Tag: hikmah

  • Doa Mohon Kemudahan dan Kemenangan, Yuk Baca saat Lomba 17-an!



    Jakarta

    Berdoa menjadi salah satu amalan yang dianjurkan bagi umat muslim. Bahkan Allah SWT secara langsung memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa.

    Ketika seseorang mengikuti sebuah kompetisi tentu harapannya adalah kemenangan. Demikian pula saat mengikuti lomba dalam rangka memeriahkan peringatan HUT RI yang jatuh setiap tanggal 17 Agustus.

    Selain diperlukan usaha, seorang muslim juga bisa melafalkan doa agar diberi kemudahan sehingga dapat meraih gelar juara. Pada dasarnya semua doa adalah mustajab, tetapi bagaimana cara kita menempatkan doa yang kita panjatkan dengan penuh keikhlasan, itulah yang akan menjadikan kemustajaban sebuah doa.


    Mengutip buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki oleh KH. Sulaeman Bin Muhammad Bahri disebutkan bahwa doa adalah sebagian dari ibadah. Berdoa atau menyampaikan permohonan merupakan ciri ibadah seseorang kepada Yang Maha Kuasa.

    Hampir semua orang menginginkan segala sesuatu dapat dicapai dengan mudah. Namun, hal itu tidak mungkin tanpa adanya perjuangan (usaha). Berdoa tanpa putus, khusyuk, penuh kesabaran dan keikhlasan merupakan salah satu bentuk usaha. Selain permohonan, kita juga perlu mengucapkan terima kasih kepada Alah SWT atas apa yang telah kita terima.

    Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 186,

    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

    Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

    Ada juga salah satu hadits yang menjelaskan tentang pentingnya doa. Rasulullah SAW bersabda,

    “Tiap muslim di muka bumi yang memohonkan suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah atau dijauhkan Allah daripadanya suatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang.” (HR. At Turmudzi).

    Kumpulan Doa Keberuntungan dan Kemenangan

    1. Doa Mohon Kemenangan

    Berikut merupakan bacaan doa keberuntungan yang dinukil dari buku Doa dan Zikir Orang Sukses susunan Zaki Zamani,

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالْفَوْزَ بالْجَنَّةِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ

    Arab latin: Allahumma inni as’aluka mujibati rahmatika, wa ‘aza’ima maghfiratika, was-salamata min kulli ithmin, wal-ghanimata min kulli birrin, wal-fawza bil- jannati, wannajata mina-nar

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu segala sesuatu yang menyebabkan turunnya rahmat-Mu, segala sesuatu yang memastikan ampunan-Mu, keselamatan dari segala dosa, keberuntungan dari setiap perbuatan baik, kemenangan dengan meraih surga dan keselamatan dari neraka,”

    2. Doa Memohon Rahmat

    Selain doa di atas, ada juga bacaan lainnya yang bisa dipanjatkan untuk memohon keberuntungan seperti dikutip dari buku Keajaiban Shalat 5 Waktu Bersama Nabi SAW karya Yanuar Arifin,

    رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    Arab latin: Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa il-lam taghfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin

    Artinya: “Wahai Pemelihara kami, sesungguhnya kami telah berbuat dzalim terhadap diri-diri kami. Dan jika Engkau tidak memberi ampunan untuk kami dan merahmati kami, sungguh benar-benar kami menjadi termasuk dari golongan orang-orang yang rugi,”

    3. Doa Kemenangan dan Keselamatan

    Mengutip dari Majalah Asy-Syariah Edisi 105 terbitan Oase Media, berikut doa keberuntungan versi lain yang bisa dipanjatkan,

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الفلاح والنجاح

    Arab latin: Allahumma inni as’alukal falaaha wannajaaha

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu, keberuntungan dan keselamatan,”

    4. Doa Kemenangan Rezeki Halal

    Dalam buku Sapu Jagat Keberuntungan yang ditulis oleh Ahmad Mudzakir S Pd M Si, berikut doa yang bisa dipanjatkan untuk meraih kemenangan dan juga rezeki halal,

    اَللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ اَنْ تَرْزُقَنِىْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَمَشَقَّةٍ وَلاَضَيْرٍ وَلاَنَصَبٍ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

    Arab latin: Allahumma innii as aluka an tarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairita’abin wala masyaqqatin walaa dhoirin wa laa nashabin innaka ‘alaa kulli syai in qadiir.”

    Artinya: “Ya Allah, aku minta pada Engkau akan pemberian rezeki yang halal, luas, baik tidak tanpa repot dan juga tanpa kemelaratan dan tanpa keberatan, sesungguhnya Engkau kuasa atas segala sesuatu,”

    Doa ini dapat dibaca ketika hendak mengikuti kompetisi. Namun hendaknya membaca doa kapanpun dan dimanapun agar pertolongan Allah SWT senantiasa menaungi. Semoga berhasil!

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Adzan Subuh: Arab, Latin, dan Artinya


    Jakarta

    Adzan subuh merupakan tanda masuk waktu salat. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk membaca doa setelah adzan subuh.

    Lafaz adzan subuh sedikit berbeda dengan adzan salat lima waktu lainnya. Yang membedakannya adalah lafaz ashashalatu khairum minan nawm yang diucapkan pada akhir adzan.

    Setelah adzan subuh, dianjurkan membaca doa untuk kebaikan dunia dan akhirat.


    Anjuran Membaca Doa setelah adzan subuh

    Dalam suatu riwayat dari at-Tirmidzi, diungkapkan bahwa doa yang diucapkan setelah adzan memiliki makna sebagai doa untuk keselamatan dalam kehidupan dunia dan akhirat.

    Dalam keterangan yang diberikan oleh Anas RA, ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW menyampaikan, “Doa yang diucapkan antara panggilan adzan dan iqamah tidaklah ditolak.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Sunni, dan berbagai ulama hadits lainnya. at-Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini dapat dikategorikan sebagai hasan dan sahih.)

    Imam Nawawi, dalam bukunya “ad-Da’wat” sebagaimana diuraikan dalam karyanya “al-Adzkar”, mencatat dari koleksi Jami’ at-Tirmidzi bahwa mereka bertanya kepada Nabi SAW, “Apa yang sebaiknya kami ucapkan, wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Mohonlah kepada Allah untuk mendapatkan keselamatan dalam dunia dan akhirat.”

    Bacaan doa keselamatan dunia dan akhirat

    اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِيْ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ

    Arab Latin: “Allahumma innî as-alukal-‘âfiyah fid-dunya wal-âkhirah”

    Artinya: “Ya Allah, aku mohon pada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat.”

    Anjuran untuk berdoa setelah adzan juga dijelaskan dalam riwayat lain, dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, bahwa sungguh ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah para muazin telah melebihi keutamaan dari kami,” maka Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah sebagaimana yang mereka bacakan, jika (adzan) telah selesai, maka berdoalah niscaya Allah akan mengabulkannya.” (HR Abu Dawud)

    Doa setelah Adzan Subuh

    اللهم هَذَا إِقْبَالُ هَارِنَكَ وَإِدْبَارُ لَيْلِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فاغْفِرْ لِي

    Arab Latin: “Allahumma hadza iqbaalu nahaarika wa idbaaru lailika wa ashwaatu du’aaika faghfir lii”

    Artinya: “Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya siang-Mu, dan perginya malam-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku.”

    Selain doa setelah adzan, terdapat juga anjuran untuk menjawab adzan. Berikut ini adalah penjelasannya.

    Menjawab Adzan

    Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah SAW bersabda, bahwa apabila mendengar adzan dikumandangkan, maka disunahkan bagi orang yang mendengarnya untuk mengucapkan dengan suara pelan seperti lafal yang diucapkan oleh muadzin. Namun ketika muadzin mengucapkan lafal,

    حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الفَلَاحِ

    Arab Latin: “Hayya ‘ala-s-Salaah, hayya ‘ala-l-Falaah.”

    Bagi orang yang mendengarnya disunahkan mengucapkan,

    لا حَولَ وَلا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

    Arab Latin: “La hawla wa la quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘adziim.”

    Artinya: “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”

    Khusus pada adzan subuh sesudah lafal hayya ‘alal-falah diberi tambahan lafal,

    الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

    Arab Latin: “As-salatu khayrun min an-nawm.”

    Artinya: “Shalat itu lebih baik daripada tidur.”

    Bagi orang yang mendengarkan disunahkan untuk menjawab dengan lafal berikut,

    صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ وَاَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَالمَّا هِدِينَ

    Arab Latin: “Sadaqta wa bararta wa ana ‘ala dhalika min al-mahdiyin.”

    Artinya: “Engkau telah benar, berbakti, dan aku pun mengikuti petunjuk tersebut.”

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Versi Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah, Yuk Amalkan!


    Jakarta

    Husnul khatimah dimaknai sebagai akhir yang baik. Artinya, ketika seseorang wafat dalam keadaan husnul khatimah maka ia meninggal dalam kondisi yang baik.

    Menurut buku Cermin Muslim: Petikan Hikmah Bekal Pribadi Muslim susunan Dr Muhammad Irfan Helmy Lc MA, secara Islam orang yang meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah saat-saat terakhir kehidupannya diwarnai dengan amal saleh hingga ajal menjemput.

    Berkaitan dengan husnul khatimah, ada doa yang dapat diamalkan kaum muslimin agar meninggal dalam kondisi baik. Apa saja?


    4 Versi Doa Memohon Husnul Khatimah

    1. Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah Versi Pertama

    Dikutip dari buku Doa-Doa Terbaik Sepanjang Masa susunan Ahmad Zacky El-Syafa, berikut doa agar husnul khatimah,

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ

    Arab latin: Allahummaj’al khaira ‘umrii aakhirahu wa khaira amalii khwaatimahu wa kharra ayyamii yauma lawaaika fiih

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada penghujungnya dan sebaik-baik amalku (juga) pada penghujungnya dan sebaik-baik hari-hariku adalah dari pertemuan dengan-Mu.”

    2. Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah Versi Kedua

    Doa selanjutnya diambil dari surat Ali Imran ayat 193 yang berbunyi,

    رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ

    Arab latin: Rabbanā innanā sami’nā munādiyay yunādī lil-īmāni an āminụ birabbikum fa āmannā rabbanā fagfir lanā żunụbanā wa kaffir ‘annā sayyi`ātinā wa tawaffanā ma’al-abrār

    Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.”

    3. Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah Versi Ketiga

    Selanjutnya, doa meraih kematian husnul khatimah terdapat dalam surat Al A’raf ayat 126,

    رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ ࣖ ١٢٦ …

    Arab latin: … Rabbana afrigh ‘alayna shabran wa tawaffana muslimin.

    Artinya: “… Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu)”

    4. Doa Meraih Kematian Husnul Khatimah

    اللَّهمَّ أحسِنْ عاقبتَنا في الأمورِ كلِّها ، وأجِرْنا من خِزيِ الدُّنيا وعذابِ الآخرةِ

    Arab latin: Allahumma ahsin ‘aaqibatana fil umuuri kullihaa wa ajirnaa min khizyid dun-yaa wa ‘adzaabil aakhirah.

    Artinya: “Ya Allah, baguskanlah akhir dari segala urusan kami dan hindarkanlah kami dari kehinaan godaan dunia dan siksa di akhirat nanti.”

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Larangan Ghibah, Perilaku yang Dilarang dalam Islam



    Jakarta

    Bergunjing atau ghibah termasuk ke dalam perilaku buruk dan dilarang dalam Islam. Ghibah juga diartikan membicarakan aib orang lain.

    Dalam buku Panduan Muslim Sehari-hari oleh Saiful Hadi El Sutha dan Hamdan Rasyid, dijelaskan bahwa ghibah adalah membicarakan aib atau kekurangan seseorang ketika orang tersebut tidak ada. Jika orang tersebut mendengar aib atau kekurangannya dibicarakan, pasti ia tidak akan menyukainya. Walaupun kemungkinan aib dan kekurangan tersebut benar adanya.

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda terkait ghibah:


    “Tahukah kamu, apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian Beliau bersabda, “(Ghibah yaitu) kamu membicarakan (menyebut-nyebut) saudaramu atas hal-hal yang tidak disukainya (dibencinya).”

    Ditanyakan kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana jika apa yang aku bicarakan itu memang benar ada pada diri saudaraku?” Rasulullah SAW berkata, “Jika apa yang kamu bicarakan itu memang ada pada diri saudaramu, maka kamu telah menggunjingnya. Dan jika yang kamu bicarakan itu tidak ada pada diri saudaramu, maka kamu telah berbuat kedustaan (kebohongan) terhadapnya.” (HR Muslim)

    Adapun, terkait larangan ghibah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi. “Barang siapa menahan ghibah terhadap saudaranya, maka Allah akan menyelamatkan wajahnya dari api neraka kelak pada hari kiamat.” (HR Tirmidzi)

    Kemudian, dalam hadits lainnya Nabi SAW juga melarang perilaku ghibah sekaligus menyebut konsekuensi yang akan diganjar pada hari kiamat kelak.

    “Barang siapa yang menutup aib saudara muslimnya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa yang mengumbar aib saudara muslimnya, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR Ibnu Majah 2536)

    Allah SWT bahkan melarang hamba-Nya untuk bergunjing. Hal ini tertuang dalam surat Al Hujurat ayat 12,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

    Menghindari perilaku ghibah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mengutip buku Akhlak Keagamaan Kelas XII tulisan Rofa’ah, salah satu cara menghindari ghibah ialah dengan berpikir positif.

    Pikiran yang negatif akan memicu ghibah. Karenanya, penting untuk selalu berpikir positif antar sesama, baik dalam lingkungan keluarga, teman, dan lain sebagianya.

    Selain itu, bergaul dengan orang baik juga dapat menghindari diri dari ghibah. Lingkungan yang baik akan berpengaruh pada sikap dan perilaku.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Dua Perkara yang Paling Disukai Nabi Muhammad



    Jakarta

    Ada sejumlah perkara yang disukai Nabi Muhammad SAW. Perkara ini termasuk amalan yang dilakukan setiap harinya.

    Dalam Maadza Yuhibbu an Nabi Muhammad SAW wa Maadza Yukrihu karya Adnan Tharsyah, terdapat sebuah hadits yang menyebut dua perkara yang paling disukai Nabi Muhammad SAW. Diceritakan dari Hamnah binti Jahsyin bahwasanya dia mengalami istihadhah pada masa Rasulullah SAW.

    Dia pun mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “Sesungguhnya aku mengalami istihadhah dengan keluar darah sangat banyak sekali. Beliau berkata, “Balutlah dengan kapas.” Dia berkata, “Masih saja keluar dengan banyak sekali, bagaikan mengalirnya air.” Beliau bersabda,


    “Balutlah dengan kain dan haidlah di setiap bulan dalam Ilmu Allah selama enam atau tujuh hari, setelah itu mandilah (hadas). Dan, kamu bisa salat dan puasa selama dua puluh tiga hari atau dua puluh empat hari. Kerjakanlah salat Zuhur di akhir waktu dan salat Ashar di awal waktu dengan sekali mandi. Kerjakanlah salat Maghrib di akhir waktu dan salat Isya di awal dengan satu kali mandi. Dan, ini adalah dua perkara yang lebih aku cintai.” (HR Ibnu Majah)

    Dalam Syarh Syama’il An-Nabi li Abi Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi yang disyarah oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr juga terdapat perkara yang paling disukai Rasulullah SAW. Perkara ini berkaitan dengan amal kebaikan.

    Dari Abu Shalih, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah RA dan Ummu Salamah RA, ‘Amal apakah yang paling disukai Rasulullah SAW?’ Keduanya menjawab, ‘Amal yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit.’” (HR At-Tirmidzi dalam Jami’-nya)

    Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Rasulullah datang ke rumahnya saat ada seorang wanita di rumahnya. Beliau bertanya, “Siapa orang ini?” Ia menjawab, “Fulanah (seraya menceritakan salat orang tersebut).”

    Beliau bersabda, “Kamu harus mengerjakan sesuatu yang kamu anggap sanggup. Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kamu sendiri yang bosan.”

    Dan amal saleh yang paling beliau sukai adalah yang selalu dikerjakan oleh pelakunya secara kontinu atau berkesinambungan. Amal perbuatan yang paling disukai Rasulullah SAW tersebut juga adalah yang paling disukai Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda,

    أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

    Artinya: “Sesungguhnya amall kebajikan yang paling disukai oleh Allah adalah yang dilakukan secara kontinu meskipun sedikit.” (HR Muslim)

    Dalam riwayat lain, Aisyah RA pernah ditanya tentang amal perbuatan yang disukai Rasulullah SAW, ia pun menjawab,

    أَيُّ الْعَمَلِ كَانَ أَحَبَّ إِلَى النَّبِيد ؟ قَالَتْ : الدَّائم

    Artinya: “Amal kebajikan yang dilakukan secara kontinu.” (HR Bukhari)

    Aisyah RA juga mengatakan,

    كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ

    Artinya: “Rasulullah SAW apabila melakukan suatu perbuatan, beliau selalu tetap mengerjakannya secara kontinu.” (HR Muslim)

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa sebelum Salam untuk Hapus Dosa-Terhindar Fitnah Dajjal


    Jakarta

    Ada sejumlah doa yang bisa dibaca dalam salat tepatnya sebelum salam. Doa sebelum salam ini berisi permohonan ampun atas dosa hingga terhindar dari fitnah Dajjal.

    Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan dalam kitab Dzauq ash-Shalata, doa sebelum salam lebih baik dan lebih bermanfaat bagi orang yang berdoa daripada doa setelah salam. Ibnu Qayyim menyandarkan hal ini pada apa yang dilakukan Rasulullah SAW pada permulaan salat sampai penghujung salat.

    “Pada saat pembukaan salat Nabi memanjatkan doa dengan beberapa doa, begitu pula pada saat rukuk, setelah mengangkat kepala dari rukuk, pada saat sujud, dan pada saat duduk di antara dua sujud dan pada saat tasyahud akhir sebelum salam,” jelas Ibnu Qayyim sebagaimana diterjemahkan Atik Fikri Ilyas dan Yasir Maqashid.


    Lebih lanjut, imam besar ahlussunnah wal jama’ah ini menjelaskan, doa yang dipanjatkan sebelum salam sangat mungkin dikabulkan oleh Allah SWT. Sebab, seseorang masih berada dalam tempat munajat dan taqarrub di hadapan Tuhan-nya.

    Rasulullah SAW juga telah mencontohkan bacaan doa sebelum salam. Berikut selengkapnya.

    Doa sebelum Salam

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحَ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

    Latin: Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil-qabri wa a’uudzu bika min fitnatil-masiihid-dajjaal, wa a’uudzu bika min fitnatil-mahyaa wa fitnatil-mamaati. Allaahumma innii a’uudzu bika minal-ma’tsami wal-maghrami

    Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah Masih ad-Dajjal dan dari fitnah hidup dan fitnah mati! Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dan dosa dan utang.”

    Doa sebelum salam tersebut bersandar pada hadits yang diriwayatkan Aisyah RA dari Nabi SAW sebagaimana termuat dalam Mukhtashar Shahih Al-Bukhari yang disusun oleh Imam Zainuddin az-Zubaidi dan diterjemahkan Irwan Kurniawan dan M.S. Nashrulloh.

    Selain itu, ada juga doa sebelum salam yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, berikut bacaannya,

    اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كثيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

    Latin: Allaahumma innii zhalamtu nafsii zhulman katsiiran. Wa laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta faghfirlii maghfiratan min ‘indika, warhamnii innaka antal-ghafuurur-rahiim

    Artinya: “Ya Allah, aku sudah banyak menzalimi diriku sendiri. Tak ada yang dapat mengampuni dosaku selain Engkau. Limpahkanlah ampunan-Mu kepadaku dan sayangilah aku, karena Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Muttafaq ‘Alaih)

    Doa sebelum salam tersebut dibaca setelah tasyahud akhir, sebagaimana dijelaskan Ammi Nur Baits dalam Tafsir Shalat. Hal ini bersandar pada sabda Nabi SAW,

    “Doa di pertengahan malam terakhir dan di dubur salat wajib.” (HR at-Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albani)

    Ammi Nur Baits menjelaskan, maksud dubur salat pada hadits tersebut adalah penghujung salat bukan selesai salat. Sehingga, kata dia, hadits ini adalah dalil dianjurkan memperbanyak membaca doa sebelum salam ketika salat wajib.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa dan Dzikir usai Sholat Subuh: Arab, Latin, dan Artinya


    Jakarta

    Ada doa dan dzikir yang dapat dilafalkan setelah sholat Subuh. Amalan bernilai pahala ini bisa rutin dikerjakan saat matahari mulai terbit.

    Doa dan dzikir subuh bisa menjadi cara untuk mengungkapkan terima kasih atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Selain itu, doa dan dzikir setelah sholat Subuh juga bisa menjadi ikhtiar agar dikabulkannya doa.

    Mengutip buku Rahasia Keutamaan Shalat Subuh oleh Syeikh M. Nuruddin Marbu Al Makki dijelaskan bahwa pagi itu merupakan ‘Afdhaliyatul waktu’, waktu afdhaliyah yakni waktu yang utama. Mengapa demikian?


    Pertama, karena kemuliaan waktu.
    Kedua, karena merupakan permulaan.
    Ketiga, karena merupakan peringatan.

    Ketika seorang muslim sudah diperingatkan dengan ibadah dari pagi, yakni mulai dari bangun tidur, maka dengan izin Allah SWT, untuk langkah dan waktu berikutnya akan dimudahkan.

    Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 78,

    أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

    Artinya: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

    Dalam ayat tersebut sudah dijelaskan betapa penting dan wajibnya sholat bagi umat muslim. Sholat akan terasa sempurna jika kita melafadzkan doa dan zikir setelah melaksanakan sholat subuh.

    Doa dan Dzikir Setelah Sholat Subuh

    Mengutip buku Panduan Salat Doa & Zikir oleh Abdurrahaman Adiib, berikut merupakan doa dan dzikir setelah sholat Subuh yang dapat dibaca.

    Membaca istighfar

    أستغفر الله

    Bacaan latin: Astaghfirullah (3x)

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah”

    Membaca pujian

    اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَاذَاْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ

    Bacaan latin: Allahumma ‘antas-salaamu waminkas-salaamu tabaarakta ya dzal-jalaali wal-‘ikraami.

    Artinya: “Ya Allah, Engkaulah yang sejahtera dan dari-Mu datangnya kesejahteraan. Mahamulia Engkau, wahai Tuhan yang memiliki kemegahan dan kemuliaan.”

    Kemudian dilanjutkan dengan membaca,

    اَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر

    Arab-Latin: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir.

    Artinya: Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Membaca tasbih 33x

    سُبْحَانَ اللهِ ×٣٣

    Bacaan latin: Subhanallah (33x)

    Artinya: “Mahasuci Allah”

    Membaca tahmid 33x

    اَلْحَمْدُلِلهِ ×٣٣

    Bacaan latin: Alhamdulillah (33x)

    Artinya: “Segala puji bagi Allah”

    Membaca takbir 33x

    اَللهُ اَكْبَرْ ×٣٣

    Bacaan latin: Allahuakbar (33x)
    Artinya: “Allah Mahabesar”

    Membaca surat Al-ikhlas 3x

    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

    Bacaan latin: qul huwallahu ahad. Allahu samad. Lam yalid wa lam yulad. Wa lam yakul lahu kufuwan ahad. (3x)

    Artinya: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

    Membaca surat Al-Falaq (3x)

    قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِن شَرِّ مَا خَلَقَ، وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

    Bacaan latin: Qul a’uudzu birob-bil falaq, min syarri ma khalaq, wa min syarri ghasiqin idza waqab, wa min syarri n-naffaasaati fil ‘uqad, wa min syarri haasidin idzaa hasad.

    Artinya: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan penyihir-penyihir yang meniup pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”

    Membaca surat An-Naas (3x)

    قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَٰهِ النَّاسِ، مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

    Bacaan latin: Qul a’uudzu birab-bin naas, malikin naas, ilaahin naas, min syarril waswaasil khannaas, alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas, minal jinnati wan naas.

    Artinya: “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Ilah manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.”

    Berdoa kepada Allah SWT

    Berdoa dapat dilakukan usai sholat Subuh, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengabulkan doa. Dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’min (Al-Ghaafir) Ayat 60, Allah berfirman,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

    Bacaan latin: Wa qaala rabbukumud’ụunii astajib lakum, innallażiina yastakbirụuna ‘an ‘ibaadatii sayadkhulụuna jahannama daakhiriin.

    Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Berkendara Sesuai Sunnah Rasulullah yang Bisa Diamalkan


    Jakarta

    Di antara sunnah dalam berkendara adalah membaca doa. Rasulullah SAW juga telah mengajarkan beberapa doa berkendara yang bisa dipanjatkan umat Islam.

    Doa berkendara umumnya termuat dalam kumpulan doa safar. Para ulama menyandarkan anjuran membaca doa ketika berkendara dengan firman Allah SWT dalam surah Az Zukhruf ayat 12-14.

    وَالَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الْفُلْكِ وَالْاَنْعَامِ مَا تَرْكَبُوْنَۙ ١٢ لِتَسْتَوٗا عَلٰى ظُهُوْرِهٖ ثُمَّ تَذْكُرُوْا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ اِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُوْلُوْا سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَۙ ١٣ وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ ١٤


    Artinya: “(Dialah) yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan dan menjadikan kapal laut untukmu serta hewan ternak untuk kamu tunggangi agar kamu dapat duduk di atas punggungnya. Kemudian jika kamu sudah duduk (di atas punggung)-nya, kamu akan mengingat nikmat Tuhanmu dan mengucapkan, “Mahasuci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami.”

    Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam kitab adz-Dzikru wa ad-Du`a` fi Dhau`il Kitab wa as-Sunnah menjelaskan, ayat tersebut mengandung pengertian bahwa sarana transportasi berasal dari kelembutan Allah SWT, penundukan-Nya, pemuliaan-Nya, dan pemberian nikmat dari-Nya. Sehingga, sudah sepatutnya ketika menaikinya untuk berdzikir kepada Sang Pemberi Nikmat.

    Dalam Mukhtashar Riyaadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi terdapat hadits yang menyebut bahwa jika sudah berada di atas kendaraannya ketika hendak bepergian, Rasulullah SAW bertakbir tiga kali lalu membaca doa berkendara. Berikut bacaannya.

    Doa Berkendara

    سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنْ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ وَكَابَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ وَالْوَلَدِ

    Subhaanal ladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun. Allohumma innaa nas’aluka fii safarinaa haadzal birro wat taqwaa wa minal ‘amali maa tardhoo. Alloohumma hawwin ‘alainaa safaronaa haadzaa wathwi ‘annaa bu’dah. Allohumma antash shoohibu fis safari wal kholiifatu fil ahl. Alloohumma innii a’uudzu bika min wa’tsaa’is safari wa ka’aabatil manzhori wa suu’il munqolabi fil maali wal ahli wal walad

    Artinya: “Mahasuci Dzat yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak kmampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. Ya Allah, sungguh kami memohon kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai dalam safar ini. Ya Allah, aku mohon Engkau berkenan memudahkan safar ini dan mendekatkan jarak jauhnya. Ya Allah, Engkaulah pelindung dalam safar ini dan penjaga bagi keluarga yang kutinggalkan. Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kepayahan dan kesedihan dalam safar ini, dan kejadian yang tidak diharapkan, baik dalam harta, istri, maupun anak, saat aku kembali nanti.”

    Doa berkendara tersebut diriwayatkan Muslim dari Ibnu Umar RA. Masih disebutkan dalam riwayat yang sama, ketika Rasulullah SAW hendak pulang, beliau juga membaca doa tersebut dengan ditambah: aaayiibun, taa’ibuun, ‘aabiduun, lirobbinaa haamduun (Kami kembali, bertobat, beribadah, dan memuji kepada Rabb kami)

    Dalam Syarah Riyadhus Shalihin turut dijelaskan, ketika berkendara juga dianjurkan membaca basmalah. Dianjurkan pula memperbanyak memuji Allah SWT, mengagungkan-Nya, dan menyucikan-Nya.

    Adab-adab Berkendara

    Mengutip buku Adab dan Doa Sehari-hari untuk Muslim Sejati karya Thoriq Aziz Jayana, berikut adab berkendara yang bisa diperhatikan seorang muslim:

    • Mengucapkan niat bahwa berkendara ini adalah untuk kebaikan dan semata-mata untuk Allah SWT.
    • Bersyukur dengan kendaraan yang ada dan meyakini bahwa Allah SWT akan memberikan perlindungan terhadap kita.
    • Memperhatikan kelengkapan dan keamanan kendaraan.
    • Membaca basmalah dan berdoa ketika akan mengendarai kendaraan.
    • Mengucapkan takbir ketika menemui jalanan yang terjal.
    • Mematuhi peraturan lalu lintas dan menghormati pengendara lain.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Qunut Nazilah dan Tata Cara Pengerjaannya


    Jakarta

    Doa qunut nazilah dibaca ketika ada musibah atau bencana, hal ini dijelaskan oleh ulama Hanafi, Syafi’i dan Hanabilah. Namun, mazhab Hanafi menilai doa tersebut dapat dibaca pada salat-salat jahriyyah yaitu salat Subuh, Maghrib, dan Isya.

    Mengutip buku Bimbingan Praktikum Ibadah tulisan Prof Dr H Abudin Nata MA, secara harfiah qunut artinya ‘sedang’, sedangkan nazilah artinya ‘yang turun’. Secara umum, pengertian qunut nazilah ialah dibaca guna memperoleh perlindungan dari bencana.

    Prof Wahbah Az-Zuhaili dalam Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu menjelaskan bahwa doa qunut nazilah dibaca secara jahar atau mengeraskan suara. Disebut qunut nazilah yang artinya bencana atau musibah yang melanda kaum muslimin.


    Bencana itu bisa berupa ketakutan, paceklik, wabah penyakit, dan lain sebagainya. Hukum pembacaan doa qunut nazilah adalah sunnah sebagaimana hadits shahih yang berbunyi:

    “Sungguh Nabi SAW membaca doa qunut (nazilah) selama sebulan karena (tragedi) terbunuhnya para qurra’ (ahli Al-Qur’an) radhiyallahu ‘anhum,” (HR Bukhari dan Muslim)

    Bacaan Doa Qunut Nazilah

    Merujuk pada buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 2, redaksi qunut nazilah tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Diriwayatkan Umar RA, ketika melakukan doa qunut ia membaca:

    اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَات بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْ عَلَى عَدُوّكَ وَعَدُوِّهِمْ اللَّهُمْ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ. اللَّهُمْ خَالِفٌ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ

    Arab latin: Allahummaghfirlil mu’miniina wal mu’minati, wal muslimiina wal muslimaati, wal alifa bayna quluubihim, wa ashlih dzaat baynihim, wanshur alaa a’uduwka wa aduwwihim lahumul an kafarati ah lil kitaabi ladziina yukadzibuuna rasulaka, wa yuqaa tiluuna aw liyaa aka. allahumma khoolifun bayna kalimatihim, wa zalzil aqdaa mahum, wa anzil bihim ba’salkaldzii laa yurdun anilqowmil mujrimiina. bismillahirrahmanirrahiiim. allahumma innanasta’iinuka.

    Artinya: “Ya Allah ampunilah dosa orang mukmin, dan mukminat, muslimin, dan muslimat, satu- kaniah hati-hati mereka, damaikanlah di antara mereka. Tolonglah mereka untuk mengalahkan musuhmu, dan musuh mereka. Ya Allah timpakanlah laknat kepada orang kafir ahli kitab yang telah mendustakan para utusan-Mu, dan memerangi para wali-Mu. Ya Allah, gagapkanlah ucapan mereka, pecah belahkan kekuatan mereka, dan timpakan siksa-Mu yang tidak mungkin mampu dicegah mereka. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, dan Penyayang. Ya Allah sesungguhnya kami memohon pertolongan kepada-Mu.”

    Dalam buku Fiqh Wabah oleh LPBKI MUI Pusat, ada juga doa qunut nazilah versi lainnya yang bisa diamalkan.

    اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرِّمَا قَضَيْتَ فَا نَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا
    قَضَيْتَ وَأَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ اللَّهُمُ ادْفَع عَنَّا وَعَنِ المُسْلِمِينَ العَلاءَ وَالبَلاءَ وَالْوَباءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوفَ الْمُخْتَلِفَة وَالشَّدَائِدَ الْمِهَنَ وَالْفِتْنَ وَالسُّوءَ وَالزِّنَا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ
    وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Arab latin: Allaahummahdii fiiman hadaiyt wa ‘aafinaa fiiman ‘aafaiyt wa tawallani fiiman tawallaiyt wa baarikli fiimaa a’thoiyt Wa qini syarro maa qodloiyt. Fainnaka taqdlii walaa yuqdloo ‘alaiyk wa innahu laa yadzillu man waalayt wa laa ya’izzu man ‘aadaiyt. Tabaarokta robbanaa wa ta’aalaiyt. Fa lakal hamdu ‘alaa maa qodloiyt. Astaghfiruka wa natuubu ilaiyk. Allaahummadfa’ ‘annal gholaa’a wal balaa’a wal wabaa’ wal fahsyaa’a wal munkar. Was suyuufal mukhtalifata wasy syadaaida wal mihan. Maa zhoharo minhaa wa maa bathon. Mim balainaa hadzaa khoosshoh wa min buldaanil muslimiina ‘aammatan innaka ‘alaa kulli syaiin qadiir. Wa shallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin nabiyyil ummiyyi wa’alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.

    Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau pimpin.”

    “Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan. Karena sesungguhnya Engkau-lah yang menentukan dan tidak ada yang menghukum (menentukan) atas Engkau. Sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan.”

    “Dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Berkahlah Engkau dan Maha Luhurlah Engkau. Segala puji bagi-Mu atas yang telah Engkau pastikan. Aku mohon ampun dan tobat kepada Engkau. Semoga Allah memberi rahmat dan salam atas junjungan kami Nabi Muhammad Saw beserta seluruh keluarganya dan sahabatnya.”

    Tata Cara Mengerjakan Qunut Nazilah

    Mengacu pada sumber yang sama, qunut nazilah dapat dilakukan setiap salat fardhu pada rakaat terakhir sehabis rukuk. Doa qunut dibaca pelan (sirr) jika pada waktu Zuhur dan Ashar, namun apabila ketika Subuh, Magrib dan Isya dalam salat berjamaah maka harus dibaca dengan keras.

    Bagi imam salat yang membaca doa qunut nazilah dapat mengubah kata ganti sendiri menjadi kata ganti sendiri menjadi kata ganti untuk orang banyak. Sementara makmum cukup mengaminkannya.

    (aeb/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Pintu Surga Dibuka pada Hari Senin, Amalan Juga Akan Disetor


    Jakarta

    Surga memiliki sejumlah pintu yang hanya terbuka pada hari-hari tertentu. Menurut sebuah hadits qudsi, pintu surga akan dibuka setiap hari Senin dan Kamis. Amalan mingguan manusia juga akan dihadapkan kepada Allah SWT pada hari tersebut.

    Keterangan tersebut termuat dalam al-Aẖādīts Al-Qudsiyyah karya Syaikh Fathi Ghanim sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah RA secara marfu’, disebutkan,

    “Amalan-amalan akan diperlihatkan pada setiap Kamis atau Senin. Kemudian Allah SWT akan memberi ampunan pada hari itu kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tunggulah kedua orang ini hingga keduanya berdamai.’”


    Dalam Musnad Ahmad dan Shahih Muslim juga terdapat riwayat serupa, dengan mengulang redaksi ‘tunda amal dua orang ini sampai keduanya berdamai’ sebanyak tiga kali. Nabi SAW menceritakan,

    تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظُرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظُرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

    Artinya: “Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis. Lalu diampuni seluruh hamba yang tidak berbuat syirik (menyekutukan) Allah dengan sesuatu apa pun. Kecuali orang yang sedang ada permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan: Tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai… tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai… tunda amal dua orang ini, sampai keduanya berdamai.”

    Dalam riwayat Muslim juga disebutkan, “Akan dipaparkan semua amal perbuatan pada setiap hari Kamis dan Senin.”

    Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Ash-Shaalihin, hadits tersebut berisi pemaparan bahwa semua amal perbuatan akan dihadapkan kepada Allah SWT pada hari Senin dan Kamis sehingga dosa setiap muslim diampuni, kecuali dua orang yang saling berselisih. Sehingga dikatakan, ‘Tunggu hingga keduanya berbaikan.’

    Hadits tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa setiap orang harus segera menghilangkan permusuhan, pertikaian, dan saling benci terhadap saudaranya. Apabila seseorang berat menghilangkan rasa benci itu, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menyarankan agar bersabar.

    Rasulullah Suka Puasa pada Hari Senin dan Kamis

    Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Rasulullah SAW suka berpuasa pada saat amalannya dihadapkan kepada Allah SWT, yakni pada hari Senin dan Kamis. Beliau bersabda,

    تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

    Artinya: “Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR Tirmidzi. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib)

    Aisyah RA mengatakan, “Rasulullah SAW selalu menunggu-nunggu saat berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR Ahmad)

    Dalam riwayat lain, Aisyah RA mengatakan, “Rasulullah SAW sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Imam Ahmad)

    Pintu Surga Khusus Ahli Puasa

    Surga disebut memiliki banyak pintu yang akan dimasuki berdasarkan amalan yang dilakukan. Orang yang suka berpuasa akan memasuki pintu surga khusus. Imam besar ahlussunnah wal jamaah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, menukil suatu hadits dalam kitab Hadil Arwah ila Biladil Afrah yang menyebut bahwa pintu tersebut bernama Rayyan.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Di surga terdapat delapan pintu. Salah satu pintunya bernama Rayyan. Tak ada seorang pun boleh memasukinya kecuali orang-orang yang berpuasa.” (HR Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An-Nasa’i, Ahmad, dan Ibnu Abi Dunya)

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com