Tag: hikmah

  • Bacaan Doa Dilancarkan Lisan beserta Waktu Pengamalannya


    Jakarta

    Doa dilancarkan lisan dapat dipanjatkan ketika hendak berbicara di depan umum. Tak jarang, rasa gugup dan gelisah datang ketika ingin tampil.

    Banyak cara untuk mengatasi rasa grogi tersebut, salah satunya dengan membaca doa. Dengan membaca doa tersebut, insyaAllah seorang muslim dapat lebih rileks untuk tampil di depan umum.

    Lantas, seperti apa bunyi doanya?


    Doa Dilancarkan Lisan: Arab, Latin dan Arti

    Doa dilancarkan lisan mengacu pada doa Nabi Musa AS saat berhadapan dengan Firaun. Menukil buku Retorika Dakwah dalam Perspektif Al-Qur’an karya Suisyanto, kala itu Musa AS diperintahkan untuk mendakwahi Firaun.

    Tugas itu tergolong berat bagi Nabi Musa AS, sebab beliau sulit berbicara dengan fasih. Hal ini dikarenakan Musa AS memiliki kekurangan pada lisannya, sehingga banyak orang sulit memahami yang ia katakan.

    Walau begitu, Nabi Musa AS tidak putus asa. Ia memohon kepada Allah SWT agar saudaranya yang tak lain Nabi Harun AS menggantikan dirinya untuk mendakwahi Firaun, karena beliau sangat pandai dalam berbicara.

    Atas izin Allah, Nabi Musa AS diberi kemudahan dalam melaksanakan dakwahnya kepada Firaun. Ia dapat berbicara dengan benar dan baik setelah membaca doa dilancarkan lisan.

    Doa tersebut tercantum dalam surat Thaha ayat 25-28 yang berbunyi,

    رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

    Arab latin: Rabbisyrahlii shadrii, Wayassirlii Amrii, Wahlul’uqdatammillisaanii, Yafqohuu Qoulii

    Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS Thaha: 25-28)

    Keutamaan Membaca Doa Dilancarkan Lisan

    Merujuk pada sumber yang sama, doa Nabi Musa ini biasa dipanjatkan sebelum memulai ceramah atau pidato. Waktu pengamalan itu dimaksudkan agar mereka dapat mengucapkan kata-kata serta dihindari dari ucapan yang tidak bermanfaat.

    Selain itu, doa dilancarkan lisan juga dapat meningkatkan rasa percaya diri seorang pendakwah. Sebab, dengan memanjatkan doa tersebut sang pendakwah merasa bahwa Allah SWT senantiasa mendampinginya ketika berada di hadapan umum.

    Demikian bahasan mengenai doa dilancarkan lisan dan keutamaan membacanya. Jangan lupa dipanjatkan ya!

    (aeb/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir Ya Hayyu Ya Qayyum 40 Kali Setiap Pagi dan Petang


    Jakarta

    Ya Hayyu Ya Qayyum merupakan zikir atau ucapan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika beliau dihadapkan dengan sebuah cobaan atau tatkala sedih. Bacaan ini dapat diucapkan sebanyak 40 kali.

    Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Al-Jawabul Kafi Liman Saala ‘Anid Dawaaisy-Syafi sebagaimana dinukil Ustadz Syauqi Abdillah Zein dalam buku Jurus-Jurus Langit Pengguyur Rezeki, turut menjelaskan mengenai makna Ya Hayyu Ya Qayyum.

    Makna Ya Hayyu Ya Qayyum

    Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengatakan bahwa, Ya Hayyu Ya Qayyum lebih dikenal sebagai Ismullahil A’dzham atau Ismullahil A’dzham. Kalimat ini merupakan nama Allah SWT yang paling agung di antara yang lainnya yang tercantum dalam Al-Qur’an.


    Kalimat ini terdiri dari dua nama Allah SWT, yakni Al-Hayy dan Al-Qayy. Al-Hayy memiliki makna Allah Yang Maha Hidup, Dia-lah Dzat yang senantiasa hidup dan tidak mungkin mati atau tidur bahkan sekejap pun. Sedangkan Al-Qayyum artinya Allah yang Maha Mandiri. Maksudnya Allah Maha Berdiri Sendiri dan tidak memerlukan makhluk.

    Istilah Ismaullahil A’dzham terdapat dalam tiga surah Al-Qur’an, sebagaimana dalam bunyi hadits berikut,

    Ismullah al-A’dzham yang jika digunakan untuk berdoa, maka Allah SWT. Akan mengabulkan doanya, (yakni) yang terdapat dalam tiga surah Al-Qur’an, yaitu surah al-Baqarah, surah Ali ‘Imran, dan surah Thaahaa.” (HR Ibnu Majah, Hakim, dan Thabrani)

    Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, ayat-ayat Al-Qur’an tersebut adalah surah al-Baqarah ayat 255, surah Ali ‘Imran ayat 2, serta surah Thaha ayat 111.

    Tuntunan Membaca Ya Hayyu Ya Qayyum

    Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Al-Jawabul Kafi Liman Saala’Anid Dawaaisy-syafi’i, dari Abu Hurairah, ia berkata,

    “Apabila Rasulullah SAW menghadapi suatu masalah, beliau mengangkat kepalanya ke langit, jika bersungguh-sungguh dalam berdoa, beliau mengucapkan Ya Hayyu, Ya Qayyum.” (Jami’ Tirmidzi)

    Masih dalam sumber yang sama, disebutkan bahwa Rasulullah SAW juga mengucapkan Ya Hayyu Ya Qayyum apabila beliau ditimpa hal yang menyedihkan.

    Seperti dalam hadits dari Anas bin Malik, ia berkata, “Jika Rasulullah SAW tertimpa suatu perkara yang menyedihkan, beliau mengucapkan, Ya Hayyu, Ya Qayyum birahmatika astaghitsu (Wahai Yang Mahahidup dan Maha Penegak dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan).” (HR at-Tirmidzi dalam Jami’)

    Dalam kitab Al-I’tisham karya Imam Asy-Syathibi terdapat riwayat yang menyebut anjuran membaca dzikir Ya Hayyu Ya Qayyum 40 kali. Dikisahkan dari Al-Kattani, dia mengatakan bermimpi melihat Nabi Muhammad SAW dalam tidurnya. Dia pun berkata kepada beliau SAW, “Berdoalah kepada Allah agar Dia tidak mematikan hatiku.” Beliau menjawab, “Bacalah setiap hari kalimat Ya Hayyu Ya Qayyum la ilaha illa anta sebanyak 40 kali.”

    Imam Asy-Syathibi menjelaskan, faedah mimpi tersebut adalah mengingatkan pada sebuah kebaikan dan mimpi semacam itu termasuk jenis kabar gembira. Hanya saja, tinggal dibicarakan apakah penetapan jumlah 40 kali tersebut, jika itu tidak menjadi keharusan maka mimpi itu benar adanya.

    Rasulullah SAW sendiri menganjurkan untuk membaca Ya Hayyu Ya Qayyum sebagai salah satu bacaan dzikir pagi dan petang. Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW berpesan kepada Fatimah RA, “Hendaklah kamu mendengar apa yang aku wasiatkan kepada kamu, yaitu ucapkanlah apabila masuk waktu pagi dan apabila masuk waktu petang,

    يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ.

    Latin: yaa hayyu ya qayyum birahmatika astaghiitsu, ashlih lii syaknii kullahu, wa laa takilnii ila nafsii tarafata ‘aini

    Artinya: Wahai yang Maha Hidup! Wahai yang Maha Kekal selamanya, dengan Rahmat Engkau aku memohon pertolongan daripada sebarang kesukaran. Perbaikilah bagiku setiap urusanku dan janganlah Engkau biarkan aku mengurusi diriku sendiri walau sekelip mata.” (Hadits Hasan oleh Al-Hakim)

    Atau hadits berikut ini,

    يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

    Latin: yaa hayyu ya qayyum birahmatika astaghiitsu

    Artinya: “Wahai yang Maha Hidup! Wahai yang Kekal selamanya, dengan Rahmat Engkau aku memohon pertolongan daripada sebarang kesukaran.” (Hadits hasan oleh Tirmidzi)

    Keutamaan Membaca Ya Hayyu Ya Qayyum

    Diambil dari sumber sebelumnya, berikut adalah rangkuman keutamaan setelah membaca zikir Ya Hayyu Ya Qayyum:

    • Allah SWT akan memberikan anugerah dan karunia berupa rezeki yang berlimpah.
    • Menjadi orang yang mandiri dan tidak mengandalkan orang lain.
    • Mempunyai semangat bekerja keras.
    • Dimudahkan dalam mencari rezeki.
    • Menjadi orang yang sukses karena bersungguh-sungguh dan tidak bermalas-malasan dalam bekerja.
    • Mendapatkan kebijaksanaan.
    • Dijauhkan dari kesedihan.
    • Dilindungi dari berbagai bencana.
    • Mendapat solusi dari masalah bisnis.
    • Dipermudah urusannya dalam menghadapi masalah.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa untuk Orang yang Diundang Makan, Ungkapan Syukur dan Terima Kasih


    Yogyakarta

    Makan bukan hanya tentang memuaskan rasa lapar, tetapi juga merupakan momen yang memiliki berbagai makna dalam kehidupan. Makanan juga merupakan bagian dari rezeki yang patut disyukuri.

    Dalam berbagai tradisi dan kepercayaan, diucapkanlah doa sebelum atau setelah makan sebagai ekspresi rasa syukur, penghormatan, dan makna yang lebih dalam.

    Di balik kebiasaan sederhana ini, tersembunyi makna-makna mendalam yang mengajarkan kita tentang penghargaan terhadap hidangan dan hubungan antarmanusia.


    Doa Orang yang Diundang Makan

    Mendapat jamuan makan ketika bertamu ke rumah sesama muslim merupakan sebuah rezeki. Rasulullah SAW selalu mencontohkan untuk memberikan doa kepada orang yang menyuguhkan makanan.

    Dikutip dari buku Al-Adzkar: Doa dan Dzikir dalam Al-Qur’an dan Sunnah karya Imam Nawawi bahwa dalam riwayat Shahih Muslim bahwa Rasulullah SAW berkunjung ke rumah ayah Abdullah bin Busr, kemudian ayah Abdullah memberikan jamuan kepada Rasulullah SAW.

    Setelah Rasulullah memakan hidangan tersebut, ayah Abdullah berkata, “Mohon doakanlah kami.” Kemudian Rasulullah SAW berdoa,

    اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ.

    Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah kepada mereka keberkahan rezeki yang Engkau berikan kepada mereka. Ampunilah mereka dan rahmatilah mereka.” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

    Masih mengutip dari sumber buku yang sama, bahwa ketika Rasululah SAW berkunjung ke rumah Sa’ad Abu Daud, beliau diberikan roti dan kismis. Setelah memakannya, Rasulullah SAW bersabda,

    “Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di rumah kamu, orang-orang yang berbuat kebaikan telah memakan makanan kamu dan para malaikat telah mendoakan kamu.” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i)

    Mengutip buku Kamus Praktis Muslim dari A Sampai Z karya Abdullah bin Ahad Al-‘Allaf Al-Ghamidi bahwa doa tamu yang diundang makan untuk tuan rumah yaitu,

    اللهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِي

    Artinya: “Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberiku makan dan berilah minum orang yang telah memberiku minum.” (HR Muslim)

    Makna Doa Bagi Orang yang Memberi Makanan

    Dari kebiasaan sederhana ini memberikan makna mendalam yang mengingatkan muslim mengenai aspek spiritual dalam tindakan sehari-hari, seperti:

    – Mengingat akan pemberian dan rezeki

    Di balik doa orang yang diundang makan terdapat ungkapan rasa syukur yang mendalam. Ketika seseorang mengucapkan doa sebelum makan, ia mengakui bahwa rezeki dan makanan yang disajikan merupakan pemberian dari Allah SWT

    – Ungkapan penghormatan kepada tuan rumah

    Doa yang diucapkan oleh orang yang diundang makan merupakan bentuk penghormatan kepada tuan rumah.

    – Terjalinnya hubungan sosial

    Makan bersama merupakan salah satu momen yang dapat digunakan untuk menjalin kedekatan dan menjadi bagian dari silaturahmi dengan sesama.

    – Terjalinnya hubungan dengan Allah SWT

    Dengan doa orang yang diundang makan, seorang muslim akan menghubungkan diri dengan Allah SWT ketika berdoa meminta berkah-Nya.

    Doa orang yang diundang makan memiliki kedalaman makna yang melampaui sekadar kata-kata. Doa ini mengajarkan tentang syukur, penghormatan, hubungan sosial, dan hubungan dengan Allah SWT.

    Dalam momen-momen sederhana seperti makan bersama, doa menjadi pengingat bahwa setiap tindakan memiliki dimensi spiritual yang dapat menghubungkan kita dengan Yang Maha Kuasa dan dengan sesama manusia.

    Dengan mengucapkan doa, kita menghadirkan makna yang lebih dalam dalam momen yang tampaknya biasa-biasa saja. Jika diundang makan atau disuguhkan makanan, jangan lupa berdoa ya Detikers!

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Lakukan Hal Ini saat Mimpi Buruk, sesuai Ajaran Rasulullah



    Yogyakarta

    Mimpi adalah jendela menuju alam bawah sadar kita, tempat di mana pikiran dan perasaan terkadang melahirkan gambaran yang tak terduga.

    Dalam kenyataannya, mimpi bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, membawa inspirasi, atau bahkan memberikan peringatan. Setiap orang bisa saja mengalami mimpi baik ataupun buruk.

    Dikutip dari buku Tafsir Mimpi Menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah karya Muhammad Ibnu Sirin, bahwa terdapat dua macam mimpi, yaitu mimpi yang berasal dari Allah dan mimpi yang berasal dari setan.


    Rasulullah SAW bersabda,

    الرُّؤْيَا مِنَ اللَّهِ وَاخْلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ

    Artinya: “Ar-ru’ya ‘mimpi kebaikan’ berasal dari Allah sedang al hulmu ‘mimpi buruk’ berasal dari setan.” (HR Muslim)

    Namun, terkadang mimpi buruk datang menghampiri, memicu rasa cemas dan kegelisahan yang tak diinginkan.

    Dalam Islam, ada petunjuk dan anjuran dari Rasulullah SAW tentang bagaimana menghadapi mimpi buruk dan meredakan dampaknya pada kehidupan sehari-hari.

    Hadits Tentang Mimpi Buruk

    Mengutip Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar oleh Imam an-Nawawi dijelaskan bahwa terdapat beberapa hadits yang menceritakan mengenai mimpi buruk.

    – Kitab Shahih Bukhari Muslim

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Mimpi yang baik, datangnya dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk datangnya dari syaitan. Siapa saja yang bermimpi perkara yang tidak disukainya maka meludah kecil ke arah kirinya sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan dari syaitan, maka mereka tidak bisa memberikan mudarat.”

    – Kitab Shahih Muslim

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika seseorang dari kalian bermimpi dengan mimpi yang tidak disukai maka hendaknya meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan sebanyak tiga kali, kemudian berpindah posisi.”

    – HR Imam Tirmidzi

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika seseorang dari kalian bermimpi dengan perkara yang tidak disukai, maka jangan diceritakannya kepada siapa pun, dan hendaknya dia bangun kemudian shalat.”

    Anjuran Ketika Mimpi Buruk

    Dikutip dari buku Untukmu Yang Sedang Sakit: Tata Cara Bersuci, Shalat, Doa & Dzikir Saat Sakit karya Ammi Nur Baits, S.T., B.A. terdapat beberapa hal yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ketika seseorang mendapati mimpi buruk, yaitu:

    1. Meludah ke kiri sebanyak tiga kali
    2. Memohon perlindungan kepada Allah SWT dari setan sebanyak tiga kali, dengan membaca ta’awudz
    أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

    3. Memohon perlindungan kepada Allah SWT dari keburukan mimpi tersebut.
    4. Bangun dan melaksanakan sholat.
    5. Mengubah posisi tidurnya
    6. Tidak boleh menafsirkan mimpi tersebut

    Dikutip dari Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi oleh Imam an-Nawawi bahwa jika mendapati mimpi buruk, hendaknya meludah ke kiri sebanyak tiga kali dan membaca doa,

    اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ وَسَيِّئَاتِ الأَحْلامِ

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syaitan dan keburukan mimpi.” (HR Ibnu Sunni)

    Insya Allah dengan melakukan beberapa anjuran tersebut ketika mengalami mimpi buruk, maka segala keburukan dari mimpi tersebut tidak akan menghampiri kita.

    Karena sesungguhnya mimpi yang buruk berasal dari setan.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Melihat Langit Cerah dan Bulan Purnama: Arab, Latin, Arti



    Yogyakarta

    Alam semesta ini begitu indah dan penuh misteri, memberikan kita momen-momen berharga yang sering kali terlewatkan begitu saja. Salah satu momen indah itu adalah saat langit cerah dan bulan purnama bersinar dengan gemilangnya di langit malam.

    Tidak hanya sebagai pemandangan alam yang menakjubkan, momen ini juga bisa menjadi panggilan untuk merenung dan berdoa.

    Melihat keindahan langit dapat membuat rasa kagum dan bersyukur kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 190-191,


    اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ . الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.”

    Allah berfirman dalam surat Yunus ayat 5,

    هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ ٥

    Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dialah pula yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu, kecuali dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada kaum yang mengetahui.”

    Dua ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT mengajak umatnya untuk merenungkan penciptaan langit dan bumi sebagai bukti kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Allah SWT juga mengingatkan umatnya untuk selalu berdzikir dan memohon perlindungan dari siksa neraka.

    Doa Melihat Langit Cerah

    Mengutip Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi karya Imam an-Nawawi, Rasulullah SAW mengajarkan umat muslim untuk membaca doa ketika melihat langit cerah. Doa ini merupakan kutipan dari bagian ayat di atas.

    رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Bacaan latin: Rabbanaa maa khalaqta haazaa baatilaa, sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka jauhkanlah kami dari siksaan api neraka.”

    Doa Melihat Bulan Purnama

    Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW membaca doa berikut ketika melihat bulan purnama,

    اللهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيَمْنِ وَالإِيْمَانِ وَالسَّلَامِ وَالإِسْلامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ الله

    Bacaan latin: “Allaahummaa ahlilhu ‘alainaa bilyamni wal imaani was salaami wal islaami rabbii wa rabbukallahu.

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah setiap permulaan bulan bagi kami dengan kebaikan, keimanan, perdamaian, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”

    Marilah sebagai umat muslim membiasakan diri untuk membaca doa ketika melihat langit cerah ataupun bulan purnama, sebagai salah satu cara untuk bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Rasulullah tentang 7 Lapis Bumi Dibuktikan Melalui Sains



    Jakarta

    Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Bumi terdiri dari tujuh lapisan. Ternyata hadits ini dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan. Apa sebenarnya makna hadits ini?

    Bumi merupakan salah satu planet dari bagian dari tata surya yang berada dalam bagian dari galaksi Bima Sakti. Bumi juga merupakan planet terestrial, yaitu planet yang memiliki jarak terdekat dengan matahari, seperti planet Merkurius, Venus, dan Mars.

    Jika dilihat dari struktur lapisannya, Bumi termasuk planet karang yang terdiri dari bebatuan. Bumi memiliki struktur berlapis-lapis sampai pada inti bumi (core). Struktur lapisan bumi ini, terdiri atas berbagai bentuk yang secara umum berupa lautan dan daratan.


    Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang seperti sekarang ini, Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits tentang lapisan Bumi.

    Said bin Zaid bin Amru bin Nufail Ra. menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barang siapa mengambil sejengkal tanah dengan zalim, maka Allah akan mengalungkannya pada hari kiamat setebal tujuh lapis bumi.” (HR. Muslim).

    Dalam hadits lain yang senada, Abu Salamah bin Abdurrahman Ra. mengisahkan bahwa ia pernah terlibat sengketa tanah dengan seseorang. Lalu, ia menemui Aisyah Ra., dan menceritakan permasalahan yang terjadi.

    Aisyah Ra. pun berkata, “Wahai Abu Salamah, jauhilah permasalahan tanah, karena Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Barang siapa berbuat kezaliman (menyerobot tanah orang lain) meski hanya sebatas satu jengkal, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi.” (HR. Bukhari)

    Penegasan terkait tujuh lapisan Bumi juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surat At-Talaq ayat 12

    ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ وَمِنَ ٱلْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ ٱلْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًۢا

    Artinya: Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

    Tafsir Hadits tentang 7 Lapisan Bumi

    Mengutip buku Hadits-Hadits Sains oleh Abdul Syukur al-Azizi dijelaskan bahwa ajaran Islam melarang keras umatnya berbuat zalim (aniaya) terhadap dirinya maupun orang lain. Seseorang yang meninggalkan perintah Allah dan rasul-Nya, serta melanggar larangan-larangan agama adalah orang yang berbuat aniaya.

    Allah SWT tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-Nya, namun hamba itu sendiri yang berbuat zalim terhadap dirinya. Sehingga, kezaliman yang mereka perbuat itu akan menyebabkan kehidupan yang tidak harmonis.

    Salah satu bentuk kezaliman seseorang kepada orang lain ialah mencuri atau menyerobot tanah yang menjadi hak orang lain.

    Hadits tersebut secara umum melarang segala bentuk kezaliman, dan lebih spesifiknya ialah tindakan menyerobot tanah milik orang lain. Dosa besar akan menjadi ganjaran bagi orang yang zalim.

    Tujuh Lapis Bumi dalam Pandangan Sains

    Beberapa penelitian terbaru dari para ahli geologi mengungkapkan bahwa Bumi memiliki tujuh lapisan sebagaimana langit. Fakta ini telah diungkap Rasulullah SAW ratusan bahkan ribuan tahun sebelum adanya teknologi canggih.

    Para ilmuwan menemukan fakta bahwa bumi berbentuk bulat telur, kemudian mereka menduga bahwa inti bola bumi mempunyai nucleus dan cangkangnya adalah kerak bumi yang sangat tipis jika dibandingkan dengan ukuran bumi.

    Di antara dua lapisan ini, terdapat lapisan ketiga yang biasa disebut dengan “mantel”. Akan tetapi, teori bahwa bumi terdiri atas tiga lapisan (inti bumi, mantel bumi, dan kerak bumi), tidak bertahan lama karena munculnya temuan-temuan terbaru dalam sistem geologi yang memberi bukti lain.

    Pengukuran dan percobaan terbaru yang dilakukan oleh para ahli geologi tersebut menunjukkan bahwa lapisan berisi nucleus dari bumi itu berada di bawah tekanan yang sangat tinggi, hingga mencapai 3.000.000 kali tekanan terhadap permukaan bumi atau tiga juta kali lebih dari permukaan bumi.

    Tekanan tersebut memunculkan satuan (zat) yang berubah menjadi penopang, yang berarti bahwa jantung bumi sangatlah keras. Sementara itu, di sekelilingnya terdapat perairan dengan suhu yang sangat tinggi. Jadi, perut bumi terdiri atas dua tingkatan, bukan satu tingkatan seperti yang diyakini sebelumnya. Penelitian ini pernah dilakukan oleh U. S. Geological Survey.

    Dari beberapa fakta yang ditemukan tersebut, para ilmuwan kemudian mengklasifikasikan bumi menjadi tujuh lapisan. Dari tujuh lapis bumi tersebut, terdapat kulit yang tipis, kemudian dikelilingi oleh empat lapisan yang bertingkat seperti jaring. Lalu, terbentuklah semuanya menjadi tujuh lapis bumi. Tujuh lapisan ini, memiliki perbedaan yang sangat jauh antara masing-masing tingkatan, baik dari segi susunan, ketebalan, suhu yang terdapat di sana, maupun satuan (zat) yang ada.

    Wallahu a’lam.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Berpikir Sejenak Lebih Baik dari Ibadah 60 Tahun, Ini Haditsnya



    Jakarta

    Ada sebuah hadits yang menyebut bahwa berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah 60 tahun. Berpikir dalam hal ini mengarah ke tafakur.

    Hadits tersebut berbunyi,

    فِكْرَةُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً


    Artinya: “Berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun.” Redaksi lain berbunyi, “Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun.”

    Menurut Syaikh Al-Hifni sebagaimana dijelaskan Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, maksud tafakur dalam hadits tersebut adalah tafakur tentang semua ciptaan Allah SWT, sakaratul maut, tentang siksa kubur, dan tentang kesulitan-kesulitan yang terjadi pada hari kiamat, itu lebih baik daripada ibadah yang banyak.

    Tafakur terdiri dari lima macam, menurut jumhur. Di antaranya tafakur tentang ayat-ayat Allah SWT yang buahnya adalah tauhid dan yakin kepada Allah SWT; tafakur tentang nikmat-nikmat Allah SWT yang buahnya adalah rasa cinta dan syukur kepada Allah SWT; tafakur tentang janji-janji Allah SWT yang buahnya adalah cinta kepada kebahagiaan akhirat.

    Selanjutnya tafakur tentang ancaman Allah SWT yang buahnya adalah kewaspadaan dalam menjauhi maksiat dan mengagungkan Allah SWT. Terakhir, tafakur tentang sejauh mana ketaatan kepada Allah SWT dan kebaikan yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Tafakur yang kelima ini buahnya adalah rasa takut kepada Allah SWT.

    Ali RA juga pernah mengatakan bahwa tiada ibadah yang nilainya sebanding dengan tafakur. Sebagian ali makrifat menyebut tafakur sebagai pelita hati. Jika tafakur itu hilang, tidak ada pelita lagi di hari seorang hamba.

    Dalam Mukhtashar Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali diterangkan, keutamaan tafakur disebutkan Allah SWT dalam bentuk pujian, “… dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS Ali Imran: 191)

    Imam al-Ghazali juga menyebut suatu riwayat tentang anjuran untuk tafakur. Diceritakan, suatu hari Nabi SAW keluar menuju suatu kaum yang sedang bertafakur. Maka, Nabi SAW bertanya, “Apa yang sedang kamu kerjakan sehingga kamu tidak berbicara?”

    Mereka menjawab, “Kami sedang memikirkan ciptaan Allah SWT.” Selanjutnya Nabi SAW bersabda, “Kalau begitu, maka lakukanlah. Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan kamu memikirkan tentang-Nya. Sesungguhnya di barat ini ada bumi yang putih cahayanya perjalanan matahari empat puluh hari. Di dalamnya terdapat makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Mereka tidak pernah mendurhakai Allah sekejap mata pun.”

    Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu di mana setan terhadap mereka?” Beliau bersabda, “Mereka tidak tahu setan diciptakan atau tidak.”

    Mereka berkata, “Bagaimana dengan anak Adam?” Beliau bersabda, “Mereka tidak tahu Adam diciptakan atau tidak.”

    Namun demikian, hadits yang menyebut berpikir sesaat lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun adalah dhaif. Hal ini diterangkan dalam buku 150 Hadits Dha’if yang Sering Dijadikan Dalil karya Abdul Bakir.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Doa Qunut Lengkap dan Penjelasannya, Kapan Dibaca?


    Jakarta

    Doa qunut adalah salah satu amalan sunnah dalam salat doa dalam salat saat dengan posisi berdiri. Doa qunut terbagi dalam tiga jenis yakni, qunut ketika bencana, qunut Witir, dan qunut Subuh.

    Imam Nawawi dalam Kitab al-Adzkar menjelaskan bahwa qunut dalam salat Subuh hukumnya adalah sunnah muakkad. Sementara itu, ada beberapa pendapat mengenai pelaksanaan qunut di luar sholat Subuh.

    Dalam pandangan Imam Syafi’i, pendapat yang paling benar dan masyhur adalah jika orang muslim tertimpa musibah, maka dapat mengerjakan qunut ketika bencana atau qunut nazilah dalam salat fardhu selain salat Subuh. Namun, apabila tidak terjadi musibah, maka qunut tidak dilakukan.


    Kapan Doa Qunut Dibaca?

    Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam bukunya yang berjudul Koreksi Doa dan Zikir antara yang Sunnah dan Bid’ah, mengatakan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu dibacanya doa qunut.

    Menurut pendapat shahih, doa qunut saat bencana dilakukan setelah bangkit dari rukuk pada rakaat terakhir dari setiap salat fardhu lima waktu. Qunut dapat terus diamalkan sampai Allah SWT mengangkat bencana pada kaum muslimin.

    Untuk doa qunut Witir, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab terkait waktu dibacanya. Ulama Mazhab Syafi’iyyah melaksanakan qunut Witir pada akhir salat Witir setelah rukuk di pertengahan bulan Ramadan.

    Sedangkan, ulama kalangan Hanafiyah melakukan qunut Witir di rakaat ketika sebelum rukuk setiap salat sunnah. Sementara itu, menurut Mazhab Hanabilah, qunut Witir dilakukan setelah Witir dan pengikut Imam Malik menetapkan bahwa qunut Witir tidak disunnahkan.

    Sementara, doa qunut Subuh dapat dibaca saat memasuki rakat kedua. Tepatnya setelah membaca bacaan iktidal sebelum beranjak untuk posisi sujud pertama di rakaat kedua tersebut.

    Bacaan 3 Doa Qunut Lengkap dan Artinya

    1. Doa Qunut Nazilah Lengkap

    Qunut nazilah dilakukan ketika terjadi musibah, seperti bencana alam, wabah penyakit, dan lain sebagainya. Berikut bacaannya,

    اَللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ

    اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

    وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Arab latin: Allahummahdiini fiiman hadait. Wa’aafini fiiman ‘afait. Watawallanii fiiman tawallait. Wabaarik lii fiima a’thait. Waqinii syarrama qadlait. Fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik. Wainnahu laa yadzillu man waalait. Tabaarakta rabbana wata’aalait. Wastaghfiruka wa atuubu ilaik.

    Allahummadfa’ ‘annal ghalaa’a wal balaa’a wabaa’a wal fahsyaa’a wal munkara was suyuufal mukhtalifata wasy syadaa’ida wal mihana maadhahara minhaa wa maabaathana min balaadinaa haadhaaa khaassatan wa min buldaanil muslimiina aammatan. Innaka ‘alaa kulli syai’in qadiir.

    Wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi wa shallam.

    Artinya: Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk. Dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi. Aku mohon ampun kepada Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau.

    Ya Allah Tuhan kami. Hindarkanlah kami dari malapetaka, bala dan bencana, kekejian dan kemunkaran, sengketa yang beraneka, kekejaman dan peperangan, yang tampak dan tersembunyi dalam negara kami khususnya, dan dalam negara kaum muslimin umumnya. Sesungguhnya Engkau Ya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

    Semoga Allah mencurahkan rahmat dan kesejahteraan atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

    2. Doa Qunut Witir Lengkap

    Doa qunut lengkap ini ambil dari buku Terjemahan Lengkap Bulughul Maram yang ditulis oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani:

    أَللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

    Arab latin: Allahummahdini fiman hadait, wa’afini fiman ‘afait, watawallani fi- man tawallait, wa barik li fima a’thait, wa qini syarra ma qadhait, fa innaka taqdhi wala yuqdha alaik, wa innahu la yadzillu man walait, tabarakta rabbana wa ta’alait

    Artinya: Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, sehatkanlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berikan keselamatan, lindungilah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau lindungi, berikanlah keberkahan kepadaku terhadap sesuatu yang telah Engkau anugerahkan, jauhkanlah aku dari keburukan yang telah Engkau takdirkan, karena sesungguhnya Engkau lah yang memutuskan, bukan yang diputusi, sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau lindungi. Mahaberkah Engkau, va Tuhan kami, lagi Mahatinggi.

    3. Doa Qunut Subuh Lengkap

    Doa qunut salat subuh ini diambil dari buku Panduan Lengkap Shalat Wajib dan Sunah Berikut Juz ‘Amma untuk Pemula oleh Zaky Zamani, berikut lafadznya:

    اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنِ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِي بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدِ نِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ

    Arab latin: Allahummah dini fi man hadait, wa ‘afini fiman ‘afait, wa tawallani fi man tawallait, wa barik li fi ma a’thait, wa qini birahmatika syarra ma qadhait, fa innaka taqdhi wa la yuqdha ‘alaik, wa innahu la yazillu man wa lait, wa la ya’izzu man ‘adait, tabarakta rabbana wa ta’alait, fa lakal hamdu a’la ma qadhait, wa astaghfiruka wa atubu ilaik, wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

    Artinya: “Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan, pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin, berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau berikan, dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan, karena sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan tidak ada yang menentukan atas Engkau, sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan, dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau musuhi, Maha Suci dan Maha Luhurlah Engkau, segala puji bagi-Mu atas yang telah Engkau pastikan, aku mohon ampun dan kembalilah (tobat) kepada Engkau. Semoga Allah memberi rahmat, berkah, dan salam atas Nabi Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.”

    Doa qunut Subuh memang semula disunnahkan untuk dibaca pada semua keadaan. Namun, sunnah ini dinasakhkan sehingga sebagian ulama sudah tidak mensyariatkan hal ini lagi. Pendapat ini didukung oleh Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali.

    Sebagai tambahan, menurut buku 500 Kelalaian Dalam Salat oleh Akhmad Faozan, Lc., M.Ag, mazhab lain yang juga tidak mensyariatkan membaca qunut Subuh adalah Madzhab Syafi’i dan Mazhab Maliki.

    Keduanya berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, “Apakah Rasulullah SAW membaca qunut dalam salat Subuh?” ia menjawab, “Tidak.” (HR Jamaah kecuali Tirmidzi)

    Dalam hadits shahih yang dirangkum dalam buku Terjemahan Lengkap Bulughul Maram yang ditulis oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, menyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak melakukan qunut Subuh.

    Dari Sa’ad bin Tariq al Asyja’iy RA, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada ayahku, ‘Wahai ayah, Anda pernah salat di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Apakah mereka membaca doa qunut dalam salat Subuh?’ Ayahku menjawab, ‘Wahai anakku, itu adalah sesuatu yang diada-adakan.’” (Diriwayatkan oleh imam lima kecuali Abu Daud)

    Wallahu’alam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Jumat Adalah Sebaik-baiknya Hari, Ini Hadits dan Peristiwa di Baliknya


    Jakarta

    Jumat merupakan hari yang istimewa dalam Islam bahkan disebut sebagai hari raya pekanan umat Islam. Ada sebuah hadits yang menyebut, sebaik-baiknya hari adalah hari Jumat.

    Hadits ini termuat dalam kitab Shahih Muslim. Dikatakan, hari Jumat merupakan hari di mana Nabi Adam AS diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan dari surga. Dari az-Zuhri, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

    “Sebaik-baik hari yang padanya matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan. Pada hari itu juga beliau dimasukkan ke surga dan pada hari itu pula beliau dikeluarkan dari surga.” (HR Muslim)


    Hari Jumat Disebut sebagai Penghulu Hari

    Dalam hadits lain yang bersumber dari Abu Lubanah al-Badri, Rasulullah SAW menyebut hari Jumat sebagai penghulu hari atau sayyidul ayyam. Beliau bersabda,

    “Penghulu hari (sayyidul ayyam) adalah hari Jumat, dan ia adalah seagung-agungnya hari bagi Allah, bahkan lebih agung bagi Allah daripada hari raya Fitri dan Adha. Dan pada hari Jumat itu terdapat lima kejadian, yaitu: Allah menciptakan Adam, Allah menurunkan Adam ke dunia, Allah mewafatkan Adam, hari Jumat adalah saat yang tidaklah seseorang memohon kepada Allah melainkan pasti dikabulkan selama ia tidak meminta barang yang haram, dan pada hari itu akan terjadi kiamat. Tidak ada malaikat yang dekat kepada Allah, langit, bumi, angin, gunung-gunung, lautan melainkan semuanya mencintai hari Jumat.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

    Jumat sebagai hari raya ini turut dijelaskan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan dalam kitab Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad. Ia mengatakan, hari Jumat adalah hari tambahan bagi orang yang telah masuk surga dan sebagai hari raya bagi orang yang ada di dunia.

    Diterimanya Tobat Nabi Adam pada Hari Jumat

    Ada banyak peristiwa yang terjadi pada hari Jumat, termasuk saat kiamat nanti. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Kita adalah umat terakhir namun menjadi umat pertama kali di hari kiamat dan kita adalah umat yang pertama kali masuk ke dalam surga. Ahlu kitab diberi kitab sebelum kita dan diturunkan kepada kita setelah mereka maka mereka pun berselisih dan Allah memberikan kita petunjuk menuju kebenaran dalam perselisihan mereka; ini adalah hari mereka (hari Jumat) yang mereka berselisih di dalamnya dan Allah memberi petunjuk kepada kita kepada hari Jumat hingga dijadikan hari ini untuk kita, besok untuk Yahudi, dan hari setelah besok untuk Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim dalam kitab Al-Jumu’ah)

    Peristiwa lain yang terjadi pada hari Jumat adalah diterimanya tobat Nabi Adam AS. Hal ini diterangkan dalam sebuah hadits yang dinukil Asmaji Muchtar dalam buku Fatwa-fatwa Imam Asy-Syafi’i Masalah Ibadah. Dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda,

    “Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari itu Allah SWT menciptakan Adam, pada hari itu Allah SWT menurunkannya ke bumi, pada hari itu diterima tobatnya, pada hari itu ia wafat, dan pada hari itu terjadi hari kiamat. Tidak ada dari hewan melata kecuali bertasbih kepada Allah SWT pada hari Jumat dari pagi hingga terbit matahari karena khawatir akan hari kiamat, kecuali jin dan manusia. Pada hari itu ada suatu waktu apabila seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah SWT, niscaya akan dikabulkan permohonannya.”

    Raghib As-Sirjani dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa’il wa Thuruq wa Amaliyah mengatakan, seluruh waktu dalam hari Jumat sejatinya baik. Namun, kata Raghib As-Sirjani, Allah SWT telah mengutamakan sebagian waktunya dari waktu-waktu lainnya. Waktu ini terletak antara Ashar dan Maghrib. Hal ini mengacu pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah RA,

    “Sebaik-baiknya hari di mana matahari terbenam adalah hari Jumat; di dalamnya Adam Alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan dari surga. Pada hari tersebut terdapat waktu yang tidaklah seorang muslim salat dan berdoa melainkan Allah akan mengabulkannya.”

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Memakai Baju Baru, Amalkan Sebagai Tanda Syukur



    Yogyakarta

    Baju baru seringkali menjadi simbol kebahagiaan bagi banyak orang. Untuk itu, dianjurkan membaca doa sebagai ungkapan syukur.

    Namun sebagai muslim, hendaknya harus selalu mengingat Allah SWT dalam setiap aktivitas termasuk ketika memakai baju baru.

    Salah satu cara untuk mengingat Allah SWT ketika memakai baju baru adalah dengan membaca doa.


    Doa Mengenakan Baju Baru

    Dikutip dari Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi karya Imam an-Nawawi, bahwa terdapat dua doa yang Rasulullah SAW baca ketika memakai baju baru.

    Bacaan ketika Rasulullah SAW ketika memakai baju baru,

    اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَاصُنِعَ لَهُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

    Bacaan latin: Allahumma lakal hamdu anta kasautaniih, as’aluka khairahu wa khaira ma suni’a lah, wa a’uudzu bika min syarrihi wa syarri maa suni’a lahu.

    Artinya: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau kenakan pakaian ini kepadaku, aku memohon kepada-Mu kebaikannya, dan sesuatu baginya, dan aku berlindung kepada-Mu, dari keburukannya dan keburukan sesuatu baginya.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidi, dan An-Nasa’i)

    Rasulullah SAW bersabda bahwa doa ketika memakai baju baru yaitu,

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ مَا أُوَارِيْ بِهِ عَوْرَتِي وَأَتَجَمَّلُ بِهِ فِي حَيَاتِي ثُمَّ عَمَدَ إِلَى التَّوْبِ الَّذِي أَخْلَقَ فَتَصَدَّقَ بِهِ كَانَ فِي حِفْظِا للَّهِ، وَفِي كَنَفِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَ فِي سَتْرِ اللهِ حَيّاً وَمَيّتاً

    Bacaan latin: Alhamdulillahil ladzii kasaanii maa uwarii bihi ‘aurati wa atajammalu bihi fii hayatii

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menganugerahkan pakaian kepadaku, yang dengannya aku bisa menutup auratku, dan memperindah diriku dalam hidupku.” (HR At-Tirmidzi)

    Hikmah Membaca Doa Ketika Memakai Baju Baru

    Mengutip dari buku 354 Sunnah Nabi Sehari-hari karya Raghib As-Sirjani, bahwa terdapat beberapa hikmah ketika seorang muslim membaca doa ketika memakai baju baru.

    – Memohon kebaikan atas baju baru yang dipakainya

    Dalam doa tersebut, seorang muslim memohon kepada Allah SWT agar memberikan kebaikan dari pakaian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai seorang muslim, harus selalu berdoa dan memohon kepada Allah SWT dalam setiap aktivitas.

    – Selalu mengingat Allah SWT

    Dengan membaca doa saat memakai baju baru, seorang muslim diingatkan untuk selalu mengingat Allah SWT dalam setiap aktivitas kita. Hal ini juga menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan-Nya.

    Agar dijauhkan dari keburukan ataupun kejahatan saat mengenakan baju baru yang dipakainya
    Dalam doa tersebut, seorang muslim juga berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan yang mungkin terkandung pada pakaian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai seorang muslim, hendaknya harus selalu waspada.

    Dari pemaparan di atas, doa saat memakai baju baru merupakan salah satu cara untuk mengingat Allah SWT dalam setiap aktivitas seorang muslim.

    Dalam doa tersebut, seorang muslim memohon kepada Allah SWT agar memberikan kebaikan dari pakaian tersebut dan melindungi diri dari kejahatan yang mungkin terkandung di dalamnya.

    Sebagai seorang muslim, kita harus selalu berdoa dan memohon kepada Allah SWT dalam setiap aktivitas. Semoga bermanfaat ya. Detikers!

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com