Tag: jin

  • Jin Suka Tinggal di Tempat-tempat Ini, Salah Satunya Saluran Air


    Jakarta

    Jin adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT. Mereka berasal dari api dan kasat mata sehingga tidak bisa dilihat manusia.

    Terkait jin dijelaskan dalam surah Ar Rahman ayat 15 bahwa Allah SWT berfirman,

    وَخَلَقَ ٱلْجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ


    Artinya: “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.”

    Menukil dari kitab Hiwar Ma’a Iblish yang disusun Muhammad Abduh Mughawiri terjemahan Wasith Fardas dijelaskan bahwa as Sayyid Alawi bin Ahmad as Saggaf dalam kitab Al Kaukabu Al Ajuj mengatakan jin memiliki dzat halus dan dapat merubah bentuk. Sebagian jin ada yang beriman dan ada pula yang tidak seperti halnya manusia.

    Menurut pendapat populer, jin yang durhaka disebut dengan setan, sama halnya seperti manusia. Umar Sulaiman al Asyqar dalam kitab ‘Alam al-Malaikah al-Abrar & ‘Alam al-Jinn wa asy Syayathin terjemahan Kaserun AS Rahman mengatakan Ibnu Taimiyah berpendapat setan adalah asal jin sebagaimana Adam asal manusia. Jadi, setan adalah golongan dari jin.

    Lantas, di mana saja tempat jin bernaung?

    7 Tempat yang Ditinggali Bangsa Jin

    Mengacu pada sumber yang sama, berikut beberapa tempat yang ditinggali bangsa jin.

    1. Rumah

    Tak hanya manusia, jin juga mendiami rumah-rumah. Umumnya, jin yang tinggal di rumah merupakan jin yang baik atau beriman.

    Ibnu Hajar dalam kitab Fath al Bari mengutip riwayat Ibnu Abu Dunya,

    “Tidak ada satu pun rumah orang muslim kecuali di atap rumahnya terdapat jin muslim. Apabila mereka menghidangkan makanan pagi, jin itu pun ikut makan bersama mereka. Apabila makan sore dihidangkan, jin itu juga ikut makan bersama mereka. Tapi, Allah menjaga orang-orang muslim itu dari gangguan jin tersebut.”

    2. Kandang Unta

    Dalam sebuah hadits, kandang unta disebut sebagai tempat tinggal jin. Berikut bunyi haditsnya,

    “Rasulullah SAW melarang kita untuk salat di kandang unta karena kandang tersebut adalah tempat tinggal setan.” (HR Abu Dawud)

    3. Laut

    Melalui beberapa riwayat dijelaskan bahwa setan atau iblis membangun istana di lautan. Nantinya, mereka mengirim pasukan untuk menyesatkan manusia hingga kiamat tiba.

    Rasulullah SAW bersabda,

    “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu mengirim bala tentaranya, (setan) yang kedudukannya paling rendah bagi iblis adalah yang paling besar godaannya. Salah satu di antara mereka datang lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab, ‘Kau tidak melakukan apa pun.’ Lalu yang lain datang dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku memisahkannya dengan istrinya.’ Beliau bersabda, “Iblis mendekatinya lalu berkata, ‘Bagus kamu.” Al A’masy menyebutkan dalam riwayatnya, “Iblis berkata, ‘Tetaplah (menggodanya)’.” (HR Muslim)

    4. Tempat yang Tak Berpenghuni

    Jin gemar bernaung di tempat yang tidak ditinggali siapa pun. Dari Ibnu Mas’ud berkata,

    “Suatu hari kami (para sahabat) sedang bersama Rasulullah. Sampai kemudian beliau terpisah dengan kami. Kami mencari beliau di lembah-lembah dan kampung-kampung (tetapi kami tidak menjumpainya). Di antara kami ada yang mengatakan jika Rasulullah diculik dan disandera. Malam itu, tidur kami betul-betul tidak menyenangkan. Sampai pada pagi hari kami melihat Rasulullah datang dari arah sebuah gua yang berada di tengah padang pasir. Kami katakan kepada beliau tentang kehilangan kami, usaha kami mencari beliau tapi tak menemukan.

    Rasulullah kemudian berkata, ‘Semalam aku didatangi utusan dari kelompok jin. Ia membawaku menemui kaumnya untuk mengajarkan Al-Quran’.”

    Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, “Rasulullah lalu mengajak kami melihat bekas-bekas tempat perapian kelompok jin itu. Para jin itu bertanya kepada Rasulullah mengenai makanan mereka.

    Rasulullah menjawab jin-jin itu, ‘Makanan kalian adalah sisa-sisa tulang yang masih ada dagingnya, yang ada di tangan kalian itu, yang sebelumnya dimakan oleh manusia dengan menyebut nama Allah. Dan juga semua kotoran binatang ternak.’

    Rasulullah melanjutkan, ‘Oleh karena itu, kalian para sahabat jangan beristinja (membersihkan kotoran BAB) dengan tulang dan kotoran binatang. Sebab, keduanya makanan saudara kalian (golongan jin)’.” (HR Muslim)

    5. Saluran Air

    Abu Bakar bin Abu Daud mentakhrij dalam Kitaabul Waswasah dari Ibrahim berkata,

    “Janganlah kalian kencing di mulut saluran air, karena jika dari sana muncul sesuatu (jin) akan sulit pengobatannya.”

    Lalu, dalam hadits dari Abdulah ibn Sarjas turut dijelaskan mengenai lubang sebagai tempat tinggal jin.

    “Jangan sampai ada yang kencing di lubang.” Orang-orang bertanya kepada Qatadah, “Mengapa tidak boleh kencing di lubang?” Qatadah menjawab, “Rasulullah pernah mengatakan, sebab lubang adalah tempat tinggal golongan jin.” (HR Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad)

    6. Pasar

    Pasar adalah tempat tinggal jin. Rasulullah SAW menjelaskannya dalam sebuah hadits,

    “Kalau bisa, kalian jangan menjadi orang yang pertama kali masuk ke pasar atau menjadi orang yang paling akhir keluar darinya. Sebab, pasar merupakan tempat berseteru para setan. Di pasar, setan menancapkan benderanya.” (HR Muslim)

    7. Toilet

    Menurut kitab Luqthul-Marjan fi Ahkaamil-Jaan oleh Al Imam As Suyuthi terjemahan Kathur Suhardi terdapat hadits yang menyatakan jin tinggal di toilet. Dari Zaid bin Arqam berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya tanah becek ini biasa didatangi jin. Jika salah seorang di antara kalian memasuki kamar mandi, hendaklah dia mengucapkan, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” (HR Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Keberadaan Makhluk Misterius Penghuni Bumi sebelum Nabi Adam


    Jakarta

    Nabi Adam AS diyakini sebagai manusia pertama yang menghuni bumi, menurut pendapat masyhur di kalangan umat Islam. Keyakinan ini bersandar pada Al-Qur’an tentang penciptaan Nabi Adam AS beserta keturunannya.

    Namun, jauh sebelum penciptaan manusia, bumi sudah dihuni makhluk misterius. Para ulama dan ahli tafsir menyebutnya al-hin dan al-bin. Keterangan ini disebutkan para mufassir dalam menafsirkan dialog antara malaikat dan Allah SWT saat Dia hendak menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 30,


    وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠

    Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Ulama tafsir Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya terjemahan Dudi Rosyadi mengatakan ayat tersebut merupakan pengumuman kehendak-Nya untuk menciptakan Nabi Adam AS dan keluarganya serta keturunan mereka yang berbeda-beda derajatnya. Pemberitahuan ini, kata Ibnu Katsir, karena adanya keistimewaan yang dimiliki manusia.

    Kemudian, para malaikat bertanya kepada Allah SWT, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana?”

    Menurut Ibnu Katsir, malaikat bertanya demikian untuk mencari tahu dan minta penjelasan agar dijadikan hikmah oleh mereka, bukan karena protes atau dengki terhadap manusia.

    Terkait hal ini, Imam Qatadah mengatakan bahwa malaikat tahu hal itu (manusia berbuat kerusakan di bumi) akan terjadi karena mereka telah melihat apa yang dilakukan oleh al-hin dan al-bin di dunia sebelum penciptaan Nabi Adam AS.

    Menurut Abdullah bin Amru, al-hin dan al-bin telah hidup di dunia dua ribu tahun sebelum penciptaan Nabi Adam AS dan mereka saling membunuh satu sama lain. Allah SWT kemudian mengutus malaikat untuk mengusir mereka ke pulau terpencil. Ibnu Abbas turut meriwayatkan hal serupa dari Ibnu Amru sebagaimana disebutkan Hakim dalam Al-Mustadrak.

    Siapa Al-Hin dan Al-Bin?

    Berdasarkan keterangan Ibnu Katsir, al-hin dan al-bin adalah sekelompok bangsa jin yang tinggal di bumi. Ada pendapat yang menyebut postur al-hin dan al-bin adalah antara bangsa jin dan manusia.

    Jin yang bodoh dan lemah di kalangan mereka melakukan pertumpahan darah, termasuk anjing-anjing mereka. Kondisi ini, yang menurut salah satu pendapat, menjadi argumen malaikat menanyakan kenapa Allah SWT akan menciptakan manusia di bumi mengingat jauh sebelum Nabi Adam AS ada makhluk yang melakukan pertumpahan darah.

    Sementara itu, dalam pandangan sains modern, bumi sebelum Nabi Adam AS telah dihuni oleh makhluk-makhluk purba. Hal ini terungkap dari temuan fosil-fosil manusia purba abad belakangan ini yang menunjukkan kehidupan mereka di bumi jutaan tahun lalu.

    Wallahu a’lam.

    (kri/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Apakah Setan dan Jin Sama? Begini Penjelasannya



    Jakarta

    Setan dan jin adalah makhluk gaib yang tak kasat mata. Keberadaannya disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an.

    Menukil dari kitab Taudhihul Adilah 1 susunan KH M Syafi’i Hadzami, setan berasal dari kata syatana yang artinya jauh dari rahmat. Makna dari setan sendiri adalah sifat sehingga tidak memiliki bentuk atau asal tertentu.


    Selain itu, setan juga menjadi sebutan bagi bangsa jin atau manusia. Jin yang durhaka disebut dengan setan, begitu pula manusia yang bersifat durhaka berarti memiliki sifat setan. Allah SWT berfirman dalam surah Al An’am ayat 112,

    وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

    Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

    Sementara itu, jin merupakan makhluk yang asalnya dari nyala api. Hal ini tertuang dalam surah Ar Rahman ayat 15,

    وَخَلَقَ ٱلْجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ

    Artinya: “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.”

    Merujuk pada sumber yang sama, as-Sayyid Alawi bin Ahmad as-Saggaf melalui kitab Al-Kaukabu Al-Ajuj menjelaskan bahwa jin memiliki dzat yang halus, bisa berubah-ubah bentuk. Terdapat jin yang beriman dan ada juga yang kafir, begitu pula jin yang taat dan yang durhaka.

    Menukil dari Al Madkhal ila Dirasah Al Akidah Al Islamiyyah susunan Umar Sulaiman Abdullah Al Asyqar terjemahan Muhammad Misbah, bangsa jin memiliki kesamaan dengan manusia yaitu sama-sama berakal, memiliki pengetahuan dan berkemampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk.

    Jin diciptakan untuk menyembah kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam surah Az Zariyat ayat 56,

    وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

    Namun, bangsa jin dan manusia memiliki perbedaan yang jauh. Salah satu yang mendasar adalah materi asal kejadiannya. Jin dinamai jin karena keberadaannya tak bisa dilihat oleh pandangan manusia.

    Meski demikian, jin mengalami kematian seperti manusia dan makhluk hidup lainnya. Terkait hal ini diterangkan dalam surah Ar Rahman ayat 26-28,

    كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

    Artinya: “Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa. (Akan tetapi,) wajah (zat) Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?”

    Tetapi, pengetahuan terkait batas usia makhluk ghaib berada di luar batas kemampuan manusia. Wallahu a’lam.

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Melepas Pakaian agar Terhindar dari Tatapan Jin dan Setan


    Jakarta

    Rasulullah SAW sudah menganjurkan muslim untuk melafalkan doa di setiap memulai kegiatan. Bahkan untuk melepas pakaian sekalipun, Rasulullah SAW juga sudah mengajarkan doa melepas pakaian agar terhindar dari ‘ain Jin yang suka melihat aurat manusia.

    Pakaian diciptakan kepada anak cucu Adam sebagai pelindung yang telah diberikan oleh-Nya. Allah SWT berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 26,

    يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ


    Artinya: Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

    Doa Melepas Pakaian dan Artinya

    Bacaan doa melepas pakaian yang dapat diamalkan sebagaimana dijelaskan dalam buku Tuntunan Doa & Zikir Sehari-hari yang ditulis oleh Redaksi QultumMedia. Berikut bacaannya,

    اَللَّهُمَّ انْزَعْ عَنِيْ رَبَّقَةً النِّفَاقِ وَثَبِتْنِيْ عَلَى الْإِيمَانِ

    Arab latin: Alloohummanza’ ‘annii robqo- tan nifaaqi wa tsabbitnii ‘alal iimaan.

    Artinya: “Ya Allah, lepaskanlah dariku ikatan sifat munafik dan tetapkanlah aku pada keimanan.”

    Selain itu, ada bacaan doa melepas pakaian versi pendek yang diterangkan dalam buku 24 Jam Hidup dengan Doa dan Amal Harian Rasulullah oleh Abu Bakar bin As-Sina.

    بِسمِ اللّٰهِ الَّذِي لَا إِلٰهَ اِلَّا هُوَ

    Arab latin: Bismillahil ladzi lailaha illa huwa

    Artinya: Dengan nama Allah Yang Tiada Tuhan melainkan Dia.

    Atau bila khawatir terlupa dengan bacaannya, muslim bisa cukup mengucapkan basmalah seperti yang dijelaskan oleh Imam Tirmidzi, yang diambil dari buku Ensiklopedia Doa Muslimah oleh TIM GIP.

    بِسمِ اللّٰهِ

    Arab latin: Bismillah

    Artinya: Dengan menyebut nama Allah. (HR Tirmidzi)

    Keutamaan Baca Doa Melepas Pakaian

    Salim Rosyadi dalam buku Living Hadis menjelaskan beberapa alasan pentingnya untuk perlu mengamalkan doa sebelum melepas dan memakai pakaian. Beberapa di antaranya seperti, untuk melindungi tubuh kita saat aurat terbuka, rasa malu dan hormat pada malaikat yang selalu bersama kita, hingga untuk melindungi tubuh dari pandangan jin.

    Doa melepas pakaian sangat dianjurkan untuk diucapkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Sebab setan dan jin sangat menyukai aurat manusia. Bahkan tatapan mereka bisa menyebabkan dampak buruk untuk manusia yang bisa disebabkan oleh ‘ain.

    Menurut buku Alam Jin yang ditulis oleh Al-Imam As-Suyuthi, setan dan jin sangatlah menyukai aurat-aurat Bani Adam. Apalagi ketika memasuki kamar mandi untuk mandi, tentunya seseorang akan membuka auratnya. Padahal tempat itu adalah sarang dari para jin dan setan.

    Rasulullah SAW mengatakan bahwa pembatas antara pandangan jin dan aurat manusia adalah lafaz basmalah. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits riwayat Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah mentakhrij dari Ali bin Abu Thalib bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمُ الْخَلَاءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ

    Artinya: Tabir antara mata jin dan aurat-aurat Bani Adam jika salah seorang di antara kalian masuk kamar mandi ialah jika dia mengucapkan, “Bismillah.”

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • 5 Dzikir yang Paling Ditakuti Jin, Dibaca agar Tak Terjerumus dalam Kesesatan



    Jakarta

    Jin dan setan adalah makhluk yang lemah. Mereka dapat dikalahkan dengan mudah menggunakan dzikir. Lalu apa saja dzikir yang paling ditakuti jin dan setan?

    Jin dan setan juga merupakan makhluk Allah SWT. Bedanya, mereka sering menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan dan perbuatan dosa dan melanggar larangan Allah SWT.

    Tempat jin dan setan tidak hanya ada di sekitar manusia, melainkan juga berada di dalam hati atau qalbu. Hal ini sebagaimana dituliskan oleh Totok Waryatna dalam bukunya yang berjudul Pusaka Langit: Solusi Sembuh Dari Gerd.


    Jin dan setan membuah benteng ghaib yang sangat kokoh berlapis lapis hingga lima lapisan tebalnya yang disebut dengan hijaban masturo. Mereka dengan sekuat tenaga akan menjerumuskan manusia ke jalan yang tidak baik.

    Namun demikian, sebenarnya benteng-benteng itu adalah selemah-lemahnya benda, bahkan lebih lemah daripada sarang laba-laba. Benteng-benteng itu mudah hancur jika dilawan dengan dzikir kepada Allah SWT.

    Lantas, apa saja dzikir yang paling ditakuti jin dan setan sehingga manusia bisa terhindar dari gangguannya?

    5 Dzikir yang Paling Ditakuti Jin dan Setan

    Masih dari sumber yang sama, dzikir yang paling ditakuti jin dan setan adalah,

    Tahmid

    Adapun lafal tahmid atau hamdalah adalah sebagaimana berikut,

    الْحَمْدُ للَّهِ

    Arab-latin: Alhamdulillah

    Artinya: segala puji bagi Allah.

    Takbir

    Adapun lafal takbir adalah sebagaimana berikut,

    للَّٰهُ أَكْبَرُ

    Arab Latin: Allahu akbar

    Artinya: Allah Maha Besar

    Istighfar

    Lafal istighfar adalah sebagaimana berikut ini.

    اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ,

    Arab-latin: Astagfirullahaladzim

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

    Ta’awudz

    Dikutip dari buku Rahasia Dzikir yang Mengasyikkan: Panduan Dzikir dan Doa Buat Remaja dari Al-Qur’an dan Sunnah yang ditulis oleh Ubaidurrahman Al-Bumany dzikir yang paling ditakuti jin dan setan serta dapat melindungi dari gangguan mereka adalah ta’awudz.

    أعُوذُ بالله من الشَّيْطَانِ الرّحِيم

    Arab-latin: A’udzibillahi minasy syaithanir rajiim

    Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.” (HR Abu Dawud, al-Tirmidzi, lihat Shahih At-Tirmidzi 1/77).

    Dzikir Keluar Rumah

    Buku Ensiklopedia Adab Islam karya ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada menambahkan bahwa dzikir yang paling ditakuti jin dan setan, serta dapat mengusir mereka ada dua macam.

    Dzikir ini dapat mengusir dan melindungi orang yang mengucapkannya, serta dapat menyelamatkannya dari kejahatan manusia dan jin. Dzikir itu adalah doa keluar rumah yang berbunyi,

    بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. فَإِنَّهُ يُقَالُ لَهُ: هُدِيتَ وَكُفَيْتَ، وَوُقِيْتَ، وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ.))

    Arab-latin: Bismillahi, tawakkaltu ‘alallahi, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah. Fa Innahu yuqaalu lahu, hudiita wa kufiita, wa wuqiita, wa tanha ‘anhu syaithaan.

    Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Maka dikatakan kepadanya: ‘Engkau telah diberi petunjuk, diberi kecukupan, diberi perlindungan, dan dijauhkan dari syaitan.””

    Atau yang kedua adalah,

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أَضَلُّ، أَوْ أَزِلٌ أَوْ أَزَلٌ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أَظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.

    Arab-latin: Allahumma inni a’uudzubika an adilla au adhulla, au azilla au azalla, au adhlima au adhluma, au ajhala au yujhala ‘alayya

    Artinya: “Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan dan disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari berbuat zhalim atau dizhalimi, dan dari berbuat jahil atau dijahili.”

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Doa Bila Melihat Ular Sesuai Ajaran Rasulullah SAW


    Jakarta

    Ular merupakan salah satu hewan ciptaan Allah yang menakutkan dan berbahaya. Jenis-jenis ular tertentu bahkan mengandung bisa racun yang dapat mengancam nyawa manusia.

    Bila melihat ular, kita dianjurkan untuk berdoa agar Allah SWT melindungi kita dari bahaya yang dapat ditimbulkan dari ular tersebut.

    Rasulullah SAW mengajarkan sejumlah doa yang bisa dilafalkan untuk memperoleh perlindungan dari makhluk-makhluk berbahaya, seperti ular. Berikut ini kumpulan doa bila melihat ular sesuai ajaran Rasulullah SAW.


    Kumpulan Doa Bila Bertemu Ular

    Dilansir dari NU Online, berikut ini kumpulan doa bila melihat ular, yang dinukil dari berbagai kitab doa yang disusun oleh para ulama, berdasarkan sirah Nabi Muhammad SAW.

    1. Doa Rasulullah Meminta Perlindungan dari Hewan Melata

    Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW pernah mengucapkan doa atas kedua cucunya, Hasan dan Husein, agar Allah melindungi mereka dari bahaya setan, hewan melata, dan penyakit ‘ain. Berikut doanya.

    أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

    U’īdzukuma bi kalimātillāhit tāmāti min kulli syaithānin wa hāmmatin wa min kulli ‘aynin lāmmah.

    Artinya, “Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala setan, hewan melata, dan segala penyakit ain yang ditimbulkan mata jahat.” (HR Bukhari).

    2. Doa Saat Bertemu Ular Kobra

    Dilansir dari NU Online yang mengutip dari kitab karya Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, berikut ini bacaan doa yang bisa dilafalkan saat bertemu dengan ular, terutama jenis ular kobra.

    . يَا أَرْضُ رَبِّيْ وَرَبُّكِ اللهُ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكِ وَشَرِّ مَا فِيْكِ وَشَرِّ مَا يَدِبُّ عَلَيْكِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ أَسَدٍ وَأَسْوَدٍ وَحَيَّةٍ وَعَقْرَبٍ وَمِنْ شَرِّ وَالِدٍ وَمَا وَلَدٍ وَمِنْ شَرِّ سَاكِنِ الْبَلَدِ

    Yâ ardhu, rabbî wa rabbukillâh. A’ûdzu billâhi min syarriki, wa syarrimâ fîki, wa syarrimâ yadibbu ‘alaiki. A’ûdzu billâhi min asadin wa aswadin wa hayyatin wa ‘aqrabin wa min syarri wâlidin wa mâ walad wa min syarri sâkinil balad.

    Artinya, “Hai bumi, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu, kejahatan barang yang ada padamu, kejahatan barang yang berjalan di atasmu. Aku berlindung kepada Allah dari macan, ular hitam, segala ular, kalajengking, dari kejahatan segala yang beranak dan yang diberanakkan, dan dari kejahatan yang berdiam di tempat ini.”

    Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Bertemu Ular?

    Selain membaca doa perlindungan yang sudah disebutkan di atas, ada juga beberapa hal yang sebaiknya dilakukan bila bertemu ular agar terhindar dari bahaya.

    Dilansir dari NU Online, Elang Erwandi dari Komunitas Ciliwung Depok menjelaskan beberapa tips bila bertemu ular, yaitu:

    • Boleh berteriak untuk meminta pertolongan, tapi sambil tetap berdiri seperti patung.
    • Ketika ular mulai pergi, amati ke mana arahnya, lalu segera hubungi sekuriti atau petugas penangkap ular dan beritahukan arah ular tersebut.
    • Bila berani, cobalah tutup ular dengan ember dari arah kepalanya. Lakukanlah dengan sepelan mungkin supaya ular tidak mendeteksi gerakan yang kita lakukan.

    Bila Melihat Ular Apakah Boleh Dibunuh?

    Dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh ular, terutama untuk jenis ular tertentu. Rasulullah SAW bersabda:

    اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ وَاقْتُلُوا ذَا الطُّفْيَتَيْنِ وَالْأَبْتَرَ فَإِنَّهُمَا يَطْمِسَانِ الْبَصَرَ وَيَسْتَسْقِطَانِ الْحَبَلَ

    Artinya: ‘Bunuhlah ular dan bunuhlah ular yang di punggungnya ada dua garis putih, dan ular pendek. Karena kedua ular itu menghapus (membutakan) pandangan dan menggugurkan kandungan.” (HR Bukhari).

    Termasuk bila melihat ular pada saat salat, hendaknya ular tersebut dibunuh bila khawatir ular itu berbahaya atas keselamatan diri. Meskipun hal itu menimbulkan banyak gerakan saat sedang salat.

    Rasulullah SAW bersabda:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ الْعَقْرَبِ وَالْحَيَّةِ

    Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW membunuh kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) salat, yaitu kalajengking dan ular.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan lainnya).

    Lain halnya bila bertemu ular yang masuk ke dalam rumah. Dianjurkan tidak langsung membunuhnya, melainkan memberi peringatan terlebih dahulu. Sebab dikhawatirkan ular tersebut adalah jelmaan jin yang sudah masuk Islam.

    Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

    إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

    Artinya: “Sesungguhnya ada sekelompok jin di Madinah yang telah masuk Islam. Maka, barang siapa melihat salah satu dari para ‘awamir (jin penghuni rumah; berwujud ular), berilah peringatan sebanyak tiga kali. Jika setelah itu masih kelihatan (ular) hendaklah ia membunuhnya, karena itu adalah setan.” (HR Muslim).

    Namun demikian, ada perbedaan pendapat mengenai anjuran memperingatkan ular terlebih dahulu sebelum dibunuh.

    Menurut Imam An-Nawawi dalam Shahil Muslim bi Syarh An-Nawawi Juz IV yang menukil pendapat Al-Maziri, ular yang dianjurkan tidak langsung dibunuh ini adalah ular yang masuk ke rumah-rumah di kota Madinah. Sementara bila ular tersebut masuk ke rumah lain selain Madinah, maka sunnahnya adalah dibunuh tanpa perlu diperingatkan.

    Demikianlah penjelasan mengenai doa bila melihat ular sesuai ajaran nabi, serta hal-hal apa saja yang sebaiknya dilakukan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

    (inf/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Nama Jin yang Bantu Nabi Sulaiman Pindahkan Istana Ratu Bilqis



    Jakarta

    Nabi Sulaiman AS adalah putra dari Nabi Daud AS. Salah satu mukjizatnya adalah menguasai bahasa hewan dan juga menaklukan jin.

    Hal ini dijelaskan dalam surah An-Naml ayat 17. Berikut bacaan dan terjemahannya,

    وَحُشِرَ لِسُلَيْمَٰنَ جُنُودُهُۥ مِنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ وَٱلطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ


    Artinya: “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”

    Kemudian, Nabi Sulaiman juga berhasil menundukkan jin untuk bekerja di bawah perintahnya. Dikutip dari buku Berburu Warisan Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman karya Muhammad Gufron Hidayat, mereka bahkan bekerja membantu Nabi Sulaiman dalam membangun gedung.

    Selain itu, mereka berhasil membuat bejana besar untuk makanan para tentara dan pekerja, hingga membuat tempat minum yang besarnya seperti kolam. Mukjizat Nabi Sulaiman ini diceritakan dalam surah Saba’ ayat 13,

    يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

    Artinya: “Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

    Pada kisahnya, Nabi Sulaiman dibantu golongan jin dalam membantu memimdahkan istana Ratu Bilqis. Siapakah jin yang membantu Nabi Sulaiman?

    Nama Jin yang Membantu Nabi Sulaiman

    Nama jin yang membantu Nabi Sulaiman disebutkan secara tersurat dalam firman-Nya di surah An Naml ayat 38 sampai 40. Berikut ini adalah ayat beserta artinya.

    قَالَ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اَيُّكُمْ يَأْتِيْنِيْ بِعَرْشِهَا قَبْلَ اَنْ يَّأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ (38

    قَالَ عِفْرِيْتٌ مِّنَ الْجِنِّ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ مَّقَامِكَۚ وَاِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ (39

    قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ (40

    Arab latin: “Qāla yā ayyuhal-mala’u ayyukum ya’tīnī bi’arsyihā qabla ay ya’tūnī muslimīn(a). Qāla ‘ifrītum minal-jinni ana atīka bihī qabla an taqūma mim maqāmik(a), wa innī ‘alaihi laqawiyyun amīn(un). Qālal-lażī ‘indahū ‘ilmum minal-kitābi ana ātīka bihī qabla ay yartadda ilaika ṭarfuk(a), falammā ra’āhu mustaqirran ‘indahū qāla hāżā min faḍli rabbī, liyabluwanī a’asykuru am akfur(u), wa man syakara fa’innamā yasykuru linafsih(ī), wa man kafara fa’inna rabbī ganiyyun karīm(un).”

    Artinya: Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar, siapakah di antara kamu yang sanggup membawakanku singgasananya sebelum mereka datang menyerahkan diri?” Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari singgasanamu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya.” Seorang yang mempunyai ilmu dari kitab suci berkata, “Aku akan mendatangimu dengan membawa (singgasana) itu sebelum matamu berkedip.” Ketika dia (Sulaiman) melihat (singgasana) itu ada di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

    Dari bantuan jin ifrit atas kehendak dan kuasa Allah SWT kepada Nabi Sulaiman, beliau mampu membuat Ratu Balqis beriman kepada Allah SWT. Berikut adalah kisah selengkapnya.

    Ratu Balqis Takjub pada Mukjizat Nabi Sulaiman

    Dikutip dari Cerita Teladan 25 Nabi dan Rasul tulisan Iip Syarifah, dijelaskan bahwa Ratu Balqis memimpin kerajaan yang sangat mahsyur namun tidak beriman kepada Allah SWT. Singkat cerita, setelah utusan Ratu Balqis datang menemui Nabi Sulaiman, ia menyampaikan apa yang dilihatnya ini sangat di luar nalarnya. Hal ini membuat Ratu Balqis ingin mengecek sendiri kabar tersebut.

    Mendengar kabar bahwa Ratu Balqis ingin datang langsung ke istananya, Nabi Sulaiman AS bertanya kepada para jin, “Siapa yang sanggup memindahkan kerajaan Ratu Balqis ke istanaku dalam waktu sekejap?”

    Akhirnya istana yang megah ini berhasil dibangun oleh anugerah yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Sulaiman AS. Segera setelah Ratu Balqis sampai di istana Nabi Sulaiman AS, ia bertanya, “Seperti inikah singgasanamu?” kepada Ratu Balqis yang kebingungan mengamati siggahsana itu.

    Setelah kebingungan beberapa saat, Ratu Balqis menjawab, “Seakan-akan singgasana ini adalah singgasanaku”.

    Nabi Sulaiman AS kemudian berkata lagi, “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

    Ratu Balqis akhirnya tersadar bahwa yang dilihatnya adalah benar-benar singgasananya. Ratu Balqis kemudian sangat terpesona dengan keimanan Nabi Sulaiman AS yang telah disaksikannya.

    Dia juga terpesona dengan kemajuan ilmu yang telah dicapai di kerajaan Nabi Sulaiman AS. Beliau kemudian mempersilakan Ratu Balqis untuk masuk ke istana yang sudah dipersiapkannya.

    Akhirnya Ratu Balqis tersadar bahwa matahari yang selama ini disembah oleh kaumnya hanyalah makhluk yang telah diciptakan oleh Allah SWT untuk semua hamba-Nya. Ratu Balqis lalu mengumumkan keislamannya. Dia pun tunduk dan berserah diri kepada Allah SWT dan diikuti oleh seluruh rakyatnya.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Khalid bin Walid Penggal Kepala Jin Uzza



    Jakarta

    Khalid bin Walid adalah sahabat nabi yang mendapat julukan pedang Allah SWT. Ia dikisahkan pernah memenggal kepala jin Uzza.

    Kisah Khalid bin Walid memenggal jin Uzza ini merupakan perintah dari Rasulullah SAW tepatnya setelah menaklukkan Kota Makkah.

    Manshur Abdul Hakim menceritakan dalam buku Khalid bin Al-Walid Saifullah Al-Maslul, setelah menaklukkan Kota Makkah Rasulullah SAW mengutus Khalid bin Al Walid untuk menghancurkan berhala Al Uzza yang disembah oleh kaum musyrik Makkah pada zaman Jahiliyah. Berhala itu dihancurkan pada tanggal 25 Ramadan pada tahun tersebut.


    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Rasulullah SAW mengutus Khalid untuk menghancurkan berhala Al-Uzza, yang terletak di sebuah rumah di perkebunan kurma yang disembah oleh suku Quraisy, Kinanah dan Mudhar Penjaga dan pengurus berhala itu adalah dari Bani Syaiban dari kabilah Bani Sulaim sekutu kabilah Bani Hasyim.”

    Lebih lanjut diceritakan, ketika penjaganya mendengar Khalid sedang berjalan menuju berhala, maka ia mengalungkan pedangnya di atas berhala, kemudian ia menaiki bukit sambil melantunkan bait syair.

    Wahai Al Uzza, hertahanlah dengan kuat jangan lemah
    Atas serangan Khalid, lemparkanlah tutup dan bersiaplah Wahai Al Uzza, jika kamu tidak bisa membunuh Khalid
    Maka kembaliku dengan dosa akan segara atau kamu yang menang

    Ketika Khalid sampai pada berhala, maka ia langsung merobohkannya dan kembali lagi kepada Rasulullah SAW. Al Waqidi dan lainnya meriwayatkan bahwa ketika itu Khalid mendatangi berhala pada tanggal 25 Ramadan.

    Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Apa yang telah kamu lihat?” Khalid menjawab, “Aku tidak melihat apa-apa.” Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk kembali lagi.

    Ketika Khalid kembali ke tempat itu, tiba-tiba keluar dari rumah berhala seorang wanita hitam yang menguraikan rambutnya sambil berteriak-teriak meratapi kesedihannya. Kemudian Khalid mengacungkan pedangnya ke atas sambil berkata melantunkan bait syair.

    Wahai Al-Uzza, kekafiranmu dan ketidaksucianmu
    Sesungguhnya aku melihat Allah telah menghinamu

    Kemudian Khalid menghancurkan rumah tersebut dan mengambil harta yang ada di dalamnya, lalu ia kembali mengabari Rasulullah SAW.

    Maka Rasulullah bersabda, “Itulah Al-Uzza yang tidak akan disembah lagi untuk selamanya.”

    Abu Ath-Thufail turut meriwayatkan hal yang sama.

    Rasulullah SAW menghancurkan semua berhala yang berada di sekitar Ka’bah dan kabilah-kabilah terdekat. Beliau mengutus para sahabatnya dalam rombongan pasukan kecil untuk menghancurkan berhala-berhala seperti yang dilakukan Khalid terhadap berhala Al-Uzza.

    Hanatul Ula Maulidya dalam buku Sang Panglima Tak Terkalahkan “Khalid Bin Walid” juga menceritakan hal yang sama mengenai kisah Khalid bin Walid.

    Setibanya di tempat Uzza berada, Khalid bin Walid menghancurkan kepala Uzza menggunakan pedangnya. Kemudian Khalid membakar reruntuhan patung terbesar itu dengan semangat yang berkobar seolah-olah ia ingin membakar dan memusnahkan kekufuran dari muka bumi.

    Setelah Khalid bin Walid berhasil menghancurkan Uzza, Khalid mendapat tugas baru dari Nabi Muhammad SAW untuk berangkat ke pemukiman Bani Khuza’ah (Bani Judzaimah) untuk menyebarkan agama Islam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Sekelompok Jin Masuk Islam usai Dengar Lantunan Al-Qur’an



    Jakarta

    Tak jauh dari pemakaman kaum muslim di Kota Makkah, ada sebuah masjid yang menjadi saksi sekelompok jin yang memutuskan masuk Islam. Hal itu terjadi usai mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an.

    Kisah sekelompok jin yang masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an ini terjadi di sebuah masjid yang terletak di Kampung Ma’la. Masjid tersebut kini diberi nama Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai’ah, sebab di tempat itu sekelompok jin pernah berbaiat atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan kitab-Nya.

    Sekelompok Jin Berbaiat dengan Rasulullah

    Dikisahkan dalam buku Situs-Situs dalam Al Quran karya Syahruddin El-Fikri, peristiwa sekelompok jin masuk Islam terjadi ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat sedang menunaikan salat Subuh.


    Kala itu, Rasulullah SAW membaca surat Ar-Rahman ayat 1-78 yang di dalamnya terdapat ayat yang berbunyi, “Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”

    Ketika ayat tersebut dibacakan, sekelompok jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami.”

    Penyampaian sekelompok jin yang berbaiat dengan Rasulullah SAW juga termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Ahqaf ayat 29-32, Allah SWT berfirman,

    وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِم مُنذِرِينَ

    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS Al Ahqaf: 29)

    قَالُوا يَنقَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَبًا أُنزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِ قَالْمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِى إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقِ مُسْتَقِيم

    Artinya: “Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS Al Ahqaf: 30)

    يَقَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَ عَامِنُوابِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجرَكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

    Artinya: “Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS Al Ahqaf: 31)

    وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزِ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء أَوْلَيْكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

    Artinya: “Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahqaf: 32)

    Terhalangnya Berita Langit

    Dalam riwayat lain yang dikutip dari buku Misteri Mukjizat Makkah & Madinah oleh Namin Asimah Asizun, Imam Bukhari dan Imam Tirmidzi dari Ibnu Abbas menerangkan bahwa peristiwa pertemuan Rasulullah SAW dengan sekelompok jin terjadi saat beliau dengan para sahabat sedang dalam perjalanan menuju pasar Ukkadz.

    Sesampainya di daerah bernama Tihamah, Rasulullah SAW bersama rombongannya berhenti untuk menunaikan salat Subuh. Rupanya, salat yang dilakukan Nabi SAW dan para sahabat menyebabkan terhalangnya berita-berita langit yang biasa dicuri oleh para setan (jin yang kafir).

    Bahkan para jin kafir yang sedang mencoba mencuri berita tersebut mendapat lemparan bintang-bintang sehingga terpaksa pulang kembali kepada kaumnya.

    Setibanya di tempat kaumnya, para jin kafir tersebut ditanya, “Apa yang menyebabkan kalian terhalang mendapatkan berita langit?”

    Para Jin kafir menjawab, “Kami terhalang mendapatkan berita langit, bahkan kami dikejar oleh bintang-bintang.”

    Lantas setan itu menimpalinya, “Tidak mungkin ada halangan antara kita dengan berita langit. Pasti ini ada sebabnya!”

    Pimpinan jin kafir tersebut kemudian memerintahkan sekumpulan jin untuk menyebar ke arah barat dan timur untuk mencari penghalang tersebut. Saat sekelompok jin kafir itu menyebar ke seluruh pelosok jagat, sebagian di antara mereka sampai ke daerah Tihamah, tempat Rasulullah SAW dan para sahabat berhenti menunaikan salat Subuh.

    Para jin kafir tersebut mendengar dan memperhatikan dengan saksama ayat suci Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah SAW, lalu mereka berkata, “Demi Allah, pasti inilah yang menyebabkan kita terhalang dari berita langit.”

    Mereka justru sangat kagum terhadap ayat suci Al-Qur’an yang didengarnya hingga menyatakan baiatnya untuk masuk Islam kepada Rasulullah SAW.

    Sekelompok jin itu kembali kepada kaumnya dan menyampaikan kejadian yang mereka alami. Kaum mereka pun langsung menerima dan mengimani ajaran yang dibawa tersebut.

    Peristiwa tersebut turut menjadi sebab turunnya surah Al-Jin ayat 1 yang memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad SAW mengenai peristiwa alam gaib yang terjadi di sekelilingnya dan para sahabat kala itu. Firman Allah SWT dalam surah Al-Jin ayat 1 tersebut berbunyi:

    قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَقَالُوٓا۟ إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا

    Artinya: “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.”

    Setelah menerima wahyu, Rasulullah SAW lantas menyampaikan pemberitahuan Allah SWT tersebut kepada para sahabat dan umat Islam lainnya. Wallahu ‘alam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Burung Hudhud dan Nabi Sulaiman ‘Taklukan’ Ratu Balqis


    Jakarta

    Kisah burung hudhud dan Nabi Sulaiman AS salah satu kisah yang menarik untuk disimak. Burung ini berperan dalam penaklukan kerajaan besar di Yaman yang saat itu dipimpin oleh seorang ratu bernama Balqis pada masa Nabi Sulaiman AS.

    Cerita ini bahkan diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an agar bisa menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia di setiap zaman. Kisahnya termuat dalam surah An-Naml ayat 20-28.

    Kerja Sama Burung Hudhud dan Nabi Sulaiman AS

    Dikutip dari buku Tafsir Qashashi Jilid III oleh Syofyan Hadi, saat itu Nabi Sulaiman AS sedang melakukan pemeriksaan terhadap para pekerja dan pegawainya. Pekerja yang dimaksud tersebut terdiri dari golongan manusia, hewan, maupun jin.


    Nabi Sulaiman AS lantas menyadari ketidakhadiran burung Hudhud dalam pertemuan itu. Beliau lalu berkata bahwa pegawai dan pekerja yang tidak hadir dalam pertemuan itu akan dihukum.

    Tak lama, burung hudhud datang namun tetap terlambat. Nabi Sulaiman AS lantas bertanya penyebab keterlambatannya tersebut. Burung hudhud pun menjawab bahwa ia membawa sebuah berita penting.

    Burung hudhud bersaksi dia baru saja datang dari negeri yang sangat jauh. Tak hanya itu, negeri itu pun juga sangat luas, makmur, dan aman. Diketahui negeri itu bernama Negeri Saba’.

    Negeri Saba’ dipimpin oleh seorang ratu bernama Balqis. Sang ratu merupakan seorang yang sesat dimana ia dan penduduknya adalah penyembah matahari.

    Ats-Tsa’labi dalam buku Kisah Para Nabi: Sejarah Lengkap Kehidupan Para Nabi mengatakan, Negeri Saba’ dipimpin oleh seorang perempuan setelah kekuasaan yang dipimpin seorang laki-laki sebelumnya menyebabkan kerusakan di mana-mana.

    Sehingga menyebabkan diangkatnya anak putri raja sebelumnya, yaitu Ratu Balqis binti as-Sarih al-Had-had, menjadi ratu menggantikan ayahnya.

    Mengetahui pengakuan dari burung Hud-Hud, Nabi Sulaiman AS kemudian menulis sepucuk surat kepada ratu dari negeri Saba’ tersebut. Surat itu berisi sebuah perintah agar Ratu Balqis dan seluruh rakyatnya untuk menyerahkan kekuasaan pada Nabi Sulaiman AS serta tunduk kepada aturan Allah SWT dan taubat dari kemusyrikan.

    Di sinilah peran Burung Hud-Hud yang kedua ditampakkan. Dirinya selain menjadi pembawa berita adanya kerajaan yang penuh kemusyrikan, ia juga berperan sebagai pengantar surat yang menghubungkan Nabi Sulaiman AS dengan Ratu Balqis.

    Negosiasi Nabi Sulaiman AS dan Ratu Balqis

    Setelah diberi tahu hal itu, Ratu Balqis menawarkan jalan damai kepada Nabi Sulaiman AS sehingga ia ingin memberi beliau hadiah. Namun, Nabi Sulaiman AS menolaknya.

    Nabi Sulaiman AS mengatakan bahwa beliau hanya ingin ratu tersebut beserta rakyatnya mau menyembah Allah SWT dan meninggalkan kemusyrikannya. Apalagi Nabi Sulaiman AS sudah memiliki kerajaan yang sangat kaya, megah, dan besar, membuatnya lebih tidak menginginkan hadiah tersebut.

    Mendengar kemegahan kerajaan Nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis pun tertarik untuk datang kesana.

    Nabi Sulaiman AS lantas menanyakan kepada salah satu pekerjanya siapa yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis ke kerajaannya sebelum ratu tersebut datang. Jin ifrit pun menyanggupinya bahkan hanya dengan kecepatan kedipan mata.

    Ratu Balqis Beriman pada Allah SWT

    Setibanya di kerajaan Nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis pun amat tercengang melihat kemegahan serta kekayaan yang dimiliki beliau. Lebih terkejutnya Ratu Balqis saat tahu bahwa singgasananya sudah berada di sana.

    Setelah melihat segala kelebihan yang berada di kerajaan Nabi Sulaiman AS, Ratu Balqis menyadari bahwa kesombongannya selama ini terhadap kekayaannya tidak berarti apa-apa.

    Lalu, dirinya mengakui kekalahannya pada Nabi Sulaiman AS dan bersaksi akan beriman kepada Allah SWT. Setelah itu Nabi Sulaiman AS memperistri Ratu Balqis dan keduanya hidup bahagia bersama.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com