Tag: hikmah

  • Penghulu Hari, Jumat Bersama Al Kahf



    Jakarta

    Hari Jumat dikenal sebagai penghulu, pimpinan dari seluruh hari. Dalam Bahasa Arab disebut sayyidul ayyam. Pada hari itu Muslimin dianjurkan membaca suratul Kahf. Waktunya mulai tenggelam matahari di Kamis sore, sampai matahari tenggelam di Jumat sore.

    Petunjuk datang dari Rasulullah saw. tentang amalan ini: “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Shohihul Jami’.

    Cahaya adalah nur dalam bahasa Arab. Nur, dalam Bahasa Arab bisa berarti; ilmu, petunjuk. Nur, melambangkan orang yang beriman. Mengapa, karena orang-orang yang beriman sesuai rukun iman yang enam itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk. Orang beriman mampu membedakan mana yang benar, mana yang keliru. Mana arah menuju kebahgaiaan sejati, mana arah jalan menuju selamat, mana yang sebaliknya. Sulit bagi siapa pun untuk membedakan mana yang benar dan mana yang keliru jika tidak ada cahaya. Jangankan benar dan salah, bahkan apakah ini pisau atau kah ini penggaris sulit atau tidak mungkin dibedakan dalam suasana gelap tampa cahaya.


    Bagi siapa pun Muslim sesuai al Hadits di atas yang membaca surat al Kahf maka baginya cahaya ini di antara dua Jumat. Sepanjang antara dua Jumat itu dia senantiasa diterangi ‘cahaya’ yang membuatnya tahu mana yang benar dan mana yang keliru. Pengetahuan mana arah yang benar itu juga merupakan hudan petunjuk.

    Pengetahuan tersebut mestinya mampu mengarahkannya untuk memilih dan menempuh jalan yang benar. Dengan demikian maka nur yang dimaksud bisa berarti siapa pun Muslim yang membaca al Kahf pada hari Jumat, senantiasa diarahkan untuk menempuh jalan benar. Senantiasa berada dalam petunjuk Tuhan, senantiasa terpelihara dari keliru.

    Orang yang senantiasa berada dalam petunjuk Allah, selalu terhindar dari keliru, ialah orang yang senantiasa tenang, damai, adem. Tidak ada stres, minimal radikal bebas. Kalau dalam konsep medis, dia dalam kondisi ketahanan tubuh yang optimal. Status imunitasnya optimal. Dia memiliki kondisi kesehatan yang optimal. Tidak mudah sakit, indurance nya optimal, maka dia tidak mudah lelah dalam beraktifitas. Karena tidak ada stres berarti dia selalu senang, gembira, dia selalu bersyukur. Kesenangan yang menambah kesenangan berikutnya. Lain syakartum la-aziidannakum (QS 14:7).

    Tepat sesuai makna ini dengan kalimat di pembuka surat ini, Alhamdulillaah.Tentu saja, pencapaian kondisi optimal ini bertingkat, bergantung kepada tingkat keimanan, tingkat keshalihan, tingkat pemahaman dan aplikasi dari makna tersurat dan tersirat dalam alKahf.

    Sekelumit alKahf

    AlKahf dimulai dengan kalimat syukur, bahagia, senang, gembira, hati berbunga-bunga. Sebagaimana orang yang mengalami bahagia ketika sukses. Baik dalam karir, studi, menikahi pasangan yang diimpikan, tiba-tiba memperoleh rizki berlimpah, selamat dari mushibah yang dahsyat, dst.

    Alamat kebahagiaan itu dituturkan oleh surtat alKahf setidaknya dalam beberapa urutan. Ialah mereka yang mengingatkan orang lain untuk bertauhid, lalu menempuh jalan benar melalui amal-amal shaleh yang didasarkan iman kepada Allah, sesuai rukum iman yang enam.

    Dalam upaya optimal untuk mengajak, mengingatkan dirinya dan orang lain menuju jalan terang, jalan petunjuk, jalan cahaya itu tidak sampai menjatuhkan dirinya kepada kebinasaan. Oleh karena terlalu memaksakan diri, ketika yang diingatkan belum menerima peringatan itu. Ada contoh dalam surat ini kisah hadirnya 7 orang pemuda putra-putra penguasa di jamannya. Para mereka melarikan diri dari kedudukan, harta, kemewahan dan seluruh fasilitas kerajaan, demi mempertahankan iman, keyakinan tauhid mereka kepada Tuhan Yang Ahad.

    Selanjutnya surat ini menghadirkan contoh dua orang yang berteman, satu memiliki kekayaan yang melimpah, memiliki optimisme sangat tinggi, hanya saja kekayaan dan optimismenya itu disandarkan kepada selain Tuhan. Dia binasa. Sesuai petunjuk dalam surat ini, hendaknya siapa pun wajib me-wakilkan [tawakkal] seluruh daya upayanya termasuk seluruh kekayaan dan anak buah yang diduga mampu menolongnya, memberinya perlindungan, kesejahteraan dan sebagainya itu hanya kepada Tuhan yang Ahad. Inilah jalan nur, terang itu.

    Terhadap apa pun selain Tuhan, tidak pantas bagi siapa pun untuk bisa merasa kekal, kuat dengannya. Bahkan, di penghujung hari, yaumul akhir, semua tak mampu memberikan manfaat kecuali hanya dan hanya manfaat yang diizinkanNya itu.

    Terhadap kepemilikan ilmu, hendaknya siapa pun jangan pernah merasa paling bisa, walau dia seorang Nabi, Rasul utusan Allah. Bahkan walau pun dia memiliki kedudukan yang paling tinggi ketika itu, di antara Rasul yang ada. Karena, bukankah apa pun yang ada pada seorang hamba itu semata-mata hak mutlak Tuhannya?

    Surat ini mengisahkan bagaimana Nabi Musa as. ditegur Tuhan atas sikapnya. Sesuai kaidah umum memang tidak keliru. Namun dari sisi tauhid apalagi kedudukannya sebagai Rasul yang mulia Nabi Musa as. ditegur Tuhan. Allah swt Maha Kuasa untuk menganugerahkan ilmu kepada siapa saja sesuai kehendakNya. Dalam pada itu, surat ini juga mengindikasikan petunjuk, agar siapa pun di dalam menuntut ilmu tidak mengenal putus asa. Bersungguh-sungguh, bahkan sampai kapan pun.

    Dalam pada itu, di balik ilmu ada hikmah. Ilmu bisa dicari melalui upaya belajar yang terus menerus. Di samping pula ada ilmu yg langsung dikaruniakan Allah kepada hamba yg dikehendakiNya [Khaidir]. Ilmu fisik masa sekarang, dzahir ada pada nabi Musa as. dengan segala kejeniusannya. Ilmu yang langsung dari Allah [ladunni] sebagaimana yg dititipkan kpd Khaidir as.

    Logika fisik belum merupakan kebenaran mutlak. Logika fisik dan non fisik yg di dalam ilmu Allah itulah kebenaran hakiki.
    Musa sempat kaget mengapa Khaidir melobangi kapal yg mestinya akan mengantar para penumpangnya selamat sampai ke seberang. Akan tetapi Musa as. tidak dikaruniai ilmu masa depan, di mana di tengah laut ada perampok yg ‘pasti’ merompak kapal-kapal yang baik yg tidak bocor. Musa terheran. Khaidir membunuh anak laki di bawah umur yang pasti belum berdosa. Yang ternyata kalau tidak dibunuh akan mengajak kedua orang tuanya yang mukmin ke jurang neraka. Pasti pada awalnya Musa as. heran mengapa guru yang ditunjuk Gusti Allah untuk dia belajar kepadanya seorang yang ‘dzalim’. Tentu saja ketika Musa as. belum paham. Setelah Khaidir menjelaskan hikmah ilmu, Musa pun terpana diam. Terakhir Khaidir membangun rumah yang akan roboh padahal penduduk kampung di situ bakhilnya luar biasa.

    Di kemudian Musa as. paham bahwa rumah itu adalah rumah anak yatim keturunan ke-7 dari datuk dan ninik orang yang shaleh. Gusti Allah membangunkan kembali rumah itu melalui tangan-tangan suci Nabi dan rasulNya. Ialah Nabi Musa dan Kaidir as. Luar biasa Maha Pemurah Ar Rahman yang menghormati orang-orang yang shaleh sampai kepada keturunan yang ke-7 sekalipun. Apalagi keturunan Rasulullah yang Habib atau Sayyid, Syarifah atau Sayyidah, sangatlah wajar dihormati dan dimuliakan. Budaya sebagian suku di Indonesia juga sangat menghormati keturunan ulama. Rupanya ayat alKahf ini yang menjadi dasarnya.
    Senang bila kita bisa menjadikan diri kita mukmin beneran, shaleh beneran, sehingga keturunannya dijaga Gusti Allah swt.

    Dari sini Musa as. belajar tentang sabar, karena semuanya belum tentu selesai saat itu. Kita yang membaca kisah ini pun dibimbing untuk sabar. Sabar akan hikmah seluruh keputusanNya. Oh ternyata, perahu ‘dibocorin’ supaya selamat dari rampok. Loh ternyata putra yang masih di bawah umur di-pundut untuk diganti dengan putra-putra yang lebih baik, mengajak orang tuanya menuju kebahagiaan hakiki.

    Sedangkan yang berpotensi durhaka di-pundut Gusti Allah sebelum berdosa. Itu antara lain karena Bapak-Ibu anak tadi orang-orang Mukmin. Subhanallah, demikian karunia rahmatNya di luar kuasa nalar manusia, bahkan sekaliber Musa as. Lalu, jika mukmin dan shalihinnya sungguh-sungguh, tidak cukup keturunan pertamanya, sampai keturunan ketujuh pun, atau sampai sekarang pun kalau itu keturunan Nabiy, dijaga Gusti Allah swt.
    Mari kita lanjutkan…

    Sekarang surat menggambarkan raja yang ‘super kuasa’ tak ada tanding. Mampu menempuh lingkar bumi, menguasai bahasa lisan mau pun bahasa isyarat. Kekuatannya sangat terkenal, di balik itu adilnya sungguh mengagumkan. Hanya menghukum yang pasti bersalah. Untuk orang-orang yang benar, yang sungguh-sungguh beriman malah difasilitasi. Luar biasa. Pantang menerima upeti, tauhidnya mengalahkan tauhidnya manusia seluruh alam. Walau dia bukan Nabiy. Dialah Dzulqarnain itu.

    Akhir ayat mengingatkan siapa pun yang enggan menekuni jalan iman, mereka yang malah beragama sesuai nafsu, tidak juga menggunakan akal. Bahwa kehidupan mereka pasti sengsara. Amal-amal mereka sama sekali tidak diperhitungkan. Walau mereka dulunya mengira melalui angan-angan rekayasa logikanya, mereka paling benar.

    Surat ini ditutup dengan tuntunan singkat bagaimana orang beriman mampu berjumpa Tuhan. Ya bahkan di kehidupan dunia ini. Syaratnya sangat ringan. Kerjakan, apa pun bentuk amal-amal shalehnya. Syarat utamanya jangan pernah ditujukan untuk/demi selain Tuhan. Baik ditujukan untuk kebanggaan diri, pamer, dan segala tujuan yang bukan memenuhi bimbingan Tuhan yang Ahad.

    Terakhir, dua kalimat InsyaAllah muncul dalam surat ini. Kata ini sepertinya ringan. Bahkan sebagian Muslim menganggapnya sebagai perisai untuk menghindar diri dari berkata tidak bisa atau berhalangan hadir.

    Sengaja peringatan ini disampaikan di bagian akhir uraian sangat minim ini. Sebagiannya untuk menekankan bahwa, InsyaAllah adalah kalimat tauhid. Artinya siapa oun yang benar tauhidnya pasti tidak mungkin berkata akan melakukan sesuatu di waktu berikutnya, kecuali bilang InsyaAllah. Ini benar secara tauhid, terlebih ketika uncertainty principle yg dimunculkan tokoh Fisikawan German, Werner Heisenberg malah menguatkan makna InsyaAllah itu. Dia menggunakan mekanika kuantum untuk sampai kepada prinsip ketidakpastian itu, yg mengantarkannya meraih Nobel Fisika.

    Setiap kita pantas menerima nur itu, cahaya Jumat melalui bacaan alKahf itu. Semoga setiap kita suka!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Faqr



    Jakarta

    Mari kita simak Maulana Rumi bersyair:

    Kefakiran adalah esensi, semua yang selainnya adalah penampilan
    Kefakiran adalah obat, semua yang selainnya adalah penyakit
    Seluruh semesta adalah sia-sia dan fatamorgana penipu
    Kefakiran adalah akam rahasia dan tujuan utama

    Pada esensinya seorang manusia itu lemah, fakir dan selalu membutuhkan Allah SWT. karena setiap detik dalam nafasnya selalu ada takdir-Nya. Semua kebutuhannya tidaklah mungkin terpenuhi jika tiada pemberian-Nya. Allah SWT. berfirman dalam surah Fathir ayat 15 yang berbunyi, ” Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji. Hanya Allah Tuhan yang patut disembah.”


    Ayat di atas menunjukkan kebesaran Sang Pencipta dan rendahnya manusia yang selalu membutuhkan-Nya. Sebenarnya eksistensi manusia menjadi ” ada ” dikarenakan limpahan wujud Illahi. Oleh karena itu tiadalah pantas seseorang yang selalu menampilkan sikap sombong, merasa dirinya lebih dari yang lain sehingga memandang rendah para relasinya.

    Kata Faqr berarti melarat, tidak ada daya untuk memiliki apa yang menjadi kebutuhannya. Para sufi mengartikan faqr sebagai mengosongkan hati ( takhalli ), ini merupakan kesadaran atas kebutuhan kepada Allah SWT. semata. Oleh karena itu para sufi ( mereka ) tidak perlu menunjukkan kefakiran mereka pada manusia. Jadi faqr menurut sufi tidaklah sama dengan yang pengertian orang kebanyakan yaitu berarti ” kekurangan.” Kefakiran dan kebutuhan manusia tidaklah menjadi sebab kehinaan dirinya. Kedua hal ini justru menjadi jalannya bagi kemuliaan sesuai dengan kesadaran tentang kefakiran. Ingatlah bahwa kebutuhan dan kefakiran kepada Allah SWT. merupakan bentuk kekayaan yang mutlak dan itulah yang dinamakan kekayaan sejati. Bukan mengumpulkan sebanyak-banyaknya kekayaan harta dan dengan bangganya mengatakan itu adalah hasil upayanya. Upaya adalah sebab, namun jika Sang Kuasa tidak berkenan memberinya maka upaya itu tidak seperti yang diinginkan.

    Manusia ditinjau dari ukuran fisik dan kekuatan lahiriah, manusia adalah makhluk yang kecil dan lemah. Namun hal yang tidak bisa diingkari dari potensi internal bahwa manusia adalah makhluk pilihan. Jika kita amati tubuh manusia adalah mempunyai kelengkapan yang mumpuni, khususnya diberikan nafsu dan akal. Keunggulan manusia disampaikan oleh seorang penyair dengan bersenandung :

    ” Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kau tidak melihatnya
    Penyakitmu ada dalam dirimu, tetapi kau tidak menyadarinya
    Kau sangka dirimu materi yang mungil
    Padahal di dalam dirimu terangkum alam yang besar.”

    Gambaran ini telah menunjukkan kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya. Hasrat muncul jika dilandasi nafsu, maka ia akan bersahabat dengan pembisik diri yang disebut setan, namun jika hasrat telah melebur dari jiwa yang bersih menuju pada-Nya maka ia berada di sisi-Nya. Upaya menuju pada-Nya bukanlah hal mudah, hal ini terbukti banyaknya manusia yang berhasrat pada kedudukan dunia, kekayaan dan melampiaskan nafsu syahwatnya. Kekhawatiran selalu menjadi alasan seseorang untuk melakukan perbuatan yang dianggap ” pengaman ” karena ia sadar dan menganggap kekuasaan itu segalanya. Wahai orang yang berambisi, ingatlah bahwa kekuasaan sejati ada di tangan-Nya dan janganlah engkau berpaling, mohonlah bimbingan agar tidak sesat jalan.

    Sebaik-baik pelindung adalah Allah SWT. tidaklah pantas seseorang minta perlindungan selain-Nya. Setiap manusia dapat memuja dan memuji, berdo’a dan memohon kepada-Nya tanpa memerlukan mediator. Bukan datang pada dukun, orang pintar dan sebagainya. Ingatlah bahwa salah satu kemuliaan dan merupakan derajat yang tinggi bagi manusia disisi-Nya. Mari kita simak firman-Nya pada surah al-Baqarah ayat 186 yang berbunyi, ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka ( jawablah ), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi ( segala perintah )-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

    Kefakiran terhadap Yang Kuasa adalah jalan menuju-Nya. Memohon pada-Nya adalah perintah-Nya, karena rahmat Allah SWT. terbuka seluas-luasnya bagi manusia sehingga setiap saat dapat menerima anugerah-Nya tanpa batas. Sikap fakir telah dicontohkan para sahabat Rasulullah SAW. seperti Abdurrahman ibn Auf. Dia tidak pernah menjadi budak kekayaannya, justru hartanya digunakan untuk di jalan-Nya. Pernah saat tertentu dia membawah kafilah beriringan sejumlah 700 kendaraan dengan muatan penuh, semua itu diserahkan dan dibagikan penduduk Madinah. Saat paceklik juga Ustman ibn Affan juga melakukan hal yang sama. Mereka ini adalah orang-orang yang menjalan perintah-Nya sehingga dunia ( kekayaan ) hanya sampai di tangan tidak sampai masuk ke hati.

    Sadarlah bahwa manusia itu makhluk yang lemah, oleh sebab itu sebagai hamba-Nya hendaklah selalu memohon dan butuh pada-Nya. Segala kebutuhannya akan dicukupi sepanjang menjalankan perintah dan beriman pada-Nya. Apa pun posisi seseorang ( jabatan paling tinggi sekalipun di dunia ) tiada pantas untuk bersombong diri, karena kekuasaan yang engkau pegang itu adalah pemberian-Nya. Ingatlah bahwa kekuasaan itu bisa dicabut, dialihkan atas kehendak-Nya. Jika engkau memperoleh amanah kekuasaan, janganlah zalim namun pergunakan untuk menyebarkan manfaat bagi sesama.

    Semoga Allah SWT. memberikan petunjuk-Nya, agar kita semua menyadari sepenuhnya bahwa kita membutuhkan-Nya, bukan pada selain-Nya, Aamiin.

    Aunur Rofiq
    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Menjemput Paket Diamond Amal Shalihat



    Jakarta

    Paket diamond amal shalih

    10 hari awal Zulhijjah adalah paket diamond. Bagaimana tidak, hari-hari awal Zulhijjah ini amal-amal shalih hanya bisa dikalahkan dengan amalan seorang yang keluar dari rumahnya untuk berjihad di jalan Allah. Ia lengkap membawa fisik dan seluruh hartanya, lalu dia tidak kembali, syahid dalam jihadnya.

    Secara etimologis, kata shalih berasal dari bahasa Arab, shāliḥ (jamak shāliḥāt) yang berarti terhindar dari kerusakan atau keburukan. Amal shalih berarti amal/perbuatan yang tidak merusak. Maka orang saleh berarti orang yang terhindar dari perbuatan yang merugikan atau membahayakan.


    Pastilah yang dimaksud amal shalih adalah yang menyeluruh. Shalih di qalbu, di pikiran dan di aktifitas fisik. Sesuai dengan definisi di atas maka amal shalih itu banyak ragamnya. Mulai dari menyingkirkan duri di jalan, memindah sampah yang terlanjur ada ke tempat sampah. Termasuk memberi salam dan menyapa orang dengan senyum. Bahkan sekadar menghindar dari makanan yang bisa menghadirkan sakit, termasuk amal shalih.

    Itu beberapa contoh kecil amal-amal shalih. Yang termasuk besar adalah: shalat, puasa, zakat, haji, berbakti kepada orang tua, baca alQuran, infaq, shadaqah dll.

    Pendek kata setiap amal yang mengantar bertambahnya kebaikan, manfaat positif adalah amal-amal shalih.

    Amal halus yang merusak

    Masyhur kisah seorang alim yang yang sedang menunggu pemakaman seseorang. Di tempat yang ramai itu tampak kepadanya seorang yang membawa nampan di kepalanya, meminta-minta. Ketika itu muncul bisikan di hati orang alim itu, “Andai orang itu bekerja kan tidak perlu meminta-minta”.

    Sekembalinya dari pemakaman, tidak ada satu pun yang dirasakannya aneh. Tapi pada malam harinya, pada waktu dia secara istiqamah menunaikan ibadah malam, baru timbul masalah. Ia yang selama berpuluh tahun terbiasa mengerjakan shalat malam, tiba-tiba malam itu ada suatu yang aneh. Mata yang biasanya langsung sigap mengambil wudlu, terasa sangat berat. Tubuhnya pun tidak mudah bergeser ke tempat wudlu. Ia terpaksa kembali menidurkan badannya.

    Pada saat mulai tertidur lagi itu, dia bermimpi tentang seorang yang di-ghibahnya (dalam bisikan hatinya) tadi siang.
    Orang itu didatangkan kepadanya sedang duduk di atas nampan. Yang membawa orang tersebut lalu berujar bernada membentak, “Ini makan, kamu telah meng-ghibahnya tadi siang”!

    Sontak orang alim tersebut terbangun dari tidurnya sambil ketakutan yang luar biasa. Ketakutan kepada Tuhannya. Seketika itu dia memohon, menghiba ampunan Tuhannya.

    Keesokan harinya dia berusaha menemui orang yang telah di-ghibahnya itu. Dia berusaha mencarinya di seluruh detail kota. Dia ingin meminta maaf.

    Hari pertama belum berhasil. baru pada hari kedua dia mencari, ditemukannya orang yang dicarinya sedang mengambil daun-daun kering di tanah di sekitaran sungai. Daun-daun itu dimakannya.

    Tanpa menoleh ke arah orang alim itu, si orang tadi berujar lantang, “Apakah kamu ingin mengulang perbuatanmu (ghibah)? Sudah dimaafkan,” katanya sambil terus memunguti daun-daun kering di sekitaran sungai itu. Kisah ini disadur dari buku masyhur karya Imam Ibnu Atha’illah al Askandariy, al Hikam.

    Kisah ini pasti tidak akan ditemui dengan mudah, kecuali bagi orang yang benar-benar dijaga Allah agar terhindar dari perbuatan keliru. Walau kekeliruan yang dirasa hanya terbesit dalam hati. Dan itu pun tidak disengaja. Ini sekedar contoh amal bukan shalih yang boleh jadi dianggap remeh!

    Mari beramal shalihat

    Amal merusak yang besar-besar sudah sangat terkenal: syirik –menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh, berzina, mencuri, berkata dusta, bersaksi palsu, dan lainnya.

    Berbuat shalih di hari-hari 10 awal Zulhijjah adalah mengerjakan amal-amal yang tergolong ke dalam kelompok amal-amal shalih. Berbuat shalih juga termasuk
    menghindar dari amal yang merusak, kelompok yang kedua. Kedua kelompok amal itu, dikerjakan atau dihindarkan, harus diupayakan secara fisik, pikiran, termasuk qalbu.

    Betapa pun, mengerjakan amal-amal shalih, sederhana atau pun besar, menghindar dari yang merusak, kecil apalagi yang besar, merupakan anjuran untuk menjemput paket diamond amal shalihat di 10 hari awal Zulhijjah ini. Mari kita berpacu!

    Semoga Gusti Allah meridloi setiap kita, aamiin!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kepakaran Melesat Saat Amal Shalihat Berlipat



    Jakarta

    Produksi terhambat, pabrik ngadat. Mengapa? Karena pusat operasional kendali otomatis, komputernya harus dirawat.

    Sayangnya pakar komputer yang sangat ahli di bidangnya telah istirahat. Usianya sudah meningkat.

    Perusahaan berusaha melepas masalah dengan mendatangkan ahli komputer yang masih aktif. Satu, dua, tiga, empat bahkan sampai lima orang.
    Pabrik ngadat sampai dua pekan. Persoalan di sistem komputer belum teratasi. Maklum, ini terjadi pada masa komputer seukuran kamar tidur. Beda dengan sekarang yang sudah seukuran genggaman tangan. Kasus menimpa salah satu perusahaan di sebuah negara terkenal di Eropa sana.


    Lama tidak menghasilkan solusi, pihak perusahaan berusaha menghubungi pakar yang sudah retired. Problemnya, jika seorang sudah retired di negara tersebut, ada peraturan yang tidak membolehkannya sibuk lagi dengan pekerjaan yang harusnya sudah bisa ditangani oleh pakar pengganti. Yaitu generasi berikutnya.

    Demi keadaan yang sudah sulit diatasi, ditambah produksi macet selama itu, dua pekan. Jumlah kerugian yang tidak kecil yang harus ditanggung oleh perusahaan.

    Belum lagi para pekerja yang semestinya aktif bekerja, selama komputer pengendali ngadat, mereka menjadi terlantar. Padahal etos kerja di negara tersebut terbilang sangat tinggi.

    Sambil memohon penuh harap, menyertakan alasan yang sudah diupayakan, perusahaan mencoba menghubungi pakar itu.
    Sesampainya pakar tersebut di perusahaan, dia masuk ke ruang kendali. Setelah memperhatikan sekeliling, menganalisis secara singkat, tiba-tiba dia meminta disediakan obeng.

    Seketika obeng diberikan, dengan cekatan tangan ahlinya menancap ke salah satu onderdil yang menempel pada sirkuit komputer.

    Tampak tangannya memutar ke arah kanan, tiba-tiba saja komputer menyala dan operasional perusahaan lancar.
    Demi menyaksikan peristiwa sekejap yang segera menghapus masalah itu, lima ahli komputer yang dari tadi mengamati terbelalak hampir tak percaya, terhadap apa yang dilihatnya. Keringat menetes tampa diundang. Boleh jadi masing-masing mereka bergumam, “Kalau tahu cuma begitu, mengapa tidak kulakukan dari kemarin-kemarin?”

    Boleh jadi kisah nyata ini menjadikan jelas perbedaan antara sekedar ahli dengan pakar sesungguhnya.
    Pakar yang super bisa bekerja cepat, hemat, tangkas, jeli dan sangat cermat.
    Di dalam bahasa Al Quran, kepakaran yang super ini boleh jadi bisa mewakili konsep ulul albab ( QS al-Imran 3:190).

    Pasti terhujam di setiap benak kita bahwa tingkat kepakaran seperti ini tidak mudah digapai. Selain memerlukan tingkat kecerdasan yang memukau, masih diperlukan ketekunan yang tinggi. Selain itu, tingkat kepakaran yang super ini tentulah memerlukan ketekunan belajar, kesungguhan bekerja dalam bidangnya serta berbagai keseriusan yang lain. Perlu pengalaman panjang.

    Bisakah itu semua digapai setiap orang?
    Saya ragu menjawabnya iya?

    Namun, di sisi lain Al Quran menyematkan jalur cepat mampu menjadi pakar yang luar biasa itu.
    Petunjuk sederhana Al Quran adalah, sengajakan dirimu senantiasa dzikrullah. Ya, dalam segala keadaan. Baik saat duduk, berdiri, berbaring. Pendek kata dalam setiap keadaan. Kalau kalimat dzikir merujuk kepada riwayat mutawatir yang dikenal Muslimin hampir di seluruh dunia. Mereka antara lain adalah: subhaanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa ilaaha illaa Allah, laa hawla wa laa quwwata illaa billah.

    Cara menggapai tingkat kepakaran yang super itu, sesuai konsep Al Quran, diterangkan pada (QS al-Imran 3:190-192). “Inna fii khalqissamaawaati wal ardli wakhtilaafil layli wan nahaari la-aayaatil li-ulil albaab. Alladziina yadzkuruunallaaha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junuubikum wa yatafakkaruuna fii khalqissamaawaati wal ardl, Rabbanaa maa khalaqta hadzaa baathila, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar”.

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

    10 hari awal bulan Zulhijjah merupakan hari-hari yang sangat istimewa. Keutamaannya tak ada yang bisa melampaui. Kecuali orang yang mampu keluar berjihad di jalan Allah dengan fisiknya dan seluruh hartanya, lalu orang tersebut tidak kembali. Artinya mati syahid.

    Bisa dibayangkan jika setiap kita menguatkan hati untuk tekun berdzikir pada hari-hari awal Zulhijjah ini. Bukankah ini menjadi bagian jalan agar setiap kita mampu melesatkan tingkat kepakaran dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ialah, melakukan amal shalihat pada saat nilai amal sangat berlipat. Mari semua kita berusaha senantiasa dzikrullah sambil terus menjaga agar setiap amaliyah kita selalu shalihat!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Selalu Alhamdulillah, Bahagia Tak Pernah Resah



    Jakarta

    Tak satu pun rakaat shalat yang lepas dari wajib membaca alFatihah. Surat pembuka dalam mushaf alQuran yang terkenal dengan alhamdulillah-nya.

    Dalam sehari, minimal seorang Muslim membaca alhamdulillah 17 kali di dalam seluruh rakaat shalat. Dua shubuh, empat dluhur, empat ashar, tiga maghrib dan empat isya.

    Di pagi membuka siang, di siang tengah hari, sore menjelang malam, di permulaan malam serta menjelang larut semuanya selalu alhamdulillah. Tak ada celah waktu tanpa alhamdulillah.


    Alhamdulillah adalah kalimat puja dan puji hanya kepada Allah saja. Kata-kata adalah doa. Doa alhamdulillah adalah doa agar si pendoa selalu memuji, tidak pernah mencela, tidak pernah memaki.

    Memuji berarti mengagumi. Kagum dalam kalimat alhamdulillah adalah kagum yang tanpa batas. Kekaguman yang tidak mampu dilogika. Kekaguman atas Dzat yang Maha terpuji. Sampai-sampai pujian itu dikembalikan kepada Allah atas puji yang pantas bagiNya. “Rabbanaa Lakal hamdu kamaa yambaghii li jalaali wajhikal kariim wa ‘adziimi shulthaanik.”

    Rabb kami, bagiMu segala puji sebagaimana selayaknya, bagi kemuliaan wajahMu dan keagungan kekuasaanMu.

    Kekaguman yang dahsyat sehingga membuat seorang yang mengagumi tidak sempat lagi terbesit padanya cela. Orang yang selalu mengucap alhamdulillah, sulit baginya mencela, sulit baginya kecewa, keluh kesah dan segala apa pun yang membuat hati kurang berkenan.

    Alhamdulillah ‘alaa kulli haal, Maha terpuji Allah atas hal apa saja, tak ada kecuali.

    Pantas diduga orang yang selalu berucap alhamdulillah dirinya selalu merasa senang.

    Memang, sebagian makna alhamdulillah adalah senang. Dia bermakna bahagia, syukur dan terimakasih. Di mana saja orang yang penuh terimakasih, selalu happy.

    Rasa terimakasih kepada Allah biasanya diungkap dalam bentuk syukuran. Bisa syukuran pernikahan, syukuran kenaikan jabatan, syukuran kelahiran, syukuran kesuksesan dalam hal apa saja, isinya pastilah ucapan terimakasih.

    Setelah itu ungkapan syukur diteruskan dengan ucapan permohonan maaf karena yang disyukuri belum setimbang dengan nikmat yang diterima. Babak selanjutnya pada acara syukuran adalah pemberian bingkisan, makanan, minuman dan tanda syukur yang antara lain bisa berupa hadiah atau cendera mata.

    Intinya orang yang dalam keadaan bersyukur identik dengan kewajaran dalam memberi.
    Kalau begitu orang yang senantiasa mengucap alhamdulillah, dialah yang senantiasa memuji, tak pernah mencela, selalu
    bersyukur tak pernah kecewa, senantiasa bahagia, selalu senang, senyum, selalu berterimakasih, dan selalu memberi.

    Dalam makna ini kewajiban membaca alhamdulillah seolah mewajibkan setiap pembacanya untuk selalu berperilaku demikian.

    Siapa pun yang memuji dengan tulus berarti dia menyukai yang dipuji, membanggakannya, mengagumimnya. Siapa pun yang membaca alhamdulillah seharusnya sadar bahwa dirinya memuji Dzat yang dikaguminya tanpa batas. Dia seolah sedang dimabuk cinta. Orang yang sedang mabuk cinta yang keluar dari lisannya selalu pujian sebagai manifestasi kekaguman bukan?

    Dari makna ini membaca alhamdulillah bisa dimaksudkan sebagai pernyataan aku jatuh cinta! Kepada siapa? Kepada Allah!

    Bagaimana caranya? Dengan mencintai hamba-hambaNya. Ialah memuji mereka, berterimakasih kepada mereka, memaafkan mereka, dermawan kepada mereka, menyenagi mereka dan pastinya tidak pernah ada rasa ingin menyakiti mereka.

    Bila ini yang terjadi barulah bisa diyakini bahwa kalimat alhamdulillah yang terucap dari lisan, sesuai dengan maksud diwajibkannya kalimat itu. Kita diwajibkan selalu bahagia.

    Beralih kepada publikasi ilmiah. Tak ditemukan satu pun riset yang membantah bahwa sikap syukur pasti membawa bahagia. Orang yang selalu bersyukur, selalu senang, hampa dari stres. Hampir bersih dari radikal bebas. Dia memiliki status pertahanan tubuh, status imun yang tinggi. Jika sedang sehat dia sulit sakit. Jika pun dia sakit maka mudah baginya sembuh.

    Sel-selnya awet, sendinya tak mudah nyeri, tulang-tulangnya tak mudah patah, rambut bertahan bagus tidak mudah rontok. Bahkan pada orang yang selalu bersyukur tak ditemukan aroma tak sedap di tubuhnya.

    Orang yang selalu memberi sebagai bawaan dari sikap selalu syukur, selalu memperoleh kemudahan dalam setiap persoalan. Mudah melakukan solusi dari problem yang dihadapi. Serta selalu tersedia baginya sarana dan prasarana dalam menjalani hidup.

    Mereka yang selalu syukur, selalu terimakasih, selalu memberi, senantiasa memuji, selalu senang. Tak ditemuinya jalan yang sulit. Yang didapatnya selalu mudah, lancar dan memuaskan hati. Dia selalu dalam keadaan ridlo.

    Semoga kita senantiasa berucap alhamdulillah di lisan, terlebih di qalbu, agar kita selalu bahagia, tak pernah resah!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Karakter sel Ca Karakter Siapa, Sembuhkanlah Rabb!



    Jakarta

    Karakter Altruist

    Temmu, nama panggilan akrab seorang perempuan yang berprofesi sebagai tukang cuci pakaian. Ia mencucikan baju keluarga-keluarga yang mengenalnya. Di sekitaran dia bertinggal. Orangnya terbuka. Tidak mudah tersinggung. Bicaranya lantang apa adanya. Siapa pun yang menyapanya dibalasnya sambil tertawa. Pendidikannya pun apa adanya. Sebagaimana penghasilannya sesuai dengan kondisinya. Ia bukan orang berada.

    Ketika bulan puasa menjelang akhir, dia bersama para tetangga menuju lokasi Sunan Ampel Surabaya. Dipilihnya kendaraan bemo untuk itu. Bemo membawa mereka dari Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.


    Sayang, sampai di daerah perak Timur, ketika bemo yang mereka tumpangi membelok, tiba-tiba mereka tertabrak truk. Innaa lillaahi. Salah satu dari mereka yang meninggal adalah Temmu.

    Enam tahun setelah Temmu dikuburkan, Ponaannya juga meninggal. Demi lokasi kuburan yang hampir penuh, ia harus dikubur di dekat Temmu. Tak sengaja para penggali kubur menggali dinding kuburan Temmu. Slash, slash, slash, bunyi cangkul mengoyak tanah dinding kuburan Temmu. Tiba-tiba saja mereka terhenyak kaget, demi menyibak dinding kuburan yang menyembulkan kafan putih bersih. Kafan Temmu yang masih utuh.

    Serentak mereka sekejap lupa pada ponaan Temmu. Ramai mereka membincangkan siapa Temmu sesungguhnya.
    Mereka bertanya-tanya heran. Temmu bukan ibu Nyai, bukan ningrat, apalagi golongan pejabat. Pendidikannya, ‘derajatnya’, ekonominya, lingkungannya, para kenalannya tak ada yang memungkinkannya diberi sebutan terhormat.

    Setelah bertanya ke sana-sini demi informasi akurat tentang Temmu, sepakat para tetangga menyebut satu keahlian unik Temmu. Ialah, setiap dibagikan kepadanya baju bekas dari ibu-ibu yang dibantunya mencuci baju, ia sisihkan yang masih bagus-bagus. Baju-baju yang masih bagus itu ia bagikan kepada teman-temannya. Sisa yang paling lusuh, baru untuk dirinya.

    Ternyata Temmu bukanlah orang yang egois, tapi sangat altruist, menyayangi orang lain melebihi dirinya.

    Karakter Egois

    Berbeda dengan Temmu berbeda pula dengan karakter sel-sel Ca atau sel-sel kanker. Sel-sel itu bersifat maunya sendiri. Tak peduli yang lain. Dia semau-maunya berkembang, berproliferasi, beranak, bercucu dan berbuyut. Kecepatannya luar biasa.

    Dia tidak mematuhi aturan sel secara umum. Peraturan untuk membatasi perkembangannya ketika sudah mencapai populasi seimbang tak dihiraukannya.
    Bentuknya membesar, melebihi ukuran sesama sel di lingkungannya. Seluruh suplai nutrisi sebisa mungkin dia kuasai. Menjadikan saluran nutrisi yang berupa pembuluh darah melimpah menuju lokasinya.

    Batas pagar (membran, kapsul) tak menjadikannya merasa nyaman. Aturan batas ia lampaui. Bahkan sel-sel itu bisa melewati batas ‘dalam’ negeri. Bermigrasi jauh ke negara tetangga, ekspansi. Para ahli medis menyebutnya Metastasis.

    Lama para ahli medis berjuang melihatnya dari berbagai sisi. Belum satu pun jawabnya bisa diterima dunia.
    Namun jika para awam melihatnya dari sisi pandang mereka. Boleh jadi mereka bertanya? Apa hubungan sifat sel-sel kanker dengan sifat individunya? Sebenarnya, sifat sel-sel kanker itu membawa sifat siapa?

    Mungkin, karena para awam sekarang sudah lihai memantik informasi dari gadget. Boleh jadi mereka pun mengerti tentang kloning dan sedikit lika-likunya.
    Bukankah sel apa pun dan di bagian mana pun yang dijadikan materi kloning akan menghasilkan individu yang tepat sama dengan individu aslinya. Tepat sama, bukan fotocopy.

    Jangan-jangan sel-sel kanker itu mewakili sekian sisi dari sifat individunya?

    Sulit membenarkan pandangan para awam ini jika belum berbukti ilmiah. Namun, jika melihat rumus Einstein, E = m. C2, E ekivalen m. Bahwa karakter (sifat-sifat dasar) individu ekivalen dengan karakter fisiknya. Maka pendapat awam itu sulit ditolak.

    Apalagi, melihat begitu populernya sebuah buku yang mengungkap bukti tentang itu. Buku itu berjudul, “Love, Miracle, and Medicine”. Sebuah buku best seller internasional. Karya Bernie Siegel, ahli bedah asli Amerika ini dicetak berulang setelah pertama terbit di tahun 1986. Buku ini mengungkap bukti adanya 57 kasus kanker ganas payudara di Amerika Serikat sana, sembuh total melalui jalan mengganti karakter egois dengan altruist. Para penderita itu mampu menghapus total jejak sel-sel kankernya setelah mereka merubah total karakter egoisnya.

    Jika begitu, kisah nyata seorang Temmu di atas boleh jadi sangat menginspirasi.

    Allahumma jadikan setiap kami berkarakter rahmatan lil ‘aalamiin. Mampu menundukkan egois menuju altruist. Mohon ganti karakter setiap kami dengan karakter yang paling sesuai dengan karakter yang Engkau ridloi.

    Sembuhkanlah Rabb, aamiin!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Indah Berhias Cinta



    Jakarta

    Seorang pria paruh baya yang populer dipanggil Togog. Padahal nama aslinya sangat mulia, Slamet. Nama jawa yang diplesetkan dari bahasa Arab yang makna asalnya adalah selamat. Karena nama adalah doa, maka pemilik nama itu semestinya selalu didoakan agar selamat selamanya, dunia-akhirat.

    Sayangnya Togog orangnya tidak mau shalat. Walau pun rumahnya bersebelahan dengan masjid. Jangankan shalat fardlu, shalat Jumat saja Togog tidak mau.

    Karena di sebelah masjid, pasti adzan sulit dihindarkan mengalun agung di telinganya. Namun, walau istri Togog berulangkali mengingatkannya, minimal shalat Jumat, ia masih terus enggan. Bukan hanya tidak shalat, Togog juga hobi main, minum dan pekerjaan lain di sekitar itu.


    Suatu hari di genap 50 tahun usianya, Togog menderita sakit cukup berat. Sakit yang membuatnya hampir satu tahun belum bisa beraktifitas sebagaimana biasanya. Di perjalanan sakitnya, entah karena rumah dekat masjid, atau kesadaran datang akan kemungkinan segera datangnya ajal, Togog mulai rajin pegang tasbih sambil berdzikir.

    Setelah sekian lama Togog sakit, akhirnya ia sembuh. Satu keajaiban menarik yang kali ini dilakukan Togog. Ia mulai shalat berjemaah di masjid. Mungkin karena sungkan atau perasaan kurang pantas, Togog memilih tempat di pojok belakang area jemaah shalat.

    Semakin hari Togog terlihat semakin istiqamah. Sehingga ketika hampir satu tahun terbiasa shalat berjemaah di masjid, lokasi shalat Togog sudah berselisih satu shaf dari posisi imam.

    Tepat di Kamis malam Jumat. Di tengah-tengah shalat berjemaah maghrib, sampai rakaat kedua, Togog dipanggil Tuhan untuk menghadap. Innaa lillaah.

    Gempar seluruh jemaah tempat Togog tinggal. Mereka saling penasaran. Bahkan ada yang berujar, “kok enak jadi Togog. Perilaku becik (baiknya) sangat minim dibandingkan kelirunya. Tapi, enaknya dia bisa meninggal sewaktu shalat berjemaah, di dalam masjid, bahkan pada malam Jumat”.

    Banyak komentar serupa itu pun seolah mengambarkan rasa ‘iri’ pada nasib seorang Togog.
    Demi penasaran yang tinggi, rasa kepo yang tak terbendung, para tetangga Togog mencari musabab ia bisa husnul khaatimah.

    Sampai juga mereka pada kesepakatan bukti, bahwa selama ini, walaupun Togog belum rajin shalat ditambah mengerjakan yang belum sesuai ia sangat senang dan ringan tangan membantu para saudaranya. Membantu para tetangga atau kawan yang membutuhkan pertolongannya. Tanpa kecuali, tanpa syarat, tanpa banyak pertanyaan, bahkan disertai suasana senang dan riang gembira dalam membantu itu.

    Seluruh kawan dan para tetangga sepakat, bahwa itulah satu-satunya kelebihan Togog. Slamet yang populer dengan panggilan Togog ini beralamat di Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.

    Di lain sisi, pernah seorang ‘aabid, ahli shalat malam yang sangat ingin menjadi wali, pernah protes kepada malaikat dalam mimpinya. Mengapa namanya belum tercantum di daftar nama para wali, padahal dirinya berupaya keras menjaga diri, bahkan shalat malam tidak pernah absen.

    Malaikat yang ditanya malah santai menjawab,”Itu shalat kan untuk dirimu. Sedangkan tetanggamu yang suatu ketika membutuhkan pertolonganmu malah kamu abaikan. Di mana letak manfaat shalatmu itu secara sosial?”

    Mungkin banyak di antara kita merasa agung kalau sudah melakukan ibadah maghdah dengan baik. Boleh jadi lupa bahwa hakikat ibadah harus berdampak rahmat. Ialah rahmat bagi semesta. Rahmat itu antara lain berupa keceriaan hati dalam membantu orang lain,menundukkan egoisme.

    Mungkin banyak orang yang shalatnya sulit dihitung jumlahnya, tetapi jika shalat itu tak menimbulkan dampak pertolongan, tak mampu menindih egoisme nya, selamat tinggal agama. Ia distempel sebagai pendusta agama (al Ma’uun 107:7).

    Mengapa demikian?

    Bukankah sangat tidak rasional. Jelas di dalam surat alFatihah yang menjadi satu bacaan wajib dalam shalat, dirinya berujar, “Hanya kepada Engkau kami menghamba (mengabdi) dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan” (alFatihah 1:5).

    Sedangkan Nabi bersabda, “wa Allahu fii ‘aunil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fii ‘auni akhihi”, dan Allah akan menolong hambaNya sebagaimana hamba itu menolong saudaranya.

    Dari dua rangkai informasi agama ini, rupanya kita diminta sadar untuk segera gemar menolong orang lain tanpa pamrih. Maksud tampa pamrih adalah hanya mengharap ridloNya. Ridlo Allah antara lain berwujud pertolongan dariNya.

    Jadi agak sulit dipahami jika doa (dalam alFatihah ayat 5) ini hanya bersifat pasif, sedangkan syarat dikabulkannya doa atau permohonan pertolonganNya adalah melalui menolong saudara kita.

    Di susunan ayat 5 surat alFatihah itu, awal kalimat berbunyi “hanya kepada Engkau kami menghamba”.
    Salah satu makna hamba adalah cinta. Jadi kalimat itu bisa dipahami dengan makna, hanya kepada Engkau kami mencinta.
    Bagaimana kita bisa mencintaiNya sedangkan Dia tidak membutuhkan kita. Cintailah hambaNya, itulah wujud cinta kepadaNya.

    Sebagai penutup. Rupanya ayat 5 surat alFatihah itu bisa genap menyimpulkan arti utuh jika menggabung dua rangkai isyarat makna. Bahwa di dalam melakukan pertolongan, kita pun berjanji kepadaNya untuk melakukannya itu dengan senang, dengan rasa suka, rasa cinta.

    Itulah rupanya yang dilakukan Slamet, sehingga ia mampu tampil bahagia insyaAllah di surgaNya, setelah pernah tampak keliru di mata para tetangga.

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Walau Nakalnya Sungguhan, Hajinya Mabrur Betulan



    Jakarta

    Nakal yang Tergantikan

    Pemuda tampan berbadan tinggi itu memiliki kulit halus putih bersih. Sayang beberapa waktu yang lalu ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung.
    Ayahnya termasuk orang berpengaruh di kota itu. Usahanya cukup banyak, setidaknya untuk ukuran kabupaten yg produktif. Pendapatan daerah kabupaten (PAD)nya cukup tinggi. Jarang ada orang yang memiripinya.

    Dia punya usaha; toko emas, minimarket, bengkel mobil, rumah makan, pompa bensin, dan toko pakaian. Dari sisi ekonomi sangat lumayan.
    Pemuda tampan tadi, beberapa hari sebelum ayahnya meninggal, pamit ke Bali. Membawa mobil sedan, serta truk yang berisi penuh muatan bahan dagangan. Pamit berdagang.


    Sesampainya di tujuan, ternyata ia balapan. Berpacu mobil dengan kawan sepantaran. Truk yg penuh berisi barang dagangan. Barang dagangannya habis sempurna berikut truknya. Sedannya pun habis dilelang.

    Bukan sekali ini saja dia berpetualang melakukan kegiatan keremajaan. Namun sayang, sekali ini ayahnya tak tahan lagi dengan kenakalannya. Sakit jantungnya mendadak kambuh. Nyawanya tak bisa dipertahankan. Dia meninggal.

    Bagai halilintar menyambar. Segera saja dia terbang pulang. Seolah kesadarannya sontak terbangunkan. Dia menangis, meratap. Sampai tak mudah dibayangkan. Penyesalan akibat perbuatan buruknya, dirasakannya sangatlah sulit bisa dimaafkan.

    Dalam kesadaran yang mengagumkan setiap orang. Setelah itu tak ada lagi bayang kenakalan remaja yg dulu pernah ia sandang. Pandangannya sering tertunduk. Pertanda penyesalannya begitu mendalam. Hari-harinya diisi dengan melanjutkan usaha dagang ayahnya.

    Beberapa waktu berselang, ia mengikuti haji reguler pemerintah. Pada waktu itu pergi berhaji tidak perlu antri sesuai urut kacang. Langsung diberangkatkan.

    Sesampainya di Makkah, perilakunya sangat menakjubkan. Ia menjadi pemuda tampan. Berjalan selalu tudukkan pandangan. Tak lupa menjadi penggendong para jemaah yang memerlukan pertolongan. Karena sakit untuk diperiksakan. Dia dikenal dengan sebutan haji tampan pembawa jemaah sakit di gendongan.

    Haji Mabrur yang Kenyataan

    Berhaji mabrur boleh jadi menjadi impian para jemaah calon haji. Baik bagi yg baru pertamakali berhaji. Atau yang telah berulang-ulang.

    Boleh jadi setiap orang merasa paling berpeluang. Atau banyak juga yang merasa amalnya masih jauh dari ukuran wajar. Jika saja pemuda tampan itu menjadi acuan. Betapa bisa setiap orang menjadi haji mabrur sesuai impian.

    Jejak nakal bisa diganti. Rekam buruk kegiatan di masa lalu InsyaAllah pasti selalu bisa diobati. Boleh jadi syaratnya gampang. Ganti total seluruh pekerti terlarang. Diganti dengan perbuatan indah yang boleh jadi belum mudah dilakukan orang. Pastikan ikhlash karena Allah. Bukan mengharap pujian.

    Petunjuk perilaku pemuda tampan itu. Berjalan menunduk tanda penyesalan mendalam. Upaya nyata berbelok dari balapan kepada usaha sungguhan. Berdagang melanjutkan peluang sukses betulan. Merombak total perilaku nakal melalui berhaji sambil total menolong orang.

    Membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Tampa melihat status sosial apalagi hubungan kekerabatan.
    Mendahulukan kepentingan orang lain, padahal dirinya pemuda tampan yang berkelimpahan fasilitas keuangan. Contoh perilaku mulia yang bisa ditauladankan.

    Walau dulunya bekas nakal yang sulit dibandingkan.
    Tapi sekarang bisa dibilang mabrur tak terkalahkan.

    Boleh jadi perilaku menuju mabrur bisa beragam. Tidak harus setiap orang memanggul jemaah yang sakit ke perubatan.
    Perilaku mengantri makan, mendahulukan orang lain yang lebih butuh untuk ke lift, dan ke sekian peruntukan yang memerlukan ke-akuan diminimalkan.
    Lalu, menjaga pandangan adalah petunjuk utama perubahan.

    Menjaga lisan merupakan indikator jalan terang menuju mabrur betulan. Berusaha selalu dzikrullah dan berucap sopan merupakan keutamaan yang tak bisa dibilang gampang.

    Sikap dermawan bukan hal yang mudah dilakukan. Tapi setidaknya bisa dijadikan petanda bahwa ibadah yang dilakukan berbuah manfaat sosial.
    Menghindar dari perdebatan merupakan peluang dikabulkannya pahala haji. Mengganti kata-kata jorok dengan kalimat pujian yang disunnahkan, adalah suatu kemuliaan yang dituntunkan.

    Rasa angkuh yang tertundukkan, merupakan prestasi yang meminta ulungnya sikap penghambaan. Pemuda tampan yang dulunya nakal. Sanggup mengikis bersih keangkuhan dan kesombongan. Walau dirinya berfisik gagah, tampan, berlimpah keuangan.

    Aduh.., andai saja setiap jemaah calon haji berikhtiar melakukan setiap kebaikan itu secara total. Boleh diyakinkan hajinya mabrur betulan.

    Perilaku pemuda tampan, berpredikat insyaAllah haji mabrur betulan. Boleh jadi sebagai tanda diterimanya amal-amal shaleh ayah dan bundanya. Ayahnya telah berusaha mendidiknya dengan baik, walau berakhir dengan nyawa sebagai taruhan.
    InsyaAllah ayahnya diampunkan. Antara lain karena putranya berhasil menjadi haji mabrur betulan.

    Allaahumma ij’alnaa hajjan mabruura wa sya’yan masykuura wa dzanban maghfuuraa wa tijaaratan lan tabuuraa wa amalan shaalihan maqbuulaa aamiin.

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Fatwa MUI Tentang Salam Lintas Agama, Sudah Tepatkah?



    Jakarta

    Pada 28-31 Mei 2024 yang lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan Kegiatan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, dengan mengangkat tema “Fatwa: Panduan Keagamaan untuk Kemaslahatan Umat”. Kegiatan tersebut diikuti oleh 654 peserta dari berbagai unsur dalam MUI, ormas-ormas Islam, para peneliti dari berbagai universitas, dan lain sebagainya.

    Di antara hal yang diputuskan dalam pertemuan tersebut adalah larangan penggabungan ajaran berbagai agama, termasuk pengucapan salam dengan menyertakan salam berbagai agama. Hal demikian karena mengucapkan salam merupakan doa yang bersifat ibadah. Penggabungan salam lintas agama yang dilakukan sementara ini bukan merupakan toleransi yang dibenarkan. (MUI.OR.ID, 04/06/2024).

    Setelah rumusan dari hasil pertemuan itu di-share ke publik, MUI segera mendapatkan reaksi dari mereka dan menuding fatwa itu sebagai fatwa kontroversial. Laman kemenag.go.id menurunkan opini bertajuk “Menimbang Fatwa Larangan Salam Lintas Agama: antara Agama dan Harmoni” karya Zaenal Mustakim, Rektor UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, (Senin, 3 Juni 2024). Sebagian Ketua PBNU dan Komisi VIII DPR juga memberikan tanggapan yang kurang lebih sama.


    Sebenarnya, apa yang diputuskan oleh MUI pada pertemuan tersebut bukan hal yang baru sama sekali. Sebab pada tahun 2019 yang silam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur telah mengeluarkan tausiyah atau himbauan dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019, agar tidak melakukan salam lintas agama, karena dinilai syubhat yang dapat merusak kemurnian dari akidah umat Islam. Bahkan, persoalan ini adalah hal klise yang terjadi setiap saat, terutama pada momen-momen perayaan agama di luar Islam, seperti Natal dan semacamnya.

    Sebetulnya, para ulama melarang umat Islam mengucapkan salam keagamaan secara campur aduk itu dalam rangka menjaga kemurnian akidah umat Islam sendiri. Jadi di sini tak ada kaitannya dengan keharusan kita bertoleransi dan berbuat baik kepada siapa saja, termasuk mereka yang berbeda agama. Lalu kenapa ulama melarang menyampaikan salam lintas agama? Setidaknya hal ini karena dua faktor berikut:

    Pertama, karena isi dari salam versi Islam itu adalah doa, sedangkan doa bagian dari ibadah, bahkan dalam sebuah hadis ditegaskan doa adalah inti dari ibadah itu sendiri. Jadi tentu sangat maklum jika kita sebagai umat Islam memiliki ibadah-ibadah khas dengan tata cara yang khas pula, sehingga tidak boleh dicampur adukkan dengan unsur-unsur ibadah atau tradisi dari agama lain. Sebagai gantinya, dalam sebuah forum yang plural, kita bisa menyapa hadirin dengan salam yang netral, seperti “salam sejahtera untuk kita semua”, dan sebagainya.

    Kedua, sebagai umat Islam kita juga tidak diperkenankan menyampaikan salam versi agama lain kepada pemeluk agama itu, karena jelas akan terjadi berserupa (tasyabbuh) yang dilarang dalam syariat Islam. Tentu sudah maklum salam suatu agama merupakan ciri khas dari agama itu, dan umat Islam dilarang berserupa dengan melakukan berbagai hal yang menjadi ciri khas suatu agama, baik berupa perkataan, perbuatan, aksesoris, tradisi, dan sebagainya.

    Itulah sebabnya dalam masalah salam, Bagian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan agar kita menyampaikan salam kepada non-Muslim dengan salam versi Islam ataupun versi agama mereka. Karena menyampaikan salam versi Islam berarti mendoakan mereka dengan doa yang khusus umat Islam, dan ini tidak diperkenankan. Sementara menyampaikan salam dengan versi non-Muslim berarti berserupa dengan non-Muslim, dan ini juga tidak diperkenankan dalam agama.

    Ketika membahas tentang hadis-hadis yang berkenaan dengan salam antara Muslim dan non-Muslim, al-Imam al-Mawardi dalam al-Hawi al-Kabir (XIV/319) memberikan rincian sebagai berikut: Pertama, jika non-Muslim mendahului menyampaikan salam kepada kita, maka kita harus menjawabnya dengan “wa alaikas-salam” tanpa tambahan “warahmatullahi wabarakatuh” karena itu adalah doa khusus umat Islam, atau dijawab dengan “wa alaika” saja.

    Kedua, jika umat Islam yang memulai mengucapkan salam terlebih dahulu, maka boleh dengan ungkapan “Assalamualaika”, bukan dengan “Assalamu’alaikum” yang memang khas untuk umat Islam. Bahkan dalam sebuah hadis, kita dilarang memulai menyampaikan salam kepada non-Muslim, dan jika mereka yang memulai terlebih dahulu, maka kita dianjurkan menjawab “Wa alaikum” saja.

    Jadi sederhananya larangan-larangan atau aturan-aturan ini ditetapkan karena terkait dengan adanya unsur ibadah, doa, dan aspek-aspek keagamaan yang khas dalam Islam. Adapun jika sapaan kita tidak ada kaitannya dengan ciri khas keagamaan, maka tentu kita bebas-bebas saja menggunakannya, baik untuk memulai menyapa maupun dalam menjawabnya, apakah itu dengan sapaan “Hey”, “Halo”, “Apa kabar?”, dan sebagainya.

    Sementara untuk urusan bertoleransi dengan non-Muslim, maka umat Islam tidak perlu diajari soal itu semua, dan harmoni umat Islam bersama non-Muslim di Indonesia selama ratusan tahun adalah fakta yang tak terbantahkan untuk itu. Di dalam ajaran Islam, dalil-dalil toleransi tidak terhitung jumlahnya. Bahkan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sirah hidup beliau penuh dengan toleransi kepada non-Muslim, yang berarti umat Islam sepanjang masa harus senantiasa meneladani beliau.

    Moh. Achyat Ahmad

    Penulis adalah Direktur Annajah Center Sidogiri

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kusembah Engkau Karena Kucinta



    Jakarta

    Cerita cinta. Cerita yang tak pernah ditutup bukunya. Ia dinovelkan, ia dilagukan, ia disyairkan.

    Tak terhitung jumlah judul lagu yang selalu hits, jika bertemakan cinta. Begitu juga judul film, judul novel, termasuk judul-judul puisi. Bahkan, berbagai perusahaan jasa, termasuk layanan perbankan dan perhotelan. Meninggikan kalimat cinta. Kalimat umum sebagai isyarat pelayanan unggulan. Kalimat itu bisa berujar, “Kami melayani dengan cinta”.

    Cinta, menguatkan siapa saja. Kekuatan yang bahkan di luar logika. Cinta, sulit dinarasikan dengan kata-kata!


    Orang yang sedang dimabuk cinta, tampak baginya keindahan dalam segala. Jika yang dicinta seorang wanita atau pria, maka dari seluruh detailnya, semuanya tampak memesona. Dari rasa cinta, muncul ungkapan kekaguman, pujian, ingatan tak berkesudahan, kerinduan, dan perasaan berbunga-bunga ketika berjumpa.
    Bukankah setiap kita pernah merasakannya?

    Rabi’ah al-Adawiyah. Siang itu Rabi’ah al-Adawiyah berlari-lari di Kota Baghdad. Di tangan kanannya ada setimba air. Tangan kirinya memegang obor api. Melihat yang tak biasa masyarakat betanya-tanya, ada apa?

    Tak mereka duga, Rabi’ah menjawab ‘sekenanya’, “mau membakar surga dan menyiram neraka”.
    Andai saja kita di sana, boleh jadi kita menduga Rabi’ah berbicara tanpa logika?

    Rupanya Rabi’ah mengikuti kata hatinya. Agar siapa pun yang menyembahNya bukan mengharap surga, atau sekedar takut dari siksa neraka. Menurutnya, karena itu membuat umat Islam menyembahNya tanpa dasar cinta.

    Menyembah demi cinta, pasti tak kan pernah dibutakan atas keinginan surga, atau ketakutan akan neraka.

    Sangat mungkin suasana hati Rabi’ah sesuai dengan informasi dalam Zabur, kitab yang diwahyukan Allah swt. kepada Nabi Daud as. “Siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka. Apakah jika Aku tidak membuat surga dan neraka, maka Aku tidak berhak untuk disembah.”

    Cinta hamba, dalam lirik lagu. “Jika surga dan neraka tak pernah ada”.
    Lebih sepuluh tahun lalu. Lagu tentang cinta tulus hamba kepada Tuhannya menempati papan atas tangga lagu hits di Indonesia. Perhatikanlah sebagian liriknya:

    “Apakah kita semua
    Benar-benar tulus
    Menyembah padaNya
    Atau mungkin kita hanya
    Takut pada neraka
    Dan inginkan surga

    Jika surga dan neraka tak pernah ada

    Masihkan kau bersujud kepadaNya
    Jika surga dan neraka tak pernah ada
    Masihkah kau menyebut namaNya”.

    Di hati seorang hamba. “Sungguh tak peduli aku. Ke manakah yang Engkau rela. Yang kuberatkan jika aku masuk neraka, karena aku durhaka. Betapa nestapanya?

    Bukankah perintahMu adalah nikmat. Bukankah melanggarmu adalah kerugian yang fakta. Bagaimana bisa memilih celaka daripada bahagia, jika aku memiliki logika.

    Betapa maksiyat kepadaMu adalah pengkhianatan kasat mata. Atas sejati cintaMu kepadaku. Tidak tahu malu, jauh dari kata setia. Tak pantas menjadi manusia!

    Andai memilih taat daripada durhaka tak pernah ada pahalanya. Logika sehatku pasti memaksa untuk memilih taat kepadaMu. Betapa tidak, karena taat itu keuntungan yang sangatlah berbukti fakta.

    Maha Suci Engkau dari memerintahkan untuk celaka. Pastilah perintahMu untuk selamat dan bahagia. Maha Suci Engkau dari melarang untuk bahagia. Pastilah laranganMu untuk menghindar dari bahaya nyata. Celaka tak ada duanya.

    Lalu apa kepentinganku terhadap pahala. Kecuali itu hanya karena anugerah rahmatMu saja kepada siapa pun hambaMu. Duh, hanyalah Dia yang benar-benar haq untuk dicinta, dengan segala puja.

    Kalimat Maha Puja Menandai Puncaknya Cinta. Kalimat puja

    dan puji untuk hamba-hambaNya. Diuntai berjalin dalam kekaguman tak berhingga. Inikah dia?

    1. Bismillaahirrahmaanirraahiim
    Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
    2. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin
    Segala puji hanya bagi Engkau Tuhan seru sekalian alam
    3. Ar-Rahmaanirraahiim
    Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
    4. Maaliki yaumiddiin
    Maha Raja di hari pembalasan

    Nabi Daud as. menerima wahyu dalam Zabur, “Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasihi adalah orang yang beribadah bukan karena imbalan. Tapi semata, karena Aku berhak untuk disembah.”

    Duhai Allah. Hamba berdoa dan berdoa. Agar setiap masa yang sedang dan akan tiba. Tak ada secelah pun padanya. Kecuali hamba menyembahMu sedang hati selalu dimabuk cinta. Cinta hanya kepadaMu saja.
    Kabulkanlah Rabb!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com