Tag: hikmah

  • Sikap Paripurna



    Jakarta

    Seorang mukmin selalu yakin bahwa setiap apa pun yang ia rasa dan alami adalah atas kehendak Allah SWT. Dan tentu ada hikmah yang tersirat di dalamnya. Jika ia ditimpa suatu kemalangan, maka ia bersabar dan terus meningkatkan kesabarannya. Ia tidak mengeluh kecuali memohon pertolongan-Nya. Ia juga tidak mengumumkan kesusahan hidupnya kepada khalayak dan tidak meminta-minta. Ia hanya menghiba pada Allah SWT, sehingga tidak ada orang yang tahu kalau ia sedang susah. Tapi sebaliknya, bila ia mendapatkan kenikmatan atau kebahagiaan, maka ia bersyukur dan terus meningkatkan kualitas syukurnya dengan mendistribusikan kenikmatan itu kepada orang lain melalui zakat, infaq dan sedekah. Agar orang lain juga bisa merasakan kenikmatan seperti yang ia rasakan.

    Penulis selalu teringat nasihat Ulama KH. E.Z. Muttaqien pada awal tahun 1980 an, “Jika engkau mengalami kegagalan, maka tersenyumlah karena kesuksesan akan datang padamu. Dan jika engkau mengalami keberhasilan, maka kernyitkan dahi karena kesusahan akan menghampirimu.”
    Orang yang gagal dengan terus menerus bersedih tidak akan mengembalikan semangat, dengan tersenyum engkau optimis dan bersiap menghadapi keberhasilan. Jika engkau berhasil dan pesta pora atas kesuksesan tersebut, maka engkau akan lengah dan tidak akan siap secara mental untuk mendapatkan kesusahan. Dengan kernyitkan dahi maka engkau akan siap dan tidak terlalu bersedih jika menghadapi kegagalan.

    Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at. Sementara itu syukur dengan menampakkan nikmat Allah SWT. melalui lisan dengan cara memuji dan mengakui, melalui hati dengan cara meyakini dan mencintai, serta melalui anggota badan dengan ketaatan. Sabar dan syukur Merupakan sikap yang saling berkaitan keduanya saling mendukung, ketika kita mengalami musibah yang berat sekalipun, ada saja hal yang tetap patut disyukuri. Begitu pula ketika kita mendapat kesenangan.


    Allah SWT. berfirman dalam surah an-Nahl ayat 96 yang artinya… “Dan sesungguhnya kami pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”
    Dalam Tafsir Ibnu Katsir ayat di atas menjelaskan bahwa hal itu merupakan sumpah Allah SWT. yang dikuatkan dengan huruf lam, yaitu sesungguhnya Dia akan membalas berbagai amal perbuatan baik orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari amal mereka dan menghapus berbagai keburukan mereka.

    Adapun sikap syukur seperti dalam firman-Nya surah Ibrahim ayat 7 yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
    Ayat di atas menurut Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa syukur atas nikmat adalah sebab bertambahnya nikmat tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 152.
    Maka, seyogyanya sabar dan syukur menjadi sikap yang menghiasi akhlak seorang muslim apabila ia sedang ditimpa musibah ataupun diberi nikmat karena kedua hal tersebut sama-sama terdapat kebaikan untuknya.

    Kaitannya dengan pemilihan pemimpin negeri, siapa pun yang terpilih itu merupakan kehendak-Nya. Oleh karenanya kita semua wajib ridha atas kehendak-Nya. Bila yang terpilih adalah idolanya, maka bersikaplah syukur pada-Nya dan do’akan agar pemimpin tersebut bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Jika yang terpilih bukan idolamu, maka bersabarlah karena ingatlah bahwa setiap masa ada pemimpinnya dan setiap pemimpin mempunyai masanya. Jadi pemimpin itu tidak akan ada yang kekal, karena Sang Pencipta akan mempergilirkan posisi pemimpin. Dengan sikap sabar dan syukur ini, In syaa’Allah kemungkinan terjadi polarisasi menjadi kecil. Oleh sebab itu kepada para pihak ( penyelenggara, pengawas dll ) agar menjalankan fungsi masing-masing sesuai kapasitas kewenangannya hingga pemilu memperoleh predikat jurdil.

    Gejolak akan timbul tatkala ada proses dalam pelaksanaan yang tidak lazim. Oleh sebab itu antar pihak agar menjalankan fungsinya dan menghindari tindakan-tindakan yang menyimpang, saling mengingatkan dan menghormati. Polarisasi tidaklah menguntungkan bagi kehidupan bersama dan tentu akan menghambat pembangunan, padahal negeri ini masih memerlukan pengembangan dalam rangka menuju negeri yang sejajar dengan negeri-negeri maju lainnya.

    Marilah kita bersama-sama membangun negeri sesuai dengan posisi dan fungsi masing-masing. Ada yang masuk posisi pelaksana dan ada posisi pengontrol, keduanya mesti berjalan harmonis dan saling menghormati. Tiada yang lebih hebat dari lainnya, karena kehebatan itu semata-mata datangnya dari Sang Pencipta. Bagi pemenang tiada sombong dan berbangga diri, karena seorang mukmin akan tahu hal itu tidak perlu dilakukan.

    Mengapa kita harus bersikap paripurna (sabar dan syukur)? Sabar dan syukur adalah dua sifat terpuji yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Keduanya merupakan bukti keimanan kepada Allah SWT, yang menciptakan segala sesuatu dengan hikmah dan rahmat-Nya. Sabar dan syukur juga merupakan kunci untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Sebagaimana hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW. bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.”

    Ya Allah, berikanlah kekuatan untuk bersatu bagi masyarakat, jauhkan sikap bermusuhan, kami sadar dengan bermusuhan tiadalah manfaat dan sia-sia. Kuatkanlah iman kami agar tidak tergoda hasutan setan.

    Aunur Rofiq
    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Hati dan Rezeki



    Jakarta

    Berbagai macam keadaan yang terjadi menyangkut rezeki, oleh sebab itu marilah kita simak do’a Syekh Abu Abbas al-Mursi, “Ya Allah, tundukkan urusan rezeki ini untukku, jagalah aku dari keranjingan dan kepayahan dalam mencari rezeki. Juga lindungilah aku dari kesibukan hati memikirkan rezeki dan kecemasan hati padanya, dari menghinakan diri kepada makhluk demi rezeki, dari berpikir dan mengatur dalam menghasilkannya, dan dari kekikiran dan kebakhilan setelah memperolehnya.”

    Dalam hal urusan rezeki ini hati manusia terbagi menjadi tiga kondisi :

    Pertama, kondisi sebelum Allah SWT. rezeki. Kondisi ini menjadikan seseorang keranjingan dan susah payah mencari rezeki. Hati yang sibuk dengan urusan rezeki, hasrat yang bergantung kepadanya dan rela merendahkan diri di hadapan makhluk karena rezeki. Tergila-gila dalam mengejar rezeki ini menjadikan seseorang melupakan dan meninggalkan kewajibannya pada keyakinan serta kadang memperolok agamanya sendiri ( sadar maupun tidak ).


    Keadaan ini timbul dari hilangnya kepercayaan dan lemahnya keyakinan. Kepercayaan dan keyakinan hilang disebabkan karena hilangnya cahaya petunjuk dari-Nya. Hal ini karena antara seseorang ada tabir penghalang dengan Tuhannya. Kesibukan hati memikirkan rezeki dan kecemasan hati menyangkut rezeki, keduanya merupakan penghalang yang besar. Maka hasrat akan terpaku pada urusan rezeki, sehingga tidak ada ruang lagi untuk yang lain. Inilah yang menjadi kekhawatiran sehingga melupakan hak Allah SWT. atas hambanya. Ingatlah bahwa rezeki sudah di jamin oleh-Nya.

    Perkataan Syekh tentang “menghinakan diri kepada makhluk demi rezeki” ini terjadi karena lemahnya iman hingga bersandar pada sesama makhluk. Seseorang yang telah melakukan kesalahan dan diketahui oleh pihak lainnya, maka ia akan taat dan patuh ( bergantung/bersandar ) pada orang tersebut demi kelangsungan rezeki dan kenikmatan hidupnya. Tontonan seperti ini banyak kita saksikan menjelang pesta demokrasi, ada istilah saling mengunci atau orang itu telah terkunci. Mengemis untuk suatu jabatan, untuk keselamatan agar tidak diusik kasus pidananya, semua itu tindakan merendahkan martabat diri kepada sesama makhluk, dimana perbuatan ini tidak disukai Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Thaha ayat 127 yang artinya, “Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.”

    Kedua, Kondisi setelah rezeki itu didapat. Allah SWT. telah memberikan anugerah berupa kekayaan yang berlimpah. Tahukah bahwa kekayaan, jabatan dan kenikmatan hidup itu merupakan pemberian-Nya dan menjadikan pendidikan / pelajaran bagi yang menerima. Adakalanya seseorang berusaha dengan keras, namun hasil yang diperoleh adalah kemiskinan. Sebagai seorang mukmin, kita tidak boleh menjauhi sebab-sebab yang mendatangkan berbagai kebaikan dan kebahagiaan. Dengan kata lain, semua bentuk kebahagiaan dan kekayaan yang diberikan pada sebagian orang, sedangkan sebagian yang lain diberi kemiskinan dan penderitaan, maka semua itu telah ditakdirkan oleh Allah SWT.

    Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT. membagi akhlak diantara kalian, sebagaimana membagi rezeki bagi kalian. Sesungguhnya Allah SWT. memberikan dunia bagi orang-orang yang dicintai oleh-Nya, maupun bagi yang tidak dicintai oleh-Nya. Akan tetapi, Allah SWT. tidak memberikan agama kecuali bagi orang-orang yang dicintai-Nya. Dan siapa saja yang diberi agama oleh-Nya, maka ia termasuk orang yang dicintai oleh-Nya. ( HR. Imam Ahmad ).

    Oleh sebab itu, kita tidak boleh memandang kekayaan sebagai kebaikan semata. Pemberian itu ( harta, anak dan lainnya ) kepada sebagian orang sebagai ujian bagi mereka. Ada kalanya tidak memberikannya pads sebagian yang lain, juga sebagai ujian. Bagi keduanya ( yang diberi dan yang tidak diberi ) tetap tersedia kebaikan jika mereka memahaminya. Jika engkau orang baik dan menyalurkan pemberian-Nya kepada segala macam tujuan kebaikan, maka karunia-Nya tersebut menjadikan kebaikan bagi dirimu.

    Ada orang yang hidupnya serba kekurangan, namun do’anya yang selalu mengalir dan dikabulkan oleh Allah SWT. Seperti yang disebutkan dalam hadis riwayat Tirmidzi, “Berapa banyak orang yang hidupnya serba kekurangan, akan tetapi jika ia berdo’a, maka do’anya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Di antara mereka itu adalah al-Barra bin Malik.”

    Al-Barra bin Malik adalah saudara sebapak dengan Anas bin Malik ra. Ia termasuk orang yang tidak mampu membeli makanan dan tidak mempunyai tempat tinggal. Ia hidup sangat sederhana. Ternyata al-Barra mendapat kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

    Oleh sebab itu, kekayaan dan kemiskinan bukan satu-satunya cobaan, semua itu hendaknya disesuaikan dengan situasinya. Ada kalanya kekayaan dan kemiskinan merupakan salah satu karunia-Nya. Ingatlah bahwa Rasulullah SAW. memilih hidup dalam kemiskinan dengan kehendaknya sendiri. Sejatinya anugerah yang diberikan Allah SWT. hendaknya di gunakan pada jalan-Nya.

    Ketiga, Kondisi setelah selesai dengan urusan rezeki. Maka tahulah bahwa tiadalah perlu ikut campur dalam berpikir dan mengatur rencana dan pilihan dalam menghasilkan rezeki. Rezeki akan datang dengan caranya yang dikehendaki Yang Kuasa bukan yang engkau harapkan. Menjalankan perintah-Nya untuk berbagi manfaat dan pasrahkan pada-Nya.

    Ya Allah, jagalah hati kami agar tidak ikut merencanakan dan penggapaian rezeki, karena hal itu sudah menjadi ketetapan-Mu. Dan jagalah hati kami untuk tidak menjadi pemalas, tetap bersemangat menjalankan perintah-Mu.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kesiapan Ormas Islam Merespon Kota Global Jakarta



    Jakarta

    Jakarta tengah bersiap menjadi kota global (global city). Hal ini merupakan sebuah tuntutan pasca nantinya tidak lagi menyandang status Ibu Kota negara. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara mengamanatkan perlunya mengganti UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Rapat Paripurna (Selasa, 5/12/2023), DPR RI mengesahkan RUU tentang Daerah Khusus Jakarta (DKJ) menjadi usul inisiatif DPR.

    Meski proses politik meningkatkan RUU ini menjadi Undang-undang masih berlangsung, yang pasti dalam jangka panjang, Jakarta masih sebagai ‘ibu kota’ keuangan Indonesia. Juga menjadi simpul bagi produksi dan distribusi logistik, barang dan jasa, termasuk ekspor dan impornya. Namun upaya persiapan untuk mengarahkan Jakarta menjadi kota global yang kompetitif sekaligus pusat perekonomian nasional, telah dimulai baik di tingkat lembaga/instansi terkait juga melibatkan stakeholder nasional maupun internasional. Status kota global menjadi
    cita-cita setiap negara di dunia dengan segala tantangan yang dimiliki. Ke depan, menurut para ahli tata kota, Jakarta tidak hanya menjadi pusat peradaban nasional, namun sebagai kota cerdas yang menjadi titik temu segala kegiatan internasional dan terbuka untuk semua.

    Kota Global dan Tantangan yang Dihadapi


    Tantangan mewujudkan Jakarta sebagai kota global tidak sedikit. Paling tidak beberapa hal harus dilakukan oleh sebuah kota untuk memenuhi 12 syarat sebagai kota global meliputi:
    infrastruktur yang berkualitas, pusat keuangan dan perbankan, kepemimpinan politik yang kuat, kehadiran bisnis dan industri, pendidikan dan penelitian berkualitas, budaya dan kreativitas,
    keragaman dan kosmopolitanisme, pusat perdagangan dan pariwisata, keamanan dan kestabilan, inovasi dan teknologi, konektivitas global, dan kualitas hidup yang tinggi.

    Berbagai usulan dirumuskan semisal yang dikemukakan oleh Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta dengan menyiapkan titik kawasan tematik yang berpotensi mewujudkan 12 syarat kota
    global dimaksud. Di antara titik kawasan yang mengemuka misalnya, pusat Ibu Kota ASEAN di Blok M. Pusat pendidikan di Grogol hingga Tanjung Duren. Pusat kesehatan dan kebudayaan di
    RSCM Salemba, RS Cikini dan TIM. Pusat transit hub di UKI, TNI AU, Kodam Jaya, PGC, Pool TJ. Pusat transit hub di Dukuh Atas hingga Kebon Melati. Pusat transit hub di Velodrome hingga
    Manggarai. Pusat kebudayan keagamaan di Pasar Baru, GKJ Kantor Pos, Lapangan Banteng, Istiqlal, dan Katedral. Pusat sejarah kota di Harmoni, Glodok, dan Kota Tua. Pusat olahraga
    terpadu atau MICE di JIS, Sunter, Ancol. Dan pusat olahraga terpadu di GBK Senayan.

    Melihat usulan di atas, tentu kita masih memerlukan perluasan cakupan area termasuk konten yang sejatinya menjadi ruh dari pada kota global tersebut. Sebagai perbandingan kota
    global ciamik yang telah ada di negara maju misalnya New York City, AS sebagai pusat keuangan dan bisnis internasional. London sebagai pusat keuangan internasional, teknologi, budaya, dan politik. Tokyo sebagai pusat keuangan, bisnis, teknologi, dan budaya di kawasan Asia-Pasifik. Hong Kong sebagai pusat perdagangan internasional, keuangan, dan bisnis di Asia Timur.
    Singapura sebagai pusat keuangan di Asia, infrastruktur yang canggih, dan hubungan perdagangan internasional yang luas. Paris sebagai pusat budaya internasional dan juga
    memiliki peran yang signifikan dalam perdagangan, keuangan, dan pariwisata internasional. Jika kita menganggap bahwa sejumlah negara di atas terkategori negara maju, kita dapat pula menengok kepada negara berkembang yang telah lebih dahulu berproses mewujudkan beberapa wilayahnya sebagai kota global. Sebut saja Shanghai, Mumbai, São Paulo-Brasil, Dubai, Kuala Lumpur, Istanbul dan Bangkok.

    Kota Global dan Urgensi Pengawal Etika Komunal yang Inklusif

    Kota global membawa aspek kemajuan dan modernitas yang otomatis mendorong perubahan yang cepat dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk nilai-nilai, keyakinan,
    dan norma-norma sosial. Dalam menghadapi perubahan ini, penting untuk mempertahankan kesiapan dalam pengawalan akidah dan etika komunal yang inklusif. Dalam suasana modernitas
    yang cepat, ada risiko bagi budaya dan agama untuk terpinggirkan atau terdistorsi. Dengan memperkuat pengawalan akidah dan etika komunal yang inklusif, kita dapat mengantisipasi nilai nilai inti budaya dan agama dipertahankan dengan baik. Kesiapan dalam pengawalan akidah dan etika komunal yang inklusif membantu mencegah konflik dan pertentangan antara kelompok yang berbeda. Hal ini menciptakan lingkungan yang harmonis di mana beragam keyakinan dan kepercayaan dapat hidup berdampingan secara damai. Etika komunal yang inklusif mendorong kerja sama, toleransi, dan empati antara anggota masyarakat. Ini juga membentuk dasar untuk kehidupan bermasyarakat yang sehat dan harmonis. Kita juga dapat menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pembangunan kota global yang berkelanjutan. Dan yang tak kalah pentingnya bahwa kemajuan infrastruktur, modernitas, dan ekonomi tersebut selaras dengan nilai-nilai etik kemanusiaan universal yang mendasar seperti keadilan, kesetaraan, dankeberagaman.

    Di sinilah peran dari pada organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lain-lainnya untuk mengawal etika komunial yang inklusif
    sekaligus menyesuaikan/revisi arah pemikiran dan pergerakan yang tidak boleh business as usual.

    Ormas Islam bervisi Kota Global

    Sebagai langkah futuristik yang harus diperkuat oleh ormas Islam bervisi kota global misalnya; penyesuaian misi amar ma’ruf nahyi munkar dengan nilai-nilai universal, seperti
    toleransi, keragaman, keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Hal ini membantu membangun kesamaan pemahaman dan mempromosikan kerja sama antarkelompok masyarakat dalam
    konteks global. Fokus pada isu-isu global yang relevan seperti perubahan iklim, perdagangan internasional, kemiskinan global, penjajahan, dan perdamaian dunia. Hal ini membantu
    meningkatkan kontribusi ormas dalam menciptakan perubahan positif di tingkat global. Kerja sama internasional dengan organisasi serupa di negara-negara lain untuk bertukar pengetahuan,
    pengalaman, dan sumber daya dalam menangani isu-isu global. Penggunaan teknologi dan komunikasi digital, termasuk bahasa internasional untuk meningkatkan visibilitas dan pengaruh
    di tingkat global. Pendidikan dan advokasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu-isu global dan pentingnya kerja sama lintas batas dalam menyelesaikannya misal melalui
    seminar, lokakarya, kampanye publik, dan kegiatan lainnya. Serta partisipasi dalam forum Internasional untuk memperjuangkan agenda nasional sekaligus memengaruhi kebijakan di
    tingkat global.

    Sejalan dengan visi global di atas yang mendesak pula digiatkan ormas adalah penguatan relasi dan persahabatan internasional guna mempertajam diplomasi wajah Islam Nusantara yang
    moderat, rasional, dan mendukung modernitas berbasis nilai etika universal. Dengan merencanakan dan melaksanakan program-program ini, ormas Islam -Insya Allah- dapat memainkan peran yang lebih efektif dan bermakna dalam mendukung umat dan masyarakat luas di tengah perubahan dinamis Jakarta sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional.

    Muladi Mugheni, Ph.D

    Penulis adalah Cendekiawan Muda NU,
    Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir,
    Ketua NU Pakistan, periode 2012-2022

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Multi Fungsi Masjid di AS



    Jakarta

    Di banding masjid-masjid di Indonesia atau di negara-negara muslim lainnya, masjid di AS umumnya tidak terlalu besar, bahkan di antaranya tadinya adalah ruko kemudian dibeli atau disewa secara gotong royong oleh warga muslim di sekitarnya. Semula masjid (lebih tepat disebut mushalah) hanya diperuntukkan untuk shalat Jum’at bagi komunitas muslim di sekitar tempat itu. Bagi umat Islam tahu akibatnya jika seseorang absen tidak shalat Jum’at selama tiga Jum’at berturut-turut kata Rasulullah akan mati dalam keadaan mati jahiliah, sebuah kematian yang dianggap hina atau su’ al-khatimah. Supaya terhindar dari ancaman hadis itu, umat Islam mengupayakan untuk menghadirkan masjid terutama untuk digunakan shalat Jum’at agi kaum laki-laki, karena kaum perempuan tidak wajib shalat Jum’at, mereka hanya wajib untuk shalat dhuhur.

    Lama kelamaan, masjid yang sudah hadir di tengah komunitas muslim berangsur-angsur dipadati kegiatan oleh warga muslim setempat, misalnya digunakan sebagai tempat pengajian Al-Qur’an yang di sekolah-sekolah publik di AS pelajaran agama tidak diajarkan.Sambil mengantar anak-anak ,mereka mengaji Al-Qur’an di masjid, orang tua anak-anak tersebut berinisiatif mengadakan pengajian khusus untuk para orang tua murid. Lama kelamaan, pengajian itu dilembagakan menjadi “Majlis Ta’lim” (MT) seperti halnya MT yang ada di masjid-masjid Indonesia. Mereka mendatangkan guru (ustaz) tetap untuk membina diri dan anak-anak mereka tentang soal keagamaan. Berikutnya masjid lambat laun menjadi pusat kegiatan umat Islam setempat. Apapun urusan dan masalah komunitas muslim setempat dicoba diselesaikan di masjid. Misalnya ada warga yang meninggal lalu tidak sanggup membayar aparat yang bertugas untuk memakamkan jenazah, para warga bergotong royong membantu saudara-saudara mereka sesuai dengan kemampuan mereka masing-masih.

    Jika ada warga yang kesulitan mengakses lapangan pekerjaan, maka pengurus masjid bersama aktifis lainnya secara ikhlas mencarikan peluang kerja bagi saudaranya yang seagama Islam. Termasuk di antaranya ialah saling menginformasikan jika ada peluang kerja yang lebih memungkinkan untuk diakses oleh kaum imigran muslim di AS yang berasal dari berbagai negara asal. Bahkan masjid sering juga digunakan oleh para pelajar, makhasiswa, dan TKI yang selama ini berdomisili di luar kota atau di pinggir kota, masjid juga sering digunakan untuk menginap sambil menunggu esok paginya untuk melanjutkan tour kotanya. Di masjid biasanya dilengkapi dengan toilet dan kamar mandi sehingga para warga satu sama lain sama-sama akrab. Sebaliknya jika orang-orang kota ingin mencari ketenangan lalu berlibur di kota-kota kecil, maka mereka juga banyak dibantu oleh komunitas setempat untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di sekitar tempat tinggalnya.


    Masjid-masjid di AS, sebagaimana dijelaskan dalam artikel kemarin, mempunyai banyak fungsi, bukan hanya sebagai wadah untuk berkomunikasi spiritual denga Sang Pencipta tetapi juga menjadi arena silaturrahim dengan sesama umat Islam dari berbagai latar belakang negara dan aliran mazhab yang dianut. Mungkin karena tantangan eksternalnya lebih kuat maka suasana batin secara internal sesama umat Islam lebih akrab. Bahkan dalam satu masjid bisa melayani berbagai aliran mazhab. Jika mereka beraliran sunni maka mereka dibiarkan beribadah menurut mazhab yang dianutnya. Sebaliknya jika mereka bermazhab syi’ah maka mereka juga bebas menggunakan masjid itu berdasarkan mazhab atau alirannya. Tidak heran jika di beberapa tempat di AS banyak komunitas menanyakan kepada dirinya tentang berbagai hal, namun pada akhirnya ia juga menyelamatkan keluarganya. Sering dijumpai sang suami penganut agama Islam dengan mazhan Syi’ah sementara isterinya menganut azhab Sunny. Tidak heran jika di antara mereka banyak menyebut dirinya sebagai Islam “Susi” (yakni Islam dengan mazhab Sunny-Syi’ah.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Gengsi



    Jakarta

    Agama Islam tidak memandang manusia dari penilaian individu terhadap manusia, melainkan memandang dari tingkat keimanannya. Orang akan memiliki harga diri tinggi di mata Allah SWT. adalah orang yang memiliki ketakwaan yang tinggi pula kepada-Nya.

    Sekarang banyak orang mementingkan harga diri yang tinggi di hadapan orang lain. Sehingga kebanyakan dari mereka mementingkan harga diri atau gengsinya dibandingkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Inilah yang membuat sifat gengsi harus dihindari, untuk semua kalangan. Sifat ini hanya memuaskan nafsu saja, namun memerlukan ongkos yang tidak sedikit. Ingatlah bahwa seseorang yang kerap menjaga image, maka gerakannya tidak akan lincah karena dibatasi oleh kegengsiannya.

    Kenapa orang melakukan itu ( gengsi ) ? Seseorang yang memiliki rasa Gengsi biasanya timbul karena kurangnya rasa percaya diri dan malu untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Gengsi sendiri bersangkutan dengan harga diri, kehormatan serta martabat. Orang dengan Gengsi tinggi akan berusaha bagaimanapun caranya untuk terlihat sepadan dengan orang lain.


    Segala bentuk derajat yang dihormati maupun disegani oleh manusia, tidaklah berpengaruh ( sia-sia ) di hadapan-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-hujurat ayat 13 yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

    Jelas dalam ayat di atas dikatakan kemuliaan seseorang itu tergantung ketakwaannya kepada Allah SWT. bukan orang yang kaya raya, bukan pula orang yang berkedudukan tinggi lagi berkuasa. Orang-orang tersebut pada saatnya akan mempertanggungjawabkan atas kepemimpinannya maupun atas harta kekayaannya. Oleh sebab itu, rasa gengsi harus dijauhi. Bukan hanya karena sifat tersebut menghalangi seseorang untuk melakukan perbuatan baik, namun juga karena sifat ini merupakan turunan dari sikap sombong. Sebagaimana yang diungkapkan Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni dalam al-Minah as-Saniyah, “Jauhilah sifat haya’ ath-thobi’i (gengsi). Sesungguhnya di kalangan para sufi, sifat itu tergolong dalam sifat sombong (kibr).”

    Dikisahkan suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengundang para pejabat tinggi Dinasti Umayyah untuk makan di istana. Karena yang mengundang adalah Khalifah, maka para pejabat tinggi itu berdatangan.
    Sebelumnya, beliau berpesan kepada para koki agar tidak menghidangkan menu makanan terlebih dahulu. Maka setelah para pejabat ini berkumpul, dan diiringi obrolan-obrolan. Kemudian tampak salah satu pejabat ada yang memegang perutnya karena lapar, maka Khalifah bilang kepada para koki untuk menghidangkan menu pembuka. Dan menu pembuka itu hanya makanan roti bakar yang sangat sederhana. Setelah roti bakar itu terhidang, beliau menyantap roti tersebut bersama para pejabat.
    Setelah itu, Khalifah memerintah koki untuk mengeluarkan menu utama. Terlihat hidangan itu mewah dan lezat. Ketika para pejabat dipersilakan untuk menikmati hidangan utama. Ternyata para pejabat itu menolak karena sudah kenyang.

    Melihat tingkah pejabat yang enggan makan karena sudah kenyang dengan roti bakar yang sederhana, maka beliau berkata kepada para pejabat, “Wahai kalian para pejabat tinggi, kalau kalian mampu memuaskan nafsu makan kalian hanya dengan roti bakar seperti tadi, kenapa kalian bersikap serakah sampai korupsi, menyuap, hingga memotong dana bantuan dan sebagainya?” Mendengar ucapan itu para pejabat merasa malu atas pertanyaan tersebut.

    Dari sini kita dapat belajar bahwa hidup sederhana itu sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan kata baginda Nabi, “Salah satu di antara tiga perkara yang menyelamatkan manusia itu adalah wal qadu fi al-faqri wal ghina (bersikap sederhana baik ketika fakir atau pun kaya). Artinya sederhana itu tidak berlebih-lebihan dan tidak terlalu pelit. Sebenarnya hidup manusia itu antara dua hal, pertama kebutuhan dan kedua itu keinginan.

    Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah memberikan nasihat, “Menjadi orang berkebutuhan sedikit lebih aman dalam hidupnya.” Kebutuhan bisa diatasi dengan sikap sederhana, seperti kebutuhan pangan dan pakaian serta papan. Namun jika berbicara masalah keinginan, maka tidak ada sesuatu yang dapat mengukur keinginan manusia. Karena keinginan manusia itu akan menyesuaikan dengan apa yang dia peroleh. Ketika manusia itu memperoleh pendapatan yang banyak, maka jangan heran jika keinginan mereka juga bertambah.

    Sebagaimana Allah SWT. mengingatkan kepada kita dalam surah asy-Syu’ara ayat 27 yang artinya, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat.”

    Makna ayat diatas adalah ketika Allah SWT. menurunkan semua rezeki kepada manusia, pastilah mereka akan melampaui batas. Maka dari itu, menurunkan apa yang dikehendaki-Nya saja. Agar manusia tidak melampaui batas. Adapun contoh sikap yang melampaui batas, seseorang membeli jam tangan sangat mewah ( ada sahabat yang membeli dengan harga 2 – 2,5 Milyar ) untuk memenuhi gengsi. Itu sama sekali bukan sikap yang sederhana. Masih banyak orang yang lebih mementingkan gengsi dari pada fungsi.

    Semoga Allah SWT. selalu memberikan petunjuk-Nya agar kita semua terbebas dari sikap gengsi.

    Aunur Rofiq
    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Perbanyak Niat Baik saat Ramadan



    Jakarta

    Niat merupakan salah satu perbuatan yang dinilai penting dalam ajaran Islam. Setiap niat baik akan mendapat keutamaan dan balasan kebaikan pula.

    Hal ini disampaikan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Kamis (14/3/2024). Habib Ja’far menyebutkan hadits tentang niat yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda,

    إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ


    Artinya: “Sesungguhnya, segala perbuatan itu tergantung pada niatnya.”

    “Setiap perbuatan memiliki pondasi niat, niat itu sangat menentukan. Niat itu dinaungi di bawah cintanya Allah yang Maha Cinta,” kata Habib Ja’far.

    Niat bukanlah sebuah perkataan semata, niat harus dimulai dari dalam hati dan sesegera mungkin diusahakan untuk diwujudkan. Setiap niat baik akan mendapatkan keutamaan, ketika niat tersebut dilaksanakan maka keutamaan yang didapat bisa berkali lipat.

    “Kalau punya niat baik tapi tidak dilaksanakan karena satu dan lain hal maka Allah memberikan satu kebaikan sempurna seolah kamu telah melakukan kebaikan dan ketika Lo punya niat baik dan melakukannya maka Allah mencatat 10 sampai 700 kali lipat. Sementara kalau punya niat buruk dan melakukannya maka Allah akan mencatat sebagai satu keburukan. Niat buruk tidak dilipatgandakan,” jelas Habib Ja’far.

    Habib Ja’far mengingatkan tentang satu hal terkait niat. Meskipun langsung dicatat sebagai kebaikan, tidak boleh niat diucapkan secara sembarangan.

    “Jangan salah, bahwa niat bukan sekedar komitmen dalam hati. Dia harus betul-betul diwujudkan. Ketika sudah niat, harus melakukan berbagai upaya yang mampu Lo lakuin untuk mengimplementasikan niat tersebut. Jangan sampai niat doang lalu berhenti.” jelasnya.

    Di Ramadan ini terdapat malam Lailatul Qadar, dimana malam tersebut dituliskannya takdir manusia. Lantas apa hubungannya antara niat dan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan?

    Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom akan menjelaskan hal tersebut.

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Pentingnya Sebuah Niat bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan tiap menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Rela Menerima Takdir-Nya



    Jakarta

    Takdir merupakan salah satu rukun iman yang wajib percaya bagi hamba-Nya. Sikap rela menerima merupakan bentuk keimanan seseorang. Saat engkau dekat dengan-Nya melalui pertolongan-Nya dan dengan mengosongkan hati dari makhluk, nafsu, dan segala sesuatu selain-Nya sehingga hatimu dipenuhi Allah SWT dan perbuatan-Nya. Maka engkau akan bergerak hanya karena kehendak-Nya, dan kau bergerak jika Allah SWT menggerakanmu. Keadaan ini menjadikan kau mencapai tahapan luruh. Kau telah bersatu bersama Tuhanmu tentu berbeda dari bersatu bersama selain-Nya.

    Ingatlah janganlah senang hati bergantung dan bersatu dengan sesama, karena kau dan sesama itu sama-sama fakir dan tidak mempunyai kekuasaan untuk menjadi sandaran. Ditegaskan dengan firman-Nya dalam surah asy-Syura ayat 11 yang artinya, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.”

    Adapun makna ayat di atas adalah Allah SWT, tiada yang bisa menandingi oleh semua ciptaan-Nya. Oleh sebab itu, jika kau memperoleh kekuasaan yang sangat besar janganlah berlagak ikut mengatur atas pengaturan-Nya. Dia Maha Mendengar ucapan-ucapan hamba-hamba-Nya dan Maha Melihat segala perbuatan mereka. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya dan Dia akan membalas segala amal mereka; jika baik maka akan mendapat ganjaran baik, bila buruk maka akan mendapat ganjaran buruk.


    Bagaimana kita bisa mencapai sikap rela? Awal kerelaan adalah sesuatu yang dapat dicapai seorang hamba dan itu merupakan makam, meskipun pada akhirnya kerelaan merupakan hal dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya. Ketahuilah bahwa bagi seorang hamba untuk bersikap rela terhadap takdir, karena hal ini bagian dari keimanannya.

    Abdul Wahid bin Zayd menuturkan, “Kerelaan adalah gerbang Allah SWT yang terbesar dan surganya dunia ini.” Ketahuilah hamba tidak akan mendekati derajat kerelaan terhadap Tuhan-Nya sampai Allah SWT rida terhadapnya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Bayyinah ayat 8 yang berbunyi, “Allah rida kepada mereka, dan mereka pun rela kepada-Nya.”

    Syekh Abu ‘Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Seorang murid bertanya kepada syekhnya, ‘Apakah si hamba mengetahui kalau Allah rida kepadanya?’ Sang syekh menjawab, ‘Tidak. Bagaimana dia bisa tahu hal itu sedangkan keridhaan-Nya adalah sesuatu yang tersembunyi?’ Kemudian murid memprotes, ‘Tidak, dia bisa mengetahuinya!’ Syekhnya bertanya, ‘Bagaimana si hamba bisa tahu?’ Murid langsung menjawab, ‘Jika saya mendapati hati saya rela kepada Allah SWT, maka saya tahu bahwa Dia rida kepada saya.’ Maka sang syekh berkata, ‘Sungguh baik sekali ucapanmu itu, anak muda’.”

    Dikisahkan ketika Nabi Musa AS berdoa, “Ya Allah, bimbinglah aku kepada amal yang akan mendatangkan keridhaan-Mu.” Allah SWT menjawab, “Engkau tidak akan mampu melakukannya.” Lalu Musa bersujud dan terus memohon. Maka Allah SWT. lalu mewahyukan kepadanya, “Wahai putra Imran, keridaan-Ku ada pada kerelaanmu menerima ketetapan-Ku.”

    Kedua kisah diallog syekh dengan muridnya dan doa Musa AS menunjukkan kekuasaan-Nya hingga para hamba akan memperoleh rida-Nya dengan: 1. Kerelaan hati kepada-Nya dan 2. Kerelaan menerima ketetapan-Nya. Kerelaan hati kepada-Nya merupakan bentuk keikhlasan hanya satu-satunya bersandar kepada-Nya. Adapun seorang hamba yang menerima ketetapan-Nya merupakan bentuk keimanan pada salah satu rukun iman.

    Penulis akan mendendangkan syair tentang cinta dan benci.

    Ketika cinta menjadi menu.
    Semua terlihat indah nan menawan.
    Sang kekasih tiada cela, seakan sempurna adanya.
    Mata tidak bisa menelisik keburukan, menjadi tumpul.
    Puja-puji selalu datang bagai banjir bandang.
    Kau lupa telah menoleh dan tiada memandang pada-Nya.
    Ketika kebencian menjadi selimutmu.
    Semua yang kau lihat hanyalah cacatnya.
    Cacian dan makian bagai senapan lepaskan peluru dari mulut.
    Itu beda cinta dan benci.
    Cinta hakikat hanya pada-Nya, bencilah pada maksiat.

    Idola biasanya dipuji setinggi langit dan sebaliknya yang dibenci akan dimaki habis-habisan. Dalam pelaksanaan pesta demokrasi telah berlalu, maka janganlah mempertentangkan perbedaan pilihan khususnya pada calon presiden. Ingatlah bahwa perbedaan itu rahmat-Nya. Setiap insan yang beriman wajib menghindarkan pembelahan (polarisasi) di masyarakat. Sang idola yang dicintai dan lawan politiknya yang dibenci, maka ingatlah bahwa cintamu sejatinya hanya pada-Nya dan kebencianmu hanya pada perbuatan maksiat. Rukunlah bahwa kita semua bersaudara dalam bingkai NKRI, saling hormat, saling membantu dan saling menasehati.

    Ya Allah, berikanlah kami semua keteguhan iman sehingga pelaksanaan pesta demokrasi dengan jujur dan adil. Yakinkan kami semua agar rela menerima ketetapan-Mu dan tetap hidup bersama secara rukun dan harmonis.

    ***

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Contoh Kultum Tarawih Ramadan Singkat Berbagai Tema


    Jakarta

    Bulan Ramadan yang penuh dengan kemuliaan telah tiba. Salah satu ibadah yang biasa dikerjakan umat Islam pada bulan Ramadan yaitu salat Tarawih. Ketika salat Tarawih, khatib banyak menyampaikan kultum. Berikut tiga contoh kultum Tarawih Ramadan.

    Kultum yang disampaikan khatib dapat membahas berbagai topik seperti adab puasa, amalan ketika bulan Ramadan, keutamaan bulan Ramadan, dan sebagainya. Berikut contoh kultum Tarawih Ramadan dikutip dari Kultum 23 Ramadhan karya Heri Suprapto dan Kumpulan Kultum Terlengkap & Terbaik Sepanjang Tahun karya A.R. Shohibul Ulum.

    Contoh Kultum Tarawih Ramadan Singkat


    Kultum Pertama

    Dua Esensi Puasa

    Esensi atau hakikat dari puasa Ramadan ada banyak, hanya saja karena keterbatasan waktu maka kita hanya membahas dua saja yaitu berperilaku jujur dan menahan amarah.

    Pertama, berperilaku jujur.

    Kejujuran adalah hal yang paling penting dalam kehidupan kita, dan puasa melatih atau mengajari kita agar jujur dalam segala hal sehingga kita tidak berani berkata bohong pada saat berpuasa. Mengapa demikian? Itu karena kita tahu kalau kita berbohong maka pahala puasa kita akan hilang dan kita hanya mendapatkan haus dan lapar saja dari puasa yang kita telah lakukan.

    Perintah agar selalu jujur ini sudah disampaikan oleh Rasulullah SAW, “berbuatlah jujur karena kejujuran akan mendatangkan kebaikan dan kebaikan akan mendapatkan surga.” Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim.

    Dari sahabat Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah SWT sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah SWT sebagai pendusta.”

    Begitu besar karunia Allah SWT kepada orang yang berbuat jujur.

    Kedua, menahan amarah.

    Esensi yang kedua adalah menahan amarah. Kita bisa marah kapan saja dan di mana saja, apa lagi dalam kondisi sedang mendapatkan tekanan. Dengan puasa kita diharapkan bisa menahan marah kita. Pernah sahabat bertanya kepada Nabi SAW untuk menasehatinya, dan Nabi SAW memerintahkannya untuk tidak marah. Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan olah Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari dan Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan Tirmidzi.

    Dari Abu Hurairah RA, ada seseorang yang berkata kepada Nabi SAW “Berilah aku nasihat,” kemudian beliau bersabda,

    “Jangan marah. Kemudian orang tersebut mengulangi lagi beberapa kali. Rasulullah SAW bersabda: ‘Jangan marah’”.

    Orang yang dapat menahan marah padahal dia mampu untuk melampiaskan kemarahan tersebut diperintahkan Allah SWT untuk memilih bidadari di surga mana yang dia suka. Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan Tirmidzi dan Imam Abu Dawud dalam kitab Sunan Abu Dawud, serta Imam Ibnu Majah dalam kitab Sunan Ibnu Majah dengan sanad hasan.

    Dari sahabat Mu’az bin Anas Al Juhani RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu melampiaskannya, pada hari kiamat, dia akan dipanggil di depan seluruh makhluk kemudian disuruh memilik bidadari mana yang ia sukai.”

    Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita semua apabila seseorang marah hendaklah ia diam. Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrod dan Imam Ahmad dalam kitab Musnad Imam Ahmad dengan sanad shahih.

    Dari sahabat Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.”

    Ini juga merupakan obat yang manjur bagi amarah, karena jika orang sedang marah maka keluar darinya ucapan-ucapan yang kotor, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampak negatifnya besar. Jika ia diam, maka semua keburukan itu hilang darinya.

    Orang-orang yang mampu tidak marah bahkan akan dimasukkan ke surga. Hal ini senada dengan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Al Mu’jamul Ausath dengan sanad shahih.

    Dari sahabat Abu Darda, Rasulullah SAW pernah bersabda kepada seorang sahabat,

    “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk surga.”

    Kesimpulannya adalah hendaklah kita menjaga diri dan keluarga kita agar selalu mengisi setiap hari dan malam Ramadan dengan amalan yang dicontohkan Nabi SAW yaitu dengan berusaha selalu jujur dan menahan marah ketika kita sedang dalam keadaan puasa. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk mendapatkan sifat jujur dan menahan marah setelah kita menjalani puasa Ramadan selama sebulan, dan implementasinya terlihat setelah Ramadan berlalu. Aamiin.

    Kultum Kedua

    Hikmah & Berkah Ramadan

    Ramadan adalah bulan keberkahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i.

    Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabat beliau. Beliau bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, yaitu bulan yang diberkahi, Allah SWT telah memfardhukan (mewajibkan) atas kalian berpuasa pada bulan itu, pada bulan itu dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan pada bulan itu pula ada Lailatul Qadar (Malam Qadar) yang lebih baik dari seribu bulan, Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu maka ia terhalang dari rahmah Tuhan.”

    Oleh karena itu, sesungguhnya kita diajarkan oleh Rasulullah SAW agar menyambut bulan Ramadan ini dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya sejak jauh-jauh hari, yaitu dari bulan Rajab. Sejak bulan Rajab kita diajarkan untuk memohon keberkahan hidup di bulan Rajab, Syaban, dan hingga sampai di Ramadan yang mulia ini. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, kita diajarkan agar berdoa,

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

    “Wahai Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan bulan Syaban, dan berkahilah pula kami di bulan Ramadan.”

    Mengapa kita diajarkan untuk memohon keberkahan? Apakah keberkahan penting bagi kita? Sebab, keberkahan hidup menjadi dambaan setiap orang yang berakal sehat. Berkah berarti bertambah. Dalam makna luas berkah berarti bertambah kebaikan (ziyadat al-khair fi al-syai’), termasuk kesejahteraan baik dari segi material maupun nonmaterial. Dari segi materi seperti bertambahnya harta benda kita, dan usaha atau bisnis semakin maju. Sedangkan, secara nonmaterial yaitu seperti ketenteraman hati, kedamaaian jiwa, pengetahuan dan wawasan semakin bertambah hingga tercermin dalam sikap yang terpuji.

    Di antara hikmah bulan Ramadan yaitu sebagai berikut.

    Pertama,

    Pada bulan Ramadan ada pengabulan doa bagi yang meminta, ada penerimaan tobat orang yang bertobat, dan ada pengampunan bagi orang yang memohon maghfirah-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi yang panjang, yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, di dalam bagian hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan al-Baihaqi ini disebutkan:

    “Dalam setiap malam bulan Ramadan Allah ‘azza wa jalla berseru sebanyak tiga kali: Adakah orang yang meminta maka aku penuhi permintaannya? Adakah orang yang bertobat maka aku terima tobatnya? Dan adakah orang yang memohon ampunan maka aku ampuni dia?”

    Kedua,

    Bulan Ramadan adalah waktu yang sangat baik untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita selama ini. Karena makna ibadah secara mutlak, termasuk ibadah puasa, adalah ungkapan syukur dari seorang hamba kepada Tuhannya atas nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran surah Ibrahim ayat 34, kita tidak akan dapat menghitung nikmat Tuhan.

    Ketiga,

    Pada bulan Ramadan terdapat setidaknya 3 manfaat yang bisa kita peroleh dengan menjalankan puasa pada bulan yang mulia ini, yaitu

    1. Manfaat psikologis/spiritual/kejiwaan. Misalnya, kita membiasakan diri agar berlaku sabar serta mengekang hawa nafsu, ekspresi, atau ungkapan mengenai karakteristik takwa yang tertanam dalam hati. Takwa itulah yang menjadi tujuan khusus dalam berpuasa Ramadan.
    2. Manfaat sosial-kemasyarakatan, seperti pembiasaan kita, umat Islam, untuk tertib, disiplin dan bersatu padu, cinta keadilan dan kesetaraan di antara umat Islam: antara yang kaya dan yang miskin, antara pejabat dan rakyat, antara pengusaha dan karyawan, dan seterusnya. Juga faedah sosial dari puasa adalah pembentukan rasa kasih sayang dan berbuat baik di antara kaum Muslim, sebagaimana puasa Ramadan ini melindungi masyarakat dari keburukan-keburukan dan mafsadah.
    3. Manfaat kesehatan, artinya dengan berpuasa itu dapat membersihkan usus-usus dan pencernaan, memperbaiki perut yang terus-menerus beraktivitas, membersihkan perut yang terus-menerus beraktivitas, membersihkan badan dari lendir-lendir/lemak-lemak, kolesterol yang menjadi sumber penyakit, dan puasa dapat menjadi sarana diet atau pelangsing badan.

    Oleh karena itu, marilah bulan Ramadan ini kita jadikan bulan kesederhanaan, bulan peribadatan, bulan memperbanyak berbuat kebajikan kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan bantuan, bulan perlindungan badan, ucapan, dan hati dari hal-hal yang dilarang agama, seperti perkataan keji (qaul az-zur), gibah, menebar hoaks, fitnah, hate speech (ujaran kebencian), dan adu domba, baik secara langsung maupun melalui media-media digital, media elektronik, televisi, radio, internet, dan media sosial.

    Kultum Ketiga

    Keberkahan Makan Sahur

    Pada bulan Ramadan ada amalan sunnah yang bisa dijalani, yaitu makan sahur. Amalan ini disepakati oleh para ulama dihukumi sunnah dan bukanlah wajib, sebagaimana kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juz 7 halaman 206. Namun, amalan ini memiliki keutamaan karena dikatakan penuh berkah. Dalam hadits muttafaq ‘alaih, dari Anas bin Malik, Nabi SAW bersabda,

    “Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud berkah adalah turunnya dan tetapnya kebaikan dari Allah SWT pada sesuatu. Keberkahan bisa mendatangkan kebaikan dan pahala, bahkan bisa mendatangkan manfaat dunia dan akhirat. Namun, patut diketahui bahwa berkah itu datangnya dari Allah SWT yang hanya diperoleh jika seorang hamba menaati-Nya.”

    Lantas, apa saja keberkahan yang didapatkan saat kita menyantap sahur?

    Pertama,

    Memenuhi perintah Rasulullah SAW sebagaimana diperintahkan dalam hadits di atas. Keutamaan menaati beliau disebutkan dalam surah An-Nisa’ ayat 80, yang artinya, “Barang siapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah SWT. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”

    Allah juga berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 71, “Dan barang siapa menaati Allah SWT dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”

    Kedua,

    Makan sahur merupakan syiar Islam yang membedakan dengana ajaran Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Dari ‘Amr bin al-‘Ash, Rasulullah SAW bersabda,

    “Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim).”

    Ini berarti Islam mengajarkan bara’ dari orang kafir, artinya tidak loyal pada mereka. Sebab, puasa kita saja dibedakan dengan orang kafir.

    Ketiga,

    Dengan makan sahur, keadaan fisik lebih kuat dalam menjalani puasa. Beda halnya dengan orang yang tidak makan sahur. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juz 7 halaman 206, berkata, “Berkah makan sahur amat jelas, yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa. Misalnya, menjadikannya rajin beribadah, menjadikannya termotivasi ingin menambah lagi amalan puasanya, karena tampak ringan puasa baginya setelah makan sahur.”

    Keempat,

    Orang yang makan sahur mendapatkan shalawat dari Allah SWT dan doa dari para malaikat-Nya. Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda,

    “Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad)

    Kelima,

    Waktu makan sahur adalah waktu yang diberkahi. Menurut Imam Nawawi, dengan bangun sahur dapat menjadikannya berdoa dan berzikir di waktu yang mulia, yaitu waktu ketika turun Ar-Rahmah, dan diterimanya doa dan diampuninya dosa. Seseorang yang bangun sahur dapat berwudhu kemudian salat malam, kemudian mengisi waktunya dengan doa, zikir, salat malam, dan menyibukkan diri dengan ibadah lainnya hingga terbit fajar.

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda,

    “Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni”.” (HR. Bukhari dan Muslim)”

    Keenam,

    Waktu sahur adalah waktu utama untuk beristighfar. Sebagaiman orang yang beristighfar saat itu dipuji oleh Allah dalam beberapa ayat, di antaranya surah Ali ‘Imran ayat 17 yang artinya, “Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”

    Disebut pula pada surah Adz-Dzariyat ayat 18 yang artinya,
    “Dan selalu memohonkan ampunan pada waktu pagi sebelum fajar.”

    Ketujuh,

    Orang yang makan sahur dijamin bisa menjawab azan salat Subuh dan juga bisa mendapati salat Subuh pada waktunya secara berjamaah. Tentu ini adalah suatu kebaikan.

    Kedelapan,

    Makan sahur sendiri bernilai ibadah jika diniatkan untuk semakin kuat dalam melakukan ketaatan pada Allah SWT.

    Demikianlah apa yang bisa disampaikan mengenai keutamaan makan sahur.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kemuliaan Istighfar di Bulan Ramadan



    Jakarta

    Banyak keutamaan yang bisa diraih umat Islam dengan mengucapkan kalimat istighfar. Kalimat Astaghfirullah ini menjadi tanda syukur sekaligus permohonan ampunan atas dosa dan khilaf yang pernah dilakukan.

    Kalimat istighfar dianjurkan untuk diperbanyak selama Ramadan, karena bulan ini adalah bulan ampunan. Hal ini dijelaskan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Jumat (15/3/2024).

    Habib Ja’far menjelaskan salah satu sebutan bulan Ramadan adalah Syahrul Maghfirah yang artinya adalah bulan ampunan.


    “Allah tahu sekali bahwa kita tidak ada yang bisa terlepas dari khilaf dan salah ataupun dosa, kecuali Nabi Muhammad karena dia adalah rasul yang suci dari segala salah atau khilaf dan dosa,” ujar Habib Ja’far.

    Lebih lanjut, Habib Ja’far menegaskan bahwa Ramadan menjadi momen untuk meminta dan memohon ampunan dengan memperbanyak istighfar.

    “Di antara ciri manusia adalah pernah salah, pernah khilaf pernah dosa, maka diciptakanlah bulan Ramadan sebagai momentum untuk kita memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa yang kita lakukan,” sambungnya.

    Memperbanyak istighfar saat Ramadan merupakan amalan yang mulia, meskipun sebenarnya istighfar bisa dikerjakan kapan pun. Istighfar menjadi salah satu upaya untuk bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT.

    “Istighfar adalah pintu untuk kita agar menjadi pribadi yang baik setelah terjebak dalam dosa dan maksiat,” tegas Habib Ja’far.

    Dalam kesempatan ini juga Habib Ja’far menyebutkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa memperbanyak istighfar saat Ramadan. Bersumber dari hadits riwayat, Rasulullah SAW mengucap istighfar 70-100 kali dalam sehari.

    “Rasulullah saja yang kita tahu suci dari dosa, sehari minimal istighfar 70-100 kali. Istighfar menjadi bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT dan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.”

    Kapan istighfar bisa diamalkan dan bagaimana mengamalkannya sepenuh hati? Semua akan dibahas dan dijelaskan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom.

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Kemuliaan Istighfar di Bulan Ramadan bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan tiap menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Etika dan Adab Puasa Ramadan



    Jakarta

    Ketika berpuasa, ada sejumlah adab dan etika yang perlu dipahami kaum muslimin. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga menjaga pikiran, jiwa, dan indera dari perbuatan maksiat.

    Hal tersebut dijelaskan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar menjelaskan dalam detikKultum detikcom, Sabtu (16/3/2024).

    “Berpuasa itu bukan hanya berpuasa tidak makan dan tidak minum, tetapi yang harus berpuasa itu bagaimana mata ini supaya tidak mengintip, kemudian bagaimana mulut kita ini juga berpuasa supaya jangan ngerumpi, jangan bicarakan aib orang lain, jangan berbohong, jangan menghujat,” ujarnya.


    Ia juga mengimbau agar kaum muslimin menyempurnakan puasa dengan tidak berlebih-lebihan dalam hal duniawi, termasuk mengumbar aurat.

    “Jangan kita mengumbar aurat. Kalau perlu saya boleh menyarankan, ini bulan suci Ramadan kita tampilkan kebersahajaan kita,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

    Kemudian, ia turut mengajak kaum muslimin untuk introspeksi diri. Tidak perlu memamerkan kekayaan yang dimiliki di bulan suci Ramadan ini.

    Di bulan suci ini, kaum muslimin bisa merevisi pandangan hidupnya dengan cara menyucikan pikiran dan batin. Syukuri apa yang ada, karena itu adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah SWT.

    “Jangan terlalu berambisi meraih sesuatu yang istimewa. Siapa tahu itu belum tentu juga yang bermanfaat buat kita semuanya,” terang Prof Nasaruddin.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Etika dan Adab Puasa Ramadan bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04:20 WIB.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com