25 Nabi dan Rasul oleh Ahmad Fatih, di sana Nabi Idris AS melihat berbagai sungai yang sangat bening airnya. Di pinggir-pinggirnya, ada sejumlah pohon yang bagian batangnya terbuat dari emas dan perak.

    Selain itu, Nabi Idris AS juga menyaksikan istana-istana yang disediakan bagi penghuni surga. Sepanjang mata memandang, sang nabi menemui begitu banyak pohon yang menghasilkan buah-buahan segar, ranum dan harum.

    Puas berkeliling, Malaikat Izrail mengajak Idris AS pulang ke bumi. Namun, beliau enggan pulang. Sang malaikat lalu memberi peringatan,

    “Kamu boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti. Setelah semua amal ibadah dihisab oleh Allah SWT, barulah kamu bisa menghuni surga bersama para nabi dan orang beriman lainnya,” ujarnya.

    Mulanya, Nabi Idris AS tidak ingin meninggalkan surga. Namun, pada akhirnya ia mengangguk dan bertekad akan selalu beribadah kepada Allah sampai pada hari kiamat tiba.

    Ahmad Sobiriyanto dalam bukunya yang berjudul Dipuji dan Dihina Allah menuliskan, Nabi Idris AS menjadi satu-satunya nabi yang menghuni surga (tepatnya di langit keempat) tanpa mengalami kematian. Waktu diangkat ke tempat itu, Nabi Idris AS berusia 82 tahun.

    Kelak, ketika Rasulullah SAW melakukan mi’raj ke langit menghadap Allah bersama malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Idris AS. Rasulullah menghampiri Nabi Idris AS dan singgah sejenak sebelum akhirnya naik ke langit paling atas.

    Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits,

    “Gerbang telah terbuka, dan ketika aku pergi ke surga keempat, di sana aku melihat Idris. Jibril berkata (kepadaku), ‘Ini adalah Idris; berilah ia salammu.’ Maka, aku mengucapkan salam kepadanya, dan ia mengucapkan, ‘Selamat datang, wahai saudaraku yang alim dan nabi yang shalih’, sebagai balasan salamnya kepadaku.” (HR Bukhari)

    Wallahu’alam bishawab.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Sahabat Nabi yang Dikenal Pemalu, Siapakah Dia?



    Jakarta

    Sosok sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal pemalu adalah Utsman bin Affan. Meski begitu, Utsman memiliki pribadi yang cerdas dan dermawan.

    Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya yang berjudul Biografi Utsman bin Affan menjelaskan silsilah Utsman bin Affan. Namanya adalah Utsman bin Afan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf.

    Sementara itu, ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabiah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay. Nama ibu Arwa (nenek Utsman bin Affan dari jalur ibu) adalah Ummu Hukaim Al-Baidha’ binti Abdul Muththalib, saudara perempuan sekandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah Rasulullah.


    Ada yang mengatakan bahwa Ummu Hukaim dan Abdullah adalah dua anak kembar Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, seperti dikisahkan oleh Az-Zubair bin Bikar.

    Mengutip buku Kisah Seru Para Sahabat Nabi susunan Lisdy Rahayu, sifat Utsman yang pemalu ini menyebabkan orang-orang sekitarnya juga menjadi malu kepadanya. Suatu ketika, Rasulullah SAW kedatangan Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

    Sang nabi lantas mempersilahkan mereka untuk masuk. Namun ketika Utsman bin Affan datang, ia langsung membenarkan dulu letak jubahnya karena malu kepada Utsman.

    Nabi SAW bersabda dalam haditsnya, “Bagaimana aku tidak merasa malu kepada orang yang malaikat saja malu kepada dia.” (HR Muslim)

    Diterangkan dalam buku Kisah Hidup Utsman ibn Affan oleh Mustafa Murrad, di kalangan sahabat Rasulullah, Utsman bin Affan termasuk orang yang paling banyak tahu tentang Al-Qur’an dan hadits. Utsman juga termasuk salah satu penghafal Al-Qur’an.

    Ia selalu mengikuti petunjuk Nabi, Abu Bakar, dan Umar RA yakni para sahabat sekaligus Khalifah sebelum dirinya, ketika hendak mengambil keputusan. Utsman bin Affan yang memiliki gelar Dzunnurain (Pemilik Dua Cahaya) selalu mendampingi Nabi sehingga ia mendapatkan banyak ilmu dan petunjuk dari beliau.

    Selain dikenal sebagai sahabat nabi, Utsman bin Affan juga seorang Khalifah ketiga menggantikan Umar bin Khattab pada tahun 644 Masehi. Ia menjalankan kenegaraan dengan penuh kesederhanaan.

    Pada masa kepemimpinannya, kaum muslimin banyak menaklukkan negeri-negeri, seperti pula Cyprus, negara Khurasan, Armenia, dan negeri Maroko. Selain itu, penulisan kembali ayat-ayat Al-Qur’an juga terjadi pada masa kekhalifahan Utsman.

    Saat itu, Utsman membuat ayat-ayat Al-Qur’an menjadi satu mushaf. Karenanya, sampai saat ini mushaf yang terkenal dan banyak digunakan adalah mushaf Utsmani.

    Utsman bin Affan wafat pada 12 Zulhijjah tahun 35 Hijriah. Ia meninggal di usia ke-81 dan dimakamkan di bukit sebelah timur pemakaman Al-Baqi.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Ayyub AS Hadapi Ujian Berat Belasan Tahun hingga Dikucilkan



    Jakarta

    Nabi Ayyub AS mendapat ujian berat dari Allah SWT selama belasan tahun. Sejumlah riwayat menyebut ia menderita penyakit kulit yang tak kunjung sembuh hingga orang-orang meninggalkannya.

    Nabi Ayyub AS adalah salah satu nabi sekaligus rasul yang kisahnya termaktub dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa’ ayat 163,

    اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ


    Artinya: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.”

    Sebagai seorang utusan Allah SWT, Ayyub AS dikenal sebagai pribadi yang sangat sabar. Saking sabarnya, ia bahkan tidak mengeluh ketika diberi ujian berupa penyakit kulit yang mendera tubuhnya selama bertahun-tahun.

    Dijelaskan dalam kitab Qashash al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir terjemahan Umar Mujtahid, Ayyub AS adalah seseorang yang kaya raya. Sebelum ditimpa musibah, ia memiliki harta yang berlimpah mulai dari binatang ternak, budak, hingga tanah yang terbentang dari Tsaniyah sampai Hauran. Nabi Ayyub AS memiliki banyak anak dan seorang istri.

    Allah SWT mengujinya dengan penyakit kulit dan mengambil seluruh kenikmatan Ayyub AS. Berbagai musibah kian menghampiri sang nabi, mulai dari anak-anaknya yang meninggal hingga hartanya yang habis tak bersisa.

    Penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub AS membuatnya dikucilkan oleh masyarakat. Bahkan, Anas meriwayatkan bahwa Ayyub AS dibuang di tempat sampah milik bani Israil hingga tubuhnya dikerumuni lalat dan berbagai macam serangga lainnya.

    Tak seorang pun merasa kasihan kepada Nabi Ayyub AS selain sang istri yang setia mendampinginya. As Saddiy menceritakan,

    “Daging yang melekat pada tubuh Ayyub mulai berjatuhan hingga tidak ada yang tersisa di tubuhnya, kecuali tulang belulang dan otot-ototnya saja. Sementara itu, istrinya tiada henti menemui beliau sembari membawa abu gosok sebagai alas untuk berbaring.”

    Dalam kondisi yang memprihatinkan itu, istri Nabi Ayyub AS bekerja pada orang lain agar dapat mencukupi kebutuhan hidup bersama suaminya. Ketika tidak mendapatkan seorang pun yang mau menerimanya bekerja, sang istri menjual salah satu dari dua kepang rambutnya kepada putri seorang pejabat dan ditukarkan dengan makanan yang sangat banyak.

    Mengetahui hal itu, Nabi Ayyub AS lantas berdoa kepada Allah SWT sebagaimana tercantum dalam surah Al-Anbiya ayat 83,

    وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

    Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”.

    Singkat cerita, penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub AS akhirnya sembuh atas pertolongan dari Allah SWT dengan mengabulkan doa-doanya. Kala itu, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Ayyub AS agar menghentakkan kakinya ke tanah hingga terpancarlah air yang dapat digunakannya untuk mandi dan meminumnya.

    Allah SWT berfirman dalam surah Shad ayat 42,

    ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

    Artinya: (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”

    Setelah Nabi Ayyub AS mandi dan minum dengan air tersebut, seketika penyakit kulit yang menimpanya sembuh, badannya sehat kembali, dan wajahnya pun tampak lebih segar dan berseri.

    Tak sampai di situ, Ayyub AS kembali dianugerahi dengan kekayaan seperti sedia kala. Ia hidup bahagia bersama sang istri dan bersyukur kepada Allah SWT.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Cerita Rasulullah SAW tentang 2 Orang Penghuni Surga dan Neraka



    Jakarta

    Semasa hidupnya, Rasulullah SAW banyak mengisahkan cerita yang bisa menjadi pelajaran. Cerita ini didapatkan Rasulullah SAW melalui wahyu dari Allah SWT.

    Seperti kisah dua orang di masa lampau yang kemudian menjadi penghuni surga dan neraka. Seorang yang masuk neraka karena tidak sabar pada ujian dan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sementara seorang lainnya menjadi penghuni surga karena rasa takutnya kepada Allah SWT.

    Cerita Rasulullah SAW ini dituliskan dalam buku 115 Kisah Menakjubkan Dalam Hidup Rasulullah oleh Fuad Abdurrahman.


    Rasulullah SAW sering bercerita kepada umatnya tentang kisah umat-umat terdahulu, umat para nabi sebelum beliau. Rasulullah SAW mengetahui semua kisah itu melalui wahyu dari Allah SWT.

    Suatu hari Rasulullah SAW dikelilingi para sahabat. Tak lama kemudian beliau bercerita, “Ada seorang laki-laki sebelum kalian yang menderita sakit. Karena tidak sabar menahan penyakitnya, ia memotong urat nadinya hingga mengalirlah darahnya tanpa henti. Akhirnya, laki-laki itu mati.”

    Kemudian Allah SWT berfirman, “Hambaku ini mempercepat kematiannya (bunuh diri) sehingga haram baginya surga.”

    Dalam hadits dari Abu Zaid Tsabit bin Adh-Dhahhak Al-Anshari, Rasulullah SAW bersabda tentang larangan dan balasan bagi orang yang bunuh diri,

    وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ، عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Artinya: “Barang siapa membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada hari kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu.” (Muttafaq Alaih)

    Sakit merupakan ujian dari Allah SWT yang harus dijalani. Bahkan dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa Allah SWT memberikan obat dari setiap penyakit.

    Dalam Al-Qur’an Surat Yunus ayat 57, Allah SWT berfirman,

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

    Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

    Lalu dalam kesempatan berbeda, Rasulullah SAW bercerita lagi, “Ada seorang laki-laki yang berlebih-lebihan memperlakukan dirinya sendiri. Ketika ia merasa bahwa kematiannya telah dekat, ia berpesan kepada anak-anaknya: ‘Nanti, jika aku telah mati meninggalkan kalian, bakarlah tubuhku hingga menjadi abu. Lalu biarkan angin menerbangkan abu jasadku itu. Demi Allah, sekiranya Allah berkenan menyiksaku, tentu aku akan disiksa dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada selainku.”

    Rasulullah SAW melanjutkan, “Setelah ia mati, anak-anaknya benar-benar melaksanakan wasiatnya. Kemudian Allah SWT memerintahkan bumi agar mengumpulkan seluruh abu jasadnya yang telah berhamburan di muka bumi. Lalu, bumi menjalankan perintah-Nya, dan tiba-tiba tubuh laki-laki itu berdiri tegak seperti sedia kala.

    Allah SWT bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu melakukan itu?

    Laki-laki itu menjawab, “Karena rasa takutku kepadaMu, wahai Tuhanku.”

    Akhirnya, apa yang terjadi dengan laki-laki tersebut? Rasulullah SAW mengakhiri ceritanya, “Kemudian Allah mengampuni dosa orang itu (karena rasa takutnya kepada Allah)” (HR Bukhari-Muslim).

    Kisah ini menjadi penegasan bahwa Allah SWT maha pengampun dan akan memberikan ampunan pada hamba-Nya yang bertakwa.

    Sebagaimana termaktub dalam Surat Az-Zumar ayat 53,

    ۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Kemudian dalam Surat An-Nisa ayat 48, Allah SWT berfirman,

    اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

    Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.”

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Bilal bin Rabah, Seorang Budak yang Dijamin Masuk Surga


    Jakarta

    Bicara mengenai sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menemani beliau memperjuangkan dakwah Islam, terdapat salah satu kisah sahabat nabi yang amat menginspirasi. Inilah kisah Bilal bin Rabah, budak jadi ahli Surga.

    Dari buku Bilal bin Rabah karya Abdul Latip Talib menceritakan kisah perjalanan hidup sahabat Rasulullah yakni Bilal bin Rabah.

    Bilal Bin Rabah lahir di daerah as-Sarah terletak di pinggiran kota Makkah, mempunyai ayah bernama Rabah, dan ibunya bernama Hamamah, seorang wanita berkulit hitam. Oleh karena itu, ada yang memanggil Bilal bin Rabah dengan sebutan Ibnus-Sauda’, atau putra warna hitam.


    Kemudian beranjak dewasa, Bilal dibesarkan di Makkah sebagai seorang hamba milik keluarga Bani Abdul Dar, lalu sesudah ayahnya meninggal dunia, Bilal diserahkan kepada Umayyah bin Khalaf, tokoh penting kaum Quraisy.

    Bilal termasuk kalangan yang awal memeluk Islam, Umayah pun tahu karena hal itu dia menyiksa Bilal tanpa belas kasihan.

    Bilal bin Rabah disiksa Umayah tanpa henti, pertama dia dipukul, sampai diarak keliling kota Makkah. Karena Bilal masih bertahan, dia dijemur di atas pasir terik panas matahari, tanpa makan dan minum.

    Ketika mataahari tepat di atas kepala dan padang pasir menjadi panas sekali, Bilal dipakaikan baju besi, dan dibiarkan berjemur di bawah terik cahaya matahari, dadanya pun ditimpa batu. Dalam keadaan kepayahan itu, iman Islam Bilal bin Rabah tidak goyah sedikitpun.

    Umayah memaksa Bilal menyebut al-Latta dan al-Uzza, tetapi mulut Bilal tetap saja menyebut, “Allah… Allah… Allah.”

    Berita mengenai siksaan Bilal akhirnya sampai dimulut Abu Bakar As-Sidiq, lalu beliau membeli Bilal dan memerdekannya dari Umayah dengan harga sembilan uqiyah emas.

    Bagi Umayah jika Abu Bakar membeli Bilal dengan harga 1 uqiyah emas pun akan diberikan, namun bagi Abu Bakar andai Umayah memasang harga 100 uqiyah emas, Abu Bakar akan tetap membebaskannya.

    Muadzin Pertama Umat Islam

    Dari buku The Great Sahaba karya Rizem Aizid dijelaskan kisah muadzin pertama umat Islam.

    Selama di Madinah, Bilal Bin Rabah selalu berada di samping Nabi Muhammad SAW, ketika menunaikan ibadah shalat, ataupun berjihad, saking dekatnya Bilal dengan Rasulullah SAW, sampai dia dijuluki bayangan Nabi Muhammad SAW.

    Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah kemudian mengisyaratkan mengumandangkan adzan sebelum mendirikan shalat. Namun, yang menjadi pertanyaan siapa yang dapat menjadi muadzin?

    Dari semua sahabat yang hadir, Nabi Muhammad SAW pun menunjuk Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan. Oleh karena itu, Bilal menjadi orang pertama diantara umat Islam yang menjadi muadzin, hingga suaranya terdengar kencang ke seluruh Madinah, gelarnya adalah Muadzin ar-Rasul. Hingga masa kini banyak orang-orang memanggil muadzin dengan nama Bilal.

    Pensiunnya Bilal Bin Rabah

    Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Bilal menjadi salah satu sahabat nabi yang sangat terpukul akibat kepergian Rasulullah SAW, hingga dirinya memutuskan pensiun dari menjadi muadzin.

    Suatu ketika Khalifah Abu Bakar RA, meminta Bilal bin Rabah supaya menjadi muadzin kembali, namun dengan perasaan yang masih sedih, dia berkata, “Aku hanya menjadi muadzin Rasulullah. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”

    Sejak saat itu Bilal bin Rabah tidak lagi mengumandangkan adzan, kecuali hanya sebanyak dua kali, kemudian Bilal bin Rabah meninggalkan Madinah, dan tinggal di Homs, Syria.

    Menurut kisah Bilal bin Rabah hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari, selalu sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullahaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Kemudian Bilal langsung menangis tersedu-sedu.

    Demikianlah kisah Bilal bin Rabah dari budak jadi ahli Surga. Semoga detikers mendapatkan pelajaran dari cerita tersebut.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Tempat Diturunkannya Nabi Adam dan Hawa ke Bumi


    Jakarta

    Nabi Adam AS adalah nabi pertama sekaligus manusia pertama yang Allah SWT ciptakan di alam semesta ini, hingga akhirnya melalui tulang rusuk Adam, Allah SWT hadirkan Siti Hawa seorang wanita sebagai pasangannya.

    Kisah mengenai nabi Adam AS diceritakan dalam Al-Qur’an yakni surah Al-Baqarah. Berikut penjelasan surah Al-Baqarah ayat 30:

    وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠


    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Dan surah Al-Baqarah ayat 31:

    وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٣١

    Artinya: “Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!”

    Nabi Adam AS dan Siti Hawa Memakan Buah Khuldi

    Dari buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul karya Aifa Syah dikisahkan mengenai iblis yang dibantu oleh ular untuk masuk ke Surga, kemudian bertemu dengan nabi Adam AS dan Siti Hawa.

    Iblis pun merayu mereka, “Mengapa kalian tidak memakan buah khuldi ini? Tahukah kalian buah ini bisa membuat kalian tetap tinggal di Surga.”

    Nabi Adam AS dan Siti Hawa pada awalnya mampu menahan godaan tersebut, namun iblis terus saja merayu mereka, hingga keduanya tergoda untuk memakan buah tersebut. Padahal Allah SWT melarang keduanya untuk memakan buah khuldi.

    Ketika nabi Adam AS dan Siti Hawa makan buah tersebut maka tampaklah aurat keduanya yang selama ini tidak terlihat, “Ya Allah kami telah melakukan dosa besar, ampuni kami ya Allah.” Ujar nabi Adam AS dan Siti Hawa.

    Mereka berdua menyesal, namun Allah SWT tetap menurunkan nabi Adam AS dan Siti Hawa ke Bumi, keduanya tidak dapat lagi menikmati apapun yang ada di Surga, dan mereka mesti berusaha mencari makanan di Bumi.

    Tempat Diturunkannya Adam dan Hawa

    Dari buku Menengok Kisah 25 Nabi & Rasul karya Ahmad Fatih, S.Pd. disebutkan tempat turunnya nabi Adam AS dan Siti Hawa ke Bumi.

    Surah Al-Arah ayat 24:

    قَالَ اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚوَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ ٢٤

    Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang telah ditentukan.”

    Nabi Adam AS dan Siti Hawa tidak diturunkan dalam satu tempat yang sama di Bumi. Nabi Adam diturunkan di Sri Lanka tepatnya di puncak bukit Sri Pada, sementara Siti Hawa diturunkan di daerah Arab.

    Keduanya terpisah, hingga akhirnya dipertemukan kembali oleh Allah SWT di Jabal Rahmah. Mereka pun memulai kehidupan barunya di Bumi, banyak hal baru yang dipelajari oleh Nabi Adam AS.

    Hikmah kisah Adam dan Hawa

    · Manusia sebagai khalifah di Bumi harus senantiasa menjaga kelestarian alam, menghindari permusuhan

    · Iblis akan selalu menentang perintah Allah SWT dan menyesatkan manusia

    · Hindari sikap sombong, sebab Allah SWT telah mengutuk iblis karena kesombongannya

    · Segera bertobat ketika melakukan kesalahan, seperti nabi Adam AS dan Siti Hawa yang memohon ampunan kepada Allah SWT saat memakan buah Khuldi.

    Demikian penjelasan tempat diturunkannya Adam dan Hawa, mulai dari kisah keduanya memakan buah Khuldi, hingga hikmah yang bisa diambil. Semoga detikers bisa mengambil pelajaran dari cerita di atas.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Durhakanya Kaum Tsamud terhadap Nabi Saleh AS



    Jakarta

    Kaum Tsamud adalah sekelompok masyarakat yang menyembah berhala. Mereka hidup di suatu dataran bernama Al-Hijir.

    Ridwan Abdullah Sani melalui bukunya yang berjudul Hikmah Kisah Nabi dan Rasul menjelaskan bahwa kaum Tsamud menempati daerah yang letaknya antara Hijaz dan Syam (daerah antara barat laut Arab Saudi dan daerah Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon). Sebelum dikuasai kaum Tsamud, daerah tersebut sempat diduduki suku ‘Ad yang yang merupakan leluhur mereka.

    Allah SWT mengutus Nabi Saleh AS untuk mengajak kaum Tsamud ke jalan yang benar. Sang nabi tak henti-hentinya mengingatkan rahmat yang mereka miliki adalah hasil pemberian Allah SWT.


    Kaum Tsamud dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Sayangnya, hal tersebut tidak menjadikan mereka beriman kepada Allah SWT.

    Dakwah ajakan Nabi Saleh kepada Kaum Tsamud untuk beriman kepada Allah SWT dijelaskan dalam surah Hud ayat 61,

    وَاِلٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗهُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِوَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

    Artinya: “Kepada (kaum) Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya). Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).”

    Gaya hidup kaum Tsamud senang berfoya-foya, mabuk-mabukan, berzina dan tak segan melakukan tindak kejahatan. Meski demikian, ajakan Saleh AS tidak digubris. Kaum Tsamud justru marah dan berkata,

    “Hai Saleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan. Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Sesungguhnya, kami ragu dan khawatir terhadap agama yang kamu serukan kepada kami,” (QS Hud: 62).

    Meski ada sekelompok kecil dari Kaum Tsamud yang menerima ajaran Nabi Saleh, sebagian besar penduduk yang memiliki kekayaan berlimpah dan kedudukan tinggi justru bersikeras menolak ajakan Nabi Saleh AS.

    Saleh AS tidak patah semangat dan terus berjuang. Ia lantas memohon kepada Allah SWT untuk memberikannya mukjizat agar kaum Tsamud percaya dan bertobat.

    Lalu, Allah SWT meminta Nabi Saleh memukulkan tangannya ke atas permukaan batu yang ada di depannya hingga muncul seekor unta betina dengan ukuran besar dan gemuk. Melihat peristiwa tersebut, kaum Tsamud terperanjat. Sebagian dari mereka mengakui Nabi Saleh AS sebagai utusan Allah, tetapi ada juga yang menganggap mukjizat tersebut hanya permainan sihir.

    Nabi Saleh AS mengizinkan warga kaum Tsamud untuk memerah dan meminum susu dari unta betina tersebut. Sayangnya, ada beberapa warga yang khawatir akan keberadaan unta itu karena meminum banyak air dari sumber air kaum Tsamud.

    Lantas, dua pemuda Kaum Tsamud yang bernama Mushadda bin Muharrij dan Gudar bin Salif membunuh unta betina tersebut.

    Tindakan tersebut membuat Nabi saleh sedih dan mengatakan bahwa akan datang azab bagi kaum Tsamud apabila enggan kembali ke jalan Allah. Tanda-tanda dari datangnya azab tersebut ialah pada hari pertama, wajah mereka berubah menjadi kuning saat terbangun dari tidur.

    Hari kedua, warna wajah kembali berganti menjadi merah. Selanjutnya di hari keempat berubah lagi menjadi hitam.

    Hingga akhirnya pada hari keempat, turunlah azab Allah. Sebelum hari datangnya azab, Nabi Saleh dan pengikutnya pergi meninggalkan daerah Kaum Tsamud.

    Walau sudah begitu, ancaman Nabi Saleh AS justru membuat kaum Tsamud semakin murka. Mereka bahkan berencana membunuh sang nabi.

    Atas izin Allah, ketika mereka hendak membunuh Nabi Saleh maka turunlah petir menggelegar dan gempa bumi yang dahsyat disertai batu-batu besar yang entah dari mana asalnya menimpa kepala mereka.

    Naudzubillah min dzalik.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com