Tag Archives: iran

Biang Kerok Bitcoin Babak Belur


Jakarta

Bitcoin (BTC) bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (23/2/2026). Pelemahan terjadi bahkan hampir pada seluruh token kripto yang dipicu penerapan tarif global yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebesar 15%.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 18.10 WIB, harga BTC tercatat melemah 2,77% sepanjang 24 jam terakhir ke harga US$ 66.309 atau sekitar Rp 1,11 miliar (asumsi kurs Rp 16.816).

Harga BTC turun dari level US$ 68.193 atau sekitar Rp 1,14 miliar pada perdagangan pagi sekitar pukul 06.05 WIB.


Dikutip dari CNBC, pelemahan harga BTC hari ini memperpanjang koreksi token tersebut sejak bulan Oktober 2025. Diketahui saat itu, BTC melemah setelah menyentuh level tertinggi pada harga US$ 125.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar.

Kemudian secara kumulatif sejak bulan Oktober 2025, BTC tercatat telah melemah lebih dari 47% hingga hari ini. Sementara secara kumulatif sepanjang tahun 2026, BTC tercatat melemah 26%.

COO BTSE, Jeff Mei, mengatakan pelemahan hari ini terjadi akibat aksi jual bersih investor menyusul pengumuman tarif AS sebesar 15%. Selain itu, kekhawatiran investor juga dipicu oleh naiknya tensi geopolitik AS-Iran.

“Kami yakin bahwa kenaikan tarif yang tiba-tiba ini menyebabkan investor menjual aset kripto sebagai antisipasi penurunan pasar yang lebih serius,” ujar Jeff Mei dikutip dari CNBC, Senin (23/2/2026).

Sementara itu, Kepala Riset 10x Research, Markus Thielen, mengatakan pelemahan harga BTC terjadi karena rendahnya kepercayaan dan likuiditas pasar kripto. Secara teknikal, BTC berada pada fase bearish yang ditandai rendahnya volume transaksi dan ketidakpastian di AS. BTC juga disebut berpotensi melemah hingga ke harga US$ 50.000.

Sebagai informasi, pelemahan juga terjadi pada altcoin seperti Ethereum (ETH) yang terkoreksi hingga 3,16% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.917 atau sekitar Rp 32,23 juta. Kemudian pelemahan tercatat pada koin BNB dan Solana (SOL) di perdagangan 24 jam terakhir, yang masing-masing terkoreksi sebesar 2,74% dan 5,91%.

Untuk harga BNB tercatat di level US$ 607,09, sedangkan SOL tercatat melemah ke harga US$ 80,32. Memecoin juga bernasib serupa pada perdagangan hari ini. DOGE misalnya, tercatat melemah hingga 1,03% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09652.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Diramal Anjlok Makin Dalam, Ini Pemicunya


Jakarta

Aset kripto kompak melemah hingga perdagangan siang hari ini, Selasa (24/2/2026). Koreksi tajam yang terjadi pada sejumlah token utama kripto bahkan disebut masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah.

Dikutip dari data perdagangan Coinmarketcap pukul 13.00 WIB, pergerakan harga Bitcoin (BTC) melemah 3,02% sepanjang 24 jam terakhir ke level US$ 63.056 atau sekitar Rp 1,06 miliar (asumsi kurs Rp 16.837). Harga BTC turun dari US$ 66.451 atau sekitar Rp 1,11 miliar pada perdagangan pagi tadi.

Sementara Ether (ETH), tercatat melemah 2,28% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.824 atau sekitar Rp 30,71 juta. Secara kumulatif pada perdagangan seminggu terakhir, ETH bergerak melemah 7,76% dari harga US$ 1.973 atau sekitar Rp 33,22 juta.


CEO Triv, Gabriel Rey, menjelaskan harga BTC masih berpotensi terkoreksi. Menurutnya, level support harga BTC saat ini berada di US$ 59.000 atau sekitar Rp 993,2 juta untuk memastikan ruang untuk kembali menguat. Namun jika level tersebut tembus lebih rendah, ruang koreksi harga BTC disebut mencapai US$ 53.000 atau sekitar Rp 892,14 juta.

“Support terkuat harusnya ada di angka sekitar US$ 59.900 atau sekitar US$ 60.000, itu kita harusnya akan melihat bounce. Kalau memang itu sampai tembus, berarti kita akan melihat angka US$ 53.000. Tapi saya yakin harusnya US$ 60.000 tidak akan back down,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Selasa (24/2/2026).

Gabriel menjelaskan, melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” jelasnya.

Dihubungi terpisah Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, menjelaskan pelemahan pasar kripto terjadi imbas banyaknya ketidakpastian global yang memaksa pelaku pasar cenderung menghindari risiko atau risk off. Kemudian dominasi dari investor awam pada pasar kripto juga menjadi sentimen aksi jual bersih pada sejumlah token utama.

“Dengan dominasi dari investor awam (mainstream) di pasar crypto saat ini, tentunya ini akan memberikan ketidakpastian untuk mereka, yang membuat mereka akan cenderung terdesak menjual posisi mereka,” jelasnya.

Christopher menambahkan, kekhawatiran pelaku pasar kripto juga meningkat menyusul ancaman quantum computing. Imbas kombinasi sentimen tersebut, pasar kripto disebut masih akan terkoreksi dalam jangka pendek hingga menengah.

“Dalam waktu dekat ini, peluang harga untuk memulai kembali akan cenderung lebih kecil. Menurut saya, dalam waktu jangka pendek hingga menengah, bursa crypto secara keseluruhan akan cenderung terkonsolidasi,” jelasnya.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Bitcoin Diramal Makin Anjlok Gara-gara Trump


Jakarta

Aset kripto kompak tertekan pada perdagangan beberapa hari terakhir. Pelemahan pasar kripto ini disinyalir terjadi imbas ketidakpastian geopolitik dan pengumuman tarif impor yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Pelemahan terbesar terjadi pada token Bitcoin (BTC). Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 19.18 WIB, pergerakan harga BTC melemah 4,5% sepanjang 24 jam terakhir ke level US$ 63.225 atau sekitar Rp 1,06 miliar (asumsi kurs Rp 16.833). Harga BTC turun dari US$ 66.359 atau sekitar Rp 1,11 miliar pada perdagangan pagi tadi.

Sementara Ether (ETH), tercatat melemah 4,72% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 1.825 atau sekitar Rp 30,72 juta. Secara kumulatif pada perdagangan seminggu terakhir, ETH bergerak melemah 7,37% dari harga US$ 1.966 atau sekitar Rp 33,09 juta.


CEO Triv, Gabriel Rey, menjelaskan harga BTC masih berpotensi terkoreksi. Menurutnya, level support harga BTC saat ini berada di US$ 59.000 atau sekitar Rp 993,2 juta untuk memastikan ruang untuk kembali menguat. Namun jika level tersebut tembus lebih rendah, ruang koreksi harga BTC disebut mencapai US$ 53.000 atau sekitar Rp 892,14 juta.

“Support terkuat harusnya ada di angka sekitar US$ 59.900 atau sekitar US$ 60.000, itu kita harusnya akan melihat bounce. Kalau memang itu sampai tembus, berarti kita akan melihat angka US$ 53.000. Tapi saya yakin harusnya US$ 60.000 tidak akan back down,” ungkap Gabriel kepada detikcom, Selasa (24/2/2026).

Gabriel menjelaskan, melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” jelasnya.

Dihubungi terpisah Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, menjelaskan pelemahan pasar kripto terjadi imbas banyaknya ketidakpastian global yang memaksa pelaku pasar cenderung menghindari risiko atau risk off. Kemudian dominasi dari investor awam pada pasar kripto juga menjadi sentimen aksi jual bersih pada sejumlah token utama.

“Dengan dominasi dari investor awam (mainstream) di pasar crypto saat ini, tentunya ini akan memberikan ketidakpastian untuk mereka, yang membuat mereka akan cenderung terdesak menjual posisi mereka,” jelasnya.

Christopher menambahkan, kekhawatiran pelaku pasar kripto juga meningkat menyusul ancaman quantum computing. Imbas kombinasi sentimen tersebut, pasar kripto disebut masih akan terkoreksi dalam jangka pendek hingga menengah.

“Dalam waktu dekat ini, peluang harga untuk memulai kembali akan cenderung lebih kecil. Menurut saya, dalam waktu jangka pendek hingga menengah, bursa crypto secara keseluruhan akan cenderung terkonsolidasi,” jelasnya.

Simak juga Video ‘Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?’:

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin cs Mulai Bangkit


Jakarta

Pasar kripto kembali pulih pada perdagangan Rabu (2/25) siang. Diketahui sebelumnya, aset digital kripto kompak terkoreksi imbas meningkatnya tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Selain itu, pengumuman tarif global baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga ikut menekan harga aset digital.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 11.15 WIB, token Bitcoin (BTC) tercatat kembali menguat 3,8% sepanjang 24 jam terakhir ke harga US$ 65.445 atau sekitar Rp 1,09 miliar (asumsi kurs Rp 16.804). Harga BTC mulai bangkit dari level terendahnya pada harga US$ 62.694 atau sekitar Rp 1 miliar pada perdagangan pagi tadi.


Kemudian untuk token Ether (ETH) tercatat menguat 4,86% ke harga US$ 1.904 atau sekitar Rp 31,99 juta sepanjang perdagangan 24 jam terakhir. ETH bangkit dari level terendahnya di harga US$ 1.813 atau sekitar Rp 30,46 juta.

Secara teknikal, pelemahan harga BTC sebelumnya terjadi karena gagal bertahan di area US$ 64.000 hingga US$ 65.000. Ruang koreksi juga masih terbuka secara jangka pendek, mengingat BTC masih bergerak di bawah level psikologis US$ 70.000.

“Data dari Standard Chartered, karena area US$ 64.000-US$ 65.000 gagal dipertahankan, memperingatkan potensi penurunan lanjutan hingga US$ 50.000 sebelum harga stabil. Saat ini, Bitcoin masih bergerak di bawah level psikologis US $70.000, menandakan tekanan jangka pendek masih membayangi pasar,” ungkap
Vice President Indodax, Antony Kusuma, kepada detikcom, Rabu (25/2/2026).

Meski begitu, Antony menjelaskan koreksi yang terjadi pada BTC cenderung lebih teratur dibanding siklus krisis sebelumnya. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan matangnya struktur pasar kripto dengan ruang pemulihan harga yang terbuka.

“Peluang rebound tetap terbuka. Saat ini pasar masih berada dalam fase konsolidasi atau pembentukan dasar harga (bottoming). Jika sentimen makro membaik dan terjadi aliran dana segar (inflow) kembali ke pasar, Bitcoin berpeluang keluar dari tekanan bearish,” jelasnya.

Antony menambahkan, investor saat ini biasanya menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau membeli secara bertahap. Langkah ini dilakukan untuk menekan dampak fluktuasi harga jangka pendek.

“Pendekatan ini dianggap lebih disiplin dibanding mencoba menebak titik terendah pasar di fase konsolidasi,” imbuhnya.

Sebelumnya, CEO Triv Gabriel Rey, menjelaskan melemahnya pasar kripto secara umum dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Di samping itu, pengumuman tarif baru sebesar 15% yang diumumkan Presiden AS Donald Trump juga turut mempengaruhi pergerakan pasar kripto.

Sejalan dengan hal tersebut, terang Gabriel, banyak investor kripto yang menarik dananya dari sejumlah token utama. Hal tersebut juga tercermin dari menguatnya harga emas beberapa hari terakhir. Sementara itu, BlackRock juga tercatat melepas porsi di ETH usai pendiri token tersebut, Vitalik Buterin, melakukan jual bersih jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga saat ini.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” ujarnya kepada detikcom, Selasa (25/2).

Sebagai informasi, penguatan harga aset kripto juga terjadi pada sejumlah altcoin lainnya. BNB misalnya, tercatat menguat 0,79% sepanjang perdagangan 24 jam ke harga US$ 595,43. Nasib serupa juga terjadi pada token Solana (SOL) yang menguat 7,29% ke harga US$ 82,24.

Sementara untuk stablecoin Tether (USDT) bergerak stabil pada harga US$ 0.9998 dan USDC menguat 0,1% ke harga US$ 1. Penguatan juga dialami oleh memecoin seperti DOGE yang tercatat menguat 1,32% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.09261.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Anjlok Usai AS & Israel Serang Iran


Jakarta

Harga Bitcoin kembali terkoreksi usai Israel menyerang Iran hari ini, Sabtu (28/2/2026). Sepanjang perdagangan hari ini, token utama kripto itu tercatat bergerak di zona merah.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap pukul 14.50 WIB, harga Bitcoin terkoreksi 5,66% ke level US$ 63.840 (asumsi kurs Rp 16.802). Bitcoin juga tercatat sempat turun pada level terendah di harga US$ 63.245 sekitar pukul 14.00 WIB.

Pelemahan harga juga terjadi pada altcoin seperti Ether (ETH) yang terkoreksi sebesar 7,77% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke level US$ 1.870 atau sekitar Rp 31,42 juta. Kondisi ini memperdalam pelemahan ETH secara kumulatif dalam perdagangan sepekan terakhir, yakni sebesar 4,7%.


Altcoin lainnya juga kompak terkoreksi, seperti BNB yang melemah 4,52% ke harga US$ 598,42. Sedangkan untuk token Solana (SOL) terkoreksi lebih dalam sebesar 9,56% ke harga US$ 78,85.

Pelemahan harga juga terjadi pada memecoin seperti DOGE yang terkoreksi hingga 10,49% sepanjang perdagangan 24 jam terakhir ke harga US$ 0.08952. Namun begitu, stablecoin masih tercatat stabil dengan penguatan 0,03% ke harga US$ 1 untuk token Tether (USDT).

Dikutip dari CNBC, operasi militer AS-Israel terhadap Iran telah dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump melalui unggahan resmi Truth Social miliknya. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku tujuan penyerangan itu untuk membela rakyat Amerika.

“Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman nyata dari rezim Iran, sebuah kelompok kejam yang terdiri dari orang-orang yang sangat keras dan mengerikan,” kata Trump dalam pesan video di akun Truth Social miliknya, dikutip dari CNBC, Sabtu (28/2/2026).

(ahi/hns)



Sumber : finance.detik.com

Harga Aset Kripto Dunia Babak Belur, Transaksi di RI Ikut Turun


Jakarta

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terjadi penurunan jumlah investor dan transaksi aset kripto di Indonesia. Hal ini seiring dengan tren pelemahan harga sejumlah aset kripto utama di pasar global.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi mengatakan jumlah konsumen aset kripto mencapai 20,7 juta konsumen per Januari 2026. Jumlah itu sedikit menurun dibandingkan posisi Desember 2025 yang mencapai 20,19 juta.

“Terkait perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per Januari 2026 jumlah konsumen mencapai 20,7 juta konsumen atau tumbuh 2,56% month to date,” kata Hasan dalam konferensi pers bulanan di Gedung OJK Menara Radius Prawiro, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).


Kemudian nilai transaksi aset kripto tercatat Rp 29,24 triliun dan nilai transaksi derivatif dari aset keuangan digital Rp 8,01 triliun. Jumlah tersebut juga turun jika dibandingkan transaksi pada Desember 2025 yang sebesar Rp 32,68 triliun.

“Tentu ini sejalan dengan tren penurunan harga sejumlah aset kripto utama di kawasan global,” jelas Hasan.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah aset kripto utama dalam tren penurunan sejak beberapa waktu terakhir. Terbaru, penurunan terjadi usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Khusus Bitcoin, harganya telah merosot ke bawah level US$ 64.000 seiring intensitas aksi jual karena keraguan investor tentang kripto meningkat. Bitcoin telah turun hampir 30% selama setahun terakhir.

“Penjualan yang stabil ini menurut pandangan kami menandakan bahwa investor kehilangan minat dan pesimisme secara keseluruhan tentang kripto semakin meningkat,” kata analis Deutsche Bank, Marion Laboure dalam catatan kepada kliennya, dikutip dari CNBC.

(aid/fdl)



Sumber : finance.detik.com

Harga Bitcoin Naik Turun Sekejap, Investor Harus Apa?


Jakarta

Harga Bitcoin bergejolak di tengah ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung sejak Sabtu (28/2) kemarin. Imbas ketegangan tersebut, diketahui Iran menutup Selat Hormuz yang berimbas pada lonjakan harga minyak US$ 80 per barel.

Lonjakan harga tidak hanya terjadi pada komoditas minyak, melainkan juga emas dunia yang saat ini bergerak menguat di kisaran US$ 5.100 per troy ons. Sementara pasar kripto, bergerak volatil karena beroperasi 24 jam non-stop.

Berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap, Bitcoin sempat terkoreksi dalam ke level US$ 63.100 atau sekitar Rp 1 miliar (asumsi kurs Rp 16.930) pada akhir pekan. Kemudian harga Bitcoin bergerak di kisaran US$ 68.000 atau sekitar Rp 1,16 miliar dengan kapitalisasi pasar kripto global sekitar US$ 2,33 triliun.


Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai volatilitas harga Bitcoin mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makro. Pada fase awal gejolak, investor umumnya bersikap risk-off untuk menjaga likuiditas.

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).

Jika ketidakpastian berlanjut, Antony meminta investor mempertimbangkan aset yang lebih defensif. Menurutnya, pelaku pasar perlu menghindari keputusan berbasis FOMO, menerapkan diversifikasi portofolio, dan manajemen risiko secara disiplin.

Menurutnya, diversifikasi aset dapat dilakukan pada sejumlah stablecoin yang saat ini tercatat menguat. Stablecoin tersebut di antaranya Tether (USDT), USD Coin (USDC), hingga Tether Gold (XAUT).

“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama,” jelas Antony.

Antony menambahkan, pihaknya berkomitmen menjaga likuiditas, keamanan sistem, dan transparansi di tengah gejolak harga Bitcoin. Ia juga meminta investor untuk tetap rasional di tengah kondisi volatilitas pasar.

“Di tengah dinamika geopolitik, disiplin manajemen risiko serta memiliki perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi kunci untuk bersikap rasional dan adaptif menghadapi ketidakpastian global,” pungkasnya.

Tonton juga video “BNN Ungkap Sulitnya Lacak Transaksi Narkoba Lewat Bitcoin-Kripto”

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com

Investor Borong Bitcoin di Harga Diskon saat Timur Tengah Memanas


Jakarta

Harga Bitcoin melonjak di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Lonjakan signifikan tercatat pada perdagangan hari ini, Kamis (5/3/2026), yang bergerak dari rentang harga US$ 68.513 atau sekitar Rp 1,15 miliar (asumsi kurs Rp 16.900) menjadi US$ 72.028 atau sekitar Rp 1,21 miliar.

Sebelumnya, diketahui harga Bitcoin sempat terkoreksi di area US$ 66.000 atau sekitar Rp 1,11 miliar. Koreksi tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia ke level US$ 85 per barel imbas serangan AS terhadap Iran pada Sabtu (28/2) kemarin.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai kembalinya harga kripto dipicu oleh meningkatnya kepercayaan investor ritel maupun institusional. Kondisi ini memperkuat fondasi pasar kripto di tengah momentum harga diskon.


“Pergerakan Bitcoin yang cepat pulih setelah sempat terkoreksi menunjukkan bahwa minat beli investor masih aktif, khususnya di pasar spot. Koreksi ke area US$ 66.000 hingga US$ 67.000 justru dimanfaatkan sebagian pelaku pasar untuk melakukan akumulasi,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).

Di samping itu, ia menyebut investor institusional juga mulai melakukan inflow pada produk investasi berbasis Bitcoin seperti ETF. Fyqieh mengatakan, tercatat ratusan juta dolar AS masuk ke produk ETF Bitcoin dalam beberapa hari terakhir.

“Arus masuk dana ke ETF Bitcoin menjadi salah satu indikator bahwa minat investor institusional terhadap aset ini masih tinggi. Hal ini membantu menjaga likuiditas pasar dan memberikan dukungan terhadap harga ketika terjadi tekanan jangka pendek,” katanya.

Meski begitu, Fyqieh mengatakan masih tercatat netflow di sejumlah bursa kripto besar dunia. Binance misalnya, mencatat netflow sekitar 13.500 Bitcoin sejak akhir Februari. Bahkan dalam satu hari, lebih dari 3.800 Bitcoin ditarik dari bursa Binance.

Secara keseluruhan, tren netflow ini terjadi selama tujuh hari berturut-turut di berbagai bursa kripto utama. Namun menurut Fyqieh, tren ini menjadi sinyal sebagian investor memiliki pandangan jangka panjang terhadap Bitcoin.

“Ketika netflow di bursa berubah menjadi negatif, biasanya itu mengindikasikan investor tidak berniat menjual dalam waktu dekat. Mereka memindahkan aset ke wallet pribadi sebagai bagian dari strategi penyimpanan jangka menengah atau panjang,” ungkapnya.

Fyqieh mengingatkan, volatilitas pada aset Bitcoin masih berpotensi terjadi mengingat pasar global yang sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi. Ia mengatakan, Bitcoin yang bergerak di level US$ 70.000 menjadi area teknikal penting untuk menjaga momentum pergerakan harga.

“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas area US$ 70.000, peluang untuk melanjutkan pergerakan menuju kisaran US$ 72.000 hingga US$ 74.000 masih terbuka. Level tersebut menjadi area yang cukup penting untuk menjaga momentum pasar,” imbuhnya.

(ara/ara)



Sumber : finance.detik.com

Menara Badgir, Rahasia Rumah Sejuk Tanpa AC di Iran



Jakarta

Memasuki musim kemarau membuat udara di rumah terasa lebih panas dan membuat rumah terasa tidak nyaman. Biasanya, hal tersebut dapat diatasi dengan memasang AC atau kipas angin di ruangan agar udara panas dapat berkurang. Namun di Iran ada benda yang membuat rumah terasa dingin tanpa listrik.

Melansir dari Tehran Times, pada Senin (14/04/2025), di Iran terdapat teknologi sederhana tanpa listrik untuk membuat ruangan terasa dingin. Bernama Badgir atau windcatcher yang berfungsi sebagai penangkap angin. Badgir berbentuk menara seperti cerobong asap dengan sisi samping yang terbuka. Desain ini sengaja dirancang untuk menangkap angin untuk bangunan di bawahnya.

Tak hanya menyalurkan angin, Menara Badgir juga bisa mengeluarkan udara panas melalui ventilasi yang berlawanan. Ventilasi alami ini diklaim bisa mengurangi suhu ruangan sebesar 8 hingga 12 derajat celcius.


Pada beberapa bangunan, Menara Badgir juga dirancang untuk mengarahkan udara ke saluran air bawah tanah yang berada di bawah rumah. Adanya air dapat mengurangi suhu lebih rendah lagi sehingga memberi pendingin tambahan kepada ruangan.

Menara Badgir memiliki tiga komponen utama, yaitu poros sebagai saluran udara, sendok angin di atas untuk menangkap dan mengarahkan udara, serta bagian dasar untuk mendistribusikan udara secara merata ke seluruh ruangan. Ketiga komponen ini dapat bekerja sama untuk menciptakan perbedaan tekanan udara sehingga menghasilkan udara sejuk ke rumah, masjid, bahkan istana.

Selain bermanfaat, menara Badgir juga sekaligus simbol identitas dan keterampilan arsitektur Iran. Bentuk menara yang menjulang tinggi di beberapa kota, seperti Yazd, Kerman, dan Kashan, mencerminkan kecerdasan para pembangun Persia yang mampu menyelaraskan bentuk, fungsi, dan keberlanjutan.

(das/das)



Sumber : www.detik.com

Israel Izinkan Pemukim Yahudi Gelar Pernikahan di Masjid Al Aqsa



Jakarta

Pasukan pendudukan Israel mengizinkan upacara pernikahan bagi pemukim Yahudi di halaman Masjid Al Aqsa, Yerusalem Timur. Tindakan ini dinilai menandai babak baru Yahudisasi di situs suci tersebut.

Dilansir Arab News, upacara pernikahan pemukim Israel itu berlangsung pada Senin (30/6/2025). Mereka didampingi polisi Israel saat memasuki kompleks Al Aqsa. Polisi melarang warga Palestina mengganggu upacara tersebut.

Kegubernuran Yerusalem milik Otoritas Palestina mengecam tindakan tersebut sebagai “provokatif dan memalukan”. Pihaknya menilai Israel telah melanggar kesucian Masjid Al Aqsa secara terang-terangan.


“Kegubernuran Yerusalem menyatakan dalam siaran persnya bahwa perubahan Al Aqsa menjadi semacam balai perayaan umum bagi para penjajah merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kesucian masjid, provokasi berat terhadap sentimen muslim, dan upaya yang disengaja untuk memaksakan realitas baru yang bertujuan menghapus identitas Islam di tempat tersebut,” lapor kantor berita WAFA.

Pemerintah Daerah Yerusalem mengutuk tindakan tersebut sebagai bagian kebijakan sistematis yang bertujuan mengubah fitur-fitur masjid dan memaksakan kedaulatan pendudukan.

“Pelanggaran-pelanggaran berulang ini bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi UNESCO, yang mengakui Masjid Al Aqsa sebagai situs suci warisan Islam,” tambah laporan itu.

Kegubernuran minta masyarakat internasional dan badan-badan PBB terkait segera mengambil tindakan untuk menghentikan pelanggaran Israel di Al Aqsa. Selain itu, tindakan perlindungan terhadap situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem.

Ketegangan di Al Aqsa semakin meningkat belakangan ini. Pemukim Israel menyerbu kompleks tersebut setiap hari. Sementara itu, Israel terus membatasi akses jemaah muslim.

Laporan Middle East Monitor, pada Minggu (22/6/2025) pagi, pasukan pendudukan Israel menutup total Masjid Al Aqsa dan melarang ibadah muslim sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Saksi mata mengatakan polisi Israel hanya mengizinkan karyawan, pekerja, dan penjaga untuk masuk Masjid Al Aqsa, menyusul perintah Komando Front Dalam Negeri Israel. Sebelumnya, Israel juga menutup total akses masjid bertepatan dengan serangan Israel ke Iran.

(kri/inf)



Sumber : www.detik.com