Tag: hikmah

  • AlQuran Adalah Cermin, alFurqan dan Shafa’ah



    Jakarta

    Cermin, ‘pasti’ selalu bersama para kaum hawa. Sulit para mereka hidup tanpa cermin. Di kamar mandi, kamar rias, kamar tidur, dalam mobil, kaca spion. Bahkan kaca spion mobil orang yang belum tentu ia kenal, entah mobil siapa. Satu fungsi utamanya agar bisa tampil prima.

    Dalam bahasa Inggris cermin adalah mirror. Bahasa Arab cermin adalah mir-ah. Dan bahasa Arab nya kaum hawa adalah mar-ah. Dalam bahasa Arab, cermin dan wanita memiliki kesamaan huruf penyusunnya, mim, ra, alif, ta’.

    Cermin membuat seseorang bisa mengevaluasi dirinya secara mandiri. Tidak harus di depan umum. Bahkan cermin lebih baik dilihat di kala sendiri. Tampil menawan adalah harapan setiap insan. Lega rasanya bisa tampil percaya diri di mana pun.


    Jika raga kita butuh cermin untuk evaluasi. Maka jiwa pun butuh. Bahkan jiwa ini lebih butuh dievaluasi untuk bisa tampil menawan. Iya, karena jiwa yang menawan melahirkan raga yang menarik.

    Bertebaran informasi di media sosial yang menghubungkan kekuatan hafalan alQuran para penghafal dengan perilakunya. Perilaku taat mengokohkan hafalan, perilaku keliru memudarkannya. Jangankan keliru besar seperti ghibah dengan mulut. Bahkan baru terlintas ghibah (menduga orang lain buruk) dalam hati saja sudah bisa membuat penghafal alQuran luntur hafalannya, sedikit atau banyak.

    Jika dikaitkan dengan cermin, maka alQuran berfungsi mirip dengan cermin, yang segera akan memberitahu para penghafalnya jika wajah batinnya keliru. Ialah berbuat dosa.

    Tidak hanya bagi penghafal alQuran, bagi Muslim yang biasa membaca alQuran, kekeliruan atau dosa akan segera membuatnya merasa malas membacanya.

    Ibnu Abbas pernah berkata: “Sesungguhnya pada kebaikan terdapat sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan pada hati makhluk. Sesungguhnya pada keburukan terdapat kegelapan pada wajah, gulita pada hati, gulita di alam kubur, dan kelemahan pada badan (malas membaca alQuran), kekurangan dalam rezeki, dan kebencian pada hati makhluk.”

    AlQuran sebagai cermin jiwa mengevaluasi wajah batin. Demi peran alQuran yang demikian itu, maka alQuran menjadi petunjuk, penerang agar pembacanya tidak keliru jalan. Gelapnya keadaan membuat siapa pun kesulitan memilih, yang mana pisau yang mana penggaris. Bahkan kegelapan yang sangat, menyebakan orang tidak hanya kesulitan memilih, bergerak pun sulit.

    Fungsi alQuran sebagai nur, penerang membuat orang mudah memilah mana yang manfaat dan mana yang membahayakan. Kemampuan demikian adalah kemampuan cerdas untuk tepat memilih mana yang benar, mana mana yang keliru.

    Kemampuan cerdas alQuran agar si pembaca mampu membedakan yang benar dan yang keliru dengan jelas adalah fungsi alQuran sebagai alFurqan. Pembeda dengan jelas mana yang diperlukan dan mana yang membahayakan.

    Kemampuan ini antara lain penting bagi para hakim. Pada waktu kesulitan memutuskan kasus hukum karena berbagai keadaan.

    Pada saat Nabi Daud as. menjadi raja, datang dua perempuan yang sedang berperkara. Satu orang bayi diakui oleh dua orang ibu. Masing-masing tidak mau mengalah. ”Itu adalah bayiku, seorang ibu selalu tahu dan mengenal bayinya,” ujar perempuan muda.
    ”Tidak! Ini bayiku. Bayimu telah tewas dimakan serigala,” ujar yang lain.

    Nabi Daud pun kesulitan memutuskan. Hampir saja Nabi Daud as. percaya bahwa Ibu yang kedua adalah orang tua asli bayi itu. Nabi Sulaiman as. putra beliau yang masih sangat belia mencoba membantu sang ayah. ”Ambilkan aku pedang untuk membelah dua bayi ini untuk kalian berdua,” ujar Sulaiman.

    Sontak perempuan muda berteriak, ”Tidak jangan, tolong jangan lakukan itu. Kau akan membunuhnya. Oh rajaku, berikan saja bayi itu padanya,” teriak sang ibu muda dengan deraian air mata.

    Teriakan tersebut mengantar Nabi Sulaiman mengerti bahwa pemilik bayi sebenarnya adalah Ibu muda itu.

    Nabi Daud as. adalah seorang raja yang juga hakim agung. Masih kesulitan memutuskan perkara yang pelik, samar, dan tidak bisa diselesaikan hanya berdasar perasaan dan hasil rekayasa perdebatan.

    Inilah contoh kasus di bidang hukum. Kasus ini memerlukan kecerdasan dan ketelitian yang tinggi, agar hakim mampu membedakan dengan tegas mana yang ibu asli, mana yang sekedar mengaku-ngaku.

    Kebijakan metode Sulaiman as. memintas jalan adil. Itulah makna furqan. Memisah mana yang benar dan mana yang keliru betapa pun tipisnya perbedaan.

    Bagi dosen, alFurqan adalah kemampuan untuk menuntun mahasiswa kepada obyektifitas ilmu. Bagi para ibu-ibu yang sedang bereblanja di mall, adalah kemampuan mudah menentukan pilihan baju kesayangan. Sehingga para suami yang mengantarnya bisa senang, karena baju lekas terbeli, bisa segera pulang. Bagi para remaja, mudah memilih pasangan yang ‘pasti’ membahagiakan.

    AlQuran sebagai alFurqan pasti sangat diperlukan para mahasiswa terutama untuk menggapai nilai tinggi dalam evaluasi ujian.
    Pernah ketika masih di Jerman, pak Habibie merasa kewalahan mengejar prestasi kawannya yang keturunan Yahudi. Laki dan perempuan. Mereka selalu berada di peringkat atas. Habibie ingin sekali menempati prestasi puncak.
    Lalu Habibie dengan rasa kepo bertanya,”Dengan cara apa kalian belajar sehingga sulit bagi saya untuk menduduki posisi kalian?”
    Mereka berdua menjawab singkat,”kami membaca alQuran”.

    Jawaban mereka seolah menampar wajah Habibie. Bagaimana tidak, bukankah alQuran merupakan kitab suci Muslim. Mengapa teman Yahudi yang justru memilihnya sebagai jalan menuju puncak? Serentak dia mencontoh laku mereka itu. Terbukti setelah ia membaca alQuran, dia benar-benar menggapai puncak teratas prestasi mahasiswa, menggeser dua orang kawan Yahudinya.

    Keunggulan Habibie di peringkat tertinggi ini, membawanya pada prestasi fenomenal. Dia mampu mengatasi masalah retaknya ekor pesawat Boeing ketika naik pada ketinggian tertentu. Belakangan, atas keberhasilannya itu ia sangat terkenal dengan sebutan Mr. Crack, berkat alQuran.

    Itulah sekelumit syafa’ah alQuran!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Saatnya Memperbarui Fikih Haji


    Jakarta

    Saya memulai mendiskusikan tema di atas dengan sebuah “disclaimer” bahwa saya bukan ahli fikih. Saya pernah belajar fikih di madrasah, tetapi tidak membuat saya menjadi “faqih”. Saya tidak mengambil jurusan hukum Islam dan tidak pernah duduk khusus mengaji kitab-kitab fikih.

    Ketertarikan saya pada tema di atas dasarnya adalah pengalaman saya menyelami proses dan dinamika penyelenggaraan haji pada tahun 2024 dengan menjadi anggota Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) penyelenggaraan haji yang dibentuk oleh Kementerian Agama. Dengan menjadi Tim Monev, saya memiliki kesempatan berharga untuk menyelami ragam dinamika haji di lapangan.

    Jadi diskusi tema di atas dipicu oleh kesadaran empirik saya sebagai petugas haji, bukan sebagai “specialist” dalam dunia fikih. Karenanya saya hanya ingin mencermati tataran sosiologisnya, bukan membedah fikih haji secara substantif.


    Setelah saya menyerap informasi dari berbagai pihak yang terkait dengan haji, saya mengajukan sebuah klaim bahwa penyelenggaraan haji tahun ini sangat baik dan diyakini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya, atau lebih ekstremnya, yang terbaik sepanjang sejarah penyelenggaraan haji.

    “Murur” untuk “Hifzh al-Nafs”

    Salah satu isu penting yang menjadi pendorong bagi suksesnya pelaksanaan haji tahun ini adalah keputusan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag), untuk memaksimalkan ikhtiar bagi keselamatan jiwa para jemaah.

    Yang melatari ikhtiar kuat pemerintah adalah kesadaran bahwa untuk mendapatkan “ruang gerak” yang lebar bagi jemaah di Tanah Suci adalah sebuah kemustahilan. Misalnya, untuk mendapatkan ruang yang lebih di Muzdalifah sebagai tempat “mabit” tidak mungkin karena Muzdalifah adalah tempat yang kondisinya yang tidak bisa lagi diperluas.

    Demikian pula Mina sebagai tempat mabit malam-malam “tasyriq,” juga tidak mungkin lagi diperluas. Dibuatnya kawasan baru, “Mina Jadid” yang masih menjadi bagian dari kawasan Muzdalifah tidak bisa menyelesaikan tumpukan jemaah dari seluruh dunia yang akan menempuh proses mabit.

    Atas kesadaran itu, Kementerian Agama mengambil kebijakan bahwa hal yang perlu dilonggarkan untuk mengurai sesaknya Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) bukan dari ruang-ruang fisiknya tetapi dilonggarkannya pemahaman fikih yang terkait dengan proses haji di Armuzna. Pelonggaran ini tujuannya adalah untuk mewujudkan cita tertinggi dari hadirnya hukum Islam, yakni “hifzh al-nafs” (terjaganya jiwa).

    Yang pertama ditelisik adalah titik krusial terpenting dari Armuzna, yaitu mabit di Muzdalifah, karena tempat itu di samping sempit, waktunya juga sangat terbatas. Pengalaman tahun sebelumnya juga memberi pelajaran penting bahwa Muzdalifah adalah titik yang sangat rawan bagi para jemaah.

    Atas dasar itu, penyelenggara haji mengambil kebijakan “murur” bagi jemaah yang memiliki uzur atau halangan tertentu (lansia, resiko tinggi, dan disabilitas). Murur adalah melintaskan kendaraan para jemaah di Muzdalifah menuju ke Mina bagi yang sudah terdata memiliki uzur. Jumlahnya sangat signifikan untuk melonggarkan ruang jemaah yang mengambil mabit secara normal.

    Tentu keputusan murur ini didasari oleh kajian fikih yang sangat serius dari ulama-ulama otoritatif kita. Terurainya jemaah secara lancar dari Muzdalifah menuju ke Mina faktor penentunya adalah kebijakan murur.

    Formalisasi “Tanazul”

    Pertanyaannya adalah bagaimana dengan Mina, karena semua jemaah, baik yang mabit secara normal maupun murur tentu semua menuju ke Mina.

    Mina adalah kawasan yang tidak cukup luas meskipun sudah termasuk Mina Jadid. Berbeda dengan kawasan Arafah yang selama ini masih relatif bisa menampung seluruh jemaah, dan masih bisa terkondisikan dengan baik. Saya berkeyakinan bahwa kesesakan yang terjadi di Mina, termasuk keterbatasan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang dikeluhkan jemaah, faktornya karena keterbatasan ruang.

    Dari situasi ini, saya melihat bahwa penyelenggara perlu berikhtiar kuat untuk memberlakukan sebuah langkah solutif penguraian jemaah yang didasari oleh pelonggaran tafsiran fikih. Sekali lagi tujuannya adalah untuk keselamatan jiwa jemaah.

    Salah satu yang telah diinisiasi oleh penyelenggara haji–dan saya duga memberi pengaruh terhadap berkurangnya kesesakan di tenda Mina–adalah banyaknya jemaah yang mengambil “tanazul” setelah dari Muzdalifah. Tanazul di sini bermakna jemaah tidak tinggal di tenda Mina, namun pulang-pergi dari hotel mereka untuk melakukan lontaran di Jamarat. Namun, aktivitas tanazul ini masih bersifat imbauan dan dilakukan secara mandiri oleh para jemaah yang memiliki kesanggupan.

    Saya berasumsi bahwa bila murur bisa dijadikan dasar bagi kelancaran pengaturan jemaah, maka sebaiknya tanazul juga perlu dipertimbangkan untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan haji pada tahun depan. Adapun yang mengiringi diskusi tentang tanazul ini adalah dua hal, yaitu tanazul bagi yang sehat seperti gambaran di atas, dan tanazul bagi yang memiliki uzur.

    Apakah diskusi bisa dikembangkan pada bisa atau tidaknya jemaah yang mengambil murur, langsung saja di-tanazul-kan. Artinya, mereka dilewatkan di Mina dan tidak perlu lagi tinggal di sana karena mereka memiliki uzur. Dan ketika mereka ingin melakukan lontaran, mereka bisa diwakilkan (badal). Karena menempatkan mereka di Mina untuk ikut melontar, risikonya juga cukup tinggi.

    Diskusi berikutnya adalah bila tanazul dijadikan kebijakan, perlu diikuti oleh kebijakan lainnya, bagaimana menentukan syarat mabit bagi orang sehat yang mengambil tanazul, dan berapa lama mereka berdiam di kawasan Mina? Bisakah mereka melontar jumrah dengan rentetan waktu yang saling berdekatan dengan pertimbangan pergantian waktu untuk memudahkan pergerakan mereka?

    Interpretasi Kreatif

    Hal yang bersifat fiqhiyah di atas sebenarnya sudah dipraktikkan oleh beberapa jemaah sebagai bagian dari langkah nyata mereka untuk meminimalisasi potensi kerawanan. Namun untuk bisa menjadi panduan bagi jemaah ke depan, perlu ada kebijakan resmi dari penyelenggara yang didasari oleh pandangan fikih dari ulama seperti yang dilakukan terhadap lahirnya kebijakan murur.

    Saya optimis, bahwa kesuksesan pelaksanaan haji tahun ini yang didasari pada interpretasi kreatif tentang fikih haji, akan semakin memotivasi penyelenggara lebih memaksimalkan celah untuk menemukan interpretasi fikih yang memastikan bahwa “hifzh al-nafs” adalah segalanya. Saya meyakini, dua hal yang saling menopang untuk hadirnya kebijakan baru berhaji dari interpretasi fikih: keseriusan pemerintah dan kepatuhan para jemaah.

    *) Hamdan Juhannis
    Anggota Tim Monev Haji 2024, Rektor UIN Alauddin Makassar

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Pasti Ditolong Asal Mau Menolong



    Jakarta

    Malam masih menyelimuti siang, matahari masih senyap di peraduan. Seorang ibu sepuh mengirim WA audio kepada adiknya yang dirasa memiliki kedudukan nyaman di suatu instansi. Ia bercerita tentang pejabat yang menjadi atasan dari anaknya. Putra pejabat itu hendak masuk suatu institusi pendidikan tertentu. Pendidikan dokter spesialis dalam bidang yang banyak diminati.

    “Kalau seandainya harus menghadap, ia akan menghadap kepadamu”. Itu sekelumit permohonan yang dimajukannya di suatu akhir malam.

    Beraneka bentuk pengharapan dan permohonan model seperti ini. Entah di negeri ini atau entah di mana saja. Boleh jadi menggunakan kalimat yang sedikit berbeda. Tapi maksudnya sama, ingin ditolong.


    Sejak jaman dahulu sudah beruntun kisah tentang bagaimana pertolongan kepada seseorang menghadirkan pertolongan serupa kepada si penolong.

    Di masa bepergian jauh masih lebih umum menggunakan kapal laut daripada pesawat udara. Pada masa itu, beberapa Kyai yang menerima banyak santri di pondoknya, memberangkatkan putra penerus mereka ke Arab Saudi, Yaman, maupun Mesir.

    Sementara putra-putra para Kyai itu mengikuti pendidikan agama di negara-negara teluk, sementara orang tua mereka berada di Indonesia. Sering terjadi uang kiriman belanja bulanan, baik untuk biaya pendidikan maupun biaya belanja harian mengalami kendala. Entah karena cuaca yang bertepatan dengan banyak angin kencang, atau orang yang akan dititipi uang belum ada yang bepergian ke arah negara tujuan.

    Lalu apa yang mereka para Kyai itu lakukan. Mereka sengaja memberikan santunan kepada para santri di pondoknya. Dengan keyakinan bahwa apa yang mereka perbuat akan dibalas Tuhan.

    Lalu apa yang mereka ceritakan selanjutnya. Entah dari mana datangnya. Entah siapa yang berkenan membantu. Tapi yang jelas para putra beliau di negeri nun jauh di sana ditolong orang (baca ditolong Tuhan) melalui jalan yang bukan perlu logika normal.

    Kisah di atas sebenarnya terjadi berulang, acak dan tersebar bahkan di seluruh dunia. Sering orang memberikan stigma kebetulan. Padahal, ada beberapa periset yang membuktikan bahwa hal itu terjadi melalui proses. Bukan sekedar kebetulan.

    Tentang hal itu, ada dua orang periset terkenal (Stephen Post dan Jill Neimark) yang menemukan jawaban dari hal-hal yang sering diberi stigma kebetulan di atas. Hasil temuan mereka dinarasikan dalam bentuk buku. Buku tersebut sangat terkenal. Buku itu menjadi best seller internastional. Ia menjadi sumber inspirasi sangat baik selama beberapa tahun bahkan sampai sekarang. Buku itu berjudul “Why Good Things Happen to Good People”. Mengapa hal-hal baik selalu mengejar orang-orang yang baik.

    Dalam buku itu dipaparkan mengenai fakta bahwa mereka yang hidup panjang umur. Hidup lebih bahagia. Hidup lebih sehat. Hidup berkah. Mereka meninggal setelah sempurna melakukan pengabdian. Mereka hanya memerlukan satu modal saja. Apakah satu modal utama itu? Ialah hidup dengan cara suka menolong!

    Dr. Stephen G. Post dan Jill Neimark telah melakukan riset dengan mengumpulkan penelitian di universitas-universitas terbaik di negara Amerika Serikat untuk membuktikan manfaat hidup yang meningkat dari perilaku suka menolong. Penelitian menarik ini menunjukkan bahwa ketika siapa pun kita, yang menyiapkan diri untuk selalu memberikan pertolongan. Apalagi dilakukan sejak muda. Maka hidup akan serasa mudah. Gampang puas, gampang bahagia, segar fisiknya, berbeda secara signifikans daripada hidupnya orang yang enggan memberikan pertolongan.

    Orang-orang yang suka menolong orang lain, diri mereka menjadi panjang umur. Tidak mudah depresi. Kesehatan fisik menjadi prima. Kesuksesan mudah diraih.

    Post dan Niemark melakukan riset ini selama 50 tahun. Risetnya menemukan bukti bahwa orang-orang yang biasa memberikan pertolongan, apalagi sudah dimulai sejak SMA, mereka memiliki kesehatan fisik dan mental prima sepanjang hidup mereka. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang tua yang menyediakan diri untuk menolong orang lain, mereka panjang umur.

    Perilaku suka menolong orang lain telah menunjukkan dukungan kualitas kesehatan kepada para penolong. Hasil ini lebih tampak nyata pada para penderita penyakit kronis, termasuk HIV AIDS, multipel sclerosis, dan penderita penyakit jantung. Riset juga menunjukkan bahwa orang-orang dari semua usia yang senang menolong orang lain secara teratur, bahkan dalam cara-cara kecil, mereka memiliki kehidupan paling bahagia.

    Nabi Muhammad SAW memberikan konsep dasar tentang bagaimana cara, agar seseorang bisa memperoleh pertolongan dengan mudah. Ialah menolong orang lain.
    Sabda beliau, “Wallahu fii aunil abdi maakaanal abdu fii auni akhiihi” (Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya).

    Bahkan di dalam Islam, orang yang enggan menolong orang lain masuk dalam kriteria orang yang tidak pantas menyebut diri sebagai orang yang beragama (QS al-Ma’uun 107:7). Mereka yang termasuk pendusta agama adalah mereka yang enggan melakukan pertolongan kepada orang lain, walau hanya sekedar menolong hal-hal yang remeh-temeh.

    Pertolongan yang pasti bisa hanyalah pertolongan Tuhan. Dan Tuhan berjanji akan menolong siapa pun yang suka memberikan pertolongan kepada orang lain.

    Mulai sekarang hayo siapkan diri untuk senantiasa siap menolong siapa pun di jalan Tuhan. Setidaknya agar hidup panjang umur, sulit sakit, mudah sukses, hidup bahagia sejahtera! Itu setidaknya sudah dibuktikan melalui riset ilmiah, di samping fakta empiris yang jumlahnya sulit dihitung.

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Masuklah Surga, Mengapa Enggan?



    Jakarta

    Surga biasa dibayangkan baru bisa dinikmati setelah mati. Nanti jauh di alam sana. Benarkah?

    Boleh jadi sebagian orang, atau bahkan sebagian besar orang melihat surga dari sisi pandang seperti itu. Apa sebenarnya hakikat surga? Bukankah surga suatu perlambang kebahagiaan sempurna? Di surga orang tidak perlu gaduh-gelisah, semua kebutuhan sempurna terpenuhi. Surga menyiratkan gambaran teduh, sejuk, semilir angin, kicau burung, gemericik suara air , pepohonan rindang, taman-taman bunga dan para pelayan yang santun dan good looking.

    Ada dipan-dipan sofa berkasur empuk, berbantal tebal, tempat duduk, tempat bertelekan dan bersandar. Ruang pertemuan dilapisi permadani tebal. Mereka yang di dalam surga memakai pakaian yang serba mewah serta perhiasan serba mahal. Di hadapan mereka ada minuman yang tidak pernah memabukkan. Termuat dalam gelas-gelas indah yang harganya sulit dirupiahkan. Tersedia berbagai makanan yang lezat dan tidak pernah membuat kekenyangan.


    Duduk di sana dalam perjumpaan yang saling berhadapan. Beradu pandang membicarakan percakapan yang berisikan pujian, syukur dan kepuasan. Ridlo atas setiap keputusan Tuhan. Sungguh suasana kehidupan yang setiap orang pasti inginkan.

    Apakah yang demikian hanya di surga akhirat sana? Tidakkah kebahagiaan itu justru dibutuhkan sejak di dunia ini? Sejatinya surga yang sebenarnya memang menunggu pergantian alam. Setelah alam dunia ini berganti dengan alam akhirat nanti. Tapi itu surga akhirat.

    Namun, bukankah hakikat surga itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan kebahagiaan fatamorgana akibat psikotropika dan yang sejenisnya. Gambaran surga dunia mestinya mendekati gambaran surga sesungguhnya di akhirat nanti. Ialah kehidupan yang menyenangkan. Sukses gampang diraih. Kebutuhan serba tersedia secara lapang. Hidup tenang dan selalu senang. Kebahagiaan yang sungguh menjadi idaman setiap insan.

    Kalau begitu mengapa harus nanti menunggu di akhirat, bukankah kebahagiaan itu dibutuhkan di dunia ini. Sebelum kebahagiaan yang kekal nanti di akhirat sana?

    Lalu bagaimana caranya supaya seorang mampu memperoleh kehidupan surga di dunia ini? Seberapa mahal, seberapa sulit?

    Semestinya tidak mahal, juga tidak sulit jika mau. Kecuali enggan. Lalu bagaimana caranya? Gampang! Sempurnakan bakti siapa pun kepada orang tuanya. Kepada mereka berdua Ayah-Ibu kalau mereka masih lengkap. Atau salah satunya jika satunya sudah wafat.

    Bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua itu? Gampang, lakukan kebalikan dari sikap durhaka, itulah sikap bakti kepada orang tua!

    Bertumpuk fakta empiris menyediakan bukti nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Siapa pun di antara sejumlah saudara seayah-seibu yang paling bagus bakti kepada orang tuanya, dialah yang paling nyaman hidupnya. Kalau dia masih pelajar atau mahasiswa, maka prestasi di sekolahnya bagus. Mudah menangkap materi kuliah, gampang lulus. Kalau dia pebisnis. Maka bisnisnya lancar, untung berlipat, usahanya melesat sesuai dengan kualitas baktinya kepada orang tuanya. Beberapa perusahaan nomor satu di Indonesia dikendalikan oleh orang-orang yang bakti kepada orang tuanya sulit ditandingi.

    Akan tetapi, bisa jadi ada beberapa anak yang malah durhaka, tetapi terlihat seperti cemerlang, bisa dipastikan kecemerlangannya hanyalah nisbi. Boleh jadi tampilan fisik kelihatan bagus, sedang jiwanya parah menderita.

    Sikap durhaka bisa meliputi:
    Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.
    Berkata ‘ah’ dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
    Membentak atau menghardik orang tua.
    Bakhil (pelit), lebih mementingkan yang lain dari pada orang tuanya.
    Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.
    Bermuka masam dan cemberut di hadapan orang tua, merendahkan orang tua.
    Mencaci atau menjadi sebab orang tua dicaci orang.
    Membelalakkan mata.

    Kesulitan yang mereka peroleh di dunia sebenarnya hanyalah sedikit, sebagai pengantar kesulitan yang akan menyambutnya di akhirat. Mereka yang durhaka: shalatnya tidak diterima, dibenci Allah, diharamkan masuk surga, segala amal perbuatannya dihapus, dosa-dosanya tidak diampuni, bahkan mendapatkan azab di dunia”

    Fakta empiris anak-anak yang berbakti kepada orang tuanya.
    Tak kurang sejumlah besar konglomerat Indonesia menempati papan atas nama-nama terkenal. Mereka memiliki dan memimpin perusahaan-perusahaan ternama bukan karena bekal kuliahan. Bukan karena produk pendidikan Universitas Paman Sam. Tapi lebih karena mereka memuliakan para orang tuanya melebihi siapa pun. Kisah mereka bertebaran di kanal You Tube atau media sosial yang lain.

    Sikap mereka kepada para karyawan pun terkenal menawan. Akibat santun dan sopan kepada para orang tuanya, berimbas kepada kebaikan sikapnya pada para karyawan.

    Tokoh-tokoh dunia internasional yang serupa dengan mereka pun tak kurang hitungan. Di seluruh dunia, global. Mereka adalah tokoh-tokoh yang sangat berbakti kepada para orang tuanya. Bakti itu menjadi pemantik sukses siapa pun di seluruh dunia. Tidak terkait suku, ras atau tidak terkait atribut apa pun.

    Ada bimbingan Rasulullah yang memang bersifat universal, bimbingan kepada siapa pun yang menginginkan hidup di dunia ini laksana hidup di surga. Hidup bahagia sejahtera, selalu mendapat kemudahan menuju sukses, sukses berlimpah, hati tenang dan selalu senang. Selalu puas dalam ridlo Tuhan.

    “Celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga [berkehidupan surgawi-terjemah].” Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA.

    Melalui hadits ini, rupanya bakti anak kepada orang tua merupakan indikator apakah dia termasuk orang yang benar shalih atau hanya fatamorgana. Bagaimana tidak, jika kepada orang yang paling berjasa saja di dalam hidupnya dia tidak mampu berterimakasih, kepada siapa lagi yang dia pantas melakukannya. Andai dia mendahulukan berterimakasih selain kepada orang tuanya, maka di manakah letak logika sehatnya? Mendahulukan yang bukan pantas daripada yang pantas.

    Wajar kalau Rasulullah mengingatkan dosa besar durhaka kepada orang tua itu nomor dua setelah dosa syirik, menyekutukan Allah. “Maukah kalian kuberi tahu tentang dosa paling besar? Yaitu, syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Hadits diriwayatkan dalam Ash-Shahihain dari Abu Bakar RA

    Semoga setiap kita berebut menikmati kehidupan surgawi dunia-akhirat. Buktikan bahwa kita bukan yang enggan, melalui menyempurnakan bakti kepada orang tua!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Masjid



    Jakarta

    Masjid adalah rumah Allah SWT. yang memiliki kedudukan istimewa dengan banyak manfaat yang telah dipersiapkan oleh-Nya bagi kaum muslimin dan muslimat yang senang ke masjid. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW. memberikan motivasi untuk gemar datang ke masjid. Dari Abu Hurairah RA: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan ke salah satu rumah Allah(masjid) untuk melaksanakan kewajiban yang Allah tetapkan, maka kedua langkahnya, yang satu menghapus kesalahan dan satunya lagi meninggikan derajat.”

    Hal ini diperkuat dengan firman-Nya surah at-taubah ayat 18 yang terjemahannya, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah SWT. ialah orang yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) kecuali kepada-Nya, maka semoga mereka menjadi golongan yang mendapatkan petunjuk.”

    Makna ayat ini adalah : Sesungguhnya yang berhak memakmurkan dan mengurus masjid-masjid Allah SWT. hanyalah orang-orang yang beriman kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, mendirikan salat, membayar zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah SWT. Mereka itulah orang-orang yang diharapkan mendapat petunjuk ke jalan yang lurus.


    Hijrah Rasulullah SAW. ke Madinah telah menandakan terbentuknya wilayah Islam pertama di muka bumi. Hal ini juga menandakan telah berdirinya negara Islam. Setiba di Madinah, pertama kali dilakukan Rasulullah SAW. adalah membangun komunitas yang terdiri atas Muslim Muhajirin dan Anshar, setelah itu langkah berikutnya adalah membangun masjid. Tidaklah heran bahwa mendirikan masjid merupakan langkah penting dalam pembentukan komunitas Muslim.

    Masyarakat Muslim bisa berdiri kukuh jika sistem Islam, akidah dan etikanya, semuanya bersumber dari spiritualitas masjid, dipatuhi dan dipegang erat-erat. Diantaranya adalah adanya ikatan tali persaudaraan antar jamaah/antar Muslim. Ingatlah bahwa tali persaudaraan tak akan bisa terwujud kecuali melalui masjid. Jika kaum muslim tak pernah berjumpa satu sama lain di rumah Allah SWT. tidaklah mungkin terjalin persaudaraan. Mereka akan dihalangi oleh sekat-sekat kedudukan, kekayaan dan status sosial. Oleh karena itu, masjid adalah tempat kebersamaan, persamaan dan persaudaraan.

    Di masjid, kita bisa berbaris dalam satu barisan yang kukuh setiap hari, berdiri bersama menghadap Sang Khalik. Hati mereka ( jamaah ) terpaut satu sama lain dalam ruang penghambaan kepada Allah Yang Mahamulia. Inilah ruh yang mewujudkan kebersamaan dan bersatu, timbul rasa saling bantu membantu dan bahu membahu. Oleh sebab itu, jadikanlah masjid menjadi pusat pembentuk karakter Islami dalam kehidupan bermasyarakat.

    Beberapa keutamaan masjid sebagai berikut :
    O. Berkumpul dalam masjid untuk belajar al-Qur’an memberikan ketenangan, turunnya rahmat Allah SWT. dan dikelilingi para Malaikat. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan Abu Daud. Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum berkumpul di dalam rumah diantara rumah-rumah Allah SWT. membaca kitab-Nya, dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, serta dikelilingi malaikat, dan Allah SWT. menyebut-nyebut mereka diantara malaikat yang ada di sisi-Nya.”

    Hal ini menunjukkan bahwa masjid adalah tempat yang sangat baik untuk membaca al-Qur’an, mempelajarinya sampai memahami maksud yang terkandung di dalamnya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Memahami isi firman-firman-Nya dan melaksanakan merupakan bentuk keimanan yang paripurna. Mengundang ilmuwan ke masjid diajak membedah beberapa surah yang terkait mayat Fir’aun, membahas sujudnya shalat karena sebagian syaraf di otak yang akan dialiri darah ( oksigen ) kecuali saat sujud, mengungkap lebah dan madu pada surah an-Nahl. Ingatlah bahwa isi al-Qur’an tidak konfrontatif dengan ilmu pengetahuan teknologi.

    O. Orang yang hatinya terikat dengan masjid mendapat naungan Allah SWT. pada hari kiamat. Mereka adalah orang yang senang berada di masjid, selalu berusaha memakmurkannya, menjaganya dalam keadaan yang sebaik-baiknya, dan menjaga hak-haknya. Ia senantiasa melaksanakan shalat secara berjamaah. Bila melihat masjidnya kotor, ia mengusahakan agar segera bersih. Bila melihat ada bagian yang rusak, ia berusaha memperbaiki. Bila ada yang tak layak, ia mengusahakan agar menjadi layak. Bila ada yang tak sedap dipandang mata, ia berusaha merapikannya. Ia sangat mencintai rumah Allah SWT. tesebut dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.

    Itulah masjid sebagai tempat menempa karakter jamaahnya, dengan harapan umat Muslim bisa memberikan kontribusi lebih dalam masyarakat maupun negara. Semoga Allah SWT. membimbing kita semua dalam keteguhan iman untuk menjaga, merawat dan memakmurkan masjid.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ziarah Madinah dan Tradisi Arba’in



    Jakarta

    Salah satu tahapan dari penyelenggaraan ibadah haji adalah ziarah kota Madinah. Agenda di kota Madinah memang bersifat komplementer atau melengkapi agenda utama haji di kota Mekah. Destinasi utama dari fase ritual Madinah adalah Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam Rasulullah dan tempat mustajab untuk berdoa, yakni Raudah atau rawdhah min riyadh al-jannah, demikian kata Rasulullah menunjuk space antara posisi mimbar dan kediaman beliau.

    Sensasi Ziarah Nabawi

    Rasanya tidak ada jemaah yang tidak tertarik untuk menziarahi makam Rasulullah. Ziarah makam Rasulullah pastinya akan melepas kerinduan kita terhadap insan agung pilihan Allah. Bagi jemaah yang terbiasa dengan tradisi wisata ziarah di tanah air ziarah Madinah menjadi momentum sangat istimewa. Tentu sensasinya jauh lebih dahsyat dan syahdu melebihi suasana ziarah makam wali atau ulama-ulama saleh lainnya. Air mata akan mudah bercucuran karena kerinduan yang membuncah.


    Menziarahi makam Rasulullah adalah impian setiap Muslim Indonesia. Meski tak lagi mungkin berjumpa secara visual dengan Rasulullah, paling tidak, hadir di dekat pusaranya menjadi penanda bahwa kita berkesempatan untuk berdekatan dengan beliau. Tentu, kita jangan membayangkan bisa duduk sila berlama-lama sembari merapal semua wirid dan doa di hadapan makam Rasulullah, seperti halnya ketika berzikir di sejumlah destinasi wisata ziarah di tanah air. Otoritas keamanan masjid Nabawi sangat membatasi pergerakan dan gerak-gerik peziarah yang melintas area makam Rasulullah.

    Kita tidak bisa berlama-lama berdiam atau berdoa di sekitar makam Rasulullah. Kita pasti akan segera digiring oleh para Askar bertampang sangar, lantas diarahkan untuk bergeser meninggalkan area makam Rasulullah menuju sisi utara masjid Nabawi. Walhasil kita hanya bisa melintas, atau sejenak menyapa Rasulullah dan sejumlah Sahabat yang juga dikubur di samping beliau, menyampaikan selawat sebisanya, dan semua permohonan yang dipanjatkan.

    Beberapa tahun terakhir, otoritas Nabawi membuat terobosan baru dalam rangka mengurai kepadatan jemaah yang berkerumun atau berebut mendapatkan tempat berdoa di Raudah. Untuk dapat menikmati syahdunya “taman surga” Nabawi, jemaah harus mendapatkan tasrih atau semacam legalitas mendapatkan tempat atau kuota berdoa di Raudah. Tanpa itu, jangan berharap bisa masuk dan berdoa di arena masjid berkarpet warna hijau, sebagai penciri area antara mimbar dan rumah Rasulullah.

    Dengan kebijakan ini maka jemaah tak perlu lagi berdesakan, berebut antar sesama jemaah, memonopoli kesempatan di Raudah, atau sebaliknya jemaah dengan keterbatasan fisik atau risiko tinggi tak bisa menikmati spiritualitas Raudah. Panitia haji Indonesia bersama otoritas Nabawi tentu sudah mengatur dan menyiapkan tasrih Raudah untuk para jemaah. Tinggal diatur jadual kedatangan ke lokasi secara bersamaan. Tentu harus disiplin mengikuti jadual yang ditentukan. Jika tidak maka kesempatan emas itu akan berlalu begitu saja. Jadi jemaah haji juga tak perlu risau karena semua akan diberi kesempatan untuk berdoa di Raudah.

    Kebijakan ini patut diapresiasi karena memenuhi asas keadilan dan pemerataan kesempatan. Saya pun berpikir, andaikan kebijakan ini diberlakukan untuk jemaah yang ingin mencium “Hajar Aswad”. Mungkin tidak akan terjadi ‘anarkisme’ di seputaran Kakbah. Saya termasuk yang menyimpan perasaan risih bahkan miris menyaksikan ketidaktertiban dan gesekan keras yang terjadi untuk sekadar mencium “Hajar Aswad”. Tentu kita berharap otoritas masjid Haram memikirkan solusi terbaik mengatasi sengkarut mencium “Hajar Aswad” sehingga jemaah bisa menikmati ritual ini dengan aman dan damai.

    Berburu Salat 40 Waktu

    Halawah lain yang masih dalam lingkup ziarah Madinah adalah salat “Arba’in”. Ini popular di kalangan jemaah haji Indonesia, meski saat ini tidak lagi menjadi agenda prioritas. Jemaah haji Indonesia bisa melakukan ritual Arba’in jika situasi dan skema jumlah hari memungkinkan. Jika tidak maka tentu jemaah tidak perlu risau atau galau. Tidak mendapatkan Arba’in tidak lantas mendegradasi kualitas ibadah haji. Sama sekali tidak.

    Salat Arba’in adalah menunaikan salat fardu lima waktu secara berjamaah di masjid Nabawi di Madinah. Salat berjamaah tersebut dijaga sampai 40 kali salat berturut-turut secara konsisten. 40 kali salat berjamaah lima waktu kurang lebih selama 8 hari (5 salat/hari X 8 hari = 40 hari). Ini tentu tidak mudah. Perlu kesiagaan penuh dan komitmen tinggi. Dibutuhkan kesehatan prima mengingat mobilitas hotel-mesjid cukup tinggi dan kontinou.

    Salat berjamaah 40 kali ini memiliki keutamaan, seperti terekam dalam sebuah Hadis yang sejatinya masih diperdebatkan kesahihannya. Hadis ini menyebutkan bahwa salat tersebut menjadi sebab seseorang selamat dari neraka, siksa, dan kemunafikan. Seperti ini redaksi Hadisnya:

    عن أنس بن مالك رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “مَنْ صَلَّى في مَسجدِيْ أَرْبَعين صلاةً لَا يَفُوْتُهُ صلاةٌ؛ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِن النَّارِ، ونَجَاةٌ من الْعذَابِ، وَبَرِيئٌ مِنَ النِّفَاقِ”. رواه الإمام أحمد والطبراني في معجمه الأوسط.

    Dalam Kitab Hadis al-Musnad karya Imam Ahmad ibn Hanbal dan juga dalam Mu’jam al-Awsath karya al-Thabrani (Juz III/h. 325, No. Hadis: 5444) diriwayatkan suatu Hadis dari jalur Anas ibn Malik, dari Nabi Saw. bahwasanya beliau bersabda, “Siapa saja yang salat di masjidku sebanyak 40 salat, dan tidak luput darinya satu salatpun, maka dia dicatat terbebas dari api neraka, selamat dari azab dan terbebas dari kemunafikan.”

    Imam al-Haitami dalam kitabnya, al-Majma’, menyatakan bahwa perawi Hadis ini adalah termasuk orang-orang yang tsiqqah. Imam al-Mundziri menyatakan dalam kitabnya, at-Targhib, bahwa Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui para perawinya yang shahih. Namun, di sisi lain, Hadis ini dianggap dha’if, sebab dalam rangkaian perawinya terdapat sosok Nubayth yang dianggap majhul.

    Dengan begitu, kekuatan Hadis ini diperdebatkan oleh para ulama. Sebagian menyatakan Hadis ini shahih, sementara yang lain mengatakan tidak. Namun, kalaupun di anggap dha’if, perlu diingat penjelasan Imam al-Nawawi dalam kitabnya, al-Taqrib, bahwa Hadis dha’if dapat diamalkan dalam ranah fadha’il al-a’mal (untuk amaliah tambahan) dengan beberapa syarat. Pertama, Hadis tersebut tidak terlalu lemah. Kedua, Hadis tersebut tidak berkaitan dengan akidah, hukum halal dan haram, dan bukan untuk menetapkan hukum yang mengikat. Ketiga, Hadis tersebut tidak bertentangan dengan Hadis shahih atau prinsip dasar syariah.

    Dalam pandangan para ahli, Hadis tersebut tidak bertentangan dengan Hadis shahih dan tidak terlalu dha’if karena ada ulama yang menganggapnya shahih dan Hadis tersebut dalam kerangka fadha’il al-a’mal. Oleh karena itu, Hadis tersebut secara substansial dapat diamalkan, sehingga melaksanakan salat Arba’in adalah masyrū’ atau memiliki legalitas berdasarkan Hadis tersebut.

    Tak Perlu Ngoyo

    Namun perlu dicatat bahwa salat Arba’in bukan salat khusus atau berbeda dari salat lainnya. Salat Arba’in adalah salat fardu biasa. Perbedaannya terletak pada komitmen dan kesungguhan untuk menunaikannya secara berjamaah, di suatu tempat yang afdal, yaitu di masjid Nabawi. Komitmen itu dijaga selama 40 kali salat berturut-turut.

    Oleh karena itu, jika seseorang atau jemaah haji memiliki kesempatan atau kelonggaran tinggal di Madinah selama 8 sampai 9 hari, ada baiknya mengupayakan salat berjamaah setiap waktu salat di Masjid Nabawi, sehingga mendapatkan keutamaan Arba’in. Namun, jika dalam kondisi tertentu hal mana tidak memiliki kesanggupan secara fisik maupun waktu yang tidak memungkinkan maka tentu tidaklah mengapa. Tak perlu merasa risau atau berdosa karena tidak mampu melaksanakan ritual salat Arba’in.

    Berdasarkan evaluasi penyelenggara haji Indonesia, aktivitas padat di Madinah ternyata cukup signifikan menyumbang angka kematian jemaah haji Indonesia. Ini tentu harus menjadi perhatian para jemaah haji. Energi yang terkuras selama pelaksanaan puncak haji di Armuzna menyebabkan penurunan stamina dan daya tahan tubuh jemaah haji, terlebih pada saat cuaca ekstrem seperti musim haji tahun ini.

    Beraktivitas padat tanpa kendali pasca Armuzna seringkali membuat jemaah tidak menyadari keterbatasan imunitas dan daya tahan tubuhnya sehingga berdampak buruk pada kesehatannya hingga berujung kematian. Oleh karena itu, jemaah haji perlu bijak dan mampu mengukur kesiapan fisik untuk menghadapi aktivisme ziarah Madinah. Kita nikmati suasana Madinah yang syahdu dengan ibadah yang khusyuk dan tenang. Tidak perlu memaksakan diri berburu kuantitas ibadah. Yang lebih penting adalah menciptakan spiritualitas yang bermutu meski kuantitas tidak harus selalu banyak.

    Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie
    Guru Besar dan Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Anggota Tim Monev Haji Indonesia 2024

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Fakta Akhlak Mulia, Semoga Kita Bisa!



    Jakarta

    Di sebuah gang sempit. Gang yang hanya membolehkan motor lewat, itu pun harus dituntun. Tidak boleh dikendarai. Di sana ada rumah yang juga sempit. Namun di rumah itu ada 5 orang mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama di sebuah propinsi. Di dalamnya ada lima orang mahasiswa tinggal bersama. Semuanya pria. Empat orang mahasiswa dari fakultas paling bergengsi. Satu lagi dari program D3 dari universitas yang sama.

    Menariknya di rumah itu hanya ada satu ruangan utama. Satu ruangan cukup untuk mereka berlima. Cukup bukan lebih. Di ruang itu mereka memasak, menyetrika pakaian, juga belajar. Mereka mengisi waktu di antara beberapa kegiatan dengan berbincang. Ruangan itu pula digunakan untuk tidur. Mirip suasana berhaji di salah satu maktab kloter di era 90-an.

    Suatu sore di penghujung ashar. Hari itu hari Kamis. Datang kepada mereka kawan kuliah satu angkatan semester. Karena mobil tidak bisa diparkir dekat kontrakan. Kawan itu terpaksa memarkir mobilnya jauh di jalan raya. Di lokasi terdekat menuju kontrakan itu. Kawan itu sedang membawa susunan rantang ukuran besar. Isinya nasi, ikan, sayur tak lupa buah-buahan. Untuk makan 5 orang kawan, kapasitas susunan rantang besar itu cukup atau bahkan lebih.


    Dia berjalan membawa rantang itu menuju kontrakan. Terlihat badannya agak miring ke sebelah rantang. Karena untuk membawa rantang sepertinya cukup membutuhkan kekuatan. Pertanda rantang berisi cukup banyak makanan.

    Sesampainya di kontrakan, dilihatnya sejumlah lima orang kawannya sedang membungkus bihun dalam lima paket styrofoam. Sambil mengunci styrofoam dengan staples mereka menyambut hangat penuh gembira kawan yang datang membawa rantang. Rupanya mereka tahu bahwa yang di rantang isinya makanan.

    Kawan yang datang dengan rasa kepo bertanya, “Apa itu yang kalian bungkus?”
    “Bihun goreng,” jawab mereka singkat.
    “Untuk siapa?”. Lanjutnya penasaran.
    “Ini untuk lima orang anak yatim,” jawab mereka tenang.
    “Lah ini aku bawa makanan untuk kalian,” ujar kawan yang membawa rantang.
    “Alhamdulillah, pas,” jawab mereka hampir serempak. “Kami semua hari ini puasa sunnah hari Kamis.”
    “Terus untuk buka, apa yang sudah kalian siapkan?” tanya kawan tadi sedikit heran.
    “Ya ini, yang sedang kamu bawa. Tuhan mengirimkannya kepada kami melalui kamu kan?” serempak mereka berderai tawa.

    Subhaanallah. Lima orang berkawan. Melakukan puasa sunnah di rumah kontrakan yang terbilang pas-pas san. Sedang menyiapkan makanan anak yatim. Sedang persiapan untuk buka buat diri mereka sendiri belum ada. Mereka pasti bukan dari kalangan yang berkecukupan. Namun perhatiannya kepada selain dirinya terbilang di luar perhitungan.

    Dalam kesulitan mereka berpuasa. Pada saat menjelang buka mereka mempersiapkan makanan untuk anak yatim. Sedang diri mereka sendiri belum ada makanan untuk buka. Allah mengantarkan kepada mereka perlengkapan buka melalui seorang kawan. Benar-benar peristiwa sulit dinarasikan dengan logika normal.

    Memang belum banyak yang bisa ditemukan. Satu kasus dramatis seolah ringan, tetapi belum mudah dilakukan semua orang. Memperhatikan orang lain dan menekan kebutuhan diri sendiri. Sikap altruist yang sulit dicari bandingannya.

    Pernah di suatu keadaan yang bukan sederhana. Tetapi dalam kondisi kelelahan puncak. Di sekelompok prajurit perang. Ketika perang berakhir, sebagian prajurit terluka parah. Darah mengalir tanpa bisa ditahan. Wajar kalau tubuh kehabisan persediaan cairan.

    Satu orang prajurit meminta diberikan minum kepada seseorang yang datang. Si penolong bersegera datang membawakan hanya seteguk air yang dibutuhkan. Maklum, jumlah air yang tersedia sangat terbatas karena perang dilakukan di daerah padang pasir yang sangat gersang. Tak ada sumur apalagi sungai. Semuanya hanya hamparan pasir kering. Andai saja ada sejumlah besar air pun, jika sampai terjatuh ke tanah. Bisa dipastikan akan segera hilang. Diserap pasir yang memang sehari-harinya sudah terlalu ‘kehausan’.

    Setibanya air seteguk itu di dekat mulut prajurit yang sudah hampir tak tahan berucap kata, kawan tak jauh dari tempatnya berteriak minta minum. Mendengar teriakan itu, prajurit pertama tadi segera memberi kode kepada pembawa air untuk segera pergi kepada kawannya.
    Melihat ketulusan prajurit pertama, si penolong bergegas untuk menuju prajurit ke-2. Sekali lagi, sesampainya di si peminta air tadi, kawan yang lain pun berseru kehausan. Anehnya, prajurit yang ke-2 ini pun segera menunjukkan kode agar air dibawa kepada prajurit ke-3.

    Namun sayang, sampai di prajurit yang ke-3 ternyata dia sudah tidak membutuhkan air lagi. Nyawanya tidak tertolong. Dia meninggal. Segeralah si penolong pergi kepada prajurit yang pertama. Sekali lagi sayang, dia pun menyusul kawannya menghadap Sang Maha Pencipta. Tinggal satu harapan barangkali prajurit ke-2 masih membutuhkan minum. Yang terakhir ini pun ditemukan dalam kondisi sudah berpulang. Menghadap Yang Maha Mulia Tuhan sekalian alam. Innaalillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun.

    Tidak pada masa dahulu. Pada jaman peperangan hanya bersenjatakan pedang, tombak dan panah. Sekarang pun pesona orang-orang yang memperlihatkan indahnya jiwa-jiwa mulia. Mampu mendahulukan kepentingan orang lain walau diri sendiri sangat membutuhkan. Masih tampak terang walau para beliau pemilik jiwa-jiwa indah itu ‘bersembunyi’ di gang-gang sempit yang jarang terjangkau media pemantau.

    Andai kita tulus membandingkan. Seberapa dekat jiwa-jiwa kita sekalian. Kepada akhlak mulia yang memantik rasa. Sampai sulit pandangan ini menahan tetes air mata haru?
    Boleh jadi kita tulus tengadah wajah dan tangan. Kita berdoa agar setiap diri kita dianugerahiNya kemuliaan akhlak. Setidaknya dua gambaran akhlak mulia di atas bisa menjadi bayang-bayang tujuan doa!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Haji Lansia di Hati Semua



    Jakarta

    Jauh pun bisa dekat. Apalagi yang dekat. Itu terjadi saat semua kita diikat oleh satu nilai. Namanya kemanusiaan. Maka, di mana pun berada, perhatian tak berbeda. Ekspresi diri menjadi bukti keberadaannya. Ada pikiran. Juga perasaan. Ada pula tindakan. Semua menjadi bagian dari bentuk ekspresi diri yang teraktualisasikan. Nah, media menyambungkan antara yang jauh dan yang dekat. Antara yang terlihat dekat dan yang tampak lamat-lamat. Ekspresi nilai kemanusiaan pun menjadi semakin meningkat.

    Itulah yang sedang dibawa oleh media sosial. Pertukaran informasi tanpa perlu dimoderatori. Orang bisa mengirim pesan sesuka hati. Bisa dalam bentuk teks, suara atau gambar yang disenangi. Keberadaan video semakin membuat pesan teks, suara dan gambar terkirim dengan jernih. Sehingga pesan yang tercetak-tersurat atau yang tersirat pun bisa ditarik, dibaca dan dimaknai. Begitu pula yang terdengar atau terlihat. Semua bisa diberi makna sesuai sudut pandang yang dimiliki.

    Beredarlah sebuah video di kanal TikTok. Dibuat oleh seseorang yang mengambil nama maya Dave Parfum. Dia mengirim pesan dalam caption pada video itu. Bunyi begini: “Selalu setia dan bergandengan tangan sampai maut memisahkan. Semoga jadi haji mabrur. Amin.” Pesan dalam caption itu menunjuk kepada kesetiaan tanpa batas. Antara suami dan isteri. Latar belakang video itu adalah bergeraknya sepasang kakek-nenek suami isteri yang menjadi jemaah haji Indonesia tahun 1445 H/2024 M ini. Mereka berjalan kaki. Menyusuri jalanan untuk kegiatan ibadah haji.


    Tampak dalam video itu, sepasang kakek-nenek jemaah haji itu sedang menempuh perjalanan untuk menunaikan ibadah lempar jumrah di Jamarat, Mina, Makkah. Sang nenek berjalan lebih di depan, dan sang kakek di belakangnya samping kiri. Tangan kiri sang nenek menggenggam tangan kanan sang kakek. Karena sang nenek posisinya lebih ke depan, maka dia tampak sedang menggandeng sang kakek dari depan. Jadi, melihat video ini, siapapun segera bisa menarik pesan kontan: kesetiaan hidup bersama dalam rumah tangga hingga masa tua.

    Apalagi, video itu diunggah dengan diberi musik latar belakang (background music) dari lagu berjudul Cinta Kita. Lagu ini dibawakan oleh sepasang artis muda, Shireen Sungkar dan Tengku Wisnu. Lagu ini pernah nge-hits tahun 2010. Karena menjadi soundtrack sinetron Cinta Fitri yang juga dibintangi oleh keduanya. Begini bagian lirik lagu yang dijadikan sebagai musik latar belakang itu:

    /Biar cinta kita tumbuh harum mewangi/
    /Dan dunia menjadi saksinya/
    /Untuk apa kita membuang-buang waktu?/
    /Dengan kata, kata perpisahan/

    Pesan pun semakin konkret. Bahwa sepasang kakek-nenek jemaah haji Indonesia itu adalah teladan kesetiaan. Hingga kegiatan haji yang menuntut fisik yang prima pun dijalani bersama. Berjalan berkilo-kilo meter pun dianggap bukan kendala. Semua dijalani dengan gembira. Bergandengan tangannya keduanya mengirimkan pesan bahwa tak akan ada yang dapat memisahkan keduanya. Kecuali maut yang tak bisa ditolak adanya. Maka, wajar saja jika caption dalam video TikTok di atas di antaranya berbunyi “Selalu setia dan bergandengan tangan sampai maut memisahkan”. Latar belakang ibadah haji menjadikan semakin kuatnya pesan kesetiaan dan ketidakterpisahan di antara keduanya.

    Video itu mendapatkan respon yang sangat baik dari para netizen. Hingga tulisan ini dibuat, Jumat (28/06/2024) jam 19:10 WAS (Waktu Arab Saudi) atau 23:10 WIB, sudah muncul 719K netizen dengan jumlah komentar yang mencapai 25.4 K, dan like sebesar 40.1K. Tentu, angka-angka ini menunjukkan bahwa para netizen mengapresiasi positif konten yang ada pada video tersebut. Lihatlah respon para netizen atas video TikTok itu. Seperti yang di antaranya dikutip di bawah. Hampir semuanya tidak ada yang nyinyir. Alih-alih, apresiasi tinggi justeru mengalir.
    Kekaguman memang menjadi komponen utama dari apresiasi di atas. Ribuan memang komentar yang muncul dan diberikan ke tayangan video di atas.

    Itu menunjukkan betapa tingginya perhatian publik pada muatan materi yang ada pada konten video dimaksud. Namun secara garis besar, respon kekaguman netizen di atas bisa diklasifikasikan ke dalam dua jenis: satu, berisi kekaguman yang disertai doa untuk sang kakek-nenek, dan kedua, kekaguman yang disertai doa untuk diri netizen sebagai implikasi balik dari kemuliaan pasangan kakek-nenek itu.

    Kategori pertama bisa dicontohkan dengan kalimat-kalimat ungkapan netizen berikut: “videonya cuma jalan, tapi gak tahu kenapa air mataku keluar” oleh pemilik akun bernama vadilla, serta “kok aku mewek sih, ya Allah berikan kesehatan untuk uti dan kakung aamiin” oleh akun greenbee10. Adapun kategori kedua bisa dicontohkan dengan ungkapan-ungkapan seperti berikut: “Bismillah Allahumma Sholli ala sayydina Muhammad ya Allah jadikan gambaran ini seperti aku sama isteriku suatu saat nanti waktu pas haji/umrah Amien ya rabbalalim” oleh pemilik akun bernama Master konteng. Juga ada “Masyaalah..aq nangis meliat ini..semoga aq dan suami biss seperti ini, aamin” oleh pemilik akun bernama chylaNada.

    Marshall McLuhan (1964), ahli komunikasi dari Kanada, melalui teorinya the media is the message menyatakan bahwa media komunikasi dan bukan pesan itu sendiri yang akan bisa mempengaruhi pemahaman dan kesadaran masyarakat. Melalui apa? Melalui kekuatan kontennya. Video termasuk bagian dari media. Dalam kasus video kakek-nenek jemaah haji lansia di atas, keberadaannya juga bisa menumbuhkan pemahaman tentang kesetiaan hidup suami-isteri. Juga, video itu bisa menyulut kesadaran baru tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan berdua suami-isteri melalui kesetiaan sejati. Bahkan, doa pun mengalir untuk kebaikan diri mereka sendiri yang melihatnya.

    Kalau netizen saja bisa meneteskan air mata saat melihat bagaimana jemaah haji lansia menjalani rangkaian kegiatan ibadah haji, apalagi para petugas haji Indonesia yang memang melakukan pelayanan langsung di lapangan. Mereka memang ditugaskan untuk semata-mata memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Termasuk di antaranya kategori lansia. Tentu emosi, pikiran, perasaan, batin dan jiwa menyatu dalam nafas para petugas pelayanan haji itu.

    Lihatlah perempuan petugas haji yang memberikan testimoni pada kegiatan malam khidmat bertajuk Menteri Menyapa dan Mengapresiasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji 1445 H/2024 M Arab Saudi di Makkah. Namanya Siti Qomala Hayati. Acara itu sendiri dilaksanakan di Hotel Wehda Mutammayez (602) pada Hari Rabu (19/06/2024). Perempuan petugas haji itu diminta tampil untuk memberikan testimoni di hadapan Menteri Agama RI dan seluruh anggota amirul hajj, mustasyar dini dan seluruh petugas haji Indonesia di Arab Saudi.

    Dalam testimoninya, Qomala Hayati itu bilang: “Kami mandikan beliau. Kami gantikan pampersnya. Kami suapin. Kami gendong. Padahal kami tidak pernah kenal sebelumnya pada ibu jemaah haji yang kami layani itu.” Suasana pun hening. Terhanyut oleh kata-kata bijak untuk melukiskan praktik mulia oleh para petugas perempuan haji Indonesia. Sangat heart-touching. Menyentuh hati. Air mata pun membasahi pipi. Sambil tak sanggup menahan makin derasnya air mata yang terus mengaliri. Sesenggukan pun juga tak kuasa untuk terkendali.

    Testimoni Qomala Hayati di atas melengkapi testimoni sebelumnya yang disampaikan oleh petugas laki-laki haji Indonesia. Substansinya kurang lebih sama. Tapi, yang disampaikan Qomala Hayati itu lebih menyentuh hati dan jiwa. Bahkan menyayat nurani bersama. Karena perempuan petugas haji itu mampu melukiskan situasi layanan itu dengan contohnya. Konkret pula. Mulai dari menggantikan popok, memandikan hingga menyuapi. Ditambah dengan tangis yang tak kuasa dia tahan, seperti dijelaskan sebelumnya.

    Semua pun lantas merespon kagum tetsimoni Qomala Hayati itu. Mulai dari Habib Hilal dari PBNU, Buya Anwar Abbas dari MUI, hingga bahkan Mengerti Agama RI sendiri. Semua dalam kata dengan suara dan tone yang sama: tak mampu menilai kemuliaan yang sudah diberikan oleh para petugas haji Indonesia kepada seluruh jemaah haji. Termasuk dan utamanya adalah lansia. Maka, suksesnya jemaah haji lansia dalam beribadah haji tidak bisa dipisahkan dari kemuliaan layanan yang telah dilakukan oleh petugas haji.

    Netizen memang jauh dari praktik layanan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Tapi, hati mereka diikat secara sama dan satu oleh nilai kemanusiaan yang tumbuh dalam layanan haji lansia. Begitu pula para petugas haji. Maka, jauh dan dekat kini hanya soal jarak fisik. Namun, kemanusiaan mengikat dan menyatukan beda jarak itu ke dalam satu detak nafas yang sama. Layanan jemaah haji lansia menjadi pemantiknya. Bentuk dan kata kuncinya adalah, melayani ibadah itu sekaligus melayani kemanusiaan.

    Akh. Muzakki
    Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya
    Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Haji 2024

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Memperbanyak Ibadah Atau Mempermulia Akhlak?



    Jakarta

    Tak sedikit orang yang berusaha bangun tengah malam demi tahajjud. Boleh jadi kebanyakan bermaksud agar hajadnya terpenuhi. Benar kan sesuai dengan namanya tahajjud. Salah satu upaya untuk diperkenankan hajad?

    Atau tidak kurang jumlahnya Muslim yang merutinkan puasa Senin-Kamis mengikuti sunnah Rasul. Boleh jadi sebagian bermaksud agar setiap keinginannya lekas tergapai.

    Juga sekian banyak orang berulang umrah dan berhaji ke tanah suci Makkah. Bila dilakukan jajak pendapat, boleh jadi sebagiannya bermaksud menambah kaya dan lekas memperoleh jawaban doa sesuai keinginan.


    Di sebagian yang lain, mereka belum rajin shalat malam, tidak juga merutinkan puasa Senen-Kamis. Mereka juga berpendapat bahwa berhaji kan hanya wajib satu kali ke Makkah? Kalau dihitung rakaat shalatnya, di dalam setiap harinya, mereka termasuk yang pas-pas san. Hanya cukup shalat wajib yang 17 rakaat itu. Dluhur, ashar, isya masing-masing empat rakaat. Maghrib tiga rakaat, dan shubuh dua rakaat. Cukup!

    Beberapa di antara mereka belum memiliki pekerjaan sehari-hari yang pasti. Seperti menjadi pegawai negeri, pegawai swasta, atau usaha yang jelas. Tidak. Bisa jadi mereka tergolong kepada kelompok pengangguran. Atau pekerja serabutan.

    Tetapi tunggu dulu. Apakah dengan begitu lalu mereka hidupnya di bawah ambang batas normal. Maksudnya menderita. Oh tidak, bahkan kehidupan ekonominya bisa terbilang cukup, sebagian lebih dari rata-rata.

    Lalu apa sebenarnya yang mereka lakukan? Mereka senantiasa menyiapkan diri untuk membantu orang lain yang memerlukan. Mereka sangat senang membantu orang lain dan tanpa mengharapkan balasan. Pekertinya santun, tidak sombong. Tidak mau membicarakan keburukan orang lain. Di kala orang lain mengajaknya berbicara aib orang, sambil tersenyum dirinya dengan sopan mengalihkan pembicaraan kepada topik yang berbeda. Berupaya kuat untuk menghindari ghibah.

    Karena membicarakan keburukan orang lain sedangkan orang yang dibicarakan tidak mengetahuinya itulah ghibah. Itu termasuk dosa besar yang membuat pahala amal shaleh terhapus, menjadikan pintu rizki tertutup, membuat hidup menjadi suram, gelisah, uring-uringan. Ghibah mengantar seseorang menjadi bertambah sombong karena dia mengira dirinya lebih baik dari yang di-ghibah. Bukannya tidak mungkin orang akan meng-ghibah orang lain jika dirinya tidak merasa lebih baik? Bukankah merasa lebih baik dari orang lain itulah sombong betulan? Sedangkan sikap sombong berarti mengajak saingan kepada Tuhan. Bagaimana orang seperti itu memperoleh kemudahan pertolongan Tuhan.

    Orang yang belum rajin shalat malam tadi, tidak juga rajin puasa Senin-Kamis, dan menganggap berhaji hanya wajib sekali seumur hidup rupanya punya prinsip kuat dalam hidupnya. Apa itu?

    Dia pantang menyakiti orang lain, misalnya dengan ber-ghibah. Mengapa? Karena menurutnya ber-ghibah sangat menyakiti orang yang di-ghibah. Bukankah menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri? Itu pertanyaan yang dimajukannya sementara dia bukan bermaksud mengajari.

    Selanjutnya, dirinya menyiapkan diri, senang membantu orang lain siapa pun, dengan senang hati. Dengan tulus. Baik yang dibantu dari kalangan berada atau yang kurang mampu. Sama saja. Karena menurutnya membantu adalah menebar kebaikan. Sedangkan kebaikan itu pasti kembali, pasti. Tidak tahu dari mana dan bagaimana caranya. Yang penting pasti kembali kepada pemilik kebaikan itu, kapan dan di mana pun. Terutama pada saat-saat dia membutuhkannya.

    Ketika ditanya kebaikan apa yang paling didahulukannya. Ia menjawab bakti kepada orang tua. Baik di kala hidup sampai pun sudah wafat. Menziarahi kuburnya, mengamalkan apa yang menjadi wasiatnya. Melanjutkan amalan shaleh yang disenangi orang tuanya. Terus melanjutkan amalan yang memang dianjurkan orang tuanya untuk dilakukan.

    Tampak kehidupan dunianya nyaman. Keadaan ekonomi mereka di atas rata-rata. Fisiknya jarang sakit, bahkan tampilannya awet muda. Berbeda tajam dengan tetangga di sebelah rumahnya yang sudah keriput dan wajah benar-benar di usia kakek-kakek renta. Padahal selisih usiaya hanya terpaut satu tahun. Dia yang seolah tidak berubah tampilannya sejak belasan tahun silam. Sedangkan tetangga sebelah rumah berwajah keriput dan tampak renta.

    Maklum, walau tetangga sebelah rumah rajin tahajjud, rajin baca alQuran, tapi emosinya sulit dikendalikan.
    Sedangkan tetangga yang belum rajin tadi, bicara dan sikapnya santun, menghindari menyakiti orang lain, rajin membantu dengan senang dan tulus. Wajahnya senantiasa bertaut senyum. Dia mengutamakan berbakti, berbuat baik kepada orang tua daripada selainnya. Bakti kepada orang tua di kala mereka masih hidup bahkan sampai di wafatnya.

    Sekelumit pemandangan di dunia nyata. Tentang dua orang yang melalui jalan yang belum persis sama. Satu ahli ibadah yang belum berakhlak mulia. Satu lagi akhlaknya sungguh mulia walau ibadahya pas-pas san.

    Dan ternyata yang berakhlak sempurna menikmati kehidupan dunia ini dengan tenang, nyaman, awet muda, jarang sakit dan kehidupan ekonomi yang di atas rata-rata, maksudnya kaya.

    Lalu siapakah kita-kita ini? Termasuk yang rajin beribadah tapi berakhlak kurang mulia. Atau sudah berakhlak mulia walau ibadahnya hanya cukup bersahaja. Ibarat ibadah banyak tapi belum berakhlak mulia seperti menghias kulit lupa isi. Sedangkan yang akhlaknya mulia walau ibadahnya bersahaja seperti memilih isi walau kulit sepertinya biasa saja.

    Memang apa pun ibadah yang dilakukan, bukankah satu tujuan utamanya adalah demi mencapai akhlak mulia?

    Jadi, orang yang telah menggapai akhlak mulia sebenarnya dia telah menggapai tujuan beragama. Dia telah memperoleh hasil sempurna dari ibadahnya. Ibadah sederhana saja pada orang itu akhlaknya sudah mulia apalagi ibadahnya lebih sempurna?
    Sedangkan tipe yang satunya, ibadahnya yang luar biasa itu saja belum mampu mengoreksi akhlaknya ke peringkat mulia apalagi malas beribadah. Bukankah malah bahaya?

    Untuk itu, hayo kita niatkan setiap amal ibadah kita untuk menggapai sempurnanya akhlak mulia. Santun dalam bersikap, mendahulukan bakti kepada orang tua, pantang menyakiti siapa pun dan siap menolong siapa pun dengan pertolongan terbaik dalam suasana senang dan rela. Serta ikhlas karenaNya semata. Pasti dunia ini serasa surga.
    Semoga setiap kita mau dan bisa!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Seorang Nasrani untuk Tim PPIH Jelang Wukuf di Arafah



    Jakarta

    Hari ini, adalah Jum’at (14/6) terakhir menjelang detik-detik memasuki waktu wukuf di Padang Arafah. Waktu yang ditunggu-tunggu para jemaah haji dan seluruh umat Islam di dunia. Wukuf di Arafah menjadi penanda syara’ bahwa seorang calon haji akan secara formal telah diakui oleh syariat bahwa ia telah menunaikan ibadah haji.

    Sedang bagi umat Islam di luar kawasan Arafah, wukuf adalah penanda telah masuknya waktu untuk puasa Arafah. Puasa sunnah yang sangat dianjurkan.

    Setelah sekian jam, sekiah hari, sekian minggu, sekian bulan dan sekian tahun menunggu, Padang Arafah akhirnya akan benar-benar menjadi Padang Kurusetra antara suara hati dan suara hawa nafsu.


    Di Padang ini jemaah akan berhadap-hadapan dengan Tuhan Yangmaha Perkasa. Menghadap untuk mengakui segala alpa, lalai, lupa, abai, maksiat, pengkhianatan atas janji suci, perlawanan kepada Tuhan dengan prilaku buruk dan menyimpang dari-Nya.

    Mengakui segala kekurangan, semua keburukan yang telah disembunyikan dari manusia, segala keculasan yang disimpan di pojok-pojok hati supaya terhindari dari pandangan orang lain.

    Seluruh dendam, dengki, hasud, fitnah, tamak, serakah, kejam, tega hati, hati sulit tersentuh, sukar jatuh iba, gampang berkata kasar, ringan tangan, gemar merampas hak orang lain, suka menutup akses pihak lain dan semua jenis kejahatan lain.

    Kini Mari Wukuf!

    Setelah mengisi jiwa dengan hal-hal buruk; senang jika tetangga gagal dalam pekerjaan, senang jika teman sekantor dapat surat peringatan, senang jika bisa mengakali komitmen dengan rekan bisnis, senang jika bisa melanggar janji.

    Senang jika melihat mobil tetangga mogok, senang jika tetangga masuk rumah sakit, senang jika dapat memotong karir kawan seiring, senang jika sukses menfitnah sesama jemaah masjid, senang jika mendengar tetangga kena PHK. Senang jika manusia lain melarat.

    Kini Saatnya Wukuf!

    Wukuf, antara lain bermakna “berhenti”. Berjanji di Tanah Arafah. Apa gerangan Arafah? Ia berarti “mengetahui atau menyadari”. Setelah mengetahui semua keburukan. Setelah mengakui semua pengkhiatan diri di hadapan Allah, kini tiba saatnya berhenti.

    Setelah mengetahui bahwa selama ini kita mengabaikan hak-hak orang tua, hak-hak suami/isteri, hak-hak anak-anak, hak-hak sanak kadang, hak-hak sahabat, hak-hak tetangga, dan hak-hak semua anak Adam, marilah wukuf di Arafah.

    Mari berhenti!

    Jangan mengulangi dan melakukan semua kejahatan itu lagi. Kini kita dan para jemaah sedang berhenti di hadapan Dia Yangmaha Apa Saja. Setelah mengakui itu semua, di Padang Kurusetra ini, kita memohon kepada Allah agar di sisa-sisa usia yang teramat pendek ini, Allah berkenan membekali kita senjata pamungkas.

    Senjata yang akan jadi pelindung diri dalam menaklukkan pasukan dan tentara hawa nafsu yang telah membuat kita terjatuh ke jurang kenistaan. Lubang tanpa dasar.

    Jika usia masih tersisa di Padang Arafah, mari memohon kepada Allah, di atas tanah yang tandus, gersang, dan di bawah langit yang membentang tiada terbatas, dalam pelukan sinar matahari yang menyengat dan membakar kulit, di tengah gelombang suara tangisan para jemaah haji yang sekarat.

    Di bawah tatapan mata para malaikat yang menyaksikan dari tempat-tempat tak terlihat mata, semoga Allah ampuni kita dan menghapus semua dosa akibat segala maksiat.

    Memohon agar di sisa usia kita, kita akan selalu tawaf, mengelilingi Rumah Tuhan, Baitullah. Selalu berada di orbit dan lintasan orang-orang suci seperti para Nabi, para shiddiqin, para syuhada dan para kekasih Allah SWT.

    Memohon agar sisa usia kita menjadi usia berkah, usia yang kita perbantukan untuk orang-orang yang membutuhkan. Untuk semua orang yang selama ini kita sakiti, sengaja atau tidak.

    Usia yang kita donasikan untuk ikut mengantar semua anak manusia menuju gerbang keridhaan Allah. Gerbang yang akan dilewati manusia-manusia suci. Para pemuja Allah dalam kesendirian atau dalam alam malam.

    *****

    Di tengah munculnya gugatan doa lintas iman yang tengah mencuat di Tanah Air, seorang Nasrani, berkirim doa untuk para Petugas Penyelenggaran Ibadah Haji (PPIH). Namanya Hein Izac Hetaria. Dia dan keluarga tinggal di sebuah komplek perumahan sangat sederhana (rss) di desa Pasirangin, Cileungsi. Asal Ambon.

    Doa yang dia kirim via layanan chating Whatsapps. Doa diawali dan ditujukan kepada saya pribadi dan keluarga. Tapi lantas berkembang. Doanya untuk semua tim petugas haji Indonesia.

    Doa dan harapan baik Mas Hein Hetaria di detik-detik menjelang wukuf, laksana halilintar di siang bolong. Datang dari belahan angkasa yang terik, menyelinap di sela-sela aksi penolakan kegiatan saling doa di antara umat manusia dengan dalih menciderai nilai-nilai luhur agama.

    Doa Hein Hetaria untuk para petugas haji Indonesia, adakah yang tega dan sampai hati menilainya telah mengganggu kesucian Tuhan dan keluhuran agama. Entah kenapa, suara hati saya menjawab doa itu dengan kata milik alam semesta : AAMIIN…

    Mas Hein! Terima kasih telah menyentuh hatiku di saat diri sedang rapuh, jiwa sedang berguncang, menunggu saat-saat dan waktu perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam.

    *****

    Setelah arafah mari wukuf.

    Ishaq Zubaedi Raqib adalah Petugas Haji PPIH Arab Saudi.

    (hnh/hnh)



    Sumber : www.detik.com