Tag: hikmah

  • Doa Membasuh Hidung ketika Wudhu dan Tata Caranya


    Jakarta

    Doa membasuh hidung dapat dibaca oleh kaum muslimin ketika berwudhu. Ketika melakukan hal demikian, ada sejumlah ketentuan yang penting dipahami.

    Membasuh hidung dikenal dengan istilah istinsyaq. Dijelaskan oleh Prof Wahbah Az Zuhaili dalam Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 1, beristinsyaq disunnahkan sebanyak tiga kali. Istinsyaq termasuk ke dalam sunnah wudhu.

    Dalam sebuah riwayat yang sanadnya disahkan oleh Ibnu Qaththan, Rasulullah SAW bersabda:


    “Apabila kamu berwudhu, hendaklah berlebihan ketika bermadhmadhah (berkumur) dan beristinsyaq selama kau tidak berpuasa.”

    Doa Membasuh Hidung ketika Wudhu

    Menukil buku Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab Al-Adzkar Imam An-Nawawi susunan Imam Nawawi, berikut doa yang dapat dilafalkan ketika membasuh hidung.

    اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ نَعِيْمِكَ وَجَنَّاتِكَ

    Arab latin: Allaahumma laa tahrimnii raaihata naʼiimika wa jannaatika

    Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan kepada kami dari harumnya kenikmatan dan surga-Mu.”

    Cara Membasuh Hidung sesuai Sunnah Rasulullah SAW

    Merujuk buku Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 1, dalam riwayat lainnya dari Laqith bin Sabrah menyebutkan:

    “Sempurnakanlah wudhu, gosoklah celah-celah jari, dan melebihkan istinsyaq kecuali kamu berpuasa.”

    Berdasarkan hadits di atas, cara membasuh hidung atau beristinsyaq yang baik ialah dengan berlebihan. Hal ini dilakukan dengan memasukkan air dan menghisap nafas hingga ke dalam hidung.

    Imam Nawawi melalui Kitab Al-Minhaj menyatakan bahwa berkumur dan beristinsyaq secara serentak lebih diutamakan ketimbang melakukan keduanya sendiri-sendiri. Caranya ialah dengan tiap satu dari tiga gayungan air digunakan untuk berkumur terlebih dahulu, lalu digunakan juga untuk istinsyaq.

    Tata Cara Wudhu yang Benar

    Merangkum dari arsip detikHikmah, berikut tata cara wudhu yang benar sesuai sunnah.

    1. Berniat dalam hati untuk berwudhu

    نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

    Arab latin: Nawaitul whuduua liraf’il hadatsil asghari fardal lillaahi ta’aalaa

    Artinya: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Ta’ala”

    2. Membaca basmalah,
    “bismillaahirrahmaanirrahiim”.
    3. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali
    4. Berkumur tiga kali
    5. Menghirup air ke dalam hidung sebanyak tiga kali
    6. Membasuh seluruh bagian wajah yang terlihat sejumlah tiga kali
    7. Membasuh kedua tangan hingga siku, mulai dari yang kanan lanjut tangan kiri, sebanyak tiga kali
    8.Mengusap kepala tiga kali
    9. Membasuh kedua telinga tiga kali, dengan diawali yang kanan lalu kiri
    10. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki tiga kali, juga dimulai dari kanan kemudian kaki kiri
    11. Membaca doa setelah wudhu

    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    Arab latin: Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Allahummaj ‘alnii minat tawwaabiina waj ‘alnii minal mutathaahiriina subhaanaka Allahumma wa bihamdika laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus Rasul utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci. Mahasuci Engkau wahai Tuhan kami dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

    Demikian bacaan doa membasuh hidung ketika wudhu dan tata caranya sesuai sunnah. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Hadits tentang Tanggung Jawab dalam Islam


    Jakarta

    Tanggung jawab termasuk ke dalam karakter yang patut dimiliki oleh kaum muslimin. Sifat ini identik dengan perilaku seseorang ketika melaksanakan tugas dan kewajiban yang diberikan.

    Menurut buku Konsep Tanggung Jawab Pendidik dalam Islam susunan Mustari, tanggung jawab diartikan sebagai sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, serta kepada Tuhan.

    Islam sendiri mengajarkan sikap tanggung jawab dalam sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadits. Kaum muslimin yang bertanggung jawab akan membuktikan keimanannya dengan beribadah dan mengerjakan berbagai amalan saleh lainnya kepada Allah SWT.


    Nabi Muhammad SAW bahkan mengingatkan kaum muslimin akan dampak dan perilaku menghindari tanggung jawab. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:

    “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; “Bagaimana maksud amanat disia-siakan?”, Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Bukhari)

    Menurut penafsiran para ulama, hadits di atas ditafsirkan dengan istilah al-mas’uliyyah atau tanggung jawab atas anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia, baik itu jabatan maupun nikmat yang berlimpah. Artinya, manusia berkewajiban untuk menyampaikan pertanggungjawaban di hadapan Allah atas limpahan karunia yang diberikan.

    Hadits tentang Tanggung Jawab

    Menukil dari buku Fikih Responsibilitas Tanggung Jawab Muslim dalam Islam susunan Ali Abdul Halim Mahmud, berikut sejumlah hadits yang membahas tentang tanggung jawab.

    1. Allah SWT Mempertanyakan Amanah yang Ditanggung

    Diriwayatkan oleh Anas RA Rasulullah SAW bersabda,

    “Allah SWT akan mempertanyakan semua orang yang memegang amanah atas amanah yang ia tanggung, apakah ia memeliharanya atau menyia-nyiakannya? Hingga Allah SWT akan mempertanyakan seseorang pada keluarganya.” (HR. Muslim)

    2. Semua Manusia Akan Dimintai Pertanggungjawaban

    Diriwayatkan Abdullah bin Umar RA, ia menuturkan mendengar Rasulullah SAW bersabda,

    “Semua kamu adalah pemimpin dan seluruh pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas mereka yang dipimpin. Imam (presiden, raja) adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas keluarganya itu. Istri adalah pemimpin di rumah tangganya dan bertanggung jawab atas rumah tangganya itu. Pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan bertanggung jawab atasnya. Dan, kalian semua adalah pemimpin serta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    3. Dipertanyakan Terkait Lima Perkara

    Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud RA menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Dua kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari hadapan Rabbnya, hingga ia dipertanyakan akan lima perkara: tentang umurnya dia pergunakan untuk apa? Tentang masa mudanya di mana ia habiskan? Tentang hartanya dari mana ia dapatkan? Dan, ke mana ia nafkahkan? Serta, bagaimana ia mempraktikkan dengan ilmu yang ia miliki?” (HR. Tirmidzi)

    4. Dipertanyakan Terkait Nikmat

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA menuturkan, Rasulullah SAW bersabda,

    “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, engkau akan ditanyakan tentang nikmat ini pada hari kiamat, engkau keluar dari rumahmu dalam keadaan lapar, dan engkau tidak kembali hingga engkau mendapatkan nikmat.” (HR. Imam Muslim)

    5. Allah SWT Mempertanyakan Manusia pada Hari Kiamat

    Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Allah SWT akan mempertanyakan manusia pada hari kiamat nanti, hingga menanyakan tentang: apa yang menghalangimu ketika melihat kemungkaran sehingga engkau tidak mencegah kemungkaran itu? Ketika Allah SWT mengajarkan kepada sang hamba untuk menjawabnya, sang hamba akan segera menjawab, “Wahai Rabbku, aku hanya mengharapkan-Mu, dan aku telah meninggalkan manusia.” (HR Imam Ahmad)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Keutamaan Silaturahmi Berdasarkan Hadits, Salah Satunya Dilapangkan Rezekinya


    Jakarta

    Silaturahmi berarti menghubungkan tali kekerabatan atau rasa kasih sayang terhadap sesama manusia. Allah SWT berfirman dalam surah An Nisa ayat 36,

    وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

    Artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”


    Dalam buku Keajaiban Shalat, Sedekah, dan Silaturahmi susunan H Amirulloh Syarbini, istilah silaturahmi berasal dari dua kata gabungan bahasa Arab, yaitu shilah dan ar-rahim. Maknanya sendiri ialah karib-kerabat.

    Silaturahmi tidak mengenal waktu dan dapat dilakukan kapan saja. Berkaitan dengan itu, ada sejumlah hadits yang menjelaskan tentang keutamaan silaturahmi.

    Hadits Keutamaan Silaturahmi

    Menukil dari buku Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 2 tulisan Syaikh Mahmud Al-Mishri, berikut sejumlah hadits keutamaan silaturahmi.

    1. Dilapangkan Rezekinya

    Selain mempererat tali persaudaraan, silaturahmi juga melapangkan rezeki seseorang sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits. Nabi SAW bersabda,

    “Barangsiapa yang senang agar dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari)

    2. Diganjar Surga

    Menjalin silaturahmi merupakan amalan yang menyebabkan seseorang masuk surga. Disebutkan dalam hadits dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi Muhammad SAW pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan seorang muslim ke dalam surga, ia menjawab:

    “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR Bukhari)

    3. Diampuni Dosanya

    Silaturahmi juga dapat menghapus dosa-dosa kaum muslimin yang mengerjakannya. Hal ini disebutkan dalam hadits yang berbunyi,

    “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali keduanya diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)

    4. Memperpanjang Umur Seseorang

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Silaturahmi dapat menambah umur, sedangkan sedekah dengan sembunyi-sembunyi dapat meredam murka Allah.” (HR Ath Thabrani)

    5. Dijauhkan dari Masa-masa Sulit

    Memperbanyak silaturahmi akan dicukupkan kebutuhannya oleh Allah SWT, baik itu dari segi materi atau masalah lain. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits,

    “Tidaklah sebuah keluarga yang gemar menyambung tali silaturahmi kemudian mereka akan meminta-minta.” (HR Ibnu Hibban)

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Qunut Nazilah untuk Rakyat Palestina



    Jakarta

    Doa qunut nazilah biasanya dibaca ketika terjadi musibah atau bencana. Doa ini bisa dipanjatkan untuk saudara kita yang berada di Palestina.

    Menurut Prof. Dr. H. Abudin Nata, MA, dalam bukunya yang berjudul “Bimbingan Praktikum Ibadah,” secara harfiah, “qunut” berarti “sedang,” sementara “nazilah” berarti “yang turun.” Secara umum, doa qunut nazilah dibaca untuk memohon perlindungan dari bencana.

    Profesor Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya yang berjudul Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu, menjelaskan bahwa doa qunut nazilah dibacakan secara jahar atau dengan keras. Qunut nazilah merujuk pada doa yang dibacakan ketika terjadi bencana atau musibah yang melanda umat Muslim.


    Mazhab Hanafi membolehkan pembacaan doa ini dalam salat-salat jahriyyah, yakni salat Subuh, Maghrib, dan Isya. Hukum membacanya adalah sunnah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

    “Rasulullah SAW benar-benar membaca doa qunut (nazilah) selama sebulan, sebagai respons terhadap (tragedi) pembunuhan para qurra’ (ahli Al-Qur’an) radhiyallahu ‘anhum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Macam-Macam Doa Qunut Nazilah

    Doa Qunut Nazilah Versi 1

    Mengacu pada buku “Terjemah Fiqhul Islam wa Adillathuhu Juz 2,” doa qunut nazilah terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar RA. Ketika Rasulullah membaca doa qunut, beliau membaca:

    اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَأَلِفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَات بَيْنِهِمْ، وَانْصُرْ عَلَى عَدُوّكَ وَعَدُوِّهِمْ اللَّهُمْ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ. اللَّهُمْ خَالِفٌ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِينُكَ

    Arab latin: Allahummaghfir lilmu’minina walmu’minat, walmuslimina walmuslimat, wa alifa bayna qulubihim, wa ashlih dzat baynihim, wanshur ala a’uduwka waaduwwihim allahum an kafarata ahlil kitaabil ladziina yukadzibuuna rusulaka, wayuqaa tiluuna aw liyaa aka. Allahum khoolifun bayna kalimatihim, wazalzil aqda mahum, waanzil bihim ba’salkalladzii laayuraddu anilqowmil mujrimin. bismillahirrahmanirrahim. allahumma innanasta ‘inuk.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa orang mukmin dan mukminat, muslimin dan muslimat. Satukanlah hati-hati mereka, ciptakanlah kedamaian di antara mereka, dan bantu mereka mengatasi musuh-musuh-Mu dan musuh mereka. Ya Allah, timpakanlah kutukan kepada orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab yang telah mendustakan para utusan-Mu dan melawan para wali-Mu. Ya Allah, gagapkanlah kata-kata mereka, pecah belahkan kekuatan mereka, dan berikanlah hukuman-Mu yang tak terhindarkan bagi mereka. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami memohon pertolongan kepada-Mu.”

    Doa Qunut Nazilah Versi 2

    Menukil laman NU Online, berikut adalah doa qunut nazilah yang diijazahkan oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

    اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، نَشْكُرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللّٰهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فِيْ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الصُهْيُوْنِيِّيْنَ الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Bacaan latin: Allahumma inna nasta’inuka wa nastaghfiruka wa nastahdika wa nu’minu bika wa natawakkalu ‘alayka wa nutsni ‘alaykal khayra kullahu, nasykuruka wa la nakfuruka wa nakhla’u wa natruku may yafjuruka. Allahumma iyyaka na’budu wa laka nushalli wa nasjudu wa ilayka nas’a wa nahfidu, narju rahmataka wa nakhsya ‘adzabaka, inna ‘adzabakal jidda bil kuffari mulhiqun. Allahumma tsabbit ikhwananal mujahidina fi Filistin, khusushan fi Ghazzah, wahqin dima’ahum. Allahumma ‘alayka bil Yahud, ash-shuhyuniyyina, al-mal’unina, wa anzil ghadhabaka ‘alayhim. Allahumma-nshur dinaka wa kitabaka wa sunnata nabiyyika Muhammadin shallalluhu ‘alayhi wa sallam

    Artinya,”Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu, pengampunan-Mu, dan petunjuk-Mu. Kami beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu, dan bersyukur atas segala kebaikan-Mu. Kami bersyukur kepada-Mu dan tidak kufur kepada-Mu. Kami menjauhi orang-orang yang mendurhakai-Mu. Ya Allah, kami hanya beribadah kepada-Mu, bersujud dan berdoa kepada-Mu. Kami berusaha dan bergerak dengan harapan rahmat-Mu dan rasa takut akan siksaan-Mu. Kami menyadari bahwa azab-Mu yang berat menimpa orang-orang kafir. Ya Allah, kuatkan saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, terutama di Gaza, dan lindungi mereka. Ya Tuhan, hukumlah orang-orang Yahudi Zionis yang berdosa, dan tunjukkan murka-Mu kepada mereka. Ya Tuhan, bantu agama-Mu, kitab-Mu, dan sunnah Nabi-Mu, Muhammad. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kedamaian atas beliau.”

    اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

    Bacaan latin: Allahummanshuril musliminal mustadl’afina fi kulli makan(i). Allahumma-rhamil mustadh’afina min ‘ibadik(a). Allahummaksyifil ghummah ‘an ummatina. Allahumma inna nas’aluka an tarfa’al bala-a ‘an Ghazzah wa ahliha, wa an tanshurahum ‘ala ‘aduwwihim, wa an tarḫamal mustadl’afina min ‘ibadika, wa an taksyifal ghummah ‘an ummatina. Allahumma ‘afina walthuf bina waḫfadhna wanshurna wa farrij ‘anna wal muslimin(a). Allahummakfina wa iyyahum jami’an syarra masha-ibid dun-ya wad din(i)

    Artinya: “Ya Allah, bantu umat Islam yang menderita di seluruh dunia. Kasihanilah mereka yang terzhalim di antara hamba-hamba-Mu. Ya Tuhan, hilangkanlah penderitaan dari umat kami. Kami mohon agar Engkau mengangkat kesulitan dari Gaza dan penduduknya, memberi mereka kemenangan atas musuh mereka, mengampuni mereka yang tertindas di antara hamba-hamba-Mu, dan singkirkanlah penderitaan di bangsa kami. Ya Allah, berikanlah kami kesehatan, berikan hati yang baik kepada kami, lindungilah kami, dan dukunglah kami, serta seluruh kaum Muslim. Ya Allah, peliharalah kami dan mereka dari segala bahaya, baik dalam urusan dunia maupun agama.”

    اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ مَنْ فِيْ صَلَاحِهِ صَلاَحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لاَ تُهْلِكْنَا وَأَهْلِكْ مَنْ فِيْ هَلَاكِهِ صَلاَحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَالرَّحْمَةَ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَافِيَةِ وَالْبَرَكَةِ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُوْمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ وَاصْرِفْ عَنَّا وَعَنِ الْمُسْلِمِيْنَ الْأَذَى وَالْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْقَحْطَ وَالْحُمَّى وَالْجَدْبَ وَالْجَوْرَ وَالظُّلْمَ وَجَمِيْعَ أَنْوَاعِ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ وَالْأَمْرَاضِ وَالْأَسْقَامِ وَالشَّدَائِدِ وَالزَّيْغِ وَالضَّلَالِ وَالزَّلَازِلِ وَالرِّيْحِ وَالْجَهْلِ وَالْبَلَاءِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وأَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَالْمَنْكُوْبِيْنَ وَالْمَكْرُوْبِيْنَ وَالْمَظْلُوْمِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاكْلَأْهُمْ وَصُنْهُمْ وَتَوَلَّهُمْ وَارْعَهُمْ وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدَهُمْ، وَوَفِّقْنَا وَإِيَّاهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَالْطُفْ بِنَا وَبِهِمْ فِيْ مَا يَجْرِيْ بِهِ الْقَضَاءُ، وَاصْرِفْ وَادْفَعْ وَأَبْعِدْ وَأَزِلْ عَنَّا وَعَنْهُمْ شَرَّ الطَّاغِيْنَ وَالْبَاغِيْنَ وَالظَّالِمِيْنَ وَالْمُعْتَدِيْنَ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَالْمُؤْذِيْنَ وَالْعَائِنِيْنَ وَالسَّاحِرِيْنَ بِمَا شِئْتَ عَاجِلاً غَيْرَ اٰجِلٍ فِيْ عَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Bacaan latin: Allahumma ashlihna wa ashliḫ man fi shalahihi shalahul muslimin(a). Allshumma la tuhlikna wa ahlik man fi halakihi shalahul muslimin(a). Allahumma-sqinal ghaytsa war rahmata ma’al luthfi wal ‘afiyati wal barakati wa la taj’alna minal mahrumin. Allahummarfa’ washrif ‘anna wa ‘anil musliminal adza wal ghala-a wal bala-a wal qahtha wal humma wal jadba wal jawra wadh dhulma wa jami’a anwa’il fitani wal mihani wal amradhi wal asqami wasy-syada-idi wazzayghi wadl dlalali waz zalazili war rihi wal jahli wal bala-i ma dhahara minha wa ma bathana. Wa anjil mustadh’afina wal mankubina wal makrubina wal madhlumina minal muslimina wakla’hum washunhum wa tawallahum war’ahum wa alhimhum rusydahum wa waffiqna wa iyyahum lima tuhibbu wa tardla, wal-thuf bina wa bihim fi ma yajri bihil qadha-u, washrif wadfa’ wa ab’id wa azil ‘anna wa ‘anhum syarrath thaghina wal baghina wadh dhalimina wal mu’tadina wal mufsidina wal mu’dzina wal ‘a-inina was sahirina bima syi’ta ‘ajilan ghayra ajilin fî ‘afiyatin wa salamatin birahmatika ya arhamarrahimina

    Artinya, “Ya Allah, perbaikilah kami dan perbaiki orang-orang yang mendatangkan kebaikan bagi kaum Muslimin. Ya Allah, jangan hancurkan kami, dan hancurkanlah siapa pun yang jika mereka hancur akan membawa kebaikan bagi kaum Muslimin. Ya Allah, limpahkan kepada kami hujan dan rahmat, kebaikan, kesehatan, dan keberkahan. Janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang terhalang dari berkah-Mu. Ya Allah, jauhkan dari kami dan kaum Muslimin segala mara bahaya, bencana, kesengsaraan, kekeringan, penyakit, kesakitan, kemalangan, penyimpangan, kesesatan, gempa bumi, angin yang merusak, kebodohan, dan kesengsaraan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Lindungilah umat Islam yang tertindas, diinjak-injak, dianiaya, dan dizalimi. Berikan mereka perlindungan, bimbingan, dan pertolongan. Tunjukkan kami dan mereka kepada jalan yang Engkau ridhai, dan selalu lembutkanlah hati kami dalam menerima takdir-Mu. Lindungi kami dari kejahatan orang-orang zalim yang ingin menyakiti dan menindas. Juga orang-orang yang menyerang, merusak, menyakiti, beserta para penolong mereka dan tukang sihirnya sesuai apa saja yang Engkau kehendaki, secepatnya tanpa penundaan, dalam keadaan sehat dan selamat dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

    Cara Mengerjakan Qunut Nazilah

    Pembacaan doa qunut nazilah dapat dilakukan pada rakaat terakhir setelah rukuk dalam setiap salat fardhu. Doa qunut dibaca dengan suara pelan (sirr) jika salat dilaksanakan pada waktu Zuhur dan Ashar. Namun jika salat berjamaah diwaktu Subuh, Maghrib, dan Isya, doa qunut harus dibaca dengan keras.

    Seorang imam yang membaca doa qunut nazilah memiliki opsi untuk mengubah kata ganti sendiri menjadi kata ganti untuk orang banyak. Sementara para makmum cukup mengaminkannya.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Penutup Dzikir Setelah Sholat, Lengkap dengan Latin dan Artinya



    Jakarta

    Sholat adalah salah satu kewajiban utama dalam agama Islam. Melakukan sholat lima kali sehari adalah cara utama umat Islam untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT.

    Dikutip dari buku Kitab Al-Adzkar: Kumpulan Do’a dan Dzikir karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilai, menurut kesepakatan para ulama, membaca dzikir setelah sholat fardhu adalah sunnah. Dzikir adalah perintah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 152,

    فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ ١٥٢


    Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

    Setelah dzikir diucapkan, terdapat doa penutup dzikir setelah sholat. Begini bacaan doa penutup dzikir setelah sholat.

    Doa Penutup Dzikir Setelah Sholat

    Dikutip dari buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap karya Moh. Rifa’i, berikut bacaan doa penutup dzikir setelah sholat,

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

    اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

    رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

    Latin: Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, hamdan yuwaafi ni’amahu wa yukaafii maziidahu. Ya rabbanaa lakal hamdu kamaa yan baghhi lijalaali wajhika wa’azhiimi sulthaanika. Allahumma shalli sayyidinaa ‘alaa muhammad.

    اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ

    Allahumma rabbanaa taqabal minnaa shalaataana washi yaamanaa warukuu’anaa wasujuudanaa wa qu’uudanaa wa tadlarru’anaa, watakhasysyu’anaa wata’abbudanaa, watammim taqshiiranaa Ya Allah Ya Rabbal’aalamiin.

    رَبَّنَا ضَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْ حَمْنَا لَنَكُوْ نَنَّ مِنَ الْخَا سِرِ يْنَ رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِ يْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَتَا لَنَا بِهِ, وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَ نَا فَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَا فِرِيْنَ

    Rabbana dzhalamnaa andusanaa wa-in lam taghfir lana wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin. Rabbanaa wa laa tahmil ‘alainaa ishran kama hamaltahuu’alal ladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maalaa thaaqata lanaa bihii wa’fu ‘annaa waghdfir lanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.

    رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْ بَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَ يْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُ نْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

    Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaab

    رَبَّنَا غْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ أَلْأَ حْيَآءِمِنْهُمْ وَاْلأَ مْوَاتِ, اِنَّكَ عَلَى قُلِّ ثَيْءٍقَدِيْرِ

    Rabbanaghfir lana wa li walidina wa li jami’il-muslimina wal-muslimati wal-mu’minina wal-mu’minati al-ahyai minhum wal amwat innaka ‘ala kulli syai in qadir.

    رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Rabbanaa aatinaa fiddun yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaabannaar

    اللهم اغفر لنا ذنوبناوكفرعنا سيئاتنا وتوفنا مَعَ الْأَ بْرَارِ

    Allahummaghfir lanaa dzunuubanaa wakaffir ‘annaa sayyiaatinaa watawaffanaa ma’al abraari.

    سُبْحَانَ رَبِّكِ رَبِّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْ سَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

    Subhaana rabbika rabbil izzati ‘amma ya shifuuna wa salaamun ‘alal mursaliina wal hamdu lillaahi rabbil’aalamiin

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Dengan puji yang sebanding dengan nikmat-Nya dan menjamin tambahannya.Ya Allah Tuhan Kami, bagi-Mu segala puji dan segala apa yang patut atas keluhuran DzatMu dan Keagungan kekuasaanMu. “Ya Allah! Limpahkanlah rahmat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad dan sanak keluarganya.

    Ya Allah terima sholat kami, puasa kami, ruku kami, sujud kami, duduk rebah kami, khusyu’ kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama sholat ya Allah. Tuhan seru sekalian alam.

    Ya Allah! Kami telah aniaya terhadap diri kami sendiri, karena itu ya Allah jika tidak dengan limpahan ampunan-Mu dan rahmat-Mu niscaya kami akan jadi orang yang sesat. Ya Allah Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan atas diri kami beban yang berat sebagaimana yang pernah Engkau bebankan kepada orang yang terdahulu dari kami. Ya Allah Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan atas diri kami apa yang di luar kesanggupan kami. Ampunilah dan limpahkanlah rahmat ampunan terhadap diri kami ya Allah. Ya Allah Tuhan kami, berilah kami pertolongan untuk melawan orang yang tidak suka kepada agama-Mu.

    Ya Allah Tuhan kami, janganlah engkau sesatkan hati kami sesudah mendapat petunjuk, berilah kami karunia. Engkaulah yang maha Pemurah.

    Ya Allah Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa dosa orang tua kami, dan bagi semua orang Islam laki-laki dan perempuan, orang orang mukmin laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya Engkau dzat Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

    Maha suci Engkau, Tuhan segala kemuliaan. Suci dari segala apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir. Semoga kesejahteraan atas para Rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa untuk Kedua Orang Tua dan Adab yang Harus Diperhatikan


    Jakarta

    Sebagai seorang mukmin, sudah sepatutnya kita mendoakan kedua orang tua. Hal ini menunjukkan bakti kepada keduanya yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

    Secara bahasa, doa artinya memanggil dengan suara dan ucapan sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Bakar Abdul Hafizh melalui buku Al-Ad’iyah fi Al-Qur’an Al-Karim Tafsiruha wa Ma’aniha. Dari segi istilah, doa dimaknai sebagai ibadah.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Isra ayat 23,


    ۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا٢٣

    Artinya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

    Doa yang dipanjatkan oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya merupakan sesuatu yang bernilai besar. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Sungguh seseorang dapat naik kelasnya di surga!’ Seorang sahabat bertanya keheranan, ‘Ya Rasulullah! Dari mana saya mendapatkan tempat setinggi itu?’ Lalu Rasul menjawab, ‘Dengan permohonan ampun anakmu untuk dirimu.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Baihaqi)

    Doa untuk Kedua Orang Tua: Arab, Latin dan Arti

    Merangkum arsip detikHikmah, doa untuk kedua orang tua tercantum dalam surah Al Isra ayat 24,

    رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً

    Arab latin: Rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

    Artinya: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

    Ada juga doa versi lainnya yang dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin dengan bunyi sebagai berikut,

    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

    Arab latin: Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā

    Artinya: “Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.”

    Adab Seorang Anak pada Kedua Orang Tuanya

    Mengutip buku Pelajaran Adab Islam 2 oleh Suhendri, Ahmad Syukri dan Abdul Fatah, berikut adab yang harus diperhatikan seorang anak kepada kedua orang tuanya.

    1. Tidak Meninggikan Suara

    Ketika sedang berbicara dengan orang tua, jangan meninggikan suara. Merendahkan suara dan tidak memandang tajam tergolong sebagai akhlak yang mulia dan sikap penghormatan yang sangat layak untuk diterapkan.

    2. Tidak Mendahului dalam Berkata-kata

    Mempersilakan serta membiarkan orang tua untuk berkata-kata terlebih dahulu dapat menyenangkan hati orang tua. Hal ini dicontohkan dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar RA, ia berkata:

    “Kami pernah bersama Nabi SAW di Jummar, kemudian Nabi bersabda: ‘Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang muslim’ Ibnu Umar berkata: ‘Sebetulnya aku ingin menjawab pohon kurma. Namun karena aku yang paling muda di sini maka aku diam,’ Lalu Nabi SAW pun memberi tahu jawabannya (kepada orang-orang): ‘ia adalah pohon kurma” (HR Bukhari)

    Ibnu Umar RA melakukan hal tersebut karena adanya sahabat lain usianya lebih tua meski bukan orang tuanya.

    3. Selalu Mendoakan

    Sebagai seorang anak, hendaknya kita selalu mendoakan orang tua sebagaimana yang telah diajarkan Allah melalui Al-Qur’an. Jasa mereka yang besar tentu tidak dapat diukur dengan materi.

    Itulah doa untuk kedua orang tua dan adabnya yang harus diperhatikan.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kumpulan Doa agar Dijauhkan dari Fitnah Dunia dan Akhirat


    Jakarta

    Fitnah termasuk ke dalam penyakit hati. Secara harfiah, arti fitnah adalah menyebarkan berita yang tidak benar tentang seseorang dengan tujuan menjatuhkannya.

    Dalam Al-Qur’an, fitnah dijelaskan dalam surah Al Anfal ayat 39 yang berbunyi:

    وَقَاتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ كُلُّهٗ لِلّٰهِۚ فَاِنِ انْتَهَوْا فَاِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ


    Arab latin: Wa qātilụhum ḥattā lā takụna fitnatuw wa yakụnad-dīnu kulluhụ lillāh, fa inintahau fa innallāha bimā ya’malụna baṣīr

    Artinya: “Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”

    Bentuk fitnah dalam Islam terdiri dari berbagai macam. Menurut buku Dosa-dosa Jariah tulisan Rizem Aizid, setidaknya ada tiga bentuk fitnah.

    Pertama, menyebarkan isu yang tidak benar atau gosip. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang diisukan akan merasa sangat dirugikan apabila berita yang disebarkan tidak benar.

    Kedua, menyebarkan berita bohong. Berita bohong dibuat dengan tujuan merusak nama baik orang yang difitnah dan tentunya, informasi tersebut tidak berdasarkan fakta.

    Terakhir, memberikan persaksian palsu. Dalam hal ini, tujuannya untuk membenarkan kejahatan seseorang. Kesaksian palsu termasuk ke dalam fitnah dan tentu dosanya sangat besar.

    Dosa fitnah tercantum dalam surah Al Buruj ayat 10,

    إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam, dan bagi mereka azab neraka yang membakar.”

    Kumpulan Doa agar Dijauhkan dari Fitnah Dunia dan Akhirat

    Mengutip buku Kumpulan Doa-Doa Langit karya Rudiyanto dan buku Setapak Akhir Zaman susunan Thoriq Aziz Jayana, berikut sejumlah doa yang dapat dilafalkan agar dijauhkan dari fitnah.

    1. Doa Dijauhkan dari Fitnah Versi Pertama

    doa dijauhkan dari fitnahDoa dijauhkan dari fitnah

    Arab latin: Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzaabil qabri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min syarri fitnatil masiihid dajjaal

    Artinya: “Wahai Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan-Mu dari siksa neraka jahanam, qubur, fitnah mati, hidup, dan masiihiddajjal (syetan yang menginjak bumi dan banyak bohongnya)”

    2. Doa Dijauhkan dari Fitnah Versi Kedua

    حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

    Arab latin: Hasbunallah wa ni’mal wakil. Ni’mal maula wa ni’man nasir

    Artinya: “Cukuplah bagi kami Allah sebagai penolong dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.”

    3. Doa Dijauhkan dari Fitnah Versi Ketiga

    اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْۤءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاۤءَ الْاَرْضِۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗقَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَۗ

    Arab latin: Amman yujiibu mudhtharra idzaa da’aahu wayaksyifussuu-a wayaj’alukum khulafaa-al ardhi ailahun ma’allahi qoliilan maa tadzakkaruun(a) “a wayaj alukum khulafaa-al ardhi ailahun ma’allahi qoliilan maa tadzakkaruun(a)

    Artinya: “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Hadits yang Membahas tentang Pernikahan, Penting Diketahui Muslim


    Jakarta

    Pernikahan menjadi sebuah jalan untuk mewujudkan asasi dari syariat Islam yaitu menjaga nasab. Hal ini dinilai penting untuk menghindari manusia agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan oleh Allah SWT seperti zina.

    Mengutip buku Serial Hadist Nikah 1 Anjuran Menikah dan Mencari Pasangan susunan Firman Arifandim Lc MA, anjuran menikah tercantum dalam sebuah hadits yang berbunyi,

    “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah lebih mampu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa saja yang tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa. Karena puasa bisa menjadi tameng syahwat baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)


    Dalam buku Fiqih Keluarga Terlengkap karya Rizem Aizid bahkan dijelaskan bahwa pernikahan termasuk ke dalam ibadah yang mulia. Sejumlah dalil mengenai pernikahan juga tersemat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

    Hadits tentang Pernikahan

    Berikut sejumlah hadits yang membahas tentang pernikahan seperti dinukil dari buku Ensiklopedia Fikih Indonesia: Pernikahan susunan Ahmad Sarwat.

    1. Hadits Pernikahan sebagai Penyempurna Iman

    Pernikahan disebut sebagai penyempurna iman seseorang. Hal ini disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani.

    “Siapa yang menikah maka sungguh dia telah menyempurnakan setengah iman, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.” (HR Ath-Thabrani)

    2. Hadits Pernikahan Termasuk Sunnah Rasul

    Salah satu sunnah rasul ialah pernikahan sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dari Abu Ayyub RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Ada empat perkara yang termasuk sunnah para rasul: rasa malu, memakai wewangian, bersiwak dan menikah.” (HR At-Tirmidzi)

    3. Hadits Orang yang Menikah Termasuk Golongan yang Ditolong Allah SWT

    Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Ada tiga golongan yang sudah pasti akan ditolong Allah, yakni: Orang yang kawin dengan maksud menjaga kehormatan diri, seorang hamba yang berjihad di jalan Allah, dan seorang budak yang berusaha memerdekakan diri.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Tarmizi, Ibnu Majah, dan Al Hakim)

    4. Hadits Anjuran Menikah

    Salah satu dari tujuan menikah ialah agar memperoleh keturunan dan meneruskan nasab. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda;

    “Nikahilah wanita-wanita yang bersifat penyayang dan subur (banyak anak), karena aku akan
    berbangga-bangga dengan (jumlah) kalian di hadapan umat-umat lainnya kelak pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabrani)

    5. Hadits Membujang Tanpa Menikah Termasuk Perbuatan yang Tidak Diizinkan Rasulullah SAW

    Terkait hal ini disebutkan oleh Sa’ad. Sa’ad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menolak Usman bin Maz’unin membujang. Seandainya Nabi mengizinkan padanya, niscaya dia melakukannya. (HR Ibnu Majah)

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sehabis Wudhu: Arab, latin dan Terjemahan


    Jakarta

    Umat Islam dianjurkan untuk berdoa sehabis wudhu. Hal ini sebagai bentuk sempurna usai melakukan penyucian.

    Dalam kitab “at-Targib wat-Tarhib,” dijelaskan bahwa setelah berwudhu, seseorang hendaknya berdoa dengan posisi tangan diangkat dan menghadap kiblat. Kemudian wajah dianjurkan untuk mengarah ke langit.

    Menukil buku “Gantung Wudhu” yang ditulis oleh Dr. dr. H. Sagiran, Sp.B, doa yang diucapkan setelah wudhu memiliki makna yang sangat penting. Dalam doa tersebut, kita memohon kepada Allah SWT agar wudhu menjadi sarana untuk meningkatkan ibadah kita dan menjadikan kita lebih bersih, baik secara fisik maupun batin.


    Anjuran untuk berdoa sehabis wudhu berlandasan hadis Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam sebagai berikut:

    مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

    Artinya: “Barangsiapa berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya kemudian ia membaca doa (yang artinya) ‘Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang yang menyucikan diri.’ Maka dibukalah delapan pintu surga untuknya yang dapat ia masuki dari mana saja ia mau.” (HR. Tirmidzi; hadits shahih)

    Doa Setelah Wudhu dan Artinya

    Ada beberapa jenis doa sehabis wudhu yang diajarkan oleh Rasulullah. Dari yang versi pendek hingga panjang.

    Mengutip beberapa sumber, berikut doa sehabis wudhu yang bisa diamalkan.

    Doa Sehabis Wudhu 1

    Doa sehabis wudhu yang pertama diambil dari buku Kumpulan Do’a Sehari-Hari yang diterbitkan oleh Kemenag. Berikut doanya.

    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدُا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ وَاجْعَلْنِى مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

    Bacaan Latin: Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluh. Allaahummaj’alni minat-tawwabina waj’alni minal mutathahirin, waj’alni min ‘ibadikas-sholihin.

    Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang yang menyucikan diri dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.

    Doa Sehabis Wudhu 2

    Merujuk kepada buku “Tuntunan Doa & Zikir untuk Berbagai Situasi & Kebutuhan” karya Ali Akbar bin Aqil, berikut adalah doa setelah wudhu yang kedua.

    أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    Bacaan latin: Asyhaduanla ilaha illallaah wahdahu la syariikalahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu, allaahummaj’alni minat-tawwaabina, waj’alni minal mutathahhirina, subhanakallahumma wa bihamdika, asyhaduanla ilahailla anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu. Aku juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku sebagai salah seorang yang bertaubat dan yang menjalani penyucian diri. Engkau Maha Suci, ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.”

    Doa Sehabis Wudhu 3

    Berikut doa sehabis wudhu ketiga yang dinukil dari kitab “Targib war Tarhib”.

    أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّااللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِ كَ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ عَمِلْتُ سُوْءًاوَظَلَمْتُ نَفْسِى أَسْتَغْفِرُكَ اللَّهُمَّ وَأَتُوْبُ اِلَيْكَ فَاغْفِرْلِى وَتُبْ عَلَىَّ اِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ .اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِى مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ وَاجْعَلْنِى عَبْدًا صَبُوْرًاشَكُوْرًاوَاجْعَلْنِى أَذْكُرُكَ كَثِيْرًاوَأُسَبِّحُكَ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.

    Bacaan latin: Asyhadu an laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rosuluhu. Subhanaka allahumma wabihamdika la ilaha illa anta ‘amiltu suan wadzolamtu nafsi astaghfiruka. Allahumma wa atubu ilaika faghfirli watub ‘alayya innaka antat-tawwabur-rohiimi. Allahummaj ‘alni minat-tawwabina waj’alni minal mutatohirina waj ‘alni min ‘ibaadikas-sholihin waj’alni ‘abdan shoburon syakuron waj’alni adzkuruka katsiron wa asabihuka bukrotan waashila.

    Artinya: Aku bersaksi tidak ada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Aku bersaksi sesungguhnya nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Aku telah melakukan kejahatan dan telah menganiaya diri, maka Aku memohon ampunan-Mu dan Aku kembali bertobat kepada-Mu. Maka ampunilah dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau adalah Zat yang banyak menerima tobat lagi Penyayang. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang mensucikan diri. Jadikanlah aku dari golongan hamba-hamba-Mu yang saleh, jadikanlah aku hamba yang banyak kesabaran(nya) lagi banyak kesyukuran(nya), jadikanlah aku orang yang banyak ingat kepada-Mu dan selalu menyucikan-Mu pagi dan petang.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Hadits yang Membahas Perbuatan Curang, Bukan Termasuk Golongan Umat Nabi SAW


    Jakarta

    Perbuatan curang sama dengan tidak jujur. Dalam Islam, perilaku ini termasuk ke dalam akhlak yang tidak terpuji.

    Menukil dari buku At-Tadzkir susunan Tim Genta Hidayah, perbuatan curang sangat dibenci oleh Allah SWT. Setiap manusia yang berbuat curang akan diadili dengan seadil-adilnya di akhirat kelak.

    Terkait perbuatan curang dalam Al-Qur’an tercantum dalam surah Al Mutaffifin ayat 1-4,


    1. وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ

    Arab latin: wailul lil-muṭaffifīn

    Artinya: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.”

    2. ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ

    Arab latin: allażīna iżaktālụ ‘alan-nāsi yastaufụn

    Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.”

    3. وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

    Arab latin: wa iżā kālụhum aw wazanụhum yukhsirụn

    Artinya: “dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”

    4. أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ

    Arab latin: alā yaẓunnu ulā`ika annahum mab’ụṡụn

    Artinya: “Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.”

    Dijelaskan dalam jurnal Fraud dalam Perspektif Islam Volume 5 Nomor 1 susunan Safuan dan Ismartaya, kecurangan terbagi atas beberapa jenis, yaitu taghrir (menipu), ghabn (menjual dengan harga sangat tinggi), gharar (melakukan transaksi yang tidak jelas), ghulul (korupsi), risywah (suap), dan ihtikar (menimbun).

    Hadits tentang Perbuatan Curang

    1. Hadits Pelaku Curang Tidak Termasuk Golongan Rasulullah SAW

    Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda bahwa orang-orang yang berbuat curang tidak termasuk dari golongannya. Nabi SAW bersabda,

    “Siapa saja menipu (berbuat curang) maka dia bukan dari golonganku.” (HR Muslim)

    Hadits tersebut menyebutkan segala bentuk kecurangan adalah perbuatan tercela. Orang-orang yang berbuat curang tidak dianggap sebagai golongan nabi.

    2. Hadits tentang Pemimpin Curang

    Jika seorang pemimpin curang dan berkhianat kepada rakyatnya, kemudian dia meninggal dalam keadaan belum bertaubat, maka Allah SWT akan mengharamkan surga baginya. Ketetapan tersebut dijelaskan dalam sebuah hadits yang berbunyi:

    “Barangsiapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim)

    3. Hadits tentang Menerima dan Memberi Suap

    Islam melarang umatnya untuk berbuat curang dengan cara menerima dan memberi suap. Hal ini termaktub dalam hadits Rasulullah SAW, ia bersabda:

    “Allah melaknat penyuap dan penerima suap.” (HR Ibnu Majah)

    4. Hadits Berbuat Curang dengan Mengambil yang Bukan Haknya

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Barangsiapa dari kalian yang aku angkat atas suatu amal, kemudian dia menyembunyikan dari kami (meskipun) sebuah jarum atau sesuatu yang lebih kecil daripada itu, maka hal itu termasuk ghulul (pencurian) yang pada hari kiamat akan ia bawa.” (HR Muslim)

    Hadits tersebut menjadi peringatan bagi orang yang diberi amanah kemudian mengambil yang bukan haknya maka dapat dikatakan sebagai korupsi atau mencuri.

    Itulah sejumlah hadits yang membahas tentang perbuatan curang. Semoga kita senantiasa bukan termasuk di antaranya, naudzubillah min dzaalik.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com