Tag: hikmah

  • Tata Cara Sujud Sahwi dan Sebab-sebab Pelaksanaannya


    Jakarta

    Sujud sahwi biasa dilakukan ketika seorang muslim lupa jumlah bilangan rakaat dalam salat. Dalil pelaksanaan sujud sahwi tercantum pada sebuah hadits Nabi SAW yang berbunyi,

    “Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku lupa seperti halnya kalian lupa. Bila salah satu dari kalian lupa, hendaklah sujud dua kali.” (HR Muslim)

    Menukil buku Fikih Empat Madzhab Jilid 2 susunan Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, kata sahwi sama dengan kata an-nisyanu yang artinya lupa. Adapun, definisi sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan sebanyak dua kali ketika seseorang lupa atau meninggalkan salah satu rukun dan kewajiban salat.


    Tata Cara Sujud Sahwi

    Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi melalui buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa sujud sahwi dilakukan sebanyak 2 kali, seperti sujud pada akhir salat sebelum salam.

    Sebagaimana sabda Nabi SAW dari Abu Sa’id Al-Khudri:

    “Jika salah seorang dari kalian bimbang dalam salat dan tidak tahu apakah sudah salat tiga atau empat rakaat, maka buanglah keraguan tersebut dan ambillah yang diyakini. Kemudian, pada akhir salat, lakukan dua sujud sahwi sebelum salam. Jika ternyata salatnya lima rakaat, sujud sahwi itu akan melengkapi salatnya. Namun, jika salatnya sudah empat rakaat, sujud sahwi tersebut membuat setan marah.” (HR Muslim & Ahmad)

    Disebutkan dalam buku Panduan Muslim Sehari-hari susunan KH. M. Hamdan Rasyid & Saiful Hadi El-Sutha, tidak ada riwayat yang jelas tentang bacaan yang dilafalkan saat sujud sahwi. Namun, para ulama fikih sepakat bahwa ada doa khusus yang bisa dibaca saat melaksanakan sujud sahwi agar tidak ada kekosongan dalam sujud yang dilakukan dan tetap bisa khusyuk.

    Berikut bacaan yang dapat dipanjatkan ketika melakukan sujud sahwi,

    سُبْحَانَ مَنْ لَأَيَنَامُ وَلَا يَسْهُو

    Arab latin: Subhaana man laa yanaamu wa laa yashuu.

    Artinya: “Mahasuci Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa.”

    Sebab Pelaksanaan Sujud Sahwi

    Mengutip buku Pendidikan Agama Islam: Fikih untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII tulisan Zainal Muttaqin MA, setidaknya ada 6 perkara yang menyebabkan pengerjaan sujud sahwi, antara lain ialah:

    1. Tidak duduk tasyahud awal
    2. Tidak membaca tasyahud awal
    3. Tidak membaca doa qunut pada salat Subuh
    4. Tidak membaca sholawat pada tasyahud awal
    5. Kekurangan atau kelebihan bilangan rakaat
    6. Ragu-ragu bilangan rakaat dalam salat

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Apa Substansi dan Strategi Dakwah Rasulullah SAW di Makkah?


    Jakarta

    Rasulullah SAW berdakwah di tengah-tengah masyarakat Makkah yang penuh dengan kemaksiatan dan kesesatan. Tak jarang pula beliau mendapat ancaman pembunuhan. Lalu apa substansi dan strategi dakwah Rasulullah SAW?

    Pada dasarnya, substansi atau isi dan strategi dakwah Rasulullah SAW ketika diutus Allah SWT bertujuan untuk menolong umat manusia agar kembali ke jalan yang benar. Untuk itu, diperlukan strategi dakwah yang tepat agar substansi dakwah tersebut tersampaikan.

    Substansi Dakwah Rasulullah SAW di Makkah

    Dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam Kelas X oleh Bachrul Ilmy, Rasulullah SAW diutus Allah SWT untuk meluruskan dan mengajak masyarakat Makkah yang saat itu dipenuhi dengan kemaksiatan dan kejahatan yang keji ke jalan yang benar.


    Masyarakat Makkah kala itu gemar untuk melakukan pesta pora sambil menyembah berhala yang berada di dekat Ka’bah. Mereka memuja Hubal si dewa laki-laki yang paling ditakuti, serta Lata, Uzza, dan Manatta sebagai dewa perempuan yang disenangi.

    Kekejaman masyarakat Makkah kala itu adalah mereka gemar mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka. Maka peperangan antar suku, perampokan, atau perampasan harta benda bukanlah hal yang tidak asing bagi mereka.

    Allah SWT mengutus Rasulullah SAW untuk berdakwah dan membawa kebenaran serta cahaya dari gelapnya Makkah kala itu dengan agama Islam dengan substansi dakwah Rasulullah SAW sebagai berikut:

    1. Memurnikan Akidah

    Dakwah Nabi SAW kepada masyarakat Arab kala itu bertujuan untuk memurnikan akidah, yaitu ajaran Nabi Ibrahim AS yang telah diselewengkan oleh mereka. Beliau menumpaskan penyembahan berhala serta mengajak kembali kepada ketauhidan.

    Akhirnya setelah kurang lebih berdakwah selama 23 tahun, Nabi SAW bisa menaklukkan kembali kota Makkah dan menghancurkan berhala dengan gerakan “Fathu Makkah” atau “Penaklukan Kota Makkah.”

    2. Menambah Kemuliaan Akhlak

    Substansi dakwah Rasulullah SAW yang kedua adalah untuk menanamkan kemuliaan akhlak. Artinya, beliau datang untuk memperbaiki serta menyempurnakan akhlak masyarakat Arab dan manusia seluruhnya saat itu hingga sekarang.

    Beliau memperbaiki moral mereka yang rusak yang bahkan tega mengubur hidup-hidup anak perempuan yang lahir di antara mereka lantaran malu kalau mereka tidak bisa berperang.

    3. Membebaskan Kaum yang Tertindas

    Penguasa Arab saat itu gemar untuk menindas orang-orang lemah dan yang mereka anggap rendah derajatnya. Bahkan mereka diperjualbelikan layaknya benda. Sehingga Rasulullah SAW datang untuk membebaskan tirani dan penindasan terhadap budak dan orang-orang lemah tersebut.

    4. Membangun Kebudayaan yang Beradab

    Rasulullah SAW juga diutus untuk membangun budaya yang lebih beradab dan lebih baik, yaitu budaya yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman yang mulia.

    Strategi Dakwah Rasulullah SAW di Makkah

    Setelah Rasulullah SAW mendapatkan wahyu pertamanya, Allah SWT memerintahkan beliau untuk berdakwah untuk memperbaiki moral dan akidah masyarakat Arab, khususnya Makkah.

    Awalnya Nabi Muhammad SAW hanya berdakwah kepada orang-orang terdekat sehingga kala itu pengikutnya hanya sedikit. Namun, semakin lama semakin bertambah pengikut beliau yang mana hal itu membuat para kafir dan pembesar Arab geram sampai ingin membunuh beliau. Untuk itu, ada dua strategi dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW:

    1. Dakwah Sembunyi-sembunyi

    Pada awal periode dakwah Rasulullah SAW, beliau belum memiliki banyak pengikut. Setelah menerima wahyu pertama, beliau belum berdakwah kepada banyak orang melainkan hanya keluarga dan kerabat dekat.

    Pada wahyu yang kedua, barulah Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk menyampaikan pada umatnya dan masyarakat Arab yang penuh kemusyrikan. Wahyu yang kedua adalah Al-Qur’an surah Al-Muddassir ayat 1-7 yang bunyinya,

    يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ -١

    1. Wahai orang yang berkemul (berselimut)!

    قُمْ فَاَنْذِرْۖ – ٢

    2. bangunlah, lalu berilah peringatan!

    وَرَبَّكَ فَكَبِّرْۖ – ٣

    3. dan agungkanlah Tuhanmu,

    وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْۖ – ٤

    4. dan bersihkanlah pakaianmu,

    وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْۖ – ٥

    5. dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji,

    وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ – ٦

    6. dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.

    وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ – ٧

    7. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.

    Setelah perintah ini turun, barulah Rasulullah SAW melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi kepada umatnya. Dakwah ini dilakukan selama tiga tahun lamanya dan disertai dengan banyak cobaan dan cercaan dari banyak orang.

    2. Dakwah Terang-terangan

    Dakwah secara terang-terangan dilakukan Rasulullah SAW setelah pengikutnya semakin banyak. Allah SWT memerintahkan beliau untuk berdakwah secara terang-terangan melalui sabdanya Al-Qur’an surah Al-Hijr ayat 94 yang bunyinya,

    فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

    Artinya: Maka, sampaikanlah (Nabi Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.

    Setelah mendapat wahyu tersebut, Rasulullah SAW mulai menerangkan ajaran Islam secara terang-terangan. Menurut buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh H. Fida’ Abdilah, dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan memperoleh banyak kecaman dan reaksi buruk dari para pembesar Quraisy.

    Bahkan paman Nabi SAW sendiri juga menentang ajaran yang dibawa oleh keponakannya itu. Kisahnya tersebut bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-Lahab.

    Namun, para muslimin saat itu tidak pernah gentar maupun takut dengan segala ancaman dan sikap jahat dari pembesar Quraisy. Keberanian mereka bahkan semakin besar setelah Umar bin Khattab, sang penentang dakwah Nabi SAW, mengakui keislamannya.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Pujian



    Jakarta

    Seseorang yang menerima pujian itu terasa nikmat di hati, hal ini sangat manusiawi. Kadang sebagian orang berharap pujian dengan melakukan sesuatu. Pujian bisa datang karena jabatan, harta, kepandaian, sikap kedermawanan dan lain sebagainya. Namun ingatlah pujian itu tidak akan membawa perubahan pada dirimu (tidak menambah manfaat).

    Jadi perintah Rasulullah SAW. untuk menaburkan debu di wajah orang yang memberikan pujian kepada kita merupakan petunjuk bahwa kita tidak boleh merasa senang dengan pujian dari orang lain, sekaligus hal ini dipercaya merupakan larangan memberikan pujian kepada orang lain di hadapannya. Ingatlah bahwa Al-hamdu artinya pujian, karena kebaikan yang diberikan oleh yang dipuji, atau karena suatu sifat keutamaan yang dimilikinya. Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari Allah SWT. sebab Dialah yang menjadi sumber bagi semua nikmat.

    Mari kita simak senandung syair ini:


    Tiadalah perlu perhatikan pujian manusia akan ketaatannya, kebaikannya, kesuksesannya.

    Juga tiada perlu perhatikan celaan mereka atas kemaksiatannya kepada Tuhan.

    Kosongkan hati dari semua itu.

    Jadikan orang yang tahu tentang dirinya sama seperti orang yang tidak tahu tentang dirinya.

    Pujian berasa manis dan celaan berasa pahit. Jadikan keduanya hingga tiada berasa sama sekali.

    Sebagian kalangan berharap pujian, dengan hartanya, jabatannya dan lainnya. Kesenangan hati itu palsu karena fana dan atas kehendak-Nya ia bisa dihinakan.

    Pujian dan celaan manusia, tidak bisa menjadikan manfaat dan mudharat bagi seseorang. Jadi tak hiraukan keduanya itu lebih cerdas.

    Jelas bahwa sebaiknya sikap orang beriman adalah tidaklah perlu memperhatikan pujian manusia atas ketaatannya (kesuksesannya), juga tidak perlu memperhatikan celaan mereka atas kemaksiatannya kepada Tuhan. Oleh sebab itu, dengan mengosongkan diri dari pujian orang yang mengenalnya dan mengosongkan diri dari ketidaksukaan atas celaan mereka merupakan sikap taat pada perintah Rasul-Nya.

    Apa yang harus kita ucapkan saat seseorang memuji kita ? Maka katakan, “Alhamdulillah alladzi azharal jamila wa sataral qabiha. Artinya: Segala puji bagi Allah SWT, Dzat yang menampakkan kebagusan dan menutup kejelekan.” Saat kita memuji seseorang dengan berucap, “Masya Allah,” artinya adalah “Inilah yang dikehendaki Allah SWT,” dan tujuan pengucapannya adalah untuk memuji kebesaran atas ciptaan Allah SWT. Sedangkan arti tabarakallah lebih kepada ungkapan kekaguman yang merujuk pada makhluk ciptaan-Nya.

    Dalam Islam diperbolehkan seorang muslim memberikan sebuah pujian kepada orang lain. Memberikan pujian dapat dikatakan sebagai hal baik, jika pujian tersebut memang ditujukan dalam memuji kebaikan orang lain, yang memang ada pada dirinya.

    Namun jika memberikan pujian yang tidak benar-benar diperbuat, maka hal inilah yang dilarang. Seperti firman Allah SWT dalam surah ali-Imran ayat 188 yang artinya, “Janganlah sekali-kali kamu, menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”

    Maka hindarilah perilaku sombong menurut islam, yang diakibatkan oleh pujian secara berlebihan akan menjadikan seseorang takabur dan menghilangkan amalan saleh. Sebagian orang bersikap seperti ini, dan adakalanya justru ia menampakkan kesombongannya dengan berpamer pada harta maupun jabatannya.

    Kecongkakan karena merasa mempunyai jabatan tinggi itu menjadikan ia memandang rendah koleganya. Ia lupa seakan makamnya itu kekal abadi, padahal fana yang setiap desahan nafas bisa dirubah oleh Sang Pencipta. Ujian paling berat dalam hal pujian ini ada pada golongan orang berharta dan orang berkedudukan tinggi. Oleh karena itu jika engkau dicela (tidak perlu marah) dan dipuji (tidak perlu berbangga diri) itu sama saja, sebab pujian dan celaan tidak dapat mendatangkan kebaikan dan tidak dapat mendatangkan kerugian.

    Ingatlah nasihat Imam Ghazali ada beberapa bahaya tentang pujian. Pertama, yang akan diterima orang yang memuji adalah kadang kala ia berlebihan dalam memuji hingga berujung pada dusta. Kedua, bisa jadi pujian itu mengandung riya. Ketiga, mungkin saja ia mengatakan apa yang belum ia pastikan, sampai-sampai berdusta, dan membersihkan orang yang tidak dibersihkan Allah SWT adalah bentuk kehancuran.

    Keempat, bisa jadi ia membuat senang orang yang dipuji, padahal ia memuji orang yang zalim atau fasik. Sikap ini tidak diperbolehkan karena Allah SWT akan murka manakala orang fasik dipuji. Sedangkan dua bahaya bagi yang menerima pujian. Pertama, yaitu karena pujian itu akan melahirkan sikap ujub dan takabur. Keduanya adalah sikap yang merusak.

    Kedua, jika ia dipuji dengan kebaikan, ia akan merasa senang, lalu terlena dan rida terhadap dirinya. Pada akhirnya, ia tak lagi giat dalam urusan akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. ketika mendengar seseorang dipuji, “Engkau telah memenggal leher kawanmu.”

    Untuk itu hindarilah wahai para pemimpin muslim, puja-puji dalam agenda-agenda kegiatan maupun rapat-rapat kedinasan kecuali pujian yang diajarkan Islam. Semoga Allah SWT. selalu memberikan hidayah bagi kita semua khususnya para pemimpin agar terhindar dari bahaya pujian.

    ———-

    *) Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Penyebab Kota Pesisir Berperan Penting dalam Penyebaran Islam


    Jakarta

    Islam diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-7 melalui jalur perdagangan maritim, menurut teori Maritim N.A. Baloch. Kota pesisir memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam.

    Lokasi mereka yang sangat strategis di tepi laut, kota-kota pesisir menjadi pusat segala aktivitas. Para pedagang muslim dari berbagai negara datang ke kota-kota pesisir di berbagai benua untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam.

    Teori Masuknya Islam Lewat Perdagangan Maritim

    Masuknya Islam ke Nusantara lewat perdagangan maritim atau yang kemudian dikenal sebagai teori Maritim dikenalkan oleh sejarawan Pakistan bernama N.A. Baloch. Menurut buku Api Sejarah yang ditulis oleh Ahmad Mansur Suryanegara, teori ini menyebut bahwa masuk dan berkembangnya Islam ke Nusantara akibat umat Islam memiliki navigator atau mualim dan wirausaha yang menguasai maritim dan pasar.


    Aktivitas tersebut kemudian membawa Islam ke sepanjang jalan laut perdagangan di pantai-pantai yang menjadi tempat persinggahan pada abad ke-1 H atau abad ke-7 M.

    N.A. Baloch dalam The Advent of Islam in Indonesia mengatakan, hal tersebut menjadi langkah awal dalam sejarah pengenalan Islam di pantai-pantai Nusantara hingga China Utara yang dibawa oleh wirausahawan Arab.

    Proses penyebaran Islam lewat jalur perdagangan maritim menurut teori ini berlangsung selama lima abad, yakni abad pertama hingga 5 H atau abad 7-12 M.

    Peranan Kota Pesisir dalam Penyebaran Islam

    Kota pesisir memegang peranan penting dalam penyebaran Islam. Berikut di antaranya.

    1. Jadi Akses Rute Perdagangan Internasional

    Menurut artikel berjudul Peranan Pesisir dalam Proses Islamisasi di Nusantara karya Andriyanto dan Muslikh yang dipublikasikan dalam Journal of History Education and Culture Vol. 1 No.1 edisi Juni 2019, kota pesisir memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam karena menjadi akses ke rute perdagangan internasional.

    Selain itu, pesisir juga berperan dalam memberikan fasilitas pelabuhan-pelabuhan yang aman. Sumber daya alam juga tersedia di wilayah tersebut.

    2. Tempatnya Strategis untuk Berdakwah

    Banyak pedagang dari negara-negara muslim singgah untuk berdagang dan menyebarkan Islam. Sehingga, kota pesisir menjadi tempat yang strategis untuk berdakwah.

    Merangkum dari buku Penyebaran Islam Nusantara terbitan NUSWANTARA bahwa para pedagang muslim ini menemukan kesempatan dengan berdakwah dan menyemaikan benih-benih Islam. Mereka juga membangun masjid dan sarana pendidikan Islam serta mengajak penduduk setempat untuk mengikuti dan belajar tentang syariat Islam.

    3. Mudah Dijangkau Para Ulama dan Mubaligh

    Para ulama dari berbagai negara memiliki kemudahan untuk memberikan ceramah, pengajian, dan fatwa tentang Islam karena kota pesisir menjadi tempat berlabuhnya pendatang. Mereka juga dapat membantu para pedagang Muslim dalam menyebarkan Islam dengan cara yang lebih strategis dan terorganisir.

    4. Memiliki Potensi Ekonomi Besar

    Para pedagang muslim yang singgah tersebut mendapatkan keuntungan dari perdagangan dengan negara-negara lain. Mereka juga dapat membantu penduduk setempat dalam meningkatkan kesejahteraan mereka dengan cara memberikan pinjaman, bantuan, atau pekerjaan. Dengan demikian, mereka dapat menarik simpati dan kepercayaan penduduk setempat untuk memeluk Islam.

    5. Jadi Tempat Pertemuan Berbagai Budaya dan Agama

    Para pedagang muslim tersebut berinteraksi dengan penduduk setempat dan saling bertukar informasi termasuk tentang agama Islam. Mereka juga dapat menunjukkan akhlak dan perilaku yang baik sebagai contoh bagi penduduk setempat.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Contoh Khutbah Jumat Jelang Bulan Maulid atau Rabiul Awal


    Jakarta

    Khutbah Jumat bulan maulid adalah khutbah Jumat yang dilaksanakan di bulan maulid, yakni bulan Rabiul Awal. Jumat ini bertepatan dengan hari-hari terakhir bulan Safar menuju bulan Rabiul Awal atau bulan kelahiran Rasulullah SAW yang juga dikenal dengan maulid nabi.

    Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling mulia di seluruh dunia. Sebagai muslim yang baik, hendaknya kita selalu mengingat dan mengikuti ajaran serta sunah-sunah yang telah diajarkannya.

    Salah satu cara untuk selalu menyertakan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan ini adalah dengan mengingat-ingat ajaran dan kisahnya saat menyampaikan khutbah Jumat. Oleh karena itu, muslim bisa mengisi khutbah Jumat dengan khotbah-khotbah yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu bentuk kecintaan kita kepada beliau.


    Berikut salah satu contoh khutbah Jumat bulan maulid yang diambil dari buku Khutbah Zaynul Atqiya’: Mimbar Dakwah LIM Lirboyo Kediri oleh Tim Kajian Ilmiah Lembaga Ittihadul Muballighin Ponpes Lirboyo. Khutbah Jumat ini bertajuk Menanamkan Rasa Cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

    Contoh Teks Khutbah Jumat Jelang Bulan Maulid

    الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَأَرْسَلَ عَلَيْنَا نَبِيَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَهْدِيَنَا بِهِدَايَتِهِ إِلى الدَّارِ السَّلَامِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِينُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي جَمَعَ اللَّهُ فِيْهِ الصِّفَاتِ الْكَامِلِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

    Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan selalu mengamalkan syariat yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad SAW.

    Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

    Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid. Bulan dilahirkannya insan yang paling mulia, pemimpin seluruh umat manusia yaitu Nabi Muhammad SAW.

    Beliau merupakan utusan yang membawa kabar gembira dari Allah SWT untuk mereka yang mau beriman dan taat beragama, juga membawa kabar menakutkan untuk mereka yang angkuh dan tidak mau patuh kepada Allah SWT.

    Allah SWT berfirman:

    إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا منيرًا، وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللهِ فَضْلًا كَبِيرًا (الأحزاب: ٤٥- εV)

    Artinya: “Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan untuk menjadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi. Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin, sesungguhnya Allah memberikan mereka karunia yang begitu besar.” (QS Al-Ahzab: 45-47)

    Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

    Pada bulan Maulid ini marilah kita tingkatkan rasa cinta kepada nabi Muhammad SAW dengan harapan semoga dengan rasa cinta itu kelak di akhirat kita dikumpulkan dengan beliau.

    Hal ini bukanlah hal yang tidak mungkin karena nabi Muhammad SAW bersabda:

    الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ. (رواه ابن مسعود)

    Artinya: “Seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang ia cintai.” (HR Ibnu Mas’ud RA)

    Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

    Cinta kepada nabi merupakan hal yang sangat baik. Namun cinta itu bukan sekedar dengan mengucapkannya tetapi harus dengan bukti. Di antara bukti mencintai beliau adalah mengikuti perintah, perilaku dan menjauhi larangan-Nya.

    Dalam diri nabi terdapat suri teladan kehidupan sehari-hari yang sangat patut untuk diikuti oleh para umatnya. Karena dengan menjadikan beliau sebagai suri teladan dalam menjalani hidup ini, maka insya Allah kita akan selamat dalam menjalani kehidupannya.

    Allah SWT berfirman:

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا. (الأحزاب: ٢١)

    Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah, (kedatangan) hari kiamat dan orang-orang yang banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

    Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

    Bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang lain adalah dengan cara sering menyebut nama beliau. Dalam hal ini bisa diartikan dengan cara sering membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena ciri seseorang yang benar-benar mencintai adalah sering menyebutkan orang yang ia cintai.

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    مَنْ أَحَبُّ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِه. (رواه عائشة)

    Artinya: “Barangsiapa mencintai sesuatu maka ia akan sering menyebutnya.” (HR Aisyah RA)

    Ketika ada seseorang mengatakan bahwa ia mencintai Nabi namun ia tidak pernah membaca sholawat, maka ia belum termasuk orang yang benar-benar mencintai nabi.

    Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah, Nabi Muhammad SAW juga bersabda:

    إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً. (رواه عائشة)

    Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah orang yang lebih sering membaca salawat kepadaku.” (H.R. Aisyah RA)

    Membaca sholawat merupakan hal yang sangat positif bagi para pembacanya, karena satu salawat saja pahalanya akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Mencintai Nabi Muhammad SAW berarti juga mencintai para keluarga dan keturunannya karena hal tersebut juga merupakan salah satu bukti bahwa ia benar-benar mencintai nabi.

    Ketika ada orang yang mengatakan cinta kepada nabi, akan tetapi perkataan dan perbuatannya terdapat hal-hal yang merendahkan, menghina dan bahkan menyakiti para keluarga beliau, maka dia bukanlah orang yang benar-benar mencintai Nabi melainkan dia hanyalah orang yang menyakiti nabi. Karena barangsiapa yang menyakiti keluarga nabi maka ia juga menyakiti nabi.

    Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

    Merayakan hari kelahiran beliau merupakan salah satu bentuk ekspresi kita dalam menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT dengan dilahirkannya nabi yang menjadi penerang dan petunjuk bagi manusia.

    Dan merayakannya merupakan wujud rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW.

    Syaikh As-Sari As-Saqati berkata: “Barangsiapa yang menghadiri majelis maulid Nabi Muhammad SAW maka sungguh ia telah hadir di pertamanan surga, karena ia menghadiri majelis tersebut hanyalah karena rasa kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW.”

    Senang dan gembira karena kelahiran nabi merupakan hal yang sangat baik karena dengan rasa kegembiraan itu insya Allah akan ada dampak positif yang kembali kepada kita. Seperti cerita tentang paman nabi yang bernama Abu Lahab. Ia mendapatkan keringanan siksa khusus pada hari Senin karena merasa gembira saat nabi dilahirkan. Bahkan ia juga memerdekakan budak yang memberi kabar tentang kelahiran nabi, yaitu budak wanita yang bernama Tsuwaibah.

    Oleh karena itu, marilah kita senang dan gembira dengan kelahiran nabi. Abu Lahab saja yang tidak beragama Islam mendapatkan keringanan siksaan, apalagi kita sebagai umat Islam yang mengikuti nabi Muhammad SAW.

    Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

    Marilah kita tingkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan marilah kita merasa gembira dengan kelahiran beliau.

    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    مَنْ أَحْيَا سُنَّتِيْ فَقَدْ أَحَبَّنِيْ وَمَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنَّةِ. (رواهأنس)

    Artinya: “Barangsiapa yang menghidupkan sunahku maka ia mencintaiku. Dan barangsiapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga.” (HR Anas RA)

    Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan rasa cinta kepada baginda Nabi dengan harapan kita semua kelak akan dikumpulkan bersama beliau di surga Allah SWT. Aamiin yaa rabbal alamin.

    أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللَّهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ. بارك الله في وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِكْرِ الْحَكِيمِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Dua Kunci Agar Selamat dari Siksa Allah Menurut Imam Ghazali



    Jakarta

    Imam al-Ghazali memberikan kunci agar selamat dari siksa Allah SWT, mendapatkan pahala dan rahmat-Nya, serta masuk dalam surga-Nya. Sang Hujjatul Islam menyebutkan dua hal.

    Dua hal tersebut adalah sabar dan sakit. Imam al-Ghazali menjelaskan dalam kitab Mukasyafatul Qulub, siapa pun yang ingin selamat dari siksa Allah SWT hendaknya menahan nafsu demi melampiaskan syahwat duniawi dan hendaklah bersabar dalam menghadapi kesulitan dan musibah dunia.

    Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 146,


    وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

    Artinya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”

    Imam al-Ghazali menjelaskan, sabar terdiri dari berbagai macam. Di antaranya sabar dalam menjalani ketaatan kepada Allah SWT, sabar dalam menjauhi larangan-Nya, dan sabar dalam menghadapi musibah pada detik pertama.

    Salah satu keutamaan sabar dalam menjalankan ketaatan pada Allah SWT, kata Imam al-Ghazali, Allah SWT akan memberikan 300 derajat di surga saat hari kiamat kelak. Tinggi tiap satu derajat seperti jarak antara langit dan bumi.

    Adapun, bagi orang yang sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT, maka Dia akan memberikan dua kali lipat derajat di surga dari derajat orang yang sabar dalam ketaatan.

    “Barang siapa yang bersabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah, maka pada hari kiamat ALlah akan memberinya 600 derajat. Setiap satu derajat setinggi jarak antara langit dan bumi ketujuh,” kata Imam al-Ghazali seperti diterjemahkan Jamaluddin.

    Selanjutnya, bagi orang yang bersabar atas musibah yang menimpanya, maka Allah SWT akan memberinya 700 derajat di surga. Kata Imam al-Ghazali, setiap derajat tingginya seperti jarak antara Arsy dan bumi.

    Disebutkan dalam hadits qudsi, Nabi SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman,

    “Setiap hamba yang tertimpa musibah, lalu dia menyandarkan diri kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sebelum dia meminta kepada-Ku, dan Aku akan mengabulkan permohonannya sebelum dia berdoa kepada-Ku. Setiap hamba yang tertimpa musibah, lalu dia menyandarkan diri kepada makhluk dan bukan kepada-Ku, maka Aku akan mengunci seluruh pintu langit untuknya.”

    Imam al-Ghazali juga memaparkan sejumlah hadits tentang kunci agar selamat dari siksa Allah SWT yang kedua, keutamaan sakit. Salah satunya sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang mengalami sakit satu malam, lalu dia bersabar dan ridha kepada Allah, maka dia keluar (bersih) dari dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Jika kalian mengalami sakit, maka janganlah mengandaikan kesembuhan.”

    Salah seorang sahabat nabi, Mu’adz bin Jabal, pernah mengatakan bahwa orang yang beriman ketika mendapat cobaan berupa sakit, maka malaikat pencatat amal keburukan tidak akan mencatat apa pun darinya dan malaikat pencatat amal baik akan mencatat sebagai pahala perbuatan terbaik seperti yang biasa dilakukan ketika sehat.

    Lebih lanjut, Imam al-Ghazali dalam kitabnya berpesan bahwa orang yang berakal wajib bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan serta tidak mengeluh. Hal ini dilakukan agar selamat dari siksa dunia dan akhirat. Sebab, kata Imam al-Ghazali, cobaan yang paling berat sesungguhnya dialami para nabi dan wali Allah SWT.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Dengki



    Jakarta

    Perselisihan dalam kehidupan saat ini sering terjadi, meski karena hal yang sepele. Seseorang yang berbeda idola saja bisa saling bermusuhan ( khususnya saat pemilihan kepala pemerintahan ), sehingga amarah yang timbul akan membuahkan dendam dan berakhir dengan kedengkian. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW. bersabda: “Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (H.R. Abu Dawud).

    Sikap iri dan dengki pada tetangga yang hidup senang karena curahan anugerah Allah SWT. bahwa sikap kedengkian itu akan melemahkan iman, menjatuhkan kedudukan di hadapan-Nya dan membuat dibenci oleh-Nya. Apakah engkau merasa bagiannya ( tetangga ) merupakan bagianmu? Jika engkau mendengki lantaran anugerah Allah Swt. yang dia dapatkan, maka engkau menyalahi firman-Nya dalam surah al-Zukhruf ayat 32 yang berbunyi, ” Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain.”

    Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Adapun agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain sebagai pekerja. Menurut suatu pendapat, makna ayat ialah agar sebagian dari mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan, karena yang lemah memerlukan yang kuat dan begitu pula sebaliknya.


    Oleh karena itu bekerja sama merupakan langkah strategis untuk saling membantu, bukannya atas anugerah pada pihak lain disikapi dengan iri dan dengki. Kedengkian pada orang lain merupakan tindakan menzalimi orang yang diberi karunia oleh Tuhannya. Tahukah bahwa Allah SWT. telah memberi karunia khusus pada orang tersebut bukan pada orang lain. Itu adalah hak-Nya bukan engkau yang mengatur atas pemberian karunia-Nya. Maka firman-Nya dalam surat Qaf ayat 29 yang berbunyi, ” Ayat yang datang dari Kami tidak akan berubah, dan Kami tidak menzalimi hamba-hamba Kami.”

    Ayat ini mempertegas bahwa Allah SWT. bersikap adil dan tahu pada siapa yang diberi karunia, jadi janganlah dengki pada orang yang mendapatkan karunia-Nya.

    Bagi orang-orang yang iri dan dengki, sesungguhnya Allah SWT. tidak mencabut karunia darimu yang telah ditetapkan-Nya dan tidak memberikan kepada selainmu. Jadi karunia yang Allah SWT. berikan pasti tidak salah sasaran, oleh karena itu jika engkau masih iri, maka berharaplah atau ingin memiliki atas kenikmatan tetangga atau saudaramu. Hal ini disebut ghibthah ( berangan-angan agar mendapatkan nikmat seperti yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang darinya ). Rasulullah SAW. bersabda, ” Seorang mukmin berkompetisi, dan seorang munafik mendengki.”

    Dengki merupakan angan agar nikmat pada orang lain hilang, maka dia akan merasa bahagia. Mengharap kepindahan nikmat orang lain kepada dirimu itu dilarang, maka simaklah firman-Nya dalam surah an-Nisa ayat 32 yang berbunyi, ” Dan janganlah kalian mengharapkan sesuatu yang dilebihkan Allah kepada sebagian kalian atas sebagian yang lain.”
    Kedengkian akan timbul karena beberapa faktor : permusuhan, perasaan lebih kuat, kemarahan, kesombongan, ujub, takut tidak mendapatkan apa yang diinginkan, adanya hasrat untuk menjadi pemimpin dan kekotoran jiwa. Semua sikap ini tercela dan hendaknya dihindari bagi seorang mukmin.

    Dalam waktu yang dekat, hasrat yang berdasarkan nafsu sebagian orang yang ingin menjadi kepala daerah, anggota legislatif, dan pemimpin negeri, akan terlihat maka hati-hatilah karena hasrat itu merupakan cikal bakal muncullah sikap dengki. Jika menjadi seseorang kontestan yang belum berhasil, maka bersikaplah sabar bukan mencaci maki kompetitornya. Tindakan ini hanyalah sia-sia belaka dan hanya memuaskan kekesalannya. Adapun bagi masyarakat, sikapilah atas semaraknya pesta demokrasi dengan hati yang bening agar kita bisa memilih calon dengan benar.

    Kelak di saat hari kebangkitan, tetangga / saudaramu yang hidup berlimpah kekayaan dan berjabatan tinggi mengharapkan kedudukanmu yang sepi dari dunia. Sebab orang kaya berkedudukan tinggi dihisab dalam waktu yang lama ( mempertanggung jawabkan selama di dunia ). Sementara engkau selamat dari semua siksa ini di bawah naungan Allah SWT. Akan lebih elok jika engkau diberikan nikmat hidup dan berkuasa, maka jadikanlah wasilah untuk memberi kemanfaatan pada sesama.
    Semoga Allah SWT. menjadikan kita orang yang sabar menghadapi musibah dan bersyukur atas rahmat-Nya serta memasrahkan segala urusan pada-Nya.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hindari Sombong



    Jakarta

    Allah SWT. berfirman dalam surah an-Nisa ayat 28 yang artinya, “Allah menghendaki meringankan kalian dalam hukum-hukum agama sementara manusia diciptakan dalam kondisi lemah.”

    Ayat ini memberikan makna Allah SWT. hendak meringankan syariat yang Dia tetapkan bagi kalian. Maka Dia tidak membebani kalian dengan sesuatu di luar kemampuan kalian. Karena Dia mengetahui kelemahan manusia, baik dalam jasad maupun akhlaknya. Kelemahan manusia itu mutlak adanya, oleh karena itu jika ingin menjadi kuat maka berikhtiarlah dan janganlah menjadi sombong karena keadaannya.

    Sikap sombong akan terhindar jika seseorang mengetahui dan menyadari dirinya :


    1. Diciptakan dari bahan yang kotor. Leluhur manusia diciptakan dari tanah, kemudian dari lumpur yang bau. Anak keturunannya diciptakan dari air mani yang berada di tempat kotor. Dijadikan ada oleh Sang Pencipta yang sebelumnya tiada, dijadikan bisa mendengar dari sebelumnya tuli dan menjadi bicara dari sebelumnya bisu. Dalam firman-Nya surah al-Mukminun ayat 12 menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari sari pati tanah. Unsur-unsur kimia yang dikandung tanah tidak berbeda dengan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tubuh manusia.

    2. Tidak berkemampuan terhadap dirinya sendiri. Manusia tidak punya kuasa bagi dirinya untuk menghindari kerugian dan tidak pula untuk mendapatkan keuntungan, tidak bisa merendahkan maupun untuk meninggikan. Akal yang dimilikinya adalah pemberian-Nya, dengan akal ia mengisi kehidupan dunia dan mengetahui sifat-sifat-Nya. Dengan akal menjadikan seseorang pandai dan cerdas, hingga dapat mencapai tujuannya serta berkedudukan. Ingatlah bahwa akal diciptakan untuk mengimbangi nafsu bukan akal digunakan untuk melampiaskan hawa nafsunya. Firman-Nya dalam surah al-Qashash ayat 68 yang berbunyi, ” Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka ( manusia ) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” Allah SWT. menciptakan sesuatu yang dikehendaki untuk diciptakan dan menentukan sesuatu yang dikehendaki untuk ditentukan. Dalam hal ini adalah penegasan bahwa kebebasan menciptakan dan menentukan itu milik Allah SWT. Manusia mempunyai sifat ingin mengingat, tapi lupa; ingin mengetahui, tapi tidak tahu; ingin sehat, tapi sakit; ingin mampu, tapi lemah; ingin kaya, tapi miskin. Inilah fakta bentuk ketidakmampuan terhadap diri sendiri.

    3. Menuju kesendirian. Manusia diciptakan tumbuh sampai menemui ajalnya. Dibuat dari tanah dan kembali ke tanah. Tatkala di alam kubur, tinggallah ia sendirian. Ia terpisah dari harta yang dikumpulkan, terpisah dari keluarga kecuali amal kebaikan masih menyertainya hingga saat hisab. Mengingat kondisi ini, janganlah menonjolkan kesombongan dalam kehidupannya.

    Sikap sombong di dalam Al-Qur’an dan hadis tidak disukai-Nya sebab, keagungan dan kesombongan hanya layak milik Allah SWT. Pada dasarnya kesombongan itu pengagungan. Hakikatnya kesombongan adalah bersikap congkak, merendahkan orang lain dengan membanggakan dirinya, dan menolak kebenaran padahal tahu perihal kebenaran itu. Kejadian yang sering terjadi tatkala seorang pemimpin diberikan saran bawahannya dan saran tersebut tidak diindahkannya, padahal ia tahu bahwa saran itu tepat. Gengsi untuk menerima saran bagian dari bentuk kesombongan dan ingatlah seseorang tidak berhak untuk sombong. Saat seseorang menjadi pemimpin dengan kesombongan sikapnya itu, tidaklah bermanfaat dan tidak meningkatkan kinerjanya. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang beriman jauhilah sikap sombong dan layanilah masyarakat dengan sikap rendah hati.

    Ujian untuk hindari sikap sombong ini terasa sangat berat, apalagi godaan atas pesona dunia ada di depan matanya. Bersikap sombong itu bisa muncul pada semua lapisan, namun berat bagi orang berharta, berilmu dan paling berat orang yang berkedudukan. Kenapa ? Orang yang mempunyai posisi ( berkedudukan sebagian berharta dan berilmu ) sehingga muncul hasrat untuk merendahkan pihak lainnya. Oleh karenanya, ingatlah bahwa maqam yang engkau peroleh saat ini akan mudah berubah ( fana ). Hal ini telah diingatkan dalam firman-Nya surah ali-Imran ayat 26 yang artinya, “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki.”

    Mari kita simak bermacam-macam kesombongan ( menurut Syekh Izzuddin bin Abdussalam ) :

    1. Sombong karena menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
    2. Sombong untuk mengikuti Rasulullah SAW.
    3. Sombong kepada sesama karena merasa dirinya lebih baik.
    Ketiga macam sombong ini hendaknya dihindari. Penulis berpesan kepada para calon pemimpin negeri ini yang pada bulan-bulan depan akan mendaftarkan diri sebagai Capres dan Cawapres hendaknya santun dalam berkampanye, tidak merendahkan pihak lawan, dengan membanggakan dirinya dan jauh dari sikap congkak.

    Ya Allah, Engkau yang berkuasa dan berkehendak, bimbinglah para calon pemimpin ini untuk bersikap tawaduk dan jika memperoleh amanah hendaknya tidak berkhianat. Berilah cahaya-Mu agar para pemilih dapat memilih pemimpin yang Engkau kehendaki.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa


    Jakarta

    Umat Islam tengah memasuki bulan Rabiul Akhir 1445 H pada pekan ini. Menyambut bulan tersebut, khatib bisa menyampaikan khutbah Jumat Rabiul Akhir yang bertema Hakikat Takwa.

    Rabiul Akhir adalah bulan ke-4 dalam kalender Hijriah. Menurut ikhbar Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) awal bulan Rabiul Akhir 1445 H jatuh pada Senin, 16 Oktober 2023.

    Berikut contoh khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa seperti diambil dari Buku Khutbah Zaynul Atqiya’ yang disusun oleh Tim Kajian Ilmiah Lembaga Ittihadul Muballighin Ponpes Lirboyo.


    Teks Khutbah Jumat tentang Hakikat Takwa

    الْحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الْكَرَمِ وَالْجُوْدِ وَالْإِفْضَالِ. وَأَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ التَّوْفِيْقَ وَالْإِخْلَاصَ فِي سَآئِرِ الْأَعْمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ الْإِخْلَاصَ فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ سَبَبًا لِلْوُصُوْلِ إِلَى مَرَاتِبٍ أَهْلِ الْكَمَالِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيْدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْهَادِي إِلَى الرَّشَادِ وَالْمُنْقِذُ مِنَ الضَّلَالِ. صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِمُ السَّالِكِيْنَ فِي طَرِيْقِهِ عَلَى أَحْسَنِ مِنْوَالٍ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ الْعِبَادَةَ لَا تَصِحُ بِدُوْنِ الْعِلْمِ، وَالْعِلْمُ وَالْعِبَادَةُ لا يَنْفَعَانِ إِلَّا مَعَ الْإِخْلَاصِ

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

    Marilah kita meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan senantiasa beramal saleh dan menjauhi bermaksiat kepada-Nya.

    Alhamdulillah dengan berakhirnya bulan Rabiul Awal, kita telah memasuki bulan baru yaitu Rabiul Akhir yang semestinya juga disertai semangat baru untuk beramal saleh dan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan agar sedikit demi sedikit ketakwaan kita kepada Allah SWT dapat bertambah.

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

    Pada zaman yang modern dan serba canggih ini, kemajuan di segala bidang terus berkembang pesat. Namun kemajuan pesat tersebut tidak disertai dengan peningkatan takwa kita kepada Allah SWT Bukti lemahnya takwa kita sangatlah tampak jelas dengan adanya kemerosotan moral dan akhlak. Apakah kita akan terus menutup mata dan hati akan hal tersebut? Tentu tidak.

    Oleh karena itu, marilah kita jernihkan pikiran ini dengan memahami takwa yang sesungguhnya.

    Takwa dalam pengertian secara umum adalah menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun apakah kita benar-benar memahami hakikat takwa itu sendiri?

    Dalam sebuah hadits dikatakan

    لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ، حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ، حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ. (رواه الترمذي وابن ماجه)

    Artinya: “Seorang hamba tidak akan mencapai orang- orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak dilarang karena khawatir terjatuh kepada sesuatu yang dilarang.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

    Hakikat takwa adalah seseorang tidak akan sampai pada derajat iman dan takwa kepada Allah SWT sampai ia meninggalkan atau menghindari segala bentuk yang dapat menggoyahkan keimanan yang ada di dalam hatinya. Untuk itu marilah kita kuatkan kepercayaan kita, sedikit berpikir dalam taat dan memperbaiki ibadah kepada Allah SWT hingga mencapai derajat muttaqin.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 2 yang berbunyi,

    اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ ٢

    Terjemahnya: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah) gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal,”

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

    Iman dan takwa seseorang bisa bertambah dan dapat pula berkurang. Oleh karena itu kita juga harus mewaspadai terhadap perbuatan-perbuatan yang dapat menyurutkan iman dan takwa kita, terus berusaha dan memohon kepada Allah SWT agar menambah ketakwaan dan keimanan kita. Karena hanya Allah SWT yang dapat menambah ketakwaan dan keimanan seseorang.

    Seperti halnya pada firman Allah SWT,

    وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧

    Artinya: Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (QS Muhammad: 17)

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

    Untuk memahami hakikat iman dan takwa, kita perlu mengetahui ciri-ciri orang yang benar iman dan takwanya. Ciri-ciri tersebut telah Allah SWT jelaskan dalam firman-Nya:

    ۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ١٧٧

    Artinya: Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah: 177)

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

    Untuk itu, marilah kita bercermin diri, apakah kita telah memenuhi ciri-ciri tersebut atau masih jauh. Semoga kita semua diberi kemudahan Allah SWT untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi orang yang beruntung kelak di akhirat. Karena orang yang beruntung adalah orang yang telah benar imannya.

    Hal itu dikatakan dalam firman Allah SWT:

    قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ ١

    Terjemahan: Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (QS Al Mu’minun: 1)

    أعُوذُ بِااللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيْمِ. فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا. بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّهُ تَعَالَى جَوَادٌ مَلِكُ بَرُّ رَؤُوْفٌ رَحِيمٌ.

    Demikian contoh khutbah Jumat Rabiul Akhir tentang Hakikat Takwa.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketetapan



    Jakarta

    Qada adalah ketetapan Allah SWT sejak zaman sebelum diciptakan alam semesta sesuai dengan kehendak-Nya tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan makhluk-Nya. Sementara qadar yaitu perwujudan dari qada atau ketetapan Allah SWT dalam kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya. Apa bedanya dengan ketetapan yang dibuat manusia? Jawabannya tentu berbeda. Pada hari Senin tgl 16 Oktober 2023, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan putusan terbaru mengenai syarat pendaftaran capres dan cawapres yang harus berusia minimal 40 tahun atau berpengalaman sebagai kepala daerah. Ini ketetapan yang dibuat manusia yaitu melalui lembaga MK. Ketetapan ini tentu sifatnya tidak kekal, artinya pada periode tertentu dengan orang-orang yang sama atau berbeda (anggota MK) ketetapan itu bisa berlainan. Ingatlah bahwa ketetapan yang diputuskan Senin itu juga berbeda dengan sebelumnya.

    Adapun ketentuan atau ketetapan yang telah dibuat Sang Kuasa tidak akan berubah seperti, kelahiran, kematian, bencana, benda-benda alam seperti matahari, bulan dan bintang beredar sesuai ketetapan-Nya dan hari kiamat. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah ali-Imran ayat 26 yang artinya, “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki.”

    Jelas bahwa ayat ini menunjukkan kekuasaan-Nya yang tidak akan disamai oleh kekuasaan seorang hamba atau makhluk ciptaan-Nya. Apapun jabatan hamba tersebut, seperti penguasa negara besar dan berkuasa penuh pun tidak akan bisa menentukan nasib seseorang maupun membuat benda-benda alam seperti matahari. Seseorang yang berkedudukan pun boleh merencanakan sesuatu dengan strategi yang paling top, namun ingatlah engkau hanyalah seorang hamba yang diciptakan dan lemah, maka berserah dirilah pada-Nya. Karena apa pun yang menjadi keputusan-Nya itu terbaik dan kita bersikap ridha. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berujar bahwa, “Jika Allah SWT. mengabulkan permohonanku maka aku senang, karena pilihanku dikabulkan. Jika Allah SWT. tidak mengabulkan permohonanku, maka aku lebih senang. Yakinlah bahwa pilihan-Nya pasti lebih baik dari
    Pilihanku.


    Mari kita telaah tentang ketetapan-Nya. Takdir sendiri terbagi dua. Yaitu, Mubram dan Muallaq. Keduanya sama-sama merupakan ketentuan dari Allah SWT. Hanya saja, keduanya dibedakan berdasarkan pada pengaruh usaha atau ikhtiar manusia terhadapnya.

    1. Takdir Mubram, adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT. yang pasti berlaku. Macam takdir mubram ini membuat manusia tidak diberi peran untuk mewujudkannya.
    Macam takdir ini contohnya adalah tentang kelahiran dan kematian manusia. Tentunya keberadaan macam takdir mubram membuat manusia tidak ada yang tahu kapan akan dilahirkan dan kapan akan mati. Semua menjadi rahasia Allah SWT, dan terjadi sesuai dengan ketetapan-Nya ( sebagaimana firman-Nya dalam surah luqman ayat 34 ).

    2. Takdir Muallaq, adalah ketentuan Allah SWT. yang mengikut sertakan peran manusia. Macam takdir muallaq ini berkaitan dengan usaha atau ikhtiar manusia, contohnya adalah keberhasilan murid di sekolah dalam meraih prestasi. Murid yang berprestasi itu bukanlah murid yang diam saja tidak belajar dan hanya menunggu takdir. Tetapi dicontohkan macam takdir muallaq adalah ia yang selalu berusaha dan belajar setiap hari untuk meraih cita-cita yang diharapkannya.
    Bila begitu, apa yang diraihnya selain ditentukan oleh macam takdir Allah SWT, juga ditopang oleh usaha dan doa yang dia lakukan. Jadi, berusaha itu harus, tetapi berdoa dan rela menerima segala macam takdir yang sudah ditentukan oleh Allah SWT jangan dilalaikan juga.
    Sebagaimana dalam firman-Nya surah ar-Rad ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

    Jadi upaya manusia untuk menjemput takdir-Nya adalah sah seperti firman-Nya dalam surah ar-Rad ayat 11 di atas. Namun hendaknya sadar bahwa domain keputusan ada di tangan Allah SWT bukan di tangan orang yang berkedudukan tinggi. Berkepentingan terhadap kader Partai maupun idolanya agar bisa memimpin negeri merupakan hal yang normal. Keinginan tersebut hendaknya jauh dari nafsu karena ia akan menjerumuskan kita untuk memenuhi nafsunya dengan segala cara dihalalkan. Ingatlah bahwa nafsu akan membawa kita pada keburukan.

    Siapapun dia, berkedudukan tinggi atau tidak hendaknya berserah diri dan tidak ikut mengatur ( tadbir ). Tadbir dimaknai sebagai mengatur tindakan untuk sebuah tujuan yang direncanakan dengan akhir berserah diri pada-Nya. Ingatlah bahwa kekuasaan itu ada di tangan-Nya, sebagaimana firman-Nya surah al-Qashash ayat 68 yang artinya, “Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka ( manusia ) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
    Disambung dengan surah an-Najm ayat 24-25 yang artinya,” Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? ( Tidak !) Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.”

    Sebagai orang beriman ( berkedudukan tinggi atau pun tidak ) tentu akan patuh dan ridha atas ketetapan-Nya. Semoga Allah SWT. selalu memberikan hidayah-Nya agar para yang berkedudukan tinggi menjadi tahu diri dan tidak ikut mengatur.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com