Tag: hikmah

  • Seruan Rasulullah di Atas Bukit Shafa Ajak Kaum Quraisy Bertauhid



    Jakarta

    Bukit Shafa menjadi saksi perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Di tempat inilah beliau menyeru kaum Quraisy secara terang-terangan perihal ajaran Islam.

    Rasulullah SAW disebut menyeru dengan lengkingan yang tinggi saat di Bukit Shafa. Seruan tersebut merupakan seruan peringatan yang lazim digunakan untuk mengabarkan adanya serangan musuh atau terjadinya peristiwa besar.

    Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, seruan tersebut dilakukan usai Rasulullah SAW yakin terhadap janji Abu Thalib untuk melindungi dalam menyampaikan wahyu Allah SWT.


    Hingga akhirnya, pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di atas Bukit Shafa dan berseru, “Wahai semua orang!” Maka semua suku Quraisy pun berkumpul memenuhi seruan beliau. Rasulullah SAW kemudian mengajak mereka bertauhid dan iman kepada risalah beliau serta iman kepada hari akhir.

    Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu Abbas yang berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’ (QS Asy Syu’ara: 214), maka Nabi SAW naik ke Shafa lalu berseru, ‘Wahai bani Fihr, wahai bani Adi!’ yang ditujukan kepada semua suku Quraisy.

    Mereka semuanya berkumpul. Jika ada yang berhalangan hadir, mereka mengirim utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Abu Lahab beserta para pemuka Quraisy juga ikut datang.

    Rasulullah SAW melanjutkan seruannya, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada pasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?”

    “Benar. Kami tidak pernah mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran,” jawab mereka.

    Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang pedih.”

    Abu Lahab berkata, “Celakalah engkau untuk selama-lamanya. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

    Kemudian turun ayat, “Celakalah kedua tangan Abu Lahab. (QS Al Lahab: 1)”

    Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan bagian lain dari kisah ini dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Tatkala turun ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat’ (QS Asy Syu’ara: 214) beliau menyeru secara umum maupun khusus, lalu bersabda,

    ‘Wahai semua orang Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak bisa berbuat apa pun terhadap diri kalian di hadapan Allah kecuali jika kalian mempunyai kerabat dekat, sehingga aku bisa membasahinya menurut kebasahannya.”

    Berikut seruan Rasulullah SAW selengkapnya sebagaimana termuat dalam sejumlah Kitab Sirah Nabawiyah.

    Wahai saudara-saudara Quraisy, tukarkanlah jiwa kalian demi Allah. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian untuk menghindar dari siksa Allah.

    Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah!

    Wahai bani Qushay, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdi Syams, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah.

    Wahai bani Abdul Muththalib, selamatkanlah diri kalian dari siksa Allah, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkan kalian dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantu kalian menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Abbas bin Abdul Muththalib, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Shafiyah binti Abdul Muththalib, bibi Muhammad, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Fathimah putri Muhammad utusan Allah, aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Wahai Fathimah putri Muhammad utusan Allah. Engkau boleh meminta hartaku sesuka hatimu, selamatkanlah dirimu dari api neraka, sebab aku tidak membawa bahaya ataupun manfaat yang bisa menghindarkanmu dari siksa Allah. Aku sama sekali tidak bisa membantumu menghindar dari siksa Allah.

    Namun, kalian memiliki tali kekerabatan denganku. Aku akan berusaha menyambung sebatas haknya.

    Setelah Nabi Muhammad SAW selesai menyampaikan peringatan, orang-orang membubarkan diri dengan berbagai respons. Hanya Abu Lahab yang merespons seruan di Bukit Shafa tersebut dengan cara yang buruk.

    Saat ini Bukit Shafa digunakan sebagai salah satu lokasi utama dalam ibadah haji. Di tempat ini, jemaah akan berlari-lari kecil menuju Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Rangkaian ibadah haji ini biasa disebut sa’i.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Keteladanan itu Ciri Kepemimpinan



    Jakarta

    Inilah surat Umar bin Khattab pada Abu Musa al-Asy’ari, tentang berbagai persoalan yang menyangkut kepemimpinan nasional. Penulis salin sebagian.

    “Sesungguhnya, manusia itu punya hak untuk berpaling pada penguasa mereka. Maka, aku mohon perlindungan kepada Allah Swt. dari yang demikian itu.
    Hindarilah sikap membabi buta dan dengki, mengikuti hawa nafsu dan sikap lebih mengutamakan dunia. Dan tegakkanlah hukum itu, walauoun hanya sesaat pada siang hari.

    Apabila engkau menghadapi dua perkara, yang satu untuk Allah Swt. dan yang satunya lagi untuk dunia. Maka, utamakanlah bagianmu untuk akhirat daripada bagianmu untuk dunia. Sebab, dunia itu akan lenyap, sedangkan pahala akhirat itu adalah kekal selamanya.


    Takutlah engkau kepada Allah Swt. dan takut-takutilah orang-orang fasik. Jadikanlah tangan dan kaki mereka terbelenggu ( tidak dapat mengadakan kegiatan kefasikan ). Bila terjadi pertentangan dan permusuhan antara kabilah-kabilah dan masing-masing menyebut-nyebut si Fulan dan si Fulan, itu adalah bisikan setan. Karena itu, pukullah mereka dengan pedang, sehingga mereka kembali pada perintah Allah Swt. Seruan bagi mereka hanyalah kepada Allah Swt. dan Islam.

    Abadikanlah nikmat dengan bersyukur, abadikanlah ketaatan dengan berlemah lembut, abadikanlah kekuasaan dan kemenangan dengan bersikap tawadhu’ serta cinta kepada sesama manusia.

    Tengoklah orang-orang muslim yang sakit, dan antarkanlah jenazahnya sampai ke kuburnya. Bukalah pintumu untuk mereka, dan urusi sendiri perkara mereka, karena engkau termasuk salah seorang dari mereka. Hanya saja Allah Swt. menjadikanmu orang yang paling berat tanggungannya.

    Telah sampai berita kepada Amirul mukminin, bahwa kau dan keluargamu berlebihan dalam hal berpakaian, makanan dan berpenampilan. Berita ini telah tersebar dan sudah menjadi rahasia umum. Sedangkan kaum muslimin yang lain tak ada yang sepertimu. Karena itu, wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperiti binatang yang melewati suatu lembah yang subur yang tak mempunyai cita-cita lain – kecuali menggemukkan badannya. Padahal, kematianya juga karena kegemukannya itu.

    Ketahuilah, bahwa seorang pemimpin itu akan kembali kepada Allah Swt. Maka apabila pemimpin itu menyeleweng, rakyatpun pasti menyeleweng. Sesungguhnya, orang yang paling celaka ialah orang yang menjadi sebab sengsaranya rakyat.”

    Amirul mukminin memberikan nasihat tidak bersikap membabi buta dan dengki apalagi mengikuti hawa nafsu. Karena mengikuti hawa nafsu selalu akan mengutaman kepentingan dunia yg fana, maka rugilah hidupmu. Siapakah yang diberi nasihat? Dia adalah Gubernur dan Panglima di Bashrah, murid dan sahabat Rasulullah Saw. yang berasal dari Yaman.

    Sesungguhnya manusia diciptakan dengan potensi keinginan yang baik (takwa) dan keinginan buruk (nafsu). Kedua keinginan tersebut menunjukkan sifat keseimbangan (at-tawazun) dan kemanusiaan (al-basyariah) dalam diri manusia. Oleh karena itu, nafsu adalah fitrah manusia, sebagaimana takwa juga adalah fitrah. Hal ini yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, yang artinya, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS asy-Syams: 7-8).

    Sebagai bagian dari uijian Allah Swt. setiap jiwa manusia cenderung untuk berbuat dosa dan maksiat. Jika manusia dihadapkan pada pilihan yang baik atau pilihan yang buruk, ia lebih tertarik melakukan pilihan yang buruk.

    Contohnya, jika ada pilihan, bekerja keras ataupun istirahat, pilihan istirahat lebih menarik. Jika ada pilihan, shalat Tahajud atau istirahat, jiwa manusia cenderung memilih istirahat. Hal ini sesuai dengan penegasan Al-Qur’an, yang artinya, “Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS Yusuf: 53).

    Nafsu tersebut jika dibiarkan atau tidak dikendalikan, setiap perilaku manusia akan tidak baik. Berkata tidak jujur, berbuat fitnah, mengadu domba, adalah sebagian kecil dari praktik memperturutkan nafsu.

    Bisa dibayangkan, jika nafsu tersebut dibiarkan tanpa kendali, sosok manusia yang diciptakan dengan sempurna itu-akan menjadi beringas, bahkan digambarkan dalam Al-Qur’an, manusia menjadi buas seperti hewan. “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah Swt )dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah Swt), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah Swt). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. “Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raf: 79).

    Jelaslah bahwa seorang pemimpin mutlak hendaknya bisa mengendalikan hawa nafsunya. Pemimpin akan lulus dalam kendalikan hawa nafsu jika mempunyai karakter yang diperkuat sbb :

    1. Ketabahan, yang merupakan kemampuan bersifat kebiasaan dalam menanggung dan mengatasi kesulitan, rasa sakit, tekanan dan bahaya.
    2. Upaya penjagaan diri ( ‘iffah ), merupakan kemampuan bersifat kebiasaan dalam menahan godaan kesenangan sesaat yang bisa mempengaruhi tujuan jangka panjang.
    3. Kebijaksanaan ( hikmah ), kemampuan dalam bersikap hati-hati dan bijak dalam mengambil keputusan.
    4. Kemampuan untuk melakukan atau meraih sesuatu secara tepat, benar dan pada tempatnya.

    Berikutnya adalah seruan pada menjalankan perintah Allah Swt. dan tidak melakukan kegiatan kefasikan. In syaa Allah bagi pemimpin yang menjalankan perintah-Nya dan menghindari tindakan kefasikan akan menjadikan dia seorang pemimpin yang lemah lembut, bersyukur dan tawadhu’.

    Nasihat menengok orang yang sakit dan ikut antarkan jenazah sampai ke kuburnya. Membuka pintu pada masyarakat. Serta menjadi tahu diri bahwa dirinya sebenarnya sama dg masyarakat, hanya saja yang membedakan karena dirinya diberi tanggunan yang berat oleh Allah Swt. Yang tidak kalah penting adalah nasihat untuk hidup sederhana seperti masyarakat pada umumnya. Dengan sikap seperti ini, seorang pemimpin akan lebih mudah bercampur dengan masyarakat, sehingga masukan dan keluhan masyarakat dapat diperoleh dengan baik. Di ingatkan bahwa seorang pemimpin akan kembali pada-Nya. Maka janganlah beri contoh dengan melakukan tindakan menyeleweng, karena rakyat dengan mudah akan menyontoh lakukan penyelewengan. Ingatlah bahwa seorang pemimpin yang membuat rakyatnya sengsara, maka ia termasuk orang yang paling celaka. Keteladanan saat-saat menghadapi persoalan sangat diperlukan, paling tidak memberikan contoh untuk solusi. Keteladanan ini sangat penting dan akan menjadi panutan, karena masyarakat negeri ini lebih melihat sosok pemimpin.

    Dalam tahun depan negeri ini akan mengalami pesta demokrasi dari pilihan kepala daerah, anggota legislatif dan kepala negara. Penulis berharap masyarakat dapat memilih para pemimpin yang sudah jelas bisa dijadikan teladan dalam kehidupannya. Keterbukaan informasi yang merupakan kewajiban penyelenggara ( KPU ) hendaknya disampaikan pada masyarakat untuk para calon tersebut. Semoga rakyat Indonesia memperoleh pemimpin yang berkualitas menjadikan negeri maju, makmur dan harmonis.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Hijrah ke Habasyah yang Pertama Rasulullah dan Kaum Muslimin



    Jakarta

    Setelah melalui masa sulit ketika berdakwah, Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW dan kaum muslimin untuk hijrah. Beliau kemudian hijrah ke Habasyah untuk pertama kalinya.

    Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah menerangkan, perintah Allah SWT tersebut tercantum dalam surah Az-Zumar ayat 10,

    قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ١٠


    Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.”

    Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan, Rasulullah SAW sudah tahu bahwa Ashhaman An-Najasyi, raja yang berkuasa di Habasyah merupakan seorang raja yang adil sehingga tidak ada seorang pun yang teraniaya di sisinya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan beberapa orang muslim hijrah ke Habasyah untuk melepaskan diri dari cobaan sambil membawa agamanya.

    Tepatnya pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian, sekelompok sahabat hijrah yang pertama kali ke Habasyah. Mereka terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita yang dipimpin oleh Utsman bin Affan RA.

    Dalam rombongan ini ikut pula Sayyidah Ruqayyah, putri dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda tentang keduanya, “Mereka berdua adalah penduduk Baitul Haram pertama yang hijrah di jalan Allah SWT setelah Ibrahim dan Luth.”

    Mereka berjalan dengan mengendap-endap di tengah malam dan pergi menuju pinggir pantai, agar tidak diketahui orang-orang Quraisy. Secara kebetulan saat mereka tiba di pelabuhan Syaiban ada dua kapal yang datang dan hendak bertolak menuju Habasyah.

    Setelah orang-orang Quraisy mengetahui kepergian orang-orang muslim mereka mulai mengejar, namun kaum muslimin berhasil untuk jabur dengan selamat.

    Di sana orang-orang muslim mendapat perlakuan yang baik. Hingga pada bulan Ramadan di tahun yang sama, Nabi SAW keluar dari Masjidil Haram, yang saat itu para pemuka dan pembesar Quraisy sedang berkumpul di sana.

    Beliau berdiri di hadapan mereka, lalu seketika itu pula membacakan surat An-Najm. Orang-orang kafir tidak pernah mendengarkan kalam Allah SWT tersebut sebelumnya. Hal ini turut dijelaskan dalam firman Allah SWT lainnya, yang berbunyi,

    وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْءَانِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

    Artinya: “Orang-orang yang kufur berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan (mereka).” (QS Fushshilat: 26)

    Tetapi tatkala dilantunkan bacaan surah An Najm, gendang telinga mereka pun diketuk oleh kalam Ilahi yang indah menawan, yang keindahannya sulit untuk dilukiskan dengan suatu gambaran.

    Mereka sontak terdiam dan terpesona, menyimak setiap isi dan semua orang khidmat mendengarnya, sehingga tidak ada pikiran lain yang melintas di benak mereka.

    Tatkala beliau membacakan penutup surat ini, hati mereka serasa terbang. Akhirnya beliau membaca ayat terakhir yaitu surah an-Najm ayat 62,

    ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ

    Artinya: “Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,”

    Mereka pun bersujud, tidak seorang pun dapat menguasai dirinya dan mereka semua merunduk dalam keadaan sujud.

    Sebenarnya, sinar-sinar kebenaran ini sudah mulai masuk ke dalam jiwa orang-orang yang sombong dan selalu mengolok-ngolok itu. Mereka tidak mampu menahan diri untuk bersujud. Mereka merasakan keagungan dari Allah SWT.

    Mengenai hijrah ke Habasyah yang pertama ini juga dijelaskan oleh Ibrahim Al-Quraibi dalam Tarikh Khulafa bahwa setelah tiga bulan berada di Habasyah, para Muhajirin ini kembali ke Makkah.

    Mereka harus kembali ke Makkah karena menghadapi kenyataan bahwa mereka dalam keadaan terasing karena membawa serta istri-istrinya. Sehingga, mereka merasa tidak nyaman ketika hidup di negeri orang dengan keadaan terasing seperti itu.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Penduduk Sangat Ingkar, Rasulullah Dakwah di Thaif Hanya 10 Hari



    Jakarta

    Kisah dakwah Rasulullah SAW selalu menarik perhatian. Salah satunya ketika Rasulullah SAW berdakwah di Thaif selama 10 hari saja.

    Majdi Muhammad Asy-Syahawi dalam buku Saat-Saat Rasulullah Bersedih menceritakan sebuah riwayat dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im mengenai kisah dakwah Rasulullah SAW di Thaif.

    Diceritakan, sepeninggal Abu Thalib, orang-orang Quraisy semakin berani menyakiti Rasulullah SAW. Akhirnya beliau pergi ke Thaif untuk berdakwah di sana dan ditemani oleh Zaid bin Haritsah RA. Peristiwa ini terjadi pada beberapa malam terakhir di bulan Syawal tahun ke-10 kenabian.


    Muhammad bin Umar Al Waqidi mengatakan pula, “Rasulullah SAW tinggal di Thaif selama 10 hari, dan tidak seorang pun dari pemuka Thaif yang tidak didatangi oleh Rasulullah SAW dan disampaikan dakwah, namun tidak seorang pun dari mereka yang mau memenuhi dakwah beliau.”

    Hal itu dikarenakan mereka khawatir jika dakwah dari Nabi Muhammad SAW akan mempengaruhi kalangan muda mereka. Hingga akhirnya, mereka mengusir Rasulullah SAW dan mengatakan, “Wahai Muhammad, pergilah engkau dari negeri kami dan carilah pengikutmu di tempat lain.”

    Lalu para penduduk Thaif pun mulai menghasut orang-orang yang bodoh agar mengusir Rasulullah SAW. Akhirnya mereka pun melempari beliau dengan bebatuan hingga kedua kaki beliau menjadi terluka dan berdarah.

    Zaid yang saat itu menemani dakwah Nabi SAW berusaha melindungi Rasulullah SAW ketika meninggalkan Thaif dan kembali ke Makkah dengan penuh kesedihan. Sebab, tidak seorang pun dari mereka yang mau menerima dakwahnya baik dari kaum laki-laki maupun dari kaum perempuan.

    Rasulullah SAW pun akhirnya memilih untuk singgah di suatu tempat yang bernama Nakhlah. Di tempat tersebut beliau melakukan salat Tahajud dan membaca surah Jin.

    Pada saat itu terdapat 7 jin yang berasal dari penduduk Nashaibin ingin mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Namun, kedatangan mereka sama sekali tidak disadari oleh Rasulullah SAW. Hingga akhirnya turunlah firman Allah SWT dalam surah Al-Ahqaf ayat 29,

    وَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ ٢٩

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Nabi Muhammad) sekelompok jin yang mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an. Ketika menghadirinya, mereka berkata, “Diamlah!” Ketika (bacaannya) selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.”

    Kisah dakwah Rasulullah SAW ini juga diceritakan oleh Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam Kitab Sirah Nabawiyah Jilid 1.

    Pada mulanya, Rasulullah SAW berkeinginan untuk mengadakan pusat dakwah baru. Beliau meminta pertolongan dari kaum Tsaqif namun mereka menolak bahkan mereka mengintimidasi Nabi Muhammad SAW dengan melempar batu. Lalu dalam perjalanan pulang dari Thaif tersebut ia bertemu dengan Addas, seorang Nasrani yang kemudian masuk Islam.

    Al-Waqiqi mencatat bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Syawal, tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Ia menyebutkan pula bahwa beliau tinggal di Thaif selama 10 hari.

    Alasan Rasulullah SAW memilih Thaif sebagai tempat tujuan dakwahnya karena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka kuasai.

    Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka.

    Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di Thaif. Juga di sanalah mereka mengisi waktu-waktu rehat di musim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Sebagaimana juga orang-orang suku Makhzum memiliki keterkaitan kerjasama bisnis dengan orang-orang Tsaqif.

    Karenanya, apabila Rasulullah SAW berhasil melakukan dakwah di Thaif, sesungguhnya hal ini bisa menjadi kejutan yang dapat mengagetkan kaum kafir Quraisy sehingga mereka merasa terancam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kejadian Luar Biasa di Tengah Perjalanan Hijrah Rasulullah ke Madinah



    Jakarta

    Rasulullah SAW hijrah ke Madinah karena keberadaan kaum kafir Quraisy di Makkah mengancam nyawa beliau dan umat Islam. Sepanjang perjalanan, ada sejumlah kejadian luar biasa yang terjadi.

    Menukil Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Rasulullah SAW meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar tahun 14 kenabian menuju rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Keduanya lalu bergegas meninggalkan rumah dari pintu belakang untuk keluar dari Makkah sebelum fajar tiba.

    Rasulullah SAW menyadari betul bahwa orang-orang Quraisy akan mencarinya mati-matian dan satu-satunya jalur yang mereka perkirakan adalah jalur utama ke Madinah yang mengarah ke utara. Karenanya, beliau memutuskan mengambil jalur yang berbeda, yakni mengarah ke Yaman dari Makkah ke arah selatan.


    Beliau tiba di Gunung Tsur setelah menempuh perjalanan sejauh 5 mil (sekitar 8 km). Tempat ini medannya sulit karena jalannya menanjak dan banyak bebatuan besar. Dikatakan, beliau saat itu tidak mengenakan alas kaki bahkan ada yang menyebut beliau berjalan dengan berjinjit hingga meninggalkan bekas telapak kaki di tanah.

    Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sempat memapah beliau hingga tiba di sebuah gua di puncak gunung. Gua tersebut dikenal dengan Gua Tsur. Keduanya lalu bersembunyi di dalam gua selama tiga malam, dari malam Jumat hingga malam Minggu.

    Gejolak orang-orang Quraisy untuk mengejar dan membunuh Rasulullah SAW mulai meredup usai tiga hari tak membuahkan hasil. Kondisi ini membuat Rasulullah SAW mantap untuk pergi ke Madinah.

    Ada sejumlah kejadian luar biasa di tengah perjalanan hijrah Rasulullah SAW. Salah satunya tatkala beliau melewati tenda Ummu Ma’bad. Ummu Ma’bad adalah seorang wanita yang terkenal sabar dan tekun. Dia duduk di serambi tendanya dan memberi makan dan minum kepada setiap orang yang melewati tendanya.

    Sayangnya, tatkala beliau dan Abu Bakar Ash Shiddiq RA melintas, kondisi sedang paceklik. Domba-dombanya sudah tua dan tidak bisa mengeluarkan susu.

    “Demi Allah, andaikan kamu mempunyai sesuatu, tentulah kalian tidak kesulitan mendapatkan suguhan. Sementara domba-domba itu tidak ada yang mengandung dan ini adalah tahun paceklik,” kata Ummu Ma’bad.

    Rasulullah SAW mendatangi seekor domba betina di samping tenda. Beliau bertanya, “Ada apa dengan domba betina ini wahai Ummu Ma’bad?”

    “Itu adalah domba betina yang sudah tidak lagi melahirkan anak,” jawab Ummu Ma’bad.

    “Apakah ia masih mengeluarkan air susu?” tanya beliau.

    “Ia sudah terlalu tua untuk itu,” jawab Ummu Ma’bad.

    “Apakah engkau mengizinkan bila aku memerah susunya?” tanya Rasulullah SAW.

    “Boleh, demi ayah dan ibuku. Jika memang engkau melihat domba itu masih bisa diperah susunya, maka perahlah!” jawab Ummu Ma’bad.

    Rasulullah SAW lalu mengusap kantong kelenjar susu domba itu dengan menyebut asma Allah SWT dan berdoa. Seketika kantong kelenjar domba itu menggelembung dan membesar. Beliau meminta bejana milik Ummu Ma’bad lalu memerah susu domba itu ke dalam bejana.

    Susu itu kemudian beliau berikan kepada Ummu Ma’bad yang langsung meminumnya hingga kenyang. Beliau juga memberikannya kepada rekan-rekannya hingga mereka kenyang. Baru kemudian beliau sendiri yang minum terakhir.

    Setelah itu, beliau kembali memerah susu domba hingga bejana itu penuh dan meninggalkannya untuk Ummu Ma’bad. Kemudian, beliau melanjutkan perjalanan.

    Tak berselang lama suami Ummu Ma’bad datang sambil menggiring domba-domba yang kurus dan lemah. Dia tak sanggup menutupi keheranannya ketika melihat ada air susu di samping istrinya.

    “Dari mana ini? Padahal domba-domba itu mandul tidak lagi mengandung dan tidak lagi bisa diperah di dalam rumah,” ucapnya.

    Ummu Ma’bad lantas menceritakan semuanya kepada sang suami. Mendengar itu, suaminya menyahut bahwa sosok yang diceritakan istrinya itu adalah orang yang sedang diburu oleh kaum Quraisy.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • 2 Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah


    Jakarta

    Tahap pertama dakwah Nabi Muhammad SAW berlangsung di Makkah. Ada dua strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah yang digunakan kala itu.

    Strategi dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah ini ditempuh beliau untuk menyebarkan agama Islam kepada kaumnya supaya meninggalkan kepercayaan untuk menyembah berhala.

    Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum Sirah Nabawiyah menjelaskan bahwa setelah diangkat menjadi nabi dan rasul, Nabi Muhammad SAW menempuh dua fase untuk berdakwah.


    Fase pertama yaitu berdakwah di Makkah kurang lebih selama 13 tahun dan fase kedua yaitu berdakwah di Madinah kurang lebih selama 10 tahun.

    Pada masing-masing fase yang ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa tahapan. Misalnya saja pada fase pertama yaitu berdakwah di Makkah di mana pada fase ini dibagi menjadi dua tahapan.

    Pertama, tahap dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Kedua, yaitu tahap dakwah secara terang-terangan kepada penduduk Makkah, dari awal tahun keempat kenabian hingga hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah.

    Setelah beliau mendapatkan wahyu, beliau mulai menapaki jalan dakwah dan memikul tanggung jawab yang besar. Beliau mengemban misi kemanusiaan, beban akidah, sekaligus beban perang.

    Strategi Dakwah Nabi Muhammad di Makkah

    1. Dakwah Sembunyi-sembunyi

    Pada awalnya, beliau berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Setelah turunnya ayat-ayat surah al-Mudatsir Rasulullah SAW mulai menjalankan misi dakwah di jalan Allah SWT.

    Saat itu, kaum Nabi Muhammad SAW tidak memiliki keyakinan dan hanya mengikuti tradisi nenek moyangnya saja. Berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi ini dilakukan Rasulullah SAW supaya penduduk Makkah tidak kaget dengan suatu ajaran yang tiba-tiba datang dan menggusarkan mereka.

    Rasulullah SAW memulai dakwahnya dengan menyampaikan kepada keluarganya terlebih dahulu. Orang-orang yang percaya kepada Rasulullah SAW dan memeluk Islam pertama kali dikenal dengan as-sabiqunal awwalun.

    Orang-orang tersebut di antaranya, Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW), Zaid bin Haritsah bin Syarahil al-Kalbi (mantan budak Nabi Muhammad SAW), Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi Muhammad SAW), dan Abu Bakar as-Siddiq (sahabat Nabi Muhammad SAW).

    Kemudian Abu Bakar as-Siddiq mulai membantu dakwah Rasulullah SAW dengan menyeru kepada kaumnya. Ia memilih orang-orang yang percaya kepadanya, yang tentu saja mengenal dirinya dengan baik.

    Dari bantuan Abu Bakar as-Siddiq ini, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah akhirnya memeluk agama Islam.

    Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri menyebutkan bahwa jika dijumlahkan maka total mereka yang memeluk Islam pertama kali mencapai 130 orang baik laki-laki maupun perempuan.

    2. Dakwah Terang-terangan

    Lambat laun dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini didengar oleh kaum Quraisy namun mereka tidak peduli. Mereka mengira bahwa Nabi Muhammad SAW termasuk salah satu golongannya.

    Namun, lama-kelamaan mulai muncul perasaan khawatir dari kaum Quraisy akan dakwah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kemudian turunlah wahyu yang mengharuskan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan.

    Dakwah secara terang-terangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini dimulai dari menyeru kepada bani Hasyim, hingga dakwah di atas Bukit Shafa.

    Melihat kenyataan itu, kaum Quraisy menolak adanya dakwah dari Rasulullah SAW ini karena mereka khawatir akan merusak tradisi warisan nenek moyang mereka.

    Dari dakwah yang dilakukan secara terang-terangan ini Rasulullah SAW beserta dengan kaum muslimin mendapat perlakuan yang buruk dari kaum kafir Quraisy. Bahkan, kaum Quraisy membuat kesepakatan bersama untuk melarang kaum muslimin menunaikan haji. Kaum kafir Quraisy juga mengejek, menghina, dan mengolok-ngolok Nabi Muhammad SAW dengan menyebut beliau sebagai orang gila.

    Orang-orang musyrik itu melakukan berbagai cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW setelah disebarkan sejak permulaan keempat dari nubuwah. Berbagai tekanan ini terus dihadapi oleh Rasulullah SAW dan kaum muslimin, hingga mereka mulai berpikir untuk mencari keluar dari siksaan kaum kafir Quraisy ini.

    Akhirnya, Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT untuk melakukan hijrah. Maka, Rasulullah SAW dan kaum muslimin memutuskan untuk hijrah ke Habasyah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Pesantren yang Didirikan Wali Songo, Dirintis Sejak Wali Pertama


    Jakarta

    Penyebaran Islam di Indonesia tak lepas dari peran wali songo. Pesantren yang didirikan oleh wali songo menjadi salah satu bukti keberhasilan wali songo dalam menyebarkan agama Islam khususnya di Pulau Jawa.

    Zulham Farobi dalam buku Sejarah Wali Songo menjelaskan bahwa hampir semua wali songo terlibat dalam segala perkembangan sejarah Islam di Nusantara. Sarana yang digunakan dalam dakwah salah satunya berupa pesantren-pesantren yang dipimpin oleh para wali songo.

    Selain itu, wali songo menyebarkan Islam melalui media kesenian, seperti wayang. Para wali di tanah Jawa ini memanfaatkan pertunjukan tradisional sebagai media dakwah Islam.


    Para wali songo ini menjadi pemimpin dalam menyebarkan agama Islam di daerah yang mereka tempati. Berkat perjuangan wali songo agama Islam menyebar ke seluruh penjuru Pulau Jawa.

    Di dalam bidang pendidikan, peran wali songo terlihat dari didirikannya pesantren. Misalnya saja pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel di Ampel Denta yang dekat dengan Surabaya ini menjadi pusat penyebaran Islam pertama di Pulau Jawa.

    Pesantren yang Didirikan Wali Songo

    Mengutip buku Budaya Pesantren karya Ahmad Hariandi dkk, pesantren yang pertama kali didirikan adalah hasil rintisan Syekh Maulana Malik Ibrahim, tokoh wali songo paling awal yang dikenal dengan Sunan Gresik. Namun demikian, tokoh wali songo yang paling berhasil mendirikan dan mengembangkan pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

    Berikut selengkapnya.

    1. Pesantren Ampel Denta

    Mengutip buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Abu Achmadi dan Sungarso, Sunan Ampel memulai merintis dakwahnya dengan mendirikan Pesantren Ampel Denta. Sunan Ampel kemudian dikenal sebagai Pembina Pondok Pesantren di Jawa Timur. Hingga pada akhirnya, seorang keturunan Sunan Ampel menjadi penerus dakwahnya.

    2. Pesantren Giri

    Merujuk dari buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida bahwa Sunan Giri mendirikan pesantren di sebuah dataran tinggi yang terletak di Desa Sidomukti, sebuah desa di wilayah Gresik, Jawa Timur.

    H. Abu Achmadi dan Sungarso dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam menjelaskan bahwa dalam berdakwah materi yang disampaikan oleh Sunan Giri adalah mengenai akidah dan ibadah dengan pendekatan fikih yang disampaikan secara lugas.

    Pesantren yang didirikan Sunan Giri pada mulanya tidak hanya digunakan sebagai sarana pendidikan, tetapi juga dijadikan sebagai pusat pengembangan masyarakat. Pesantren ini tumbuh dan berkembang sangat pesat. Hal tersebut dikarenakan banyaknya santri yang berdatangan dari berbagai daerah.

    3. Pondok Pesantren Sunan Drajat

    Sunan Drajat merupakan tokoh wali songo yang mengajarkan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat sebagai pengamalan agama Islam.

    Ia juga mendirikan Pondok Pesantren Sunan Drajat yang dijalankan secara mandiri sebagai wilayah pendidikan yang bertempat di Desa Drajat (sekarang masuk wilayah Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur).

    Tanah yang didirikan pesantren oleh Sunan Drajat merupakan hadiah pemberian Sultan Demak kepada Sunan Drajat atas jasanya menyebarkan agama Islam dan memerangi kemiskinan.

    4. Pesantren Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh wali songo yang dikenal dengan jiwanya yang begitu mudah berbaur dengan masyarakat, sebagaimana dijelaskan Wawan Hermawan dan Ading Kusdiana dalam buku Biografi Sunan Gunung Djati: Sang Penata Agama di Tanah Sunda.

    Ia dikenal dengan keluhuran akhlaknya, terlebih dengan penguasaan berbagai masalah keagamaan. Pendidikan yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati yakni menggabungkan antara keagamaan dengan seni.

    Oleh karena itu, dengan pendidikan tersebut gagasan pendidikan pesantren Sunan Gunung Jati sangat mudah untuk diterima oleh masyarakat.

    5. Pesantren Sunan Bonang

    Sunan Bonang merupakan salah satu wali songo yang juga mendirikan pesantren. Sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Cakrawala Budaya Islam oleh Abdul Hadi Wiji Muthari, Sunan Bonang mendirikan pesantren di sebuah desa kecil dekat kota Lasem, Jawa Tengah.

    Di atas sebuah bukit gersang nan sunyi, Watu Layar, Sunan Bonang pernah membangun sebuah tempat tafakkur, dan zawiyah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Sosok Wali Songo yang Ajarkan Falsafah Moh Limo



    Jakarta

    Wali songo memiliki pengaruh besar dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Dalam dakwahnya, ada salah satu tokoh wali songo yang mengajarkan falsafah Moh Limo.

    Wali songo yang mengajarkan falsafah Moh Limo adalah Sunan Ampel atau yang memiliki nama Raden Rahmat. Ia merupakan putra dari Sunan Gresik, tokoh wali songo pertama.

    Mengutip buku Wali Songo karya Noer Al, Raden Rahmat bersama dengan ayahnya Sunan Gresik menginjakkan kaki di tanah Jawa atas undangan Raja Majapahit.


    Prabu Brawijaya yang saat itu merupakan penguasa Majapahit menyambut hangat kedatangan Raden Rahmat bersama sang ayah. Prabu Brawijaya memberikan tugas untuk memperbaiki kehidupan masyarakat yang suka hidup bermewah-mewahan dan selalu berpesta pora kepada Raden Rahmat.

    Atas kesabaran dan kewibawaannya, Raden Rahmat berhasil mengatasi situasi Kerajaan Majapahit tersebut, sehingga ia diberikan hadiah oleh Raja Brawijaya.

    Akhirnya, Raden Rahmat dinikahkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Dewi Condrowati. Ia pun menjadi seorang pangeran karena menjadi menantu Prabu Brawijaya.

    Kemudian, Raden Rahmat pun melanjutkan mendidik dan menyadarkan para bangsawan dan adipati menuju ke jalan yang benar. Setelah berbagai cara dilakukan, akhirnya Raden Rahmat berhasil dan melanjutkan niatnya untuk berdakwah dalam masyarakat.

    Tentu Raden Rahmat diterima dengan baik oleh masyarakat. Di mana saat melaksanakan dakwah Raden Rahmat atau biasa dikenal dengan Sunan Ampel ini melakukannya dengan sangat singkat dan cepat.

    Salah satu ajaran falsafah yang diajarkan oleh Sunan Ampel adalah falsafah Moh Limo. Falsafah Moh Limo ini artinya tidak melakukan lima hal tercela. Falsafah Moh Limo ini menjadi salah satu kunci utama atau akar permasalahan merosotnya moral warga Majapahit ketika itu.

    Falsafah Moh Limo di antaranya,

    1. Moh Main (tidak mau berjudi)

    2. Moh Ngombe (tidak mau minum arak atau mabuk-mabukan)

    3. Moh Maling (tidak mau mencuri)

    4. Moh Madat (tidak mau menghisap candu seperti narkoba, ganja, dan lain-lain)

    5. Moh Madon (tidak mau berzina atau main perempuan yang bukan istrinya)

    Sunan Ampel dikenal memiliki kepekaan dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan sosial budaya setempat. Caranya dengan menerima siapa pun baik bangsawan maupun rakyat jelata untuk nyantri di Ampel Denta.

    Dalam kehidupan pesantren, meskipun Sunan Ampel menganut mazhab Hanafi, namun Sunan Ampel sangat toleran pada penganut mazhab yang lain.

    Para santrinya dibebaskan untuk mengikuti mazhab apa saja. Dengan cara pandang yang netral ini, tak heran bila pesantren di Ampel Denta mendapatkan banyak pengikut yang luas dari berbagai lapisan masyarakat.

    Masykur Arif dalam buku Wali Sanga: Menguak Tabir Kisah hingga Fakta Sejarah menambahkan mengenai kisah Sunan Ampel. Bahwa dalam berdakwah agar agama Islam mudah dimengerti oleh masyarakat Jawa, Sunan Ampel kemudian menciptakan huruf pegon atau tulisan Arab berbunyi bahasa Jawa.

    Melalui huruf pegon inilah, ia menyampaikan ajaran-ajarannya kepada murid-muridnya, huruf pegon yang diciptakan pertama kali oleh Sunan Ampel sampai sekarang masih tetap dipakai sebagai bahan pelajaran agama Islam di kalangan pesantren.

    Selain itu, Sunan Ampel juga terkenal dengan orator ulung dalam menyampaikan dakwah. Sesuatu yang disampaikannya dapat memikat orang yang mendengarnya. Ia pandai membuat aforisme yang mudah diingat dan menjadi pegangan hidup.

    Masykur Arif juga menyebutkan beberapa aforisme yang pernah diajarkan oleh Sunan Ampel, di antaranya:

    1. Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku durung weruh jatining Pangeran (Barang siapa hanya mengakui sesuatu yang terlihat oleh mata saja, itu berarti belum mengerti hakikat Tuhan).

    2. Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter jalaran manawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking (Jikalau engkau mempunyai ilmu yang menyebabkan banyak orang suka padamu, janganlah engkau merasa paling pandai. Sebab, kalau Tuhan mengambil kembali ilmu yang menyebabkan engkau tersohor, engkau menjadi tak berbeda seperti yang lain, bahkan nilainya menjadi di bawah nilai daun jati yang sudah kering).

    3. Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh welas kang luwih gedhe katimbang apa kang wis ditindakake (Barang siapa suka membuat senang orang lain, ia akan mendapat balasan yang lebih banyak daripada yang ia lakukan).

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Menjelang Idul Adha: Amalan di Bulan Dzulhijjah



    Jakarta

    Idul Adha 2023 ditetapkan pemerintah jatuh pada Kamis, 29 Juni 2023. Untuk itu, momen salat Jumat minggu ini dapat diisi dengan khutbah Jumat menjelang Idul Adha yang membahas amala-amalan di bulan Dzulhijjah.

    Sejatinya, kurban adalah amalan yang luar biasa pahala dan keutamaannya. Amalan ibadah kurban sendiri sudah dicontohkan pelaksanaannya sedari zaman Nabi Ibrahim AS.

    Untuk menyambut bulan yang istimewa yaitu bulan Dzulhijjah, berikut ini adalah contoh teks khutbah Jumat menjelang Idul Adha seperti dikutip dari laman Balai Diklat Keagamaan (BDK) Kemenag Kanwil Bandung.


    Contoh Teks Khutbah Jumat Menjelang Idul Adha

    Khutbah I

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

    أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاٰنِ: وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا. وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

    Maasyiral muslimin rahimakumullah,

    Selain Ramadan, dalam Islam ada bulan lain yang memiliki keistimewaan, yaitu bulan Dzulhijjah. Keistimewaan bulan Dzulhijjah terletak pada 10 hari pertamanya. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:

    مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ”. يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ “وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

    Artinya: Tidak ada amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah SWT daripada amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Bukankah jihad di jalan Allah juga termasuk?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak ada jihad di jalan Allah SWT yang lebih dicintai, kecuali jihad seseorang yang berangkat dengan jiwa dan hartanya, tetapi tidak ada yang kembali dengan apa pun.”

    Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Fajr ayat 2:

    وَلَيَالٍ عَشْرٍ.

    Artinya: “Dan demi sepuluh malam.”

    Selain keistimewaan tersebut, terdapat hadits yang menjelaskan tentang amalan yang dicintai oleh Allah SWT. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang amal sholeh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).”

    Hadirin Rahimakumullah,

    Berikut adalah beberapa amalan yang dapat dilakukan umat Islam di bulan Dzulhijjah:

    1. Puasa

    Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah yang sebaiknya dilakukan oleh setiap muslim di bulan Dzulhijjah. Ibadah puasa sebelum Hari Raya Idul Adha, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah.

    صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

    Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)

    Selain puasa Arafah, ada beberapa ibadah yang bisa dilakukan oleh muslim di bulan Dzulhijjah. Salah satunya adalah puasa Senin-Kamis yang juga termasuk ibadah sunnah. Terdapat juga pendapat dari beberapa ulama bahwa puasa sunnah dapat dilakukan mulai dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ jilid 6, “Puasa sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah termasuk dalam puasa sunnah.”

    Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab juga memberikan dalil shahih mengenai hukum puasa tersebut. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Hunaidah ibn Khalid dan istri-istri Rasulullah SAW yang menjelaskan,

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari Asyura (10 Muharam), berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR Abu Daud).

    2. Memperbanyak Dzikir

    Dalam hal memperbanyak takbir dan dzikir, setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak takbir dan dzikir di bulan Dzulhijjah, misalnya dengan memanfaatkan momen sebelum salat Idul Adha. Takbir dan dzikir juga dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari.

    وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

    Ibnu Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian kepada Allah pada hari-hari yang ditentukan, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan juga pada hari-hari Tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, kemudian mereka bertakbir, dan orang-orang juga ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali juga bertakbir setelah salat sunnah. (HR Bukhari)

    3. Menunaikan Haji dan Umrah

    Bagi mereka yang mampu, ibadah haji dan umrah dapat dilakukan di bulan Dzulhijjah. Haji adalah ibadah yang wajib dilakukan sekali seumur hidup bagi yang mampu melakukannya. Keutamaan haji dijelaskan dalam hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW,

    سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ

    Artinya: Rasulullah SAW ditanya, “Amalan apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Kemudian ditanya lagi, “Apa lagi setelah itu?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah SWT.” Ditanya lagi, “Apa lagi setelah itu?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” (HR Bukhari)

    Ibadah umrah juga dijelaskan dapat menghapus kefakiran dan dosa, “Ikutilah antara haji dan umrah, karena keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana api memurnikan besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR An Nasa’i)

    4. Kurban

    Ibadah kurban sebaiknya dilakukan oleh setiap muslim yang mampu di bulan Dzulhijjah saat perayaan Idul Adha. Dalam hadits dijelaskan, kurban adalah salah satu amalan yang dicintai Allah SWT.

    عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »

    Artinya: Dijelaskan Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai Allah SWT dibandingkan mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridho) Allah SWT sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR Tirmidzi)

    5. Taubat

    Sebagai tempatnya salah, manusia tidak bisa lepas dari dosa dalam tiap kesempatan. Allah SWT telah membuka kesempatan taubat bagi tiap hamba-Nya yang berharap pengampunan dari Allah SWT.

    قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

    Artinya: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap padaKu, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangiKu dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangiMu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi).

    6. Salat

    Periode sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan semangat dan melaksanakan salat dengan penuh dedikasi. Salah satu jenis salat yang istimewa adalah salat pada hari raya Idul Adha. Dalam surah Al-Kautsar, kita diperintahkan untuk melaksanakan salat Idul Adha pada hari tersebut.

    7. Meningkatkan Amal Sholeh Lain

    Selain itu, sebagai muslim, disarankan untuk meningkatkan amal sholeh lainnya di bulan Dzulhijjah. Beberapa amalan yang dapat ditingkatkan antara lain salat sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan menjalin tali silaturahmi. Ketika melaksanakan amal sholeh, jangan lupa untuk selalu berdoa agar Allah senantiasa memberikan kesehatan, keselamatan, dan perlindungan kepada diri kita.

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    Demikian contoh teks khutbah Jumat menjelang Idul Adha yang dapat diaplikasikan muslim. Semoga bermanfaat.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Nuansa Islami di Hollywood (1)



    Jakarta

    Jika kita berbicara tentang Hollywood biasanya assosiasi kita adalah sebuah dunia yang gemerlapan, glamour, manusia cantik dan tampan, film-film besar, dan sebuah dunia yang sulit dihubungkan dengan agama, terutama Islam.

    Belakangan ini, terutama pasca peristiwa 9/11 di New York dan Washington DC, AS, komunitas Hollywood tidak mau gegabah di dalam memproduksi karya-karyanya, terutama berupa film-film dan videos yang akan diedarkan ke dalam masyarakat. Trend baru Hollywood cenderung lebih dekat atau respek kepada agama, termasuk agama Islam meskipun agama ini masih agama minoritas di AS. Bukan saja ditandai dengan tampilnya sejumlah artis yang beragama Islam tetapi juga semua produk yang akan dilempar kepada masyarakat luas terlebih dahulu didiskusikan ke sebuah lembaga khusus bernama Muslim Public Affairs Council (MPAC) di Los Angeles. Lembaga ini dimintai bantuan untuk menganalisis kualitas industry intertain seperti produk film, program TV, dan produk-produk seni lainnya yang akan di-launching di dalam masyarakat.

    MPAC ini kebetulan dipimpin oleh Salam Al-Marayati, meskipun usianya relatif muda tetapi ia pakar Islam yang sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Kami sempat berkunjung ke kantornya dan ia menjelaskan peran lembaganya terhadap berbagai produk seni yang dihasilkan oleh komunitas Hollywood. Ia juga sepertinya menguasai ilmu-ilmu keagamaan secara komperhensif, termasuk perbandingan mazhab dalam Islam. Meskipun usianya masih relatif muda tetapi ia keliling dunia diundang dalam berbagai seminar mengenai Islam dan Peradaban Modern.


    Tema-tema diskusi lembaga tersebut dengan komunitas Hollywood ialah pihak Hollywood tidak ingin produk-produknya menyinggung perasaan atau keyakinan umat Islam. Bukan saja khawatir akibatnya akan diprotek oleh pasar pandsa muslim yang sudah berjumlah satu miliar tetapi mereka tidak ingin produknya merusak tatanan kebudayaan dan peradaban yang sudah mapan. Sebagai contoh, sejumlah sutradara film menulis cerita tentang teroris dengan melibatkan tokoh pemeran antagonistic. Mungkin artis itu terkenal sebagai artis porno di dalam berbagai film tetapi tiba-tiba diminta memerankan peran antagonis sebagai tokoh muslimah. Hal ini ditanyakan apakah melanggar etika atau menyinggung perasaan umat Islam. Contoh lain, bisakah divisualisasi sabda Nabi walaupun itu dalam bentuk efek cahaya atau animasi, yang samasekali tidak menampilkan sosok Nabi Muhammad Saw.

    Termasuk juga sejumlah istilah agama dan sejarah Islam, apakah tidak bertentangan dengan fakta sejarah yang sesungguhnya. Demikian pula mereka ingin tahu denominasi atau mazhab-mazhab dalam Islam. Jangan sampai produknya sudah Islam menurut versi sunny tetapi menyinggung perasaan kaum Syi’ah, demikian pula sebaliknya. Ketika sang artis akan memerankan peran-peran yang berhubungan dengan Islam Lembaga ini diminta memberi masukan. Seperti apa yang terbaik dilakukan tanpa mengurangi aspek bisnis dari sebuah produk. Sebelumnya pertimbangan seperti ini jarang dilakukan. Tidak heran jika dahulu banyak film-film Hollywood menuai kontroversi di dalam masyarakat muslim. Sampai kepada kepatutan kostum pemain secara komperhensif diminta untuk dinilai dan diberi masukan. Misalnya bolehkah mendendangkan sebuah lagu yang mengandung lirik agama tetapi dengan kostum perempuan tanpa hijab atau memperlihatkan lekuk atau dada.

    Fungsi Lembaga tersebut mirip dengan Badan Sensor Film (BSF) atau Komisi Peyiaran Indonesia (KPI) di Indonesia. Bedanya, di Indonesia Lembaga ini resmi dibentuk oleh negara sedangkan MPAC Hanya merupakan Non-Government Organization (NGO/LSM). Meskipun hanya NGO tetapi Lembaga ini mendapatkan tempat yang diperhitungkan.

    komunitas Hollywod. Tanpa paraf atau rekomendasinya sejumlah kalangan khawatir kalau masyarakat nanti memboikotnya, atau bahkan akan menimbulkan ketegangan di dalam masyarakat. New trend Hollywood tidak akan menimbulkan ketegangan yang bisa merusak tatanan kemanusiaan. Misi baru Hollywood ialah seni untuk kemanusiaan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com