Tag: hikmah

  • Menuju Arafah, KepadaNya Kita Berpasrah



    Jakarta

    Ramai menjadi bahan perbincangan. Di sebuah group WhatsApp masyarakat terpandang. Terpandang dari tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat pemahan agama. Maklum, para mereka golongan masyarakat yang strata pendidikannya memerlukan kualitas logika yang menantang.

    “Kalau saya lebih baik duit digunakan untuk membantu masyarakat Palestina, atau masyarakat kurang mampu yang masih membutuhkan”, ujar salah seorang mengomentari anggota group yang berulang ke tanah haram. “Daripada mengunjungi tanah haram berulang-ulang. Bukankah kewajiban haji hanya sekali seumur hidup?” lanjutnya meminta persetujuan para anggota group sekalian.

    “Ia, padahal masyarakat kita masih banyak yang membutuhkan. Bukankah uang segitu banyak, lumayan untuk memberi para mereka makan. Menutup berbagai kebutuhan?” sambut yang lain.


    Rupanya yang ditujukan kepadanya komentar tak beranjak dari diam. Ia seolah pasrah dijadikan pesakitan. Menundukkan pandangan. Terus fokus memohon ridlo Tuhan. Agar ibadahnya bisa terus mudah, lancar. Tak bermaksud menuai pujian. Juga tidak menghindar dari olokan teman.

    Satu, dua, tiga, lagi dan lagi. Kok bisa? Sekian banyak sudah komentar para kawan agar menggeser saja dana untuk ibadah ke tanah haram untuk membantu saudara-saudara di Palestina. Atau untuk kemanfaatan yang lebih besar. Di

    dalam negeri kan lebih utama. Terlebih bagi keluarga dekat, tetangga, para masyarakat yang terhadap kebutuhan masih sangat berminat.

    Logika simple yang sederhananya harus dibenarkan. Tapi eh tunggu dulu. Coba kita simak pengalaman salah seorang jemaah. Begini kisahnya.

    Ia merasa berulang terheran-heran. Mengapa dirinya sering memandang dari arah belakang. Terhadap sekian orang dalam sekian kali pengamatan. Orang-orang yang tidak asing karena menggunakan atribut merah putih. Masyarakat negara asalnya. Bukan negara tetangga.

    Terlihat padanya, entah di ujung escalator, entah selama berjalan menuju lokasi shalat di dalam masjid. Entah juga di beberapa lokasi yang padat lalu-lalang orang.
    Tak sengaja dilihatnya tangan-tangan mereka lincah menyampaikan uang real. Yang terbanyak receh 10an real. Konversi rupiahnya hampir 50 ribuan.

    Mereka sisipkan kepada cleaning service, atau kepada siapa pun yang mereka pandang berpeluang memperoleh sumbangan pendapatan.
    Baju sederhana, tampilan bukan orang berada, tapi soal menyodorkan uang, mereka tidak kesulitan.

    Timbul gumam dalam hatinya. Jangan-jangan para jemaah yang seperti ini yang sering berulang beribadah ke tanah haram. Kedermawanannyakah yang mengantar mereka berpeluang datang berulang-ulang. Ke Madinah, Makkah,

    Arafah dan Mina? Boleh jadi ibadah bagi-bagi uang, sambil sembunyi tangan itu. Merupakan bukti mereka benar-benar rajin sembahyang. Betapa tidak, bukankah shalat, atau sembahyang harus menghasilkan bukti jiwa yang gemar menyenangkan orang di jalan Tuhan?

    Kepo atas kedermawanan orang. Ia mendekatinya dengan sopan, sambil bertanya. Tentang apa yang telah diperhatikannya sejak tadi.
    Alhamdulillah, kepo-nya ternyata bisa dibuang. Ketika yang ditanya berkenan menerangkan.
    Bahwa, upaya untuk menghadirkan kedermawanan. Memang sudah diniatkannya sejak dari tanah air. Semenjak dirinya meniatkan untuk memenuhi undangan Tuhan.

    Uang yang dia bagikan itu, adalah bagian yang akan ditebarkannya di tanah haram.
    Untuk di Indonesia. Hasil usahanya dibaginya begini. Separuh lebih untuk berbagai keperluan di jalan Tuhan. Membantu saudara, kerabat, tetangga, yatim, piatu, orang-orang miskin, dan kegiatan yang semacam. Selebihnya ia kumpulkan untuk keperluan keluarganya. Sebagian dari itu diupayakannya untuk menghadirkan dirinya, saudara-saudarannya, karyawannya, bahkan tetangganya, beribadah ke tanah haram. Makkah dan Madinah.

    Oh, ternyata dia bukan orang yang seringkali disangka tak memiliki perhatian. Terhadap kepentingan orang-orang yang membutuhkan.

    Ia meneruskan lamunan bayangnya sambil menyimpan kekaguman mendalam.”

    Duhai saudaraku yang sama memiliki pandangan. Boleh jadi karena kegigihannya membelanjakan uang di jalan Tuhan. Yang Maha Pemurah mengundangnya berulang ke tanah haram. Dengan gampang.
    Bukankah ini satu pilihan dalam memandang kawan yang berulang beribadah di tanah haram?

    Boleh jadi sejak sekarang, mari kita kembangkan. Perilaku dermawan yang tak perlu dipublikasikan. Agar para kita pun sama berpeluang. Mudah menunaikan ibadah ke tanah haram. Sedang Tuhan terus melimpahkan ridloNya kepada setiap kita. Karena semuanya berpacu di dalam kebaikan.

    Rabb, hari Arafah ini dekat. Hanya kepada Engkau kami berpasrah dan memohon selamat. Jauhkan kami dari simpulan yang belum tentu tepat.

    Semoga setiap siapa pun yang beribadah haji di tahun 1445 H. ini, mampu menempuh Jalan Cerah Menuju Arafah. Memperoleh predikat haji mabrur di dalam ridloi Allah SWT., aamiin.

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Berkurban, Hidup Lebih Dekat Kepada Tuhan



    Jakarta

    Nenek viral

    Viral sudah di berbagai laman media sosial. Di Media Televisi maupun laman YouTube. Kisah para pecinta, perindu hari raya kurban. Sementara mereka bukan orang yang memiliki uang dengan gampang. Tetapi melalui perjuangan berdurasi panjang. Tahunan. Hanya demi seekor kambing untuk dijadikan sembelihan, sebagai ibadah di hari raya kurban.

    Salah satunya adalah nenek pemulung, di suatu kota di pinggiran jalan. Datang membawa cucunya ke penjualan hewan kurban. Di tepian jalanan daerah perkotaan.


    Sampai pada salah satu kumpulan kambing yang dijual untuk kurban. Nenek dan cucunya mulai menebar tatapan, meluaskan pandangan. Demi menjuruskan pandangan ke seekor kambing yang sesuai dengan sejumlah uang yang ada di tangan.

    Lama ragu akan kecukupan jumlahnya uang. Nenek bertanya kepada penjual kambing. Berapaan harga kambing yang di seluruh kandang ini. Penjual pun menuturkan variasi harga. Mulai dari yang kisaran harga murah, sampai harga paling larang.

    Kembali nenek tak putus harapan. Ia menanyakan harga yang paling rendah dari seluruh isi kandang. Si penjual mematok harga pas, dua juta rupiah. Harga seekor kambing termurah yang dia jual.

    Memancar rasa puas di raut wajah nenek. Wajah keriput beralaskan tulang. Akibat tahunan memaparkan diri. Pada sinar terang matahari si setiap tepian jalanan.

    Sadar akan tabungannya yang sesuai harga jual. Asa-nya bagai terdongkrak terbang. Harapan untuk mendapat hewan kurban sempurna menjadi kenyataan. Uang tabungan pas sama dengan penawaran sang penjual hewan kurban. Dua juta rupiah.

    Sontak nenek itu menyetujuinya. Dompetnya besar. Maklum dari kantong plastik, mungkin hasil memungut bekas orang membuang.

    Sambil gugup penuh haru penjual kambing menghitung sejumlah banyak uang. Ada seribuan, dua ribuan, selebihnya uang recehan.
    Sampai pada koin terakhir, fantastis. Nilai uang itu ternyata pas dua juta rupiah.

    Sambil merinding menahan haru. Penjual hewan kurban pergi menuju lokasi kambing yang besar. Harganya empat juta. Sembari dia mengantarnya kepada nenek dan cucunya. Sang nenek tak lagi dapat menahan bungah yang berkelimpahan. Dipeluk dan diciumnya kambing itu berulang-ulang.

    Tak terhitung berapa kali kalimat syukur yang ia bilang. Kepada penjual kambing terlebih kepada Tuhan. Lalu ia berlalu bersama cucunya mengantarnya ke panitia hewan kurban.

    Sikap, Kuat Ikat Harta
    Sudah jamak di semua pendapat. Bahwa terhadap harta manusia kuat mengikat. Pasti kecuali mereka yang selamat.

    Karena cinta kepadaNya, menariknya kepada nikmat yang teramat sangat. Kebahagiaan dan kesenangan dunia-akhirat.

    Ketika keuangan masih merambat. Ada saja alasan yang menghambat untuk biaya kurban. Padahal kelimpahan rahmatNya memikat.

    Masih jelas terngiang tausiyah Bapak Kiyai. Yang sering memberi ingat. Bahwa berkurban di hari raya Ied Adha adalah ibadah yang mengundang nikmat. Nikmat dunia akhirat.

    Seluruh upaya untuk berkurban, secara detail semuanya dihitung Tuhan. Setidaknya, akan menjadi alasan Tuhan untuk menganugerahkan pahala bagi yang melaksanakan. Pahala antara lain berupa kehidupan yang lebih lapang, nyaman, bahagia sejahtera penuh harapan, agar hidup selalu senang.

    Duh, kalau melihat hitungan balasan pahala berkurban. Jejak kaki hewan kurban diperhitungkan. Makanan yang dimakan. Daging, darah, tulang, kulit, bahkan setiap jumlah bulu hewan kurban pun diperhitungkan. Demikian Maha Sempurna Tuhan yang Maha Raja di Hari Pembalasan.

    Kaya Dunia, Kaya Jiwa
    Kekayaan, biasa digambarkan dengan rumah mewah berhalaman lapang. Merk kendaraan tak banyak dipunyai orang. Butiran berlian asli yang menyilaukan. Jam tangan miliaran, tas-tas koleksi disainer terpandang. Semuanya mengundang mata dunia tak bosan menyapu pandang. Boleh jadi mengundang impian semua orang.

    Di sisi lain, hati mulia dermawan demi orang lain. Apalagi dirinya sangat kesulitan. Dipastikan dia memiliki kualitas jiwa yang tak mudah ditandingkan.

    Apalagi, itu dibuktikannya di ‘depan’ Tuhan. Melalui disembelihnya hewan kurban. Hasil mengumpulkan uang sebilang-demi sebilang. Pastilah bukan hal yang gampang.

    Sudahkah kita menyiapkan kurban untuk lebaran menjelang? Allaahumma seluruhkan cinta di hati ini hanya kepada Engkau. Ikhlash-kan setiap kami untuk menghaturkan hewan kurban. Di hari lebaran 10, 11, 12, 13 Zulhijjah, 1445 H.

    Bukti asli kedekatan hamba (kami) kepada Tuhan, aamiin.

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Berkurban, Bukti Cintai Dia, Sudahkah Kita?



    Jakarta

    Syair Cinta

    “Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga!
    Hai begitulah kata para pujangga”. Itu sebagian lirik lagu cinta.
    Betapa indah hidup berderai cinta. Hidup bagai di taman bunga. Hati selalu bahagia seolah memiliki segala. Selamanya! Siapa suka?

    Jangan pernah katakan cinta. Kepada siapa saja. Jika belum ada buktinya. Cintakah kita kepadaNya. Sudahkah membuktikannya?


    Kisah Nabi Ibrahim as.
    Adalah beliau Ibrahim as. menyembelih ratusan ekor unta dan ribuan ekor domba. Beliau terkenal sangat dermawan. Atas kebiasaannya itu ada yang berujar, “Jumlah fantastis untuk ukuran sedekah ya Ibrahim”.

    “Jangankan sedekah unta dan domba untuk mendekat kepada Allah, anak pun kalau ada aku sembelih, jika Allah perintahkan,” ujar beliau spontan.
    Beliau a.s, belum dikarunia keturunan ketika itu.

    Tiba masanya Nabi Ibrahim as. memperoleh anugerahNya. Seorang anak laki yang sangat shaleh. Akhlaknya sangat mulai. Wajahnya menuai haru bangga. Tampan tak ada dua. Bagi Ibrahim as. pastilah nikmat anugerahnya ini melebihi segala hartanya. Tak kan ada satu pun orang tua yang tidak menginginkannya. Bahkan di seluruh dunia!

    Namanya Isma’il. Anak ini tumbuh menuju remaja. Ibrahim dan Hajar as. sungguh sangat bahagia.
    Seketika perintah Allah pun tiba. “Sembelih anakmu!”. PerintahNya dalam mimpi.

    Dalam ragunya Ibrahim as. menduga. Itu bukan perintahNya. Sekedar mimpi saja.
    Berikutnya Ibrahim bermimpi pula. Mimpi yang kedua. Mimpi itu pun ditepisnya karena sementara itu logikanya masih menduga mimpi biasa.
    Namun, setelah yang ketiga. Kali ini Ibrahim mengerti bahwa mimpinya adalah wahyuNya semata.

    Dikuatkan seluruh dayanya untuk melakukan titahNya. Menata diri untuk sempurna ikhlash melakukannya. Sambil terus menjauhkan tipu daya iblis. Makhluk itu berusaha terus memperdayainya, memperdaya istrinya, memperdaya putranya, Ismai’l.

    Berulang lemparan batu menjauhkan si penggoda. Berlambang jumratul ulaa, wustha, dan ‘aqabah pada ibadah haji di hari raya Iedul Adha.

    Ibrahim, Hajar, Isma’il as. selamat dari tipudaya penggoda. Isma’il as. Allah ganti dengan seekor domba. Ibrahim pantas memperoleh cintaNya. Ia berkurban, seorang putra yang nilainya luar biasa, demi cintaNya semata. Adakah kurban kita memiripinya?
    Ibrahim khalilullah, Ibrahim sang kekasih Allah. Cintanya memang berbukti nyata.

    Buktikan cinta kita!
    “Aku jatuh cinta
    Walau berat jalanku tertahan
    Aku tak ingin berhenti
    BersamaMu, aku bahagia
    Aku jatuh cinta”.
    Cinta dalam untaian lirik lagu. Semoga menjadi senandung cinta seorang hamba kepadaNya semata.

    Ketika ahli surga ditanya kekurangannya apa. Tak satu pun mereka bicara tentang yang masih kurang dirasa. Surga, lambang kebahagiaan tiada tara. Bahagia melampaui nikmatnya rasa cinta di dunia. Bahagia selama-lamanya. Hampir tak berhingga.

    Tahukah kita ketika Dia membuka tabir wajahNya. Seketika para ahli surga mendadak tak hirau akan setiap detail nikmat di dalamnya.
    Menatap wajahNya adalah cinta tak berhingga.
    Mari kita berkurban, buktikan kita memang iya, cinta kepadaNya!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Idul Adha sebagai Lompatan Spiritualitas, Refleksi Kemanusiaan



    Jakarta

    Idul Adha yang kita peringati tiap tahun, adalah limpahan keberkahan dan kegembiraan yang luar biasa. Meski, pada akar sejarahnya, Idul Adha diselimuti kesedihan dari proses pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail: kepasrahan dan ketundukan paripurna kepada Allah.

    Setiap tahun, kita merayakan Idul Adha dengan penuh kekhidmatan. Hari raya yang juga dikenal sebagai Hari Raya Haji ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi sebuah momen yang mengajarkan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Ibadah kurban yang menjadi inti dari Idul Adha bukan hanya tentang pengorbanan hewan, tetapi juga tentang pengorbanan diri untuk kebaikan sesama dan hubungan yang lebih erat dengan Sang Pencipta.

    Ibadah kurban mengajarkan kita untuk tidak hanya memperhatikan kebutuhan pribadi, tetapi juga kebutuhan orang lain di sekitar kita. Ketika seseorang memilih untuk berkurban, ia mengorbankan sebagian dari harta yang dimilikinya untuk diberikan kepada yang lebih membutuhkan. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya berbagi rezeki dan menjalin kepedulian sosial dalam masyarakat. Dalam konteks ini, Idul Adha tidak hanya menjadi momen untuk merayakan kebesaran Allah, tetapi juga untuk merenungkan bagaimana kita dapat berkontribusi lebih besar dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.


    Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha yang selalu kita peringati, akar sejarahnya tertaut dengan kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun, praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil.

    Dikisahkan bahwa kurban yang diterima adalah kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging atau darah yang Allah terima namun ketulusan hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 37:

    “Lan yanaala Allahu luhumuha walaa dimaauha walakin yanaaluhu at-taqwa minkum”.

    (Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya, QS Al-Hajj: 37).

    Menuju Puncak Spiritualitas

    Spiritualitas Idul Adha juga tercermin dalam kesiapan seseorang untuk mengorbankan yang dicintainya demi menaati perintah-Nya. Kisah Nabi Ibrahim yang siap untuk mengorbankan putranya, Ismail, atas perintah Allah, menunjukkan tingkat kepatuhan dan kepercayaan yang luar biasa. Meskipun pada akhirnya Allah menggantinya dengan seekor domba, peristiwa tersebut menegaskan pentingnya taat kepada-Nya bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Dalam kehidupan sehari-hari, kepatuhan seperti ini mengajarkan kita untuk menerima ujian dengan lapang dada dan menguatkan ikatan spiritual kita dengan Allah.

    Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Idul Adha mengajarkan bahwa cinta kepada Allah tidak hanya tercermin dalam doa-doa kita, tetapi juga dalam tindakan nyata untuk kebaikan umat manusia. Ibadah kurban memberi pelajaran tentang pentingnya menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap orang lain, terutama mereka yang kurang beruntung. Dengan berbagi rezeki melalui kurban, kita tidak hanya menghidupkan semangat gotong royong, tetapi juga meneguhkan ikatan sosial dan spiritual dalam komunitas.

    Namun, di balik keindahan dan kekhidmatan Idul Adha, terdapat tantangan-tantangan baru dalam menjalani ibadah tersebut di tengah dinamika masyarakat modern. Globalisasi dan perkembangan teknologi membawa perubahan signifikan dalam cara kita memahami dan melaksanakan ibadah ini.

    Lalu, bagaimana kita mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan konteks zaman now menjadi suatu pertanyaan yang penting. Penting untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan adaptasi dengan perkembangan zaman agar makna spiritualitas dari ibadah kurban tetap relevan dan bermakna dalam kehidupan kita sehari-hari.

    Selain itu, semangat pengorbanan dalam ibadah kurban juga dapat diartikan sebagai simbol perjuangan untuk mengatasi egoisme dan keserakahan dalam diri. Ketika seseorang rela mengorbankan bagian dari harta yang dimiliki untuk orang lain, itu adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai kemanusiaan masih kuat di dalamnya. Dalam konteks ini, Idul Adha mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya diperoleh dari kesenangan materi, tetapi juga dari kepuasan batin yang timbul dari rasa kasih sayang dan kedermawanan kepada sesama.

    Sebagai sebuah lompatan spiritualitas, Idul Adha mengundang kita untuk merenungkan makna kehidupan yang lebih dalam. Dalam berbagai aspeknya, ibadah kurban memberikan pelajaran berharga tentang keteguhan hati, rasa syukur, dan tanggung jawab sosial. Ia juga mengajarkan kita untuk selalu bersikap rendah hati dalam menghadapi kesulitan hidup, serta menumbuhkan semangat untuk saling menguatkan dalam komunitas.

    Idul Adha bukanlah sekadar hari raya yang diwarnai oleh tradisi dan kebiasaan belaka, tetapi lebih dari itu, ia adalah cerminan dari kekuatan spiritualitas yang mendalam dalam agama Islam. Dengan merayakan Idul Adha, kita menghormati warisan spiritual yang diberikan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail, serta meneguhkan komitmen untuk mengikuti jejak keteladanan mereka dalam menjalani kehidupan ini dengan penuh ketulusan dan keikhlasan.

    Menjadi Pribadi Paripurna: Berkorban dan Melayani Sesama

    Kita semua perlu merefleksikan, bahwa Idul Adha adalah momentum berharga untuk merayakan nilai-nilai ibadah kurban yang mengajarkan tentang pengorbanan, kepatuhan, empati, dan cinta kasih. Semangat spiritualitas yang tercermin dalam ibadah ini mengajak kita untuk terus meningkatkan kualitas kehidupan spiritual dan sosial kita, serta menjaga kebersamaan dan persatuan umat manusia di tengah dinamika perubahan zaman. Dengan demikian, mari kita sambut Idul Adha dengan hati yang lapang dan semangat yang membara untuk menjadikannya sebagai momen transformasi spiritual yang bermakna bagi kita semua.

    Puncak spiritualitas umat manusia sejatinya ketika kita berani dan mampu untuk berkorban: menyingkirkan emosi, egoisme, nafsu kekuasaan, hingga kerasukan atas harta. Untuk mendekati Nur Ilahi dan Nur Muhammad, manusia perlu membersihkan diri, mengorbankan nilai-niali negatif menuju pribadi yang punya Kompas moral, pribadi yang berkhidmah, melayani dan berbakti untuk sesama. Bahwa segala kekuasaan yang kita miliki, muaranya adalah untuk kebaikan umat manusia dan sebagai sarana beribadah kepada Allah. Inilah puncak dari spiritualitas: berkhidmah dan melayani kemanusiaan. (*).

    Dr. M. Hasan Chabibie

    Penulis adalah Kepala BKHM Kemendikbudristek; Penjabat Bupati Kudus-Jawa Tengah; Ketua Umum MATAN

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Inovasi Dalam Layanan dan Manasik Haji



    Jakarta

    Setiap tahun, Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas, selalu menghadirkan hal-hal baru dalam pelayanan kepada jemaah haji Indonesia. Makan tiga kali sehari selama tinggal di Makkah, merupakan kebijakan yang pertama kali diluncurkan pada dua tahun lalu. Sebelumnya, Jemaah haji hanya mendapatkan dua kali makan.

    Keputusan penting dalam hal konsumsi ini sangat membantu Jemaah. Mereka dapat fokus dalam hal ibadah dan tidak direpotkan dengan tetek bengek urusan perut. Beban logistik yang biasa memenuhi koper jemaah, secara signifikan terkurangi. Mereka cukup membawa lauk spesial tambahan saja, tanpa harus membawa beras, lauk pauk, dan peralatan masak. Resiko kebakaran akibat memasak di kamar hotel juga tidak terjadi.

    Tahun 2024, kebijakan konsumsi untuk jemaah kembali diperbaiki dan disempurnakan. Tahun lalu, dua hari sebelum dan tiga hari setelah puncak ibadah haji, jemaah haji tidak mendapatkan konsumsi karena faktor distribusi yang tidak mungkin dilakukan. Kota Makah sangat macet.


    Tahun ini, Jemaah haji mendapatkan konsumsi di tanggal 7 dan pagi hari di tanggal 8 Dzul Hijjah. Selebihnya mendapatkan konsumsi di Arafah. Begitu pula konsumsi pasca puncak haji, yaitu tanggal 12 siang dan malam serta tanggal 13 Dzul Hijjah pagi hari, Jemaah haji mendapatkan lauk dan atau makanan siap saji di hotel. Selebihnya, konsumsi regular untuk jemaah haji sudah dapat diberikan secara normal seperti biasa.

    Haji ramah lansia (HRL) menjadi prioritas haji 2023 dan tahun ini dilanjutkan dan disempurnakan. Fakta bertahun-tahun menyatakan lebih dari 30% jemaah lansia. Tentu saja ini bukan salah jemaah tetapi karena panjangnya antrian haji. Jemaah lansia memiliki Riwayat penyakit yang beragam dan tergolong jemaah dengan resiko tinggi (risti), termasuk tingkat kematian. HRL merupakan terobosan penting dalam pelayanan, pembinaan dan pelindungan jemaah dengan kategori khusus.

    Puluhan tahun, fakta ini dilihat sebagai given saja dan tidak mendapat perhatian yang serius. Dampak kebijakan HRL sangat signifikan dan diharapkan dapat mengurangi jumlah angka kematian. Kebijakan HRL ini juga dibarengi dengan kebijakan istitha’ah (kemampuan atau al-iradah al-muqtadhiyah lil qudrah) kesehatan yang diperketat. Screening kesehatan jemaah haji dilakukan sebanyak dua kali, setelah dinyatakan lolos baru dilakukan pelunasan biaya haji. Bukan sebaliknya, lunasi dulu baru screening kesehatan.

    Pada tahun yang sama, Menteri Agama RI juga gelisah dengan ekonomi haji yang sangat besar, namun kecil sekali yang kembali ke tanah air. Indonesia hanya mendapatkan sangat sedikit bagian dalam putaran uang yang nilainya puluhan triliun rupiah saat musim haji berlangsung.
    Maskapai penerbangaan nasional hanya sanggup melayani separuh dari total jemaah yang berangkat ke tanah suci. Hanya transportasi udara saja, yang mampu dikapitalisasi itupun tidak maksimal. Selebihnya, kita hanya menjadi konsumen dan bahkan penonton saja, mulai dari konsumsi dan bahan mentahnya, hingga transportasi, akomodasi dan berbagai kebutuhan haji lainnya.

    Menteri Agama RI melakukan banyak inisiatif dan pertemuan dengan kementerian dan pihak terkait untuk memastikan bahwa Indonesia harus mendapatkan manfaat ekonomi dalam setiap penyelenggaraan ibadah haji. Tahun ini, inisiatif itu mulai membuahkan hasil.

    Sekarang semua pengusaha katering di Saudi Arabia wajib menggunakan bumbu, makanan dan lauk siap saji yang didatangkan dari Indonesia. Di berbagai hotel di Makkah yang menjadi tempat menginap jemaah, tersedia makanan khas nusantara yang disediakan pengusaha Indonesia. Tentu saja masih sangat sedikit bagian dari ekonomi haji yang seharusnya dapat dimaksimalkan manfaatnya oleh pengusaha nasional. Ke depan, inisiatif ini harus dilanjutkan dan semestinya lebih baik lagi.

    Terobosan yang diambil oleh Menteri Agama RI juga menyentuh aspek petugas yang melayani Jemaah. Sejak tahun pertama penyelenggaraan haji di bawah Gusmen, ada nomenklatur baru dalam struktur PPIH untuk memperkuat layanan ibadah kepada jemaah. Struktur baru itu, ada yang disebut konsultan ibadah dan adapula musytasyar dini (penasihat keagamaan).

    Khusus musytastar dini, mereka terdiri dari para ahli agama (ulama) yang bertugas membuat analisis, memberikan arahan dan kajian serta rekomendasi terkait aspek ibadah dan manasik haji. Untuk kebutuhan internal dalam rangka mendisplinkan petugas, tahun 2024 ini juga dilahirkan istilah pengendalian petugas (dalgas).

    Kebijakan Murur

    Insiden Muzdalifah pada penyelenggaraan haji 2023 memberikan banyak pelajaran, khususnya pada manasik haji. Waktu itu, jemaah terlambat didorong ke Mina karena faktor kemacetan di Muzdalifa-Mina yang sangat parah. Paling akhir jam 8 pagi 10 Dzulhijjah, seharusnya semua jemaah sudah meninggalkan Muzdalifah. Tetapi kenyataannya, sebagian jemaah masih banyak yang tertinggal di sana, bahkan hingga siang hari. Padang Muzdalifah sangat panas dan tanpa tenda.
    Puncak haji yang dimulai dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan di Mina merupakan waktu dan situasi yang kritis (critical momentum), baik dari segi syariah maupun pelayanan kepada jemaah. Dibandingkan Arafah dan Mina, mabit di Muzdalifah memiliki critical point yang khas, utamanya soal sempitnya lahan dan fasilitas di Muzdalifah yang tidak ada apa-apa, kecuali toilet saja. Tidak ada tenda dan sangat panas, jika jemaah terlambat didorong ke Mina.

    Menurut hitungan Ditjen PHU Kemenag RI, luas lahan Muzdalifah untuk jemaah haji Indonesia (213.320 jemaah ditambah petugas 2.747 orang) hanya sekitar 82.350 m2. Itupun sekarang dikurangi untuk toilet seluas 20.000 m2. Praktis, perjemaah hanya mendapat 0,29 m2. Nyaris hanya cukup untuk menaruh pantat saja.
    Atas dasar ini, Menteri Agama RI mengeluarkan kebijakan murur di Muzdalifah untuk lansia, jemaah sakit atau risti dan penyandang disabilitas serta pendampingnya. Tentu saja, kebijakan ini dirilis setelah mendengar masukan dan pandangan fiqh dari para ulama, baik dari musytasyar diny maupun kalangan ormas Islam.

    Murur merupakan makharij fiqhiyyah dalam fikih manasik haji. Murur sesuai dengan prinsip maqashid al-syariah (tujuan ditetapkannya Syariat Islam), khususnya dalam menjaga jiwa jemaah (hifz al-nafs). Kebijakan murur baru saja dilaksanakan dalam penyelenggaraan haji 2024 ini. Dengan penuh syukur, pada pukul 07.34 WAS, seluruh jemaah sudah keluar dari Muzdalifah dan berada di Mina.

    Fiqh Alternatif

    Salah satu wajib haji adalah mabit (bermalam) di Muzdalifah. Sebagian ulama tidak menyebut mabit melainkan al-wujud (berada) di sana (al-Sayyid Muhammad, 2003: 63). Dua istilah ini, memiliki konsekuensi yang berbeda, setidaknya seperti terlihat dalam arti literalnya. Jemaah yang meninggalkan wajib haji, maka hajinya tetap sah namun wajib menyembelih dam.

    Di kalangan ulama mazhab, terdapat perbedaan pendapat tentang mabit di Muzdalifah. Menurut Imam Malik, Syafi’i dan Malik, hukum mabit di Muzdalifah adalah wajib. Menurut Imam Abu Hanifah dan salah satu pendapat ulama mazhab Syafi’i, mabit di Muzdalifah hukumnya sunnah. Bagi yang meninggalkannya, tidak memiliki konsekuensi hukum apa-apa. Bahkan siapapun boleh murur, apalagi yang sedang sakit, lansia atau penyandang disabilitas.
    Bagi ulama yang mewajibkan mabit di Muzdalifah, murur yang dilakukan oleh lansia, orang yang sakit atau risti, penyandang disabilitas dan pendamping merupakan rukhsah (keringanan) bagi mereka. Hajinya sah dan tidak dikenakan dam. Pendapat ulama musytasyar dini dan ulama ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, MUI, Persis dan lain-lain, membolehkan murur seperti di atas. Hal ini makin meyakinkan jemaah bahwa meskipun murur, haji mereka tetap sah dan tidak membayar dam.

    Pada masa depan, jika tidak ada perubahan yang signifikan di Muzdalifah, murur mungkin saja bukan hanya menjadi rukhsah (keringanan) bagi jemaah lansia, sakit dan ristis, penyandang disabilitas serta pendamping, tetapi dapat menjadi ‘azimah (hukum yang berlaku umum) dalam pelaksanaan manasik haji. Murur dapat menjadi fikih alternatif dan kini menjadi istilah baru dalam manasik haji yang lahir dari fukaha Indonesia. Murur selain hajinya sah juga menyelamatkan jemaah.

    Abu Rokhmad

    Penulis adalah Koordinator Tim Monev PPIH 2024
    Staf Ahli dan Plt. Dirjen Pendis Kemenag RI

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Dinamika dan Inovasi Pengelolaan Haji



    Jakarta

    Haji merupakan salah satu ibadah yang termasuk ke dalam Rukun Islam yang kelima. Salah satu syarat melaksanakan ibadah haji adalah sebuah kemampuan, baik secara finansial, fisik, dan mental. Meski dengan syarat tersebut, setiap tahun, jutaan jemaah haji berdatangan ke tanah suci Mekkah, Arab Saudi, untuk melaksanakan ibadah tahunan ini, yang hanya wajib dilakukan oleh seorang Muslim satu kali dalam seumur hidupnya.

    Pelaksanaan ibadah haji dikoordinir oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan pihak penyelenggara haji dari Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi. Pada tahun ini saya berkesempatan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci dan menyaksikan bagaimana panitia haji dari Kemenag RI begitu antusias, semangat, dan sukses dalam menjalankan tugasnya.

    Kesuksesan pelaksanaan haji ini terlihat dari berbagai hal, pertama, adalah controlling secara online. Era digital ini mensyaratkan kita untuk melakukan sesuatu yang bukan hanya dilaksanakan secara luring, namun juga -di waktu bersamaan- dilaksanakan dengan cara daring. Petugas haji Indonesia, melakukan kontrol terhadap banyak aspek dengan cara online. Sehingga kemudian di waktu yang bersamaan, jika terjadi masalah dapat langsung diselesaikan dengan cepat dan tepat.


    Kedua, petugas haji Indonesia melaksanakan pelayanan dengan prima dan sepenuh hati. Para petugas haji ini bekerja hampir 24 jam selama pelaksanaan ibadah haji. Mereka melaksanakan pendampingan, pengawasan, dan pelayanan kepada para jemaah haji asal Indonesia dengan telaten dan penuh tanggungjawab. Saya pikir, tidak ada negara lain yang memberikan pelayanan sebaik petugas haji Indonesia.

    Ketiga, pemenuhan gizi dan konsumsi yang memperhatikan cita rasa khas masakan Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama musim haji, Kemenag RI sebagai koordinator pelaksanaan haji, mengirim para koki yang ahli untuk menyiapkan menu makanan yang terbaik untuk para tamu Allah ini. Sehingga pemenuhan gizi tercukupi dan konsumsi sangat baik untuk dinikmati oleh para jemaah haji Indonesia.

    Keempat, negosiasi dan komunikasi yang ideal dilakukan Kemenag RI dengan Arab Saudi. Hubungan diplomasi antara Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi sudah terjalin cukup lama dan cukup baik. Apalagi Indonesia sebagai salah satu negara Muslim terbesar di dunia menjadi pengirim jemaah haji terbanyak ke Arab Saudi. Komunikasi yang baik dan negosiasi yang ekstra dilakukan oleh Kemenag RI dalam rangka pemenuhan dan penambahan kuota untuk jemaah haji Indonesia, sehingga kuota haji Indonesia cukup banyak untuk tahun ini.

    Kesuksesan ini dapat diraih dengan kepemimpinan Menteri Agama RI beserta jajarannya yang menyiapkan pelayanan haji jauh hari sebelum pelaksanaan ibadah haji. Kemenag RI melakukan monitoring dan evaluasi di akhir pelaksanaan ibadah haji tahun lalu sebagai acuan untuk pelaksanaan ibadah tahun ini, sehingga dapat meminimalisir kekurangan pada tahun lalu. Kesuksesan pelaksanaan tahun ini menjadi acuan untuk pelayanan lebih baik lagi pada tahun-tahun mendatang. Semoga!

    Penulis adalah Prof. Asep Saepudin Jahar, MA, Ph.D.

    (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Tiga Apresiasi Manajemen Haji Saudi



    Jakarta

    Ibadah haji bagi saya merupakan even terbesar di dunia. Sebab ibadah ini diikuti oleh sekitar dua juta Jemaah dari mancanegara. Even sekelas Olimpiade atau Piala Dunia pun rasanya tak sebesar ini jumlah pesertanya. Karena itu saya sangat terkesan mengikuti rangkaian ibadah ini:

    Pertama dari sisi Kerajaan Saudi. Mereka benar benar telah berupaya keras meningkatkan pelayanan kepada Jemaah. Dengan digitalisasi (Nusuk), smart card. Kartu ini fungsinya antara lain menscreening Jemaah yang tidak punya visa haji agar tak bisa masuk ke Mekkah, khususnya saat wukuf di Arafah yang areanya memang terbatas.

    Kedua adalah crowd management yang luar biasa dijalankan aparat di lapangan mulai askar, polisi, hingga tentara dan pasukan khusus. Terutama saat di Masjidil Haram, bagaimana mereka mengatur Jemaah untuk mengisi ruang-ruang di sekeliling masjid tanpa harus terjadi gesekan antar Jemaah yang sangat mungkin menimbulkan korban. Begitu pun sebaliknya usai pelaksanaan ibadah atau salat dan rukun haji/umrah dilaksanakan agar tidak terjadi crash antar Jemaah.


    Petugas di lapangan menyiapkan barikade untuk membuka-tutup akses masuk-keluar masjid. Mereka sangat disiplin dan tegas menerapkannya, tak bisa dinego oleh Jemaah yang ingin mengambil jalan pintas. Dengan sistem buka-tutup jalur atau Traffic Management yang luar biasa ini juga demi kebaikan Jemaah, meskipun sebagian yang tak paham semula akan nggerundel, kecewa, marah.

    Ketiga terkait Safety Management. Aparat keamanan bahu-membahu dengan petugas kesehatan dan para petugas haji. Di berbagai tempat banyak sekali petugas emergency (petugas kesehatan maupun polisi). Hal ini karena selain begitu banyaknya orang, juga cuaca panas yang eksterm. Ketika Wukuf di Arafah suhu hampir mencapai 50 derajat Celsius. Di sana kami melihat para petugas dengan sigap menyemprotkan air, begitu juga dengan para petugas emergency room terlihat siap siaga membantu para Jemaah yang membutuhkan bantuan.

    Setiap hari saya selalu menyempatkan untuk berbincang dengan teman-teman sesama Jemaah haji, baik regular maupun khusus. Dari mereka ada sejumlah hal positif yang kami rasakan bersama, bahwa pemerintah cukup banyak membuat inovasi dan terobosan dalam melayani Jemaah haji.

    Tagline haji ramah lansia antara lain dapat dirasakan dari menu makanan uang disuguhkan. Ada perbedaan antara tingkat kelembutan menu untuk lansia dan Jemaah dewasa pada umumnya. Dari sisi pemondokan, terutama di Madinah juga cukup dekat dengan Masjid Nabawi sehingga Jemaah nyaman untuk beribadah. Selain itu juga ada aplikasi yang memudahkan Jemaah untuk mengakses informasi.

    Di Mekkah, pemerintah juga menyiapkan bus shalawat untuk mengantar jemput Jemaah dari pondokan yang ingin beribadah ke Masjidil Haram. Ini layanan bus gratis selama 24 jam yang cuma dapat dinikmati Jemaah asal Indonesia. Pemerintah negara lain tak menyiapkan hal sejenis bagi Jemaah mereka.

    Para petugas PPIH pun saya lihat sangat banyak. Mereka ditempatkan atau bertugas di hampir semua titik yang biasa dikunjungi Jemaah. Mereka petugas gabungan dari berbagai unit, baik itu Kesehatan, keamanan, para wartawan, dan lainnya. Semua saling bahu – membahu bertugas untuk melayani Jemaah.

    Saya betul-betul terharu melihat bagaimana mereka mengantar Jemaah yang tersesat kembali ke penginapannya, atau mengantar ke tempat yang akan dituju Jemaah. Tak sedikit pula petugas yang dengan khidmat mendorong kursi roda Jemaah lansia di bawah sengatan matahari yang luar biasa. Singkatnya, kehadiran para petugas itu hingga batas tertentu tentunya sangat membuat nyaman para Jemaah.

    Kalau pun kemudian masih ditemukan kekurangan di sana-sini, saya piker wajar dan tidak bisa dihindari pula mengingat jumlah Jemaah kita yang begitu besar: hampir 250 ribu orang di atas jumlah Jemaah asal Pakistan maupun India.

    Atas dasar itu semua, kita patut berterima kasih kepada pemerintah yang telah berupaya memberikan pelayanan secara optimal. Karena saya termasuk kelompok haji khusus melalui Biro Maktour, tentu juga ada catatan tersendiri.

    Secara umum biro yang telah berpengalaman melayani Jemaah haji dan umrah selama hampir 40 tahun ini sangat well organized dan punya tradisi hospitality yang luar biasa. Jemaah sangat terbantu dan merasa nyaman dalam setiap tahap pelayanan mulai keberangkatan dari tanah air hingga tiba di Madinah, selama di Madinah, selama di Makkah, Wukuf di Arafah, di Mina, da seterusnya hingga Kembali lagi ke tanah air.

    Para muthowif atau pemandu yang memang rata-rata punya jam terbang selama belasan tahun dalam mendampingi Jemaah, benar-benar memberikan panduan seperti yang diharapkan. Kami tak cuma diajari atat cara ibadah, melainkan juga diberi pengetahuan seputar makna dari setiap ibadah yang dilakukan berikut dalil-dalil pendukungnya. Hal tersebut tentu saja membuat kami merasa mantap, khusuk dan menghayati betul setiap langkah dari ibadah yang dijalani.

    Dinar Fiskiawan

    Jemaah Haji Indonesia 2024
    Bekerja di Bank Indonesia

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Ketahanan Psikologis (Qalbu) Itulah Ketahanan Fisik



    Jakarta

    Seorang yang mengenalkan diri sebagai pakar ilmu penyakit dalam, Doktor internist/ahli penyakit dalam senior, bertutur di sebuah podcast. Rupanya beliau ingin menjauhkan masyarakat dari penyakit yang belum mudah ditangani sampai saat ini. Diabetes Mellitus (DM).

    Ialah penyakit yang ditandai dengan naiknya kadar gula darah. Penanganan yang belum mudah, setidaknya jika menggunakan metode kedokteran yang umum berlaku. Kasusnya terus-menerus meningkat. Di seluruh dunia.

    Menurut pakar tersebut, bahwa tingginya kadar gula bisa disebabkan oleh konsumsi di luar gula.
    Cuplikan podcast itu di-forward oleh mantan staf administrasi suatu institusi medis. Mantan staf administrasi Puskesmas yang berlokasi di pedalaman Kalimantan Selatan. Dikomunikasikan melalui WA group.


    Menurut pakar itu, sebab kenaikan gula darah yang bukan karena banyak mengonsumsi gula ada empat.
    No. 1 rokok, no. 2 nya alkohol, no. 3 nya kortikosteroid atau obat-obatan yang berahiran …son. no. 4 yang terakhir disebutkannya karena stres.

    Sontak seorang mantan pimpinannya meluruskan informasi itu.
    “Penyebab utama meningkatnya kadar gula adalah stres. Gangguan keseimbangan psikis. Stres yang menyebakan kadar gula meningkat bisa karena stres yang berkepanjangan. Stres ringan tapi sambung-menyambung. Atau stres yang singkat tetapi berat. Individu yang bisa mengalami stres demikian adalah individu dengan tipe kepribadian sering merasa kecewa, suka berprasangka buruk, banyak pesimis, dan sikap yang suka paranoid/parno. Berat ringan kualitas stres, bergantung kepada persepsi masing-masing individu. Sangat subyektif. Sementara satu orang stres demikian biasa-biasa saja, sedang orang yang berbeda bisa menganggapnya sudah berat”.

    Merokok bisa merupakan dampak samping stres. Merokok bisa merupakan bentuk pengalihan stres, bukan sebab utama. Demikian juga alkohol. Ia seringkali merupakan salah satu metode pengalihan stres. Sedangkan hormon kortikosteroid yang disebut berakhiran …son, adalah hormon yang meningkat tajam pada orang-orang yang mengalami stres, terutama stres yang berat.

    Secara empiris mudah dibuktikan bahwa, orang yang merokok tidak selalu karena stres.
    Demikian juga orang yang mengonsumsi minuman beralkohol, tidak harus orang yang stres.
    Sedangkan kadar kortikosteroid sudah otomatis meningkat pesat pada orang yang mengalami stres yang berat. Walau tidak mengonsumsi obat-obat kortikosteroid.
    Stres berat akan memantik orang untuk merokok, minum alkohol, dan meningkatkan kadar hormon stres, hormon kortikosteroid di dalam tubuhnya.

    Jadi stres merupakan penyebab pasti, penyebab dasar peningkatan kadar gula darah.

    Pemahaman ini penting untuk mengingatkan siapa pun. Agar lebih fokus melihat sisi psikis sebagai sumber persoalan. Sedangkan sisi fisik seringkali hanyalah sebagai akibat, dampak negatif atau risiko.

    Di dalam Islam, konsep yang dimajukan sebagai konsep sehat adalah sehat qalbu. Sehat psikologis, sehat karakter, sehat akhlak.

    Bahwa baik-buruknya manusia, sehat-sakitnya manusia hanya bergantung kepada qalbu-nya, bergantung kepada karakternya, bergantung pada akhlaknya.

    Karakter hanya memiliki sepasang nilai. Baik atau buruk. Karakter baik sesuai dengan karakter sehat. Karakter baik adalah karakter aman, sesuai dengan orang yang kuat imannya, tidak mudah stres, stabil, tenang, senang, bahagia. Karakter demikian dimiliki oleh individu yang memiliki imunitas yang tinggi. Individu demikian tidak mudah sakit, jika terlanjur sakit gampang sembuh.

    Stres, adalah kondisi psikologis yang mengantar individu memiliki kadar radikal bebas meningkat pesat. Radikal bebas yang tinggi menjadi agen pengrusakan tubuh. Radikal bebas yang jumlahnya massif bisa sangat mengancam.

    Terkait peningkatan kadar gula darah pada individu tertentu, memang korelatif dengan kemampuan pankreas dalam memproduksi insulin. Pankreas bisa ‘kelelahan’, karena hormon insulin yang diproduksinya ‘mandul’. Ini terjadi bila reseptor insulin di sel-sel tubuhnya ‘abai’ atau resistent, tak mampu mengenali insulin yang mengomunikasikan sinyal ‘beri’ jalan.

    Organ pankreas, jika dilihat sesuai dengan cara pandang kedokteran Timur. Sesuai dengan individu yang memiliki sikap dominan suka parno, sering pesimis, penuh ragu, lebih membayang kepada kemungkinan buruk yang akan dialaminya. Ciri utama pemilik karakter ini ialah mudah cemas. Cemas adalah salah satu bentuk stres yang paling unggul di dunia.

    Merujuk kepada The Big Five Personality Traits di dalam psikologi, tipe karakter manusia ada lima. Tipe yang mana yang dominan pada seorang individu, maka itulah tipe karakternya.
    Orang yang paling mudah menderita kadar gula yang tinggi adalah orang yang memiliki tipe karakter conscientiousness.

    Kedokteran Timur memiliki kesesuaian dengan psikologi yang memilah karakter dalam lima tipe. Kedokteran Timur menyebutnya sebagai Teori U-sing (baca: wusing, artinya lima organ). Ada karakter tipe organ jantung, tipe pankreas, tipe ginjal, tipe paru, dan tipe liver/hati. Orang yang berisiko tinggi menderita DM adalah orang yang berkarakter pankreas.

    Kesimpulan: Jika sebab dasar setiap penyakit adalah buruknya karakter, bukankah jalan mudah mengatasinya adalah menggantinya dengan karakter yang baik? Karakter yang baik, akhlak yang baik akan meningkatkan imunitas tubuh, meningkatkan ketahanan fisik.

    Semoga setiap kita senantiasa berkenan memiliki karakter yang terbaik, supaya tidak mudah sakit, aamiin!

    Abdurachman

    Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati spiritual medis dan penasihat sejumlah masjid di Surabaya.
    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Catatan (Kesuksesan) Pelaksanaan Ibadah Haji 2024



    Jakarta

    Haji merupakan salah satu ibadah yang termasuk ke dalam Rukun Islam yang kelima. Salah satu syarat melaksanakan ibadah haji adalah sebuah kemampuan, baik secara finansial, fisik, dan mental. Meski dengan syarat tersebut, setiap tahun, jutaan jemaah haji berdatangan ke tanah suci Mekkah, Arab Saudi, untuk melaksanakan ibadah tahunan ini, yang hanya wajib dilakukan oleh seorang Muslim satu kali dalam seumur hidupnya.

    Pelaksanaan ibadah haji dikoordinir oleh Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan pihak penyelenggara haji dari Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi. Pada tahun ini saya berkesempatan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci dan menyaksikan bagaimana panitia haji yang disebut dengan Daerah Kerja (Daker) Kemenag RI ini bekerja hampir 24 jam selama pelaksanaan ibadah haji dipimpin langsung oleh Menteri Agama RI. Para petugas haji ini begitu antusias, semangat, dan sukses dalam menjalankan tugasnya.

    Kesuksesan pelaksanaan haji ini terlihat dari berbagai hal, pertama, adalah controlling secara online. Era digital ini mensyaratkan kita untuk melakukan sesuatu yang bukan hanya dilaksanakan secara luring, namun juga di waktu yang sama dilaksanakan dengan cara daring. Petugas haji Indonesia, melakukan kontrol terhadap banyak aspek dengan cara online. Sehingga kemudian di waktu yang bersamaan, jika terjadi masalah dapat langsung diselesaikan dengan cepat dan tepat. Sistem Risk Management diterapkan dengan sangat baik, sehingga pelaksanaan ibadah haji tahun ini sukses.


    Kedua, petugas haji Indonesia melaksanakan pelayanan kepada para jemaah haji Indonesia dengan sangat prima dan sepenuh hati. Para petugas haji ini melaksanakan pendampingan, pengawasan, dan pelayanan kepada para jemaah haji asal Indonesia dengan telaten dan penuh tanggungjawab. Saya pikir, tidak ada negara lain yang memberikan pelayanan sebaik petugas haji Indonesia.

    Ketiga, pemenuhan gizi dan konsumsi yang memperhatikan cita rasa khas masakan Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama musim haji, Kemenag RI sebagai koordinator pelaksanaan haji, mengirim para koki yang ahli untuk menyiapkan menu makanan yang terbaik untuk para tamu Allah ini. Sehingga pemenuhan gizi tercukupi dan konsumsi sangat baik untuk dinikmati oleh para jemaah haji Indonesia.

    Keempat, negosiasi dan komunikasi yang ideal dilakukan Kemenag RI dengan Kerajaan Arab Saudi. Hubungan diplomasi antara Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi sudah terjalin cukup lama dan sangat baik. Apalagi Indonesia sebagai salah satu negara Muslim terbesar di dunia menjadi pengirim jemaah haji terbanyak ke Arab Saudi. Komunikasi yang baik dan negosiasi yang ekstra dilakukan oleh Kemenag RI dalam rangka pemenuhan dan penambahan kuota untuk jemaah haji Indonesia, sehingga kuota haji Indonesia cukup banyak untuk tahun ini.

    Kesuksesan ini dapat diraih dengan kepemimpinan Menteri Agama RI beserta jajarannya yang menyiapkan pelayanan haji jauh hari sebelum pelaksanaan ibadah haji. Kemenag RI melakukan monitoring dan evaluasi di akhir pelaksanaan ibadah haji tahun lalu sebagai acuan untuk pelaksanaan ibadah haji tahun ini, sehingga dapat meminimalisir kekurangan pada tahun lalu. Kesuksesan pelaksanaan tahun ini menjadi acuan untuk pelayanan haji lebih baik lagi pada tahun-tahun mendatang. Semoga!

    Prof. Asep Saepudin Jahar, MA, Ph.D.

    Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Artikel ini adalah kiriman dari pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap dan PDF


    Jakarta

    Umat Islam sebentar lagi merayakan maulid Nabi Muhammad SAW tepatnya pada Senin pekan depan. Dalam rangka menyambut hari penuh hikmah tersebut, khatib bisa menyampaikan khutbah Jumat maulid Nabi Muhammad SAW pada pelaksanaan salat Jumat besok.

    Maulid Nabi adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Menurut sejumlah kitab Sirah Nabawiyah, salah satunya karya Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai maulid Nabi.

    Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia 2024 terbitan Kementerian Agama RI, maulid Nabi Muhammad SAW 2024 jatuh pada Senin, 16 September 2024. Pemerintah menetapkan hari tersebut sebagai libur nasional. Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 236/2024, Nomor 1/2024, dan Nomor 2/2024.


    Berikut kumpulan naskah khutbah Jumat Maulid Nabi Muhammad SAW yang bisa dijadikan referensi khatib Jumat pekan ini.

    Khutbah Jumat Maulid Nabi Muhammad SAW: Kelahiran Sang Rasul

    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَـمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
    Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan semaksimal mungkin, yakni takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala dan menjalankan perintah-Nya. Karena dengan takwa, kita akan diberi solusi oleh Allah di setiap problematika hidup yang kita alami, juga akan ada rezeki melimpah yang datang kepada kita tanpa kita sangka-sangka.

    Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal, bulan mulia di mana penutup para nabi dan rasul dilahirkan ke dunia ini. Ya, beliaulah Baginda Besar Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam. Nabi akhir zaman, tidak ada lagi nabi-nabi setelahnya.

    Jamaah yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,
    Di bulan Maulid ini, seyogianya bagi kita untuk banyak-banyak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena telah mengutus seorang nabi yang menjadi suri teladan yang mulia. Nabi diutus ke muka bumi ini tak lain adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah al-Anbiya ayat 107:

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

    Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

    Imam al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebab disebutnya pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam sebagai rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam ialah karena diutusnya Nabi ke seluruh dunia di muka bumi ini menjadi sumber kebahagiaan dan kebaikan bagi kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat kelak.

    Imam Ibnu ‘Abbas menyebutkan dalam tafsirnya, siapa yang menerima ajaran kasih sayang yang dibawa Nabi dan mensyukurinya, maka ia akan bahagia hidupnya. Sebaliknya, siapa yang menolak dan menentangnya, maka merugilah hidupnya.

    Kasih sayang yang ditebarkan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bukanlah hanya ucapan semata, akan tetapi dalam hidup keseharian beliau praktikkan dan implementasikan dengan nyata. Kasih sayang ini bentuknya universal kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan kepada orang musyrik pun Nabi Saw berlaku santun dan mengasihi.

    Tidakkah kita mengingat bagaimana dahulu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam ketika hijrah ke Thaif untuk menghindari permusuhan dari kaumnya, namun ternyata di sana malah mendapat perlakuan yang kasar dan permusuhan yang lebih parah hingga Nabi dilempari batu.

    Kala itu, malaikat penjaga gunung menawarkan kepada Nabi, apabila dibolehkan maka ia akan membenturkan kedua gunung di antara kota Thaif, sehingga orang yang tinggal di sana akan wafat semua. Namun apa sikap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam? Nabi berucap andai mereka saat ini tidak menerima Islam, semoga anak cucu mereka adalah orang yang menyembah-Mu ya Allah! Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu…

    Dikisahkan juga dalam hadis riwayat Shahīh Muslim, pada suatu hari, datang seorang sahabat berkata kepada Nabi, “Wahai Nabi! Doakanlah keburukan atau laknat bagi orang-orang musyrik. Kemudian Nabi menjawab, “Sungguh, aku tidaklah diutus sebagai seorang pelaknat, akan tetapi aku diutus sebagai rahmat!”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Di antara sifat mulia Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang perlu kita teladani juga adalah sifat pemaafnya. Ingatlah kisah ketika Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam perang Uhud bersama kaum Muslimin, kala itu pamannya, Hamzah bin Abdul Muthallib ikut berperang. Di tengah peperangan, pamannya terbunuh oleh Wahsyi, seorang budak berkulit hitam. Wahsyi tidak hanya membunuhnya dengan menghunuskan pedang begitu saja dan selesai, namun ia mencabik-cabik isi perutnya juga.

    Hal ini membuat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sangat sedih, sakit hati dan marah. Bayangkan! Paman yang begitu dicintainya wafat dengan cara mengenaskan seperti itu. Akan tetapi, ketika Wahsyi menyatakan diri di hadapan Nabi untuk masuk Islam, Nabi pun memaafkannya, meski beliau tidak mau melihat wajah Wahsyi lagi sebab akan terus mengingatkannya kepada peristiwa terbunuhnya pamannya.

    Jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

    Mengenai sifat memaafkan, sungguh Allah telah berfirman dalam surat Al-A’raf Ayat 199:

    خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

    “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

    Apabila kita menjadi pribadi yang memiliki sifat pemaaf, maka dapat kita rasakan lingkungan sosial di tengah-tengah masyarakat menjadi damai, tidak ada dendam yang terjadi di antara manusia. Itulah kasih sayang yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam.

    Semoga di bulan Maulid ini kita dapat meneladani sifat dan akhlak mulia Rasulullah, yang mana dalam mencontoh dan menerapkan akhlaknya terdapat kemaslahatan yang akan kita dapatkan, baik di dunia maupun di akhirat.

    بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
    أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
    اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ

    Khutbah Jumat Maulid Nabi Muhammad SAW: Meneladani Akhlak Nabi

    Khutbah I

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ . فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

    Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt. Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Rasulullah saw. Semoga kita senantiasa termasuk golongan hamba yang pandai bersyukur dan mendapatkan syafaat dari Nabi Agung Muhammad saw di hari kiamat. Amin.

    Saat ini, kita sedang berada di bulan Rabiul Awwal yang di Indonesia lebih sering disebut sebagai bulan Maulid. Disebut demikian memang karena dalam bulan ini terjadi sebuah kejadian agung yakni kelahiran Nabi Muhammad saw. Sosok paling mulia di dunia, sosok yang kita diperintahkan untuk senantiasa bershalawat untuk meraih syafaatnya. Bukan hanya kita saja yang bershalawat, Malaikat dan Allah swt pun bershalawat kepada beliau. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 56:

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

    Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

    Kehadiran Nabi Muhammad ke dunia ini membawa sebuah misi penting di antaranya adalah memperbaiki akhlak manusia. Misi ini menandakan bahwa akhlak menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia karena itulah yang akan membawa perdamaian dan ketentraman dalam setiap interaksi manusia dengan lingkungan sekitar. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Baihaqi, dan Hakim:

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ

    “Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

    Akhlak menjadi bagian utama dalam bangunan kepribadian seorang muslim sehingga para ulama menyebut bahwa “Al-Adabu fauqal ilmi’. Bahwa adab, tatakrama, akhlak, di atas ilmu yang dalam artian harus didahulukan untuk dimasukkan dalam diri setiap muslim. Dalam pendidikan pun sudah seharusnya mengedepankan aspek afektif (sikap dan karakter) dibanding aspek kognitif (kepintaran otak). Maka itu fungsi guru dan orang tua yang paling utama adalah mendidik agar generasi muda menjadi baik. Bukan hanya mengajar untuk menjadikan generasi muda menjadi pintar.

    Pendidikan karakter dan akhlak generasi muda di era saat ini menjadi sangat dan sangat penting. Hal ini karena tantangan dan godaan zaman di tengah perkembangan teknologi semakin menjadi-jadi. Akibat perkembangan teknologi dan informasi saat ini, ancaman terhadap degradasi moral sangat terlihat di depan mata. Kita lihat bagaimana saat ini akhlak para pemuda sudah mulai tereduksi akibat gaya hidup digital di zaman modern.

    Kejadian tindakan kriminal, asusila, kurangnya kepedulian sosial dan menurunnya rasa sosial-kemanusiaan yang dilakukan dan dimiliki generasi muda mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita rasakan mereka lebih asik bermain di dunia maya dengan ponselnya dari pada bersosialisasi di dunia nyata. Kebiasaan berkomentar di media sosial yang tak melihat dengan siapa ia berbicara, terbawa dalam kehidupan nyata. Sehingga bisa dirasakan mereka menyamakan antara berbicara dengan teman dan berbicara dengan orang tua.

    Gampangnya berkomunikasi, berinteraksi, dan mencari informasi juga sedikit demi sedikit menjadikan para generasi muda menggampangkan berbagai hal. Ini berdampak kepada sikap malas dan mudah menyerah pada tantangan permasalahan yang dihadapi. Mereka terdidik dengan hasil yang instan tanpa perjuangan berat dan menghilangkan etos perjuangan serta sikap tak kenal menyerah.

    Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

    Fenomena-fenomena ini patut direnungi oleh kita dan para orang tua pada umumnya. Momentum Maulid Nabi Muhammad saw menjadi saat yang tepat untuk kembali memperkuat penjagaan pada akhlak generasi penerus. Perlu dipantau aktivitas mereka saat memegang handphone agar akhlak bisa benar-benar terjaga. Akhlak menjadi barometer apakah seseorang menjadi insan terbaik atau tidak. Bukan kepintaran yang menjadi barometer!. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Thabrani dari Ibnu Umar:

    خَيْرُ النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا

    “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.”

    Sudah saatnya di bulan Maulid ini kita kembali meneladani akhlak Nabi yang merupakan suri tauladan terbaik sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-ahzab ayat 21:

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

    “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

    Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

    Selain menjadikan Maulid sebagai momentum menjaga akhlak generasi muda, mari jadikan bulan Maulid ini sebagai kesempatan meningkatkan kuantitas dan kualitas shalawat dan cinta kita kepada Nabi Muhammad. Perbanyak shalawat, insyaallah hidup menjadi nikmat karena mendapat syafaat di hari kiamat.

    Syafaat dari Nabi Muhammad menjadi hal yang sangat penting untuk kita raih. Karena kita tidak tahu ibadah mana yang akan diterima di sisi Allah. Menurut kita kuantitas dan kualitas ibadah sudah maksimal, namun belum tentu di sisi Allah swt. Sehingga kita perlu senantiasa berdoa untuk meraih rahmat dari Allah serta perbanyak bershalawat kepada Nabi untuk meraih syafaatnya.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan ada seorang sahabat yang mengadu kepada Nabi. Ia merasa tidak rajin dalam menjalankan ibadah namun punya modal kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jawaban Nabi pun sangat menggembirakan. Nabi mengatakan sahabat tersebut akan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat.

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

    “Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa dan sedekah. Hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata, engkau kelak dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

    Maasyiral Muslimin rahimakumullah,

    Semoga kita bisa meneruskan dan mewujudkan misi Nabi kepada para generasi muda yakni menjadikan akhlak mulia sebagai sendi-sendi peradaban kehidupan manusia. Semoga kita senantiasa bisa meneladani akhlak Nabi dan kita akan menjadi umatnya yang mendapatkan syafaatnya dan masuk dalam surganya Allah swt. Amin.

    بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

    اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    Khutbah Jumat Anjuran Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ لِلّٰه، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ،ـ
    أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الحج: 77)

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.

    Kaum Muslimin yang berbahagia,

    Hari ini kita telah berada di bulan Rabi’ul Awal. Bulan maulid Nabi. Bulan kelahiran Nabi. Pada bulan Rabi’ul Awal, dari tahun ke tahun, sejak pertama kali perayaan maulid ini dilakukan pada awal abad ketujuh Hijriah, umat Islam di berbagai belahan dunia merayakannya dengan penuh kegembiraan dan suka cita.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Kenapa kita merayakan maulid? Karena kelahiran Nabi Muhammad ke muka bumi ini adalah nikmat dan rahmat teragung yang Allah anugerahkan kepada kita. Perayaan maulid adalah bentuk syukur kita kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini. Dengan sebab beliau, kita mengenal Allah, satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah. Tuhan Pencipta segala sesuatu. Tuhan yang tidak menyerupai segala sesuatu. Tuhan yang tidak membutuhkan kepada segala sesuatu. Dengan sebab beliau, kita mengenal Islam, satu-satunya agama yang benar. Satu-satunya agama yang diridhai Allah. Agama yang dibawa dan diajarkan oleh seluruh nabi dan rasul.

    Perayaan maulid adalah bentuk kecintaan kita kepada insan yang paling mulia dan makhluk yang paling utama, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melalui perayaan maulid kita diingatkan untuk terus mencintai Baginda Nabi. Melalui perayaan maulid, kita tanamkan pada diri umat Islam kecintaan kepada Nabi mereka, Nabi agung Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi yang cintanya kepada umat melebihi cinta mereka kepadanya.

    Salah satu bukti cinta baginda kepada umatnya adalah sabda beliau:

    لِكُلّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِيْ شَفَاعَةً لِأُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

    “Setiap nabi memiliki kesempatan berdoa yang dikabulkan, maka semua nabi meminta segera dengan doanya, dan aku simpan doaku sebagai syafaat untuk umatku di hari kiamat” (HR Muslim).

    Pada hari kiamat kelak, dikatakan kepada Baginda:

    يَا مُحَمَّدُ سَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ

    “Wahai Muhammad, mintalah maka engkau akan diberi, berilah syafaat maka syafaatmu akan diterima”

    Baginda menjawab:

    أَيْ رَبِّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ (رَوَاهُ النَّسَائِيُّ)

    “Wahai Tuhanku, umatku umatku” (HR an-Nasa’i)

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Perayaan maulid di bulan Rabi’ul Awal mengingatkan kita akan keagungan Baginda, keutamaannya, akhlaknya, perjuangannya, gambaran ketampanan dan keindahan jasad mulianya. Ketika dilantunkan puji-pujian kepadanya dan jamaah maulid mulai menyebut-nyebut namanya, biasanya kita akan terbawa suasana haru. Dalam hati kita berucap, “Andai saja aku mendapat kemuliaan bertemu dengan Baginda, meskipun dalam mimpi.”

    Seorang mukmin sejati pasti merindukan baginda Nabi. Seorang mukmin sejati pasti-lah sangat ingin bertemu dengan baginda walaupun sekejap pandangan mata dalam mimpi.

    Sahabat Bilal al-Habasyi radliyallahu ‘anhu pernah memperoleh kemuliaan itu. Bilal pernah memperoleh kemuliaan bertemu dan melihat langsung baginda. Suatu ketika, ia melihat dalam mimpi wajah baginda yang memancarkan cahaya. Begitu terbangun, rasa rindu yang membuncah dan gelora cinta yang menyala-nyala memandunya untuk memacu hewan tunggangannya melewati gurun-gurun pasir yang tandus. Ia percepat perjalanannya di malam dan pagi hari, agar dapat segera sampai ke Madinah. Sesampainya di Madinah, ia lantas berdiri di dekat peraduan baginda, di dekat makamnya. Air mata pun mengalir deras dari kedua matanya. Ia tumpahkan air mata agar dapat meringankan kerinduan yang bergejolak di hati. Akan tetapi mana mungkin itu terjadi. Bilal-lah yang sebelum meninggal, melontarkan perkataan:

    غَدًا نَلْقَى الْأَحِبَّةْ مُحَمَّدًا وَصَحْبَهْ

    “Besok di akhirat aku akan menemui orang-orang yang aku kasihi, yaitu Muhammad dan para sahabatnya.”

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Kenapa kita merayakan maulid? Karena kita ingin bersyukur kepada Allah atas kelahiran Nabi kita.

    Nabi Muhammad bahkan yang mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri hari kelahirannya. Ketika ditanya tentang puasa sunnah hari Senin, beliau menjawab:

    ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلَائِلِ)

    “Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan diturunkan wahyu pertama kepadaku” (HR Ahmad dan al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah)

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Perayaan maulid adalah bentuk pengamalan terhadap hadits:

    لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

    “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia” (HR al-Bukhari)

    Peringatan maulid adalah salah satu sarana untuk menanamkan dan menebarkan cinta terhadap Rasulullah shallallau ‘alaihi wa sallam kepada lintas generasi, agar mereka terpaut hati dengannya. Bahkan peringatan maulid termasuk salah satu amal yang paling utama karena menuntun kita menuju cinta yang mulia ini. Yaitu cinta kepada insan pilihan yang telah datang menyelamatkan umat manusia dari kesesatan, kezaliman, kejahiliahan, kemusyrikan dan kekufuran. Baginda Nabi bersabda:

    أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِيْ الَّذِيْ يَمْحُوْ اللهُ بِيَ الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِيْ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِيْ وَأَنَا الْعَاقِبُ الَّذِيْ لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

    “Aku adalah Muhammad dan aku adalah Ahmad. Aku adalah al-Mahi (sang penghapus) yang denganku Allah menghapus kekufuran. Aku adalah al-Hasyir yang orang-orang akan dikumpulkan di padang mahsyar di belakangku. Dan aku adalah al-‘Aqib yang tidak ada seorang pun yang diangkat menjadi nabi setelahku” (HR al-Bukhari dan Muslim)

    Melalui peringatan maulid, kita belajar, mengajarkan dan saling mengingatkan bahwa Rasulullah adalah manusia yang paling mulia. Beliau-lah yang mengajarkan dan mengingatkan kita akan kemuliaan dirinya dalam sabdanya:

    إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِيْ هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِيْ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

    “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah dan memilih dari Quraisy Bani Hasyim dan memilihku dari Bani Hasyim” (HR Muslim).

    Dengan mengetahui ketinggian derajat dan kemuliaannya, insyaallah cinta dan pengagungan kita kepadanya semakin menguat dan mendalam. Cinta inilah yang akan mendorong kita untuk menjalankan perintahnya dan mengikuti ajaran-ajarannya.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Dalam peringatan maulid, kita belajar dan mengajarkan tentang ciri-ciri fisik mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang melihatnya dalam mimpi, sungguh ia akan melihatnya dalam keadaan jaga sebagaimana sabda Baginda:

    مَنْ رَءََانِيْ فِيْ الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِيْ الْيَقَظَةِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

    “Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan jaga” (HR al-Bukhari dan Muslim)

    Dalam peringatan maulid ada pembacaan sirah nabawiyyah (sejarah hidup Nabi). Disebutkan bahwa Nabi tumbuh dalam keadaan yatim. Maka keyatiman seseorang jangan sampai menghalanginya untuk berakhlak dengan akhlak-akhlak Nabi dan beradab dengan adab-adabnya.

    Dalam pembacaan terhadap sejarah hidup Nabi, kita belajar kejujuran dari aktivitas dagangnya. Betapa beliau adalah orang yang sangat jujur dalam berniaga sehingga keberkahan begitu tampak pada hartanya.

    Dalam pembacaan terhadap sejarah hidup beliau, para dai belajar berbagai metode dakwah dari baginda. Beliau memulai dakwah sendirian, menyeru dan mengajak kepada Islam hingga agama yang mulia ini menyebar ke seluruh penjuru jazirah Arab. Estafet dakwah sepeninggal beliau dilanjutkan oleh para sahabatnya. Hingga Islam menyebar ke berbagai belahan dunia.

    Dalam pembacaan terhadap sejarah hidupnya, terdapat pelajaran bagi umat untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia. Nabi bersabda:

    إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ (رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَالْبَيْهَقِيُّ)

    “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia” (HR al-Bazzar dan al-Baihaqi)

    Dalam rangkaian acara peringatan maulid Nabi, banyak sekali perbuatan baik yang dianjurkan oleh syariat, seperti pembacaan ayat al-Qur’an, sedekah makanan, doa bersama dan menjadi ajang silaturahim serta mengokohkan simpul-simpul tali persaudaraan antar sesama umat Islam. Dan tentu saja menjadi sebuah kegiatan untuk memperbanyak bacaan shalawat sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: 56)

    “Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya” (QS. Al-Ahzab: 56)

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    Khutbah Jumat Mencintai dan Dicintai Nabi Muhammad SAW

    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَاالضَالِّيْنَ اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ اَلْمَالِكُ الْحقُّ الْمُبِيْنُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًارَسُوْلُ الله صَادِقُ الْوَعْدِ الْاَمِيْنِ
    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا محمدٍ فِى الْاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا محمدٍ فِى اْلاَخِرِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوااللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ وَاَخْلِصُوْا لَهُ الْعِبَادَةَ فَقَدْ اَفْلَحَ مَنْ اَخْلَصَ اَعْمَالَهُ لِهَِّى
    قال الله تعالى : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

    Hadirin jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

    Pada kesempatan ini marilah kita perkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan iman dan takwa yang sebenar-benarnya. Berusaha keras melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang.

    Hadirin jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,

    Di bulan Rabi’ul Awal di tahun ini marilah kita mengingat peristiwa penting kelahiran manusia sempurna pilihan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam, yakni Nabi Muhammad ﷺ. Mengingat dalam arti mempelajari sejarah perjuangannya dalam mendakwahkan agama Islam, meneladani kebaikan-kebaikan akhlaknya, dan mengikuti sunnah-sunnah serta memperbanyak bacaan shalawat atasnya. Agar kita semua termasuk orang-orang yang selalu mencintai dan dicintai oleh rasulillah ﷺ dan akan mendapatkan syafaatnya di dunia sampai di akhirat kelak.

    Ma’asyiral muslminin wazumratal mu’minin hafidhakumullâh,

    Bulan ini adalah bulan yang sangat mulia. Bulan di mana lahir manusia pilihan Allah sebagai utusan di muka bumi, yakni Muhammad bin Abdillah. Beliau bukan hanya diutus untuk kalangan bangsa Arab, namun seluruh manusia bahkan alam semesta. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat as-Saba’ ayat 28:

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

    “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. As-Saba'[34]: 28).

    Prof KH Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, (2002: 519) memandang ayat ini memiliki empat hal pokok yang harus dimengerti, yaitu adanya utusan Allah dalam hal ini Rasulullah Muhammad ﷺ, ada yang mengutus yakni Allah ﷻ., yang diutus kepada mereka seluruhnya yakni alam, dan risalah, yaitu rahmat yang bersifat luas. Menurutya bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ bukan sekadar membawa rahmat bagi seluruh alam namun justru kepribadian beliau lah yang menjadi rahmat. Begitu mulianya sifat Rasulullah Muhammad sehingga Allah menyebutkan dengan pujian yang sangat agung.

    Kemuliaan sifat Rasulullah tercermin dalam cara beliau berdakwah. Sehingga Islam dikenal sebagai agama yang mengajarkan kepada kemaslahatan dunia dan akhirat. Usman Abu Bakar dalam bukunya Paradigma dan Epistimologi Pendidikan Islam (2013: 65) memahami pengertian rahmat pada diri Rasul adalah ajaran tentang persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, hubungan sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antar agama. Rasulullah mengajarkan untuk saling menghargai, saling menolong, menjaga persaudaraan, perdamaian, dan sebagaianya. Lebih dari itu, Rasulullah juga mengajarkan etika terhadap binatang. Sehingga dalam melakukan sembelihan binatang pun diajarkan cara-cara yang maslahat dan tidak menyakiti binatang.

    Sidang Jumat hafidhakumullâh,

    Sebagaimana telah dijelaskan bahwa visi pendidikan Rasulullah adalah terciptanya kedamaian dan keselamatan dunia dan akhirat. Sepantasnya sebagai umatnya kita semua kaum muslimin bersyukur atas diutusnya Rasulullah dan senantiasa mencintai beliau dengan sepenuh hati, dengan kecintaan yang sebenar-benarnya.

    Walaupun tidak ada aturan yang menjelaskan cara mencintai rasul secara khusus, namun kecintaan terhadap Rasulullah dapat dibuktikan dengan beberapa hal, di antaranya dengan memperbanyak membaca shalawat. Sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 56,

    إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab[33]: 56).

    Amin Syukur dalam bukunya Terapi Hati (2012: 123) menjelaskan sejumlah sahabat Rasulullah telah membuktikan kecintaanya terhadap Rasulullah secara nyata, di antaranya adalah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika tidak ada satupun orang yang percaya kepada Rasulullah telah diisra dan dimi’rajkan, dia lah orang yang pertama kali meyakini atas kebenaran tersebut. Selanjutnya ada Umar Bin Khattab yang tidak rela Rasulullah dikabarkan telah meninggal dunia. Ada juga Ali Bin Abi Thalib yang rela menggantikan Rٌasulullah saat pengepungan oleh kaum Quraisy ketika Rasulullah hendak hijrah. Selanjutnya Ummu Sulaym yang mengumpulkan keringat Rasulullah dan diabadikan.

    Sidang Jumat hafidhakumullâh,

    Selain memperbanyak bacaan shalawat, cara kita mencintai Rasulullah adalah dengan mengikuti sunnah-sunnahnya. Baik berupa perkataan, perbuatan maupun segala kebiasaan sikap Rasulullah. dengan jalan memperbanyak bershalawat dan mengikuti sunnah-sunnah Rasullah semoga kita semua menjadi orang-orang yang dicinta oleh Rasulullah.

    Dikisahkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi, Syekh Syibli mendatangi Ibn Mujahid, secara sepontan Ibn Mujahid merangkul dan mencium kening Syekh Syibli. Syekh Syibli pun bertanya tentang hal itu. Syekh Mujahid menceritakan bahwa ia pernah bermimpi dan melihat Rasulullah mencium kening Syekh Syibli. Dalam mimpinya Ibn Mujahid bertanya kepada Rasulullah, hal apa yang menyebabkan Rasulullah begitu mencintai Syekh Syibli. Rasulullah menjawab bahwa Syekh Syibli selalu membaca dua ayat terakhir Surat at-Taubah dan shalawat setiap selesai shalat fardhu, yaitu:

    لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

    Dan membaca shalawat

    صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّد

    Kemudian Ibn Mujahid menanyakan akan hal itu terhadap Syaikh Syibli dan ternyata Syaikh Syibli selalu mengamalkan apa yang diceritakan Rasulullah dalam mimpi Ibn Mujahid tersebut.

    Melihat kisah tersebut, bukan hanya berapa banyak shalawat yang dibaca, namun istiqamah atau konsisten dan terus menerus. Kecintaan sebenar-benarnya kepada Rasulullah.lah yang dapat menjadikan kita semua dikenal oleh Rasulullah dan akan mendapatkan cintanya.

    Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu bershalawat dan menjalankan sunnah Rasulullah sebagai bukti cinta kita. Dan kita semua akan mendapatkan cinta dan syafaat dari beliau Rasulullah Muhammad ﷺ, amiin ya Rabbal ‘alamin.

    اعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَاِيَّاكُمْ بِالْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَ كَفَرَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

    اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَاعْلَمُوْا اَنَّ الله يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.قال الله تعالى فى القران الكريم اعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ سيدنا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .

    Naskah khutbah Jumat Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut dihimpun dari situs Kementerian Agama RI.

    Naskah Khutbah Jumat PDF

    Kementerian Agama RI juga menyediakan naskah khutbah Jumat versi pdf. detikers bisa mengaksesnya di situs https://simbi.kemenag.go.id/eliterasi/.

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com