Tag: infeksi

  • Kloset Duduk vs Jongkok, Mana yang Dianjurkan dalam Islam dan Kesehatan?



    Jakarta

    Kloset merupakan peralatan sanitasi penting di kamar mandi. Bentuk kloset yang banyak digunakan di RI terdapat 2 macam, yakni kloset duduk dan jongkok.

    Kloset duduk di Indonesia termasuk jenis kloset yang modern karena jika memperhatikan rumah-rumah tua yang usianya sudah puluhan tahun tanpa renovasi, kloset yang digunakan rata-rata adalah kloset jongkok.

    Lantas, mana yang lebih baik di antara keduanya?


    Mengutip dari penelitian berjudul ‘Penggunaan Toilet Jongkok dan duduk dalam perspektif hukum Islam dan kesehatan’ yang ditulis oleh Risqi Hidayat, menjelaskan mengenai penggunaan kedua kloset tersebut berdasarkan syariat Islam dan kesehatan.

    Di dalamnya disebutkan syariat Islam lebih menyarankan penggunaan kloset jongkok dibanding kloset duduk. Hal ini disampaikan oleh Syeikh Muhammad Munajjad bahwa sunnah buang hajat adalah dengan jongkok.

    Anjuran dalam Islam ini bukan hanya didasarkan pada pendapat ulama semata, melainkan jika ditinjau dari ilmu kesehatan juga ada manfaatnya. Penelitian yang dilakukan oleh dokter Rusia bernama Dov Sikirov menunjukkan saat buang tinja dalam posisi duduk, otot tidak bisa memberikan tekanan yang lebih untuk mengeluarkan kotoran. Hal ini karena otot hanya mengendur sebagian.

    Hal ini berbanding terbalik ketika orang tersebut dalam posisi jongkok. Tekanannya mengendur dan rileks dengan sempurna sehingga memudahkan proses pengeluaran kotoran.

    Manfaat lainnya adalah buang air besar dalam posisi jongkok lebih cepat karena sudut rektoanal telah terbentuk dengan sendirinya sehingga feses pun kotoran. Sementara, ketika posisinya duduk jadi lebih lama karena tubuh butuh proses untuk mendorong feses melalui sudut rektoanal.

    Lalu, kloset jongkok juga mencegah kontak langsung antara tubuh dengan permukaan kloset. Hal ini dapat mencegah penularan penyakit atau infeksi pada permukaan kulit di area belakang. Etika buang air dengan berjongkok juga lebih menjaga aurat sebagaimana adab buang air untuk tidak memperlihatkan kemaluan.

    Meskipun banyak kelebihan, dalam laporan tersebut juga disebutkan kekurangan kloset jongkok adalah tidak bisa digunakan oleh semua kalangan, seperti orang tua, orang cacat, atau orang obesitas karena tidak nyaman.

    Apabila dipaksakan memakai kloset jongkok justru memicu timbulnya artritis dan tekanan pada lutut. Kondisi seperti dalam Islam dan kesehatan lebih dianjurkan memakai kloset duduk agar lebih aman.

    Terpisah, dalam artikel ilmiah berjudul “Islamic Bathroom: A Recommendation of Bathroom Layout Design with Islamic Values” oleh Ramadhani Novi dan Hamid M Irfan, ada saran bahwa solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan ini adalah menciptakan bentuk kloset semi jongkok. Hal ini direkomendasikan sebagai salah satu pilihan dalam mendesain kamar mandi islami.

    Terlepas dari hal itu semua hasil temuan dalam pengamatan tersebut, tidak ada larangan untuk menggunakan jenis kloset apa pun. Semua kembali pada kebutuhan masing-masing. Hal yang dilarang dalam Islam adalah buang air besar dan kecil dalam keadaan berdiri, kecuali dalam keadaan darurat. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Rasulullah.

    “Hai Umar, janganlah kamu kencing sambil berdiri!” (HR Ibnu Majah dan Al-Baihaqi).

    Itulah perbandingan antara kloset duduk dan jongkok dalam Islam dan kesehatan. Semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Tanaman Hias Bisa Layu gegara Sering Disiram Air, Ini 4 Cirinya


    Jakarta

    Tanaman hias perlu disiram air agar bisa tumbuh subur. Air juga dapat membantu tanaman agar bisa fotosintesis, menjaga struktur sel tanaman, dan menjaga kelembapan tanah.

    Namun, tidak semua tanaman hias perlu disiram air secara rutin. Ada sejumlah tanaman yang justru bisa cepat layu dan membusuk akibat terlalu sering disiram.

    Kalau tanaman hias milikmu sudah layu tentu tidak akan terlihat cantik lagi untuk dipajang di rumah sehingga perlu diganti dengan tanaman yang baru dan segar.


    Ingin tahu ciri-ciri tanaman layu akibat terlalu sering disiram air? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

    Tanda-tanda Tanaman Hias Layu karena Sering Disiram

    Ada sejumlah tanda-tanda pada tanaman ketika sudah mulai layu dan membusuk akibat terlalu sering disiram air. Dilansir dari situs Southern Living, berikut ciri-cirinya:

    1. Tumbuh Jamur

    Ciri-ciri yang pertama adalah tumbuh jamur di tanaman dan permukaan tanah. Selain jamur, biasanya muncul juga lumut pada tanaman yang terlalu sering disiram air.

    2. Daun Berguguran

    Tanaman yang terlalu sering disiram air bisa menyebabkan daun cepat gugur sebelum waktunya. Jika pemilik tanaman menemukan banyak daun berguguran di halaman rumah, maka bisa menandakan kalau tanaman terlalu sering disiram.

    3. Daun Berwarna Kuning

    Selain gugur, ciri-ciri lainnya adalah daun tanaman mulai menguning, terutama pada daun yang terletak di bagian bawah tanaman. Kondisi ini disebabkan karena tanaman terlalu banyak menyerap air.

    “Hal ini terjadi karena akar tidak dapat menyerap cukup oksigen akibat kelebihan air, sehingga menimbulkan kekurangan nutrisi,” kata ahli hortikultura di Jackson & Perkins, Laura Root.

    4. Batang Membusuk

    Tanda-tanda lain yang bisa dilihat yakni pada batang tanaman. Jika batang terasa lunak, lembek, dan berwarna lebih gelap dari biasanya, maka bisa jadi terserang infeksi jamur atau mengalami pembusukan akar. Batang tanaman yang membusuk juga dapat mengeluarkan bau tidak sedap.

    Dampak Menyiram Tanaman Secara Berlebihan

    Terlalu sering menyiram tanaman tak hanya bikin cepat layu dan membusuk. Laura mengatakan ada beberapa dampak lain yang ditimbulkan jika terlalu sering menyiram tanaman, salah satunya memengaruhi nutrisi tanah.

    “Menyiram tanaman secara berlebihan dapat menghilangkan nutrisi penting dari tanah, sehingga tanaman kekurangan mineral yang dibutuhkan untuk tumbuh subur,” ujarnya.

    Selain itu, kondisi tanah yang selalu basah dapat menjadi padat sehingga mengurangi kemampuannya untuk mengalirkan air dengan baik. Kondisi ini bisa membuat akar tanaman jadi terhambat untuk tumbuh subur.

    Laura menyebut tanaman yang terlalu sering disiram juga dapat diserang oleh jamur, lumut, dan hama. Alhasil, tanaman jadi cepat layu dan tidak terlihat indah lagi.

    “Kondisi tanaman yang basah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan hama seperti jamur dan agas, mereka dapat tumbuh subur dalam kondisi lembap dan basah,” pungkas Laura.

    Itulah ciri-ciri tanaman hias layu akibat terlalu sering disiram air. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (ilf/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Kenali Jenis-jenis Bidet Kloset Beserta Tips Pakainya


    Jakarta

    Setelah buang air, pengguna kamar mandi biasanya akan membersihkan diri menggunakan air. Air itu disemprotkan menggunakan alat yang disebut bidet.

    Bidet adalah alat sanitasi untuk membersihkan sisa kotoran setelah buang air. Alat ini sering ditemukan di sejumlah negara di Eropa dan Asia.

    Ada beragam bentuk bidet yang cara menggunakannya pun berbeda. Bahkan, beberapa sangat canggih, bisa menyemprotkan air hangat.


    Apa saja jenis-jenis bidet? Simak ulasannya berikut ini.

    Jenis-jenis Bidet

    Inilah jenis-jenis bidet dikutip dari laman health, Kamis (18/9/2025).

    1. Jet Spray

    Ilustrasi desain kamar mandi.Ilustrasi desain kamar mandi. Foto: iStock

    Jenis bidet yang sering ditemui di Indonesia biasa disebut jet spray. Alatnya berbentuk selang dengan kepala pancuran dan terpisah dari kloset. Pengguna mesti menjangkau genital dan anus dengan perangkat tersebut.

    2. Bidet Bawaan

    toiletIlustrasi bidet bawaan. Foto: (Wahyu/detikTravel)

    Lalu, ada bidet elektrik yang sudah bawaan, posisinya berada di bawah dudukan kloset. Bidet ini tidak memakan ruang kamar mandi. Area yang dapat dibersihkan mungkin terbatas karena alat tersebut terpasang pada dudukan toilet.

    3. Bidet Terpisah

    Beautiful Large Bathroom in Luxury Home with double sink, bathtub and bidetBidet terpisah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Mariakray

    Ada juga bidet berukuran agak besar seperti wastafel yang terpasang di sebelah kloset sehingga cukup memakan ruang. Pengguna kamar mandi harus berpindah dari toilet ke bidet untuk menggunakannya.

    Tips Pakai Bidet

    Meski membersihkan diri menggunakan air sangat dianjurkan, caranya pun harus benar agar lebih higienis. Berikut ini tipsnya.

    1. Bersihkan dari Arah Depan ke Belakang

    Pastikan untuk menyemprotkan air dari depan ke belakang. Cara ini akan menghindari bakteri dari kotoran BAB mengenai uretra sehingga mencegah penyakit akibat infeksi.

    2. Bersihkan Bidet secara Rutin

    Untuk meminimalisir penyebaran bakteri, bersihkan atau desinfeksi bidet secara rutin terutama pada kamar mandi umum. Bersihkan bidet genggam atau jet spray dengan kain atau tisu toilet sebelum menggunakannya.

    3. Lap Setelah Menggunakan Bidet

    Setelah menggunakan bidet, lap area genital dan anus. Ini membantu memastikan semua kotoran feses, darah menstruasi, atau urin tidak tersisa.

    Itulah jenis-jenis bidet dan tips pakainya.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Berapa Jarak Ideal antara Septic Tank dan Sumur Air? Ini Panduannya



    Jakarta

    Lebih dari yang terlihat di permukaan, rumah punya sistem yang mendukung fungsi hunian. Misalnya septic tank untuk mengolah limbah rumah tangga dan sumur air untuk menyediakan air bersih.

    Jika mau membuat septic tank dan sumur air, pemilik rumah harus memastikan ada jarak yang aman di antara keduanya. Hal itu karena air bersih bisa tercemar kalau sumur air terlalu dekat dengan septic tank.

    Dilansir dari detikHealth, Water Specialist dari Fakultas Teknik Lingkungan & Sipil (FTSL) ITB Ir. Rofiq Iqbal, ST, MEng pernah mengatakan tingginya cemaran air tinja di Indonesia salah satunya disebabkan oleh lokasi septic tank yang dekat dengan tempat tinggal warga.


    Masih ada septic tank yang jaraknya hanya 2-3 meter dari rumah warga di pemukiman yang padat. Nah, jarak septic tank yang terlalu dekat dengan sumber air bisa membuat air tercemar bakteri Escherichia coli (E. coli). Bakteri itu dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti infeksi saluran pencernaan.

    Lantas, berapa jarak ideal antara sumur air dan septic tank?

    Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 2398:2017, jarak sumur resapan septic tank dengan sumur air minum minimal 10 meter. Lalu, jarak minimal upflow filter septic tank dengan sumur air minum 1,5 meter. Begitu juga dengan taman sanita atau lahan basah buatan septic tank, jarak minimalnya 1,5 meter dari sumur air minum.

    Kemudian, pemilik juga perlu menjaga jarak sumur resapan air hujan dari septic tank. Di kala kekeringan atau krisis air, sumur resapan air hujan menyimpan cadangan air yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.

    Sumur resapan septic tank setidaknya berjarak 5 meter dari sumur resapan air hujan. Sementara upflow filter septic tank berjarak minimal 1,5 meter dari sumur resapan air hujan. Untuk taman sanita septic tank, jarak minimalnya 1,5 meter dari sumur resapan air hujan.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/abr)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Tunggu Bau Apek, Begini Waktu Ideal Mencuci Handuk



    Jakarta

    Penghuni rumah masih ingat enggak kapan terakhir kali mencuci handuk? Ternyata handuk itu harus rutin dicuci, lho.

    Handuk sering digunakan penghuni rumah untuk mengeringkan tubuh setelah mandi. Benda ini kerap kali dalam keadaan basah, lalu kering kembali. Nah, penghuni rumah perlu mencuci handuk untuk menjaga kebersihan.

    Lalu, seberapa sering handuk perlu dicuci ya?


    Dilansir dari Real Simple, ahli laundry dan mantan ilmuwan utama Tide & Downy Mary Johnson mengatakan handuk harus sering dicuci. Biasanya handuk bisa dipakai untuk mandi sebanyak 3-4 kali sebelum akhirnya dicuci.

    Namun, intensitas itu dalam keadaan normal, yakni handuk dibiarkan hingga kering lagi setelah dipakai. Jika penghuni tak ingat sudah menggunakan handuk berapa kali, indikatornya adalah bau apak dari handuk.

    “Bau dapat disebabkan oleh jamur yang tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi tidak dengan hidung kita,” kata Mary Johnson, dikutip dari Real Simple.

    “Jika handuk Anda terlihat bersih tetapi masih berbau tidak sedap, berarti handuk tersebut tidak benar-benar bersih,” tambahnya.

    Di sisi lain, Johnson menjelaskan handuk harus sering dicuci karena bisa menjadi tempat berkembangnya kuman hingga bakteri. Handuk yang kotor pun membuat pengguna berisiko mengalami jerawat dan infeksi.

    “Tubuh kita terus menerus memproduksi keringat, garam, sebum, dan sel-sel kulit, dan sebagian besar dapat berpindah ke handuk (ketika digunakan),” katanya.

    “Belum lagi adanya kotoran dan kotoran tubuh lainnya yang dapat menumpuk seiring berjalannya waktu, antara lain lendir, ketombe, riasan, dan sisa-sisa produk kecantikan. Hal tersebut akan tumbuh subur di kamar mandi yang gelap dan beruap, sehingga handuk Anda sangat rentan terhadap penumpukan bakteri,” lanjutnya.

    Selain itu, handuk khusus untuk mengeringkan tanah sebaiknya dicuci setiap 2 hari sekali. Sementara handuk anggota keluarga yang sakit perlu selalu dicuci untuk mencegah penyebaran bakteri.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Handuk Basah Diletakkan di Atas Kasur Tak Dianjurkan, Ini Bahayanya



    Jakarta

    Handuk basah biasanya diletakkan begitu saja di kasur setelah mandi. Hal ini dikarenakan letak lemari pakaian yang berdekatan dengan kasur. Ternyata kebiasaan tersebut tidak bagus lho.

    Dilansir laman Yahoo! Life UK handuk yang basah dan lembap dapat memicu pertumbuhan jamur serta membawa berbagai macam mikroba. Apabila diletakkan di atas kasur, lembap tersebut dapat menembus ke kasur dan mempermudah pertumbuhan bakteri.

    “Seprai Anda akan menyerap kelembapan sehingga menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi bakteri dan jamur,” kata Rhiannon Johns, seorang desainer interior dan Head of Brand Piglet in Bed.


    Dengan kata lain, dengan meletakkan handuk basah ke kasur dapat membuat seprainya kotor. Kondisi ini juga akan bertambah buruk jika penggunanya jarang mengganti seprai. Bukan hanya kotor, melainkan jamur bisa menyebar ke seluruh kasur. Risikonya bisa muncul infeksi kulit, gatal-gatal, hingga muncul ruam di seluruh badan.

    “Tidak hanya itu, sel-sel kulit mati dan kotoran dari tubuh yang dibersihkan menggunakan handuk, akan diserap lagi oleh tempat tidur jika meletakkan handuk basah di atasnya. Hal ini kurang higienis dan bisa memicu kemungkinan infeksi kulit,” ungkap dr Ross Perry GP, direktur medis dari klinik kulit Cosmedics.

    “Penelitian kecil menunjukkan bahwa handuk yang kotor berpotensi menyebabkan penyebaran penyakit menular,” lanjutnya.

    Menurut Rhiannon harus segera menghentikan kebiasaan menaruh handuk basah di atas kasur setelah mandi. Segera jemur handuk di tempat yang panas agar cepat kering sehingga mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur.

    Jika tak sengaja menaruh handuk basah di kasur atau lupa untuk mengangkatnya selama berjam-jam, dianjurkan untuk mencuci seprai agar tidak lembap sekaligus mencegah pertumbuhan bakteri. Rhiannon juga menyarankan mencuci seprai setidaknya seminggu sekali.

    “Untuk kesegaran yang lebih menyeluruh, jemur handuk di atas tali jemuran di luar ruangan. Cahaya matahari akan membantu membunuh bakteri, jadi manfaatkan sinar matahari sebaik-baiknya,” tuturnya.

    “Selain itu, sebelum merapikan tempat tidur di pagi hari, sebaiknya balikkan selimut untuk diangin-anginkan agar tidak ada debu dan kotoran,” pungkas Rhiannon.

    Itulah penjelasan mengenai bahaya meletakkan handuk basah di kasur setelah mandi, semoga bermanfaat.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu kasih jawaban. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Waspada, Hewan Mirip Tikus Ini Bisa Masuk Rumah dan Gigit Penghuni!


    Jakarta

    Pernah melihat tikus kecil dengan moncong yang panjang? Itu bukanlah tikus tetapi curut. Meski jarang, hewan ini terkadang muncul di dalam rumah.

    Dikutip dari Westchester Wildlife, curut adalah makhluk kecil yang agresif. Kalau curut sampai masuk rumah, bisa bikin riweh.

    Kehadiran curut di rumah sangat mengganggu. Mereka suka mengeluarkan aroma tak sedap dan bisa menggigit penghuni atau peliharaan di rumah.


    Selain itu, curut dapat mengontaminasi air dan makanan dengan urin dan kotoran mereka. Hal ini berbahaya karena bakteri dan parasit dari curut bisa menimbulkan infeksi pada manusia.

    Penyebab Curut Masuk Rumah

    Alasan utama curut menyerang rumah adalah mencari tempat berlindung, makanan, dan air. Curut terbiasa hidup di luar ruangan di mana ada banyak makanan mereka. Namun, kalau sumber makanan terbatas, mereka terkadang mencari ke dalam rumah.

    Makanan utama curut adalah serangga, tetapi mereka juga bisa makan hewan lainnya. Makhluk mungil ini pun bisa makan biji-bijian, sayur, buah, dan bunga. Nafsu makan curut yang besar dan sumber makanan yang banyak membuat curut menjadi ancaman saat mereka menyerang rumah.

    Selain itu, curut mencari tempat untuk berlindung ketika cuaca ekstrem, dilansir dari Colonial Pest Control. Mereka hanya ingin menghindari lingkungan yang dingin dan terlalu basah.

    Cara Menangkap Curut

    Jika menemukan curut di rumah, sebaiknya jangan gegabah berusaha menangkapnya langsung. Penghuni rumah harus berhati-hati dan menggunakan sarung tangan. Soalnya, curut punya gigi yang sangat tajam dan tak sungkan untuk menggigit.

    Dikutip dari Sherman Traps, cara efektif untuk membasmi curut adalah dengan perangkap. Posisikan perangkap hidup dekat tembok, tempat curut suka berlalu-lalang.

    Penghuni juga bisa menaruhnya di tempat yang terdapat jejak kotoran curut. Kemudian, jangan lupa untuk memeriksa perangkap secara berkala untuk memastikan curut sudah tertangkap ya.

    Supaya lebih ampuh, penghuni rumah bisa memancing curut masuk perangkap dengan menaruh umpan. Umpan yang menarik bagi curut antara lain daging, selai kacang, dan oat.

    Itulah alasan curut masuk rumah beserta cara menangkapnya. Semoga bermanfaat!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Seberapa Sering Kamar Mandi Harus Dibersihkan? Ini Kata Pakar


    Jakarta

    Membersihkan kamar mandi perlu dilakukan agar tidak tumbuh jamur dan timbul bau. Apalagi, kamar mandi jadi salah satu tempat paling kotor di rumah jadi tak heran kalau ruangan itu harus rutin dibersihkan.

    Tentunya, kamar mandi yang bersih bisa membuat penghuni rumah maupun tamu yang memakainya merasa lebih nyaman. Tapi, seberapa sering sih kamar mandi harus dibersihkan?

    Dilansir dari The Spruce, co-owner dan president dari Sophia’s Cleaning Service, Carolina Kazimierski, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan kamar mandi harus dibersihkan setidaknya seminggu sekali. Pembersihan secara rutin akan mencegah penumpukan kotoran.


    “Saya merekomendasikan bersihkan kamar mandi secara cepat setiap minggu, lalu pembersihan mendalam setiap sebulan sekali,” ujarnya.

    Nah, ada juga beberapa bagian kamar mandi yang harus dibersihkan dalam jangka waktu tertentu. Dilansir dari Southern Living dan Martha Stewart, berikut ini informasinya.

    Membersihkan Cermin Kamar Mandi

    Young woman wiping windows at homeMembersihkan kaca. Foto: Getty Images/urbazon

    Menurut pakar kebersihan Sara San Angelo, cermin kamar mandi bisa dibersihkan sesuai kebutuhan. Kalau kamar mandi jarang dipakai, cermin jadi tidak kotor dan tidak perlu dibersihkan rutin.

    Kalau cermin di kamar mandi sudah kotor, penghuni bisa membersihkannya dengan campuran cuka dan air dengan perbandingan yang sama dan lap dengan lap.

    Membersihkan Toilet

    Shot of a young woman cleaning a bathroom toiletIlustrasi membersihkan toilet Foto: iStock

    Toilet merupakan salah satu bagian kamar mandi yang paling kotor. President dan co-founder AspenClean Alicia Sokolowski menyarankan untuk membersihkan toilet setidaknya seminggu sekali kalau sering digunakan.

    “Membersihkan secara rutin membantu menghilangkan kuman, menurunkan risiko penyakit dan penyebaran infeksi,” ujarnya, dikutip dari Martha Stewart.

    Membersihkan Area Shower

    Kalau di kamar mandi pakai shower, sebaiknya bersihkan seminggu sekali. Hal ini agar tidak ada sisa sabun yang menempel pada shower.

    “Sangat penting untuk menjaga kamar mandi tetap kering. Kerak sabun dan jamur tidak dapat menempel pada permukaan bak mandi atau shower jika tidak ada air yang bisa digunakan,” ujar pakar kebersihan dan founder Clean My Space Melissa Maker.

    Membersihkan Lantai Kamar Mandi

    Action of a human's hand is using floor brush to cleaning toilet marble tile floor. Close-up and selective focus at hand part.Ilustrasi membersihkan lantai kamar mandi. Foto: Getty Images/iStockphoto/Thank you for your assistant

    Untuk lantai kamar mandi sebaiknya dibersihkan secara rutin. Hal itu karena bagian lantai sering ada penumpukan bakteri, debu hingga sabun. Apalagi, kalau lantai kamar mandi jarang dibersihkan bisa jadi licin dan berbahaya bagi penggunanya.

    “Secara umum, disarankan untuk membersihkan lantai kamar mandi setidaknya seminggu sekali sebagai bagian dari rutinitas pembersihan rutin Anda untuk mencegah penumpukan kotoran, debu, rambut, dan cipratan dari perlengkapan mandi,” kata Sokolowski.

    Membersihkan Wastafel

    Kalau di kamar mandi ada wastafel, bersihkan setidaknya seminggu sekali. Hal itu supaya mencegah penumpukan sisa sabun, pasta gigi, maupun air yang bisa menjadi sarang bakteri.

    Itulah waktu yang tepat untuk membersihkan kamar mandi.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (abr/zlf)



    Sumber : www.detik.com

  • Pria Malaysia Kena Gagal Ginjal gegara Pola Makan, BB Sempat Sentuh 190 Kg


    Jakarta

    Seorang pria di Malaysia menceritakan pengalamannya menurunkan berat badannya yang mencapai 190 kg. Kondisi pria bernama Muhd Idzwan Syafiq Mohd Johari itu juga disertai dengan gagal ginjal.

    Semua ini bermula pada tahun 2019, Idzwan harus berbaring di tempat tidur selama tiga tahun. Ini terjadi akibat masalah tulang belakang akibat jatuh dari tangga saat berat badannya mencapai 150 kg.

    Idzwan juga mengalami asam urat dan pembekuan darah di paru-parunya. Sebelumnya, ia sangat bergantung pada makanan olahan yang tinggi garam, gula, dan perasa buatan hingga berat badannya pernah mencapai 190 kg.


    “Dulu saya tidak peduli dengan nutrisi. Saya suka makanan cepat saji, minuman manis, dan segala macam saus,” kata Idzwan yang dikutip dari Sinar Harian, Kamis (21/8/2025).

    “Tetapi, saat saya didiagnosis penyakit ginjal stadium akhir. Pada saat itu, saya baru mulai menyadari segala kesalahan saya selama ini,” sambungnya.

    Pada November 2023, Idzwan menjalani enam sesi dialisis atau cuci darah. Tetapi, itu harus dihentikan karena ia mengalami infeksi bakteri akibat bekas asam urat di tangan dan tubuhnya.

    Sejak saat itu, Idzwan mulai mengendalikan pola makannya menjadi lebih sehat. Hal ini bertujuan untuk menurunkan berat badannya.

    “Saya mulai makan lebih banyak sayuran, seperti bayam dan mentimun, menghindari protein hewani, produk susu, serta mengganti gula dengan madu,” tutur Idzwan.

    “Saya juga berhenti mengonsumsi makanan olahan, seperti nugget dan makanan cepat saji lainnya,” tambahnya.

    Berkat perubahan gaya hidup itu, berat badannya turun menjadi 55 kg dalam waktu enam bulan. Kondisi ini juga membuatnya bisa mengendalikan penyakit ginjal yang dialami.

    “Sebelumnya, saya sering lelah, wajah dan kaki bengkak, dan tidak bisa buang air kecil selama empat bulan. Sekarang, saya bisa bergerak aktif dan tidak lagi mengalami gejala berat,” bebernya.

    Namun, Idzwan masih menghadapi masalah kesehatan lainnya, termasuk harus menjalani operasi tulang belakang karena besi atau pen yang terpasang di tubuhnya mulai keluar. Tetapi, ia tetap optimis dan berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

    Idzwan mengatakan ibunya, Che Piah Che Seman (68), menjadi salah satu motivasi untuk bisa tetap hidup.

    “Saya mungkin tidak bisa makan seperti dulu, tetapi saya masih memiliki berkat lain yang patut disyukuri dan akan terus berjuang untuk hidup lebih sehat,” pungkasnya.

    (sao/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Makan Rebusan-Kukusan yang Keburu Dingin? Hati-hati, Ini Risikonya


    Jakarta

    Makanan rebusan-kukusan begitu nikmat disantap ketika masih hangat. Selain sensasi memakannya akan berbeda, jika terlalu lama didiamkan di suhu ruang, maka bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri.

    Spesialis gizi klinis, dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK mengatakan, makanan kukusan-rebusan yang didiamkan di suhu ruang bisa menimbulkan risiko. Salah satunya adalah pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan, seperti mual, muntah, dan diare.

    “Ini karena makanan rebus atau kukus punya kadar air tinggi, yang membuatnya rentan terhadap bakteri jika dibiarkan di “danger zone” suhu, yaitu antara 4°C hingga 60°C. Di rentang suhu ini, bakteri seperti Salmonella, E. coli, atau Bacillus cereus bisa berkembang biak dengan cepat, bahkan dua kali lipat setiap 20 menit,” katanya kepada detikcom, Kamis (13/12/2025).


    dr Ardian menuturkan, ada studi yang menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama dari penyakit akibat makanan adalah pendinginan yang tidak benar setelah dimasak.

    “Jadi, kalau makanan masak yang panasnya dibiarkan dingin perlahan di suhu ruang, bakteri di makanan itu bisa menghasilkan toksin yang tahan panas, artinya, meski dipanaskan ulang, toksinnya tetap ada dan ini yang menyebabkan infeksi,” tuturnya.

    “Khusus untuk makanan karbohidrat tinggi seperti singkong atau kentang, Bacillus cereus sering jadi masalah karena bisa tumbuh di makanan yang didinginkan lambat,” tambahnya.

    Namun, jika makanan sudah dingin karena disimpan disimpan dengan benar di kulkas dengan suhu

    “Jadi risiko muncul kalau dibiarkan dingin di meja atau suhu ruang terlalu lama,” katanya.

    Oleh karena itu, disarankan untuk mengonsumsi makanan rebus atau kukus seperti ubi, singkong, kentang, atau jagung secara langsung setelah matang. Hal ini untuk memaksimalkan manfaat nutrisi dan meminimalisir risiko keracunan.

    “Tapi, kalau nggak bisa langsung habis, nggak masalah kok, asalkan dinginkan cepat dan simpan langsung di kulkas, terus durasi maksimal 2 jam di suhu ruang, lalu masukkan kulkas, terus bisa dimakan dingin atau dipanaskan ulang sebelum dikonsumsi,” tuturnya.

    Menurut dr Ardian, yang terpenting adalah jangan sering-sering memanaskan dan mendinginkan makanan secara berulang, Hal ini bisa menurunkan kualitas kandungan nutrisinya.

    (elk/up)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com / Demi DeHerrera