Tag: islam

  • Doa Setelah Sholat Dhuha: Arab, Latin dan Indonesia


    Jakarta

    Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada waktu pagi setelah matahari terbit setinggi tombak hingga menjelang waktu Zuhur. Sholat ini memiliki banyak keutamaan, di antaranya menjadi salah satu amalan yang dicintai oleh Rasulullah SAW dan dipercaya sebagai jalan untuk meraih kelapangan rezeki.

    Jumlah rakaat sholat Dhuha minimal dua rakaat dan bisa dikerjakan dalam kelipatan dua rakaat, seperti empat, enam, atau delapan rakaat, sesuai kemampuan dan keikhlasan hati seseorang.

    Setelah melaksanakan sholat Dhuha, dianjurkan untuk berdoa dan berdzikir. Dalam buku Keberkahan Sholat Dhuha karya Ustaz Arif Rahman menyebutkan doa yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW setelah sholat Dhuha.


    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ‏:‏ صَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الضُّحَى ثُمَّ قَالَ‏:‏ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، حَتَّى قَالَهَا مِئَةَ مَرَّةٍ

    Artinya: Aisyah berkata, “Rasulullah SAW melaksanakan salat dhuha, kemudian beliau mengucapkan: Allahummaghfirli wa tub ‘alayya innaka antat tawwabur rahim (Ya Allah, ampuni dosa saya dan terimalah tobat saya. Sesungguhnya Engkau maha penerima tobat dan Maha Pengampun) hingga 100 kali.” (HR Bukhari)

    Doa Setelah Sholat Dhuha

    Selain doa di atas, berikut ini adalah doa yang sering dibaca setelah sholat Dhuha. Menukil buku Bertambah Kaya & Berkah Dengan Shalat Dhuha karya Ustaz Khalillurahman El-Mahfani, doa ini berisi doa meminta rezeki yang luas dan berkah. Berikut lafadz doanya:

    اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضَحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ.
    اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِي فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَاِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ، وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ، آتِنَا مَا آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ.

    Arab latin: Allahumma innad-duhaa’a duhaa’uka wal bahaa’a bahaa’uka wal jamaala jamaaluka wal quwwata quwwatuka wal-qudrota qudratuka wal ‘ismata ‘ismatuka.

    Allaahumma in kaana rizqii fis-samaa’i fa anzilhu, wa in kaana fil ardi fa akhrijhu, wa in kaana mu’assiran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa tahhirhu wa in kaana ba’iidan fa qarribhu bi haqqi duhaa’ika wa bahaa’ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa ataita ‘ibaadakash-shalihiin.

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu dhuha-Mu, keagungan itu adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku berada di langit, maka turunkanlah. Jika berada di bumi, maka keluarkanlah. Jika sulit, maka mudahkanlah. Jika haram, maka sucikanlah. Jika jauh, maka dekatkanlah. Dengan kebenaran dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.”

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Bacaan Istighosah, Pengertian, dan Jenis-Jenisnya


    Jakarta

    Istighosah adalah kegiatan doa bersama yang dilakukan untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT dalam menghadapi berbagai kesulitan. Baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

    Doa istighosah bisa dipanjatkan sendiri maupun bersama-sama. Khususnya pada acara-acara penting atau saat bencana melanda. Berikut penjelasan selengkapnya.

    Bacaan Istighosah Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya

    Mengutip buku Surah Yasin Tajwid Warna & Tahlil Plus dan Ayat-Ayat Rezeki terbitan Shahih dan NU Online, berikut bacaan istighosah lengkap dengan arab, latin dan terjemahannya.


    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ

    Arab latin: Bismillaahir rahmaanir rahiim

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

    الفَاتِحَة

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَٰلَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ ﴿٣﴾ مَٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ﴿٥﴾ اِهْدِنَا الصِّرَٰطَ الْمُسْتَقِيْمَ ﴿٦﴾ صِرَٰطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ ﴿٧﴾

    Arab latin: Bismillaahir rahmaanir rahiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Ar rahmaanir rahiim. Maaliki yaumiddin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhuubi’alaihim waladhaalliin. (Al Fatihah: 1-7)

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah. Dan hanya kepada Engkaulah pula kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat, semoga engkau kabulkan permohonan kami.”

    أَسْتَغْفِرُ ٱللّٰهَ الْعَظِيْمَ

    Arab latin: Astaghfirullahal’adzhiim. (3x)

    Artinya: “Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

    لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

    Arab latin: Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘alayyil ‘adzhiim. (3x)

    Artinya: “Tiada daya untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pemeliharaan Allah dan tiada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

    أللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

    Arab latin: Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad (x3)

    Artinya: “Ya Allah. Limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya.”

    لَا إلهَ إلَّا أنْتَ سُبْحَانَكَ إنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْن

    Arab latin: Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzh dzhoolimiin (40x)

    Artinya: “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sungguh aku termasuk orang-orang yang telah berbuat zalim.”

    يَا اَللّٰهُ يَا قَدِيْمُ

    Arab latin: Yaa Allah Yaa Qodiim. (33x)

    Artinya: “Wahai Allah, wahai Dzat yang ada tanpa permulaan.”

    يَا سَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ

    Arab latin: Yaa Samii’u Yaa Bashiir (33x)

    Artinya: “Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

    يَا مُبْدِعُ يَا خَالِق

    Arab latin: Yaa Mubdi’u Yaa Khooliqu (33x)

    Artinya: “Wahai Dzat yang mewujudkan sesuatu dari tidak ada, wahai Dzat Yang Maha Pencipta.”

    يَا حَفِيْظُ يَا نَصِيْرُ يَا وَكِيْلُ ياَ اللّٰهُ

    Arab latin: Yaa Haafidzhu Yaa Nashiiru Yaa Wakiilu Yaa Allah (33x)

    Artinya: “Wahai Dzat yang memelihara dari keburukan dan kebinasaan, wahai Dzat Yang Maha Menolong, wahai Dzat yang menjamin rizki para hamba dan mengetahui kesulitan-kesulitan hamba, ya Allah.”

    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

    Arab latin: Yaa Hayyu Yaa Qoyyuumu birohmatika astaghiitsu (33x)

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Hidup, yang terus menerus mengurus makhluknya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan-Mu.”

    يَا لَطِيْفُ

    Arab latin: Yaa Lathiif (41x)

    Artinya: “Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,”

    أسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

    Arab latin: Astaghfirullaahal ‘adzhiim innahu kaana ghoffaaroo (33x)

    Artinya: “Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, sungguh Allah Dzat Yang Maha Pengampun.”

    أللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِي أدْرِكْنِي يَا اَللّٰهُ يَا اَللّٰهُ يَا اَللّٰهُ

    Arab latin: Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin qod dhooqot hiilatii adriknii, Ya Allah Ya Allah Ya Allah

    Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, sungguh telah habis daya dan upayaku maka tolonglah kami, Ya Allah Ya Allah Ya Allah.”

    أللّهُمَّ صَلِّي صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

    Arab latin: Allahumma Sholi Sholaatan Kaamilatan Wasallim Salaaman Taamman ‘Alaa Sayyidina Muhammadinil Ladzii Tanhallu Bihil ‘Uqodu Wa Tanfariju Bihil Kurobu Wa Tuqdhoo Bihil Hawaa-Iju Wa Tunaalu Bihir-Roghoo-Ibu Wa Husnul Khowaatimi Wa Yustasqol Ghomaamu Bi Wajhihil Kariimi Wa ‘Alaa Aalihii Wa Shohbihii Fii Kulli Lamhatin Wa Nafasin Bi ‘Adadi Kulli Ma’Luumin Laka.

    Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

    يَا بَدِيْعُ

    Arab latin: Yaa badii’u (41x)

    Artinya: “Wahai Dzat yang menciptakan makhluk tanpa ada contoh sebelumnya,”

    حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

    Arab latin: Hasbunallahu wani’mal wakiil (33x)

    Artinya: “Cukup bagi kami Allah, dan Dia sebaik-baik penolong,”

    Untuk menyempurnakan istighosah, akhiri dengan membaca tahlil.

    Pengertian Istighosah

    Dalam buku Surat Yaasin Tahlil dan Istighosah yang disusun oleh K. Zainuri, S.Ag dan Ustaz H. Mochtar Hidayat, S.H., istilah istighosah berarti menyeru kepada Zat yang mampu menghilangkan kesulitan dan menolong seseorang dari marabahaya. Secara bahasa, kata istighosah berasal dari kata al-ghouts, yang berarti “pertolongan”.

    Istighosah biasanya dilakukan secara berjamaah, dipimpin oleh seorang pemimpin doa, dan dilaksanakan dalam suasana penuh khusyuk. Bacaan dalam istighosah terdiri dari rangkaian doa, dzikir, shalawat, serta permohonan ampun kepada Allah SWT.

    Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, dijelaskan tentang istighosah:

    “Matahari akan mendekat ke kepala manusia di hari Kiamat, sehingga keringat sebagian orang mencapai telinganya. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka beristighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Musa, lalu kepada Nabi Muhammad.” (HR Bukhari)

    Jenis-Jenis Istighosah

    Merujuk pada buku yang sama, istighosah terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

    1. Istighosah yang Diperintahkan

    Istighosah yang diperintahkan adalah memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman-Nya dalam QS. Al-An’am ayat 40-41:

    قُلْ اَرَءَيْتَكُمْ اِنْ اَتٰىكُمْ عَذَابُ اللّٰهِ اَوْ اَتَتْكُمُ السَّاعَةُ اَغَيْرَ اللّٰهِ تَدْعُوْنَۚ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٤٠
    بَلْ اِيَّاهُ تَدْعُوْنَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُوْنَ اِلَيْهِ اِنْ شَاۤءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُوْنَ ࣖ ٤١

    Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku (jika) siksaan Allah atau hari Kiamat datang kepadamu, apakah kamu akan menyeru (Tuhan) selain Allah, jika kamu orang yang benar?” Tidak! Hanya kepada-Nya kamu menyeru. Maka, jika Dia menghendaki, Dia akan menghilangkan bahaya yang kamu mohonkan kepada-Nya, dan kamu akan melupakan apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).

    Ayat ini menegaskan bahwa seorang Muslim wajib beristighosah hanya kepada Allah, sebab Dialah satu-satunya yang Maha Kuasa menolong dan menghilangkan kesulitan.

    2. Istighosah yang Diperbolehkan

    Istighosah yang diperbolehkan adalah meminta bantuan kepada seseorang yang memiliki tiga syarat, yaitu:

    • Hayyun (hidup),
    • Hadhir (hadir atau ada di tempat)
    • Qadir (mampu memberikan pertolongan)

    Contohnya terdapat dalam QS. Al-Qashash ayat 15:

    وَدَخَلَ الْمَدِيْنَةَ عَلٰى حِيْنِ غَفْلَةٍ مِّنْ اَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيْهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلٰنِۖ هٰذَا مِنْ شِيْعَتِهٖ وَهٰذَا مِنْ عَدُوِّهٖۚ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِيْ مِنْ شِيْعَتِهٖ عَلَى الَّذِيْ مِنْ عَدُوِّهٖ ۙفَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ قَالَ هٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِيْنٌ

    Artinya: Dia (Musa) masuk ke kota ketika penduduknya sedang lengah. Dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki yang sedang berkelahi, seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari golongan musuhnya (kaum Fir’aun). Orang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk (mengalahkan) orang yang dari golongan musuhnya. Musa lalu memukulnya dan (tanpa sengaja) membunuhnya. Dia berkata, “Ini termasuk perbuatan setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang jelas-jelas menyesatkan.”

    Dalam ayat ini, Bani Israil memohon bantuan kepada Nabi Musa yang saat itu hidup, hadir, dan mampu membantu mereka. Namun, istighosah kepada orang yang sudah wafat atau tidak hadir tidak diperbolehkan karena termasuk syirik.

    3. Istighosah yang Dilarang

    Istighosah yang dilarang adalah meminta pertolongan kepada selain Allah yang tidak memiliki sifat hayyun (hidup), hadhir (ada di tempat), dan qadir (mampu). Contohnya memohon pertolongan kepada orang yang sudah wafat. Ini termasuk perbuatan syirik, karena menyekutukan Allah SWT, serta termasuk istighosah yang dilarang.

    Demikianlah penjelasan tentang bacaan istighosah lengkap dengan pengertian dan jenis-jenis istighosah. Yuk amalkan agar mendapatkan perlindungan Allah SWT dari segala musibah.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa setelah Sholat Taubat Beserta Dzikirnya: Arab, Latin, dan Terjemahan


    Jakarta

    Memanjatkan doa setelah sholat Taubat merupakan bagian penting yang melengkapi kesempurnaan proses pertobatan. Hal ini dianjurkan sebagai permohonan ampun dari segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat.

    Untuk mengamalkannya, simak bacaan doa dan dzikir setelah sholat Taubat di artikel berikut ini, beserta penjelasan mengenai perintah bertaubat dalam Islam.

    Perintah Bertaubat dari Perbuatan Dosa

    Semua manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Maka wajib hukumnya untuk bertaubat atas dosa yang telah dilakukan, menyesalinya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


    Mengutip Ensiklopedia Shalat Taubat oleh Rafi’udin, S.Ag., Allah Ta’ala melalui Nabi Muhammad SAW menyeru kaum musyrikin untuk memohon ampun atas dosa yang telah diperbuat, kembali kepada Allah dan melakukan segala perintahnya, serta berjanji tidak akan mengulangi dosa lagi.

    Perintah taubat ini sebagaimana firman Allah dalam surat Hud ayat 3:

    وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّيُؤْتِ كُلَّ ذِيْ فَضْلٍ فَضْلَهٗۗ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيْرٍ ۝٣

    Artinya: Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kesenangan yang baik kepadamu (di dunia) sampai waktu yang telah ditentukan (kematian) dan memberikan pahala-Nya (di akhirat) kepada setiap orang yang beramal saleh. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu (akan) ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).

    Shalat taubat merupakan salah satu amalan utama dalam proses bertaubat. Sama dengan sholat sunnah lainnya, sholat taubat dikerjakan sebanyak dua rakaat. Setiap muslim setidaknya pernah melakukan sholat taubat sekali seumur hidupnya.

    Doa setelah Sholat Taubat

    Dianjurkan untuk membaca serangkaian doa dan dzikir setelah melakukan sholat Taubat. Mengutip buku Panduan Salat Sunah Syukril Wudhu, Taubat, Hajat & Dhuha Karya Ibnu Watiniyah, setelah sholat Taubat, hendaknya membaca doa sebagai berikut:

    اسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمُ الَّذِي لا إله إلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأتُوبُ إِلَيْهِ تَوْبَةً عَبْدٍ ظَالِم لا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مونا وَلاحَيَا وَلاحَيَاةَ وَلَا نُشُورًا

    Astaghfirullaahal azhiim, alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuuniu wa atuubu ilaih taubata ‘abdin zhaalimin laa yamliku linafsihii dharraw wa laa naf aw wa laa mawtaw wa laa hayaataw wa laa nusyuuraa.

    Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Hidup dan terus Terjaga. Aku bertaubat kepada-Nya, taubatnya seorang hamba yang banyak berbuat dosa, yang tidak mempunyai daya upaya untuk berbuat mudharat atau manfaat, untuk mati, atau hidup, atau bangkit nanti.”

    Kemudian dilanjutkan dengan doa berikut:

    اِلٰهِىْ عَبْدُكَ الْاٰ بِقُ رَجَعَ اِلٰى بَابِكَ. عَبْدُكَ الْعَاصِىْ رَجَعَ اِلَى الصُّلْحِ. عَبْدُكَ الْمُذْنِبِ اَتَاكَ بِالْعُذْرِفَاعْفُ عَنِّىْ بِجُوْدِكَ وَتَقَبَّلْ مِنِّىْ بِفَضْلِكَ وَانْظُرْاِلَىَّ بِرَحْمَتِكَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِىْ مَاسَلَفَ مِنَ الذُّنُوْبِ وَاعْصِمْنِىْ فِيْمَابَقِىَ مِنَ الْاَ جَلِ فَاِنَّ الْخَيْرَكُلَّهُ بِيَدِكَ وَاَنْتَ بِنَارَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

    Ilaahii ‘abdukal aabiqu raja’a ilaa baabika, ‘abdukal ‘aashii raja’a ilash-shulhi ‘abdukal mudznibu ataaka bil’udzri fa’fu ‘anniii bijuudika wataqabbal minnii bifadhlika wandzhur ilayya birahmatika. Allaahummagh firlii maa salafa minadz-dzunuubi wa’shimnii fiimaa baqiya minal ajali fainnal khaira kullaahu biyadika wa anta binaa ra-uufurrahiimun.

    Artinya: “Tuhanku, Hamba-Mu yang melarikan diri telah kembali ke pintu-Mu. Hamba-Mu yang telah berbuat maksiat telah kembali kepada perbaikan. Hamba-Mu yang berdosa telah datang kepada-Mu memohon maaf. Oleh karena itu maafkanlah aku dengan kemurahan-Mu, terimalah permohonanku dengan keutamaan-Mu, dan pandanglah aku dengan rahmat-Mu.

    Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lampau, dan peliharalah sisa-sisa umurku, karena sesungguhnya semua kebaikan ada dalam kekuasaan-Mu dan Engkau Maha Pengasih dan Penyayang terhadap kami.”

    Setelah membaca doa sholat taubat, dianjurkan untuk memperbanyak Sayyidul Istighfar, sebagai berikut:

    اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَاإِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَاصَنَعْتُ أَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

    Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtnii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wawa’dika mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii, faghfirlii fa innahu laa yagfirudzdzunuuba illa anta

    Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau yang telah menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu. Dan aku pun dalam ketentuan serta janji-Mu yg sedapat mungkin aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yg telah aku lakukan, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu berilah ampunan kepadaku, sebab tiada yg dapat memberi ampunan kecuali Engkau sendiri. Aku memohon perlindungan Engkau dari segala kejahatan yg telah aku lakukan.”

    Setelah membaca doa-doa di atas, amalkanlah juga dzikir setelah sholat taubat. Dirangkum dari buku Hidup Tanpa Masalah karya H.M. Amrin Ra’uf, berikut bacaan dzikir yang dimaksud:

    1. Istighfar 1000 Kali

    أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمِ

    Astaghfirullaahal ‘azhiim.

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

    2. Ya Tawwaab 440 Kali

    يا تَوَّابُ

    Yaa Tawwab.

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Menerima Taubat.”

    3. Yaa ‘Afuwwu 187 Kali

    يَا عَفُوٌّ

    Yaa ‘Afuwwu.

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Pemaaf.”

    4. Ya Haadi 251 Kali

    يَا هَادِى

    Ya Haadi.

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Pemberi.”

    5. Yaa Bashiir 333 Kali

    يَا بَصَيْرُ

    Yaa Bashiir.

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Melihat.”

    Demikianlah bacaan doa dan dzikir setelah sholat taubat. Semoga bermanfaat.

    (hnh/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 11 Doa untuk Ibu Tercinta, Bisa Dibaca saat Hari Ibu


    Jakarta

    Ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam, bahkan disebutkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Penghormatan kepada ibu tidak hanya diwujudkan melalui sikap dan perbuatan, tetapi juga melalui doa tulus yang dipanjatkan untuk kebaikannya.

    Pada momen istimewa seperti Hari Ibu, berterima kasih kepada ibu tidak cukup hanya dengan ungkapan cinta, melainkan juga dengan mendoakannya agar senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Sebagai anak, kita memiliki tanggung jawab besar untuk terus memohonkan yang terbaik bagi ibu, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

    Kedudukan Ibu dalam Islam

    Dalam Islam, kedudukan ibu sangat dimuliakan. Bahkan, dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menekankan pentingnya menghormati ibu dengan menyebutnya hingga tiga kali, sebagaimana dikutip dalam buku Rambu-Rambu Berbakti Kepada Orang Tua karya Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan.


    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُول الله، مَنْ أحَقِّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمِّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمَّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمِّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوكَ

    Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ‘Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan sikap baikku?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau SAW menjawab, ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR Bukhari 5971 dan Muslim 2548).

    Doa untuk Ibu

    Sebagai anak yang berbakti, kita wajib mendoakan ibu agar senantiasa diberkahi, dirahmati, dan dilimpahi kebaikan oleh Allah SWT. Berikut ini adalah beberapa doa yang bisa kita panjatkan untuk ibu.

    1. Doa agar Dosa Ibu Dihapuskan

    رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

    Latin: Rabbigh firlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shaghiiraa.

    Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku waktu kecil.”

    2. Doa Supaya Ibu Disayangi Allah

    رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

    Latin: Rabbir hamhumaa kamaa rabbayaanii shagiiraa.

    Artinya: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku) mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra: 24)

    3. Doa untuk Ibu dan Seluruh Perempuan

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا وَاغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

    Latin: Rabbighfirlii wali waalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiran, waghfir lil mu’miniina wal mu’minaati, walmuslimiina walmuslimaat al-ahyaa’i minhum wal amwaati.

    Artinya: “Tuhanku, ampunilah dan kedua orang tuaku sebagaimana keduanya mengasuhku ketika kecil. Ampunilah orang beriman dan orang Islam baik laki-laki maupun perempuan, yang masih hidup dan yang sudah wafat,” (Imam Al-Ghazali, Ihya’i Ulūmiddīn, [Kairo, Darus Syi’b: tanpa tahun], halaman 578).

    4. Doa agar Ibu Diberikan Syafaat

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ. اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ وَالشَّفَاعَةَ عَلَى أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ أَهْلِ لَاالَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ

    Arab latin: Allāhummaghfirlahum, warhamhum, wa ‘āfihim, wa’fu ‘anhum. Allāhumma anzilir rahmata, walmaghfirata, wassyafā’ata ‘alā ahlil qubūri min ahli lā ilāha illallāhu Muhammadun rasūlullāh.

    Artinya: “Ya Allah, berikanlah ampunan, kasih sayang, afiat, dan maaf untuk mereka. Ya Allah, turunkanlah rahmat, ampunan, syafa’at bagi ahli kubur penganut dua kalimat syahadat.”

    5. Doa untuk Ibu dan Orang yang Berjasa

    اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا، خُصُوْصًا إِلَى آبَاءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِأَصْحَابِ الحُقُوْقِ عَلَيْنَا

    Arab latin: Allaahummaghfir lil muslimiina wal muslimaat, wal mukminiina wal mukminaat, al-ahyaa’i minhum wal amwaat, min masyaariqil ardhi ilaa maghaaribihaa, barrihaa wa bahrihaa, khushuushan ilaa aabaa’inaa, wa ummahaatinaa, wa ajdaadinaa, wa jaddatinaa, wa asaatidzatinaa, wa mu’allimiinaa, wa li man ahsana ilainaa, wa li ashhaabil huquqi ‘alaynaa.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah mukminin, mukminat, muslimin, muslimat, yang masih hidup, yang telah wafat, yang tersebar dari timur hingga barat, di darat dan di laut, khususnya bapak, ibu, kakek, nenek, ustadz, guru, mereka yang telah berbuat baik terhadap kami, dan mereka yang masih memiliki hak terhadap kami.”

    6. Doa untuk Ibu agar Diberikan Kesembuhan

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

    Latin: Allahumma robbannaasi adz-hibil ba’sa wasy fihu, wa antas syaafi, laa syifaa-a illa syfaauka, syifaan laa yughaadiru saqaama.

    Artinya: “Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah, Engkaulah Maha Penyembuh. Tak ada penawar selain dari penawar-Mu, penawar yang menghabiskan sakit dan penyakit.”

    7. Doa Ketika Ibu Sakit Keras

    اللَّهُمَّ اَحْيِنِي مَاكَا نَتِ الْحَيَاةُ خَيْرً الِّى وَتَوَ فَّنِى مَاكَا نَتْ الوَ فَاةُ خَيْرًا لِى

    Latin: Allahumma ahyini maa kaa natil khayatu khoirolli, watawaf fanni adza kaanat wafaatu khoirolli.

    Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah dia apabila itu lebih baik baginya. Dan matikanlah dia apabila kematian itu lebih baik baginya.”

    8. Doa Agar Ibu Mendapat Ampunan ketika Dihisab

    رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُࣖ

    Latin: Rabbanaghfirlii waliwaalidayya wa lil-mu’miniina yauma yaquumul-hisaab.

    Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Q.S Ibrahim: 41)

    9. Doa Memohon Ampun untuk Ibu, Ayah, dan Orang Beriman

    رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًا

    Latin: Rabbighfirlii waliwalidayya waliman dakhala baitiya mu’minaw wa lil mu’miniina wal mu’minati, wa laa tazididzh-dzhaalimiina illaa tabaaraa.

    Artinya: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.” (Q.S Nuh : 28)

    10. Doa untuk Ibu yang Sudah Meninggal

    Dinukil dari laman Rumah Zakat, seorang anak dapat memanjatkan doa untuk ibu yang sudah meninggal. Berikut doa ampunan bagi ibu:

    اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِلْمَاءِ وَالشَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْاَبْيَضُ مِنَ الدَّ نَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارً اخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَادْخِلْهُ الجَنَّةَ وَاعِذْهُ مِنْ ععَذَابِ الْقَبرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

    Arab latin: Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkholahu, waghsilhu bil maa i wats-tsalji walbarodi wa naqqihii minal khothoo ya kamaa yunaqqots-tsawbul abyadhu minad danas, wa abdilhu daaron khoiron min daarihii wa ahlan khoiron min ahlihii wa zawjan khoiron min zawjihi, wa ad-khilhul jannata wa a’idz-hu min ‘adzaabil qobri wa fitnatihi wa min ‘adzaabin naar.

    Artinya: “Wahai Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan seperti baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnahnya, dan siksa api neraka.”

    11. Doa Memohon Ampunan untuk Ibu dan Seluruh Umat Islam

    اَللهُمَّ اغْفِرْلِىْ ذُنُوْبِىْ وَلِوَالِدَىَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِىْ صَغِيْرًا. وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، َاْلاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ، وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

    Allaahummaghfirlii dzunuubii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiro, waliljamii’il muslimiina walmuslimaati, walmu’miniina wal mu’minaati Al ahyaa’i minhum wal amwaati, wataabi’ bainanaa wa bainahum bil khoiraati, robbighfir warham wa annta khoirur roohimiin, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil’aliyyil adzhiimi.

    Artinya: “Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya itu sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah di antara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.”

    (hnh/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Dzikir Bulan Rajab: Arab, Latin, dan Terjemahannya


    Jakarta

    Umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir di bulan Rajab. Karena bulan ini adalah salah satu bulan mulia dalam kalender Hijriah.

    Mengutip buku 12 Bulan Mulia-Amalan Sepanjang Tahun oleh Abdurrahman Ahmad, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah bersabda, “Kelebihan bulan Rajab di atas bulan yang lain adalah seperti kelebihan Al-Qur’an di atas perkataan yang lain.”

    Sebagai bulan yang mulia dan memiliki kedudukan istimewa, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa di sepanjang bulan ini. Allah SWT berfirman dalam surah At-Taubah ayat 36,


    اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ ٣٦

    Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”

    Bulan ke-7 dalam kalender hijriyah ini merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan kualitas ibadah kita kepada Allah. Salah satu cara untuk beribadah di bulan Rajab adalah dengan memperbanyak dzikir.

    Dzikir Bulan Rajab

    Dzikir bulan Rajab dibagi menjadi tiga bagian, yakni bacaan 10 hari pertama (1-10 Rajab), 10 hari kedua (11-20 Rajab) dan 10 hari ketiga (21-30 Rajab) sebagaimana yang dijelaskan dalam Buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun yang disusun oleh Ust. Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid. Berikut ini adalah lafaz dari dzikir bulan Rajab:

    1. Dzikir 10 Hari Pertama Bulan Rajab

    Bacaan dzikir yang dapat dilantunkan pada 1-10 Rajab 1446 H, yakni:

    سُـبْحَان الله الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ

    Arab Latin: Subhaanallaahil hayyul Qayyum.

    Artinya: Maha Suci Allah yang hidup kekal dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya.

    Dzikir ini sebaiknya dibaca minimal 100 kali.

    2. Bacaan Dzikir 10 Hari Kedua Bulan Rajab

    سُبْحَانَ اللهِ اَحَدِ الصَّمَدْ

    Arab Latin: Subhaanallaahil ahadush shamad.

    Artinya: “Maha Suci Allah yang Maha Esa, dan semua tergantung kepada-Nya.”

    Dzikir ini juga dibaca sebanyak 100 kali.

    3. Bacaan Dzikir 10 Hari Ketiga Bulan Rajab

    سُبْحَانَ اللهُ الرَّؤُوْفُ

    Arab Latin: Subhaanallaahir-ro’ufir-rahiimm.

    Artinya: “Maha suci Allah Yang Maha Belas Kasihan.”

    Baca dzikir di atas sebanyak 100 kali. Kemudian lanjutkan dengan surah al-Ikhlas di bawah ini sebanyak 11 kali.

    قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ

    Arab Latin: Qul huwal laahu ahad.

    Artinya: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.

    اَللّٰهُ الصَّمَدُ

    Arab Latin: Allah hus-samad.

    Artinya: Allah tempat meminta segala sesuatu

    لَمۡ يَلِدۡ ۙ وَلَمۡ يُوۡلَدۡ

    Arab Latin: Lam yalid wa lam yuulad.

    Artinya: “(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

    وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

    Arab Latin: Wa lam yakul-lahu kufuwan ahad.

    Artinya: Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.

    Amalan Lain di Bulan Rajab

    Selain memperbanyak dzikir, ada pula amalan lain yang dianjurkan untuk dilakukan selama bulan Rajab. Berikut ini adalah amalan-amalan lainnya selama bulan Rajab:

    1. Memperbanyak Istighfar dan Memohon Ampun

    Menukil buku Dakwah Kreatif: Muharram, Maulid Nabi, Rajab dan Sya’ban karya Dra. Hj. Udji Asiyah, M.Si., para ulama mengatakan bulan Rajab adalah bulan istighfar dan bulan Syaban adalah bulan salawat atas Nabi dan bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits dikatakan Rasulullah SAW beristighfar lebih dari 70 kali setiap harinya.

    Lantas, dari mana muncul angka 70 sebagai patokan jumlah bacaan istighfar tersebut? Hal itu dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari berikut:

    وقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( وَاللَّهِ إِنِّي لاَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً ) رواه البخاري

    Artinya: “Dan Abu Hurairah R.A. berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”

    Dalam riwayat lain yang dinukil dari buku Doa & Amalan di Bulan Rajab, Sya’ban & Ramadhan karya Tim Zahra, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beristighfar kepada Allah dengan mengucapkan, ‘Astaghfirullaha wa atûbu ilaih(i)’ sebanyak 70 kali di siang hari dan 70 kali di malam hari pada bulan Rajab, kemudian mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Allahummaghfirli wa tub ‘alayya,’ maka jika ia wafat di bulan Rajab, ia wafat dalam keadaan diridhai Allah dan tidak akan tersentuh api neraka dengan berkat bulan Rajab.”

    Berikut ini bacaan istighffar 70 kali yang dibaca oleh Rasulullah SAW:

    أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَ أَتُوبُ إِلَيْهِ, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَ تُبْ عَلَيَّ

    Arab latin: Astaghfirullaha wa atûbu ilaihi, Allahummaghfirli watub ‘alayya

    Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya. Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah tobatku.”

    2. Sholat Sunnah Bulan Rajab

    Mengutip buku Panduan Sholat Nifsyu Sya’ban, Rajab, Muharram, Asyura, Lailatul ‘Arafah karya Ibnu Watiniyah, sholat Sunnah Rajab adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada awal malam bulan Rajab, untuk menyambut kemuliaan bulan Rajab. Dalam sebuah sabda Rasulullah SAW disebutkan,

    “Setiap mukmin laki-laki dan perempuan yang mengerjakan sholat 30 rakaat di bulan Rajab, lalu di setiap rakaatnya membaca surah al-Fatihah dan surah al-Ikhlas 13 kali, dilanjutkan dengan surah al-Kafirun tiga kali, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya, memberikan pahala seperti orang yang berpuasa sebulan penuh, menjadi orang yang mengerjakan sholat hingga tahun depan, dan mengangkat amalnya sebagai amal seorang syahid. Jika dia berpuasa sebulan penuh dan mengerjakan sholat dengan cara tersebut, maka Allah menyelamatkannya dari neraka dan memastikannya masuk surga.”

    3. Puasa Sunnah Bulan Rajab

    Puasa sunnah di bulan Rajab merupakan amalan yang dianjurkan. Menukil buku Nasihat Langit Penenteram Jiwa karya Syaikh Ash-Shafuri, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari pertama bulan Rajab, maka neraka Jahanam menjauh darinya sejauh langit dan bumi.”

    Selain itu, Allah SWT juga menjanjikan pengampunan untuk 70 dosa besar setiap hari dan pengabulan hajat yang berlimpah, baik ketika di dunia maupun di akhirat. Beberapa diantaranya adalah Allah SWT mengabulkan 70 hajat saat menghadapi sakaratul maut, 70 hajat di alam kubur, 70 hajat saat catatan amal diterbangkan, 70 hajat ketika timbangan amal, dan 70 hajat saat melewati jembatan siratal mustaqim.

    Wallahu ‘alam.

    (hnh/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa agar Rezeki Orang Tua Lancar dan Penuh Keberkahan


    Jakarta

    Rezeki yang lancar adalah harapan setiap orang, terlebih bagi orang tua yang menjadi tulang punggung keluarga. Sebagai seorang anak, mendoakan kelancaran rezeki orang tua merupakan bentuk bakti dan kasih sayang yang dianjurkan dalam Islam.

    Doa memiliki kekuatan besar untuk memohon pertolongan Allah SWT agar rezeki orang tua dilimpahkan dan diberkahi. Dengan melibatkan doa dalam setiap usaha, diharapkan pintu-pintu rezeki terbuka luas dan membawa keberkahan bagi keluarga.

    Doa Dilancarkan Rezeki

    Mendoakan orang tua agar memiliki rezeki yang lancar adalah salah satu bentuk bakti anak yang diperintahkan dalam Islam. Doa dari anak yang tulus tidak hanya menjadi amal kebaikan, tetapi juga dapat membuka pintu keberkahan dan kelancaran rezeki bagi orang tua.


    Doa-doa ini bisa menjadi salah satu cara untuk memohon kelancaran rezeki. Baik untuk diri sendiri maupun orang tua.

    Meski tidak ada doa khusus yang disebutkan secara spesifik untuk melancarkan rezeki orang tua, doa-doa ini dapat diamalkan sebagai doa sehari-hari untuk memohon kelapangan rezeki dan keberkahan dalam kehidupan kita sendiri dan juga keluarga.

    Dirangkum dari buku Doa Mengundang Rezeki oleh Islah Susmian, berikut ini adalah beberapa doa agar rezeki lancar:

    1. Doa dilancarkan rezeki yang luas

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ رِزْقًا حَلاَلاً وَاسِعًا طَيِّبًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلاَ مَشَقَّةٍ وَلاَ ضَيْرٍ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

    Arab latin: Allaahumma innii as’aluka antarzuqanii rizqan halaalan waasi’an thayyiban mingghairi ta’abin, wa laa masyaqqotin wa laa dhoirin innaka a’laa kulli sya’ing qadiir(un)

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk berkenan memberiku rezeki yang luas serta baik, tanpa payah. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.”

    2. Doa Supaya Dilancarkan Rezeki Sebelum Aktivitas

    Dalam riwayat Abu Hurairah di dalam hadits Abu Dawud, dikatakan Nabi SAW setiap paginya membaca sebuah doa. Bacaan yang sering dipanjatkan oleh Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

    اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

    Arab latin: Allāhummabika ashbahnā, wabika amsainā, wabika nahyā, wabika namūtu, wailaikannusyūr.

    Artinya: “Ya Allah, denganMu aku berpagi hari, denganMu aku bersore hari, dengan-Mu kami hidup, denganMu kami mati. Hanya kepadaMu (kami) kembali.” (HR Abu Dawud, At-Turmudzi, Ibnu Majah, dan lainnya).

    3. Doa Dilancarkan Rezeki di Pagi Hari

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ

    Arab latin: Allahmumma inni ashbahtu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyik, wamala’ikatika wajami’a khalqik, annaka antallahu lailaha illa anta wa anna Muhammadan ‘abduka warasuluk

    Artinya: “Ya Allah, aku berada di waktu pagi bersaksi atas-Mu, dan kepada para pembawa Arsy-Mu, kepada semua malaikat, dan kepada semua mahkluk-Mu, bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Engkau, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Mu.” (HR Abu Daud).

    4. Doa Dimudahkan Segala Urusan dan Memohon Pertolongan

    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا

    Arab latin: Yaa hayyu yaa qayyumu birahmatika astaghits, ashlihli sya’ni kullahu walaatakilni ila nafsi tharfata ‘ainin abadan

    Artinya: “Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmatMu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dariMu selamanya.” (HR Tirmidzi).

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Alasan Utsman bin Affan Masuk Islam, Kenapa?



    Jakarta

    Utsman bin Affan adalah termasuk golongan orang-orang pertama yang masuk Islam atau yang disebut sebagai Assabiqunal Awwalun. Bahkan beliau adalah orang laki-laki kelima yang masuk Islam setelah Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

    Dikutip dari buku Sahabat Rasulullah Utsman Bin Affan karya M. Syaikuhudin dipaparkan mengenai kisah Utsman sebagai berikut. Utsman bin Affan memeluk Islam secara garis besar dikarenakan ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

    Sebagai sesama pedagang keduanya memang berteman dekat, kedekatan tersebut yang pada akhirnya membuat Utsman akhirnya tertarik untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW yaitu agama Islam.


    Keislaman Utsman bin Affan dimulai dari ketika Utsman mendengar mengenai Ruqayyah putri dari Rasulullah SAW yang telah dinikahkan dengan sepupunya Utbah bin Abi Lahab.

    Utsman merasa menyesal karena keduluan oleh Utbah dan tidak mendapatkan istri sebaik Ruqayyah baik budi dan nasabnya. Saat itu, Utsman pun kembali ke rumahnya dengan merasa kesal dan bersedih.

    Saat kembali ke rumahnya, Utsman mendapati bibinya yang bernama Su’da binti Kuraiz, seorang peramal di masa Jahiliyah, berada di rumah. Melihat Utsman tengah bersedih, bibinya menyampaikan kepada Utsman mengenai kemunculan Nabi Muhammad SAW dan agama yang dibawa olehnya.

    Su’da mengatakan bahwa Muhammad itu berada di pihak yang benar serta agama yang diajarkannya akan unggul dan mengalahkan seluruh kaum yang memusuhinya. Su’da pun menyuruh Utsman untuk mengikuti ajaran agama nabi tersebut.

    Pernyataan bibinya tersebut selalu terngiang dalam benaknya. Hingga Utsman bertemu dengan Abu Bakar Ash Shiddiq dan menceritakan apa yang dikabarkan oleh bibinya.

    Singkat cerita, Abu Bakar Ash Shiddiq menyambut baik cerita tersebut dan mengajak Utsman untuk memeluk agama Islam. Ia diajak untuk menemui Rasulullah SAW,

    “Ini adalah Muhammad bin Abdullah, telah diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh makhluk-Nya. Apakah engkau ingin menemuinya dan mendengar sesuatu darinya?”

    Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu pun tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan ajakan Abu Bakar Radhiyallahu anhu. Keduanya lalu berangkat menemui Rasulullah SAW.

    Sesampainya di sana, Abu Bakar Radhiyallahu anhu pun berbicara kepada beliau tentang maksud kedatangan mereka. Maka, Rasulullah SAW menghadapkan wajahnya ke Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu dan berkata kepadanya,

    “Wahai Utsman, penuhi panggilan Allah untuk masuk ke surga-Nya. Sesungguhnya, saya adalah utusan Allah kepadamu dan kepada seluruh makhluk-Nya.”

    Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan kesannya berhadapan dengan Rasulullah SAW, ia berkata, “Demi Allah, ketika saya mendengar ucapkan beliau, saya tidak bisa mengelak untuk masuk Islam. Saya langsung bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

    Setelah mengalami beberapa perdebatan dan dialog dijelaskan bahwa akhirnya Rasulullah SAW melihat kegundahan Utsman, lalu Rasulullah SAW langsung bersabda:

    “Ya Utsman, sambutlah seruan orang yang mengajak ke jalan Allah, sebab aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus, dan kepada semua makhluk Allah secara umum.”

    Utsman berkata, “Demi Allah, begitu aku melihat Beliau dan mendengarkan sabdanya, maka aku langsung merasa nyaman dan aku percaya akan kerasulannya.”

    Sesaat kemudian, Utsman pun langsung masuk Islam dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.”

    Begitulah kisah singkat Utsman bin Affan masuk Islam karena Abu Bakar yang mempertemukannya dengan Rasulullah SAW. Pada konteks ini, terdapat pelajaran berharga yang bisa dijadikan panutan dari kisah Utsman bin Affan.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sekelompok Jin Masuk Islam usai Dengar Lantunan Al-Qur’an



    Jakarta

    Tak jauh dari pemakaman kaum muslim di Kota Makkah, ada sebuah masjid yang menjadi saksi sekelompok jin yang memutuskan masuk Islam. Hal itu terjadi usai mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an.

    Kisah sekelompok jin yang masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an ini terjadi di sebuah masjid yang terletak di Kampung Ma’la. Masjid tersebut kini diberi nama Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai’ah, sebab di tempat itu sekelompok jin pernah berbaiat atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan kitab-Nya.

    Sekelompok Jin Berbaiat dengan Rasulullah

    Dikisahkan dalam buku Situs-Situs dalam Al Quran karya Syahruddin El-Fikri, peristiwa sekelompok jin masuk Islam terjadi ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang menunaikan salat Subuh.


    Kala itu, Rasulullah SAW membaca surat Ar-Rahman ayat 1-78 yang di dalamnya terdapat ayat yang berbunyi, “Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”

    Ketika ayat tersebut dibacakan, sekelompok jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami.”

    Penyampaian sekelompok jin yang berbaiat dengan Rasulullah SAW juga termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Ahqaf ayat 29-32, Allah SWT berfirman,

    وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِم مُنذِرِينَ

    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS Al Ahqaf: 29)

    قَالُوا يَنقَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَبًا أُنزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِ قَالْمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِى إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقِ مُسْتَقِيم

    Artinya: “Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS Al Ahqaf: 30)

    يَقَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَ عَامِنُوابِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجرَكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

    Artinya: “Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS Al Ahqaf: 31)

    وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزِ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء أَوْلَيْكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

    Artinya: “Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahqaf: 32)

    Terhalangnya Berita Langit

    Dalam riwayat lain yang dikutip dari buku Misteri Mukjizat Makkah & Madinah oleh Namin Asimah Asizun, Imam Bukhari dan Imam Tirmidzi dari Ibnu Abbas menerangkan bahwa peristiwa pertemuan Rasulullah SAW dengan sekelompok jin terjadi saat beliau dengan para sahabat sedang dalam perjalanan menuju pasar Ukkadz.

    Sesampainya di daerah bernama Tihamah, Rasulullah SAW bersama rombongannya berhenti untuk menunaikan salat Subuh. Rupanya, salat yang dilakukan Nabi SAW dan para sahabat menyebabkan terhalangnya berita-berita langit yang biasa dicuri oleh para setan (jin yang kafir).

    Bahkan para jin kafir yang sedang mencoba mencuri berita tersebut mendapat lemparan bintang-bintang sehingga terpaksa pulang kembali kepada kaumnya.

    Setibanya di tempat kaumnya, para jin kafir tersebut ditanya, “Apa yang menyebabkan kalian terhalang mendapatkan berita langit?”

    Para Jin kafir menjawab, “Kami terhalang mendapatkan berita langit, bahkan kami dikejar oleh bintang-bintang.”

    Lantas setan itu menimpalinya, “Tidak mungkin ada halangan antara kita dengan berita langit. Pasti ini ada sebabnya!”

    Pimpinan jin kafir tersebut kemudian memerintahkan sekumpulan jin untuk menyebar ke arah barat dan timur untuk mencari penghalang tersebut. Saat sekelompok jin kafir itu menyebar ke seluruh pelosok jagat, sebagian di antara mereka sampai ke daerah Tihamah, tempat Rasulullah SAW dan para sahabat berhenti menunaikan salat Subuh.

    Para jin kafir tersebut mendengar dan memperhatikan dengan saksama ayat suci Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah SAW, lalu mereka berkata, “Demi Allah, pasti inilah yang menyebabkan kita terhalang dari berita langit.”

    Mereka justru sangat kagum terhadap ayat suci Al-Qur’an yang didengarnya hingga menyatakan baiatnya untuk masuk Islam kepada Rasulullah SAW.

    Sekelompok jin itu kembali kepada kaumnya dan menyampaikan kejadian yang mereka alami. Kaum mereka pun langsung menerima dan mengimani ajaran yang dibawa tersebut.

    Peristiwa tersebut turut menjadi sebab turunnya surah Al-Jin ayat 1 yang memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad SAW mengenai peristiwa alam gaib yang terjadi di sekelilingnya dan para sahabat kala itu. Firman Allah SWT dalam surah Al-Jin ayat 1 tersebut berbunyi:

    قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا

    Artinya: “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.”

    Setelah menerima wahyu, Rasulullah SAW lantas menyampaikan pemberitahuan Allah SWT tersebut kepada para sahabat dan umat Islam lainnya. Wallahu ‘alam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kemenangan Kaum Muslimin dalam Perang Khaibar Bulan Muharram


    Jakarta

    Bulan Muharram menyimpan sejumlah peristiwa besar. Pada 7 H silam, Rasulullah SAW dan kaum muslimin menghadapi Perang Khaibar.

    Diceritakan dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, Rasulullah SAW menuju Khaibar setelah sebelumnya menetap di Madinah sejak bulan Dzulhijjah dan beberapa hari bulan Muharram. Sebelum ini, Rasulullah SAW berada di Hudaibiyah.

    Rasulullah SAW berangkat dari Madinah menuju Khaibar lewat jalur ‘Ishr dan membangun sebuah masjid di sana. Setelah itu, beliau melewati Shahba’ dan terus berjalan bersama kaum muslimin lainnya menuruni sebuah lembah Raji’.


    Dalam perjalanannya ke Khaibar, Rasulullah SAW meminta Amir bin Akra’ untuk mengumandangkan syair, sebagaimana diceritakan Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim bin Harits at-Taimi. Amir pun turun dari untanya lalu mendendangkan syair rajaz untuk Rasulullah SAW.

    Secara berangsur-angsur Rasulullah SAW mendekati kebun-kebun penduduk Khaibar dan merebutnya satu demi satu. Beliau juga menaklukkan benteng demi benteng. Na’im menjadi benteng pertama yang berhasil beliau taklukkan. Selanjutnya, beliau menaklukkan Qamush, benteng milik bani Abil Huqaiq.

    Saat berada di Khaibar, Rasulullah SAW mengutus Muhayyishah bin Mas’ud untuk menemui orang-orang Yahudi Fadak agar memeluk Islam, seperti diceritakan dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum: Sirah Nabawiyah karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri. Namun, mereka terus menunda jawaban dan belakangan memunculkan rasa gentar dalam hati mereka.

    Orang Yahudi Fadak pun mengirimkan utusannya kepada Rasulullah SAW untuk menawarkan jalan damai dengan kompensasi separuh hasil Fadak. Rasulullah SAW pun menerima tawaran ini.

    Larangan dalam Perang Khaibar

    Saat Perang Khaibar, kaum muslimin memakan daging keledai jinak milik penduduk Khaibar. Melihat hal itu, Rasulullah SAW berdiri dan mengumumkan beberapa larangan dalam Perang Khaibar, termasuk memakan keledai jinak.

    Menurut Ibnu Ishaq yang mendapatkan cerita dari Abdullah bin Amru bin Dhamrah al-Fazari dari Abdullah bin Abi Salith, dari ayahnya yang mengatakan, “Kami menerima keterangan bahwa Rasulullah melarang makan daging keledai jinak ketika tungku-tungku sedang mendidih dengan daging-daging itu. Akhirnya kami tidak memakannya.” (HR Amad)

    Ibnu Ishaq juga menyebutkan larangan lainnya sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim. Dikatakan bahwa Rasulullah SAW melarang kaum muslim melakukan empat hal, yakni menggauli tawanan perempuan yang sedang hamil, memakan keledai jinak, memakan binatang buas yang bertaring, dan menjual harta rampasan perang sampai dibagikan.

    Korban Perang Khaibar

    Perang Khaibar menelan sejumlah korban dari kaum muslimin. Namun, para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai jumlah pastinya.

    Ada yang berpendapat, pasukan muslimin yang mati syahid dalam Perang Khaibar berjumlah 16 orang dengan rincian 4 orang dari Quraisy, 1 orang dari Asyja, 1 orang dari Aslam, 1 orang dari Khaibar, dan sisanya dari Anshar.

    Pendapat lain menyebut, muslimin yang mati syahid dalam Perang Khaibar berjumlah 81 orang, sedangkan Al-Manshurfuri menyebutnya ada 91 orang. Sementara itu, dari kubu Yahudi berjumlah 93 orang.

    Kemenangan kaum muslimin dalam Perang Khaibar membawa pengaruh besar bagi kabilah-kabilah Arab yang belum masuk Islam, sebagaimana dikatakan dalam As-Sirah an-Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani ad-Nadwi. Sebab, mereka tahu persis kekuatan perang Yahudi di Khaibar dan kenikmatan yang mereka nikmati. Panglima-panglima berpengalaman dan pemberani seperti Marhab dan Harits turut andil di sana.

    (kri/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rasulullah Beri Syafaat di Padang Mahsyar


    Jakarta

    Kiamat adalah sebuah peristiwa di mana alam semesta ini hancur dan menjadi awal bagi kehidupan yang abadi. Setelah kiamat, manusia akan dibangkitkan kembali oleh Allah SWT dan dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk menjalani pengadilan.

    Ketika berada di Padang Mahsyar, semua orang sibuk dengan dirinya sendiri, khawatir dengan nasib dan mencoba mencari perlindungan. Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa pun angkat tangan saat dimintai syafa’at oleh orang-orang mukmin di Padang Mahsyar.

    Syekh Ibrahim Al-Bajury dalam kitabnya “Tijanud Darary” mengisahkan, sekelompok manusia beriman berinisiatif mendatangi Nabi Adam dengan suatu permohonan. “Wahai Nabi Adam! Engkau bapak segala manusia dan tercipta dengan kekuasaan Allah. Mohonkan kepada Allah agar mempercepat proses ini dan meringankan beban kita ini”.


    Nabi Adam menjawab: “Aku tidak berani berbicara di hadapan Allah karena waktu dahulu pernah bersalah sehingga dikeluarkan dari surga. Saat ini aku hanya berpikir untuk diriku”.

    Nabi Adam kemudian mengarahkan agar manusia mendatangi Nabi Nuh sebagai rasul pertama.

    Manusia kemudian mendatangi Nabi Nuh dan berkata: “Wahai Nuh, bermohonlah kepada Allah agar mempercepat proses ini”.

    Nabi Nuh menjawab: “Aku tidak berani berbicara di hadapan Allah saat ini, karena dulu aku pernah bermohon agar Allah menenggelamkan penduduk bumi sehingga banjir melanda”.

    Nabi Nuh merasa bersalah dan malu berbicara kepada Allah, dia hanya mengarahkan agar para manusia menghadap Nabi Ibrahim sebagai kekasih Allah.

    Berikutnya sekelompok manusia menghadap Nabi Ibrahim. Ternyata Nabi Ibrahim juga mengaku pernah bersalah. Karena kepandainnya bersilat lidah beliau mengaku telah berdusta tiga kali, walaupun sebenarnya beliau bukan berdusta.

    Pertama mengatakan “inni saqiim/aku sedang sakit”, maksudnya bukan sakit fisik tapi sakit perasaan karena banyak yang melakukan kemusyrikan. Kedua ketika mengatakan isterinya sebagai saudara “innaha ukhti”, maksudnya saudara seagama. Ketiga ketika menjawab pertanyaan Raja Namrud tentang siapa yang menghancurkan berhala setelah beliau melakukannya. Beliau mengatakan “kabiiruhum hadza”, yang besar ini. Maksudnya bukan yang besar ini penghancurnya, tapi ini yang paling besar ukuran berhalanya.

    Nabi Ibrahim tidak bisa memberi syafa’at dan mengarahkan kepada Nabi Musa yang pernah berdialog langsung dengan Allah.

    Nabi Musa juga tidak bisa karena pernah melakukan pembunuhan yang tidak semestinya. Beliau tidak sengaja hanya melakukan pukulan sedikit tanpa berniat membunuh ternyata orang itu mati.

    Para manusia kemudian mendatangi Nabi Isa. Dalam dialognya, Nabi Isa tidak bisa juga memberi syafa’at karena Isa dan ibunya Maryam telah manusia jadikan sebagai Tuhan selain Allah. Nabi Isa malu meminta sesuatu kepada Allah.

    Lantas siapa yang bisa memberikan syafa’at kepada manusia? Siapa yang akhirnya menjadi manusia paling sibuk di akhirat?

    Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Nabi Muhammad saja yang berani merespon. “Ayo umatku. Ayo umatku. Ayo umatku. Mari datang ke sini. Ini memang wewenangku”. Beliau sujud di bawah ‘arsy’ seperti salat.

    Sampai ada suara “Angkat kepalamu Muhammad, jika kamu meminta sesuatu Aku berikan dan jika kamu meminta syafa’at ini Aku serahkan”. Nabi Muhammad kemudian memberikan syafa’at terbesar kepada umat beriman di padang mahsyar.

    Rasulullah Jadi Manusia Pertama yang Dibangkitkan dari Kubur

    Disebutkan dalam sebuah hadits, dari Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur di hari kiamat nanti adalah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam”.

    Saat itu, malaikat Jibril datang ke hadapan Rasulullah dengan membawa buraq. Lalu, malaikat Israfil membawa bendera dan mahkota, sedangkan malaikat Izrail datang dengan membawa pakaian-pakaian.

    Israfil berkata “Wahai Roh yang baik, kembalilah ke tubuh yang baik” , maka kubur terbelah dua. Pada seruan yang kedua pula, kubur mulai terbongkar.

    Pada seruan yang ketiga, ketika Rasulullah SAW berdiri, Sang Nabi membersihkan tanah dari atas kepala dan janggutnya. Kemudian dilihatnya kondisi di sekitar yang sudah rata dengan tanah. Nabi Muhammad kemudian menangis sehingga mengalir air matanya ke pipi.

    Beliau bersabda, “Kekasihku Jibril, gembirakanlah aku”. Jibril berkata, “Lihatlah apa yang ada di hadapanmu”. Rasulullah bersabda, “Bukan seperti itu pertanyaanku” .Jibril kembali berkata “Adakah kau tidak melihat bendera kepujian yang terpasang di atasnya”.

    Rasulullah SAW bersabda, “Bukan itu maksud pertanyaanku, aku bertanya kepadamu akan umatku. Di mana perjanjian mereka? Niscaya akan kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafa’atkan umatku”.

    Rasulullah Beri Syafa’at di Padang Mahsyar

    Rasulullah SAW menjadi satu-satunya nabi yang menyanggupi permintaan dari para mukmin untuk memberikan syafa’at. Bahkan, ketika sudah berada di dalam surga sekalipun beliau masih sibuk memikirkan umatnya dengan terus memohon kepada Allah agar bisa menolong umatnya.

    Hal ini bukan sebuah kebetulan, Rasulullah SAW memang rasul yang sangat memperhatikan keselamatan para umatnya. Bahkan saat diberikan pilihan oleh Allah, antara memilih separuh umatnya masuk surga dengan syafa’at, maka Rasulullah SAW memilih syafa’at. Sebab cakupan syafa’at lebih luas dan menjadi hak setiap muslim yang beriman.

    Mengutip dari laman NU Online, diungkapkan dalam sebuah hadits beliau bersabda. “Apakah kalian tahu apa yang dipilihkan Tuhanku malam ini?” Para sahabat menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya Dia memberi pilihan kepadaku antara separuh umatku masuk surga dengan syafaat, maka aku memilih syafaat,” (HR ath-Thabrani).

    Bahkan, ketika nabi lain menggunakan doa mustajabnya untuk di dunia, Rasulullah SAW mempersiapkan doa mustajab untuk mensyafaati umatnya. Sebagaimana dalam hadits berikut:

    لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُو بِهَا، وَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي فِي الآخِرَةِ

    Artinya, “Setiap nabi memiliki doa mustajab yang dapat dipergunakannya. Namun, aku ingin menyimpan doa (mustajab)-ku untuk memberi syafaat kepada umatku di akhirat,” (HR Al-Bukhari).

    Syarat Mendapat Syafaat dari Rasulullah saat Kiamat

    Berikut 3 syarat agar mendapat syafaat dari Rasulullah SAW ketika di akhirat kelak:

    1. Meninggal dalam Keadaan Tidak Menyekutukan Allah

    Hal itu seperti yang ditandaskan dalam sabdanya:

    أُشْهِدُكُمْ أَنَّ شَفَاعَتِي لِكُلِّ مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

    Artinya, “Aku bersaksi kepada kalian bahwa syafaatku diperuntukkan bagi setiap muslim yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan apapun,” (HR Abu Dawud).

    2. Meninggal Membawa Keimanan Walau Sebesar Biji Sawi

    Hal itu seperti yang digambarkan dalam haditsnya:

    أَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ فَيُفْتَحُ بَابٌ مِنْ ذَهَبٍ وَحِلَقُهُ مِنْ فِضَّةٍ، فَيَسْتَقْبِلُنِي النُّورُ الْأَكْبَرُ، فَأَخِرُّ سَاجِدًا، فَأُلْقِي مِنَ الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ مَا لَمْ يُلْقِ أَحَدٌ قَبْلِي، فَيُقَالُ لِي: ارْفَعْ رَأْسَكَ، سَلْ تُعْطَهْ، وَقُلْ يُسْمَعْ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ، فَأَقُولُ: أُمَّتِي، فَيُقَالُ: لَكَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ شَعِيرَةٍ مِنْ إِيمَانٍ، قَالَ: ثُمَّ أَسْجُدُ الثَّانِيَةَ، ثُمَّ أُلْقِي مِثْلَ ذَلِكَ، وَيُقَالُ لِي: مِثْلُ ذَلِكَ، وَأَقُولُ: أُمَّتِي، فَيُقَالُ لِي: لَكَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ،

    Artinya, “Aku mengunci pintu surga. Tiba-tiba dibukakan satu pintu dari emas dan lengkungnya dari perak. Kemudian aku disambut oleh cahaya yang agung. Aku pun langsung bersujud seraya menyampaikan pujian kepada Allah dengan pujian yang belum pernah disampaikan seorang pun sebelumku. Disampaikanlah kepadaku, ‘Angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau akan diberi. Berkatalah, niscaya engkau akan didengar. Meminta syafaatlah, niscaya engkau akan diberi syafaat.’ Aku pun berkata, ‘Umatku…!’ Lantas dijawab, ‘Engkau berhak menolong orang yang dalam hatinya ada keimanan walau seberat biji gandum.’ Aku pun bersujud kedua kalinya dan menyampaikan pujian yang sama dan disampaikan lagi kepadaku jawaban yang sama. Lalu terus memohon lagi, ‘Umatku…!’ Disampaikan kepadaku, ‘Engkau berhak menolong orang yang dalam hatinya ada keimanan walaupun sekecil biji sawi.’”

    3. Meninggal Mengucapkan Kalimat Thayyibah atau Lailahaillah dengan Ikhlas

    Sebagaimana yang disampaikan dalam lanjutan hadits di atas:

    ثُمَّ أَسْجُدُ الثَّالِثَةَ، فَيُقَالُ لِي: مِثْلُ ذَلِكَ، ثُمَّ أَرْفَعُ رَأْسِي فَأَقُولُ: أُمَّتِي، فَيُقَالُ لِي: لَكَ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا

    Artinya, “Aku bersujud ketiga kalinya dan disampaikan kepadaku jawaban yang sama. Setelah itu, aku mengangkat kepala dan memohon lagi, ‘Umatku…!’ Lalu disampaikan kepadaku,’Engkau berhak menolong orang yang mengucap ‘Lā ilāha illallāh’ dengan ikhlas,’” (HR Abu Ya’la).

    Itulah sepak terjang seorang Rasulullah SAW saat hari akhir nanti. Sungguh beliaulah manusia paling sibuk dan paling peduli dengan keselamatan umatnya.

    (hnh/nwk)



    Sumber : www.detik.com