Tag: hikmah

  • Bacaan Doa 10 Muharram Hari Asyura, Lengkap Urutan Dzikir & Tata Caranya


    Jakarta

    Hari Asyura yang bertepatan dengan 10 Muharram merupakan waktu yang baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satunya dengan memanjatkan doa 10 Muharram.

    Tanggal 10 Muharram 1445 H bertepatan dengan hari Jumat, 28 Juli 2023. Dalam sebuah hadits dikatakan, berdoa pada malam Jumat dan malam 10 Muharram termasuk waktu mustajab.

    “Lima waktu yang doa tidak ditolak, yaitu pada malam Jumat, malam 10 Muharram, malam Nisfu Sya’ban, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.” (HR Bukhari dan Muslim)


    Doa 10 Muharram, Hari Asyura dan Tata Caranya

    Doa 10 Muharram, hari Asyura dapat diawali dengan membaca doa ini sebanyak 70 kali,

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

    Arab latin: Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir

    Artinya: “Allah-lah yang mencukupi kami, Dia-lah sebaik-baik untuk berserah diri, sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong,”

    Kemudian dilanjutkan dengan membaca doa berikut sebanyak 7 kali,

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ سُبْحَانَ اللهِ مِلْأَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ لَامَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا . نَسْتَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَجْمَعِيْنَ.

    Arab latin: Bismillaahir-rahmaanir-rahiim, subhaanallaahi mil’al-miizaani wa muntahal- ‘ilmi wa mablaghar-ridhaa wa zinatal-‘arsyi. laa malja’a wa laa manja minallaahi illaa ilaiih. subhaanallaahi ‘adadasy-syaf’i wal-watri wa ‘adada kalimaatillaahit-taammaati kullihaa. nas’alukas- salaamata birahmatika yaa arhamar raahimiin. wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil- azhiim. wa huwa hasbunaa wa nimal-wakiil nimal- maulaa wa ni’man-nashiir. wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shahbihii wa sallama ajma’iin

    Artinya: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maha Suci Allah sepenuh timbangann dan puncak sampainya ilmu dan keridhaan serta seberat timbangan ‘Arasy. Tidak ada tempat mengungsi dan keselamatan dari Allah melainkan hanya kepada-Nya. Maha Suci Allah sebanyak bilangan yang genap dan ganjil, dan seluruh bilangan kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Kami memohon kepada Engkau dengan mendapat rahmat-Mu wahai sebaik-baik Penyayang dari para penyayang. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur lagi Maha Agung. Dialah Allah yang mencukupi kami, sebaik-baik untuk berserah diri, sebaik-baik Pelindung dan Penolong. Rahmat dan keselamatan semoga tetap atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya semuanya,”

    Bacaan doa 10 Muharram hari Asyura dan tata caranya tersebut dinukil dari buku Doa-doa dalam Acara Resmi, Keagamaan dan Kemasyarakatan tulisan Drs M Ali Chasan Umar.

    Malam Asyura juga termasuk satu dari 15 waktu yang istimewa, sebagaimana dikatakan Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa dan Dzikir Hari Asyura, Bisa Dibaca pada 10 Muharram



    Jakarta

    Membaca doa dan dzikir di hari Asyura bisa menjadi amalan yang diganjar pahala besar. Di bulan Muharram yang mulia ini, setiap muslim bisa mengamalkan bacaan dzikir setelah sholat fardhu ataupun saat bermunajat kepada Allah SWT.

    Dzikir sebenarnya bisa dilakukan kapanpun, tidak hanya di bulan Muharram saja. Anjuran dzikir tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 41-42:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا


    Arab-Latin: Yā ayyuhallażīna āmanużkurullāha żikrang kaṡīrā
    Wa sabbiḥụhu bukrataw wa aṣīlā

    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.

    Anjuran untuk berdzikir juga termaktub dalam penggalan surat Ali Imran ayat 41:

    وَاذْكُر رَّبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

    Arab latin: ważkur rabbaka kaṡīraw wa sabbiḥ bil-‘asyiyyi wal-ibkār

    Artinya: Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.

    Dzikir Hari Asyura

    Doa dan dzikir yang diamalkan menjelang atau saat hari Asyura hendaknya hanya diniatkan untuk mendapat ridho Allah SWT. Hindari berharap pada hal lain selain Allah SWT di hari Asyura.

    Mengutip buku Koreksi Doa dan Zikir antara yang Sunnah dan Bid’ah oleh Bakr bin Abdullah Abu Zaidada dijelaskan ada beberapa orang yang mengamalkan beberapa kebiasaan di hari Asyura yang sebenarnya tidak disyariatkan dalam ajaran Islam. Misalnya begadang di malam Asyura, membaca doa khusus yang konon katanya jika membaca doa tersebut maka tidak akan meninggal di tahun tersebut, atau juga membuat asap yang dianggap sebagai mantra untuk melindungi diri dari sihir dan roh jahat. Kebiasaan ini sebaiknya tidak dikerjakan oleh muslim yang bertakwa.

    Doa dan Dzikir Hari Asyura

    Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang senantiasa beristighfar (meminta ampun kepada Allah), Allah menjadikan setiap kesusahan baginya jalan keluar, setiap kegalauan kelapangan, dan dia diberikan rezeki yang tidak dia sangka-sangka (HR Abu Dawud).

    Para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir dan istighfar pada hari Asyura.

    Dilansir dari laman NU Online, salah satu ulama yang menganjurkan untuk membaca doa dan dzikir adalah Imam Al-Ajhuri yang menganjurkan untuk membaca doa berikut sebanyak 70 kali. Atas izin Allah SWT, niscaya akan dijauhkan dari keburukan di tahun tersebut.

    Bacaan Arab:

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلِ نِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

    Bacaan Latin: Hasbunallahu wa ni’mal-wakil, ni’mal-maula wa ni’man-nasir.

    Artinya: Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung dan penolong

    Berikut bacaan dzikir yang dianjurkan untuk dibaca pada hari Asyura:

    1. Laa ilaha illallah 100 x

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ….. ×١٠٠

    2. Allahumma shalli ala Sayyidinaa Muhammad wa’ala alihi washahbihi wa sallam 100 x

    اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ….. ×١٠٠

    3. Astaghfirullah al-adziim 100 x

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ….. ×١٠٠

    4. Rabbanaa dzalamnaa anfusanaa wain lam taghfirlanaa lanakunanna minal khaasiriin 100 x

    رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ….. ×١٠٠

    5. Hasbunaallahu wani’mal wakiil 450 x

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ….. ×٤٥٠

    6. Hasbunallahu wani’mal wakiil ni’mal mawlaa wanni’mannasiir 70×

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلِ نِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ….. ×٧٠

    7. Robbighfirlii waarhamnii watub ‘alaih 1000×

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَلَيَّ….. ×١٠٠٠

    Agar mendapatkan keutamaan dan hidayah Allah SWT, amalkan doa dan dzikir ini di hari Asyura.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Hadits Palsu dan Lemah tentang Hari Asyura, Hati-hati ya!


    Jakarta

    Sejumlah hadits palsu tentang hari Asyura tak sedikit yang tersebar di masyarakat. Mulai dari pahala sedekah berlipat 700 kali hingga bercelak pada hari tersebut akan terhindar dari sakit mata.

    Hadits-hadits palsu tersebut, termasuk yang lemah, disebutkan Imam al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub. Hadits lain juga diulas dalam buku Problematika Autentisitas Hadits Nabi dari Klasik hingga Kontemporer karya Idri. Berikut di antaranya.

    1. “Barang siapa yang melapangkan kerabatnya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah SWT melapangkan semua tahunnya.” (HR Al Baihaqi. Al Mundziri turut mengeluarkan riwayat ini dalam kitabnya, At-Targhib wa At-Tarhib. Status dhaif atau lemah. Ada yang menyebut sangat lemah)


    2. “Sedekah satu dirham pada hari Asyura, sama dengan 700 dirham.” (HR At-Thabrani. Status munkar atau palsu)

    3. “Barang siapa yang bercelak pada hari itu, maka dia tidak sakit mata pada tahun itu.” (Status palsu. Al-Hakim menegaskan bahwa bercelak pada hari Asyura adalah bid’ah. Sedangkan Ibnu Qayyim mengatakan, hadits tentang bercelak, memasak biji-bijian dan minyak, menggunakan wangi-wangian pada hari Asyura adalah buatan para pembohong)

    4. “Barang siapa yang mandi pada hari itu, maka dia tidak sakit.” (Status palsu)

    5. “Sesungguhnya Allah memfardhukan kepada bani Israil berpuasa satu hari setahun, yakni pada hari Asyura… Barang siapa berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala seribu malaikat. Barang siapa berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala seribu orang haji dan umrah. Barang siapa berpuasa pada hari Asyura akan diberi pahala seribu orang mati syahid…” (Redaksi hadits ini sangat panjang. Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa hadits ini menurut orang berakal tidak diragukan kepalsuannya)

    Syarat Boleh Mengamalkan Hadits Dhaif

    Imam as-Suyuthi mengatakan dalam Tadrib ar-Rawy fi Syarh Taqrib an-Nawawi sebagaimana dinukil Al Mukaffi Abdurrahman dalam buku Koreksi Tuntas Buku 37 Masalah Populer, seseorang boleh mengamalkan hadits dhaif dengan syarat:

    1. Bukan masalah akidah, yakni tentang sifat Allah SWT, perkara yang boleh dan mustahil bagi Allah SWT, dan penjelasan firman Allah SWT.
    2. Bukan pada hukum halal dan haram. Kata Imam as-Suyuthi, boleh pada kisah-kisah, fadha’il (keutamaan) amal dan nasihat.
    3. Tidak terlalu dhaif. Dalam hal ini perawinya bukanlah pendusta, tertuduh sebagai pendusta, atau terlalu banyak kekeliruan dalam periwayatannya.
    4. Bernaung pada hadits shahih.
    5. Tidak diyakini sebagai ketetapan, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian saja.

    Hadits Shahih Hari Asyura

    Di samping itu, ada sejumlah hadits shahih tentang hari Asyura dengan derajat Muttafaq Alaih (disepakati keshahihannya). Berikut di antaranya.

    Pertama,

    وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

    Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh untuk berpuasa pada hari itu.” (Muttafaq ‘alaih)

    Kedua,

    حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِي، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُوْمُهُ فَرَيْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُوْمُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا افْرِضَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ هُوَ الْفَرِيضَةُ، وتَرَكَ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. وَفِي الْبَابِ عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، وَقَيْسِ بْنِ سَعْدِ، وَجَابِرِ بْنِ سمُرَةَ، وَابْنِ عُمَرَ، وَمُعَاوِيَةَ. وَالْعَمَلُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلَى حَدِيْثِ عَائِشَةَ، وَهُوَ حَدِيثُ صَحِيحٌ؛ لَا يَرَوْنَ صِيَامَ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ وَاجِبًا، إِلَّا مَنْ رَغِبَ فِي صِيَامِهِ لِمَا ذُكِرَ فِيهِ مِنَ الْفَضْلِ.

    Artinya: “Dari Harun bin Ishaq al-Hamdani, dari Abdah bin Sulaiman, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, ia berkata, ‘Pada awalnya, Asyura adalah hari yang di dalamnya orang-orang Quraisy berpuasa pada masa jahiliyah. Ketika itu, Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari Asyura. Kemudian beliau datang ke Madinah, beliau juga berpuasa pada hari Asyura tersebut dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa di dalamnya. Lalu ketika puasa Ramadan diwajibkan, maka puasa Ramadanlah yang menjadi fardhu, dan beliau meninggalkan kewajiban puasa Asyura. Maka barang siapa mau berpuasa pada hari itu, ia boleh berpuasa. Dan barang siapa tidak ingin melakukannya, maka ia boleh untuk tidak berpuasa.” (Shahih Abu Dawud, No 2110: Muttafaq ‘alaih)

    Ketiga,

    وَعَنْ أَبِي فَنَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ سُئل عن صيَامِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السنة الماضية

    Artinya: “Dari Abu Qatadah RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa tersebut dapat melebur dosa setahun yang lalu’.” (HR Muslim dalam Kitab Puasa bab Anjuran Puasa Asyura Tiga Hari)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Buka Puasa Asyura 10 Muharram: Arab, Latin dan Arti


    Jakarta

    Setelah mengerjakan puasa Tasua pada 9 Muharram, kaum muslimin dianjurkan untuk melanjutkan dengan puasa Asyura pada 10 Muharram. Hukum pelaksanaan kedua amalan tersebut adalah sunnah.

    Keutamaan dari puasa Asyura sendiri adalah menghapuskan dosa setahun yang lalu. Menukil buku Pintar Wajib dan Sunnah oleh Nur Solikhin, berikut bunyi hadits yang menjadi dasar keutamaan puasa Asyura.

    Dari Abu Qotadah Al Anshori, ia berkata:


    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu,” (HR Muslim)

    Seperti puasa pada umumnya, tentu umat Islam diwajibkan berbuka saat adzan Maghrib berkumandang. Ketika berbuka, ada doa buka puasa Asyura yang dapat dipanjatkan.

    Said Hawwa melalui karyanya yang bertajuk Al-Islam menjelaskan bahwa membaca doa buka puasa termasuk adab sunnah dalam berpuasa. Kaum muslimin dilarang menunda waktu berbuka dan dianjurkan untuk segera membatalkan puasanya ketika mendengar adzan Maghrib.

    Adapun, mengenai waktu tepat membaca doa buka puasa terdapat perbedaan pendapat. Dalam buku Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, dan Thibbun Nabawi karya Maryam Kinanti N, pendapat pertama menyebut doa tersebut dibaca usai membatalkan puasa dengan air atau makanan pertama kali.

    Namun, pendapat lain mengatakan bahwa doa buka puasa dipanjatkan sebelum buka dan sebagian lain tidak menetapkan waktu membacanya. Wallahu a’lam.

    Doa Buka Puasa Asyura 10 Muharram

    Merangkum arsip detikHikmah, terdapat dua versi doa buka puasa Asyura yang dapat diamalkan oleh kaum muslimin. Berikut merupakan bunyi dari versi pertama,

    ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

    Arab latin: Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah

    Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah dan atas kehendak Allah pahala telah ditetapkan. Insya Allah,” (HR Abu Daud)

    Sementara itu, versi keduanya didasarkan dari hadits Bukhari dan Muslim yang berbunyi:

    اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Arab latin: Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina.

    Artinya: “Ya Allah karenaMu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih,” (HR Bukhari dan Muslim)

    Doa buka puasa sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud adalah yang dinilai shahih. Doa tersebut temaktub dalam Kitab Sunan Abu Dawud yang turut dinukil Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar. Ulama Syafi’iyah ini turut meriwayatkan doa buka puasa dalam Kitab Ibnu Sunni, dari Ibnu Abbas RA, “Jika Rasulullah SAW berbuka puasa beliau membaca:

    Allaahumma laka shumnaa wa ‘ala rezekika aftharnaa fataqabbal minnaa innak antas samii’ul ‘aliim

    Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu kami berpuasa dan atas rezeki-Mu kami telah berbuka, maka terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Keutamaan Berbuka Puasa

    Menurut buku Ensiklopedia Amal Shaleh Jilid 3 karangan Tim Ahnaf, berikut sejumlah keutamaan yang terkandung dari berbuka puasa.

    1. Dicintai Allah dan Diampuni Dosanya

    Keutamaan yang pertama ialah dicintai Allah SWT dan diampuni dosanya. Dalam surat Ali Imran ayat 31, Allah SWT berfirman:

    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    Arab latin: Qul ing kuntum tuḥibbụnallāha fattabi’ụnī yuḥbibkumullāhu wa yagfir lakum żunụbakum, wallāhu gafụrur raḥīm

    Artinya: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”

    2. Waktu Mustajab untuk Memohon

    Selain itu, waktu berbuka juga dikatakan mustajab untuk memohon dan berdoa kepada Allah SWT, ini sesuai dengan janji Rasulullah yang berbunyi:

    “Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak, (yaitu) ketika (ia sedang) berbuka (puasa),”

    3. Diberi Kemenangan

    Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

    “Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya,” (HR Abu Dawud & Ibnu Hibban)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Santunan Anak Yatim, Bisa Dibaca saat Asyura 10 Muharram



    Jakarta

    Menyantuni anak yatim memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri, apalagi dibarengi dengan momentum 10 Muharram yang dikenal sebagai hari Asyura. Menyantuni anak yatim di hari Asyura bisa menjadi amalan bernilai pahala besar.

    Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 220, Allah SWT berfirman:

    فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۗ وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْيَتَٰمَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِن تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ ٱلْمُفْسِدَ مِنَ ٱلْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ


    Artinya: Tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    Doa Menyantuni Anak Yatim

    Sedekah di hari Asyura merupakan amalan yang dianjurkan. Sedekah bisa diberikan kepada keluarga, kerabat, tetangga ataupun anak yatim yang ada di sekitar kita.

    Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa berpuasa di hari Asyura, maka seakan-akan berpuasa selama setahun, dan barang siapa bershadaqah di hari ini, maka seakan-akan bershadaqah selama satu tahun.” (HR. Abdullah bin Amru bin Al-Ash).

    Ketika bersedekah kepada anak yatim, umat Islam dianjurkan mengusap rambut kepala anak yatim saat memberikan santunan. Sebagaimana hadits yang berasal dari Musnad Ahmad, 7/36 berikut:

    Diriwayatkan dari Umamah, sesungguhnya Nabi bersabda: Barang siapa mengusap kepala yatim semata-mata karena Allah, maka setiap rambut yang ia usap memperoleh satu kebaikan. Barang siapa berbuat baik kepada yatim di sekitarnya, maka ia denganku ketika di surga seperti dua jari ini. Nabi menunjukkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengahnya.

    Secara tekstual hadits ini tidak menyebutkan secara spesifik bahwa menyantuni anak yatim harus diselenggarakan pada tanggal 10 Muharram, namun mengusap kepala yatim tetap dianjurkan kapan pun.

    Cara mengusap rambut anak yatim berbeda antara anak yatim perempuan dan laki-laki.

    Untuk anak yatim perempuan cara mengusapnya dimulai dari atas kepala terus ke bawah, sedangkan untuk anak yatim laki-laki cara mengusapnya dari bawah kepala terus ke atas.

    Kemudian salah satu doa yang dibaca ketika sedang mengusap kepala anak yatim adalah:

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

    Arab Latin: hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mal nasir

    Artinya: “Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami.”

    Klik halaman selanjutnya untuk melihat Doa Asyura

    Doa Asyura

    Doa Asyura dapat dibaca ketika mengerjakan amalan di hari Asyura, termasuk salah satunya menyantuni anak yatim. Berikut ini adalah doanya, seperti dikutip dari Buku Hadiah untuk Wong Kampung: Sebuah Amaliyah Aswaja tulisan Alaika M. dan Bagus Kurnia.

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، اللَّهُمَّ يَا مُفَرِّجَ كُلِّ كَرْبٍ، وَيَا مُخْرِجَ ذِي النُّونِ يَوْمَ عَاشُورَاء، وَيَا جَامِعَ شَمْلِ يَعْقُوبَ يَوْمَ عَاشُورَاء، وَيَا غَافِرَ الذَّنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عَاشُورَاء، وَيَا كَاشِفَ ضُرِّ أَيُّوبَ يَوْمَ عَاشُورَاء، وَيَا سَامِعَ دَعْوَةِ مُوسَى وَهَارُونَ يَوْمَ عَاشُورَاء، وَيَا خَالِقَ رُوحِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاء، وَيَا رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، لَا إِلَـٰهَ إِلَّا أَنْتَ إِقْضِ حَاجَتِي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَأَطِلْ عُمْرِي فِي طَاعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَرِضَاكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

    Arab Latin: Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma ya mufarrija kulli karbin, wa ya mukhrijadz dzin nun yawma ‘asyura, wa ya jami’a syamli Ya’qub yawma ‘asyura, wa ya ghafiradz dzambi Dawud yawma ‘asyura, wa ya kasyifadz dhurri Ayyub yawma ‘asyura, wa ya sami’a da’wat Musa wa Harun yawma ‘asyura, wa ya khaliqu ruhi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yawma ‘asyura, wa ya rahmanad-dunya wal-akhirah, la ilaha illa anta, iqdi hajati fid-dunya wal-akhirah, wa atil umri fi ta’atika wa mahabbatika wa ridhak, ya arhamarrahimin. Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa sallam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, wahai Dzat yang menghilangkan segala kesedihan, wahai Dzat yang mengeluarkan Dzun Nun (Nabi Yunus) dari dalam perut ikan pada hari Asyura, wahai Dzat yang mengumpulkan keluarga Ya’qub pada hari Asyura, wahai Dzat yang mengampuni dosa Nabi Dawud pada hari Asyura, wahai Dzat yang menghilangkan kesulitan Nabi Ayyub pada hari Asyura, wahai Dzat yang mendengar doa Nabi Musa dan Nabi Harun pada hari Asyura, wahai Dzat yang menciptakan ruh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Asyura, wahai Maha Pengasih di dunia dan akhirat, tidak ada Tuhan selain Engkau, kabulkanlah hajatku di dunia dan akhirat. Panjangkanlah usiaku dalam taat kepada-Mu, kasih sayang-Mu, dan keridhaan-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang. Semoga rahmat Allah terlimpah atas Nabi Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

    Doa Asyura agar Diberi Ketenangan Hati

    Ibn Hajar Asqalani, imam pakar hadis menyebutkan dalam syarh Sahih al-Bukhari beberapa kalimat doa yang bagi siapa saja membaca doa ini di hari Asyura, maka hatinya tidak akan mati.

    سُبْحَانَ الله ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش وَالْحَمْد لله ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش وَالله أكبر ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش لَا ملْجأ وَلَا منجا من الله إِلَّا إِلَيْهِ سُبْحَانَ الله عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا وَالْحَمْد لله عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا وَالله أكبر عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا أَسأَلك السَّلامَة بِرَحْمَتك يَا أرْحم الرَّاحِمِينَ وَلَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم وَصلى الله على سيدنَا مُحَمَّد وعَلى آله وَصَحبه أَجْمَعِينَ وَالْحَمْد لله رب الْعَالمين

    Arab latin: Subhanallah mil’al mizan wa muntahal ilmi wa mablagho rridlo wa zinatal arsyi walhamdu lillah mil’al mizan wa muntahal ilmi wa mablaghor ridlo wa zinatal arsyi wallahu akbar mil’al mizan wa muntahal ilmi wa mablaghor ridlo wa zinatal arsyi la malja’a wa la manja’a minallah illa ilaihi, subhanallahi ‘adadassyaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillahi at-taammati kulliha walhamdu lillaj ‘adadasyyaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillahi at-taammati kulliha wallahu akbar ‘adadassyaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillah attaammati kulliha, as’alukas salamata birahmatika ya arhamarrahimin, wala haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim wa shallallahu ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa shohbihi ajma’in walhamdu lillah rabbil alamin.

    Artinya: Maha suci Allah dengan (suci) memenuhi timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya Arsy. Dan segala puji bagi Allah dengan (pujian) memenuhi timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya Arsy. Dan Maha besar Allah dengan (kebesaran) memenuhi timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya Arsy. Tidak ada perlindungan dan tidak ada keselamatan dari Allah kecuali berlindung kepadaNya. Maha suci Allah dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Allah yang semuanya sempurna. Dan Segala puji bagi Allah dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Allah yang semuanya sempurna. Aku memohon keselamatan kepadaMu dengan rahmatMu, wahai Dzat yang Maha Pengasih diantara para pengasih!, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali Allah yang maha tinggi dan agung. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, segala puji hanya milik Allah penguasa alam semesta.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Setelah Membaca Al-Qur’an dan Adabnya, Yuk Amalkan!


    Jakarta

    Membaca Al-Qur’an termasuk salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi kaum muslimin. Sebagai kitab suci, tentu Al-Qur’an memiliki banyak keutamaan bagi pembacanya baik di dunia maupun akhirat.

    Perumpamaan orang muslim yang gemar membaca Al-Qur’an diibaratkan dalam sebuah hadits. Dari Anas bin Malik, Abu Musa al-Asy’ari berkata:

    “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, rasa buahnya enak dan baunya wangi. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah Kurma, rasanya enak namun tidak berbau. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, baunya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, rasanya pahit tetapi tidak berbau,” (HR Muttafaqun alaih, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan derajat shahih)


    Di dalam Al-Qur’an, terkait anjuran membacanya tercantum pada surat Al-A’raf ayat 204 yang berbunyi sebagai berikut:

    وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    Arab latin: Wa iżā quri`al-qur`ānu fastami’ụ lahụ wa anṣitụ la’allakum tur-ḥamụn

    Artinya: “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat,”

    Setelah membaca Al-Qur’an, ada juga doa yang bisa dipanjatkan. Seperti apa? Berikut bacaannya yang dikutip dari buku Kumpulan Doa & Dzikir Ramadhan karya Yufid.

    Doa Setelah Membaca Al-Qur’an

    Dari Aisyah RA, ia mengatakan:

    “Tidaklah Rasulullah duduk di suatu tempat atau membaca Al-Qur’an ataupun melaksanakan sholat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat,”

    Aisyah kemudian bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, tidaklah Anda duduk di suatu tempat, membaca Al-Qur’an ataupun mengerjakan sholat melainkan Anda akhiri dengan beberapa kalimat?”

    Lalu beliau menjawab, “Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan:

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

    Arab latin: Subhanakallahumma wa bihamdika, laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik.

    Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu,” (HR Nasai)

    Adab dalam Membaca Al-Qur’an

    Menukil buku Kitabul-Aadab oleh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, berikut sejumlah adab dalam membaca Al-Qur’an.

    1. Bersuci

    Adab yang pertama ialah bersuci sebelum menyentuh dan membaca Al-Qur’an. Sebab, Al-Qur’an merupakan kitab suci yang berisi kalam Allah, apabila muslim menyentuh mushaf sudah sepatutnya ia dalam keadaan suci.

    2. Membaca Basmalah

    Selanjutnya membaca basmalah. Hal ini termasuk ke dalam sunnah Rasulullah SAW sebelum membaca Al-Qur’an. Anas bin Malik meriwayatkan,

    “Pada suatu hari tatkala Rasulullah SAW bersama kami, tiba-tiba beliau pingsan. Lalu menengadahkan kepala beliau ke langit dan tersenyum. Kami bertanya, ;Apa yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Barusan diturunkan kepadaku sebuah surat,’

    Anas berkata, “Lalu Rasulullah SAW membaca, ‘Bismillahirrahmanirrahim. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dia- lah yang terputus,’ (Al-Kautsar: 1-3)” (HR Muslim)

    3. Memanjangkan Bacaan

    Terkait adab memanjangkan bacaan ayat Al-Qur’an sesuai tajwidnya ini termuat dalam riwayat Anas bin Malik. Anas pernah ditanya tentang bagaimana bacaan Nabi SAW, Anas menjawab,

    “Bacaannya mad atau panjang. Beliau membaca, ‘Bismillahirrahmanirrahim’ dengan memanjangkan lafaz ‘Bismillah’, dan memanjangkan lafaz ‘Ar-Rahman’ dan memanjangkan lafaz ‘Ar-Rahim’,” (HR Bukhari)

    4. Ikhlas saat Mempelajari dan Membaca

    Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar, “Maka pertama kali yang diperintahkan kepada seorang pembaca Al-Qur’an adalah ikhlas ketika membacanya. Dan hanya mengharap pahala dari Allah SWT. Tidak ada motivasi lain dalam bacaannya selain itu,”

    5. Mengindahkan Suara ketika Membaca

    Mengindahkan suara dalam membaca Al-Qur’an bukan dengan nada yang berliuk atau menyerupai lagu serta nyanyian. Anjuran memerdukan suara termasuk sunnah, sebagaimana yang dikatakan Al-Bara’,

    “Aku mendengar Rasulullah SAW membaca ‘Wattiini wazzaituun’ ketika salat Isya, dan aku tidak mendengar seseorang yang bersuara indah atau bacaan selain beliau,” (HR Bukhari)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Rasulullah Larang Kencing Sambil Berdiri, Benarkah Haditsnya?


    Jakarta

    Rasulullah SAW telah mencontohkan adab buang air kecil sebagaimana diriwayatkan dalam sejumlah hadits. Di antara hadits tersebut, ada yang berisi larangan kencing sambil berdiri.

    Hadits larangan kencing sambil berdiri ini diriwayatkan dari Nafi, dari Ibnu Umar RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau kencing sambil berdiri.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahih-nya. Imam Baihaqi turut meriwayatkannya)

    Adapun, Aisyah RA mengatakan, “Barang siapa memberitahu kalian bahwa Nabi SAW dulu pernah kencing sambil berdiri, maka jangan percaya kepadanya. Beliau tidak pernah kencing, kecuali dengan posisi duduk.”


    Mengenai dua hadits tersebut, Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya menukil Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits riwayat Aisyah RA adalah hadits yang paling baik dan paling kuat dalam tema ini. Sementara itu, hadits Umar RA yang diriwayatkan dari jalur Abdul Karim bin Abu Mukhariq, dari Nafi dimarfu-kan oleh Abdul Karim bin Abu Mukhariq saja, sedangkan ia dinilai lemah oleh para ahli hadits.

    Dalam Penjelasan Kitab Mandzhumah al-Baiquniyyah yang disusun oleh Abu Utsman Kharisman diterangkan, hadits Ibnu Umar RA tentang larangan kencing berdiri adalah hadits yang mengandung illat tercela. Perawi yang dimaksud dalam hal ini adalah Abdul Karim bin Abi Umayyah.

    Imam Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro menyatakan, “Abdul Karim ini adalah Ibnu Abil Mukhaariq. Sekelompok perawi meriwayatkan dari Abdurrazzaq dan menisbatkan padanya. Abdul Karim bin Abil Mukhaariq (adalah perawi yang) lemah.”

    Kencing Sambil Berdiri Tidak Diharamkan

    Dalam Sunan Ibnu Majah dijelaskan, maksud dari larangan kencing sambil berdiri adalah larangan untuk mendidik, bukan pengharaman. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya, termasuk sikap yang buruk kencing sambil berdiri.”

    M Quraish Shihab dalam buku M Quraish Shihab Menjawab 1001 soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui menerangkan, ada riwayat lain dari sejumlah perawi hadits–termasuk Bukhari dan Muslim–yang memberitahukan bahwa Nabi SAW pernah kencing sambil berdiri. Menurut M Quraish Shihab, boleh jadi Nabi SAW melakukan itu karena beliau sakit atau untuk menunjukkan bahwa kencing berdiri bukanlah haram.

    “Mengenai terperciknya kencing atau najis saat berdiri melakukan kencing di depan uriner, memang merupakan satu kemungkinan. Namun, kemungkinan itu belum sampai mengantar untuk mengharamkan kencing berdiri. Bahkan belum sampai ke tingkat menajiskan pakaian,” jelas pendiri Pusat Studi Al-Qur’an itu.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Setelah Beristinja dan Tata Caranya Menurut Islam



    Jakarta

    Doa istinja dapat dibaca selesai buang hajat. Sebagai bagian dari thaharah atau bersuci. Dalam bahasa Indonesia sendiri, istinja lebih sering disebut sebagai cebok yang berarti membersihkan segala kotoran yang keluar dari kubul dan dubur.

    Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersihan, bahkan sebelum salat kaum muslimin diwajibkan untuk berwudhu. Sama halnya dengan istinja, namun masih banyak yang menganggap istinja sebagai masalah remeh.

    Dijelaskan dalam buku Adab Buang Hajat oleh M Aqir Haidar, hukum beristinja adalah wajib dan diutamakan menggunakan air. Apabila tidak ada, maka dapat diganti dengan benda padat seperti batu dan sejenisnya yang mampu membersihkan kotoran.


    Dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

    “Apabila salah seorang dari kamu pergi membuang hajat, maka hendaklah membawa serta tiga butir untuk beristinja. Sesungguhnya tiga batu itu akan mencukupinya,” (HR Abu Dawud)

    Bacaan Doa Setelah Beristinja

    Mengutip buku Doa-doa Mustajab Orang Tua untuk Anaknya oleh Aulia Fadhli, berikut bacaan doa yang bisa dipanjatkan setelah beristinja.

    اَللّٰهُمَّ حَسِّنْ فَرْجِىْ مِنَ الْفَوَاخِشِ وَظَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ

    Arab latin: Allaahumma hashshin farjii minal fawaahisy wathahir qalbii minan nifaaq

    Artinya: “Ya Allah jagalah kemaluanku dari perbuatan keji dan bersihkanlah hatiku dari nifak,”

    3 Macam Cara Istinja Menurut Islam

    K H Imaduddin Utsman al-Bantanie melalui buku Induk Fikih Islam Nusantara menjelaskan 3 macam cara istinja yang baik dan benar menurut Islam, seperti apa? Simak bahasannya berikut ini.

    • Menggunakan air, ini yang paling diutamakan
    • Jika tidak ada air, boleh menggunakan 3 buah batu atau diganti dengan 3 lembar tissue. Namun, apabila dirasa belum bersih, boleh ditambah dengan jumlah ganjil, seperti 5, 7, dan seterusnya
    • Bisa juga menggunakan 3 lembar tissue atau batu lebih dulu lalu diakhiri dengan menggunakan air. Dalam hal ini, batu atau tissue menjadi pengganti sabun untuk menghilangkan wujud najis serta bekasnya, nantinya air akan menyempurnakan sucinya dari najis

    Adab Buang Hajat yang Perlu Dipahami Muslim

    Berikut sejumlah adab istinja yang perlu dipahami muslim seperti dinukil dari buku Pelajaran Adab Islam susunan Suhendri M Sos dan Ahmad Syukri S Pd I.

    • Tidak menghadap kiblat atau membelakanginya
    • Dilarang buang hajat di jalan yang sering dilewati orang
    • Tidak buang hajat di air yang tergenang
    • Buanglah hajat di tempat tertutup
    • Jangan memegang kemaluan dengan tangan kanan

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Doa Suami untuk Istri, Yuk Baca agar Rumah Tangga Berkah dan Harmonis



    Jakarta

    Doa suami untuk istri adalah salah satu sunnah yang Rasulullah SAW ajarkan kepada umat Islam. Mendoakan istri dapat menjadi kado terbaik dalam hubungan pernikahan agar senantiasa diberikan keberkahan dan keharmonisan rumah tangga.

    Anjuran mendoakan istri diterangkan dalam hadits yang dinukil dari buku Hadiah Pernikahan terindah karya Ibnu Wanitiniyah, Rasulullah SAW bersabda:

    “Apabila salah seorang diantara kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, peganglah terlebih dahulu keningnya, sebutlah nama Allah dan berdoalah untuk keberkahannya dengan mengucapkan doa:


    ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya (istri) dan kebaikan apa yang aku ambil dari padanya, serta aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang ada di dalamnya, juga dari kejahatan dari apa yang aku ambil dari padanya.’” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibn Majah).

    Selain itu, memanjatkan doa untuk istri juga pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk Aisyah. Dikisahkan dalam buku Romansa di Rumah Nabi SAW oleh Abu Hamzah Al-Ghamidi, Aisyah RA pernah berkata,

    “Aku mengetahui Rasulullah SAW memiliki hati yang sangat baik. Aku berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, doakanlah aku!’ Kemudian beliau pun berdoa:

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ وَمَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa Aisyah yang telah lalu, yang akan datang, yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi, dan yang dilakukannya secara terang-terangan.”

    Urwah RA berkata, “Aisyah RA tertawa hingga menjatuhkan kepalanya di pangkuan Rasulullah Saw. Beliau bersabda, ‘Apakah engkau bahagia dengan doaku?’

    Aisyah RA menjawab, ‘Bagaimana aku tidak bahagia dengan doamu.’ Nabi SAW bersabda, ‘Demi Allah, itu adalah doaku untuk umatku (yang selalu aku ucapkan) di dalam sholat,’” (HR Bazzar).

    Lantas, seperti apa bacaan doa suami untuk istri yang bisa dipanjatkan? Berikut ini di antaranya dilansir dari Kitab Doa Mustajab Terlengkap karya H. Amrin Ali Al-Kasyaf.

    Bacaan Doa Suami untuk Istri

    1. Doa Suami untuk Istri di Malam Pertama Pernikahan

    اللَّهُمَّ إِنِّى اَسْتَلُكَ خَيْرُهَا وَخَيْرُ مَا جَبَلْتَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

    Latin: Allaahumma innii as-aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaih.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa saja yang Engkau tetapkan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa saja yang Engkau tetapkan kepadanya.”

    2. Doa Suami untuk Istri agar Diberi Keberkahan

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوْبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    Latin: Allaahumma baariklanaa fii asmaa’inaa wa abshaarinaa wa quluubinaa wa azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa wa tub’alainaa innaka antattawwaabur rahiim.

    Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami dalam pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri-istri kami, dan anak keturunan kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya, Engkau Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

    3. Doa Suami untuk Istri agar Diberi Kebahagiaan

    وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    Latin: Wallażīna yaqụlụna rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a’yuniw waj’alnā lil-muttaqīna imāmā.

    Artinya: “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan: 74).

    4. Doa Suami ketika Istri Masuk Kamar

    Ketika istri memasuki kamar, suami dapat meletakkan tangannya di bagian kening istri kemudian menghadap bersama-sama ke arah kiblat seraya membaca doa:

    اللَّهُمَّ بِأَمَانَتِكَ أَخَذْتُهَا وَبِكَلِمَاتِكَ اسْتَحْلَلْتُ فَرْجَهَا، فَإِنْ قَضَيْتَ لي مِنْهَا وَلَدًا فَاجْعَلْهُ مُبَارَكًا سَوِيًّا وَلَا تَجْعَلْ لِلشَّيْطَانِ فِيْهِ شَرِيكًا وَلَا نَصِيبًا

    Latin: Allaahumma biamaanatika akhattuhaa, wa bikalimaatika istahlaltu farjahaa, fain qadhaita lii minhaa waladan fajalhu mubaarakan syawiyyaa, walaa taj’al lisy syaithaani fiihi syariikan walaa nashiiban.

    Artinya: “Ya Allah, dengan amanat-Mu kujadikan ia istriku dan dengan kalimat-kalimat-Mu dihalalkan bagiku kehormatannya. Jika Engkau tetapkan bagiku memiliki keturunan darinya, jadikan keturunanku keberkahan dan kemuliaan, dan jangan jadikan setan ikut serta dan mengambil bagian di dalamnya.”

    5. Doa Suami untuk Istri agar Diberi Keturunan yang Soleh dan Solehah

    ربَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجَعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    Latin: Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yuuniw waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan: 73).

    Demikian sejumlah doa suami untuk istri yang bisa dipanjatkan agar rumah tangga senantiasa diberi keberkahan.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Nabi Ibrahim ketika Dibakar yang buat Api Jadi Dingin



    Jakarta

    Doa Nabi Ibrahim AS ketika dibakar diucapkan saat ia menghadapi cobaan yang luar biasa. Cobaan itu adalah adanya upaya pembunuhan yang dilakukan oleh prajurit Raja Namrud.

    Raja Namrud digambarkan sebagai orang yang diktator dan ororiter dan menganggap dirinya sebagai tuhan, sebagaimana dikatakan dalam Al-Aabaa wal Abnaa fil Qur’anil Karim karya Adil Musthafa Abdul Halim. Menurut Mujahid, Namrud bin Kan’aan adalah satu dari empat raja yang memiliki kekuasaan besar dan ia adalah raja yang kafir.

    Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim AS kepada Raja Namrud dan para kaum penyembah berhala. Dalam perjalanan dakwahnya, Nabi Ibrahim AS menghadapi berbagai cobaan, salah satunya dibakar oleh prajurit Raja Namrud.


    Dalam kondisi itu, Nabi Ibrahim AS diceritakan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Adapun doa Nabi Ibrahim AS ketika dibakar ini adalah sebagai berikut.

    Doa Nabi Ibrahim ketika Dibakar

    اللَّهُمَّ إِنَّكَ فِي السَّمَاءِ وَاحِدٌ وَأَنَا فِي الْأَرْضِ وَاحِدٌ أعبدك

    Arab Latin: Alloohumma innaka fis samaa’i waahidun wa ana fil ardhi waahidun ‘abuduka

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau di langit sana sendiri dan aku di bumi pun sendiri, akulah hamba-Mu.” (Dinukil dari Kitab Majma’ul Jawaa’id Bab Zikrul Anbiyaa)

    Doa tersebut termuat dalam riwayat Al Hafidz Abu Ya’la, dari Abu Hurairah RA, sebagaimana dinukil Syamsuddin Noor dalam buku Dahsyatnya Doa Para Nabi.

    Ibnu Abbas mengatakan, “Akhir dari doa Nabi Ibrahim AS ketika dilempar ke dalam kobaran api adalah kalimat:

    حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

    Arab Latin: Hasbunallooh wa nimal wakiil

    Artinya: “Cukuplah Allah bagiku dan Dialah sebaik-baik yang menjaga,” (QS Ali Imran: 173)

    Perihal kenapa Nabi Ibrahim AS dibakar oleh kaumnya adalah berawal dari penolakan dan penentangan atas dakwah Nabi Ibrahim AS oleh umatnya bahkan dari ayahandanya sendiri. Kejadian ini memuncak setelah Nabi Ibrahim AS menghancurkan berhala yang disembah oleh kaumnya kemudian diadili di depan para hakim.

    Simak kisahnya di halaman selanjutnya>>

    Kisah Nabi Ibrahim ketika Dibakar Prajurit Raja Namrud

    Diceritakan dalam buku Dahsyatnya Doa Para Nabi karya Syamsuddin Noor, keputusan Nabi Ibrahim AS menghancurkan berhala karena ingin membuktikan kepada kaumnya dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala yang mereka tuhankan itu betul-betul tidak ada gunanya bagi mereka. Bahkan berhala itu tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

    Pada saat itu, para hakim menanyakan kepada Nabi Ibrahim AS apakah dia yang menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Dengan tenang, Nabi Ibrahim AS menjawab bahwa patung besar yang berkalungkan kapak di leher yang melakukannya. Dia menyarankan agar mereka bertanya pada patung-patung tersebut siapa yang menghancurkannya.

    Para hakim terdiam dan orang-orang di pengadilan saling berbisik. Mereka merasa dilecehkan dan diejek oleh jawaban Nabi Ibrahim AS. Sang hakim mencoba membela patung-patung itu dengan mengatakan bahwa patung-patung itu tidak bisa berbicara, melihat, mendengar, membawa manfaat, atau menolong diri mereka.

    Nabi Ibrahim AS memberikan pidato lantang bahwa patung-patung itu tak berdaya dan menyimpang. Dia menunjukkan betapa kelirunya perbuatan mereka menyembah patung-patung tersebut. Meskipun pidatonya membuat mereka diam, tetapi karena sifat kekafiran sudah mengakar dalam diri mereka, mereka tetap mempertahankan kesalahan mereka.

    Akhirnya, mereka memutuskan untuk membakar hidup-hidup Nabi Ibrahim AS sebagai hukuman atas penghinaan terhadap tuhan-tuhan mereka. Dengan penuh kekejamannya, mereka meminta rakyat menyaksikan eksekusi tersebut dan menantang mereka untuk membela tuhan-tuhan mereka.

    Nabi Ibrahim AS ditangkap dan dibawa ke lapangan untuk dibakar hidup-hidup. Orang-orang dari berbagai penjuru kota datang membawa kayu bakar sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan mereka. Mereka berharap mendapatkan berkah dan kesembuhan dengan memberikan sumbangan kayu bakar tersebut.

    Tumpukan kayu bakar dibangun hingga tinggi seperti gunung berapi. Nabi Ibrahim AS yang terbelenggu bersiap-siap untuk dilemparkan ke dalam tumpukan kayu yang menyala-nyala. Namun, pada saat genting itu, malaikat hendak menolongnya, namun ditolaknya. Nabi Ibrahim AS yakin bahwa Allah SWT akan menolongnya tanpa perantara siapapun.

    Setelah itu, Nabi Ibrahim berdoa dengan doa yang dijelaskan di atas. Kemudian Allah SWT berfirman kepada api sebagai berikut,

    قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ

    Artinya: “Kami (Allah) berfirman, ‘Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!’” (QS Al-Anbiya’: 69)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com