Tag: hikmah

  • 7 Hadits tentang Kasih Sayang yang Patut Diteladani Seluruh Umat Muslim



    Jakarta

    Kasih sayang merupakan fitrah setiap umat manusia. Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu menebarkan kasih sayang kepada segala ciptaan Allah SWT.

    Dikatakan dalam buku Pendidikan Karakter oleh Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri, kata “kasih sayang” termasuk salah satu dari nama-nama Allah, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Sebagaimana dijelaskan melalui ayat pertama surat Al-Fatihah, Allah SWT berfirman:

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ


    Latin: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Fatihah: 1).

    Selain dari ayat tersebut, ajaran tentang kasih sayang dalam Al-Qur’an juga termaktub dalam surat Al-Balad ayat 17, Allah SWT berfirman:

    ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْمَرْحَمَةِ

    Artinya: “Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS Al-Balad: 17).

    Rasulullah SAW pun kerap menganjurkan kaumnya untuk saling menebarkan kasih sayang. Dalam artikel ini, akan dijelaskan beberapa hadits tentang kasih sayang yang dapat menjadi teladan.

    Kumpulan Hadits tentang Kasih Sayang

    Berikut hadits tentang kasih sayang yang dirangkum dari buku 60 Hadits Shahih karya Faqihuddin Abdul Kodir dan buku Nabi Sang Penyayang karya Raghib As-Sirjani.

    1. Hadits Pertama

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

    Artinya: “Barangsiapa yang tidak menyayangi, niscaya ia tidak akan disayangi.” (HR Al-Bukhari No. 328, dalam Kitab Al-Tayamum).

    Maksud dari hadits tersebut menegaskan secara mutlak bahwa orang yang tidak menyayangi hamba-hamba Allah SWT, maka ia juga tidak akan disayang oleh pencipta-Nya.

    2. Hadits Kedua

    Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk menyayangi siapapun yang ada di muka bumi. Sebagaimana sabda beliau,

    ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

    Artinya: “Sayangilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh siapa saja yang ada di langit” (HR At-Tirmidzi no. 1924).

    3. Hadits Ketiga

    Rasulullah SAW pernah mengajarkan umatnya untuk menyayangi orang yang lebih muda, termasuk anak kecil. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam hadits,

    عن أنين ، قال : قال رسول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَنسُ وَقَر الكبير وَارْحَمِ الصَّغِيرَ تُرَافِقْنِي فِي الْجَنَّةِ

    Artinya: Dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai Anas, hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda, maka kau akan menemaniku di surga.’” (HR Baihaqi).

    4. Hadits Keempat

    Orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang kepada sesamanya dapat dikatakan bahwa dirinya termasuk orang yang celaka dan sengsara. Dikatakan dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,

    لا تَنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِن شَقِيَ

    Artinya: “Tidaklah kasih sayang itu dicabut kecuali dari orang yang sengsara.” (HR Abu Dawud No. 4942).

    5. Hadits Kelima

    Dalam kitab Al-Baqiyatus Shalihat oleh Rabi’ Abdul Rauf Az-Zawawi disebutkan bahwa kasih sayang antar sesama muslim layaknya kebersamaan dalam satu tubuh. Rasulullah SAW bersabda,

    مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوادِهِمْ، وتَراحُمِهِمْ ، وتَعَاطْفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذا اشْتَكَى مِنهُ عُضْقَ تَداعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والحُمّى

    Artinya: “Perumpamaan sesama kaum mukminin dalam menjaga hubungan kasih sayang dan kebersamaan seperti satu tubuh, jika satu anggota merasakan sakit, maka akan membuat seluruh tubuhnya terjaga dan merasakan demam.” (HR Muslim No. 2586).

    6. Hadits Keenam

    Rasa kasih sayang juga diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada binatang. Ketika seseorang menyembelih binatang, hendaknya penyembelihannya tersebut didasari dengan kasih sayang. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسَنُوا الديح وليحدٌ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ.

    Artinya: “Sesungguhnya Allah menentukan kebaikan terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka hendaknya membunuh dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka hendaknya menyembelih dengan baik, hendaknya kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah binatang itu pada saat disembelih.” (HR Muslim).

    7. Hadits Ketujuh

    Anjuran Rasulullah SAW untuk menebarkan kasih sayang kepada binatang juga disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa ada seorang wanita yang masuk neraka karena ia pernah membunuh kucing semasa hidupnya. Sebagaimana sabda beliau,

    “Ada seorang wanita masuk ke dalam neraka karena seekor kucing yang diikatnya dan tidak diberi makan, serta tidak membiarkannya makan rerumputan yang tumbuh di bumi.” (HR Al-Bukhari).

    Itulah beberapa hadits tentang kasih sayang yang patut diteladani seluruh umat muslim kepada seluruh makhluk hidup ciptaan Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Saat Cuaca Panas dan Terik, Bisa Dibaca Hari Ini



    Jakarta

    Doa saat cuaca panas dan terik dapat diamalkan oleh seluruh umat muslim. Doa ini berisi permohonan agar Allah SWT senantiasa mencurahkan perlindungan kepada umat-Nya ketika dilanda suatu cobaan berupa cuaca panas.

    Suhu udara yang panas dan terik tengah dirasakan masyarakat Indonesia. Fenomena ini terjadi secara alami, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai wilayah di Asia.

    Melansir laman CNN, Rabu (26/4/2023) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan ada lima penyebab utama terjadinya suhu panas di Indonesia sepekan terakhir.
    Kepala Pusat Layanan Iklim Terapan BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memperkirakan suhu panas akan mencapai 36-37 derajat di beberapa wilayah di Tanah Air.


    Doa saat Cuaca Panas

    Pada zaman Rasulullah SAW, pernah terjadi cuaca panas dan musim kemarau yang melanda. Melansir laman NU, Rabu (26/4/2023) ada beberapa bacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW ketika mengalami cuaca panas.

    Doa pertama

    Berikut ini adalah doa yang dikutip dari pembukaan khutbah Shalat Istisqa Rasulullah SAW

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ عَلَيْنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ

    Arab Latin: Alhamdulillāhi rabbil ālamīn. Arrahmānir rahīm. Māliki yaumid dīn. Lā ilāha illallāhu yaf’alu mā yurīd. Allahumma antallāhu. Lā ilāha illā anta. Antal ghaniyyu wa nahnul fuqara`. Anzil ‘alainal ghaitsa waj’al mā anzalta ‘alainā quwwatan wa balaghan ilā hīn.

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Kau adalah Allah. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Engkau. Kau Maha Kaya. Sementara kami membutuhkan-Mu. Maka turunkanlah hujan kepada kami. Jadikanlah apa yang telah Kauturunkan sebagai kekuatan dan bekal bagi kami sampai hari yang ditetapkan,” (HR Abu Dawud).

    Doa kedua

    Berikut ini doa yang dibaca Rasulullah SAW saat sedang khutbah Jumat. Seorang sahabat datang ke dalam masjid menceritakan bencana kekeringan dan meminta Rasulullah yang sedang khutbah Jumat untuk berdoa kepada Allah.

    اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا

    Arab Latin: Allāhumma agitsnā, allāhumma agitsnā.

    Artinya: “Ya Allah, tolonglah kami. Ya Allah, tolonglah kami,” (HR Muttafaq Alaih).

    Doa ketiga

    Berikut ini adalah lafal doa istisqa yang pernah dibaca oleh Rasulullah menurut riwayat Abu Awanah dari Sahabat Sa’ad ra.

    اَللَّهُمَّ جَلِّلْنَا سَحَابًا, كَثِيفًا, قَصِيفًا, دَلُوقًا, ضَحُوكًا, تُمْطِرُنَا مِنْهُ رَذَاذًا, قِطْقِطًا, سَجْلًا, يَا ذَا اَلْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

    Arab Latin: Allāhumma jallilnā saḥāban, katsīfan, qashīfan, dalūqan, dhaḥūqan, thumthirunā minhu radzādzan, qith-qithan, sajlan, yā dzal jalāli wal ikrām.

    Artinya, “Ya Allah ratakanlah hujan di bumi kami, tebalkanlah gumpalan awannya, yang petirnya menggelegar, dahsyat, dan mengkilat; sebuah awan darinya Kauhujani kami dengan tetesan deras hujan yang kecil, rintik-rintik, yang menyirami bumi secara merata, wahai Dzat yang Maha Agung lagi Maha Mulia,” (HR Abu Awanah).

    Demikian bacaan doa ketika mengalami dan merasakan cuaca panas. Semua doa ini dapat dipanjatkan dengan niat semata-mata memohon ridho dan pertolongan Allah SWT.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Nabi Zakaria agar Didekatkan dengan Jodoh, Yuk Amalkan!



    Jakarta

    Doa Nabi Zakaria AS kerap dibaca untuk mendekatkan jodoh. Meski jodoh menjadi rahasia Allah SWT, sebagai manusia kita berhak untuk meminta kepada-Nya agar jodoh kita lebih didekatkan.

    Di dalam Al-Qur’an sendiri, Allah menjamin tiap-tiap manusia diciptakan secara berpasang-pasangan. Ini sesuai dalam Surat An Najm ayat 45 yang berbunyi,

    وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰ


    Arab latin: Wa annahụ khalaqaz-zaujainiż-żakara wal-unṡā

    Artinya: “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita,”

    Bunyi Doa Nabi Zakaria untuk Meminta Jodoh

    Menukil dari Kitab Cinta Muslimah karya Assyabiya Ariffah, doa Nabi Zakaria ini tercantum dalam Surat Al Anbiya ayat 89, berikut bunyinya:

    وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

    Arab latin: Wa zakariyyā iż nādā rabbahụ rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn

    Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik,”

    Setelahnya, bisa dilanjutkan dengan membaca doa berikut:

    “Ya Allah, cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku di dunia dan akhirat kelak. Dengarkanlah rintihan hamba-Mu yang dhaif ini. Jangan Engkau biarkan aku sendirian di dunia ini maupun di akhirat kelak. Sebab itu menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran. Maka, karuniakanlah aku seorang pasangan yang beriman, supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup ke jalan yang Engkau ridhai. Dan karuniakanlah padaku keturunan yang saleh, Aamiin, Aamiin ya Rabbal alamin,”

    Pada buku Kitab Doa Mustajab Terlengkap tulisan Ustaz H Amrin Ali Al-Kasyaf, apabila seseorang telah lama menyendiri dan ingin memulai hidup baru maka bisa mengamalkan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Zakaria tersebut. Sebelum berdoa, hendaknya seorang muslim memulainya dengan shalawat lebih dulu.

    Setelahnya, bacalah doa Nabi Zakaria sesuai pada Surat Al Anbiya ayat 89.

    Doa Lain yang Bisa Dibaca untuk Mendekatkan Jodoh

    Selain doa Nabi Zakaria, ada juga doa lain yang bisa dipanjatkan untuk mendekatkan jodoh. Merujuk pada sumber yang sama, yaitu Kitab Cinta Muslimah, doa itu disebut sebagai doa Nabi Musa AS.

    Doa Nabi Musa terdapat pada Surat Al Qashash ayat 24. Setelah membaca doa tersebut, Nabi Musa didatangi calon istrinya sekaligus mendapat pekerjaan.

    فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

    Arab latin: Fa saqā lahumā ṡumma tawallā ilaẓ-ẓilli fa qāla rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr

    Artinya: “Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku,”

    Itulah doa Nabi Zakaria yang bisa dipanjatkan untuk meminta jodoh. Jangan lupa diamalkan, ya!

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Pembuka dan Penutup Acara dari Hadits dan Al-Qur’an



    Jakarta

    Acara atau majelis dalam Islam adalah ajang bertemunya orang-orang dengan tujuan suatu hal. Sama seperti kita yang harus selalu mengingat dan berdoa kepada Allah SWT dalam melaksanakan segala suatu hal. kita tentunya perlu membaca doa pembuka dan penutup acara.

    Mengutip buku Doa Para Nabi dan Rosul oleh Nurul Huda, salah satu bacaan doa pembuka acara dapat diambil dari potongan ayat Al-Qur’an yakni surah Al A’raf ayat 43. Adapun beberapa doa pembuka acara yang dapat diamalkan sama seperti ketika membuka majelis adalah sebagai berikut.

    Doa Pembuka Acara

    1. Doa Pembuka Majelis

    … الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَننَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِهْتَدِى لَوْلَا أَنْ هَدَيْنَا اللَّهُ …


    Arab Latin: “Alḥamdu lillāhil-lażī hadānā lihāżā, wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh”

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS Al A’raf: 43)

    2. Doa Pembuka Majelis Versi Panjang

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . أَمَّا بَعْدُ

    Arab Latin: “Innal hamdalillaah, nahmaduhuu, wa nasta’iinuhu, wa nastagh-firuh. Wa na’uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyi-aati a’maalinaa. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lah, wa man yudh-lil falaa haadiya lah. Wa asyhadu al-laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Ammaa ba’du.”

    Artinya: “Segala puji hanya kepada Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”

    Dijelaskan melalui sebuah hadits bahwa bacaan doa atau pengantar khutbah ini dapat dibaca saat ada hajat, melakukan akad nikah, membuka pengajian/majelis, atau menyampaikan khutbah Jumat. (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majad, dan Nasa’i)

    Setelah selesai acara atau majelis, bisa ditutup dengan doa penutup acara agar dimaafkan dari kekhilafan selama acara. Doa tersebut adalah sebagai berikut.

    Doa Penutup Acara

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

    Arab Latin: “Subhaanakallaahumma wa bi-ḥamdika, asyhadu allaa Ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilayka.”

    Artinya: “Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (Yang berhak disembah) kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertobat kepada-Mu.”

    Penjelasan dari doa penutup majelis ini adalah berdasarkan sebuah hadits dimana Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa yang duduk di suatu majelis dan di dalamnya terdapat banyak perkataan yang hampa dan tidak berguna, kemudian ia membaca doa ini, maka keburukan yang ia lakukan di majelis tersebut diampuni.” (HR Tirmidzi)

    Dalam sebuah acara, mungkin ada banyak perkataan, informasi, bahkan perbuatan yang mungkin kurang sesuai dengan kehendak orang lain atau dengan Allah SWT yang mungkin membuat-Nya tidak ridha. Dikutip dari arsip detikcom, ada etika dan tata cara yang perlu diperhatikan ketika sedang berdoa pembuka maupun penutup acara.

    Etika dan Tata Cara Berdoa Penutup dan Pembuka Acara

    1. Menghadap ke arah kiblat.

    2. Mengangkat kedua tangan (sikap berdoa).

    3. Memulai doa dengan memuji, mengagungkan asma Allah SWT, dan membaca shalawat atas Nabi.

    4. Tadlarru’ (tunduk dan merendahkan diri) dan dengan suara sedang. Hal ini sesuai dengan surah Al A’raf ayat 55 yaitu,

    اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ – ٥٥

    Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

    5. Menggunakan kalimat yang pasti serta tidak mengandai-andai.

    6. Menghindari kalimat yang menimbulkan kecelakaan atau bencana.

    7. Mengulangi doa sampai tiga kali.

    8. Merangkai kalimat dengan asmaul husna dan kalimat tauhid.

    9. Menutup doa dengan sholawat dan tahmid.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 8 Doa Pernikahan Islami sesuai Sunnah agar Rumah Tangga Berkah



    Jakarta

    Islam mengajarkan banyak doa kepada para umatnya, karena doa memiliki kedudukan tinggi dan termasuk ibadah paling mulia di sisi Allah SWT. Di antara doa yang bisa dipanjatkan kaum muslim adalah doa saat dan selama pernikahan.

    Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam bukunya Tuntunan Pernikahan Islami yang diterjemahkan oleh Ahmad Dzulfikar, melampirkan Surat Ar-Rum ayat 21:

    “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”


    Menukil Tafsir Tahlili Kementerian Agama (Kemenag), ayat di atas menerangkan bukti kekuasaan Allah SWT yaitu penciptaan manusia yang berpasangan, laki-laki dan perempuan. Kemudian di antara mereka akan terjalin hubungan yang didasari dengan perasaan dan daya tarik masing-masing. Puncak dari jalinan tersebut adalah pernikahan antara keduanya, yaitu antara pria dan wanita.

    Melalui ayat Al-Qur’an di atas pula, Allah SWT mengisyaratkan perkawinan sebagai salah satu dari perintah-Nya. Selain itu, utusan-Nya yakni Nabi Muhammad SAW turut menganjurkan umatnya agar menikah.

    Dikatakan bahwa pernikahan merupakan sunnah Rasul. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Ayyub, di mana Nabi SAW bersabda:

    أَرْبَعٌ مِنْ سُـنَنِ الْمُرْسَلِيْنَ: اَلْحَيَـاءُ، وَالتَّعَطُّرُ، وَالسِّوَاكُ، وَالنِّكَاحُ

    Artinya: “Ada empat perkara yang termasuk sunnah para Rasul; rasa-malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.” (HR Tirmidzi)

    Dengan perkawinan yang menjadi perintah Allah SWT sekaligus sunnah para nabi, hendaknya kaum muslim berharap memiliki pernikahan yang rukun, langgeng, hingga berlimpah keberkahan. Di antara cara meraihnya yakni dengan senantiasa berdoa kepada-Nya, baik saat dan selama pernikahan itu sendiri.

    Syariat Islam melalui Rasulullah SAW mengajarkan berbagai doa yang dapat diamalkan kaum muslim. Doa apa saja? Dan bagaimana bacaannya?

    Doa Pernikahan Islami sesuai Hadits: Arab, Latin & Arti

    Masih dari buku Tuntunan Pernikahan Islami dan kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi, disebutkan sejumlah doa terkait pernikahan dan bagi pengantin atau pasangan suami istri, berikut bacaan doanya:

    1. Doa untuk Pengantin Pria Setelah Akad Nikah

    بَارَكَ اللهُ لَكَ

    Latin: Baarakallahu laka

    Artinya: “Semoga Allah memberkahimu.” (HR Bukhari & Muslim, dari Anas bin Malik)

    2. Doa untuk Masing-masing Pengantin

    بَارَكَ اللهُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْكُمَا فِي صَاحِبِهِ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

    Latin: Baarakallaahu likulli wahidin min kumaa fii shaahibihi wa jama’a bainakumaa fii khairin

    Artinya: “Semoga keberkahan Allah atas tiap-tiap dari kalian dalam perjodohannya dan semoga Allah mengumpulkan antara kalian berdua dalam kebaikan.”

    3. Doa untuk Kedua Mempelai

    بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي الْخَيْرِ

    Latin: Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fil khairi

    Artinya: “Semoga Allah memberkahimu, semoga Allah memberkahi engkau dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ahmad, Baihaqi & Hakim, dari Abu Hurairah)

    4. Doa bagi Pengantin Laki-laki

    اللّهُمَّ بَارِكْ فِيهِمَا وَبَارَكَ لَهُمَا فِي بِنَائَهِمَا

    Latin: Allahumma baarik fiihimaa wa baarik lahumaa fi binaaihima

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah mereka berdua dan berkahilah keduanya dalam pernikahannya.” (HR Ibnu Sa’ad, Thabari & Ibnu Asakir, dari Buraidah)

    5. Doa bagi Pengantin Perempuan

    عَلَى الْخَيْرِ َوالْبَرَكَةِ، وَعَلَى خَيْرٍ طَائِرٍ

    Latin: ‘Alal khairi wal barakati wa ‘ala khairin thaairin

    Artinya: “Semoga kau selalu dalam kebaikan dan penuh keberkahan, dan senantiasa mendapat keberuntungan.” (HR Bukhari, Muslim & Baihaqi, dari Aisyah)

    6. Doa saat Suami Meletakkan Tangan di Kepala Istrinya

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

    Latin: Allaahumma innii as-aluka kharahaa wa khaira maa jabaltahaa ‘alaihi, wa a’uudzubika in syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaih

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau tentukan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari keburukan yang Engkau tentukan kepadanya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah & Ibnu Sunni, dari Amru bin Syu’aib)

    7. Doa ketika Suami Menemui Istrinya di Malam Pertama

    بَارَكَ اللَّهُ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنَّا فِي صَاحِبِهِ

    Latin: Baarakallaahu likulli waahidin minnaa fii shaahibihi

    Artinya: “Semoga Allah memberkahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya.”

    8. Doa sebelum Berhubungan Intim (Jima)

    بِسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

    Latin: Bismillaahi, Allahumma jannibnaasy syaithaana wa jannibisy syaithaana maa razaqtanaa

    Artinya: “Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rezekikan kepada kami.” (HR Bukhari & Muslim, dari Ibnu Abbas)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Roh Orang Beriman Harum Semerbak saat Meninggal, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Orang beriman yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah akan menunjukkan tanda-tanda tertentu saat Malaikat Maut mengjemputnya. Menurut sebuah hadits, roh orang beriman akan mengeluarkan bau harum semerbak hingga tercium oleh penghuni langit.

    Hadits yang menjelaskan hal tersebut diriwayatkan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib RA dari Rasulullah SAW. Hadits ini turut dinukil Mahir Ahmad Ash-Shufiy dalam Kitab Al-Maut wa ‘Alam Al-Barzakh dan diterjemahkan oleh Badruddin dkk.

    Rasulullah SAW bersabda, “Orang beriman jika menghadapi kematian, malaikat turun kepadanya dengan wajah yang bersinar bagaikan sinar matahari dengan membawa kain kafan surga, mereka duduk di hadapannya hingga Malaikat Maut datang kemudian duduk di bagian kepala.


    Ia bertanya, ‘Hai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan rahmat Allah.’ Maka Roh keluar dengan mudah dan dipegang oleh Malaikat Maut. Ketika Malaikat Maut telah mengambilnya, mereka segera meletakkan pada kain kafan yang telah disiapkan, ketika roh keluar, bau harum semerbak memenuhi ruangan.

    Para malaikat itu terus melintas dengan membawa roh tersebut hingga penghuni langit bertanya, ‘Roh siapa yang baunya harum semerbak ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini roh Fulan bin Fulan’ seraya menyebutkan nama yang paling indah sebagaimana namanya di dunia.

    Mereka terus membawa roh yang harum semerbak hingga ke langit dunia dan semua penghuni langit sampai langit yang ketujuh maka Allah berfirman, ‘Tetapkan hamba-Ku itu dalam golongan orang-orang mulia di sisi Allah dan kembalikan ke bumi karena dari tanah Aku ciptakan, ke tanah pula akan dikembalikan, dan dari tanah akan dikeluarkan kembali.’

    Beliau SAW menuturkan, “Roh itu dikembalikan pada jasad kemudian datang dua orang malaikat yang menanyakan, ‘Siapa Tuhanmu?’ Ia menjawab, ‘Allah Tuhanku.’ Kedua malaikat bertanya kembali, ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab, ‘Islam agamaku.’ Mereka bertanya, ‘Apa status laki-laki ini?’ Ia menjawab, ‘Ia adalah utusan Allah.’ Mereka bertanya, ‘Apa yang diajarkan kepadamu?’ Ia menjawab, ‘Aku membaca kitab Al-Qur’an maka aku percaya dan membenarkan misi dakwahnya.’

    Terdengar suara panggilan, ‘Ia membenarkan risalah kekasih-Ku, untuk itu berilah dia alas–samak–pakaian surga, lapangkanlah kuburnya sejauh ia memandang.’ Kemudian datang seorang laki-laki dengan bau harum dan berpakaian putih. Ia berkata, ‘Bergembiralah dengan hari yang dijanjikan.’

    Orang itu bertanya, ‘Siapa kamu ini?’ Ia menjawab, ‘Aku ini amal salehmu.’ Mayit itu berkata, ‘Ya Tuhanku, datangkanlah kiamat agar aku dapat kembali kepada keluargaku.’

    Sedangkan orang kafir jika menghadapi kematian maka kemudian Malaikat Maut datang dan duduk di bagian kepala. Ia berkata, ‘Hai jiwa yang buruk, keluarlah kamu menuju murka Allah.’

    Beliau menuturkan jasad orang tersebut bergetar ketakutan maka Malaikat Maut mulai mengambil roh orang tersebut. Ketika Malaikat Maut mengambil rohnya maka dalam sekejap roh itu telah ditempatkan pada kain yang kotor sehingga bau tidak sedap merebak ke seluruh bumi. Mereka membawa roh tersebut.

    Jika mereka yang membawa roh tersebut melintasi sekelompok malaikat, mereka bertanya, ‘Roh jahat siapa ini?’ Malaikat pembawa roh menjawab, ‘Roh Fulan bin Fulan”‘ dengan menyebutkan nama yang paling buruk di dunia. Roh tersebut dibawa hingga ke langit dunia, kemudian minta dibukakan, tetapi tidak mendapatkan izin.

    Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah, “… tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum…” (QS Al A’raf: 40) dan “… Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh urung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh…” (QS Al Hajj: 31)

    Ketika roh telah dikembalikan dan malaikat datang kepadanya kemudian bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?” Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Mereka bertanya, ‘Apa agamamu?’ Mayit itu menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Kedua malaikat tersebut kembali bertanya, ‘Apa tugas laki-laki bagi kamu?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak tahu.”

    Maka terdengar seruan dari langit agar orang yang mendustakan hamba-Ku itu dijebloskan ke neraka, bukakan pintu neraka supaya ia merasakan panas api neraka dan kuburannya pun menjadi sempit hingga meremukkan tulang belulangnya.

    Kemudian datang seorang laki-laki yang sangat buruk rupa dan badannya berbau busuk yang amat menyengat hidung, orang itu berkata, ‘Nikmatilah kejahatan yang kamu lakukan karena pada hari ini merupakan hari sial bagimu maka mayit itu bertanya, ‘Siapa kamu, wajahmu buruk dan datang dengan berita buruk pula.’ Ia menjawab, ‘Aku ini amal jahatmu.’ Maka mayit tersebut berkata, ‘Ya Tuhanku, jangan Engkau datangkan hari kiamat!’” (HR Ahmad)

    Imam Muslim dalam Kitab Shahih-nya meriwayatkan hal serupa dari Abu Hurairah RA. Dituturkan, “Jika orang beriman menghadapi kematian, roh tersebut berbau harum semerbak sehingga para penghuni langit berkata, ‘Bau harum semerbak ini datang dari bumi. Semoga rahmat bagimu dan jasad yang kamu bawa.’

    Malaikat yang membawa roh tersebut terus berjalan untuk menghadap Allah. Kemudian Allah berfirman, ‘Pergilah bersamanya hingga kiamat datang.’

    Jika orang kafir yang menghadapi kematian, roh tersebut berbau busuk yang menyengat hidung sehingga penghuni langit berkata, ‘Bau busuk ini berasal dari bumi.’ Dikatakan pada bangkai busuk itu, ‘Rasakanlah siksaan hingga kiamat datang!’”

    Abu Hurairah RA mengatakan, “Rasulullah SAW menutup kembali hidungnya dengan kain tipis tersebut. Beliau melakukan itu seolah-olah beliau mencium bau busuk tersebut agar kain itu dapat menahan bau yang tak sedap itu.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa untuk Orang Meninggal Perempuan Sesuai Sunnah



    Jakarta

    Setiap orang yang ada di dunia ini baik laki-laki maupun perempuan pada akhirnya akan menemui ajalnya. Untuk itu, umat Islam dapat mengirim bacaan doa untuk orang meninggal perempuan sesuai sunnah.

    Doa untuk orang meninggal pada umumnya berisi permohonan agar jenazah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Doa ini juga memuat permohonan ampun.

    Merujuk dari Paling Lengkap & Praktis Fiqih Wanita: Tutorial Ibadah dan Muamalah Harian Muslimah Ahlul Jannah karya Atiqah Hamid berikut bacaan doa untuk orang meninggal perempuan sesuai sunnah,


    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالتَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقَّهَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَأَدْخِلْهَا الْجُنَّةَ، وَأَعِذْهَا مِنْ عَذَاب الْقَبْرِ

    Arab latin: Allahummaghfir lahaa, warhamhaa, wa ‘aafihaa, wa’fu ‘an-haa. Wa akrim nuzulahaa, wa wassi’ madkhalahaa, waghsilhaa bil maa-I wats tsalji wal baradi. Wa naqqihaa minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadha minad danasi. Wa abdilhu daaran khairan min daarihaa. Wa ahlan khairan min ahlihaa. Wa zaujan khairan min zaujihaa. Wa adkhlhaljannah, wa a’idzhaa min ‘adzaabil qabri

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah ia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah ia, dan tempatkanlah di tempat yang mulia (surga). Luaskan kuburannya, serta mandikan ia dengan air salju dan air es. Bersihkan ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan ia ke surga, jagalah ia dari siksa kubur dan neraka.” (HR Muslim)

    Selan itu, terdapat bacaan yang berbeda untuk mayit anak perempuan. Merujuk dari buku Risalah Jenazah: Tuntunan Lengkap Pengurusan Jenazah karya Baihaqi Nu’man dan Muhammad Shonhaji, berikut bacaannya:

    اللّهُمَّ اجْعَلَهَا فَرَطًا لِاَبَوَيهَا وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيعًا وَثَقِل بِهَا مَوَازِينَهُمَا وَافرغ الصَّبرَ عَلى قُلُوبِهِمَا وَلَا تَفتِنهُمَا بَعدَهَا وَلَا تَحرِمهُمَا أَجرَهَا

    Arab latin: Allaahummaj’alhaa farathal li abawaihaa wa salafan wa dzukhran wa ‘izhatan wa’tibaaran wa syafii’an wa tsaqqil bihaa mawaaziina humaa wa afrighish shabra ‘alaa quluubihimaa walaa taftinhumaa ba’dahaa wa laa tahrimhumaa ajrahaa

    Artinya: “Wahai Allah! Jadikanlah dia sebagai simpanan pendahuluan bagi kedua orang tuanya, titipan, pelajaran (nasihat), contoh, penolong, dan beratkanlah, karena dia, timbangan kedua orang tuanya, curahkanlah kesabaran di hati mereka berdua, janganlah kau jadikan fitnah bagi mereka berdua setelah kematiannya, janganlah kau cegah pahalanya bagi mereka berdua.

    Hamid Ahmad Ath-Thahir dalam buku Ensiklopedia Doa menjelaskan mengenai hadits yang berkaitan dengan larangan orang berdoa dan memohon kepada orang yang telah meninggal dunia.

    Dikisahkan seseorang bertanya, “Aku mendatangi Nabi Muhammad SAW di kubur beliau, lalu aku mohon beliau memohonkan ampunan untukku atau memohonkan pertolongan untukku di sisi Allah SWT, apakah hal itu boleh atau tidak?”

    Rasulullah SAW bersabda,

    إذا ماتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةِ أَوْ عِلْمٍ يُنتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    Artinya: “Jika seorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak shalih yang mendiakan orang tuanya.” (HR Muslim dalam Shahih, Kitab Fi Al-Washiyat)

    Hamid Ahmad Ath-Thahir menjelaskan lebih lanjut, seseorang yang telah meninggal dunia jelas tidak mungkin diminta untuk memohonkan ampunan bagi orang lain, termasuk bagi dirinya sendiri, karena amalnya praktis telah terputus.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2023



    Jakarta

    Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) akan menyelenggarakan upacara bendera peringatan Hari Pendidikan Nasional 2023 (Hardiknas 2023) pada 2 Mei. Salah satu susunan acara dalam peringatan tersebut adalah pembacaan doa upacara bendera Hardiknas 2023.

    Dalam hal ini, pemerintah mengimbau instansi pusat, daerah, satuan pendidikan, serta kantor perwakilan RI di luar negeri untuk menyelenggarakan upacara bendera. Adapun, upacara di Kemendikbudristek sendiri akan dilangsungkan pukul 08.00 WIB secara tatap muka.

    Imbauan pelaksanaan upacara Hardiknas 2023 tersebut tertuang dalam Surat Edaran Mendikbudristek Nomor: 12811/MPK.A/TU.02.03/2023 tentang Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2023.


    Salah satu susunan acara dalam upacara Hardiknas 2023 adalah pembacaan doa. Berdasarkan surat edaran seperti dilihat detikHikmah, pembacaan doa upacara dilakukan secara agama Islam. Petugas pembaca doa diharapkan menjelaskan hal ini sebelum memulai pembacaan doa.

    Berikut doa upacara bendera Hari Pendidikan Nasional 2 Mei atau Hardiknas 2023 sebagaimana tercantum dalam lampiran surat edaran tertanggal 18 April 2023.

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Izinkan kami memandu doa menurut agama Islam, bagi yang beragama lain, kami persilakan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

    Dengan nama-Mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji untuk-Mu Tuhan semesta alam, Engkau tempat kami meminta, Engkau tempat kami memohon, kami berdoa kehadirat-Mu ya Allah.

    Alhamdulillah hamdas syākirin, hamdan nā’imin, hamdan yuwāfī ni’amahu wa yukāfiu mazīdah. Yā rabbanā lakal hamdu kamā yanbaghii lijalāli wajhikal karīmi wa ‘adhīmi sulthānik.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

    Ya Allah. Limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarga-Nya.

    Ya Allah, ya Tuhan kami Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang Saat ini kami berkumpul dalam rangka mengikuti “Upacara Bendera Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei Tahun 2023”, untuk itu Ya Allah jadikan acara peringatan Hardiknas ini, kegiatan yang penuh rahmat, kegiatan yang membawa manfaat, dan kegiatan yang penuh dengan hikmat. Ya Robb, berkati dan ridhoi acara kami ini.

    Wahai Tuhan yang melapangkan jalan ke surga bagi para penuntut ilmu. Wahai Tuhan yang mengajarkan nama-nama segala sesuatu. Wahai Tuhan yang memuliakan Nabi Adam melebihi malaikat yang diciptakan lebih dahulu. Wahai Tuhan yang meninggikan derajat kaum beriman dan pewaris ilmu.

    Anugerahi kami sedikit dari banyaknya ilmu pengetahuan-Mu, yakni ilmu yang bermanfaat, agar tak sesat langkah kami menuju ridho-Mu.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Ya Rahman, Ya Rahim.
    – Jadikanlah Hari Pendidikan Nasional tahun 2023 ini sebagai momentum terbaik untuk serentak bergerak mewujudkan Merdeka Belajar.
    – Mudahkanlah cita-cita kami untuk mempersiapkan putra-putri kami menuju Indonesia Emas tahun 2045.

    Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengampun.

    Lapangkanlah hati kami agar selalu dalam naungan rahmat-Mu dan bantulah kami agar selalu berada dalam petunjuk-Mu. Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

    Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mendengar, kabulkanlah doa dan permohonan kami.

    رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيّئ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسبَرْ لِي أَمْرِي

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifun
    Wa salamun ‘alal mursalin

    وَ اَلْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Doa Iftitah yang Bisa Diamalkan saat Salat



    Jakarta

    Doa iftitah adalah doa yang dapat dibaca sebagai pembuka dalam salat. Hukum dari membaca doa iftitah ini adalah sunnah.

    Hal ini juga didukung oleh pendapat mayoritas imam besar mazhab dari Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Berikut pendapat ketiga mazhab tersebut yang dikutip dari buku Kitab Sholat Empat Mazhab oleh Syeikh Aburrahman Al-Jaziri,

    “Membaca doa iftitah tidak disunnahkan bagi makmum, setelah imam memulai bacaan dalam setiap rakaat,” tulis Syeikh Aburrahman Al-Jaziri.


    Dalam pelaksanaannya, doa iftitah dibaca setelah rukun takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awudz dalam setiap salat, baik salat fardhu maupun salat sunnah. Namun, dalam pelaksanaan salat jenazah, doa iftitah tidak dianjurkan untuk dibaca karena salat jenazah dianjurkan untuk dikerjakan secara singkat.

    Mengutip buku Menyelami Makna Bacaan Shalat oleh Fajar Kurnianto, untuk bacaan doa iftitah sendiri memiliki beberapa versi. Berikut adalah beberapa versi bacaan yang diambil dari hadits Rasulullah SAW.

    4 Versi Pilihan Doa Iftitah dan Artinya

    1. Bacaan Doa Iftitah Versi Pertama

    للهم باعِدُ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمُشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. اللهم نَقْنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللهم اغسِلُنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

    Arab latin: Allahumma baaid baynii wa bayna khotoyaaya kamaa baa’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii min khotoyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silnii min khotoyaaya bil maa-iwats tsalji wal barod.

    Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari kotoran. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan embun.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

    2. Bacaan Doa Iftitah Versi Kedua

    وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَات وانا كنيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَيْنَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

    Arab latin: Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samawaati wal ardha haniifam muslimau wamaa ana minal musyrikiina. Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahirabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu, wabidzalika umirtu wa anaa minal muslimiin.

    Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada Zat yang telah memulai penciptaan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan lurus mengarah kepada Al-Haq, lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri.” (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib)

    3. Bacaan Doa Iftitah Versi Ketiga

    اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

    Arab latin: Allahumma robba jibroo-iila wa mii-ka-iila wa isroofiila, faathiros samaawati wal ardhi ‘aliimal ghoibi wasy syahaadah anta tahkumu bayna ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun, ihdinii limakhtulifa fiihi minal haqqi bi-idznik, innaka tahdi man tasyaa-u ilaa shirootim mustaqiim.

    Artinya: “Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkan lah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.” (HR Muslim)

    4. Bacaan Doa Iftitah Versi Keempat

    اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

    Arab latin: Allahu akbar kabiiro, allahu akbar kabiiro, allahu akbar kabiiro, walhamdulillahi katsiiro, walhamdulillahi katsiiro, walhamdulillahi katsiiro, wa subhanallahi bukrotaw washilaa, wa subhanallahi bukrotaw washilaa, wa subhanallahi bukrotaw washilla a’udzu billahi minasy syaithooni min nafkhihi, wa naftshihi, wa hamzih.

    Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan.” (HR Abu Daud)

    Itulah beberapa bacaan doa iftitah yang bisa kita amalkan ketika salat. Semoga dapat membantu ya, detikers!

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Wudhu Arab, Latin, dan Artinya



    Jakarta

    Wudhu merupakan salah satu syarat sah salat. Seperti sunnah dari Rasulullah SAW setelah selesai wudhu kita dianjurkan untuk membaca doa setelah wudhu.

    Anjuran tersebut dijelaskan dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi dengan bersandar pada riwayat shahih yang berasal dari Umar bin Khattab RA. Dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Barang siapa berwudhu lalu mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya’, maka dibukakanlah baginya kedelapan pintu surga, di mana dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dikehendakinya.” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan dalam Al-Kubra dan Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, Ibnu Majah, dan lainnya)


    Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dalam Shahih-nya dan At-Tirmidzi menambahkan, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang yang bersuci.”

    Doa setelah wudhu dan keutamaannya juga terdapat dalam Kitab Sunan Ad-Daraquthni dan Musnad Ahmad. Namun, keduanya meriwayatkan dengan sanad yang dhaif.

    Terkait zikir atau doa setelah wudhu, Syaikh Nashr Al-Maqdisi berkata, “Bersamaan dengan zikir-zikir ini, hendaklah dia mengucapkan, ‘Ya Allah, limpahkan sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, serta keselamatan semoga senantiasa menaunginya.”

    Imam an-Nawawi menjelaskan lebih lanjut, para ulama mazhab berpendapat bahwa zikir-zikir tersebut diucapkan dengan menghadap kiblat dan dilakukan setelah selesai berwudhu.

    Bacaan Doa setelah Wudhu

    Melansir dari Ali Akbar bin Aqil dalam buku Tuntunan Doa & Zikir untuk Segala Situasi & Kebutuhan, berikut bacaan doa setelah wudhu lengkap Arab, latin dan artinya,

    أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    Arab latin: Asy-hadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, wa asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu, allaahummaj’alnii minat tawwaabiin, waj’alnii minal mutathahhiriin, subhanakallahumma wa bi hamdika, asy- hadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk golongan yang menyucikan diri. Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.

    DR H Sagiran dalam buku Gantung Wudhu menjelaskan lebih lanjut mengenai keutamaan membaca doa setelah berwudhu. Ia mengatakan, kalimat اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ, kata مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ adalah orang-orang yang bertobat. Dari tobat tersebut artinya menyucikan kita dari dosa-dosa dengan perantara wudhu.

    Karena itulah, dikatakan dalam suatu riwayat bahwa tetesan air wudhu ibarat bergugurannya dosa-dosa kita. Dengan memanjatkan doa tersebut, kita dijadikan Allah SWT sebagai orang-orang suci.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com