Tag: islam

  • Alasan Dakwah Sunan Ampel Mudah Diterima oleh Penduduk Jawa



    Jakarta

    Sunan Ampel berdakwah di tengah masyarakat Jawa yang kala itu masih kental dengan budaya Hindu-Buddha. Meski demikian, dakwah Sunan Ampel mudah diterima oleh penduduk Jawa. Apa alasannya?

    Sebagai seorang muslim di Indonesia, terutama tanah Jawa, tentu kita tidak asing dengan nama Sunan Ampel. Ia termasuk dalam salah satu sunan di deretan nama-nama wali songo yang ada di Jawa.

    Sunan Ampel adalah keturunan ke-12 dari Husein bin Ali RA. Ia memiliki nama asli Ali Rahmatullah dan merupakan anak dari Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim dengan Putri Champa, sebagaimana dijelaskan dalam buku Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa karya Alik Al Adhim.


    Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 di Campa, Aceh. Ia memiliki akhlak dan akidah yang sama dengan ajaran Islam sebab ia dibesarkan dalam keluarga yang kental keislamannya.

    Disebutkan dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida’, Sunan Ampel adalah salah satu wali yang berdakwah di tanah Jawa, tepatnya di kota Surabaya.

    Setelah pindah ke Jawa Timur, ia sering disebut dengan nama Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Ia memiliki kepribadian yang alim, bijaksana, dan berwibawa.

    Sunan sendiri adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat untuk kewaliannya, sedangkan Ampel adalah tempat tinggalnya, yakni di daerah Ampel atau Ampel Denta.

    Saat ini wilayah Ampel menjadi bagian dari Surabaya. Setelah wafat, Sunan Ampel dimakamkan di tempat yang sama, yaitu sebelah barat Masjid Ampel.

    Ajaran Sunan Ampel sangat mudah diterima oleh masyarakat Jawa kala itu. Padahal kebudayaan Hindu-Buddha masih kental di antara mereka. Lantas, apa yang membuatnya demikian?

    Alasan kenapa dakwah Sunan Ampel mudah diterima oleh penduduk Jawa adalah karena ia menggunakan pola pengajaran tasawuf dalam pengajaran agama Islam. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam buku Sejarah Lengkap Islam Jawa: Menelusuri Genealogi Corak Islam Tradisi yang ditulis oleh Husnul Hakim.

    Dakwah ajaran Islam yang dikembangkan di pesantren Sunan Ampel dan selanjutnya oleh para wali songo adalah ajaran Islam model tasawuf, bukan model fikih. Hal ini disebabkan karena masyarakat Jawa sudah sangat kental dengan sistem dan pola pengajaran dukuh, dengan ajaran yamabrata dan niyamabrata.

    Singkatnya, yamabrata adalah tata cara pengendalian diri untuk tidak berbuat buruk. Adapun, niyamabrata adalah sikap menghiasi diri dengan sifat-sifat ilahi atau suci.

    Sebagaimana dijelaskan di atas, masyarakat Jawa kala itu masih sangat erat kaitannya dengan ajaran Hindu-Buddha. Tentu saja para pendakwah Islam tidak bisa langsung menghapus atau memutus seluruh hubungan antara masyarakat dengan ajaran mereka.

    Oleh sebab itu, Sunan Ampel memilih untuk memanfaatkan ajaran Hindu-Buddha ini untuk mendekatkan dan mengenalkan ajaran Islam kepada mereka.

    Sunan Ampel mengubah pendidikan Syiwa-Buddha yang disebut dengan “dukuh” dan lembaga kapitayan yang disebut dengan padepokan menjadi lembaga pendidikan Islam.

    Sunan Ampel mengubah istilah “susuhunan” menjadi “sunan”, “sashtri” dan “cantrik” menjadi “santri”, serta “dukuh” dan “padepokan” menjadi “pesantren” (dalam bahasa Indonesia disebut pesantrian).

    Sunan Ampel mengajarkan ajaran Islam dengan model tasawuf, di mana masyarakat menganggap pengetahuan rohani Islam tidak berbeda dengan Syiwa-Buddha. Apalagi, pola pengajaran ini di dukuh-dukuh tidak beda jauh dengan pola pengajaran tasawuf.

    Pengajaran ini menitikberatkan pada pembentukan watak mulia, budi pekerti murid yang luhur, jujur, tidak membenci, suka menolong, menjalankan syariat dengan baik, selalu bersyukur, dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan.

    Selain itu, alasan kenapa dakwah Sunan Ampel mudah diterima oleh penduduk Jawa adalah karena beliau mengganti istilah berbahasa Arab dengan istilah-istilah yang lebih mudah dan masih mengandung kapitayan dan Hindu-Buddha.

    Contohnya adalah menggunakan “Kanjeng Nabi” untuk memanggil “Nabi Muhammad SAW”, “susuhunan” untuk menyebut “syekh”, “kiai” untuk memanggil “al-‘alim”, “guru” untuk menyebut “ustadz”, dan masih banyak lagi.

    Sunan Ampel dan para wali songo juga mengambil alih anasir-anasir tradisi keagamaan Syiwa-Buddha dan kapitayan ke dalam adat kebiasaan masyarakat Islam. Contohnya adalah penggunaan beduk untuk penanda waktu sembahyang.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Islam Sebagai Agama Publik di AS



    Jakarta

    Islam sejak awal menjadi sebuah agama publik. Nabi Muhammad diutus bukan hanya untuk menjadi pembimbing bagi umat Islam tetapi juga untuk umat manusia secara keseluruhan, bahkan untuk segenap alam semesta, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. al-Anbiya’/21:107). Lebih khusus lagi Islam sebagai agama akhir zaman dan Nabi Muhammad Saw sebagai akhir sebagai Nabi dan Rasul, sudah barang tentu Islam harus menjadi isu utama di dalam mewujudkan kemanusiaan yang lebih bermartabat.

    Tantangan umat Islam selanjutnya ialah bagaimana menjadikan Islam sebagai sebuah agama publik, yang dapat dipahami dan diterima semua pihak tanpa menimbulkan ketegangan dan gesekan. Bagaimana mewujudkan Islam sebagai agama publik yang paralel dengan nilai-nilai lokal yang sudah hidup dan berkembang sebelum kedatangannya di suatu negeri. Khusus untuk AS, sebuah negara besar yang sudah memiliki karakter dan kepribadian sendiri dan dipegang teguh oleh rakyat AS. Bagaimana menjadikan Islam sebagai sebuah agama yang bisa saling mendukung antara kearifan lokal AS dan nilai-nilai dasar universal Islam.

    Seperti yang pernah dijelaskan di dalam artikel terdahulu bahwa nilai-nilai dasar universal Islam tumpang tindih (overlapped) dengan karakter dan kepribadian AS yang realitas sosial masyarakatnya pluralistik. Islam juga mengakui adanya kemajemukan dan pluralitas umat manusia, di manapun dan kapan pun, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. al-Hujurat/49:13).


    Watak dasar masyarakat AS ialah sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), sama dengan Islam juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bahkan sudah jadi mayat sampai kuburan pun Islam memberikan pengaturan. Membunuh satu nyawa sama dengan membunuh semua nyawa dan menghidupkan satu nyawa sama dengan menghidupkan semua nyawa lainnya. Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maidah/5:32). Allah SWT juga menegaskan bahwa semua anak manusia, anak cucu Adam (bani Adam) wajib dimuliakan, sebagaimana ditegaskan dalam ayat: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (Q.S. Al-Isra’/17:70).

    Di dalam memilih dan menetapkan pemimpin, termasuk Kepala Negara, AS mengacu kepada sistem demokrasi, yang mengacu kepada pilihan rakyat. Siapapun yang terpilih maka dialah yang harus dihormati sebagai pemimpin. Berbeda dengan sistem monarki yang memberikan kewenangan lebih kepada raja untuk menentukan Kepala Negara. Semangat Islam sesungguhnya lebih condong ke semangat demokrasi daripada ke semangat monarki. Islam mengedepankan musyawarah dan dialog di dalam menentukan hal-hal yang prinsip, termasuk penentuan Kepala Negara, sebagaimana dijelaskan dalam ayat: Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. (Q.S. Ali ‘Imran/3:159). Atas dasar persamaan nilai-nilai dasar ajaran Islam dan karakter masyarakat AS, maka wajar jika Islam sebagai agama sebagaimana dikatakan oleh Hillary Clinton: “Islam is the fastest growing religion in USA” (Islam adalah agama paling cepat perkembangannya di AS).

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengapa Islam Begitu Menarik di AS?



    Jakarta

    Hasil penelitian Pew Research Center menemukan bahwa pemeluk Islam diperkirakan meningkat 70 persen dari 1,8 miliar pada 2015 menjadi tiga miliar pada 2050. Hal senada juga pernah dinyatakan oleh Menlu dan Cawapres AS, Hillary Clinton, ketika berkunjung di ndonesia menyatakan “Islam is fastest growing religion USA”. Hal senada juga pernah dibayangkan oleh Prof. John L. Esposito, Director of Center for Muslim-Critian Understanding, CMCU, Georgetown University.

    Menurut Michael Lipka, Editor senior Pew Research Center, USA, ada dua faktor utama yang berpengaruh pada pertumbuhan agama Islam di AS ialah, Pertama, umat Islam memiliki lebih banyak anak daripada anggota kelompok agama lainnya. Penelitiannya menemukan di seluruh dunia, setiap perempuan Muslim memiliki rata-rata 2,9 anak, dibandingkan dengan 2,2 untuk semua kelompok agama lainnya.

    Kedua, umat Islam merupakan kelompok agama termuda. Angka ini menunjukkan adanya banyak pemeluk agama Islam berusia muda dibandingkan agama-agama besar lain. Ia menemukan usia pemeluk agama Islam 24 tahun pada 2015, berarti tujuh tahun lebih muda dari usia rata-rata non-Muslim.” Lebih lanjut Pew-RS menemukan umat Islam di di dunia, khususnya di AS, berada pada usia produktif. Usia produktif bisa berkontribusi lahirnya anak-anak baru mungkin leih dari dua orang.


    Pew Research Center menemukan hal ini pada 2015. Ia menyimpulkan bahwa dari sebuah fakta bahwa ada 1,8 miliar Muslim di dunia (24%) dari populasi terbesar kedua atau Islam akan menjadi agama terbesar kedua di dunia.

    Populasi umat Islam di seluruh dunia (62%) tinggal di wilayah Asia Pasifik, termasuk populasi terbesar di Indonesia, lalu disusul India, Pakistan, dan Bangladesh. Indonesia saat ini merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, namun Pew Research Center memproyeksikan bahwa India akan menjadi negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbanyak pada 2050. Tidak lama lagi India akan memiliki penduduk muslim sekitar 300 juta, meskipun agama Hindu tetap akan menjadi agama mayoritas di negeri ini.

    Selain itu, Lipka menyebutkan bahwa populasi Muslim di Eropa juga tumbuh. Pew memproyeksikan jumlah Muslim di seluruh Eropa mencapai 10 persen dari keseluruhan populasi pada 2050. Ini jumlah yang sangat fantastik. Dalam temuan Pew menemukan bahwa kendati tidak mengubah populasi global, migrasi membantu meningkatkan populasi Muslim di sejumlah wilayah, termasuk Amerika Utara dan Eropa,” Lebih lanjut Pew juga melaporkan hasil survei terbaru terkait persepsi umat Islam terhadap ISIS. Hasilnya, kebanyakan orang di beberapa negara dengan populasi Muslim yang signifikan memiliki pandangan bahwa ISIS merupakan organisasi yang merugikan. Kehadiran ISIS bagi umumnya masyarakat AS lebih banyak merugikan dunia Islam.

    Penemuan lainnya, hampir semua responden di Lebanon (94%) Yordania. Namun, di beberapa negara, sebagian besar penduduk tidak punya pendapat tentang ISIS, termasuk 62 persen Muslim di Pakistan. Secara umum, kebanyakan Muslim juga mengatakan bom bunuh diri dan bentuk kekerasan lainnya terhadap warga sipil atas nama Islam jarang atau tidak pernah dibenarkan.

    Survei ini termasuk 92 persen di Indonesia dan 91 persen di Irak. Di beberapa negara, tindakan kekerasan ini setidaknya kadang-kadang dapat dibenarkan, termasuk 40 persen di wilayah Palestina, 39 persen di Afghanistan, 29 persen di Mesir dan 26 persen di Bangladesh. Namun, Umat Islam di seluruh dunia hampir secara universal dipersatukan oleh keyakinan. “Keyakinan satu Allah dan Nabi Muhammad SAW, serta praktik ritual keagamaan tertentu seperti puasa selama Ramadhan,”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Siapa Sahabat Rasulullah yang Rumahnya Jadi Pusat Dakwah?



    Jakarta

    Dakwah menjadi salah satu kunci penting dalam penyebaran Islam. Rasulullah SAW memiliki sejumlah sahabat yang berperan penting dalam berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam.

    Para sahabat Rasulullah SAW dengan giat dan sabar dalam menghadapi berbagai rintangan. Bahkan salah satu sahabat Rasulullah menjadikan rumahnya sebagai pusat berdakwah.

    Salah satu sahabat Rasulullah SAW yang rumahnya dijadikan pusat berdakwah adalah Arqam bin Abi al-Arqam. Berikut kisahnya.


    Arqam bin Abi al-Arqam, Sahabat yang Rumahnya Jadi Pusat Dakwah

    Dirangkum dari buku Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW: Memahami Kemuliaan Rasulullah Berdasarkan Tafsir Mukjizat Al-Qur’an oleh Yoli Hemdi, Arqam bin Abi al-Arqam adalah sahabat ketujuh yang masuk Islam, namun namanya tidak setenar sahabat yang lain. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam.

    Rumah Arqam bin Abi al-Arqam ini dijadikan sebagai pusat berdakwah Rasulullah SAW pada masa dakwah sirri atau sembunyi-sembunyi. Pusat dakwah ini disebut dengan Darul Arqam atau Dar al-Arqam.

    Rumah Arqam yang terpencil di masa dakwah Islam ini berada di bagian bukit Safa. Sehingga aman dari kaum Quraisy karena mereka tidak mampu mendeteksinya.

    Arqam berasal dari suku Makhzum yang merupakan musuh suku Hasyim (keluarga besar Rasulullah SAW) pada masa jahiliyah. Sehingga para penyembah berhala ini tidak mencurigainya.

    Selain itu, Arqam juga masuk Islam di usia sekitar 16 tahun. Sehingga kaum Quraisy tidak curiga jika Rasulullah SAW berkumpul di rumahnya.

    Sebelumnya, tempat ini disebut dengan Daar al-Arqam atau rumah al-Arqam. Kemudian disebut dengan Daar al-Islam atau Rumah Islam setelah Arqam memeluk Islam.

    Tempat tini menjadi madrasah Islam yang pertama. Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi pengajarnya adalah Rasulullah SAW. Selain sebagai tempat untuk belajar agama, strategi melebarkan dakwah Islam pun juga direncanakan.

    Rasulullah SAW secara sengaja menyembunyikan madrasah ini dari orang-orang Quraisy. Sebab, hal ini merupakan strategi beliau karena pada saat itu jumlah umat Islam masih sangat sedikit dan belum kuat.

    Golongan as-Sabiqun al-Awwalun (golongan pertama yang masuk Islam) secara berkala datang ke rumah Arqam. Mereka melaksanakan pengajian selama tiga tahun semenjak Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT.

    Rasulullah SAW tetap mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam. Namun belum terjadi kasus penghalangan karena kaum musyrikin Quraisy tersebut belum merasa mendapatkan ancaman. Sebab pada saat itu kaum muslim masih dipandang sebelah mata.

    Rumah Arqam pernah gempar di masa Umar bin Khattab. Kaum Quraisy kemudian datang menggedor pintu dengan pedang terhunus, yang disambut Rasulullah SAW dengan menarik ikatan bajunya dengan tarikan keras.

    Rasulullah SAW bersabda, “Apa yang menyebabkan engkau datang ke mari, hai anak Khattab? Demi Allah, aku melihat bahwa engkau tidak menghentikan tindakanmu selama ini, Allah akan menurunkan siksa kepadamu.”

    Meski yang datang adalah jagoan dari kaum Quraisy, namun bentrokan tidak terjadi. Sebab Umar bin Khattab RA menjawab, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan apa saja yang engkau bawa dari Allah.”

    Rumah Arqam mulai menarik perhatian dari pihak-pihak yang lain. Secara tiba-tiba rumah Arqam terlihat oleh beberapa kafir Quraisy yang hendak membuat onar.

    Mereka mencaci maki dan hendak memerangi kaum muslim. Dengan sigap, Sa’ad bin Abi Waqqash memukul salah satu dari mereka sehingga darah pun tertumpah. Inilah darah pertama yang tertumpah dalam pergerakan Islam.

    Meski Arqam tidak dikenal secara luas, namun diri dan rumahnya memiliki peran yang sangat penting untuk melakukan dakwah di tengah keterbatasan.

    Renovasi pada Darul Arqam

    Merujuk pada buku Ensiklopedia Fiqih Haji & Umrah oleh Arifin, pada tahun 171 H dibangun sebuah masjid oleh Khaizuran, ibu Khalifah Bani Abbasiyah Harun Al-Rasyid. Kemudian pada tahun 1375 H, tempat itu dibongkar untuk perluasan Masjidil Haram.

    Sekarang Darul Arqam sudah menyatu menjadi tempat Sa’i. Guna mengenang sejarah ini, salah satu pintu di Masjidil Haram diberi nama dengan pintu Darul Arqam.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Tema Iman, Islam dan Perdamaian


    Jakarta

    Khutbah Jumat kali ini akan membahas tentang iman, Islam, dan perdamaian. Dalam naskah ini dijelaskan bahwa agama dan perdamaian saling mendukung satu sama lain.

    Keberadaan perdamaian menjadi kunci untuk melaksanakan agama dengan sepenuhnya, begitu pula sebaliknya. Tanpa kehadiran agama, kehidupan yang damai dapat menjadi sekuler.

    Maka dari itu, kita sebagai muslim diminta untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Agar iman kita bisa tumbuh serta menjadi manusia yang damai, sehingga dapat memberikan hal positif untuk banyak orang.


    Berikut naskah khutbah tentang Iman, Islam dan Perdamaian yang disusun oleh Sekretaris MUI Provinsi Lampung, H Muhammad Faizin. Dilansir dari laman Kemenag, Kamis (14/12/2023).

    Khutbah I

    الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَى قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ المُؤْمِنِيْنَ وَجَعَلَ الضِّياَقَ عَلَى قُلُوْبِ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ اْلحَقُّ اْلمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الأَمِيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلمِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ أَيُّهاَ اْلحَاضِرُوْنَ اْلمُسْلِمُوْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

    Jamaah Jumat Rahimakumullah,

    Pada kesempatan mulia ini, khatib berwasiat pada diri khatib sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan menjadi bekal utama dan sangat berharga saat kita bertemu dengan Allah SWT kelak, dan orang yang paling bertakwa akan mendapatkan posisi yang paling mulia di sisi Allah SWT.

    Selain menguatkan ketakwaan, sudah menjadi kewajiban kita untuk senantiasa mengungkapkan dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia Iman dan Islam, serta berbagai kenikmatan kehidupan lainnya di dunia ini. Kenikmatan yang kita syukuri ini telah dijanjikan oleh Allah SWT akan ditambah. Sebaliknya jika kita mengufuri nikmat Allah, maka balasan berupa siksa pedih dari Allah akan kita terima.

    Kemudian dengan mensyukuri nikmat iman dan Islam ini, tidak hanya akan memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, namun juga akan memberikan kemaslahatan bagi orang lain. Di antara buah dari keteguhan iman dan Islam adalah terwujudnya kebaikan dan kemaslahatan bagi orang lain yang terwujud dalam bentuk perdamaian di kehidupan masyarakat.

    Iman, Islam, dan perdamaian merupakan satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Jika seseorang memiliki iman dan Islam yang baik, maka bisa dipastikan kedamaian akan menghiasi dan menaungi kehidupannya bersama masyarakat.

    Jamaah Jumat Rahimakumullah,

    Dilihat dari kata ‘Islam’ itu sendiri, para ulama memaknainya dengan arti perdamaian sehingga Islam dan perdamaian adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Orang akan tergolong mengingkari nilai keislaman itu sendiri jika tidak mengedepankan perdamaian dengan sesama umat Islam dan juga seluruh manusia pada umumnya.

    Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Bararah ayat 208:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”

    Jamaah Jumat Rahimakumullah,

    Melalui ayat ini, Allah mengingatkan kepada manusia untuk tidak setengah-setengah dalam masuk ke dalam agama Islam. Allah mengingatkan untuk masuk pada agama Islam dengan kaffah (menyeluruh) yang di dalamnya juga terkait bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam seperti perdamaian. Dengan terwujudnya perdamaian dalam kehidupan, maka segala sektor kehidupan akan dapat berjalan dengan baik seperti pembangunan dan termasuk juga ketenangan dalam beribadah.

    Kita bisa merasakan sendiri bagaimana nikmatnya beribadah di tengah-tengah perdamaian yang jauh dari konflik dan peperangan. Jika saat ini kita berada dalam situasi perang, maka bisa dipastikan kita tidak bisa beribadah dengan tenang seperti ini. Oleh karenanya nikmat perdamaian yang merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Islam ini harus terus kita pertahankan.

    Bukan hanya mendapatkan efek positif dalam kehidupan dunia, perdamaian juga merupakan sebuah sikap yang memiliki nilai pahala. Rasulullah sendiri menyebutkan bahwa ketika seseorang mampu mewujudkan perdamaian, maka pahalanya akan bisa melebihi pahala shalat, zakat, dan sedekah. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw melalui hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi:

    أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصَّلَاةِ، وَالصِّيَامِ، وَالصَّدَقَةِ؟ ” قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ” إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ. وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

    “Maukah jika aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah? Para sahabat berkata, Tentu ya Rasulullah. Beliau bersabda: Mendamaikan orang yang sedang berselisih. Rusaknya orang yang berselisih adalah pencukur (mencukur amal kebaikan yang telah dikerjakan).”

    Dari hadits ini kita bisa mengetahui bahwa Nabi Muhammad sangat mendorong kita untuk mampu menjadi juru perdamaian. Hal ini selaras dengan misi nabi yang merupakan penyempurna akhlakul karimah. Orang yang mengedepankan perdamaian memiliki akhlak yang baik dengan memberi tauladan untuk menebar kasih sayang dan menghindari permusuhan.

    Terlebih di negara kita ini yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi sebuah bangsa yang penuh dengan keanekaragaman suku, agama, budaya, dan adat istiadat. Prinsip perdamaian dalam perbedaan harus terus kita pegang dan semai bersama. Bukan hanya saat ini saja, namun para generasi penerus juga harus mampu meneruskannya. Bukan kepada sesama umat Islam saja, namun kepada seluruh masyarakat yang ada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita perlu mengingat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13:

    يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

    “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

    Jamaah Jumat Rahimakumullah,

    Oleh karenanya di penghujung khutbah ini, khatib berpesan, mari kita terus pupuk perdamaian dalam kehidupan terlebih dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Perdamaian yang mampu kita wujudkan ini menjadi sebuah bukti nyata bahwa kita adalah orang yang benar-benar Islam dan juga orang yang benar-benar beriman. Amin ya rabbal alamin.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

    اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Sesama Muslim Harus Saling Tolong Menolong


    Jakarta

    Naskah khutbah Jumat kali ini akan membahas soal manusia yang tidak bisa lepas dari orang lain. Karena hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.

    Membantu sesama adalah hal yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dalam surat Al-Maidah ayat 2, Allah SWT berfirman,

    …وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ


    Artinya: “…Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.

    Mengutip buku “333 Mutiara Kebaikan” yang ditulis oleh Syaikh Abu Hamzah Abdul Hamid, disebutkan bahwa tolong-menolong di antara sesama Muslim seharusnya dilakukan karena umat Islam ibarat satu bangunan yang saling mendukung. Jika salah satu bagian dari bangunan tersebut tidak kuat, maka seluruh bangunan dapat mudah roboh.

    Hal ini sesuai dengan hadis dari Abu Musa RA, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagai sebuah bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (HR Bukhari)

    Sedangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Qutaibah, dari Abu Awanah, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW yang bersabda,

    ١٤٢٥ – (صَحِيحٌ) حَدَّثَنَا فَتَيَبةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: ((مَنْ نَفْسَ عَنْ مُؤْمِن كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَهُ اللهُ في الدُّنْيَا وَالْآخِرَة وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ)).

    Artinya: “Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang mukmin ketika di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi keburukan seorang muslim, Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim)

    Naskah Khutbah Jumat soal Tolong Menolong

    Berikut adalah naskah khutbah Jumat tema membantu sesama yang ditulis oleh Amien Nurhakim, Alumnus UIN Jakarta dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan. Naskah ini dikutip detikHikmah dari laman Kemenag.

    Khutbah I

    الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan semaksimal mungkin, takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhânahu wa ta’âla dan menjalankan perintah-Nya. Karena dengan ketakwaan, setiap persoalan hidup yang kita alami akan ada jalan keluarnya dan akan ada pula rezeki yang datang kepada kita tanpa disangka-sangka.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Ketika awal kita ada di dunia ini, kita membutuhkan seseorang yang menjadi perantara kelahiran, yaitu ibu. Saat itu, kita membutuhkan seorang bidan yang membantu mengeluarkan kita dari perut ibu. Dari kecil hingga tumbuh dewasa kita membutuhkan orang tua, ketika kesulitan dan memiliki hajat, kita membutuhkan tetangga dan warga sekitar, ketika punya problem kehidupan kita juga membutuhkan seorang pendengar, hingga ketika ajal menjemput, kita pun membutuhkan orang yang menguburkan jasad kita.

    Dari sini, kita dapat memahami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, kita semua saling membutuhkan satu sama lain. Oleh karena itu, pesan yang ditanamkan sejak kecil hingga dewasa adalah jangan bosan-bosan menolong orang lain yang membutuhkan.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Islam adalah agama yang sangat menganjurkan umatnya untuk saling tolong menolong dan merekatkan tali persaudaraan. Tolong menolong di sini tidak terikat oleh apa pun. Bantulah dengan tulus siapa pun orangnya, entah dia kaya atau miskin, berpendidikan tinggi atau tidak mengenyam pendidikan sama sekali, bahkan muslim atau non-muslim, selama itu dalam ranah sosial dan kebaikan, maka tidak ada salahnya kita membantu mereka, karena bagaimana pun mereka adalah saudara dalam kemanusiaan. Kecuali, jika bantu membantu itu hal kejahatan dan keburukan, maka Islam melarang hal ini. Allah menegaskan dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 2:

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Menolong orang lain, khususnya mereka yang sedang kesulitan sungguh memiliki banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang yang kita tolong, bahkan kondisi masyarakat pun akan mendapatkan manfaat dari sikap dan perbuatan baik ini.

    Dengan menolong orang muslim yang sedang membutuhkan pertolongan, maka kita telah mencerminkan pesan persaudaraan yang ditamsilkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim:

    مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

    “Orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (ikut merasakan sakitnya)”

    Lebih tegas terkait keutamaan menolong sesama Muslim, Rasulullah bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim:

    مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

    “Siapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Siapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Dalam hadits lain Rasulullah memerintahkan umatnya untuk menolong orang yang dizalimi bahkan orang yang ingin berbuat zalim juga. Dalam hadis Nabi disebutkan:

    انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

    “Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zalim atau ketika dia dizalimi.”

    Dalam hadits yang disebutkan tadi, mungkin kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin kita menolong orang zalim padahal Allah telah melarang bantu membantu dalam hal keburukan. Hal ini pun pernah ditanyakan juga para sahabat, Rasulullah pun menjawab:

    تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

    “Pegang tangannya (tahan ia dari perbuatan zalim).”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Dari hadits-hadits di atas, kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua agar bermurah hati menolong sesama Muslim karena mereka adalah saudara kita. Pun tanpa menafikan kita juga harus menolong siapa saja orang-orang di sekitar kita yang sedang dalam kesulitan. KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berpesan:

    “Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa agamamu,”

    بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لَآ إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

    اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Naskah Khutbah Jumat Soal Menjaga Lisan


    Jakarta

    Naskah Jumat kali ini akan membahas soal menjaga lisan. Hal tersebut sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan umatnya untuk selalu berbicara dengan kata-kata yang baik. Jika tidak mampu melakukannya, maka lebih baik untuk tetap diam, yang memiliki arti sama dengan menjaga perkataan.

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.” (HR Al Bukhari)


    Karena lisan dapat diibaratkan sebagai pisau. Jika digunakan secara sembarangan, dapat melukai perasaan orang.

    Merujuk pada buku “Sejumlah Amalan Penting Penghuni Surga saat di Dunia” karya Ahmad Abi Al-Musabbih, terdapat banyak perbuatan yang bermula dari lisan dan akhirnya menimbulkan dosa. Contohnya adalah ghibah, mengadu domba, pembicaraan yang tidak bermanfaat, dan candaan yang berlebihan.

    Mengutip laman Kemenag, berikut ini adalah naskah khutbah Jumat tema menjaga lisan yang disusun oleh Amien Nurhakim, Alumnus UIN Jakarta dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan.

    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَـمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Pada kesempatan mulia ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa; dengan menjauhi larangan Allah sejauh-jauhnya dan menjalankan perintah-Nya semampunya. Dengan demikian kita dapat berproses menjadi sebaik-baiknya hamba Allah sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13:

    اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

    “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

    Sesungguhnya umat Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan, baik manusia, hewan, hingga tumbuh-tumbuhan dan lingkungan. Di antara bentuk kasih sayang yang terkandung dalam ajaran Islam adalah berkata-kata yang baik.

    Perkataan dan ucapan yang baik merupakan perbuatan terpuji yang mendatangkan kebaikan dan dapat meninggikan derajat, baik di sisi Allah maupun di tengah-tengah manusia.

    Allah SWT memerintahkan kita untuk mengucapkan perkataan yang baik. Dalam Surat al-Baqarah ayat 83 Allah berfirman:

    قُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

    “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”

    Allah SWT juga menjanjikan surga kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalam surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, pakaian mereka di sana adalah sutera.

    Di ayat selanjutnya karakter mereka ditegaskan, yaitu orang-orang yang di dunia diberi petunjuk untuk mengucapkan ucapan-ucapan yang baik. Allah ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hajj ayat 24:

    وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَىٰ صِرَاطِ الْحَمِيدِ

    “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.”

    Di ayat lain Allah menegaskan agar orang-orang beriman untuk berkata-kata yang baik, baik kepada sesama muslim maupun non-muslim. Allah berfirman dalam surat Al-Isra ayat 53:

    وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

    “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

    Ayat-ayat yang telah dibacakan tadi merupakan pengingat bagi kita supaya senantiasa menjaga ucapan kita. Tidaklah yang keluar dari mulut kita melainkan kebaikan, minimal, jika kita tidak bisa mengucapkan kebaikan, maka lebih baik diam. Jangan sampai ucapan yang keluar dari lisan kita malah menyakiti hati orang lain. Ingatlah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita semua:

    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

    “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

    Jangan sampai perkataan kita yang tidak baik kepada orang lain membuat kekacauan di tengah-tengah masyarakat dan merusak hubungan harmonis yang telah tumbuh dan terpelihara di dalamnya. Berkata apa saja boleh, asalkan jangan berlebihan sehingga nantinya ucapan kita tidak dapat disaring dan perkataan buruk pun mengarah kepada orang lain, akhirnya hal itu menimbulkan kerusakan dan penyakit hati, baik bagi orang yang berbicara maupun mendengarnya.

    Tentunya, ucapan yang tidak baik merupakan akhlak yang tercela dan dapat menimbulkan kebencian di tengah-tengah manusia. Imam al-Lu’lui mengatakan dalam syair Adabut Thalab:

    وَفِي كَثِيْرِ الْقَوْلِ بَعْضُ الْمَقْتِ

    “Dalam banyaknya bicara dapat menimbulkan sebagian kebencian.”

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Imam al-Nawawi berkata:

    يَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ أَن يَنْطِقَ أَنْ يَتَدَبَّرَ مَا يَقُوْلُ قَبْلَ أَنْ يَنْطِقَ، فَإِنْ ظَهَرَتْ فِيْهِ مَصْلَحَةٌ تَكَلَّمَ، وَإِلَّا أَمْسَكَ

    “Hendaknya bagi siapa pun yang ingin berbicara, ia pikir-pikir terlebih dahulu, apabila ucapannya mengandung maslahat, maka silakan, apabila tidak, maka lebih baik diam.”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang sangat peduli kepada umatnya, beliau tidak mau dan sedih jika umatnya masuk neraka, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kiat-kiat supaya umatnya terbebas dari api neraka. Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

    اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

    “Jauhilah neraka meski dengan [bersedekah] sepotong kurma, jika tidak melakukannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan tutur kata yang baik.”

    Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

    Semoga kita dapat menjadi pribadi yang baik dalam berperilaku maupun bertutur kata, semoga kita digolongkan sebagai orang yang beriman, dan orang yang beriman itu bukanlah mereka yang suka mencaci maupun melaknat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ

    “Orang yang beriman bukanlah orang yang suka mencela dan mengutuk.”

    بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

    أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

    اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

    عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Masjid yang Didirikan Wali Songo sebagai Sarana Dakwah


    Jakarta

    Wali songo adalah sembilan wali yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Mereka menggunakan berbagai cara dalam berdakwah, salah satunya dengan mendirikan masjid.

    Masjid yang didirikan wali songo ini sekaligus menjadi bukti masuknya Islam di Tanah Jawa. Ada di antaranya yang masih berdiri kokoh hingga kini. Berikut nama masjid yang didirikan oleh wali songo dan sejarahnya.

    Masjid yang Didirikan oleh Wali Songo

    1. Masjid Agung Demak

    Dirangkum dari buku Sejarah Wali Songo karya Zulham Farobi dan Buku Pintar Seri Junior karya M. Iwan Gayo, Masjid Agung Demak adalah masjid yang didirikan oleh wali songo pada 1477 M. Pendapat populer lain menyebut tahun 1401 Saka. Masjid Agung Demak terletak di Jalan Bintoro, Demak, Jawa Tengah.


    Arsitektur masjid ini bercorak Jawa dengan nuansa Islam dan ihsan. Lima pintu masjid melambangkan rukun Islam, sedangkan enam jendela masjid melambangkan rukun iman. Bangunan Masjid Agung Demak merupakan bangunan yang berada di atas lantai batu merah yang juga berfungsi sebagai fondasi bangunan masjid.

    2. Masjid Menara Kudus

    Dirangkum dari Buku Pintar Seri Junior, Masjid Menara Kudus adalah masjid yang didirikan oleh Sunan Kudus sebagai upaya penyebaran Islam. Masjid yang didirikan pada 1549 M ini awalnya diberi nama Masjid Al-Aqsa atau al-Manar, wilayah sekitarnya disebut Kudus.

    Masjid yang terletak di daerah Loran ini kemudian dikenal dengan Masjid Menara Kudus. Sebab, terdapat sebuah beduk raksasa yang dipasang di atas menara masjidnya.

    3. Masjid Agung Sunan Ampel

    Dirangkum dari buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia karya Abdul Baqir Zein, Masjid Agung Sunan Ampel didirikan oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel bersama para santrinya pada 1421 M. Masjid Agung Sunan Ampel terletak di Kelurahan Ampel, Pabean Cantikan, Surabaya, Jawa Timur.

    Masjid ini memiliki empat tiang yang menyangga atap yang bersusun tiga. Hal ini menjadi ciri khas arsitektur masjid di Jawa, yang mengandung arti Islam, iman, dan ihsan. Selain itu, ciri khas Masjid Agung Sunan Ampel juga terletak pada menaranya.

    4. Masjid Sunan Giri

    Merujuk pada buku Walisongo: Sebuah Biografi karya Asti Musman, Sunan Giri mendirikan masjid di atas bukit yang bernama Kedaton Sidomukti. Namun, pada 1544 M cucu ketiga Sunan Giri memindahkan Masjid Sunan Giri ke Makam Sunan Giri.

    Masjid Sunan Giri mendapatkan perbaikan karena kerusakan akibat gempa pada 1950. Terdapat beberapa ciri khas yang dimiliki Masjid Sunan Giri, seperti pintu gapura masjid yang menyerupai Candi Bentar, ornamen cantik dengan gaya Majapahit, hingga pintu masuk ruang haram pria yang berbentuk mirip Padu Aksara yang dihiasi huruf Arab di sekeliling atas pintu.

    5. Masjid Sunan Bonang

    Dirangkum dari buku Sunan Bonang: Wali Keramat karya Asti Musman, Sunan Bonang membangun Masjid Sunan Bonang sebagai tempat untuk berdakwah. Masjid yang dipercayai sebagai peninggalan Sunan Bonang yang terletak di Desa Bonang, Lasem ini berjarak 50 meter dari makam Sunan Bonang.

    Masjid Sunan Bonang ini telah mengalami dua kali renovasi, yaitu pada 2013 dan 2016. Masjid asli berdampingan dengan bangunan masjid baru yang disebabkan oleh perluasan karena masjid lama tidak bisa menampung jemaah dalam jumlah yang besar.

    Bangunan lama Masjid Sunan Bonang masih dipertahankan dengan menata kembali batu bata yang digunakan pada masjid aslinya. Namun, temboknya ditutup dengan keramik sehingga terkesan seperti bangunan baru.

    Satu-satunya bagian bangunan yang masih asli yaitu empat tiang penyangga bangunan yang terletak di tengah ruangan. Bangunan yang didominasi cokelat kemerahan ini dipadu dengan ornamen warna emas.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Khutbah Jumat Soal Pemimpin yang Disenangi Rakyat


    Jakarta

    Pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Agar disenangi oleh rakyat, pemimpin harus memiliki gaya kepemimpinan seperti Rasulullah SAW.

    Anwar Zain dalam buku Manajemen Pendidikan: Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Akreditasi, mengatakan ada empat hal yang melekat pada diri Rasulullah SAW sehingga ia disenangi oleh pengikutnya. Empat hal itu adalah siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tablig (menyampaikan amanah), dan fathonah (cerdas).

    Sifat-sifat itu juga bisa dijadikan patokan oleh umat Islam dalam memilih seorang pemimpin. InsyaAllah dengan memiliki sifat tersebut, ia bisa menjadi pemimpin yang adil sebagaimana yang kita harapkan.


    Naskah khutbah Jumat kali ini akan membahas soal bagaimana menjadi pemimpin yang disenangi oleh rakyatnya. Naskah ini diambil dari laman Muhammadiyah yang ditulis oleh Ilham.

    Naskah Khutbah Jumat Tema Pemimpin yang Disenangi Rakyat

    Khutbah I

    أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ

    فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

    وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

    Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

    Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dengan kasih sayang-Nya, kita dapat berkumpul di tempat ibadah ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabat-sahabatnya.

    Sebagai umat manusia yang diberikan amanah dan tugas oleh Allah, kita dipanggil untuk merenungi peran kita sebagai khalifah di bumi. Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa Allah berfirman,

    وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً

    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” (QS. Al-Baqarah: 30).

    Ayat suci ini mengingatkan kita bahwa Allah memberikan tanggung jawab besar kepada umat-Nya untuk memakmurkan bumi. Namun, tanggung jawab ini tidak hanya sebatas menjaga alam, melainkan juga memimpin diri sendiri dan orang lain menuju kebaikan.

    Setiap individu di antara kita memiliki peran sebagai pemimpin, sekecil apapun itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

    Artinya: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin” (HR. Bukhari 6605). Oleh karena itu, kita perlu memahami bahwa keberhasilan atau kegagalan dalam memenuhi tugas sebagai khalifah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

    Sebagai pemimpin, tugas kita bukan hanya menjaga alam dan sumber daya, melainkan juga menjaga akhlak, keadilan, dan kesejahteraan sosial. Allah menciptakan kita dengan akal, sehingga kita dapat menggunakan kebijaksanaan dan keadilan dalam menjalankan amanah ini.

    Jamaah Jumat yang berbahagia!

    Penting bagi kita untuk memahami bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar posisi formal, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang membutuhkan keahlian dan integritas. Apalagi pemimpin dalam sebuah negara yang besar, tanggung jawabnya semakin mendalam dan kompleks.

    Rasulullah Saw bersabda,

    فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

    Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya (HR. Bukhari 6605).

    Oleh karena itu, penting bagi pemimpin untuk memiliki keahlian di bidangnya. Rasulullah Saw telah memberikan nasihat yang bijak,

    فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

    “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

    Ini adalah peringatan agar pemimpin memahami batas keahliannya dan tidak memberikan tugas atau wewenang kepada mereka yang tidak berkompeten. Pemberian tanggung jawab kepada yang tidak ahli dapat mengakibatkan rusaknya pekerjaan bahkan organisasi yang dikelolanya.

    Kita sebagai umat Islam, terutama yang memiliki peran sebagai pemimpin, perlu menjadikan amanah sebagai prioritas utama. Amanah tidak hanya terkait dengan keuangan, tetapi juga dengan kebijakan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.

    Marilah kita bersama-sama merenungi dan mengintrospeksi diri. Semoga Allah memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita semua untuk menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya.

    Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah!

    Pemimpin harus mengutamakan, membela dan mendahulukan kepentingan umat, menegakkan keadilan, melaksanakan syari’at, berjuang menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah, sebagaimana Firman Allah SWT.

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

    Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Maidah: 8).

    Ini adalah petunjuk Allah yang jelas tentang bagaimana seorang pemimpin harus bertindak. Pemimpin harus menjadi pelopor kebenaran, menegakkan keadilan, dan tidak dikuasai oleh kebencian terhadap suatu kelompok. Keadilan adalah pondasi utama dalam kepemimpinan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hidupnya.

    Seorang pemimpin yang mengamalkan keadilan harus membela dan mendahulukan kepentingan umat. Tugasnya bukan hanya sekadar menjalankan amanah formal, tetapi juga berjuang untuk menghilangkan segala bentuk kemunkaran, kekufuran, kekacauan, dan fitnah. Dengan demikian, pemimpin akan mampu menjalankan kepemimpinan yang sejalan dengan syari’at Islam.

    أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

    Pemimpin yang mampu menjalankan amanahnya dengan penuh tanggungjawab, akan menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw,

    خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

    “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka.” (HR Muslim).

    Dalam sabda tersebut, Rasulullah Saw menegaskan pentingnya hubungan yang baik antara pemimpin dan umatnya. Pemimpin yang mencintai dan dicintai oleh umatnya akan membangun fondasi kekuatan yang kuat dan harmonis. Keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya terukur dari pencapaian materi, tetapi juga dari keberhasilannya dalam menciptakan kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah masyarakat.

    Oleh karena itu, pemimpin yang berkomitmen untuk mencintai dan dicintai umatnya harus senantiasa mendengarkan aspirasi rakyat, memberikan solusi yang adil, serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Sebaliknya, umat juga memiliki tanggung jawab untuk mendukung dan mendoakan pemimpinnya agar senantiasa mendapat petunjuk dari Allah.

    Marilah kita sebagai umat Islam, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat, bersatu padu dalam membangun kepemimpinan yang penuh kasih sayang, keadilan, dan berkah. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga kita semua mampu menjalankan peran sebagai khalifah dengan baik.

    إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

    اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

    بَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

    فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nama Asli, Asal Usul dan Media Dakwahnya


    Jakarta

    Wali Songo menjadi sosok yang berpengaruh menyebarkan agama Islam. Mereka berdakwah dari Cirebon, Demak, Kudus, Muria, Lamongan, Gresik hingga Surabaya.

    Mengutip buku Sejarah Wali Songo yang ditulis Zulham Farobi, Walisongo merupakan nama dewan dakwah atau dewan mubaligh, pergi atau wafat maka akan diganti oleh wali lainnya. Era Wali Songo adalah era berakhirnya dominasi budaya Hindu-Budha di Nusantara, lalu diganti dengan kebudayaan Islam.

    Wali Songo juga disebut dengan simbol penyebaran Islam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa juga pengaruhnya kepada kebudayaan masyarakat luas serta dakwah secara langsung.


    Daftar Nama Wali Songo

    Berikut nama-nama Wali Songo dan penjelasannya yang dilansir dalam Wali Songo: 9 Sunan oleh Noer Ai:

    1. Sunan Maulana Malik Ibrahim

    Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki nama lengkap Maulana Makdum Ibrahim as-Samarkandi, diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah.

    Versi lainnya Sunan Maulana Malik Ibrahim juga dikenal sebagai Syekh Maghribi atau Sunan Gresik ini berasal dari daerah Maghreb (Afrika Utara).

    Ada juga berpendapat dari Gujarat, dari Campa, bahkan berdasarkan baris kelima prasasti di makam Beliau, mengatakan Sunan Maulanan Malik Ibrahin dari Kashan, Iran.

    Sunan Maulanan Malik Ibrahin berdakwah dengan cara budi bahasa yang santun dan akhlak mulia, tidak menentang agama dan percayaan penduduk asli, karena cara-cara baik inilah banyak masyarakat yang tertarik dan masuk islam.

    2. Sunan Ampel

    Sunan Ampel anak tertua Sunan Maulana Malik Ibrahim, menurut babad tanah Jawa, nama asli Sunan Ampel adalah Sayyid Ali Ramatullah, dengan nama semasa kecilnya Raden Rahmat.

    Sunan Ampel diperkirakan lahir pada tahun 1401 M, di Campa kerajaan Islam kuno di daerah Vietnam Selatan, versi lainnya di Kamboja, dan ada juga berpendapat Campa terletak di Aceh, sekarang bernama Jeumpa.

    Dilansir oleh Masykur Arif dalam buku berjudul Wali Sanga: Menguak Tabir Kisah Hingga Fakta Sejarah, jelaskan metode dakwah pertama Sunan Ampel unik dengan membuat kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuhan dianyam bersama rotan.

    Kemudian kipas tersebut diberikan kepada para penduduk secara gratis, dengan syarat harus mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Para warga tampak senang menerima kipas itu, sebab akar yang dianyam bersama rotan bisa menyembuhkan mereka yang terkena penyakit batuk dan demam.

    Metode ini terus dilakukan Sunan Ampel, hingga dia berada di Desa Kembangkuning, lalu membuka hutan dan mendirikan masjid disana.

    3. Sunan Bonang

    Sunan Bonang putra dari Sunan Ampel dan Dewi Condrawati, lahir tahun1465 M mempunyai nama asli Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Hal ini dilansir dalam buku Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim) yang ditulis Yoyok Rahayu Basuki.

    Cara dakwah Sunan Bonang dengan akulturasi budaya, penamaan unsur-unsur islami tanpa mengubah budaya atau kebiasaan masyarakat yang ada sebelumnya.

    Sunan Bonang juga menggunakan pertunjukan wayang dan permainan Gamelan Bonang untuk menarik perhatian warga sekitar dan menjadi media dalam berdakwah.

    4. Sunan Drajat

    Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Qasim dengan gelar Raden Syarifudin, lahir pada tahun 1470 M, anak kandung dari Sunan Ampel, serta saudara laki-laki Sunan Bonang.

    Sunan Drajat dikenal pemuda cerdas, ketika dewasa telah mendirikan pesantren Dalem Duwur, di Desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.

    Metode dakwah Sunan Drajat mendirikan rumah penampuangan anak yatim-piatu atau orang yang tidak mempunyai rumah, kemudian perlahan berubah menjadi pesantren untuk menyebarkan Islam.

    Sunan Drajat suka memberikan solusi dalam kehidupan, nasehat-nasehat yang disesuaikan dengan ajaran Islam, serta menyebarkan Islam melalui kesenian seperti syair atau tembang-tembang yang diiringi alat musik tradisional.

    5. Sunan Giri

    Profil Sunan Giri yang dilansir oleh Alik Al-Adhim dalam buku berjudul Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Sunan Giri lahir pada tahun 1442 M di Blanbangan, Jawa Timur.

    Sunan Giri putra Syekh Maulana Ishaq atau saudara kandung Sunan Gresik, dengan begitu Sunan Giri masih saudara sepupu dengan Sunan Ampel.

    Metode Dakwah Sunan Giri dengan menciptakan karya seni, seperti lagu berbahasa jawa Asmarandana dan Pucung, dan permainan anak-anak lir-ilir, cublak-cublak suweng.

    6. Sunan Kudus

    Sunan Kudus putra dari Raden Ustman Haji dengan Syarifah. Nama asli Sunan Kudus adalah Ja’far Shodiq.

    Sunan Kudus memiliki gelar Waliyyul Ilmi karena memahami berbagai ilmu agama, seperti ilmu tauhid, hadis, ilmu fiqih, sastra mantiq, usul.

    Metode dakwah Sunan Kudus melalui kesenian, yaitu Gending Maskumambang dan, Mijil.

    Cara dakwah lainnya menggunakan simbol budha dalam arsitektur bangunan Masjid Menara Kudus, serta memanfaatkan seekor sapi yang diberi nama Kebo Gumarang.

    7. Sunan Kalijaga

    Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Said, beliau lahir tahun 1450 M merupakan putra dari Ki Tumenggung Wilatikta, dan ibunya Raden Mas Jumanten Retna Dumilah Nawangrum.

    Metode dakwah Sunan Kalijaga menjadi dalang dan menciptakan beberapa lakon pewayangan, berjudul Dewi Ruci, Jimat Kalimasada, Petruk Dadi Ratu.

    Serta membuat alat pacul sebagai pengolah tanah, ani-ani alat pemotong padi, dalam dunia seni Sunan Kalijaga membuat lagu berjudul Kidung Tengah Wengi, Lir-ilir, Sluku-Sluku Batok, dan Turi-Turi Putih.

    8. Sunan Muria

    Profil Sunan Muria yang ditulis oleh Yandi Irshad Badruzzaman dalam buku berjudul Tasawuf Dalam Dimensi Zaman : Definis, Doktrin, Sejarah,dan Dinamika keutamaan, dijelaskan bahwa nama asli Sunan Muria adalah Raden Umar Sa’id.

    Metode dakwah Sunan Muria sama seperti Sunan Kalijaga menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya, seperti Sunan Muria suka menggelar lakon Carangan Dewa Ruci, Dewa Srani, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning,Semar Ambrangan Jatur.

    9. Sunan Gunung Jati

    Sunan Gunung Jati mempunyai nama asli Syarif Hidayatullah atau Syarif Al-Kamil, lahir tahun 1448 M, oleh dari pasangan Syarif Abdullah Umdatudin bin Ali Nurul Alam dan Nyai Rara Santang atau Syarifah Mudaim.

    Metode dakwah Sunan Gunung Jati diantaranya Gamelan Sekaten atau Gamelan Syahadatan, masyarakat bila ingin menonton ini cukup bayar dengan dua kalimat syahadat “Ayshadu An-la ilaha illallah, Wa Ayshadu Anna Muhammadar Rasulullah”.

    Demikian 9 nama Wali songo, mulai dari tanggal kelahirannya hingga metode dakwah yang mereka terapkan.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com