Tag: hunian

  • Pilih Toilet Jongkok atau Toilet Duduk? Ini Perbandingannya



    Jakarta

    Saat memilih perlengkapan untuk hunian, urusan toilet tidak bisa dianggap sepele. Toilet sangat penting karena digunakan untuk buang hajat para penghuni rumah dan tamu yang datang.

    Di Indonesia, toilet jongkok masih banyak ditemukan, sementara toilet duduk makin populer seiring hadirnya hunian modern. Lalu, mana yang lebih tepat untuk rumah Anda? Simak perbandingannya.

    Toilet Jongkok

    Asia, Turkey, Istanbul Area, 2017: View Of Toilet In Turkish RestaurantToilet jongkok. Foto: Getty Images/Kypros

    Dilansir dari laman Bladder & Bowel UK, Minggu (2/11/2025), posisi jongkok dinilai mendukung proses buang air besar lebih alami. Hal ini sejalan dengan kebiasaan banyak orang Asia yang sudah terbiasa menggunakan toilet jongkok.


    Toilet jongkok cenderung tidak membutuhkan banyak ruang, cocok untuk kamar mandi kecil dan area servis seperti kamar mandi ART. Bentuknya sederhana dan menyatu dengan lantai, membuat ruangan lebih efisien.

    Secara struktur, toilet jongkok lebih sederhana sehingga cenderung membutuhkan perawatan lebih minim. Namun karena lantai cenderung basah, kebersihan material lantai perlu diperhatikan agar tidak licin.

    Toilet Duduk

    Ilustrasi ToiletIlustrasi Toilet Duduk. Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawf8

    Dilansir dari Teaching Nomad, toilet duduk dinilai lebih ramah untuk anak-anak, lansia, hingga ibu hamil karena tidak perlu tenaga ekstra untuk berjongkok. Tak heran, toilet duduk banyak digunakan di rumah modern, apartemen, dan hotel.

    Penggunaan toilet duduk menghadirkan tampilan lebih modern pada hunian. Dilansir dari Architectural Digest, tren kamar mandi saat ini menonjolkan desain minimalis dan compact yang kerap dipadukan dengan toilet duduk untuk kesan bersih dan rapi.

    Untuk toilet duduk, perhatian lebih dibutuhkan pada bagian dudukan dan engsel. Dilansir dari Martha Stewart, pembersihan rutin dengan cairan lembut dan lap microfiber disarankan demi menjaga ketahanan porselen dan kebersihan permukaan.

    Perlu diingat, penggunaan toilet jongkok atau duduk tergantung pada kebutuhan masing-masing penghuni rumah.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Bingung Pilih Lantai Keramik atau Vinyl? Ini Perbandingan Lengkapnya!



    Jakarta

    Pemilihan material lantai sering kali menjadi dilema saat membangun atau merenovasi rumah. Tidak hanya soal estetika, lantai juga menentukan kenyamanan hingga daya tahan hunian dalam jangka panjang.

    Dua material yang kerap dibandingkan adalah keramik dan vinyl. Keduanya sama-sama populer, namun punya karakter berbeda yang bisa mempengaruhi suasana rumah secara keseluruhan.

    Masih bingung pilih yang mana? Yuk simak!


    Tampilan Mirip, Karakter Berbeda

    Keramik sudah lama menjadi standar lantai di banyak rumah Indonesia. Material ini dibuat dari tanah liat yang dibakar pada suhu tinggi sehingga kuat dan tahan lama. Sementara itu, lantai vinyl kini semakin diminati karena tampilannya yang modern dan harganya yang cenderung murah.

    Melansir halaman The Spruce, Senin (03/11/2025), keramik masih dianggap unggul dari segi tampilan dan nilai estetika jangka panjang, terutama jika menggunakan keramik yang berkualitas tinggi. Sementara vinyl dinilai dapat menjadi alternatif bagi penghuni yang menginginkan tampilan hangat dengan kesan natural seperti kayu.

    Ketahanan dan Kenyamanan

    Salah satu keunggulan utama keramik adalah daya tahannya. Mengutip The Spruce, keramik dapat bertahan lebih dari 40 tahun jika dirawat dengan baik. Material ini juga tahan air dan panas sehingga aman digunakan di area lembab seperti dapur atau kamar mandi. Kekurangannya, permukaan keramik cenderung keras dan dingin saat diinjak, sehingga terasa kurang nyaman untuk mereka yang sering beraktivitas tanpa alas kaki.

    Sebaliknya, vinyl terkenal lebih ramah kaki. Mengutip situs Ranney Blair, permukaan vinyl terasa lebih hangat dan empuk, serta lebih senyap ketika diinjak. Hal ini menjadikannya pilihan menarik untuk kamar tidur atau ruang keluarga. Namun, vinyl memiliki umur pakai lebih pendek dibanding keramik dan bisa mengalami kerusakan jika terendam air terlalu lama, kecuali pada varian waterproof.

    Pemasangan dan Perawatan

    Dari sisi pemasangan, keramik membutuhkan proses yang lebih kompleks dan biasanya melibatkan tukang profesional. Nat di antara keramik juga perlu perhatian ekstra karena rentan kotor seiring waktu.

    Sebaliknya, vinyl dikenal sebagai material yang mudah dipasang, bahkan bisa dilakukan sendiri untuk beberapa jenisnya. Melansir halaman Mannington, teknologi pemasangan click system membuat vinyl lebih praktis dan menghemat waktu renovasi. Vinyl juga cenderung lebih mudah dibersihkan karena tidak memiliki nat seperti keramik.

    Mana yang Harus Dipilih?

    Pada akhirnya, pilihan antara keramik dan vinyl kembali pada kebutuhan hunian masing-masing. Keramik cocok bagi yang mencari material tahan lama dengan tampilan elegan. Di sisi lain, vinyl lebih ideal bagi penghuni yang mengutamakan kenyamanan, dan instalasi yang praktis.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Ciri-ciri Rumah Bekas yang Tak Terawat, Hati-hati Kalau Mau Beli!


    Jakarta

    Rumah second atau bekas menjadi opsi hunian bagi pencari rumah yang tak sanggup beli baru. Harga rumah bekas bisa lebih rumah karena bangunannya sudah lama.

    Namun, jangan buru-buru beli rumah bekas ya. Pencari rumah mesti cek dulu keadaan bangunannya.

    Pasalnya, rumah lama biasanya terdapat kerusakan. Nah, pemburu rumah perlu perhitungkan apakah mampu menanggung biaya perbaikan setelah pembelian atau tidak.


    Sebaiknya membeli rumah bekas yang terawat. Dengan begitu, pembeli tak perlu terlalu banyak mengeluarkan biaya renovasi.

    Para pencari rumah harus tahu ciri-ciri rumah yang bangunannya kurang terawat. Simak ulasannya berikut ini.

    Ciri-ciri Bangunan Rumah Tak Terurus

    Inilah beberapa ciri-ciri rumah yang membutuhkan perawatan karena kurang terurus, dikutip dari Bluenote Painting.

    1. Tumbuh Rumput Liar Tinggi di Pekarangan

    Pertanda paling jelas untuk mengetahui rumah sudah lama tak dirawat bisa dilihat dari pekarangannya. Kondisi pekarangan mencerminkan bagaimana perawatan rumah.

    Rumah yang tidak dirawat biasanya banyak rumput liar yang menjulang tinggi di halaman. Padahal, halaman rumah perlu dibersihkan setidaknya sebulan sekali agar terawat.

    2. Cat Eksterior Pudar atau Terkelupas

    Kemudian, perhatikan juga kondisi cat eksterior rumah. Kalau warnanya memudar dan lapisannya terkelupas, bisa jadi kualitasnya kurang baik, terlalu lembap, atau ada kebocoran.

    3. Cat Interior Rusak

    Selain itu, cek juga kondisi cat interior rumah. Cat interior seharusnya lebih tahan lama daripada cat eksterior karena berada di dalam bangunan. Jika tampilan cat interior kurang bagus seperti eksterior rumah, kemungkinan akan diperlukan perbaikan besar-besaran.

    4. Perangkat Rumah Rusak

    Terakhir, periksa perangkat dan bagian-bagian penting di rumah, termasuk sistem kelistrikan, air, dan saluran pembuangan. Kalau ketiga sistem tersebut bermasalah, pemilik baru perlu melakukan perbaikan.

    Itulah tanda-tanda rumah tidak terawat. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Nggak Perlu Dicat Ulang, Ini Cara Mudah Hilangkan Coretan di Dinding


    Jakarta

    Dinding rumah harus selalu dijaga kebersihannya agar hunian tetap terlihat indah. Namun, si kecil terkadang sering usil dengan membuat coretan di dinding.

    Hal ini tentu membuat dinding rumah jadi terlihat kotor. Warna cat yang seharusnya membuat ruangan jadi tampak estetis kini pudar karena tertutup oleh coretan spidol, krayon, atau tinta.

    Namun tak perlu khawatir karena coretan di dinding rumah masih bisa dihilangkan dengan mudah. Bahkan, kamu tak perlu repot-repot harus mengecat ulang dinding. Penasaran? Simak dalam artikel ini.


    Cara Bersihkan Coretan di Dinding Tanpa Dicat Ulang

    Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membersihkan coretan di dinding tanpa perlu dicat ulang. Dalam catatan detikProperti, berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:

    1. Pasta Gigi

    Cara yang pertama bisa menggunakan pasta gigi karena memiliki sifat abrasif, sehingga dapat mengikis noda tanpa merusak permukaan dinding.

    Langkah penggunaannya cukup mudah, yakni dengan mengoleskan sedikit pasta gigi secara langsung ke dinding yang penuh coretan. Lalu, gosok secara lembut dengan kain microfiber atau spons basah hingga coretan mulai memudar.

    Setelah coretan hilang, bersihkan sisa-sisa pasta gigi di dinding dengan kain bersih yang telah dibasahi air.

    2. Cuka Putih

    Selain digunakan untuk memasak, cuka putih juga bisa dimanfaatkan untuk membersihkan bekas coretan. Sebab, sifat asam yang dimiliki cuka putih dinilai efektif untuk memecah dan menghilangkan noda yang cukup membandel.

    Untuk cara penggunaannya juga mudah. Campurkan cuka putih dengan air ke dalam wadah dengan perbandingan yang sama, lalu celupkan kain atau spons ke dalam wadah tersebut.

    Setelah itu, gosok dinding yang dipenuhi coretan dengan kain yang sudah dibasahi secara perlahan. Kalau coretan sudah mulai memudar, bersihkan dinding dengan kain bersih yang lembap untuk menghilangkan sisa cuka.

    Proses ini mungkin perlu dilakukan selama beberapa kali, tapi tergantung juga dari seberapa tebal noda coretan tersebut.

    Lalu, tidak semua orang menyukai cuka putih karena mengeluarkan aroma yang menyengat dan tajam. Untuk menyiasatinya, bisa menggunakan pengharum ruangan agar bau cuka putih bisa hilang.

    3. Soda Kue dan Air

    Kombinasi soda kue (baking soda) dan air ternyata efektif untuk membersihkan noda coretan di dinding, lho. Caranya cukup mencampurkan soda kue dengan sedikit air hingga membentuk pasta.

    Setelah itu, oleskan pasta soda kue ke dinding yang dipenuhi coretan, lalu gosok menggunakan kain bersih dengan gerakan melingkar. Jika noda hilang, bersihkan sisa soda kue di dinding dengan kain lembap sampai bersih.

    Penggunaan soda kue dan air sangat cocok untuk menghilangkan coretan yang tidak terlalu dalam atau tidak membekas terlalu lama. Kedua bahan ini juga tidak merusak warna cat.

    Itulah tiga cara mudah menghilangkan coretan di dinding rumah tanpa perlu dicat ulang. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/das)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Alasan Penting Kenapa Gen Z Harus Mulai Memikirkan Punya Rumah



    Jakarta

    Banyak yang bilang hunian bukan menjadi prioritas utama dari gen z. Mereka lebih memilih untuk sewa kos, kontrakan ataupun apartemen karena dianggap lebih praktis dan memudahkan.

    Tak heran jika saat ini kos-kosan, kontrakan ataupun apartemen yang disewakan di tengah kota kebanyakan diisi oleh gen z. Meski sudah mapan memiliki penghasilan yang cukup, mereka tetap memilih untuk tidak membeli rumah apa lagi jika lokasinya jauh dari pusat kota.

    Padahal punya rumah sendiri bukan sekadar impian manis, melainkan sebuah langkah strategis. Di era harga rumah yang terus meningkat setiap tahunnya, memiliki hunian sendiri dapat memberi perlindungan finansial serta kestabilan hidup yang makin sulit dicapai saat menyewa kos atau kontrakan.


    Berikut 4 alasan mengapa Gen-Z harus mulai memikirkan untuk punya rumah sendiri.

    Harga Rumah Semakin Mahal Tiap Tahun

    Salah satu alasan paling kuat mengapa Gen‑Z harus mulai berpikir punya rumah sendiri adalah karena harga rumah terus naik dari waktu ke waktu. Dilansir dari situs PR Newswire,survei menunjukkan bahwa 87,2% gen z menganggap kepemilikan rumah penting untuk investasi jangka panjang. Tapi hampir 80% dari mereka menyatakan bahwa harga rumah yang tinggi menjadi penghalang utama.

    Kenaikan harga rumah tidak hanya di satu wilayah. Di berbagai pasar properti, nilai rumah sebagai aset selalu meningkat. Artinya jika membeli rumah lebih awal, potensi mendapat rumah di harga terjangkau juga semakin besar. Sebagai generasi muda yang masih bisa memilih cicilan tenor panjang, ini bisa jadi keunggulan yang strategis.

    Selagi Masih Muda dan Masih Produktif

    Saat ini, gen z berada pada masa usia yang produktif tinggi. Dengan itu, potensi penghasilan ke depan masih sangat besar dan waktu yang tersedia untuk membayar cicilan rumah juga bisa lebih panjang. Dengan membeli rumah di usia muda, memungkinkan memilih jangka waktu kredit yang lebih panjang, sehingga beban cicilan bisa lebih ringan dibanding membeli rumah ketika usia mendekati masa tidak produktif.

    Dengan usia yang lebih muda, risiko penghasilan menurun atau masa pensiun juga masih jauh. Sehingga hal itu dapat menjadi alasan bahwa membeli rumah di awal bisa jadi langkah yang bijak dalam rencana kehidupan jangka panjang. Studi dari Freddie Mac menunjukkan bahwa sebagian besar gen z menginginkan rumah sendiri dan melihat kepemilikan rumah sebagai stabilitas dan kontrol atas hidupnya.

    Lebih Aman Karena Tak Perlu Terus Pindah Hunian

    Meskipun tidak terasa, nyatanya pindah-pindah kos atau kontrakan itu sebenarnya memakan banyak biaya. Mulai dari biaya administrasi, mencari lokasi baru, sampai waktu dan tenaga untuk berkemas dan pindahan. Belum lagi rasa tidak pasti karena bisa saja harga sewanya naik dan tiba-tiba harus pindah lagi.

    Dengan memiliki rumah sendiri akan terasa lebih aman, lebih sedikit gangguan tempat tinggal, kontrol lebih besar atas ruang hidup, dan potensi stabilitas yang lebih tinggi. Dilansir dari situs Augusta Ceo, berdasarkan hasil surveynya menunjukkan bahwa gen z juga sebenarnya memiliki pemikiran untuk memiliki rumah sendiri sebagai bagian dari keamanan finansial dan kehidupan yang lebih mapan.

    Di kos atau kontrakan, sewanya bisa tiba-tiba naik atau pemilik bisa memutuskan untuk tidak memperpanjang masa kontrakan. Tapi kalau punya rumah sendiri, tidak perlu khawatir dipaksa pindah mendadak atau keluar biaya tambahan yang muncul tiba-tiba.

    Gaya Hidup Fleksibel dan Investasi Masa Depan

    Memiliki rumah sendiri memberi kebebasan yang tidak selalu bisa didapat dari kos atau kontrakan. Rumah bisa diatur sesuai ggaya hidup, mulai dari renovasi kecil, memilih lokasi yang dekat kantor atau tempat favorit, ataupun membuat ruang yang nyaman dan modern sesuai selera gen z yang suka hal praktis dan berbasis teknologi.

    Selain itu, punya rumah sejak muda juga membuka pintu untuk berpikir lebih jauh ke masa depan. Rumah bisa menjadi tempat membangun keluarga suatu hari nanti, atau menjadi aset berharga yang bisa diwariskan atau dialihkan. Dengan kata lain, rumah bukan hanya tempat tinggal, tapi juga fondasi untuk berbagai rencana besar dalam hidup.

    Itulah 4 Alasan gen z harus mulai menabung dan punya rumah sendiri. Semoga membantu!

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Peralatan yang Wajib Ada di Rumah, Jika Disepelekan Siap-siap Menyesal!



    Jakarta

    Memiliki rumah sendiri tentu menimbulkan rasa kebahagiaan, terlebih jika itu adalah rumah impian. Namun di sisi lain, memiliki rumah artinya juga harus paham tentang tanggung jawab untuk merawatnya. Perbaikan kecil, dan pengelolaan rumah secara umum menjadi hal penting agar hunian tetap aman dan nyaman untuk ditinggali.

    Kerusakan kecil atau kebutuhan mendesak di rumah bisa terjadi kapan saja, dan sering kali menimbulkan kerepotan jika kita tidak siap. Menyediakan alat-alat dasar di rumah merupakan langkah sederhana namun efektif untuk mempermudah perawatan sehari-hari dan memastikan pekerjaan rumah dapat dilakukan dengan lancar.

    Dilansir dari situs The DIY Playbook, Sabtu (15/11/2025) ini beberapa peralatan dasar yang harus dimiliki di setiap rumah untuk mempermudah saat terjadi masalah.


    Pita Ukur

    Alat ini membantu untuk memastikan ukuran furnitur atau rak sebelum membeli atau memasang. Tanpa pita ukur, kesalahan ukuran bisa mengganggu seluruh perencanaan perabotan rumah.

    Set Obeng

    Set obeng sangat berguna untuk berbagai keperluan rumah, mulai dari memasang stop kontak, merakit furnitur, hingga mengencangkan engsel pintu. Alat ini menjadi salah satu perlengkapan penting karena sifatnya yang praktis dan serbaguna. Dengan set obeng lengkap, pekerjaan perbaikan maupun perakitan di rumah bisa dilakukan lebih cepat dan efisien.

    Senter

    Senter bukan sekadar alat tambahan, tapi penyelamat saat listrik padam atau untuk menjangkau tempat gelap. Alat ini wajib dimiliki di setiap rumah sebagai solusi untuk permasalahan yang insidental.

    Palu

    Palu merupakan alat penting dalam perbaikan rumah karena fungsinya yang beragam, mulai dari menancapkan paku, melepas paku, hingga membongkar bagian rumah secara ringan. Agar pekerjaan tetap efisien dan aman, pemilihan jenis palu sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap pekerjaan.

    Kunci Inggris

    Alat ini digunakan untuk mengencangkan baut maupun memperbaiki pipa yang longgar. Selain itu, juga menjadi salah satu perlengkapan penting di rumah karena bisa menggantikan beberapa ukuran kunci sekaligus, sehingga lebih praktis.

    Pisau Serbaguna dan Tang

    Pisau serbaguna membantu memotong kardus atau bahan lain, sedangkan tang berguna untuk menggenggam, memotong kabel kecil, atau menarik paku. Kedua alat ini melengkapi pekerjaan rumah dengan presisi dan aman.

    Alat Pengukur Ketinggian

    Agar rak, lukisan, atau bingkai terpasang lurus, alat pengukur ketinggian atau level menjadi kunci untuk mendapatkan hasil yang rapi. Alat ini membantu memastikan setiap pemasangan tepat dan seimbang. Dengan penggunaannya, tampilan rumah terlihat lebih presisi dan tertata dengan profesional meski menggunakan alat yang sederhana.

    Kotak Alat

    Semua alat akan lebih mudah ditemukan dan tertata rapi jika disimpan di satu tempat khusus. Kotak alat membantu mengorganisir peralatan sehingga Anda tidak perlu membuang waktu mencarinya saat dibutuhkan. Dengan kotak alat yang teratur, setiap pekerjaan perbaikan atau perawatan rumah bisa dilakukan lebih cepat dan efisien.

    Perlengkapan Keamanan

    Keselamatan diri merupakan hal utama saat melakukan perbaikan rumah, sehingga penggunaan alat pelindung seperti kacamata, sarung tangan, dan masker sangat penting. Dengan mengutamakan perlindungan diri, pekerjaan menjadi lebih aman dan berjalan dengan lebih lancar.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Renovasi Rumah Bisa Gagal Total Kalau Salah Urutan, Ini Panduan Lengkapnya!



    Jakarta

    Renovasi rumah secara menyeluruh memang proyek besar yang melelahkan, tetapi hasil akhirnya bisa benar-benar mengubah wajah hunian. Keberhasilan renovasi dalam skala besar sangat bergantung pada perencanaan yang matang dan jelas. Dengan urutan kerja yang tepat, proses renovasi bisa jauh lebih rapi, efisien, dan minim terjadi masalah di tengah jalan.

    Karena itu, memahami langkah yang logis sebelum mulai membongkar rumah adalah kunci agar proyek berjalan lancar sampai selesai. Sebelum merenovasi rumah secara keseluruhan, penting untuk melakukan evaluasi dengan mencari tahu kerusakan tersembunyi, serta bagian apa saja yang perlu disempurnakan.

    Dilansir dari situs Remodeling Magazine, Rabu (19/11/2025), berikut beberapa panduan logis dan lengkap untuk renovasi rumah.


    Evaluasi Kondisi Rumah Saat Ini

    Langkah pertama dalam renovasi rumah secara menyeluruh adalah dengan melakukan identifikasi terhadap kondisi rumah. Memeriksa aspek struktural seperti dinding, atap, lantai, dan juga sistem utilitas seperti pipa dan kelistrikan juga penting dilakukan agar tidak melewatkan masalah yang tersembunyi.

    Mempekerjakan seorang inspektur profesional juga bisa sangat membantu. Mereka dapat mengidentifikasi kerusakan ataupun potensi masalah yang tidak terlihat oleh mata awam.

    Menetapkan Tujuan Renovasi

    Setelah evaluasi dilakukan, merumuskan tujuan renovasi dengan jelas juga penting. Dalam tahap ini penting untuk menetapkan prioritas seperti fokus renovasi apakah pada kenyamanan, efisiensi energi, ataupun peningkatan nilai jual rumah.

    Menyusun Anggaran Realistis

    Renovasi besar hampir selalu menghadapi biaya tak terduga. Oleh karena itu penting juga untuk membuat rancangan anggaran dan menyiapkan dana darurat untuk persiapan dan antisipasi. Remodeling Magazine dalam artikelnya juga menganjurkan untuk memecah anggaran ke dalam kategori seperti pekerjaan struktural, pembaruan sistem (listrik dan pipa), finishing interior, serta izin dan biaya profesional.

    Membuat Daftar Periksa Renovasi

    Daftar periksa sangat penting agar proses renovasi berjalan terstruktur dan efisien. Remodeling Magazine memberikan urutan logis dalam checklist-nya, mulai dari inspekstruktur dan perbaikan struktural, kemudian instalasi sistem, hingga finishing interior.

    Contoh urutan sebagai berikut, perbaikan struktur, upgrade listrik dan pipa, penggantian HVAC (sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara), insulasi dan jendela, framing & drywall, pengecatan dan lantai, kabinet dan perlengkapan, bersih-bersih & dekorasi.

    Memilih Jasa Profesional yang Tepat

    Renovasi besar biasanya memerlukan tenaga profesional seperti arsitek, kontraktor, tukang listrik, dan sebagainya. Beberapa kriteria penting dalam memilih kontraktor yaitu dengan memastikan mereka memiliki lisensi, asuransi, referensi dari klien sebelumnya, serta portofolio yang sesuai dengan visi. Setelah itu, membuat kontrak yang jelas dengan mencakup jadwal pekerjaan, pembayaran, cakupan pekerjaan, dan mekanisme penyelesaian masalah jika ada perubahan.

    Mengurus Izin Bangunan

    Sebelum pekerjaan renovasi dimulai, sangat disarankan untuk mendapatkan semua izin dan persetujuan lokal yang diperlukan. Izin bukan hanya soal legalitas, tetapi juga keamanan proyek dan kepatuhan terhadap standar bangunan. Jangan abaikan regulasi lokal, meskipun beberapa pekerjaan tampak ringan, izin tetap bisa diperlukan untuk plumbing, listrik, atau struktur bangunan.

    Persiapan Rumah untuk Renovasi

    Sebelum renovasi dimulai, penting untuk menyiapkan rumah dan anggota keluarga terhadap gangguan. Hal ini bisa dengan menyingkirkan barang-barang berharga dan mudah rapuh, melindungi lantai dan perabot dengan penutup, bahkan mempertimbangkan untuk tinggal sementara di tempat lain jika renovasi sangat besar.

    Memberi tahu tetangga juga bisa membantu mengurangi stres, misalnya dari segi gangguan suara dan parkir kontraktor.

    Tahap pembongkaran dan Struktur

    Setelah persiapan selesai, pekerjaan fisik dimulai dengan pembongkaran. Tahap ini merupakan fase awal yang berantakan dan berisik, tetapi sangat krusial.
    Setelah pembongkaran, pengerjaan struktur seperti framing, perbaikan fondasi, dan pembaruan atap dilakukan untuk membangun fondasi renovasi yang stabil.

    Instalasi dan Pengerjaan

    Pada tahap ini, sistem utama rumah seperti pipa, listrik, dan HVAC diperbarui untuk memastikan semuanya aman dan efisien. Setelah itu, biasanya dilakukan inspeksi resmi untuk memastikan instalasi sudah sesuai standar sebelum masuk ke tahap finishing.

    Jika sistem sudah beres, pekerjaan dilanjutkan dengan pemasangan insulasi, penggantian jendela, serta mulai masuk ke finishing interior seperti drywall, pengecatan, lantai, dan kabinet. Tahap ini membuat rumah mulai terlihat bentuk akhirnya, sehingga pemilihan material dan gaya yang tepat menjadi sangat penting.

    Dekorasi dan Pasca Renovasi

    Setelah renovasi selesai, tahap terakhir adalah memperkuat karakter ruang melalui dekorasi. Penggunaan pencahayaan berlapis dapat diterapkan untuk menghadirkan suasana yang dinamis. Tambahkan juga furniture, karpet, tanaman, dan karya seni agar ruangan terasa lebih hidup, personal, dan nyaman dihuni.
    Langkah berikutnya adalah memastikan kualitas pekerjaan lewat inspeksi akhir bersama kontraktor. Cek fungsi semua sistem, kerapian finishing, dan pastikan seluruh izin telah ditutup sebelum pembayaran akhir. Penting juga untuk membuat jadwal pemeliharaan jangka panjang untuk atap, saluran air, HVAC, dan permukaan interior agar hasil renovasi tetap awet dan bebas masalah besar di kemudian hari.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com