Tag: hikmah

  • Sombong Lantaran Populer



    Jakarta

    Kesombongan itu secara hakikat manusia tidak mempunyai, karena kesombongan hanyalah milik-Nya. Orang sombong pastinya tidak banyak teman kecuali orang-orang yang berharap padanya. Jadi kesombongan seseorang yang berkedudukan maupun berkemampuan akan menciptakan ketergantungan orang lain padanya. Padahal ketergantungan pada makhluk itu sejatinya sia-sia, karena seseorang tidak bisa memberikan manfaat maupun keburukan.

    Apa sebenarnya tenar menurut pandangan Islam ? Imam al-Ghazali mengatakan, “Yang tercela adalah apabila seseorang mencari popularitas. Namun, jika ia tenar karena karunia Allah SWT. tanpa ia cari-cari maka itu tidaklah tercela.” Rasulullah SAW bersabda, orang yang pertama kali disidang pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati dalam peperangan. Lalu, dia didatangkan, kemudian Allah SWT. memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya maka dia pun mengakuinya.

    Allah SWT. berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat itu?” Orang tersebut menjawab, “Aku telah berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah SWT. berkata, “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau melakukan itu supaya disebut sebagai seorang pemberani dan ucapan itu telah diucapkan (oleh manusia).”
    Kemudian, diperintahkan agar orang tersebut dibawa. Maka, dia diseret dengan wajahnya sampai dia pun dilemparkan ke neraka.


    Dalam dialog di atas, jelas bahwa Sang Pencipta Yang Maha Tahu akan niat dan maksud hambanya. Ia lakukan agar dikatakan oleh manusia bahwa ia pemberani, hingga menjadi pembicaraan bagi pasukan yang tidak gugur. Hal yang sama terjadi pada saat negeri ini akan melaksanakan pesta demokrasi, sebagian orang menginginkan ketenaran agar dipilih sebagai pemimpin maupun wakil rakyat. Jika berniat untuk memperbaiki kehidupan ( ekonomi ) maka ketenarannya itu adalah sia-sia. Sudah banyak contoh terjadi seperti seseorang yang terpilih menjadi anggota parlemen/yang terpilih menjadi pemimpin, namun di akhir perjalanannya ia tidak bisa tidur di rumahnya sendiri pindah tidur di rumah negara ( penjara ).

    Berbeda jika seseorang menjadi pemimpin dan tenar semata karena karunia-Nya, maka perjalanannya dalam melaksanakan amanah selalu dalam pengawasan dan perlindungan-Nya. Di antara bencana terbesar adalah seseorang yang mencintai ketenaran dan kemuliaan serta berusaha mengejarnya, jiwanya ingin agar semua orang memujinya baik dalam kebenaran maupun kebatilan. Inilah sebenarnya yang kita khawatirkan.

    Basyr bin Al Harits Al Hafiy mengatakan, “Aku tidak mengetahui ada seseorang yang ingin tenar kecuali berangsur-angsur agamanya pun akan hilang.”
    Jika di lihat dilain sisi ketenaran yang dicari orang hingga ia kehilangan ketaqwaan. Kadang kepopuleran membuat ia bangga pada diri sendiri ( ujub ) dan menjadi sombong dan bisa merusak hubungan silaturahmi karena memandang rendah orang lain. Kesombongan karena ketenaran ini banyak terjadi di masyarakat, apakah ia menjadi artis terkenal, menjadi kaya raya dan menjadi pemimpin/pejabat berkedudukan.

    Ada sebagian masyarakat yang menempatkan dirinya berbeda kelas dengan yang lain. Kesombongan seperti ini hendaknya dihindari karena bedanya seseorang dimata Allah SWT. hanyalah ketakwaannya, bukan karena kepintaran, kekayaan dan jabatan serta ketenarannya. Kesombongan yang mudah dirasakan adalah saat seseorang meningkat jabatannya dan berubah sikap dan perilaku terhadap para koleganya, ini jelas menjijikan dan ia telah berbuat sia-sia menuju tergelincir.

    Tulisan kami tutup dengan firman-Nya surah Luqman ayat 18 yang artinya, “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” Makna ayat ini adalah : Dan jangan memalingkan wajahmu dari manusia bila kamu berbicara dengan mereka atau mereka berbicara kepadamu dalam rangka merendahkan mereka atau karena kamu menyombongkan diri atas mereka. Dan jangan berjalan di muka bumi di antara manusia dengan penuh kesombongan dan keangkuhan. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri dalam penampilan dan ucapannya.

    Ingatlah pada hakikatnya jati diri seseorang akan terlihat sama saat dalam keadaan sehat. Namun, jika cobaan ( tenar, kaya, jabatan tinggi ) turun, maka tampaklah siapa yang menyembah Allah SWT. dan siapa yang menyembah selain-Nya.

    Semoga Allah SWT. selalu membimbing dan melindungi kita semua saat menjadi tenar hanyalah karena karunia-Mu bukan menjadi bangga diri dan meremehkan orang lain.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Menjaga Bumi



    Jakarta

    Allah SWT. berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 30 yang artinya,”(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””

    Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir-nya mengartikan bahwa khalifah merupakan orang yang memutuskan perkara di antara manusia tentang kezaliman yang terjadi di tengah-tengah mereka, dan mencegah mereka untuk melakukan perbuatan terlarang dan berdosa. Juga menjadi pengganti-Nya dalam memutuskan perkara secara adil di antara semua makhluk-Nya.

    Saat ini, usia bumi sudah mencapai ribuan miliar. Segala sumber daya yang ada di bumi dipakai terus menerus untuk kehidupan manusia. Sehingga di era modern ini sumber daya alam yang ada di bumi terus terkikis semakin habis, karena tidak adanya pembaharuan lagi. Maka dari itu timbul perhatian para elit global untuk menemukan cara agar sumber daya alam yang ada di bumi tidak cepat habis, atau menemukan sumber daya yang terbarukan.
    Selama ini pemakaian sumber daya alam di bumi dilakukan secara eksploitatif sehingga menimbulkan permasalahan baru di bidang lingkungan yang juga berdampak pada perekonomian.
    Sistem ekonomi yang bersifat eksploitatif dan merusak lingkungan, saat ini sudah tidak relevan untuk digunakan. Jika sistem ekonomi eksploitatif terus dipertahankan, kehidupan makhluk hidup di bumi akan terganggu. Seperti adanya kegiatan ekstraksi sumber daya alam berlebihan yang berakibat pada terjadinya bencana. Ditambah dengan adanya perubahan iklim. Dari hasil pemikiran tersebut, maka timbul sebuah konsep green economy atau ekonomi hijau.


    Tulisan ini akan membahas bahwa green economy yang dianggap sebagai solusi dari permasalahan ekonomi dan lingkungan yang terjadi saat ini. Tanpa disadari, kerusakan lingkungan yang diakibatkan eksploitasi besar-besaran oleh perusahaan dan paham kapitalis menghasilkan kerusakan yang lebih luas bagi kehidupan manusia di bumi. Manusia, alam, dan makhluk yang ada di bumi merupakan satu kesatuan yang bersifat timbal balik sehingga harus dijaga kelestariannya untuk generasi yang akan datang. Pada tulisan ini, penulis berusaha untuk memaparkan kesesuaian konsep antara green economy dengan konsep yang berlandaskan al-Qur’an dan Hadis. Tujuan dari syariat Agama Islam (maqashid syariah) adalah terwujudnya kemaslahatan bagi manusia.

    Apa sebenarnya ekonomi hijau itu ? Bahwa green economy adalah suatu gagasan ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan sosial masyarakat, sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan secara signifikan atau juga diartikan perekonomian yang rendah/ tidak menghasilkan emisi karbondioksida terhadap lingkungan, hemat sumber daya alam, dan berkeadilan sosial.

    Prof. Dr. Sri Adiningsih tidak menyalahkan sikap manusia untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya di muka bumi ini, namun tentu kegiatan tersebut harus disertai oleh tanggung jawab terhadap ketertiban sosial dan kelestarian alam di sekitar.

    Tanggung jawab manusia yang mengambil manfaat dari bumi hendaknya mengacu pada surah al-Baqarah ayat 30. Disini jelas ( apalagi seorang muslim ) berkewajiban menjaga kelestarian agar manfaat tersebut berkesinambungan.

    Ekonomi hijau selain melindungi lingkungan juga memberikan manfaat yang luas seperti :
    1. Meningkatkan Lapangan Kerja. Investasi dalam ekonomi hijau akan mampu menyerap 7-10 kali lipat tenaga kerja daripada investasi konvensional. Hal ini terjadi karena sektor hijau cenderung menggunakan tenaga kerja lebih banyak ( padat karya ). Dalam perspektif Islam, tentang kerja tertuang dalam beberapa surah dalam Al-Qur’an seperti : “… Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu …” (QS 9: 105). ” … Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah) …” (QS 34:13).”Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya …” (QS 67:15).
    2. Mengurangi Limbah. Penerapan ekonomi hijau akan berkontribusi mengurangi limbah sekitar 18-52% dibanding bisnis konvensional. Penerapan pola ini menunjukkan bahwa pelakunya sadar kalau tindakan menjaga bumi merupakan perintah-Nya. Pengolahan limbah sampah dan menjaga alam dengan mengurangi limbah dalam Islam sendiri sangat dianjurkan, sesuai dengan Firman Allah dalam surah al-A’raf ayat 56, yang artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).
    3. Meningkatkan Ketahanan Pangan. Dengan menerapkan prinsip ekonomi hijau, perubahan iklim yang berdampak negatif terhadap produksi pangan dan kelautan dapat dicegah sehingga ketahanan pangan akan terjaga. Dalam Islam sendiri, ketahanan pangan merupakan suatu kondisi dimana umat Islam memiliki akses yang aman dan berkelanjutan terhadap pangan yang cukup, bergizi, dan terjangkau. Islam memandang bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu maqashid syariah (tujuan syariat), yaitu menjaga jiwa (hifz al-nafs).

    Seorang Pemimpin dalam suatu negeri yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan, maka rakyat yang dipimpin akan menanggung beban berat bagi kelangsungan hidup generasi berikutnya. Bertepatan dengan semakin dekatnya pemilihan pemimpin negeri serta wakil-wakil rakyat di Parlemen, maka pilihlah yang mempunyai komitmen dalam menjaga bumi. Bumi ini bukan milik mereka ( yg berbisnis dengan sumber daya alam ) namun mereka harus menjaga kelangsungannya, ingatlah firman-Nya di atas bahwa manusia tidak merusak bumi. Jika fakta menunjukkan bahwa dia mengeksploitasi yang mengakibatkan rusaknya bumi, maka dia telah melanggar firman tersebut.

    Semoga Allah SWT. memberikan petunjuk bagi semua hamba-Nya untuk tetap menjaga bumi dalam mengambil manfaat bumi ini.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hamba yang Tahu Diri



    Jakarta

    Menurut Imam Ghazali, manusia di golongkan dalam dua kelompok yaitu :

    Pertama, orang yang selalu memikirkan keindahan dunia dan berangan-angan untuk dapat hidup selamanya.
    Kedua, orang yang berpikiran sehat. Golongan ini selalu mengarahkan pandangannya menuju negeri akhirat. Mereka memikirkan dan bertanya, kemana ia akan kembali dan bagaimana mereka dapat berpulang ke rahmatullah dengan membawa bekal keimanan yang sempurna. Mereka juga memikirkan bekal apa yang dapat di bawah dari dunia untuk menjadi pendampingnya kelak di alam kubur. Khusus kepada pencinta dunia dan penguasa, wajib mempunyai jalan pemikiran seperti di atas. Kenapa ? Karena umumnya, mereka seringkali membuat orang lain menjadi lain dengan maksud buruk. Mereka ( pencinta dunia dan penguasa ) sering membuat panik orang banyak dan menjadikan hatinya was-was dan takut.

    Dalam kehidupan sehari-hari kita telah mengenal kata “petugas” apakah itu petugas sebagai aparat keamanan, aparat sipil dan lain sebagainya. Saat ini penulis akan mengelompokkan petugas dalam dua kategori :


    1. Petugas Allah SWT. yang bernama Izrail. Petugas ini mempunyai sifat, seorangpun tidak dapat berlari dan berpaling darinya. Selalu patuh atas perintah-Nya sehingga tidak pernah menyimpang. Tidak meminta bantuan atau sogokan maupun pertolongan. Tidak mengenal kompromi, jika waktunya tiba saat itu ia mengejsekusi.
    3. Petugas kerajaan. Mempunyai sifat, senang meminta bantuan atau sogokan. Bisa diajak bernegosiasi, sehingga kadangkala menyimpang dari tugasnya. Petugas ini fleksibel, waktu pelaksanaan bisa dimajukan maupun diundur sesuai dengan kebutuhan.

    Dikisahkan oleh seorang pemuka agama Yahudi yang telah memeluk Islam. Ia bercerita, ” Ada seorang raja yang agung dan mempunyai kekuasaan yang besar. Konon ia hendak berkeliling ke seluruh daerah kekuasaannya. Ia bersama para budak dengan pakaian kebesarannya yang mewah menaiki kuda pilihan yang bisa berlari cepat. Sang Raja begitu bangga dan besar kepala dengan kedudukan kekuasaannya. Kemudian raja terpengaruh atas bisikan iblis yang meniupkan angin kesombongan dan kecongkakan. Maka berkatalah sang raja dalam hati, “Siapakah di dunia ini yang sebesar diriku.” Inilah bentuk ketakaburan sang raja, hingga dia merasa tidak ada orang lain sebesar dirinya.

    Dalam perjalanannya sang raja dihentikan oleh seseorang lelaki berpakaian lusuh dan compang camping. Lelaki itu mengucapkan salam, namun tidak dijawab sang raja. Lalu lelaki itu memegang kendali kuda sang raja. Raja berkata, “Lepaskan kedua tanganmu, kamu tidak tahu kendali siapa yang kamu pegang ini?”
    “Aku ada perlu denganmu.” Tegas lelaki itu.
    “Tunggu, aku turun dulu.” Sahut raja.
    Lelaki itu pun berkata, “Aku memerlukanmu sekarang juga. Bukan setelah turun dari kuda.”
    “Apa perlumu? Tanya raja.
    Jawabnya, “Ini rahasia. Tidak dapat aku cerita kecuali aku bisikkan lewat telingamu.” Kemudian sang raja memasang telinga baik-baik untuk dapat mendengarkan keperluannya.
    Orang itu berkata, “Aku adalah malaikat maut pencabut nyawa. Aku datang untuk mencabut nyawamu.”
    “Tunggu!”Pinta sang raja, “Sampai aku kembali ke rumahku dan menitipkan anak-anak dan istriku.”
    “Tidak. Kau tidak akan dapat kembali ke rumahmu dan tidak akan dapat melihat keluargamu untuk selama-lamanya. Karena usiamu sudah berakhir sampai disini.” Malaikat pencabut nyawa menarik sang raja yang sedang menunggang kuda itu, maka matilah dia.

    Dalam kisah ini mengandung makna bahwa sang raja ini sombong karena mempunyai kekuasaan yang besar dan disebut agung. Ingatlah bahwa kekuasaan sering membuat seseorang tergelincir dan jatuh. Kekuasaan yang besar membuat dia ( sang raja ) merasa bisa melakukan apa saja, termasuk menjadikan sesuatu dan hidup mewah. Disini menjadi bahaya karena bisa ikut mengatur “Pengaturan-Nya.” Ini yang menjadikan Allah SWT. murka padanya.

    Dalam surah al-Baqarah ayat 255 yang artinya, “Allah, tidak ada Tuhan ( yang berhak disembah ) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus ( makhluk-Nya ).”
    Allah SWT. lah yang telah mengurus dunia dan akhirat, mengurus dunia dengan rezeki dan pemberian, mengurus akhirat dengan pahala dan pembalasan.

    Jika seorang hamba mengetahui dirinya telah diurus secara total oleh-Nya, niscaya dia akan mempersembahkan kepatuhan dan kepasrahan kepada-Nya. Bukan ikut campur dalam pengurusan yang menjadi domain Sang Pencipta. Dia melepaskan dirinya di hadapan Allah SWT. seraya berserah diri dan ridha atas keputusan yang telah ditetapkan untuknya. Ingatlah perkataan sang raja meski dalam hatinya, “Siapakah di dunia ini yang sebesar diriku.” Pernyataan ini menunjukkan kesombongan yang luar biasa, seakan dia yang paling besar di dunia ini. Sombong itu seorang hamba tiadalah punya karena kesombongan itu pakaian Sang Pencipta.

    Saat-saat ini, negeri tercinta ini mulai riuh rendah terjadi klaim tentang kehebatan diri, mengatur dan membuat kondisi seperti yang diharapkan, beradu strategi untuk memperoleh simpati masyarakat. Kadang segala upaya dilakukan meski kurang sepatutnya, hingga menimbulkan polarisasi di masyarakat. Ingatlah bahwa kuasa mengatur dan menjadikan seseorang mulia maupun hina hanya oleh-Nya bukan oleh makhluk. Maka hati-hatilah wahai orang-orang yang merasa jagoan berstrategi jika pada saatnya didatangi petugas Tuhan yang tidak mau diajak negosiasi, engkau pasti tidak berkutik seperti saat sang raja dicabut nyawanya.

    Ya Allah, teguhkanlah iman kami dari godaan dunia agar kami tidak termasuk dalam golongan pertama, yaitu orang-orang yang mencintai keindahan dunia dan berangan ingin hidup selamanya. Mantapkan hati kami untuk bersandar pada-Mu bukan pada makhluk sebagaimana saat ini sebagian orang sesama makhluk saling bergantung dan saling mengunci.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Membandel



    Jakarta

    mem-ban-del itu bersikap kepala batu; tidak mau menurut (mendengar, memperhatikan) nasihat atau perintah orang lain. Sering kita jumpai seseorang bersikap kepala batu, ini terjadi karena merasa diri yakin akan sikapnya meski banyak orang telah memberikan masukan. Orang yang membandel bukan di monopoli orang yang mempunyai kekuasaan besar, ada kalanya orang awam, bisa juga akademisi. Oleh karena itu, perlunya membuka hati dengan jernih agar kita bisa menilai sesuatu dengan tepat.

    Berdasarkan sifatnya, akhlak dalam Islam dapat dibagi menjadi dua yakni akhlak baik (akhlaqul-karimah) dan akhlak buruk (akhlaqul-mazmumah). Contoh akhlak buruk adalah sifat keras hati, munafik, sombong, serta keras kepala. Pembahasan kali ini akan berfokus pada sifat keras kepala menurut Islam. Adapun pengertian keras kepala adalah sikap seseorang yang menolak untuk mengubah pendirian, bahkan dengan bantuan pengaruh dan nasihat orang lain sekalipun. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-A’raf ayat 71 yang artinya, “Dia [Hud] berkata, ‘Sungguh, sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan Aku tentang nama-nama [berhala] yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah tidak menurunkan sedikit pun hujah [alasan pembenaran] untuk itu? Maka, tunggulah [azab dan kemarahan itu]! Sesungguhnya aku bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu,”

    Makna ayat di atas adalah Hud menjawab ucapan mereka dengan mengatakan, “Kalian benar-benar pantas menerima azab dan murka dari Allah. Azab itu pasti akan datang kepada kalian, bukan sesuatu yang mustahil. Apakah kalian hendak berdebat denganku tentang berhala-berhala yang kalian dan leluhur kalian sebut sebagai tuhan, padahal sebenarnya tidak nyata? Karena Allah tidak pernah menurunkan hujah yang bisa kalian jadikan landasan untuk penyebutan berhala-berhala tersebut sebagai tuhan. Maka tunggulah azab yang kalian minta itu. Dan aku pun menunggu bersama kalian. Azab itu pasti datang.”


    Sikap bandel tidak hanya dialami kaum Nabi Hud as. Juga orang Quraisy pada saat naskah boikot telah dimakan rayap. Dikisahkan waktu itu Abu Thalib berada di dekat Ka’bah. Dia datang karena Allah SWT. telah memberitahu Rasul-Nya tentang naskah perjanjian itu, bahwa Allah SWT. telah mengirimkan rayap yang telah melumatkan seluruh kelaliman dan memutus silaturahmi yang terkandung di dalam naskah itu, kecuali tulisan Allah SWT. Rasulullah SAW. memberitahukan kepada pamannya, hingga sang paman menemui kaum Quraisy untuk memberitahu mereka bahwa keponakannya berkata begini dan begini. Kemudian Abu Thalub berkata, “Jika ia berdusta, kami serahkan ia kepada kalian. Tapi jika ia benar, kalian harus menghentikan upaya mengucilkan dan menzalimi kami.”
    Mereka menjawab, “Tawaran yang adil.”

    Kemudian terjadi dialog diantara orang-orang yang ingin merobek naskah sahifah itu. Sebelum dirobek, mereka menyaksikan rayap telah memakannya, kecuali tulisan ” Dengan nama-Mu ya Allah.” Ini menunjukkan tulisan yang mengandung nama-Nya tidak dimakan oleh rayap tersebut. Kemudian Rasulullah SAW. dan orang-orang yang bersamanya meninggalkan syi’ib. Disini kaum musyrikin telah menyaksikan salah satu bukti besar kenabian Muhammad SAW. akan tetapi mereka tetap keras kepala. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Qamar ayat 2 yang artinya, “Dan jika mereka ( orang-orang musyrikin ) melihat suatu tanda ( mukjizat ), mereka berpaling dan berkata, ‘( Ini adalah ) sihir yang terus menerus.’”

    Kebandelan mereka makin menjadi dan makin kafir. Adapun ide merobek naskah ini bermula dari ide mereka ( musuh-musuh Islam ). Namun, Allah SWT. berkehendak naskah itu tidak dirobek kecuali dengan sebuah mukjizat-Nya agar tak ada seorangpun yang menyimpan jasa kepada Nabi Muhammad SAW.

    Hal yang sama juga tampak pada sikap Bangsa Yahudi ( Israel ) terhadap bangsa Palestina. Kebandelan mereka untuk menghabisi suku bangsa ini sudah berlangsung cukup lama dan korban yang hampir mencapai 10.000 orang pada akhir Oktober 2023. Kesombongan mereka ini semata karena ada dukungan nyata dari negara besar seperti USA dan beberapa negara Eropa, mereka lupa dan mengesampingkan kekuatan yang sangat besar pada Sang Pencipta. Memang kekuatan dan kekuasaan bisa menjadikan seorang pemimpin “merasa” dirinya bisa menjadikan/mengangkat seseorang. Hal ini sering menjadikan seseorang yang berkekuatan bersikap keras kepala, nasihat kiri dan kanan hanya angin lalu. Ujian dunia bisa lulus ( tidak terkena azab ) dan bisa juga terjerambab, namun rapor akhirat yang kekal menjadi kepastian bagi dirinya menerima hasil dari perbuatannya.

    Bagaimana untuk menghadapi orang yang bersikap keras kepala menurut Islam ? Orang keras kepala sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, diperlukan cara yang tepat menghadapi orang yang keras kepala sehingga tidak menimbulkan permasalahan. Berikut ini cara menghadapi orang yang keras kepala menurut Islam:
    1. Bersabar. Orang yang menghadapi orang yang keras kepala harus bersabar mulai menerima dan berusaha melihat lebih dulu sudut pandangnya. Setelah itu, jelaskan dengan tegas argumen yang mematahkan pendapat orang tersebut.
    2. Menghindari konfrontasi. Saat menghadapi orang yang keras kepala, usahakan menghindari konfrontasi langsung. Jika dilawan secara langsung, orang keras kepala akan semakin bersikeras dengan pandangannya dan biasanya marah. 3. Berbicara jelas dan tegas. Untuk menghadapi orang yang keras kepala dengan pendapatnya, kita harus menjawab secara jelas dan tegas, disertai fakta-fakta serta argumen yang mendukung.

    Semoga Allah SWT. selalu mengingatkan kita agar bersikap tahu diri, rendah hati dan jauh dari sikap keras kepala.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bercanda



    Jakarta

    Badruddin Abul Barakat Muhammad Al-Ghizzi seorang penulis menyebutkan, “dianjurkan agar bercanda diantara pada saudara-saudara dan teman, karena itu menghibur hati dan mempermudah tujuan. Dengan syarat tidak melontarkan suatu tuduhan, tidak menjatuhkan wibawa atau mengurangi kehormatan seseorang, tidak keji sehingga menyebabkan permusuhan dan dengki.”

    “Canda itu dicela apabila sampai pada tahap menjadi kebiasaan dan berlebihan,” kata Badruddin.

    Tidaklah diragukan bahwa bercanda itu bisa membuat rasa senang, gembira dan bahagia untuk mengusir kebosanan dan rasa lelah. Orang boleh membuat suasana senang dalam bertemu orang dengan sedikit gurauan ringan asalkan tidak banyak atau tidak memperbanyak tertawa sampai berlebihan. Rasa senang itu merupakan kondisi psikologis atau suasana hati, hal ini akan mempengaruhi hormon yang dihasilkan otak. Kalau kita sedang bahagia (senang), maka otak akan memproduksi zat endorfin yang sangat berguna bagi tubuh. Sebaliknya jika kita sedang stres, marah, maka zat yang dihasilkan otak adalah dopamine, cortisol, dan adrenalin, yang bisa mengganggu keseimbangan sistem tubuh.


    Dalam buku karangan Syeikh Mahmud Al-Mishri yang diterjemahkan oleh Ustad Abdul Somad dengan judul Semua Ada Saatnya, menjelaskan tiga kelompok manusia berdasarkan candaannya:

    Pertama, orang yang menghabiskan waktu malam dan siangnya hanya dengan tawa dan senda gurau. Kondisi ini berlebihan karena dengan banyaknya tertawa dilarang oleh utusan-Nya. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Jangan perbanyak tawa, karena banyaknya tawa itu mematikan hati,” (HR. Ibnu Majah).

    Kelompok kedua, yakni orang yang bermuka masam dan tidak pernah menunjukkan senyum di wajahnya. Ini termasuk hal yang tercela karena menyebabkan orang lain menjauh bahkan membencinya. Rasulullah SAW. bersabda, “senyumanmu ke wajah saudaramu adalah sedekah bagimu,” (HR. Bukhori). Sebenarnya sangat mudah merubah wajah yang masam menjadi wajah yang suka senyum. Selalu ingatlah sabda Rasulullah SAW. dan hilangkan hati yang keruh (penyebab wajah masam).

    Kelompok terakhir, adalah mereka yang berasa di pertengahan antara dua golongan sebelumnya. Rasulullah SAW. sendiri termasuk dalam golongan ini, beliau sesekali bercanda dan dalam candaannya hanya melontarkan hal yang benar saja, tanpa perlu mengada-ngada atau menjelekkan seseorang demi mengundang tawa orang lain. Kelompok ini menjadi dambaan kita semua agar bisa menyeimbangkan dan di posisi pertengahan. Bercanda untuk melepaskan kepenatan batin adalah kebutuhan, namun Islam memberikan teladan dengan bercanda gaya Rasulullah SAW.

    Dalam suatu riwayat, seorang wanita tua mendatangi Rasulullah SAW. Ia menanyakan perihal surga. “Wanita tua tidak ada di surga,” sabda Rasulullah SAW.

    Mendengar ucapan itu, si nenek pun menangis tersedu-sedu. Rasulullah SAW. segera menghiburnya dan menjelaskan makna sabdanya tersebut itu. “Sesungguhnya ketika masa itu tiba, Anda bukanlah seorang wanita tua seperti sekarang.”

    Rasulullah pun kemudian membacakan ayat, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.” (QS al-Waaqi’ah ayat 35-36). Akhirnya, si nenek tua tadi pun tersenyum.

    Model yang diajarkan Rasulullah SAW, sangat jauh dari fenomena yang terjadi di masyarakat. Seperti, tontonan-tontonan yang semata bertujuan membuat pemirsanya tertawa. Di antaranya, lawakan yang penuh dengan materi bohong, mengada-ada, dan berpura-pura bodoh.
    Bahkan, ada yang menyalahi kodrat illahi, seperti berpura-pura menjadi banci agar orang tertawa. Padahal, laki-laki yang berpura-pura menjadi wanita atau sebaliknya mendapat laknat yang keras disisi Allah SWT.

    Kebanyakan dunia televisi menyajikan lawakan yang kasar. Kerap ditemui materi lawakan berupa olok-olokan yang merendahkan orang lain. Mereka sengaja menghina kekurangan rekan mereka hingga membuka aibnya.

    Acara komedi seperti ini jelas bertentangan dengan firman Allah-Nya. “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(QS al- Hujuraat :11).

    Ada beberapa contoh bercanda yang merugikan, seperti seseorang memperolok sahabatnya sehingga menjadi bahan tertawaan sahabat lainnya. Kemarin hari Rabu 6.12.23 siang penulis merasakan sendiri sebagai penumpang Pelita Air dari Juanda tujuan Cengkareng, karena ulah seorang yang berkata tasnya ada bom pada salah seorang pramugari. Hal ini berakibat “drama sekitar 3 jam” di dalam pesawat dan berakibat buruknya baginya ( yang bercanda ). Kerugian yang terjadi sangat besar, dalam kurun waktu tertentu tidak pesawat yang pergi maupun datang dan menyebabkan rentetan penundaan penerbangan.

    Jelas sekali tuntunan bagi orang yang beriman jika bercanda dengan teman maupun saudaranya. Bercandalah dengan materi yang benar, bukan mengada-ada atau memperolok-olok, dan menyebar kebohongan (kasus Pelita Air) karena hal itu jelas dilarang seperti firman-firman Allah SWT. tersebut di atas. Semoga Allah SWT. selalu memberikan keteguhan agar kita semua tidak keluar jalur dalam bercanda dan mengikuti yang dicontohkan Rasul-Nya.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Didoakan Malaikat-Pahala 700 Kali Lipat



    Jakarta

    Sedekah adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Seorang hamba yang ikhlas memberikan sedekah, hanya semata ingin mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menginginkan balasan dari orang lain, maka Allah SWT akan menerima sedekah tersebut dan setiap kebaikan itu bakal mendapat balasan sepuluh hingga 700 kali lipat bahkan lebih.

    Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an Surat Al Hadid ayat 18,

    اِنَّ الْمُصَّدِّقِيْنَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَاَقْرَضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ اَجْرٌ كَرِيْمٌ


    Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.

    Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

    Artinya: “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya, lalu salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya.’ Sedangkan (malaikat) yang satunya lagi berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)’.”

    Berikut Khutbah Jumat dengan tema Keutamaan Sedekah Subuh yang disusun oleh Erwin Dariyanto, Redaktur Pelaksana detikHikmah anggota Media Center Haji tahun 2023.

    Khutbah Jumat, Keutamaan Sedekah Subuh

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد

    قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
    يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

    Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

    Jemaah sidang sholat Jumat yang insya Allah senantiasa berada dalam lindungan, bimbingan, rahmat serta hidayah Allah subhanahu wa ta’ala. Pertama dan yang paling utama izinkan dari atas mimbar yang mulia ini saya mengajak untuk tiada henti-hentinya kita mengucap syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala atas
    nikmat iman dan Islam, sebuah karunia yang teramat besar yang Allah karuniakan kepada kita hamba-hamba-Nya

    Tidak lupa kita mengucap syukur Alhamdulillah atas nikmat sehat dan kekuatan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan sehingga di hari Jumat ini, hari yang amat mulia ini kita masih bisa melaksanakan kewajiban kita yakni Sholat Jumat. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah tak henti-hentinya kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan para sahabatnya.

    Jemaah sidang Sholat Jumat rakhimakumullah

    Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami selaku khatib mengajak khususnya kepada diri khatib sendiri dan umumnya kepada para jemaah sekalian, mari senantiasa kita meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Iman dalam artian selalu menghadirkan Allah di setiap hembusan nafas kita apa pun kondisinya dengan cara senantiasa berdzikir serta menaati perintah Allah. Takwa dalam arti senantiasa melibatkan Allah dalam setiap persoalan yang kita hadapi dengan cara berdoa serta memohon pertolongan dan bermunajat kepada hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran, ayat 102.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

    Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al Hadid ayat 18

    اِنَّ الْمُصَّدِّقِيْنَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَاَقْرَضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ اَجْرٌ كَرِيْمٌ

    Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.

    Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa seorang hamba yang ikhlas menyedekahkan hartanya hanya semata ingin mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menginginkan balasan dari orang-orang yang dia sedekahi, maka Allah SWT akan menerimanya dan setiap kebaikan itu mendapat balasan sepuluh sampai 700 kali lipat bahkan lebih.

    Manshur Abdul Hakim di dalam kitab al-Tadawa wa al-Syifa bi al-Shadaqah wa al-Infaq fi Sabil Allah menjelaskan sedekah adalah perbuatan mengeluarkan harta untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedekah hukumnya sunnah dan termasuk amalan yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Allah SWT berfirman, ‘Hai manusia, berinfaklah niscaya Aku (Allah) akan berinfak kepadamu’. Beliau (Rasulullah) bersabda, “Janji Allah SWT akan terus mengalir melimpah ruah sepanjang malam dan siang hari tanpa kekurangan sedikitpun.”

    Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

    Para ulama mengatakan di antara waktu yang baik untuk bersedekah adalah waktu Subuh. Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

    Artinya: “Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya, lalu salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya.’ Sedangkan (malaikat) yang satunya lagi berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)’.”

    Dari hadits di atas kita bisa menyimpulkan bahwa setiap kita umat Islam yang memberikan sedekah pada pagi hari atau di waktu Subuh, maka malaikat akan datang lalu mendoakan kita agar apa yang kita sedekahkan diganti dengan yang lebih baik.

    Ulama Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari menjelaskan riwayat tersebut dengan berkata, “Sungguh (hadits) ini memberikan semangat dan dorongan bagi yang berinfak di jalan Allah SWT. Dan adanya janji yang pasti bahwa memberi sedekah akan mendapatkan ganti yang lebih dari yang telah diinfakkan. Waktunya (sedekah) sekarang di dunia, dan balasan pahala kelak di akhirat.”

    Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

    Selain didoakan malaikat, ada sejumlah keutamaan melakukan sedekah Subuh, sebagaimana disebutkan dalam sejumlah kitab.

    Pertama, Bisa Mengalahkan Setan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dalam kitab al-Targhib wa al-Tarhib. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    “Ketika seseorang bersedekah, ia sejatinya sudah merontokkan jenggot 70 setan.”

    Berikutnya sedekah juga bisa menjadi obat. Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Thabrani bersabda, “Obatilah orang yang sakit di tengah-tengah kalian dengan sedekah.”

    Sedekah juga bisa menghapus dosa. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dalam kitab al-Targhib wa al-Tarhib, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sedekah bisa menghapus kesalahan seperti air memadamkan api.”

    Sedekah Merupakan Benteng dari Neraka. Disebutkan juga dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Rasulullah bersabda, “Wahai Aisya, buatlah dinding pembatas antara dirimu dengan neraka walaupun hanya dengan sebelah buah kurma. Sebab sedekah itu bisa menyangga perut orang yang kelaparan sehingga ia merasakan hal yang sama dengan orang yang kenyang.”

    Berikutnya sedekah bisa menjadi penyelamat kita di Akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, sedekah dapat menyelamatkan seseorang dari panasnya hari akhirat. Pada hari kiamat, setiap mukmin berteduh di bawah naungan sedekahnya.”

    Maasyiral muslimin rakhimakumullah!

    Lantas bagaimana kalau kita belum ada keluasan rezeki untuk memberikan sedekah Subuh?

    Ada sebuah hadits dari Abu Dzar yang diriwayatkan dalam hadits riwayat Imam Muslim. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemunkaran adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh “. Para sahabat kemudian bertanya, ” Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, dia akan mendapat pahala”.

    Akhirnya, semoga kita senantiasa dijadikan hamba Allah yang ringan tangan dalam bersedekah. Semoga kita dijauhkan dari sifat bakhil.

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

    “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang-orang.”

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
    أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

    Khutbah Kedua

    اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ لله وَحْدَه لاَشَرِيْكَ لَهُ، اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلاِنْسِ وَالْبَشَرِ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَمَّا بعْدُ.
    فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا الله تَعَالىَ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ أيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ في ِالْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
    اَللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ، اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبَلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
    عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَر

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Penguasa dan Ulama



    Jakarta

    Pemimpin suatu negeri hendaknya senang bergaul dengan para ulama dan bersedia menerima nasihatnya. Sejatinya tidak cukup dengan bergaul saja, namun mau menerima nasihat serta menjalankannya jika itu menjadikan lebih baik dalam kepemimpinannya. Tapi waspadalah akan ulama al-su’ ( ulama culas/buruk ), yang hanya menginginkan kekayaan duniawi. Mereka berkelakuan membujuk dan merayu dan sengaja membuat pemimpin itu senang ( ABS ), karena mengharapkan kekayaannya.

    Dikisahkan, Syaqiq al-Balkhi datang menemui Harun Al-Rasyid dan berkata, “Anda syaikh Al-Zahid?”
    “Aku Harun tapi bukan Zahid,” jawabnya. Harun lalu meminta nasihat.

    Syaqiq berkata, “Allah SWT. telah memberikan Anda kedudukan seperti Abu Bakar As-Shiddiq. Maka Allah SWT. meminta Anda jujur seperti Abu Bakar. Dia telah memberi Anda seperti Umar bin Khattab Al-Faruq. Dia pun meminta Anda bersikap tegas memisah yang hak dan batil seperti ditunjukkan Umar. Dia pun memberi kedudukan Anda seperti Utsman bin Affan Dzu Al-Nurain. Allah SWT. akan meminta Anda menjadi pemalu dan santun seperti Utsman. Allah SWT. telah memberi Anda bersikap adil seperti Ali bin Abi Thalib. Dia akan meminta Anda bersikap adil seperti yang Allah SWT. minta dari Ali.”


    “Lanjutkan nasihatmu,” kata Harun Al-Rasyid.

    “Anda tahu, Allah SWT. memiliki jahanam, yang Anda adalah pintunya. Tapi Dia memberi Anda bayt al-mal ( kas negara ), cemeti dan pedang. Dengan itu, Anda bisa mencegah manusia masuk neraka. Orang mendatangi Anda karena suatu kebutuhan, maka janganlah Anda menolaknya memberi uang yang diambil dari kas negara. Terhadap orang yang menentang perintah Tuhannya, siksalah ia dengan cemeti ini. Orang yang membunuh orang lain tanpa hak, bunuhlah ia dengan pedangmu, dengan izin keluarga pihak yang terbunuh. Jika Anda tidak melakukan semua itu, maka Anda akan menjadi pemuka penghuni neraka dan merupakan orang pertama ( perintis ) yang akan memasuki rumah kehancuran itu.”

    Harun Al-Rasyid berkata, “Teruskan nasihatmu.”

    “Perumpamaan Anda seperti sumber air, sedang perumpamaan para ulama di dunia ibarat sungai-sungai kecil. Jika sumber airnya bersih, keruhnya air sungai tidak berbahaya kepadanya. Akan tetapi jika mata airnya keruh, maka tiada guna sungainya bersih.”

    Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi seorang calon pemimpin maupun yang saat ini lagi memimpin. Jika kita simak nasihat diatas ada hal-hal penting untuk diterapkan seperti :

    1. Bersikap jujur. Kejujuran adalah sikap utama yang selalu dipegang Rasulullah SAW. dalam memimpin, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat jujur dan jauh dari dusta. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW. Bersabda, “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi-Nya sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi-Nya sebagai pendusta.”

    2. Bersikap tegas. Sikap sangatlah diperlukan dalam kepemimpinan, tegas memisahkan bagi yang hak dan yang batil. Pemimpin yang mengaduk keduanya pastilah ia akan mendapat murka-Nya dan pemerintahannya dijamin akan kacau. Sikap ini adalah berani menyampaikan kebenaran dan berani mengungkap kebatilan. Kepemimpinan Umar bin Khattab ditopang oleh sikap transparansi, keterbukaan, dan selalu menyuarakan kebenaran apa pun risikonya. Sehingga beliau bersikap terang-terangan dalam menyampaikan kebenaran, dan mengundang kemarahan para pemuka kaum kafir.

    3. Bersikap pemalu dan santun. Sikap Ini merupakan cerminan kepemimpinan Utsman bin Affan. Adapun tiga ciri utama kepemimpinannya adalah, dermawan. Dia seringkali menyumbangkan hartanya untuk kepentingan kemajuan Islam. Keberaniannya tidak diragukan, dia menyelesaikan beberapa pemberontakan dan ikut terjun berperang melawan pasukan Romawi di Afrika Utara. Kesederhanaan Utsman adalah seorang saudagar yang kaya raya, tetapi terbilang sangat sederhana. Bahkan diceritakan oleh suatu kisah bahwa di rumahnya, Utsman biasa memakan roti dengan cuka atau dengan minyak meski sebenarnya ia bisa menyantap makanan mewah. Sifat inilah yang banyak diteladani oleh masyarakat muslim pada saat itu.

    4. Bersikap adil. Sikap terakhir ini merupakan landasan utama dalam memimpin suatu negeri. Kemakmuran menjadi dambaan setiap orang, hal ini akan tercapai saat pemimpin bersikap adil. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam surah al-Maidah ayat 8, ” Berlaku adillah, karena adil itu dekat kepada takwa.” Yakni sikap adilmu lebih dekat kepada takwa daripada kamu meninggalkannya.Berlaku adil tidak boleh membedakan termasuk orang yang pernah menyakitimu. Benci bukanlah penghalang untuk berlaku adil.

    Saat-saat ini masa kampanye para calon pemimpin negeri, cermati para kontestan saat berikan visi, misi dan program prioritas. Seperti nasihat ulama di atas kepada Harun Al-Rasyid, paling tidak ada empat sikap seperti : jujur, tegas, santun dan adil. Carilah dari ketiganya yang paling mendekati nasihat ulama itu. Semoga Allah SWT. memberikan perlindungan agar pesta demokrasi berlangsung dengan jujur dan adil.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Nama Asli Sunan Ampel dan di Mana Wilayah Dakwahnya? Ini Jawabannya



    Jakarta

    Wali Songo adalah sembilan orang yang memiliki peran yang sangat penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Di antara sembilan Wali Songo, salah satunya bernama Sunan Ampel.

    Selain metode dakwah yang berbeda, setiap Wali Songo memiliki nama asli masing-masing, begitu pula dengan Sunan Ampel. Lantas, siapa nama asli Sunan Ampel? Ini jawabannya.

    Nama Asli Sunan Ampel

    Merujuk pada buku Wali Sanga oleh Masykur Arif, nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Sebutan “Sunan” merupakan gelar kewaliannya, dan “Ampel”, “Ampeldenta”, atau “Ngampel Denta” merupakan julukan yang dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, yaitu daerah di dekat Surabaya.


    Diperkirakan Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 M di Campa. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa Campa adalah satu negeri yang terletak di Kamboja. Sedangkan ahli sejarah yang lain berpendapat bahwa Campa adalah suatu daerah yang terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa.

    Ayah Sunan Ampel adalah Maulana Malik Ibrahim atau terkenal dengan sebutan Sunan Gresik, Syekh Maghribi, Maulana Maghribi, Ibrahim Asmarakandi, atau Kakek Bantal. Sedangkan ibu Sunan Ampel bernama Dewi Candrawulan, kakak Dyah Dwarawati, istri Raja Majapahit Prabu Brawijaya.

    Metode Dakwah Sunan Ampel

    Setiap Wali Songo memiliki metode dakwahnya masing-masing, begitu pula dengan Sunan Ampel. Berikut metode dakwah yang diterapkan Sunan Ampel:

    – Menggunakan cara yang ramah

    Sunan Ampel terkenal karena sikap ramah yang dimilikinya. Keramahannya telah menjadi metode tersendiri dalam menyebarkan Islam. Sebab sikapnya yang ramah ini, banyak orang tertarik untuk masuk Islam. Sikap ramah adalah budi pekerti yang baik kepada orang lain, seperti berkata-kata luhur, baik hati, budi bahasa yang menarik, menyenangkan ketika bergaul dengan orang lain, dan sebagainya.

    – Beradaptasi dengan masyarakat setempat

    Ketika berdakwah, penting untuk beradaptasi dengan masyarakat setempat. Sebab adaptasi menjadi salah satu cara untuk bisa bergaul dan bersahabat dengan masyarakat setempat.

    Sunan Ampel yang datang dari negeri sebrang tidak akan pernah diterima masyarakat Jawa jika beliau tidak mampu beradaptasi dengan masyarakat. Dalam proses dakwahnya, jika Sunan Ampel mendapati tradisi setempat yang jauh dari ajaran Islam, beliau akan melakukan perubahan.

    – Memberikan cendera mata

    Meskipun dalam perjalanan dari Kerajaan Majapahit ke Ampeldenta, Sunan Ampel tetap melakukan dakwah. Metode dakwah yang dilakukannya sangat unik, yaitu memberikan cendera mata kepada penduduk yang berupa kipas dari anyaman akar pepohonan dan rotan.

    Kipas ini sangat berguna karena mengandung obat untuk menyembuhkan suatu penyakit ketika akar pada kipas itu dicelupkan pada air, kemudian di minum. Cukup membaca syahadat, maka penduduk tersebut dapat mendapatkan kipas ini.

    – Membuat pusat pendidikan

    Membuat pusat pendidikan merupakan salah satu cara untuk menyebarkan agama Islam. Sunan Ampel menggunakan sarana tempat pendidikan untuk dakwah di Ampeldenta.

    – Dakwah secara langsung

    Sunan Ampel terjun langsung kepada masyarakat dalam menjalankan dakwahnya. Beliau datang langsung kepada masyarakat, baik dalam bentuk perorangan maupun kelompok.

    – Membangun kekerabatan dengan penguasa

    Selain melakukan dakwah secara langsung, Sunan Ampel juga melakukan dakwah melalui ikatan-ikatan kekerabatan lewat jalan pernikahan dengan keluarga para raja dan tokoh-tokoh masyarakat. Metode ini sangat efektif untuk mengembangkan agama Islam dan menjaga Islam agar tetap eksis dalam sistem kekuasaan.

    – Mengirim utusan

    Sunan Ampel melakukan metode dakwah ini dengan menyuruh Raden Fatah untuk membuka perkampungan atau kota baru yang letaknya di hutan Bintara. Setelah itu terbentuk perkampungan baru, lalu menjadi imam masyarakat baru nanti. Selain itu, Sunan Ampel juga mengirim utusan sebagai juru dakwah kepada raja-raja.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Tema Iman, Islam dan Perdamaian


    Jakarta

    Khutbah Jumat kali ini akan membahas tentang iman, Islam, dan perdamaian. Dalam naskah ini dijelaskan bahwa agama dan perdamaian saling mendukung satu sama lain.

    Keberadaan perdamaian menjadi kunci untuk melaksanakan agama dengan sepenuhnya, begitu pula sebaliknya. Tanpa kehadiran agama, kehidupan yang damai dapat menjadi sekuler.

    Maka dari itu, kita sebagai muslim diminta untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Agar iman kita bisa tumbuh serta menjadi manusia yang damai, sehingga dapat memberikan hal positif untuk banyak orang.


    Berikut naskah khutbah tentang Iman, Islam dan Perdamaian yang disusun oleh Sekretaris MUI Provinsi Lampung, H Muhammad Faizin. Dilansir dari laman Kemenag, Kamis (14/12/2023).

    Khutbah I

    الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَى قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ المُؤْمِنِيْنَ وَجَعَلَ الضِّياَقَ عَلَى قُلُوْبِ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ اْلحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلمِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ أَيُّهاَ اْلحَاضِرُوْنَ اْلمُسْلِمُوْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

    Jamaah Jumat Rahimakumullah,

    Pada kesempatan mulia ini, khatib berwasiat pada diri khatib sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan menjadi bekal utama dan sangat berharga saat kita bertemu dengan Allah SWT kelak, dan orang yang paling bertakwa akan mendapatkan posisi yang paling mulia di sisi Allah SWT.

    Selain menguatkan ketakwaan, sudah menjadi kewajiban kita untuk senantiasa mengungkapkan dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia Iman dan Islam, serta berbagai kenikmatan kehidupan lainnya di dunia ini. Kenikmatan yang kita syukuri ini telah dijanjikan oleh Allah SWT akan ditambah. Sebaliknya jika kita mengufuri nikmat Allah, maka balasan berupa siksa pedih dari Allah akan kita terima.

    Kemudian dengan mensyukuri nikmat iman dan Islam ini, tidak hanya akan memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, namun juga akan memberikan kemaslahatan bagi orang lain. Di antara buah dari keteguhan iman dan Islam adalah terwujudnya kebaikan dan kemaslahatan bagi orang lain yang terwujud dalam bentuk perdamaian di kehidupan masyarakat.

    Iman, Islam, dan perdamaian merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Jika seseorang memiliki iman dan Islam yang baik, maka bisa dipastikan kedamaian akan menghiasi dan menaungi kehidupannya bersama masyarakat.

    Jamaah Jumat Rahimakumullah,

    Dilihat dari kata ‘Islam’ itu sendiri, para ulama memaknainya dengan arti perdamaian sehingga Islam dan perdamaian adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Orang akan tergolong mengingkari nilai keislaman itu sendiri jika tidak mengedepankan perdamaian dengan sesama umat Islam dan juga seluruh manusia pada umumnya.

    Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Bararah ayat 208:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”

    Jamaah Jumat Rahimakumullah,

    Melalui ayat ini, Allah mengingatkan kepada manusia untuk tidak setengah-setengah dalam masuk ke dalam agama Islam. Allah mengingatkan untuk masuk pada agama Islam dengan kaffah (menyeluruh) yang di dalamnya juga terkait bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam seperti perdamaian. Dengan terwujudnya perdamaian dalam kehidupan, maka segala sektor kehidupan akan dapat berjalan dengan baik seperti pembangunan dan termasuk juga ketenangan dalam beribadah.

    Kita bisa merasakan sendiri bagaimana nikmatnya beribadah di tengah-tengah perdamaian yang jauh dari konflik dan peperangan. Jika saat ini kita berada dalam situasi perang, maka bisa dipastikan kita tidak bisa beribadah dengan tenang seperti ini. Oleh karenanya nikmat perdamaian yang merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Islam ini harus terus kita pertahankan.

    Bukan hanya mendapatkan efek positif dalam kehidupan dunia, perdamaian juga merupakan sebuah sikap yang memiliki nilai pahala. Rasulullah sendiri menyebutkan bahwa ketika seseorang mampu mewujudkan perdamaian, maka pahalanya akan bisa melebihi pahala shalat, zakat, dan sedekah. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw melalui hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi:

    أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلَاةِ، وَالصِّيَامِ، وَالصَّدَقَةِ؟ ” قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ” إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ. وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

    “Maukah jika aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat berkata, Tentu ya Rasulullah. Beliau bersabda: Mendamaikan orang yang sedang berselisih. Rusaknya orang yang berselisih adalah pencukur (mencukur amal kebaikan yang telah dikerjakan).”

    Dari hadits ini kita bisa mengetahui bahwa Nabi Muhammad sangat mendorong kita untuk mampu menjadi juru perdamaian. Hal ini selaras dengan misi nabi yang merupakan penyempurna akhlakul karimah. Orang yang mengedepankan perdamaian memiliki akhlak yang baik dengan memberi tauladan untuk menebar kasih sayang dan menghindari permusuhan.

    Terlebih di negara kita ini yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi sebuah bangsa yang penuh dengan keanekaragaman suku, agama, budaya, dan adat istiadat. Prinsip perdamaian dalam perbedaan harus terus kita pegang dan semai bersama. Bukan hanya saat ini saja, namun para generasi penerus juga harus mampu meneruskannya. Bukan kepada sesama umat Islam saja, namun kepada seluruh masyarakat yang ada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita perlu mengingat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13:

    يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

    “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

    Jamaah Jumat Rahimakumullah,

    Oleh karenanya di penghujung khutbah ini, khatib berpesan, mari kita terus pupuk perdamaian dalam kehidupan terlebih dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Perdamaian yang mampu kita wujudkan ini menjadi sebuah bukti nyata bahwa kita adalah orang yang benar-benar Islam dan juga orang yang benar-benar beriman. Amin ya rabbal alamin.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

    اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sesama Muslim Harus Saling Tolong Menolong


    Jakarta

    Naskah khutbah Jumat kali ini akan membahas soal manusia yang tidak bisa lepas dari orang lain. Karena hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.

    Membantu sesama adalah hal yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dalam surat Al-Maidah ayat 2, Allah SWT berfirman,

    …وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ


    Artinya: “…Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.

    Mengutip buku “333 Mutiara Kebaikan” yang ditulis oleh Syaikh Abu Hamzah Abdul Hamid, disebutkan bahwa tolong-menolong di antara sesama Muslim seharusnya dilakukan karena umat Islam ibarat satu bangunan yang saling mendukung. Jika salah satu bagian dari bangunan tersebut tidak kuat, maka seluruh bangunan dapat mudah roboh.

    Hal ini sesuai dengan hadis dari Abu Musa RA, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagai sebuah bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (HR Bukhari)

    Sedangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Qutaibah, dari Abu Awanah, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW yang bersabda,

    ١٤٢٥ – (صَحِيحٌ) حَدَّثَنَا فَتَيَبةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: ((مَنْ نَفْسَ عَنْ مُؤْمِن كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَهُ اللهُ في الدُّنْيَا وَالْآخِرَة وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ)).

    Artinya: “Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang mukmin ketika di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi keburukan seorang muslim, Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim)

    Naskah Khutbah Jumat soal Tolong Menolong

    Berikut adalah naskah khutbah Jumat tema membantu sesama yang ditulis oleh Amien Nurhakim, Alumnus UIN Jakarta dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan. Naskah ini dikutip detikHikmah dari laman Kemenag.

    Khutbah I

    الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan semaksimal mungkin, takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhânahu wa ta’âla dan menjalankan perintah-Nya. Karena dengan ketakwaan, setiap persoalan hidup yang kita alami akan ada jalan keluarnya dan akan ada pula rezeki yang datang kepada kita tanpa disangka-sangka.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Ketika awal kita ada di dunia ini, kita membutuhkan seseorang yang menjadi perantara kelahiran, yaitu ibu. Saat itu, kita membutuhkan seorang bidan yang membantu mengeluarkan kita dari perut ibu. Dari kecil hingga tumbuh dewasa kita membutuhkan orang tua, ketika kesulitan dan memiliki hajat, kita membutuhkan tetangga dan warga sekitar, ketika punya problem kehidupan kita juga membutuhkan seorang pendengar, hingga ketika ajal menjemput, kita pun membutuhkan orang yang menguburkan jasad kita.

    Dari sini, kita dapat memahami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, kita semua saling membutuhkan satu sama lain. Oleh karena itu, pesan yang ditanamkan sejak kecil hingga dewasa adalah jangan bosan-bosan menolong orang lain yang membutuhkan.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk saling tolong menolong dan merekatkan tali persaudaraan. Tolong menolong di sini tidak terikat oleh apa pun. Bantulah dengan tulus siapa pun orangnya, entah dia kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau tidak mengenyam pendidikan sama sekali, bahkan muslim atau non-muslim, selama itu dalam ranah sosial dan kebaikan, maka tidak ada salahnya kita membantu mereka, karena bagaimana pun mereka adalah saudara dalam kemanusiaan. Kecuali, jika bantu membantu itu hal kejahatan dan keburukan, maka Islam melarang hal ini. Allah menegaskan dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 2:

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Menolong orang lain, khususnya mereka yang sedang kesulitan sungguh memiliki banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang yang kita tolong, bahkan kondisi masyarakat pun akan mendapatkan manfaat dari sikap dan perbuatan baik ini.

    Dengan menolong orang muslim yang sedang membutuhkan pertolongan, maka kita telah mencerminkan pesan persaudaraan yang ditamsilkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim:

    مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

    “Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (ikut merasakan sakitnya)”

    Lebih tegas terkait keutamaan menolong sesama Muslim, Rasulullah bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim:

    مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

    “Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Dalam hadits lain Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menolong orang yang dizalimi bahkan orang yang ingin berbuat zalim juga. Dalam hadis Nabi disebutkan:

    انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

    “Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zalim atau ketika dia dizalimi.”

    Dalam hadits yang disebutkan tadi, mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin kita menolong orang zalim padahal Allah telah melarang bantu membantu dalam hal keburukan. Hal ini pun pernah ditanyakan juga para sahabat, Rasulullah pun menjawab:

    تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

    “Pegang tangannya (tahan ia dari perbuatan zalim).”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Dari hadits-hadits di atas, kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua agar bermurah hati menolong sesama Muslim karena mereka adalah saudara kita. Pun tanpa menafikan kita juga harus menolong siapa saja orang-orang di sekitar kita yang sedang dalam kesulitan. KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berpesan:

    “Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa agamamu,”

    بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لَآ إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

    اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com