Tag: jamaah

  • Doa di Antara Khutbah Jumat Terakhir Bulan Rajab, Ini Bacaannya


    Jakarta

    Ibadah salat Jumat tidak terlepas dari khutbah. Setidaknya ada dua khutbah dalam salat Jumat, biasanya di antara khutbah pertama dan kedua dianjurkan untuk membaca doa. Lalu, seperti apa doa di antara khutbah Jumat terakhir bulan Rajab?

    Menukil dari Buku Panduan Khutbah Jum’at untuk Pemula oleh Irfan Maulana, khutbah adalah seni pembicaran kepada khalayak yang di dalamnya terdapat suatu pesan. Hakikat dari khutbah yaitu wasiat untuk bertakwa kepada khalayak, baik bentuknya janji kesenangan maupun ancaman kesengsaraan. Dalam Islam, khutbah disampaikan dengan rukun yang diatur syariat.

    Pelaksanaan dua khutbah Jumat sendiri merujuk pada hadits dari Abdullah bin Umar RA yang berkata:


    “Nabi SAW dahulu berkhutbah dua kali dan duduk antara keduanya.” (HR Bukhari)

    Jumat hari ini (24/1) adalah Jumat terakhir bulan Rajab 1446 H. Penanggalan ini merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan Kemenag RI.

    Doa di Antara Khutbah Jumat Terakhir Bulan Rajab

    Waktu di antara dua khutbah Jumat termasuk momen mustajab untuk berdoa. Dijelaskan dalam buku Akidah Akhlak tulisan Harjan Syuhada dan Fida’ Abdillah, pada waktu itu muslim dianjurkan untuk berdoa karena permohonannya mudah terkabul.

    Disebutkan pula dalam kitab al-Fatawi-al-Fiqhiyyah al-Kubra oleh Ibnu Hajar Al Haitami, dilansir NU Online, muslim dianjurkan untuk berdoa di antara khutbah Jumat. Sebab, doa pada waktu tersebut akan diijabah. Berikut bunyi keterangannya,

    “Dan dapat diambil kesimpulan dari statemen al-Qadli Husain bahwa sunnah bagi hadirin jamaah Jumat adalah menyibukan diri dengan berdoa saat duduknya khatib di antara dua khutbah, sebab telah dinyatakan bahwa berdoa pada waktu tersebut diijabah. Saat mereka berdoa, yang lebih utama adalah dibaca dengan pelan, sebab membaca dengan keras dapat mengganggu jamaah Jumat yang lain dan karena membaca dengan suara pelan adalah cara yang lebih utama dalam berdoa kecuali terdapat kondisi baru datang yang menuntut dibaca dengan keras.”

    Selain itu, Buya Yahya melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV menyampaikan bahwa anjuran tersebut memang benar adanya. Doa yang dibaca bisa apa saja, namun para ulama menyarankan untuk membaca Sayyidul Istighfar.

    “Dianjurkan di antara dua khutbah itu berdoa apa saja, karena itu saat dikabulnya doa. Namun, sebagian ulama menyarankan untuk membaca doa Sayyidul Istighfar,” katanya, dilihat detikHikmah pada Kamis (23/1/2025).

    Doa Sayyidul Istighfar yang Dibaca di Antara Dua Khutbah

    Berikut bacaan Sayyidul Istighfar yang dikutip dari buku Dahsyatnya Keajaiban Istighfar bagi Orang-orang Sibuk karya Syekh Maulana Arabi.

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

    Arab latin: Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika. Mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta

    Artinya: “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.” (HR Bukhari)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Rasulullah SAW, Peristiwa Penuh Duka dalam Sejarah Islam


    Jakarta

    Rasulullah SAW adalah sosok teladan bagi umat Islam, sebagai nabi terakhir yang membawa wahyu dan petunjuk hidup dari Allah SWT.

    Kehilangan ini tidak hanya dirasakan oleh para sahabat dan pengikutnya, tetapi juga meninggalkan dampak yang luas bagi seluruh umat manusia. Berikut adalah kisah wafatnya Rasulullah SAW.

    Kisah Wafatnya Rasulullah SAW

    Wafatnya Rasulullah SAW pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H, menandakan berakhirnya periode kenabian dan menyisakan warisan ajaran Islam hingga saat ini.


    Wasiat Rasulullah SAW saat Melaksanakan Haji Wada’

    Diceritakan dalam buku Sejarah & Kebudayaan Islam Periode Klasik karya Faisal Ismail, pada tahun tahun 10 H atau 32 M, Rasulullah SAW melaksanakan ibadah haji yang terkenal dalam sejarah Islam sebagai haji Wada’, bersama kaum muslimin yang berjumlah sekitar seratus ribu orang.

    Di hadapan ribuan jamaah haji itu, Rasulullah SAW mengucapkan pidato penting yang mempunyai arti bagi kaum muslimin, yang tidak hanya pada waktu itu, tetapi bagi kaum muslimin sesudahnya, kini, dan yang akan datang. Pidato yang diberikan Rasulullah SAW ini seperti menunjukkan adanya wasiat didalamnya.

    “Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku ini. Aku tidak dapat memastikan apakah aku akan dapat bertemu lagi atau tidak dengan kamu sekalian di tempat seperti ini sesudah tahun ini. Wahai manusia, sesungguhnya kamu haram menumpahkan darah, dan haram mengganggu hartamu, kecuali ada hak. Riba semuanya telah dibatalkan, kamu hanya berhak atas uang pokok. Dengan demikian, kamu tidak menganiaya dan tidak pula teraniaya. Penumpahan darah yang dilakukan di masa Jahiliah tidak ada diyat (denda)-nya lagi. Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah di muka bumi, akan tetapi ia masih menginginkan yang lain dari itu. Sebab itu, awaslah selalu terhadapnya. Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu, dan asalmu dari tanah. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Orang Arab tidak ada kelebihan atas orang non Arab, dan orang non Arab pun tidak ada pula kelebihannya atas orang Arab, kecuali karena takwanya.”

    Rasulullah SAW Sempat Sakit Sebelum Meninggal Dunia

    Sekitar tiga bulan setelah menunaikan haji Wada’ itu, Rasulullah SAW mengalami demam yang berat hingga tidak mampu keluar untuk menjadi imam salat. Beliau menyuruh Abu Bakar RA untuk menggantikannya menjadi imam.

    Kaum Muslimin saat itu cemas terhadap penyakit yang diderita Rasulullah SAW. Pada suatu hari, Rasulullah SAW dijemput oleh paman beliau, Abbas dan Ali bin Abi Thalib, untuk keluar menemui kaum muslimin yang sedang berkerumun di masjid dengan sorotan wajah sedih yang ikut merasakan penyakit beliau.

    Rasulullah SAW duduk di mimbar, tepatnya pada anak tangga pertama, yang dikerumuni oleh kaum muslimin Anshar dan Muhajirin, dan beliau pun menyampaikan sebuah amanat,

    “Wahai manusia, aku mendengar kamu sekalian cemas kalau nabimu meninggal dunia. Pernahkah ada seorang nabi yang dapat hidup selama-lamanya? Kalau ada, aku juga akan dapat hidup selama-lamanya. Aku akan menemui Allah, dan kamu akan menyusulku.”

    Dalam buku Kisah Manusia Paling Mulia di Dunia karya Neti S, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sakit selama 13 atau 14 hari. Beliau sempat mengerjakan salat bersama para sahabat dalam keadaan sakit selama 11 hari.

    Penyakit yang diderita Rasulullah SAW semakin lama semakin berat, dan beliau meminta untuk berada di rumah Aisyah pada hari-hari terakhirnya.

    Kemudian dua hari atau sehari sebelum wafat, beliau keluar untuk menunaikan salat Dzuhur dan minta didudukkan di samping Abu Bakar.

    Rasulullah SAW juga memerdekakan budak-budaknya, bersedekah dengan enam atau tujuh dinar yang beliau miliki, dan memberikan senjata-senjatanya kepada kaum muslimin.

    Menjelang wafat, Rasulullah SAW menyampaikan wasiatnya. Beliau berkata bahwa “laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”

    Beliau juga berkata, “Jagalah shalat! Jagalah shalat! Jangan sekali-kali telantarkan budak-budak kalian.” Wasiat tersebut diulang-ulang hingga beberapa kali.

    Reaksi Para Sahabat saat Rasulullah SAW Wafat

    Pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H, tepatnya pada tanggal 8 Juni 632 M, Rasulullah SAW berpulang ke Rahmatullah di usianya yang menginjak 63 tahun.

    Merujuk kembali pada buku Sejarah & Kebudayaan Islam Periode Klasik, berita wafatnya Rasulullah SAW diterima di kalangan sebagian kaum muslimin dengan keraguan dan seakan-akan mereka tidak percaya jika hal itu terjadi.

    Umar bin Khattab pun berdiri di depan umum sambil mengatakan:

    “Ada orang mengatakan bahwa Muhammad telah wafat. Sesungguhnya, demi Allah, beliau tidak wafat, hanya pergi menghadap Allah, sebagaimana Nabi Musa pun pergi menghadap Allah. Demi Allah, Nabi Muhammad SAW akan kembali.”

    Setelah itu, Abu Bakar segera masuk ke kamar Rasulullah SAW untuk menjenguk beliau. Dan terlihat oleh Abu Bakar, beliau sedang terbaring wajahnya yang ditutupi oleh kain, kemudian Abu Bakar pun membuka kain penutup wajah beliau, sambil berkata:

    “Alangkah baiknya engkau di waktu hidup dan di waktu mati. Jika seandainya engkau tidak melarang kami menangis, akan kami curahkan seluruh air mata kami.”

    Kemudian Abu Bakar keluar, mendatangi orang-orang yang sedang berkerumun, mencoba menenangkan mereka dan menghilangkan kebingungan yang mereka rasakan dengan mengatakan di hadapan mereka,

    “Wahai manusia, barang siapa memuja Muhammad, Muhammad telah mati. Tetapi siapa yang memuja Allah, Allah hidup selama-lamanya, tiada mati-matinya.”

    Abu Bakar juga membacakan ayat Al-Qur’an untuk memperingatkan semua orang, yang tercantum dalam surah Ali Imran ayat 144,

    وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ۝١٤٤

    Arab Latin: wa mâ muḫammadun illâ rasûl, qad khalat ming qablihir-rusul, a fa im mâta au qutilangqalabtum ‘alâ a’qâbikum, wa may yangqalib ‘alâ ‘aqibaihi fa lay yadlurrallâha syai’â, wa sayajzillâhusy-syâkirîn

    Artinya: Muhammad itu hanyalah seorang rasul, telah berlalu beberapa orang rasul sebelumnya. Sekiranya Muhammad itu mati atau dibunuh orang, apakah kamu akan kembali menjadi kafır (murtad). Barang siapa kembali menjadi kafır, ia tidak akan mendatangkan bahaya kepada Tuhan sedikit pun.”

    Mendengar pernyataan dari Abu Bakar yang tegas ini, umat Islam yang sedang berkerumun itu menjadi sadar dan menerima bahwa Rasulullah SAW memang telah wafat.

    Saat itu, banyak orang yang berkumpul untuk menyalatkan beliau. Rasulullah SAW dimakamkan, dengan diantar dan disaksikan oleh kaum muslimin yang melepasnya ke tempat peristirahatan terakhir dalam suasana damai, menghadap Allah SWT.

    Kepemimpinan Umat Islam pasca Wafatnya Rasulullah SAW

    Mengutip buku Mencintai Keluarga Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Nur Laelatul Barokah, sepeninggalan Rasulullah SAW, kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib. Mereka dikenal dengan nama Khulafaur Rasyidin.

    Berbeda dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman, Ali Bin Abi Thalib dilantik menjadi Amirul Mukminin atau pemimpin umat Islam di depan umum. Hal ini merupakan permintaan Ali Bin Abi Thalib sebagai bukti bahwa dia ditunjuk oleh semua golongan kaum muslim.

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Nabi Zakaria AS dan Wasiat Darinya


    Jakarta

    Nabi Zakaria AS adalah sosok yang bertakwa sekaligus seorang yang sabar. Ia adalah ayah dari Nabi Yahya AS sekaligus pemimpin Bani Israil.

    Ada dua riwayat yang menceritakan tentang peristiwa wafatnya Nabi Zakaria AS. Satu riwayat menyebutkan bahwa Nabi Zakaria AS meninggal dalam keadaan tubuh terbelah namun riwayat lainnya menyebutkan Nabi Zakaria AS meninggal dalam keadaan wajar.

    Mengutip buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya Ridwan Abdullah, Nabi Zakaria AS adalah ayah dari Nabi Yahya AS. Sebelum sang istri melahirkan Nabi Yahya AS, Nabi Zakaria sangat mendambakan anak yang kelak akan menjadi pewarisnya.


    Dengan penuh kesabaran, Nabi Zakaria AS berdoa pada siang dan malam agar Allah SWT mengabulkan doanya dan memberikan keturunan kepadanya. Kelak putra Zakaria AS ini yang akan memimpin Bani Israil.

    Kisah Wafatnya Nabi Zakariya AS

    Merujuk buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, terdapat riwayat yang berbeda dari Wahab bin Munabbih, apakah Nabi Zakariya AS wafat secara wajar ataukah beliau wafat terbunuh.

    Berkaitan dengan hal ini, terdapat dua riwayat, yaitu: Pertama, riwayat yang berasal dari Abdul Mun’in bin Idris bin Sinan. Ia meriwayatkan dari ayahnya, dari Wahab bin Munabbih, ia berkata: ‘Zakariya melarikan diri dari kaumnya. Kemudian beliau masuk ke dalam pohon. Lalu kaumnya mendekati pohon tersebut dengan membawa gergaji dan menggergaji pohon itu. Ketika gergaji mengenai tulang rusuk beliau, Allah menurunkan wahyu kepadanya: Jika engkau tidak bisa menenangkan diri saat menahan rasa sakit, niscaya Aku akan membalikkan bumi dan segala yang ada di permukaannya.’ Oleh sebab itu, Zakariya menenangkan diri saat menahan rasa sakitnya, hingga tubuhnya terbelah menjadi dua.”

    Ishaq bin Bisyr meriwayatkan dari Idris bin Sinan, dari Wahab, ia berkata bahwa yang wafat dengan kondisi tubuh terbelah di dalam pohon adalah Sya’ya sedangkan Nabi Zakariya AS wafat secara wajar. Wallahu a’lam.

    Wasiat Nabi Zakariya AS

    Imam Ahmad berkata, “Affan menceritakan kepada kami, Abu Khalaf Musa nin Khalaf telah memberitahu kami, Yahya bin Abi Katsir menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Salam, dari kakeknya, Mamthur, dari al-Harits al-Asy’ari bahwa Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya, Allah memberi perintah kepada Yahya bin Zakariya dengan lima perintah untuk dikerjakan dan memerintahkan kepada Bani Israil agar mereka mengerjakannya. Namun, Yahya terkesan lambat untuk merealisasikan perintah itu sehingga Isa berkata kepadanya: “Sesungguhnya, engkau telah diberi tugas untuk segera melaksanakan lima perintah dan menyampaikannya kepada Bani Israil untuk melaksanakannya juga, tetapi engkau terkesan lambat dalam merespon perintah itu. Oleh sebab itu, engkau sendiri yang akan menyampaikannya ataukah aku perlu turun tangan untuk menyampaikannya?”

    Yahya menjawab:”Wahai saudaraku, sesungguhnya aku khawatir, engkau menyebabkan aku disiksa duluan atau membuat diriku disambar petir.’ Kemudian, Yahya bin Zakariya segera mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis, sehingga tempat itu dipenuhi kerumunan manusia. Kemudian, Yahya duduk menempati podium kehormatan. Beliau mengawali pidatonya dengan memuji dan menyanjung Allah SWT. Setelah itu, beliau berkata, “Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla telah memberikan tugas kepadaku untuk melaksanakan lima perintah. Allah telah memerintahkan kepadaku dan kepada kalian semua untuk melaksanakan lima perintah tersebut:

    Pertama: Allah memerintahkan kalian semua agar menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Perumpamaan tentang hal ini adalah adalah seperti orang yang membeli hamba sahaya dengan hartanya yang benar-benar murni, baik berupa uang maupun emas. Kemudian, hamba tersebut bekerja dan mengabdi pada orang lain sebagai tuannya. Siapakah di antara kalian yang senang jika hamba sahayanya bekerja seperti itu? Sesungguhnya, Allah menciptakan kalian semua dan memberi rezeki kepada kalian, agar kalian hanya menyembah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

    Kedua: Allah memerintahkan kalian semua untuk mengerjakan salat. Sesungguhnya, Allah menghadapkan wajah-Nya kepada seorang hamba, selama hamba itu tidak berpaling dari-Nya. Ketika kalian mengerjakan salat, janganlah kalian berpaling dari-Nya.

    Ketiga: Allah memerintahkan kalian semua untuk berpuasa. Perumpamaan tentang hal ini adalah seperti orang yang membawa botol minyak kasturi di tengah-tengah kerumunan orang banyak, sehingga semua orang mencium aromanya yang harum semerbak. Sesungguhnya, bau (aroma) mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum dari aroma misik.

    Keempat: Allah memerintahkan kalian untuk bersedekah. Perumpamaan tentang hal ini adalah seperti orang yang ditawan oleh musuh. Ia diikat dan dibelenggu tangannya ke belakang lehernya oleh musuh. Kemudian ia berkata:’Apakah aku boleh menebus diriku dari kalian (wahai musuhku)? Lalu ia menebus dirinya dengan tebusan barang yang sedikit atau barnyak sehingga ia terbebas dari cengkeraman musuhnya.

    Kelima: Allah Azza wa Jalla memerintahkan kalian banyak berzikir kepada-Nya. Perumpamaan tentang hal ini adalah seperti seseorang yang sedang dikejar-kejar musuh yang telah mengetahui jejaknya, sehingga ia hampir ditangkap oleh musuh yang sangat berbahaya itu. Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah benteng yang sangat kokoh lalu ia memasukinya sehingga ia terlindung di dalam bentengitu dari kejaran musuh yang sangat berbahaya. Sesungguhnya, zikir merupakan benteng yang sangat tangguh hingga setan pun tidak akan mampu membobolnya selama ia berzikir kepada Allah “

    Perawi berkata, “Rasulullah juga bersabda: ‘Aku juga memerintahkan lima hal kepada kalian semua sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada diriku, yaitu berjamaah, mendengarkan, taat, hijrah, dan berjihad di jalan Allah. Siapa yang keluar dari jamaah walau hanya sejengkal, berarti ia telah melepaskan ikatan Islam di lehernya, kecuali ia kembali lagi. Siapa yang berdoa dengan doa jahiliyah, berarti ia telah mencampakkan dirinya sendiri ke Neraka Jahanam.”

    Wallahu ‘alam

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com