Tag: karsinogen

  • Jangan Terlena dengan Bau Cat Dinding, Bisa Memicu Kanker Lho!


    Jakarta

    Cat dinding adalah lapisan terluar dinding yang berguna sebagai pelindung dan mempercantik tampilan bangunan. Namun, dibalik kegunaannya, ada bahaya yang mengintai yakni senyawa berbahaya yang kerap dipakai di dalam cat dinding tersebut. Senyawa ini disebut dengan VOC (Volatile organic compounds).

    Lantas, apa itu VOC?

    Mengutip dari How Stuff Works, VOC merupakan Senyawa organik yang mudah menguap setelah cat dinding diaplikasikan. Fungsi dari senyawa ini adalah membuat cat lebih tahan lama dan bahan kimia yang membuat dinding basah menjadi kering. Seperti pengertiannya, VOC ini bentuknya adalah uap.


    Menurut Healthline, beberapa contoh VOC di antaranya adalah toluene, xilena, aseton, metilen klorida, formaldehida, hingga benzene.

    Paparan VOC terkadang dapat menimbulkan efek kesehatan jangka pendek atau jangka panjang. Untuk jangka pendek seperti iritasi pada mata, hidung, atau tenggorokan, sakit kepala, pusing, mual, hingga kesulitan bernapas. Sedangkan, untuk jangka panjang bisa merusak sistem saraf, hati, ginjal.

    Selain itu, senyawa ini juga dapat memicu kanker karena bersifat karsinogen.

    Biasanya, sebagian besar VOC menguap pada saat cat mengering, tetapi tidak semuanya meninggalkan cat. VOC bisa menguap selama bertahun-tahun setelah pengecatan awal. Maka dari itu, pada saat mengecat disarankan kamu memakai penutup mulut dan tidak berada berlama-lama di ruangan yang baru dicat.

    Di Amerika sendiri senyawa-senyawa berbahaya yang dikategorikan VOC sudah dilarang dan dibatasi penggunaannya. Menurut Cat Midwest Eco-Design kandungannya harus kurang dari 250 gram per liter. Pilihan lainnya agar tetap aman dan sehat adalah memilih cat tanpa VOC. Namun, cat tanpa VOC biasanya harganya jauh lebih mahal dari cat biasa.

    Tips Mengurangi Risiko VOC Saat Mengecat

    Kamu tentu memerlukan cat dinding untuk mempercantik rumah, tetapi tetap ingin sehat dan tidak terkena efek dari VOC ini bukan? Mengutip dari Healthline, Rabu (2/10/2024), berikut beberapa tips mengurangi risiko VOC.

    1. Pilih Cat Berbahan Dasar Air

    Cat dibedakan menjadi 2, ada yang untuk bagian dalam rumah atau cat interior dan untuk bagian luar rumah atau eksterior.

    Untuk cat interior yang akan sering bersinggungan, kamu perlu berhati-hati saat membeli cat. Pilih yang berbahan dasar air dan tidak memiliki asap atau VOC di dalamnya. Jika kamu tidak paham saat membaca panduan di kalengnya, kamu bisa bertanya kepada penjual.

    2. Pakai Kacamata dan Sarung Tangan

    Untuk tindakan perlindungan, kamu perlu memakai alat pelindung seperti sarung tangan atau kacamata. Jika kamu ingin lebih aman, kamu bisa memakai respirator untuk menurunkan risiko menghirup VOC.

    3. Pastikan Ada Ventilasi Ruangan

    VOC biasanya menyebar ketika dia menguap, maka kamu harus memastikan setelah menguap, senyawa berbahaya tersebut terbuang ke luar. Caranya dengan memastikan ada ventilasi di ruangan yang sedang kamu cat. Sebagai contoh, jendela, pintu, atau lubang angin yang lain. Bisa juga pasang kipas angin agar udara segar tetap terasa di ruangan tersebut.

    Saat mengecat sering-sering beristirahat dan menghirup udara segar agar tidak pusing dan mual.

    Setelah selesai mengecat, pastikan jendela, pintu tetap dalam keadaan terbuka hingga tidak ada bau menyengat yang tercium. Jangka waktunya sekitar 2-3 hari dibiarkan terbuka.

    Tidak lupa, tutup rapat wadah sisa cat untuk mencegah uap bocor ke area sekitar. Jika cat ingin dibuang, pastikan caranya sudah tepat dan tidak bocor.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Terlena dengan Bau Cat Dinding, Bisa Memicu Kanker Lho!


    Jakarta

    Cat dinding adalah lapisan terluar dinding yang berguna sebagai pelindung dan mempercantik tampilan bangunan. Namun, dibalik kegunaannya, ada bahaya yang mengintai yakni senyawa berbahaya yang kerap dipakai di dalam cat dinding tersebut. Senyawa ini disebut dengan VOC (Volatile organic compounds).

    Lantas, apa itu VOC?

    Mengutip dari How Stuff Works, VOC merupakan Senyawa organik yang mudah menguap setelah cat dinding diaplikasikan. Fungsi dari senyawa ini adalah membuat cat lebih tahan lama dan bahan kimia yang membuat dinding basah menjadi kering. Seperti pengertiannya, VOC ini bentuknya adalah uap.


    Menurut Healthline, beberapa contoh VOC di antaranya adalah toluene, xilena, aseton, metilen klorida, formaldehida, hingga benzene.

    Paparan VOC terkadang dapat menimbulkan efek kesehatan jangka pendek atau jangka panjang. Untuk jangka pendek seperti iritasi pada mata, hidung, atau tenggorokan, sakit kepala, pusing, mual, hingga kesulitan bernapas. Sedangkan, untuk jangka panjang bisa merusak sistem saraf, hati, ginjal.

    Selain itu, senyawa ini juga dapat memicu kanker karena bersifat karsinogen.

    Biasanya, sebagian besar VOC menguap pada saat cat mengering, tetapi tidak semuanya meninggalkan cat. VOC bisa menguap selama bertahun-tahun setelah pengecatan awal. Maka dari itu, pada saat mengecat disarankan kamu memakai penutup mulut dan tidak berada berlama-lama di ruangan yang baru dicat.

    Di Amerika sendiri senyawa-senyawa berbahaya yang dikategorikan VOC sudah dilarang dan dibatasi penggunaannya. Menurut Cat Midwest Eco-Design kandungannya harus kurang dari 250 gram per liter. Pilihan lainnya agar tetap aman dan sehat adalah memilih cat tanpa VOC. Namun, cat tanpa VOC biasanya harganya jauh lebih mahal dari cat biasa.

    Tips Mengurangi Risiko VOC Saat Mengecat

    Kamu tentu memerlukan cat dinding untuk mempercantik rumah, tetapi tetap ingin sehat dan tidak terkena efek dari VOC ini bukan? Mengutip dari Healthline, Rabu (2/10/2024), berikut beberapa tips mengurangi risiko VOC.

    1. Pilih Cat Berbahan Dasar Air

    Cat dibedakan menjadi 2, ada yang untuk bagian dalam rumah atau cat interior dan untuk bagian luar rumah atau eksterior.

    Untuk cat interior yang akan sering bersinggungan, kamu perlu berhati-hati saat membeli cat. Pilih yang berbahan dasar air dan tidak memiliki asap atau VOC di dalamnya. Jika kamu tidak paham saat membaca panduan di kalengnya, kamu bisa bertanya kepada penjual.

    2. Pakai Kacamata dan Sarung Tangan

    Untuk tindakan perlindungan, kamu perlu memakai alat pelindung seperti sarung tangan atau kacamata. Jika kamu ingin lebih aman, kamu bisa memakai respirator untuk menurunkan risiko menghirup VOC.

    3. Pastikan Ada Ventilasi Ruangan

    VOC biasanya menyebar ketika dia menguap, maka kamu harus memastikan setelah menguap, senyawa berbahaya tersebut terbuang ke luar. Caranya dengan memastikan ada ventilasi di ruangan yang sedang kamu cat. Sebagai contoh, jendela, pintu, atau lubang angin yang lain. Bisa juga pasang kipas angin agar udara segar tetap terasa di ruangan tersebut.

    Saat mengecat sering-sering beristirahat dan menghirup udara segar agar tidak pusing dan mual.

    Setelah selesai mengecat, pastikan jendela, pintu tetap dalam keadaan terbuka hingga tidak ada bau menyengat yang tercium. Jangka waktunya sekitar 2-3 hari dibiarkan terbuka.

    Tidak lupa, tutup rapat wadah sisa cat untuk mencegah uap bocor ke area sekitar. Jika cat ingin dibuang, pastikan caranya sudah tepat dan tidak bocor.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/dna)



    Sumber : www.detik.com

  • Cocok buat di Taman Rumah, 6 Tanaman Ini Ampuh Hilangkan Stres


    Jakarta

    Saat berada di rumah, kamu pasti ingin melepas stres. Caranya bisa dengan melakukan kegiatan yang kamu sukai, istirahat, atau olahraga. Di luar itu, ternyata bisa lho mengurangi stres dengan bantuan tanaman hias.

    Sebagai makhluk hidup, tanaman bukan hanya untuk memperindah tampilan rumah, melainkan ada manfaat lain yang secara tak kasat mata bermanfaat bagi manusia yakni dari kandungan di dalamnya dan aromanya.

    Maka dari itu, beberapa tanaman hias ini banyak ditanam di rumah, bahkan beberapa ada yang diletakkan di dalam rumah. Kira-kira apa saja? Melansir dari Home Beautiful, berikut beberapa di antaranya.


    1. Mint

    Ilustrasi tanaman peppermintIlustrasi tanaman peppermint Foto: Getty Images/La_vanda

    Pasti kamu sudah tidak asing dengan tanaman satu ini. Mint kerap ditemukan di makanan atau minuman. Bahkan banyak makanan instan dibuat dari tanaman ini.

    Ternyata tanaman mint yang belum diolah, masih dalam bentuk tanaman menurut sebuah studi oleh Wheeling Jesuit University bisa membantu mengurangi tingkat stres. Aroma yang tercium dari tanaman ini menyegarkan dan dapat meningkatkan kesadaran.

    2. Melati

    Bunga melati.Bunga melati. Foto: iStock/Photographer

    Tanaman satu ini juga memiliki kelebihan karena aromanya yang wangi. Ternyata aroma melati ini juga sempat diuji dalam penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Biological Chemistry. Mereka menemukan bahwa aroma melati bisa menjadi penyejuk dan meredakan rasa stres pada seseorang.

    3. Lidah Buaya

    Tanaman aloe vera atau lidah buayaTanaman aloe vera atau lidah buaya Foto: Getty Images/iStockphoto/OlgaMiltsova

    Sudah jadi rahasia umum jika lidah buaya punya segudang manfaat. Mulai dari menjadi obat dari gigitan serangga, luka bakar matahari, hingga melembabkan kulit kamu. Lidah buaya juga dapat membersihkan udara dari karsinogen dan mengeluarkan oksigen di malam hari. Udara bersih ini baik untuk pernapasan sehingga dapat mengurangi stres seseorang.

    4. Lavender

    lavender flowers on windowsilllavender flowers on windowsill Foto: iStock

    Lavender telah dikenal sebagai tanaman aromaterapi selama berabad-abad. Dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal BioPsychoSocial Medicine, menemukan bahwa menghirup aroma lavender selama sepuluh menit memiliki efek yang signifikan pada sistem saraf wanita yang menderita gejala pramenstruasi. Ini terutama mengurangi perasaan depresi dan kebingungan.

    5. Kemangi

    kemangi dalam potkemangi dalam pot Foto: istimewa

    Tumbuhan dengan daun mungil ini kerap ditemui sebagai pelengkap masakan. Bahkan tidak jarang dimakan tanpa perlu diolah. Tanaman kemangi yang diletakkan di sekitar rumah ternyata bisa mengurangi stres karena mengandung senyawa yang disebut linalool. Senyama ini bisa mengurangi aktivitas gen tertentu yang menjadi overdrive selama situasi stres.

    6. Lidah Mertua

    Potted plant and beautiful picture on grey chest of drawers in room, space for text. Interior designPotted plant and beautiful picture on grey chest of drawers in room, space for text. Interior design Foto: Getty Images/iStockphoto/Liudmila Chernetska

    Lidah mertua atau snake plant merupakan salah satu tanaman yang dapat menyaring udara kotor termasuk polusi, menurut NASA. Mereka dapat memurnikan udara di siang hari, dan mengeluarkan oksigen di malam hari. Dengan udara bersih penuh oksigen dapat membantu meredam stres pada tubuh.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com