Tag: hikmah

  • Mengatur



    Jakarta

    Kita buka dengan firman-Nya dalam surah al-Qashash ayat 68 yang berbunyi, “Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

    Tuhanmu menciptakan sesuatu yang dikehendaki untuk diciptakan dan menentukan sesuatu yang dikehendaki untuk ditentukan (dalam hal ini adalah penegasan bahwa kebebasan menciptakan dan menentukan itu milik Allah SWT). Penentuan itu tidak dengan menyeleksi sebagian sesuatu dan menyisakan sisanya kepada seorang ciptaan, melainkan dikembalikan kepada Allah SWT. Maha Suci Allah dari pertentangan seseorang tentang ketentuan-Nya dan Maha Agung serta Maha Suci dari perbuatan syirik mereka. Kewenangan pengaturan terhadap kehidupan manusia oleh-Nya.

    Tidak ada kewenangan sedikit pun ada pada manusia. Penegasan atas ketidakadaan wewenang ada pada surah an-Najm ayat 24-25 yang berbunyi, “Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (tidak!) Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. “


    Manusia yang diciptakan “istimewa” dari makhluk lain, menjadikan seseorang bisa meraih kehormatan dalam pangkat dan jabatan, harta maupun kepandaian. Tatkala seseorang mencapai tingkatan yang dianggap paripurna (dunia) seperti kaya raya, pimpinan suatu negara, bergelar akademik tertinggi, jika tidak berhati-hati dalam menjalankan kehidupan bisa menjadikan tergelincir. Kewenangan pimpinan suatu negara tentu sangat luas, dan kadangkala bisa berkawan dengan setan, maka jadilah pemimpin yang zalim. Sama halnya akan terjadi pada pengusaha yang kaya raya dan orang berpendidikan dalam tingkatan dan bentuk yang berbeda, maka bersikap tawaduk-lah akan menyelamatkan diri.

    Ketahuilah bahwa Allah SWT menghendaki untuk menjadikan seorang hamba kuat menghadapi ketentuan-Nya, maka ia akan dihiasi oleh pancaran cahaya dari sifat-Nya. Saat takdir turun padanya dan cahaya Tuhan sampai padanya, maka ia akan menggantungkan diri pada-Nya bukan bersandar pada diri sendiri, sehingga ia kuat menanggung beban dan bersabar setiap ada kesulitan. Ia sadar bahwa kesulitan pun datangnya dari-Nya, sehingga ia rida atas apapun yang datangnya dari-Nya.

    Di sini seseorang tersebut tidak ada rasa kebanggaan terhadap dirinya meskipun sejatinya dia hebat, karena kesadarannya dan kehebatannya merupakan pemberian-Nya. Ketika hati mencapai kelapangan, maka Allah Swt. akan menambahkan dengan limpahan anugerah dari sisi-Nya. Para ulama memberikan nasihatnya, “Barang siapa mempersiapkan diri akan menerima kucuran anugerah.” Nantinya akan diikuti sinyal-sinyal spiritual yang datang sesuai dengan kadar kesiapan hati masing-masing.

    Oleh karena itu capaian seseorang hamba hendaknya bukan untuk menunjukkan “kehebatannya” namun gunakanlah sebagai wasilah menuju bekal akhirat. Berbangga pada hal-hal yang bersifat fana, merupakan tindakan sia-sia. Bangga atas harta kekayaan dengan banyaknya super car dalam garasinya, pergi dan pulang dengan private jet, kekuasaan yang kuat dan lain sebagainya, ini hanyalah pemuas nafsu syahwat dan lupa seakan menukar yang kekal pada yang sementara. Tontonan kekayaan seakan menunjukkan lembaga-lembaga anti rasuah kurang berani berbuat.

    Kembali pada firman-Nya di atas, bahwa semua pengaturan kehidupan dunia dan akhirat hanya Allah SWT tidaklah etis jika seorang hamba yang menguasai aset besar dan mempunyai kekuatan besar ikut dalam pengaturan-Nya. Ikhtiar menjadi niscaya namun bukan ikut mengatur. Sebagian pihak sering kita dengar dengan semangat dan yakin bahwa seseorang ini pasti menang dalam kontestasi pilkada dengan segala strategi yang diterapkan, seakan lupa bahwa takdir bukan menjadi wewenangnya.

    Sekali lagi ingatlah bahwa penggalan surah an-Najm ayat 24-25, “Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.” Maksudnya jelas kalau kehidupan dunia dan akhirat milik Allah SWT sedangkan manusia tidak memiliki hak apapun atas keduanya, maka selayaknya manusia (siapapun dia) tidak ikut campur dalam hal yang bukan miliknya.

    Rasulullah SAW bersabda, “Niscaya merasakan kelezatan iman, orang yang ridha menjadikan Allah SWT sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad SAW sebagai Rasulnya.” (HR Muslim)

    Semoga Allah SWT memberikan hidayah, rahmat dari sisi-Nya agar kita (apapun posisinya) tidak ikut mengatur yang menjadi kewenangan-Nya.

    **

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Watak



    Jakarta

    Allah SWT. telah memberikan watak pada hamba-Nya untuk mengedepankan tujuan paling utama lalu yang lebih utama, mencari yang paling penting lalu yang lebih penting, menolak bahaya paling besar dari bahaya yang lebih kecil.

    Anugerah watak demikian dari Sang Pencipta merupakan pemberian kelengkapan untuk menjalankan kehidupan. Maka ia tidak akan mendahulukan yang biasa daripada yang utama kecuali orang gagap / lalai dan tidak mengerti tingkatan keutamaan. Dalam bahasa manajemen kekinian adalah seseorang telah meletakkan skala prioritas dalam bertindak / perbuatan.

    Banyak fakta dalam kehidupan kita seperti : sebagian orang yang menyibukkan diri dengan dunia, maka ia menjadi bodoh terhadap kemuliaan akhirat. Yang benar adalah isilah kehidupan duniamu dengan hal-hal yang menjadi bekal kehidupan akhiratmu. Maka janganlah kita mendahulukan dunia dari akhirat, mendahulukan yang biasa dari yang utama, mendekati hal-hal yang hina dan menjauhi hal-hal yang utama.


    Oleh sebab itu, hendaknya kita hindari menjadi orang yang bodoh tentang hukum ( Al-Qur’an ), karena menjadikan seseorang melakukan dosa, makan yang haram dan menzalimi sesama serta mengabaikan shalat dan puasa. Ada juga yang bodoh tentang rendahnya dunia, membuat ia cenderung pada dunia. Bodoh tentang nilai akhirat, membuat seseorang akan mengutamakan dunia daripada akhirat. Bodoh tentang hari-hari Allah SWT. akan menjadikan kelalaian dan ketertipuan.

    Watak dapat disebut karakter. Adapun beberapa karakter orang beriman adalah:

    1. Rendah hati. Hamba yang dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah kaum beriman yang berkarakter tawadhu’, beradab, tenang dalam bersikap, dan tetap bermartabat di tengah kehidupan sosial. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Furqan ayat 63 yang artinya, “Adapun hamba-hamba Dzat Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” Adapun makna ayat ini adalah : Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih yang shalih berjalan di muka bumi dengan tenang dan penuh kerendahan hati. Apabila orang-orang jahil lagi bodoh menyapa mereka dengan melancarkan gangguan, mereka menjawab orang-orang itu dengan ucapan yang baik-baik, dan membalas omongan mereka dengan ucapan-ucapan yang di dalamnya tidak terkandung unsur dosa dan tidak merespon orang jahil dengan tindakan jahilnya. Sikap ini menjadi dasar bagi seorang pemimpin sehingga ia menjadi bagian dari masyarakat. Kondisi ini memungkinkan ia ( pemimpin ) dapat menyerap aspirasi rakyatnya dengan baik.

    2. Semangat dalam shalat malam. Kekasih Allah Subhanahu wa ta’ala sangat paham kenapa mereka tidak ingin meninggalkan salat malam. Ada banyak sekali keutamaan shalat malam dalam al-Quran dan hadis shahih. Sebagaimana dalam firman-Nya pada surah al-Furqan ayat 64 yang artinya, “Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.” Keutamaan shalat malam adalah Pertama, shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah shalat maktubah (lima waktu).Sabda Rasulullah SAW. Artinya, ” Puasa yang utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Sebaiknya shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam ( HR. Muslim ). Kedua, keutamaan shalat malam jika dibanding dengan shalat siang itu seperti keutamaan sedekah yang dilakukan secara sirr (rahasia) dibanding sedekah yang dilaksanakan secara terang-terangan di depan publik. Selisih perbandingan antara keduanya adalah 70 kali lipat.Ketiga, shalat malam merupakan ciri orang shalih. Keempat, Allah SWT. membanggakan orang yang shalat malam pada malaikat dan kelima, do’anya dikabulkan Allah SWT.

    3. Semangat berinfak. Berinfak dan bersedekah justru akan membuat rezeki semakin berlimpah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. dalam surah al-Baqarah ayat 261. Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang yang berinfaq selayaknya orang yang menanam sebutir biji dan dia akan memanen tujuh kali lipat dari yang ditanamnya.

    Ketiga karakter dasar manusia yang beriman ini jika dipelihara ( dijaga agar tidak terkontaminasi ), maka output perbuatannya akan bermanfaat bagi sesama yang ada di dalam lingkungannya. Akan berbeda jika karakter dasar orang beriman ini memperoleh amanah sebagai pemimpin, maka akan membuahkan kebaikan dalam sekali yang besar. Oleh karena itu dalam pesta demokrasi awal tahun depan ( Februari 2024 ), pilihlah para pemimpin maupun wakil rakyat yang bersifat rendah hati, senang ibadah pada malam hari dan tidak kikir/bakhil.

    Ya Allah, kami mohon hadirkanlah negeri ini dengan pemimpin yang mempunyai karakter dasar orang beriman, hingga mencapai negeri yang harmonis dan berkemampuan.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Begini Cara Nabi dan Para Sahabat Salat Sembunyi-sembunyi



    Jakarta

    Rasulullah SAW harus melewati berbagai rintangan dalam menyebarkan ajaran Islam. Terutama pada tahun-tahun pertama kenabian yang mengharuskan beliau dakwah secara sembunyi-sembunyi.

    Jika tiba waktu salat, Nabi SAW dan para sahabat pergi ke tempat yang terpencil lalu secara sembunyi-sembunyi mengerjakan salat.

    Begitu kata Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah-nya. Ia menyebut, hal tersebut dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat agar tidak dilihat kaumnya.


    Diceritakan, suatu ketika Abu Thalib–paman Nabi–melihat Rasulullah SAW mengerjakan salat bersama Ali RA. Abu Thalib lantas menanyakan perihal salat itu. Setelah mendapat penjelasan yang cukup memuaskan, Abu Thalib menyuruh Rasulullah SAW dan Ali RA agar menguatkan hati.

    Perintah salat termasuk wahyu yang pertama-tama turun, sebagaimana dikatakan dalam Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Muqatil bin Sulaiman mengatakan, pada awal-awal Islam, Allah SWT mewajibkan salat dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat saat petang. Hal ini bersandar pada firman Allah SWT,

    وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

    Artinya:”…dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi!” (QS Al Mu’min: 55)

    Menurut pendapat Ibnu Hajar, Rasulullah SAW sudah pernah salat sebelum peristiwa Isra. Begitu juga para sahabat. Namun, ada perbedaan pendapat terkait adakah salat yang diwajibkan sebelum turunnya kewajiban salat lima waktu.

    Ada yang berpendapat bahwa salat yang diwajibkan pada waktu itu adalah salat sebelum matahari terbit dan sebelum terbenamnya matahari.

    Selain kewajiban salat, wudhu juga termasuk kewajiban yang pertama diturunkan. Dalam Mukhtashar Siratil-Rasul terdapat riwayat Al-Harits bin Usamah dari jalur Ibnu Luhai’ah secara maushul dari Zaid bin Haritsah yang menyebut bahwa pada awal-awal turunnya, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW dan mengajarkan wudhu kepada beliau.

    Setelah wudhu, beliau mengambil seciduk air lalu memercikkan ke kemaluannya. Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits serupa.

    Dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah dikatakan, Rasulullah SAW menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Beliau menemui satu per satu kerabat dan sahabatnya untuk memperkenalkan Islam dan mengajaknya memeluk Islam.

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Godaan



    Jakarta

    Dikisahkan bahwa Zaid ibn Arqam berkata, “Suatu saat, aku menemani Abu Bakar r.a. dan ketika ia meminta minum, seseorang membawakan air dan susu. Saat gelas didekatkan pada mulutnya, Abu Bakar menangis hingga para sahabat yang hadir pun menangis. Ketika para sahabat diam, Abu Bakar masih menangis. Ia terus menangis hingga para sahabat mengira bahwa sesuatu yang buruk terjadi, tetapi mereka tidak kuasa bertanya. Saat tangisannya reda dan ia mengusap kedua matanya, para sahabatnya bertanya, “Wahai Khalifah Rasulullah, apa yang membuat Tuan menangis?” Abu Bakar menjawab, “Aku pernah bersama Rasulullah Saw. lalu aku melihat beliau melindungi dirinya dari sesuatu, padahal aku tidak melihat ada orang lain di sana. Maka, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Baginda seperti melindungi diri dari sesuatu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Dunia ini menjelma kepadaku dan aku berkata padanya, “Tinggalkanlah aku.” Namun, dunia datang lagi dan berkata, “Meskipun engkau selamat dan lepas dariku, tetapi orang yang setelahmu tidak akan lepas dariku.”

    Dari kisah ini kita bisa mencermati dan menemukan maknanya yaitu, adanya kekhawatiran setingkat sahabat yang sebagai Amirul Mukminin terhadap ” dunia.” Karena dunia selalu menarik dengan pesona dan godaan kenikmatannya. Penulis bersenandung :

    Gemerlapnya dunia, semua hamba mengakuinya.
    Lezatnya jabatan dan pangkat jadikan kau lupa pada dirimu sendiri.
    Hakikatmu melayang dengan kendaraan syahwat.
    Tujuanmu kelewat, laksana ketiduran dalam bis.
    Sulit dan sulit, tiada dokter yg mampu memberi obat.
    Ketika hawa nafsu sudah bersarang di kalbumu.
    Hanya bisa diobati, dengan mengusirnya.
    Tunjukkan rasa takutmu yang menggetarkan, dengan mengingat hari akhir.
    Tumbuhkan rasa rindumu yang menggelisahkan, dengan mengingat ayat-ayat-Nya.
    Dunia memang diciptakan untukmu, namun engkau diciptakan untuk akhirat.
    Taqwa dan tawakal kendaraanmu menuju Sang Pencipta.


    Dunia memang menggoda, jika iman lemah dunia akan menjadi tujuanmu, akan berbeda bagi yang beriman. Jika tujuanmu dunia, engkau dapatkan dunia tiada akhirat, sebaliknya jika tujuan akhirat maka keduanya engkau dapatkan. Dunia merupakan musuh Allah Swt. karena ia mencegah jalan para kekasih-Nya. Ada penyair bersenandung :

    Ketika orang pintar diuji dengan hadirnya dunia, ia melihatnya sebagai musuh berbaju teman dekat.

    Dalam syair di atas memperjelas bahwa kehadiran dunia sangat dekat dengan kita sehingga tindakan hati-hati dalam memperlakukan dunia menjadi keniscayaan. Dunia menjadi musuh, saat ia mendominasi hati dan perbuatan seseorang dan melupakan hak-hak Allah Swt.

    Amirul Mukminin Ali ibn Abu Thalib berkata dalam surat yang dikirimkan pada Salman al-Farisi, “Dunia itu bagaikan ular yang terasa lembut ketika disentuh tetapi racunnya akan membunuhmu. Maka, berpalinglah dari segala yang membuatmu kagum kepada dunia, karena sedikit sekali sisi dunia yang menyertaimu. Tanggalkan hasratmu terhadap dunia dan gantikan dengan sesuatu yang lebih abadi. Jadilah orang yang paling bahagia di dunia, seraya tetap mewaspadai tipuan dan perdayanya. Sebab, para pemilik dunia akan diliputi rasa senang hingga keadaan menendangnya ke dalam kehinaan dan kesengsaraan. Wassalam.” Surat Amirul Mukminin ini sesuai dengan firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 14 yang berbunyi, “Dijadikan indah pada ( pandangan ) manusia cinta kepada apa-apa yang dihasratkan, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia.”

    Surat Amirul Mukminin Ali ibn Abu Thalib dan ayat diatas, jelas sekali menunjukkan begitu besarnya godaan dunia terhadap perjalanan seseorang dengan tujuan akhirat. Maka harus selalu ingat do’a dari Syekh Abu Abbas al-Mursi r.a. ” Ya Allah, tundukkan urusan rezeki ini untukku, jagalah aku dari keranjingan dan kepayahan dalam mencari rezeki. Juga lindungilah aku dari kesibukan hati memikirkan rezeki dan kecemasan hati padanya, dari menghinakan diri kepada makhluk demi rezeki, dari berpikir dan mengatur dalam menghasilkannya, dan dari kekikiran, kebakhilan setelah memperolehnya.”

    Dari do’a ini terdapat tiga periode penting yang pertama, saat Allah Swt belum memberinya rezeki. Kedua, kondisi setelah usaha membuahkan hasil dan ketiga, kondisi setelah selesai dengan urusan rezeki. Kondisi pertama, jika seseorang keranjingan mencari rezeki dan sampai meninggalkan kewajibannya maka bisa dikatakan ia telah kehilangan kepercayaan dan lemahnya keyakinan. Ingatlah jika jasmani yang mencari rezeki sudah dikuasai perasaan susah payah, maka dirinya akan dipalingkan dari menjalankan perintah Allah Swt. Ketenangan di hati dalam urusan rezeki hanya dengan bertawakal kepada-Nya. ” Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan ( keperluan )nya.” ( QS. ath-Thalaq ayat 3 ).

    Saat kondisi kedua setelah mendapatkan hasil, maka sadarilah bahwa rezeki itu atas pemberian-Nya, maka janganlah bersombong keberhasilan itu atas usahamu. Sedangkan setelah selesai dengan urusan rezeki, maka hindarilah menjadi bakhil/ kikir karena rezekimu itu ada bagian untuk orang lain. Jadi menumpuk harta kekayaan atas hasil yang dibolehkan pun tiada guna kalau hanya sekedar berlandaskan nafsu tanpa dibelanjakan seperti yang dituntun-Nya. Apalagi saat ini sebagian kalangan pada berlomba dengan memamerkan kekayaan dari hasil yang tidak diperbolehkan ( hasil suap dan lainnya ). Memang disadari bahwa kekuasaan itu cenderung yang memegangnya untuk berbuat korupsi. Lain halnya seorang beriman yang menggunakan kekuasaan sebagai wasilah untuk bekal akhirat. Semoga Allah Swt. selalu memberikan ampunan saat kita terlena dan segera menyesali untuk memperbaikinya serta membimbing untuk menjalankan kewajibannya.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hukum Menafkahi Kedua Orang Tua Bagi Anak yang Sudah Berkeluarga



    Jakarta

    Dalam agama Islam konsep nafkah dalam keluarga memiliki arti penting. Terdapat beberapa ayat al-Quran dan hadis Nabi yang menjelaskan tentang pentingnya bagi seorang anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, terutama saat orang tua tersebut sudah lanjut usia atau membutuhkan perawatan khusus.

    وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنّ بِالْمَعْرُوفِ
    “Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 33).

    Memberikan perawatan kepada orang tua bisa dalam bentuk fisik, emosional, finansial dan lainnya. Selain dijelaskan dalam ajaran Islam, al-Quran, hadist dan penjelasan ulama, undang-undang di Indonesia juga mengatur tentang kewajiban anak kepada orang tua.


    Imam Ar-Rofi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-‘Aziz syarh al-Wajiz, juz 10 halaman 3, menjelaskan; sebab-sebab wajib nafaqah ada tiga:

    1. Sebab pernikahan. Maka, suami atau bapak sebagai kepala rumah tangga berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Batasan bapak memberikan nafkah pada anaknya sampai anak masuk usia dewasa. Kadar nafkah yang wajib diberikan adakalanya bersifat pokok-pokok komoditi, seperti makanan, minuman, tempat tinggal dan kebutuhan pokok lainnya. Adapun layanan atau nafkah sifatnya kebutuhan tidak mendesak apalagi hanya bersifat aksesoris, orang tua boleh memberikan kebutuhan dan aksesoris tersebut, jika dipandang perlu dan bermanfaat untuk kepentingan anaknya.

    Imam Ar-Rofi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-‘Aziz syarh al-Wajiz, juz 10 halaman 3; menjelaskan sebab-sebab wajib nafaqah :
    1. Sebab pernikahan. Maka suami atau bapak sebagai kepala rumah tangga berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Batasan bapak memberikan nafkah pada anaknya sampai anak masuk usia dewasa.

    Kadar nafkah yang wajib diberikan adakalanya bersifat pokok-pokok komoditi, seperti makanan, minuman, tempat tinggal dan kebutuhan pokok lainya. Adapun layanan atau nafkah sifatnya kebutuhan tidak mendesak apalagi hanya bersifat aksesoris, orang tua boleh memberikannya jika dipandang perlu dan bermanfaat untuk kepentingan anaknya.

    Dalam konteks keindonesian, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Dalam Pasal 26 ayat (1) UU 35/2014 menjelaskan, bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:

    1. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;

    2. Menumbuh kembangkan
    anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya;

    3. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak; serta

    4. Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak.

    2. Budak yang dimilikinya. Maka bagi tuan atau pemilik budak berkewajiban memberikan nafkah kepada budaknya.

    3. Kerabat. Pada hubungan anak dan orang tua masuk pada kewajiban nafaqah. Artinya, orang tua yang tergolong fakir, sementara anaknya punya kemampuan lebih di luar kebutuhan dan kewajibannya, maka ia wajib hukumnya memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya.

    Anak yang mampu memenuhi kebutuhan orang tuanya, meskipun ia sendiri sudah punya tanggung jawab menafkahi istri dan anaknya, maka perbuatan tersebut termasuk contoh perbuatan bakti (ihsan) bagi seorang anak kepada orang tua, dan itu hukumnya wajib.

    Perintah berbakti kepada orang tua dijelaskan dalam al-Quran surah An-Nisa ayat 36,

    …وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…”

    Tentang pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua, dalam Surat lain disebutkan :

    وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَناً إِمَّا يَبْلغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَهُمَا فلا تقل لهما أَي وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

    “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”(QS. Al-Isra’ ayat 23).

    Batasan anak dapat membantu atau memenuhi kebutuhan kedua orang tua sesuai dengan batas kemampuan.

    لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah : 286)

    لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا

    “Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan”. (QS. At-Talaq: 7).

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan cara dalam urutan memberikan nafkah.

    عَنْ جَابِرٍ أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ

    “Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Mulailah (nafkah) dari dirimu, jika berlebih maka nafkah itu untuk ahlimu, jika berlebih maka nafkah berikutnya untuk kerabatmu, jika masih berlebih maka untuk orang-orang diantaramu, sebelah kananmu dan sebelah kirimu”. (HR. Muslim).

    Kewajiban anak membantu kedua orang tua sesuai kemampuannya disebutkan dalam Undang-Undang Perkawinan Pasal 46 :

    1. Anak wajib menghormati orang tua dan menaati kehendak mereka yang baik.

    2. Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas, bila mereka itu memerlukan bantuannya.

    Walhasil, dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan, bagi anak yang sudah berkeluarga, ia tetap punya kewajiban memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya jika anak tersebut tergolong mampu, dan kedua orang tuanya tergolong membutuhkan.
    Wallahu A’lamu.

    Abdul Muiz Ali
    Penulis adalah Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Pemimpin Tidak Boleh Lalai



    Jakarta

    Manusia adalah makhluk yang labil. Salah satu kelabilannya itu adalah sering lalai atau lupa. Lalai terhadap dirinya, terhadap orang lain, terhadap lingkungan, dan terhadap Tuhannya. Lalai pada Tuhannya ini tidak boleh terjadi karena lalai ini sama dengan tidak menjalankan perintah maupun menjauhi larangan-Nya. Dengan alasan apapun kelalaian yang tidak menjalankan kewajiban sebagai hamba-Nya adalah keburukan. Sebagaimana dalam firman-Nya surah al-Ma’un ayat 4-5 yang artinya, ”Sungguh kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yakni, mereka yang melalaikannya.”

    Makna ayat ini adalah Kehancuran, kehinaan dan siksa pada hari kiamat bagi orang-orang shalat yang munafik. Ibnu Mandzur dari Ibnu Abbas tentang firmanNya ( Fa Wailul lil musholliin )Dia berkata: “Ayat ini diturunkan untuk orang-orang munafik yang memamerkan shalat mereka kepada orang-orang mukmin saat ada mereka, meninggalkan shalat saat tidak ada mereka. Maka janganlah menjadi orang yang munafik, apalagi jika orang itu adalah pemimpin.

    Dalam firman-Nya pada surah al-A’raf ayat 179, ditegaskan bahwa Allah SWT. memperingatkan kepada manusia, bahwa mereka yang lalai akan dijadikan kayu bakar api neraka dan menjadikannya lebih sesat dari binatang. Adapun arti dari ayat di atas, “Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, Mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakannya untuk memahami ( ayat-ayat Allah SWT), dan mereka mempunyai mata ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk melihat ( tanda-tanda kekuasaan-Nya ), dan mereka mempunyai telinga ( tetapi ) tidak dipergunakannya untuk mendengar ( ayat-ayat-Nya ). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”


    Tafsir Al-Mukhtashar di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) pada ayat di atas sebagai berikut :
    Dan sungguh Kami telah menciptakan banyak manusia dan jin untuk mengisi Neraka Jahanam. Karena Kami mengetahui bahwa mereka akan melakukan apa yang dilakukan oleh para penghuni Neraka. Mereka mempunyai hati tetapi tidak mau menggunakannya untuk memahami apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya bagi mereka. Mereka mempunyai mata tetapi mereka tidak mau menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di di dalam diri mereka dan yang ada di alam semesta untuk dijadikan sebagai pelajaran. Dan mereka mempunyai telinga tetapi mereka tidak mau menggunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah kemudian merenungkan apa yang terkandung di dalamnya. Mereka itu seperti binatang ternak yang tidak mempunyai akal, bahkan mereka lebih sesat dari binatang ternak. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah SWT. dan hari Akhir.

    Kelalaian yang pertama menyebabkan seseorang menjadi munafik. Kedua, melalaikan atas anugerah berupa hati, mata dan telinga. Selanjutnya kelalaian melihat hakikat dan isi, Al-Qur’an juga mencela mereka yang lalai dan hanya memperhatikan kulit luar ilmu pengetahuan tanpa mau melihat lebih dalam ( hakikat ). Dalam firman-Nya pada surah ar-Rum ayat 6-7 yang artinya, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir ( saja ) dari kehidupan dunia sedangkan mereka tentang ( kehidupan ) akhirat lalai.” Oleh karena itu, janganlah kita mengikuti orang-orang yang hatinya telah lalai mengingat Tuhannya, mengikuti hawa nafsu sehingga melewati batas. Lalai tentang kehidupan akhirat, ini sangat buruk karena mereka lebih mementingkan kehidupan dunia yang fana.

    Agar kehidupan kita terhindar dari kelalaian, maka lakukanlah kewajiban terhadap hari-hari kita dengan mengisi ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Perbuatan ini tidak boleh ditunda karena kesempatan tersebut tidak mungkin akan kembali lagi untuk selamanya. Bagi orang beriman yang memperoleh amanah sebagai pemimpin, merupakan kesempatan emas dalam menjalankan fungsinya untuk kepentingan masyarakat luas. Maka segeralah karena perbuatan tersebut akan menjadi bekal akhiratnya. Dunia jangan dijadikan tujuan meski mempesona, tetapi jadikan sebagai wasilah untuk akhiratmu. Ingatlah do’a Amirul Mukminin Abu Bakar Ash-Shiddiq (r.a.),” Ya Allah, jangalah engkau membiarkan kami dalam kesengsaraan, dan janganlah Engkau menyiksa kami karena kelalaian, serta janganlah Engkau menjadikan kami termasuk golongan orang-orang yang lalai.”

    Penulis akhiri uraian ini dengan mengutip pesan dari sahabat Rasulullah SAW. yaitu Sahal bin Abdullah mengatakan, “Agar menjauhi pergaulan dengan tiga macam manusia : Orang yang manis tutur katanya atau ulama yang menipu, orang-orang sufi yang bodoh, dan orang-orang yang sombong lagi lalai.”
    Semoga Allah SWT. memberikan pemimpin pada negeri ini adalah pemimpin yang tidak lalai. Menjalankan kewajibannya dengan kegembiraan, tidak munafik, selalu mengingat akhirat dan bersyukur atas anugerah-Nya.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Sikap Nabi Muhammad dalam Berdakwah yang Bisa Diteladani


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW harus melewati tantangan dakwah yang sangat berat. Sejumlah kitab sirah dan tarikh menceritakan betapa sulitnya dakwah beliau dan bagaimana sikap Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah kala itu.

    Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir sepanjang zaman yang diberi mukjizat oleh Allah SWT berupa Al-Qur’an. Beliau ditugaskan Allah SWT untuk menyebarkan ajaran Islam yang terdapat dalam kitab suci tersebut agar menjadi pedoman hidup bagi seluruh manusia untuk memperoleh kehidupan akhirat yang baik.

    Sejak kecil, Nabi Muhammad SAW telah dijaga oleh Allah SWT baik kepribadiannya dan akhlaknya. Dikatakan dalam buku Nabi Muhammad SAW Menurut Numerologi dan Astrologi Cina yang ditulis oleh Muharram Hidayatullah, Nabi Muhammad SAW selalu berbicara dengan sopan dan sabar, beliau juga merupakan orang yang adil dan bijaksana, tidak pernah mementingkan diri sendiri, dan selalu mencurahkan waktunya untuk umatnya.


    Begitu pula sikap Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah.

    Sikap Nabi Muhammad dalam Berdakwah

    1. Sabar dan Pemaaf

    Nabi Muhammad SAW merupakan manusia paling sabar sepanjang masa. Beliau bahkan mau memaafkan kaumnya agar diampuni oleh Allah SWT bahkan ketika malaikat sudah siap untuk memberi mereka pelajaran dan tinggal menunggu aba-aba Rasulullah SAW saja.

    Cerita ini dikutip dari Hayatus Shahabah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi. Dalam hadits Al-Bukhari, suatu saat istri Nabi SAW pernah bertanya kepadanya hari yang lebih keras daripada saat Perang Uhud. Nabi SAW pun menjawab yaitu saat beliau menyeru kepada Ibnu Abdi Yalail bin Abdi Kalal, namun dirinya tidak memenuhinya.

    Nabi SAW pun pulang dengan keadaan pucat dan akhirnya pingsan. Bangun dari pingsannya, pandangannya tertuju pada awan yang melindunginya.

    Di atas awan itu, sudah ada Jibril yang sudah mendengar bahwa kaum Nabi Muhammad SAW menolaknya. Allah SWT juga sudah mengutus malaikat gunung yang siap menimpakan gunung untuk meluluhlantahkan tempat itu.

    Namun Nabi Muhammad SAW dengan sikap pemaafnya dan kesabarannya, menolak tawaran tersebut.

    Rasulullah SAW bersabda, “Aku justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”

    2. Lemah Lembut dalam Menyampaikan Dakwahnya

    Dikutip dalam buku Dakwah Humanis karya Ichsan Habibi, Nabi Muhammad SAW sebagai pendakwah agama Islam yang memiliki sikap lemah lembut dalam dakwahnya.

    Kelemahlembutan ini merupakan rahmat dari Allah SWT yang dilimpahkan pada Rasulullah SAW dan hamba-hamba-Nya. Seperti yang tertera dalam firman Allah SWT dalam surah Ali-Imran ayat 159, yang berbunyi,

    فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

    Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

    Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya, lemah lembut yang disebutkan dalam ayat di atas merupakan gambaran akhlak Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan pendapat Al-Hasan Al-Basri.

    3. Menyesuaikan Cara Bicara dengan Lawan Bicaranya

    Dalam buku Bintang Daud di Jazirah Arab (Relasi Politik Nabi Muhammad dengan Yahudi di Madinah) yang ditulis Khoirul Anwar, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki julukan sebagai al-Amin (yang bisa dipercaya).

    Ketika berkomunikasi, beliau akan menyesuaikan dengan lawan bicaranya. Masyarakat Arab terkadang bersikap moderat dan kadang bersikap keras ketika berkomunikasi dengan Nabi Muhammad SAW.

    Begitu juga sebaliknya, respons dari Rasulullah SAW juga menyesuaikan dengan masyarakat di sana yang kadang bersikap secara moderat dan terkadang keras.

    4. Tidak Pernah Memaksakan Kehendak

    Masih dalam sumber yang sama dikatakan, Nabi Muhammad SAW tidak pernah memaksakan kehendaknya atau ajarannya kepada siapa pun. Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang melegitimasi sikap Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah yang tidak memaksakan kehendak. Salah satunya dalam surah Yunus ayat 99 yang berbunyi,

    وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

    Artinya: “Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang di bumi seluruhnya beriman. Apakah engkau (Nabi Muhammad) akan memaksa manusia hingga mereka menjadi orang-orang mukmin?”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bersatu Menjemput Kemenangan



    Jakarta

    Jumlah umat Islam pada permulaan masa penyebarannya oleh Rasulullah SAW. saat di kota Mekah sampai hijrah di kota Madinah hingga dikeluarkannya Piagam Madinah sekitar 1.500 orang dari jumlah jumlah penduduk saat itu sekitar 10.000 orang. Saat itu umat Islam minoritas dan membentuk suatu negara Kota. Isi dan makna Piagam Madinah ini telah menjadi sumber konstitusi negara-negara saat ini seperti, tentang persamaan hak, kebersamaan, dan keadilan.

    Bagaimana dengan jumlah umat Islam saat ini ? Ada pendapat yang optimis bahwa jumlah yang besar itu kenikmatan, sedangkan pendapat yang pesimis bahwa jumlah besar itu beban. Dalam hal ini penulis berpendapat jumlah besar itu nikmat dari-Nya, sehingga kita semua berkewajiban untuk mewujudkannya dengan upaya/ikhtiar. Ingatlah dalam firman-Nya pada surah al-A’raf ayat 86 yang artinya, “Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu”.

    Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) : Janganlah kalian duduk di setiap jalan seraya mengancam setiap orang yang melaluinya untuk merampas harta bendanya. Dan janganlah kalian menghalang orang-orang yang hendak mengikuti agama Allah SWT. seraya membuat jalan-Nya menjadi bengkok (nampak sulit) agar tidak dilalui oleh manusia (yakni menghindar dari agama-Nya ). Dan ingatlah nikmat yang Allah SWT. berikan kepada kalian agar kalian bersyukur kepada-Nya. Karena dahulu jumlah kalian sedikit, kemudian Allah SWT. memperbanyak jumlah kalian. Dan perhatikanlah bagaimana nasib orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi sebelum kalian. Nasib mereka berakhir dengan kebinasaan dan kehancuran.


    Memang awal dari kebesaran bermula dari sedikit atau kecil, kemudian berkembang terus menerus menjadi besar. Mari kita simak secara ringkas sejarah Islam dakam periode klasik ( 650-1.250 M ). Dalam periode ini ada masa ekspansi dan keemasan yang dimulai dari Amirul Mukminin Abu Bakar yang dilanjutkan para pemimpin Islam hingga Bani Abbasiyah. Masa kemajuan ini telah diakui oleh para orientalis Barat seperti pendapat H.McNeill berkata, “Kebudayaan Kristen di Eropa pada tahun 600-1.000 M mengalami masa surut yang rendah. Pada abad ke XI, Eropa mulai sadar terhadap adanya peradaban Islam yang tinggi di dunia Timur. Melalui Spanyol, Sicilia, peradaban itu sedikit demi sedikit dibawa ke Eropa.”

    Gustave Lebon berkata, “Orang-orang Arablah yang menyebabkan kita mempunyai peradaban. Sebab, merekalah imam kita selama enam abad.” Dilanjutkan oleh Jacques C Rislar berujar, “Bahwa ilmu pengetahuan teknik Islam sangat mempengaruhi kebudayaan Barat.” Disambung oleh Romm Landayu menyatakan dari hasil penelitiannya, mengambil kesimpulan bahwa orang-orang Barat belajar berpikir serta objektif dan logis, sekaligus belajar lapang dada dari orang-orang Islam periode klasik.

    Bagaimana kondisi umat Islam saat ini? Semenjak terjadi kemunduran peradaban Islam dan dibarengi dengan terpecahnya negeri-negeri Islam menjadi banyak negara. Menurut hasil perdata mengenai perkembangan pemeluk agama Islam semakin bertambah menjadi 1,7 miliar umat menurut data tahun 2022. Dengan ini penganut agama Islam di dunia menjadi agama terbesar kedua setelah agama Kristen. Jumlah umat Islam mencapai 15% populasi dunia saat ini. Penganut agama Islam terbesar saat ini masih dipegang negara Indonesia. Islam adalah agama yang dominan di Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika Utara, Afrika Barat, dan beberapa bagian lain di Asia.

    Meskipun jumlah mencapai 1,7 Milyar dan terus berkembang sangat pesat khususnya di negara-negara maju, masih belum bersatu dan menempuh jalan berbeda-beda. Umat Islam masih buta atas cahaya Allah SWT. dan terpecah belah dalam kegelapan. Sebagian umat condong ke kanan dan yang lain menyimpang ke kiri. Sebagian jamaah cenderung ke timur dan sebagian lagi cenderung ke barat, sehingga lupa akan peringatan-Nya dalam surah al-An’am ayat 153 yang artinya, “Dan bahwa ( yang kami perintahkan ) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan ( yang lain ), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.”

    Jika umat Islam terus berlangsung dalam kondisi seperti ini, maka kita akan tetap tercerai-berai. Maka perpecahan akan menjadikan jumlah 1,7 Milyar tidak memberikan arti, bila bersatu maka muncullah kekuatan yang dahsyat di bidang ekonomi, politik dan sosial dan budaya serta otomatis akan memberikan sumbangan pada peradaban dunia.

    Satu contoh saja, bersatu dalam bidang ekonomi. Setiap pengusaha di negeri Muslim akan menjalin hubungan dagang dengan saudaranya di negeri Muslim yang lain. Kebutuhan dan produksi masing-masing negeri tidak lain untuk saling melengkapi dan memenuhi jika ada saudaranya yang kekurangan. Jika produksi dalam skala besar tentu akan menghadirkan tingkat efisiensi yang tinggi dan permintaan atas barang dalam skala besar akan memperoleh harga yang reasonable. Inilah sebenarnya sudah diberikan tuntunan dalam Ukhuwah Islamiyah ( adalah gambaran tentang hubungan antara orang-orang Islam sebagai satu persaudaraan, dimana antara yang satu dengan yang lain seakan akan berada dalam satu ikatan ).

    Maka umat Islam dalam rangka menjemput kemenangan hendaknya bersatu pada jalan-Nya seperti surah di atas ( al-An’am ayat 153 ). Negeri ini mempunyai dua organisasi kemasyarakatan Islam terbesar yaitu NU dan Muhammadiyah dan beberapa yang lain. Semoga Allah SWT. memberikan jalan-Nya untuk mempersatukan.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Pengertian Dakwah dalam Islam, Kenali Makna dan Tujuannya



    Yogyakarta

    Dakwah memiliki arti yang mendalam dan tujuan yang mulia. Dalam Islam, dakwah memiliki peran yang sangat penting sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan agama dan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat.

    Memahami arti, makna dan tujuan dakwah adalah langkah awal dalam menjalankan tanggung jawab sebagai seorang muslim yang berkontribusi dalam menyebarkan kebenaran.

    Pengertian dan Makna Dakwah

    Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. dalam bukunya Ilmu Dakwah Edisi Revisi menjelaskan dakwah sebagai proses dari penyampaian ajaran Islam. Hal tersebut sebagaimana hadits Rasulullah SAW.


    Abu Said al-Khudri r.a menuturkan, “Ada seorang perempuan datang kepada Rasulullah SAW seraya memprotes, ‘Wahai Rasulullah, banyak orang laki-laki membawa hadits engkau. Jadikanlah kami sebagai pengikut engkau yang suatu hari datang kepadamu untuk mempelajari apa yaang telah diajarkan Allah SWT kepadamu.’ Rasulullah SAW menanggapinya, ‘Berkumpullah kalian di hari begini di tempat begini.’ Kemudian kaum perempuan berkumpul dan mendatangi Rasulullah SAW. Lalu beliau mengajarkan merek mengenai apa yang telah diajarkan oleh Allah SWT. Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, ‘Tak seorang perempuan pun di antara kalian yang menimang anaknya selama tiga kali kecuali ia diberi tabir yang menjauhkannya dari api neraka.’ Seorang perempuan dari mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika hanya dua kali?’ Pertanyaan ini diulang sampai dua kali. ‘Meskipun dua kali, meskipun dua kali, meskipun dua kali’ jawab Rasulullah SAW (HR Bukhari.)

    Hadits ini mengajarkan tiga hal yakni kesetaraan gender dalam dakwah, kewajiban berdakwah dan pesan dakwah sesuai dengan keadaan penerima dakwah.

    Dakwah bukan hanya kewenangan ulama atau tokoh agama. Setiap muslim bisa melakukan dakwah karena dakwah bukan hanya ceramah agama.

    Dakwah memiliki makna yang beragam berdasarkan perbedaan para penulis dalam menentukan pengertian dakwah.

    Dikutip dari buku Fiqih Dakwah karya Jum’ah Amin Abdul ‘Aziz, bahwa dakwah adalah risalah terakhir yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai wahyu-Nya dalam bentuk kitab yang tidak ada kebatilan di dalamnya dan yang membacanya bernilai ibadah.

    Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. dalam bukunya Ilmu Dakwah Edisi Revisi mengatakan bahwa terdapat sepuluh makna dakwah dalam Al-Qur’an, tiga diantaranya yaitu:

    – Dalam surat al-Baqarah ayat 221, dakwah bermakna untuk mengajak dan menyeru, baik kepada kebaikan maupun kemusyrikan, kepada jalan ke surga atau neraka.
    – Dalam surat Ali Imran ayat 38, dakwah bermakna doa
    – Dalam surat ar-Ruum ayat 30, dakwah bermakna memanggil atau panggilan.

    Masih mengutip dari sumber buku yang sama, bahwa para ahli mendefinisikan dakwah sebagai berikut:

    Syekh Muhammad al-Rawi (1972: 12), dakwah adalah pedoman hidup yang sempurna untuk manusia beserta ketetapan hak dan kewajibannya.

    ‘Abd al-Karim Zaidan (1976: 5), dakwah adalah mengajak kepada agama Allah SWT, yaitu Islam.

    Muhammad Abu al-Fath al-Bayanuni (1993: 17), dakwah adalah menyampaikan dan mengajarkan agama Islam kepada seluruh manusia dan mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.

    Hukum Dakwah

    Para ulama memiliki perbedaan pendapat dengan argumentasi berdasarkan dalil mengenai hukum dakwah.

    Dikutip dari buku Pengantar Studi Ilmu Dakwah karya Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni bahwa beberapa ulama menyatakan hukum dakwah adalah wajib ‘ain dengan pedoman beberapa dalil seperti dalam surat Ali Imran ayat 104, surat Ali Imran ayat 110, dan beberapa hadits.

    Sedangkan para ulama yang menyatakan bahwa hukum dakwah adalah wajib kifayah memiliki pedoman dalil seperti dalam surat Ali Imran ayat 110 dan At-Taubah ayat 122.

    Tujuan Dakwah

    Mengutip buku Gagasan Dakwah: Pendekatan Komunikasi Antarbudaya karya Abdul Wahid, bahwa terdapat banyak pandangan para ahli yang mengemukakan tentang tujuan dakwah, diantaranya yaitu,

    • Menyelesaikan problematika umat
    • Membentuk masyarakat islami
    • Mendorong masyarakat untuk mengikuti petunjuk yang diketahui kebenarannya, melarang perbuatan yang buruk agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
    • Memperkenalkan dan memberi pemahaman mengenai hakikat Islam.
    • Menjaga umat agar selalu memegang nilai-nilai kemanusiaan yang berbasis Al-Qur’an dan sunnah.

    Kesimpulan dari beberapa tujuan tersebut adalah bahwa dakwah memiliki tujuan untuk memberikan pedoman kepada manusia sesuai dengan ajaran Islam agar memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Yunus bin Ubaid



    Jakarta

    Salam bin Muthi’ berkata, “Yunus bukanlah yang paling banyak shalat dan puasa diantara mereka. Tapi, demi Allah, setiap kali ada hak Allah ia segera memenuhinya.” Ia seorang imam panutan, warak dan zahid. Ia sempat bertemu dengan Anas bin Malik r.a. (sahabat Rasulullah SAW.) dan ia meriwayatkan hadis dari al-Hasan, Ibn Sirih, ‘Atha, Ikrimah dan sebagainya. Banyak perawi hadis yang meriwayatkan hadis dari dirinya. Ia wafat pada tahun 140 H.

    Yunus bin Ubaid adalah seorang pedagang sutera yang mempunyai kios di pasar kota Basrah dan terkenal karena sifat amanahnya. Saat ia berada di kiosnya seorang wanita datang ingin menjual jubah suteranya.

    “Berapa kau akan jual?” tanya Yunus.


    “Lima ratus dirham,” jawabnya.

    “Jubah ini lebih bagus dari harga segitu.”

    “Kalau begitu, enam ratus dirham.”

    “Masih lebih bagus dari harga segitu.”

    Yunus tak henti-hentinya berkata begitu dan akhirnya sepakat dibeli dengan harga seribu dirham.

    Tidak lama kemudian seorang lelaki asal Syria yang masih asing di kota Basrah, ia ingin membeli baju sutera seharga 400 dirham. Saat di kios Yunus ia bertanya pada baju yang ia tunjuk berapa harganya. Yunus menjawab, “Dua ratus dirham.”

    Karena adzan berkumandang maka Yunus menuju Masjid untuk mengimami shalat. Saat kembali ke kios ia kaget karena baju tadi sudah terjual dengan harga 400 dirham oleh keponakan perempuannya.

    Kemudian Yunus mendatangi pembeli dengan berkata, “Wahai hamba Allah, baju sutera ini harganya dua ratus dirham. Bila engkau mau silakan ambil bajunya dan ambil kembaliannya dua ratus dirham. Atau jika tidak jadi beli, tinggalkan bajunya dan semua uang kembali?

    Lelaki Syria itu bertanya, “Anda siapa?”

    “Saya seorang Muslim,” jawab Yunus.

    “Aku benar-benar bertanya kepadamu, atas nama Allah, siapa kamu dan siapa namamu?”

    Maka dijawablah, “Yunus bin Ubaid.”

    Lelaki itu berkata,”Demi Allah, kami pernah bertempur melawan musuh. Ketika dalam situasi gawat, kami berdo’a, ‘Ya Allah, Tuhan pemilik dan pengasuh Yunus bin Ubaid, selamatkanlah kami.’ Maka, Allah memenangkan kami.”

    Amanah adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan dan menjadi landasan utama bagi seorang pemimpin. Sebagaimana dalam firman-Nya surah al-Anfal ayat 27 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

    Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram : Wahai orang-orang yang percaya kepada Allah SWT. dan mengikuti rasul-Nya, janganlah kalian berkhianat kepada Allah SWT. dan rasul-Nya dengan mengabaikan perintah-perintah-Nya dan melanggar larangan-larangan-Nya. Dan janganlah kalian mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada kalian, seperti hutang dan lain-lain, sedangkan kalian tahu bahwa apa yang kalian lakukan adalah pengkhianatan, sehingga kalian termasuk ke dalam golongan para pengkhianat.

    Mari kita simak saat Yunus kedatangan seorang wanita yang ingin menjual jubah suteranya. Ketika wanita yang tidak mengetahui harga pasaran meminta harga 500 dirham, namun karena terlalu murah maka dibelilah oleh Yunus sesuai harga pasaran sebesar 1.000 dirham. Disini kejujuran dan keteguhan bersandar pada-Nya dan yakin bahwa rezeki dari Allah SWT. Kemudian seseorang dari Syria membeli baju di kiosnya, keponakan perempuannya menjual dengan harga lebih tinggi dari harga yang Yunus tetapkan. Maka Yunus mendatangi dan memberikan pengembaliannya. Ia tidak memanfaatkan kekurangan informasi dari penjual wanita dan pembeli lelaki dari Syria. Ia berdagang dengan mencontoh junjungannya yaitu Rasulullah SAW.

    Inti dari ayat tersebut di atas adalah:

    1. Larangan Berkhianat

    Allah SWT. memerintahkan larangan untuk tidak berkhianat terutama terhadap Allah SWT. dan Rasul-Nya.
    Dalam ayat tersebut Allah SWT. mengawali dengan kalimat yang ditujukan kepada orang-orang beriman. Larangan untuk tidak mengabaikan perintah-perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-larangan-Nya.

    2. Menunaikkan Amanah

    Allah SWT. memerintahkan kepada orang beriman yaitu orang-orang percaya kepada-Nya dan ajaran yang dibawakan oleh Rasul-Nya untuk menjalankan amanah.
    Menunaikan amanah yang telah Allah SWT. perintahan dengan mengerjakan apa yang disyariatkan oleh Islam dan menjauhi larangan-Nya. Perkara menunaikan amanah adalah kewajiban dan tentu balasannya pahala dari-Nya.

    Yunus bin Ubaid adalah sosok tidak berkhianat dan memegang teguh apa yang diamanahkan padanya, yang paling penting adalah ia menyegerakan hak-hak Allah SWT. Jika menemukan sosok calon pemimpin yang mendekati prilaku seperti Yunus bin Ubaid, maka pilihlah ia untuk menjadi pemimpin dan berikan kepercayaan agar menjalankan amanahnya. Semoga Allah SWT. memberikan cahaya-Nya dan menurunkan seorang pemimpin yang membawa keadilan pada negeri tercinta ini.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com