Tag: islam

  • Doa Iftitah dalam Sholat Lengkap dengan Latin dan Artinya


    Jakarta

    Doa iftitah merupakan salah satu doa yang dibaca sebelum Al-Fatihah dalam salat. Doa ini tidak wajib dibaca karena hukumnya sunnah.

    Mengutip buku Dialog Lintas Mazhab: Fiqh Ibadah dan Muamalah karya Asmaji Muchtar, ulama empat mazhab memiliki pandangan berbeda mengenai doa iftitah. Ada yang mengatakan sunnah ada juga yang mengatakan makruh.

    Mazhab Hanafi

    Mazhab Hanafi menyatakan bahwa doa iftitah dalam salat adalah ‘subhanakallahumma wa bi hamdika wa tabarakasmuka wa ta’ala jadduka wa la ilaha ghairuk’. Doa ini dianjurkan untuk dibaca oleh imam, makmum, dan munfarid dalam salat fardhu dan salat sunnah, kecuali jika imam sudah memulai membaca Surah Al-Fatihah. Dalam situasi seperti itu, tidak dianjurkan bagi makmum untuk membaca doa iftitah.


    Jika seseorang melewatkan satu rakaat dan menemui imam pada rakaat kedua, disarankan untuk membaca doa iftitah sebelum imam memulai membaca Surah Al-Fatihah. Jika ia menemui imam dalam keadaan ruku atau sujud, dan ia yakin akan menemui imam sebelum imam bangkit dari ruku atau sujud, maka disarankan membaca doa iftitah.

    Mazhab Syafi’i

    Mazhab Syafi’i mengajarkan doa iftitah sebagai ‘wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas-samawati wal-ardha hanifan musliman, wa ma ana minal-musyrikin, inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil-‘alamîn, la syarika lahu wa bi dzalika umirtu wa ana minal-muslimin.’

    Mazhab Syafi’i

    Mazhab Hanbali sejalan dengan Mazhab Hanafi dalam masalah lafazh doa iftitah. Mereka memandang bahwa membaca doa sebagaimana yang diajarkan oleh Mazhab Syafi’i juga diperbolehkan dan tidak makruh.

    Mazhab Maliki

    Mazhab Maliki, dalam pandangan umum, menganggap membaca doa iftitah sebagai makruh. Hal ini didasarkan pada pandangan yang populer dalam mazhab ini, meskipun ada riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Malik memandang doa iftitah sebagai mandub (pekerjaan yang mendatangkan pahala).

    Bacaan Doa Iftitah

    Dalam bukunya yang berjudul “QnA Persoalan Islam,” Kusnadi S.Ag M.Ag M.AHum menjelaskan bahwa doa iftitah memiliki berbagai variasi. Berikut bacaannya:

    Doa Iftitah 1

    اللهُ أَكْبَر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.أنى وَجَّهْتُ وَجُمِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مسلما وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شريك له وبذلك أُمِرْتُ وأنا من المُسْلِمِينَ

    Bacaan latin: Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro wa subhanallahi bukrotaw-washila. Inni Wajjahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardha hanifa muslima wama anaminal musyrikin. inna solati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin. lasyariikalahu wa bidzalika umirtu wa anaminal muslimin.

    Artinya: “Aku sungguh menghadapkan wajahku kepada Sang Pencipta langit dan bumi, dengan penuh ketulusan dan penyerahan. Aku tidak tergolong dalam kelompok orang-orang musyrik. Segala salatku, ibadahku, kehidupanku, dan kematianku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam semesta. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu, aku dengan tulus menerima perintah-Nya, dan aku adalah seorang muslim.”

    Doa Iftitah 2

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

    Bacaan latin: Subhaanakallahumma wa bihamdika wa tabaarokasmuka wa ta’aalaajadduka walaa ilaha ghoiruk.

    Artinya: ya Allah yang Maha Suci, aku memuji-Mu, dan Maha Suci Nama-Mu yang penuh berkah. Kekayaan dan keagungan-Mu begitu tinggi, tak ada yang layak untuk diibadahi dengan benar kecuali Engkau. (HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

    Doa Iftitah 3

    اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

    Bacaan latin: Allahumma baid bayni wa bayna khotoyaya kama ba’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqini min khotoyaya kama yunaqqots-saubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silni min khotoyaya bil ma-iwats tsalji walbarod.

    Artinya: Ya Allah, jauhkan aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan timur dari barat. Ya Allah, sucikan aku dari kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, mandikan aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun. (HR. Bukhari dan Muslim)

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Sehabis Wudhu: Arab, latin dan Terjemahan


    Jakarta

    Umat Islam dianjurkan untuk berdoa sehabis wudhu. Hal ini sebagai bentuk sempurna usai melakukan penyucian.

    Dalam kitab “at-Targib wat-Tarhib,” dijelaskan bahwa setelah berwudhu, seseorang hendaknya berdoa dengan posisi tangan diangkat dan menghadap kiblat. Kemudian wajah dianjurkan untuk mengarah ke langit.

    Menukil buku “Gantung Wudhu” yang ditulis oleh Dr. dr. H. Sagiran, Sp.B, doa yang diucapkan setelah wudhu memiliki makna yang sangat penting. Dalam doa tersebut, kita memohon kepada Allah SWT agar wudhu menjadi sarana untuk meningkatkan ibadah kita dan menjadikan kita lebih bersih, baik secara fisik maupun batin.


    Anjuran untuk berdoa sehabis wudhu berlandasan hadis Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam sebagai berikut:

    مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

    Artinya: “Barangsiapa berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya kemudian ia membaca doa (yang artinya) ‘Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang yang menyucikan diri.’ Maka dibukalah delapan pintu surga untuknya yang dapat ia masuki dari mana saja ia mau.” (HR. Tirmidzi; hadits shahih)

    Doa Setelah Wudhu dan Artinya

    Ada beberapa jenis doa sehabis wudhu yang diajarkan oleh Rasulullah. Dari yang versi pendek hingga panjang.

    Mengutip beberapa sumber, berikut doa sehabis wudhu yang bisa diamalkan.

    Doa Sehabis Wudhu 1

    Doa sehabis wudhu yang pertama diambil dari buku Kumpulan Do’a Sehari-Hari yang diterbitkan oleh Kemenag. Berikut doanya.

    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدُا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ وَاجْعَلْنِى مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

    Bacaan Latin: Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluh. Allaahummaj’alni minat-tawwabina waj’alni minal mutathahirin, waj’alni min ‘ibadikas-sholihin.

    Artinya: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang yang menyucikan diri dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.

    Doa Sehabis Wudhu 2

    Merujuk kepada buku “Tuntunan Doa & Zikir untuk Berbagai Situasi & Kebutuhan” karya Ali Akbar bin Aqil, berikut adalah doa setelah wudhu yang kedua.

    أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

    Bacaan latin: Asyhaduanla ilaha illallaah wahdahu la syariikalahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu, allaahummaj’alni minat-tawwaabina, waj’alni minal mutathahhirina, subhanakallahumma wa bihamdika, asyhaduanla ilahailla anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

    Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, yang Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu. Aku juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku sebagai salah seorang yang bertaubat dan yang menjalani penyucian diri. Engkau Maha Suci, ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.”

    Doa Sehabis Wudhu 3

    Berikut doa sehabis wudhu ketiga yang dinukil dari kitab “Targib war Tarhib”.

    أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّااللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِ كَ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ عَمِلْتُ سُوْءًاوَظَلَمْتُ نَفْسِى أَسْتَغْفِرُكَ اللَّهُمَّ وَأَتُوْبُ اِلَيْكَ فَاغْفِرْلِى وَتُبْ عَلَىَّ اِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ .اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ وَاجْعَلْنِى مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ وَاجْعَلْنِى عَبْدًا صَبُوْرًاشَكُوْرًاوَاجْعَلْنِى أَذْكُرُكَ كَثِيْرًاوَأُسَبِّحُكَ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.

    Bacaan latin: Asyhadu an laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rosuluhu. Subhanaka allahumma wabihamdika la ilaha illa anta ‘amiltu suan wadzolamtu nafsi astaghfiruka. Allahumma wa atubu ilaika faghfirli watub ‘alayya innaka antat-tawwabur-rohiimi. Allahummaj ‘alni minat-tawwabina waj’alni minal mutatohirina waj ‘alni min ‘ibaadikas-sholihin waj’alni ‘abdan shoburon syakuron waj’alni adzkuruka katsiron wa asabihuka bukrotan waashila.

    Artinya: Aku bersaksi tidak ada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan Aku bersaksi sesungguhnya nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Aku telah melakukan kejahatan dan telah menganiaya diri, maka Aku memohon ampunan-Mu dan Aku kembali bertobat kepada-Mu. Maka ampunilah dan terimalah tobatku. Sesungguhnya Engkau adalah Zat yang banyak menerima tobat lagi Penyayang. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang mensucikan diri. Jadikanlah aku dari golongan hamba-hamba-Mu yang saleh, jadikanlah aku hamba yang banyak kesabaran(nya) lagi banyak kesyukuran(nya), jadikanlah aku orang yang banyak ingat kepada-Mu dan selalu menyucikan-Mu pagi dan petang.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 7 Hadits tentang Umat Muslim di Akhir Zaman, Bagaimana Keadaannya?



    Jakarta

    Tanda akhir zaman mungkin sudah mulai muncul beberapa. Tentunya hal ini sudah seharusnya menjadi pengingat bahwa dunia ini hanya sementara. Dalam sebuah hadits dijelaskan mengenai gambaran akhir zaman, seperti apa?

    Salah satu tanda hari kiamat yakni adanya fitnah akhir zaman. Tanda-tanda hari kiamat terbagi menjadi dua yaitu tanda-tanda kecil dan besar. Dikutip dalam buku Fikih Akhir Zaman karya Dr. KH. Rachmat Morado Sugiarto, Lc., M.A. Al Hafizh dijelaskan bahwa tanda-tanda kecil yang dimaksud adalah tanda-tannda yang terjadi setelah Rasulullah SAW wafat. Para ulama menyebutkan bahwa fitnah dimulai dengan terbunuhnya khalifah ke-2, Umar bi Khattab.

    Sedangkan tanda-tanda besar hari kiamat adalah tanda-tanda yanng akan terjadi sanngat berdekatann dengan hari kiamat.


    Hadits Tentang Umat Muslim di Akhir Zaman

    1. Hilangnya Wibawa Umat Islam

    Setiap umat memiliki masa kejayaan. Umat Islam berjaya ratusa tahun, menjadi umat yang disegani dalam banyak aspek oleh musuh-musuhnya sehingga datang zamanumat ini kehilangan wibawanya. Nabi bersabda:

    Dari Tsauban berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja umat-umat menyerang kalian sebagaimana para pemakan menyerbu piringnya”. Maka ada seorang yang mengatakan, “Apakah karena jumlah kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Akan tetapi kalian ketika itu berjumlah banyak. Akan tetapi kalian seperti buih seperti buih-buih di air yang mengalir dengan deras. Dan sungguh Allah akan mencabut dari hati musuhmu rasa takut. Dan sungguh Allah akan melemparkan di dalam hatimu al-Wahn”. Maka ada seorang yang berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu al-Wahn?” Rasulullah SAW menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian.” (HR Abu Dawud)

    2. Terjadinya fitnah Dajjal

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai diutus para dajjal (kecil), para pendusta, jumlahnya hampir 30 orang, seluruhnya mengaku dirinya utusan Allah.” (HR Muslim dan lainnya)

    3. Umat muslim akan menguasai Baitul Maqdis

    Auf bin Malik berkata, “Aku mendatangi Nabi SAW. Dalam perang Tasbuk beliau sedang berada di dalam tenda dari kulit, beliau bersabda:

    “Hitunglah enam perkara sebelum terjadinya hari kiamat, kematianku, kemudian penaklukan Baitul Maqdis, kematian yang menimpa kalian seperti penyakit domba yang mematikan, berlimpahnya harta sehinga seorang diberikan 100 Dinar, ia menjadi marah, fitnah yang terjadi dimana tidak ada satu rumah dari orang Arab kecuali dimasuki fitnah itu. Kemudian perjanjian damai antara kalian dan Bani Ashfar (orang Romawi), kemudian mereka melanggar perjanjian itu dan mendatangimu dengan membawa 80 bendera (untuk memerangimu). Pada setiap bendera ada dua belas ribu orang”. (HR Bukhari)

    4. Banyak Muslim yang Murtad

    Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Segerakanlah beramal sebelum terjadinya fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap. Di pagi hari seorang lelaki beriman, namun di sore harinya menjadi kafir. Atau di sore harinya ia beriman, esok paginya ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan barang dunia.’ (HR Muslim)

    5. Umat muslim akan kehilangan rasa malunya

    Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda, “Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya tidak hancur umat ini sehingga (datang satu masa) seorang lelaki mendatangi perempuan kemudian ia menghamparkan kasur untuknya di jalanan (untuk berzina). Kemudian datang seorang pilihan/mulia dari kaum itu mengatakan: Wahai fulan andai engkau menyembunyikannya di balik tembok ini”. (HR Ahmad)

    6. Umat Muslim Mengikuti Kebiasaan Pemeluk Agama Lain

    Dari Abu Said al-Kudri dari Nabi SAW bersabda, “Kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa. Sehingga apabila mereka masuk lubang biawak kalian akan mengikutinya”. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Nabi menjawab, “Siapa lagi?” (HR Bukhari)

    7. Menghalalkan Zina dan Khamar

    Rasulullah SAW bersabda, “Akan muncul dari umatku beberapa kaum, mereka menghalalkan zina, sutra, khamar, dan alat-alat musik. Dan sungguh akan tinggal beberapa kaum di samping gunung, datang di sore hari kepada mereka penggembala ternaknya dengan hewan piaraannya – yaitu orang fakir – karena ada hajat. Mereka mengatakan: Kembalilah engkau besok hari, maka Allah menyiksa mereka, meletakkan gunung di atas mereka. Dan merubah yang lainnya menjadi kera-kera dan babi-babi sampai hari kiamat.” (HR Bukhari)

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Dhuha Lengkap: Arab, Latin dan Terjemahannya


    Jakarta

    Doa Dhuha bisa dibaca setelah mengerjakan salat sunnah Dhuha. Doa ini mudah dihapal bagi siapa saja yang ingin mengamalkan.

    Mengutip buku Lautan Mukjizat Shalat Dhuha karya Yazid Abu Fida, salat dhuha merupakan salat sunnah yang dilaksanakan setelah naiknya matahari, yaitu setelah dilarangnya salat pada waktu sekitar setinggi satu tombak hingga sebelum matahari tergelincir.

    Terdapat pandangan lain yang menyatakan bahwa salat dhuha adalah shalat sunnah yang dilakukan di waktu pagi. Hal ini dijelaskan oleh M. Khalalurrahman Al Mahfani di buku Berkah Shalat Dhuha.


    Artinya, salat dhuha adalah salat sunnah yang dilakukan ketika matahari sedang naik dan berakhir sebelum matahari tergelincir pada waktu dhuhur. Hukum mengerjakannya adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan).

    Doa Setelah Salat Dhuha

    Salat dhuha dikerjakan minimal dua rakaat. Cara pengerjaannya sama sebagaimana salat-salat sunnah yang lainnya, yang membedakan hanyalah niatnya saja.

    Setelah menyelesaikan shalat dhuha dengan sempurna, langkah selanjutnya adalah duduk dengan khushu’ untuk membaca doa. Berikut adalah doa yang dibaca setelah menunaikan shalat dhuha, dinukil dari buku he Miracle of Shalat Tahajjud, Subuh & Dhuha karya Nazam Dewangga dan Aji ‘el-Azmi’ Payuni.

    اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ
    اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

    bacaan latin: Allahumma innad-duha’a duha’uka wal baha’a baha’uka wal jamala jamaluka wal quwwata quwwatuka wal qudrota qudratuka wal ‘ismata ‘ismatuka. Allahumma ing kana rizqi fis-sama’i fa anzilhu, wa ing kana fil ardi fa akhrijhu, wa ing kana mu’asiran fa yassirhu, wa ing kana haraman fa tahhirhu wa ing kana ba’idan fa qarribhu bi haqqi duha’ika wa baha’ika wa jamalika wa quwwatika wa qudratika, atini ma ataita ‘ibadakash-shalihiin.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu dhuha-Mu, keagungan itu adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu, dan pemeliharaan itu adalah pemeliharaan-Mu. Ya Allah, bila rezekiku masih berada di langit maka turunkanlah, bila di dalam bumi maka keluarkanlah, bila sukar maka mudahkanlah, bila haram maka sucikanlah, bila jauh maka dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepadaku segala apa yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-Mu yang shaleh.”

    Hadits yang Menjelaskan Salat Dhuha

    Berikut adalah beberapa dalil yang menunjukkan perintah atau anjuran untuk melaksanakan salat dhuha:

    Hadis 1

    Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a:

    أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ بثَلَاثٍ: صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِن كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَ نامَ

    Artinya: “Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga hal, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Hadis 2

    Hadits yang diriwayatkan oleh istri nabi, Aisyah ra:

    عن عائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، قالت: كان رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي الضحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ الله

    Artinya: “Dari Aisyah ia berkata, Rasulullah shalat dhuha empat rakaat dan menambahnya menurut kehendak Allah.” (HR. Muslim).

    Hadis 3

    Abu Dzar Al-Ghifari ra berkata bahwa Nabi saw bersabda:

    Artinya: “Setiap pagi terdapat sedekah bagi setiap persendian kalian, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan laa ilaha illaallah) adalah sedekah, setiapa takbir adalah sedekah, menyuru kepada kebaikan adalah sedekah, dan mencegah dari kemungkaran adalah sedekah, semua itu bisa dicukupi dengan dua rakaat dhuha.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad).41

    Dalil dan hadis-hadis shahih di atas memberikan landasan yang kuat untuk menunjukkan keutamaan pelaksanaan shalat dhuha yang sangat dianjurkan. Meskipun Rasulullah memberikan wasiat kepada para sahabat, namun wasiat tersebut berlaku untuk seluruh umatnya dan tidak terbatas pada satu individu saja.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Doa Iftitah Lengkap dengan Arab dan Latinnya


    Jakarta

    Ada beberapa versi doa iftitah yang bisa diamalkan ketika salat. Hukum membacanya adalah sunnah, tidak wajib untuk dibaca.

    Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam punya berbagai doa iftitah yang pernah ia pakai, mulai dari yang pendek hingga panjang. Semuanya pernah dibaca oleh Rasul di berbagai kesempatan.

    Namun kali ini, cobalah untuk melihat arti doa iftitah agar kita paham apa yang dibaca. Menukil buku QnA Persoalan Islam karya Kusnadi S.Ag M.Ag M.AHum, berikut doa iftitah yang bisa diamalkan.


    Doa Iftitah 1 berikut Artinya

    Doa Iftitah ini mungkin sudah biasa kita dengar. Doa iftitah ini yang biasa diajarkan oleh guru-guru kita ketika dulu mengaji.

    اللهُ أَكْبَر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.أنى وَجَّهْتُ وَجُمِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مسلما وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شريك له وبذلك أُمِرْتُ وأنا من المُسْلِمِينَ

    Arab latin: Allahu akbar kabiro walhamdulillahi katsiro wa subhanallahi bukrotaw-wa ashila. Inni Wajjahtu wajhiya lilladzi fatarassamawati wal ardha hanifam-muslima wama anaminal musyrikin. inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil ‘alamin. La syarikalahu wabidzalika umirtu wa anaminal muslimin.

    Arti doa iftitah 1: “Aku menghadapkan wajahku kepada Sang Pencipta langit dan bumi, dengan penuh ketulusan dan penyerahan. Aku juga tidak tergolong dalam kelompok orang musyrik. Semua salatku, ibadahku, kehidupanku, dan kematianku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam semesta, tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karenanya, aku dengan tulus menerima perintah-Nya dan aku adalah seorang muslim.

    Doa Iftitah 2 berikut Artinya

    Doa ini berdasarkan hadis riwayat Abu Daud, berikut bacaannya:

    اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

    Arab latin: Allahu akbar kabira, allahu akbar kabira, allahu akbar kabira, walhamdulillahi katsira, walhamdulillahi katsira, walhamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukrotaw-wa ashila, wa subhanallahi bukrotaw-wa ashila, wa subhanallahi bukrotaw-wa ashilla, a’udzu billahi minasy-syaithani min nafkhihi, wanaftshihi, wahamzih.

    Arti doa iftitah 2: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Puji syukur hanya bagi Allah dengan pujian yang melimpah, puji syukur hanya bagi Allah dengan pujian yang melimpah, puji syukur hanya bagi Allah dengan pujian yang melimpah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang, Maha Suci Allah pada pagi dan petang, Maha Suci Allah pada pagi dan petang. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan.

    Doa Iftitah 3 berikut Artinya

    Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam juga membaca doa iftitah lainnya seperti hadis riwayat Bukhari, dan Muslim,

    اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

    Arab latin: Allahumma baa ‘id baynii wa bayna khotoyaaya kamaa baa ‘adta baynal masyriqi walmaghrib. Allahumma naqqinii min khotoyaaya kamaa yunaqqots-tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silni min khotoyaya bil ma-i wats-tsalji wal barod.

    Arti doa iftitah 3: Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.

    Doa Iftitah 4 berikut Artinya

    Doa iftitah ini pernah dibaca oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ketika salat malam, sebagaimana hadis riwayat Muslim:

    اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

    Arab Latin: Allahumma robba jibra-iila wa mii-ka-iila wa israa fiila, faathiras-samawati wal ardhi ‘alimal ghaibi wasy-syahadati anta tahkumu bayna ‘ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun, ihdini limakhtulifa fiihi minal haqqi bi-idznika innaka tahdi man tasyaa-u ilaa shiratim-mustaqim.

    Arti doa iftitah 4: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Ya Pencipta langit dan bumi, Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menetapkan hukum untuk mengadili perselisihan mereka. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam perbantahan ini dengan seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki.

    Doa Iftitah 5 berikut Artinya

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

    Arab latin: Subhaa nakallahumma wabihamdika watabarakasmuka wata’alaa jadduka walaa ilaha ghoiruk.

    Arti doa iftitah 5: Engkau Maha Suci, ya Allah, aku memuji-Mu, dan Maha Berkah Nama-Mu. Kekayaan dan kebesaran-Mu begitu tinggi; tidak ada yang layak untuk diibadahi dengan benar kecuali Engkau.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa yang Dibaca Sebelum Yasinan: Arab, Latin dan Terjemahannya


    Jakarta

    Sebelum membaca surat Yasin, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa terlebih dahulu. Doa tersebut dilakukan dengan cara tawasul kepada orang-orang soleh.

    Mengacu pada buku “Tiga Permata Agama: Kajian Ushul dan Furu Surat Al Fatihah Edisi Terbaru” karya Dian Erwanto, tawasul dijelaskan sebagai metode untuk berdoa dan membuka pintu-pintu yang mengarah kepada Allah. Di mana yang menjadi tujuan adalah hanya Allah, dan orang yang dijadikan perantara dalam tawasul bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Tawasul menjadi suatu cara untuk berdoa kepada Allah dengan melibatkan perantara orang yang dicintai oleh Allah. Contohnya seperti Nabi, wali, atau tokoh agama, tetapi dengan tetap mengharapkan pertolongan hanya dari Allah semata.


    Berikut doa-doa sebelum yanisan yang bisa dipanjatkan oleh umat Islam.

    Doa Sebelum Yasinan 1

    اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وإِخْوَانِهِ مِنَ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالعُلَمَاءِ العَامِلِيْنَ وَالمُصَنِّفِيْنَ المُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ المَلَائِكَةِ المُقَرَّبِيْنَ، ثُمَّ اِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ القُبُوْرِ مِنَ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا إِلَى آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِ مَشَايِخِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَأَسَاتِذَةِ أَسَاتِذَتِنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنْ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

    Bacaan latin: Ila hadrotin-nabiy-yi shalallahu a’laihi wa sallam wa alihi wa ikhwanihi minal anbiya-i wal mursalina wal awliya-i wasy-syuhada-i wash-sholihin wash-shohabati wattabi’ina wal ulama-il a’milina wal mushonnifinil mukhlishina wa jami’il malaikatil muqor-robin, tsum-ma ila jami’i ahlilkuburi minal muslimina wal muslimati wal mu’minina wal mu’minati min masyariqil ardhi ila maghari biha barriha wa bahriha khususon ila abaina wa ummahatina wa ajda dina wa jaddatina wa masya yikhina wa masyayikhi masya yikhina wa asa tidzatina wa asa tidzati asatidzatina wa liman ahsana ilaina wa limaj tama’na huhuna bisababihi syay-un lillahi lahum, al-fatihah..

    Artinya: “Untuk Nabi Muhammad SAW yang terhormat, seluruh keluarga, dan saudara-saudaranya dari kalangan nabi, rasul, wali, syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi’in, ulama yang amalannya terpercaya, ulama penulis yang ikhlas, serta seluruh malaikat Muqarrabin. Serta untuk semua ahli kubur Muslimin, Muslimat, Mukminin, Mukminat dari Timur ke Barat, baik di laut maupun di darat, khususnya untuk bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, kakek-kakek kami, nenek-nenek kami, guru-guru kami, pengajar-pengajar dari guru-guru kami, ustadz-ustadz kami, pengajar-pengajar dari ustadz-ustadz kami, dan kepada semua yang telah berbuat baik kepada kami dan bagi ahli kubur/arwah yang menjadi sebab kami berkumpul di sini. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah, dan pahalanya kami dedikasikan untuk mereka semua. Al-Fatihah…

    Doa Sebelum Yasinan 2

    ثُمَّ إلَى جَمِيْعِ أَهْلِ اْلقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ إلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا أبَاءَنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادَنَا وَجَدَّاتِنَا وَمَشَايِخَنَا وَمَشَايِخَ مَشَايِخِنَا وَلِمَنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ وَخُصُوْصًا اَلْفَاتِحَة……………….. (Nama arwah yang dikirimi hadiah tahlil)

    Bacaan latin: Tsumma ilaa jamii’i ahlil kuburi minal muslimiina wal muslimati wal mu’minina wal mu’minati min masyariqil ardhi ilaa maghari biha barrihaa wa bahri ha khushuu shon abaa anaa wa ummahaa tinaa wa ajdaa danaa wa jaddaa tina wa masyaa yikhana wa masyaa yikha masyaa yikhinaa wa limanij tama’naa hahunaa bisababihi wa khushuson … (sebutkan nama orang yang dituju) Al-Fatihah

    Artinya: Selanjutnya, kepada semua ahli kubur dari kalangan kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan. Dan kepada kaum mukminin, baik laki-laki maupun perempuan, yang tersebar dari wilayah timur hingga barat, baik di darat maupun di laut. Khususnya, doa ini kami tujukan untuk bapak-bapak kami, para ibu kami, nenek-nenek kami baik yang laki-laki maupun perempuan, juga untuk para guru besar kami dan para guru besar mereka, guru-guru kami, para gurunya guru kami, serta kepada semua yang telah menyebabkan kami berkumpul di sini. Dan khususnya untuk arwah …(sebutkan nama si mayit)… Al-Fatihah.

    Doa Sebelum Yasinan 3

    ثُمَّ إلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاْلأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَاْلعُلَمَاءِ وَاْلمُصَنِّفِيْنَ وَجَمِيْعِ اْلمَلاَئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدنَا الشَّيْخِ عَبْدِ اْلقَادِرِ الجَيْلاَنِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَلْفَاتِحَة

    Bacaan latin: Tsumma ilaa hadrati ikhwaa nihi minal anbiyaa-i wal mursalin wal awliya-i wasy-syuhadaa-i wash-sholihina wash-shohabati wattaa bi’ina wal ‘ulamaa-i wal mushonnifina wa jami’il malaa ikatil muqorrobin khushuson sayyidnaa assyaikhi i’bdilqodir aljailani radhiyallahu ‘anhu Al-Fatihah…

    Artinya: Selanjutnya, kami berdoa untuk seluruh sahabat dan keluarga Nabi, para wali, syuhada, orang-orang sholeh, sahabat-sahabat Nabi dan generasi sesudahnya, para ulama, pengarang-pengarang yang ikhlas, serta para malaikat yang selalu mendekat kepada Allah. Dan yang terutama, kami menghaturkan doa Al-Fatihah untuk penghulu kami, Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Al-Fatihah…

    Doa Sebelum Yasinan 4

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وصَحْبِهِ شَيْءٌ لِلهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

    Bacaan latin: Bismilla hirrahmaa nirrahim ilaa hadrotinnabiyyi shalallahu ‘alaihi wa sallama wa alihi wa shohbihi syai-un lillahi lahumul fatihah

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nabi Muhammad SAW, seluruh keluarganya, dan para sahabatnya. Doa ini kami persembahkan kepada Allah, dan pahalanya kami dedikasikan untuk mereka semua.”

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Perkara yang Buat Allah Ridha terhadap Hamba-Nya


    Jakarta

    Ada tiga perkara yang membuat Allah SWT ridha terhadap hamba-Nya. Perkara ini dijelaskan dalam sebuah hadits shahih.

    Hadits yang menjelaskan tiga perkara yang diridhai Allah SWT termuat dalam kitab Shahih Bukhari dari riwayat Abu Hurairah RA. Hadits ini juga memuat perkara yang membuat Allah SWT murka kepada hamba-Nya.

    Rasulullah SAW bersabda,


    أَنّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ : “إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا، يَرْضَى لَكُمْ : أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا، وَأَنْ تَنَاصَحُوا مَنْ وَلَاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ، وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah telah meridhai bagimu tiga hal dan membenci tiga hal bagimu. Tiga hal yang diridhai Allah bagimu adalah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, berpegang teguh pada agama Allah, dan saling memberi nasihat kepada pemimpin yang Allah jadikan pimpinan bagimu. Tiga hal yang Allah membenci bagimu yaitu banyak bicara, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (HR Bukhari dan dinilai shahih dalam Ash-Shahihah)

    Imam Muslim turut mengeluarkan hadits tersebut dalam kitab Al Aqdhiyah. Adapun redaksi menurut riwayat Muslim sebagai berikut,

    “Sesungguhnya Allah ridha terhadap kalian pada tiga hal dan memurkai kalian karena tiga hal. Allah meridhai kalian jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah SWT serta tidak terpecah belah, kalian saling memberi nasihat dengan orang yang Allah kuasakan padanya urusan kalian. Allah ‘azza wa jalla akan memurkai kalian pada tiga hal, berkata-kata dengan berprasangka, banyak meminta-minta atau banyak bertanya-tanya, membuang-buang harta.”

    Ulama tafsir M. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Quran, menafsirkan “berkata-kata” dalam hal ini adalah tentang suatu isu dan merumpi. Adapun, maksud “banyak bertanya” adalah bertanya yang tanpa makna.

    Ridha Allah Tergantung pada Ridha Orang Tua

    Dalam buku Hakikat Ilmu Tasawuf karya Abd Rahman terdapat hadits yang menyebut bahwa ridha Allah SWT tergantung pada ridha orang tua, begitu pun dengan murka-Nya. Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

    Artinya: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR At-Tirmidzi, Al Hakim, dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabiir. Hadits ini dinilai hasan)

    Imam an-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin mengeluarkan sejumlah hadits yang berisi perintah dan keutamaan berbakti kepada orang tua. Salah satunya seperti diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud RA, ia berkata,

    سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا. قُلْتُ : ثُمَّ أَيِّ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ». قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

    Artinya: “Aku bertanya kepada Nabi SAW, ‘Manakah amal yang lebih dicintai Allah’ Beliau menjawab, ‘Salat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada orang tua.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah.’” (Muttafaq ‘alaih)

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Allahu Yahdik dan Waktu yang Tepat untuk Mengamalkannya


    Jakarta

    Umat Islam selalu diajarkan untuk bertutur kata baik. Ditambah, sesama umat Islam diperintahkan untuk saling mendoakan kebaikan, baik secara langsung atau sembunyi-sembunyi.

    Sering kali kita tidak sadar mengucapkan kata yang sebenarnya bermakna doa. Misalnya, Assalamu’alaikum yang bermakna “semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu”.

    Bagi umat Islam mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata Allahu Yahdik. Namun tidak menutup kemungkinan, kata tersebut masih terdengar asing ditelinga, tidak taju artinya dan juga maknanya.


    Lalu apa arti Allahu Yahdik dan kapan harus memakai Allahu Yahdik? Lalu apa hikmah dari mengucapkan Allahu Yahdik?

    Pengertian Allahu Yahdik

    Seperti yang dapat dilihat, Allahu Yahdik ( اللَهُ يَهْدِك) terdiri dari dua kata, yakni Allahu yang artinya “Allah”, dan Yahdik yang artinya “Membalas dengan kebaikan” atau “Memberi petunjuk kebaikan.” Menukil buku The Prophetic Parenting oleh A.R. Shohibul Ulum, bisa disimpulkan jika kata Allahu Yahdik memiliki makna “Semoga Allah memberimu cahaya hidayah/petunjuk”.

    Allahu yahdik dapat digunakan dengan berbagai varian tulisan dan pengucapan, disesuaikan juga dengan siapa kita berbicara. Berikut cara memakainya:

    • Allahu yahdika (اَللهُ يَهْدِيكَ), ucapan tersebut ditujukan kepada laki-laki.
    • Allahu yahdiki (اَللهُ يَهْدِيكِ), ucapan tersebut ditujukan kepada perempuan.
    • Allahu yahdikuma (اَللهُ يَهْدِيكُمَا), ucapan tersebut ditujukan kepada dua orang laki-laki, atau dua orang perempuan, atau dua orang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
    • Allahu yahdikum (اَللهُ يَهْدِيكُمْ), ucapan tersebut ditujukan kepada banyak laki-laki.
    • Allahu yahdikunna (اَللهُ يَهْدِيكُنَّ), ucapan tersebut ditujukan kepada banyak perempuan.

    Waktu yang Tepat untuk Mengucapkan Allahu Yahdik

    Untuk mengucapkan Allahu Yahdik ada waktu tertentu. Merangkum dari berbagai sumber, kata ini sesuai ketika kita bertemu dengan seseorang yang sedang kebingungan prihal agama, sehingga kita mendoakannya agar Allah segera memberinya petunjuk.

    Adapun kata ini diucapkan saat ada seseorang yang berbuat kesalahan dan maksiat. Agar orang tersebut selalu ingat dengan Allah, dan semoga hidayah dari Allah segara turun kepadanya.

    Namun mengucapkan Allahu Yahdik tidak boleh dibarengi dengan perasaan merendahkan orang lain, atau merasa diri sendiri paling benar. Sebagian orang yang mengucapkan kata ini seolah-olah orang yang ada di hadapannya berada di dalam kesesatan dan jauh dari jalan Allah SWT.

    Selain itu Allahu Yahdik juga bisa dipakai ketika seseorang sedang marah. Karena ucapan adalah doa, maka daripada mengucapkan hal-hal yang buruk lebih baik mendoakan orang yang sedang membuat kita kesal atau marah.

    Oleh karena itu, marilah kita menjaga perkataan kita agar tidak mengucapkan doa atau ungkapan buruk terutama kepada saudara atau keturunan kita. Saat kita merasa sangat marah terhadap anak atau keluarga, alangkah baiknya jika kita menggantinya dengan kata-kata yang baik.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan,

    ثَلَاثُ دَعْوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيْهِنَّ : دَعْوَةُ المَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ المُسَافِرِ وَ دَعْوَةُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ.

    “Tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan dalam terkabulnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian, dan doa kebaikan orang tua untuk anaknya.” (HR. Muslim no. 3009).

    Makna dan Hikmah Mengucapkan Allahu Yahdik

    Sejumlah hikmah dapat diperoleh dari pengucapan Allahu Yahdik. Salah satu hikmahnya adalah kita saling mendoakan sesama muslim agar selalu berada di jalan Allah SWT.

    Mengucapkan Allahu Yahdik dapat memotivasi diri kita dan orang lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terlebih dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT agar senantiasa ada dalam hidayah.

    Selain itu, saat kita mengingatkan saudara sesama muslim untuk tidak berbuat maksiat, secara tidak langsung kita juga mengingatkan diri sendiri untuk tidak berbuat maksiat dan selalu mendekat kepada Allah SWT. Maka pengucapan kata ini sangat memiliki makna besar bagi orang lain maupun diri sendiri agar tidak terjerumus dalam dosa.

    Hidayah adalah hal prerogatif Allah SWT, manusia hanya dapat berusaha untuk memperolehnya. Hidayah merupakan bukti maha kekuasaan Allah SWT terhadap hambanya.

    Semoga detikers adalah hamba Allah yang selalu berada di jalan-Nya dan selalu dilimpahkan hidayah. Amin.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa untuk Palestina yang Masih Berduka, Yuk Kita Amalkan


    Jakarta

    Peperangan antara zionis Israel dengan pejuang Palestina masih terus memanas. Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan ada 17.177 korban tewas sampai hari ini, seperti dikutip Al Jazeera (7/12).

    Sebagai sesama umat muslim, tentunya kita ingin membantu saudara yang ada di Palestina. Namun, dengan segala keterbatasan yang ada, kita hanya bisa mengirimkan doa kepada rakyat Palestina agar mereka selalu diberikan kekuatan dalam mengahadapi para zionis.

    Qunut nazilah menjadi salah satu doa yang dapat dipanjatkan umat muslim saat tengah menghadapi isu-isu berat dalam kehidupan. Contohnya seperti masalah keamanan, pertanian, bencana, hingga krisis kemanusiaan.


    Saifuddin Zuhri dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren mengatakan, umat Islam di Indonesia telah sejak lama memanjatkan doa qunut nazilah untuk dibaca setiap salat lima waktu dalam rangka mendoakan Palestina. Qunut nazilah dipercaya dapat memperkuat batin antar umat Islam meski tidak pernah bertemu.

    Qunut Nazilah

    Menurut Mazhab Syafi’i, hukum membaca doa qunut nazilah adalah sunnah. Dalam catatan sejarah Islam, doa qunut nazilah pertama kali dilafalkan oleh Rasulullah SAW pascatragedi Bir Ma’unah di bulan Shafar ke-4 Hijriyah atau Mei 625 H.

    Merujuk buku Bimbingan Praktikum Ibadah oleh Abudin Nata, berikut ini adalah bacaan doa qunut nazilah lengkap dengan latin dan artinya:

    Doa untuk Palestina (1)

    اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَعِينُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِي عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ نَشْكُرَكَ وَلَا نَكْفُرُكَ وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ اللَّهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَك نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُو رَحْمَتَك وَنَخْشَى عَذَابَكَ إنَّ عَذَابَك الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ

    Latin: Allahumma inna nasta’inuka wa nastaghfiruk, wa nastahdika wa nu’minu bik wa natawakkalu alaik, wa nutsni alaikal khaira kullahu nasykuruka wa la nakfuruk, wa nakhla’u wa natruku man yafjuruk. Allahumma iyyaka na’budu, wa laka nushalli wa nasjud, wa ilaika nas’a wa nahfid, narju rahmataka wa nakhsya adzabak, inna adzabakal jidda bil kuffari mulhaq.

    Artinya: Artinya: “Ya Tuhan kami, kami memohon pertolongan-Mu, memohon ampunan-Mu, mengharap petunjuk-Mu, meyakini keberadaan-Mu, bertawakal kepada-Mu, memuji-Mu, bersyukur atas segala kebaikan-Mu, dan kami menarik diri dari mereka yang ingkar kepada-Mu. Ya Tuhan kami, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya kepada-Mu kami menghadap dalam sholat dan sujud, hanya kepada-Mu kami berjalan dan berlari. Kami berharap akan rahmat-Mu, dan kami merasa takut terhadap siksaan-Mu yang keras, karena azab-Mu yang pedih akan menimpa orang-orang yang ingkar.”

    Doa untuk Palestina (2)

    اللَّهُمَّ عَذِّبْ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِينَ أَعْدَاءَ الدِّينِ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِك وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَك وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَك اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إنَّك قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِمْ الْإِيمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ نَبِيِّك وَرَسُولِك وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوفُوا بِعَهْدِك الَّذِي عَاهَدْتهمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ وَعَدُوِّك إلَهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    Latin: Allahumma adzzibil kafarata wal musyrikîn, a’da’ad dînilladzina yashudduna ‘an sabilik, wa yukadzzibuna rusulaka wa yuqatiluna auliya’ak. Allahummaghfir lil mu’minina wal mu’minat, wal muslimina wal muslimat, al-ahya’i minhum wal amwat, innaka qaribun mujibud da’awat. Allahumma ashlih dzata bainihim, wa allif baina qulubihim, waj’al fi qulubihimul îmana wal hikmah, wa tsabbithum ala dinika wa rasulik, wa auzi’hum an yufu bi’ahdikalladzi ‘ahadtahum alaih, wanshurhum ala ‘aduwwihim wa ‘aduwwika ilahal haq, waj’alna minhum, wa shallallahu ala sayyidina muhammadin wa ala alihi wa shahbihi wa sallam.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, limpahkanlah azab-Mu kepada orang-orang kafir dan musyrik, yang merupakan musuh-musuh agama yang berupaya menghalangi orang lain dari jalan-Mu, yang mendustakan rasul-Mu, dan yang memusuhi kekasih-kekasih-Mu. Ya Allah, berilah ampunan kepada hamba-hamba-Mu yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sesungguhnya, Engkau adalah Sang Maha Dekat dan Maha Mendengar segala doa. Tuhan kami, satukanlah hati para kaum muslimin, tumbuhkan kekuatan iman dan hikmah dalam hati mereka, kokohkan mereka di jalan nabi dan rasul-Mu, berikan ilham kepada mereka untuk memenuhi perjanjian yang telah Engkau ikat dengan mereka, bantulah mereka mengatasi musuh dan lawan-lawan mereka. Ya Tuhan yang sejati, masukkanlah kami ke dalam golongan mereka. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.”

    Doa untuk Palestina (3)

    اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَهْدِيْكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، نَشْكُرُكَ وَلَا نَكْفُرُكَ، وَنَخْلَعُ وَنَتْرُكُ مَنْ يَفْجُرُكَ. اَللّٰهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إنَّ عَذَابَكَ الْجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحِقٌ. اَللّٰهُمَّ ثَبِّتْ إِخْوَانَنَا اْلمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، خُصُوْصًا فِيْ غَزَّةَ، وَاحْقِنْ دِمَائَهُمْ. اَللّٰهُمَّ عَلَيْكَ بِالْيَهُوْدِ، الصُهْيُوْنِيِّيْنَ الْمَلْعُوْنِيْنَ، وأَنْزِلْ غَضَبَكَ عَلَيْهِمْ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Bacaan latin: Allahumma inna nasta’inuka wa nastaghfiruka wa nastahdika wa nu’minu bika wa natawakkalu ‘alayka wa nutsni ‘alaykal khayra kullahu, nasykuruka wa la nakfuruka wa nakhla’u wa natruku may yafjuruka. Allahumma iyyaka na’budu wa laka nushalli wa nasjudu wa ilayka nas’a wa nahfidu, narju rahmataka wa nakhsya ‘adzabaka, inna ‘adzabakal jidda bil kuffari mulhiqun. Allahumma tsabbit ikhwananal mujahidina fi Filistin, khusushan fi Ghazzah, wahqin dima’ahum. Allahumma ‘alayka bil Yahud, ash-shuhyuniyyina, al-mal’unina, wa anzil ghadhabaka ‘alayhim. Allahumma-nshur dinaka wa kitabaka wa sunnata nabiyyika Muhammadin shallalluhu ‘alayhi wa sallam

    Artinya,”Ya Allah, kami memohon pertolongan-Mu, pengampunan-Mu, dan petunjuk-Mu. Kami beriman kepada-Mu, bertawakal kepada-Mu, dan bersyukur atas segala kebaikan-Mu. Kami bersyukur kepada-Mu dan tidak kufur kepada-Mu. Kami menjauhi orang-orang yang mendurhakai-Mu. Ya Allah, kami hanya beribadah kepada-Mu, bersujud dan berdoa kepada-Mu. Kami berusaha dan bergerak dengan harapan rahmat-Mu dan rasa takut akan siksaan-Mu. Kami menyadari bahwa azab-Mu yang berat menimpa orang-orang kafir. Ya Allah, kuatkan saudara-saudara mujahidin kami di Palestina, terutama di Gaza, dan lindungi mereka. Ya Tuhan, hukumlah orang-orang Yahudi Zionis yang berdosa, dan tunjukkan murka-Mu kepada mereka. Ya Tuhan, bantu agama-Mu, kitab-Mu, dan sunnah Nabi-Mu, Muhammad. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kedamaian atas beliau.”

    اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

    Bacaan latin: Allahummanshuril musliminal mustadl’afina fi kulli makan(i). Allahumma-rhamil mustadh’afina min ‘ibadik(a). Allahummaksyifil ghummah ‘an ummatina. Allahumma inna nas’aluka an tarfa’al bala-a ‘an Ghazzah wa ahliha, wa an tanshurahum ‘ala ‘aduwwihim, wa an tarḫamal mustadl’afina min ‘ibadika, wa an taksyifal ghummah ‘an ummatina. Allahumma ‘afina walthuf bina waḫfadhna wanshurna wa farrij ‘anna wal muslimin(a). Allahummakfina wa iyyahum jami’an syarra masha-ibid dun-ya wad din(i)

    Artinya: “Ya Allah, bantu umat Islam yang menderita di seluruh dunia. Kasihanilah mereka yang terzhalim di antara hamba-hamba-Mu. Ya Tuhan, hilangkanlah penderitaan dari umat kami. Kami mohon agar Engkau mengangkat kesulitan dari Gaza dan penduduknya, memberi mereka kemenangan atas musuh mereka, mengampuni mereka yang tertindas di antara hamba-hamba-Mu, dan singkirkanlah penderitaan di bangsa kami. Ya Allah, berikanlah kami kesehatan, berikan hati yang baik kepada kami, lindungilah kami, dan dukunglah kami, serta seluruh kaum Muslim. Ya Allah, peliharalah kami dan mereka dari segala bahaya, baik dalam urusan dunia maupun agama.”

    اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ مَنْ فِيْ صَلَاحِهِ صَلاَحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ لاَ تُهْلِكْنَا وَأَهْلِكْ مَنْ فِيْ هَلَاكِهِ صَلاَحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَالرَّحْمَةَ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَافِيَةِ وَالْبَرَكَةِ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُوْمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ وَاصْرِفْ عَنَّا وَعَنِ الْمُسْلِمِيْنَ الْأَذَى وَالْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْقَحْطَ وَالْحُمَّى وَالْجَدْبَ وَالْجَوْرَ وَالظُّلْمَ وَجَمِيْعَ أَنْوَاعِ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ وَالْأَمْرَاضِ وَالْأَسْقَامِ وَالشَّدَائِدِ وَالزَّيْغِ وَالضَّلَالِ وَالزَّلَازِلِ وَالرِّيْحِ وَالْجَهْلِ وَالْبَلَاءِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وأَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ وَالْمَنْكُوْبِيْنَ وَالْمَكْرُوْبِيْنَ وَالْمَظْلُوْمِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاكْلَأْهُمْ وَصُنْهُمْ وَتَوَلَّهُمْ وَارْعَهُمْ وَأَلْهِمْهُمْ رُشْدَهُمْ، وَوَفِّقْنَا وَإِيَّاهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَالْطُفْ بِنَا وَبِهِمْ فِيْ مَا يَجْرِيْ بِهِ الْقَضَاءُ، وَاصْرِفْ وَادْفَعْ وَأَبْعِدْ وَأَزِلْ عَنَّا وَعَنْهُمْ شَرَّ الطَّاغِيْنَ وَالْبَاغِيْنَ وَالظَّالِمِيْنَ وَالْمُعْتَدِيْنَ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَالْمُؤْذِيْنَ وَالْعَائِنِيْنَ وَالسَّاحِرِيْنَ بِمَا شِئْتَ عَاجِلاً غَيْرَ اٰجِلٍ فِيْ عَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    Bacaan latin: Allahumma ashlihna wa ashliḫ man fi shalahihi shalahul muslimin(a). Allshumma la tuhlikna wa ahlik man fi halakihi shalahul muslimin(a). Allahumma-sqinal ghaytsa war rahmata ma’al luthfi wal ‘afiyati wal barakati wa la taj’alna minal mahrumin. Allahummarfa’ washrif ‘anna wa ‘anil musliminal adza wal ghala-a wal bala-a wal qahtha wal humma wal jadba wal jawra wadh dhulma wa jami’a anwa’il fitani wal mihani wal amradhi wal asqami wasy-syada-idi wazzayghi wadl dlalali waz zalazili war rihi wal jahli wal bala-i ma dhahara minha wa ma bathana. Wa anjil mustadh’afina wal mankubina wal makrubina wal madhlumina minal muslimina wakla’hum washunhum wa tawallahum war’ahum wa alhimhum rusydahum wa waffiqna wa iyyahum lima tuhibbu wa tardla, wal-thuf bina wa bihim fi ma yajri bihil qadha-u, washrif wadfa’ wa ab’id wa azil ‘anna wa ‘anhum syarrath thaghina wal baghina wadh dhalimina wal mu’tadina wal mufsidina wal mu’dzina wal ‘a-inina was sahirina bima syi’ta ‘ajilan ghayra ajilin fî ‘afiyatin wa salamatin birahmatika ya arhamarrahimina

    Artinya, “Ya Allah, perbaikilah kami dan perbaiki orang-orang yang mendatangkan kebaikan bagi kaum Muslimin. Ya Allah, jangan hancurkan kami, dan hancurkanlah siapa pun yang jika mereka hancur akan membawa kebaikan bagi kaum Muslimin. Ya Allah, limpahkan kepada kami hujan dan rahmat, kebaikan, kesehatan, dan keberkahan. Janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang terhalang dari berkah-Mu. Ya Allah, jauhkan dari kami dan kaum Muslimin segala mara bahaya, bencana, kesengsaraan, kekeringan, penyakit, kesakitan, kemalangan, penyimpangan, kesesatan, gempa bumi, angin yang merusak, kebodohan, dan kesengsaraan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Lindungilah umat Islam yang tertindas, diinjak-injak, dianiaya, dan dizalimi. Berikan mereka perlindungan, bimbingan, dan pertolongan. Tunjukkan kami dan mereka kepada jalan yang Engkau ridhai, dan selalu lembutkanlah hati kami dalam menerima takdir-Mu. Lindungi kami dari kejahatan orang-orang zalim yang ingin menyakiti dan menindas. Juga orang-orang yang menyerang, merusak, menyakiti, beserta para penolong mereka dan tukang sihirnya sesuai apa saja yang Engkau kehendaki, secepatnya tanpa penundaan, dalam keadaan sehat dan selamat dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

    Tata Cara Membaca Doa Qunut Nazilah

    Mengutip dari buku Ensiklopedia Doa oleh Hamid Ahmad Ath-Thahir, ada yang perlu diperhatikan saat membaca doa qunut nazilah. Yaitu:

    1. Para ulama fiqih sepakat bahwa doa qunut nazilah itu dibaca dengan suara keras.
    2. Seorang makmum disunnahkan mengucapkan amin ketika mendengar doa qunut nazilah.
    3. Mengangkat tangan ditengah-tengah doa baik untuk imam atau makmum.
    4. Boleh dilakukan dengan berjamaah atau dilakukan sendiri.

    Waktu Membaca Doa Qunut Nazilah

    Doa qunut nazilah dapat dilafalkan disemua sholat fardhu, berbeda dengan qunut subuh seperti yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Al-Muhadzdzab:

    “Nabi SAW membaca doa qunut tidak hanya dalam sholat Subuh, tetapi juga ketika umat Islam dihadapkan pada cobaan, seperti terbunuhnya para sahabat al-qurra’.”

    Pendapat di atas juga diperkuat dengan hadits riwayat Bukhari dan Muslim sebelumnya. Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, tidak ada teks doa qunut nazilah yang spesifik.

    Doa qunut nazilah dilakukan saat i’tidal atau bangun dari ruku’ di rakaat terakhir sholat, sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut:

    “Sesungguhnya, Nabi SAW membaca doa qunut nazilah selama sebulan sebagai tanggapan atas tragedi pembunuhan terhadap para Qurra’ (ahli Al-Qur’an), semoga Allah meridhai mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Kriteria Memilih Pasangan dalam Islam Menurut Hadits


    Jakarta

    Ada empat kriteria memilih pasangan dalam Islam. Rasulullah SAW menjelaskan empat hal tersebut dalam hadits kriteria memilih pasangan berikut ini.

    Menikah adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu (edisi Indonesia terbitan Darul Fikir) menyebutkan sebuah hadits yang berisi sunnah ini. Rasulullah SAW bersabda,

    يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ


    Artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu kebutuhan pernikahan maka menikahlah. Karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga alat vital. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaknya dia berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)

    Menurut ijma kaum muslimin, menikah merupakan hal yang disyariatkan dalam Islam.

    Kriteria dalam Memilih Pasangan

    Ada beberapa kriteria yang disampaikan Rasulullah SAW dalam memilih pasangan. Kriteria tersebut termuat dalam hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,

    تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعِ : لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرُ بِذَاتِ الدَيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

    Artinya: “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR Bukhari)

    Berikut penjelasan selengkapnya seperti dirangkum dari buku Pendidikan Agama Islam: Fiqh Munakahat dan Waris karya Muhiyi Shubhie.

    1. Memilih Pasangan yang Baik Hartanya

    Pertama, seorang laki-laki boleh memilih seorang wanita yang akan menjadi istrinya kelak dari banyaknya harta yang ia miliki. Tidak dapat dipungkiri, harta memang salah satu aspek yang penting dalam menunjang keberhasilan kehidupan rumah tangga.

    Dijelaskan dalam kitab Fath Al-Bari, Ibnu Hajar menafsirkan kriteria ini sebagai pertimbangan kafa’ah (kesetaraan kondisi calon suami dan calon istri) dalam aspek finansial.

    2. Memilih Pasangan yang Baik Keturunannya

    Hadits kriteria memilih pasangan tersebut juga menyebutkan seorang laki-laki boleh memilih calon istri yang baik keturunan atau nasabnya. Misalnya memilih pasangan dari anak ulama, bangsawan, pejabat, maupun pengusaha.

    Ibnu Hajar mengatakan bahwa laki-laki yang baik nasabnya hendaknya juga memilih seorang perempuan yang baik nasabnya pula. Seorang laki-laki bangsawan dianjurkan menikahi wanita bangsawan juga.

    Namun apabila wanita bangsawan itu tidak baik agamanya, maka pilih wanita biasa yang baik agamanya, sebab agama yang baik harus didahulukan dari semua kriteria yang lain. Hal ini juga berlaku untuk wanita yang hendak memilih seorang laki-laki sebagai imam dalam rumah tangganya.

    3. Memilih Pasangan yang Cantik Wajahnya

    Seorang laki-laki yang hendak menikah boleh memilih calon pasangan dari segi kecantikan atau ketampanannya.

    Ibnu Hajar berkomentar bahwa hadits ini menganjurkan seseorang untuk menikahi pasangan yang memiliki paras rupawan. Namun juga harus memiliki agama yang tak kalah rupawannya.

    Apabila ada dua orang perempuan, perempuan pertama cantik, namun agamanya tidak baik dan perempuan kedua memiliki wajah yang biasa saja namun agamanya baik maka seorang laki-laki hendaknya memilih perempuan yang biasa saja wajahnya namun baik akhlak dan agamanya. Lagi-lagi paras pun bukan patokan utama, karena cantik atau tampan itu relatif.

    4. Memilih Pasangan yang Baik Agamanya

    Kriteria keempat inilah yang paling penting, yakni seorang laki-laki harus memilih pasangan hidup yang baik agamanya. Inilah kriteria mutlak yang harus ada pada calon pendamping hidup.

    Hadits ini juga menganjurkan seseorang untuk memiliki relasi dan persahabatan dengan orang yang baik agamanya dalam segala hal. Siapa saja yang bersahabat dengan mereka, maka ia akan mendapatkan manfaat dari akhlak, keberkahan, dan kebaikan jalan hidup, serta aman dari mafsadah ketika berada di sisi mereka.

    Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah yang meskipun kualitasnya dhaif (lemah), namun dapat dijadikan i’tibar selama bukan perkara aqidah maupun hukum (halal/haram), Rasulullah SAW bersabda,

    لَا تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلَا تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينِ أَفْضَلُ

    Artinya: “Janganlah kalian menikahi perempuan karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu merusak mereka. Janganlah menikahi mereka karena harta-harta mereka, bisa jadi harta-harta mereka itu membuat mereka sesat. Akan tetapi nikahilah mereka berdasarkan agamanya. Seorang budak perempuan berkulit hitam yang telinganya sobek tetapi memiliki agama adalah lebih utama.” (HR Ibnu Majah)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com