Tag: hikmah

  • Sederhana



    Jakarta

    Seorang pemimpin atau penguasa hendaknya hidup dengan sederhana, dan dapat mengendalikan dorongan hawa nafsu, seperti memakai pakaian mewah dan makan dengan berbagai masakan yang lezat dan enak-enak. Pemimpin hendaknya bersifat qanaah ( menerima apa adanya ) dalam semua hal. Ingatlah tiada keadilan tanpa sifat qanaah.

    Dikisahkan bahwa Umar bin Khattab bertanya kepada sebagian orang saleh, “Apakah anda melihat sesuatu dari sikapku yang kurang anda sukai?”

    Maka dijawab, “Aku mendengar Anda menjelaskan bahwa di meja makan Anda hanya ada dua pitong roti. Dikatakan pula bahwa Anda hanya memiliki dua potong baju, sepotong dikenakan untuk malam hari dan sepotong untuk siang hari.”


    “Adakah selain dua potong baju itu?” Tanya orang itu lagi. Maka Umar menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya dua potong baju itu tidak akan kekal.”

    Hidup sederhana merupakan akhlak terpuji yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Hidup sederhana artinya menerima apa adanya yang telah diberikan Allah SWT. dan menjauhkan diri dari sikap tidak puas serta menjauhkan sikap suka berlebihan. Ajaran Islam tidak menganjurkan seorang muslim untuk hidup dalam keadaan yang bermewah-mewah dan berlebihan. Sebaliknya, umat Islam dianjurkan untuk hidup dalam kesederhanaan sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya.

    Dalam hal berpakaian, hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian yang bagus disebabkan tawadu (merendahkan diri) di hadapan Allah SWT. sedangkan ia sebenarnya mampu, niscaya Allah SWT. memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segenap makhluk dan disuruh memilih jenis pakaian mana saja yang ia kehendaki untuk dikenakan.”

    Sedangkan dalam hal makan-makanan juga langsung diperintahkan oleh Allah SWT, dalam firmannya surah al-A’raf ayat 31 yang artinya, “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”.
    Ayat ini jelas melarang umat Islam berlaku berlebihan dalam hal makan maupun berpakaian. Hal yang sama sederhana dalam penampilan, tempat tinggal dan berprilaku.

    Orang yang sederhana khususnya pemimpin itu menjadikan ia tidak banyak berkebutuhan. Artinya jika seseorang penguasa sudah mencapai maqam ini maka ia telah mengendalikan hawa nafsunya. Kisah dibawah ini masih tentang Amirul Mukminin. Kisahnya sebagai berikut : Kaisar Romawi mengirim delegasi ke Amirul Mukminin untuk menyelidiki perilakunya. Setiba di kota delegasi itu bertanya, “Dimanakah raja kalian?”

    Jawab mereka, “Kami tidak punya raja, hanya seorang amir, yang sedang bertugas ke luar kota.” Lalu utusan itu mencari dan menemukan ‘Umar tidur di pelataran tanpa alas, di bawah terik matahari, dan hanya berbantal durrat. Keringatnya bercucuran. Utusan itu kagum melihatnya dan seraya berkata, “Seorang ( pemimpin ) yang tak tertandingi, ternyata hidup sangat sederhana. Karena berbuat adil, maka Umar bisa tidur dengan tenang dan pulas. Sedangkan raja kami culas, tentu tidak dapat tidur karena diliputi rasa was-was. Maka aku bersaksi bahwa Anda ( Umar bin Khattab ) benar. Bila aku datang bukan sebagai utusan, tentu aku sudah masuk Islam. Aku akan kembali setelah tugas ini dan akan masuk Islam.”

    Makna kisah diatas adalah :

    1. Sikap Amirul Mukminin yang sangat sederhana dan lebih mementingkan tugasnya sebagai pemimpin umat daripada kenikmatan fasilitas.
    2. Bersikap adil, sehingga tidur pun di pelataran hatinya tenang dan pulas. Kesederhanaan itu akan menuntun seseorang bersikap adil.

    Pada umumnya para pemimpin itu merasa khawatir tentang kekuasaannya, sehingga mereka memupuk loyalitas maupun ketergantungan orang pada dirinya. Sikap ini sebenarnya rentan, jika kekuasaannya telah bergoyang maka ramai-ramailah mereka meninggalkannya. Sekali lagi hilangkan tamak dan rakus atas harta kekayaan maupun kekuasaan karena kekuasaanmu tidak akan kekal dan jelas oleh Pemberi Kuasa akan dipergilirkan.

    Semoga Allah SWT memberikan negeri ini pemimpin yang sejatinya sederhana dan adil serta melayani masyarakat.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (aeb/aeb)



    Sumber : www.detik.com

  • Naskah Khutbah Jumat Soal Menjaga Lisan


    Jakarta

    Naskah Jumat kali ini akan membahas soal menjaga lisan. Hal tersebut sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan umatnya untuk selalu berbicara dengan kata-kata yang baik. Jika tidak mampu melakukannya, maka lebih baik untuk tetap diam, yang memiliki arti sama dengan menjaga perkataan.

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.” (HR Al Bukhari)


    Karena lisan dapat diibaratkan sebagai pisau. Jika digunakan secara sembarangan, dapat melukai perasaan orang.

    Merujuk pada buku “Sejumlah Amalan Penting Penghuni Surga saat di Dunia” karya Ahmad Abi Al-Musabbih, terdapat banyak perbuatan yang bermula dari lisan dan akhirnya menimbulkan dosa. Contohnya adalah ghibah, mengadu domba, pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan candaan yang berlebihan.

    Mengutip laman Kemenag, berikut ini adalah naskah khutbah Jumat tema menjaga lisan yang disusun oleh Amien Nurhakim, Alumnus UIN Jakarta dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan.

    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَـمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Pada kesempatan mulia ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa; dengan menjauhi larangan Allah sejauh-jauhnya dan menjalankan perintah-Nya semampunya. Dengan demikian kita dapat berproses menjadi sebaik-baiknya hamba Allah sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13:

    اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

    “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Sesungguhnya umat Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan, baik manusia, hewan, hingga tumbuh-tumbuhan dan lingkungan. Di antara bentuk kasih sayang yang terkandung dalam ajaran Islam adalah berkata-kata yang baik.

    Perkataan dan ucapan yang baik merupakan perbuatan terpuji yang mendatangkan kebaikan dan dapat meninggikan derajat, baik di sisi Allah maupun di tengah-tengah manusia.

    Allah SWT memerintahkan kita untuk mengucapkan perkataan yang baik. Dalam Surat al-Baqarah ayat 83 Allah berfirman:

    قُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

    “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”

    Allah SWT juga menjanjikan surga kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalam surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, pakaian mereka di sana adalah sutera.

    Di ayat selanjutnya karakter mereka ditegaskan, yaitu orang-orang yang di dunia diberi petunjuk untuk mengucapkan ucapan-ucapan yang baik. Allah ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hajj ayat 24:

    وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ

    “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.”

    Di ayat lain Allah menegaskan agar orang-orang beriman untuk berkata-kata yang baik, baik kepada sesama muslim maupun non-muslim. Allah berfirman dalam surat Al-Isra ayat 53:

    وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

    “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

    Ayat-ayat yang telah dibacakan tadi merupakan pengingat bagi kita supaya senantiasa menjaga ucapan kita. Tidaklah yang keluar dari mulut kita melainkan kebaikan, minimal, jika kita tidak bisa mengucapkan kebaikan, maka lebih baik diam. Jangan sampai ucapan yang keluar dari lisan kita malah menyakiti hati orang lain. Ingatlah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita semua:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

    “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

    Jangan sampai perkataan kita yang tidak baik kepada orang lain membuat kekacauan di tengah-tengah masyarakat dan merusak hubungan harmonis yang telah tumbuh dan terpelihara di dalamnya. Berkata apa saja boleh, asalkan jangan berlebihan sehingga nantinya ucapan kita tidak dapat disaring dan perkataan buruk pun mengarah kepada orang lain, akhirnya hal itu menimbulkan kerusakan dan penyakit hati, baik bagi orang yang berbicara maupun mendengarnya.

    Tentunya, ucapan yang tidak baik merupakan akhlak yang tercela dan dapat menimbulkan kebencian di tengah-tengah manusia. Imam al-Lu’lui mengatakan dalam syair Adabut Thalab:

    وَفِي كَثِيْرِ الْقَوْلِ بَعْضُ الْمَقْتِ

    “Dalam banyaknya bicara dapat menimbulkan sebagian kebencian.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Imam al-Nawawi berkata:

    يَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ أَن يَنْطِقَ أَنْ يَتَدَبَّرَ مَا يَقُوْلُ قَبْلَ أَنْ يَنْطِقَ، فَإِنْ ظَهَرَتْ فِيْهِ مَصْلَحَةٌ تَكَلَّمَ، وَإِلَّا أَمْسَكَ

    “Hendaknya bagi siapa pun yang ingin berbicara, ia pikir-pikir terlebih dahulu, apabila ucapannya mengandung maslahat, maka silakan, apabila tidak, maka lebih baik diam.”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang sangat peduli kepada umatnya, beliau tidak mau dan sedih jika umatnya masuk neraka, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kiat-kiat supaya umatnya terbebas dari api neraka. Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

    اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

    “Jauhilah neraka meski dengan [bersedekah] sepotong kurma, jika tidak melakukannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan tutur kata yang baik.”

    Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

    Semoga kita dapat menjadi pribadi yang baik dalam berperilaku maupun bertutur kata, semoga kita digolongkan sebagai orang yang beriman, dan orang yang beriman itu bukanlah mereka yang suka mencaci maupun melaknat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ

    “Orang yang beriman bukanlah orang yang suka mencela dan mengutuk.”

    بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

    أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

    اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Syarat Penguasa



    Jakarta

    Syarat seorang penguasa hendaknya mempunyai 12 pekerti, yaitu Pengendalian diri, sopan, takwa, amanah, sehat, sifat malu, murah hati, berbudi luhur, menepati janji, sabar, penyantun dan disiplin. Inilah beberapa sifat penting yang hendaknya dimiliki penguasa. Ingatlah bahwa sesuatu menjadi indah karena manusia. Manusia yang menjadikan indah karena ilmu, dan kedudukan mereka menjadi tinggi karena akal. Tidak ada yang sebaik akal dan ilmu, lantaran ilmu menjadi pengekal kemuliaan dan akal menjadi pengekal kebahagiaan dan pengendalinya.

    Oleh sebab itu, diharapkan akal selalu beserta ilmu, sebagaimana nikmat selalu beserta syukur, persahabatan beserta kemesraan, dan ijtihad beserta kedaulatan. Jika kedaulatan telah ada, maka tergapailah semua kehendaknya. Kendalikan nafsu dengan kejernihan akal, jika hanya nafsu tanpa akal maka seseorang ( penguasa ) akan menjadi liar, rakus dan merugikan banyak pihak. Ketahuilah bahwa Allah SWT. memberikan akal dan nafsu sebagaimana Dia menciptakan bumi dan gunung-gunung sebagai fondasi dari bumi yang tercipta di atas air.

    Aristoteles berkata, “Sebaik-baik penguasa adalah orang yang pandangannya tajam bak burung rajawali, sedangkan orang-orang yang berada di sampingnya para pejabat teras kerajaan, memiliki kecerdasan yang serupa, bagaikan banyak burung rajawali bukan seumpama bangkai.”
    Maksud tersebut di atas adalah seorang penguasa yang mempunyai pandangan cemerlang dan dapat mengetahui banyak hal, sementara para pendampingnya dan para pejabat teras kerajaan memiliki pandangan serupa, maka menjadi sempurna semua urusan pemerintahannya dan tegaklah semua urusan warganya.


    Alexander berkata, “Sebaik-baiknya raja adalah orang yang mengganti tradisi buruk dengan tradisi baik. Sebaliknya, seburuk-buruk raja adalah orang yang mengganti tradisi baik dengan tradisi buruk. Adapun Sufyan Tsauri berkata, “Sebaik-baiknya penguasa adalah orang yang berteman dengan kaum cerdik pandai.”

    Kekuasaan atau seseorang penguasa tentu tidak akan seterusnya, karena Allah SWT. telah menentukan batasannya sebagaimana dalam firman-Nya surah ali-Imran ayat 140 yang artinya, “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

    Pada suatu hari Abdullah Ibn Thahir bertanya kepada ayahnya, “Berapa lama kekuasaan ini akan berada di tangan kita dan bertahan di istana kerajaan kita?” Kemudian ayahnya menjawab. “Selagi keadilan dan kejujuran dikembangkan di istana ini.”
    Unsur kejujuran dan keadilan adalah hal penting bagi penguasa untuk menjalankan amanahnya.

    Ada seorang penguasa yang kehilangan kekuasaannya pernah ditanya, “Apa sebab kekuasaanmu lenyap dan berpindah kepada orang lain?”
    Jawabnya, “Aku tertipu oleh kekuasaan, kekuatan dan kesenanganku akan pendapat dan pengetahuanku. Aku melupakan musyawarah dan menyerahkan kekuasaan kepada para petugas yang tak berpengalaman, melupakan petugas senior dan berpengalaman. Aku telah menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang tepat, tidak banyak berpikir tentang peluang itu, dan tiada pula melaksanakan pada saat yang diperlukan. Aku kurang tanggap pada tempat yang harus siap segera, dan kurang cepat menggunakan kesempatan dan kesibukan untuk memenuhi segala keperluan.”

    Ditanyakan lagi, “Apakah yang paling menimbulkan keburukan ?”
    Jawabnya, “Para utusan yang tidak jujur, yaitu orang-orang yang berkhianat dalam menyampaikan risalah, hanya karena kepentingan perut mereka. Betapa banyak kerajaan menjadi hancur karena ulah mereka.”

    Dari kisah-kisah di atas, jelas bahwa seorang penguasa hendaknya jujur, adil dan memilih dengan tepat para pembantunya ( yang berakhlak dan berkemampuan ). Mempunyai pengetahuan yang luas adalah modal untuk mengembangkan negerinya. Sebagian orang yang silau akan pesona jabatan, maka dia akan membela dan mengelu-elukan idolanya, kadang dia lupa bahwa pada kurun sebelumnya berseberangan dan beda visi. Orang yang bersikap seperti ini akan merepotkan penguasa jika dia menjadi pembantunya, kecuali jika penguasa tersebut menyadari untuk saling berbagi ” kenikmatan.” Maka itulah merupakan masa-masa menuju keruntuhan.

    Bagi masyarakat yang akan memilih pemimpin jadikanlah syarat 12 pekerti di atas, tentu akan sulit pemimpin yang bisa memenuhi keseluruhannya. Namun, pilihlah yang paling mendekati 12 pekerti tersebut. Semoga Allah SWT. membimbing kita semua dalam menentukan pilihan pemimpin negeri.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bersih Dimulai dari Asalnya



    Jakarta

    Dikisahkan pada masa pemerintahan Anusyirwan, seorang hakim agung berkata, “Adakah sulit mempertahankan kekuasaan, kecuali didukung oleh beberapa orang sahabat yang baik, dapat memberikan nasihat dan dapat memberikan dukungan. Namun demikian, tidak ada gunanya para pendukung yang baik di atas terkecuali sang raja termasuk orang yang bertakwa. Sebab yang pertama harus baik adalah asalnya, baru cabang-cabangnya.”

    Jadi peran pemimpin / penguasa adalah induk dari ujung (yang merupakan hasil kerjanya), jika ia tidak berakhlak maka reputasinya tercela dan sebaliknya jika berakhlak mulia maka rakyat mendapatkan manfaat dan akan mencintainya. Sebagaimana saat Mu’awiyah bertanya kepada Ahnaf ibn Qais, “Hai Abu Yahya, bagaimanakah situasi masa kini ?”
    Jawabnya, “Zaman adalah engkau. Jika engkau baik, zaman pun baik, dan jika engkau rusak, zaman pun rusak.”

    Adapun yang dimaksud ketakwaan, kejujuran, dan kebenaran sang raja adalah ia harus benar dan sungguh-sungguh dalam semua hal, memberikan perintah dengan benar, baik dengan perkataan maupun perbuatan-perbuatannya ( sebagai contoh ). Diharapkan dengan kebenarannya, maka seluruh partner dan pendukungnya serta rakyat menjadi benar pula.


    Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang pemimpin untuk beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Dengan demikian, ia akan mendapatkan pertolongan Allah SWT dalam menjalankan tugasnya dan dapat membawa rakyatnya ke jalan yang diridhoi Allah SWT. Ia harus memiliki kepercayaan yang penuh kepada Allah SWT. dan yakin bahwa kekuasaannya, kemenangannya atas musuh-musuhnya dan tercapainya cita-cita itu datang dari Allah SWT. semata. Ia tidak boleh tidak boleh membanggakan diri, sebab jika ia sombong dan congkak maka kehancuran akan menimpa dirinya.

    Pemimpin dalam Islam haruslah memiliki rasa takut dan bertakwa kepada Allah SWT, serta hatinya selalu terpaut kepada-Nya yang dengan-Nya akan menghindarkan dirinya dari berlaku zalim terhadap rakyatnya. Dan ia pun menyadari begitu besar tanggung jawab dan dampak dari setiap keputusan yang diambilnya. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW. sebagai berikut :

    1. “Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR al-Bukhari).
    2. “Imam (pemimpin) itu Pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Ahmad). Kepemimpinan dalam skala bernegara adalah amanah untuk mengurus rakyat.

    Jadi sebagai pemimpin yang bertakwa, segala tindakannya akan selalu terjaga karena setiap saat menyadari bahwa kekuasaan yang ia emban itu fana. Jika ada seseorang yang menunjukkan bahwa ia berkuasa, maka orang itu terlihat kurang memahami makna amanah yang diberikan Allah SWT. kepadanya. Adapun tujuan kekuasaan itu sesuai dengan tuntunan ajaran Islam adalah untuk berbagi kebaikan, membantu masyarakat dalam peradilan, membantu orang yang kesulitan hidup dan semua itu dilakukan dengan semangat “melayani.”

    Keinginan untuk menyapu tindakan koruptif, hendaknya sapu tersebut “bersih” dari kotoran hasil korupsi. Pemimpin yang bersih, secara otomatis akan menjadi contoh dan teladan bagi teamnya. Mari kita cermati bagian surat Amirul Mukminin Umar bin Khattab kepada Abu Musa al-Asy’ari : “Ketahuilah, bahwa seorang pemimpin itu akan kembali kepada Allah SWT. Maka apabila pemimpin itu menyeleweng rakyat pun pasti menyeleweng. Sesungguhnya, orang yang paling celaka ialah orang yang menjadi sebab sengsaranya rakyat.”

    Oleh sebab itu menjadi penguasa/pemimpin itu tidaklah mudah karena posisinya itu jelas antara mendapatkan siksa di neraka atau kemuliaan di surga. Bagi orang beriman bahwa kekuasaan itu dijadikan wasilah untuk bekal kehidupan abadi, sebaliknya bagi orang-orang yang tamak dan serakah maka kekuasaan digunakan untuk menggapai dunia ( sebagai tujuannya ).

    Untuk menutup tulisan ini, mari kita simak firman-Nya surah ali-Imran ayat 159 yang artinya, “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

    Semoga Allah SWT. memberikan petunjuk agar para pemimpin di negeri ini makin kokoh imannya dan menjadi teladan kebaikan dan jauhkan dari sifat serakah dan tamak.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 100 Hari Agresi Israel di Gaza dan Nasib Bantuan Kemanusiaan



    Jakarta

    Ahad 14 Januari 2024 genap 100 hari agresi militer Israel di Gaza. Terlalu mewah untuk menyebutnya perang. Serangan “Badai Al-Aqsa” 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1300 orang di Israel tidak berdiri sendiri. Itu bentuk perlawanan sebuah bangsa yang tertindas sejak tahun 1948. Serangan balik Israel ternyata lebih barbar. Laporan observatorium Hak Asai Manusia Euro-Mediterania menyebutkan, dalam 100 hari agresi Israel telah mengakibatkan 100 ribu warga Palestina menderita, antara gugur sebagai syuhada, luka-luka dan hilang. Kejahatan perang Israel memakan korban rata-rata 1000 orang setiap harinya. 92% korban adalah warga sipil, di antaranya 12.345 anak-anak, 6.471 perempuan, 295 tenaga kesehatan dan 113 jurnalis. Otoritas Palestina di Gaza menyebut, sampai sabtu 13 Januari lalu, 23.843 orang gugur sebagai syuhada dan 60.317 orang luka-luka.

    Hampir dua juta warga Palestina (1.955.000 orang) atau 85% penduduk Gaza mengungsi secara paksa dari tempat tinggal mereka. Data UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, menyebut 90%. Tanpa tempat pengungsian yang aman. Berpindah-pindah seperti buah catur, dari satu tempat ke tempat lain yang dinyatakan aman, tetapi berujung pada serangan. Agresi berdarah Israel tanpa kecuali menyasar fasilitas kesehatan, sekolah, masjid dan gereja. Euro-Med menuduh Israel sengaja menghancurkan infrastrukur di Gaza, dan menjadikannya wilayah tak layak huni. Hal senada disampaikan Martin Griffiths, Kepala Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB, Jumat pekan lalu (12/1). “Gaza telah menjadi wilayah tidak layak huni, dan hanya menjadi tempat kematian dan putus asa”, katanya.

    Di bawah serangan membabi buta tak ada pasokan listrik, bahan bakar, air bersih dan makanan. Laporan NGO Israel, B’Tselem, yang didirikan oleh sekelompok figur penting Israel tahun 1989, pada Senin 8 Januari 2024, menyebutkan seluruh penduduk Gaza (2,2 juta orang) menderita kelaparan. Bukan karena efek peperangan, tetapi karena praktik metode perang Israel yang sengaja membuat orang kelaparan. Siasat ini menyebabkan orang menunggu dalam antrian panjang untuk bantuan yang sedikit dan warga yang lapar menyerbu truk bantuan. Ini bertentangan dengan hukum humaniter internasional.


    Pengiriman bantuan dari masyarakat Indonesia ke PalestinaPengiriman bantuan dari masyarakat Indonesia ke Palestina Foto: Dokumentasi Baznas

    Untuk memenuhi kebutuhan hidup warga Gaza mengandalkan pasokan makanan dari luar. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi makanan sendiri. Sebagaian besar lahan pertanian dihancurkan. Tempat produksi roti, pabrik dan gudang perbekalan makanan hancur diserang, atau ditutup karena tidak ada bahan pokok, bahan bakar dan listrik. Persediaan makanan dan air minum di rumah sudah lama habis. Menurut juru bicara kantor regional Program Pangan Dunia PBB (WRP), satu dari empat orang warga Gaza mengalami kelaparan ekstrem. Artinya, setengah juta orang di Gaza mengalami kekurangan pangan.

    Hambatan Bantuan Kemanusiaan

    Sejak perang tahun 2006 Gaza berada dalam kubangan bencana kemanusiaan, akibat blokade Israel. Selama 17 tahun 80% warga Gaza mengandalkan bantuan kemanusiaan. Sebelum agresi Israel terakhir, setiap hari tidak kurang dari 500 truk membawa berbagai jenis barang dari beberapa pintu perbatasan, antara lain pintu Erez, Kerem Shalom (Karam Abu Salim), dan Rafah. Kini, semua ditutup, kecuali pintu perbatasan Rafah, antara Gaza dan Mesir. Itu pun setelah didesak dunia internasional. Belakangan, pada medio Desember tahun lalu, Israel membuka pintu Kerem Shalom, 5 km ke arah selatan pintu Rafah. Kerem Shalom dibuka khusus untuk truk bantuan PBB. Sementara truk lainnya hanya diperiksa di situ, tetapi masuk tetap melalui Rafah. Kedua perlintasan perbatasan itu hanya memenuhi 10% kebutuhan warga Gaza. Pada minggu pertama tahun ini, diperkirakan hanya 80 hingga 177 truk bantuan yang masuk. Sangat jauh dari mencukupi
    kebutuhan warga Gaza.

    Bukan tidak ada bantuan. Pada 6 Januari 2024 misalnya, setelah melihat fakta di perbatasan Rafah, dua senator Amerika, Chris Van Hollen dan Jeff Merkley, mengatakan, ratusan truk bantuan berada dalam antrian berminggu-minggu untuk bisa masuk ke Gaza. Di gudang barang bantuan menumpuk, mulai dari alat penguji air hingga perlengkapan kesehatan untuk persalinan bayi dilarang masuk oleh Israel. Proses pemeriksaan yang melelahkan dan berlebihan dari pihak Israel membuat pengiriman bantuan kemanusiaan terhambat. Lagi pula pintu perbatasan Rafah sebenarnya untuk perlintasan orang, bukan truk barang.

    Lembaga kemanusiaan yang menyalurkan bantuan pun mengalami kesulitan menjangkau seluruh wilayah Gaza. Perbatasan Rafah berada di sebelah selatan Gaza. Menggerakkan truk bantuan menuju utara Gaza yang saat ini dihuni tidak kurang dari 250 hingga 300 ribu warga perlu perjuangan. Bahkan menjangkau pusat kota Gaza saja sulit di tengah serangan Isarel yang bertubi-tubi. Bulan lalu Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan resolusi untuk mengambil langkah cepat memperkenakan bantuan kemanusia masuk secara meluasa dan aman tanpa hambatan melalui perangkat PBB dan pihak-pihak terkait. Namun, hingga kini belum terlaksana. Apalagi, Israel terang-terangan menolak resolusi tersebut sejak dikeluarkan.
    Upaya Baznas RI

    Di tengah keterbatasan ini Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang mendapat kepercayaan besar dari masyarakat Indonesia bekerja keras menyalurkan bantuan. Hingga ahad, 14 Januari 2024, Baznas berhasil menghimpun donasi Palestina sebesar 191 miliar rupiah (12 juta US Dollar). Selain mengirim bantuan melalui pesawat dalam misi bantuan kemanusiaan Pemerintah Republik Indonesia dan mitra Baznas di Palestina, Baznas juga menyalurkan bantuan dari Mesir ke Gaza bekerjasama dengan mitra terpercaya di Mesir melalui pintu Rafah. Dari tiga kali pengiriman sebanyak 19 truk bantuan berupa makanan dan obat-obatan, pada Desember 2023, perjalanan truk bantuan mulai dari Kairo hingga kembali dari Gaza memakan waktu antara 10 hingga 14 hari. Mulai masuk terowongan Kanal Suez di Ismailiyah, menjelang Sinai Utara, truk-truk menjalani pemeriksaan ketat dari otoritas intelijen militer Mesir. Sejak Presiden Husni Mubarak tumbang pada 2011, dan transisi pemerintahan tahun 2014, Sinai Utara menjadi daerah operasi militer, karena menjadi sarang persembunyian kelompok ekstrem. Pemeriksaan pun berlapis.

    Menghadapi situasi kemanusiaan di Gaza saat ini perlu strategi nafas panjang. Apalagi tidak ada yang bisa menerka kapan agresi Israel akan berakhir, dan bagaimana Gaza pasca agresi. Egyptian Red Crescent (ERC), pihak yang ditunjuk pemerintah Mesir untuk menyalurkan bantuan ke Gaza, sempat mengkhawatirkan bantuan datang bertubi-tubi menumpuk di awal krisis, namun terhenti setelah itu, saat Gaza tenang dan bantuan bisa masuk secara meluas. Atas dasar itu, Baznas membuat skema penyaluran donasi yang dihimpun melalui tiga tahap; 40% di masa tanggap darurat, 20% untuk recovery, dan 40% untuk rekonstruksi.

    Tentunya kita berharap perang segera berakhir. Untuk menghindari bencana kemanusiaan yang lebih parah lagi, tidak ada jalan lain kecuali penghentian agresi dan serangan bersenjata. Bantuan kemanusiaan dan barang komersial agar diperkenankan masuk kembali secara meluas dengan mudah dan berkelanjutan melalui berbagai jalur. Bila tidak, kita semua akan menjadi saksi sejarah kebiadaban terbesar dalam sejarah manusia modern.

    Muchlis M Hanafi
    Sekretaris Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Pemimpin Hendaknya Sabar



    Jakarta

    Dikisahkan tentang Nabi Zulkifli : Meski telah menjadi raja, Nabi Zulkifli tetap tak berhenti melaksanakan puasa dan shalat malam. Itu karena Nabi Zulkifli dikenal sebagai ahli ibadah. Ia hanya tidur sebentar setiap malam dan menghabiskan sebagian waktunya untuk beribadah. Karena hal itu, iblis pun ingin menggoda keimanan Nabi Zulkifli.

    Pada suatu malam, iblis datang menyamar sebagai seorang kakek. Iblis bermaksud untuk mengganggu waktu tidur Nabi Zulkifli agar melalaikan shalat malamnya. Pengawal kerajaan sempat melarang kakek tersebut untuk masuk, namun ia terus memaksa hingga membuat keributan. Nabi Zulkifli yang mendengar keributan pun memerintahkan pengawal untuk mengizinkan kakek tersebut masuk dan menemuinya.

    Iblis berkedok kakek tersebut mengumpat Nabi Zulkifli ketika dipersilahkan masuk. Namun, Nabi Zulkifli tidak marah, justru terus bersabar, hingga iblis pun merasa bosan dan akhirnya meminta izin untuk pulang. Para pengawal yang merasa heran pun menanyakan kepada nabi, siapakah kakek itu. Lantas, nabi menjawab bahwa kakek itu adalah iblis.


    Ingatlah bahwa bersabar itu perintah Allah SWT. sebagaimana firman-Nya :
    1. Surah an-Nahl ayat 127 yang artinya, “Bersabarlah, kesabaranmu itu tak lain adalah berkat pertolongan Allah.” Dan bersabarlah kamu (wahai rasul), terhadap gangguan yang menimpamu di jalan Allah SWT. sampai datang kepadamu jalan keluar. Dan tidaklah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah SWT. yang menolongmu untuk tetap bersabar dan meneguhkan(hati) mu. Permasalahan sebagai pemimpin tentu tidaklah sedikit, oleh karena itu dengan kesabaran, maka akan Allah SWT. beri pertolongan dengan jalan keluar atas masalah yang ada.
    2. Surah at-Thur ayat 48 yang artinya, “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” Jelas bahwa bersabar menanti takdir merupakan perbuatan yang baik dan meyakini serta ridha atas segala sesuatu yang akan terjadi. Dalam hal ini kadangkala seseorang tidaklah sabar dan ingin segera terjadi, padahal keinginan itu tidak terwujud lantaran tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Tindakan ini adalah sia-sia belaka.

    Hadis yang diriwayatkan Ibnu Abi al-Dunya, Rusulullah SAW. bersabda, “Ada tiga macam sabar : sabar menghadapi musibah, sabar menjalankan ibadah, dan sabar menjauhi maksiat. Orang yang bersabar menghadapi musibah dengan tekad yang baik, niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya sebanyak tiga ratus derajat. Jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Orang yang sabar menjalankan ibadah akan diangkat kedudukannya sebanyak enam ratus derajat. Jarak antara satu derajat dan derajat lainnya seperti jarak antara dasar bumi dan puncak Arasy. Dan orang yang bersabar menghindari maksiat akan diangkat kedudukannya sebanyak sembilan ratus derajat. Jarak antara satu derajat dan derajat lainnya dua kali lipat lebih jauh daripada jarak antara bumi dan puncak Arasy.

    Kisah Nabi Zulkifli sebagai raja yang dimaki-maki seorang kakek, beliau tetap bersabar hingga si kakek ( yang jelmaan iblis ) berlalu tanpa hasil. Kesabaran inilah dibutuhkan bagi pemimpin saat ini, karena dengan sabar akan datang pertolongan-Nya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Menampakkan sikap emosi pastilah bukan menyelesaikan namun justru akan mempertajam bahkan bisa melebar persoalan tersebut. Coba kita cari apakah ada tokoh-tokoh yang berjiwa besar menampakkan emosinya ? Tentu jawabnya, “Tidak ada.”

    Sebetulnya cara bersabar itu sederhana meskipun tidak mudah diterapkan. Pertama, tabahlah saat menghadapi guncangan pertama ( masa-masa awal terjadinya musibah ). Kedua, pasrahkan diri pada Allah SWT. Ketiga, tenangkan diri jika perlu menangis tidak dilarang. Orang bijak berkata, “Kesedihan tidak bisa mengembalikan keadaan, tetapi bisa mengurangi beban.” Keempat, jangan tampakkan kesedihan pada orang lain. Nasihat Ali bin Abi Thalib, “Demi memuliakan AllahSWT. dan menunaikan hak-hak-Nya, jangan keluhkan keadaan sakitmu dan jangan sebut-sebut musibahmu.” Hal ini yang sering kita dengar dan alami, saat seseorang mendapatkan musibah malah mengeluh dengan bercerita pada banyak orang.

    Adalah ujian yang berat adalah saat dituduh telah melakukan penyelewengan, hadapilah dengan penuh kesabaran dan sampaikan dengan santun serta beberkan data-data yang menjadi fakta. Kecuali jika tuduhan itu benar dan yang dituduh membela diri. Ingatlah bahwa Allah SWT. menjadikan kesabaran sebagai sumber datangnya cinta, kebersamaan, pertolongan, bantuan dan balasan yang baik. Salah satu dari kelima itu sungguh cukup
    untuk mendatangkan keutamaan bagi seorang hamba.

    Oleh sebab itu, siapa pun nanti yang dikehendaki-Nya untuk memimpin negeri tercinta ini hendaklah mengutamakan sikap sabar dalam menjalankan amanahnya. Sungguh Allah SWT. Maha Adil dan Bijaksana.

    Aunur Rofiq
    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Etika Debat dalam Islam



    Jakarta

    Dalam bahasa Arab debat disebut dengan jadal atau jidal. Pengertian debat seperti yang disebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi argumen untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Debat dilakukan bertujuan untuk menyampaikan dan mempertahankan argumen. Argumen yang berkualitas dapat disampaikan berdasarkan fakta, bukti, dan pola pikir yang logis.

    Dalam al-Quran, berkenaan dengan debat disebut dalam Surat an-Nahl ayat 125,

    اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ


    Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk [QS. an-Nahl [16]: 125].

    Makna kalimat وَجَادِلْهُم dalam ayat di atas, sebagaimana disebut dalam Tafsir Ibnu Katsir adalah seseorang yang mengajukan alasan dalam berdebat dan membantah hendaklah dilakukan dengan cara yang baik dan lemah lembut dalam berbicara.

    Dalam ayat lain, Allah berfirman tentang pentingnya memilih diksi atau redaksi yang baik saat berdiskusi dengan orang lain.

    فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

    Berbicaralah kamu (Musa) berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut [QS. Thaha (20): 44].

    Dalam Islam debat sudah ada dan biasa dilakukan oleh para Nabi terdahulu. Hal itu dilakukan untuk menyampaikan kebenaran ajaran yang didakwahkan kepada kaumnya, dan tentu disampaikan dengan etika atau tata krama yang baik. Perdebatan para Nabi dengan kaumnya, antara lain dapat dilihat pada kisah Nabi Nuh Alaihi As-Salam saat berdebat dengan kaumnya untuk mengajak meng-Esakan Allah, seperti yang dijelaskan dalam al-Quran Surat Hud ayat 25-33. Terdapat juga kisah perdebatan antara Nabi Ibrahim Alaihi As-Salam dengan ayah dan kaumnya terkait larangan menyekutukan Allah, sebagaimana disebut dalam al-Quran Surat Al-An’am ayat 74-83. Atau juga kisah perdebatan Nabi Ibrahim Alaihi As-Salam dengan Namrud saat Namrud mengaku dirinya sebagai tuhan seperti yang dikisahkan dalam al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 258. Terdapat juga dalam al-Quran Surat Hud ayat 84-93 tentang kisah perdebatan antara Nabi Syuaib Alaihi As-Salam dengan kaumnya tentang seruan menyembah Allah, menjauhi kekufuran, mengurangi ukuran timbangan dan larangan memakan harta milik orang lain dengan cara yang batil.

    Etika Mulia dalam Berdebat

    Debat yang baik sejatinya bertujuan untuk bertukar pikiran dengan saling memberikan alasan atau argumentasi. Oleh karenanya, orang yang saling berdebat masing-masing hendaknya menjaga atau memperhatikan adab atau etika debat yang antara lain sebagai berikut;

    1. Berdebat dengan niat yang baik. Niat yang baik saat berdebat dilakukan untuk mencari dan menjunjung nilai-nilai kebenaran, mengungkap fakta disertai argumentasi atau bukti yang akurat, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

    2. Orang yang berdebat memiliki pengetahuan dan kemampuan atas disiplin ilmu yang menjadi tema debat dengan merujuk pada sumber-sumber yang otoritatif.

    3. Jika terjadi perselisihan antara kedua belah pihak, maka solusinya kembalikanlah persoalan itu kepada sumber pokoknya dalam Islam, yaitu Al-Quran dan Hadis.

    4. Pada saat berdebat hendaknya menggunakan diksi yang baik serta cara atau etika dan tata krama yang mulia; bahasa yang lembut, tidak meremehkan lawan debat, apalagi menghina lawan debatnya.

    5. Mendahulukan pembahasan yang lebih penting yang bersifat subtansial.

    6. Menghindari narasi atau redaksi yang panjang, memilih bahasa yang familiar yang mudah dipahami oleh lawan debatnya, dan tidak boleh keluar dari tema pokok pembahasan debat.

    7. Pentingnya memperhatikan keseluruhan aspek dalam berdialektika, baik yang berkaitan dengan orang yang terlibat, materi yang dikaji, kondisi, dan lokasi perdebatan.

    Jika tujuh poin etika atau tata krama cara berdebat di atas dapat dilakukan oleh orang yang saling berdebat, maka acara debat dapat dinikmati dengan baik, menjadi ilmu bagi yang mendengar atau melihatnya, menjadi nilai edukatif bagi para pemirsa, dan tentu saja orang yang berdebat akan menuai pujian dari orang lain.

    KH. Abdul Muiz Ali
    Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Visi Pemimpin



    Jakarta

    Visi merupakan suatu rangkaian kata yang di dalamnya terdapat impian, cita-cita atau nilai inti dari seorang pemimpin. Bisa dikatakan visi menjadi tujuan masa depan suatu organisasi atau lembaga maupun suatu negeri. Atau merupakan kemampuan untuk mencapai sesuatu pada masa depan. Dengan visi, maka kita didorong melakukan inovasi dan kreasi untuk meraih sesuatu yang belum dicapai.

    Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata, “Usahakan jangan sampai kamu memiliki cita-cita yang rendah. Kulihat tak ada sesuatu yang dapat menjatuhkan kekuatan seseorang ketimbang rendahnya cita-cita.”

    Sedangkan Amir ibn Al-Ash berkata, “Derajat seseorang bergantung bagaimana ia meletakkan dirinya. Jika ia menjadikan dirinya mulia, jadilah ia orang yang terhormat. Apabila ia merendahkan dirinya maka jadilah ia seorang yang rendah dan hina.”


    Hal ini bisa terlihat kondisi para elite negeri ini, sebagian telah meletakkan dirinya rendah dan hina dan sebagian lainnya menempatkan dirinya sebagai orang yang mulia. Maka bagi generasi muda muslim yang saat ini berpolitik, lakukan dan tempatkan diri sebagai politisi yang baik dan melayani rakyat. Tempatkan diri pada derajat yang mulia dan jangan engkau hinakan dirimu sendiri.

    Menghinakan diri itu tidak ubahnya berprilaku bergantung pada sesama, padahal makhluk pada hakikatnya faqir, sia-sialah bergantung pada sesama faqirnya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Ankabut ayat 41 yang artinya, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba – laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”

    Kaum musyrikin yang menyembah berhala atau selain Allah SWT. untuk mewujudkan harapan mereka diibaratkan seperti rumah laba-laba, yaitu rumah yang paling rapuh dan lemah untuk berlindung. Secara logika berlindung pada yang lemah itu tidak bisa diterima, jika ini dilakukan maka menunjukkan bahwa dirinya terhijab atas pelindung dari segala pelindung yaitu Allah SWT.

    Mari kita simak kisah seorang pemimpin yang berakhlak mulia. Diceritakan bahwa raja Hermiz ibn Sabur memiliki seorang menteri. Dia mengirim surat pada baginda raja untuk memberi kabar disana ( pelabuhan ) terdapat para saudagar yang membawa banyak perhiasan permata, intan dan yaqut yang sangat indah dan bernilai tinggi.
    “Kami sendiri” tutur menteri, “telah membeli dari mereka sebagian pajangan almari dengan harga kurang lebih 1.000 dinar. Sekarang telah datang seorang saudagar yang mencari perhiasan seperti itu dan ia bersedia membelinya dengan harga mahal ( dapat memberi keuntungan besar ). Jika Paduka berkenan membelinya, maka renungkanlah peluang ini. “

    Lalu Baginda menulis surat sebagai jawaban. Isinya, “Satu juta maupun satu milyar aku tidak tertarik sedikit pun. Jika aku bekerja karena motif perdagangan dan komersial maka siapa yang akan bekerja dengan imarah dan pemerintahan.”
    ” Coba kamu renungkan untuk dirimu sendiri, wahai orang bodoh. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perkataan ini kepadaku. Jangan pula kamu mencampur ke dalam harta kami satu sen pun dari perdagangan. Sebab hal ini dapat meruntuhkan kehormatan seorang raja dan dapat pula mencoreng nama baiknya. Juga dapat membahayakan prestisnya semasa hidup maupun setelahnya.”

    Kisah ini telah memberikan gambaran yang jelas untuk tidak mencampurkan amanah sebagai pemimpin dengan kepentingan lainnya. Yang sering menggoda dan tergelincirnya bagi seorang pemimpin adalah motif komersil. Posisi itu telah memudahkan baginya ( pemimpin ) untuk mendapatkan keuntungan finansial yang tidak sedikit. Ingatlah bahwa menjadi seorang pemimpin negeri bukan sekedar motif bisnis diri dan kroninya, melainkan dibutuhkan tanggung jawab untuk menjadikan rakyatnya makmur. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Shad ayat 26 yang artinya, “Allah berfirman, “‘Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.””

    Makna ayat di atas adalah jangan mengikuti hawa nafsu dalam menetapkan hukum karena hal itu akan menyesatkanmu dari agama dan syariat-Nya, sesungguhnya orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya akan mendapatkan siksa yang pedih di dalam api neraka, karena kelalaian mereka terhadap hari pembalasan dan perhitungan amal.
    Dalam ayat ini terkandung pesan kepada ulil amri (pemerintah) agar mereka menetapkan hukum dengan berpijak kepada kebenaran yang diturunkan dari Allah SWT. dan tidak menyimpang dari-Nya karena hal itu akan menyesatkan mereka dari jalan-Nya.

    Seorang pemimpin yang bervisi itu mempunyai pandangan yang luas, bisa memperkirakan masa depan ( kepastian ada pada-Nya ) berlaku adil dan melayani masyarakat. Pemimpin yang sadar bahwa amanah tersebut datangnya dari Yang Kuasa, maka ia gunakan sebagai wasilah menuju kebaikan. Ya Allah, tuntunlah kami rakyat Indonesia dalam pesta demokrasi nanti dapat memilih pemimpin yang bervisi bukan yang bermotif kesenangan dunia / harta kekayaan, berilah hidayah dan taufiq agar pemimpin terpilih tidak tergoda hingga melenceng dari amanah-Mu.

    Aunur Rofiq
    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Sang Penentu



    Jakarta

    Aku bermimpi berjumpa dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, beliau memberikan nasihat, “Jika kalian menjauh dari orang-orang demi kebenaran, kalian tak akan meminta sesuatu pun kepada manusia dengan lisan kalian. Jika kalian berhenti meminta dengan lisan, jangan pula meminta kepada mereka dengan cara apa pun, bahkan meski hanya terlintas dalam pikiran. Sebab, meminta dalam benak pun sama saja dengan meminta dengan lisan. Ketahuilah, Allah SWT. maha berkuasa mengubah, mengganti, meninggikan dan merendahkan siapa pun. Dia menaikkan derajat sebagian orang.

    Dia memberi peringatan kepada mereka yang telah dinaikkan derajatnya bahwa Dia berkuasa menjatuhkan lagi mereka ke derajat yang paling rendah. Dia juga memberi harapan bahwa Dia akan memelihara mereka di tempat yang terpuji itu. Sementara, mereka yang telah dilemparkan ke derajat terendah, diancam-Nya dengan kehinaan abadi, sekaligus diberi harapan akan dinaikkan ke derajat tertinggi.”
    Kemudian terdengar suara ayam berkokok dan aku terbangun.

    Dari nasihat ini jika disimak dengan tertib akan mendapatkan beberapa makna :


    1. Menjauh dari orang-orang demi kebenaran. Ketika dalam kehidupan masyarakat telah bercampur aduk antara kebatilan dan kebenaran, maka jauhilah orang-orang yang menyebarkan kebatilan. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 42 yang artinya, “Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Jangan juga kalian menyembunyikan kebenaran. Padahal kalian menyadarinya.” Dalam kehidupan saat ini khususnya pada saat suhu politik tinggi, terjadinya saling serang, fitnah dan dusta menyebar kemana-mana, maka jauhilah sumber-sumber itu agar engkau tidak tertular virus kebatilan.

    2. Tidak meminta kepada sesama. Hal ini sangat penting karena meminta kepada sesama ( sama-sama faqir ) merupakan kesia-sian. Seseorang yang berkuasa dan berkedudukan tinggi biasanya banyak didekati untuk memperoleh manfaat duniawi, sadarilah bahwa kekuasaan itu merupakan anugerah dari Allah SWT. bukan karena upayamu. Jika engkau bersandar karena upaya maka engkau telah mengingkari-Nya. Sesama tidak bisa menjadikan “manfaat” karena diberikan oleh-Nya, jadi jauhilah ketergantungan pada sesama. Saling sandera dalam berpolitik itu terjadi karena salah satu pihak berbuat kesalahan. Akhirnya menjadi tontonan yang menarik di masyarakat tatkala pihak yang tersandera menyanjung pihak lainnya. Larangan bergantung pada selain-Nya sebagaimana dalam firman-Nya surah Fathir ayat 15 yang artinya, “Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” Jelas bahwa seseorang yang bergantung pada orang lain meski berkuasa tidaklah dibenarkan dan perbuatan itu menuju kesyirikan. Sadarilah sesungguhnya manusia itu lemah seperti dalam firman-Nya surah an-Nisa’ ayat 28.

    3. Kuasa-Nya dalam menentukan derajat manusia. Seseorang itu sejatinya hamba dari Sang Pencipta, maka hendaklah tidak berlaku seperti-Nya dengan menentukan nasib seseorang. Ikut campur dalam urusan yang menjadi domain Allah SWT. merupakan tindakan sombong karena ikut dalam mengatur urusan-Nya. Ketahuilah, bahwa Allah SWT. mengatur dirimu dalam setiap langkah maupun setiap desahan nafasmu. Dia telah mengatur urusanmu sebaik-baiknya pengaturan pada hari ditetapkannya takdir. Dalam surah al-A’raf ayat 172 yang artinya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ‘Betul ( Engkau Tuhan kami ).’” Disamping itu Allah SWT. telah menciptakan manusia dengan sifat yang lemah ( an-Nisa’ ayat 28 ). Jika engkau “merasa” mampu menentukan nasib seseorang dan melakukannya, maka ingatlah kehendakmu tidak akan terwujud jika tidak sama dengan kehendak-Nya. Adapun yang mewujud itu merupakan kehendak-Nya dan jangan dikira itu merupakan kehendakmu.

    Dalam perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, maka hati-hatilah jangan sampai terjerumus dalam dusta, fitnah maupun ghibah. Jauhilah sumber-sumber kebatilan karena saat ini tidaklah mudah membedakan antara yang batil dan yang hak. Menjelang pelaksanaan pesta demokrasi yang kurang dari dua pekan ini, makin mengkristal orang-orang ada yang merapat dan ada yang menjauh pada pasangan calon Presiden dan tentu dengan alasan masing-masing. Dulu ada benci sekarang ada cinta dan sebaliknya yang cinta bisa jadi benci, itulah hati manusia yang dibolak balikkan Allah SWT. Namun demikian, sebelum melakukan sesuatu endapkanlah dalam hati dulu dan jika hal itu baik maka lakukan, jika tidak baik maka diamlah.

    Kedudukan dengan derajat tinggi merupakan idaman sebagian orang dan biasanya diupayakan untuk menggapainya, ingatlah dalam surah ali-Imran ayat 26 yang artinya, “Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Segala sesuatu yang berhubungan dengan kedudukan seseorang, itulah kuasa-Nya. Jika engkau mencapai kedudukan atau maqam tertentu, jangan katakan kepada orang lain. Sebab, dalam perubahan nasib dari hari ke hari, keagungan Allah SWT. yang mewujud. Jika engkau katakan kedudukanmu pada orang lain ( dengan pesta naik pangkat atau pesta kemenangan ), mungkin saja kedudukanmu akan sirna, yang kau anggap abadi ternyata berubah hingga kau malu dengan orang yang kau undang pesta. Kedudukan akan berubah, pemimpin pun dipergilirkan tiada yang kekal abadi. Janganlah sombong dan berbangga diri saat berkedudukan karena engkau tiada tahu saatnya untuk direndahkan oleh-Nya.

    Semoga Allah SWT. menjaga dan menguatkan keimanan kita, agar tidak termasuk golongan orang-orang yang sombong, ikut mengatur sesama dan mengejar kedudukan yang fana.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Teks Khutbah Jumat Bulan Syaban: Amalan Persiapan Ramadan


    Jakarta

    Khutbah Jumat bertema Syaban bisa menjadi pilihan topik khatib sholat Jumat pekan ini. Ada banyak pembahasan terkait keutamaan Syaban, salah satunya tentang keutamaan ibadah-ibadah sunnah di dalamnya.

    Bulan Syaban diapit dua bulan mulia yakni Rajab dan Ramadan. Pada bulan ini terdapat malam Nisfu Syaban yang menjadi malam istimewa.

    Menurut Kalender Kementerian Agama, 1 Syaban 1445 Hijriah jatuh pada Minggu, 11 Februari 2024. Artinya pada Jumat, 16 Februari 2024 bertepatan dengan 6 Syaban 1445 H.


    Khutbah Jumat Bertema Syaban

    Merangkum buku Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun karya Muhammad Khatib, S.Pd.I dan juga mengutip laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), berikut teks khutbah Jumat bulan Syaban.

    إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
    وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى الْيَوْمِ الَّذِيْ نَلْقَاه
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
    أمّا بَعْدُ

    Hadirin jamaah Jumah rahimakumullah

    Marilah kita bersama-sama menjaga kualitas takwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keinsyafan. Karena hanya dengan takwalah, kita bisa mendekati Allah dan mencapai kebahagiaan, di dunia maupun di akhirat.

    Sebagaimana firman-Nya:

    ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ

    Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus: 63)

    Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

    Alhamdulillah, hari ini kita semua masih bertemu bulan Syaban. Syaban adalah bulan kedelapan dalam kalender Hijriyah. Secara bahasa, kata “Syaban” mempunyai arti “berkelompok”. Nama ini disesuaikan dengan tradisi bangsa Arab yang berkelompok mencari nafkah pada bulan itu.

    Syaban termasuk bulan yang dimuliakan Rasulullah SAW. Terbukti beliau berpuasa pada bulan ini. Usamah berkata pada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunah) sebanyak yang engkau lakukan dalam bulan Syaban.” Rasulullah SAW menjawab: “Bulan Syaban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.” (HR. An-Nasai dan Abu Dawud)

    Dalam riwayat lain disebutkan: “Bulan itu (Syaban), yang berada di antara Rajab dan Ramadan adalah bulan yang dilupakan manusia, dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadah ku diangkat ketika aku berpuasa. (HR An Nasa’i)

    Seorang ulama yang bernama Abu Bakar Al-Warraq Al-Balkhi berkata:

    شَهْرُ رَجَبَ شَهْرٌ لِلزَّرْعِ وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ لِلزَّرْعِ وَرَمَضَانُ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

    “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Syaban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

    Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

    Syaban juga mempunyai makna “jalan setapak menuju puncak.” Artinya, Syaban adalah bulan persiapan yang disediakan Allah untuk menapaki dan menjelajahi keimanan, sebagai persiapan menghadapi puncak bulan Ramadan.

    Meniti jalan menuju puncak bukanlah hal yang mudah. Sebagaimana mendaki gunung, butuh latihan dan persiapan yang matang. Begitu pula meniti puncak di bulan Syaban, tentunya butuh kesungguhan hati dan niat yang suci serta siap bersusah payah. Kepayahan itu akan lebih terasa ketika kita berpuasa di bulan Syaban. Namun, kepayahan itu akan dibalas dengan pahala yang sangat besar.

    Rasulullah SAW bersabda: Bulan ini dinamakan Syaban karena berhamburan kebajikan di dalamnya. Barang siapa berpuasa tiga hari di awal bulan Syaban, tiga hari di pertengahannya dan tiga hari di akhirnya, maka Allah SWT menulis untuk orang itu pahala tujuh puluh orang nabi, dan seperti ibadah tujuh puluh tahun, dan jika orang itu meninggal pada tahun ini, maka akan diberikan predikat mati syahid.

    Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

    Pendakian di bulan Syaban ini juga dapat dilakukan dengan cara membanyak beristighfar atau meminta ampun atas segala dosa, lebih-lebih dosa hati yang tak kasat mata, seperti, ujub, takabur, dan sum’ah. Biasanya, dosa hati itu lebih banyak daripada dosa tubuh.

    Setiap orang beriman sepatutnya membersihkan dan mensucikan diri dari sifat-sifat tercela serta menyiapkan mental, agar dapat menghadapi dan memasuki bulan Ramadan dengan tenang dan khusyu.

    Setiap orang beriman hendaknya mempersiapkan lahir dan batin dalam menghadapi bulan Ramadan, sebagaimana petani menyiapkan air dalam menghadapi musim kering.

    Permohonan ampun tidak dibatasi oleh tempat dan waktu, akan tetapi kita bisa melakukan di mana saja dan kapan saja. Namun demikian, ia sangat baik bila dilakukan sebelum datang bulan Ramadan. Hal ini kita lakukan sebagai rasa hormat dan Ta’dzim atas kedatangan bulan yang mulia.

    Istighfar dan taubat di bulan Syaban akan menjaga dan memelihara ibadah di bulan Rajab, merawat dan menyuburkan iman di bulan Syaban serta memberi semangat ibadah di bulan Ramadan.

    Diharapkan dengan persiapan ini, kita akan meraih kemuliaan dan kemenangan dari Allah SWT di bulan yang agung tersebut.

    Hadirin jamaah Jum’ah rahimakumullah

    Sebagai penghujung khutbah ini, marilah di bulan Syaban yang penuh fadhilah ini, kita mendaki bersama dengan menjalankan berbagai amal shaleh dan meminta pengampunan-Nya, sehingga kita akan sampai di puncak nanti, sebagai hamba yang siap menjalankan kewajibannya di depan Sang Khaliq.
    Aamiin.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com