Tag: hikmah

  • Hadits Larangan Marah dalam Islam, Muslim Pahami Yuk!


    Jakarta

    Marah adalah satu dari sekian banyak ekspresi yang dimiliki oleh manusia. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya rasa marah.

    Islam sendiri tidak pernah melarang manusia untuk marah karena hal itu manusiawi. Hanya saja, ada sejumlah keutamaan yang diraih bagi kaum muslimin apabila dapat menahan dan mengendalikan amarahnya.

    Dalam surah Ali Imran ayat 133-134, Allah SWT berfirman:


    وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (134)

    Arab latin: Wa sāri’ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u’iddat lil-muttaqīn. Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

    Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

    Selain dalil Al-Qur’an, ada sejumlah hadits yang membahas tentang larangan marah dan keutamaannya. Simak bahasannya seperti dinukil dari buku Ihya Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali dan arsip detikHikmah.

    Hadits Larangan Marah

    Larangan marah di sini bukan berarti benar-benar tidak boleh marah. Melainkan lebih kepada menahan diri ketika marah atau naik pitam, sebab ekspresi marah yang berlebihan dapat merugikan diri sendiri hingga orang lain.

    1. Hadits Jangan Mudah Marah

    Dari Abu Hurairah RA bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW,

    “Berilah wasiat kepadaku,” Sabda Nabi SAW: “Janganlah engkau mudah marah.” Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, “Janganlah engkau mudah marah.” (HR Bukhari)

    2. Hadits Anjuran Menahan Amarah

    “Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Dosa apa yang besar di sisi Allah?’ ‘Membuat murka Allah,’ jawab Nabi Muhammad saw. Ia bertanya lagi, ‘Apa yang dapat menjauhkanku dari murka-Nya?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah SAW,” (HR Ahmad)

    3. Hadits Menahan Marah sebagai Penyelamat Murka Allah

    “Dari Abdullah bin Amr RA bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘(Wahai Rasulullah), apa yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah saw,” (HR At-Thabrani dan Ibnu Abdil Barr)

    4. Hadits Anjuran Diam ketika Marah

    Dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW bersabda:

    “Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad dan Bukhari)

    5. Hadits Orang yang Menahan Marah Niscaya Diganjar Surga

    Dari Abu Darda RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR Ath-Thabrani)

    Demikian sejumlah hadits yang membahas tentang larangan marah. Semoga bermanfaat!

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Meminta Hujan Lengkap dengan Arab, Latin dan Arti


    Jakarta

    Doa meminta hujan dapat diamalkan oleh kaum muslimin jika hujan tak kunjung turun. Sebagaimana yang kita ketahui, hujan merupakan anugerah sekaligus rahmat yang dilimpahkan Allah SWT kepada makhluk hidup.

    Bahkan, hujan disebut sebagai salah satu tanda atas kebesaran dan rahmat Allah SWT. Turunnya hujan bahkan membuat pikiran dan perasaan seseorang berubah dan lebih mengingat Tuhan serta bersyukur, seperti dijelaskan dalam buku Indahnya Doa Rasulullah oleh Masriyah Amva.

    Belakangan ini, panas matahari cukup terik dan menyengat kulit. Kondisi tanah juga kering dan hujan jarang turun.


    Berkaitan dengan itu, ada sebuah doa yang dapat dipanjatkan untuk meminta hujan. Seperti apa bacaannya?

    Doa Meminta Hujan: Arab, Latin, dan Arti

    Mengutip buku 5 Shalat Pembangun Jiwa susunan Nasrudin Abd Rohim, berikut doa meminta hujan yang dapat diamalkan oleh kaum muslimin.

    اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا سرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

    Arab latin: Allahummasqinaa ghoitsan mughiitsan mariyyan sarii’an naafi’an ghoiro dhoorrin, ‘aajilan ghoiro aajilin.

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan deras yang penuh ketentraman, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak terlambat.”

    Selain doa di atas, ada juga versi lainnya yang mengacu pada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,

    اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

    Arab latin: Allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa

    Artinya: “Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.”

    Kapan Sebaiknya Doa Turun Hujan Dibaca?

    Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf melalui karyanya yang berjudul Panduan Lengkap Shalat, Doa, Zikir & Shalawat mengatakan hendaknya doa meminta hujan dibaca sebanyak-banyaknya usai melakukan salat istisqa. Salat tersebut merupakan ibadah memohon turunnya hujan.

    Lalu, doa meminta hujan dapat dibaca pada waktu-waktu mustajab doa. Ketika hujan sudah turun, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam membaca doa lainnya sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT yang berbunyi,

    قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ ‏.‏ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

    Artinya: “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah’, maka orang itu beriman kepada-Ku (Allah SWT) dan tidak beriman kepada bintang-bintang. Sebaliknya orang yang berkata, ‘Kita diberi hujan oleh binatang ini atau bintang itu’, maka orang tersebut kafir terhadap-Ku (Allah SWT) dan beriman kepada bintang-bintang.” (HR Muslim).

    Demikian bacaan doa meminta hujan dan informasi terkaitnya. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits tentang Bahaya Riya, Salah Satunya Dapat Membatalkan Amal Saleh


    Jakarta

    Riya atau pamer adalah perbuatan tercela yang harus dihindari oleh manusia. Kata riya berasal dari bahasa Arab ra’a-yara-ruyan-wa ru’yatan yang artinya melihat.

    Menukil Syarah Riyadhush Shalihin Jilid 4 tulisan Syaikh Muhammad al-Utsaimin, riya dalam Islam identik dengan mereka yang beribadah kepada Tuhannya agar dilihat orang lain dan menuai pujian. Mereka yang riya tidak ikhlas semata mengharap ridha Allah SWT dalam mengerjakan amalnya.

    Padahal, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah dengan hati yang tulus sebagaimana dikatakan dalam surah Al Bayyinah ayat 5,


    وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

    Artinya: “Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”

    Adapun, terkait larangan riya juga disebutkan dalam surah Al Baqarah ayat 264 dengan bunyi sebagai berikut,

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.”

    Selain surah Al-Qur’an, ada juga sejumlah dalil dari Al-Hadits yang menyebutkan tentang riya. Ini menunjukkan betapa bahayanya riya bagi umat manusia.

    Hadits tentang Bahaya Riya

    Mengutip buku Kumpulan Hadits Qudsi Pilihan oleh Syaikh Fathi Ghanim, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang riya.

    1. Hadits Riya Lebih Bahaya dari Fitnah Dajjal

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebut bahwa riya lebih berbahaya ketimbang fitnah dajjal. Beliau berkata,

    “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata, “Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya.” (HR Ibnu Majah)

    2. Hadits Riya Adalah Perbuatan yang Merusak

    Perbuatan riya dikatakan lebih merusak daripada serigala menyergap domba. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi,

    “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak daripada ketamakan seorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Darimi, dan yang lainnya dari Ka’ab bin Malik)

    3. Hadits Riya Dapat Menghapus dan Membatalkan Amal Saleh

    Riya dapat menghapus hingga membatalkan amal saleh yang telah dikerjakan oleh seorang muslim. Salat mereka dikatakan tidak akan diganjar pahala oleh Allah SWT.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

    Bagaimana Cara Menghindari Perbuatan Riya?

    Mengutip buku Aqidah Akhlak tulisan Taofik Yusmansyah, berikut sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghindari sifat riya.

    • Selalu berbuat baik di hadapan orang banyak maupun tidak ada orang sama sekali. Yakin bahwa Allah SWT Maha Mengetahui
    • Meminta perlindungan dan selalu berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sifat riya
    • Jangan merasa bangga dengan kelebihan yang dimiliki, jadikan hal tersebut sebagai alasan untuk lebih bersyukur kepada Allah SWT
    • Berbuat sewajarnya dalam berbagai hal, tidak dilebih-lebihkan ataupun dikurangi
    • Tidak membicarakan perbuatan yang pernah dilakukan kepada orang lain, terlebih jika hanya ingin mendapat pujian

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Tentang Sholat, Sebagai Penolong dan Penghapus Dosa



    Jakarta

    Sholat adalah ibadah wajib bagi umat muslim. Rasulullah SAW telah menjelaskan pentingnya sholat melalui beberapa hadits.

    Sholat merupakan amalan yang pahalanya dihisab paling pertama. Perintah melaksanakan sholat termaktub dalam Al-Qur’an surat An Nisa ayat 103, Allah SWT berfirman

    فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا


    Artinya: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Hadits tentang Sholat

    Mengutip buku Sifat Shalat Nabi SAW oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin disebutkan sebuah hadits yang menjelaskan Rasulullah SAW sholat dengan menghadap Kakbah.

    “Rasulullah SAW melaksanakan sholat wajib maupun sholat sunnah dengan menghadap Kakbah (kiblat). Beliau memerintahkan hal yang demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya sebagaimana sabdanya: “Apabila kamu hendak melakukan sholat, berwudhulah dengan sempurna kemudian menghadap kiblat, lalu bertakbirlah.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Berikut beberapa hadits Rasulullah SAW tentang sholat dan keutamaannya:

    1. Sholat sebagai penghibur jiwa

    Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat menjadi amalan yang bisa menjadi penyejuk hati dan penghibur jiwa. Berdasarkan hadits riwayat An-Nasa’i dan Ahmad Rasulullah SAW bersabda,

    حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

    Artinya: dijadikan kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan dijadikan lah penyejuk hatiku dalam ibadah sholat.

    Selain itu, Nabi Muhammad juga meminta sahabatnya Bilal untuk mendirikan sholat. Sebab, ibadah tersebut bisa membuat diri seseorang merasa tenang.

    Dalam hadist riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW juga bersabda,

    قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

    Artinya: Wahai Bilal, berdirilah. Nyamankan lah kami dengan mendirikan shalat.

    2. Sholat sebagai penggugur dosa

    Sebuah hadits Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat bisa membersihkan dosa.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟

    Artinya: bagaimana pendapatmu jika di depan pintu rumahmu ada sungai, lalu Engkau mandi sehari lima kali? Apakah tersisa kotoran di badannya?

    Para sahabat menjawab,

    لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ

    Artinya: tidak akan tersisa kotoran sedikit pun di badannya

    Rasulullah SAW pun bersabda,

    فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

    Artinya: itu adalah permisalan untuk shalat lima waktu. Dengan sholat lima waktu, Allah Ta’ala menghapus dosa-dosa (kecil).

    3. Sholat sebagai penolong

    Dalam hadist riwayat Abu Dawud, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ، صَلَّى
    Artinya: dulu jika ada perkara yang menyusahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendirikan sholat.

    Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 45 berfirman:

    وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

    Artinya: dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.

    4. Sholat memberikan banyak kebaikan

    Sholat juga dapat memberikan banyak kebaikan bagi umat Islam. Berdasarkan hadist riwayat Ahmad, dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW mengingatkan tentang sholat pada suatu hari, kemudian berkata,

    مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

    Artinya: Siapa saja yang menjaga sholat maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Sedangkan, siapa saja yang tidak menjaga sholat, dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan. Dan pada hari kiamat nanti, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.

    5. Sholat mencegah perbuatan buruk

    Dalil dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabuut ayat 45, Allah SWT berfirman tentang keutamaan sholat untuk mencegah perbuatan buruk.

    اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

    Artinya: bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Demikian beberapa dalil hadits dan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sholat. Sebagai umat Islam sudah sepatutnya menjaga dan mendirikan sholat fardhu sebagai ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Diserahkannya Urusan Bukan pada Ahlinya



    Jakarta

    Kiamat adalah hari yang pasti akan terjadi dan sejumlah tandanya telah disebutkan dalam hadits. Salah satunya diserahkannya urusan bukan pada ahlinya.

    Tanda kiamat ini termuat dalam Shahih Bukhari dari hadits Atha’ bin Yasar dari Abu Hurairah RA. Hadits ini turut dinukil Imam Ibnu Katsir dalam kitab An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim.

    Diceritakan, seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah SAW, “Kapan kiamat?” Beliau bersabda, “Jika amanah disia-siakan, tunggulah kehancurannya.” Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau bersabda, “Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari)


    Menurut penjelasan dalam Al-Masih Al-Muntazhar wa Nihayah Al-Alam karya Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, urusan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah segala jenis urusan, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat. Pengarang kitab mencontohkan urusan tersebut antara lain peradilan, fatwa, pendidikan, administrasi, kepemimpinan, dan semua kepentingan umum.

    Penyalahgunaan amanah ini, kata Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, merupakan tanda dekatnya hari kiamat.

    “Hal ini menunjukkan dekatnya kiamat karena terdapat pengkhianatan terhadap pemimpin dan rakyat yang berimplikasi pada penyelewengan hak dan kemaslahatan serta kemarahan publik dan fitnah,” jelas Abdul Wahab Abdussalam Thawilah seperti diterjemahkan Subhanur.

    Lebih lanjut dijelaskan, salah satu dampak dari penyerahan urusan kepada orang yang bukan ahlinya adalah hilangnya kepercayaan di tengah manusia. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ ، يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذِّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ قَالَ: السَّفِيْهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

    Artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di saat itu orang yang berdusta dianggap jujur dan orang yang jujur dianggap berdusta, orang yang berkhianat dipercaya dan orang yang jujur dikhianati, serta ruwaidhah berbicara.” Beliau bertanya, “Apa itu ruwaidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan rakyat.” Redaksi lain menyebut, “Orang yang lemah akalnya berbicara tentang masalah orang-orang kebanyakan.”

    Hadits tersebut termuat dalam Musnad Ahmad dan Mustadrak Al-Hakim dengan sanad shahih. Ibnu Majah turut meriwayatkannya. Hadits ini turut dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash Shaghir dan Silsilah Ash-Shahihah.

    Berkaitan tentang amanah, ulama Mesir, Yusuf Al Qardhawi dalam kitabnya, Akhlaq Al-Islam, menyebutkan sebuah hadits bahwa kekuasaan adalah amanah yang wajib ditunaikan pada tempatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Abu Dzar RA tentang kekuasaan,

    “Sesungguhnya ia adalah amanah. Sesungguhnya ia di hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya secara hak, lalu menunaikan apa yang ditanggungnya pada keduanya.” (HR Muslim)

    Masih banyak hadits lain yang menyebutkan tentang tanda-tanda kiamat, selain diserahkannya urusan bukan pada ahlinya. Meski demikian, waktu datangnya kiamat merupakan rahasia Allah SWT sebagaimana Dia berfirman dalam surah Al Ahzab ayat 63,

    يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا ٦٣

    Artinya: “Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah.” Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.”

    Dalam surah Al Hajj ayat 7, Allah SWT juga berfirman,

    وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ ٧

    Artinya: “Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.”

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sholat Taubat dan Tata Caranya Lengkap Sesuai Sunnah


    Jakarta

    Sholat taubat merupakan amalan yang dilakukan seseorang setelah menyesali akan dosa yang diperbuat. Dalam pelaksanaannya, sholat taubat dikerjakan dengan 2 rakaat seperti sholat sunnah pada umumnya.

    Dalil terkait sholat taubat didasarkan pada hadits dari Abu Bakar RA, Nabi SAW bersabda:

    “Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia bersuci dengan baik lalu ia berdiri untuk sholat dua rakaat, kemudian ia meminta ampunan kepada Allah melainkan Allah akan mengampuninya.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)


    Setelahnya, Rasulullah SAW membacakan surah Ali Imran ayat 135 yang berbunyi,

    وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ١٣٥

    Artinya: “Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).” (QS Ali ‘Imran: 135)

    Ketika melakukan sholat taubat, ada sebuah doa yang dapat dipanjatkan. Seperti apa? Berikut bacaannya yang dirangkum dari arsip detikHikmah.

    Doa Sholat Taubat: Arab, Latin dan Arti

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

    Arab latin: Astaghfirullaahal’adziim, alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaiih

    Artinya: “Saya mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Dzat yang tiada Tuhan melainkan hanya Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri. Aku bertaubat kepada-Nya.”

    Kemudian, dianjurkan juga membaca doa setelah sholat taubat yang berbunyi:

    اللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لآاِلهَ اِلَّااَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَناَ عَبْدُكَ وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ من شَرِّمَاصَنَعْتَ. اَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَي وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ

    Arab latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana’abduka wa ana’alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu a’uudzubika min syarri maa shana’tu. abuu ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu u bidzanbi fahghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.

    Artinya: “Wahai Tuhan, Engkau adalah Tuhanku, tiada yang patut disembah melainkan hanya Engkau, Engkaulah yang menjadikan aku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku dalam ketentuan dan janji-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku dan aku mengakui dosaku, karena itulah ampunilah aku, sebab tidak ada yang dapat memberi ampunan melainkan Engkau wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang telah aku perbuat.”

    Tata Cara Sholat Taubat

    Mengutip buku Panduan Shalat untuk Wanita: Panduan Bersuci Untuk Sholat tulisan Ria Khoirunnisa, berikut tata cara sholat taubat.

    1. Mengucapkan niat sholat taubat
    2. Takbiratul ihram
    3. Membaca doa iftitah
    4. Membaca surah Al Fatihah
    5. Membaca surah pendek dalam Al-Qur’an
    6. Rukuk
    7. Iktidal
    8. Sujud
    9. Duduk di antara dua sujud
    10. Sujud
    11. Bangun dari sujud dan melanjutkan rakaat kedua seperti rakaat pertama
    12. Tasyahud akhir
    13. Salam
    14. Membaca doa sholat taubat

    (aeb/aeb)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits tentang Iman dan Ihsan, Saat Jibril Mendatangi Rasulullah SAW


    Jakarta

    Secara bahasa, iman artinya membenarkan. Dalam Islam, iman dikatakan sebagai satu dasar kepercayaan kaum muslimin.

    Setidaknya ada 6 rukun iman yang wajib diyakini seperti dikatakan dalam surah An Nisa ayat 136,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا


    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada kitab (Al Quran) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

    Mengutip dari buku Islamologi: Arti Iman susunan Maulana Muhammad Ali, iman juga diartikan sebagai percaya. Akar katanya berasal dari amana yang berarti percaya.

    Pengertian Iman juga disebutkan dalam hadits dari Umar bin Khatthab, ia berkata pada suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh Malaikat Jibril, Jibril bertanya pada Rasulullah,

    “Beritahukanlah kepadaku apa itu iman.” Rasulullah menjawab, “Iman itu artinya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim)

    Selain iman, ada juga yang dinamakan ihsan. Ihsan diartikan sebagai kebaikan secara bahasa, sebagaimana dikutip dari buku Aqidah Akhlak oleh Taofik Yusmansyah.

    Ilmuwan abad pertengahan, Al-Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa ihsan lebih tinggi dari keadilan (keseimbangan antara memberi dan mengambil). Ihsan dikatakan sebagai sifat yang menjadikan pemiliknya memperlakukan orang lain dengan baik meskipun orang tersebut memperlakukannya dengan buruk.

    Terkait iman dan ihsan ini juga tersemat dalam sebuah hadits. Seperti apa? Simak bahasannya berikut ini yang dirangkum dari arsip detikHikmah.

    Hadits tentang Iman dan Ihsan

    Dari Abu Hurairah RA, dia berkata:

    “Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabatnya, maka datanglah malaikat Jibril (dalam rupa seorang laki-laki) dan bertanya, apa iman itu? Nabi menjawab: engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, dan hari kebangkitan. Kemudian ia bertanya lagi, apa Islam itu? Nabi menjawab: engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, engkau mendirikan salat, menunaikan zakat, saum di bulan Ramadan dan menunaikan ibadah haji. Kemudian ia bertanya lagi, apa ihsan itu? Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihatmu,” (HR Bukhari).

    Hadits serupa dengan redaksi yang berbeda juga terdapat dalam riwayat Muslim. Dari Umar RA, ia berkata:

    “Ketika kami berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

    Lalu, dia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya di atas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata, ‘Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam!’

    Rasulullah menjawab, ‘Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.’

    Orang itu berkata, ‘Engkau benar.’ Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang iman!’

    Rasulullah menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

    Orang tadi berkata, ‘Engkau benar.’ Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan!’

    Rasulullah menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.’

    Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang kiamat!’

    Rasulullah menjawab, ‘Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Selanjutnya orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!’

    Rasulullah menjawab, ‘Jika hamba perempuan telah melahirkan tuan putrinya, jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lombalah mendirikan bangunan.’

    Kemudian pergilah ia, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah berkata kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?’ Saya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

    Rasulullah berkata, ‘Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu,” (HR Muslim)

    Apa Hubungan Iman dan Ihsan?

    Selain iman dan ihsan, ada juga Islam. H Masan dalam buku Pendidikan Agama Islam mengatakan hubungan antara iman, Islam dan ihsan layaknya segitiga sama sisi.

    Antara sisi satu dan lainnya memiliki hubungan yang sangat erat. Ia mengibaratkan takwa sebagai segitiga sama sisi, yang masing-masing sisinya terdiri dari iman, Islam, dan ihsan.

    Demikian pembahasan mengenai hadits iman dan ihsan. Semoga bermanfaat.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Hadits Ini Jelaskan Keutamaan Sholat Jumat


    Jakarta

    Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang keutamaan sholat Jumat. Sholat sunnah di hari Jumat ini mendatang pahala dan berkah jika dikerjakan dengan niat tulus semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT.

    Bagi umat muslim, Jumat merupakan hari yang istimewa. Banyak amalan yang mendatangkan pahala berlimpah ketika dikerjakan di hari Jumat.

    Mengutip buku Superberkah Shalat Jumat: Menggali dan Meraih Keutamaan dan Keberkahan di Hari Paling Istimewa karya Firdaus Wajdi dan Luthfi Arif dijelaskan bahwa Jumat menjadi simbol hari berkumpul dalam sosialisasi umat Islam.


    Hal ini sesuai dengan makna “Jumat” itu sendiri yang secara etimologis berasal dari kata jama’a – yajmau- jama’ah yang berarti “berkumpul”. Dalam Al-Mu’jam Al-Wasith, kata al-jum’atu berarti al-majmu’atu yang bermakna “kumpulan”.

    Menurut Ibnu Sirin, yang pertama kali menyebut ‘Jumat’ adalah kaum Anshar. Ketika itu, penduduk Madinah (Anshar) berkumpul di hari ‘Arubah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib (Madinah). Mereka berkata, “Dalam satu minggu umat Yahudi memiliki satu hari khusus untuk berkumpul, yaitu hari Sabtu. Umat Nasrani juga memiliki hari khusus, yakni hari Ahad. Mari kita berkumpul untuk menciptakan satu hari khusus, yang pada hari itu kita berzikir dan berdoa kepada Allah.”

    Mereka berkata, “Sabtu adalah harinya umat Yahudi. Ahad adalah harinya umat Nasrani. Maka, mari jadikan ‘Arubah hari khusus bagi kita’. Mereka lalu berkumpul untuk menemui As’ad bin Zurarah atau yang dikenal dengan sebutan Abu Umamah. Mereka shalat dua rakaat dengan As’ad bin Zurarah sebagai imam.

    Dalam pertemuan itu, Asad juga menyembelih seekor kambing untuk hidangan makan siang setelah shalat. Sejak saat itulah ‘Arubah dinamakan Jumat, yang secara harafiah berarti ‘hari berkumpul’.

    Hadits tentang Keutamaan Sholat Jumat

    Buku Rahasia Kedahsyatan Hari Jumat Berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah karya Nur Aisyah Albantany menjelaskan sholat Jumat memiliki banyak keutamaan. Sebut saja mulai dari cara bersuci yang sangat dianjurkan untuk mandi besar sebagaimana mandi janabat, cara berpakaian yang dianjurkan memakai pakaian terbagus dan menggunakan wewangian.

    Berikut ini beberapa dalil hadits Rasulullah SAW yang menunjukkan keutamaan sholat Jum’at.

    1. Pahala besar bagi yang datang awal ke masjid

    Diriwayatkan dari Aus bin Aus r.a, berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa mandi pada hari Jumat, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585).

    2. Amalan yang dicatat malaikat

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda:
    “Jika tiba hari Jumat, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jumat adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164)

    3. Diampuni dosa di antara dua Jumat

    Diriwayatkan dari Salman r.a, Rasulullah SAW bersabda:
    “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak wangi yang di rumahnya, kemucian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan khutbah dengan seksama ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan Jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya, no. 859)

    4. Pahala mendengarkan khutbah

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum’at, “diamlah!” sewaktu imam berkhutbah, berarti kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaq ‘Alaih, lafadz milik Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 859)

    Dalam riwayat Ahmad, dari lbnu ‘Abbas r.a, Rasulullah SAW bersabda:
    “Siapa yang berbicara pada hari Jumat, padahal imam sedang berkhutbah, maka dia seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Dan orang berkata kepada (saudara)-nya, “diamlah!”, tidak ada Jumat baginya.” (HR. Ahmad).

    Hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa sholat Jumat memiliki pahala besar. Barangsiapa melaksanakannya sesuai dengan syarat-syaratnya, tata tertibnya, sunnah-sunnahnya, maka dia akan memperoleh banyak pahala dan keutamaan sebagai berikut:

    – Setiap langkah dari rumahnya menuju ke masjid mendapatkan pahala seperti pahala puasa dan pahala sholat malam setahun penuh.

    – Mendapatkan pahala seperti orang yang berqurban unta, atau sapi, atau kambing, atau ayam, atau telur, sesuai seberapa awal ia berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat.

    – Mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang telah ia lakukan hingga tiba shalat Jumat berikutnya dan tambahan tiga hari menurut sebagian riwayat.

    – Malaikat mencatat pahala shalat Jumatnya di dalam catatan mereka, selain catatan malaikat yang bertugas menuliskan amal.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa Pulang dari Bepergian, Muslim Amalkan Yuk!


    Jakarta

    Kaum muslimin dianjurkan untuk berdoa dalam segala kondisi. Begitu pula ketika hendak memulai aktivitas maupun mengakhirinya.

    Manusia sebagai makhluk sosial tentu memiliki kegiatan sehari-hari yang mengharuskan mereka untuk bepergian keluar rumah. Ketika hendak pergi ada doa yang dapat dipanjatkan oleh umat Islam, begitu pun setelah pulang dari bepergian.

    Selekas pulang dari bepergian, seorang muslim dianjurkan untuk membaca doa dan memperhatikan beberapa adab. Salah satunya adalah dengan membaca doa masuk rumah ketika pulang dari bepergian.


    Lantas, seperti apa bunyi doa pulang dari bepergian yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin?

    Doa Pulang dari Bepergian: Arab, Latin dan Arti

    Mengutip buku Kumpulan Doa Makbul oleh Dra Neni Nuraeni M Ag, berikut doa pulang bepergian yang dapat dibaca.

    آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَاحَامِدُوْنَ

    Arab latin: Aaibuuna taaibuuna ‘aabiduuna lirobbina haamiduun

    Artinya: “Kami adalah orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertaubat, orang-orang yang beribadah kepada Rabb kami, kami memanjatkan segala puji.” (HR Muslim)

    Selain doa di atas, ada juga doa yang dinukil dari kitab Al-Adzkar min Kalam Sayyid Al-Abrar karya Imam An-Nawawi, bahwa dalam Kitab Ibnu As-Sunni dari Ibnu Abbas beliau mengatakan saat Rasulullah SAW pulang dari bepergian lalu menemui keluarganya, beliau membaca doa:

    تَوْبًا تَوْبًا، لِرَبِّنَا أَوْبًا، لَا يُغَادِرُ حَوْبًا

    Arab latin: Tauban, tauban, li rabbinâ, lâ yughâdiru hauban

    Artinya : “Aku bertaubat kepada Tuhan kami, dan kepada-Nya aku kembali.”

    Kemudian, ada sebuah doa versi panjang yang dapat dipanjatkan selain dua doa di atas. Berikut bunyinya sebagaimana dikutip dari buku Doa Dzikir Muslimah tulisan Abu Ayyub El-Faruqi.

    لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ, وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. آيِبُوْنَا, تَاءِبُوْنَا عَابِدُوْنَالِرَبِّنَاحَامِدُوْنَ, صَدَقَ اللّٰهُ وَعْدَهُ, وَنَصَرَعَبْدَهُ وَهَزَمَ الْاَ حْزَابَ وَحْدَهُ

    Arab latin: Laa ilaaha illallaahu wahdahulaa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syai in qadiirun. Aayibuunaa, taaibuuna ‘aabiduunaa lirabbinaa haamiduuna, shadaqallaahu wa’dahu, wanashara ‘abdahu wahazamal ahzaba wahdahu

    Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali dengan bertobat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami. Allah telah menepati janji-Nya, membela hamba-Nya (Muhammad) dan mencerai beraikan golongan musuh dengan sendirian.”

    Merujuk pada buku tersebut, setelah bepergian kaum muslimin dapat bertakbir tiga kali, di atas tempat yang tinggi kemudian membaca doa di atas.

    Adab Pulang dari Bepergian

    Ibnu Watiniyah melalui bukunya Tuntutan Lengkap 99 Salat Sunnah Superkomplet menjabarkan sejumlah adab yang perlu diperhatikan kaum muslimin setelah pulang dari bepergian. Pertama, ketika hendak memasuki rumah, dianjurkan mendahulukan kaki kanan seraya mengucapkan, “Assalamu’alaina wa ‘ala ibadillahish shalihin.”

    Kedua, saat tiba di rumah, selanjutnya membaca doa yang disebutkan oleh Imam An Nawawi dengan bunyi berikut, “Tauban, tauban, lirabbina, auban la yughadiru hauban”

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Doa Bangun Tidur dan Adabnya yang Perlu Diperhatikan


    Jakarta

    Islam mengajarkan umatnya untuk mengawali dan mengakhiri segala aktivitas dengan berdoa, termasuk setelah bangun tidur. Hal ini menjadi ibadah dan adab yang dimaksudkan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

    Tidur adalah nikmat yang Allah SWT berikan agar manusia dapat beristirahat setelah seharian beraktivitas. Dalam surah Ar Rum ayat 23, Allah SWT berfirman:

    وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ


    Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”

    Doa Bangun Tidur: Arab, Latin dan Arti

    Dijelaskan dalam buku Penuntun Doa, Yuk! oleh Abu Ihsan, berikut doa bangun tidur yang dapat dipanjatkan ketika pagi.

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

    Arab latin: Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur

    Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.”

    Mengutip NU Online, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengutip hadits Rasulullah SAW yang berisi doa bangun tidur riwayat dua kitab shahih melalui karyanya Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib (Kairo, Darur Rayyan lit Turats: 1987 M/1408 H, halaman: 132).

    الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِي جَسَدِيْ وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

    Arab latin: Alhamdulillāhil ladzī ‘āfānī fī jasadī, wa radda ‘alayya rūhī, wa adzina lī bi dzikrihī.

    Artinya: Segala puji bagi Allah yang telah menjaga kesehat ragaku, mengembalikan nyawaku, dan mengizinkanku menyebut nama-Nya. (HR Bukhari dan Muslim)

    Adab ketika Bangun Tidur

    Selain membaca doa, ada juga sejumlah adab lainnya yang dapat dipraktikkan ketika bangun tidur. Seperti apa? Berikut bahsannya yang dinukil dari sumber yang sama.

    • Membaca istighfar 3 kali
    • Membaca syahadat
    • Membaca doa bangun tidur
    • Jangan mengusap tangan ke mata, dikhawatirkan tangan kurang bersih dan menjadikan mata gatal atau sakit
    • Lekas bangun dan jangan bermalas-malasan
    • Sholat Subuh tepat waktu
    • Merapikan tempat tidur dan kamar

    Doa Sebelum Tidur

    Sebelum tidur pun seorang muslim dianjurkan untuk berdoa. Simak bacaannya yang dikutip dari buku 100 Doa Harian Untuk Anak tulisan Nurul Ihsan,

    بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ

    Arab latin: Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut.

    Artinya: “Dengan namaMu ya Allah, aku hidup dan aku mati.” (Sahih Bukhari, At-Tauhid: 6845)

    Ada pula doa sebelum tidur versi panjang. Berikut bacaannya:

    للَّهُمَّ أَسْلَمْتُ إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرى إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلَا مَنْحَى مِنْكَ إِلا إِلَيْكَ، أَمَنْتُ بكتابكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

    Arab latin: Allahuma aslamtuilaika wawajjahtuwajhii ilaika, wafawwadhtuamrii ilaika waalja’tudzahrii ilaika raghbatan waraghbatan ilaika laa maljaawalaa manjaa minka illa ilaika amantu bikitaabikalladzii anzaita wabinabiyyikalladzi arsalta

    Artinya : “Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu. Aku menghadapkan wajahku kepada-Mu. Aku menyerahkan segala urusanku kepada-Mu. Aku menyandarkan punggungku kepadaMu lantaran mengharap dan takut kepadaMu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari ancamanMu kecuali hanya kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Kau turunkan juga (aku beriman) kepada nabiMu yang Kau utus.” (HR, Muslim, Bukhari dan Abu Dawud)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com