Tag: hikmah

  • Ketentuan Melakukan Iktikaf pada Akhir Ramadan



    Jakarta

    Pada malam-malam akhir Ramadan, kaum muslimin dianjurkan untuk melakukan iktikaf di masjid. Ibadah ini rutin dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah RA,

    “Bahwasanya Nabi SAW beriktikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan sampai beliau dipanggil Allah Azza wa Jalla. Kemudian istri-istri beliau (meneruskan) beriktikaf setelah beliau wafat.” (HR Muslim)

    Ibadah iktikaf ini wajib dikerjakan di masjid, bukan di rumah atau musala. Tujuan dari iktikaf ini agar umat Islam fokus beribadah kepada Allah SWT.


    “Selama kita melakukan iktikaf itu yang kita lakukan adalah mengingat Allah SWT sesekali diselingi dengan membaca Qur’an, baca zikir, salat, zikir (lagi), baca Qur’an (lagi),” terang Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom yang tayang Jumat (5/4/2024).

    Ketika melakukan iktikaf, kaum muslimin harus dalam keadaan bersih dan suci. Karenanya, dianjurkan pula untuk mempertahankan wudhu saat beriktikaf.

    Menurut Nasaruddin Umar, iktikaf tidak harus bermalam dan menginap di masjid. Beriktikaf seusai salat tarawih meski hanya dua sampai tiga jam diperbolehkan.

    “Dua jam juga sudah iktikaf kok. Maka itu kalau kita pergi tarawih, begitu kita masuk ke masjid langsung niat iktikaf, walaupun hanya dua jam, tiga jam (lalu) balik ke rumah sudah selesai iktikafnya,” lanjut Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

    Beriktikaf juga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan fokus kepada Allah SWT semata. Muslim sebaiknya memelihara pandangan dan mulutnya saat melakukan amalan tersebut agar khusyuk.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Tips Mudah Khatam Al-Qur’an Selama Ramadan



    Jakarta

    Membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadan memiliki keutamaan tersendiri. Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar menyebut membaca satu huruf Al-Qur’an di bulan suci setara dengan sepuluh kebaikan.

    “Alif lam mim 3 huruf, di luar Ramadan kita hanya dapat pahala 3, tapi dalam bulan suci Ramadan kita baca alif lam mim itu dapat pahala 30. 1 huruf diberi pahala 10,” ujar Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Sabtu (6/4/2024).

    Apabila seorang mukmin khatam Al-Qur’an di bulan Ramadan, maka pahala yang didapat melimpah ruah. Berkaitan dengan itu, Prof Nasaruddin Umar membagikan sejumlah tips agar muslim dapat khatam Al-Qur’an dengan mudah.


    Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu, khatam Al-Qur’an bisa dilakukan minimal satu kali di bulan Ramadan. Caranya bisa dengan menyempatkan diri di sela-sela aktivitas, seperti membaca satu juz sebelum pergi ke kantor atau sesudah salat Subuh.

    “Tidak perlu tahu artinya apa, baca saja Qur’an-nya maka itu pun akan dapat pahala. Apalagi kalau mau memahami arti tentu akan lebih bagus lagi,” lanjut Prof Nasaruddin Umar.

    Seumpama jika seorang muslim ingin khatam tiga kali selama Ramadan, maka bisa diakali dengan membaca satu juz sesudah salat Subuh, satu juz sesudah tarawih, dan satu juz sesudah makan sahur. Kiat-kiat seperti ini menjadi tips untuk mengkhatamkan Al-Qur’an.

    Ia mengimbau agar umat Islam memaksakan diri untuk khatam Al-Qur’an. Terlebih, di bulan suci ini Allah SWT tidak tanggung-tanggung melimpahkan pahalanya.

    “Saya ingin mengajak saudara-saudara semuanya, mari kita membiasakan diri untuk membaca Qur’an secara sistematis, secara konsisten,” pungkasnya.

    Selengkapnya detikKultum Nasaruddin Umar: Tips Khatam Al-Qur’an selama Bulan Puasa Ramadan dapat ditonton DI SINI. Kultum Prof Nasaruddin Umar ini tayang setiap hari selama Ramadan pukul 04.20 WIB.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Menuju Kebersihan Hati



    Jakarta

    Menghadapi kehidupan dunia yang makin komplek, hendaknya dihadapi dengan kejernihan hati agar kita tidak mengalami salah jalan yang berbuah sia-sia. Untuk itu kita mesti sadar bahwa, hati merupakan tempat membangun hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Allah SWT. maha memberikan kasih sayang kepada kita tanpa kepentingan. Diciptakannya alam semesta dunia seisinya semuanya karena cintanya Allah SWT. Dia juga Maha menganugerahkan nikmat tanpa ada jasa.

    Oleh sebab itu, pentingnya kebersihan hati yang akan menentukan buruk-baiknya seseorang. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Hajj ayat 46 yang artinya, “Maka sesungguhnya bukan mata kepala mereka yang buta, tetapi mata hati mereka yang buta. Apabila dalam dirinya terdapat hati yang bersih, maka akan lahir di sana akhlak yang terpuji.”
    Karena sesungguhnya hakikat kebutaan bukanlah kebutaan penglihatan, akan tetapi kebutaan yang membinasakan adalah kebutaan mata hati untuk menangkap kebenaran dan mengambil pelajaran.

    Perintah dalam ayat ini tersirat bahwa pentingnya sebagai orang yang beriman hendaknya dapat berpikir dengan baik ( tidak bodoh ) agar bisa mengambil pelajaran dan menangkap kebenaran.


    Ingatlah hati yang bersih lebih utama. Hal ini sebagaimana pada firman-Nya surah asy-Syu’ara ayat 88-89 yang artinya, “(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

    Ibnu Katsir berkata, “‘(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna’ Artinya, harta seseorang tidak akan bisa menjaga diri orang tersebut dari azab Allah SWT. walaupun dia menebusnya dengan emas seluas dan sepenuh bumi. ‘Dan tidak pula anak-anak laki-laki’, artinya tidak pula bisa menghindarkan dirinya dari azab-Nya, walaupun dia menebus dirinya dengan semua manusia yang bisa memberikan manfaat kepadanya. Yang bermanfaat pada hari kiamat hanyalah keimanan kepada Allah SWT. dan memurnikan peribadatan hanya untuk-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan dari para pelakunya. Oleh karena itu, Allah SWT. kemudian berfirman, ‘Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.’ Yaitu, hati yang terhindar dari kesyirikan dan dari kotoran-kotoran hati.”

    Imam asy-Syaukani berkata, “Harta dan kerabat tidak bisa memberikan manfaat kepada seseorang pada hari kiamat. Yang bisa memberikan manfaat kepadanya hanyalah hati yang selamat. Dan hati yang selamat dan sehat adalah hati seorang mukmin yang sejati.”

    Kenyataan hidup saat ini, sebagian orang berlomba untuk menumpuk harta dengan cara-cara yang baik maupun yang dilarang. Kadang mereka menganggap bahwa cara yang dilarang itu tidak apa-apa karena banyaknya orang melakukan itu. Anak dan kerabat juga menjadikan bahan kebanggaan. Agar dianggap bermartabat maka disiapkanlah anak untuk menduduki beberapa jabatan rangkap strategis. Apakah ini akan meningkatkan kemuliaannya di mata Allah SWT ? Tentu jawabannya ” Tidak ” maka ingatlah ayat tersebut di atas, hanya kesucian hatimu yang diperlukan untuk menghadap-Nya.

    Senada dengan firman diatas adalah surah ash-Shaffat ayat 84 yang artinya, “(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”
    Hati yang suci yakni hati yang bersih dan dibersihkan dari kemusyrikan dan keraguan yang selalu menasehati hamba-hamba lainnya untuk menuju jalan Allah SWT.

    Ada beberapa ciri-ciri orang yang hatinya bersih adalah :

    1. Tidak merisaukan urusan rezeki. Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah SWT kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah SWT. dengan hikmah-Nya berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti -dengan rahmat-Nya membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

    2. Jika sakit ia akan bersabar dan tidak mengeluh pada Allah SWT. Mengeluh dan memohon adalah hal yang berbeda. Adapun hikmah sakit salah satunya adalah : Menyambung tali silaturahmi. Tatkala sakit, keluarga ( saudara, kemenakan dan kerabat kainnya ), teman masa belajar, teman kerja dan lainnya pada datang menjenguk. Demikianlah Sang Pencipta berkehendak menyambung silaturahmi hamba-hamba-Nya melalui sakit.

    3. Tiada rasa dengki. Menghindari sikap hasad, dengan mengingat bahaya jika menerapkan sikap tersebut, serta memperbanyak ibadah, dapat menghindari perasaan iri dan dengki pada hati. Mendasari semua perbuatan dengan niat ibadah, sesuai dengan tujuan hidup bagi setiap umat Islam adalah untuk selalu beribadah kepada Allah SWT. sebagai makhluk ciptaan-Nya.

    Memasuki bulan Syawal ini hendaknya hati kita menjadi suci setelah menjalankan ibadah dalam bulan suci Ramadhan. Semoga Allah SWT. memberikan cahaya-Nya agar hati kita tetap terjaga kesuciannya.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Imam sebagai Mediator Umat



    Jakarta

    Sebagai agama dan umat minoritas Islam di AS, keberadaan Imam di sana menjadi sangat penting. Bukan hanya panting karena terus-menerus harus memberikan pelayanan kepada warga muslim yang umumnya mereka adalah orang awam, tetapi juga penting karena menjadi mediator, negosiator, dan moderator dengan para pihak yang ada di lingkungan umat Islam.

    Pemerintah AS seringkali mengundang tokoh-tokoh agama, dan untuk umat Islam seringkali diwakili oleh Imam, untuk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Sebagai negara demokrasi, AS selalu mendialogkan setiap persoalan untuk diselesaikan secara adil dan fair. Jika ada kunjungan tokoh-tokoh agama dunia, pemerintah AS sering mengundang para imam untuk hadir dalam jamuan makan tamu penting itu. Yang paling tepat menjadi representasi umat Islam di AS ialah para imam.

    Keberadaan imam di AS bukan bentukan pemerintah, karena pemerintah tidak berhak mengintervensi urusan kepemimpinan internal umat beragama. Nanti jika muncul persoalan khusus, misalnya muncul konflik yang bisa mempengaruhi ketenangan dan keamanan warga masyarakat barulah negara terlibat di dalamnya. Penunjukan imam sepenuhnya ditentukan oleh komunitas muslim. Berapa lama periodenya menjadi imam, juga ditentukan oleh persepakatan warga lokal muslim setempat.


    Ada yang tidak ditentukan masa jabatannya, sampai imam itu masih sehat saja dan ada ditentukan lama masa jabatannya berdasarkan periode tententu, misalnya per lima tahunan. Mereka masih bisa dipilih lagi jika masih memenuhi syarat dan belum ada orang yang lebih capable dari imam sebelumnya. Ada imam uang diimpor dari luar AS seperti sejumlah tenaga imam dari Mesir, Saudi Arabia, dan dari negara-negara mayoritas muslim lainnya yang fasih bacaan Al-Qur’annya serta bisa berdakwah ke dalam bahasa Inggris.

    Jika ada kasus keagamaan terjadi di lingkungan komunitasnya maka imam selalu harus hadir sebagai mediator atau negosiator dengan para pihak. Misalnya ada kasus pembangunan rumah ibadah yang diprotes oleh masyarakat setempat atau ada rumah ibadah (masjid) sulit mendapatkan izin pembangunan, maka biasanya imam tampir sebagai faktor penting untuk menyelesaikan persoalan itu.

    Pihak pemerintah, khususnya pihak keamanan (police) selalu berkomunikasi dengan imam jika ada masalah di lingkungan keberadaan mereka. Pemerintah juga secara rutin mengundang para imam untuk memberikan ceramah dan pencerahan untuk narapidana muslim di penjara yang jumlahnya tidak sedikit. Demikian pula jika ada di antara narapidana itu yang ingin pindah agama (Islam), kalangan imam juga diminta hadir untuk mengislamkan mereka.

    Pemerintah AS, khususnya pemerintah di tingkat negara bagian (states) mempunyai struktur sendiri dimana tokoh-tokoh agama untuk berbagai agama termasuk Islam, diberi ruang atau forum antar para tokoh lintas agama untuk bersidang secara periodik guna membahas persoalan-persoalan yang berhubungan dengan agama. Terkadang huga diinisiatifi oleh kelompok agama-agama lain. Seperti kelompok agama Protestan atau Katolik mengundang tokoh-tokoh agama lain untuk berdiskusi tentang persoalan kemanusiaan yang sedang menjadi sorotan atau isu dalam masyarakat.

    Meskipun AS sering disebut negara sekuler tetapi kehidupan dan nuansa agama bagi para penduduknya sangat kuat. Simbol-simbol keamaan sering ditampilkan. Doa bersama sering dilaksanakan dalam beberapa acara dan upacara. Hari-hari besar agama-agama juga sering diperingati. Termasuk hari-hari besar Islam seperti hari raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Anak-anak saya ketika masih duduk dibangku sekolah dasar di Masryland diharuskan melantunkan lagu yang bernuansa keislaman, seperti lagi “Happy Idul Fthr”, yang dinyanyikan bukan hanya anak-anak muslim tetapi seluruh murid yang dipimpin oleh gurunya.

    Nasaruddin Umar
    Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Qanaah



    Jakarta

    Saat penulis sholat Idul Fitri di masjid depan hotel Aston di GKB (Gresik Kota Baru), Khotib mengingatkan tentang selepas bulan suci Ramadhan hendaknya kita merasa selalu diawasi Allah SWT (Muraqabah), menerima adanya (Qanaah) dan bersikap rendah hati (Tawaddu’). Untuk itu penulis akan membahas tentang qanaah.

    Qanaah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat qana’ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada pada dirinya adalah kehendak Allah SWT. Sikap ini sangat penting karena dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi perlombaan untuk mencapai sesuatu. Sadar atau tidak disadari bahwa perlombaan yang terjadi dengan tujuan untuk menggapai dunia ( harta kekayaan, posisi, ketenaran dan lainnya ).

    Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah ).


    Adapun ciri-ciri perilaku yang mencerminkan sikap qanaah adalah:
    – Tidak pernah mengeluh dalam menghadapi kenyataan hidupnya.
    – Merasa senang dengan apa yang ia miliki.
    – Tidak marah bila melihat orang lain sukses.
    – Rela dengan apa yang menjadi hak orang lain.
    – Ikut senang bila melihat orang lain sukses.
    – Menerima dengan rela apa yang telah diberikan Allah SWT. kepadanya
    – Tidak tertarik oleh segala tipu daya yang bersifat duniawi.
    – Tidak meminta sesuatu yang lebih dari ikhtiarnya.
    – Menerima dengan sabar akan segala ketentuan Allah SWT.

    Sikap qanaah merupakan perintah-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam surah an-Nisa ayat 32 yang artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

    Dikisahkan, pada Bani Israil terdapat seorang ahli ibadah yang mengalami himpitan masalah penghidupan. Ia menuju padang pasir dan berdo’a pada Allah SWT. agar diberikan sesuatu. Tiba-tiba ada panggilan menyapa, “Wahai ahli ibadah, bentangkan tanganmu, dan ambillah!” Kemudian kedua tangannya sudah ada permata yang warnanya seperti bintang berpijar terang benderang. Lalu ia pulang dengan membawa kedua permata tersebut.

    Ia berkata kepada istrinya dengan penuh riang, “Kita selamat dari kefakiran.”
    Pada suatu malam ahli ibadah bermimpi bahwa dirinya berada di surga. Di dalam surga ada gedung yang besar, lalu ada suara, “Ini adalah gedungmu.” Ada dua singgasana yang megah satu untuk dirinya dan satu lagi untuk istrinya. Ketika ia melongok ke atap, terlihat ada lubang seukuran dua permata. Ia berkata, “Apa yang terjadi dengan bagian yang berlubang ini ?”
    Kemudian ada sebuah suara, “Sebenarnya itu tidak berlubang. Hanya saja, engkau tergesa-gesa memperoleh dua permata itu di dunia. Dua tempat yang berlubang itu adalah tempatnya.”

    Setelah sadar dari tidurnya, lalu ia menangis dan memberitahu atas mimpinya pada sang istri. Maka saran istrinya, “Berdo’alah pada Allah SWT. dan mintalah kepada-Nya agar dua permata itu dikembalikan ke tempatnya, yaitu ke padang pasir.”
    Kemudian ia ( ahli ibadah ) dengan sungguh-sungguh berdo’a penuh harap kepada Allah SWT. agar kedua permata itu dikembalikan pada tempatnya. Setelah kedua permata kembali ke tempatnya kemudian ada suara panggilan, “Kamu telah mengembalikan kedua permata itu ke tempatnya.”
    Atas terkabulnya do’anya maka ia memuji Allah SWT.

    Qana’ah bukan berarti diam berpangku tangan dan bermalas-malasan tidak mau meningkatkan kesejahteraan hidup tapi sesungguhnya orang yang qana’ah adalah orang yang sangat kuat dan bersahaja, dia giat berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan yang dicita-citakan. Namun apabila menemui kesulitan ia tidak pernah berputus asa dan kecewa, bahkan ia selalu sabar dan husnuzhan dengan keputusan Allah SWT. karena dia punya keyakinan bahwa di balik semua peristiwa dalam hidup pasti ada hikmahnya.

    Adapun dampak positif dari perilaku membiasakan sikap qana’ah adalah:
    * Jiwa dan pikiran lebih tenang, karena terbebas dari rasa iri dan dengki.
    * Disukai setiap orang, karena semua orang akan merasa aman dan nyaman berada di sekelilingnya.
    * Mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
    * Terhindar dari sifat tamak.
    * Terhindar dari ancaman siksa yang berat.

    Siapa pun kita dan jabatan apa pun, sikap qana’ah merupakan landasan bersikap untuk menghadapi kehidupan ini. Ya Allah, kuatkan dan teguhkan iman kami untuk tidak melampaui batas dan bisa menerima apa adanya yang menjadi ketetapan-Mu.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengapa Abrahamic Religions di AS Kompak?



    Jakarta

    Fenomena Abrahamic Religions atau agama-agama yang lahir dari anak-anak cucu Nabi Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam, kelihatannya sangat kompak. Bahkan mungkin paling kompak di antara negara-negara lain. Kalau di tempat lain, Yahudi dan Islam atau Yahudi dan Kristen sering terjadi konflik bahkan perang terbuka, maka di AS penampilan ke tiga agama yang biasa disebut dengan Semitic Religions (agama-agama Semit) ini sangat akur. Ketiga agama ini sering saling mengundang satu sama lain jika ada acara khusus atau momen-momen penting. Tokoh-tokoh ketiga agama ini, tentu saja dengan tokoh-tokoh agama lain, sangat akrab satu sama lain. Secara pribadi kadang saling mengunjungi dan sering berkomunikasi lewat telpon.

    Sering ditemukan satu keluarga tetapi mempunyai agama yang berbeda-beda. Ada yang beragama Yahudi, Kristen, dan Islam. Di kantor-kantor tidak sedikit karyawan bekerja dengan akrab satu sama lain tanpa risih dengan perbedaan agama yang dianutnya. Bahkan ketiga agama ini memiliki hubungan emosional (chemistry) satu sama lain. Mungkin karena mereka sebagai masyarakat yang gemar membaca, sehingga mereka tahu kalau agama-agama yang mereka anut bersumber dari satu nenek moyang yang sama yaitu Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahi melahirkan dua anak dari dua ibu yang berbeda. Isteri pertamanya bernama Siti Sarah melahirkan Nabi Ishak yang kemudian turunannya melahirkan nabi Musa yang di tangannya agama Yahudi diturunkan dengan Kitab Sucinya Taurat, dan Nabi Isa, di sana disebut Yesus Kristus, yang ditangannya lahir agama nashrani atau Kristen dengan Kitab Sucinya Injil. Dari Isteri keduanya, Sitti Hajar, lahir dari turunannya Nabi Muhammad SAW yang di tangannya lahir agama Islam dengan Kitab Sucinya Al-Qur’an. Ketiga agama ini sesungguhnya memiliki titik persamaan (encounters) lebih banyak dari pada perbedaan.

    Dalam Alkitab terutama dalam Kitab Kejadian (Genesis) yang terdiri atas sekitar 5000 ayat banyak sekali mengungkap persamaan antara Al-Qur’an dan Hadis. Hanya saja terjadi perbedaan secara linguisti-semantik karena faktor jarak waktu yang yang sangat berjauhan satu sama lain. Sebagai contoh, dalam Bibel disebut Adam-Eva, Noh, Loth, Yosep, David, Salomom, Abraham, Moses, Yesus Kristus, Fir’an, Gabril, tetapi dalam Al-Qur’an dan Hadis dikenal Adam-Hawa, Nuh, Lut, Daud, Sulaiman, Ibrahim, Musa, Isa, Fir’aun, dan Jibril.


    Substansi kisah-kisah di dalamnya banyak persamaannya. Bahkan seringkali ditemukan dalam kitab-kitab tafsir populer (al-mu’tabarah) seperti kitab Tafsir Al-Thabari, Tafsir Al-Qurthubi, dan kitab-kitab Tafsir lainnya mengintrodusir riwayat-riwayat Israiliyyat yang sesungguhnya berasal dari sumber-sumber tradisi Al-Kitab, khususnya dari kitab Talmud, yaitu kitab tafsirnya kitab Taurat. Kitab Talmud Babilonia lebih dari 10 jilid paling banyak berisi sumber-sumber Israiliyat. Contoh penafsiran kitab Talmud tentang kitab Kejadian (Genesis) banyak sekali persamaannya dengan riwayat-riwayat Israiliyat tentang asal-usul kejadian Adam dan Hawa. Dalam Kitab Kejadian pasal 1-23 sangat bersesuaian dengan tentang kisah penciptaan Adam dan Hawa dilam kitab-kitab Tafsir Mu’tabarah. Adam diciptakan dari tanah dan Hawa diciptakan dari tulang rusuk kiri paling bawah dan bengkokdari Adam. Demikian pula drama kosmos, kisah jatuhnya Adam-Hawa dari langit kebahagiaan ke surga penderitaan, dalam kitab-kitab kuning sering kali sangat bersesuaian dengan kitab-kitab Talmud, baik Talmud Babilonia maupun talmu Palestina.

    Adalah wajar secara konsepsional jika umat ketiga kelompok Abrahamic Religions ini akur satu sama lain, karena sesuangguhnya “bersepupuan”. Yang tidak wajar jika antara ketiga kelompok agama ini berkonflik, apalagi berperang satu sama lain. Pola pembinaan AS tentang antar umat beragama perlu menjadi referensi buat kita semua. Allahu a’lam.

    Nasaruddin Umar
    Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Fenomena Mark A.Gabril dan AS



    Jakarta

    Tentu saja ada sekelompok orang yang tidak senang melihat Islam berkembang di AS. Mereka selalu mem-blow-up setiap kasus yang menjelekkan Islam, termasuk dalam tahun 2000-an karya-karya murtad Ibn Warraq (nama samaran) yang pindah ke agama Keristen (atau ateis?) memublikasikan banyak buku yang menohok keaslian Kitab Suci Al-Qur’an. Akan tetapi provokasinya menjadi absurd setelah karya-kaya kemukjizanan Al-Qur’an bermunculan di AS yang ditulis oleh orang-orang Barat sendiri yang tadinya non-muslim menjadi muslim. Banyak orang yang tadinya membenci Islam dan menyerang kitab suci Al-Qur’an kemudian berubah pikiran. Di antaranya ialah Garry Wills, mantan pendukung berat Presiden Donald Trump, menulis sebuah buku yang mengejutkan dan kini menjadi penyandang The New York Times Bestselling. Buku itu ialah What the Qur’an Meant and It Matters. Tadinya begitu negative pandangannya terhadap Al-Qur’an tetapi setelah membaca secara keseluruhan Al-Qur’an maka lahirlah buku ini yang begitu kuat simpatinya terhadap kandungan isi Al-Qur’an.

    Jika Allah SWT akan memberi hidayah kepada hamba-Nya maka sekeras apapun anti keislaman Umar ibn Khattab, yang pernah berencana membunuh Nabi Muhammad Saw tiba-tiba menjadi pembela setia ajaran Islam. Sebaliknya jika Allah SWT membutakan hati seseorang, sekalipun dari TK sampai DR dan Gurubesar di Universitas Al-Azhar tetap saja tergelincir, seperti yang menimpa Mark A.Gabriel, yang sekarang menjadi fenomenal di AS. Ia lahir sebagai muslim dari keluarga fanatik, mengecap pendidikannya sejak taman kanak-kanak sampai ke jenjang S3 Fakultas Adab di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia sempat menjadi profesor Sejarah Peradaban Islam di Universitas terkemuka ini. Ia termasuk pemikir muda yang moderat.

    Suatu saat ia diculik kelompok garis keras dan ditahan di tahanan bawah tanah di Mesir. Ia disiksa dengan berbagai macam siksaan, termasuk kukunya dicopot satu persatu. Ia dianggap sebagai kelompok liberal dan antek Barat. Suatu ketika ia berhasil lolos di malam hari dan kembali ke rumahnya. Bukannya mendapat sambutan dari ayahnya, ia pun didamprak oleh ayahnya dan diusir karena pikirannya dianggap terlalu “maju”. Ibunya memberi kunci mobil dengan uang seadanya agar lari sejauh-jauhnya. Ia pun menancap gas tanpa tujuan dan tidak terasa memasuki jalur lintas Afrika. Terakhir ia terdampar di salah satu kota di Afrika Selatan. Di sana ia berkenalan dengan seorang pendeta Kristen dan di sana ia memutuskan untuk pindah. Entah bagaimana caranya akhirnya ia sampai ke AS dan di sana ada sekelompok orang memberi peluang untuk menulis dan berbicara di berbagai forum, meskipun kalangan intelektual AS tidak langsung merespon positif mental-kepribadian orang seperti Max Gabrill, karena masih sangat labil.


    Ia menulis buku yang pernah menjadi The Best seller di AS dengan judul: “Islam and Terrorism” diterbitkan oleh Charisma House A Srang Company (2002). Kesimpulan dalam buku itu ialah Islam berada di balik terorisme, bukan orang Islam. Teroris muslim hanyalah korban dari agamanya yang menganjurkan terorisme. Di antara pokok-pokok pikiran Mark dalam buku ini antara lain: Surat al-Qital (Muhammad) sebagai Legitimator Perang. Surah ini seperti genderang perang untuk kaum kafir. Ia juga menilai Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk lebih memprioritaskan membunuh musuh ketimbang menjadikannya tawanan perang.

    Hal demikian tersebut dalam Q.S. al-Anfal [8]: 67. Ia tidak mau tahu kalau ayat-ayat itu memiliki sabab nuzul tersendiri. Pandangan Mark ini sangat berlebihan karena doktrin jihad dalam al-Qur’an tidak pernah bersifat pre emptive, mendahului dalam memerangi. Fakta sejarah membuktikan bahwa masyarakat Islam di Madinah tetap bersahabat dengan pemeluk agama lain dari kalangan Yahudi dan Kristen. Sungguh tidak berdasar jika menyebut al-Qur’an memusuhi ahl al-kitab. Bukankah al-Qur’an juga menceritakan bahwa di antara ahl al-kitab tersebut terdapat orang yang dapat diamanati harta yang banyak, akan menjaga keutuhannya hingga dikembalikan kepada pemiliknya (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 75). Konon Mark Gabrill saat ini sedang bingung dengan keputusannya sendiri dan banyak menutup diri.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sahabat



    Jakarta

    Syekh Abu Abbas al-Mursi berkata, “Seorang Arif ( yang bijaksana ) tidak memiliki dunia karena dunianya untuk akhirat dan akhiratnya untuk Tuhannya.”

    Seperti itulah para sahabat Rasulullah SAW. generasi salaf dan orang-orang shalih. Setiap mereka memperoleh dunia yang diupayakan akan digunakan untuk memdekatkan diri kepada Allah SWT. dan dijadikan jalan untuk meraih ridha-Nya. Mereka tetap berikhtiar tidak untuk menikmati perhiasan dunia dan kelezatannya, namun mereka gunakan untuk ta’at dan mendekatkan diri pada-Nya.

    Seperti yang digambarkan di atas tercermin dalam firman-Nya :


    1. Surah al-Fath ayat 29 yang artinya, “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud.” Dalam ayat ini Dia adalah Dzat yang melihat rahasia-rahasia terdalam mereka dan mengetahui rahasia mereka yang tersembunyi dan nyata. Bahwa mereka tidak mengejar dunia dalam hal yang mereka kerjakan kecuali semata-mata demi keridhaan dan kemurahan-Nya. Ingatlah bahwa dunia itu sangatlah gemerlap dan menarik, seseorang bisa lupa diri dan berbohong demi dunia, bisa bernafsu meraih dengan cara apa pun juga demi dunia.

    2. Surah an-Nur ayat 36-37 yang artinya, “( Cahaya itu ) di rumah-rumah yang disana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih ( menyucikan ) nama-Nya pada waktu pagi dan petang, orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang ( hari Kiamat ). Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Cahaya ini bersinar di masjid-masjid. Allah SWT. memerintahkan agar mengagungkan bangunan, penjagaan, dan pemakmurannya bagi orang-orang yang shalat; di dalamnya disebutkan nama Allah dengan azan, bacaan al-Qur’an, dan zikir-zikir berupa tasbih dan tahmid pada pagi dan sore hari yang memenuhi timbangan amal. Dan termasuk orang yang tidak dilalaikan karena perniagaan dari mengingat-Nya.

    3. Surah al-Ahzab ayat 23 yang artinya, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah : maka diantara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada ( pula ) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah ( janjinya ).” Sekelompok orang-orang inilah yang dipilih-Nya untuk menemani Rasulullah SAW. dan menjadi objek bicara beliau saat wahyu diturunkan. Berkat mereka ( para sahabat ) hukum-hukum dan syariat dari Rasulullah SAW. sampai kepada kita. Itulah jasa-jasa mereka dan kita sejatinya beruntung dan berutang pada mereka. Oleh sebab itu, bayarlah utang itu dengan meneladani sikap para sahabat tersebut.

    Maka sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah SAW. dalam sabdanya, “Para sahabatku seperti bintang-bintang, kepada siapa pun di antara mereka kalian ikut, kalian akan mendapatkan petunjuk.”
    Mengikuti mereka ( sahabat ) tidaklah ada kerugian maupun kesia-sia-an justru akan memperoleh petunjuk. Sebagaimana dalam firman-Nya surah al-Kahfi ayat 28 yang artinya, “Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.

    Mereka bersabar dan menunggu-nunggu dan tidak mengubah janjinya pada Allah SWT. untuk tetap ta’at dan berharap keridhaan-Nya. Dalam ajaran Islam tidak ada larangan dalam perniagaan dan jual beli, namun dalam pelaksanaannya tidaklah melupakan untuk selalu mengingat-Nya. Dalam pengelolaan perniagaan itu layaknya orang-orang berakal. Perintah berdagang sebenarnya tersirat dari firman-Nya dalam surah al-Anbiya’ ayat 73 yang artinya, “Melaksanakan shalat dan menunaikkan zakat, hanya kepada Kami mereka menyembah.”

    Dalam ayat diatas ada kalimat menunaikan zakat, mewajibkan zakat kepada mereka ( para sahabat ) tentulah sebagian mereka adalah orang yang kaya. Kekayaan mereka tidak mengeluarkan mereka memperoleh pujian Allah SWT, jika mereka tetap menunaikan hak-hak-Nya.

    Abdullah bin Utbah menceritakan para sahabat meninggalkan harta kekayaannya seperti :
    1. Utsman bin Affan, ia memiliki tabungan 150.000 dinar, dan 1.000.000 dirham, tanah di daerah Sarawis, Khaibar, dan Wadi al-Qura yang nilainya setara dengan 200.000 dinar.
    2. Zubair bin Awwam, ia meninggalkan 50.000 dinar, 1.000 ekor kuda dan seribu budak.
    3. Amr bin Ash, ia meninggalkan harta warisan sebanyak 300.000 dinar.
    4. Para sahabat lainnya termasuk Abdurrahman bin Auff dan lainnya.

    Artinya ajaran ini tidak melarang orang menjadi kaya, meski tidak lalai terhadap hak-hak Tuhannya. Para sahabat yang kaya ini menjadikan harta bukan tujuan akhir, mereka menjadikan wasilah untuk tetap berada pada jalan-Nya. Sebagaimana yang diceritakan oleh Syekh Abu Hasan ady-Syafdzili berkata, “Aku bertemu dengan Abu Bakar ash-Shiddiq di dalam tidurku. Dia berkata, ‘Apakah kamu tahu tanda-tanda keluarnya cinta dunia dari hati?’ Aku menjawab, ‘Tidak tahu.’ Lalu beliau berkata, ‘Tanda-tanda keluarnya cinta dunia dari hati adalah munculnya perasaan hina ketika mendapatkan dunia dan ada perasaan tenang ketika kehilangan dunia.”

    Semoga Allah memberikan cahaya-Nya agar kita bisa mengikuti jejak para sahabat Rasulullah SAW. tetap berikhtiar dengan mengisi kehidupan dunia dan tidak lalai menunaikkan hak-hak Allah SWT.

    Aunur Rofiq
    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Dua Rakaat Sebelum Subuh, untuk Apa?



    Jakarta

    “Dua rakaat sebelum salat subuh itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR Muslim). Demikian sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Beberapa persepsi muncul menanggapi maksud hadits ini. Sebagian besar menduga bahwa dua rakaat sebelum subuh akan mengantar pelakunya untuk menggapai harta yang banyak, uang yang melimpah, kekayaan tak berbatas, bahkan termasuk jabatan yang super tinggi.

    Mereka memahami hadits ini secara sepintas. Sementara beberapa muballigh, menyampaikan bahwa hadits ini mengingatkan kita, jika besok di akhirat dua rakaat sebelum subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Terutama sujud pada dua rakaat sebelum subuh.


    Ada segolongan lain ragu, belum sependapat dengan pemahaman yang pertama. Golongan ini menyadari bahwa secara obyektif manusia memang fitrahnya diciptakan bersifat kikir.

    “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir” (al Ma’aarij 70:19). Bahkan “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan adalah manusia itu sangat kikir” (al Isra’ 17:100).

    Di samping itu bagi manusia, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (al Imran 3:14).
    .
    Mereka, golongan ini, menyadari bahwa orang-orang yang sesuai dengan ayat-ayat di atas memiliki harapan kepemilikan besar akan dunia. Harapan itu antara lain mereka upayakan melalui pengamalan dua rakaat sebelum subuh. Oleh karenanya, orang-orang yang memiliki pemahaman demikian memandang hadits di atas sebagaimana yang tertulis.

    Segolongan muballigh melihat bukti di kehidupan nyata. Mereka melihat bahwa para beliau yang istiqamah mengamalkan dua rakaat sebelum subuh jarang yang hidup bergelimang harta. Hidup memiliki pangkat yang tinggi dan yang lainnya. Oleh karenanya golongan kedua ini menghindar dari pandangan sebelumnya. Mereka menyampaikan bahwa keutamaan dua rakaat sebelum subuh, pada nilai kemuliaannya di akhirat.

    Dari sisi pandang ini, mereka mengajukan alasan antara lain, bahwa sujudnya saja pada dua rakaat sebelum subuh di akhirat bernilai sangat tinggi.

    Pendapat ini menimbulkan pertanyaan. Jika sujud dijadikan alasan nilai sunnah ini melebihi dunia dan seisinya, bukankah sujud-sujud di salat fardlu adalah lebih utama? Lalu mengapa hadits ini menghkhususkan sujud di dua rakaat sebelum subuh? Lagi pula, jika dampak dua rakaat sebelum subuh menunggu nanti di akhirat lalu keutamaannya sekarang di dunia apa? Sedangkan semua orang yang sekarang mengerjakan sunnah itu, mereka sedang hidup, perlu memperoleh buktinya secara nyata. Salat apa pun, yang dilakukan pada saat manusia hidup di dunia wajib menunjukkan dampak positif di dunia ini, sekarang!

    Dari sini ada golongan yang melihat dari sisi pandang lain. Bahwa siapa pun yang istiqamah dalam mengamalkan dua rakaat sebelum subuh, memiliki nilai jiwa yang tinggi. Mereka melihat bahwa dua rakaat sebelum shubuhnya saja sangat berharga apalagi shalat subuhnya.

    Padahal untuk bangun subuh saja, belum mudah bagi sebagian besar orang. Apalagi untuk bisa melakukan dua rakaat sebelum subuh, orang pasti harus bangun jauh sebelum shubuh tiba. Mereka siap menjemput subuh melalui dua rakaat salat sunnah. Ini menjadi pertanda jelas kekuatan iman seseorang. Bukankah tidak mudah untuk melakukan persiapan dan pelaksanaan salat shubuh apalagi sunnah sebelum subuh?

    Nabi bersabda, “Salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat isya dan salat subuh” (Muttafaq ‘alaih).

    Sedangkan sifat munafik, berbanding terbalik dengan sifat iman. Semakin mudah seseorang menegakkan salat subuh, terlebih dua rakaat sebelum subuh, imannya semakin berkualitas. Iman yang tinggi tak akan mudah goyah dengan cobaan apa pun. Bahkan seluruh cobaan yang melebihi nilai dunia dan seluruh isinya.

    Dari sisi pandang ini jelas bahwa, dua rakaat sebelum subuh memang lebih baik dari dunia dan seisinya. Bahwa bagi orang-orang yang imannya kuat, antara lain ditandai dengan istiqamah melaksanakan sunnah dua rakaat sebelum subuh, segala cobaan yang bernilai melebihi seluruh dunia dan seisinya sekalipun, tak mampu mengoyangkan imannya. Iman kepada Allah dan hari akhir.

    Nabi juga bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika salatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika salatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi”. Salat menjadi indikator kualitas kebaikan seseorang.

    Salat dan amal perbuatan saling berkaitan. Amal-amal yang baik mengantar para pelakunya mampu salat khusyu. Sedangkan salat yang dilakukan dengan khusyu mengantar pelakunya berperilaku baik (al Ankabut 29:45). “…Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar…”.
    “Barangsiapa yang salatnya tidak mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar maka tidak ada salat baginya” (al Hadits).

    Jika demikian maka, dua rakaat sebelum subuh, merupakan indikator kualitas kebaikan seseorang. Sehingga godaan senilai dunia dan seisinya tak akan mampu menggoyang nilai keimanannya.

    Kualitas tinggi dari kebaikan seseorang sangat penting terutama bagi pemimpin. Alasannya, karena mereka adalah panutan para yang dipimpin. Pemimpin negara menjadi panutan bagi rakyatnya.

    Mereka yang dimaksud para pemimpin antara lain adalah: presiden, gubernur, bupati sampai pada siapa pun yang mengemban amanah sebagai pemimpin. Termasuk pemimpin rumah tangga.

    Manusia yang memiliki kualitas sangat baik sangat diperlukan untuk dijadikan para wakil rakyat. Merekalah yang antara lain bertugas merancang dan mengesahkan peraturan perundangan. Peraturan yang akan mengikat tata kehidupan rakyat dan negara.

    Siapa pun yang dua rakaat sebelum subuhnya hebat, insyaAllah tidak akan pernah: memanipulasi jabatan, korupsi, nepotisme, kolusi dan yang lain.
    Salat harus dijadikan indikator penting dalam memilih personil penegak hukum.

    Mereka tidak boleh terpengaruh oleh sebesar apa pun nilai duniawi. Terutama di dalam memberikan keputusan yang adil. Semoga kita mampu menjadikan setiap diri kita sebagai manusia-manusia yang sangat berkualitas baik. Ini antara lain bisa diupayakan melalui istiqamah mengamalkan dua rakaat sunnah sebelum salat subuh!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan menjadi penasihat beberapa masjid di Surabaya.

    Artikel ini adalah tulisan pembaca detik.com. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pengirim. (Terimakasih – Red)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ada Khutbah dan Dakwah, Ini Perbedaannya Menurut Syariat Islam


    Jakarta

    Timbul pertanyaan mengenai perbedaan khutbah dan dakwah menurut syariat Islam. Padahal dakwah sebagai syiar adalah perintah Rasulullah SAW untuk menyebarkan agama Islam. Jika kita tidak bisa menjadi penceramah, kita dapat berdakwah dengan menunjukkan nilai-nilai islami yang baik.

    Perintah untuk berdakwah disampaikan oleh Allah SWT langsung melalui firmannya surah Al-Nahl ayat 125:

    اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ


    Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

    Mengutip buku Ketika Notaris Berdakwah karya H.R. Daeng Naja dijelaskan bahwa ayat di atas memerintahkan kepada umat Islam untuk berdakwah, dalam kaidah usul fikih maka dakwah merupakan kewajiban yang bersifat umum.

    Pengertian Khutbah

    Arif Yosodipuro dalam buku Buku Pintar Khatib dan Khutbah Jumat menjelaskan pengertian khutbah berasal dari bahasa Arab yang akar katanya sama seperti khatib, yakni khatab, yakhtubu, dan khutbatan. Maka Khutbatan dalam bahasa Indonesia artinya ceramah atau pidato.

    Bersama khutbah ada khatib yang artinya orang yang melakukan khutbah, orang berkhutbah dengan menyampaikan pesan-pesan Islami kepada umat Islam.

    Khutbah memiliki urutannya, bila salah satunya terlewat atau tidak diamalkan, maka khutbah dinyatakan tidak sempurna. Berikut ini rukun khutbahnya:

    · Hamdalah

    · Syahadat

    · Shalawat

    · Berwasiat

    · Membaca Al-Qur’an

    · Berdoa untuk jemaah

    Pengertian Dakwah

    Rahmat Ramdhani dalam buku Pengantar Ilmu Dakwah menjelaskan pengertian dakwah secara bahasa dan etimologis.

    Dalam bahasa Al-Qur’an dakwah berasal dari kata Daaa (Yaduu )بدعو (Da’watan )دعوة (. Secara bahasa/etimologis kata dakwah berarti menyeru, memanggil, mengundang, mengajak, mendorong, dan memohon.

    Secara etimologis dakwah merupakan usaha menyampaikan sesuatu kepada orang lain (baik perorangan atau kelompok) mengenai agama Islam.

    Sementara itu, mengutip buku Ilmu Dakwah Suatu Pengantar karya Daniel Rusyad disebutkan dakwah memiliki nama lainnya dalam Al-Qur’an, diantaranya, yaitu:

    Tabligh

    Berarti menyampaikan, disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

    Nabi di dalam Khutbatul Wada’, “Fal-yuballighis syaahid al ghaaiba, rubba muballigin aw’a min saami’in” (hendaknya mereka yang hadir menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir, betapa banyak orang yang menyampaikan (muballigh) itu menjadi lebih memahami dari mereka yang hanya mendengarkan).

    Tadzkir

    “Insan” dan “Manusia” mempunyai akar kata yang sama dengan “Nisyan”, keduanya berasal dari kata fiil tsulatsi “nasiya-yansa” berarti lupa. Maka wajar bila manusia memiliki sifat pelupa.

    Untuk itu tadzkir yang berarti mengingatkan. Oleh karena itu, jika tabligh berhubungan kepada yang belum mengenal Islam, maka tadzkir ditujukan kepada mereka yang lupa pesan dari dakwah yang pernah sampai kepadanya.

    Nasihat

    Nushulul insan lil insan bil bayaan, artinya seseorang menasihati orang lain dengan lisannya, maka penasihat itu harus memberikan nasihat, motivasi, atau dorongan kepada jiwa maupun psikisnya. Nasihat memiliki posisi yang mulia di dalam Islam.

    Diriwayatkan Imam Muslim dari Tamim bin Aus ad Dariy berkata, bahwa Nabi bersabda, “Ad dien an nashihah (agama adalah nasihat), Ad dien an nashihah, Ad dien an nashihah” (beliau ucapkan tiga kali). Kami berkata, “Bagi siapa ya Rasulullah?” Nabi bersabda, “Bagi Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-Nya, bagi para pemimpin umat Islam dan rakyatnya.”

    Dikatakan pula bahwa bai’at para sahabat kepada Nabi didasari perintah untuk saling menasihati. Diriwayatkan Imam Bukhari dari Jarir bin Abdullah berkata, “Saya telah membaiat Nabi di atas (perintah untuk) mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan nasihat untuk setiap muslim”.

    Irsyad

    Irsyad berasal dari kata “Arsyada-Yursyidu” artinya adalah petunjuk. Irsyad juga bermakna hidayah, berarti memberikan petunjuk kepada orang yang tersesat, atau jalan hidayah baginya.

    Hasil dari irsyad adalah pola pikir, sikap, perilaku, dan mental yang sesuai dengan ajaran luhur agama Islam.

    Amar Ma’ruf Nahi Munkar

    Secara etimologis dua kata di atas berarti menyuruh pada perkara ma’ruf dan melarang perkara munkar.

    Ma’ruf berarti diketahui kebaikan dan keunggulannya, atau sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk dikerjakan, sedangkan munkar tidak diketahui manfaat dan faedah yang terkandung di dalamnya.

    Sebagian ulama berpendapat amar ma’ruf nahi munkar ditunjukan untuk semua umat Islam yang sama-sama memahami perkara ma’ruf dan munkar.

    Selain itu, Rahmat Ramdhani dalam buku Pengantar Ilmu Dakwah menjelaskan bahwa Khutbah yang pelakunya disebut khatib artinya berpidato. Merupakan dakwah/tabligh yang disampaikan secara lisan pada upacara keagamaan seperti Khutbah Jumat.

    Perbedaan Khutbah dan Dakwah

    Berdasarkan penjelasan di atas, khutbah adalah ceramah atau pidato yang memiliki urutan tertentu dan disampaikan dalam acara keagamaan pada waktu yang telah ditetapkan. Sementara itu, dakwah merujuk pada aktivitas menyeru, memanggil, mengundang, mengajak, mendorong, dan memohon yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.

    Maka dapat disimpulkan, bahwa lingkup dakwah sangat luas, bahkan khutbah termasuk ke dalam dakwah, dan dakwah tidak hanya menyampaikan kebenaran Islam melalui lisan, bisa juga dengan berbuat kebaikan, dan menjauhi larangannya.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com