Tag: hikmah

  • Bacaan Istighfar 100 Kali Tiap Hari Sesuai Ajaran Rasulullah



    Jakarta

    Dzikir yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah istighfar. Menurut sebuah riwayat, beliau mengucapkan bacaan istighfar 100 kali setiap hari.

    Mengenai beristighfar ini Allah SWT telah berfirman dalam surah Ghafir ayat 55,

    فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ ٥٥


    Artinya: “Bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, mohonlah ampun untuk dosamu, dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi!”

    Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar menukil sebuah riwayat dalam Shahih Muslim yang menyebut bahwa Rasulullah SAW beristighfar 100 kali dalam sehari.

    Dari al-Gharr al-Muzanny RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda,

    “Sesungguhnya hatiku telah lalai, aku beristighfar dalam sehari sebanyak seratus kali.”

    Diriwayatkan pula dalam Shahih Bukhari, dari Abu Hurairah RA dia katakan, bahwa aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah SWT dan bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak lebih dari tujuh puluh kali.”

    Bacaan Istighfar 100 Kali

    Bacaan istighfar 100 kali yang diucapkan Rasulullah SAW termuat dalam Kitab Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah melalui hadits yang berasal dari Ibnu Umar RA. Ia mengatakan telah menghitung doa Rasulullah SAW dalam suatu majelis, beliau SAW membaca 100 kali bacaan:

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    Arab latin: Raabbighfir lii watub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim

    Artinya: “Ya Allah Tuhanku, ampunilah aku dan berikanlah tobat atasku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengasih.”

    Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

    Muhammad Ainur Rasyid dalam buku Kaya Total dengan Ayat Kursi menukil sebuah hadits mengenai keutamaan membaca istighfar 100 kali dari Hudzaifah RA. Ia berkata,

    “Dulu lisanku biasa berbuat keji kepada keluargaku. Namun, aku tidaklah menganiaya yang lainnya. kemudian, aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ‘Mana istighfarmu, wahai Hudzaifah? Sesungguhnya, aku selalu beristighfar kepada Allah setiap harinya sebanyak 100 kali dan aku juga bertaubat kepada-nya.” (HR Ahmad)

    Bacaan Istighfar yang Jadi Rajanya Istighfar

    Imam an-Nawawi juga meriwayatkan dalam Shahih Bukhari mengenai bacaan istighfar yang disebut sebagai rajanya istighfar (sayyidul istighfar). Dari Syaddad bin Uwais RA dari Nabi SAW bahwa: “Rajanya istighfar adalah kalimat yang diucapkan hamba Allah:

    اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَليَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبي فَاغْفِرْلي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

    Arab latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’uudzubika min syarri maa shana’tu, abbu-u laka bi ni’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzambii, fagfirlii fa innahu laa yaghfirudh dhunuuba illaa anta

    Artinya: ‘Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku atas janji dan ketentuan-Mu sekadar kemampuanku, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat dan aku mengakui segala kenikmatan yang telah Engkau berikan, aku juga mengakui dosa-dosaku, maka oleh karena itu ampunilah aku, sungguh tidak ada yang mampu memberikan ampunan kecuali Engkau.”

    Dikatakan, orang yang membaca sayyidul istighfar pada siang hari dengan segala keyakinan, kemudian mati pada hari itu, maka baginya termasuk penghuni surga, dan bagi yang membacanya pada sebagian malam dengan segala keyakinan kemudian mati sebelum waktu fajar datang, maka dia termasuk penghuni surga.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan setelah Adzan dan Artinya Sesuai Sunnah



    Jakarta

    Bacaan setelah adzan dapat dipanjatkan oleh muslim sebagai amalan baik yang juga diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW. Hal ini baik untuk diamalkan karena terdapat kesempatan adzan sebagai penanda dan pemanggil salat lima kali sehari yang wajib untuk diikuti oleh umat Islam.

    Waktu antara adzan dan iqamah dianggap sebagai salah satu waktu yang mustajab untuk seorang muslim memanjatkan doa. Dalam salah satu hadits diceritakan bahwa doa yang diamalkan oleh seorang muslim setelah adzan tidak akan ditolak.

    “إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا” (رواه أحمد).


    Artinya: “Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqamah, maka berdoalah pada saat itu.” (HR Ahmad)

    Bacaan setelah Adzan dan Artinya Sesuai Sunnah

    Berikut ini adalah bacaan doa setelah adzan lengkap dengan artinya yang bisa kita amalkan.

    اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ اِنَكَ لاَ تُخْلِفُ اْلمِيْعَاد”

    Arab Latin: “Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah. Wash shalaatil qaa-imah. Aati muhammadal wasiilata wal fadhiilah, wab’atshu maqoomam mahmuudal ladzii wa’adtahu innaka la tukhliful mi’ad.”

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan memiliki salat yang didirikan. Berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah ia ke tempat yang terpuji sebagaimana yang Engkau telah janjikan.”

    Bacaan setelah Adzan Maghrib

    Seorang muslim dapat menambahkan doa setelah adzan Maghrib sebagai berikut.

    اللّٰهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وإدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ ليْ

    Arab Latin: “Allahumma hadza iqbalu lailika wa idbaru naharika wa ashwatu du’aika faghfir lii.”

    Artinya: “Ya Allah, ini telah menjelang malam-Mu, dan telah berlalu siang-Mu, telah diserukan seruan-Mu, maka ampunilah aku.”

    Selain membaca doa setelah adzan, seorang muslim dianjurkan untuk melakukan tiga hal ini saat mendengar adzan berkumandang sesuai dengan hadits dari Rasulullah SAW.

    “إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ” (رواه مسلم).

    Artinya: “Jika kamu mendengar muadzin, ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian berdoalah untukku. Siapa yang mendoakan kepadaku satu kali, Allah akan mendoakan kepadanya sepuluh kali, dan mintalah wasilah (kedudukan istimewa) kepada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi seorang hamba Allah, dan aku berharap bahwa aku adalah orang itu. Siapa yang meminta wasilah untukku, dia akan mendapatkan syafaatku.” (HR Muslim)

    Sekian adalah sekilas pembahasan mengenai bacaan setelah adzan. Semoga tulisan kali ini dapat bermanfaat dan dipraktikkan oleh pembaca semua. Aamiin yaa Rabbalalamiin.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Adzan, Dibaca agar Mendapat Syafaat pada Hari Kiamat



    Jakarta

    Doa setelah adzan merupakan amalan sunnah yang dipanjatkan usai muazin menyerukan adzan. Selain itu, doa tersebut juga termasuk ke dalam adab ketika mendengarkan adzan.

    Menurut buku 63 Adab Sunnah oleh Dr KH Rachmat Morado Sugiarto Lc M A, doa setelah adzan disampaikan oleh Jabir bin Abdullah. Dikatakan orang yang membaca doa tersebut akan mendapat syafaat pada hari kiamat.

    Adapun, hukum membacanya ialah sunnah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Berikut bacaan doanya seperti dinukil dari Buku Pintar Doa dan Zikir Rasulullah susunan Abdullah Zaedan.


    Bacaan Doa setelah Adzan

    اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذه الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاةِ القائمة آت مُحَمَّداً الْوَسَيْلَةَ والْفَضيلَةَ وابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوْداً الَّذِي وَعَدتَهُ

    Arab latin: Alloohumma robba hadzihid da’watittaamatit taammati was sholaatil qoo`imati aati muhammadal wasiilata wal fadhiilata wab’atshu maqoomam mahmuudal ladzii wa-‘adtahu

    Artinya: “Ya Allah, Rabb yang memiliki panggilan ini, yaitu yang sempurna juga memiliki salat yang didirikan. Berikanlah Nabi Muhammad wasilah serta keutamaan, berikut juga kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah ia menuju tempat yang terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan,” (HR An Nasa’i)

    Keistimewaan Doa setelah Adzan

    Menukil dari buku Sukses Dunia-Akhirat dengan Doa-doa Harian karya Mahmud Asy Syafrowi, keistimewaan dari doa setelah adzan ialah mendapat syafaat pada hari kiamat kelak sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Maksud syafaat ini ialah pertolongan Rasulullah untuk umatnya.

    “Barang siapa ketika mendengar adzan lalu mengucapkan (doa ini), maka masuklah syafaatku baginya di hari kiamat,” (HR Bukhari).

    Syafaat Nabi Muhammad SAW banyak macamnya, seperti untuk orang-orang yang menanggung dosa dari umatnya agar mendapat pengampunan dari Allah. Selain itu memasukkan mereka ke dalam surga tanpa hisab, serta meninggikan derajat setiap orang sesai dengan yang pantas.

    Bahkan, keistimewaan lain dari orang yang rutin membaca doa setelah adzan ialah dikaruniai khusnul khatimah di akhir hidupnya. Untuk meraih keistimewaan tersebut tidak cukup sekadar membacanya di lisan, melainkan harus mengetahui dan menghayati maknanya.

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Bacaan Doa Memohon Kesembuhan dari Sakit, Lengkap dengan Latin dan Terjemahnya



    Jakarta

    Setiap orang yang sedang sakit pasti mengharapkan kesembuhan. Sebab, ajaran Islam selalu menanamkan untuk selalu memanfaatkan waktu sehat yang memiliki nikmat untuk beramal dan beribadah sebelum datangnya waktu sakit.

    Selain mendatangi ahli medis, berdoa memohon diberi kesembuhan juga merupakan salah satu cara untuk berikhtiar kepada Allah SWT. Berikut ini adalah beberapa doa yang telah dirangkum dari berbagai sumber dan dapat dibaca untuk meminta kesembuhan.

    Doa Mohon Kesembuhan dari Sakit

    1. Doa Mohon Kesembuhan

    Dikutip dari buku Doa dan Dzikir Sepanjang Tahun yang disusun oleh Adi Tri Eka, berikut bacaan doa memohon kesembuhan.


    اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِوَالْفَقْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

    Bacaan latin: Allaahumma ‘aafinii badanii, allaahumma ‘aafinii fii sama ‘ii, allahumma ‘aafinii fii basharii. Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqri. Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qabri la ilaaha illaa anta

    Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah badanku. Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah, sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan selain engkau.” (HR Abu Daud).

    2. Doa Mohon Diangkatnya Penyakit

    Rasulullah SAW membaca doa ini ketika meruqyah salah seorang sahabat. Berikut bacaannya.

    امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِك الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إلَّا أَنْتَ

    Bacaan latin: Imsahil ba’sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā’u. Lā kāsyifa lahū illā anta.

    Artinya: “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Kau,”

    3. Doa yang Dibaca oleh Orang Sakit

    Melansir buku 5 Shalat Pembangun Jiwa karya Nasrudin Abd. Rohim, terdapat bacaan doa yang dapat dibaca oleh orang yang sedang sakit. Bacaan ini didasari oleh hadits Rasulullah.

    Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Muslim, dari Utsman bin Abil ‘Ash bahwa ia mengadu kepada Rasulullah perihal penyakit yang ia rasakan pada tubuhnya. Rasulullah pun memerintahkannya membaca doa berikut.

    (3x) بِسْمِ اللَّهِ

    (7x) أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    Bacaan latin: Bismillah (3x), a’uudzu bi’izzatillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (7x)

    Artinya: Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari kejahatan yang menimpaku dan yang aku takuti.”

    4. Doa Untuk Orang Sakit

    Doa untuk orang sakit ini dibaca oleh Rasulullah SAW ketika menjenguk sahabat Salman Al-Farisi RA sesuai dengan riwayat Ibnu Sunni. Doa ini dapat ditujukan secara spesifik dengan menyebut orang yang menderita penyakitnya.

    شَفَى اللهُ سَقَمَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَعَافَاكَ فِي دِيْنِكَ وَجِسْمِكَ إِلَى مُدَّةِ أَجَلِكَ

    Bacaan latin: Syafākallāhu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa ‘āfāka fī dīnika wa jismika ilā muddati ajalika.

    Artinya, “Wahai (sebut nama orang yang sakit), semoga Allah menyembuhkanmu, mengampuni dosamu, dan mengafiatkanmu dalam hal agama serta fisikmu sepanjang usia,”

    Adapun doa untuk orang sakit selanjutnya disunnahkan untuk dibaca 3 kali. Kemudian, orang yang membaca doanya dianjuran menyapukan badan orang yang sakit dengan tangan kanan.

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا

    Bacaan latin: Allaahumma rabban naasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syaafi. Laa syaafiya illā anta syifaa’an lā yughaadiru saqaman.

    Artinya: “Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah penyembuh. Tidak ada penawar selain dari penawar-Mu, penawar yang menghabiskan sakit dan penyakit.”

    5. Doa Mohon Kondisi Sehat

    Muhammad Lutfi Zamani menyebutkan dalam bukunya yang berjudul Pasti Mustajab perihal bacaan doa mohon kondisi sehat.

    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ ولا إل أحد منان ناس

    Bacaan latin: Yaa hayyun, yaa qayyuumun, birahmatika istaghiitsu, wa ashlih lii sya’nii kullahuu, wa laa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin, wa laa ilaa ahadin minan naas.

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal, hanya dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh kondisiku, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari-Mu). Dan jangan Engkau biarkan aku bergantung kepada siapapun dari manusia.” (Ath Thabrani, Al-Mu’jamu ash-Shaghir lith Thabrani, Juz 2 (Mesir: Muwaqi’u Jaamil Hadits, tt), hlm. 3).

    Itulah 5 bacaan doa mohon kesembuhan dari penyakit yang dapat dibaca baik oleh orang yang sedang sakit maupun orang yang menjaga atau datang menjenguk. Dengan rutin membacakan doa, maka orang yang sakit pun akan segera sembuh atas izin Allah.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Orang yang Enggan Masuk Surga, Siapa Mereka?



    Jakarta

    Rasulullah SAW dalam haditsnya pernah menyebutkan kelompok orang-orang yang enggan masuk ke surga milik Allah SWT. Siapakah orang-orang tersebut?

    Hadits yang dimaksud bersumber dari Abu Hurairah RA yang pernah mengutip sabda Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Bukhari dengan sanad shahih dalam Kitab Al I’tisham bil Kitab wa As Sunnah berikut bunyinya.

    أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعاً: «كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أَبَى». قيل: ومَنْ يَأْبَى يا رسول الله؟ قال: «من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أَبَى»


    Artinya: “Seluruh umatku masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang enggan itu?” Beliau bersabda, “Barang siapa yang taat kepadaku ia pasti masuk surga, dan barang siapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah enggan masuk surga.” (HR Bukhari)

    Orang-orang yang enggan masuk surga adalah mereka yang enggan menaati perintah rasul. Menurut Kitab Fathul Bari, orang-orang yang enggan masuk surga dalam hadits tersebut dapat terdiri dari golongan kafir maupun muslim.

    Golongan kafir yang enggan masuk surga disebutkan tidak akan masuk surga sama sekali. Sementara, bagi muslim disebutkan akan melalui proses yang lama terlebih dahulu sebelum masuk surga.

    “Jika dia itu muslim maka maksudnya dia tidak akan masuk surga beserta orang-orang yang pertama memasukinya. Jadi dia bakal masuk tapi ada proses dulu yang membuat masuknya lambat,” demikian penjelasannya yang diterjemahkan oleh Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah (PISS) KTB dalam buku Tanya Jawab Islam.

    Mengenai perintah taat kepada rasul sejatinya sudah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Ali Imran ayat 32,

    قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ

    Artinya: Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

    Selain itu, disebutkan pula dalam surah An Nisa ayat 80. Allah SWT berfirman,

    مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ

    Artinya: “Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah. Siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad) sebagai pemelihara mereka.”

    Disebutkan dalam Tafsir Tahlili terbitan Kemenag, menaati rasul tidak dapat dikatakan sebagai perbuatan syirik atau mempersekutukan Allah SWT. Sebab, rasul adalah utusan Allah SWT yang mengemban perintah-Nya.

    Taat kepada Rasulullah SAW

    Menurut surat Al Hasyr ayat 7, taat kepada rasul adalah mengikuti apa yang diajarkan dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Allah SWT berfirman,

    وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟

    Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”

    Menaati Rasulullah dapat dilakukan dengan menjalankan apa yang menjadi syariatnya. Dalam Islam, ada banyak ibadah yang dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan rasul.

    Ibadah ini bisa dilakukan dalam usaha menjadi salah satu umat Rasulullah SAW yang pasti masuk surga. Tentunya saat melakukan ibadah, tiap muslim harus taat pada rukun dan syaratnya.

    Berikut beberapa amalan yang diperintahkan Rasulullah SAW adalah salat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an, mengingat Allah SWT baik di waktu lapang maupun sempit, hingga membaca sholawat sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Ahzab ayat 56 sebagai berikut.

    إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

    Artinya:”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

    (rah/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Salam ketika Berada di Sekitar Makam Rasulullah


    Jakarta

    Membaca doa salam ketika berada di sekitar makam Rasulullah SAW termasuk hal yang dianjurkan dalam Islam. Terutama bagi yang berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah.

    Freddy Rangkuti dan Siti Haniah dalam buku Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu: Panduan Doa dan Ibadah menggambarkan, makam Rasulullah SAW terletak di sudut timur Masjid Nabawi dan masih termasuk di dalam masjid. Pada bangunan ini terdapat empat pintu.

    Keempat pintu tersebut adalah pintu sebelah kiblat dinamai pintu At-Taubah, pintu sebelah timur dinamai pintu Fatimah, pintu sebelah utara dinamai pintu Tahajjud, dan pintu sebelah barat ke Raudhah.


    Di dalam ruangan ini tidak hanya ada makam Rasulullah SAW saja, melainkan ada dua makam sahabat Rasulullah SAW, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab RA.

    Adab Berkunjung ke Makam Rasulullah SAW

    Sementara itu, Ahmad Alawiy dkk dalam buku Umrah: Panduan Ibadah Umrah Praktis Lahir Batin menjelaskan mengenai adab di makam Rasulullah SAW, sebagai berikut:

    1. Mendatangi maqrabah (makam) Rasulullah SAW dari arah kepala dengan membelakangi kiblat, menghadap maqrabah dan menjauh dari makam berjarak sedikitnya sekitar 2 meter

    2. Khusyuk dan khidmat penuh pengagungan pada Rasulullah SAW yang berada di hadapannya

    3. Mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW dengan suara lembut dan bersikap tenang tanpa disertai gerakan yang tidak perlu

    4. Mengucapkan salam kepada Abu Bakar As-Shiddiq RA

    5. Mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab RA

    6. Setelah menghadap Rasulullah SAW, bertawwasul, dan meminta syafaat pada beliau.

    Doa Salam ketika Berada di Makam Rasulullah SAW

    Mengutip dari buku Doa dan Zikir Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama RI, berikut bacaan doa salam ketika berada di makam Rasulullah SAW,

    السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَارَسُوْلَ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا أَمِيْنُ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللَّهِ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا صَفْوَةَ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللَّهِ وَحْدَهُ لاشَرِيكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ أَنَّكَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَأَمِيْنُهُ وَصَفِيهُ وَخِيَرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ وَأَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّيْتَ الأَمَانَةَ وَنَصَحْتَ الْأُمَّةَ وَجَاهَدْتَ فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ. اَللَّهُمَّ أُتِهِ الوَسِيْلَةَ وَالفَضِيْلةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ وَاتِهِ نِهَايَةَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْأَلَهُ السَّائِلُونَ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ المِيْعَادَ

    Artinya: “Salam sejahtera atasmu wahai Rasulullah. Salam sejahtera untukmu wahai Nabiallah. Salam sejahtera atasmu wahai al-Amin, pribadi yang terpercaya. Salam sejahtera atasmu wahai kekasih Allah, Salam sejahtera bagimumu wahai makhluk pilihan Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi, baginda adalah hamba-Nya, Rasul-Nya, kepercayaan-Nya kekasih-Nya dan pilihan-Nya diantara makhluk-Nya. Aku bersaksi, sungguh engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanat, memberi nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Yang Allah, berikan hak menjadi wasilah, kemuliaan dan martabat yang tinggi serta bangkitkan ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan, dan berikan dia karunia tertinggi yang pantas diberikan pada orang-orang yang memohon, sungguh Engkau tidak akan mengingkari janji.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa saat Turun Hujan yang Dipanjatkan Rasulullah SAW



    Jakarta

    Doa saat turun hujan dapat diamalkan seperti yang telah dilakukan Rasulullah SAW menurut sejumlah riwayat hadits. Ketika hujan turun hendaknya umat muslim senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan.

    Hujan adalah salah satu nikmat, rahmat, dan keberkahan yang Allah SWT turunkan ke bumi. Bahkan, Rasulullah SAW pun sangat bergembira dengan datangnya hujan hingga beliau bertabarruk atau mengambil berkah dari hujan tersebut.

    Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang dinukil dari buku Sukses Dunia Akhirat dengan Doa-doa Harian karya Mahmud Asy Syafrowi, suatu ketika Rasulullah SAW pernah kehujanan kemudian beliau menyingkapkan bajunya sampai terguyur hujan.


    Para sahabat lalu bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebab, ia baru saja diciptakan Allah SWT.” (HR Muslim).

    Imam Nawawi menjelaskan hadits tersebut mengandung makna bahwa hujan itu rahmat yang diciptakan oleh Allah SWT sehingga umat muslim dapat turut memanjatkan doa saat turun hujan. Lantas, seperti apa bacaannya?

    Doa saat Turun Hujan

    Dilansir dari buku Doa Harian Pengetuk Pintu Langit karya H. Hamdan Hamedan, Rasulullah SAW pernah memanjatkan doa untuk meminta hujan, saat turun hujan, setelah hujan turun, dan doa agar hujan berhenti. Berikut ini bacaannya:

    1. Doa Meminta Hujan

    اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْنًا مُغِيْئًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍ عَاجِلًا غَيْرَ أَجِلٍ

    Arab-latin: Allaahummasqinaa ghaytsan mughiitsan marii-an marii’an naafi’an ghayra dharrin ‘aajilan ghayra aajil.

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh, dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan secepatnya, tidak ditunda-tunda.”

    Dalam suatu riwayat disebutkan, “Sekelompok orang datang sambil menangis kepada Rasulullah SAW. Mereka meminta beliau berkenan berdoa agar turun hujan. Lalu, Rasulullah SAW memanjatkan doa ini dan hujan pun turun.” (HR Abu Dawud no. 1169).

    2. Doa saat Turun Hujan

    اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا

    Arab-latin: Allahummaj’alhu shayyiban naafi’an.

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat.”

    Bacaan doa saat turun hujan dipanjatkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau menyingkap bajunya saat hujan hingga rintik-rintiknya membasahi sebagian tubuhnya. Hal itu dilakukan karena Nabi SAW hendak menunjukkan bahwa hujan termasuk rahmat yang diciptakan Allah SWT.

    3. Doa Setelah Hujan Turun

    مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

    Arab-latin: Muthirnaa bi-fadhlillaahi wa rahmatih.

    Artinya: “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”

    Berdasarkan riwayat hadits, Rasulullah SAW pernah berkata, “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, maka orang itu beriman kepada Allah dan tidak beriman terhadap bintang-bintang.

    Sebaliknya orang yang berkata, ‘Kita diberi hujan oleh bintang ini atau bintang itu, maka orang tersebut kafir terhadap-Ku (Allah) dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR Muslim no. 71).

    4. Doa agar Hujan Berhenti

    اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الأَكَامِ وَالظِرَابِ وَبُطُوْنِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

    Arab-latin: Allaahumma hawaa laynaa wa laa ‘alaynaa. Allaahumma ‘alal-aakaami wazh-zhiraabi, wa buthuunil-awdiyati wa manaabitisy-syajar.

    Artinya: “Ya Allah, hujanilah di sekitar kami, jangan kepada kami. Ya Allah, berilah hujan ke daratan tinggi, beberapa anak bukit dasar lembah dan beberapa tanah yang menumbuhkan pepohonan.”

    Doa tersebut bersandar pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia menceritakan, “Ada sekelompok orang datang kepada Rasulullah SAW dan meminta agar beliau berdoa supaya hujan berhenti.

    Rupanya hujan tersebut telah berlangsung selama satu minggu sehingga hewan ternak mereka terancam mati dan jalanan pun terputus. Rasulullah SAW lalu berdoa dengan doa ini dan hujan pun berhenti.” (HR Bukhari no. 1014).

    Itulah doa saat turun hujan yang dipanjatkan Rasulullah SAW menurut sejumlah riwayat hadits. Umat muslim juga dapat mengamalkan bacaan doa tersebut saat turun hujan untuk mensyukuri nikmat dan rahmat Allah SWT.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits yang Membahas tentang Ikhlas



    Jakarta

    Ikhlas berasal dari kata akhlasha-yukhlishu yang artinya membersihkan dan memurnikan sesuatu. Segala sesuatu yang dilakukan, terutama dalam hal ibadah harus dilandasi dengan rasa ikhlas.

    Menukil dari Ensiklopedia Akhlak Rasulullah 1 susunan Syaikh Mahmud Al-Mishri, definisi ikhlas juga dipaparkan oleh sejumlah ulama. Abu Utsman Al-Maghribi menyebut ikhlas dilakukan dengan melupakan perhatian makhluk sehingga hanya kepada Allah seluruh perhatian tercurah.

    Adapun, Al-Kafawi mendefinisikan ikhlas sebagai meniatkan ibadah sehingga hanya Allah semata yang disembah. Secara umum, ikhlas tergolong ke dalam amalan hati yang sulit dilakukan namun kerap dianggap mudah.


    Bahkan, dalam sebuah hadits dari Umar bin Khattab, Rasulullah SAW bersabda mengenai perbuatan yang dilandaskan dengan rasa ikhlas tidak akan sia-sia.

    “Seluruh amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya memperoleh apa yang diniatkan,” (HR Bukhari dan Muslim)

    Selain hadits di atas, masih ada beberapa hadits lainya mengenai ikhlas. Simak bahasannya berikut ini.

    5 Hadits tentang Ikhlas

    Mengutip dari buku Ikhlas, Kunci Diterimanya Ibadah terbitan Akhbar Media Eka Sarana, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang keikhlasan.

    1. Allah Menilai Keikhlasan Hati

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu,” (HR Muslim)

    2. Analogi Amal yang Dilandasi dengan Ikhlas

    “Sesungguhnya amalan itu seperti bejana. Jika bagian bawahnya baik maka baik pula bagian atasnya. Jika bagian bawahnya rusak, bagian atasnya pun rusak,” (HR Ibnu Majah)

    Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menganalogikan amal yang dilandasi dengan ikhlas dalam hati seperti bejana.

    3. Ikhlas karena Allah

    “Barangsiapa yang ikhlas karena Allah selama 40 hari, niscaya akan muncul mata air hikmah pada lisannya,” (HR Abu Nu’aim)

    4. Allah Menolong Orang-orang yang Ikhlas

    “Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan orang-orang yang lemah dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka,” (HR An Nasa’i)

    5. Tidak Diterimanya Amal Selain yang Dilakukan dengan Ikhlas

    “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal selain apa yang dilakukan secara ikhlas dan mengharap ridha-Nya,” (HR An Nasa’i)

    3 Derajat Keikhlasan

    Ibnu Qayyim Al-Jauziyah melalui Madarijus Salikin menyebut tiga derajat keikhlasan seorang manusia, antara lain ialah:

    1. Tidak melihat amal sebagai amal, tidak mencari imbalan dari amal, dan tidak puas terhadap amal

    Terdapat 3 penghalang yang dilakukan seseorang dari amalnya. Pertama, pandangan dan perhatiannya. Kedua, keinginan atas imbalan dari amalnya. Ketiga, puas, dan senang kepadanya. Padahal semua kebaikan yang ada dalam diri seorang hamba semata atas karunia Allah, pemberian, kebaikan, dan nikmat-Nya.

    2. Malu terhadap amal sambil tetap berusaha untuk membenahinya, memelihara cahaya taufik yang dipancarkan Allah

    Seorang muslim akan merasa malu kepada Allah karena merasa amalnya belum layak. Namun, amal itu tetap diupayakan. Derajat ini mencakup 5 perkara. Antara lain amal, berusaha dalam amal, rasa malu kepada Allah, memelihara kesaksian, melihat amal sebagai pemberian, dan karunia Allah.

    3. Memurnikan amal, membiarkan amal berlalu berdasarkan ilmu, tunduk kepada hukum kehendak Allah dan membebaskannya dari sentuhan rupa

    Memurnikan amal dimaknai sebagai membiarkan amal itu berlalu berdasarkan ilmu dan ketundukan terhadap kehendak Allah SWT. Sementara itu, membebaskan dari sentuhan rupa artinya membebaskan amal dan ubudiyah dari selain Dia.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Laa Ilaha Illallah, Sebaik-baik Doa di Hari Arafah



    Jakarta

    Umat Islam dianjurkan membaca doa hari Arafah. Dalam salah satu hadits dikatakan, sebaik-baiknya doa adalah doa yang dibaca pada hari Arafah dan doa tersebut diawali dengan lafaz Laa Ilaaha Illallah.

    Hari Arafah memiliki keutamaan sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Kitab Zadul Ma’ad. Dikatakan, hari Arafah adalah hari yang padanya terdapat suatu waktu yang mustajab untuk berdoa.

    Ibnu Qayyim menjelaskan, mayoritas pendapat menyebut waktu tersebut jatuh pada saat terakhir setelah salat Ashar. Pada waktu tersebut orang-orang yang wukuf sedang melaksanakan wukufnya yang diisi dengan doa dan tadharru’.


    Dijelaskan pula bahwa sebaik-baik hari di sisi Allah SWT adalah hari raya kurban, dan itu adalah hari haji akbar sebagaimana tercantum dalam Kitab As-Sunan dari Rasulullah SAW beliau bersabda,

    أَفْضَلُ الأَيَّمِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ يَوْمِ الْقَرِ

    Artinya: “Seutama-utama hari di sisi Allah SWT adalah hari Raya Kurban, kemudian hari Al-Qarr (setelah hari raya kurban).” (HR Ahmad, Abu Dawud, daan bnu Khuzaimah)

    Ada yang mengatakan, bahwa hari Arafah lebih utama daripadanya, dan pendapat ini dikenal di kalangan sahabat sahabat Imam Syafi’i. Hari Arafah disebut sebagai hari haji akbar, dan puasa yang dikerjakan padanya dapat menghapus kesalahan selama dua tahun.

    Terdapat pula riwayat dari Abu Dawud melalui sanad yang paling shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari haji akbar itu adalah hari raya kurban.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah.)

    Hari Arafah adalah pendahuluan bagi hari raya kurban, karena padanya berlangsung kegiatan wakaf, tadharru, taubat, peribadatan, dan permintaan maaf.

    Bahkan ada hadits yang menjelaskan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas RA yang mengatakan Rasulullah SAW bersabda,

    “Tiada ada suatu hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih disukai Allah SWT daripada sepuluh hari ini.” Para sahabat berkata, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” beliau menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak membawa hal itu sedikit pun.” (HR Ahmad, Ad-Dailami, dan Bukhari)

    Bacaan Doa Hari Arafah

    Mengutip Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi terdapat sebuah hadits yang membahas mengenai bacaan doa dan dzikir ketika hari Arafah, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sebaik-baik doa adalah doa yang dibacakan pada hari Arafah, dan sebaik-baik yang aku dan nabi-nabi terdahulu adalah bacaan:

    لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

    Arab latin: Laa Ilaaha Illaallahu wahdahu laa syariika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir

    Artinya: “Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dia memiliki kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia atas segala sesuatu Mahakuasa.”

    Diriwayatkan pula dari Salim bin Abdullah bin Umar RA dia melihat pengemis yang meminta-minta pada hari Arafah, dia mengatakan: “Wahai orang yang lemah, di hari ini kau meminta-minta kepada selain Allah SWT.”

    Oleh karena itu, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan dzikir dan doa serta melakukannya dengan penuh kesungguhan. Hari Arafah merupakan hari yang paling utama untuk berdoa di antara hari-hari lainnya dalam setahun.

    Pada hari Arafah juga dikerjakan sebagian pekerjaan yang paling mulia yaitu menunaikan ibadah haji. Bukan hanya itu, pada hari Arafah juga menjadi tujuan utama bagi haji serta menjadi rujukannya.

    Maka dari itu, umat Islam dianjurkan untuk menghabiskan waktunya untuk berdzikir dan berdoa, membaca Al-Qur’an, membaca berbagai macam doa, membaca berbagai macam dzikir, berdoa untuk diri sendiri, melakukan dzikir, dan masih banyak amalan sunnah lainnya. Demikian menurut penjelasan para ulama.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Nabi Ismail ketika akan Disembelih



    Jakarta

    Saat Nabi Ismail AS mengetahui mengenai perintah Allah SWT untuk menyembelihnya, ia pasrah seraya berdoa. Inilah bacaan doa Nabi Ismail ketika akan disembelih.

    Kisah penyembelihan Nabi Ismail AS yang kemudian menjadi dasar perintah untuk berkurban ini diceritakan dalam Kitab Al-Qashash al-Anbiyaa karya Ibnu Katsir.

    Diceritakan, Allah SWT memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra pertamanya yaitu Nabi Ismail AS yang lahir ketika usia Nabi Ibrahim AS sudah mencapai 86 tahun.


    Peristiwa penyembelihan Nabi Ismail AS itu merupakan ujian dari Allah SWT terhadap Nabi Ibrahim AS. Dengan sikap Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang penuh keyakinan kepada Allah SWT dan bertawakal kepada-Nya mereka melaksanakan perintah itu.

    Perintah Allah SWT itu lalu dijawab oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam surah Ash-Shaffat ayat 102,

    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

    Artinys: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu? …” (QS As-Saffat: 102)

    Setelah mendengar apa yang dikatakan ayahnya, Nabi Ismail AS pun menjawab,

    قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ …

    Artinya: “..Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS As-Saffat: 102)

    Ibnu Katsir mengatakan, jawaban yang diberikan oleh Nabi Ismail AS merupakan wujud dari ketaatan seorang anak kepada orang tua dan Tuhannya.

    Doa Nabi Ismail saat akan Disembelih

    Perkataan Nabi Ismail AS dalam surah As-Saffat 102 tersebut juga berisi doa Nabi Ismail AS ketika akan disembelih. Berikut bacaannya,

    سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

    satajidunii in shaaa’allaahu minas saabiriin

    Artinya: “Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

    Posisi Nabi Ismail saat akan Disembelih

    Diceritakan pula bahwa pada saat itu Nabi Ibrahim AS membaringkan Nabi Ismail AS seperti dibaringkannya seekor hewan sembelihan.

    Di mana posisi pipi Nabi Ismail AS menempel ke tanah. Lalu, Nabi Ibrahim AS menyebut asma Allah SWT dengan bertakbir, bersaksi, dan menyerahkan sepenuhnya kematian putranya kepada Allah SWT.

    As-Sad dan ulama lainnya berkata, “Ibrahim menggoreskan goloknya pada leher Ismail, tetapi tidak melukai sedikit pun.”

    Ada juga yang berpendapat “Antara golok dan leher Ismail terdapat lempengan logam.” Wallahu a’lam.

    Karena sikap tawakal dari Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS akhirnya Allah SWT memberikan tebusan bagi Nabi Ismail AS.

    Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan hewan sembelihan yang besar. Menurut pendapat mayoritas ulama yang masyhur bahwa pengganti Ismail itu adalah seekor kibasy (kambing besar) berwarna putih, bermata hitam, dan bertanduk besar.

    Nabi Ibrahim AS melihat kambing itu telah terikat dengan tali berwarna cokelat di Gunung Tsabir.” Ats-Tsauri meriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Yaitu kambing yang digembalakan di surga selama empat puluh musim.” Sa’id bin Jubair berkata, “Kambing itu digembalakan di surga hingga Gunung Tsabir pun terpecah karena kehadirannya.”

    Selain itu, Muhammad Yusuf Effendi dalam buku Ayah Juara 7 Hari Menjadi Ayah Qur’ani menjelaskan doa dari Nabi Ibrahim AS yang diajarkan kepada Nabi Ismail AS.

    Nabi Ibrahim AS mengajarkan doa seusai mengerjakan segala sesuatu kebaikan agar amal saleh mereka diterima oleh Allah SWT.

    Doa ini diabadikan dalam surah Al-Baqarah ayat 127,

    وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ١٢٧

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com