Tag Archives: investasi

72% Pedagang Kripto RI Masih Rugi Bandar


Jakarta

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 72% bursa kripto atau Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) di Indonesia masih merugi sepanjang tahun 2025. Hal ini terjadi karena investor domestik memilih transaksi di sejumlah platform bursa kripto global.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai kondisi ini terjadi karena rendahnya kepercayaan investor yang berdampak pada minimnya volume transaksi. Menurutnya, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri kripto dalam negeri, salah satunya melalui insentif pajak.

“Kami berharap ada ruang untuk mendorong efisiensi biaya, termasuk melalui skema insentif yang tepat seperti insentif pajak, maupun struktur pendapatan yang lebih berimbang misalnya penerapan komponen biaya ekosistem seperti bursa fee, agar pelaku usaha bisa berinvestasi lebih besar pada kepatuhan dan perlindungan pengguna,” kata Calvin dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (24/1/2026).


Calvin juga menilai perlu adanya penguatan perlindungan konsumen. Pasalnya, mayoritas investor kripto di Indonesia berpendapatan di bawah Rp 8 juta per bulan berdasarkan riset LPEM FEB UI. Para investor juga didominasi berusia di bawah 35 tahun yang mayoritas berpendidikan SMA.

“Kalau basis investornya banyak dari kelompok yang bantalan finansialnya terbatas, maka perlindungan konsumen harus lebih ketat, mulai dari edukasi risiko, transparansi, sampai memastikan akses ke platform legal yang diawasi,” ujarnya.

Sebagai upaya memperkuat praktik pasar yang sehat, ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antar pihak untuk memberantas bursa kripto ilegal. Karena menurutnya, kehadiran platform ilegal berpotensi memangkas kontribusi pajak industri hingga Rp 1,7 triliun per tahun.

“Penegakan terhadap platform ilegal harus tegas, tapi juga perlu dibarengi literasi dan kolaborasi regulator, industri, komunitas, dan akademisi. Targetnya bukan hanya pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang aman dan berkelanjutan,” pungkas Calvin.

Diberitakan sebelumnya, OJK mencatat nilai transaksi aset kripto di Indonesia mencapai Rp 482,23 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut turun dibandingkan tahun 2024, yakni sebesar Rp 650 triliun. Kondisi ini menyebabkan 72% dari 29 PAKD menelan kerugian sepanjang 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto, Hasan Fawzi, mengatakan kerugian yang dialami perusahaan kripto domestik terjadi lantaran investor lebih memilih bursa global. Kondisi ini menjadi catatan bagi otoritas untuk memperkuat penetrasi industri kripto domestik.

“Dari data PAKD itu masih 72%-nya tercatat mengalami kerugian usaha,” ungkapnya dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI di Kompleks DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).

(ahi/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Longsor ke Level Terendah Sejak 2025


Jakarta

Harga bitcoin anjlok ke level terendah sejak pengumuman tarif resiprokal tahun 2025 oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Turunnya nilai bitcoin terjadi seiring dengan runtuhnya reputasi pada koin kripto tersebut.

Dilansir dari Financial Times, Senin (2/2/2026), harga bitcoin turun 7% pada hari Sabtu dan sempat menyentuh level terendah di US$ 76.503. Pada Minggu, pergerakannya relatif stabil di sekitar US$ 78.000, atau melemah sekitar 11% sejak awal tahun ini.

Penurunan ini terjadi meskipun harga emas dan logam mulia lainnya justru reli kuat. Kini investor memilih mencari aset aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman tarif.


Harga emas mencetak rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir, melonjak 23% hingga diperdagangkan di atas US$ 5.600 per troy ounce, meski sempat terkoreksi tajam pada Jumat ke sekitar US$ 4.800.

Selama ini, pendukung kripto kerap menyebut bitcoin sebagai emas digital, versi virtual dari logam mulia, dan mengklaim aset kripto ini menjadi tempat berlindung saat kondisi penuh tekanan.

Namun, Ilan Solot, senior global markets strategist di Marex Solutions, mengatakan bahwa bitcoin merupakan aset yang masih mencari model valuasi. Ia menambahkan bahwa tidak ada konsensus yang jelas mengenai faktor apa yang seharusnya mendorong harganya.

Sementara itu, Pramol Dhawan, managing director di Pimco, menyebut narasi bitcoin sebagai emas digital telah lenyap. Bitcoin sempat mencetak rekor hampir US$ 125.000 pada akhir tahun lalu, didorong antusiasme investor terhadap langkah-langkah Presiden AS Donald Trump yang pro-kripto.

Penunjukan regulator yang ramah industri, penghentian aksi penegakan hukum terhadap perusahaan kripto, serta pengesahan aturan stablecoin juga memberi sentimen positif terhadap bitcoin.

Namun setelah itu, harga bitcoin terus merosot. Mata uang kripto lain seperti ethereum dan solana juga mengalami penurunan tajam dari level puncaknya tahun lalu.

Ancaman tarif Trump, tuntutannya agar AS menguasai Greenland, serta meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Iran dan Venezuela telah mendorong investor beralih ke emas dan perak. Para pelaku pasar memperlakukan kripto sebagai aset yang lebih berisiko.

Simak juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Terpeleset ke Level Kritis, Investor Ramai-ramai Kabur


Jakarta

Harga Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam 16 bulan dan menguji level psikologis US$ 60.000. Pelemahan ini terjadi seiring aksi jual besar-besaran di saham teknologi global yang membuat investor menjauh dari aset-aset berisiko.

Mengutip Reuters, Jumat (6/2/2026), mata uang kripto terbesar di dunia itu terakhir tercatat naik 1,64% ke level US$ 64.153,24. Sepanjang sesi perdagangan, harga Bitcoin sempat naik-turun setelah sebelumnya jatuh ke posisi terendah US$ 60.008,52.

Level tersebut menjadi yang terlemah sejak Oktober 2024, atau sebulan sebelum Donald Trump memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat. Sebelumnya Trump menyatakan dukungan terhadap aset kripto dalam masa kampanye.


Kepala Riset Pepperstone Melbourne, Chris Weston, menilai penurunan Bitcoin sudah terjadi sejak Oktober 2025. Menurutnya, kondisi ini bisa menjadi sinyal awal tekanan pasar atau sekadar kebetulan. “Banyak posisi besar yang selama ini dipadati investor kini dilepas dengan sangat cepat,” ujar Weston.

Tak hanya Bitcoin, Ethereum juga ikut tertekan. Harga Ether terakhir naik 2,4% ke US$ 1.891,27, setelah sebelumnya merosot ke level terendah 10 bulan di US$ 1.751,94.

Data CoinGecko menunjukkan, nilai pasar kripto global telah menyusut sekitar US$ 2 triliun sejak mencapai puncak US$ 4,379 triliun pada awal Oktober. Bahkan, lebih dari US$ 1 triliun nilai pasar hilang hanya dalam satu bulan terakhir.

Bitcoin diperkirakan turun sekitar 16% sepanjang pekan ini, sehingga total penurunan sepanjang tahun berjalan mencapai 27%. Sementara itu, Ether mengarah ke penurunan mingguan 17% dan telah anjlok 36% sepanjang tahun ini.

Sentimen pasar kripto ikut tertekan oleh aksi jual di pasar logam mulia dan saham. Harga emas dan perak belakangan menjadi lebih volatil akibat aksi beli berbasis utang dan spekulasi berlebihan.

Sejak beberapa waktu terakhir, pergerakan Bitcoin juga kerap sejalan dengan saham teknologi. Harga kripto ini sebelumnya terdongkrak oleh antusiasme investor terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Co-chair Hong Kong Web3 Association, Joshua Chu, menilai pelemahan Bitcoin ke arah US$ 60.000 bukan berarti kripto akan runtuh. Menurutnya, ini lebih mencerminkan risiko yang selama ini diabaikan investor.

“Mereka yang bertaruh terlalu besar, berutang berlebihan, atau menganggap harga akan terus naik, kini merasakan langsung kerasnya volatilitas pasar dan pentingnya manajemen risiko,” katanya.

Meski begitu, pasar kripto memang sudah mengalami tekanan selama beberapa bulan terakhir sejak kejatuhan tajam pada Oktober lalu yang menyeret Bitcoin dari level tertingginya. Kondisi ini membuat minat investor terhadap aset digital perlahan mendingin.

Analis Deutsche Bank mencatat, dana kelolaan ETF Bitcoin spot di AS mengalami arus keluar lebih dari US$ 3 miliar pada Januari. Sebelumnya, arus keluar juga terjadi pada Desember dan November masing-masing sekitar US$ 2 miliar dan US$ 7 miliar.

(fdl/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Terkuak Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok


Jakarta

Harga Bitcoin (BTC) kembali anjlok. Berdasarkan data pasar pada Kamis (19/2), Bitcoin terkoreksi -1,25% ke kisaran US$ 66.450 atau setara Rp 1,12 miliar (asumsi kurs Rp 16.900).

Harga Bitcoin yang anjlok ini menyusul rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru yang menunjukkan adanya perbedaan pandangan para pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS).

Sebagai informasi, notulensi FOMC terbaru menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan hampir sepakat untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini. Namun, pasar merespons negatif adanya perbedaan pandangan terkait langkah The Fed selanjutnya.


Sejumlah pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap persisten. Sementara yang lain bersedia memangkasnya jika tekanan harga mereda.

“Koreksi harga yang terjadi pasca rilis FOMC ini adalah reaksi pasar yang sangat wajar dan bersifat sementara. Investor global saat ini hanya sedang melakukan penyesuaian terhadap timeline pemangkasan suku bunga The Fed,” ujar Vice President INDODAX Antony Kusuma dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2026).

Menurut Antony, meskipun Bitcoin saat ini berada di bawah level US$ 67.000, pergerakan ini masih berada dalam rentang konsolidasi yang sehat. Harga BTC di level US$64.000 menjadi titik support yang kuat, dan secara historis.

“Fase konsolidasi seperti ini justru sering menjadi fondasi yang baik sebelum pasar kembali menguat,” tambah Antony.

Antony menyoroti kaitan kondisi global ini dengan kebijakan moneter dalam negeri. Keputusan Bank Indonesia (BI) terkait BI Rate yang saat ini berada di 4,75-5,5% dinilai akan menentukan arah likuiditas investor domestik.

Ia menilai langkah Bank Indonesia ke depan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah tentu memberikan kepastian bagi perekonomian domestik. Di tengah dinamika suku bunga dan isu geopolitik global yang masih dinamis, Antony mengimbau investor kripto tidak perlu panik.

“Justru, kondisi makroekonomi seperti ini kembali mengingatkan kita pada fungsi utama Bitcoin sebagai aset lindung nilai (hedge) jangka panjang yang tangguh. Kami melihat ini sebagai momentum yang baik bagi investor untuk merencanakan portofolio mereka secara lebih matang,” jelas Antony.

(rea/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin cs Mulai Bangkit


Jakarta

Pasar kripto kembali pulih pada perdagangan Rabu (2/25) siang. Diketahui sebelumnya, aset digital kripto kompak terkoreksi imbas meningkatnya tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Selain itu, pengumuman tarif global baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga ikut menekan harga aset digital.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 11.15 WIB, token Bitcoin (BTC) tercatat kembali menguat 3,8% sepanjang 24 jam terakhir ke harga US$ 65.445 atau sekitar Rp 1,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.804). Harga BTC mulai bangkit dari level terendahnya pada harga US$ 62.694 atau sekitar Rp 1 miliar pada perdagangan pagi tadi.


Kemudian untuk token Ether (ETH) tercatat menguat 4,86% ke harga US$ 1.904 atau sekitar Rp 31,99 juta sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. ETH bangkit dari level terendahnya di harga US$ 1.813 atau sekitar Rp 30,46 juta.

Secara teknikal, pelemahan harga BTC sebelumnya terjadi karena gagal bertahan di area US$ 64.000 hingga US$ 65.000. Ruang koreksi juga masih terbuka secara jangka pendek, mengingat BTC masih bergerak di bawah level psikologis US$ 70.000.

“Data dari Standard Chartered, karena area US$ 64.000-US$ 65.000 gagal dipertahankan, memperingatkan potensi penurunan lanjutan hingga US$ 50.000 sebelum harga stabil. Saat ini, Bitcoin masih bergerak di bawah level psikologis US $70.000, menandakan tekanan jangka pendek masih membayangi pasar,” ungkap
Vice President Indodax, Antony Kusuma, kepada detikcom, Rabu (25/2/2026).

Meski begitu, Antony menjelaskan koreksi yang terjadi pada BTC cenderung lebih teratur dibanding siklus krisis sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan matangnya struktur pasar kripto dengan ruang pemulihan harga yang terbuka.

“Peluang rebound tetap terbuka. Saat ini pasar masih berada dalam fase konsolidasi atau pembentukan dasar harga (bottoming). Jika sentimen makro membaik dan terjadi aliran dana segar (inflow) kembali ke pasar, Bitcoin berpeluang keluar dari tekanan bearish,” jelasnya.

Antony menambahkan, investor saat ini biasanya menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau membeli secara bertahap. Langkah ini dilakukan untuk menekan dampak fluktuasi harga jangka pendek.

“Pendekatan ini dianggap lebih disiplin dibanding mencoba menebak titik terendah pasar di fase konsolidasi,” imbuhnya.

Sebelumnya, CEO Triv Gabriel Rey, menjelaskan melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” ujarnya kepada detikcom, Selasa (25/2).

Sebagai informasi, penguatan harga aset kripto juga terjadi pada sejumlah altcoin lainnya. BNB misalnya, tercatat menguat 0,79% sepanjang perdagangan 24 jam ke harga US$ 595,43. Nasib serupa juga terjadi pada token Solana (SOL) yang menguat 7,29% ke harga US$ 82,24.

Sementara untuk stablecoin Tether (USDT) bergerak stabil pada harga US$ 0.9998 dan USDC menguat 0,1% ke harga US$ 1. Penguatan juga dialami oleh memecoin seperti DOGE yang tercatat menguat 1,32% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09261.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Faktor Unik Sektor Properti di Bali, Integrasi Tradisi dan Inovasi Jadi Kunci



Jakarta

Bali, yang dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau dan budayanya yang kaya, telah lama menjadi tujuan favorit bagi wisatawan dari seluruh dunia.

Pertumbuhan pariwisata di Bali tidak hanya meningkatkan jumlah pengunjung tetapi juga mendorong perkembangan infrastruktur dan properti di seluruh pulau.

Dengan meningkatnya minat terhadap destinasi ini, kebutuhan akan akomodasi yang berkualitas dan berkelanjutan semakin meningkat.


Perkembangan properti di Bali tidak hanya berfokus pada kenyamanan wisatawan tetapi juga memainkan peran penting dalam memajukan ekonomi lokal dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat.

Pembangunan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak mengorbankan lingkungan dan budaya Bali yang unik.

Merespons kondisi itu, perusahaan pengembang properti yang berbasis di Bali Mirah Investment & Development mengumumkan komitmen jangka panjangnya untuk memajukan industri pariwisata Bali serta menciptakan lapangan pekerjaan yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Sebagai perusahaan yang mengutamakan keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan kelestarian lingkungan, Mirah Investment & Development terus berinovasi dalam setiap proyeknya untuk memberikan manfaat yang maksimal bagi Bali dan warganya.

Selama lebih dari dua dekade, Mirah Investment & Development telah berperan aktif dalam mengembangkan properti yang tidak hanya memenuhi kebutuhan wisatawan, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.

Melalui pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan, pengembang memastikan bahwa setiap proyek yang Mirah Investment & Development kembangkan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, terutama dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang stabil dan berkelanjutan.

“Visi kami adalah untuk menjadikan Bali sebagai destinasi pariwisata yang tidak hanya indah, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif. Kami percaya bahwa dengan mengutamakan kesejahteraan masyarakat lokal dan pelestarian lingkungan, kami dapat membantu Bali mencapai potensi maksimalnya,” ujar Hedar, Founder, Mirah Investment & Development.

Salah satu pilar utama dalam operasional pengembang ini adalah penerapan standar keselamatan yang tinggi bagi semua pekerja, khususnya mereka yang berasal dari komunitas lokal. Kami memberikan pelatihan dan edukasi berkelanjutan tentang praktik keselamatan kerja, memastikan bahwa setiap individu yang terlibat dalam proyek kami bekerja dalam lingkungan yang aman dan sehat.

“Kami selalu mengedepankan prinsip ‘Safety First’ dalam setiap proyek. Dengan melibatkan pekerja lokal, kami memastikan bahwa mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan aman dan efisien. Keselamatan dan kesejahteraan pekerja adalah prioritas utama kami,” tambah Hedar.

Selain fokus pada keselamatan dan kesejahteraan pekerja, Mirah Investment & Development juga berkomitmen untuk melestarikan budaya dan tradisi Bali. Setiap proyek kami dimulai dengan upacara adat Bali, sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal dan untuk mempererat hubungan dengan komunitas setempat.

“Melalui upacara adat dan keterlibatan masyarakat lokal, kami tidak hanya membangun properti, tetapi juga menjalin hubungan yang kuat dengan komunitas. Kami percaya bahwa pelestarian budaya lokal adalah kunci untuk pembangunan yang berkelanjutan,” pungkas Hedar.

Dengan semangat untuk terus memberikan kontribusi positif bagi Bali, Mirah Investment & Development berkomitmen untuk mengembangkan proyek-proyek yang berkelanjutan, mendukung pariwisata, dan menciptakan lapangan pekerjaan yang stabil bagi masyarakat lokal.

(dna/dna)



Sumber : www.detik.com