Tag: hr. bukhari

  • 13 Rukun Salat yang Wajib Dilakukan agar Ibadah Sah


    Jakarta

    Sebagai ibadah yang wajib dilakukan, salat menjadi fondasi utama bagi seorang muslim. Ibadah ini harus dikerjakan dalam kondisi apa pun, bahkan saat sakit sekalipun.

    Allah SWT telah menegaskan kewajiban salat dalam firman-Nya di surat An-Nisa ayat 103,

    اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا ….


    Artinya: “… Sesungguhnya, salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

    Daftar Lengkap 13 Rukun Salat

    Agar salat kita sah di mata Allah SWT, penting untuk mengetahui dan melaksanakan semua rukunnya dengan benar. Merujuk pada buku Fiqh Salat karya Abu Abbas Zain Musthofa al-Basuruwani, berikut adalah 13 rukun salat yang harus Anda pahami.

    1. Niat

    Niat menjadi rukun pertama dan paling fundamental. Niat harus ada di dalam hati, berisi tujuan spesifik, seperti salat fardhu atau sunnah.

    2. Takbiratul Ihram

    Mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan setinggi bahu. Gerakan ini menandai dimulainya salat.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdulullah bin Umar, beliau berkata:

    “Aku melihat Rasulullah SAW membuka takbir dalam salat, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga menjadikan keduanya sejajar dengan kedua bahunya. Bila Rasulullah SAW bertakbir untuk rukuk, beliau melakukan hal yang sama. Jika beliau mengatakan ‘Sami’allaahu liman hamidah’, beliau melakukan hal yang sama kemudian mengatakan ‘Rabbanaa lakal hamdu’. Namun, beliau tidak melakukan hal itu ketika bersujud, dan tidak pula ketika bangun dari bersujud.” (HR Bukhari, Nasa’i dan Baihaqi)

    3. Berdiri bagi yang Mampu

    Jika tidak memiliki halangan, salat wajib dilakukan dalam posisi berdiri tegak. Namun, jika sakit, diperbolehkan salat sambil duduk, berbaring, atau bahkan hanya dengan isyarat.

    4. Membaca Surat Al-Fatihah

    Wajib membaca surat Al-Fatihah secara lengkap, termasuk basmalah dan 13 huruf bertasydid di dalamnya.

    5. Rukuk

    Membungkukkan badan dengan posisi punggung lurus dan kedua telapak tangan menyentuh lutut. Gerakan ini harus dilakukan dengan tuma’ninah (tenang dan tidak terburu-buru).

    Berikut beberapa bacaan rukuk yang bisa diamalkan:

    سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

    Latin: Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wabihamdihi (3x)

    Artinya: Maha suci Tuhanku yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

    Latin: Subhānakallāhumma rabbanā wa bi hamdik. Allāhummaghfir lī

    Artinya: Mahasuci Engkau ya Allah, Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu wahai Tuhanku. Ampunilah dosaku

    6. I’tidal

    Kembali berdiri tegak dari posisi rukuk dengan tuma’ninah sambil mengangkat kedua tangan diiringi bacaan berikut:

    سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

    Latin: Sami Allahu liman hamidah.

    Artinya: “Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.”

    Kemudian dilanjutkan membaca:

    رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

    Latin: rabbana wa laka al-hamdu.

    Artinya: “Wahai Tuhan kami, bagi-Mu lah segala pujian”.

    7. Sujud Dua Kali

    Melakukan dua kali sujud dengan menempelkan dahi, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung telapak kaki ke lantai. Posisi sujud juga harus dilakukan dengan tuma’ninah.

    Berikut beberapa bacaab sujud yang bisa diamalkan:

    سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

    Latin: Subḥana rabbiyal a’lā wa biḥamdihi

    Artinya: “Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi dan segala puji hanya bagi-Nya.”

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

    Latin: Subhānakallāhumma rabbanā wa bi hamdik. Allāhummaghfir lī

    Artinya: Mahasuci Engkau ya Allah, Tuhan kami. Segala puji bagi-Mu wahai Tuhanku. Ampunilah dosaku

    8. Duduk di Antara Dua Sujud

    Duduk sejenak di antara dua sujud dengan tuma’ninah. Duduk ini dinamakan duduk iftirasy.

    رب اغْفِرلي وَارْحَمْنِى واجبرني وَارْفَعْنِيى وَاهْدِنِى وَعَافِنِى وَارْزُقْنِي

    Latin: Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii wahdinii wa’aafinii war zukni

    Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, perbaikilah keadaanku, tinggikanlah derajatku, berilah aku petunjuk dan anugerahilah aku rizki”.

    Atau bisa juga membaca doa singkat ini:

    رب اغْفِرلي رب اغْفِرلي

    Latin: Robbighfirlii Robbighfirlii

    Artinya: “Ya Allah ampunilah aku, ampunilah aku

    9. Membaca Tasyahud (Tahiyat)

    Membaca bacaan tasyahud saat duduk di antara dua sujud. Mulai dari tasyahud awal dan tasyahud akhir.

    Bacaan tasyahud awal:

    التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِاَ . للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ

    Arab latin: At tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thoyyibaatulillaah. as salaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wabarakaatuh, assalaamu’alaina wa’alaa ibaadillaahishaalihiin. asyhaduallaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammad rasuulullaah. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad.

    Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad.”

    10. Duduk Iftirasy saat Tasyahud

    Duduk iftirasy ketika tasyahud awal. Caranya adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan membentangkan kaki kiri, kemudian menduduki kaki kiri tersebut.

    Sedangkan duduk tawarruk dilakukan di tasyahud akhir. Tawarruk adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri ke depan (di bawah kaki kanan), dan duduknya di atas tanah/lantai.

    11. Membaca Sholawat Nabi Muhammad SAW

    Membaca sholawat Nabi Muhammad SAW pada tasyahud akhir adalah wajib, sementara membacanya pada tasyahud awal hukumnya sunnah.

    Pada tasyahud akhir kita perlu membaca bacaan tasyahud awal dan kemudian dilanjutkan dengan bacaan tambahan sebagai berikut:

    اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَي مُحَمّدْ وعلى آلِ مُحَمَّد كَمَا صَلَّبْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلعَلَي مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد

    Arab latin: Allaahumma shalli’alaa muhammad, wa’alaa aali muhammad. kamaa shallaita alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim. wabaarik’alaa muhammad wa alaa aali muhammad. kamaa baarakta alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim, fil’aalamiina innaka hamiidum majiid.

    Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia.”

    12. Salam

    Mengucapkan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri setelah selesai tasyahud akhir. “Assalamualaikum warrahmatullah”.

    13. Tertib

    Semua rukun di atas harus dikerjakan secara berurutan dan tidak boleh terbalik.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Inilah Golongan Manusia yang Paling Iblis Sukai dan Benci


    Jakarta

    Keberadaan iblis disebutkan dalam sejumlah ayat suci Al-Qur’an. Sebagaimana diketahui, iblis merupakan makhluk yang sombong dan enggan sujud kepada Nabi Adam AS.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 34,

    وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ٣٤


    Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.”

    Iblis tergolong sebagai jin. Diterangkan dalam buku Mengungkap Rahasia Iblis susunan Muhammad Abduh Mughawiri, iblis menaungi tempat yang bernama Al Jazair dan letaknya di atas permukaan bumi.

    Meski dikenal sebagai makhluk yang sangat membenci manusia, ada sejumlah golongan manusia yang paling disukai. Ada juga sejumlah manusia yang ia benci, siapa saja mereka?

    Iblis Suka Manusia yang Kikir dan Benci Manusia yang Pemurah

    Melalui sebuah dialog dengan Nabi Yahya AS, iblis mengungkap golongan manusia yang ia sukai dan benci. Dialog ini tercantum dalam kitab Ihya Ulumuddin susunan Imam Al Ghazali.

    Nabi Yahya AS pernah bertemu dengan iblis dalam bentuk aslinya. Kemudian Yahya AS bertanya, “Hai iblis, terangkan kepadaku tentang manusia yang paling kau sukai dan manusia yang paling kaubenci.”

    Iblis menjawab, “Manusia yang paling kusukai adalah orang mukmin yang kikir dan manusia yang paling kubenci adalah orang fasik yang pemurah,”

    Nabi Yahya AS pun kembali bertanya mengenai alasan mengapa iblis menyukai dan membenci kelompok manusia tersebut, “Mengapa demikian?”

    Lalu, iblis menjawab, kekikiran manusia sudah cukup memuaskan baginya dan sebaliknya, orang dermawan membuatnya takut.

    “Apabila orang yang dermawan (meskipun fasik) melakukan perbuatan dosa, aku takut Allah memperlihatkan kasih sayang-Nya kepada orang itu karena kedermawannnya.”

    Setelahnya, iblis pergi dan berkata lagi, “Jika bukanlah kamu Yahya, niscaya aku tidak akan memberitahukan kepadamu.”

    Bahaya Sifat Kikir bagi Muslim

    Menurut buku Ad Daulah Al Haditsah Al Muslimah; Da’a’imuha wa Wazha ‘ifuha susunan Muhammad Ash Shallabi terjemahan Ali Nurdin, ada sejumlah bahaya sifat bakhil atau kikir bagi muslim.

    1. Rezekinya Sempit

    Manusia yang kikir maka rezekinya akan disempitkan oleh Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda,

    “Janganlah kamu bakhil yang menyebabkan kamu disempitkan rezekimu.” (HR Bukhari)

    2. Jadi Pemutus Silaturahmi

    Kikir adalah sifat yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang sekitar. Jika seseorang mempertahankan sifat kikirnya, maka banyak orang atau saudaranya yang memutus tali silaturahmi dengannya.

    3. Penghalang Seseorang Masuk Surga

    Sifat kikir juga menjadi penghalang seseorang masuk surga. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya,

    “Tidak akan masuk surga orang yang menipu, bakhil, dan orang yang buruk.” (HR At Tirmidzi)

    Naudzubillah min dzaalik.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Pahami Konsep Silaturahmi, Tidak Hanya ke Sesama Manusia



    Jakarta

    Silaturahmi artinya menyambung tali cinta dengan keluarga dan kerabat. Selain itu, silaturahmi juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Rabu (12/4/2023), menuturkan bahwa bulan suci Ramadan menjadi momentum yang paling pas untuk menjalin tali silaturahmi. Dia mencontohkan, kegiatan buka bersama keluarga, salat berjamaah hingga tadarus bersama termasuk ke dalam silaturahmi yang terjalin antar kerabat.

    Adapun, dalil silaturahmi tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al-anshari yang berbunyi:


    تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ، ذَرْهَ

    Artinya: “Beribadahlah pada Allah SWT dengan sempurna jangan syirik, dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan jalinlah silaturahmi dengan orangtua dan saudara,” (HR Bukhari).

    “Konsep silaturahmi ini bukan hanya terbatas kepada sesama umat Islam juga. Apapun agamanya, berapa pun umurnya mari kita silaturahmi,” tuturnya.

    Bahkan, menjalin tali silaturahmi tidak hanya dilakukan kepada yang masih hidup saja. Mendoakan orang yang sudah wafat juga tergolong ke dalam silaturahmi.

    “Hubungan interaktif antara orang hidup dan orang mati itu tidak diingkari dalam Al-Qur’an dan hadits,” kata Prof Nasaruddin menjelaskan.

    Menurutnya, konsep silaturahmi sangat luas. Tidak hanya kepada sesama manusia bahkan makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain seperti binatang dan tumbuhan juga bisa kita jalin silaturahminya.

    Menyiram bunga di pagi dan sore hari hingga tersenyum kepada binatang peliharaan termasuk ke dalam silaturahmi. Prof Nasaruddin juga menyebutkan, silaturahmi tidak hanya dalam bentuk komunikasi verbal antara manusia, melainkan sesuatu dengan niat yang tulus.

    “Jadi inilah yang perlu kita sampaikan kepada jemaah sekalian bahwa silaturahmi itu betul-betul harus ditujukan kepada siapa saja makhluk Allah. Jadi, binatang, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya itu perlu kita lakukan (silaturahmi),” pungkasnya.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Mari Bersilaturahmi bisa disaksikan DI SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Pentingnya Menghargai Tamu



    Jakarta

    Menghargai tamu merupakan satu dari sekian banyak adab yang diatur dalam Islam. Saking pentingnya, menghargai tamu termasuk ciri dari orang yang beriman kepada Allah SWT.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya,” (HR Bukhari dan Muslim).


    Menurut penuturan Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Senin (17/4/2023), menghargai tamu menjadi bentuk respect kita terhadap Allah SWT. Tamu yang datang bukanlah hanya sekadar tamu, tapi juga tamu Allah.

    “Jika memelihara tamu, menjemput tamu, memberikan fasilitas, respect terhadap tamu, berarti kita respect terhadap Allah SWT,” ujarnya.

    Semakin rajin dan aktif kita menerima tamu, semakin aktif juga Allah akan berbuat baik kepada kita. Menghargai tamu tidak hanya dianjurkan kepada sesama kaum muslim, melainkan juga non muslim sekali pun.

    Saking mulianya tamu, Allah SWT membawa rezeki melalui tamu yang datang. Jatah makan dan minum yang diberikan kepada tamu akan dilipatgandakan oleh Allah dan diberi pahala yang berlimpah.

    “Nah inilah saya ingin menyadarkan diri saya dan kita semuanya bapak ibu, mari kita jadikan tamu itu tamunya Allah. Bukan tamu kita. Mari kita menghormati, menghargai, berikan apa yang ada pada diri kita sendiri tanpa harus memaksakan diri,” ujar Prof Nasaruddin.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, semakin rajin seseorang menerima tamu maka Allah SWT akan memberikannya rezeki dan berkah. Karenanya, ia mengimbau kaum muslimin untuk menghargai dan menerima tamu sebaik mungkin.

    Tetapi, apabila kita masih merasa tamu sebagai beban, merepotkan, hingga menyita waktu maka kita tergolong orang yang belum bersahabat dengan Allah. Sebab, Allah SWT menganjurkan umatnya untuk menjamu memelihara tamu yang berkunjung.

    Rasulullah SAW sendiri mencontohkan kepada para sahabat dan umatnya dalam memperlakukan tamu sebaik-baiknya karena menghormati dan memuliakan orang lain adalah adab dalam Islam wajib diamalkan oleh semua umat muslim. Terlebih, apabila tamu tersebut datang dari tempat yang sangat jauh.

    Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Adab Menghargai Tamu dapat disaksikan DI SINI.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Penyebab Jodoh Tak Kunjung Datang



    Jakarta

    Jodoh merupakan rahasia Allah SWT yang waktunya telah ditetapkan oleh-Nya. Ada beberapa hal yang menyebabkan jodoh tak kunjung datang.

    Menurut Habib Ja’far, hal pertama yang harus kita sadari terkait hal ini adalah bahwa jodoh itu akan datang di waktu yang tepat, bukan di waktu yang cepat. Ia mengatakan, bisa saja jodoh yang tak kunjung datang ini adalah cara Allah SWT agar kita lebih siap mendapatkan jodoh terbaik.

    “Dengan begitu bisa jadi apa yang kau sebut sebagai keterlambatan datangnya jodohmu itu adalah cara Allah untuk menyiapkan kamu guna mendapatkan jodoh terbaik atau menyelamatkan kamu dari terjebaknya pada hubungan yang toxic,” kata Habib Ja’far dalam detikKultum detikcom, Rabu (19/4/2023).


    Karena itu, kata Habib Ja’far, kita tidak boleh berprasangka buruk atas ketetapan Allah SWT terhadap jodoh kita. Kita perlu yakin bahwa tidak ada kata terlambat pada jodoh jika telah mengupayakan secara lahir dan batin.

    Habib Ja’far menukil sabda Nabi SAW bahwasanya pernikahan itu adalah bagi yang mampu dan jika tidak mampu maka kita dianjurkan untuk berpuasa. Rasulullah SAW bersabda kepada seorang pemuda,

    يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

    Artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).’” (HR Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)

    Habib Ja’far menjelaskan, mampu dalam hal ini bukan hanya secara fisik, tapi juga kemampuan dari segi finansial, terutama bagi laki-laki yang menjadi pemberi nafkah. Juga dalam hal kesiapan mental.

    Kemungkinan yang kedua, kata Habib Ja’far, bisa saja Allah SWT telah memberikan petunjuk tentang siapa jodoh kita, tapi kita lalai dan akhirnya mengabaikan petunjuk tersebut.

    Bagaimana agar kita peka terhadap petunjuk Allah SWT tentang jodoh kita? Selengkapnya detikKultum Habib Ja’far: Penyebab Jodoh Tak Kunjung Datang tonton DI SINI.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Khutbah Jumat Bulan Muharram Bahasa Jawa Tema Amaliah Suro


    Jakarta

    Pekan depan umat Islam sudah memasuki Tahun Baru Islam 1446 H yang jatuh pada 1 Muharram. Ini menjadi momen yang tepat bagi khatib Jumat untuk menyampaikan khutbah Jumat bulan Muharram bahasa Jawa pekan ini.

    Masyarakat muslim Jawa menyebut Muharram sebagai bulan Suro. Muharram atau Suro adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah/Jawa.

    Muharram termasuk satu bulan haram atau bulan yang disucikan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,


    “Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun ada dua belas bulan, darinya ada empat bulan haram, tiga di antaranya adalah Zulkaidah, Zulhijah dan Muharram, sedangkan Rajab adalah bulan Mudhar yang di antaranya terdapat Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari Muslim)

    Khutbah Jumat Bulan Muharram Bahasa Jawa

    Berikut empat contoh naskah khutbah bulan Muharram bahasa Jawa yang bisa menjadi referensi khatib Jumat pekan ini.

    1. Miwiti Wulan Muharram Kanthi Amal Kasaenan

    أَلْخُطْبَةُ الْأُوْلَى

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُصَرِّفِ الْأَوْقَاتِ وَالدُّهُوْرِ. وَمُدَبِّرِ الْأَحْوَالِ فِى الْأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ. وَمُسَهِّلِ الصِّعَابِ وَمُيَسِّرِ الْأُمُوْرِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الرَّحِيْمُ الْغَفُوْرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهَ وَرَسُوْلُهُ الشَّكُوْرُ الصَّبُوْرُ.

    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ وَضَاعِفِ اللَّهُمَّ لَهُمُ الْأُجُوْرَ.

    أمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ, فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى.

    Jamaah sholat Jumat hafidhakumullah,

    Monggo sareng-sareng ningkataken taqwalloh, ajrih dumateng ngarsonipun Alloh, kanti nindaaken sedoyo printah-printah-Ipun soho nebihi sedoya awisan-awisan-Ipun. Sepados kitho sedoyo manggehaken kawilujengan soho kebahagiaan wonten ing dunyo ngantos akhiratipun.

    Gilir-gumantinipun dinten, wulan soho tahun estu cepet sanget. Mboten krahos, kita sampun lumebet wonten tahun hijriyah engkang enggal, 1446. Kanthi datengipun tahun enggal, ateges soyo caket kita dateng ajal utawi kematian. Kontrak gesang kita wonten ngalam dunyo ugi soyo telas.

    Subhanallah, Alloh Subhanahu wa Ta’ala andadosaken awal tahun hijriyyah dipun wiwiti kalian wulan haram, lan ugi dipun pungkasi kalian wulan haram. Tahun hijriyyah dipun wiwiti wulan Muharram lan dipun pungkasi kaliyan wulan Dzulqo’dah. Dipun wastani wulan Muharram, kranten Alloh swt ngararamaken peperangan lan konflik wonten ing wulan mulyo meniko. Wulan Muharram meniko ugi kalebet wulan-wulan harom, inggih meniko Muharram, Dzulhijjah, Dzulqo’dah, lan Rojab.

    Imam Fakhruddin ar-Razi wonten Tafsiripun anjelasaken bilih saben-saben penggawe maksiat wonten wulan harom bade kawales sikso engkang aurat, semanten ugi, nindaaken ibadah dateng Alloh bade dipun lipatgandaaken ganjaranipun. Panjenenganipun ngendiko:

    وَمَعْنَى الْحَرَمِ: أَنّ الْمَعْصِيَّةَ فِيْهَا أَشَدُّ عِقَاباً وَالطَّاعَةَ فِيْهَا أَكْثَرُ ثَوَاباً

    “Maksud tembung haram inggih meniko, estu nindaaken maksiat wonten wulan kasebat kabales sikso engkang berat, lan nindaaken taat wonten wulan kasebat ganjaranipun langkung kathah.”

    Jamaah sholat Jumat hafidhakumullah,

    Wulan Muharram meniko momentum sae kangge ningkataken kesaenan soho ketakwaan dateng Allah. Kita kedah ngoptimalaken wulan meniko kanthi nindaaken macem-macem amal kesaenan, hinggo wulan-wulan candakipun kita bade gampil nindaken soho ningkataken macemipun amal kesaenan. Paro ‘ulomo andawuhaken:

    مَنْ كَانَتْ بِدَايَتُهُ مُحْرِقَةً كَانَتْ نِهَايَتُهُ مُشْرِقَةً

    “Sopo wae kang kawitan e ngobong (tenanan), mongko pungkasane dadi padang (gampang).”

    Kita kedah anggadahi tekat kuat nindaaken amal kesaenan wonten awal tahun meniko, sami ugi amalan umum utawi amalan khusus wonten wulan Muharram meniko. Amalan-amalan khusus engkang dipun perintahaken kagem kita wonten wulan Muharram antawisipun:

    Ngthah-ngathahaken poso sunnah mutlak

    Poso mutlak inggih puniko poso engkang kita tindaaken kanthi niyat nambah ganjaran soho ngeparek dateng ngarso Alloh. Kita pareng nindaaken siyam wonten sebagian besar dinten wulan Muharram meniko. Sami ugi wonten dinten-dinten awal, pertengahan utawi dinten-dinten akhir. Hal meniko dipun dasaraken kaliyan dawuh pangandikonipun Kanjeng Nabi SAW:

    أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ. (رواه مسلم)

    “Poso paling utami sak ba’dane wulan Romadhon inggih puniko poso wonten wulanipun Alloh engkang nami Muharram.” (HR Muslim)

    Nindaaken poso ‘Asyuro’

    Poso Asyura’ inggih puniko poso tanggal sedoso Muharram. Keutamaanipun poso Asyuro’ meniko saget anglebur doso-doso setahun ingkang sampun kalampah. Abu Qotadah al-Anshori RA ngendiko:

    سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ. (رواه مسلم)

    “Rosul SAW nate dipun dangu poso dinten ‘Asyura’, lajeng panjenenganipun njawab: “Ngebur doso-doso setahun engkang klewat.” (HR Muslim)

    Nyampurnaaken kanthi poso Tasu’a

    Poso Tasu’a’ inggih meniko poso tanggal songo wulan Muharram. Arikolo sugengipun Rasulalloh saw dereng sempat nindaaken siyam meniko. Mung kemawon, setunggal tahun sak derengipun wafat panjeneganipun bertekat bade nindaaken poso Tasu’a’ meniko kanthi dawuh:

    لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ. (رواه مسلم)

    “Yekti lamun aku menangi urip tahun ngarep, aku arep poso dino kaping songo (Muharrom).” (HR Muslim)

    Sampun kita maklumi, bilih tyang-tyang Yahudi lan tyang-tyang Arab jahiliyyah sami nindaaken siyam tanggal sedoso Muharram. Kranten meniko, Rosul saw nambahaken siyam tanggal songo Muharram supados kaum muslimin mbenteni kaliyan tyang-tyang Yahudi soho kaum musyrikin, serto mboten nyeruponi ritual ibadahipun.

    Maringi tambahan nafkah kagem anak istri

    Rasulalloh Muhammad SAW dawuh:

    مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سّنَتَهُ كُلَّهَا. (رواه الطبراني)

    “Sopo wonge pareng kajembaran nafkah kanggo keluwargane ono dino ‘Asyura’, Alloh bade pareng jembare rizki sepanjang tahun.” (HR ath-Thabrani)

    Mboten wonten lepatipun wenawi kita nambah arto belanjo kagem keluwargo wonten wulan Muharram lan wulan-wulan sak candakipun. Kejawi mergi kebetahan pokok saben tahun pancen mindak reginipun, ugi ganjaran pareng nafkah dateng keluwargo langkung ageng. Ibnu Uyainah ngendiko: “Aku wes buktikake selami seket tahun utawi suwidak tahun, aku ora ningali kejobo keapikan.”

    Jamaah sholat Jumat hafidhakumullah,

    Sebab menopo tanggal sedoso Muharram dipun sebat dinten ‘Asyuro’? Badaruddin al-‘Aini wonten kitabipun Umdatul Qari’ anjelasaken setunggal pendapat bilih wonten dinten ‘Asyura’ Alloh pareng kemulyaan soho kehormatan dateng sedoso nabi-Nipun. Inngih meniko: (1) kemenangan Nabi Musa dateng Fir’aun, (2) pendaratan kapal Nabi Nuh, (3) keselamatan Nabi Yunus medal saking perut ikan, (4) ampunan Alloh dateng Nabi Adam AS, (5) keselamatan Nabi Yusuf medal saking sumur pembuangan, (6) kelahiran Nabi Isa AS, (7) ampunan Alloh kagem Nabi Dawud, (8) kelahiran Nabi Ibrahim AS, (9) Nabi Ya’qub saget mersani malih, lan (10) ampunan Alloh kagem Nabi Muhammad, sami ugi kesalahan engkang sampun klewat utawi engkang bade katindaaken.

    Kejawi meniko, poro ulomo ugi anjelasaken keistimewaan-keistimewaan poro nabi wonten dinten ‘Asyura’, kados minggahipun Nabi Idris dateng panggenan wonten langit, sembuhipun Nabi Ayub saking penyakit, lan pengangkatan Nabi Sulaiman dados raja.

    Saking kedodosan-kedadosan wonten nginggil, dinten ‘Asyuro’ meniko dinten engkang sanget istimewa. Kranten meniko, dinten ‘Asyura’ dados momentum sae kagem nulodoni akhlak poro nabi, akhlak engkang mulyo, lemah lembut, soho menjunjung tinggi kasih sayang, bebagi dateng anak-anak yatim, tuwin kerukunan. Ngedohi keawonan, penghinaan, kekerasan, permusuhan, lan adu domba. Imut, kesaenan wonten wulan meniko dipun lipatgandaaken ganjaranipun. Keawonan wonten wulan meniko dipun lipatgandaaken dosa lan malapetakanipun.

    Jamaah sholat Jumat hafidhakumullah,

    Mugi-mugi kanti ngoptimalaken wulan Muharrom meniko kanthi nindaaken amal-amal kesaenan, Alloh pareng kemudahan kita ngoptimalaken wulan-wulan candakipun kanti amal-amal kesaenan hinggo kita saget anggayuh kebahagiaan wonten dunyo lan keselamatan wonten akhirat. Aamiin.

    وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ. وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ. إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

    باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

    أَلْخُطْبَةُ الثَّانِيَّةُ

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى. وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ. أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ارْفَعْ وَادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْن وّفِرُوسْ قَرَنَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ،عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ والْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيأ حَسَنَةً, وَفِى ألآخِرَةِ حَسَنَةً, وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعّالّمِيْنَ.

    عِبَادَ اللهِ. إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُؤْتِكُمْ. وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

    Naskah khutbah Jumat bulan Muharram bahasa Jawa ini ditulis Wakil Katib PCNU Ponorogo seperti dilansir NU Ponorogo.

    2. Makno Hijroh Wulan Muharram

    Khutbah I:

    اَلْحَمْدُ للّٰه الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه ، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين

    أَمَّا بَعْدُ: فَياَ اَيُّهاَ الْحَاضِرُوْنَ ، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ: إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَٰهَدُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أُولَٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللهِۚ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

    Jamaah Jumat ingkang minulyo

    Monggo kito tansah netepi lan ningkataken takwo dumateng Gusti Allah kanti ngelampahi sedoyo perintahipun soho nebihi sedoyo awisanipun ngantos kito mbenjing pejah kelawan netepi agomo Islam. Gusti Allah dawuh wonten surat Ali Imran, 102:

    يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    “Hei wong-wong kang podo iman, takwoho siro kabeh marang Gusti Allah kanti saktemene takwo, lan ojo mati kejobo netepi Islam.”

    Salah setunggale tindak lampah ingkang kalebet takwo nggih meniko noto niat hijroh tumuju maring Gusti Allah lan Rasulullah. Kanjeng Nabi dawuh:

    إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

    “Anging pestine piro-piro amal niku diukur saking niyate lan saben awak-awakan niku dipun tingali saking nopo-nopo ingkang diniati, sopo wonge hijrohe marang Gusti Allah lan Rasule, mongko hijrohe marang Gusti Allah dan Rasule, lan sopo wonge hijrohe krono dunyo utawi tiyang istri kang bakal dinikahi, mongko hijrohe tumuju marang perkoro kang diniati.” (HR Bukhari, Muslim)

    Wonten Syarah Arbain anggitanipun Ibnu Daqiq mertelaaken bilih hadits meniko salah setunggale punjere Islam. Imam Syafii lan Imam Baihaqi dawuh bilih hadits kasebat kalebet sepertelune ilmu. Amergi pitung puluh bab fikih melebet wonten hadits niki.

    Hadirin ingkang dipun rahmati Allah

    Saking hadits meniko, kito tiyang muslim kedah noto niat sae anggenipun hijroh, keranten sedoyo tindak lampah ingkang angsal ganjaran agung meniko saking niatipun piyambak-piyambak. Kanjeng Nabi dawuhaken maknone hijroh nggih meniko:

    الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

    “Tiyang muslim niku tiyang ingkang nyelametaken muslim lintu saking lisan lan tangane, tiyang hijroh niku tiyang ingkang ninggal larangane Gusti Allah.” (HR. Bukhari)

    Sakmangke wulan Dzulhijjah bade telas lan melebet wulan Muharram, setunggale wulan ingkang mulyo lan dados tahun barune umat Islam, tahun baru hijriah. Kito sedoyo dipun sunnahaken nindakaken amal kesaenan kados dene wulan mulyo lintu. Gusti Allah dawuh:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

    “Saktemene itungane wulan mungguhe Gusti Allah iku rolas wulan, miturut pepesten Gusti Allah ingdalem nalikane nitahaken langit bumi. Ing antawisipun wonten sekawan wulan mulyo (harom). Meniko pepesten agomo kang lurus.” (At Taubat: 36)

    Wulan-wulan harom dipun tafsiri Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah. Imam Fakhruddin Arrazi ing tafsir Arrazi juz 16, halaman 53 mertelaaken makno “harom” niku saben tindak lampah maksiat ing wulan harom bakal dipun wales sikso gede, ugi tindak lampah kesaenan lan ibadah maring Gusti Allah bakal dipun wales ganjaran ingkang agung.

    وَمَعْنَى الْحَرَمِ: أَنّ الْمَعْصِيَةَ فِيْهَا أَشَدُّ عِقَاباً ، وَالطَّاعَةُ فِيْهَا أَكْثَرُ ثَوَاباً

    “Makno harom niku tegese maksiat ing wulan meniko merkoleh sikso ingkang abot lan taat ing wulan meniko bakal merkoleh ganjaran ingkang agung.”

    Jamaah Jumat rahimakumulLah

    Pramilo, ing wulan meniko monggo sami ningkataken amal kesaenan lan njungkung ibadah dumateng Gusti Allah, keranten wulan Muharram nggadah kautaman ingkang katah sanget. Ampun ngantos kito angguraken mboten wonten kesaenan babar pisan.

    Abu Na’im ing kitab Hilyatul Auliya’ juz 9 halaman 269 negesaken:

    مَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ فِي نُقْصَانٍ

    Artosipun: Sopo wonge dino iki kahanane podo karo dino wingi, mongko piyambake wonten kekirangan

    Monggo, hijroh ing wulan Muharram kedah dipahami ninggalaken perkawis ingkang awon, penggawe maksiat tumuju marang perkawis ingkang dipun perintah Gusti Allah lan nderek pituduh saking Kanjeng Nabi serto njagi guyub lan rukun. Mugi kito tansah pinaringan rohmat lan maunah saking Gusti Allah.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II:

    اَلحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ. وَأَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالبَشَرِ. اَللَّهُمُّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ

    أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبادَ الله إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَخُضُوْرِ الجُمُعَةِ وَالجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ المُسَبِّحَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيَّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وِسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

    اللَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَهلِكِ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اَمِنَّا فِى دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمَوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالوَبَاءَ والرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بِلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ المُسلِمِينَ العَامَّةً يَارَبَّ العَالَمِينَ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبادَ الله ! إِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى القُربَى وَيَنْهَى عَنِ الفَخْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرُوْنَ, فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكبَرُ

    3. Ngusap Sirahe Bocah Yatim ing Wulan Muharram

    Khutbah I:

    اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    Hadirin Jamaah Jumat rahimakumulLah

    Monggo kito sami netepi lan ningkataken takwo dumateng Gusti Allah kanti tansah nindakaken sedoyo perintahipun soho nebihi sedoyo awisanipun ing panggenan pundi kemawon, rame utawi sepi. Amergi kelawan takwo kito sedoyo bakal pikantuk kabegjan lan selamet dunyo akherat, kempal kaliyan tiyang-tiyang ingkang temen anggenipun taat dumateng perintahe Gusti Allah.

    Gusti Allah dawuh:

    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

    “Hei wong-wong kang podo iman, takwoho siro kabeh marang Allah, lan kumpulo sertane wong-wong kang temen. ” (At Taubah: 119)

    Sholawat serto salam keaturaken dumateng Kanjeng Nabi Muhammad ingkang sampun nuduhaken kito marang dalan ingkang jejeg, sehinggo kito paham iman, islam lan ihsan. Ugi saking Kanjeng Nabi Muhammad, kito sedoyo ngajeng syafaatipun mbenjang dinten kiamat.

    Wonten wekdal meniko, wulan Muharram katah tiyang ingkang sami cancut taliwondo nindaaken amal ibadah kranten ganjaranipun ageng sanget. Ing antawisipun amal kesaenan ingkang masyhur nggih puniko ngusap sirahe bocah yatim

    Setunggale hadis bab ngusap sirah bocah yatim dipun riwayataken Imam Ahmad saking Abi Umamah:

    أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ وَفَرَّقَ بَيْنَ اُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

    “Saktemene Rasulullah dawuh, sopo wonge ngusap sirahe bocah yatim krono Allah, mongko saben rambut kang diusap bakal dipun wales kelawan sepuluh kesaenan, lan sopo wonge tumindak bagus marang bocah yatim; wadon utowo lanang onok sandinge, mongko ingsun lan wong kolowau ingdalem suwargo koyo dene driji loro iki. Kanjeng Nabi aweh isyarat driji telunjuk lan tengah.”

    Hadis niki pertelo sanget, bilih tiyang ingkang ngusap sirahe bocah yatim, estri utowo jaler, mongko bakale mlebet suwargo saget gandeng kaliyan Kanjeng Nabi Muhammad.

    Jamaah Jumat ingkang minulyo

    Tumindak bagus dumateng bocah yatim niku saget dipun wiwiti kaliyan wigati, perhatian. Langkung-langkung ngusap sirahe. Kranten saking hadis wonten inggil dipun pertelaaken bilih ngusap sirah bocah yatim bakal pikantuk ganjaran ageng.

    Saklintune pikantuk ganjaran, ngusap sirah bocah yatim nggadah kautaman ingkang dipun sebataken:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ

    “Diriwayataken saking Abu Hurairah, saktemene onok wong lanang wadul marang Kanjeng Nabi babakan atose ati, lajeng Nabi ngendikan: ngusapo sirahe bocah yatim lan aweho daharan marang wong miskin.” (HR Ahmad)

    Hadis meniko negesaken bilih tumindak bagus dumateng bocah yatim lan aweh daharan tiyang miskin niku kautamane saget nyebabaken ati ingkang atos dados empuk. Sinten kimawon ingkang atine peteng lan atos obate arupi ngelampahi ngusap sirah bocah yatim lan aweh daharan fakir miskin, kranten saget dados tombo ati, ugi nukulaken raos welas asih lan trisno.

    Hadirin ingkang sami pinaringan kabegjan

    Ngusap sirah bocah yatim niku saget dipun maknani dados lambange welas asih antawisipun tiyang sepuh dumateng bocah alit lan trisnane bocah marang bopo. Leres nopo ingkang dipun dawuhaken ing setunggale hadis riwayat saking Ibn Abbas:

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَ عَنْ الْمُنْكَرِ

    “Diriwayataken saking Ibn Abbas, piyambake dawuh, Rasulullah ngendiko: Ora kelebu golongan ingsun, wong kang ora welas marang bocah cilik, ora ngajeni wong sepuh, ora ngajak marang kebagusan, lan ora nyegah kemungkaran.” (HR Tirmidzi)

    Pramilo, monggo kito sami njagi, mbudidayaaken welas asih dumateng bocah yatim, fakir miskin. Lan mugi-mugi kelawan lantaran welas asih, penggalih kito sedoyo dados empuk lan tansah pikantuk ridone Gusti Allah. Amiin.

    بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II:

    اَلحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ. وَأَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالبَشَرِ. اَللَّهُمُّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ

    أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبادَ الله إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَخُضُوْرِ الجُمُعَةِ وَالجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ المُسَبِّحَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيَّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وِسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

    اللَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَهلِكِ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اَمِنَّا فِى دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمَوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالوَبَاءَ والرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بِلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ المُسلِمِينَ عَامَّةً يَارَبَّ العَالَمِينَ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبادَ الله ! إِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى القُربَى وَيَنْهَى عَنِ الفَخْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرُوْنَ, فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكبَرُ

    Dua contoh naskah khutbah Jumat di atas dilansir dari NU Jatim.

    4. Amaliah Sasi Suro

    Contoh naskah khutbah Jumat selanjutnya berjudul Amaliah Sasi Suro Syekh Abdul Hamid. Khutbah ini disusun Tim al-‘Imaroh Lembaga Pelatihan Manajemen Keta’miran dan Waqaf.

    الْحَمْدُ لِلهِ … الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الزَّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيُعَظَّمُ فِيهَا الْأَجْرُ والحَسَنَاتُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ فِي أَنْحَاءِ البلاد.

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ . قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةً حُرُمُ [التوبة/٣٦]

    Hadirin jamaah Jumat rahimakumulLah

    Saka ndhuwur mimbar meniko, dalem paring piweling marang kito sedoyo, khususe khotib kiyambak, supados tansah ngupaya nambahi taqwa marang Allah subhanahu wa ta’ala kanthi nindakake sedanten kuwajiban kanthi tekad lan mantep e manah, lan ngedohi sedanten larangan ipun Allah kanthi kebak tabah lan sabar. Sebab kanthi mangkono, gesang kito bakal cocok kalian tujuan kito dipun ciptaaken Allah.

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

    “Lan Ingsun ora nitahake jin lan manungsa kajaba mung supaya padha nyembah marang Ingsun.” (Az Zariyat: 56)

    Jamaah Jumat rahimakumullah..

    Mboten dangu maleh kita bakdene ninggalake Dzulhijjah, wulan pungkasan tahun 1445 H lan lumebet wonten sasi Muharram, wulan awal taun anyar 1446 H. Wong Jawa nyebutake wulan Muharram “Sasi Suro” lan wonten acara gedhe sing diarani ” Bodo Suro”. Tumrap umat Islam, Muharram pancen mujudake momen sing mulya amargi wulan meniko minangko wulan pertama taun anyar. Wajar menawi ing kawontenan punika dipun wastani “Hari Raya Kaum Muslimin” sebab wonten ing wulan Muharram kathah kenang-kenangan lan ing salebetipun punika wonten amalan-amalan sunnah ingkang dipun anjuraken sanget.

    Jamaah Jumat rahimakumullah..

    Ing antarane amalan ing wulan Muharram yaiku: Kapisan, ngatah-ngatah aken siyam kados ingkan sampun dipangandikakake dening Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    أَفْضَلُ الصَّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ (رواه مسلم)

    “Poso sing paling apik sawise Ramadhan yaiku poso ing wulan Muharram lan paling apik shalat sawise shalat fardhu yaiku shalat wengi.” (HR Muslim)

    Nalika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ditakoni babagan pasa ‘Asyura’, panjenengan ipun mangsuli:

    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامُ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ. سنن ابن ماجه – (ج ٥ ص ٢٧٣)

    “Puasa ing dina Asyura, sejatine aku mikir yen Allah bakal ngilangi kesalahane taun kepungkur.” (HR Ibnu Majah)

    Kapindho, sunnah kanggo kita nambahi belanja kanggo kulawarga kita ing dina kaping sepuluh Muharram. Iki adhedhasar pangandikane Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

    قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم : مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ . شعب الإيمان – البيهقي – (ج ٣ ص ٣٦٦)

    “Sing sapa nambahi belanja kanggo nafkah kulawargane (garwane, anak lan wong kang dikaruniai) ing dina Asyura, Allah bakal nambahi rezekine ing salawase taun.” (HR al-Baihaqi)

    Jamaah Jumat rahimakumullah..

    Para ulama nggolongake jinis-jinis amalan inggkang sahe ditindakake ing wulan Muharram, yaiku: sholat, siyam, njagi silaturahmi, sedekah, adus, nganggo celak moto, ziarah marang ulama (urip lan mati), ziarah wong lara, nambah blonjo / nafkah keluarga, ngetok i kuku, ngusap sirah anak yatim lan maca surat al-Ikhlas kaping 1000 ambalan.

    Mula Syekh Abdul Hamid ing kitab Kanzun Naja was Surur Fi Ad’iyyati Tasyrahus Shudur nyimpulake amalan sing disaranake ing wulan Muharrom:

    فِي يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ عَشْرٌ تَتَّصِلْ بِهَا اثْنَتَانِ وَلَهَا فَضْلُ نُقِلْ صُمْ صَلِّ صَلِّ زُرْ عَالِماً عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسُ الْيَتِيمِ امْسَحْ تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ وَسَّعْ عَلَى العِيَالِ قَلِمْ ظُفْرَا وَسُوْرَةَ الْإِخْلَاصِ قُلْ أَلْفَ تَصِلْ

    “Ing wulan Asyura iku ana sepuluh amalan, ditambah karo amalan loro sing luwih sampurna. Puasa, sholat, terus silaturahmi, ziarah wong solehah, ziarah wong sing lara lan nyelak i mripat, usap sirah bocah yatim, sedekah, lan adus, nambah nafkah e keluarga, ngethok kuku, maca surat Al-Ikhlas kaping sewu.”

    Jamaah Jumat rahimakumullah..

    Muga-muga pergantian taun hijriyah nggawa berkah kanggo umur kita kanthi sinau lan ngisi nilai-nilai positif ing njerone, yaiku amliyah ala ahli sunnah wal jawmaah. Amin Ya Robbal Alamin

    Tahun dalam naskah khutbah Jumat bulan Muharram bahasa Jawa yang bertema amaliah Suro tersebut telah disesuaikan.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Kamilin Tarawih Lengkap dalam Arab, Latin, dan Artinya



    Jakarta

    Melaksanakan salat tarawih pada saat bulan Ramadan pasti menjadi amalan yang dilakukan banyak orang. Dalam pelaksanaannya, ada bacaan doa kamilin yang dilafalkan oleh jemaah setelah salat tarawih.

    Mengutip buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan karya Abu Maryam Kautsar Amru, ketika selesai melakukan rakaat salat tarawih kemudian mulai memasuki salat witir, ada jeda di antara keduanya. Jeda tersebut kemudian dipimpin oleh seorang bilal dengan membaca doa yang diikuti oleh para jemaah.

    Doa yang dibaca tersebut disebut dengan doa kamilin. Berikut adalan bacaan doa kamilin yang dikutip melalui buku Doa-doa Mustajabah karya Abu Qalbina.


    Bacaan Doa Kamilin Tarawih dalam Arab, Latin, dan Artinya

    اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِالإيْمَانِ كَامِلِيْن وَلِلفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنِ وَلِلصَّلاةِ حَافِظِيْنِ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْن وَلَمِا عِنْدَكَ طَالِبِيْنِ وَلِعَفْوكَ رَاجِيْنِ وَبِالْهُدَي مُتَمَسِّكِين وَعَن اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنِ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْن وَفِي الآخِرَةِ رَاغِيين وبالقضَاءِ رَاضِينِ وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنِ وَعَلي البَلَاءِ صَابِريْن وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنِ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنِ وَإِلَى الجَنَّةِ دَاخِلِيْن وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنِ وَعَلَى سَرِيْرِ الكَرَامَةِ قَاعِدِيْنِ وَمِنْ حُوْرٍ عِينٍ مُتَزَوِّحِينِ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاج مُتَلبِّسِيْن وَمِنْ طَعَامِ الجَنَّةِ آكِلِينِ وَمِنْ لَّبَن وَعَسَلٍ مُصَفًّى شاريين بأكْوَابٍ وَأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ مَعَ الَّذِي أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّين وَالصَّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِوَالصَّالِحِيْن وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بالله عَلِيْمًا اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي لَيْلَةِ هَذا الشَّهْرِ الشَّرِيفَةِ المُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقْبُوْلِيْن وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينِ

    Arab latin: “Allâhummaj’al bil îmâni kâmilîn wa lilfarâidhi muaddîn wa lishshalâti hâfidzîn wa lizzakâti fâ’ilîn wa limâ ‘indaka thâlibîn wa li’afwika râjîn wa bil hudâ mutamassikîn wa ‘anillaghwi muʼridhîn wa fid-dunyâ zâhidîn wa fîl âkhirati râghibîn wa bil gadhâ’i râdhîn wa lin-na’mâ’i syâkirîn wa ‘alâl balâ’i shâbirîn wa tahta liwâ’i Muhammadin shallallahu ‘alayhi wa sallama yawmal qiyâmati sâirin wa ilâlhawdhi wâridîn wa ilâl-jannati dâkhilîn wa minan-nâri nâjîn wa ‘alâ sarîr al-karâmati qâ’idîn wan hûrin “în mutazawwijîn wa min sundusin wastabraqin wa dîbâjin mutalabbisin wa min tha’âmil jannati âkilîn wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn bi akwâbin wa abârîqa wa kaʼsin min maʼîn ma’alladzî an’amta ‘alayhim minannabiyyîn wash-shiddîqîn wasy-syuhâdâ’ wash-shâlihîn wa hasuna ulâ’ika rafîqan dzâlikal fadhlu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîma. Allâhummaj’alnâ fî laylati hâdzasyahr syarîfatil mubârakati min al-syu’âdâ’il maqbûlîn wa lâ taj’alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma’în birahmatika ya ar-hamar-râhimîn.”

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang senantiasa menyempurnakan iman kami, melaksanakan perintah menjalankan kewajiban-Mu, menjalandakan sholat, menunaikan zakat, memohon serta mengharap ampunan-Mu, yang berpegang teguh kepada petunjuk (yang Kau berikan), meninggalkan kemungkaran, hidup dengan sederhana di dunia, mengharap surga di akhirat, berpasrah pada takdir, bersyukur pada nikmat dan bersabar atas cobaan di bawah bendera syariat Muhammad SAW pada hari kiamat. Dari ajarannya kami datang, ke surga kami menuju, dan juga kami selamat dari api neraka. Kami duduk di atas kain sutra kemuliaan, kami menikahi bidadari yang cantik dan jelita. Kami memakai pakaian yang terbuat dari permadani, sutra, dan perhiasan mewah lainnya. Kami makan dari masakan yang telah tersedia di surga. Kami meminum madu dan susu dengan menggunakan gelas mewah bersama para nabi, orang jujur, syuhada, orang sholeh, dan mereka akan menjadi teman setia di surga kelak. Demikianlah keutamaan dari Allah. Allah Maha Mengetahui atas segala yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ya Rabb, jadikan kami pada malam yang mulia dan penuh berkah ini sebagai orang-orang yang senantiasa bahagia dan engkau ampuni. Serta janganlah masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersedih dan tertolak. Kami senantiasa bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabat-sahabatnya secara keseluruhan dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang dari yang penyayang.”

    Salat tarawih merupakan ibadah sunnah yang dilakukan selama bulan Ramadan. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang mendirikan salat tarawih dengan beriman dan ikhlas, maka Allah SWT akan mengampuni dosanya yang telah lalu.

    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Artinya: “Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau.” (HR Bukhari, Muslim, dan lainnya). Bukhari meriwayatkan dalam Kitab Iman dengan derajat shahih.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Tolong Menolong, Perintahkan Muslim untuk Saling Membantu


    Jakarta

    Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk senantiasa melakukan kebaikan terhadap sesama. Untuk itu, saling tolong menolong dan saling membantu merupakan bagian dari cerminan seorang muslim.

    Perintah tolong menolong antar sesama termaktub dalam Al-Qur’an surah Al Maidah ayat 2. Allah SWT berfirman, “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

    Merujuk buku Konsep Muamalah Dalam Islam yang disusun oleh Hadi Nur Taufiq, Murdiono dan Muhammad Amin dijelaskan bahwa ayat 2 dalam surah Al-Maidah tersebut berisi perintah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling membantu dalam perbuatan baik dan itulah yang disebut dengan al birr dan meninggalkan kemungkaran yang merupakan ketakwaan.


    Ibnu Qayyim RA menjelaskan bahwa ayat tersebut mencakup semua jenis bagi kemaslahatan para hamba, di dunia maupun di akhirat, baik aantaara mereka dengan sesama, ataupun dengan Rabb-Nya. Sebab, seseorang tidak luput dari dua kewajiban, yaitu kewajiban hablu minallah yakni hubungan terhadap Allah SWT dan hablu minnas kewajiban sebagai makhluk sosial terhadap sesamanya.

    Hadits Rasulullah SAW tentang Tolong Menolong

    Rasulullah SAW mengajarkan tentang pentingnya tolong menolong. Hal ini disampaikan dalam beberapa hadits.

    Berikut hadits Rasulullah SAW tentang tolong menolong:

    1. Umat Islam Saling Menguatkan

    Dengan saling membantu dan menolong, umat Islam akan semakin kokoh layaknya bangunan. Sebagaimana hadits dari Abu Musa RA, Nabi, Muhammad SAW bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagai sebuah bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (HR Bukhari)

    2. Pahala Memudahkan Sesama

    Dari Qutaibah, dari Abu Awanah, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia mengutip perkataan Rasulullah SAW yang bersabda,

    ١٤٢٥ – (صَحِيحٌ) حَدَّثَنَا فَتَيَبةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: ((مَنْ نَفْسَ عَنْ مُؤْمِن كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَهُ اللهُ في الدُّنْيَا وَالْآخِرَة وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ)).

    Artinya: “Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang mukmin ketika di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi keburukan seorang muslim, Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim)

    3. Bersikap Baik Kepada Siapapun

    Rasulullah SAW berkata,

    عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ تَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ (صحيح البخاري ، رقم: ٦٤٨٤).

    Artinya: Dari Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu, yang berbuat zalim maupun yang dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, ini (kami paham) menolong orang yang dizalimi. Tetapi, bagaimana menolong orang yang justru menzalimi?” Rasulullah SAW menjawab, “Ambil tangannya (agar tidak berbuat zalim lagi).” (HR Bukhari)

    4. Keutamaan Orang yang Suka Menolong

    Rasulullah SAW dalam sebuah hadits bersabda, “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” (HR ath-Thabrani)

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Doa Nabi Ibrahim AS ketika Dibakar hingga Meminta Rezeki


    Jakarta

    Doa Nabi Ibrahim AS yang memohon pertolongan kepada Allah SWT bisa ditiru dan diamalkan bila dalam kondisi yang serupa. Kumpulan doa Nabi Ibrahim AS ketika dibakar, ketika mendapatkan keturunan hingga meminta rezeki terangkum dalam Al-Qur’an dan hadits.

    Allah SWT memerintahkan setiap hamba berdoa kepada-Nya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya surah Gafir ayat 60. Allah SWT berfirman:

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ ٦٠


    Artinya: Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    7 Doa Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an dan Hadits

    1. Doa Nabi Ibrahim agar Diberi Keturunan Sholeh

    Menurut buku Kaya Melimpah Dengan Doa Para Nabi karya Ustaz Ali Amrin Al-Qurawy, doa Nabi Ibrahim kepada Allah SWT supaya dikaruniai keturunan sholeh tercantum dalam surah As Shaffat ayat 100:

    رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

    Arab-latin: Rabbi hablii minash shaalihiin.

    Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh.”

    2. Doa Nabi Ibrahim Meminta Rezeki

    Doa ini terabadikan dalam surah Al Baqarah ayat 126:

    … رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ …

    Arab-latin: … Rabbij’al hâdzâ baladan âminaw warzuq ahlahû minats-tsamarâti man âmana min-hum billâhi wal-yaumil-âkhir…

    Artinya: ” …Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Makkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir…”

    3. Doa Nabi ibrahim untuk Anaknya

    Doa ini diamalkan Nabi Ibrahim AS supaya keturunannya dijauhkan dari perbuatan menyembah berhala. Berikut bacaan doa yang terangkum dalam surah Ibrahim ayat 35:

    رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ ۗ ٣٥ …

    Arab-latin: ... Rabbij’al hâdzal-balada âminaw wajnubnî wa baniyya an na’budal-ashnâm

    Artinya: “…Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala.”

    4. Doa Nabi Ibrahim Memohon Surga

    Berdasarkan buku Dahsyatnya Doa Para Nabi karya Syamsuddin Noor, S.Ag. Nabi Ibrahim pernah memohon kepada Allah SWT agar dijaga kesalehannya dan menjadi ahli surga.

    Doa ini terdapat dalam surah Asy Syu’ara ayat 83-85:

    رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ۙ ٨٣ وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ ٨٤ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ ۙ ٨٥

    Arab-latin: Rabbi hab lî ḫukmaw wa al-ḫiqnî bish-shâliḫîn, waj’al lî lisâna shidqin fil-âkhirîn, waj’alnî miw waratsati jannatin-na’îm.

    Artinya: “Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku hukum (ilmu dan hikmah) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang shalih. jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik di kalangan orang-orang (yang datang) kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.”

    5. Doa Nabi Ibrahim agar Amal Diterima

    Doa ini terdapat dalam surah Asy Syu’ara ayat 87-89:

    وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَۙ ٨٧ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ ٨٨ اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ ٨٩

    Arab-latin: Wa lâ tukhzinî yauma yub’atsûn, yauma lâ yanfa’u mâluw wa lâ banûn, illâ man atallâha biqalbin salîm.

    Artinya: “Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. Yaitu pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak. Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

    6. Doa Nabi Ibrahim agar Anak Rajin Sholat

    Menurut buku Kisah Akhlak 25 Nabi dan Rasul karya Puspa Swara, Nabi Ibrahim pernah berdoa memohon supaya diberikan keturunan yang rajin ibadah, melalui surah Ibrahim ayat 40:

    رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ ٤٠

    Arab-latin: Rabbij’alnî muqîmash-shalâti wa min dzurriyyatî rabbanâ wa taqabbal du’â’

    Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

    7. Doa Nabi Ibrahim ketika Dibakar dan Mendapat Kesulitan

    Menurut buku Memaafkan yang Tak Termaafkan karya Arifah Handayani. Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim AS ketika ia hendak mau dibakar.

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

    Arab-latin: Hasbunallah wa ni mal wakiil.

    Artinya: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.” (HR Bukhari)

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Ketika Bangun Tengah Malam Sesuai Anjuran Rasulullah SAW


    Jakarta

    Sebagian dari kita mungkin pernah terbangun di tengah malam karena berbagai alasan, seperti mendengar suara, mimpi, atau berubah posisi tidur.

    Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk membaca doa ketika terbangun di malam hari, guna menghindari bahaya dan godaan setan.

    Selain itu, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa dalam berbagai situasi. Rasulullah SAW membaca dzikir ketika terbangun dari tidur dan memuji Allah SWT yang telah menjaga kesehatan dan mengembalikan roh saat terbangun.


    Doa Bangun Tengah Malam

    Doa ketika bangun di tengah malam adalah amalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk menghadapi berbagai situasi saat terjaga di malam hari. Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa ini sebagai cara untuk memohon perlindungan dari bahaya dan godaan setan yang mungkin muncul saat malam.

    Dengan membaca doa ini, umat Islam diharapkan dapat merasa tenang dan terjaga dari gangguan, serta memuji Allah SWT yang telah menjaga kesehatan dan mengembalikan roh mereka setelah tidur.

    1. Doa Nabi Muhammad Ketika Terbangun di Tengah Malam

    Berdasarkan Kitab Ad Da’awat yang dinyatakan dalam hadis Ubadah bin Shamit r.a., Rasulullah SAW mengajarkan doa untuk dibaca saat terbangun di malam hari. Berikut adalah doa tersebut beserta bacaan latinnya dan terjemahannya:

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ.

    Laa ilaahaillallahu wahdahulaa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli sya’in qadir. Alhamdulillah wa subhaanallaah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar, walaa haula walaa quwwata illa billaah.

    Artinya: “Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan hanya Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian dan Dialah Dzat yang Maha Kuasa, segala puji bagi Allah, Maha suci Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan upaya melainkan karena Allah.”

    Setelah mengucapkan doa tersebut, Rasulullah SAW melanjutkan dengan doa: “Ya Allah, ampunilah aku.” Selanjutnya, beliau bangun, berwudhu, dan melaksanakan salat malam.

    Berdasarkan keterangan hadits dalam buku Doa-doa Rasulullah SAW karya Ibnu Taimiyah, Rasulullah SAW menganjurkan untuk berdzikir dan berdoa ketika terbangun di malam hari.

    Selain itu, beliau juga sering mengambil air wudhu dan melaksanakan salat malam. Abdullah ibnu Abbas RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah terbangun di tengah malam, lalu beliau segera mengambil air wudhu sebelum kembali melanjutkan tidurnya.

    “Suatu ketika di tengah malam, Rasulullah terbangun karena ingin membuang hajat. Kemudian setelah itu, beliau berwudhu dan tidur kembali.” (HR Bukhari)

    2. Zikir Ketika Terbangun Malam Hari

    Selain membaca doa seperti yang telah disebutkan, Rasulullah SAW juga membaca dzikir, sebagaimana diriwayatkan oleh Ummi Salamah r.a. Berikut adalah bacaan dzikir tersebut:

    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ، وَاهْدِ السبيل الأقوم

    Rabbigfir waar ham, wahdi lissabiil al-‘aquum.

    Artinya: “Ya Tuhan, ampuni dan kasihanilah kami serta tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus.”

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com