Tag: hikmah

  • Tadabur Al-Qur’an di Momen Nuzulul Qur’an



    Jakarta

    Peristiwa turunnya Al-Qur’an dikenal dengan istilah Nuzulul Qur’an. Secara bahasa, Nuzulul Qur’an terdiri dari dua kata.

    Pertama, nazzala-yunazzilu dengan makna konotatif turun secara berangsur-angsur. Kedua, dari kata anzala-yunzilu dengan makna denotatif menurunkan.

    Prof Nasaruddin Umar melalui detikKultum turut mendefinisikan Nuzulul Qur’an secara istilah. Menurutnya, Nuzulul Qur’an adalah peristiwa turunnya Al-Qur’an dari lauhul mahfuz ke bumi melalui Malaikat Jibril.


    Waktu pertama kali diturunkannya itu ketika Nabi Muhammad SAW berada di Gua Hira. Saat itu, usia beliau menginjak 40 tahun.

    “Karena Al-Qur’an itu kan turun dua kali. Turun dari Allah transit di file raksasa di Lauhul Mahfuz. Kemudian dari lauhul mahfuz itu dicicil turun ke bumi melalui jibril selama 23 tahun,” kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Senin (25/3/2024).

    Surah sekaligus wahyu pertama yang diturunkan pada waktu itu adalah surah Al Alaq ayat 1-5. Peristiwa ini juga menjadi awal kenabian Nabi Muhammad SAW.

    Beliau bersabda dalam sebuah hadits,

    “Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan hari di mana aku diutus atau diturunkan (wahyu) atasku.” (HR Muslim, Ahmad, Baihaqi, dan Al-Hakim)

    Berkaitan dengan momen Nuzulul Qur’an itu, Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengajak agar umat Islam memaknai peristiwa mulia tersebut.

    “Semoga kita lebih mencintai Al-Qur’an lebih dalam. Jangan hanya baca Arabnya, baca terjemahnya. Jika tidak paham artinya insyaallah kita akan dapat hakekatnya, kenapa? Karena Al-Qur’an itu menyimpan segudang rahasia,” ujar Prof Nasaruddin Umar.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Tadabur Al-Qur’an di Momen Nuzulul Qur’an saksikan DI SINI. Jangan lewatkan detikKultum Nasaruddin Umar ini yang tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Persiapan Sambut Malam Lailatul Qadar



    Jakarta

    Lailatul Qadar adalah malam penuh keistimewaan bagi umat Islam. Kedatangannya selalu dinantikan setiap bulan Ramadan.

    Tidak ada yang tahu kapan pastinya malam Lailatul Qadar. Namun, Lailatul Qadar diyakini datang pada sepuluh malam terakhir, tepatnya di malam-malam ganjil Ramadan sesuai sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

    “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.” (HR Bukhari)


    Untuk itu, Prof Nasaruddin Umar melalui detikKultum detikcom yang tayang Selasa (26/3/2024) mengimbau kaum muslimin agar memperbanyak ibadah dan doa sambil menanti malam Lailatul Qadar.

    “Malam Lailatul Qadar ini bahkan bukan hanya pahala yang berlipat ganda. Doa apapun yang kita minta insyaallah akan dijabah oleh Allah SWT. Pada saat kita nanti menanti malam Lailatul Qadar banyaklah berdoa,” terang Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

    Prof Nasaruddin Umar juga mengingatkan agar doa yang dipanjatkan bukan atas dasar hawa nafsu, melainkan berkah. Sebab, berkah menjadi yang paling utama.

    “Berkah yang paling penting. Berkah lebih penting daripada yang paling banyak, yang besar atau yang tinggi. Apa artinya banyak, tinggi dan besar kalau nggak berkah,” lanjutnya.

    Lebih lanjut Prof Nasaruddin Umar menerangkan, pada malam Lailatul Qadar kualitas ibadah kaum muslimin setara dengan seribu bulan. Oleh karena itu, perbanyaklah zikir, tadarus, dan salat.

    Menurutnya, malam Lailatul Qadar harus dijemput dengan persiapan diri dan mental yang matang.

    “Saya sungguh sangat yakin, barangsiapa yang mendapatkan Lailatul Qadar itu nanti akan mendapatkan perubahan berarti dalam hidupnya,” terang Prof Nasaruddin Umar.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar bisa saksikan DI SINI. Jangan lewatkan detikKultum Nasaruddin Umar ini yang tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Habib Ja’far: Ibadah Sia-sia Karena Riya



    Jakarta

    Riya artinya pamer. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) riya berarti menunjukkan sesuatu yang dimiliki kepada orang lain dengan maksud memperlihatkan kelebihan atau keunggulan untuk menyombongkan diri.

    Dalam Islam, riya termasuk perbuatan tercela yang dilarang. Riya bisa meliputi berbagai hal, termasuk dalam ibadah.

    Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Selasa (26/3/2024), menjelaskan bahaya riya jika dilakukan seorang muslim. Apalagi riya yang melibatkan unsur ibadah.


    “Dalam salat dan semua ibadah yang kita lakukan itu ditujukan untuk Allah SWT. Sejak di niat kita ucapkan Lillahi taala, untuk Allah SWT semata,” kata Habib Ja’far.

    Lebih lanjut Habib Ja’far menegaskan dalam ibadah sebaiknya mempersembahkan semua amalan kita untuk Allah SWT, tidak ada keriyaan di dalamnya.

    Setiap amalan yang dikerjakan untuk dan hanya kepada Allah SWT maka balasan kebaikan akan menanti di dunia dan juga di akhirat kelak.

    “Ketika kamu telah mempersembahkan kepada Allah SWT maka Allah akan memberikan balasan yang berlipat-lipat dari 10 hingga 700 kali lipat. Ibadah itu bukan hanya dibalas di akhirat tapi juga di dunia,” jelas Habib Ja’far.

    Seorang yang menjalani ibadah karena riya, maka ibadahnya akan bernilai sia-sia. Bahkan termasuk dalam kategori syirik yakni mempersekutukan Allah SWT ketika ibadah dikerjakan dengan tidak diperuntukkan kepada Allah SWT.

    “Itulah riya, ibadah untuk dilihat makhluk Allah, manusia misalnya.”

    Habib Ja’far mencontohkan ibadah yang dilakukan dengan riya seperti api yang membakar kayu. Artinya ibadah akan sia-sia dan hancur tidak bermanfaat.

    Terkait ibadah yang dilakukan dengan riya, Habib Ja’far mengutip ayat yang termaktub dalam Al-Qur’an yakni surah Al Maun ayat 4-7:

    Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya. Orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”

    “Yang salatnya riya maka ia celaka. Begitu pula zakat, yang zakatnya atau sedekahnya hanya untuk membanggakan diri atau merendahkan orang lain maka Allah katakan tidak ada gunanya semua itu, mereka akan mendapatkan balasan atas semua itu, semua tergantung niatnya,” jelas Habib Ja’far.

    Habib Ja’far juga menjelaskan lawan kata dari riya adalah ikhlas, artinya memurnikan ibadah kita hanya untuk Allah SWT.

    “Riya adalah simbol kebodohan dalam beribadah dan ikhlas adalah simbol kecerdasan dalam beribadah,” sebut Habib Ja’far.

    Apa balasan untuk orang-orang yang beribadah dengan riya dan dengan ikhlas?

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Ibadah Sia-sia Karena Riya bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan menjelang waktu berbuka puasa pukul 18.00 WIB. Jangan terlewat!

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Gapai Ketenangan Jiwa dengan Salat dan Wudhu



    Jakarta

    Surah-surah dalam Al-Qur’an membawa pesan yang bermanfaat bagi kehidupan umat Islam. Tak terkecuali berisi firman Allah SWT yang dapat menenangkan jiwa.

    Melalui detikKultum detikcom yang tayang Rabu (27/3/2024), Prof Nasaruddin Umar menyampaikan hal serupa. Dalam salah satu ayat Al-Qur’an, Allah SWT berfirman bahwa salah satu cara untuk menenangkan jiwa ialah dengan salat.

    Sebagaimana firman-Nya dalam surah Ar Rad ayat 28,


    ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

    Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.”

    “Kalau kita ingin merasakan ketenangan jiwa, maka tidak ada cara lain yang paling pantas untuk kita lakukan sebagai umat yang paling beriman khususnya umat islam (yaitu) kita melakukan salat,” ujar Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

    Ketika seorang muslim menjalani kehidupan dengan teori-teori Al-Qur’an maka ia menutup pintu iblis. Prof Nasaruddin Umar mengatakan, rasa gundah dan gelisah merupakan salah satu provokasi iblis.

    Begitu pula dengan wudhu. Sebelum salat, umat Islam dianjurkan untuk membasuh bagian-bagian tubuh tertentu yang mana sama artinya dengan bersuci.

    Dalam ilmu kesehatan, wudhu terbukti mampu menenangkan jiwa karena memberikan kesegaran yang berhubungan dengan sistem saraf manusia.

    Terkait wudhu ini disebutkan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, salah satunya surah Al Maidah ayat 6.

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar bisa saksikan DI SINI. Jangan lewatkan detikKultum Nasaruddin Umar ini yang tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Silaturahmi Tak Hanya ke Sesama Manusia



    Jakarta

    Dalam Islam, silaturahmi dianjurkan agar umat Islam dengan sesamanya dapat terjaga. Silaturahmi tidak hanya diperuntukkan bagi sesama muslim, melainkan juga umat manusia, hewan, hingga tumbuhan.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Isra ayat 70,

    ۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا


    Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

    “Silaturahim itu bukan hanya antar sesama manusia, silaturahim dengan binatang, pepohonan bahkan silaturahim dengan benda mati,” kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Kamis (28/3/2024).

    Bahkan, silaturahmi tidak hanya kepada sesamanya yang hidup. Menurut Prof Nasaruddin Umar, kematian bukanlah penghalang untuk bersilaturahmi.

    Karenanya, umat Islam yang masih hidup dianjurkan membaca doa bagi keluarga atau sesamanya yang telah wafat. Ini menjadi cara bersilaturahmi kepada mereka yang sudah meninggal dunia.

    Prof Nasaruddin Umar menerangkan, konsep silaturahmi kepada sesama makhluk hidup seperti binatang dan pohon ini bahkan diterapkan oleh Rasulullah SAW. Contohnya seperti ketika beliau sedang bersembunyi di Gua Tsur karena dikejar oleh para algojo.

    “Yang menyelamatkan nabi itu adalah burung merpati yang tiba-tiba bertelur. Kemudian laba-laba dia bersarang seolah-olah tidak ada orang yang masuk di situ (Gua Tsur),” ujar Prof Nasaruddin Umar.

    Peristiwa-peristiwa itu menjadi bukti pentingnya menjalin silaturahmi kepada sesama makhluk hidup. Tidak hanya sesama muslim juga umat manusia.

    “Ini satu contoh bahwa silaturahmi itu bukan hanya untuk sesama manusia tetapi juga sesama makhluk,” terang Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Silaturahmi Tak Hanya ke Sesama Manusia bisa saksikan DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB. Jangan terlewat!

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Silaturahmi Jangan Sebatas pada Umat Islam



    Jakarta

    Ramadan akan memasuki sepuluh hari terakhir. Dalam waktu kurang dari dua minggu, kaum muslimin akan merayakan Idul Fitri atau Lebaran.

    Momen itu digunakan untuk saling silaturahmi dan bermaaf-maafan. Tak jarang sebagian masyarakat Islam mengadakan halal bi halal sebagai salah satu cara bersilaturahmi.

    Halal bihalal merupakan kata majemuk bahasa Arab dari kata halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi). Prof Nasaruddin Umar memaknainya sebagai melepas.


    Tradisi halal bi halal di Indonesia sudah ada sejak tahun 1945. Dahulu, halal bi halal dimaknai sebagai memaafkan secara nasional dan secara religius.

    “Halal bi halal itu kan kita mendatangi rumah orang tua kita, guru-guru kita, salam-salaman,” kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum yang tayang Jumat (29/3/2024).

    Menurutnya, momentum silaturahmi saat Lebaran itu tidak hanya diperuntukkan bagi sesama muslim. Melainkan juga umat beragama lain.

    “Jadi silaturahim itu jangan hanya dibatasi untuk umat beragama Islam saja. Nonmuslim itu juga kita ajak, kayak makan ketupat Lebaran,” jelas Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

    Selain itu, silaturahmi tidak hanya kepada sesama manusia yang masih hidup, melainkan juga mereka yang telah meninggal dunia. Cara menjalin silaturahmi dengan orang yang sudah wafat bisa dengan menziarahi makamnya dan mengirimkan doa.

    Apabila ada rezeki berlebih, Prof Nasaruddin Umar menganjurkan untuk sedekah kepada anak yatim dan meminta mereka mendoakan keluarga yang telah wafat, seperti orang tua. Doa-doa tersebut menjadi salah satu cara untuk silaturahmi.

    Tujuan dari diperintahkan menjalankan silaturahmi adalah berkaitan dengan keharusan bagi setiap manusia untuk menjaga hubungan persaudaraan. Manusia diharapkan bisa saling menjaga, menyayangi, menghormati, dan saling menyelamatkan.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Silaturahmi Jangan Sebatas pada Umat Islam saksikan DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ramadan Jadi Momen Meningkatkan Kecintaan terhadap Allah SWT



    Jakarta

    Selain disebut sebagai bulan suci, Ramadan juga dikatakan bulan cinta. Pada momen istimewa ini, umat Islam diajak untuk lebih mencintai sesamanya serta Tuhannya, Allah SWT.

    Saat berpuasa, tanpa disadari umat Islam menumbuhkan rasa kecintaan terhadap fakir miskin. Sebab, secara tidak langsung kita merasakan bagaimana menjadi mereka dengan berpuasa.

    Selain itu, Ramadan juga menjadi momen meningkatkan rasa cinta terhadap Allah SWT. Ketika berpuasa, umat Islam membersihkan diri dengan melakukan taubat dan memperbanyak ibadah.


    “Dengan demikian kita menambahkan rasa cinta antar sesama. Di samping itu juga cinta secara vertikal kita dengan Allah SWT,” kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Minggu (29/3/2024).

    Membayar zakat fitrah juga termasuk ke dalam bentuk rasa cinta terhadap Allah SWT. Begitu pun dengan menyayangi sesama makhluk hidup seperti binatang dan tumbuhan.

    “Sayangi binatang, sayangi tumbuh-tumbuhan, sayangi alam semesta. Karena kalau kita mencintai sang pencipta, cintai juga makhluknya,” tambah Prof Nasaruddin.

    Ia juga mengimbau agar umat Islam senantiasa selalu melihat ke bawah, bukan sebaliknya. Selalu mendongak ke atas dan melihat mereka yang diberi lebih tak akan ada habisnya.

    “Semoga bulan suci Ramadan ini menciptakan rasa cinta, rasa iba terhadap sesama sehingga dengan demikian kalau kita mencintai makhluk Allah SWT, otomatis sang penciptanya juga mencintai kita,” pungkasnya.

    detikKultum Nasaruddin Umar dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Perbanyak Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan



    Jakarta

    Kini, umat Islam telah memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Pada momen tersebut, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak ibadah.

    Dari Aisyah RA, ia berkata:

    “Rasulullah sangat bersungguh-sungguh beribadah pada 10 hari terakhir (bulan Ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim)


    Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom menyampaikan bahwa sepuluh terakhir Ramadan menjadi inti dari bulan suci. Terlebih, pada sepuluh terakhir Ramadan Allah SWT menurunkan malam Lailatul Qadar bagi umat Nabi SAW.

    “Turunnya Lailatul Qadar itu justru kita diminta menanti-nanti pada sepuluh (malam) terakhir Ramadan khususnya itu malam-malam ganjil misalnya 21, 23, 25, 27, 29,” ujarnya dalam detikKultum yang tayang, Senin (1/4/2024).

    Malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang luar biasa yaitu dikatakan lebih baik dari seribu bulan. Keistimewaan itu hanya diberikan kepada umat Rasulullah SAW.

    “Kita (umat Rasulullah SAW) pendek-pendek umurnya tapi Lailatul Qadar lebih panjang daripada orang yang hidup 1000 tahun kan (umat nabi terdahulu). Nah inilah kesyukuran kita menghadapi kenyataan hidup menjadi umat Nabi Muhammad,” lanjut Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

    Meski demikian, jangan sampai ibadah-ibadah yang kita laksanakan justru ditujukan untuk malam Lailatul Qadar. Sebab, Ramadan dan Lailatul Qadar termasuk makhluk Allah SWT.

    Sebagai muslim yang taat, hendaknya amalan-amalan tersebut ditujukan kepada Allah SWT. Pastikan ibadah yang kita laksanakan ikhlas semata karena sang Khalik.

    “Lakukan semaksimal mungkin ibadah dalam bulan suci Ramadan lillahi ta’ala, Tuhan-lah yang punya hak untuk berikan yang terbaik buat kita,” pungkasnya.

    detikKultum Nasaruddin Umar dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Zakat Fitrah Itu Wajib, Jangan Terlewat



    Jakarta

    Jelang penghujung Ramadan, umat Islam mulai menunaikan zakat fitrah. Amalan ini tergolong wajib bagi setiap muslim.

    Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, dikatakan zakat fitrah menjadi pembersih orang-orang yang berpuasa. Berikut bunyi haditsnya,

    “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk membersihkan orang yang berpuasa dan untuk memberi makan orang miskin. Siapa yang membagikan zakat fitrah sebelum salat Id maka zakatnya itu diterima dan siapa yang membagikan zakat fitrah setelah salat Id maka itu termasuk sedekah biasa.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)


    Waktu yang diutamakan untuk membayar zakat fitrah yakni, setelah salat Subuh pada 1 Syawal sebelum salat Idul Fitri. Sementara itu, waktu diwajibkannya sejak terbenamnya matahari malam Idul Fitri.

    “Zakat fitrah itu wajib. Siapa yang wajib zakat fitrah? Semua orang yang berkecukupan memberi makan fakir miskin,” jelas Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Selasa (2/4/2024).

    Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, apabila seorang muslim lalai dalam menunaikan zakat fitrah padahal ia mampu maka tergolong melakukan pelanggaran berat. Hal ini menunjukkan seberapa pentingnya zakat fitrah bagi setiap muslim.

    Adapun, ketentuan membayar zakat fitrah bisa dilakukan selama khatib belum turun dari mimbar ketika ceramah Idul Fitri. Untuk itu, dianjurkan bagi para khatib untuk memanjangkan ceramah agar memberi kesempatan muslim yang belum membayar zakat fitrah.

    Selain dengan uang, zakat fitrah bisa berupa makanan pokok. Terkait hal ini menyesuaikan dengan makanan pokok di setiap daerah.

    “Kalau makanan kita nasi, ya zakat kita beras. Tapi, kalau makanan pokok kita itu jagung, kita keluarkan jagung,” kata Nasaruddin Umar menjelaskan.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Makna, Aturan, dan Ketentuan tentang Zakat Fitrah bisa ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Habib Ja’far: Jati Diri Seorang Muslim



    Jakarta

    Terdapat beberapa hal yang penting dan wajib dimiliki seorang muslim. Dengan demikian ia bisa disebut sebagai muslim yang memiliki jati diri.

    Jati diri seorang muslim terdiri dari tiga hal. Sebagaimana dijelaskan Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom yang ditayangkan Kamis (4/4/2024).

    Islam bukan hanya sebuah gelar atau identitas tetapi merupakan nilai yang membentuk jati diri seorang muslim.


    “Islam itu bukan hanya identitas tapi utamanya Islam adalah satu nilai yang membentuk jati diri kita. Identitas hanya ekspresi dari apa yang ada di diri kita,” kata Habib Ja’far .

    Lebih lanjut, dijelaskan bahwa seorang muslim setidaknya memiliki tiga nilai yang membuatnya layak disebut sebagai mukmin sejati. Nilai tersebut yakni iman, Islam dan takwa.

    “Yang pertama iman, artinya seorang muslim memiliki keimanan yang kokoh sehingga dia melakukan apapun dengan penuh kesadaran bahwa Allah SWT melihat semua yang kita lakukan,” jelas Habib Ja’far.

    Dengan keimanan, seorang muslim yakin dan percaya bahwa Allah SWT menghitung setiap perbuatan dan Allah SWT berada dalam setiap gerak gerik yang kita lakukan.

    “Seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang bukan hanya haram tetapi yang syubhat akan dihindari. Inilah yang menjadi prinsip para kekasih Allah SWT yang disebut kehati-hatian,” jelas Habib Ja’far.

    Nilai yang membentuk jati diri seorang muslim selanjutnya adalah Islam.

    Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan,

    “Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).

    Dan nilai jati diri seorang muslim yang ketiga adalah takwa.

    “Orang yang takwa adalah orang yang tidak marah ketika dipancing amarahnya, orang yang memaafkan orang yang marah, dan berbagi senyum, jasa atau harta kepada orang yang bikin dia marah,” beber Habib Ja’far.

    Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 134 dijelaskan,

    الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

    Artinya: “(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

    Demikianlah orang-orang yang memiliki jati diri seorang mukmin.

    Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Jati Diri Seorang Muslim bisa disaksikan DI SINI. Kajian bersama Habib Ja’far ini tayang tiap hari selama bulan Ramadan menjelang waktu berbuka puasa pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com